Tampilkan postingan dengan label Pilot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pilot. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Oktober 2016

Episode Dibuang Sayang: Hari Untuk Niki


 
Courtesy: us.fotolia.com

Di pucuk pohon cemara, burung kutilang berbunyi
Bersiul-siul sepanjang hari, dengan tak jemu-jemu

Begitulah Nita mengiringi Niki menyanyi sepanjang jalan menuju ke sekolah. Hari ini, Niki akan memulai hari sekolah pertamanya. Niki sangat senang sekali. Itu bisa terlihat dari semangatnya untuk terus menyanyi bersama Nita. Niki boleh berbangga karena kedua orang tuanya, Aku dan Nita, ikut turut menemani hari pertamanya bersekolah. Aku dan Nita sengaja mengosongkan jadwal dan mengambil cuti untuk seminggu ini. Kami ingin melihat Niki melewati hari-hari pertamanya di sekolah.
Kemarin, Niki menghabiskan waktu seharian untuk membeli peralatan sekolah. Niki kelihatan tidak berselera untuk membeli mainan apapun. Niki memaksa aku dan Nita untuk menuruti keinginannya. Betapapun Nita telah mengingatkan Niki bahwa semua itu belum akan digunakan pada minggu pertama sekolah. Niki tetap pada pendiriannya. Ada pancaran semangat dari matanya. Kami pun mengalah.
Tidak berhenti sampai disitu, malamnya Niki bersemangat sekali untuk mempersiapkan peralatan sekolahnya. Buku tulis, pensil, kotak pensil, kotak makan, semuanya berwarna merah muda dan bercorak kartun kesayangan Niki, Hello Kitty. Niki seakan tidak sabar menunggu besok. Aku masih memperhatikan Niki menata semua alat sekolahnya itu dari ruang tengah. Begitu juga dengan Nita yang duduk menemani Niki dikamarnya.
Aku tahu Niki sebenarnya lebih menginginkan keakraban seperti biasanya. Aku, Niki, dan Nita jalan-jalan bersama. Sudah jadi kebiasaan kami seminggu sekali untuk mengajak Niki rekreasi ke luar rumah. Niki lebih membutuhkan waktu untuk bersama selalu dengan kedua orang tuanya. Aku dan Nita terus berusaha memenuhinya. Walau kenyataannya, aku sudah tidak bersama Niki dan Nita lagi. Aku dan Nita tidak ingin Niki kehilangan figur Papa dan Mama yang mampu jadi sosok teladan baginya.
Di dalam kamar,  Niki meminta Nita untuk menyanyi bersama. Rupanya, hadiah ulang tahun dariku tidak sia-sia. Niki menyenangi semua lagu yang ada di album kumpulan lagu anak itu. Aku juga senang melihatnya. Nita kelak tidak akan kerepotan mengajari Niki untuk menyanyikan lagu untuk anak-anak TK seusianya. Suatu hal yang sulit dilakukan karena saat ini anak-anak dengan mudahnya menyerap lagu-lagu yang tidak pantas dan sepatutnya mereka dengarkan. Aku dan Nita tidak akan pernah memaafkan diri kami sendiri bila hal ini sampai terjadi.
Niki masih menyanyi.
Kupandang langit penuh bintang bertaburan.
Berkelap-kelip seumpama bintang berlian.
Aku pergi keluar sebentar. Di meja teras, aku menemukan kertas-kertas berserakan penuh coretan tangan Niki. Aku perhatikan satu-satu. Lembar demi lembar. Aku tersenyum sendiri melihat coretan tangan Niki. Aku melihat Niki berusaha sangat keras untuk menuliskan kalimat yang dicontohkan Nita.
Niki naik sepeda.
Papa dan Mama naik mobil.
Niki sayang Mama dan Papa.
Ah, aku jadi merinding membayangkan bagaimana Nita mengajari Niki tulis menulis. Tidak hanya itu, aku pun hampir menangis mengingat Nita yang lebih dari sekedar sabar untuk mengajari Niki membaca alfabet dan angka.
Aku masuk lagi ke dalam rumah. Aku hendak menyalakan TV ketika aku mendengar Niki bertanya.
"Ma, Papa kapan nggak akan terbang lagi?"
"Lho kok Niki tanya gitu?"
"Habis Papa nggak pernah ada di rumah, Ma. Niki kan pengen sering jalan-jalan lagi sama Papa."
"Kan bisa sama Mama?"
"Iya, tapi Niki pengen sama Papa juga."
"Niki sayang, nanti kalo Papa lagi nggak terbang Papa pasti pulang."
Aku tahu saat seperti ini pasti amatlah sulit untuk  Nita hindari. Niki sudah sering bertanya seperti itu. Aku salut pada ketabahan Nita untuk menghadapi Niki dengan sejuta pertanyaan yang mungkin masih disimpannya. Aku tidak jadi menonton TV. Terlalu banyak hal yang berkecamuk di pikiranku.
*
Kami bertiga sudah sampai di sekolah. Niki sudah tidak sabar ingin segera turun dan masuk kelas. Nita dengan senang hati menuntun tangan Niki sambil terus mengembangkan senyumnya seperti saat mengajar di depan kelas. Menyapa dan mengobrol sebentar dengan orang tua murid lainnya yang juga datang untuk menyambut hari pertama anak-anak mereka bersekolah. Sementara, aku membawakan tas sekolah Hello Kitty warna merah muda kesayangan Niki. Aku segera menyusul dan berjalan di samping Niki.
Sekolah Niki tidak begitu jauh dari rumah Nita. Nita sengaja memilih sekolah TK yang dekat dengan rumahnya supaya tidak kerepotan mengurus Niki. Apalagi, sekolah tempat Nita mengajar juga tidak jauh dari sana. Pagi-pagi Nita akan mengantar Niki sebelum masuk kerja dan saat makan siang Nita juga yang akan menjemput Niki. Pengalaman Nita sebagai guru di sekolah internasional juga ikut menentukan pemilihan sekolah untuk Niki. Aku tidak bisa memberikan pendapat apa-apa selama itu merupakan keputusan yang terbaik untuk Niki. Aku hanya bisa mengiyakan saja keputusan Nita itu.
Aku sudah berdiri di depan kelas Niki. Aku dapat merasakan nuansa ceria dan keriangan dalam ruang kelas ini. Suasana kelas juga memberikan kesan yang nyaman untuk murid-murid didalamnya. Gambar-gambar dengan warna-warna ceria yang menempel di dinding, deretan rak buku di sudut ruangan, belum lagi karpet warna-warni dan segala macam boneka ikut memeriahkan suasana kelas. Aku yakin Niki pasti betah dan kerasan untuk belajar disini.
