Tampilkan postingan dengan label love songs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label love songs. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Agustus 2024

Satu Dekade KLa Project


 
Izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi,
Bila hati mulai sepi tiada terobati

Album “Dekade: 1988-1998” adalah album Kla Project pertama yang saya dengarkan secara penuh full album. Alasannya mudah saja, dalam album ini ada banyak lagu-lagu popular Kla Project dan menjadi hits pada masanya. Jadi, rasanya sangat menyenangkan. Satu album penuh yang diisi dengan lagu-lagu hits dan bisa saya ikut nyanyikan. Saya meminjam album ini dalam bentuk kaset pita dari Paman. Saya tidak punya pretensi apa-apa, hanya saja saya butuh sesuatu untuk saya dengarkan selain radio dan kaset-kaset lainnya. Waktu itu, menjelang ujian SPMB. Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru. Album ini menemani saya dalam menjalani hari-hari persiapan ujian.

Hari-hari itu adalah masa yang tak pernah mudah. Saya hanya punya waktu sebulan penuh untuk persiapan dan latihan soal. Saya mulai jam 07.00 di pagi hari dan selesai setiap jam 17.00. Istirahat hanya pada saat butuh ke kamar kecil dan waktu shalat saja. Selebihnya, saya berada di meja belajar berkutat dengan buku-buku persiapan ujian. Saya tidak melakukan kegiatan belajar di malam hari. Kalaupun ada hanyalah sekedar membaca-baca pelajaran yang bisa dibaca dalam rumpun Ilmu Sosial. Maklum, saya yang murid IPA ini mengikuti ujian SPMB IPS. Bukan IPC, agar saya fokus. Sebuah Keputusan yang saya anggap tidaklah terlalu salah.

Album ini menemani malam-malam saya. Semakin lama saya dengarkan, saya semakin menikmati musikalitas Kla Project. Ada beberapa lagu dari sesi KLakustik yang disisipkan dalam album ini. Kalau tidak salah, “Yogyakarta” yang selalu membuat rindu kembali ke Yogyakarta, “Waktu Tersisa”, “Salamku Sahabat”, “Tentang Kita”, dan “Semoga”. “Semoga” ini cukup baru untuk telinga saya. Sehingga lagu ini kemudian jadi favorit saya Bersama dengan “Belahan Jiwa”. Apalagi nuansa yang dihadirkannya adalah suasana konser KLakustik di Taman Ismail Marzuki tahun 1995 silam. Sebuah pertunjukan yang megah untuk sebuah band yang berumur 7 tahun.

Dulu, akses internet tidak semudah saat ini. Jadi, saya tidak pernah tahu seperti apa gambaran visual konsernya. Yang jelas, saya hanya bisa berharap untuk dapat memiliki kaset KLakustik yang terbagi jadi dua keping kaset. Saya baru bisa mendapatkan album KLakustik pada tahun 2023 lalu dalam bentuk CD di sebuah toko music terkenal di bilangan Sabang, Jakarta Pusat, dengan harga yang sangat menyenangkan pula.

Kembali ke Dekade. Album bersampul dominan warna hitam ini seperti menyimpan unsur magis yang dapat menyihir setiap pendengarnya. Apalagi bila sudah sampai pada “Takluk” di side B. Anyway, this album is fantastic. Sebuah pencapaian bagi sebuah band yang tidak pernah mudah. Seingat saya, pada tahun 1997, setahun sebelum album ini dirilis, Lilo mengeluarkan single pertama dari albumnya yang cukup viral juga saat itu dengan lagu andalan “Sandra”. Sandra oh Sandra, waktu merambat menjelang senja. Katon juga sempat merilis album “Harmoni Menyentuh” pada tahun yang sama dengan singlenya “Meniti Hutan Cemara”. Jenuhku adalah beban, yang tak boleh terulang. Seakan dua pertanda itu menegaskan terjadinya sesuatu dalam Kla Project. 

Anyway, saya kini menikmati kembali album ini dalam bentuk yang lain. Kalau dulu dalam bentuk kaset, sekarang saya bisa menikmatinya dalam bentuk digital music streaming yang mengharuskan kita berlangganan. Sebut saja Oknum “S” hahahaha. Juga, saya mendapatkan keping CD album ini yang berisi dua keping CD dan bonus sebuah booklet yang berisi lirik lagu-lagu dalam album serta ucapan salutation dari Kla Project.
Album ini dinaungi label Prosound dan hadir dalam dua keping CD serta kaset pita ini adalah bukti bahwa Kla Project belum usai pada usianya yang satu dekade itu. Setahun sesudah “Dekade”, kemudian lahir album “Sintesa” pada tahun 1998 dengan hits andalannya “Sudi Turun ke Bumi”. Saya tidak bisa berkomentar banyak mengenai album “Sintesa”. Menyusul setahun sesudahnya, album bertajuk “Klasik” dengan hitsnya yang popular yaitu “Menjemput Impian”. Kekasih aku pulang, menjemput Impian. Lalu, “Kidung Mesra”. Ingin masuki puri dihatimu, hangatkan ruangnya dengan cinta. Aaahhh, cinta.

To conclude this post, album ini is simply amazing. Merangkum sepuluh tahun perjalanan band legendaris dengan lirik-lirik nan puitis. 

Meski tlah jauh, aku akan tetap menulis tentang kita
Walaupun aku bahagia tanpamu, aku akan selalu merindukan gerimis
Pada belahan jiwa, yang membuatku takluk
Aku takkan lepaskan, semoga 
Kita selalu satu kayuh berdua


Cipayung, 28 Agustus 2024

Rabu, 12 November 2014

12 Tahun AADC

Adalah cinta yang mengubah jalannya waktu
Karena cinta, waktu terbagi dua
Denganmu dan rindu, untuk membalik masa


Dua tahun lalu, saya menemukan sebuah jawaban atas sebuah pertanyaan dua belas tahun lalu. Finally, tahun ini Rangga dan Cinta mengalaminya. Dua belas tahun jarak waktu dan ruang membentang akhirnya kembali tayang. Apa hubungannya? Abaikan. Apapun itu, kita harus berterimakasih pada perusahaan developer aplikasi chatting yang sengaja mengumpulkan The Signature of 2002. Minus Dennis Adhiswara.


Ada Apa Dengan Cinta akhirnya kembali tayang. Meski dalam format mini drama yang habis ditonton sekali duduk. Biarpun begitu, AADC versi 2014 ini membuat para muda-mudi yang mengalami masa-masa bangkitnya perfilman Indonesia medio 2002 silam,  kembali mengenang masa keemasan paling indah dalam hidup mereka (Saya sih iya. Kamu?). Mini drama ini seakan ingin menjawab pertanyaan atas segenap rasa penasaran kita, “12 tahun ini Rangga dan Cinta ngapain aja?”.

Rangga terlalu sibuk, mana sempat ingat sama Cinta.
Dimulai dengan Rangga yang disela kesibukannya harus menyempatkan diri pulang ke Jakarta demi urusan pekerjaan. Well said. Rangga kini sudah jadi pekerja kreatif yang (nampaknya) sukses di New York sana. Ukurannya apa? Rangga bisa dapat penugasan ke luar negeri dari kantornya.

Sambil menyiapkan bekal perjalanan tugasnya, tak sengaja Rangga menjatuhkan buku “Aku” karya Sjuman Djaya. Ini pasti sebuah konspirasi besar alam semesta untuk mengembalikan ingatan Rangga pada Cinta.

The Gang: Friendship never ends
Cinta sendiri (barangkali) menjalani pekerjaan impiannya. Sambil sesekali berkumpul bersama geng SMA, Alya, Maura, Milly, dan Carmen; yang tentunya sudah punya hidup masing-masing juga. Saat itu juga, Rangga menemukan kembali Cinta lewat fitur aplikasi chatting yang terkenal gara-gara stikernya itu. Rangga yang terkenang masa lalu bersama Cinta, mengirim pesan langsung ke ponsel  Cinta. Sejenak, Cinta merasa aneh karena ia tidak mengenal Rangga yang lain. Alhasil, pesan Rangga itu berhasil mengoyak jala memori dalam ingatan Cinta.


Rangga berusaha menemui Cinta dalam perjalanannya ke Jakarta. OK, sampai disini barangkali juga pembaca sudah mafhum bahwa beredar kabar hoax yang menyatakan bahwa Cinta sudah tidak lagi tinggal di Jakarta tapi di Bekasi, lalu Rangga mencoba menyamar menjadi agen MLM untuk mendekati kembali Cinta. Prelude yang bagus untuk rehat sejenak dari kebosanan rutinitas :p.


Rangga terus menerus mengirimi pesan pada Cinta. Pesan yang percuma saja karena tidak terbalas. Cinta sendiri bukannya tak ada usaha.  Ia mencoba meyakinkan perasaannya kembali pada Rangga. Satu sisi, ia tidak ingin memberikan harapan apa-apa untuk Rangga. Namun, sisi lain hatinya pun merasa ingin melangkah dan melanjutkan hidup tanpa bayang-bayang masa lalu (baca: Rangga).

Rangga dan Cinta bakal ciuman lagi?

