Tampilkan postingan dengan label demokrasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label demokrasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Mei 2021

Cak Nun Bertutur: Merangkum Indonesia

Sumber gambar: www.goodreads.com
Sumber gambar: www.goodreads.com
 
Dari sekian buku baru Cak Nun, baik yang diterbitkan kembali atau yang memang pure diterbitkan, saya rasa pembacaan buku ini termasuk yang paling lancar. At least, bila dibandingkan dengan progres pembacaan judul-judul buku lain Cak Nun yang baru terbit lainnya. Saya tidak tahu mengapa. Barangkali, alur penceritaan buku ini yang membuat pembacaan saya agak sedikit lebih cepat selesai.
 
Alur penuturan dalam buku ini sesuai dengan selera saya. Flashback. Menuturkan kembali cerita secara historis, alur mundur. Ini yang membuat saya agaknya merasa nyaman. Selain itu, untuk mengetahui bagaimana sesuatu berakhir, harus juga dilihat dengan bagaimana sesuatu itu dimulai.
 
Cak Nun, memulai dengan kisah sepanjang perjalanan di Dipowinatan, Dinasti, KiaiKanjeng hingga bermuara di Maiyah. Awalnya, agak sulit untuk membayangkan penuturan apa yang akan dibawakan Cak Nun sepanjang jalan sunyi hidupnya. Apakah seratus sekian halaman buku ini akan sanggup menampungnya?
 
Kenyataan yang saya dapati adalah bahwa Cak Nun mampu merangkum penggalan-penggalan kisah jalan sunyinya dalam judul-judul artikel yang serupa cerita pendek. Kisah perjalanan hidup sepanjang Menturo, Jogja, KiaiKanjeng, dan Maiyah terhampar lugas. Sebagaimana KiaiKanjeng, rasanya Cak Nun juga adalah hamba Allah yang diperjalankan. Diperjalankan sesuai dengan keinginan Allah, Tuhannya yang satu.
 
Bahwa ketika kemudian Cak Nun mampu menulis sedikit tentang keadaan Indonesia kekinian pun yang disampaikan hanya dengan satu paragraf saja. Bahwa Indonesia telah kehilangan kontinuitas sebagai bangsa, hingga pengejawantahan Bhinneka Tunggal Ika yang semakin kehilangan esensinya.
 
Saya kagum dengan pencapaian Cak Nun dalam buku ini. Hal ini semakin membuktikan bahwa Indonesia memang hanya bagian dari desanya Cak Nun. Sehingga sebesar apapun Indonesia, Cak Nun akan mampu mengampunya karena ia hanya bagian dari desanya.
 
Segala puji bagi Allah yang memperjalankan hamba-Nya di jalan sunyi.

Judul            : Mbah Nun Bertutur
Penulis        : Emha Ainun Nadjib
Penerbit       : Bentang Pustaka
Tahun          : 2021
Tebal           :  228 hal.
Genre           : Sosial-Budaya-Ketuhanan


Cengkareng, 3 Mei 2021.

Senin, 27 November 2017

Iblis Tidak Pernah Mati

Sumber gambar: www.goodreads.com
Barangkali, karya Seno Gumira Ajidarma yang paling kelam dan mencekam adalah ‘Iblis Tidak Pernah Mati’ ini. Melihat halaman sampulnya, saya sudah diliputi perasaan tidak enak. Gambar seseorang yang dirupakan memiliki dua tanduk dikepalanya diatas batu dengan gerakan seperti sedang menunggu ditambah kartun karya Asnar Zacky dan paduan warna senja memberikan seolah tidak ada lagi harapan yang terang benderang. Itu 10 tahun yang lalu, saat saya pertama mendapatkan buku ini dalam sebuah book fair di kawasan Braga, Bandung.

10 tahun kemudian, imaji itu tidak berubah. Kesan kengerian sepanjang pembacaan cerpen-cerpen yang kebanyakan lahir pasca reformasi tidak juga lekas hilang. Kelima belas cerpen yang dibagi dalam 4 bagian yaitu Sebelum, Ketika, Sesudah, dan Selamanya menghadirkan satu imaji utuh atas keadaan sebuah negeri.

Kalau saya boleh memilih, cerita pendek “Clara” adalah satu dari sekian cerpen terbaik dalam kumpulan cerpen ini. Saya masih tidak lupa kesan selama pembacaan pertama yang menimbulkan beragam perasaan: marah, haru, dan segenap perasaan lain yang tidak mampu diucapkan. Cerpen ini memotret satu sisi tragedi kemanusiaan yang melanda negeri ini selama masa reformasi.

Cerpen ini sendiri dipulikasikan pertama kali ketika dibacakan oleh Adi Kurdi dan Ratna Riantiarno dalam acara Baca dan Pembahasan Cerpen Seno Gumira Ajidarma, sebuah syukuran penerimaan SEA Write Award oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, Galeri Cipta TIM, 10 Juli 1998. Kemudian, dimuat harian Republika edisi 26 Juli 1998, sebagai “Clara atawa Wanita yang Diperkosa”. “Clara” kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai ‘Clara’ oleh Michael H. Bodden; dibacakan oleh Bruce Kochis dan Christina Alfar di University of Washington – Bothell, Seattle Babb di University of Victoria. Victoria BC (1999, 2.5); Selanjutnya dimuat juga dalam jurnal Indonesia No.68 (Cornell University), Oktober 1999. 

“Clara” diterjemahkan ke bahasa Jepang sebagai ‘Kurara, rape sareta joseino monogatari’ oleh Mikihiro Moriyama; dimuat dalam berkas Seno Gumira Ajidarma, Indonesia, Senryaku to shiteno bungaku-journalism no genkai wo koete (Indonesia, sastra sebagai siasat, melewati batasnya jurnalisme) untuk Takeshi Kaiko Lecture Series No.8 (Japan Foundation).

Clara juga dibacakan untuk publik oleh Hirshi Tomioka dan Kaoru Tomihama di Tokya (1999,2.20), Osaka (1999,2.25) dan Hiroshima (1999,2.27); direkam ulang sebagai paket video Indonesia, Seijino Kisetsuni Bungaku (Indonesia, Sastra dalam Musim Politik) oleh Dewan Promosi Informasi Pendidikan Tinggi untuk proyek Eisetsushin eo riyoshita Daigaku Kokaikouza Moderujigyo (proyek modek kuliah universitas terbuka lewat satelit) tahun 2000. Bersama cerita Jakarta, 14 Februari 2039, diformat ulang menjadi naskah drama Jakarta 2039.

Terakhir, “Clara” juga hadir dalam kumpulan naskah Mengapa Kau Culik Anak Kami? (Galang Press, 2001).

Saya kagum dengan imajinasi SGA yang mampu menampilkan sosok Semar di Bundaran HI. Bukan hanya satu tapi ada sembilan Semar. Sungguh membuat saya kagum karena mungkin saja pada lain waktu yang muncul disana bukan hanya Semar tetapi juga Rahwana.

Sebagai pelengkap, ada dua esai yang turut disertakan usai cerita penutup. Esai pertama berjudul “Paman Gober, Suatu Ketika: Cerpen-Cerpen Eksoforik Seno Gumira Ajidarma” oleh Kris Budiman. Esai ini membahas lima belas cerpen yang ada dalam buku. Intinya, dengan mempertimbangkan dominan atau tidaknya referensi dalam teks kita bisa membedakan antara cerpen-cerpen yang referensial dan yang non-referensial, yang eksoforik dan endoforik.

Esai kedua adalah semacam surat yang dikirim dari Alina atau pula SGA kepada Agus Noor dengan judul “Imajinasi Yang Tak Pernah Mati: Surat dari Alina”. Agak membingungkan memang karena judulnya adalah surat dari Alina. Namun, pada akhir tulisan didapati tanda SGA pada ujung kanan bawah sebagai identitas penulis surat. Silakan pembaca yang budiman menafsirkan sendiri perihal ini. Yang jelas, antara ketiganya kelak punya hubungan sendiri-sendiri.

Kalau Budi Darma bilang bahwa ‘Iblis Tidak Pernah Mati’ sebagai sesuatu yang mengerikan dan mengharukan kiranya pembaca dapat menilai sendiri keabsahannya. Dalam konteks ini, sastra telah bicara sebagai suatu metafor atas sebuah fenomena. Pun, ketika ia menjelma sebagai ruang kesadaran bahwa kita masih punya nilai-nilai kemanusiaan dalam merayakan kehidupan ini.

Judul         : Imajinasi Tidak Pernah Mati
Penulis      : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit    : Galang Press
Tahun        : 2001
Tebal         : 264 hal.
Genre        : Sastra Indonesia-Kumpulan Cerpen  

Cipayung, 23 November 2017.

Rabu, 27 Mei 2015

Sedang Tuhan Pun Cemburu

Lagi, Emha melontarkan kritik sosialnya. Selain budaya seks bebas yang mulai menjalar di kotanya, satu yang perlu saya cermati lagi adalah soal pemurnian agama Islam yang cenderung mematikan kreativitas dalam beragama. Emha rupanya tidak tahan pada proses pemurnian itu yang cenderung meniadakan kemesraan antara seorang hamba dengan Tuhannya.


 
Esai-esai yang ditulis oleh Emha Ainun Nadjib dalam buku ini, merefleksikan betapa panjang pertanyaannya atas hidup. Emha tak hanya melihat pola interaksi antara manusia dengan Tuhan yang semakin mengabur, tetapi juga semakin tersingkirnya manusia dari strata-strata sosial yang mereka bentuk sendiri.

Harus diakui bahwa membaca buku ini tidak mudah. Selain jumlah halaman yang panjang, ada beberapa konteks peristiwa yang harus kita pahami. Untuk itu, memungkinkan beberapa tulisan perlu dibaca berulang kali. Judul buku ini adalah sama dengan sebuah artikel didalamnya. Emha melukiskan bagaimana cemburunya Tuhan kepada manusia. Masih sama dengan buku edisi pertama yang terbit tahun 1990-an.

Saya senang pada buku yang terbit setelah Anggukan Ritmis Pak Kiai ini, editor entah penulisnya sendiri menambahkan identitas pada akhir tulisannya. Bagi saya, waktu ketika tulisan itu dibuat adalah satu penanda zaman, agar tidak salah memaknai isi tulisan tersebut. Pun, dengan penamaan bab-bab yang unik. Tidak percaya, silahkan cermati sendiri. Saya yakin, ada muatan filosofis dibalik itu semua.


