Curug, 16 Juni 2014.
Senin, 30 Juni 2014
Catatan Hati Seorang Istri (Lagi)
Curug, 16 Juni 2014.
Sabtu, 24 Agustus 2013
The Naked Kitchen (2008)
Mo-Rae terus dihantui perasaan bersalah. Mo-Rae dilanda kebimbangan, antara menyimpan rapat-rapat rahasia itu atau malah berkata jujur pada Sang-In. Keakraban dan kedekatan yang terjalin sejak mereka masih kecil membuat Mo-Rae tidak punya pilihan selain berkata jujur. Sang-In rupanya mau mendengarkan, namun ia tidak mau mendengar cerita itu lebih jauh dan tidak mau membahasnya sama sekali. Kontan, hal itu membuat Mo-Rae semakin merasa bersalah. Bagaimanapun, Mo-Rae menyadari bahwa Sang-In akan mengetahuinya suatu hari nanti.
Usai makan malam di hari jadi perkawinan mereka, datanglah sahabat lama Sang-In. Park Do-Ree (Joo Ji Hoon), seorang chef yang kembali ke Korea atas inisiatif Sang-In yang mengajaknya untuk membuka restoran. Sang-In sendiri telah memutuskan untuk resign dari pekerjaannya sebagai pialang saham untuk menjalani passionnya selama ini, yaitu menjadi seorang juru masak dan membuka restoran sendiri. Untuk itulah Sang-In membutuhkan Do-Ree. Sang-In sengaja memanggil Do-Ree pulang dari Paris untuk tinggal di rumahnya.
Sebuah kebetulan bahwa pada saat perkenalan itulah Mo-Rae menyadari bahwa Do-Ree adalah pria yang bercinta dengannya di galeri seni. Mo-Rae semakin merasa tidak nyaman. Kini, tugasnya bukan hanya menyimpan rapat-rapat rahasia antara dirinya dengan Do-Ree, tapi juga harus menahan perasaan aneh yang terjadi antara mereka berdua.
Kisah cinta segitiga dalam satu atap dimulai. Sang-In sengaja memberi keleluasaan pada Mo-Rae untuk menemani Do-Ree berkeliling di sekitar tempat tinggal mereka. Kedekatan mereka berdua akhirnya terjalin semakin akrab. Berkali-kali Do-Ree mengungkapkan cintanya pada Mo-Rae. Do-Ree mencoba meyakinkan Mo-Rae bahwa cinta antara dirinya dengan Sang-In bukan cinta yang sebenarnya. Do-Ree meyakini cinta Mo-Rae kepada Sang-In adalah sesuatu yang ‘given’, terbentuk dari perasaan yang pelan-pelan tumbuh sejak mereka kecil. Do-Ree meragukan cinta Sang-In pada Mo-Rae. Namun, Mo-Rae tetap pada pendiriannya. Ia merasakan sesuatu yang lain pada Do-Ree namun ia tidak mau mengungkapkannya.
Pada satu kesempatan, Sang-In mulai mencurigai affair antara Mo-Rae dengan Do-Ree. Sang-In juga memiliki bukti kedekatan mereka akibat kecerobohan Kim Seon-Woo (Jeon Hye Jin II), sahabat Mo-Rae. Hal itu langsung membuat Sang-In menghajar Do-Ree habis-habisan. Do-Ree pun menyerang balik Sang-In dengan mengakui apa yang telah dilakukannya lalu mengungkapan perasaanya kepada Mo-Rae. Usai berkelahi habis-habisan, Sang-In menyadari bahwa semua pilihan ada pada Mo-Rae. Mo-Rae harus memilih, Sang-In yang telah bersama dengannya sejak lama atau pada totally complete stranger seperti Do-Ree. Mo-Rae tidak memilih namun ia memiliki pilihan hatinya sendiri.
Catatan Seorang Kolumnis Dadakan
Pelajaran pertama dari film ini adalah: Live your passion. Sang-In sengaja meninggalkan pekerjaannya yang mapan hanya untuk menjalani kehendak hatinya yang lain, yang akan membuat dirinya sepenuhnya utuh dengan menjalankan bisnis barunya di bidang kuliner.
Selanjutnya, kemelut cinta segitiga Sang In-Mo Rae-Do Ree memberikan suatu sudut pandang bahwa mencintai seseorang adalah sebuah proses yang tak hanya ‘given’ saja. Tetapi juga membutuhkan hubungan dua arah, dimana keduanya saling merasa terikat dan saling mencintai sepenuh hati.
Anyway, kehebatan unsur film ini terletak pada inti cerita yang berpusat pada kisah cinta segitiga, tanpa mengurangi esensi dari sebuah culinary passion. Keduanya merupakan perpaduan bumbu utama yang menghadirkan perasaan geregetan dan penasaran.
