Kamis, 20 Februari 2014

Irreplaceable Part 2: Aku, Kamu, dan Valentine.



Bandung selalu punya tempat tersendiri di hati Yovie Widianto. Bisa dibilang, Bandung adalah batu pijakan pertamanya sebelum tampil konsisten berkarya mewarnai dunia musik Indonesia. Alangkah bahagianya, Yovie dapat kembali ke Bandung dan memainkan komposisi terbaiknya bersama para sahabat. "Merupakan kehormatan dan kebahagiaan bagi saya untuk berada disini. Apalagi saya asli Bandung," katanya. Masih serupa dengan konser Irreplaceable yang pertama di Jakarta, momen 'Balik Bandung' yang bertepatan dengan hari Valentine ini dinamai: Irreplaceable Part 2: Aku, Kamu, dan Valentine. Sebuah perayaan di hari penuh cinta.

Konser ini menandai kiprah Yovie Widianto sebagai musisi papan atas Tanah Air.Yovie Widianto bisa disejajarkan dengan maestro sekelas David Foster. Konser yang berlangsung di Sasana Budaya Ganesha ini dibuat sebagai lanjutan konser pertama, September tahun lalu di Jakarta. Sayangnya, Yovie Widianto tidak membawa banyak line-up dari konser pertama yang turut dimeriahkan dengan penampilan Rick Price, The Heaven Knows Guy, dan Sharon Corr. Begitupun dengan Raisa yang kini sedang menuai sukses dari recycle lagu 'Mantan Terindah'. 

Walaupun demikian, kehadiran Lingua sebagai pengisi konser cukup menarik perhatian saya. Saya tidak sabar untuk segera menyaksikan penampilan Frans, Amara, dan Ari, one of the best part from 90's. Saya cukup penasaran dengan penampilan Lingua sejak nama mereka mengisi daftar line-up konser.

The Show

Yovie Widianto dan Hedy Yunus
Konser dibuka dengan video screening Yovie bersama 5 Romeo yang membawakan sepotong lirik lagu bertema Valentine, 'CintaTak Hanya Hari Ini'. Sebagai opening act, 5 Romeo sukses menggebrak mood dengan 'Merindu Lagi', ..sayang sayang dia ada yang punya... dan 'Katakan Saja'. Penonton yang sudah terbawa suasana romantis segera dihibur kembali dengan lagu 'Kekasih Sejati' yang dibawakan Hedy Yunus.

Penonton terus dibuai dengan jalinan lirik romantis dari 'Pada Satu Cinta'.Tak henti-henti nyanyian penonton di tribun festival mengiringi vokal Mario Ginanjar yang disambung penampilan RAN dengan lagu 'Andai Dia Tahu' dengan nada yang lebih pop.

RAN
Tensi konser mulai meninggi ketika Yovie mengeluarkan kejutan pertamanya di konser malam itu. Sita Nursanti didaulat naik panggung beraama Mario Ginanjar untuk menyanyikan lagu ciptaan Yovie yang lebih dahulu dipopulerkan oleh Hedy Yunus, 'Suratku'. Sita tampil prima dengan kualitas vokal yang tidak perlu diragukan lagi. Berkali-kali Sita mampu menguasai panggung dan mengajak penonton menyanyi bersama.

Sita Nursanti

Selain sebagai komposer dan arranger, Yovie Widianto juga tak henti-henti menelurkan bakat baru dalam musik Indonesia. Angel Pieters dan Alika Islamadina adalah contohnya. Yovie kembali menampilkan Angela, yang di konser pertama menyanyikan 'Sebatas Mimpi' di konser kedua ini membawakan lagu 'Together We Will Shine (Kita Bisa)' soundtrack SEA Games 2011. Pun dengan Chewy Dilmi yang berduet dengan Mario membawakan 'Cinta Kita Sama', satu lagu dalam album terbaru Yovie, 'Irreplaceable'.

