Tampilkan postingan dengan label story of a book. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story of a book. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 September 2025

Kisah Komikus Legendaris Dunia

Sumber gambar: Koleksi Pribadi

Awalnya, saya merasa harus ada sesuatu yang spesial tentang buku ini. Menagapa? Jarang sekali penulis Indonesia menulis tentang komik, baik mengenai profil komikusnya ataupun reviu atau telaah kritis terhadap karya komik. Buku ini, IMHO, menambah khazanah dunia perkomikan di Indonesia. Saya harus akui itu karena saya merasakan sendiri kesulitan ketika mencari referensi lokal menyangkut komik dan profil pembuat komik. Ya, skripsi saya juga tentang komik!

Menyenangkan rasanya membaca daftar isi buku yang tidak hanya melulu soal komikus dari mancanegara. Penulis menyisipkan dua nama legendaris dalam dunia perkomikan Indonesia. Ada R.A. Kosasih dan Ganes TH. Keduanya tampil namun mengapa ditempatkan di halaman belakang sesudah kita membaca bagaimana kelahiran kartun Popeye The Sailorman dan meriahnya komik Mickey Mouse karya Walt Disney.

Lainnya, saya harus menyampaikan bahwa pembacaan profil dari komikus mancanegara ini rasanya sama dengan membaca halaman Wikipedia yang diterjemahkan. Saya setuju bila penulisnya menyadur kemudian menuliskan kembali hal tersebut itu sah-sah saja. Penulisnya pun sudah menyampaikan bahwa buku ini disusun dengan menggali berbagai sumber daring maupun luring.

Andai saja, penulisnya dapat memberikan daftar pustaka untuk sumber rujukannya tentu buku ini akan lebih "garang". Ditambah lagi, tidak adanya keterangan hak cipta pada gambar-gambar yang disisipkan dalam setiap judul pembahasan. Walaupun, gambar-gambar itu adalah hasil karya komikusnya sendiri namun alangkah lebih baiknya bila sumber hak ciptanya disebutkan guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.

Anyway, apapun itu, saya turut menikmati buku ini sebagai satu karya yang turut mengisi dan memperkaya khazanah perkomikan di Indonesia. Harapannya, supaya siapapun yang ingin meneliti atau membuat telaahan mengenai komik tidak kesulitan lagi dalam mencari referensi. Semoga.

Judul        : Kisah Komikus Legendaris Dunia
Penulis     : Anton W.P.
Penerbit    : Penerbit Katta
Tahun        : 2010
Tebal        : 128 hal.
Genre        : Komik-Biografi

Ciputat, 2 September 2025
Hari Ulang Tahun Bapak. 

Rabu, 06 Agustus 2025

Hampir Sebuah Subversi

Sumber gambar: www.goodreads.com

Sejujurnya, buku ini belum pernah saya tamatkan pembacaannya. Saya tertarik karena judulnya pernah saya baca entah dimana. Saya sudah lupa. Entah itu dalam sebuah kumpulan cerpen atau novel yang pernah saya baca. Entahlah, saya benar-benar lupa.


‘Hampir Sebuah Subversi’ saya temukan dalam jejeran buku dalam rak pajangan di Tobucil, toko buku kecil yang turut mempelopori gerakan literasi lokal medio 2000-an di Bandung. Dulu, letaknya di Jalan Kyai Gede Utama No. 8. Buku ini saya dapatkan ketika Tobucil sudah pindah ke bilangan Jalan Aceh, menempati sebuah paviliun.


Cerpen yang pertama saya baca adalah ‘Hampir Sebuah Subversi’ itu sendiri, yang dijadikan judul buku. Kemudian, ‘Laki-Laki yang Kawin dengan Peri’. Mengapa? Karena kedua cerpen itulah yang pernah disitir dalam bacaan yang pernah saya baca sebelumnya. Selebihnya, saya mengalami ‘masalah’ dalam menamatkan pembacaan cerpen-cerpen lainnya. 


Saya merasa banyak hambatan dalam memulai dan memahami keseluruhan cerita. Padahal, aslinya tidak panjang-panjang amat. Cukuplah memang disebut sebagai sebuah cerita pendek yang habis dibaca sekali duduk. Namun begitu, rupanya buku ini memuat dua puluh tujuh cerita pendek, cukup panjang bukan?

Saya memulai kembali pembacaan ketika Ibu saya merapikan buku-buku yang tercecer sejak pindahan rumah ke dalam lemari yang Istri saya beli. Buku ini ditempatkan bertumpuk dengan buku-buku Emha Ainun Nadjib sehingga cukup menarik perhatian. Saya mulai membaca lagi dari cerpen “Mata Anak Turki”. Saya tidak tahu kenapa. Yang jelas, saya tidak ingin memulai pembacaan dari “Hampir Sebuah Subversi”. Saya teruskan hingga cerpen terakhir berjudul “Jangan Diperabukan”. Setelah selesai, baru mulai lagi dari cerpen pembuka ‘Kuda Itu seperti Manusia Juga’, “Ada Pencuri di Dalam Rumah’, “Laki-Laki yang Kawin dengan Peri”, Mata”, Lurah”, ‘Da’i”, dan “Persekongkolan Ahli Makrifat”.

Kesan pertama yang saya dapat adalah cara Kuntowijoyo bercerita mirip dengan tulisan-tulisan Budi Darma dalam “Orang-Orang Bloomington” dan Umar Kayam dalam “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan”. Latar cerita yang beragam, mulai dari Amsterdam, Amerika, hingga pinggiran kota Jogja, menggambarkan betapa luasnya dinamika kehidupan manusia dengan segala pola interaksi dengan lingkungannya. Barangkali, pengalaman penulisnya ketika menimba ilmu di barat sana turut menambah dalamnya field of experience dan betapa kayanya frame of reference dari penulisnya.

Agaknya memang tidak terlalu berlebihan bila cerpen-cerpen Kuntowijoyo dalam buku ini mirip dengan buku-buku dari penulis yang telah saya sebutkan sebelumnya. Saya merasa sedikit menyesal karena kenapa tidak menamatkan buku ini sejak tahun 2011 silam. Saya jadi ingat lagi beberapa hambatan yang membuat saya tidak pernah bisa menamatkan buku ini saat itu. Entah, apa mungkin karena saya sedang getol-getolnya membaca “chic literature” yang sedang happening saat itu? Sehingga pikiran saya tidak bisa beradaptasi dengan berbagai latar kehidupan dalam cerpen-cerpen Kuntowijoyo. 

Sungguh pun demikian, hal ini turut membuka kesadaran kembali bahwa pengalaman membaca membutuhkan jam terbang juga. Saya tentunya jadi kebingungan sendiri bila harus mengingat dan kembali ke saat itu. Saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi dalam pikiran saya bahwa ternyata buku ini cukup sederhana dan tidak sulit untuk memahaminya.

Mungkin itulah kenapa, wahyu pertama dari Tuhan adalah perintah membaca. Bacalah. Ya. Bacalah.


Judul           : Hampir Sebuah Subversi
Penulis        : Kuntowijoyo
Penerbit      : Grasindo
Tahun         : 1999
Tebal          : 188 hal.
Genre        : Sastra Indonesia-Cerita Pendek


Cipayung, 4 Agustus 2025.
 

