
ATC (Lady) : Sir, can i turn you on 8 miles?
Pilot : You can try, Madam.
Medan Merdeka Barat, 31 Mei 2011.
Setelah dibaca, ternyata memang beritanya tidak cukup komprehensif, namun itulah sifat media sekarang apa lagi untuk media online dimana ketepatan dan kecepatan wartawan dalam menulis memang dituntut. Aku hanya tertawa, namun kemudian cukup tersenyum-senyum saja sendirian berteman segelas kopi aceh, biskuit, dan mantapnya Garfit. Aku membayangkan bahwa tidak hanya aku saja yang tertawa, tetapi juga para Bapak-bapak yang terhormat yang berada di Uni Eropa terutama itu tuh si Presiden Komisi Eropa, Jose Manuel Barroso. Aku seakan-akan bisa mendengar tawa dan obrolan mereka yang membahana di ruangan kerja mereka masing-masing dan saling mengirim pesan melalui YM.
presiden : lihat tuh pesawat indonesia jatuh lagi.. ha ha ha
wapres : iya tuh masih sering jatuh, minta larangan dicabut,
presiden : iya, mana SBY sampe ngajak ketemuan di Istananya, udah liat beritanya? baca aja disini: http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2007/11/23/brk,20071123-112176,id.html
ketua komisi transportasi eropa : saya tambah lagi saja banned time nya ya ;)
presiden : iyah, dia kan mantan direktur utamanya PT.DI yang lengser gara-gara didemo semua karyawannya
ketua komisi transportasi eropa : oh ya,?
wapres : emang bener Bos, kita udah ngintelin dia dari dulu, eh sekarang jadi menteri, apa kita mau percaya sama dia?
presiden : mimpin perusahaan aja didemo semua karyawannya, lha kok dipercaya mimpin departemen?
presiden : kalo ada yang jatuh selalu aja nyalahin cuaca, nggak mikir apa pilotnya yang salah
*****
Kira-kira begitulah yang mereka bicarakan. Mereka bisa dengan puas melihat berita itu. Bahkan, salah satu dari mereka mungkin sedang mempertimbangkan kemungkinan untuk memperpanjang larangan terbang ke sana, ke Eropa. Harusnya aku ikut berduka, karena Selendang Air juga berbendera Indonesia dengan kode PK, yang tentu kena imbas larangan itu. Tapi, aku tidak ikut pusing. Aku sudah pernah melewati hadangan barikade Uni Eropa dengan pesawat yang kurang lebih sama dan tidak terjadi apa-apa dengan pesawatku. Aku masih bisa selamat. Buktinya kini aku masih bisa menulis catatan ini sambil menunggu Boeing 777-228ER yang baru itu selesai di maintenance di GMF.
Aku belum tahu bagaimana reaksi Selendang Merah bila membaca berita ini. Aku kira itu tidak penting. Tapi sebagai pemimpin perusahaan bolehlah dia berpikir sekali-kali tentang keselamatan penerbangan maskapainya. Hari ini hujan turun deras sekali, apakah sederas dengan yang kemarin turun di Jambi? Aku tidak tahu. Bukan urusanku. Sekarang aku hanya ingin duduk santai menikmati hujan,masih dengan kopi yang mengepul sambil menamatkan buku itu, "Negeri Kabut".