Judul        : Sedang Tuhan Pun Cemburu
Penulis     : Emha Ainun Nadjib
Penerbit   : Penerbit Bentang
Tebal        : 456 hal.
Tahun       : 2015
Genre       : Sosial-Budaya


Dharmawangsa-Serpong, 27 Mei 2015.





 

Minggu, 29 Maret 2015

Indonesia 1998: Penggalan Sejarah dalam Kartun

Pada satu wawancara di televisi, Muhammad “Mice” Misrad menyebutkan bahwa ia sudah mulai berkarya membuat kartun saat Indonesia mengalami periode runtuhnya Orde Baru. Ia juga menyebutkan satu judul karyanya ini yang terbit pada tahun 1998. Saya mulai penasaran dan mencari judul yang dimaksud. Maklum, selama ini saya secara terbatas mengenal Mice melalui kartun-kartunnya yang popular, seperti serial Lagak Jakarta dan Tiga Manula. Kartun Komentator Sepakbola kemudian masuk ke rak buku saya sebagai karya Mice pertama yang saya miliki.

 
Buku ini terbit kembali sebagai remake dari buku yang terbit tahun 1999 lalu dengan judul “Rony: Bagimu Mal-mu, Bagiku Pasar-ku”. Walaupun lahir kembali dengan kemasan yang baru namun muatan dan esensi yang dibawa pendahulunya tidak lantas luntur. Lihat saja bagaimana buku ini tampil dengan warna sampul merah dan teks putih serupa bendera kebangsaan Indonesia. 

Pergolakan yang terjadi selama periode kelahiran Orde Reformasi adalah taman bermain yang memacu kreativitas para kartunis. Lembaran-lembaran harian ibukota mulai ramai kembali dengan kolom-kolom gambar kartun. Mereka berbicara mengenai situasi dan isu-isu terkini yang sedang ramai diperbincangkan khalayak. Dengan demikian, kartun telah menjadi media yang memuat pesan masyarakat.



Mice mengangkat berbagai fenomena yang dialami masyarakat Indonesia saat itu. Mulai dari awal terjadinya krisis ekonomi hingga euforia kebebasan dimaknai sedemikian rupa oleh mereka yang lepas dari kekangan. Kebebasan berekspresi dan bermedia pun turut berperan besar dalam “mendidik” masyarakat dalam rangka pelajaran demokrasi reformasi. 

Masyarakat dihadapkan pada era keterbukaan, bahkan cenderung kebablasan. Mice menggambarkan situasi demonstrasi yang waktu itu menjadi trending topic. Pergerakan mahasiswa pun tak luput dari pandangan mata Mice. Apa saja yang tidak disetujui, maka masyarakat segera menggelar demonstrasi. Satu hal yang mustahil terjadi di masa Orde Baru.

Ada beberapa hal yang menggelitik saya dalam kumpulan kartun ini. Mice sangat jeli sekali menangkap hal-hal parsial yang tidak biasa. Mice mengingatkan kembali pada model bingkai kacamata yang tebal dan potongan rambut Ira Koesno yang juga jadi tren pada masa itu. Ingat, acara berita yang dibawakannya punya rating bagus saat itu.

Testimonial Seno Gumira Ajidarma dan Wimar Witoelar pada menambah nilai tersendiri dalam muatan dan kemasan pada edisi remake ini. SGA memberikan pandangan filosofis tentang bagaimana makna sejarah akan diterapkan dengan penerbitan kembali kartun ini. Sedangkan, Wimar Witoelar, yang memandu talkshow Perspektif Politik dan dibredel pada tahun 1995, berpesan bahwa kartun ini adalah cerita yang lucu dan efektif untuk menggambarkan kondisi Indonesia pada masa awal reformasi walaupun dibaca hari ini.

Picture fade away, but memory is forever. Satu gambar bisa bicara beribu makna. Agaknya, Mice telah membuat kesaksiannya tentang bagaimana roda sejarah bangsa berputar.
 

Judul        : Mice Cartoon: Indonesia 1998
Penulis     : Muhammad Misrad
Penerbit    : Octopus Garden
Tebal        : 125 hal.
Tahun       : 2014
Genre       : Kartun-Sejarah

Dharmawangsa, 29 Maret 2015.

Jumat, 30 September 2011

Potret Bangsa 1967-2007



40 Tahun Oom Pasikom: 
Peristiwa dalam Kartun Tahun 1967-2007  


Membaca kembali berbagai catatan peristiwa tentang sejarah bangsa rupanya sudah biasa. Sejarah yang tertuang dalam bentuk teks hanya menghasilkan generasi yang mulai melupakan akar sejarah bangsa sendiri. Namun, bagaimana bila episode yang terlewati itu dituangkan dan diekspresikan melalui bentuk gambar kartun yang biasa kita baca sehari-hari di media cetak? Rasanya tentu akan lebih mengena dan kontekstual serta memudahkan pembaca yang awam akan suatu peristiwa tertentu.

Walaupun tidak semua peristiwa dapat disajikan setidaknya ada beberapa peristiwa dan polemik tentang kehidupan berbangsa dan bernegara yang dirangkum menjadi sebuah komposisi mengagumkan. Kumpulan gambar yang banyak berbicara dari sudut pandang kaum marjinal (baca: rakyat biasa) menjadi suatu "corong" kritik pada masanya.

Rasanya kita semua perlu tahu bahwa pada tahun 70-an Indonesia melalui Pemerintahnya sudah mulai sadar akan adanya praktek korupsi dari aparat negara yang berkolusi dengan pengusaha. Terbukti dengan dibentuknya TPK (Tim Pemberantas Korupsi. Mungkin entitas inilah yang mengilhami lahirnya KPK. Selain itu, sejalan dengan timeline dimunculkan pula rentetan peristiwa-peristiwa lainnya yang mengiringi Repelita, Pelita, Runtuhnya Orde Baru, hingga Orde Pasca-Reformasi (2007).

Banyak kejadian dan peristiwa lain yang terjadi sepanjang kurun waktu 40 tahun tersebut. Kehadiran buku ini tentu jadi penanda zaman. Sebagai dokumentasi perjalanan sejarah bangsa dimana kita diwajibkan untuk mengambil nilai-nilai positif darinya. Buku ini seakan menjadi kaleidoskop yang merangkum itu semua dengan cara yang tentu saja sangat menghibur.

Judul : 40 Tahun Oom Pasikom: Peristiwa dalam Kartun Tahun 1967-2007
Penulis : GM Sudharta
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun : 2007
Tebal : 296 hal.
Genre : Kartun


Paninggilan, 30 September 2011.


Jumat, 16 September 2011

Trilogi Insiden: Perjuangan Melawan Lupa


Judul : Trilogi Insiden
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun : 2010
Tebal : 454 hal.
Genre : Sastra-Kumpulan Cerpen

Membaca kembali kumpulan cerpen Seno tentang Insiden Timor Timur memang menghadirkan kembali segala kenangan pahit dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Disukai atau tidak, karya Seno ini setidaknya telah dianggap sebagai suatu realita, fakta, dan kenyataan atas kejadian yang benar-benar terjadi. Padahal, semua tulisan Seno itu tersaji dalam bentuk cerpen (baca kumpulan cerpen Saksi Mata, Penembak Misterius) dan Novel (Jazz, Parfum, dan Insiden) yang jelas-jelas adalah fiksi rekaan.

Bukan hanya sekali ini saja, karya Seno lainnya-kumpulan cerpen Penembak Misterius- juga mengalami hal yang sama terkait dengan Peristiwa Petrus sepanjang medio 80-an. Masalahnya, sejauh mana batas antara fiksi dan non-fiksi bila keduanya saling mempengaruhi? Agaknya, hal ini merupakan isu utama yang diangkat Seno untuk kebutuhan saling mengingatkan.

Trilogi Insiden terdiri atas 3 karya Seno yang pernah diterbitkan sebelumnya. Kumpulan cerpen Saksi Mata menjadi pembuka atas keseluruhan cerita. Beruntung, kumpulan cerpen ini kembali mengalami cetak ulang untuk memenuhi kebutuhan pembaca yang (mungkin saja) hanya sempat membaca “Jazz, Parfum, dan Insiden” dan atau “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara”.

Kumpulan cerpen Saksi Mata, rasanya pantas bila disebut sebagai reaksi penulis atas tidak lengkapnya pemberitaan media mengenai hal-hal yang terjadi sepanjang konflik Timor-Timur. Seno berhasil mendeskripsikan bagaimana teror terjadi di seluruh pelosok Timor. Entah melalui telinga seorang pemberontak yang dikirimkan pada kekasihnya (baca cerpen Telinga) atau kepala yang tertancap di pagar rumah (baca cerpen Kepala di Pagar Rumah Da Silva).


Jazz, Parfum, dan Insiden sejatinya adalah sebuah novel namun Seno menginginkannya menjadi sebuah roman metropolitan (tercatat di halaman pembuka) yang bercerita tentang seorang wartawan yang mengikuti terus perkembangan berita dari insiden Timor. Mungkin, karena penulisnya tidak ingin novel ini menjadi monoton dan mencekam dengan segala pemberitaan media tentang insiden itu maka untuk mengaburkannya Seno sengaja menambah bumbu-bumbu lain dalam karya yang satu ini: Jazz, Perempuan, dan Parfum.

Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara adalah catatan kepenulisan Seno tentang dua karya sebelumnya yang menyangkut Insiden Dili: “Saksi Mata” dan “Jazz, Parfum, dan Insiden”. Disini Seno menjelaskan bagaimana reaksi media yang tiarap begitu saja ketika diancam oleh kepentingan tertentu dan juga bagaimana reaksi Seno ketika menghadapi pembungkaman dari institusi tempatnya bekerja. Catatan lain yang menarik adalah satu tulisan berjudul “Penulis di Tengah Masyarakat yang Tidak Membaca” yang merupakan pidato Seno dalam Pemberian Anugerah SEA Writing Award di Thailand.

Trilogi Insiden secara keseluruhan menampilkan permainan fiksi dan fakta sangat kental sehingga sulit sekali untuk membedakan keduanya. Boleh dibilang, Seno memadukan keduanya menjadi sesuatu hal yang bias dimana fiksi bisa dianggap sebagai fakta maupun sebaliknya. Sejumlah konflik dan pertentangan dalam cerita-cerita yang disajikan semain menambah kesulitan bagi mereka yang terbiasa hidup di dalam dunia yang hitam putih.