Senin, 23 September 2024

Been There, Done That!

Medio 2012 silam, saya dibuat penasaran oleh sebuah buku dengan warna yang atraktif, warna Valentino Rossi-begitu saya menyebutnya. Kalau di sepatu Nike yang pernah saya punya warnanya disebut “Volt”. Saat itu, masih jarang buku self-help dengan warna yang mencolok, sepengalaman saya. Kalaupun ada yang berwarna kuning yaitu 23 Episentrum dari Adenita dan bukunya Billy Boen, Young on Top.

Courtesy: www.goodreads.com

Buku ini sempat menjadi satu contoh tentang bagaimana sebuah ide dituangkan menjadi buku dalam workshop berjudul “Creative Writing” yang diselenggarakan oleh PlotPoint pada tahun 2012 itu juga. Saya mendapat kesempatan untuk mengikuti workshop tersebut sebagai hadiah dari kuis yang saya menangkan di linimasa Twitter. Dulu, dulu sekali sebelum Twitter jadi X!

Kembali ke Been There Done That Got The T-Shirt (BTDTGTTS), saya pikir tadinya buku ini adalah buku self-help biasa dengan tampilan isi yang atraktif dan memudahkan pembacanya untuk mengubah sesuatu dalam hidup mereka. Tadinya! Waktu saya hanya mampir sebentar membuka sedikit halamannya di toko buku dan tidak pernah memasukkan buku ini dalam keranjang belanja.

Saya teringat akan waktu silam itu, maka saya memutuskan untuk membaca dan memiliki BTDTGTTS. Saya menurunkan ego saya kali ini untuk membeli buku bekasnya. Agak sulit memang untuk mendapatkan buku ini dalam kondisi baru. Entah saya saja yang malas untuk browsing di marketplace, I don’t care. I need this book, now!

Apa yang saya dapat setelah berhasil menamatkan BTDTGTTS? Well, I have to say that I’m a little bit sorry for myself. It’s a little bit late for me to know that I have to live your life secara meriah! Saya selalu terpaku pada idiom “Been There, Done That!”. Saya terpana ketika melihat kembali dan berkaca pada pengalaman-pengalaman sebelumnya dimana saya merasa cukup dengan semua itu. Saya pernah siaran radio (walau hanya acara talkshow berdurasi 2 jam), saya pernah merangkap jadi sutradara film-aktor-editor untuk tugas mata pelajaran Sejarah, saya pernah jadi crew untuk event Konser Siti Nurhaliza, saya pernah ini, saya pernah itu, and so on. Padahal, kalau saja saya tidak berhenti dan terpana, mungkin saya sudah menjalani hidup saya to the fullest.

BTDTGTTS bukanlah sebuah textbook tentang bagaimana hidup berjalan seperti ini dan seperti itu. Ia juga bukan sebuah guide untuk menjalani hari-hari ke depan dengan penuh motivasi dan semangat membara. BTDTGTTS adalah sebuah activity book yang tidak terlalu tebal namun butuh usaha untuk memahaminya. BTDTGTTS menuntut pembacanya untuk berpikir kembali seraya mengisi pertanyaan-pertanyaan yang ada didalamnya. Saya sendiri kewalahan untuk menemukan the truest answer untuk semua pertanyaan itu. So, wajar saja mengapa Mbak Gina S. Noer menyarankan buku ini sebagai satu buku yang ‘wajib’ dibaca pada workshop menulis yang sudah saya sebutkan tadi.

BTDTGTTS adalah buku yang ringan namun tidak menghibur. Ia mempertanyakan kembali tentang bagaimana pembaca akan menjalani hidup di masa depan. BTDTGTTS bisa dibaca dari bab manapun. Bila dibaca dari awal, tentu akan lebih baik karena lebih runut. Kalaupun dibaca dari tengah, tidak masalah. BTDTGTTS bukan sebuah kitab yang menuntut selesainya pembacaan bab demi bab. Dibaca dari halaman belakang, juga tidak apa. Bukankah sebuah akhir akan mebawa pada awal yang baru?

Saya tidak pernah bosan untuk membuka kembali buku ini walaupun sudah menamatkannya. Rasanya selalu tepat untuk membuka halaman mana saja. Terlalu banyak kejutan dalam buku ini. Saran saya, tandai bab favoritmu dengan pembatas buku. Penomoran halamannya unik seperti buku BIA dari Yoris Sebastian. Mudah-mudahan tidak terlalu terlambat untuk mengatakan bahwa buku ini keren!

Judul       : Been There Done That Got The T-Shirt (B.T.D.T.G.T.T.S)
Penulis     : Risyiana Muthia, visual oleh Emeralda
Penerbit    : Gramedia Pustaka Utama
Tahun       : 2012
Tebal       : 124 hal.
Genre       : Motivasi, Self-help

Cipayung, 20 September 2024.

Jumat, 20 September 2024

101 Creative Notes and The "3i"

Buku ini sudah lama masuk dalam wishlist saya. Apalagi pada saat Twitter sedang enak-enaknya dipakai di Blackberry device. Entah mengapa, buku ini terlupakan. Lama sekali. Hingga kemarin saya memutuskan untuk mulai membaca lagi. Pilihannya jatuh pada beberapa buku Yoris Sebastian yang sudah lama ingin saya tamatkan. Satu dari mereka ada lah 101 Creative Notes ini.

Courtesy: www.goodreads.com

Seperti kata Yoris, try to avoid your routine. Maka, saya memulai pembacaan buku ini dari notes nomor 55. Lanjut hingga notes paling akhir. Lalu memulai lagi pembacaan dari halaman pembuka hingga bertemu lagi dengan notes nomor 55. Circling. Ya, i am try to avoid reader's habit. Mencoba mengamalkan satu dari sekian jurus kreatif ala Yoris.

IMO, tidak terlalu banyak teks dalam buku ini. Pembacaan terasa ringan dan bisa tamat baca sekali duduk dalam perjalanan pesawat Jakarta-Surabaya. Mungkin, Itulah mengapa judulnya hanya sebatas "notes" saja. Small message but the impact is huge! Memang penataan dan tata letaknya menampilkan sisi kreatif dari sang penulis dan rekan-rekannya yang berkolaborasi. Baik itu berupa gambar, quotes, ataupun screenshot yang dibuat dengan sebuah tablet keluaran well-known and reputable company.

At least, pada pembacaan kali ini, saya mendapatkan insight tentang "3i". Intuisi-Impact-Innovation. Yoris menekankan bahwa intuisi adalah ciptaan Tuhan sedangkan hitungan adalah ciptaan manusia, jadi rasanya tidak terlalu salah untuk percaya pada intuisi. Impact, adalah suatu efek yang diakibatkan dari segala tindakan kreatif kita. Ini perlu dipikirkan dalam ekonomi kreatif. Small efforts with big impacts. Terakhir, innovation. Barangkali saya masih terngiang-ngiang dengan pembacaan buku Yoris lainnya tentang Black Innovation Award (BIA). We have to innovate to embrace the unknown. Semuanya, adalah hal-hal yang perlu saya review kembali untuk menata ulang mindset saya yang sudah kadung rada kusut belakangan ini. #curhat

 

Judul           : 101 Creative Notes
Penulis        : Yoris Sebastian
Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2013
Tebal           : 200 hal.
Genre          : Motivasi


Pajang, 20 September 2024

Senin, 09 September 2024

Sejarah Yang Tidak Pernah Sampai


Harusnya banyak yang bisa saya tulis kembali dari buku ini. Agar kita sebagai muslimin-muslimat muda tahu bahwa selama ini sejarah Umat Islam sudah dicatat ulang oleh mereka yang mengaku "Penakluk Dunia".