Mario Ginanjar feat. Chewy Dilmy

Untuk menaikkan mood dan tensi, HiVi membawakan lagu lama The Groove ciptaan Yovie, 'Satu Mimpiku' dengan aransemen pop yang lebih segar. Akhirnya, penantian saya segera berbalas. Lingua naik panggung dengan membawakan lagu hits mereka 'Bintang'. Lagu ini juga direcycle oleh Kahitna dan masuk dalam daftar lagu di album '25 Tahun Kahitna'. Ini adalah sebuah peristiwa langka untuk dapat menyaksikan kembali Lingua setelah vakum sangat lama. Saya bersyukur dapat kembali mengenang hits pertama Lingua 'Bila Kuingat' lengkap bersama pencipta dan penyanyi lagunya.

LINGUA

Sebelum Lingua turun panggung, Yovie sempat bertanya pada mereka soal pengalaman cinta yang terbentur perbedaan keyakinan. Hal itu pun langsung ditanggapi senyuman oleh Amara yang menganggap itu sebagai curcol. Kontan, penonton pun kembali bersorak karena itu adalah pertanda bahwa lagu 'Peri Cintaku' akan segera dimainkan dengan iringan vokal Mario Ginanjar.

Fathur Java Jive

Kejutan lain dalam konser ini adalah tampiknya Fathur Java Jive yang membawakan lagu 'Bukan Untukku'. Di akhir lagu, Yovie menyinggung sedikit tentang awal persahabatan mereka hingga keterlibatannya dalam single milik Fathur, 'Selalu Untuk Selamanya'.

Kahitna
Konser malam tidak akan lengkap tanpa kemunculan Kahitna yang langsung mentas dengan lagu 'Bunga Jiwaku' disambung dengan 'Dia Milikku'. Kahitna membawakan lagi lagu 'Lajeungan' yang mengantarkan mereka meraih banyak penghargaan darinfestival yang pernah mereka ikuti di luar negeri. Penampilan Kahitna terasa semakin lengkap karena mereka tidak hanya menyanyi tetapi juga menampilkan koreografi panggung sebagai atraksi tersendiri yang dinikmati Soulmate Kahitna semua.

5 Romeo kembali ke atas pentas bersama Mario dan Dikta membawakan medley lagu-lagu hits seperti 'Janji Suci', 'Menikahimu', 'Tak Sebebas Merpati'. Seperti konser pertama yang sukses melahirkan hits dadakan 'Janda Melayang', Yovie menghadirkan lagi kejutan yang tidak akan pernah dilupakan penonton di Bandung. Yovie mengundang Mario dan Nino untuk membuat lagu dari nada dan clue yang dipilih penonton. Maka terpilihlah tiga kata clue untuk lirik lagu yaitu, jomblo, modus, jadian dengan nada si-la-sol.


Yovie hanya butuh 4 menit untuk menciptakan hits dadakan kedua sepanjang rangkaian konser Irreplaceable. Sembari menunggu, penonton dihibur dengan penampilan Carlo Saba yang berduet dengan Dikta. Waktu pun terus bergulir hingga Yovie selesai mencipta. Lagu ciptaan belum berjudul itu sukses dinyanyikan bersama Mario, Nino, dan penonton, sampai berulang tiga kali. 

Aku takkan bohong
Ini bukan modus
Namun aku harap nanti
Suatu saat kita jadian

Lagu dadakan a la Yovie Widianto

Maklum, fenomena para jomblo yang sering menggunakan modus untuk bisa jadian sedang jadi trending topic. FYI, clue kata jomblo diambil dari ide Kang Emil a.k.a Ridwan Kamil yang turut menonton bersama Agus Yudhoyono dan Annisa Pohan.

Kahitna feat. RAN
Konser terus berlanjut dengan PHI yang membawakan lagu 'Cinta Sudah Lewat'. Aransemen baru membuat lagu ini tidak terasa sendu lagi. Kahitna dan RAN berkolaborasi kemudian untuk membawakan lagu 'Cerita Cinta' dan 'Mantan Terindah'. Dikta dan Carlo Saba kembali berduet membawakan lagu 'Menjaga Hati'. Sita kembali lagi bersama Mario menyanyikan lagu 'Takkan Terganti'. Memasuki penghujung konser Kahitna kembali berduet kali ini dengan 5 Romeo menyanyikan lagu 'Cantik'.

