Senin, 07 Juni 2010

The Last Match



Dalam hidupku yang biasa-biasa saja sudah terlalu banyak kejutan yang terjadi. Entah kebetulan atau mungkin karena takdir telah memilih, aku hanya bisa menerimanya saja tanpa banyak basa-basi. Aku memilih untuk jadi pemain sepakbola karena aku tidak punya keahlian dan keinginan lain selain bermain bola. Aku ingin seperti Sukab, pemain sepakbola berkostum putih dengan nomor punggung 0 yang pernah mencetak gol hingga ke ujung dunia*.

Waktu kecil, Bapak selalu melarangku bermain bola. Makanya, sekarang saat aku sudah bisa menentukan arah aku hanya ingin bermain bola, mencetak gol, dan meraih kemenangan. Memang ada suatu kepuasan ketika melihat namaku tertulis di kostum tim lengkap dengan nomor punggungnya. Pun ketika fotoku terpampang dalam poster tim yang dijual di toko olahraga. Tetapi, untuk sampai kesitu memang tidak mudah.

Aku tidak perlu figur Kaka’ atau Cristiano Ronaldo untuk memilih jalan hidupku ini. Pemain dari Balkan seperti Davor Suker, Predrag Mijatovic, Zvonimir Boban, dan Dejan Savisevic adalah inspirasi masa kecilku. Sama halnya dengan Franco Baresi, Giuseppe Bergomi, Robbie Fowler, Fabrizio Ravanelli, Roberto Baggio, Pierluigi Casiraghi, dan Ryan Giggs. Aku hanya ingin jadi seperti mereka, main, menyerang, dan menang.

Aku tidak pernah berlatih di sekolah sepakbola. Tempat latihanku sejatinya adalah sawah yang sengaja ditinggal pemiliknya karena kemarau panjang yang pernah melanda desa kami. Kami sudah terbiasa dengan tanah lapang yang keras dan berdebu. Begitupun dengan bola yang tidak bulat lagi bentuknya dan selalu bergerak liar. Aku juga tidak punya kecepatan lari yang mengagumkan. Aku hanya punya passing yang lumayan akurat. Tetapi itu semua memang masih belum cukup untuk meyakinkan pelatih sepakbola manapun. Bahkan, pelatih tim sepakbola sekolah pun menolak untuk memasukkan namaku dalam daftar pemain cadangan di kompetisi antar sekolah desa.

Satu-satunya pelatih yang percaya pada kemampuanku adalah Pak Bambang, kepala desa kami yang berinisiatif untuk mengadakan turnamen kecil antar desa se-kecamatan Batu Merah dengan bantuan dana dari Direktorat Pembinaan Desa, Departemen Pengembangan Wilayah Tertinggal. Pak Bambang membentuk kami menjadi sebuah tim yang solid dan padu, baik ketika menyerang ataupun bertahan. Sayangnya, kami tidak menjadi juara karena kalah 3 – 2 di final oleh desa sebelah, Desa Sampdoria. Konon, nama desa itu diambil karena seluruh penghuninya adalah penggemar AS Sampdoria, klub sepakbola dari kota Genoa di Italia sana. Walaupun penduduk desa itu sudah memasuki generasi ke-5, nama tersebut dipertahankan untuk mengenang kebiasaan nenek moyang mereka yang setia mendukung Sampdoria dengan Juergen Klinsmann sebagai idola mereka.

Aku bisa masuk dan berlatih di tim junior adalah berkat Program Pengembangan Bakat dari klub Senja Merah yang menugaskan Scouting Team mereka ke desa-desa di pelosok Negeri Senja. Para Scout Coach ditugaskan untuk mengamati permainan sepakbola di daerah pedesaan. Kebetulan, waktu mereka datang aku mencetak gol dari tendangan jarak jauh sekitar 20 meter. Lumayan buat anak SD seusiaku. Ketika mereka memintaku untuk mengikuti seleksi di Stadion Merahnya Merah, kandang Senja Merah, aku langsung setuju.

