Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 September 2016

Tanya Jawab Tumbuh Kembang Batita

Courtesy: www.kmediabookstore.com

Usia 1-3 tahun adalah masa keemasan ketika seorang anak mengalami proses tumbuh-kembang yang sangat pesat. Berbagai tingkat kepandaian fisik dan psikologis dicapai dalam kurun waktu tersebut. Selama rentang waktu tersebut, orang tua disarankan untuk mendampingi anak, guna mengamati perkembangan si buah hati. 

Para orang tua pun kerap bertanya mengenai kondisi-kondisi ideal terhadap perkembangan si buah hatinya. Buku ini merangkum 100 pertanyaan tersebut, mungkin tidak semua tetapi jawaban-jawaban buku bermodel FAQ (Frequently Asked Question) ini bersumber dari seorang pakar dibidangnya.

Meskipun sudah seringkali dinyatakan bahwa kecepatan perkembangan dan pertumbuhan setiap anak berbeda secara individual, ada yang rata-rata atau normal, ada yang lebih cepat, ada pula yang lebih lambat, para orang tua kerap dicemaskan dengan keterlambatan atau ketidaksamaan perkembangan buah hatinya. 

Memang ada baiknya untuk para orang tua agar mengetahui tahap-tahap perkembangan normal anak yang berlaku secara umum. Dengan patokan normal ini, para orang tua diharapkan mampu menilai seberapa jauh perkembangan buah hatinya. Lebih cepat atau lebih lambat dibandingkan anak seusianya.

Petunjuk-petunjuk dalam buku ini membantu memberikan saya wawasan yang cukup sebagai indikator pertumbuhan anak. Tentu saja, kita tidak perlu untuk memaksakan sesuatu yang belum mampu dicapai anak. Buku ini berfungsi sebagai alat deteksi dini apabila ada suatu kecenderungan pada anak, tentunya menurut hasil pengamatan orang tuanya. Dilengkapi dengan berbagai tips seputar tumbuh kembang anak, rasanya buku ini tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Judul        : Tanya Jawab Tumbuh Kembang Batita
Penulis     : Mayke S. Tedjasaputra
Penerbit    : Penerbit Erlangga
Tahun       : 2012
Tebal        : 118 hal.
Genre        : Keluarga-Pengasuhan Anak

Cipayung, 27 Agustus 2016.

Selasa, 08 Maret 2016

Stuka Model Kit Finishing: Painting and Decaling

Tulisan ini didasari oleh ketidakmampuan saya untuk segera move-on dari Stuka. Proses pengerjaan Stuka, mulai dari assembling (perakitan), painting (pengecatan), hingga finishing (decaling) masih melekat dan membuat perhatian saya belum beralih walaupun saya sudah memesan model kit lain, yaitu Kyrios Gundam.



Sepanjang sejarah pengerjaan model kit, mulai dari Apache AH64D 1/72, F16, MiG-29 Fulcrum, F15, dan F14 buatan Academy skala 1/144 belum sekalipun saya selesaikan hingga decaling. Saya tidak pernah menempelkan decal pada model yang telah selesai dirakit. Saya belum percaya diri untuk menempelkan decal pada model. Saya masih dirundung kegagalan merakit Mazda RX7 tahun 2002 silam. Saya sudah merasa cukup untuk merakit saja, tanpa pengecatan ulang (repainting), dan mengganti stiker decal dengan Rugos ® .


Anyway, pada Proyek Stuka ini saya merasa harus menghentikan kebiasaan saya. Selain karena pertimbangan faktor sejarah, Stuka ini juga saya dedikasikan untuk Aldebaran, putra saya. Maka mulailah saya mencari cat semprot warna hijau gelap khas Luftwaffe. Berhubung warna tersebut tidak ada di toko besi dekat rumah, maka saya mengganti dengan warna Fuji Green No. 162 dari varian cat Pylox ®. Mengikuti panduan, saya mengecat permukaan bagian atas pesawat dengan warna hijau tersebut. Warna hijau fuji membuat fuselage Stuka menjadi lebih terang, tidak gelap sebagaimana Stuka asli milik Luftwaffe. Saya rasa itu bukan masalah besar, lagipula dengan warna yang lebih terang membuat Stuka versi saya lebih bisa untuk dinikmati.


Selesai pengecatan, saya membiarkan Stuka polos semalaman. Baru keesokan harinya saya mulai proses lanjutan yaitu penempelan stiker decal. Saya paling tidak suka menunggu, begitu pun ketika harus menyisihkan waktu untuk proses decaling. Saya menonton dulu panduan pemasangan decal pada model kit yang ada di Youtube. Saya pun segera menyiapkan alat-alat dan bahan seperti air hangat untuk memisahkan decal dari stiker induknya, pinset, dan pembersih telinga untuk menyerap air. Saya tidak mungkin menuruti apa kata video Youtube karena memang tidak menyiapkan decal enamel sebagai pelapis dasar dan pelapis akhir di model kit.