Judul : The Naked Kitchen
Sutradara : Hong Ji Young
Cast : Shin Min Ah, Kim Tae Woo, Joo Ji Hoon, Jeon Hye Jin II
Tahun : 2008
Produksi : CJ Entertainment
Minggu, 18 November 2012
Love, Wedding, Marriage
Membaca judul film ini sudah terbayang lika-liku kehidupan pernikahan Ava (Mandy Moore) dan Charlie (Kellan Lutz). Pernikahan impian telah mereka rayakan. Harapan tentang kehidupan baru membentang dihadapan mereka. Profesi Ava sebagai Psikolog Pernikahan (marriage counsellor) membuatnya paham tentang bagaimana mewujudkan kehidupan pernikahan yang ideal. Dengan realita keseharian yang bergulat dengan segenap permasalahan kliennya, Ava merasa yakin mampu mewujudkan apa yang diimpikannya.
Sebagai anak yang berbakti dan ditunjang dengan profesi sebagai “penyelamat pernikahan”, Ava berusaha semampunya untuk memberikan terapi bagi kedua orang tuanya. Sesi demi sesi dijalani sembari berharap Betty mau merubah keputusannya. Usahanya tidak menampakkan lampu hijau. Malah, keputusan Betty semakin bulat untuk tidak melanjutkan terapi sekaligus pernikahannya dengan Bradley.
Bradley yang kecewa dengan hal tersebut mencoba menutupi kekecewaannya dengan lebih mendekatkan diri pada Ava. Bradley tidak ingin kehilangan perannya sebagai ayah. Bradley akhirnya tinggal bersama Ava dan Charlie. Keadaan tidak semakin membaik. Kehadiran Bradley dalam rumah tangga mereka perlahan mulai mengganggu kehidupan pernikahan Ava. Charlie merasa tidak lagi mempunyai privasi untuk menikmati waktunya sebagai pasangan yang normal bersama Ava.
Suatu ketika, Bradley mengalami sakit dan mengharuskannya masuk ruang gawat darurat. Bradley semakin putus asa karena kehilangan harapan. Bradley merasa kehilangan hidupnya. Bradley sadar betul ia masih mencintai Betty dan berharap dirinya mau kembali bersama. Dengan keadaan Bradley, Ava pun kehilangan fokus pada rumah tangganya. Charlie semakin jenuh melihat Ava yang terlalu peduli pada urusan kedua orang tuanya, terlebih saat Bradley sakit. Charlie pun kecewa, tetapi Ava tidak sedikit pun berusaha memahami sumber rasa kecewa Charlie.
Entah karena simpati atau hanya karena rasa iba, Betty menyadari bahwa Bradley masih sangat tulus mencintainya. Beberapa kejadian di ruang perawatan itu semakin menyadarkan Betty. Ketika kenangan itu melintas lagi dalam benaknya, Betty pun luluh oleh keteguhan hati Bradley. Betty memutuskan untuk membatalkan keputusannya.
Setelah kedua orangtuanya memutuskan untuk rujuk, Ava pun menyadari kesalahannya. Ava mencoba untuk kembali ke jalan rumah tangganya bersama Charlie.
Selalu menarik untuk menyimak kehidupan pernikahan. Baik itu dalam kehidupan nyata, opera sabun, infotainment, atau film layar lebar sekalipun. Pernikahan, sebagai bagian esensial dari entitas individu memiliki jalan ceritanya masing-masing. Cinta selalu menemukan jalannya. Walau kadang terselip luka dalam balutan waktu.
Ava tergolong kedalam anak yang menginginkan keadaan ideal bagi semua di sekelilingnya. Tindakannya dalam usaha menyelamatkan pernikahan kedua orang tuanya malah jadi bumerang bagi pernikahannya sendiri bersama Charlie. Charlie merasa Ava terlalu ikut campur terlalu jauh pada urusan kedua orang tuanya. Ava terlihat seperti anak kecil yang tidak rela melihat perpisahan kedua orang tuanya. Sisi kedewasaan Ava tidak nampak dalam menghadapi masalah ini. Ava tidak terlihat sebagai perempuan dewasa yang berusaha tegar dengan keputusan yang telah diambil kedua orang tuanya.
Sebagai film yang mengangkat tema pernikahan--diluar kekakuan plot cerita, kematangan karakterisasi, dan hal teknis lainnya--film ini bisa dijadikan bahan pelajaran bagi pasangan muda yang baru menikah. Bahwa segala sesuatu ada porsi dan batasnya masing-masing. Saling menghargai sangat dibutuhkan dalam peran baru sebagai pasangan menikah. Sekalipun, kadang masih harus berhubungan dan berurusan dengan urusan orang tua. Setiap pasangan memiliki alasan masing-masing atas tindakan yang mereka lakukan. Maka, sudah seharusnya setiap pasangan menempatkan dirinya masing-masing dalam koridor yang pantas. Tanpa harus mencampuri urusan orang lain. Pun, tidak melupakan arah jalan hidup yang akan ditempuh.