*

Negeri kami adalah Negeri Senja yang berbatasan dengan Negeri Kabut di utara, Negeri Korupsi di selatan, Negeri Tanpa Nama, di barat dan Negeri Malam di timur. Negeri Senja adalah Negeri yang persepakbolaannya paling dinamis dimana fanatisme suporter bersaing dengan ketatnya kompetisi. Tercatat sudah 20 klub berbeda yang pernah menjuarai Liga Utama. Sampai saat ini belum ada satu pun klub yang berhasil meraih gelar juara back to back dua musim berturut-turut. Selalu ada juara baru setiap musim.

Pertandingan terakhir Liga Utama Negeri Senja tahun ini menyisakan Senja Merah yang hampir terdegradasi musim lalu melawan juara bertahan, Senja Utama. Senja Merah bukanlah tim yang bonafid dengan stadion yang megah dan pemain-pemain mahal. Senja Merah hanyalah tim sepakbola medioker dengan stadion yang hanya mampu menampung kurang dari 10.000 penonton dan hampir semua pemainnya berasal dari tim junior binaan klub. Walaupun begitu, Senja Merah bukanlah tim tanpa prestasi. Kami adalah juara 5 kali Liga Utama Negeri Senja, 1 kali juara Super Cup Negeri Senja, 1 gelar Juara Harapan Kompetisi Piala Raja Negeri Senja dan 1 kali juara Piala Antar Negeri. Musim ini, bisa dibilang pencapaian Senja Merah lebih baik dibandingkan musim sebelumnya. Senja Merah berada satu tingkat dibawah Senja Utama dengan selisih satu angka saja. Makanya, juara musim ini harus ditentukan hingga akhir kompetisi. Tidak seperti 10 tahun yang lalu ketika Senja Merah menjadi juara ketika kompetisi memasuki Matchday 30.

Senja Utama adalah musuh kami yang paling berat musim ini. Dengan rekor nyaris sempurna, 34 kemenangan, dan 3 kali seri cukup untuk membawa mereka di puncak klasemen kompetisi. Sedangkan, Senja Merah bermodalkan 34 kemenangan, 2 kali seri dan sekali kalah dari Senja Tenggara. Pada pertemuan pertama, kami bermain imbang 3 – 3 di kandang mereka, Stadion Bukit Jadul Baraminyak.

Pertandingan terakhir ini bisa dianggap juga sebagai final kompetisi musim ini. Sayangnya, kami tidak bisa tampil di kandang, Stadion Merahnya Merah dengan alasan tempat yang tidak representatif. Keputusan ini diambil setelah Dewan Sepakbola Negeri Senja mengeluarkan maklumat untuk memindahkan pertandingan ke Stadion Nasional Senja Terakhir mengingat jumlah penonton yang dikhawatirkan akan membludak.

Kontras dengan tim-tim yang lebih mapan seperti Senja Utama dan Senja Tenggara yang masing-masing punya koleksi 10 gelar juara Liga Utama Negeri Senja dan 5 kali gelar antar negeri. Dengan segala kemewahan fasilitas dan kucuran dana dari pengusaha minyak dan batubara di negeri kami, mereka menjadi simbol sepakbola modern yang dicekoki berbagai kepentingan bisnis. Konon, Direktorat Pengumpul Pajak Negeri Senja pun ikut menjadi sponsor pendukung Senja Tenggara yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Departemen Urusan Keuangan. Maka tak heran bila mereka memiliki stadion yang megah dengan kapasitas hampir 75.000 penonton.

Kini, kabarnya Detasemen Pembasmi Korupsi bentukan Kepolisian dan Departemen Pemberantasan Korupsi sedang mengusut kasus buy-out bermasalah, penggelapan pajak perusahaan untuk membiayai klub, dan insider trading yang melibatkan kolusi antara pemilik klub dan pejabat tinggi di Departemen Urusan Keuangan.

Sayangnya, musim ini Senja Tenggara mengalami nasib sial sehingga tidak mampu berkompetisi memperebutkan jatah 3 gelar yang selalu jadi rebutan setiap musim kompetisi domestik, Piala Dewan Sepakbola Nasional, Piala Liga Utama, dan Piala Liga Nasional. Sejumlah pemain asing dari Negeri Kabut yang menghuni skuad mereka musim ini habis satu per satu karena cedera yang tak kunjung sembuh. Selain itu juga, para pemain asing itu juga kerap berulah dengan minta gaji tinggi dan berujung pada harmonisasi tim.