Yovie and His Friends
Akhirnya, medley 'Juwita (Lebih Dekat Denganmu)' dan 'Kemenangan Hati' dari seluruh pengisi acara menutup rangkaian acara di malam penuh cinta. Yovie Widianto, sekali lagi telah membuktikan pada publik Bandung bahwa ia akan selalu kembali dengan karya-karya yang takkan terganti. 

Penutup

Kemeriahan konser Irreplaceable di Jakarta telah menular ke konser lanjutan di Bandung ini. Walau line-up artist di episode Bandung ini tidak semewah di Jakarta tetapi Yovie berhasil menghadirkan kenangan yang takkan terlupakan oleh publik musik Bandung. Kejutan-kejutan sepanjang konser adalah bukti kreativitasnya yang tak hanya sebatas musisi.
Tak heran bila konser Yovie and His Friends ini jadi satu catatan personal dalam kiprahnya selama lebih dari 30 tahun bermusik di Tanah Air. Berbagai apresiasi atas karyanya adalah bentuk penghargaan publik yang menandai eksistensinya. Untuk hal ini, kita rasanya perlu berterima kasih kepada Yovie Widianto karena telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam catatan sejarah musik Indonesia.


Pharmindo-Paninggilan, 20 Februari 2014.

Selasa, 18 Februari 2014

Bandung Love Run

"If I seem free, it's because I'm always running."
Jimi Hendrix


It feels good to be back running in Bandung. Seperti tahun kemarin, medali finisher pertama saya tahun ini saya raih di Bandung. Bandung Love Run jadi race pertama saya tahun ini setelah sebulan kemarin berhibernasi. Saya senang bisa kembali turun berlari di jalanan bersama peserta lainnya. Ada atlet PON dari berbagai, anggota TNI, komunitas pelari, bahkan Mas Agus Yudhoyono dan Kang Ridwan Kamil, Walikota Bandung, pun ikut berpartisipasi.

Sedikit catatan tentang Bandung Love Run ini adalah terlambatnya email konfirmasi pembayaran dari panitia ke email saya dan tidak adanya water station bagi 5K racers. Butiran debu akibat letusan Gunung Kelud yang sudah mencapai wilayah Bandung dan sekitarnya pun sempat menjadi kekhawatiran tersendiri. Walau begitu, tidak lantas mengendurkan semangat cinta dan kebahagiaan para pelari yang merayakan cinta. Entah cinta begini atau cinta sendiri. Abaikan.




Pharmindo, 17 Februari 2014.

Selasa, 11 Februari 2014

Sting: Live in Berlin (2010)

Album ini adalah album yang direkam secara live bersamaan pada saat Sting menggelar konser di Berlin. Konser bertanggal 21 September 2010 yang digelar di O2 World, Berlin, ini juga menampilkan The Royal Philharmonic Concert Orchestra. Dalam konser ini Sting membawakan lagu-lagu dari katalog albumnya sendiri dan hits-hits dari The Police.

Penampilan Sting di Berlin malam itu menyuguhkan 'reimagining' atau reimajinasi lagu-lagunya, artinya memainkan kembali lagu pilihan Sting dengan polesan orkestrasi. Termasuk lagu dari album 'Symphonicities' dan hits seperti “Every Little Thing She Does Is Magic,” “Russians,” “King of Pain,” dan “Every Breath You Take”.

Album ini dikemas dalam format CD/DVD, Blu-Ray, dan single CD. Edisi Indonesia hadir dalam bentuk dual disc, DVD yang berisi rekaman video konser dan sebuah CD berisi semua lagu yang dibawakan Sting. Beruntung, saya mendapatkan album ini dalam kondisi masih tersegel dan setengah harga aslinya. Cool!