Harusnya kita tahu bahwa peradaban yang dibangun Umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad SAW adalah melampaui pengetahuan pada zamannya. Yang ada saat ini tinggal pengembangan dari dasar-dasar pengetahuan yang telah ditemukan oleh para cendekiawan Muslim pendahulu.

Saya sedikit kaget saat tiba pada tulisan yang membahas bahwa Thariq bin Ziyad tidak pernah membakar kapalnya. Kisah ini masyhur kita kenal ketika Thariq mencoba menaklukkan Eropa setibanya di daratan usai melewati Selat antara benua Afrika dan Eropa yang kini kita kenal sebagai Selat Gibraltar. Thariq tidak membakar kapalnya! Mengapa cerita yang kita kenal adalah Thariq membakar kapalnya untuk membakar semangat Kaum Muslimin yang ikut berperang dengannya. Inikah sebuah propaganda sejarah? Sejarah ditulis oleh Sang Pemenang?

Buku ini cukup menarik untuk dibaca, kemasannya bagus, ilustrasinya rapi, ada sumber referensi jadi tidak asal tulis. Buku ini layak dibaca hingga tamat dan bersambung ke buku lanjutannya. Hanya saja, penataan teksnya seharusnya bisa dibuat lebih rapi lagi.

Buku ini setidaknya bisa menjawab pertanyaan saya, "Mengapa bangsa yang tidak cebok seperti orang Eropa memiliki peradaban bangsa yang maju, sedangkan kita di Indonesia yang mayoritas Muslim ini selalu bersuci dari hadas kecil dan besar susah untuk maju?".

Apa betul kita mesti telanjang dan benar-benar bersih, suci lahir dan di dalam batin. Seperti kata Ebiet G. Ade? 

Judul           : The Untold Islamic History #1
Penulis        : Edgar Hamas
Penerbit       : Generasi Shalahuddin Berilmu
Tahun          : 2021
Tebal           : 249 hal.
Genre          : Sejarah Islam

 

Cipayung, 8 September 2024.

Senin, 27 November 2023

Kepiting Bercapit Emas: Membaca Kembali Tintin

Sumber gambar: www.goodreads.com
 
Membaca lagi Tintin berarti mengulang kembali kisah baca saya puluhan tahun yang lalu. Saya harus mampir ke rumah saudara untuk meminjamnya. Buku komik semacam serial Petualangan Tintin ini habis dibaca sekali duduk. Juga karena ini bukan kali pertama jadi saya hanya menghabiskan waktu sepuluh menit saja untuk menamatkannya.

Kisah rekaan dengan intrik-intrik spionase ini tentu sangat melatih pemahaman saya waktu kecil. Dulu, saya harus membaca berulang kali untuk dapat memahami cerita Tintin. Tentang bagaimana clue, kode, atau petunjuk-petunjuk yang dapat dijadikan alat investigasi yang menuntun pada pembuktian dan pemecahan sebuah kasus.

Anyway, saya menikmati sekali pembacaan kembali Tintin. Tentu saja terima kasih saya ucapkan pada Istri saya yang masih mau membeli komik Tintin. Barangkali, kami berdua sedang butuh jiwa petualang untuk kembali berlayar satu kayuh berdua. Semoga.
 
 
Judul           : Petualangan Tintin: Kepiting Bercapit Emas
Penulis        : Herge
Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2015
Tebal           : 64 hal.
Genre          : Komik-Petualangan


Pajang, 27 November 2023.


Kamis, 03 Agustus 2023

Tough Choices: Sebuah Pembukaan

“... life is about the journey, not the destination. The steps along the way are what makes us who we are...” hal. 85


Sumber gambar: www.goodreads.com

Saya pertama kali berkenalan dengan buku ini di suatu perpustakaan sekolah medio 2009. Kebetulan, saat itu seorang siswi sedang membaca sekilas kemudian meminjamnya. Penasaran, akhirnya ketika buku itu dikembalikan, saya lantas mulai membaca sedikit halaman pembuka. Sampulnya menarik dan cukup simple. Sebuah potret seorang perempuan yang nampak masih “perkasa” dengan sisa-sisa kejayaannya. Judulnya pun langsung menimbulkan banyak pertanyaan dalam benak saya.

Buku ini adalah sebuah memoar yang ditulis sendiri oleh Carly Fiorina, mantan CEO Hewlett-Packard (HP). Menarik untuk mengetahui cerita mengenai seorang perempuan yang menjadi pemimpin di sebuah perusahaan besar berskala internasional. Untuk tahu bagaimana latar belakangnya sedari kecil, kisah-kisah dan pergolakan di masa beranjak dewasa, hingga berbagai keputusan yang diambil dalam menjalani serangkaian peristiwa dalam hidupnya.

2013 lalu, pernah sekali waktu saya menemukan buku ini di sebuah toko buku import di bilangan Senayan. Waktu itu, saya tidak punya cukup keinginan untuk menuntaskan pembacaan buku ini. Saya masih punya buku-buku yang belum dibaca dan itu banyak sekali. Keinginan itu muncul kembali ketika saya mulai mengumpulkan daftar wishlist buku yang ingin saya baca di Goodreads, pasca mereka menghapus My Stories di halaman mereka. Saya pun memberanikan diri untuk membeli buku-buku bekas di platform marketplace online shopping, dimulai dengan ‘Seribu Kunang-Kunang di Manhattan’ dan ‘Adam Makrifat’ yang pembaca tentu saja sudah lebih dulu membacanya sebelum tulisan ini.

Saya membeli memoar ini bersamaan dengan buku dari Tina Fey ‘Bossypants’, sebuah memoar yang penuh dengan humor. Saya sengaja menunda ‘Bossypants’ agar dapat fokus menamatkan ‘Tough Choices’ terlebih dahulu. Saya mendapatkan buku ini sebagai buku bekas yang pernah berada dalam rak toko buku yang tahun 2013 lalu saya kunjungi dan harganya tidak dalam kurs rupiah, merupakan pada harga aslinya USD 24,99. Warna kertasnya sudah menguning, kertas sampulnya masih dalam keadaan baik, tidak ada halaman yang rusan ataupun sobek, dan yang paling penting: tidak ada penanda apapun dari pemilik sebelumnya. Anggap saja ini buku baru yang halamannya sudah menua. Hahaha.

Saya selalu menyukai apa yang ditulis Carly Fiorina dalam halaman-halaman awal. I do what i thought was right... My soul still on my own... Kata-katanya seakan menguatkan dan memberi harapan bahwa apa yang kita lakukan adalah hasil pertimbangan kita sendiri dengan segenap pengalaman yang akan kita pertanggungjawabkan.