Sekalipun pelatih jempolan macam Ottmar Hitzfeld yang melatih mereka tetap saja para pemain itu tetap keras kepala. Senja Tenggara terancam degradasi apabila mereka gagal menang di pertandingan terakhir mereka melawan Senja Temaram di Stadion Karungan Penta Coal, kandang mereka sendiri. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi Senja Temaram, karena apapun hasil pertandingan tersebut tidak akan berpengaruh pada posisi mereka dibawah Senja Merah. Senja Temaram sudah cukup aman dengan hasil seri atau kalah sekalipun untuk lolos ke babak kualifikasi Liga Antar Negeri.

**

Senja Merah kehilangan banyak pemain intinya yang mendadak dipanggil untuk mengikuti Program Seleksi Nasional. Program tersebut bertujuan mempersiapkan tim sepakbola nasional Negeri Senja untuk mengikuti Piala Lima Negeri. Jadwal ujicoba pun sudah ditentukan, antara lain melawan Juara Dunia 2006, Italia, dan FC Barcelona. Pelatih timnas kami, Gebetanno Balikbo, yang juga orang Italia itu sangat bangga dengan sepakbola negerinya, hampir sama bangganya dengan Mussolini pada negeri asal Ferrari dan gondola itu. Pun ketika ia berhasil meyakinkan Pep Guardiola untuk mau bertanding supaya pemain timnas kami bisa belajar banyak terutama dari Lionel Messi. Mr. Gebet, begitu ia biasa dipanggil mampu membangkitkan mental pemain muda untuk tampil lebih berani dan percaya diri.

Turnamen Piala Lima Negeri adalah turnamen bergengsi yang diikuti oleh lima negeri penghuni Benua Tanpa Nama. 5 tahun terakhir, Negeri Senja telah mengalami kemajuan yang berarti walaupun telah berganti pelatih 4 kali dalam 4 tahun, seperti Jepang yang baru saja ditinggal Yukio Hatoyama. Beruntung, semua pelatih yang pernah menangani timnas kami meninggalkan benang merah yang tersusun rapih mulai dari strategi, taktik, dan tetek bengek lainnya. Mirip GBHN pada masa Orde Baru sehingga pelatih yang meneruskan tugas mereka tidak akan terlalu kesulitan dalam mengembangkan permainan tim.

Pertandingan terakhir nanti adalah pertandingan pertamaku sebagai kapten tim. Aku tidak pernah bermimpi untuk memimpin pasukan Senja Merah di medan laga. Lagipula, masih ada pemain senior seperti striker, Patih Duaji. Aku pun masih belum tahu pasti alasan pelatih memberikan ban kapten itu padaku. Atas dasar apa aku menjadi kapten, biar hanya pelatih dan Tuhan yang tahu. Ada sedikit kekhawatiran, mengingat aku adalah pemain junior yang baru saja mendapat promosi masuk tim senior musim ini. Aku baru tampil full time sebanyak 13 kali dengan 9 kali sebagai pemain pengganti. Aku ragu bahwa Meneer van Molen memberikanku tanggung jawab sebesar makna pertandingan ini. Sebelumnya, ketika latihan terakhir ia tidak banyak bicara padaku dan menyuruh kami lebih banyak latihan long shot dan endurance sementara pemain sayap disuruhnya latihan far and near post crossing.

Pelatih kami di Senja Merah, seorang campuran Sunda-Belanda, Ludwig van Molen, adalah seorang Macchiavelis penganut paham total football karangan Rinus Michels. Bahkan, Meneer yang satu ini menjiplak gaya Rinus Michels untuk tidak pernah memanggil nama kami dalam setiap instruksinya. Ia hanya sering menyebut nomor punggung untuk memberi perintah. Memang sedikit aneh untuk kami tetapi ia punya alasan untuk berlaku seperti itu. Terbukti dengan metodenya, kami berhasil bangkit dari keterpurukan dan kini sedang menatap gelar juara ke-6 yang jaraknya hanya sepenggal kerinduan.

Kami akan tampil dengan formasi 4-4-2 seperti biasa. Empat gelandang ditengah akan bergantian memainkan formasi diamond atau inline midfielder. Komposisi pemain yang lebih banyak pemain cadangan lapis kedua membuat kami sedikit gentar terlebih lagi menghadapi Senja Utama yang pemain asingnya sama banyak dengan Senja Tenggara. Beberapa pemain mereka tidak diikutsertakan dalam Program Seleksi Nasional sehingga Senja Utama turun dengan full team dan skuad lengkap untuk gelar ke-11 mereka.