Aku bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada hari-hari selanjutnya. Setiap pagi, Nita akan selalu menyempatkan diri untuk mengantar Niki sampai depan pintu kelasnya. Nita akan menggiring tas koper Hello Kitty warna merah muda kesayangan Niki sambil tetap menggenggam tangan Niki. Nita pun akan selalu memasang raut muka penuh senyum seperti ia selalu tampil di depan kelas. Di muka kelas, Ibu Guru Tati akan segera menyambut mereka. Persis seperti apa yang terjadi saat ini.
“Selamat pagi, Niki.” Sapa Ibu Guru Tati.
“Selamat pagi, Ibu Guru.” Tukas Niki.
“Ayo, pamit dulu sama Papa Mama.” Ajak Ibu Guru Tati.
“Papa, Mama, Niki mau sekolah dulu ya.” Ucap Niki seraya mengulurkan tangan.
Aku melihat Nita tersenyum, mengulurkan tangannya yang kemudian diciumi oleh Niki, lalu Nita mengecup kening Niki. Niki pun menghampiriku dan melakukan hal yang sama. Aku balas memeluk Niki. Sebuah perasaan yang telah lama hilang menyeruak kembali.
“Papa, Mama, nanti jemput Niki, kan?” tanya Niki sebelum masuk kelas.
“Ya, sayang. Mama sama Papa nanti jemput Niki. Sekarang, Niki belajar dulu sama Ibu Guru ya.” Ucap Nita sambil mengusap rambut Niki.
Hari pertama menjemput Niki, aku bisa melihat rona bahagia pada senyum Niki. Niki tak henti-hentinya bercerita pada Ibunya tentang pelajaran yang baru saja didapatnya. Niki juga bercerita tentang teman-teman barunya. Seperti tadi pagi, Niki mengajak Nita untuk menyanyi lagi, kali ini dengan manja. Aku tertawa dalam hati melihat kelakuan Niki. Niki seperti tidak kehabisan energi. Aku mencuri pandang ke jok belakang, Nita terlihat sangat senang sekali. Bisa jadi saat seperti itu adalah satu dari sekian banyak momen terindah bagi Nita.
Niki tidak tahu apa-apa tentang perpisahan orang tuanya. Niki hanya tahu kalau Papanya seorang penerbang dengan jadwal yang tidak tentu dan hanya menemuinya saat sedang libur terbang. Niki tidak pernah protes, hanya saja aku yang memang tidak tega untuk melihatnya seperti itu. Tentunya, Niki ingin seperti  anak-anak lainnya. Punya kehidupan normal dengan orang tua mereka. Bersenda gurau setiap hari dengan orang tua mereka, jalan-jalan ke Mall untuk makan es krim, bahkan hanya untuk sekedar bermain di taman sekitar komplek perumahan.
Aku mencoba untuk tetap menjadi figur Papa yang baik di depan Niki. Bagaimanapun, perpisahan antara Aku dan Nita kemarin itu bukan sesuatu kita inginkan. Terlebih lagi, masih ada si kecil Niki. Tetapi, kita tidak bisa meminta takdir seperti meminta segelas bir. Kenyataan mengharuskan demikian.
Niki selalu bangga terhadap Papanya. Suatu hari, ia pernah buktikan itu dihadapan teman-temannya. Obrolan anak kecil selalu menarik untuk disimak apalagi ketika mereka saling meyebutkan pekerjaan orang tuanya. Mirip seperti dalam iklan televisi. Kebetulan waktu itu, aku menjemput Niki dan secara tak sengaja mengetahui hal itu ketika anak-anak asuhan Ibu Guru Tati itu sedang menunggu dijemput orang tuanya masing-masing. Saat seperti itulah yang membuatku selalu ingin cepat selesai bertugas dan kembali bertemu dengan Niki.
Suatu kali, Niki pernah bertanya sendiri kepadaku kapan aku akan berhenti menerbangkan pesawat. Aku sendiri tidak tahu jawabannya. Aku hanya membalas pertanyaan Niki dengan senyum. Aku ciumi keningnya. Suatu saat, Niki akan tahu alasan kenapa aku melakukan semua itu.
Kadang-kadang, Niki memintaku untuk membawanya ke Bandara. Niki selalu ingin ikut terbang. Salahku sendiri yang memang belum pernah membawanya tamasya bersama naik pesawat terbang. Niki selalu bilang bahwa ia juga ingin jadi seorang pilot. “Niki pengen bisa terbang kaya Papa..” begitu katanya. Nita tidak pernah melarang ataupun meralat pernyataan Niki. Nita seakan paham bahwa Niki hanyalah seorang anak kecil yang baru mampu berfantasi tentang masa depan. Nita tidak merasa harus mengontrol masa depan Niki sejak dini.
Seminggu telah berlalu sejak hari sekolah Niki yang pertama. Aku dan Nita akan kembali pada kesibukan masing-masing. Urusan antar jemput Niki sudah jelas menjadi kewajiban Nita. Aku hanya akan menemui Niki setiap tengah minggu dan akhir pekan. Seminggu pertama ini adalah hari-hari yang membuatku sadar akan pentingnya sebuah kebersamaan dalam keluarga. Dengan perkembangan Niki yang sudah sampai pada tahap ini rasanya aku ingin selalu menemaninya. Bersama mengiringi setiap langkah bersamanya. Melihat Niki tumbuh besar tanpa kekurangan suatu apapun. Aku ingin Niki merasakan arti sebuah keluarga sejak kecil.
Cuaca pagi ini terasa begitu hangat dan cerah. Angin berhembus pelan. Matahari mulai keluar dari persembunyannya di ujung sebelah timur mata angin. Niki masih tidur ketika aku datang. Nita sedang menyiapkan seragam sekolah dan bekal makanan Niki. Aku meletakkan buku kumpulan dongeng itu dalam genggaman Niki. Nanti malam, usai bertugas aku akan membacakan dongeng-dongeng didalamnya hingga Niki lelap tertidur dipelukanku.
*
Tower, this is Selendang Air Flight ALH779, heading northwest, reporting emergency situation, one engine inoperative due to flame out, request clearance for emergency landing.
Aku masih membaca emergency procedures di FCOM usai mengontak ATC. Pesawat yang aku terbangkan mengalami masalah kebakaran mesin. Aku mengambil mikrofon dan mengumumkan situasi darurat pada penumpang. Aku akan segera mendaratkan pesawat ini. Kabut menutupi pandanganku. Aku melihat bayangan Niki yang semakin samar dan pudar. Aku tidak melihat apa-apa lagi. Aku hanya melihat titik-titik berwarna putih. Perlahan semakin banyak dan menutupiku.