Proses penempelan decal memang membutuhkan ketelitian dan kesabaran sebagai faktor utama penentu keberhasilan detail. Saya pun berhasil memasang decal untuk pertama kalinya pada model kit Stuka 1/72 ini. Saya tidak memasang semua stiker yang diberikan. Alasannya, selain kebanyakan terlalu kecil, bila semua decal dipasang tangan saya akan mengalami kesulitan dalam mencari pegangan/patokan karena bagian fuselage belakang sudah kena decal. 


Untuk mengeringkan decal, setelah menggunakan pembersih telinga, saya pun menjemur Stuka di bawah terik matahari selama kurang lebih 15 menit. Usai dijemur, Stuka yang sudah gagah ini saya pajang sambil sedikit dikenai terpaan kipas angin. Proyek Stuka ini menyisakan satu pekerjaan lagi. Pengecatan dengan menggunakan cat semprot warna clear alias bening untuk melapisi seluruh lapisan badan atas dan bawah. Pengecatan ini bermaksud agar menguatkan decal yang telah terpasang sehingga bila kena air tidak akan kembali memudar. CMIIW.

Satu pekerjaan tersisa ini akan saya selesaikan nanti usai paket Kyrios Gundam tiba. Saya akan melihat terlebih dahulu apakah model kit Gundam membutuhkan hal yang sama dengan Stuka. Ini sangat penting. Terutama soal budget, apalagi bagi modeler penghobi amatir seperti saya ini.


Cipayung, 7 Maret 2016.

Minggu, 22 Desember 2013

Never Lost Your Phone in KL

courtesy: www.gizmodo.com
Satu hal yang membuat perjalanan pertama ke Kuala Lumpur tidak berkesan adalah saya kehilangan ponsel. I lost my phone in my first day in KL, damn. Ponsel yang saya simpan dalam koper bukan sekedar hilang tapi dicuri. Si pencurinya sengaja meninggalkan jejak, sarung ponsel ia selipkan dalam saku kemeja teman saya.

Saya segera melapor pada manajer yang bertugas dan berjanji segera melakukan investigasi usai mengacak-acak kamar. Saya belum mau lapor polisi karena saya ingin melihat reaksi manajemen hotel. Mereka berjanji akan segera menghubungi saya.

Selama berlangsungnya seminar mereka tidak pernah menghubungi saya. Pada malam terakhir, saya menegur mereka karena tidak kunjung memberikan kabar. Mereka membantah bahwa telah mencoba menghubungi kamar saya. Saya memang tidak ada di kamar dan tidak pernah menerima teepon mereka. Saya marah karena mereka tidak meninggalkan pesan tertulis. Entah itu disimpan di kamar atau diteruskan lewat panitia seminar.

Saya tidak menyangka bahwa hotel bintang lima sekelas Sheraton bisa melakukan hal sebodoh itu. sudah jelas saya jadi tamu mereka dan mereka tahu kapan dan dimana bisa menemui saya, tetapi mereka tidak melakukannya. Sentimen emosi saya mulai merasa ada hal yang tidak wajar. Saya yang orang Indonesia ini, yang sudah bayar cash untuk menginap disitu, hanya dilayani sebisanya saja.

Baru Kamis pagi, sebelum berangkat ke KLIA, Manajer Security menemui saya dan menjelaskan duduk perkaranya. Mereka telah mencurigai beberapa nama dari hasil analisa rekaman CCTV, log pintu kamar, dll. Pembersih kamar pun memberikan keterangan bahwa pintu luggage room selalu tertutup. Bohong besar!!! 4 malam kami disana, kami tidak pernah menutup luggage room sekalipun! Sayangnya, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau saja mereka menghubungi saya lebih awal tentu saya bisa melanjutkan laporan ke polisi.

Saya merasa bahwa pelayanan manajemen hotel memang tidak tanggap dengan hal yang demikian. Mereka lepas tangan begitu saja karena tidak bisa menghubungi saya. Kalau mereka mau, mereka bisa kirim satu orang untuk menemui saya pada saat coffee break atau makan siang. Pelayanan macam ini jarang saya temukan di hotel-hotel Indonesia, bahkan yang bintangnya kurang sekalipun.

Saya tidak menyesalkan ponsel yang hilang. Saya hanya menyesalkan kebodohan saya untuk meninggalkan barang berharga di kamar. Pun, saya kecewa dengan tanggung jawab pihak hotel yang seakan-akan berkata: ok, kita mengaku salah, tidak memberitahu dan menemui anda. Maaf, sekali lagi maaf. As* bongkrek!