Sepanjang pembacaan sampai halaman 98, ada banyak hal yang dapat dijadikan pelajaran dan motivasi. Tentang bagaimana menghadapi situasi penuh pilihan, tentang bagaimana mengambil resiko, juga tentang bagaimana berhadapan dengan banyak orang dalam konteks bisnis internasional. Saya merasa mendapatkan banyak insight dari perjalanan yang bahkan belum seperempat buku. Setidaknya, dalam hidup saya yang mulai membosankan ini ada sesuatu yang bisa membuat saya berpikir kembali tentang banyak hal.

Anyway, saya masih harus menamatkan buku ini. Saya selalu merasa harus menamatkan buku ini sejak menemukannya kembali. Saya tidak terlalu tahu sepak terjang dan jejak karir dari si penulisnya. Namun, saya selalu punya alasan untuk belajar memahami kembali bahwa pengalaman adalah guru terbaik.

Pajang, 3 Agustus 2023.

Rabu, 26 Oktober 2022

This Notebook is My Bitch: 10 Tahun Kemudian

Sumber gambar: www.goodreads.com

 

Saya mendapatkan buku ini usai menamatkan pembacaan "Antologi Rasa" medio 2012, kurang lebih 10 tahun yang lalu. Ika Natassa agaknya sengaja menerbitkan buku ini untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana menulis sebuah kisah, lebih jauh sebuah buku.

Bentuk buku ini juga tidak seperti buku tips penulisan praktis lainnya. Penulisnya memberi ruang yang cukup untuk menuliskan ide-ide cerita. Ini akan memudahkan siapapun yang ingin menulis karena diberikan panduan dan juga sekalian ruang tulisnya.

Pada saat buku ini diterbitkan, tidak ada banyak 'protes' tentang isinya yang bahasa Inggris semua. Saya, jujur saja, sangat menikmatinya. Pembaca Ika Natassa lainnya pun saya rasa setuju adanya. Berbeda dengan situasi belakangan ini, dimana pembaca baru Ika Natassa tidak banyak tahu atau membaca situasi sebelumnya, misalnya tentang mengapa Ika Natassa menulis cerita yang sedemikian rupa itu dalam karya-karyanya dan mengapa Ika Natassa menggunakan pilihan bahasa yang seperti itu. Alih-alih malah terdikotomi 'anak SCBD' dan "Bahasa Anak Selatan'. C'mon, wake up!

Saya selalu membaca buku ini ketika perlu inspirasi untuk menulis cerita pendek, terutama untuk mengingat kembali poin-poin dalam membangun konflik dan menguatkan karakter. Sudah lama sekali saya tidak menulis cerita dan membuat karakter tokoh pengisi cerita. Saya perlu membaca buku ini lagi!


Pajang, 26 Oktober 2022.

Senin, 28 Maret 2022

Si Juki #BeraniBeda

Buku ini adalah buku Si Juki kedua yang pernah saya baca. Nuansa humornya dapet banget. Mirip ketika menamatkan pembacaan buku lainnya, yaitu #BeraniGagal. 

Sumber gambar: www.goodreads.com

Dalam cerita ini, Pembaca disuguhkan awal mula dan asal usul Si Juki. Agaknya hal inilah yang menjadi nilai tambah untuk dapat memasuki dunia Si Juki. Andaikan saya membaca buku ini lebih awal, mungkin saya juga akan terinspirasi untuk mengajukan diri menjadi Presiden hahaha.

Pada edisi ini juga, saya disadarkan bahwa jomblo pun dapat menjadi suatu hal yang harus diperjuangkan. Saya menemukan bahwa jomblo harus tetap dapat menjadi entitas yang membanggakan. Tidak salah rasanya bila Si Juki membuat "Front Pembela Jomblo". Suatu hal yang tidak pernah saya sadari sebelumnya.

Akhirul kata, saya membaca buku ini jauh setelah terbitnya (medio Juni 2014). Namun, tidak mengurangi esensi dari keseruan dan kelucuan dari seorang Muhamad Marzuki a.k.a Si Juki.

Judul       : #BeraniBeda: Juki Untuk Indonesia Satu
Penulis    : Faza Meonk,Yahya Muhaimin, et. al.
Penerbit   : Bukune
Tahun      : 2014
Tebal       : 152 hal.
Genre     : Komik Indonesia
 


Pajang, 28 Maret 2022

Rabu, 12 Januari 2022

By The River Piedra, I Sat Down and Wept: Pembacaan Kedua

Sumber gambar: www.goodreads.com

 

Buku ini adalah buku kedua dari Paulo Coelho yang saya baca setelah 'The Alchemist' atau 'Sang Alkemis'. Pertama kali dibaca pada Oktober 2009 dan selesai sebulan setelahnya. Terus terang, buku ini punya judul yang menarik untuk dibaca. "By The River Piedra, I Sat Down and Wept", bisa dimaknai bermacam-macam. Entah itu menangis sedih atau tangis bahagia, rasanya membuat penasaran. Apalagi gambar sampulnya juga mendukung imaji atas pembacaan teks didalamnya.

Bertema cinta, buku ini menceritakan perjalanan cinta dua manusia, Pilar dan sang lelaki teman masa kecilnya yang akhirnya menyatakan cintanya setelah menjalani kehidupan spiritual yang mendalam. Mereka berdua akhirnya dipertemukan oleh takdir. Mereka pun mengadakan perjalanan dengan segala lika-likunya. Termasuk segenap perjalanan yang dipenuhi pergulatan dan karunia Tuhan.

Jujurly, saya sudah lupa dengan kesan pembacaan pertama atas buku ini setelah satu dekade lebih. Saya menghabiskan waktu sebulan untuk menamatkannya. Namun, pada pembacaan yang kedua ini rasanya lebih mengalir dan ringan saja. Mungkin karena pengalaman dan jam terbang saya dengan novel lain sehingga membuatnya lebih mudah.

Saya masih ingat bahwa saya mengharapkan sebuah kejutan pada buku ini, terutama karena judulnya. Saya harap pembaca maklum adanya, karena ternyata buku ini tidak memiliki banyak kejutan. Ada sedikit intens menjelang akhir cerita, ketika mereka berdua telah sampai pada Biara di sekitar Sungai Piedra. Namun, lagi-lagi disana hanya ada sebuah akhir yang bahagia. Cinta telah menemukan jalannya sendiri.

Judul           : Di Tepi Sungai Piedra, Aku Duduk dan Menangis
Penulis        : Paulo Coelho
Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2005
Tebal           : 224 hal.
Genre          : Novel


Pajang, 12 Januari 2022

Selasa, 04 Januari 2022

Seribu Kunang-Kunang di Manhattan

Pertama kali membaca judul ini saya membayangkan bahwa benar ada seribu kupu-kupu yang bertebaran di sekitaran kota Manhattan di New York sana. Mungkin, mereka sedang menikmati malam dan sekalian bersedekah dengan turut menerangi Central Park. Entahlah, memang rasanya tidak mungkin karena saya belum pernah melihat kunang-kunang di Central Park pada sitkom “How I Met Your Mother”. Kemudian, bayang itu beralih menjadi nyala lampu dari gedung-gedung pencakar langit yang bertebaran disana. Nah, yang ini rasanya masuk akal. Barangkali, waktu buku ini diterbitkan pada tahun 1972 sudah banyak gedung-gedung tinggi di Manhattan.