Aku sendiri bermain di posisi gelandang bertahan. Lebih tepatnya deep midfielder. Kalau masih kurang jelas bagimu, lihat saja posisi Andrea Pirlo atau Xabi Alonso. Hal ini merupakan peningkatan besar dalam karir sepakbolaku yang sebelumnya hanya menempati posisi bek tengah atau bek kiri. Aku memang masih terlalu muda untuk bersaing dengan pemain inti macam Jajang Leverkusen, Joko Sammontana, atau Dadang Salernitana, yang selalu jadi jangkar permainan tim. Maka, aku tidak terlalu percaya diri ketika harus menggantikan peran mereka. Terlebih lagi ketika harus menjadi kapten tim. Harusnya, saat seperti ini adalah saat yang paling membahagiakan dan paling membangkitkan motivasi. Tetapi, aku justru takut pada diriku sendiri. Musuh besar di lapangan nanti adalah bukan Senja Utama dengan pemain bintang macam Bento dan Sugali, top skorer saat ini. Musuh terbesar adalah diriku sendiri apalagi dengan ban kapten di lenganku nanti. Just like others, i’m afraid i’m extraordinary.

***

Kami tiba di Stadion Nasional Senja Terakhir satu jam sebelum kick off. Bis yang membawa kesebelasan Senja Utama sudah nampak di parkiran. Wajah tegang terlihat mulai dari dalam bis hingga ke lorong menuju ruang ganti. Bahkan, beberapa raut tegang wajah kami sempat terekam dalam kamera televisi dan jepretan wartawan harian sepakbola. Untuk menghilangkan ketegangan kami biasanya bercanda satu sama lain. Selain itu, ada juga yang mendengarkan lagu favorit masing-masing. Aku dengar dari headset Umar Bakri, penjaga gawang kami, mendengarkan lagu Buku Ini Aku Pinjam miliknya Iwan Fals. Sayup-sayup terdengar Bakri bernyanyi, “Bola ini aku pinjam, kan kutulis sajak indah. Hanya untuk sang juara....” Ada juga Edi Jeko yang bersiul menyanyikan Cucak Rowo** ditimpali oleh Ahmad Batuhiu “Kucoba-coba melempar gadis, gadis kulempar bola kudapat....”.

Wajah-wajah yang tadinya menegang kaku kini mulai lentur kembali. It’s all about handling the pressure dan sepertinya mereka telah siap untuk menikmati pertandingan terakhir ini. Aku sendiri sedang menafsirkan makna pesan singkat dari Patricia, “This is the last time...” Mengingatkanku pada lagu dari Keane. Well, if it’s up to be, it’s up to me.

Didalam ruang ganti, van Molen mengadakan briefing terakhir. Meneer berteriak entah meniru gaya Farah Quinn atau Mike Shinoda menjelang akhir konser Linkin Park, Live in Texas 2004.

“This is it. This is your last chance. This is your destiny. This is your only chance. It’s your time. Time to prove and show everything you have to win the fuck’n trophy. Are you ready, Team? I said are you ready, Team?”

“Ready...........!!!!!!!!!!!!!!! OK. Njeh, Londo edyan. Yoi mamen!”

“Now. Let’s go the ground, kick their ass, and grab the trophy! Semoga Hitler YME memberkati.”

“Hell Yeah...!!!!”

Berbagai acara untuk menghibur penonton pertandingan penutup musim kompetisi ini sudah selesai. Panitia Pertandingan memberikan hiburan yang tak terlupakan bagi penonton. Mulai dari penampilan perdana Timnas Seleksi Negeri Senja melawan FC Barcelona hingga penampilan istimewa dari trio Rida Sita Ijah yang reuni dan menyanyikan kembali beberapa lagu hits mereka ditambah lagu dari Gloria Estefan, Reach, yang juga OST Olimpiade Atlanta 1996, hanya untuk menyambut pertandingan ini.