Catatan Seorang Kolumnis Dadakan


Untuk saya pribadi, dua bagian dalam Trilogi Insiden yaitu “Jazz, Parfum, dan Insiden” dan “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara” sudah saya nikmati sebelumnya. Terlebih ketika saya menemukan edisi berbahasa Inggris dari “Jazz, Parfum, dan Insiden” terbitan Lontar Foundation. Namun, tetap terasa kurang lengkap karena banyak catatan dalam “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara” berbicara dan merujuk pada cerita-cerita didalam Saksi Mata. Maka, dengan alasan melengkapi referensi dan juga untuk bisa mengalami sendiri kesan dari Saksi Mata maka tidak salah bila akhirnya Trilogi Insiden berjajar dengan saudara tuanya di rak buku.

Yang menarik dari Saksi Mata sepanjang pengamatan saya adalah rentang waktu penerbitan cerpen-cerpen yang berdekatan sehingga seakan-akan membentuk suatu sekuen. Mungkin saja, Seno merasa harus segera mengutarakan isi kepalanya agar fakta-fakta tentang insiden tersebut tidak hilang begitu saja dan segera direkam sejarah.

Kesan yang saya tangkap dari Saksi Mata, sebagai entitas pembuka dalam Trilogi Insiden ini sangat kuat. Bahwa fiksi pun bisa mewakili suatu yang dianggap fakta dan malah kadang dianggap sebagai kebenaran sebagai sesuatu yang pernah terjadi dan benar-benar berlangsung. Berbeda dengan “Jazz, Parfum, dan Insiden” yang dikemas begitu apik sebagai novel dengan bumbu-bumbu khas metropolitan: Perempuan dan parfumnya, maupun “Ketika Jurnalisme Dibungkan, Sastra Harus Bicara” yang penuh dengan catatan pribadi penulis tentang proses kreatif hingga proses ‘pembungkaman’ yang dilakukan oleh pemangku kepentingan tertentu.

Ya, kadang kita tidak perlu berjuang hingga berdarah-darah untuk menyuarakan kebenaran. Melalui Trilogi Insiden, kiranya tidak berlebihan bila karya Seno ini adalah sebagai catatan sejarah dan bukti perjuangan. Catatan sejarah karena Trilogi Insiden menyuguhkan suatu rentetan peristiwa pada waktu tertentu dan menjadi bagian dari perjalanan bangsa Indonesia. Sungguh pun demikian, Trilogi Insiden juga layak disebut sebagai catatan perjuangan pribadi Seno pada khususnya untuk mengingatkan kita semua terhadap sesuatu. Perjuangan melawan lupa.


Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 16 September 2011.

Selasa, 23 November 2010

Mereka Yang Datang dan Pergi

Rasanya tidak berlebihan bila pada akhir bulan Oktober kemarin adalah akhir bulan yang paling sukses untuk Jakarta. Betapa tidak, hanya selang beberapa hari Jakarta sukses menggelar konser dua musisi legendaris (sebenarnya empat plus Natalie Cole dan Peter Cetera, namun mereka masuk dalam rombongan David Foster) yang selalu dinanti penggemar setianya.

Kebetulan, entah karena Indonesia sedang mengalami bencana atau mungkin para teroris itu tidak mengerti musik dan juga paham siapa itu mereka, alhasil kedua pertunjukan itu dapat berlangsung dengan sukses. Sehingga, Indonesia masuk dalam catatan perjalanan David Foster & Friends, Simply Red, Kenny G, dan baru-baru ini Megadeth, yang kalau juga tidak ada halangan akan menggoyang Jakarta.

Barangkali juga, mereka sempat menulis "Hallo Indonesia, I was here" di sprei kasur atau dinding toilet hotel tempat mereka menginap. Berbeda sekali dengan kejadian tur Manchester United ke Indonesia medio tahun lalu yang diwarnai aksi teroris sehingga The Fergie Boys batal merumput di Senayan. Untungnya, bisnis pertunjukan tidak mengalami gangguan berarti. Padahal, kalau dipikir-pikir idelogi tersembunyi yang tersirat dalam musik bisa jadi musuh utama "teroris".

Adalah suatu anugerah bila dalam suasana berduka akibat berbagai macam "kekacauan domestik" masih ada musisi dunia yang menyempatkan mampir di Indonesia. Even, hanya untuk sekedar mengajak penonton bernostalgia. Lupakan sejenak penat dalam hiruk pikuk kemacetan Jakarta untuk mereka yang kebagian tiket front row. Lupakan juga tangis duka saudara-saudara kita di Wasior, Mentawai, dan wedhus gembel Merapi, karena esok pagi kembali. Dan kita akan tertawa bersama-sama lagi.

Rangkaian itu pun kemudian masih ditambah dengan kunjungan Obama. Kunjungan bilateral atas nama Trade and Democracy (versi BBC). Barangkali, Obama perlu menyaksikan sendiri bagaimana cara bangsa ini mengejawantahkan paham demokrasi barat. Dan contoh yang paling sederhana untuk itu adalah cara pemerintah menghandle dan mengeksekusi cara penanggulangan bencana. Obama juga perlu melihat sendiri gambaran bencana di Indonesia.

Mereka datang dan pergi. Berlalu bersama kesan dari abu Merapi. Merapi telah menyambut mereka karena Merapi tak pernah ingkar janji.



Paninggilan-Gambir, 22 November 2010. 00:56

Minggu, 21 Februari 2010

The Culture of the Days and the Agenda

“Apa pendapat anda tentang hari Valentine dan Imlek yang jatuh bersamaan?”

“Saya rasa itu semua Cuma hari biasa dan mungkin saja kebetulan jatuh di tanggal yang sama sesuai kaidah penanggalan yang digunakan masing-masing. Selebihnya tidak jauh berbeda, mereka hanya jadi hari-hari biasa yang mengisi kalender tahunan. Yang membuat berbeda adalah makna dari masing-masing hari itu. Kalau sudah menyangkut makna, saya rasa hanya pikiran yang mampu menafsirkannya.”

“Jadi menurut anda tidak ada yang spesial?”

“Bukan begitu. Dulu juga kita pernah mengalami Idul Fitri yang bersamaan dengan hari Natal. Tentu saja ada makna khususnya, seperti kita menganggap hari ulang tahun kita sendiri yang selalu jadi momen paling spesial.”

“Kalau Valentine semua orang rasanya teringat pada bunga atau coklat, kalau yang membuat anda teringat akan Imlek?”

“Bagi saya kalau mendengar Imlek yang terbayang adalah lampion merahnya yang selalu menghadirkan perasaan rawan sekaligus menawan. Lalu, sudah tentu barongsai. Saya tidak akan pernah lupa sensasi waktu pertama kali melihat langsung penampilannya. Sungguh menghadirkan suatu perasaan yang semarak dan membahagiakan.”

“Pernah punya memori tentang hari Valentine dan Imlek?”

“Ada. Dalam ajaran Agama saya merayakan Valentine dan Imlek sudah tentu haram hukumnya, tanpa menunggu fatwa MUI karena secara eksplisit sudah ada aturannya di Al Qur’an dan Hadis. Walau begitu, namanya juga orang yang pernah muda, dulu waktu SMP saya pernah sengaja beli coklat tapi belum tahu untuk siapa, saya tunggu sampai ada yang minta sama saya, kebetulan temen sekelas yang duduk di belakang saya minta coklat, ya sudah saya kasihkan, lha wong niat awalnya buat dikasihin, kebetulan saja pas hari Valentine itu. Kalau Imlek, beda lagi, saya memang tidak punya kenangan apa-apa selain menonton barongsai secara langsung untuk pertama kalinya dalam hidup saya yang juga telah membuka pandangan saya terhadap Imlek itu sendiri, dalam konteks atau pemahaman kultural.”

“Pemahaman kultural apa yang anda maksud?”

“Begini, Imlek selain sebagai penanda tahun baru dalam sistem kalendar lunar juga telah menjadi suatu pemaknaan atas diri sendiri, Tuhan, dan lingkungan dengan cara tersendiri bagi mereka yang merayakannya. Nah, cara perayaannya ini yang kemudian berkembang menjadi budaya yang kemudian terdiferensiasi lagi menjadi tradisi . Seperti, kalau Lebaran identik dengan ketupat maka Imlek pun selalu identik dengan barongsai atau ang pao misalnya. Pemahaman kultural atas budaya dan tradisi inilah yang perlu dijaga dan dikembangkan agar masyarakat bisa menjadi lebih toleran dan bisa saling menghargai dalam lingkungan yang heterogen dan plural seperti di Indonesia ini. Saya belum bisa bicara lebih jauh karena saya juga masih dalam tahapan belajar memaknainya.”

“Kaitannya dengan kondisi dan keadaan berbangsa kita saat ini?”

“Masyarakat Indonesia ini masih dalam tahap belajar untuk bisa saling menghargai dan lebih toleran antar sesama. Untuk beberapa hal, kita bisa berkata bahwa masyarakat kita ini sudah terlalu paham dengan makhluk yang namanya demokrasi. Dalam demokrasi juga diajarkan bagaimana untuk bisa dan mampu menghargai aspek-aspek keberagaman yang ada dalam masyarakat yang serba heterogen ini walau koridor nilai-nilai masih harus dijadikan patokan dasar sehingga tidak kehilangan arah. Beberapa kasus penistaan agama misalnya, harus ditanggapi dan diselesaikan secara berbeda dengan pendekatan nilai-nilai keagamaan bukan asal beda lalu dianggap biasa dan dibela untuk dibiarkan. Saya rasa kita masih dan harus lebih banyak belajar agar tidak terjebak dalam satu pemahaman yang semu tentang demokrasi. Dalam hal ini saya hanya menyampaikan pandangan saya saja dan masih belum layak dijadikan satu patokan atau gambaran umum tentang kondisi sebenarnya. Tentunya masih diperlukan suatu penelitian dan studi khusus tentang pemahaman kultural masyarakat Indonesia terhadap budaya dan tradisi Imlek ini. Mungkin, dengan disertasi doktoral yang tidak mungkin terbantahkan.”

“Menurut anda, bila masyarakat kita sudah mencapai tahap pemahaman kultural seperti yang anda maksudkan tadi lalu apa implikasinya terhadap masyarakat itu sendiri?”