Memang dasarnya sekuel mini ini berbasis drama, selalu ada kejutan menjelang akhir cerita. Lupakan sejenak pesan sponsor. Cinta memutuskan untuk tidak menjawab pesan-pesan Rangga. Rangga pun sudah patah harapan untuk bertemu Cinta. Keajaiban itu nyata bagi mereka yang meyakininya. Sepertinya doa Rangga didengar Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan Maha Pembulakbalik Hati, yang akhirnya mengirim Cinta untuk menemui Rangga. Lagi-lagi, menjelang waktu keberangkatan Rangga.

Detik tidak pernah melangkah mundur,
Tapi kertas putih itu selalu ada.
Waktu tidak pernah berjalan mundur,
Dan hari tidak pernah terulang.
Tetapi, pagi selalu menawarkan cerita yang baru.
Untuk semua pertanyaan, yang belum sempat terjawab.


“Jadi, beda satu purnama di New York dan di Jakarta?” Pertanyaan akhir yang menutup cerita. Kiranya, penonton harus kembali menunggu jawaban apa yang akan Rangga berikan pada Cinta.

Gugatan Seorang Penulis Dadakan

Saya termasuk dalam generasi emas yang ikut mengalami fenomena Ada Apa Dengan Cinta jilid pertama. Saya juga termasuk dalam golongan pembaca yang ikut penasaran dengan buku “Aku” tulisan Sjuman Djaya namun batal membelinya di toko buku. Saya masih kelas 1 SMA ketika Cinta memberikan ciuman perpisahan pada Rangga. Film ini seakan mewakili keberadaan entitas kami di dunia yang tak pernah selebar daun kelor ini.

Kembalinya kisah Rangga dan Cinta ini sempat saya ketahui dari judul headline sebuah portal berita online. Katanya, pemeran AADC-minus Dennis Adhiswara @omdennis- kembali reuni untuk promosi sebuah produk. Saya tidak lantas membaca berita itu lebih lanjut karena tidak menyangka bahwa reuni mereka akan berakhir dengan sebuah rilis mini drama.

Weekend minggu lalu, saat Persib bersiap merayakan keberhasilannya menjuarai Liga Indonesia, saya dikejutkan dengan rilis sekuel AADC yang bisa ditonton di Youtube. Saya tidak menyangka bahwa akan ada konspirasi besar antara pemilik modal (sebut saja perusahaan pengembang aplikasi chatting berwarna hijau) dengan reuni pemeran AADC.


Saya bersyukur karena akhirnya tidak lagi penasaran, apakah Rangga berhasil melalui satu purnama tanpa Cinta nun jauh disana. Buktinya, keduanya baik-baik saja tanpa harus saling mengingat, hanya dengan menjalani hidup masing-masing saja. Tetapi, kita memang tidak pernah tahu apa nasib waktu. Kita tidak pernah benar-benar paham bagaimana persinggungan takdir mempertemukan kita dengan seseorang, lantas akrab lengket seperti ketan, kemudian kembali berpisah atas nama takdir pula.

Melalui mini drama ini, kita kembali dihadapkan pada Cinta yang masih mengalami peer pressure dari keempat sahabatnya. Lupakan Rangga, cari yang lain saja. Begitu kata mereka *kecuali Alya*  yang merasakan kegundahan Cinta. *peluk Ladya Cheril*. Cinta terlihat seperti yang tidak mau cari ‘gara-gara’ dengan Rangga namun akhirnya mengalah pada perasaannya dan menemui Rangga di saat-saat terakhir langkah Rangga di Jakarta. Pelajarannya, barangkali Dian Sastro dan Nicholas Saputra ingin berpesan bahwa tidak baik memberikan harapan palsu pada seseorang kecuali kamu sudah seganteng dan secantik mereka berdua. #justsaying

Alya, aku juga pengen kita mulai dari awal lagi *digetok Mira Lesmana*

12 tahun waktu berlalu dan mereka berdua asyik dengan hidup masing-masing dan hanya dihabiskan dengan pertemuan singkat di akhir cerita. Keduanya tidak sama-sama berusaha untuk menjalin kembali apa yang telah mereka mulai. Kalau saat itu umur mereka 18 tahun, berarti mereka sekarang sudah berumur 30 tahun. Waktu yang cukup dari ideal untuk mempersatukan tali cinta abadi. Hal ini menandai satu fenomena bahwa kaum muda di Ibukota baru memulai untuk menjalin hubungan serius di penghujung umur 20-an mereka. Tentu, perlu penelitian lebih lanjut untuk membuktikan hipotesis dadakan saya ini.

Kemasan mini drama sekuel ini rasanya cukup baik dengan polesan scoring yang tepat. Dibuka dengan puisi Rangga, diiringi instrumen lagu-lagu official soundtrack, dan ditutup dengan puisi Rangga dan Cinta. Perlu ada analisis tersendiri pula mengapa lagu ‘Demikianlah’ menjadi dominan di akhir cerita. Apa karena ada liriknya yang berkata: “kata orang rindu itu indah”, sehingga Rangga dan Cinta butuh waktu lagu untuk menikmati kebersamaan mereka dalam bentangan jarak dan waktu? Semoga kita tidak perlu menunggu hingga 12 tahun lagi untuk mendapatkan jawaban.

Terakhir, andai saya jadi Rangga saya akan menjawab pertanyaan Cinta.

“Jadi, beda satu purnama di New York dan di Jakarta?”

Saya akan menjawab:

“Cinta, percayalah, bahwa ketika engkau menatap purnama di langit Jakarta, aku pun menatap purnama yang sama di langit New York” *keselek duren*



Paninggilan, 12 November 2014.
menatap nanar pada gerimis, rindu

Kamis, 26 September 2013

Yovie and His Friends: Irreplaceable #TakkanTerganti

Awalnya



Beberapa bulan lalu, dalam sebuah wawancara Yovie Widianto mengatakan bahwa ia akan menggelar sebuah konser pada bulan September ini. Kontan, sejak saat itu saya terus mengikuti konser apa gerangan September nanti. Waktu penantian itu semakin terasa kala saya mendapatkan informasi bahwa tiket presale untuk konser bertajuk “Irreplaceable: Takkan Terganti” ini pada konser 27 Tahun Kahitna, Juni lalu. Belum ada informasi mengenai artis-artis lain yang akan tampil dalam konser ini. Namun, Yovie sudah merilis beberapa nama penyanyi kondang yang akan menemaninya di konser perayaan 30 tahun berkarya di kancah musik Indonesia.

Saya turut mengantri demi mendapatkan tiket presale yang dikorting 50% sembari menunggu Kahitna naik panggung. Niat untuk mendapatkan tiket Festival (kelas paling murah) pun gagal karena kuota yang sold-out, lalu saya menggantinya dengan tiket Festival 1. Saya semakin deg-degan karena antrian sudah hampir bubar. Voila, I got the ticket! Selanjutnya, tinggal menunggu tanggal bersejarah dalam hidup saya sebagai penggemar dan penikmat karya-karya Yovie Widianto.
 

Belakangan, beberapa hari sebelum konser saya dengar iklan di radio bahwa ada additional musician yang akan tampil menemani Yovie Widianto di atas panggung. Sharon Corr dan Rick Price. Nama terakhir sudah tidak asing lagi karena bersama Kahitna, Rick Price sudah pernah menggelar konser dalam tur 5 kota tahun 2012 lalu. Kehadiran Sharon Corr tentu menjadi warna tersendiri dalam konser nanti. Violis sekaligus backing vokal The Corrs ini akan mengawali penampilan perdananya di Indonesia.

Menjelang konser dimulai saya kembali dilanda perasaan cemas. Bukan apa-apa, karena alasan pekerjaan saya masih dalam perjalanan Bandung-Jakarta. Saya berharap tentu dapat tiba di venue tepat pada waktunya. Saya juga belum menukarkan e-voucher dengan tiket resmi. Sudah jelas saya akan kehilangan banyak waktu disitu. 

Satu catatan untuk panitia. Begitu tiba di loket penukaran tiket, saya terkejut karena tiket saya (Festival 1) sudah habis. Saya sangat kecewa karena panitia tidak menghitung dengan pasti jumlah tiket yang dikeluarkan pada saat presale dengan pada saat show (D-day). Saya yang sudah mau marah-marah pada petugas tiket ditawari penggantian tiket Festival dengan kelas GOLD. Seketika, kemarahan saya mereda. Saya mendapatkan tiket kategori GOLD. Artinya, saya mendapatkan tempat duduk untuk menikmati konser musisi favorit saya. Yeay! Kalau Tuhan mau kasih ganti, pasti diganti dengan yang lebih baik.

The Show #TakkanTerganti

Marcell
Memasuki ruang konser, saya diberitahu penonton di sebelah saya bahwa saya tidak terlalu terlambat karena baru dua lagu yang dimainkan. Saya baru baca di satu portal berita bahwa Mario Kahitna memulai konser dengan lagu ‘Terlalu Cinta’ yang aslinya dinyanyikan oleh Rossa dan bersama Marcell melantunkan lagu ‘Katakan Saja’.

Marcell kembali membawakan lagu ‘Peri Cintaku’ dimana terdapat lirik yang sangat mengiris hati: “Tuhan memang satu, kita yang tak sama...”. Penonton dibuat histeris dengan penampilan Marcell. Tak lama, Rio Febrian tampil dengan menyanyikan potongan lirik lagu hitsnya: “Aku takkan bertahan bila tak teryakinkan.. sesungguhnya cintaku memang hanya untukmu...” Rio Febrian tampil bersama Dikta (Yovie and Nuno) meneruskan lagu “Bukan Untukku” itu.