Judul : Love, Wedding, Marriage
Cast : Mandy Moore, Kellan Lutz, Jane Seymour, James Brolin
Tahun : 2011
Produksi : Voodoo Pictures
Pharmindo, 18 November 2012.
Minggu, 22 April 2012
Konser: Cinta, Kebahagiaan, dan Perselingkuhan
Penulis : Meiliana K. Tansri
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2009
Tebal :296 hal.
Genre : Novel Dewasa
Jika kau percaya, cinta akan datang padamu bila saatnya tiba.
Kirana, pemain biola andalan Simfoni Bintang dengan predikat "rising star". Seorang gadis yang baru saja beranjak dari masa remajanya. Masa-masa yang seharusnya penuh suka cita andai saja ayahnya masih bersamanya. Kehilangan ayah tercinta adalah suatu pukulan telak bagi keluarganya. Kehidupan mereka tidak akan pernah lagi sama. Kenyataan hidup telah mengajarinya banyak hal. Kirana "dipaksa" menjadi dewasa sebelum waktunya.
Kirana dan Fajar adalah sesama rekan kerja di Simfoni Bintang yang dipimpin oleh Adji. Keduanya terlibat dalam jalinan rasa yang mengikat pada hati masing-masing. Perlahan, Kirana telah jatuh cinta pada Fajar, sang pianis andalan Simfoni Bintang. Fajar sendiri telah menikah dengan Elise. Pernikahan yang berlangsung dalam kepura-puraan belaka. Fajar tidak pernah mencintai istrinya sekalipun Elise sangat mencintainya. Pernikahan yang dilangsungkan hanya untuk memenuhi ambisi ego pribadinya belaka. Demi sebuah konser tunggal yang kelak akan disponsori oleh Sudarto, ayah Elise.
Petaka itu dimulai ketika Kirana dan Fajar mulai terlibat dalam hubungan yang lebih intens. Tidak hanya sekedar rekan kerja belaka. Seringkali, bayangan tentang Kirana menyeruak dibenaknya. Fajar pun seakan tidak kuasa. Rasa simpati Fajar terhadap segala kejadian pahit yang menimpa Kirana berubah menjadi benih-benih cinta diantara semak belukar hatinya. Fajar menyadari bahwa ia mencintai Kirana namun belum sepenuhnya bisa terlepas dari jerat pernikahannya dengan Elise. Kirana pun demikian. Rasa cintanya yang kian membuncah itu harus berhadapan dengan jurang pemisah bernama pernikahan. Kirana tidak sanggup membayangkan bahwa dirinya akan terjebak diantara Fajar dan Elise.
Elise, belakangan mulai curiga dengan perubahan yang terjadi pada Fajar. Fajar terlihat sering muram dan mulai susah tidur. Elise menangkap sesuatu pada benak Fajar. Sesuatu yang melebihi insting nalar perempuannya untuk mengendus sesuatu dibalik sikap Fajar yang semakin dingin. Elise mulai berhadapan dengan berbagai asumsi dan prasangka. Elise kemudian mencoba untuk membuktikan semuanya. Tidak perlu waktu lama untuk menyadari yang terjadi pada Kirana dan Fajar. Elise telah mendapatkan jawaban atas segala kekhawatiran yang selalu melandanya.
Tensi konflik-konflik dalam cerita semakin meningkat ketika Lydia, sosok Ibu yang begitu dicintai Kirana jatuh sakit dan harus dirawat. Kirana berusaha untuk tetap tegar menghadapi vonis kanker yang diderita Ibunya. Disinilah Kirana mengalami berbagai ujian. Kirana sudah berhasil menjaga jarak dengan Fajar setelah Elise melabraknya dan menggores Stradivarius kesayangannya. Kirana menganggap dirinya telah cukup dewasa untuk menghadapi semua itu. Namun, ukuran kedewasaan tidak hanya diukur dari sejauh mana Kirana mampu menghadapi semua belenggu dihadapannya. Ada banyak hal lain yang masih membutuhkan jam terbang pengalaman. Dalam perjuangannya itu, Kirana mulai menerima kenyataan untuk merelakan Ibunda tercinta ke pangkuan Tuhan.
Perkenalannya dengan Sastro, kolektor barang antik, telah menyelamatkan Kirana dari jeratan lain yang mengintainya. Kirana merasa sangat merasa berterima kasih dan berhutang budi padanya. Sesuatu yang harus dibayar mahal. Kirana menerima pinangan Sastro, seorang kaya raya seumuran ayahnya yang masih membujang. Suatu awal bagi babak baru kehidupan Kirana. Ia memutuskan berhenti bermain musik setelah menikah.
Memasuki akhir cerita, semua konflik yang dibangun sejak awal hingga pertengahan cerita menemukan benang merahnya masing-masing. Fragmen-fragmen dalam adegan Elise yang mengalami pendarahan sehingga menyebabkan kematiannya dan bayi yang dikandungnya, pesan terakhir Elise yang menagih janji ayahnya, fakta bahwa ayah Elise sebagai biang keladi dibalik hancurnya bisnis keluarga Kirana, hingga kehamilan Kirana yang menimbulkan konflik baru dalam pernikahannya dengan Sastro.