Akhirnya, saya membuat laporan ke polisi hari Minggu, 24 November 2013. Saya dan seorang petugas SIKL menuju kantor Polisi Pariwisata. Sialnya, mereka tidak menyediakan fasilitas mobil. Kami harus naik taksi dan harap dicatat: saya yang bayar! Soal service, Indonesia memang nomor satu. SIKL ini tidak ada apa-apanya.

Setibanya disana, sang inspektur polisi marah-marah karena saya baru melapor hari ini. Dia juga menyalahkan saya karena tidak punya travel insurance. Saya balas dengan nada suara yang tinggi juga. Jangan mentang-mentang saya ini orang Indonesia. Lalu dia bertanya soal pekerjaan saya. Saya jawab, saya adalah Government Official, Flight Safety Inspector. Baru setelah mendengar jawaban saya dia mau melunak dan mengajak saya ke ruangannya.

Lagi-lagi, mereka memberi jawaban yang sama dengan pihak hotel. Kami tidak bisa melakukan apa-apa, karena kalau kami salah tuduh malah kami yang bisa dipenjara. Begitu katanya. Kami pun pergi ke SIKL untuk bertemu beberapa petugas keamanan disana. Seorang Service Manager menemui kami. Rupanya, ia kawan dekat si inspektur polisi ini dan memang punya ketidakcocokan dengan si Security Manager.

Ia lantas mengucap beribu-ribu maaf. Saya menegaskan lagi kepadanya, dimana tanggungjawab hotel untuk hal ini? Apakah hotel akan mengganti kerugian saya? Apakah hotel ini akan terus mempekerjakan petugas yang sudah keluar-masuk kamar saya dan sekalian mengambil ponsel saya? Ia hanya diam ketika saya tanya.

Anyway, perjalanan business trip ini memberi saya banyak pelajaran. Sekaligus membuktikan bahwa prinsip-prinsip dasar itu selalu benar. Saya juga kemudian tahu bahwa kejadian ini bukan yang pertama kalinya di SIKL. Lewat Tripadvisor, saya juga tahu seorang bule pernah mengalaminya tanpa penjelasan yang cukup dari pihak hotel.

Tips Bepergian ke Luar Negeri (utamanya KL)


Pesan hotel sebelum kedatangan


Beberapa petugas imigrasi akan bertanya soal tujuan anda dan akomodasi selama di negara tujuan. Pastikan anda sudah mendapat tempat tinggal selama di negara tujuan. Pemesanan lewat internet bisa menghemat waktu dan uang anda.

Bawa selalu barang pribadi (paspor, ponsel, kamera, etc.)

Anda tentu tidak ingin mengalami hal yang sama dengan saya. Amankan setiap barang pribadi anda. Bawa tas yang cukup menampung semua barang pribadi anda kemana saja anda pergi. Bahkan, sarapan sekalipun. Sedikit saran, di Kuala Lumpur banyak imigran gelap mengincar paspor turis. Jadi, usahakan anda mengamankan paspor di tempat yang tepat.

Bila terjadi kehilangan segera lapor polisi turis
Pastikan, anda tahu kemana harus melapor bila kehilangan barang pribadi. Saya melapor bersama seorang Indonesia lain yang kehilangan paspornya ketika berbelanja di daerah Bukit Bintang. Untungnya, dia segera melapor ke polisi turis (tourism police) lewat bantuan tour guide.

Selalu tahu jam operasional Kedutaan Besar

Sebelum berangkat ke negara tujuan, pastikan juga anda tahu alamat kantor Kedutaan Besar/Konsulat/Perwakilan Republik Indonesia. Anda bisa mengeceknya lewat Google atau Kementerian Luar Negeri. Bila memang mereka punya laman web, anda bisa sekalian mengecek jam operasionalnya.

Bila dirasa perlu, beli travel insurance

Ibarat sedia payung sebelum hujan, travel insurance memberikan rasa aman bagi anda apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Misalnya, kecelakaan, pembatalan tiket, dan asuransi kehilangan barang pribadi (dibuktikan lewat laporan polisi). Banyak perusahaan asuransi menawarkan produk jasa ini, anda bisa mengeceknya via laman web mereka atau Googling.

Have a nice and safe trip!


Paninggilan, 22 Desember 2013.

Selasa, 27 Agustus 2013

Tips Nonton Konser #AnggiGoldenWays

Setelah mengalami berbagai keajaiban sepanjang tahun ini, termasuk nonton Sixpence None The Richer dan Metallica, lalu jadi pemenang tiket gratis konser @ProjectPe , belum lagi next upcoming concert 'Yovie and His Friends' , saya rasa sudah waktunya untuk berbagi soal tips nonton konser. 