RAN @RANforyourlife

Belum usai kejutan itu, RAN langsung menggebrak dengan membawakan lagu “Tentang Diriku” yang langsung membuat penonton bergoyang. Tak sampai usai, lagu “Andai Dia Tahu” langsung dibuat medley dengan sisipan lirik lagu “Suratku” yang diiringi Hedy Yunus. 

Selain menawarkan komposisi musik yang berbeda dari musisi yang tampil, konser Yovie kali ini juga menghadirkan banyak tawa lewat obrolan-obrolan di panggung. Misal, celetukan Hedy Yunus soal usia saat berkelakar dengan Rio Febrian. Belum lagi guyonan-guyonan khas Mario Ginanjar. Banyak juga ‘curcol’ dari penyanyi yang tampil didaulat membawakan lagu-lagu Yovie Widianto. Betapa bahagianya seorang Yovie karena karyanya bisa diterima dan everlasting di hati pendengarnya. Penonton dibuat tidak bosan menunggu Yovie and His Friends singing his greatest songs.

Alexa kemudian tampil membawakan hits legendaris yang mengawali perjalanan karir solo Hedy Yunus, “Suratku”. Bagi Soulmate Kahitna yang terbiasa dengan nuansa mellow dari lagu aslinya pasti akan dibuat terpana dengan versi band dari Alexa.

Andien dan Raisa

Andien dan Raisa tak kalah menggebrak. Andien membawakan lagu “Kini” yang lebih dulu dipopulerkan Rossa dan direcycle oleh Marcell. Paduan nada jazzy dari keduanya menjadikan lagu ini lebih catchy. Tidak berhenti disitu, Raisa langsung menyanyikan lagu hits dari Yovie and Nuno, “Dia Milikku”. Kesan ‘pertengkaran’ dalam lagu itu dibuat nyata dengan tarikan vokal Andien dan Raisa yang punya ciri khas tersendiri. Ada kejutan dalam lagu itu dimana disisipkan petikan lirik dari hits Kahitna, “Cinta Sendiri”.

Kahitna
Kahitna, sebagai band yang turut andil dalam karir musik Yovie Widianto, melanjutkan kegembiraan dalam konser dengan membawakan “Bunga Jiwaku” dan “Tak Setampan Romeo”, hits lainnya dari Yovie and Nuno. Soulmate menyambut penampilan Kahitna dengan riuh, seakan terpuaskan oleh penampilan idolanya. Kahitna kemudian mengajak Dikta dan 5Romeo untuk bernyanyi bersama. Mereka secara medley menyanyikan “Janji Suci” (Yovie and Nuno) – “Tak Sebebas Merpati” (Kahitna) – “Cinta Abadi” (5Romeo). Disela-sela obrolan panggung, mereka juga menyanyikan sepenggal lirik dari lagu Kahitna “Menikahimu”.

Seakan menangkap gairah penonton yang semakin memuncak, Yovie mengajak penonton untuk menikmati bersama karyanya bersama Kahitna yang mengantarkan mereka meraih penghargaan internasional pertama, “Lajeungan”. Lagu berbahasa Madura ini tampil semarak karena turut dihiasi oleh koreografi dari tiga vokalis Kahitna. Lajeungan pun menutup penampilan Kahitna.

Selang berganti, Hedy Yunus masih stay di panggung dan masuk Rio Febrian untuk tampil kembali membawakan lagu hitsnya “Ku Jatuh Cinta Lagi”. Usai bernyanyi bersama, keduanya terlibat dalam perbincangan seru bersama Yovie Widianto soal dibalik penciptaan lagu itu. “Jadi yang salah siapa?” selalu terucap tanya dari Rio Febrian yang dibalas Yovie dengan memainkan petikan lagu dari “Aku, Dirimu, Dirinya”. Cinta takkan salah. “Cinta nggak pernah salah...” balas Yovie. Berturut-turut kemudian Rio Febrian dan Hedy Yunus kembali bernyanyi medley pada bagian chorus “Merenda Kasih” (Hedy Yunus), “Aku, Dirimu, Dirinya” (Kahitna), dan “Lebih Baik Darinya” (Rio Febrian).

Usai tampil, Hedy Yunus dan Rio Febrian masih terlibat dalam perbincangan seru. Topik obrolan semakin mengerucut ketika mereka menantang Yovie untuk menciptakan satu lagu dalam waktu singkat (sekitar 4 menit) dimana nada dalam lagu itu nanti dipilih oleh penonton. Tak perlu waktu lama karena Masayu Anastasia segera naik panggung untuk memilih nada dari keyboard yang dimainkan Yovie. Penonton diberi kesempatan untuk memilihkan tiga kata yang akan menjadi lirik dalam lagu itu. Terpilihlah tiga nada yaitu Do-Si-Sol dan tiga kata: janda, sakit, dan melayang. Kata ‘janda’ diperoleh dari Titi Rajo Bintang yang duduk bersebelahan bersama Titi DJ sehingga Hedy Yunus segera menangkap kata ‘janda’ itu untuk dimasukkan dalam lirik lagu. Penonton kembali diberi kesempatan untuk memilih dua dari empat penyanyi yang akan menyanyikan lagu itu. Pilihannya, Mario Ginanjar, Hedy Yunus, Marcell, dan Rio Febrian. 

Masayu Anastasia naik panggung
 
Akhirnya, Marcell dan Rio Febrian terpilih bersama Yovie Widianto untuk menciptakan lagu dadakan itu di belakang panggung. Mario Ginanjar dan Hedy Yunus sontak menyatakan kepuasannya karena mereka sudah lebih duluan pengalaman soal ikut serta dalam penciptaan lagu dadakan dalam beberapa konser sebelumnya.
Sambil menunggu lagu dadakan itu selesai, penonton dihibur dengan kolaborasi Alexa dan RAN yang membawakan hits Yovie Widianto yang populer di tahun 90-an, “Cukup Sudah” yang dinyanyikan oleh penyanyi pendatang baru saat itu, Glenn Fredly. Penampilan dua band yang berbeda warna ini memberikan kesan yang lebih baru untuk lagu hits itu.

Rio Febrian dan Marcell

Tantangan untuk mencipta lagu sekejap pun akhirnya selesai. Yovie memainkan lagu dengan apik lewat keyboard andalannya. Tiga nada yang harus ada dalam lirik pun berhasil dikombinasikan selaras dengan tiga kata.

“Melayang ku denganmu, oh sakitnya, mungkin aku dulu tak sebaik saat ini. Kini engkau sendiri, mereka bilang kau janda, namun hatiku ingin temaniku"

Duet Marcell dan Rio Febrian yang didaulat menyanyi pun mendapat sambutan hangat dari penonton. "Ya, lagu ini judulnya 'Janda Melayang’.." celetuk Hedi Yunus yang langsung disambut tawa penonton.

Angela
Penonton seakan dibuat terus terpesona oleh Yovie. Yovie Widianto yang dikenal juga sebagai penghasil penyanyi muda bertalenta seperti Alika dan Angel Pieters, kembali membawa bibit muda lainnya yaitu Angela dari Negeri Kincir Angin, negerinya Van Basten dan Ruud Gullit. Angela yang tampil anggun menyanyikan lagu “Sebatas Mimpi”. Bukan yang biasa dibawakan Hedy Yunus dalam versi Bahasa Indonesia, tetapi versi recycle campuran Bahasa Inggris dan Indonesia. Penampilan pertama Angela pun mendapatkan sambutan meriah. Di akhir lagu, Yovie menyatakan harapannya agar bisa bekerjasama lebih lanjut dengan Angela. Satu lagu penyanyi bertalenta siap mewarnai langit musik Indonesia.

Yovie dan Sharon Corr
Sharon Corr kemudian masuk panggung. Violis The Corr ini membuka penampilannya dengan memainkan “Toss The Feathers” diiringi band pengiring. Rasanya, sama ketika melihat penampilan The Corrs memainkan lagu yang sama dalam konser mereka di Landsdowne Road. Sharon melanjutkan penampilannya dengan menyanyikan lagu hits The Corrs yang sudah akrab di penikmat musik Indonesia, “So Young” dan “Radio”

Penampilan Sharon ditutup dengan duet bersama Andien membawakan lagu soundtrack dari SEA Games 2011 “Together We Will Shine (Kita Bisa)”. Sebelum turun panggung, Sharon menyatakan rasa bangganya bisa sepanggung dengan Yovie Widianto. Ia juga menyatakan bahwa ia telah merilis album singlenya dan akan kembali ke Indonesia tahun depan untuk menggelar konser tunggalnya. "Thank you, terima kasih. I'm lucky to play with you." ucap Sharon.

Duet Andien dan Sharon Corr
Usai penampilan Sharon Corr, Rick Price tampil lewat video footage/testimonial yang menceritakan tentang asal muasal ia bisa bekerjasama dengan Kahitna. Ia sungguh senang bisa kembali tampil sepanggung bersama Kahitna. Rick Price menyebut Yovie Widianto sebagai musisi jenius. Seperti saya sudah singgung, Rick Price memang pernah menggelar konser bersama Kahitna dalam rangkaian tur lima kota.