Dibandingkan dengan album-album studionya, tambahan orkestrasi pada konser ini tidak lantas menjadi bagian luar biasa yang kemudian menjadi pengalih perhatian. Segala perhatian tetap tertuju pada Sting dan 'magic' dari lagu-lagunya. Ritme konser ini juga ditata sedemikian rupa sehingga menghasilkan timing yang tepat. Maka tak salah rasanya bila Live in Berlin ini jadi obat rindu bagi para fans Sting dimanapun.

Track Listing

DVD

    "A Thousand Years"
    "Every Little Thing She Does Is Magic"
    "Englishman in New York"
    "Roxanne"
    "When We Dance"
    "Russians"
    "I Hung My Head"
    "Why Should I Cry For You"
    "Whenever I Say Your Name"
    "This Cowboy Song"
    "Tomorrow We'll See"
    "Moon Over Bourbon Street"
    "End Of The Game"
    "You Will Be My Aint True Love"
    "All Would Envy"
    "Mad About You"
    "King of Pain"
    "Every Breath You Take"
    "Desert Rose"
    "She's Too Good for Me"
    "Fragile"
    "I Was Brought To My Senses"

CD

    "If I Ever Lose My Faith in You"
    "Englishman in New York"
    "Fields of Gold"
    "Why Should I Cry For You"
    "All Would Envy"
    "Tomorrow We'll See"
    "End Of The Game"
    "Whenever I Say Your Name"
    "Shape of My Heart"
    "Moon Over Bourbon Street"
    "Mad About You"
    "King of Pain"
    "Desert Rose"
    "Fragile"


Paninggilan, 11 Februari 2014.

Minggu, 09 Februari 2014

Princess, Bajak Laut, & Alien

"Sebab ingatan yang terjebak adalah waktu yang berjalan mundur."
(Princess, hal. 68.)

Sebuah pengalaman yang meregang batas antara fiksi dan realita. Bloody imaginative. Mistis tapi fantastis. 

Begitulah kesan yang saya dapatkan dari buku kolaborasi kedua Clara Ng dan Icha Rahmanti ini. Sepintas, saya pikir plotnya akan mirip seperti Pintu Harmonika, karya mereka sebelumnya. Bisa dilihat dari tiga tokoh utama (main character) di halaman sampul belakang. Namun, permainan plot disini lebih dinamis. Pembaca dibuat harus membebaskan imajinasi saat membaca tiga kitab disini. Kitab Princess, Kitab Bajak Laut, dan Kitab Alien.

Kitab pertama dan terakhir penuh dengan tuturan imajinatif dalam jagad tanpa batas. Cerita-cerita yang hanya terjadi dalam dunia khayal hadir dalam bentuk yang nyata dan malah jadi semacam permainan antara fiksi dan realita. Kitab kedua, Kitab Bajak Laut lah yang justru sangat dekat dengan keseharian dan realita kehidupan nyata. Cerita didalamnya menunjukkan alur perjalanan hidup seorang manusia. Mungkin saja, seseorang di dunia ini pernah mengalami hal yang demikian. Agaknya, itulah yang membuat kitab kedua tampil manusiawi.

Personally, saya suka bagaimana penulisnya membuat ending cerita. Itu bukan hal yang mudah karena harus menyambungkan benang merah dari setiap lompatan alur cerita. Rasanya seperti dalam film 'Click' (Adam Sandler, Kate Beckinsale; 2006) ketika tahu Troy terbangun setelah tidur selama tiga jam. Mirip Adam Sandler yang terbangun kaget dan mendapati dirinya di atas kasur dalam sebuah toko.

Harus diakui, kolaborasi penulisan antara Icha Rahmanti dan Clara Ng mewujudkan sebuah kisah yang fantastis. Keduanya mampu menulis cerita yang tidak terbatas pada dunia anak-anak saja. Kaum remaja, dan dewasa pun bisa mengikutinya tanpa harus memperolok diri mereka sendiri bahwa mereka menikmati sajian yang demikian. Kekuatan latar belakang bacaan mereka masing-masing serta didukung data riset dan fakta menjadikan siapapun yang membaca buku ini ibarat tersedot kaleidoskop, larut dan terhanyut ke alam dunia didalamnya.