“Implikasi lebih jauh tentu akan tampak dalam zaman yang serba globalisasi ini. C-AFTA (China-Asean Free Trade Area) sudah didepan mata. Apabila masyarakat Indonesia sudah mempunyai pemahaman kultural yang baik dan berhasil di negerinya sendiri, sudah barang tentu dalam pergaulan tanpa batas di dunia ini masyarakat Indonesia dapat melakukan hal yang sama terhadap bangsa-bangsa lainnya dengan interaksi antar-kultural sehingga dalam globalisasi ini kita tidak hanya jadi penonton tapi sudah harus bisa jadi pemain yang punya perannya sendiri dalam pergaulan antar bangsa. Intinya adalah membangun kepercayaan bahwa kita ini layak diperhitungkan sebagai warga dunia. Jadi, jangan sampai masyarakat internasional itu hanya tahu ramahnya orang Indonesia itu seperti ramahnya orang Bali atau Jogja saja, walau kadang kenyataannya masih menunjukkan demikian.”

“Kita beralih topik, apa tanggapan anda tentang rencana kedatangan Obama ke Indonesia?”

“Saya anggap itu hanya kunjungan dinas biasa tentunya dengan berbagai misi dan kepentingan AS di Indonesia. Dan kebetulan memang Presiden SBY pernah sekolah militer di Fort Ranger, AS dan Obama pernah juga sekolah di Menteng, ada nuansa sentimental tersisip didalamnya selain urusan-urusan diplomatik. Saya kira Obama sengaja datang ke Indonesia untuk sekedar melihat Patungnya di Taman Menteng. Mungkin ia heran kenapa patungnya bisa sampai sebab musabab class action masyarakat yang sedang disidangkan di pengadilan. Mungkin juga ia merasa bangga karena patungnya ditempatkan di sebuah taman yang cukup representatif dan memorial bukan di tengah jalan raya seperti patungnya Jenderal Sudirman yang nongkrong dengan hebatnya sambil hormat kepada kapitalisme global yang ditandai dengan macam-macam skyscrapers dihadapannya. Sungguh menarik sekaligus gemas juga melihat bagaimana bangsa kita memperlakukan sejarahnya.”


bersambung...


Ciledug 15 Februari 2010
diterbitkan di Ciledug 21 Februari 2010

Jawaban untuk Sahabat

Dear Sahabatku yang Budiman, (ini juga bukan karena saya teringat Bis Cepat jurusan Tasik itu)

Entah kenapa saya merasa ingin dan harus membalas catatan yang sengaja kamu buat ini. Terima kasih karena telah menghadiri pernikahan saya. Terus terang, saya merasa terusik dengan beberapa pernyataan dan pertanyaan yang ada di catatanmu itu. Tadinya saya pikir kamu Cuma ingin bernostalgia mengingat catatan sejarah kita yang mengagumkan itu. Tapi, setelah saya coba pikirkan kembali, ternyata bukan itu maksudnya. Saya kagum karena kamu menulis catatan tentang saya dan menempatkannya di blog pribadimu.

Saya memang sedikit merasa tidak nyaman karena siapa tahu ada kawan kita yang tahu tendensi dari catatan yang kamu buat ini ditujukan kepada saya. Kalau sudah begitu rasanya saya cukup tega untuk melaporkan kamu ke Mabes Polri atau Polres Cimahi atas perilaku tidak menyenangkan dan pencemaran nama baik. Kamu akan saya jerat dengan UU ITE. Syukur pada Tuhan, Presiden kita belum sempat mengkaji dan akhirnya membatalkan RPM UU Konten Multimedia. Kalau ternyata RPM itu benar telah jadi UU maka bertambah banyak pula tuduhan yang dikenakan padamu. Beruntung juga Menkominfo kita itu orangnya plin-plan walau kadang suka sembarangan buka-tutup blog punya orang. Sudah tentu kamu akan saya jadikan The Next Prita Mulyasari to be defamed by internet behavior karena saya tahu kamu tidak punya modal apa-apa untuk meraih simpati publik.

Jangankan mengumpulkan koin, rasanya kalau sampai ada Cause di Facebook yang mendukungmu, saya rasa tidak akan banyak facebookers yang peduli dan menggalang dukungan yang lebih besar buat kamu. Kalaupun sampai ada yang peduli pasti hanya kuli tinta dari koran sokpas dan koran-koran medioker lainnya walau mungkin bisa juga jadi santapan reporter TV untuk kumpulan berita-berita kriminal.

Tapi, kalau teringat lagi lagu-lagu yang pernah jadi soundtrack zaman kita masih kuliah dulu rasanya saya tidak tega untuk membiarkan kamu menderita. Tapi atas nama harga diri saya tentunya ingin agar kamu mendapat pelajaran bahwa bermain-main dengan orang politik itu memang tidak menyenangkan dan sebaiknya tidak pernah dilakukan. Salah-salah saya bisa membunuh karaktermu dan sengaja menjebakmu terlibat dalam sebuah konspirasi besar untuk menjatuhkan parlemen dengan mosi tidak percaya.

Jadi, tolong lupakan saja momen-momen yang pernah kita lewati bersama. Lupakan pula setiap memori tentang saya. Lupakan pula tentang Dji Sam Soe yang dulu sering kita nikmati sambil cengengesan di bis kota. Apapun pretensi anda tentang saya bisa jadi salah terhitung mulai detik ini. Things are never be the same again. Semua tak sama, tak pernah sama.* Saya memang terlalu sibuk dengan diri saya sendiri. Sibuk dengan proyek-proyek yang mengalir tanpa henti. Terlalu banyak kalau saya ceritakan. Lagipula, kamu belum tentu mengerti tentang semua itu, tentang kenapa Negara ini masih bobrok. Karenanya, saya memang tidak punya waktu untuk sekedar menjawab SMS darimu. Untuk apa? Rasanya tidak ada artinya. Pun ketika saya lihat corat-coret di wall, saya tidak pernah mau membalasnya karena kalau saya tanggapi saya hanya akan terlihat sebagai seorang politisi asongan. Kau tahu maksudku kan?

Begini, bangsa kita ini masih belajar berpolitik. Bangsa kita ini terlalu dipaksakan untuk menenggak banyak-banyak pil dan racun paham-paham politik dalam waktu yang singkat. Akibatnya, bangsa kita juga mabuk politik berkepanjangan. Indikasinya bisa dilihat dari kekuasaan. Kekuasaan telah menjadi racun yang mendarah daging di kehidupan bangsa kita ini. Kamu tentu paham dengan feodalisme peninggalan kerajaan-kerajaan di Nusantara ini yang kemudian dimanfaatkan oleh Penjajah Belanda untuk bekerjasama dengan pribumi dan priyayi lokal.

Demokrasi bukan lagi jadi suatu cara untuk menggapai kekuasaan yang adil dan bermartabat. Demokrasi hanya jadi alat saja sebagai legitimasi kekuasaan. Pemilu, pilkada dan apapun namanya hanyalah rekayasa segilintir pihak atas nama demokrasi untuk mencapai kekuasaan. Padahal esensinya tetap saja perebutan kekuasaan. Ada yang kalah ada yang menang. Supaya menang butuh modal. Untuk itulah kenapa politik harus dipelajari.

Demokrasi kita itu sedikit banyak dipengaruhi ilmuwan-ilmuwan dan doktor-doktor politik made in USA. Pada suatu masa yang disebut era lepas landas banyak dari mereka menimba ilmu di negerinya Ford itu dan setelah pulang atas dasar perjanjian beasiswanya harus mengaplikasikan ilmu dan pemikirannya di ranah perpolitikan negeri ini. Jadi tidak heran bila kemudian demokrasi yang kita anut mengarah pada demokrasi liberal. Demokrasi liberal telah mendahului kelahiran demokrasi parlementer sebelum akhirnya demokrasi terpimpin bercokol di tampuk kekuasaan.

Untuk menelaah lebih jauh tentang demokrasi saya sarankan kamu membaca jurnal-jurnal penelitian terbaru keluaran universitas-universitas top dunia. Selain kamu bisa membaca perkembangan demokrasi dan politik di berbagai belahan dunia pasti kamu juga dapat pemahaman yang menyeluruh tentang makna demokrasi dalam Negara yang berdaulat serta bagaimana demokrasi turut berperan dalam pembentukan karakter bangsa. Perhatikan, ini sekedar saran saja.

Hubungan antara korupsi, politik dan kekuasaan katamu, memang ada kaitannya terutama setelah beberapa peristiwa menghebohkan yang banyak diliput media. Korupsi sudah tentu harus dijauhi karena perilaku korupsi yang terlanjur membudaya akan membawa kehancuran dalam setiap sendi kehidupan bangsa ini. Sedangkan, politik dan kekuasaan adalah hal yang bisa jadi mendatangkan manfaat asal tidak terkontaminasi dengan pemikiran yang korup.

Hubungannya, karena dengan kekuasaan kamu bisa mendapatkan semua yang mungkin kamu dapatkan maka dengan sedikit bantuan dari elit politik demi sebuah kepentingan bersama. Nah, korupsi digunakan apabila dalam mencapai kekuasaan itu diperlukan juga suatu konvensi dan kompromi untuk membagi bersama semua atau beberapa keuntungan dari kekuasaan. Sebenarnya korupsi bisa masuk dimana saja. Intinya, kalau ada yang mengganggu kekuasaan, maka penguasa harus berpolitik dengan sedikit kompromi supaya sama-sama untung tidak peduli siapa yang dirugikan. Biasanya yang dirugikan ya rakyat. Rakyat seperti kamu.

Kalau benar Golkar jadi mundur dari koalisi tentu ini adalah sebuah langkah baru dalam kehidupan berpolitik Golkar. Sepert pendapatmu yang menyebutkan bahwa Golkar memang identik dengan kekuasaan dan tidak pernah lepas daripadanya. Keluarnya Golkar dari koalisi tentu akan menjadikan kekuatan politik yang semula berimbang akan berubah walaupun tidak terlalu signifikan. Terlepas dari isu re-shuffle yang memungkinkan presiden mencabut mandate menteri-menteri dari Golkar. Masalahnya, akankah Golkar jadi oposisi? Kalau Golkar jadi oposisi, Pemerintah dalam hal ini Koalisi akan mendapatkan tekanan berat. Namun, menurut saya menilai kondisi ini saya tidak yakin bila Golkar benar-benar keluar dari koalisi. Titik berat masalahnya selama ini ada di Pansus Century dan Golkar termasuk fraksi yang vokal dalam menyuarakan dugaan pelanggaran oleh pemerintah. Setelah badai Pansus ini berlalu saya kira semua akan kembali pada tempat yang semestinya selama tidak ada isu-isu yang menggoyang pemerintah.