Rick Price kemudian bersama Kahitna membawakan lagu yang mereka ciptakan bersama, “Everybody Need Somebody”. Sepintas lagu ini agak mirip komposisi nada lagu “September” dari Earth Wind And Fire. Betul saja, di tengah lagu disisipkan potongan lirik lagu “September”.

Apa yang kamu harapkan ketika seorang Rick Price berdiri di panggung? Mario Ginanjar meminta Rick Price untuk membawakan sebuah lagu. “Please, sing for us, our favorite song.” Begitu kata Mario. Seakan mengerti, Rick Price kemudian membawakan hits legendarisnya “Heaven Knows”. Penonton pun langsung ikut larut bernyanyi sepanjang lagu. Saya sempat merinding ketika di bagian reff seluruh penonton ikut bernyanyi, “Maybe my love will comeback someday... Only heaven knows”. Rick Price pun langsung berkomentar, “Oh, that’s beautiful”.

Rick Price
Saya kira, penampilan Rick Price ini adalah bagian dari penutup konser. Namun ternyata saya salah karema Raisa kembali naik panggung setelah video promo film “Mantan Terindah” yang akan tayang 2014 nanti. Raisa menyanyikan hits patah hati yang selalu bikin gagal move on, “Mantan Terindah”. Keindahan suara Raisa kembali menghipnotis penonton untuk ikut bernyanyi bersama. “Mau dikatakan apa lagi... Kita tak akan pernah satu...”



Carlo Saba dan Yovie and Nuno menyambung penampilan Raisa dengan hits “Menjaga Hati”. Disambung kembali oleh Kahitna dengan “Cerita Cinta” dan “Cantik” yang dimainkan dengan aransemen dan komposisi baru yang lebih atraktif. Menjelang akhir konser, satu persatu artis pendukung bersama menyanyikan "Takkan Terganti" dan "Hanya Untukku" (Chrisye) dilanjutkan dengan medley “Juwita (Lebih Dekat Denganmu)” (Yovie and Nuno) dan “Kemenangan Hati” (Yovie Widianto feat. Dirly & Gea Idol). Mereka semua berada dalam satu panggung bersama Yovie Widianto. Mereka sangat berterima kasih karena dipercaya Yovie untuk membawakan karya-karyanya. Sedang, Yovie sangat senang karena karya-karyanya bisa diapresiasi dengan baik oleh dunia musik Indonesia.

Konklusi

Seperti konser Metallica bulan Agustus lalu, konser ini adalah satu lagi mimpi dan pencapaian buat saya yang mulai jatuh cinta pada karya Yovie Widianto sejak zaman 'Cerita Cinta' hingga kini. Saya telah melewatkan beberapa penampilan spesial Yovie Widianto bersama Kahitna, salah satunya adalah rangkaian konser tur lima kota bersama Rick Price tahun lalu. Maka, ketika saya mendapatkan kabar langsung dari Yovie tentang gelaran di bulan September ini, segera saja saya bersiap-siap untuk jadi satu dari 5000 penonton di Jakarta Convention Center. Saya pun sangat bersyukur karena tiket presale Festival 1 milik saya bisa 'diupgrade' oleh panitia ke Gold. Terima kasih untuk rekan-rekan kantor yang 'menahan' saya di Bandung beberapa jam sebelum konser dimulai. Tuhan memberkahi kalian.


Kesungguhan Yovie Widianto dalam berkarir menghasilkan sebuah totalitas yang tidak diragukan. Raihan penghargaan internasional pertamanya diraih bersama Kahitna berkat lagu “Lajeungan”. Untuk ukuran saat itu, belum banyak musisi Indonesia yang mampu membuat aransemen seperti dalam “Lajeungan”. Saya pertama kali menikmati “Lajeungan” dari CD album “25 Tahun Kahitna”.

Bagi Yovie Widianto, konser ini sangat berarti sekali karena kehadiran keluarga besarnya. Betapa bahagianya seorang Yovie Widianto karena istri, anak, serta Ibunda tercinta yang sempat meragukan pilihannya untuk menjadi musisi , dapat turut hadir menyaksikan penampilannya bersama dengan rekan musisi lain. Yovie berhasil membuktikan bahwa melalui musik, ia tidak perlu jadi diplomat untuk bisa keliling dunia. Yovie juga mengucapkan terima kasihnya kepada keluarga besar almarhum Elfa Secioria, guru musik yang sangat dihormatinya, untuk telah hadir bersama 5000-an penonton yang memenuhi JCC.

Selain menghasilkan hits untuk Kahitna, Yovie juga berhasil menciptakan hits bagi penyanyi lainnya. Sebut saja Rossa, Rio Febrian, Marcell, Glenn Fredly, Ruth Sahanaya, Hedy Yunus, Febby Febiola dan masih banyak penyanyi lainnya. Lewat Yovie Widianto Music Factory, ia juga telah mengorbitkan penyanyi baru seperti Alika @alikaislamadina dan Angel Pieters. Melalui Yovie and Nuno, Yovie juga menciptakan hits populer seperti “Inginku Bukan Hanya Jadi Temanmu”, “Indah Kuingat Dirimu”, “Janji Suci”, “Menjaga Hati”, “Galau” dan masih banyak lagi.

Melalui konser peringatan 30 tahun berkarya, Yovie seakan mengingatkan pada penyanyi pendatang baru bahwa karakter suara lebih penting dibanding keindahan suara itu sendiri. Banyak penyanyi yang mengandalkan suara emas mereka tanpa memperhatikan kualitas karakter suara. Akibatnya, banyak penyanyi yang ‘gagal’ dalam menapaki karir di belantika musik Indonesia. Selain itu, komposisi dan improvisasi adalah nilai tambah bagi sebuah musisi. Dengan komposisi yang teratur dan improvisasi  yang tepat sebuah lagu bisa memiliki berbagai nuansa.

Kehadiran dua penyanyi asing sebagai  featuring artists adalah kejutan yang sangat spesial. Sharon Corr yang selama ini hanya jadi violis dan backing vokal untuk Andrea Corr mampu menunjukkan kemampuan vokal yang prima diusianya yang sudah berkepala empat. Pun, Rick Price yang kelihatan semakin gaek, masih bisa menyanyikan “Heaven Knows” dengan cemerlang. Satu lagi impian saya terwujud: menonton seorang Sharon Corr membawakan lagu-lagu The Corrs. “Toss The Feathers” yang dimainkan Sharon adalah ekstasi saya malam kemarin. Saya sangat bersyukur karena saya dapat melihat langsung Sharon Corr memainkan nada-nada dalam lagu instrumental itu. Saya anggap penampilan Sharon Corr ini sebagai ganti dari konser The Corrs yang batal digelar awal 2000-an lalu.

Rasanya tidak berlebihan bila sepak terjang dan kontribusi Yovie Widianto disamakan dengan maestro musik dunia sekelas David Foster. Banyak orang yang mengibaratkan Yovie Widianto sebagai David Fosternya Indonesia. Yovie pun tidak mengelak dari apresiasi semacam itu karena David Foster dinilainya sebagai satu musisi yang berpengaruh terhadap musik yang diciptakannya.

Menonton konser Yovie and His Friends ini ibarat juga menyaksikan show David Foster and Friends. Kurang lebih, konsep yang ditampilkan sama antara keduanya. Mereka bersama-sama dengan musisi lainnya berkolaborasi dalam satu pertunjukan yang tentu saja spektakuler. Satu contoh saja. Dalam setiap konsernya, David Foster selalu menyertakan talenta baru untuk ia bawa. Seperti Charice Pempengco yang diajaknya berduet menyanyikan “Because You Loved Me” dengan Celine Dion dalam David Foster and Friends Concert 2008. Malam kemarin, Yovie pun menampilkan bakat baru temuannya, Angela.

Bila pembaca memang pernah menyaksikan pertunjukan David Foster (via DVD, Youtube, or else) dan sempat hadir di JCC kemarin, saya rasa pembaca pun akan merasakan hal yang sama dengan yang saya rasakan. Keduanya adalah maestro dengan karya-karya emas yang diterima dan diapresiasi dengan baik oleh sesama rekan musisi mereka. Tak heran, kelak keduanya akan menjadi torehan tinta emas dalam sejarah musik Indonesia dan dunia.

Happy Lucky Me!