Judul          : Princess, Bajak Laut, & Alien
Penulis       : Clara Ng & Icha Rahmanti
Penerbit    : Plotpoint Publishing
Tahun        : 2013
Tebal         : 347 hal.
Genre        : Novel-Fantasi/Fiksi Ilmiah


Paninggilan, 9 Februari 2014.

Selasa, 04 Februari 2014

Game Change


Listen, I too wish that the American people would choose the future Abraham Lincoln or Thomas Jefferson, but unfortunately, that's not the way it works anymore. Now it takes movie-star charisma to get elected President, and Obama and Palin, that's what they are - they're stars.
(Rick Davis)

Tidak ada yang menang atau kalah dalam politik. Begitupun ketika menyaksikan perjalanan sepasang kandidat capres-cawapres yang meyakini diri mereka sebagai pembawa misi 'American Dreams', yaitu wakil kaum Republikan, Senator John McCain dan Gubernur Sarah Palin serta Senator Barack Obama dan Senator Joe Biden yang mewakili kubu Demokrat.

Film ini mengajak kita kembali pada tahun 2008. Tahun dimana Amerika Serikat telah mengukir sejarah eksistensi mereka dengan memilih Presiden Afro-Amerika pertama sepanjang masa yang terkenal dengan tagline "Change We Believe In". Barack Obama terpilih menjadi presiden Amerika Serikat dengan kampanye model pencitraan yang kini jadi semacam mainstream bagi kebanyakan aktor-aktris politik di Indonesia.

Adalah suatu hal yang luar biasa untuk melihat bagaimana proses dialektika politik dari pasangan calon yang gagal terpilih. Penonton disuguhkan pada kejadian-kejadian faktual seputar Pemilu tahun 2008 lalu itu. Kita dapat menyaksikan bagaimana suatu entitas merepresentasikan dirinya dalam sepasang kandidat presidensial. John McCain dan Sarah Palin punya keyakinan luar biasa untuk bisa menjadi simbol Amerika. Masing-masing punya gaya tersendiri dalam meyakinkan pendukung mereka.

'Game Change' menceritakan perjalanan John McCain dan Satah Palin dalam mencari pendamping untuk mewakilinya di kursi kepresidenan hingga akhir masa pemilu. Ketegangan mulai intens ketika keduanya mulai turun dan berhadapan dengan masyarakat secara langsung. Perdebatan mengenai kapabilitas Sarah Palin serta hal-hal kontroversial seputar dirinya menjadi topik utama. Tentang bagaimana responnya terhadap isu-isu nasional dan internasional, kehamilan putri remajanya, hingga dana kampanye yang digunakan untuk membeli pakaian selama kampanye.

Sosok Sarah Palin menjadi dominan kala ia mulai kehilangan semangatnya. Ia mulai lelah dengan segala macam usaha yang Tim Sukses lakukan untuknya. Ia mulai menolak untuk berlatih menghadapi wawancara dan menambah wawasannya lalu hanya mengandalkan kemampuan retorisnya belaka yang celakanya tidak membuat situasi yang bagus untuk nilai elektabilitas mereka. Sebuah parodi wawancaranya bahkan muncul di televisi, diperankan apik oleh Tina Fey. Bila penasaran sila buka Youtube dan ketik "Sarah Palin Impersonator".

Melewati masa kritis itu, Sarah Palin kembali dipertemukan dengan keluarganya atas inisiatif John McCain. Ia kembali merengkuh rasa percaya diri yang sempat melemah. Sarah Palin kembali menjadi aktris podium yang mampu menyihir khalayak Amerika untuk mendukungnya. Kemenangan pada debat terakhir atas Joe Biden adalah satu bukti kemenangan retorika. Satu hal dimana Sarah Palin piawai memanfaatkannya. She totally change the game.

Apapun itu, film ini mengajarkan banyak hal tentang bagaimana mengorganisasi sebuah Tim Sukses. Juga bagaimana melewati masa-masa sulit untuk bangkit kembali. Pada akhirnya, kita semua tahu bahwa Barack Obama duduk sebagai Presiden ke-44. Namun, kita disuguhkan satu pertunjukan dimana terjadi perlawanan sengit untuk meraih kursi presiden. Sebuah pertarungan yang tidak melupakan 3 spirit/nilai utama hidup bangsa Amerika; Family, Faith, Flag. 