Kehilangan Elise membuat Fajar semakin menyadari bahwa dirinya memang telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Fajar telah menyia-nyiakan cinta dan segenap pengorbanan Elise. Konser terakhir yang digelar pun bertajuk “Fur Elise” sama dengan judul sebuah nomor klasik. Fajar tampil sepenuh hati dalam konsernya itu demi membahagiakan Elise yang telah menantinya di alam lain. Konser itu pula yang akhirnya membawa penyelesaian bagi tautan perasaan Fajar dan Kirana. Sedang, Sastro mulai bisa menerima kenyataan pada konflik yang mereka alami dalam pernikahanya bersama Kirana.
Catatan Seorang Kolumnis Dadakan
Awalnya, saya merasa bakal mendapat gambaran yang jelas tentang bagaimana sebuah konser atau resital piano berlangsung. Saya semakin yakin karena sampul depan buku ini memang menampilkan alat musik yang menjadikan Beethoven sebagai masetro, piano. Selama ini, yang ada dibenak saya tentang resital piano adalah konser Francis Lim di Amerika sana, yang saya baca dalam buku Traveler’s Tale.
Namun, keyakinan saya itu seketika berubah sebaliknya. Membaca sinopsis singkat di bagian belakang buku, rasanya ada sesuatu lain yang ditampilkan buku ini. Tidak melulu tentang musik. Sejenak, saya menangkap makna bahwa buku ini memberikan sesuatu yang lain. Masih tentang cinta dan konflik-konflik seputarnya, dan itu melibatkan orang ketiga.
Isu tentang perselingkuhan sudah ada lama sekali sejak pertama kali Tuhan menciptakan cinta dalam jalinan pernikahan. Perselingkuhan selalu menjadi isu yang menarik untuk diikuti. Selalu menarik untuk mengikuti cerita cinta yang tidak hanya milik dua orang anak manusia. Isu yang tidak akan pernah membuat bosan karena banyak variasi yang bisa dilakukan untuk tetap mencintai seseorang, sekalipun itu terlarang.
Konser lebih banyak bercita tentang konflik-konflik seputar pergulatan tokoh-tokohnya dengan kehidupan mereka masing-masing. Kirana, dengan segenap problematikanya yang mengharuskannya lebih dewasa dari orang dewasa. Fajar, yang harus mengakui sifat pengecut yang bersemayam dalam dirinya karena pernikahannya dengan Elise tidak pernah ditautkan oleh cinta sehingga mulai jatuh cinta pada sosok Kirana. Cerita yang berputar diantara tokoh-tokoh tersebut tidak lantas membuat buku ini kehilangan dimensi-dimensi lainnya. Latar cerita semakin menambahkan kesan yang kuat dalam membentuk imajinasi pembaca terhadap situasi-situasi yang dialami tokoh-tokoh cerita. Walaupun akhir cerita terkesan sedikit filmis dengan terkuaknya semua “rahasia”, semua itu tidak mengurangi kekuatan cerita yang berangkat dari ide yang sangat sederhana ini.
Yang patut dijadikan pelajaran dari buku ini adalah memaknai nilai-nilai keteguhan dan kesetiaan kaum perempuan. Keteguhan hati seorang perempuan ditampilkan dalam sosok Lydia dan Elise. Lydia, dalam perjuangannya membesarkan ketiga buah hatinya. Pun, ketika berjuang melawan penyakit kanker yang menimpanya. Elise, walaupun tampak rapuh dibalik sikap manjanya ternyata sangat mencintai Fajar. Elise rela berkorban apa saja demi cintanya itu. Elise telah membuktikan bahwa cinta memang membutuhkan pengorbanan, sekalipun nyawa taruhannya. Elise meninggalkan dunianya dengan membawa cintanya. Cintanya masih menggema di sanubari sehingga membuat Fajar merasa sangat bersalah.
Sungguh tidak mudah bagi kaum istri untuk menerima kenyataan bahwa suami mereka berselingkuh. Namun, penolakan itu sama pahitnya dengan menyadari apa yang telah terjadi lalu mencoba berdamai dengan segala kecurigaan dan prasangka yang terlanjur mengisi relung hati. Sehingga, apapun pilihan atasnya menjadikan perempuan sebagai sosok yang lebih dari sanggup untuk mengatasi semua itu.
Melalui cerita ini, Meiliana berhasil membangun imaji tentang kekuatan seorang perempuan dalam menghadapi segenap prahara dan badai konflik dalam rumah tangga. Kekuatan yang berasal dari fitrah yang saling melengkapi peran kaum perempuan. Baik itu dalam konteks relasional dengan dunia sekitar mereka maupun dengan perasaan mereka sendiri. Perasaan dan intuisi yang seringkali jadi lawan abadi dalam menemukan pelangi di akhir badai.