JCC-Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 25-26 September 2013

Kamis, 11 Oktober 2012

Story of a Song: Bidam

Title : Bidam (Sad Story)
Singer : Lee Yo Won
Album : OST. The Great Queen Seon Deok Special Part 2 (2009)

Korean

baraboneun geudae nune garyeojin nunmuri boyeoyo
amureochi antago haedo alsuitjyo manhi himdeureotdangeol

naransaram, geureonsaram, saranghan cham gomaun geudae
honja ulgo geuriwohago, huhoehaneun nan babogatayo

i noraereul deutgo innayo ireon nae mam deullinayo
doragal su eomneun gireul tteonangeotcheoreom jeomanchi deo meolli inneyo
saranghaeyo saranghalgeyo orae orae gieokhaeyo
daeum sesang uri dasi mannalttaekkaji ichyeojiji anke

naransaram, geureonsaram, saranghan cham gomaun geudae
imi urin eogeutnan sarang, seuchyeogayo, aesseuji marayo

i noraereul deutgo innayo ireon nae mam deullinayo
doragal su eomneun gireul tteonangeotcheoreom jeomanchi deo meolli inneyo
saranghaeyo saranghalgeyo orae orae gieokhaeyo
daeum sesang uri dasi mannalttaekkaji ichyeojiji anke


English

I see the hidden tears in your eyes
Eventhough you say nothing’s wrong, I know
It was very hard for you

Someone like who I am
Thank you very much for loving me
Crying and dreading by yourself
I'm regret like a fool

Chorus:

Are you listening to this song?
Can you hear my feelings?
Like leaving to a path you can’t turn back
The distance is far away
I love you, I will love you forever
I will remember you forever
Until we meet again in the next realm
So I won’t forget you

Someone like who I am
Thank you very much for loving me
Already our love is not meant to be
It passes, don’t make an effort

*****


Mendengarkan lagu ini sepintas rasanya mirip dengan lagu D’Cinnamons, So Would You Let Me. Barangkali, terbawa suasana oleh siang yang mendung dan hujan yang membuat semua terasa begitu syahdu dan menyentuh. Ditambah lagi dengan kesendirian yang berteman sepi semakin membuat saya tersentuh. Kalau D’Cinnamons memulai lagunya dengan petikan gitar akustik, Bidam dimulai dengan permainan piano bertempo lambat. Kalau boleh berkomentar, rasanya sama galaunya.

Adalah suatu hal yang baru bagi saya untuk mendengarkan lagu berbahasa Korea. Memang ini bukan yang pertama. Semenjak drama televisi “Full House” tamat tidak pernah terbersit dalam benak saya untuk mencoba menikmati lagu Korea. Lagipula saya tidak begitu mengikuti drama-drama dari Korea. Seperti mengikuti sinetron saja rasanya.

Namun semua itu menjadi terbalik medio Februari kemarin. Tepatnya, sejak saya menyenangi sinetron berjudul “Surgeon Bong Dal Hee”, dimana penyanyi lagu ini, Lee Yo Won, jadi pemeran “Bong Dal Hee” dalam drama tersebut. Ini adalah kali pertama sejak era “Full House” dimana saya mulai menonton drama Korea lagi.Memang pada akhirnya drama itu tamat juga. Namun, kesan yang ditimbulkannya sangat dalam.

Memang lagu ini bukan OST Surgeon Bong Dal Hee melainkan drama lainnya yang masih dibintangi Lee Yo Won yaitu “The Great Queen Seon Deok”. Namun, demi alasan kesan yang tertinggal, saya memutuskan untuk mendownloadnya dan menikmatinya. Saya tidak cukup paham bahasa Korea, tetapi sedikit petunjuk dari sebuah blog sudah cukup untuk membantu menafsirkan isi dan maksud lagu tersebut.

Secara teknik vokal, Lee Yo Won masih terlihat biasa saja. Ada beberapa nada tinggi di bagian reff yang tidak dapat dicapai. Bagi pendatang baru yang memang tidak dibesarkan untuk jadi penyanyi saya rasa sudah cukup. Barangkali, kalau lagu ini dinyanyikan oleh penyanyi profesional tentu akan lebih baik walau akan kehilangan sedikit kesan dari suara penyanyi aslinya.

Bagaimanapun, lagu ini telah memberikan nuansa yang berbeda dalam hidup saya yang semakin terasa datar ini. Barangkali, dengan adanya sesuatu yang baru ini semakin membuka mata, hati, telinga, dan pikiran saya terhadap berbagai macam pengalaman baru. Semakin saya mendengarkan lagu ini, semakin ingin saya menikmatinya dengan galau, sendirian saja.

Additional Note (sebuah catatan dadakan)

Memang lagu ini bukan lagu Korea pertama saya. The first was still soundtrack from "Full House" (saranghaeyo Ji Eun <3 ). Waktu itu, siapa sih yang nggak terpesona sama sinetron Korea yang satu ini. Jauh sebelum #KoreanWave menggila seperti sekarang. Saya mulai mendengarkan lagu Korea setelah khataman “My Girlfriend is a Gumiho (special thanks to @anindarizka for recommending this one, GBU). Shi Min Ah did it well to sing Sha La La. Jadi kebayang scenes dimana si Miho disakitin sama Dae Woong.


Anyway, back then, Gumiho membuat saya tersadar (plis, nggak pake nyanyi kayak Raisa. Sekarang aku tersadar...) bahwa saya masih punya dua serial Korea yang belum ditamatkan. Surgeon Bong Dal-Hee dan Fashion 70's dimana Lee Yo Won ikut main. So, lately when i realize it, this Bidam songs remains in my head. Seperti nostalgia yang biasa, this song bringing back all the memories left. Saat rasa masih bersauh berharap menambat pada labuhan hati terakhir. Dan aku tak ingin terjebak nostalgia (halah, ngambil judul punya @raisa6690 lagi :)) ).





Paninggilan, 2 Mei 2010, 14.45
catatan dadakan ditulis di Paninggilan, 11 Oktober 2012 (at Lelly's birthday)

*original lyrics and translation provided by princess-chocolates.blogspot.com


Kamis, 16 Februari 2012

Penyesalan

“Rasa sesal di dalam hati diam tak mau pergi, haruskah aku lari dari kenyataan ini.”
(Iwan Fals – Yang Terlupakan)

 
Gerbang Tol Cikarang Utama. Senin, 04.43. I need you now, more than words can say*. Entah kenapa, saya merasa harus menaikkan volume suara radio dari tape mobil saat lagu itu mengalun. Entah kenapa pula, perasaan saat itu langsung menunjuk pada seseorang dan menyebut sebuah nama. Seseorang yang saya temui akhir pekan lalu, di toko buku pojokan sebuah jalan. Suatu pertemuan biasa yang sangat luar biasa. Saat-saat dimana rasa berpadu menyublim dalam kenangan.

Harusnya ada yang tersampaikan. Tersampaikan langsung pada dua bola mata itu. Entah kenapa, kalau ingat lagi saat itu malah jadi malu. Rasanya jadi manusia paling bodoh, pengecut, dan munafik sedunia. Ternyata meraih kesempatan, memang tak mudah. Penyesalan selalu datang terlambat. Tapi lebih baik menyadarinya sekarang sambil berharap dan mencoba untuk menemui dia kembali.

Terus terang, ada tanya yang mengganjal dalam pikiran. Apakah saya terlalu serius menanggapi isi fiksi itu. Ketika memendam rasa dinilai lebih baik dibandingkan dengan pengungkapan rasa yang justru malah menjauhkan. Lagipula itu hanya fiksi dan saya merasa salah sekali karena mempercayainya. Suatu hal yang absurd, tidak realistis.

Saya takut dia menjauh, itu pasti. Sangat takutnya hingga malah membuat saya terpenjara dalam kemunafikan paling agung: Mencintai tanpa mengungkap rasa. Saya memang salah. Saya tidak bisa adil pada perasaannya. Sudah seharusnya saya menanggung beban rindu yang berkejaran. Saling membaur dalam realita dan semu. Beban itu semakin bertambah ketika dia bilang sedang ingin sendiri. Walau ingatan saya waktu itu langsung merujuk lirik lagu Rinto Harahap: bila kau seorang diri, ku ingin menemani. Tetapi, saya hanya mampu diam tanpa kata. Mematung dalam lebat hujan Kota Kembang.

You only have one shot at everything**. Tulisan itu mengingatkan saya kembali bahwa tidak banyak orang beruntung yang memperoleh kesempatan kedua. Jika memang kesempatan itu belum ada, biar saya menciptakannya. Saya harus melakukannya. Seperti adegan closing film “For The Love of The Game.” Saya ingin mengatakan semua ini agar kelak tiada penyesalan lagi. Bila waktu itu datang. Saya akan ada disana. Demi sebuah pengakuan, tentang rasa.

 
Medan Merdeka Barat, 16 Februari 2012

*dari lirik lagu “(I Need You Now) More Than Words Can Say” dinyanyikan oleh Alias.
**dari teks dalam buku “Catatan Mahasiswa Gila” ditulis oleh Adhitya Mulya (@adhityamulya), Mahaka Media, 2011.

- dibuat sambil memutar lagu "I Have Nothing"dan Ï Will Always Love You", Live performance by Charice 2009, yang semakin membuat perasaan semangkin tidak karuan.

Rabu, 15 Februari 2012

Terapi

Pergilah kasih, kejarlah keinginanmu
Selagi masih ada waktu - (Chrisye - Pergilah Kasih)

Suatu hari, entah karena memang sudah jenuh dengan diri sendiri atau memang karena roda kehidupan sedang berjalan tak seirama saya mencoba suatu terapi. Saya tidak tahu pasti nama terapi itu apa. Saya mencoba untuk memberi terapi pada diri sendiri lewat musik. Sejenis music-therapy juga bukan. Bagaimana caranya? 

Saya  membuat playlist lagu-lagu yang jadi official soundtrack untuk setiap episode dalam hidup saya (Thanks to Circle of MusicDelta FM). Sengaja, 10 lagu pilihan itu saya share di milis kelas K1D-A 2004. Pesan saya waktu itu:

"Barangkali karena saya sedang menjalani terapi, saya mohon kiranya warga milis disini memilih satu judul lagu yang ada di playlist dibawah ini. Nanti saya akan buat cerita tentang momen-momen yang terlewati bersama lagu-lagu itu. Mudah-mudahan itu bisa jadi penyembuh dan saya segera bisa menyelesaikan terapi ini. Make your songs count, anyone! Selamat memilih. Semoga (saya) lekas sembuh. 11 Nov 2011"

Sejak membaca posting blog berjudul "Jurnal Syukur" di allaboutlelly.blogspot.com, saya tergerak untuk berpikir dan menata hidup kembali. Rasanya, bersyukur adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan sekalipun keadaan memang tidak mengharapkan demikian. Karena itu, saya mencoba untuk jujur pada diri sendiri agar bisa kembali berdamai bersamanya. Melalui musik saya mencoba menelusuri ruang hati terdalam dan mencoba menemukan semua jawaban atas segala tanya yang mengganggu.