Menjelang Pemilu 2014, rasanya para pasangan kandidat capres-cawapres harus mau mengambil banyak hikmah serta belajar banyak hal dari film yang dirilis tahun 2012 ini. Utamanya, dalam memposisikan diri sebagai pelayan publik yang beraksi nyata dengan kampanye yang bersih.

Judul           : Game Change
Sutradara    : Jay Roach
Cast            : Julianne Moore, Ed Harris, Peter Macnicol, Sarah Paulson
Tahun         : 2012
Produksi     : HBO Films
Genre         : Drama-Biografi

Paninggilan, 4 Februari 2014.

Senin, 03 Februari 2014

Selama Kita Tersesat Di Luar Angkasa

Selama Kita Tersesat Di Luar Angkasa memberikan pengalaman yang berbeda dari karya-karya Maggie sebelumnya. Kumpulan cerita bertema absurditas ini membawa pembaca pada suatu momen fiksional yang terasa nyata. Absurditas sudah jadi bagian hidup kita sehari-hari. Betapa hidup sendiri kadang selalu gagal menyajikan kisah indah bak opera sabun picisan di layar kaca.

Saya menikmati pembacaan kumpulan cerpen ini. Semuanya sangat berbeda dengan apa yang saya rasakan dalam buku Maggie sebelumnya, Balada Ching-Ching. Semua cerpen disini terasa lebih hidup dan nyata. Agaknya juga melekat erat dengan keseharian rutinitas kita.

Saya hampir tidak mampu menentukan cerpen mana yang paling saya sukai. Saya suka semua cerpen disini. Rasanya seperti menonton scene sebuah film yang tak berawal dari awal dan tak berakhir pada ending. Namun, bila harus memilih, saya akan memilih cerpen berjudul "Jam Kerja". Saya suka cara Maggie bercerita dengan sudut pandang seperti dalam cerpen itu. Mengingatkan saya pada cerpen SGA, "Aku Kesepian Sayang, Datanglah Menjelang Kematian".

Melalui buku ini, Maggie Tiojakin sekali lagi menunjukkan kualitasnya. Baik secara kepengarangan maupun dalam penulisan cerita. Maggie tidak hanya sekedar bercerita. Maggie juga menampilkan dan juga membuka tabir yang barangkali selama ini belum kita ketahui, lewat riset yang intens. Hal yang sangat mempengaruhi dan mendominasi isi serta jalan cerita.

Satu hal terbaik dari buku ini adalah catatan penulisnya sendiri di akhir buku ini. Maggie menceritakan proses perjalanan penulisan kumpulan cerita absurd ini dengan membahas absurditas itu sendiri. Pun, dengan beberapa catatan (maybe it's a personal notes) dibalik cerpen yang ditulisnya menjadikan buku ini memiliki kesan personal yang mendalam. 

Judul        : Selama Kita Tersesat Di Luar Angkasa
Penulis        : Maggie Tiojakin
Penerbit    : Gramedia Pustaka Utama
Tahun        : 2013
Tebal        : 241 hal.
Genre        : Fiksi-Kumpulan Cerpen


Argo Parahyangan, 3 Februari 2014.

Minggu, 02 Februari 2014

Pacific Rim, Planes, & Catching Fire.

Today there is not a man nor woman in here that shall stand alone. Not today. Today we face the monsters that are at our door and bring the fight to them. Today, we are cancelling the apocalypse! 
(Pentecost, from Pacific Rim)

I know it’s much too late to watching these awesome movies. Well deserved because i just had my long weekend to run (another) movie marathon. As titled above, i spend my weekend with them.

Pacific Rim

 

Somebody whose my good old buddy told me this movie is more worth on him other than The Transformers. He’s not made a mistake by telling me this.