Dengan ingatan yang terbatas, saya sudah pernah menawar buku ini dua kali pada kesempatan book fair di Istora. Harga yang ditawarkan penjualnya tidak tanggung-tanggung memang. Seratus ribu rupiah, dan tidak bisa nego turun harga. Saya anggap terlalu mahal sehingga saya urung membelinya. Padahal, memang buku ini sudah jarang untuk terbitan terbaru tahun 2007. Sesuatu yang saya sesali kemudian.

Baru-baru ini, saya mendapatkan buku ini lewat sebuah platform marketplace. Suatu hal yang membuat kesempatan untuk hunting buku-buku lama menjadi kembali terbuka setelah puasa book fair sekian lama, anyway. Kondisi buku yang saya terima masih dalam keadaan acceptable (according to Goodreads), kondisi kertas masih baik, softcover, terbitan Badan Penerbit Pustaka Jaya, cetakan pertama tahun 1972. Tahun dimana saya pun belum lahir.

Buku cetakan pertama ini masih menggunakan ejaan lama. Sesuatu yang sangat saya nikmati karena memberikan pengalaman pembacaan yang berbeda dari biasanya. Hal ini tidak berpengaruh banyak karena buku setebal 64 halaman ini hanya berisi 6 cerita pendek. Kalaupun ada yang lebih luar biasa adalah ukurannya. Buku ini serupa dengan buku saku seukuran 20 x 12 cm, tentu bisa dibayangkan sebesar apa huruf yang digunakannya. Agaknya, tentu dibutuhkan hal lebih agar membuatnya nyaman dibaca, seperti mulai menggunakan kacamata.

Cerpen pertama diberi judul sama dengan judul bukunya. Mengisahkan tentang kehidupan romansa sepasang kekasih di Manhattan. Saya menikmati cerpen ini karena bisa diimajinasikan sebagai sebuah rentetan scene dalam film. Diikuti oleh cerpen “Istriku, Madame Schlitz dan Sang-Raksasa” yang menceritakan kehidupan aku dan istrinya beserta tetangga yang bernama Madame Schlitz. Saya dikejutkan dengan punch line untuk ending yang menggantung. Saya suka.

Cerpen ketiga berjudul “Sybil” ini agaknya mencerminkan fragmen kehidupan keseharian di kota besar. Bagaimana seorang single mother berupaya sekuat tenaga untuk bisa membesarkan anak dengan tetap bekerja. Permasalahan kemudian muncul ketika Sybil bermain dengan Susan, tetangganya. Kalimat terakhir dalam cerpen ini mengingatkan saya pada sebuah cerpen “Pelajaran Mengarang” karya Seno Gumira Ajidarma, dalam kumpulan “Atas Nama Malam”.

“Setjangkir Kopi dan Sepotong Donat” berkisah tentang kehidupan dalam sebuah kedai kopi, dimana orang-orang datang dan pergi untuk sarapan atau brunch menjelang siang, lengkap beserta gairah romansanya. “Chief Sitting Bull” menceritakan kehidupan para lansia yang mulai ketergantungan dengan jatah pemberian rutin dari anaknya dan menjalani rutinitas bersama kolega di taman kota. Saya suka detail dari cerpen ini karena sang tokoh utama dapat menaklukkan hati seorang anak kecil.

Sementara cerpen terakhir, “There Goes Tatum” mengisahkan seorang lelaki yang menjadi korban perampokan dalam usahanya menuju tempat tujuan. Cerpen ini menampilkan sisi lain dari wajah ‘The Big Apple’, satu hal yang umumnya terjadi di kota besar dimana ketimpangan antara the have dan kaum miskin sangat besar.

Kumpulan cerita pendek pertama dari Pak Umar Kayam ini adalah satu dari sekian tonggak karya sastra Indonesia yang patut dijadikan monumen. Betapa karyanya ini turut mewarnai khazanah kebudayaan modern Indonesia pasca tahun 1965. Dengan aktivitasnya dalam bidang kesenian sejak masih mahasiswa, ia mampu memberikan kesan filmis pada cerita-cerita pendeknya. Tema keseharian yang dipilihnya pun memberikan kesan bahwa banyak hal-hal yang menakjubkan dari sebuah kesederhanaan.

Judul           : Seribu Kunang-Kunang di Manhattan: enam tjerita pendek oleh Umar Kayam
Penulis        : Umar Kayam
Penerbit       : Pustaka Jaya
Tahun          : 1972
Tebal           : 64 hal.
Genre          : Sastra Indonesia-Cerita Pendek


Pajang, 4 Januari 2022
Pada ulang tahun Nenek yang ke-86

Senin, 22 November 2021

Kelakar a la Madura

Sumber gambar: www.goodreads.com
 
Agaknya, buku ini bisa menjadi pembuktian tentang mengapa Tuhan menciptakan Pulau Madura ketika sedang berkelakar. Disarikan dari guyonan-guyonan Cak Nun tentang per-Madura-an ketika sedang mengisi forum-forum Maiyahan di seantero jagat Nusantara.

Membaca buku ini secara langsung tanpa pernah mengetahui guyonan yang mana dan disampaikan pada forum yang mana, memang bisa jadi mengasyikkan. Seterbitnya buku ini, saya merasa bahwa ada satu hal yang hilang, missing link diantara ketiganya: buku ini, guyonan Maiyahan, dan buku lama Cak Nun berjudul "Folklore Madura".

Saya menyarankan agar setiap penikmat guyonan Cak Nun turut membaca juga buku lama terbitan Progress tersebut. Mudah-mudahan dengan cara tersebut didapati benang merah kenapa Madura bisa jadi sangat spesial dihadapan Cak Nun dan Allah SWT.

 

Judul           : Urusan Laut Jangan Dibawa ke Darat: Jiwamu Butuh Berkelakar
Penulis        : Emha Ainun Nadjib
Penerbit       : Narasi
Tahun          : 2018
Tebal           : 141 hal.
Genre          : Sosial-Budaya-Kehidupan-Kebudayaan

Cengkareng, 22 November 2021

Rabu, 17 November 2021

Rumah Mice, Rumah Kita Juga!

Sumber gambar: Mice Cartoon Official Facebook

Menyenangkan sekali rasanya dapat membaca kembali komik dari Mice. Terlepas dari judul ataupun subjeknya. Komik yang habis dibaca sekali duduk ini menampilkan sisi lain dari komik Mice lainnya yang saya punya dan pernah baca sebelumnya. Dalam posisi saya yang kini sama seperti Mice-berkeluarga K2, membaca komik ini memberikan perasaan "heartwarming". Adalah keseharian keluarga yang tentunya kebanyakan sudah kami rasakan di rumah kami yang mungil (dan tepat di Tangsel juga :)))) ).

Segala macam perasaan bercampur aduk kala Mice menyuguhkan komik strip dengan kejadian yang pernah saya alami. Sangat dekat rasanya, sehingga saya sering teringat kembali pada perasaan kala mengalah untuk menuruti keinginan putri kecil saya. Kadang, kalau diingat kembali jadi sering membuat saya nyengir sendiri.

Anyway, sebelum dibukukan komik ini tadinya pernah rutin terbit untuk Ciayo Comics. Alangkah tertinggalnya saya karena saya hampir kehilangan jejak karya dari Mice Misrad sebelum menemukan komik ini. 