Saya tergerak melakukan ini karena menurut beberapa sahabat (yang bisa dipegang omongannya) saya belum bisa berdamai dengan masa lalu dan melepaskannya pergi. Ah, terlalu sentimentil tetapi memang begitu adanya. Seperti saat saya melihat-lihat kembali semua postingan di blog ini. Sebelum akhirnya terhenti pada sebuah post berjudul "Penggalan Lirik di Atas Rel Kereta" tertanggal 24 Juli 2011.

Penggalan Lirik di Atas Rel Kereta

Postingan ini dibuat dengan segala kenangan yang deras mengalir tentang hari itu. 10 Juli 2011. Pernikahan Farah di Cirebon. Suatu momen yang semakin menyadarkan saya bahwa hidup tidak akan terhenti pada satu persimpangan. Hidup akan terus melaju. Mengalir sampai jauh. Hingga batas usia tak lagi mampu menahan segala keinginan.

Ide awal dari postingan ini adalah jawaban-jawaban atas pesan singkat dari seorang sahabat yang masuk ke ponsel beberapa detik sebelum KA Cirebon Ekspress bergerak meninggalkan Cirebon tepat sebelum adzan Isya berkumandang. 

Pesan darinya hanyalah singkat. Rara, begitu nama yang tercantum di phonebook, bertanya perihal perasaan saya hari ini. Rara memastikan saya memang siap menghadapi kenyataan bahwa esok akan tiba dengan sesuatu yang berbeda. 

Memang, menerima kenyataan kadang tak semudah mengharapkannya. Terlebih ketika harus melepas segenap perasaan dan kenangan yang tertinggal untuk sebuah nama yang pernah mengukir kisah dalam hati. Ya, Dia telah menikah dan menambatkan hatinya. 

Waktu terus berlalu, menuai usia kita
Biar dua hati bercanda, di padang yg kita bina

Bahagialah kasihku, abadilah cintaku

Biarlah dunia berlalu - (Java Jive-Menikah)

Penggalan lirik diatas adalah jawaban saya yang pertama untuk Rara. Saya lupa apa pertanyaan itu. Semua sudah terhapus tanpa sisa. Doa saya untuk mempelai, berbahagialah dan abadilah cinta mereka, biarkan dunia berlalu. Karena waktu, tak akan pernah menunggu.

It's painfully clear
There's a river of tears

Behind my eyes - (Paul Carrack - Behind Those Eyes)

Kalau lirik yang ini sengaja diadaptasi dari lirik aslinya, lalu jadi 'behind my eyes'. Terus terang, saat roda kereta perlahan beradu dengan rel saya hampir menitikkan air mata. Saya mengalami suatu momen pelepasan. Untung, 3 orang kawan lain duduk di gerbong terpisah. Tidak ada yang tahu bagaimana perasaan saya waktu itu. Saya tiba-tiba dipaksa untuk melepaskan segala asa, cita, dan kenangan yang melekat pada dirinya. It's over when it's over. I keep saying that.

Tak mudah untuk dihati, tak mudah untuk dihadapi
Saat harus mengucap: selamat tinggal

(Indra Lesmana & Gilang Ramadhan - Selamat Tinggal)

Memang hal ini tidak mudah untuk dihati, juga tak mudah untuk dihadapi. Saya telah mengalami suatu perjalanan jauh ini untuk hari bahagianya. Sebuah nama yang pernah ada dihati dan bersamaan dengan itu, saya juga harus melepas segalanya seraya mengucapkan: Selamat tinggal.

Selamat jalan kekasih...(Rita Effendi-Selamat Jalan Kekasih)
Selamat tinggal masa lalu

Aku 'kan melangkah

Maafkanlah segala yang pernah kulakukan padamu (Five Minutes - Selamat Tinggal)

Dua lirik diatas adalah penanda bahwa saya kembali pada kehidupan saya yang biasa. Tentu pembaca sudah lebih memahami maksud dari kedua lirik diatas tanpa perlu saya jelaskan lagi. Kereta bergerak semakin cepat menuju Jakarta. Tak ada lagi tanya dari Rara. Tak ada lagi pesan. Hanya tersisa harapan dan doa untuk mereka berdua yang sedang berbahagia.

Kereta terus melaju and life is very long.


Paninggilan, 15 Februari 2012.




Selasa, 22 November 2011

Lagu untuk Cinta: The Power of Love

Selamat pagi Cinta,

Kalau ada inovasi yang paling menyenangkan dari dunia penerbangan nasional adalah in-flight entertainment. Satu hal yang menarik dari hal ini adalah mereka menyediakan musik untuk dimainkan via Jukebox. Sayangnya, semua album dalam sistem itu pre-loaded dan hanya menampilkan karya-karya terbaik atau yang sedang in saat ini.

Untungnya, selera maskapai penerbangan plat merah ini cukup lumayan. Ada beberapa kumpulan album terbaik dari Ella Fitzgerald hingga Rhoma Irama termasuk Celine Dion. Menghadirkan sejuta romansa apalagi di ketinggian 31.000 kaki tentu sangat berbeda dengan mendengarkan via radio di tengah malam buta. Betapa kesunyian dan kesepian begitu terasa kala menatap hamparan langit luas tak berbatas.

Saya sendiri cenderung lebih memilih versi The Power of Love dari Air Supply. Kenapa? Untuk alasan gender semata. Cause you're my lady, and i am your man. Tetapi, yang patut diperhatikan adalah karakter vokal dari Celine Dion. Walaupun dimainkan dalam tempo lambat lagu ini tetap mampu mengeksplorasi kekuatan vokal Celine Dion.

Putus cinta memang selalu tidak menyenangkan. Mengubur seribu harap sangatlah menyakitkan. The feeling that i can't go on, is let you someway. Entah kenapa Tuhan simpan lagu ini dalam playlist penyiar malam itu, Maret 2001. Hanya menambah kegalauan dan kerisauan pada jiwa meresah.

Peluk hangat dan cium mesra,
 

Biak Numfor, 19 November 2011

Selasa, 21 Juni 2011

Soundtrack of The Month: You're In Love



"You're In Love"
Wilson Phillips


Open the door and come in
I'm so glad to see you my friend
Don't know how long it has been
Having those feelings again.

And now I see that you're so happy
And ooh, it just sets me free
And I'd like to see
Us as good of friends
As we used to be

Aah, my love, Aah
You're in love
That's the way
It should be
'Cause I want you to be happy
You're in love
And I know
That you're not in love with me
Ooh it's enough
For me to know
That you're in love
Now I'll let you go
'Cause I know
That you're in love

Sometimes it's hard to believe
That you're never coming back to me
I've had this dream that you'd always be by my side
Oh I could have died.

But now I see that you're so happy
And ooh, it just sets me free.
And I'd like to see
Us as good of friends
As we used to be

I tried to find you but you were so far away
I was praying that fate would bring you back to me
Someday, someday, someday... Ooh, you're in love

Ooh it's enough
For me to know
That you're in love
Now I'll let you go
'Cause I know
That you're in love

Le Memoir du Soir (4)

Lamun enya cintana, lamun enya hayangna... Moal rek aya nu bisa misahkeunana....*

Once we're happy, the next we're crying. Kadang-kadang perasaan itu bisa berubah seketika. Itu benar terjadi. Seperti yang kubilang tadi. Sekali ini kita begitu mesra, bicara tentang pengharapan masa depan dan segala yang membuatnya kian indah. Sedetik kemudian semua itu bisa sirna begitu saja. Tanpa sisa. Meninggalkan aroma tak sedap dari senyum masing-masing.

Diantara riuh rendah demonstran di sekitar Ring 1 pengamanan objek vital kepresidenan hanya diam yang keluar dari bibirnya. Tentunya sambil membelakangiku. Seperti tak sudi. Mungkin aku telah menjelma jadi setan berhala baginya.

Pernah sekali waktu kita begitu dekat. Begitu dekat. Hanya tinggal sebatas benang merah kainnya. Begitu rasa itu terus ada. Maka, bila sekarang begini keadaannya tentulah sangat tidak mengejutkan. Buatku, tentu saja. Buatnya, mungkin ya, biasa saja. Toh, memang tidak pernah ada apa-apa diantara kita. Entah siapa yang merasa kalau jadinya seperti ini.

Bukannya mau sombong tapi kalau cuma hal yang beginian aku tentu sudah lebih jago dari dia. Aku selalu menghitung semua kemungkinan. Aku juga selalu membaca tanda-tanda yang selalu takdir bawa. Dan aku selalu siap bila memang terjadi sesuatu karena pertanda itu memang sudah ada. Seperti kelakuannya sekarang, aku sudah menduga begini jadinya.