Aku mengenakan ban kapten berwarna putih di lengan kiri. Cukup kontras dengan kostum kami yang berwarna merah menyala. Kami telah berbaris untuk memasuki lapangan pertandingan. Kami juga sempat bercanda dengan pemain dari Senja Utama. Aku memimpin Senja Merah di barisan terdepan disamping kapten Senja Utama, Sugali. Kami masih sempat berbasa-basi hanya untuk menghilangkan perasaan nervous. Masih ada sedikit ketegangan mengalir dalam darahku. Tetapi, aku telah siap menjalani semua ini. I’ve been living for this and i’ll never regret it.

Di papan skor elektronik terpampang jelas:


Diantara riuh penonton di dalam Stadion aku terkesima dengan pemandangan di sekitarku sekaligus mencoba melawan perasaanku sendiri. Rasanya kurang lebih sama dengan ketika naik panggung pelaminan demi memimpin teman-teman sekolahku untuk memberikan ucapan selamat pada pernikahan mantan kekasihku, Patricia. Dari tribun utara terlihat spanduk dari JARAH SEHATI, Senja Merah Selalu Dihati, kelompok pendukung kami yang membentangkan “MERAH ITU DARAH, JENDERAL!”, “MERAH ITU CINTA” seperti judul film yang dibintangi Marsha Timothy, dan “NYALAKAN MERAHMU!” Mirip dengan bahasa yang digunakan iklan rokok ketika aku berkunjung ke Indonesia.

Ada pula “WE ARE RED, WE ARE WHITE, WE ARE DANISH DYNAMITE!” seperti yang dibawa fans Denmark ke Piala Eropa 1992. Aku semakin bingung karena tidak ada pemain ataupun sponsor asal Denmark. Bahkan, Jon Dahl Tomasson pun pernah menolak tawaran kami untuk mengakhiri karirnya disini. Kalaupun ada yang berbau Denmark tentu Senja Merah akan diboikot oleh seantero Negeri Senja karena Denmark telah memicu ketegangan dengan ribuan umat Muslim di Negeri Senja dengan mengadakan kontes menggambar Nabi Muhammad SAW. Kami tidak ingin menambah masalah hanya gara-gara hal yang demikian. Kontroversi seputar sponsor Senja Merah yaitu penyedia situs porno Redtube.com sudah cukup bagi kami.

Sedangkan, di tribun selatan suporter fanatik Senja Utama yang menamakan diri mereka JA_UT (Senja Utama) Mania membentangkan spanduk bertuliskan “SENJA UTAMA TETAP YANG UTAMA”. Ada pula spanduk seperti ini, “UTAMA DALAM PELAYANAN” dan “UTAMAKAN SELAMAT”. Memang aneh. Lebih mirip dengan kredo dan slogan safety perusahaan minyak sponsor mereka, PetroSenja. Aku rasa JA_UT Mania memang larut dalam euforia. Mereka tentu berkeyakinan kalau pertandingan ini akan dimenangkan Senja Utama. Lihat saja spanduk mereka lainnya, lengkap dengan foto stensil pemain pujaan mereka “SUGALI, TAK TAKUT MATI! SENJA UTAMA JUARA!”, “YANG PENTING JA_UT SENANG BENTO MENANG” dan “LIHAT, SUGALI MENARI!” Aku rasa mereka juga sudah siap melakukan selebrasi seandainya menjadi juara Liga. Mungkin benar adanya kalau mitos itu masih berlaku. Aku berharap tentunya juara bertahan akan gagal sehingga terpaksa merelakan gelar Juara Liga pada kami.

****

Kick Off. Senja Utama memulai pertandingan dengan cepat, penuh determinasi, dan mendominasi semua lini. Ini mengingatkanku pada Final Champions League 1997 antara Juventus dan Borussia Dortmund. Juventus mengawali pertandingan dengan cepat sebelum kehilangan momen akibat 2 gol Karl-Heinz Riedle dalam waktu 5 menit. Benar saja, serangan Senja Utama yang selalu bertumpu pada akselerasi duet maut Sugali-Bento, terlalu mudah dipatahkan karena suplai bola selalu menuju ke tengah. Serangan balik jadi opsi terbaik. Ahmad Batuhiu menggiring bola melewati sisi kiri dan mengirimkan umpan silang yang berhasil diubah menjadi gol oleh striker kami, Edi Jeko. 1-0. Menit ke-35 kami menambah gol lagi. Edi Jeko akan menjadi orang yang paling bahagia seandainya hasil ini bertahan hingga akhir pertandingan.