Paninggilan, 22 April 2012.
Minggu, 15 April 2012
Cinta, Sejarah, Selingkuh, Spiritual, dan Manajemen. (CBD-Cerita Buku Diskon edisi April)
Senin, 05 Desember 2011
Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia
Perjumpaan saya dengan karya Agus Noor dimulai dengan kumpulan cerpen Potongan Cerita di Kartu Pos. Secara tak sengaja, saya dibuat penasaran dengan judulnya Pengalaman pertama saya itu dilatarbelakangi oleh suatu rasa penasaran. Kenapa seorang Agus Noor menjadi begitu penting hingga Alina merasa harus menulis surat untuknya dalam kumpulan cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku milik Seno Gumira Ajidarma (SGA).
Bila diperhatikan sepintas, gaya menulis yang dimiliki Agus Noor sedikit banyak dipengaruhi oleh SGA. Pun ketika saya menemukan bahwa ada beberapa potongan cerita dari karya SGA yang disisipkan ke dalam cerita gubahan Agus Noor. Sebagai orang awam, saya melihat bahwa hal itu sah-sah saja dan bukan merupakan suatu plagiatisme. Karena Agus Noor justru mampu menciptakan suatu imaji karya yang baru dengan menyisipkan "bumbu" milik penulis lain.
Barangkali, kalau ada yang tidak berkenan dengan hal seperti ini adalah pembaca yang baru mengenal karya-karya Agus Noor dan bukan pembaca karya SGA. Sehingga memungkinkan adanya missing link dalam pemaknaan konteks cerita yang diadaptasi Agus Noor dari SGA.
Sebagai pembaca SGA, saya tentu hanya bisa "nyengir" melihat hal seperti ini. Agus Noor telah membantu saya untuk recurrent cerita-cerita SGA yang telah saya baca. Saya menganggap bahwa Agus Noor telah mampu membawa suatu pemaknaan baru terhadap karyanya sendiri walau dengan menyertakan potongan cerita-cerita dari SGA. Utamanya dengan bumbu cerita khas metropolitan: cinta dan perselingkuhan, yang lebih kuat.
Tentu ini sangat baik sebagai tanda hidupnya imajinasi dari seorang penulis yang berujung pada munculnya karya baru yang lebih segar dengan pencitraan imaji yang semakin kreatif dan imajinatif.
Penulis: Agus Noor
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun: 2010
Tebal: 166 hal.
Genre: Kumpulan Cerpen
Jumat, 16 April 2010
She Wasn’ t The One (Who Made Me Promise)
“Teh hijau mahal.”
“Tapi kan khasiatnya beda.”
“Kata siapa? Sama saja.”
(Aneh sekali. Baru kali ini perempuan itu bicara dengan gayanya yang seperti ini. Apalagi, mengajak berdebat tentang suatu hal yang remeh. Apakah yang sedang dipikirkannya? Apakah ia hanya sedang ingin membuat cair suasana? Aku rasa tidak. Seperti ada sesuatu yang harus ia katakan.)
“Masih ngerokok?”
“Seperti yang kamu lihat, kenapa?”
“Haram.”
“Haram versinya siapa? Rokok itu haram untuk yang gak mampu beli!”
“Tetap saja haram!”
(Sampai disini, perempuan itu kelihatan agak kesal. Ia membuang tatapannya keluar dan tidak menatapku lagi. Tapi justru itulah yang membuatnya terlihat semakin mengagumkan. Lesung pipinya dan lentik bulu mata dengan kacamata frameless tampak lebih indah dari biasanya dalam buaian matahari senja.)
“Kalau sampai rokok itu haram, haramkan juga petai dan jengkol sekalian.”
“Lho, itu kan beda. Gak bisa gitu dong!”
“Harusnya sih begitu.”
“Rokok kan beda dengan petai dan jengkol.”
“Mereka semua sama. Sama-sama memberikan kenikmatan bahkan kebahagiaan bagi yang menyukainya.”
“Itu pembenaran kamu saja.”
“Tapi kamu masih suka jengkol kan?”
“Itu bukan urusanmu. Lagipula, belum ada fatwa jengkol itu haram!”
“Memang belum ada, tapi tetap masih suka jengkol kan?”
“Sudah. Jangan tanya lagi. Kamu setia?”
(Aku tidak senang dengan situasi seperti ini. Tanpa undangan tiba-tiba ia tanyakan itu padaku. Apa yang sempat aku khawatirkan memang benar terjadi. Perempuan itu bertanya tentang kesetiaanku. Satu hal yang pernah aku coba untuk buktikan namun aku tetap tidak tahu apakah aku berhasil untuk membuktikannya. Dan sekarang ia menanyakannya. Aku tahu ini pasti terjadi. Sialan.)
“Kenapa diam?”
“................................”
(Aku memang belum bisa menjawabnya. Rasanya seperti menghadapi soal Ujian Nasional matematika SMA. Aku memang pernah mempelajarinya tapi tetap tidak tahu jawabannya.)