Sistem kabinet parlementer yang masih banyak digunakan oleh beberapa Negara di Eropa sana membuktikan bahwa setiap region punya kekhasan masing-masing dalam menafsirkan dan mengimplementasikan demokrasi. Dengan sistem yang menggunakan banyak partai (tapi tidak terlalu banyak seperti disini) tentu kekuatan politiknya masih berimbang antara koalisi pro pemerintah atau sayap kanan dengan opisisi atau sayap kiri. Biasanya ada juga yang disebut garis keras yang netral dan punya suara, pandangan, dan sikapnya sendiri.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan runtuhnya suatu kabinet. Seperti yang dulu kita pelajari waktu SMP, biasanya faktor-faktor itu adalah menyangkut hak-hak dasar manusia yang tidak terpenuhi. Adanya kesenjangan antara pemerintahan pusat dan daerah masih jadi isu yang sangat kuat saat itu. Biasanya, adalah masalah kesejahteraan yang berhubungan langsung dengan stabilitas ekonomi. Dalam bahasa orang awam, kalau cari nasi saja sulit lebih baik turunkan pemimpinnya. Itu dulu di Indonesia.

Belanda dituntut untuk menarik mundur pasukannya dari Afghanistan karena masyarakatnya mulai sadar bahwa adalah suatu kesalahan untuk mengirim pasukan tambahan atau sekedar memperpanjang misi militer di Afghanistan. Sudah banyak korban berjatuhan akibat perjuangan gerilya dan teror-teror dari Taliban Inc. (biar keren aja nyebutnya) Pasukan koalisi pimpinan AS pun sekarang sudah Nampak kelelahan dengan perang yang tak kunjung usai. Dengan kondisi semacam itu maka sebagai sesama manusia yang seharusnya berpartisipasi dalam perdamaian dunia maka mereka menggoyang pemerintahan untuk menyuarakan pendapatnya. Dan bahwa kemudian kabinet jatuh sudah tentu menjadi titik terang akan keinginan masyarakat.

Faktor lainnya menyangkut krisis politik negerinya Van Basten itu saya rasa masih seputar isu ekonomi dimana dampak krisis 2008 semakin terasa tahun 2010 ini di Eropa. Kemudian, perdagangan juga ikut berperan dalam ini terutama setelah AS lebih condong melakukan banyak pendekatan ke Negara-negara di Asia dan Uni Eropa mulai merasa terancam atau lebih halusnya terusik karena hubungan mereka yang selalu eksklusif dengan AS. Itu secara globalnya.

Kita ini belajar pemakzulan sejak zaman demokrasi parlementer dan sempat vakum saat Soeharto menjabat presiden dengan Demokrasi Pancasilanya. Rasanya terlalu jauh kalau kita memang belajar pemakzulan dari zamannya penjajahan kompeni. Lagipula, masyarakat kita kan tidak peduli sejarah bangsanya jadi mana mau mereka belajar dari kompeni. Contoh yang paling dekat adalah waktu Gus Dur dikasih kado impeachment oleh DPR akibat Bruneigate dan Buloggate. Untung waktu itu DPR bertindak cepat sebelum mereka dibubarkan. Kamu juga tahu waktu itu Gus Dur mengancam untuk membubarkan DPR. Celakanya, sekarang ini yang demikian itu diasosiasikan lagi pada SBY yang tersandung Centurygate. Pokoknya, makzul tak gentar, membela yang bayar. Itu hanya gurauan saja. Jangan anggap serius apalagi dijadikan status facebook.

Saya rasa terlalu jauh bagi kita bila harus kembali lagi ke sistem parlementer. Lha wong konstitusi kita ini kan presidensial jadi tidak mungkin untuk mengulang kembali. Kecuali terjadi sesuatu dengan konstitusi kita. Misalnya, UUD 1945 dicederai oleh Mahyadi Panggabean, stopper Persik Kediri kebanggaanmu itu. Kalau sudah begitu maka lain soal. MPR lah yang nantinya memutuskan.

Masuk ke topik Obama. Saya tidak rela kedatangannya kemari disangkutpautkan dengan perayaan hari kelulusanmu. Tidak ada hubungannya sama sekali jadi jangan merasa ge-er dulu. Lagipula anggota CIA mana yang mau membeberkan rahasia negaranya. Jangan kira CIA sama dengan intel kita yang intel melayu itu: intel teriak intel.

Secara fundamental mungkin tidak akan ada yang berubah dalam struktur kehidupan masyarakat kita hanya saja Obama ini lebih meningkatkan pemahaman antara dunia barat dengan Islam yang sempat ternoda pada masa pemerintahan George W. Bush. Intinya kembali lagi pada pencitraan. Ingat, Obama menang pemilu karena politik pencitraannya yang berhasil. Itu juga yang kemudian berhasil ditiru oleh Presiden kita saat ini. Kembali lagi, budaya politik dan demokrasi kita sedikit banyak mengadopsi tata kelola yang sudah berjalan mantap di AS. Niatan Obama untuk merevitalisasi hubungan AS dengan Islam perlu kita hargai dan kita jadikan sebagai langkah awal untuk membersihkan citra Islam sendiri. Bahwa Islam bukan teroris. Yang teroris itu adalah penjahat yang kebetulan entah sengaja atau tidak mengatasnamakan atau malah beragama islam. Peran OKI tentu akan lebih dituntut karena ini menyangkut isu global. Mungkin, Obama menurunkan Hillary Clinton untuk menangani hal ini.

Masalah patung memang perlu dikaji kembali. Saya juga heran kenapa gugatan Class Action terhadap patung Obama dicabut. Saya belum dapat informasi apakah ada campur tangan Advance Team atau CIA disana, karena semua ini terjadi kurang lebih sebulan sebelum Obama landing di Halim. Memang bangsa ini juga mengalami krisis identitas. Bangsa kita baru merasa punya identitas kalau batik diklaim sama Malaysia. Tapi untuk menghargai pahlawannya sendiri bangsa kita kerap kehilangan identitasnya. Memalukan memang. Tapi begitulah faktanya. Kita terlanjur bangga dengan apa yang tidak ada pada diri kita sehingga kita kehilangan identitas sendiri.

Kamu bisa saja bergurau. Dapat ide darimana kalau POLRI diminta membantu FBI, CIA, Kepolisian AS untuk menangkap Osama? Belum lagi Obama yang bakal dolanan ke tempat batik, Kotagede, dan makan lesehan di Malioboro. Ngawur. Tidak ada hubungannya dan sangat tidak relevan sekali. Tapi kalau untuk misi dagang saya rasa ada benarnya bahwa AS merasa marketnya terusik dengan C-AFTA. Obama sepertinya hanya ingin mempertanyakan kembali komitmen perdagangan Indonesia dengan AS, dan pendapat saya barangkali ini ada hubungannya dengan TNI yang berencana untuk memodernisasi Alutsistanya dan inilah santapan besar AS: bisnis senjata. Legal pastinya. Kalau kamu masih penasaran kenapa bisnis senjata adalah bisnis yang menggiurkan dan sangat menguntungkan tonton lagi filmnya Nicholas Cage yang judulnya “Lord of War”.

Demikianlah yang mampu saya sampaikan. Untuk diingat ini belum semua. Saya rasa pertanyaan-pertanyaanmu cukup menantang dan layak dijadikan script siaran atau wawancara. Masih ada beberapa penjelasan detail yang akan saya simpan sebagai “senjata” saya sendiri nantinya. Sayang sekali kamu belum boleh tahu. Tapi saya yakin suatu saat nanti kau akan tahu, kau akan mengerti, dan kau akan pahami.

Pesan saya, ajukanlah pertanyaan-pertanyaan kamu di media atau channel yang tepat. Kamu kan lulusan komunikasi, setidaknya belajar paradigma Lasswell, jadi jangan sampai melakukan tindakkan yang memalukan. Perlu diingat juga, saya tidak memberikan ataupun membuat jawaban ini atas asumsi-asumsi. Ini murni output pikiran saya.

Saya harap ini cukup membantu kamu untuk menanggulangi segala keresahan atas semua pertanyaan yang ada di kepalamu. Saya tentu sangat berharap agar kamu tidak kehilangan daya imaji dan kritismu. Tidak banyak orang di dunia ini yang sepertimu. Setidaknya, dari yang pernah saya temui. Teruslah hidup dalam kebahagiaan. Takdir tidak dipilih, tetapi ia memilih.



Ciledug, 21 Feb 2010


*dengan ingatan kepada lirik lagu “Semua Tak Sama”, dinyanyikan oleh Padi

Surat untuk Sahabat

Sahabat,

Harusnya catatan ini dibuat sambil mendengarkan lagu Sahabat dari KLa Project atau You’ve Got a Friend ciptaannya Dianne Warren. Supaya ada satu perasaan saling memiliki yang mengiringi kelahiran catatan ini. Tetapi kalaupun sampai terdengar lagunya Iwan Fals yang liriknya ‘pernah kita sama-sama susah, terperangkap di dingin malam’* rasanya terlalu sentimental untuk mengenang kembali masa-masa itu. Masa-masa sama-sama susah. Masa-masa terjerumus dalam lubang jalanan.

Perlu diingat, catatan ini juga saya buat bukan karena terbayang-bayang pada bis AKDP-AKAP Sahabat yang semburat knalpotnya selalu membuat debu-debu cinta bertebaran antara Bandung - Cirebon. Tidak. Catatan ini juga bukan sekedar catatan pengisi waktu di sela-sela kesibukan dan deru jalanan ibukota. Bukan. Bukan itu sahabat.

Saya masih ingat waktu kita baru mau lulus. Kita sering berbincang tentang mimpi-mimpi malam. Tentang impian kehidupan yang kelak akan kita miliki dan sekarang memang sedang kita jalani masing-masing. Ditemani temaram lampu teras dan dua batang Dji Sam Soe bibir kita tak henti-hentinya berpacu dengan segala macam hal yang mampu dirasakan oleh jiwa dan dipikirkan oleh pikiran sehingga kita tak henti-hentinya juga saling terpekur dalam diam sunyi malam.

Kelak malam semakin meninggi dan rasa lelah itu makin menjadi. Esok masih tak pasti namun bukan pula sebuah kepastian. Begitu katamu. Rasanya setiap malam adalah malam-malam panjang dalam penantian. Entah tentang mimpi atau hidup itu sendiri. Itulah yang saya tangkap dari kerut di keningmu yang tampak selalu basah oleh keringat. Masih ingatkah engkau sahabat?