Dilabeli Parenthood dan Semua Umur, tidak salah bila komik ini ditujukan untuk seluruh anggota keluarga. Plus, anak-anak pun dapat membaca komik ini karena tidak ada konten berbahaya atau explicit content (macam sampul album Slipknot dkk :D). Sedikit catatan, ada hal yang dapat jadi pertimbangan tentang bagaimana cara Mice Misrad menyikapi anak-anaknya dalam menggunakan Youtube. Kita memang tidak bisa menghindarinya, tetapi kita sebagai orang tua dapat mengaturnya.

Saya setuju bila Mice Misrad kembali membuat komik lanjutan dari volume 1 ini. Ataupun, menerbitkan komik baru dengan tema yang sama. Sometimes, we need a heartwarming stories to keep our heart warm.

 

Judul           : Rumah Mice: Home is Where Our Story Begins Vol. 1
Penulis        : Muhammad 'Mice' Misrad
Penerbit       : m&c
Tahun          : 2019
Tebal           : 80 hal.
Genre          : Komik-Keluarga

CGK, 17 November 2021.

Senin, 01 November 2021

Dari Pojok Sejarah: Sebuah Catatan

Sumber gambar: www.goodreads.com

 
Awalnya, saya dibuat penasaran dengan buku-buku lama dari Emha. Salah satunya termasuk buku ini. Dari judulnya saja, rasanya sudah sangat serius. Apakah yang dimaksud dengan "pojok sejarah" itu? Memangnya ada yang tercecer atau atau tersisa dari "pojok sejarah"? Kalaupun betul begitu, "pojok sejarah"mana? Sejarah pra-kolonialisasi atau pasca-modernisme?
 
Agaknya, semua teka-teki dalam benak saya roboh seketika ketika buku ini benar-benar diterbitkan kembali. Buku berhalaman lebih dari 500 lembar ini memang membutuhkan stamina pembacaan yang prima. Buat saya, ini jadi satu pengalaman yang baru karena buku Emha inilah yang paling banyak halamannya yang pernah saya tamatkan.
 
Ada satu jurus yang saya lakukan sebelum dan selama pembacaan buku ini. Saya 'mengosongkan' diri saya dari segala asumsi dan pretensi sehingga saya bisa menerima dan mencerna isi buku ini bulat-bulat. Saya jadi tidak terpengaruh pertanyaan-pertanyaan saya sebelumnya diatas. Ditambah lagi, semua tulisan Cak Nun disini dibuat dengan gaya bahasa surat-menyurat. Tujuan utamanya adalah adiknya sendiri, Cak Dil.
 
Ini adalah suatu kenikmatan tersendiri karena dengan begitu menurut saya penulisnya akan mampu lepas dari jeratan formal penulisan esai atau artikel. Emha bisa bercerita apa saja tentang Eropa dan negeri asalnya sendiri dengan luwes. Mengingatkan saya pada buku "Surat dari Palmerah" karya Seno Gumira Ajidarma. Bedanya, seperti sudah saya catat sebelumnya: lebih tebal.
 
Banyak surat menarik yang menggambarkan keadaan kehidupan di tahun-tahun penulisannya. Personally, keadaannya pun masih tidak banyak berubah hingga saat ini. Mungkin, yang berubah hanya nama Presiden dari negeri asalnya Emha saja. Selebihnya, saya rasa para pembaca Emha sudah sangat paham.
 
Satu yang menarik adalah saya menemukan kembali sebuah tulisan Emha yang berjudul "Hidup Itu di Hati". Saya pernah membaca tulisan ini dari sebuah laman website tidak resmi yang memuat tulisan-tulisan Emha pada tahun 2009. Nama websitenya apa saya sudah lupa. Ternyata, asal-muasal tulisan itu bermula dari pengembaraan Cak Nun ke Eropa sana dan dimuat dalam buku ini. Kesan pembacaan "Hidup Itu di Hati" pada tahun 2009 dengan 12 tahun kemudian pun masih sama. Barangkali, pada lain kesempatan, hal ini bisa jadi satu bahan tulisan sendiri.
 
Saya menamatkan pembacaan buku ini lebih dari satu tahun sejak tanggal pembelian. Ada banyak waktu terlewati begitu saja. Saya pun jadi tertawa sendiri, mengapa baru mulai intens menamatkan pembacaan pada tiga bulan terakhir ini. Semoga bukan karena alasan work from home dan mendung yang sepertinya sengaja mewakili pikiran saya.


Judul           : Dari Pojok Sejarah
Penulis        : Emha Ainun Nadjib
Penerbit       : Mizan
Tahun          : 2020
Tebal           : 508 hal.
Genre          : Sosial-Budaya-Kehidupan-Kebudayaan

Cipayung, 1 November 2021.


Senin, 03 Mei 2021

Cak Nun Bertutur: Merangkum Indonesia

Sumber gambar: www.goodreads.com
Sumber gambar: www.goodreads.com
 
Dari sekian buku baru Cak Nun, baik yang diterbitkan kembali atau yang memang pure diterbitkan, saya rasa pembacaan buku ini termasuk yang paling lancar. At least, bila dibandingkan dengan progres pembacaan judul-judul buku lain Cak Nun yang baru terbit lainnya. Saya tidak tahu mengapa. Barangkali, alur penceritaan buku ini yang membuat pembacaan saya agak sedikit lebih cepat selesai.
 
Alur penuturan dalam buku ini sesuai dengan selera saya. Flashback. Menuturkan kembali cerita secara historis, alur mundur. Ini yang membuat saya agaknya merasa nyaman. Selain itu, untuk mengetahui bagaimana sesuatu berakhir, harus juga dilihat dengan bagaimana sesuatu itu dimulai.
 
Cak Nun, memulai dengan kisah sepanjang perjalanan di Dipowinatan, Dinasti, KiaiKanjeng hingga bermuara di Maiyah. Awalnya, agak sulit untuk membayangkan penuturan apa yang akan dibawakan Cak Nun sepanjang jalan sunyi hidupnya. Apakah seratus sekian halaman buku ini akan sanggup menampungnya?
 
Kenyataan yang saya dapati adalah bahwa Cak Nun mampu merangkum penggalan-penggalan kisah jalan sunyinya dalam judul-judul artikel yang serupa cerita pendek. Kisah perjalanan hidup sepanjang Menturo, Jogja, KiaiKanjeng, dan Maiyah terhampar lugas. Sebagaimana KiaiKanjeng, rasanya Cak Nun juga adalah hamba Allah yang diperjalankan. Diperjalankan sesuai dengan keinginan Allah, Tuhannya yang satu.
 
Bahwa ketika kemudian Cak Nun mampu menulis sedikit tentang keadaan Indonesia kekinian pun yang disampaikan hanya dengan satu paragraf saja. Bahwa Indonesia telah kehilangan kontinuitas sebagai bangsa, hingga pengejawantahan Bhinneka Tunggal Ika yang semakin kehilangan esensinya.
 
Saya kagum dengan pencapaian Cak Nun dalam buku ini. Hal ini semakin membuktikan bahwa Indonesia memang hanya bagian dari desanya Cak Nun. Sehingga sebesar apapun Indonesia, Cak Nun akan mampu mengampunya karena ia hanya bagian dari desanya.
 
Segala puji bagi Allah yang memperjalankan hamba-Nya di jalan sunyi.