Till we say our next hello, it's not goodbye...
**

Aku selalu ingat bagian lagu itu. Berapa hari kemarin dia selalu nyanyikan lagu itu. Aku tidak berharap hal itu benar-benar kejadian. Tapi aku tahu sesuatu. Dia terlalu lemah untuk meyakinkan dirinya sendiri. Aku yakin, cepat atau lambat dia akan segera memilih dan buat keputusan.

Aku tidak akan meminta maaf atau menyapanya duluan. Toh, aku tidak membuat kesalahan padanya. Kalau ada kesalahan tentu hanya dia saja yang merasa. Biar saja dia yang merasa dan puas bermain-main dengan perasaannya. Aku masih begini dan akan tetap begini. Walau kadang dia anggap aku ini hanya mercusuar, yang selalu memandunya bila kehilangan arah. Terserah dia, aku tidak peduli.

Dalam semburat matahari ibukota di sore yang cerah, aku dengar lagu dari radio: those were such happy times and not so long ago, how i wondered where they'd gone...***



Thamrin-Sudirman, 21 Juni 2011.


* dari lirik lagu "Bogoh Kasaha" dinyanyikan oleh Rya Fitria
** potongan lirik lagu "It's Not Goodbye" dari Laura Pausini
*** potongan lirik lagu "Yesterday Once More" dari The Carpenters


note: dibuat sambil mendengarkan lagu Letto - Lubang Di Hati, Java Jive-Menikah, Bruno Mars-Just The Way You Are, Savage Garden - To The Moon and Back, dan Yovie and Nuno - Maukah Denganku

Senin, 13 Juni 2011

The Lies We Live In (2)

Will you remember me the way i remember you...*

"Ada bagian masa lalumu yang belum selesai..."
"Bagian mana?"
"Tanya dirimu, hatimu lebih tahu..."
"Apa perlunya? Apa itu masalah untukmu?"
"Kadang-kadang itu jadi masalah buatku. Lagipula kamu tak peduli."
"Kamu cemburu...?"
"............"

Percakapan terakhir pada suatu senja penghabisan itu membuatku teringat lagi padanya. Aku masih mengingkari kenyataan bahwa memang ada bagian masa laluku yang belum selesai. Bagai noktah kecil dalam tirai hati. Aku tidak mau mengakui kalau aku masih belum bisa melepasakan semua ingatan tentang perempuan yang menangis ketika kutinggalkan sore itu. Dan kini, perempuan lain hadir dalam hidupku hanya untuk sekedar mengingatkan perihal masa lalu itu.

Aku yakin ia tidak sedang merasa seperti Inez yang batal menikah dengan Francis Lim, hanya gara-gara Francis masih punya masa lalu yang belum selesai dengan Retno.** Ah, sudahlah. Hidup ini tidak seperti novel walau kadang diperlukan waktu yang panjang untuk menyudahinya dan kejutan-kejutan hebat sebagai bumbu cerita.

"Kadang tidak perlu benar-benar jahat untuk jadi penjahat..."
"Kata siapa? Apa itu sindiran buatku?"
"Ya, jika kau merasa..."
"Lantas?"
"Tidak perlu memaksa melupakan bila memang tak sanggup"
"Kamu cemburu?"
"........."

Lagi-lagi hanya diam. Perempuan yang ada dihadapanku itu membuang mukanya. Tidak lagi menghiraukan aku yang dengan gantengnya melirik wanita di meja sebelah.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Lagu itu. Lelah, lelah hati ini... Menggapai hatimu tak juga menyatu...*** Beberapa hari terakhir ini sepertinya tidak ada lagu lain buat dirinya. Entah, aku tidak peduli mengapa sebabnya yang jelas kini matanya tidak mau lagi menatapku.

Aku rasa berkomitmen itu mudah dan bukan sesuatu yang 'sakral'. Dalam komitmen yang dibutuhkan hanya kesungguhan untuk menjalani hidup bersama tanpa harus melupakan diri masing-masing. Toh, kita masih bisa tetap jadi diri sendiri. Tetapi, apakah meninggalkan segala ingatan tentang masa lalu adalah bagian dari komitmen itu juga?

Semua orang punya rahasia masing-masing. Aku dan dia sama saja. Kita sama-sama pernah punya lubang di hati. Aku rasa kita berdua telah sama dewasa. Bicara dengan logika walau perempuan itu cenderung melibatkan emosinya.

"Sudah berapa lama kamu berhenti menemuinya?"
"Sejak aku mengenalmu"
"Gombal"

Aku memang pernah menginginkannya. Aku memang selalu rindu padanya. Pada tatap hangat dan senyuman yang merekah indah setiap pagi. Pada semua momen bersama yang terlalu indah dilepaskan. Sampai akhirnya, aku pula yang menghentikan perasaan itu. Aku memang meninggalkan luka padanya, itu memang salahku. Lagipula, aku tidak akan memaafkan diriku bila aku sampai hati memainkan perasaannya. Aku sedang tidak ingin serius apalagi sampai harus memegang komitmen. Untuk apa? Dengan diriku saja aku masih belum bisa berkomitmen apalagi dengan dia. Sudahlah, aku pergi.

"Kamu masih ingat perjumpaan kita?"
"Masih, bagaimana bisa aku lupa?"
"Apakah itu suatu penyangkalan?"
"Tentu tidak. Kamu tentu tahu betapa hebatnya ingatanku."
"Apa itu sebabnya kamu masih belum bisa lepas darinya?"
"Apakah kamu minta penjelasan?"
"Things happens for a reason..."
"Not everything in common..."
"Ah, tentu kamu masih ada rasa..."
"Itu untukmu..."
"Is that a compliment?"
"Akuilah, kamu cemburu?"

Perempuan itu terdiam lagi. Senyum tipisnya merekah seakan penuh kemenangan. Perlahan ia hirup aroma kopi Aceh pesanannya. Betapa sederhananya menemukan kebahagiaan dalam hidup ini walau hanya dalam aroma kopi.

"Kadang terlintas untuk cemburu, tapi buat apa? Toh aku tahu kamu tidak akan kembali pada masa lalumu."
"Mengapa kamu begitu yakin? Aku bisa saja melakukannya."
"Aku percaya kamu takkan bisa melakukannya"
"Mengapa tidak?"
"Aku ini bukan apa-apa sehingga seandainya kehilangan dirimu pun aku rela, tak ada yang abadi walau memang kadang terlalu sulit menerima kenyataan..."

Kalimat terakhirnya cukup membuatku merasa bersalah. Aku tidak pernah meragukan dirinya. Sudah terlalu banyak 'pertengkaran' semacam ini. Suatu proses atas nama pendewasaan. Kami pun cukup sadar untuk melewati gerimis berkerikil tajam ini. Bukan suatu alasan untuk menyerah dan berpisah.

Dalam keremangan senja gerimis benar-benar menutup hari. Lampu temaram jalanan mulai menghiasi sudut kota. Para pekerja kantoran mulai berhamburan, sebagian menutupi kepala sebisa mereka. Pertanda episode kehidupan dimulai kembali.

"Memang sulit untuk menutup masa lalu, apalagi tentang dia.."
"Maksud kamu?"
"Selesai tidak selesai itu hanya dipikiranmu saja. Aku tidak tahu apa-apa."
"Apakah itu mengubah sesuatu?"
"Mungkin saja!"
"Apa itu?"
"Mungkin tidak ada bedanya. You do well and i'll live mine."

Ingatanku kembali pada Inez, yang mungkin punya sejuta tanya tentang mengapa Francis meninggalkannya hanya demi sebuah masa lalu yang tertinggal dan belum selesai. Bukanlah masa lalu itu adalah akhir dan kita hanya diperbolehkan untuk menengok sebentar. Bukan lantas tinggal kembali dan menjalaninya sementara melupakan hari ini.

Aku tersadar ketika perempuan itu memelukku erat dalam guyuran gerimis. Aroma perpisahan mulai mewangi. Aku harap bukan, mungkin itu sisa parfumnya. Perempuan itu bergegas mengejar taksi. Dalam hitungan detik, perempuan itu menuju belantara kemacetan. Macet di Jakarta adalah bagai dosa yang takkan berakhir. Kulangkahkan kaki, sambil bergumam dalam hati: i'm all alone, and life is very long.

Ponselku berbunyi. Yup. Malam ini aku ada kencan dengan Cinta. Yeah!


Paninggilan-Medan Merdeka Barat, 13 Juni 2011.


* dari lirik lagu "Remember My Sweet Moments", soundtrack iklan Tropicana Slim
** baca novel"Travelers Tale", Adhitya Mulya dkk, Gagasmedia, 2007
*** dari lirik lagu "Lelah" dinyanyikan oleh Rafika Duri

Minggu, 29 Mei 2011

Salah

Apakah kau tak pernah tahu, betapa indahnya dirimu...*

Tiba-tiba aku merasa bahwa lagu itu, lagu yang selalu terngiang saat aku masih mengharapkanmu, yang selalu kubayangkan betapa benar indahnya dirimu itu, adalah sebuah kesalahan. Rupanya, perasaanku (saat itu) terlalu besar padamu. Sehingga kabutnya menutupi akal sehat dan logika. Ya, karena itu pula aku sudah terlalu sering membuat penyangkalan. Bahwa segala sesuatu harus diperjuangkan, bagaimanapun caranya. Tapi, agaknya aku pun lupa, "some battles can't be won"**. Dan itu adalah dirimu.