“Kalau kamu mau tahu artinya setia, tanya saja sama Del Piero, kenapa dia tidak mau pindah dari Juventus"
“Itu bukan jawaban.”
(Hanya itu jawaban yang terlintas di pikiranku. Aku rasa dia mulai tahu dan mengendus sesuatu dari diamku tadi.)
“Kenapa kamu baru pulang sekarang?”
“Karena aku baru bisa pulang sekarang. Selain itu juga karena aku ingat kamu.”
“Gombal. Jangan coba untuk merayuku.”
“Aku tidak sedang menggombal.”
“Bohong. Kelihatannya itu biasa, hanya untuk menutupi salahmu.”
“.....................................................”
(Apakah aku memang bersalah? Berlalu meninggalkannya tanpa pesan untuk sebuah alasan. Aku memang merasa bersalah tetapi aku tidak tahu dimana kesalahanku. Kalau kepergianku yang jadi masalah seharusnya aku sudah tahu. Tetapi, aku rasa bukan itu.)
“Aku pulang karena aku merasa harus ketemu kamu.”
“Hanya untuk itu saja? Bertemu untuk berlalu?”
“Mungkin....”
“Tentu saja, karena Mbakmu itu! Kenapa selalu harus Mbakmu itu yang datang kepadaku?”
“Karena aku percaya padanya. Lagipula, kamu kenal dia juga kan?”
“Kamu nggak ngerti. Kamu nggak ngerti.”
(Ada nada kecewa dari suaranya. Aku semakin bingung. Kalau begitu, berarti aku telah membuatnya kecewa. Masalahnya sekarang, sumber penyebab kekecewaan itu belum kutemukan. Aku semakin merasa bersalah karena ia mulai menangis. Damn, it’s a puzzling situation.)
“Kenapa harus Mbak? Kenapa bukan kamu? Kenapa bukan kamu?”
“Apa yang harus kulakukan?”
“Kenapa harus Mbak yang selalu datang. Dia yang selalu cerita tentang kamu.”
“Kamu cemburu?”
“Cemburu menguras hati.”
“Vidi Aldiano. Aku rasa bukan itu, bagaimana kalau cinta dua hati?”
“Itu Afghan.”
“Kamu cemburu?”
“Aku nggak cemburu. Aku pikir hanya aku saja yang punya perasaan. Hanya aku saja.”
“.................................................”
“Aku pikir tadinya akulah Komako.”
(Sialan. Rupanya ia juga membaca Kawabata dan ia pikir akulah yang jadi Shimamura, yang tidak pernah peduli dengan perasaan Komako. Hebat sekali. Ia bisa menempatkanku sebagai Shimamura. ia pikir dirinya Komako yang punya keteguhan untuk tetap mencintai Shimamura walau cinta mereka telah gagal sejak pertama bertemu.)
“Kamu memang nggak pernah peduli.”
“Kalau dalam posisi Shimamura, aku memang tidak pernah peduli.”
“Kamu masih nggak ngerti?”
“Tentang perasaanmu?”
“..............................................”
(Melihat diamnya, aku ingin sekali meneriakkan kalimat yang pernah ditulis Wan Anwar dalam cerpennya. Ingin aku teriakkan kalimat ini, “Aku memang tak pernah bisa memahamimu, tetapi jangan sekali-kali kau tuduh aku tak pernah mencintaimu.” Sekali saja tepat didepan matanya. Tetapi, aku sadar aku tidak akan pernah melakukannya.)
“Aku memang tidak pernah tahu perasaanmu.”
“Ya, tentu saja. Mudah bagimu untuk mengatakannya begitu saja padahal kamu tidak pernah tahu betapa sakitnya aku.”
“..............................................”
“Kamu mencintainya?”
(Kenapa harus pertanyaan itu lagi? Sudah dua kali aku menghadapi situasi dengan pertanyaan seperti itu. Dengannya kali ini adalah yang kedua. Sedang yang pertama, waktu itu Mbak yang bertanya. Bagaimana perasaanku waktu itu? Sama-sama tidak menyenangkan. Jawabanku waktu itu? Aku sudah lupa. Ia mulai menangis lagi.)
“Kamu mencintainya?”
“........................................”
“Katakan, apakah kamu mencintainya juga?”
“.... Aku tidak tahu. Lagipula,...”
“Katakan, kamu mencintainya?”
“...........................................”
“Kamu mencintainya?”
“Tidak. Aku tidak mencin...”
“Kamu mencintaiku?”
(Apa lagi ini?. Ia menginginkan sebuah kepastian atau hanya pengakuan saja. Aku memang mencintainya dan anehnya aku masih tidak mau mengakuinya. Sekarang, ia menginginkan jawabanku. Sedang aku sendiri masih belum mau mengatakannya. Aku pikir situasinya tidak akan begini. Perempuan itu terus menatapku. Aku kira dia akan mengancamku sambil menodongkan pisau ke mukaku. Lalu, bermain-main dengannya kearah leherku. Tapi, ia hanya diam saja. Menatapku dalam-dalam seakan tahu semuanya.)