Setelah apa yang terjadi pada takdir kita masing-masing, jalan semakin terbuka untuk masa depan kita. Kau putuskan untuk menikah dan membangun keluargamu sendiri. Saya pun turut berbahagia untukmu karena engkau berhasil menambatkan jangkar cinta dan hidupmu pada perempuan itu. Hingga lama jarak membentang antara kita. Ruang dan waktu pun jadi sekat dalam dunia kita yang semakin tua ini. Lama tak kudengar kabar darimu. Sudah sering aku kirimkan pesan lewat SMS namun semua tanpa jawaban. Kadang saya tulis hal-hal yang selalu kita tertawakan di wall facebookmu. Tapi, hasilnya nihil. Masih tanpa jawaban. Apa yang sedang terjadi padamu sahabat?

Saya harap engkau tidak membalas setiap SMS itu hanya karena sekarang lebih sering bermain dengan trackball Blackberry untuk sekedar mengintip dan mengupdate status facebook. Saya tentunya bersyukur bila melihat statusmu yang terbaru dan paling up to date. Rasanya jarak, ruang, dan waktu tidak lagi jadi hambatan untuk kita.

Kabar yang sampai pada saya di akhir bulan itu sedikit membuat saya heran. Saya tahu anda adalah seorang petualang jadi rasanya aneh kalau saya merasa sedikit heran tentang pilihanmu. Kau telah putuskan untuk turun dalam bidang politik. Tentunya bukan sebagai praktisi politikus dadakan namun sebagai murid. Kau lanjutkan studimu di bidang politik. Sebuah bidang yang saya tahu benar bukan hal yang baru buatmu. Politik adalah makananmu sehari-hari. Mulai dari caramu mendekati perempuan itu hingga meyakinkan ayah dan ibu perempuan itu yang kini jadi mertuamu.

Tak ada yang aneh memang. Tadinya aku pikir kau sedang mencoba jadi seorang politikus seperti Eep Saifullah Fatah atau Yudi Latief yang opininya laku dibeli oleh media. Tentunya kau punya alasan sendiri mengapa politik telah jadi jalan hidupmu yang sekarang. Saya tidak tahu apakah kau memang berniat juga untuk ikutan maju di Pilkada. Tapi yang saya tahu kau tidak pernah mau jadi aktor politik tapi malah memilih jadi sutradaranya. Dengan negosiasi dan lobi-lobi yang sudah jadi remeh temeh bagimu tentu akan lebih mudah bagimu untuk tidak jadi pihak yang punya kepentingan. Kepentingan itu hanya milik mereka yang menginginkan kekuasaan dan kau sendiri tahu dan sadar benar bahwa kau tidak pernah ingin berkuasa-kecuali untuk istrimu sendiri. Saya tahu itu karena begitulah sifatmu.

*

Apa yang terjadi dengan alam politik bangsa ini? Apakah ada hubungan antara korupsi, politik, dan kekuasaan? Apakah ada hubungan antara Kasus BLBI, Bail-out Century dengan Pemilu kita yang kemarin? Kenapa Golkar ingin menarik diri dari koalisi padahal kita sama-sama tahu Golkar itu partainya pemerintah. Dari zaman anda sekolah dulu pun memang sudah begitu. Golkar adalah partai pemerintah yang selalu berada dalam lingkungan kekuasaan. Sehingga sulit sekali membayangkan langkahnya untuk mundur dari koalisi kekuasaan negeri ini. Menurut anda, apakah ini sebuah manuver politik belaka agar sesama partai koalisi yang punya pandangan sama dengan Golkar di Pansus Century untuk lebih kritis sekalipun berhadapan dengan partainya penguasa yang jadi induk koalisi dengan resiko dikeluarkan dari koalisi? Akankah keseimbangan iklim politik koalisi VS oposisi terganggu seandainya Golkar memutuskan untuk benar-benar keluar dari koalisi?

Lalu, apa tanggapanmu tentang kejatuhan Kabinet Belanda untuk keempat kalinya dibawah pimpinan Jan Belekenende, apakah ada hubungannya dengan isu-isu seputar demokrasi parlementer di Indonesia medio 1950-an? Apakah perilaku politik parlemen Belanda juga berlaku di Indonesia mengingat latar belakang sejarah kedua Negara? Barangkali anda lupa, kita Indonesia ini pernah mengalami peristiwa saling menjatuhkan parlemen. Dari zamannya Sjahrir bangsa kita sudah mengenal yang demikian, pun ketika Soekarno ingin membubarkan parlemen yang kemudian ditiru Gus Dur pada masa kekuasaannya.

Nah, yang perlu anda analisis adalah apakah bangsa kita juga belajar hal pemakzulan kabinet dari Belanda sebagai imbas penjajahan yang konon lamanya 3,5 abad? Apakah kita akan kembali pada demokrasi parlementer mengingat kelakuan beberapa anggota DPR yang merasa dirinya pahlawan dengan membentuk pansus, yang semakin menegaskan posisi dan power-legitimate Parlemen dalam konstelasi perpolitikan di jagad negeri ini?

Bagaimana dengan isu kedatangan Obama ke Indonesia bulan depan? Awalnya, saya pikir Obama sengaja datang ke Indonesia di bulan Maret untuk bersama-sama dengan saya merayakan 2 tahun hari kelulusan saya. Ternyata saya salah. Bukan itu agendanya. Menurut sumber CIA yang enggan disebut namanya, beliau ke Indonesia untuk beberapa alasan dan yang paling menonjol adalah alasan sentimental. Obama ingin bernostalgia dengan masa 4 tahunnya di Indonesia sekalian pelesir ke Yogyakarta untuk melepaskan penat sejenak dari urusan-urusan negaranya. Mungkin dengan belajar membatik di pusat kerajinan batik, belanja souvenir perak di Kotagede, dan menikmati malam sambil lesehan makan gudeg dan tempe penyet di Malioboro akan jadi obat yang ampuh untuk kebosanannya memimpin Negara superpower.

Menurut pendapat anda, apakah kedatangan Obama akan membawa perubahan yang signifikan bagi tatanan hidup masyarakat kita? Bila anda simak kembali janji kampanyenya, Obama ingin mempererat kembali hubungan USA dengan dunia islam yang ternoda akibat Perang Irak 2003, dan kita sadar bahwa Negara kita ini katanya yang jumlah umat islamnya paling banyak di dunia, sehingga memungkinkan adanya korelasi isu antara hubungan diplomatik dengan dunia islam. Mungkinkah itu terjadi? Apakah fundamentalisme dan radikalisme yang mengatasnamakan islam di berbagai belahan dunia akan jadi batu sandungan? Apakah peran OKI (Organisasi Konferensi Islam) akan berpengaruh dalam menjembatani isu-isu seputar hubungan islam dengan dunia barat?

Apakah mungkin Obama meminta Bambang Hendarso Danuri, yang mantan atasannya Susno Duadji itu untuk memberikan pelatihan cara menangkap teroris, karena seperti kita tahu dari jamannya George Bush (bukan George W. Bush), AS kesulitan untuk menangkap biang kerok terorisme dunia yang ditujukan pada Osama bin Laden? Atau juga Obama hanya ingin mengucapkan rasa terima kasihnya atas patungnya yang sempat ditempatkan di Taman Menteng, satu tempat yang saya rasa lebih layak untuk patung tokoh pahlawan sekelas Panglima Besar Soedirman. Satu lagi, apakah kedatangan Obama ini juga membawa misi perdagangan guna mempererat hubungan dagang RI-AS, mengingat Rini Suwandi (mantan Menperindag, menjabat zaman Mega) sudah terlebih dahulu menandatangani nota perjanjian China-ASEAN Free Trade Area pada 2003 dan AS berupaya agar tidak kehilangan potential marketnya?

Ingin sekali saya ajukan pertanyaan-pertanyaan itu dan meminta anda untuk menganalisisnya. Analisis yang menggunakan metode kualitatif-metode favorit anda, sehingga dapat ditemukan hubungan yang signifikan dari segi triangulasi fakta dan data bukan dengan angka-angka keparat statistik. Sebagai calon master yang menguasai bidang politik tentu anda harus mampu membuat pandangan dan teori sendiri untuk memahami, memecahkan, dan memberi solusi yang cerdas untuk kehidupan politik berbangsa dan bernegara. Tapi, sebelum anda melangkah kesana saya hanya minta anda menjawab pertanyaan saya lengkap dengan penjelasannya dibayar tunai.

Ada beberapa pertanyaan lainnya yang ingin saya ajukan. Mungkin saya tulis lagi di wall facebookmu atau sekedar jadi twit di twitter. Namun kekhawatiran saya masih sama seperti yang sudah saya tulis tadi, tidak ada jawaban. Kenapa, Bung? Apakah anda sudah tidak punya lagi daya analisis ilmiah lantaran kesibukanmu dengan proyek-proyek itu? Apakah anda sudah lelah untuk berpikir hal yang demikian dengan alasan terlalu sibuk?

Rasanya, saya yakin anda mampu memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Anggaplah saya ini hanya seorang anak kecil yang sedang bertanya pada bapaknya. Jadi, sebagai bapak yang bertanggung jawab tentu anda akan menjawab dengan jawaban dengan analisis yang tajam dan mendalam serta tidak penuh asumsi-asumsi politik yang biasanya (selalu) menyesatkan.

Barangkali, anda bisa menuliskan pandangan anda tentang hal yang demikian ini, mungkin pada satu kolom kecil di satu harian terkenal ibukota, supaya kawan-kawan kita yang lain dan masyarakat tahu bahwa anda memang tidak sia-sia menjalani pilihan anda. Mungkin kami tidak akan heran lagi bila nanti anda diundang jadi analis untuk isu-isu politik yang sedang berkembang oleh stasiun televisi yang selalu bangga dengan predikatnya sebagai yang nomor satu. Dan yang paling penting, biarkan semua orang tahu bahwa anda memiliki kontribusi dan dedikasi pada bidang politik yang kadang-kadang menggelitik.