Film fiksi ilmiah kesekian ini kembali mengangkat pertempuran hebat antara umat manusia dengan spesies asing. You may say they’re an alien who aiming to conquer planet earth. They’re not working alone. They made another creatures just to vanishing people from this lovely earth.

Sekilas, film ini mirip dengan ‘Godzilla’. Penampakan rupa monster Kaiju mirip betul dengan si ‘Godjira’. Saya yakin ada andil orang Jepang dalam pembuatan film ini (selain Rinko Kikuchi pastinya). Film ini berhasil memainkan instensitas ketegangan dengan akhir yang sudah dapat ditebak. The hero is the one who stands last!

Seperti ‘Transformers’, film ini mengajarkan respek terhadap sesama rekan seperjuangan. Kepercayaan adalah barang mahal yang harus tetap dipertahankan dan sebisa mungkin jangan sampai kehilangan hal itu sedikit pun.

Anyway, saya suka desain robot-robot Jaeger ini. Tidak seperti Autobots dan Decepticon yang dibuat lebih menyerupai manusia. Apalagi dengan sistem AI (artificial intelligence) Jaeger yang melibatkan interaksi dengan sistem sensorik tubuh manusia, semakin membuat kekaguman pada makhluk raksasa ini. saya tidak tahu bagaimana jadinya bila Cherno Alpha, Striker, dan Gipsy diadu dengan Optimus Prime, Bumblebee, dan Starscream. Tentu akan jadi battle yang sangat menarik sekaligus menegangkan.

Planes


Sebagai catatan, saya sudah menonton ‘Planes’, film animasi dari Disney sebagai suksesor ‘Cars’ setengah jalan di flight entertainment pesawat menuju Kuala Lumpur, akhir November 2013 lalu. Saya memang penasaran ending dari film ini. Namun, saya rasa tidak akan jauh seperti ‘Cars’. Menyimak alur dan jalan cerita sepertinya memang akan begitu.

Betul saja, Dusty Crophopper melakukan hal yang sama seperti Lightning McQueen menyelesaikan balapan pertamanya. Film ini membuat saya menertawakan banyak hal. Mulai dari joke ejekan buat pesawat agrikultur (Dusty Crophopper = Air Tractor), landing di USS Flysenhower (hello, Mr. Eisenhower?), hingga cara Dusty dan Skipper menaklukkan Ripslinger.

Sebagai pelajaran, ‘Planes’ memberi inspirasi untuk selalu berbuat baik, bahkan kepada lawan sekalipun. Karena kita tidak akan pernah tahu kapan kita akan butuh bantuan mereka. That’s the main point, i guess.

The Hunger Games 2: Catching Fire


Sebetulnya saya kurang suka menonton film yang diangkat dari serial buku, semisal Harry Potter dkk. (kecuali Jason Bourne and its predecessors). Namun, saya sudah terlanjur menonton The Hunger Games akibat rekomendasi seorang kawan. Saya merasa harus melanjutkan serial ini seperti menamatkan serial Bourne quartology.

Survival, masih jadi isu utama film ini yang mencampur perjuangan atas nama cinta dengan naluri bertahan hidup individual. Saya cukup menikmati aksi Katniss Everdeen di sekuel ini. Padahal, saya sudah cukup tegang tidak akan mampu menamatkan film berdurasi dua jam lebih ini.

Saya tidak akan menulis review soal film ini. Biar saja para kritikus itu melakukan tugasnya. ‘Catching Fire’ adalah jembatan pembuka jalan yang bagus menuju sekuel edisi ketiga, To Kill A Mockingjay. Penggemar THG tentu harus bersabar untuk menunggu THG 3 dirilis dan menunggu bagaimana visualisasinya. Akankah mampu mereprentasikan cerita seperti dalam bukunya. Harap dicatat, saya belum membaca satu pun buku trilogi The Hunger Games.

Last but not least, scene ketika Katniss memanah langit untuk mendapatkan energi dari kilat yang menyambar adalah adegan favorit saya. Bagian paling dramatis dalam film ini. Katniss moves like she’s catching fire everywhere. What about you?


Pharmindo, 2 Februari 2014.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...