“Kamu mencintaiku?”
“........................................”
“Kamu cinta padaku?”
“Ya, aku...”
“Katakan, kamu mencintaiku?”
“Aku memang mencintaimu.”
(Mendengar jawabanku, ia kembali menangis. Aku coba untuk membantu melepaskan kacamatanya namun ia menolak. Ia menangis. Benar-benar menangis. Aku tidak tahan dengan situasi seperti ini. Aku pikir tidak akan pernah ada perempuan yang menangis hanya gara-gara seorang lelaki sepertiku. Nyatanya, perempuan itu menangis terus dihadapanku. Aku semakin bingung. Tidak ada yang dapat kulakukan untuk membuatnya berhenti menangis. Aku tatapi dirinya. Entah sudah berapa lama akhirnya ia berhenti juga. Setelah menenangkan dirinya dan membetulkan letak kacamatanya aku coba untuk mengusap air matanya dengan selendang merah yang sengaja ia kenakan. Tetap saja, ia menolaknya. Masih terisak, ia seperti ingin berkata sesuatu.)
“Kamu sama saja dengan teko air.”
“Teko air?”
“Teko air yang isinya berceceran kemana-mana tapi tetap tekonya akan kembali ke dapur.”
(Setelah menyamakan aku dengan Shimamura kini ia membuat perumpamaan lainnya. Seperti yang sudah kau baca, ia menganggapku sama dengan teko air yang isinya boleh berceceran kemana-mana namun tetap kembali ke dapur juga. Aku tidak merasa dihina oleh perlakuannya. Aku rasa itu wajar saja. Lagipula, dalam keadaannya yang seperti itu ia masih punya selera humor.)
“Teko air, aku tidak mengerti.”
“Kamu tidak harus mengerti. Itu bukan untuk dimengerti”
“..............................................”
“Kalau begitu, jangan pergi dariku lagi.”
(Setelahnya, ia pegang kedua tanganku. Kami saling berhadapan. Kepalaku pusing karena terlalu banyak ingatan yang tidak seragam. Memori dan kenangan saling berpacu. Aku, dia, dan dirinya. Aku tatapi juga wajahnya yang masih mengagumkan walau habis menangis. Ia masih menatapku dengan tajam. Seakan memintaku untuk berjanji. Menjelang senja penghabisan, lagu Rida Sita Dewi mengalun dikepalaku, “Bukan aku meragukanmu tapi sungguh ku tak ingin engkau jauh dari diriku...”)
Paninggilan, 16 April 2010, 17.37
Jumat, 03 Juli 2009
Tentang Debat Semalam
This was a whole lot more than a simple affair. This was a love story.*)
Hanya itu saja yang bisa dia bilang tadi malam. Hanya beberapa kata "Aku benci kamu!." Aku pun masih tidak mengerti sebabnya. Tidak ada pertengkaran semalam. Hanya sebuah perdebatan saja. SBY dan JK sedang bicara bagaimana caranya supaya RUU Tipikor dapat segera disahkan jadi UU, lalu bagaimana mereka menghandle isu-isu tentang Hak Asasi Manusia, hingga hutang luar negeri yang selalu jadi perdebatan sejak bangsa ini mengenal hingga akhirnya bisa melunasi hutang dari IMF.
Sedangkan, aku dan dia berdebat panjang tentang urusan lebaran nanti. Maunya, segala sesuatu sudah mulai dipersiapkan dari sekarang. Kue-kue kaleng untuk tamu. Minyak Goreng yang harganya selalu melambung tinggi menjelang lebaran. Baju baru, kerudung baru, dan segala tetek bengek lainnya yang tidak pernah aku mau dengar. Aku hanya diam saja. Tak ada komentar mengalir dari mulutku.
Ternyata, dia malah tahu penyebab diamku.
"Kamu kok diem? Kamu nggak suka?
Aku tetap diam
"OK. Kamu boleh nggak suka dengan caraku, that will not stopping me!"
Aku masih diam. Mengikuti kemana saja langkahnya. Aku sengaja biarkan dia yang memilih saja semua kebutuhan itu. Aku tidak peduli walau pada akhirnya tagihan kartu kredit akan membengkak. Aku biarkan saja. Aku menunggunya didalam mobil. Aku mencoba mencari kesibukan sendiri sambil menunggu dia datang.
*****
Pikiranku mengarah pada perempuan itu. Perempuan yang kutemui dalam sebuah jamuan makan malam di pesta ulang tahun sahabatku. Hanya dari perkenalan semata, tapi aku serasa masih menginginkannya. Aku tahu ia sudah bersuami, sama sepertiku yang sudah beristri. Kita saling memahami satu sama lain. Seperti ketika suatu siang ia mengajakku lunch bersama. Obrolan yang kita bahas bukan masalah kejenuhan berumah tangga atau pun hal-hal lainnya yang masih berkaitan dengan keluarga dan rumah tangga.