Mungkin waktu itu, aku terlalu gelap mata sehingga berani menjanjikanmu bahagia. Bahagia yang hanya kita saja. Kebahagiaan dalam memberi. Memberimu keabadian tentang rasa yang (mungkin) pernah tumbuh di sela-sela harapan dalam hati.

Sebelum aku benar-benar sadari bahwa semua itu hanya fatamorgana semata. Hilang begitu saja, tanpa bekas.

I dont know much, but i know i love you..***

Kini kusadari betul bahwasanya dirimu adalah sebuah kesalahan. Kesalahan terindah? Tidak juga, tapi tetap saja aku kecewa. Aku kecewa bukan karena dirimu yang menjelma jadi kesalahan itu. Tapi, aku kecewa pada diriku sendiri. Betapa mudahnya diriku untuk bertekuk lutut pada imaji asa dan harap yang kau beri. Padahal, semua itu tidak ada artinya bagimu. Tidak ada sama sekali. Bahkan pada semua kenangan yang kau lekatkan pada bimbangku.

Lagu itu adalah penanda. Penanda kelemahanku padamu. Diriku yang (waktu itu) selalu berusaha meyakinkanmu. Dengan segala galau dalam jiwa yang mendesah. Ada rasa untukmu. Ada harap yang ingin kutambatkan pada labuhan hatimu.

Sebelum kusadari bahwa takdir dan nasib telah bersekongkol. Kongkalikong, untuk menjeratku dalam suatu penyangkalan. I'm on a denial. Great denial. Penyangkalan agung yang membutakan segenap intuisi.




Till you do me right, i dont even wanna talk to you, i dont even wanna hear you speak my name...****

Kadang kita harus bercermin dari hari kemarin. Walaupun, ada sedikit perasaan aneh dan muak bila harus mengingat semua tentangmu, tentangnya, terlebih tentang perasaanku. Dalam penyangkalan, yang bisa kulakukan hanyalah meyakinkan diriku lagi. Bahwa, segala macam pertanda yang Dunia berikan sudah cukup untuk mengakhiri rasa itu, padamu.

Harusnya aku cukup sadar ketika lagu itu mengalun pelan setiap kali terbersit tanya tentangmu. Dan aku sudah cukup merasa menjadi orang paling goblok sedunia untuk menyangkal kembali semua pertanda itu. Nasib, biarpun terkadang lebih keras dari baja tapi rupanya ia masih memberiku banyak pilihan. Biarlah kucoba lagi mencari bunga penggantimu. Bahkan diantara keping-keping hati ini.

*

I love you always forever, near and far closing together..*****

Lain lubuk lain ikannya. Lain wanita, lain lagunya. Begitulah adanya. Biar lirik itu jadi penanda masa. Bahwa, kelak pernah ada cerita antara kita. Minimal, aku saja yang merasa.

Lagu itu selalu merdu untukku. Untukku yang selalu menunggu di dekat tangga hanya untuk tahu siapa dirimu. Kelak, aku selalu menunggumu disitu pada waktu tertentu, juga hanya untuk melihat wajahmu.

Pada suatu siang yang indah, setelah malam galau yang berlalu begitu saja, aku berhasil mengenalmu lebih dekat. Bermodal sedikit nekat. Mungkin kau kaget. Tapi, aku yakin itu bukan yang pertama bagimu.

Aku tidak perlu bilang bahwa aku menginginkanmu. Kau pun sepertinya tahu dari caramu menghindariku. Kalau bukan karena kabar dari Bunda sore itu, mungkin saat ini aku belum berhenti untuk merangkul hatimu, membawanya berlayar berkain layar cita.

Kini, yang tersisa darimu hanyalah sebuah tingkah dan kesan yang sempat tertinggal. Betapa merdunya lagu itu telah berganti dengan tingkahmu. Tanpa senyum, lalu pergi begitu saja bagai pesawat tempur.******



Paninggilan, 29 Mei 2011. 01.17


* dari lirik lagu "Menikah", dinyanyikan oleh Java Jive

** kutipan dari buku "The Enemy - Jack Reacher Series #8", ditulis oleh Lee Child, Dell Publishing, 2004

*** dari lirik lagu "Don't Know Much", dinyanyikan oleh Aaron Neville dan Linda Ronstadt

**** dari lirik lagu "Till You Do Me Right", dinyanyikan oleh After 7 feat. Babyface

***** dari lirik lagu "I Love You Always Forever", dinyanyikan oleh Donna Lewis

****** dengan ingatan pada lirik lagu Iwan Fals, "Pesawat Tempur".

Rabu, 11 Mei 2011

Mengenangmu (3)

Ling Ling Ling Ling Oh kekasihku.... *)


Ya, lagu yang Ibu stel di radio butut pagi itu jadi penanda
Betapa suatu masa terlewati
Cerita tentangku dan dirimu
Hadirkan rindu
Selimuti luka

Betapa kuingat lagi manis senyummu
Lengkap dengan lentik dua matamu
bawa teduh
redakan gelisah

Boleh aku jujur padamu?

Aku pernah menginginkanmu
Tapi terlalu pengecut
Hanya rindu pada hadirmu
Bukan pada hatimu
Telah kau tinggalkan makna eksistensial
yang dulu sempat Kierkegaard agungkan

Sayang sayang sayang
Entah berapa hari telah kuhabiskan
Hanya untuk berpaling dari segala kenangan itu: bahwa kita pernah bersama
Menambat harap pada lubang di hati



Paninggilan-Medan Merdeka Barat, 9 Mei 2011.


*) dari lagu "Ling Ling (Oh Kekasihku)" dinyanyikan oleh The Phoenix

Selasa, 10 Mei 2011

Mengenangmu (2)

Yang tertinggal hanya gambarmu di meja kamarku... Ditemani dua puisi tentang lara hati... *)


Masih di mejaku, ada gambarmu
Dosakah aku?
Bila masih selalu menatapimu yang telah resmi diperistri
Bahkan juga telah menyusui buah hati yang kelak mewarisi indah binar matamu

Maybe this is an exceptional, and i knew that was true. You're the truth and haven't knew the answer.

And i'm all alone...
Like many nights before...
Life is very long.



Pharmindo, 15 September 2010


*) dari lagu "Lara Hati" dinyanyikan oleh Katon Bagaskara.

Kamis, 05 Mei 2011

Mengenangmu

ada yang beda, walau senyum itu masih sama
entah
tak ada lagi gairah, seperti saat masih disana
every smile you fake, i'll be watching you*
lagu itu selalu kuingat
kadang jadi penanda
betapa relatifnya makna satu senyum: senyumanmu

setidaknya aku lihat lagi dua bola matamu
dan lirikanmu yang pernah membuatku rindu
melambaikan bayangmu dalam pejamku

ah, kapan bisa kumiliki saat itu lagi
sedang engkau tak lagi disini
serupa gelisah yang kau beri
jauh menepi pada ujung hati
terseret angin terbawa panas, tersapu jelaga hari


Paninggilan, 3 Mei 2011

* The Police, Every Breath You Take

Rabu, 27 April 2011

Suatu Malam Aku Menulis

Airplane, take you away again...
Are you flying above where we live...*)

Ya. Pesawat buatan Perancis itu pula yang membawamu ke peraduan. Kembali ke pelukan Bunda. Merangkai rindu dalam akhir pekan yang terlalu singkat. Tak kulihat dulu barang sejenak. Manis senyum diatas bibir bergincu tipis yang melambaikan salam perpisahan.

Aku dengar lagu di radio butut itu. Aku akan pergi tuk selamanya. Bukan tuk meninggalkanmu sementara. Aku pasti tak kembali pada dirimu. Tapi kau jangan harap, aku takkan kembali.**) Mirip lagu yang pernah kita nyanyikan. Dulu, waktu kita masih bersama. Saling membuka rasa dan bercerita cita.

Kini, hanya pesan darimu yang jadi penanda rindu. Pesan-pesan yang tertinggal di kotak masuk dan masih enggan kuhapus satu per satu. Ternyata kusadari satu hal. Bahwa lebih mudah untuk mengusap wajahmu dan menyeka air mata daripada menghapus semua pesan itu.

Senja perlahan menghampiri. Butiran gerimis menambah resah yang selalu hadirkan kenangan. Kenapa kita menciptakan kenangan kalau ternyata malah tidak bisa melepasnya? Harusnya kita, aku dan kamu mampu hadapi semua.

Ketika malam semakin larut, aku coba menulis. Entah sajak, puisi, atau hanya catatan biasa. Mungkin untukmu, mungkin untuknya.

Masihkah aku menginginkanmu? Bila setiap pagi masih berharap senyummu
Masihkah aku menginginkanmu? Bila masih tega mengharapkanmu

Masihkah aku menginginkanmu? Bila asa itu masih ada

Masihkah aku menginginkanmu? Bila harap tak pasti resah tak peduli

Masihkah aku menginginkanmu? Takkan ku menanti bila harus mengerti

Masihkah aku menginginkanmu?
Sedang cinta aku tak punya



Sudirman-Thamrin, 27 April 2011.


*) dari lirik lagu Sleeps With Butterfly, dinyanyikan oleh Tori Amos
**) adaptasi dari lagu Aku Pasti Kembali, ciptaan Maia, direcycle oleh Pasto

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...