Jangan kaget dulu. Saya tidak berniat menggurui. Lagipula, jam terbang saya masih tergolong rendah soal jagad perkonseran. Jadi, pembaca tidak perlu khawatir soal validitasnya. Anggap saja ini hanya saran seorang kawan belaka.

  • Pastikan konser yang akan kamu tonton adalah konser artis/band favorit kamu. Cari informasi lewat laman resmi Facebook atau Twitter mereka (because you’re a good fans). Jadi, kamu punya waktu untuk prepare. Termasuk soal pendanaan.   
  • Kosongkan semua jadwal pada hari konser kecuali konser itu sendiri. Ini untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, seperti terlambat menukar voucher dengan tiket masuk atau venue yang sudah terlalu penuh. You don’t want to miss it, right? Baca juga informasi lengkap soal konser di laman web yang disediakan promotor.

  • Siapa bilang cuma tiket kereta api yang bisa dipesan jauh-jauh hari (H-90). Beberapa promotor konser bahkan sudah mulai membuka presale untuk konser-konser mereka jauh sebelum D-Day. Cek ketersediaan tiket via laman web dan hotline. Intip juga informasi di Facebook atau Twitter. Bila memang sedang beruntung, ada potongan harga yang lumayan.

  • Kalau sudah dapat tanggal main konser, pastikan kamu punya uang yang cukup untuk membeli tiket. Kalau pun belum cukup, boleh pinjam kartu kredit sahabat kamu. Siapa tahu ada promo menarik dari provider kartu kredit untuk pembelian lebih dari 1 tiket. (Biasanya kena charge 3% sih :p )
  • Follow official page Facebook atau Twitter artis/band favorit kamu. Biasanya, ada informasi soal promo tiket hingga lucky draw atau kuis berhadiah tiket konser. Kalau menang, lumayan.
  • Bila memang harus membeli tiket pada saat D Day, pastikan kamu bawa uang lebih. Soalnya, tidak menutup kemungkinan kategori tiket yang kamu incar sudah habis dan harus cari kategori yang lain.
  • Istirahat yang cukup sehari sebelum konser. Kamu nggak mau kecapekan pas lagi nyanyiin lagu mereka kan? Kalau konser digelar malam hari, usahakan tidur siang secukupnya. Supaya bisa tetap on semalaman.
  • Bawa barang seperlunya. Ponsel, smartphone, powerbank, dan dompet is a must. Jangan bawa barang yang dilarang promotor/panitia. Informasi soal hal ini bisa dilihat di laman web atau lembaran tiket. Jangan sampai kamu kehilangan barang kesayangan kamu hanya gara-gara teledor pada saat nonton konser.
  • Jadilah penonton yang baik dan bertanggungjawab. Kalau memang yang kamu tonton adalah artis/band favorit kamu, tentu nggak susah buat nyanyiin semua lagunya kan? Kecuali kamu hanya berniat #modus PDKT dengan nemenin cewek/cowok incaran kamu nonton konser.
  • Jangan nonton konser sendirian. Percayalah, hal ini rasanya sedikit tidak menyenangkan. Minimal, ada yang bisa ambil foto kamu kalau-kalau ketemu si artis di venue. Kecuali, kamu sudah bisa foto-foto sendirian. Tanpa tripod, catat!
  • Bila venue konser sudah sesak dengan penonton, jangan memaksa untuk mengambil foto dengan Tab/iPad. Jelas menganggu pandangan penonton lain di belakang kamu. Jadilah penonton yang pengertian. Yang mau nonton bukan cuma kamu.
  • Belajar mengambil foto tanpa lampu kilat (flash). Beberapa artis/band merasa keberatan dan terganggu dengan lampu kilat kamera. Hal ini juga memabantu mengasah skill fotografi kamu. Jadi bukan hanya menang gaya dengan bawa DLSR doang.
  • Beli merchandise artis/band favorit kamu yang ada di sekitar venue. Sebagai bukti kalau kamu memang pernah datang ke konser itu. Apalagi kalau sampai bisa bagi-bagi merchandise buat oleh-oleh. Hal itu bisa menaikkan derajat keeksisan kamu di depan teman-teman kamu.

Sudah jadi rahasia umum, persiapan yang baik akan menghasilkan hasil yang baik pula. Maka, persiapkan dirimu semaksimal mungkin sebelum menonton konser artis/band favorit. Because, every second counts and you don’t have any chance to be missed.

Paninggilan, 27 Agustus 2013

* ditulis berdasarkan pengalaman pribadi penulis

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...