Bukan saat yang tepat untuk berkeluh-kesah tentang keluarga dan rumah tangga serta tetek bengeknya dengan seseorang yang baru kita kenal. Kita bisa bicara panjang lebar tentang debat capres dan cawapres yang kehilangan esensinya sebagai debat publik. Belum lagi tentang serangkaian manuver politik kontestan pemilu capres. Ia terlihat paham sekali isu-isu yang berkembang saat ini. Mulai dari bagaimana neo-lib menancapkan tiangnya di negeri ini hingga konsep ekonomi kerakyatan yang tidak pernah menyentuh masalah rakyat yang paling utama. Ia juga tidak suka dengan konsep pemilu yang satu putaran saja. Tidak demokratis katanya.
Bukannya bermaksud membandingkan, tetapi itulah yang kusuka darinya. Tidak seperti istriku yang tahunya hanya begitu-begitu saja. Semakin cepat pemilu ini selesai, semakin cepat pula keadaan ekonomi akan membaik. Artinya, ekonomi rumah tangga tidak akan terlalu banyak menemui hambatan terutama masalah pembiayaan hidup ini yang tidak pernah henti-hentinya hanya untuk meyakinkan bahwa kita berdua besok masih bisa makan nasi. Tidak ada gunanya membahas visi dan misi capres, karena segala sesuatunya seperti sudah ditetapkan sebelumnya. Makanya, aku tidak pernah lagi mau membahas hal yang begituan dengannya.
Sudah dua bulan ini aku mengenalnya dan aku merasa dekat dengannya. Setiap membayangkannya, aku ingin segera menemuinya. Aku ingin selalu bersamanya kalau bukan karena bayangan istriku yang selalu menghujam jantungku. Harus kuakui, masih lebih baik mengangkat batu ke puncak gunung daripada bertengkar dengan istriku. Sangat tidak menyenangkan sekali rasanya ketika harus menghadapi marah seorang istri. Mungkin itu sebabnya, banyak suami yang kelihatan tangguh namun ternyata malah lebih takut sama istrinya sendiri. Dan aku termasuk salah satunya.
Sampai saat ini, aku masih berhubungan dengannya. Aku tidak berhubungan dengannya lewat facebook, e-mail, atau malah push-mail dari Blackberry. Aku pun tidak pernah mengirimkan SMS padanya. Bukannya aku menghindari hal-hal yang seperti itu. Aku hanya tidak ingin berlebihan dalam menggunakannya. Hanya sesekali saja lewat telepon, hanya untuk mengajak bertemu. Dalam suatu pertemuan denganku, ia bercerita bahwa ia sangat menikmati hubungan ini. Aku pun demikian. Aku menikmati saat-saat seperti ini. Aku rasa wajar saja bila aku melakukannya. Hanya pertemanan biasa saja, tidak lebih. Dan itu tentu saja tidak akan membahayakan pernikahanku-juga pernikahannya, walau tendensi menuju arah perselingkuhan selalu ada.
Semakin lama, semakin lucu. Tidak pernah ada rasa curiga dari istriku. Aku masih bisa menyembunyikannya. Aku tidak sedang menuai badai karena aku tidak (atau belum) melibatkan perasaanku dengan perasaannya. Tidak ada cinta dalam hubunganku dengannya. Kemungkinan itu masih selalu ada, dan aku tidak ingin memulainya duluan. Sudah beberapa hari ini aku semakin dekat dengannya. Kita jadi lebih sering bertemu. Entah bagaimana pun caranya ada saja kesempatan. Terlebih lagi istriku ternyata lebih senang menghabiskan waktunya di rumah saja.
Kesempatan itu memang sudah begitu adanya atau memang diciptakan. Waktu selalu membawaku bersamanya. Menghabiskan waktu menonton Transformers 2 di blitz megaplex. Duduk bersebelahan sambil menenggak Coca-cola Zero dan Pepsi Blue. Berlanjut hingga sekedar minum kopi di Kopi Tiam Oey. Semua itu berlalu begitu saja. Tidak ada suara dering handphone yang mengganggu. Pun ketika akhirnya bibirnya menempel pada bibirku hingga aku bisa rasakan detak jantungnya. Semua itu terjadi dan berlalu begitu saja.
*****
Aku sedang menulis SMS hingga sebuah pukulan keras menghantam kaca jendela mobilku. Rupanya istriku sudah datang dan menyuruhku untuk membantunya mengangkat semua barang belanjaan. Aku masih belum beranjak sampai SMS darinya tiba:
"weekend ke Bandung??? Hmmm… boleh juga tuh. You'll pick me right? Miss u!"
Kelapa Gading, 3 Juli 2009
*) Time Magazine, 13 July 2009, p.11