Salam dari Ciledug,

Ciledug, 19 Februari 2010


*dari lagu Iwan Fals, “Belum Ada Judul”



Jumat, 12 Februari 2010

The Books

“Jadi begini ceritanya. Ada konflik perebutan kekuasaan di jajaran kepresidenan Filipina. Yang satu berhaluan komunis dan pihak lainnya menganut demokrasi turunan Amerika. Suatu waktu, kapal patrol China diserang oleh Patroli AL Filipina, di dekat Spratlys Island, di daerah yang terlarang menurut versi masing-masing. Kejadian itu memaksa AL China untuk menembakkan misil berhulu ledak nuklirnya. Kebetulan waktu itu AS sedang dalam persiapan untuk meninggalkan Filipina dengan meninggalkan semua fasilitas pangkalan militernya. Karena, isu nuklir dikhawatirkan membuat panik dunia dengan World War Versi Tiga maka AS harus segera bertindak untuk memastikan apa yang terjadi disana.”

“Lalu?”

“Dengan bantuan satelit terbaru punya mereka yang dibeli dari Sky Masters Inc., Angkatan Udara AS berusaha untuk menemukan sumber ledakan nuklir tersebut. Ketika diperoleh konfirmasi bahwa nuklir tersebut berasal dari misil milik China maka AS memutuskan untuk bertindak. Ditambah lagi ketika ada coup di internal pemerintahan Filipina dengan dibunuhnya Presiden Filipina. Pengkudeta yang berhaluan komunis meminta bantuan China untuk menjadikan negaranya sebagai aneksasi dari China. Sedangkan, pemimpin pemerintahan yang legal meminta bantuan dan dukungan dari AS untuk menangkal setiap kemungkinan serangan dari China. Seperti yang anda duga, AS dan China terlibat dalam konfrontasi militer. Angkatan Udara AS menurunkan bomber-bombernya untuk menghadang serbuan dari Angkatan Laut China. Namun, jangan kaget kalau ternyata ceritanya jadi begini, setelah diplomat-diplomat Gedung Putih berhasil meyakinkan Beijing dan mencapai kesepakatan maka perang pun dihentikan. Republik Filipina kembali sebagai Negara yang berdaulat, tidak sebagai aneksasi dari China maupun sekutu AS.”

“Kira-kira, apa kata kunci yang tepat untuk buku itu?”

“Politik, Kekuasaan, Ekonomi, Bisnis, Militer, Hubungan Diplomatik-Multilateral, Patriotisme, Nuklir, dan Perdamaian.”

“Kesan yang anda dapat dari The Sky Masters ini?”

“Bahwa dalam suatu konflik apalagi yang melibatkan kepentingan-kepentingan banyak Negara atau multilateral diperlukan suatu cara dan formulasi khusus untuk menangkal segala bentuk kerusakan yang mungkin ditimbulkan. Diplomasi tetap memegang peranan yang penting dalam usaha untuk mengakhiri konflik. Militer diperlukan hanya ketika diplomasi sudah mentok, namun itupun lantas tidak jadi satu legitimasi untuk agresi atau serangan militer.”

“Sebelum selesai baca buku ini, buku apa saja yang anda baca sebelumnya, yang bahasa Inggris?”

“Sudah beberapa, tapi kalau untuk novel dan yang halamannya lebih dari 300 halaman sejauh ini sudah empat buku termasuk yang sekarang ini. Ada The Enemy dari Lee Child, Soft Target punyanya Stephen Leather, lalu Plan of Attack dari penulis yang sama. Yang The Enemy masuknya best-seller versi New York Times lho.”

“Apakah ada kesan-kesan khusus dari buku-buku tersebut?”

“Tentu saja ada. Kalau tidak ada kenapa harus ada cerita yang panjang dan njelimet seperti itu. Semuanya ada hubungannya dengan militer. Mereka memberi pelajaran untuk lebih aware dan lebih fleksibel dalam menghadapi setiap kejutan dari hidup ini. Mulai dari menghandle masalah, menyakinkan diri sendiri, sampai menyelesaikan masalah atau malah konflik.”

“Apakah ada korelasinya dengan fiksi-fiksi yang telah anda baca dengan realita saat ini?”

“Ada, beberapa. Terutama menyangkut hubungan bilateral AS-China yang hingga hari ini masih tetap panas dan bergejolak. Mulai dari kesepakatan tariff ekspor, serangan hacker China terhadap Google China, sampai penjualan senjata AS ke Taiwan yang menyulut reaksi pemutusan hubungan bisnis dengan para pedagang senjata legal AS. Belum lagi, keadaan diperparah dengan Obama yang dikabarkan akan menerima Dalai Lama di Washington, yang kontan membuat China makin berang saja. Selebihnya, fiksi yang bercerita tentang hubungan kedua Negara pasca kejatuhan komunis dan perang dingin masih memiliki hibungan yang faktual dengan kondisi mereka saat ini.”

“Berarti, sebuah karya sastra adalah cerminan atas realita?”

“Bisa saja, seperti unsur-unsur realitas-fiksional dalam novel Olenka dari Budi Darma yang tentunya masih bisa diperdebatkan sampai hari ini. Sebagai perbandingan untuk hal ini anda bisa menambahkan Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara dari Seno Gumira Ajidarma. Di bukunya Seno yang itu banyak sekali pembahasan tentang cerminan fakta terhadap fiksi maupun sebaliknya.”

“Buku lainnya yang sedang anda baca?”

“Two Japanese Novelists dari David McClellan. Sebuah minibiografi singkat tentang dua penulis asal Jepang, Natsumi Sosuke dan Shimazaki Toson, baik tentang kehidupan pribadinya maupun proses penciptaan karya-karyanya. Satu buku tentang Kajian Budaya Feminis dari Aquarini, lalu A Countess Below Stairs, novel karya Eva Ibbotson, penulis Inggris.”

“Menarik sekali bahwa pada akhirnya anda membaca juga satu buku yang menafsirkan kehidupan sastra Timur. Apa urgensinya?”

“Waktu saya beli buku itu, saya sedang mencari sesuatu tentang sastra Jepang dan ingin mendapatkan gambaran yang lebih real dari penulisnya. Kebetulan, ada buku itu walau hanya bahas dua orang saja. Saya memang berharap buku ini minimal sama dengan bukunya Korrie Layun Rampan, Tokoh-tokoh Cerita Pendek Indonesia, karena keduanya memang berisi biografi singkat dari penulis beserta satu karyanya.

Analisis tentang buku Jepang ini juga saya rasa harus dibandingkan dengan buku Proses Kreatif yang sampai empat jilid itu, bila kita memang mau membahas proses kreatif penulis Jepang dengan penulis Indonesia. Diluar alasan-alasan itu, saya kadang bermimpi suatu saat turun dari pesawat di Narita sambil memegang buku itu sambil menghirup wangi sakura. Sakura di Narita.

Tetapi, menurut saya yang paling penting adalah bahwa dalam buku itu kita diajak untuk menatap kembali pada keadaan Jepang pasca Restorasi Meiji, tentang bagaimana perkembangan novel Jepang modern yang ditandai dengan karya-karya dari Soseki dan Toson itu sendiri, karena bagaimana pun karya-karya dari mereka berdua mencirikan satu peradaban baru dalam bercerita, yang pada akhirnya mempengaruhi sejarah penulisan novel di Jepang sana.”

“Saya melihat di rak buku, anda juga memiliki buku-buku dari sastrawan Indonesia seperti Kumpulan Sajak Sitor Situmorang, Antologi Lengkap Cerpen A.A Navis, dan Kumpulan Essainya Iwan Simatupang. Anda bisa jelaskan mengapa?”

“Ketiga buku itu bisa disebut sebagai monumen-monumen sastra Indonesia. Ketiganya punya ciri khas masing-masing dalam setiap karyanya. Sitor sering menulis dan bercerita tentang pengembaraannya di Leiden, Amsterdam, hingga ke Lembah Sungai Yang Tze di China sana. A.A Navis dengan cerpennya yang penuh dengan nada sindiran, mengejek, dan sinis, kadang-kadang dengan ironi yang tajam. Iwan Simatupang menjadi sangat menarik tidak hanya karena banyak cerpennya yang inkonvensional dan isinya memberi pencerahan karena bobot pikiran yang sangat berharga bagi kehidupan. Beliau juga sering menambahkan bumbu-bumbu filsafat eksistensialisme dari Kierkegaard dan tokoh-tokoh lainnya yang ia anut selama tinggal di Eropa sana sehingga setiap karyanya menjadi menarik untuk dipelajari.”

“ Terakhir, tiga judul buku yang ingin anda baca saat ini?”

“Tea for Two dari Clara Ng, satu buku dengan judul yang cukup menggoda. Rekayasa Fiksi punyanya Fariz R.M, si pelantun tembang Barcelona itu yang bercerita tentang penciptaan karya-karyanya. Terakhir, Goenawan Muhammad dengan Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai, yang versi bahasa maupun yang bahasa Inggris.”



Pharmindo, 5 Februari 2010
diterbitkan di Ciledug, Tangerang, 12 Februari 2010




Rabu, 16 Desember 2009

Patung dan Eksistensi

Tentu anda semua sudah mendengar dan menyaksikan kabar tentang Patung Barack Obama di Taman Menteng. Konon, patung itu dibuat untuk mengenang masa kecil Barack Hussain Obama yang menghabiskan masa 4 tahun sekolah dasarnya di Menteng sana. Bahkan ada semacam joke yang bilang kalau semua sekolah internasional di Jakarta hampir kehilangan muridnya karena mereka semua ingin pindah ke SD Asisi Menteng tempat Obama bersekolah dulu.

Menurut hemat saya, patung ini menandai semakin eratnya hubungan diplomatik antara Republik Indonesia dengan Amerika Serikat. Patung itu tidak hanya menjadi simbol eksistensi Obama semata. Lebih jauh, patung itu menjadi semacam monumen bagi pengakuan atas keberhasilan Amerika Serikat dalam menanamkan benih-benih demokrasi dan HAM di Indonesia. Bisa juga patung itu merupakan hadiah dari petinggi Kecamatan Menteng dan Gubernur DKI untuk Obama yang sukses membuat nama Menteng dan Jakarta mendunia sehingga memudahkan promosi pariwisata Enjoy Jakarta-nya DKI. Siapa tahu.

Rupanya bangsa ini telah kehilangan identitasnya sebagai bangsa yang besar, dilihat dari bagaimana bangsa ini memperlakukan sejarah bangsanya sendiri. Memang, para tokoh pengisi sejarah bangsa ini punya monumennya masing-masing. Bung Karno dan Bung Hatta dibuatkan patungnya di Monumen Proklamasi dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Korban G30S PKI dibuatkan Monumen Lubang Buaya.