Half Time. 2 – 0. Senja Utama telah mencapai klimaks permainannya. Seakan tiada nafas lagi, Bento dan Sugali yang selalu mengejar bola di depan kini tidak berkutik. Barangkali, akibat pesta semalam. Mereka pikir, kami akan terlalu mudah dikalahkan mengingat skuad yang seadanya. Tetapi, barangkali juga memang nasib sengaja berpihak pada kami dan menghukum mereka atas keangkuhan mereka sendiri. Aku sendiri merasa lelah tak karuan. Mungkin karena beban pikiran. Tetapi, bisa saja aku memang kehilangan fokus. Setiap instruksi dariku semuanya mampu diterjemahkan dengan baik. Pelatih kami pun masih tampak tenang dan hanya mengingatkan agar tetap berkonsentrasi.

Setengah jalan babak kedua, tidak ada serangan ataupun peluang yang berarti. Senja Utama semakin lelah, begitu juga kami yang mengandalkan stamina pemain lapis kedua. Karena itu juga, aku melakukan pelanggaran yang menghasilkan kartu merah. Pergerakan Bento memang berbahaya dan aku sudah kalah langkah makanya aku mentackle ke arah bola namun malah mengenai tumitnya. Bento pun cedera dan harus ditarik keluar. Kartu merah pertama seumur hidupku sebagai pemain professional. Padahal, waktu hanya tinggal 5 menit lagi dan aku kehilangan momen bersejarah ini. Nampak, JA_UT Mania berteriak menghujatku. Tetapi, di kejauhan juga JARAH SEHATI melakukan standing ovation dan meneriakkan namaku. Aku terus melangkah menuju ruang ganti sementara gerimis mulai turun.


Dari televisi di ruang ganti, Senja Utama kembali bersemangat untuk setidaknya memaksakan hasil seri supaya mereka bisa jadi juara lagi. Menit 89, Sugali berhasil mencetak gol. Pertahanan kami memang kewalahan menahan gempuran serangan. Kehilangan jangkar di sektor gelandang tengah memaksa kami harus bertahan habis-habisan. Injury time 3 menit. Rasanya, semenit seperti setahun karena Senja Utama masih mengurung pertahanan kami. Cadangan terakhir, Sukribo, pemain junior yang terpaksa kami bawa untuk melengkapi skuad diturunkan untuk mengisi sayap kanan.

Menit terakhir, kuasa tuhan dan takdir telah bertemu seakan memaksa siapapun untuk mengingkarinya. Sukribo, yang berlari cepat setelah mendapat operan dari Umar Bakri melepaskan tendangan langsung ke gawang Senja Utama dari jarak 20 yard. Gol. Aku kira hanya David Beckham saja yang mampu melakukannya, tetapi lagi-lagi aku teringat final di Olympiastadion. Lars Ricken juga melakukan hal yang sama untuk menaklukkan Peruzzi dan memboyong Piala Champions ke Westfallen, kandang Dortmund.

Peluit akhir berbunyi. Senja Merah dan JARAH SEHATI larut dalam euforia. Kemenangan yang sangat berarti dan paling dramatis seumur hidup Senja Merah. Meneer van Molen terlihat sangat senang begitupun presiden klub, Satrio Budi Yudhistiro, yang kerap kami panggil dengan Pak Subeye. Kapten Senja Utama, Sugali hanya bisa menunduk kecewa. Hal itupun diikuti semua pemain dan ofisial tim. JA_UT Mania terlihat mulai meninggalkan stadion. Sama kecewanya dengan Sugali, karena sejak tadi mereka tidak melihat tarian Sugali.

*****

Aku kembali memasuki lapangan untuk memimpin Senja Merah naik podium dan mengangkat trofi pertama sejak lima tahun terakhir. Rasanya, masih sama seperti ketika pernikahan Patricia, mantan kekasihku.



Paninggilan, Tangerang. 07 Juni 2010. 13.07


*cerita ini dapat disimak pada cerpen “Sukab Menggiring Bola” dalam kumpulan cerpen Negeri Kabut dari Seno Gumira Ajidarma

**dari lagu “Cucak Rowo”, dipopulerkan oleh Didi Kempot

NB. Tadinya ditulis sekedar untuk menyambut Piala Dunia 2010.

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...