Judul            : Mbah Nun Bertutur
Penulis        : Emha Ainun Nadjib
Penerbit       : Bentang Pustaka
Tahun          : 2021
Tebal           :  228 hal.
Genre           : Sosial-Budaya-Ketuhanan


Cengkareng, 3 Mei 2021.

Selasa, 06 Oktober 2020

Bola-Bola Kultural (1)

 

Image by Goodreads

Seingat saya, keinginan untuk membaca buku ini muncul setelah pembacaan trilogi Sepakbola dari Sindhunata: Air Mata Bola, Bola-Bola Nasib, dan Bola di Balik Bulan. Ketertarikan dan rasa penasaran atas tulisan Emha utamanya untuk persepakbolaan menggugah keinginan untuk segera mendapatkan buku ini. Sesuatu hal yang sulit karena buku ini belum mengalami naik cetak.

Alhamdulillah. Saya mendapatkan buku ini dari di sebuah marketplace dengan harga yang lumayan. Namun, tidak mahal untuk sebuah karya klasik nan monumental ini.

Malam tadi, pembacaan sudah masuk halaman 32. Ada banyak kesan menyenangkan di balik sebuah entitas olahraga bernama sepakbola. Sebuah nuansa pemanusiaan atas segenap jalan nasib dan takdir. Bahwa manusia tidak punya kuasa apapun atas jalan takdirnya. Sebagaimana Maradona yang harus merasakan jadi manusia biasa kembali di Piala Dunia 1990 dan Timnas Denmark yang mengejutkan dunia ketika merajai Piala Eropa 1992. Sensasi yang agak berbeda namun tetap menyenangkan dengan ketika membaca Trilogi dari Romo Sindhu.

(bersambung)... 

Cengkareng, 13 Agustus 2020

Senin, 23 Desember 2019

Helen dan Sukanta

Sumber: www.goodreads.com

Selalu menyenangkan untuk membaca tulisan-tulisan Pidi Baiq yang mengaku sebagai imigran dari surga. Setelah serial Dilan dan Milea-yang dengan gagahnya menghancurkan imaji saya tentang mereka usai difilmkan, Helen dan Sukanta agaknya menjadi sebuah pengecualian untuk cinta yang mendayu-dayu khas anak remaja.

Entah, saya sudah lupa kapan, saya pernah berkunjung ke blog Pidi Baiq dan membaca beberapa paragraf awal dari Helen dan Sukanta. Begitu pula dengan Dilan, yang catatan awalnya dapat dibaca dalam blog sang penulis. Harapan saya satu per satu menjadi kenyataan. Dilan sudah terbit-sekaligus difilmkan. Kemudian, menyusul Helen dan Sukanta. Sebuah novel romantis dengan ending yang tragis.

 
Membaca Helen dan Sukanta berarti mengembalikan ingatan kepada Bumi Priangan-utamanya Tjiwidei, masa kolonial pasca politik etis. Kisah romantis antara seorang Noni belanda dengan anak pribumi saat itu adalah hal yang tabu. Demikian pula dengan Helen dan Sukanta. Terlalu banyak perbedaan untuk menjadi hambatan kisah cinta mereka.

Saya tidak akan menyoroti bagaimana kisah cinta mereka, darimana Helen bisa kenal dengan Sukanta, dan segenap perjalanan yang mengasah cinta mereka. Helen dan Sukanta adalah sebuah kisah tragis, walaupun hanya baru bisa ditemukan pada seperempat terakhir buku.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pendudukan Jepang atas koloni Hindia Belanda membawa banyak perubahan. Tidak hanya bagi kaum kolonial tetapi juga pada kaum pribumi yang mendambakan kemerdekaan. Kisah Helen dan Sukanta berada pada tengah masa peralihan itu.

Helen yang pulang ke Tjiwidei untuk menemui ibunya yang sakit dan kemudian meninggal tidak pernah menyangka bahwa perpisahan dengan Ukan (panggilan untuk Sukanta) itu adalah perpisahan untuk selamanya. Pasukan Jepang berhasil menduduki Kalijati, kemudian menyeberang ke Lembang. Ukan, entahlah dimana. Helen kemudian masuk kamp tawanan Jepang dimana ia harus kehilangan buah hati yang sedang dikandungnya. Pernah sekali Helen kembali untuk mencari Ukan ke Lembang. Hasilnya sia-sia saja. Bahkan, kalau tidak karena kenalannya di perkebunan dulu, Helen tidak akan tahu nasibnya.

Saya mendapatkan kesan bahwa novel ini sangat humanis. Penulisnya berhasil membawa ingatan tentang masa kolonial beradu dengan masa pendudukan ditambah konflik antara dua hati yang saling mencinta. Tetapi, adalah tragis ketika kita tidak pernah tahu nasib tentang orang-orang yang kita cintai. Begitulah, Helen dan Sukanta dalam pergulatan takdirnya masing-masing.

Judul            : Helen dan Sukanta
Penulis        : Pidi Baiq
Penerbit       : The Panasdalam Publishing
Tahun          : 2019
Tebal           : 364 hal.
Genre           : Novel-Sejarah
 
Ciputat-Cengkareng, 23 Desember 2019.
Ulasan penuh pertama usai Bapak tidak ada.

Kamis, 31 Januari 2019

Menggugah Kesadaran Berpolitik



Prelude

Hingar bingar Pemilu 2019 belum atau mungkin sudah mencapai puncaknya. Yang jelas, pada perjalanan terakhir ke Tanah Air Bandung tercinta, nuansa itu sudah terlihat dari ramainya spanduk iklan caleg di setiap perempatan jalan. Ada banyak caleg muda yang belum pernah nyaleg sebelumnya. Masih terlihat binar-binar harapan dari tatapan mata mereka. Pun demikian dengan para caleg veteran. Senyum mereka menyiratkan sebuah optimisme untuk kembali menatap hari-hari di depan yang masih belum jelas.

Atas kesadaran itu, saya merasa bahwa regenerasi percalegan itu memang perlu adanya. Entah dengan dasar atau bekal ilmu politik macam apa seseorang berani mendeklarasikan dirinya sebagai wakil rakyat. Apakah cukup dengan kursus singkat atau cukup dengan mendengarkan pengalaman saja?

Keinginan membaca buku ini muncul saat pembacaan buku "Jokowi, Sengkuni, Machiavelli' dari Seno Gumira Ajidarma. Keinginan itu hanya jadi keinginan belaka hingga saya menginjakkan kaki kembali di Pasar Buku Palasari setelah dua juta tahun vakum belanja disitu. 

Sebuah pemahaman bisa diperoleh dengan membaca terlebih dahulu dasar-dasar objektivitas suatu hal. Bukankah perintah Tuhan yang pertama pada Muhammad SAW adalah "Bacalah". Dengan demikian, mudah-mudahan dapat memperkuat dasar-dasar dalam pemahaman ilmu politik, sebelum terjun nyata ke ranah habluminannaas.


Palasari, 14 Januari 2019

Kamis, 04 Januari 2018

#BeraniGagal ala Si Juki

"Tidak penah gagal belum tentu hebat, terutama bagi yang belum pernah mencoba" - Si Juki
Sumber gambar: www.goodreads.com
Perkenalan saya dengan Si Juki dimulai pada zaman Twitter masih berkuasa. Entah medio 2012 atau 2013. Yang jelas, saat itu saya sudah tertarik dengan karakter Si Juki namun belum mau untuk membaca komiknya. Saya hanya mampu stalking sesekali ke akun Twitter Faza Meonk @Fazameonk, Sang Pencipta karakter bernama asli Muhamad Marzuki ini.