Namun, mengapa patung Panglima Besar Jenderal Sudirman ditempatkan di Jalan Sudirman sambil menghormat pada gedung-gedung pencakar langit simbol keberhasilan kapitalisme? Tidakkah mereka peduli pada hal ini? Kenapa bukan pahlawan asli Betawi macam Si Pitung itu atau malah Ali Sadikin, sang gubernur yang benar-benar membangun Jakarta dengan penuh kontroversi dibuatkan patungnya lalu ditempatkan di Taman Menteng sebagai landmark Jakarta.

Tidak ada muatan dan esensi lokal dari patung Obama itu. Sehingga kalau kini terdengar gugatan atasnya mudah-mudahan itu jadi tanda bahwa nurani kita masih hidup untuk menggugah rasa nasionalisme dan patriotisme dalam jiwa kita bukan sebagai penanda eksistensi belaka.

Siapakah Obama itu bagi Indonesia? Obama hanyalah Presiden Amerika Serikat yang belum pernah sekalipun mengunjungi Indonesia. Obama juga adalah seorang penerima Nobel Perdamaian yang penuh kontroversi karena ia juga yang menyetujui penambahan 30.000 pasukan NATO di Afghanistan. Mungkin karena itu juga ia menilai dirinya B+ untuk performancenya sejak mengambil alih jabatan dari Bush Jr tahun lalu. Pada KTT Asean yang berlangsung tahun ini di Singapura pun Obama tidak menyempatkan singgah di Indonesia.

Kalau ia nanti jadi singgah apalagi yang akan Negara ini buat? Masih ingat waktu Bush Jr mampir ke Istana Bogor sambil naik helikopter? Obama sempat bilang bahwa ia akan berkunjung ke Indonesia tahun depan pada saat anak-anaknya liburan sekolah. What a nice Daddy!

Kalau sekali nanti anda mampir ke kota Firenze di Italia sana yang ada patungnya Gabriel Omar Batistuta anda bisa lihat bahwa patung itu dibuat bukan karena alasan keberadaan dan eksistensi Batistuta yang melegenda di klub Fiorentina tetapi lebih sebagai simbol penghargaan dan penghormatan kepada Batigol (julukan Batistuta) yang telah membuat semarak kehidupan kota itu. Semarak kehidupan yang berasal dari euphoria sepakbola yang menembus celah-celah dan lorong-lorong gang kecil di setiap sudut kota Firenze.

Bahkan, Batistuta bisa dianggap sama sucinya dengan orang-orang macam Macchiavelli dan Dante yang juga lulusan Firenze. Maka, ketika Batistuta meninggalkan Fiorentina untuk bergabung dengan AS Roma tahun 2001, seluruh Firenze bersedih karena ditinggal pahlawannya. Sempat muncul wacana untuk menghancurkan patung tersebut namun batal karena mereka menghargai sejarah-terlebih kehidupan sejarah sepakbola mereka.

Saya kira, begitu juga yang terjadi dengan patung-patung lainnya yang ada di belahan dunia yang lain. Patung-patung itu dibuat dengan berbagai latar belakang dan sejarah yang menghiasinya. Patung Lenin di Leningrad, Patung Stalin di Stalingrad untuk memperingati aksi heroik Pasukan Merah Rusia ketika mengusir Tentara Jermannya Hitler, Patung Kim Jung Il di Korea Utara sana, Patung Napoleon, hingga Patung Pemain Sepakbola di Jalan Tamblong Bandung, bukannya patung seorang yang menunggu kekasihnya*) buatan Seno Gumira Ajidarma.


Pharmindo, Cimahi, 15 Desember 2009


*) Cerita tentang patung ini bisa dibaca pada kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma “Iblis Tidak Pernah Mati”, Galang Press, 2005.

Kamis, 09 Juli 2009

JK: Jaga Kemaluan(mu)

Demikianlah Ya Allah. Telah engkau berikan suaramu pada pemilu kemarin. Telah engkau pilihkan presiden kami. Kemenangan memang sudah di depan mata. Tinggal menunggu waktu saja. Polling-polling terbaru tidak lagi jadi patokan. Semuanya berubah di hari pemilihan. Menang mutlak. Itulah pencapaian kemenangan yang sesungguhnya.

*****

Kemenangan yang demokratis, begitulah komentar para pakar yang entah dibayar hanya untuk meyakinkan masyarakat bahwa pemenang pemilu adalah pilihan terbaik untuk bangsa ini. Seakan pemahaman masyarakat dipersempit bahwa sang pemenanglah yang akan menunjukkan jalan keluar dari segala permasalahan bangsa ini. Pun ketika media televisi yang saling unjuk kekuatan dengan quickcountnya masing-masing agar keabsahan yang menjadi bukti legitimasi bagi si pemenang tetap terjaga dan mudah-mudahan terjaga pula kredibilitasnya.

Media masih menari diatas arus pusaran berita suksesi incumbent yang berhasil mengalahkan lawan politiknya dengan kemenangan mutlak. Berita-berita seminggu kedepan akan masih dihiasi kilauan-kilauan kemenangan ini. Masalah kisruh DPT, dan gugatan kecurangan lainnya mungkin hanya akan jadi penggembira saja di headline-headline media cetak. Sementara, kandidat yang kalah mungkin sedang mempersiapkan dirinya masing-masing untuk melakukan apa yang terlanjur diucapkannya ketika tidak terpilih nanti dalam suatu debat. Ada yang tetap berjuang dan ada yang akan pulang kampung. Untuk yang masih berjuang, semoga Tuhan bersama anda yang terus membela kepentingan rakyat kecil. Untuk yang akan pulang kampung, semoga kepulangannya membawa manfaat dan berkah bagi kampung halaman.

Tidak usah bicara tentang bagaimana selebrasi dari tim sukses yang benar-benar sukses mengantarkan kliennya meraih kursi presiden. Mereka tentu sudah bosan karena dari tiap menit tidak ada perubahan yang signifikan pada hasil quickcount. Paling tidak mereka baru akan melirik pada setiap statement yang dilontarkan lawan politik mereka. Mereka dengarkan dan kalau perlu tidak sekedar diamati, dicatat dan dianalisis. Kalau bisa, sumpah serapah dan segala tudingan itu mereka buat jadi bom Molotov yang sewaktu-waktu mereka lemparkan. Mungkin mereka hanya akan tertawa sambil bertepuk tangan untuk menyenangkan hati mereka sendiri setelah melakukan pembalasan yang selalu lebih indah.

Lagi kau bertanya tentang pembagian jatah kekuasaan alias bagi-bagi posisi. Siapa yang duduk disini, siapa yang duduk disitu. Siapa menjabat apa, siapa kebagian proyek apa. Kau masih berharap kebagian jatah? Lupakan saja, Bung! Kecuali kalau memang anda kemarin memang menunggangi kendaraan yang sama dengan para pecundang yang maunya main aman supaya kebagian jatah menteri boleh saja. Memang tidak salah berjudi dengan menawarkan diri untuk menunggangi mesin politik yang masih bertenaga. Belum lagi, tanpa ada hambatan dan lawan yang berarti. Serasa ngebut di jalan tol Jagorawi di tengah malam tentunya dengan Maseratti atau Cabriolet pujaan.

Kalau kau sadari, pihak mana yang sebenarnya diuntungkan dari pemilu kemarin? Anda makin bingung? Atau malah mau menjawab bahwa sebenarnya pihak-pihak yang paling dirugikan dari pemilu kemarin adalah mereka yang menginginkan pemilu ini berjalan dua putaran. Mungkin ada benarnya. Pemilu dua putaran seperti 2004. Tapi ingat juga Bung, waktu itu calonnya ada 5 pasangan, jadi dua putaran adalah hal yang wajar. Saya pun begitu. Saya sangat ingin pemilu ini berjalan dua putaran. Tak perlu lah kita bahas penghematan anggaran negara sebesar Rp. 25 Trilyun untuk kelancaran proses demokrasi.

Apakah demokrasi negeri ini hanya seharga 25T saja? Namun, kenyataan memang selalu berbeda. Rakyat seakan terbungkam oleh iklan-iklan dan propaganda bahwa pemilu ini cukup satu putaran saja. Rakyat tentu tidak akan berpikir panjang tentang proses demokrasi yang akan melegitimasi kekuasaan. Mereka hanya tahu bahwa semakin cepat selesai mereka akan bisa focus kembali pada apa yang telah mereka kerjakan. Mereka mungkin juga sudah tahu bahwa apapun hasilnya, siapapun pemenangnya belum tentu ada perubahan yang signifikan dalam kehidupan mereka. Yang penting besok masih bisa makan nasi.

Indikasi tanpa rilis resmi sudah menyebar dimana-mana. Ucapan selamat mengalir deras ke Cikeas. Sementara saya masih terperangkap dalam pekerjaan saya. Kalau nanti malam anda mampir ke Cikeas, sampaikan salam saya untuk Putra Pacitan yang kembali menjabat menjadi presiden kita. Bukan karena tak rindu, tolong bilang saja saya sibuk-seperti biasa. Atau kalau anda cukup nekat, bilang saja saya sedang belajar demokrasi la roiba fih*) bersama Emha Ainun Nadjib di Kadipiro, Yogyakarta sana.

Dua putaran, kisruh DPT bermasalah, selebrasi kemenangan Pemilu, nilai tukar rupiah menguat, MK bersiap menerima pengaduan, isu Munaslub Partai Golkar yang lebih cepat lebih baik. Dunia masih belum berhenti berputar. Terlalu cepat untuk berhenti sekarang. Lanjutkan saja langkah kita.

*****

Menyimak hasil pemilu kemarin membuat hati hamba menjadi kecut padamu, Ya Allah. Hamba merasa sangat malu. Sungguh hamba ini malu Ya Allah, berteriak-teriak kesana kemari hanya untuk meyakinkan hati hamba bahwa pemilu kemarin akan berjalan dua putaran. Hamba juga yang mengajak kawan-kawan di facebook untuk bersama-sama menjadikan pemilu kemarin supaya berjalan dua ronde. Hamba juga lah yang selalu bercerita pada setiap kawan yang hamba temui bahwa pemilu dua putaran adalah pemilu yang ideal untuk iklim demokrasi saat ini. Hamba sungguh tidak bisa menjaga kemaluan. Sungguh tidak bisa. Sungguh hamba malu sekali Ya Allah. Hamba malu. Malu. Malu sekali.



Kelapa Gading, 9 Juli 2009


*) Demokrasi La Roiba Fih, Emha Ainun Nadjib, Penerbit Kompas, 2009

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...