Belum lama ini muncul iklan di media televisi tentang rilis film Si Juki. Sebuah kabar baik untuk jagad perkomikan di Indonesia. Karya yang tadinya hanya sebatas cetakan buku dapat dinikmati sebagai satu produk sinematografi. Ya, tidak berlebihan bila sama menyamakan Komik Si Juki dengan Komik Dragon Ball yang sudah lebih dulu melegenda.

Komik edisi #BeraniGagal ini mengisahkan rentetan cerita kegagalan yang dialami Si Juki. Dimulai dengan perjalanan Si Juki yang ikut serta dalam Pemilu 2014 dalam format digital. Si Juki menang, namun hasilnya tidak diakui. Mantan Capres yang berduet dengan Si Tuti ini dirundung kegagalan.

Ini adalah pengalaman pertama saya dengan komik Si Juki. Memang ada beberapa missing link karena saya tidak membaca beberapa buku sebelumnya. Namun, hal itu tidak menjadi masalah besar karena komik ini punya alurnya sendiri.

Saya suka alur ceritanya yang dirunut dari awal. Cerita dimulai dari bab Si Juki Sang Capres Gagal, Silsilah Kegagalan, Legenda Kegagalan, Yang Gagal dan Dilahirkan, Tak Selamanya Gagal Itu Pahit, Impian dan Kegagalan. Keresahan kaum Jomblo pun dikisahkan pada bab Jomlo (tidak sama dengan) Gagal. Mengikuti seterusnya bab Semua Pernah Gagal.

Sebagai buku yang habis dibaca sekali duduk, komik Si Juki edisi ini sangat menghibur. Buku ini pun tidak semuanya berisi panel komik. Ada beberapa narasi yang harus dibaca sebagai pengantar sebelum melihat adegan komikal, tentu masih dengan rentetan humor. Ada banyak celotehan segar yang mampu membuat tertawa puas. Ada beberapa sindiran satir dan sinis terhadap kemajuan teknologi akhir-akhir ini. Namun, diatas itu semua yang lebih penting adalah pesan-pesan dalam menyikapi kegagalan. Agaknya, pesan-pesan itulah yang berusaha disampaikan Si Juki untuk Generasi Zaman Now, agar tidak mudah putus asa dalam menghadapi kegagalan.

Anyway, Catatan Hampir Teladan Si Juki ini mengingatkan saya sekilas pada buku Catatan Mahasiswa Gila milik Adhitya Mulya. Ada banyak kejadian konyol didalam kedua buku itu, tetapi muatan pesan dan hikmah keduanya tetap kental dan sangat mudah dipahami. Semoga semakin banyak lagi komik karya anak bangsa, yang tidak hanya pandai menghibur tapi juga jagoan memberikan teladan.

Judul       : #BeraniGagal: Catatan Hampir Teladan Si Juki
Penulis    : Faza Meonk, et.al
Penerbit   : Bukune
Tahun      : 2016
Tebal       : 156 hal.
Genre     : Komik Indonesia

Cipayung-Cengkareng, 4 Januari 2018.

Sabtu, 30 Desember 2017

AKU: Sesudah

Sumber gambar: Koleksi Pribadi
Terus terang, saya tidak mengharapkan sebuah kejutan nan eksplosif dalam buku ini. Sebagai sebuah skenario mengenai (sebagian) perjalanan hidup Chairil Anwar tentulah ada beberapa hal yang bisa saja hilang karena pembermaknaan yang berbeda. Tentang bagaimana narasi dan teks skenario dipahami secara tekstual ataupun melalui imajinasi visual. Namun, saya tentulah merasa sangat bahagia karena melalui pemahaman tekstual pada buku ini saya dapat membuat imajinasi buatan saya sendiri.

Saya bisa membayangkan bagaimana Chairil yang tiba-tiba saja masuk ke rumah Oomnya, Syahrir, yang dulu Perdana Menteri itu semasa zaman Republik. Pun, ketika Chairil nyelonong begitu saja ketika ikut naik kereta rombongan Perdana Menteri ke Yogyakarta. 

Lewat buku ini, setidaknya pembaca bisa dibuat paham mengenai suasana apa yang membuat sajak-sajak Chairil Anwar menjadi begitu menggelora, kadang-kadang syahdu, dan tiba-tiba mengandung kepasrahan yang total pada Si Penciptanya.

Setidaknya saya mendapatkan jawaban tentang latar suasana yang mebuat sajak ‘Aku’ menjadi legenda sepanjang masa. Tentang mengapa ‘Senja di Pelabuhan Kecil’ bisa menjadi begitu syahdu, ketika Chairil termenung di pinggir pantai. Juga, penggalan syair ‘...Waktu jalan aku tidak tau apa nasib waktu...’ yang pernah saya baca dalam satu cerpen milik Seno Gumira Ajidarma, yang tercipta semasa Agresi Militer Belanda I.

Khusus untuk timeline Agresi Militer Belanda I, tercipta pula sebuah sajak perjuangan yang selalu dikenang warga Bekasi-Krawang, ‘Antara Krawang-Bekasi’. Maklum, Chairil diceritakan telah menikah dengan seorang gadis dari Karawang bernama Hapsah, Dari Hapsah pula Chairil memiliki seorang putri yang dinamainya, Evawani.

Memasuki bagian akhir, saya merasakan aroma kehilangan yang semakin menguat. Chairil agaknya tidak kuasa menahan penyakitnya hingga ia harus menyendiri di sebuah kamar yang dicarikan khusus untuknya. Perkawinannya dengan Hapsah pun harus berakhir, ia digugat cerai. Sebuah adegan yang membuat saya bergetar kala Chairil Anwar menggendong Evawani sebentar sebelum Ibunya datang. Ah, tokoh kita ini juga seorang manusia.

Menjelang akhir perjalanan hidupnya, rupanya Chairil Anwar sudah mampu meramal kematiannya sendiri. Ia sudah merasakan maut itu datang sebelum Malaikat Maut benar-benar melaksanakan tugasnya. Ia sudah menulis ‘...rimba jadi semati tugu di Karet, di Karet (daerahku yang akan datang)...’. Chairil Anwar sudah tahu ia akan berpulang kemana. Masalahnya hanya soal waktu saja, entah kapan.

Tidak diragukan lagi bahwa Chairil Anwar-terlepas dari segala kontroversinya soal sajak-sajak saduran dan terjemahan-adalah seorang pionir sastra Indonesia. Chairil Anwar menandai tonggak lini masa sastra Indonesia dengan menamai angkatannya sebagai ‘Angkatan 45’. Chairil masih berseru: “Revolusi!”, menjelang akhir-akhir masa hidupnya. Sebuah pernyataan yang tabah dan berani seakan-akan ia masih akan hidup seribu tahun lagi.

Judul           : AKU: Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar
Penulis        : Sjuman Djaya
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2017
Tebal           : 155 hal.
Genre          : Sastra Indonesia-Skenario

Cipayung, 29 Desember 2017.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...