Jakarta, 10 Mei 2012.
Dibuat untuk kompilasi cerita pendek untuk menyambut Hari Anak Nasional Tahun 2012.


Jumat, 30 September 2016

Belajar Membaca Weather Information






I'm looking for a complication...
Looking cause I'm tired of trying...
Make my way back home when I learn to fly high...
Foo Fighters - Learn to Fly (1999)


Ada alasan kenapa saya perlu menulis catatan ini disini, dalam blog yang searchable dan customizable. Selain mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi orang lain, catatan ini juga sebagai penanda atas segenap ketidakbisaan saya. 

Personally, reading and defining weather report is my biggest weak (and problem). Saya hanya menghadiri kelas selama 1 hari saja dari jadwal yang seharusnya 4 hari, khusus untuk subject Meteorology dalam Ground Class FOO. Bukan disengaja, namun kelahiran Aldebaran mengharuskan semuanya jadi demikian. Saya bersyukur bahwa Aldebaran dan Ibunya sehat dan selamat.

Back to the topic, membaca laporan cuaca berupa raw data dalam format penulisan METAR dan TAFOR memang butuh penafsiran dan cara membaca yang khusus. Beruntung, seorang kawan menyarankan saya untuk belajar lewat buku tipis terbitan dari FAA (Federal Aviation Administration). Buku berjudul "General Aviation Pilot's Guide to Preflight Weather Planning. Weather Self-Briefings, and Weather Decision Making" ini tebalnya hanya 35 halaman. Terhitung tipis namun pendekatan yang digunakan untuk menganalisis laporan cuaca straight-in into subject.

Pemahaman yang baik tentang fenomena cuaca tentunya berpengaruh sebagai upaya mitigasi dalam menanggulangi hazard, khusus untuk hal ini adalah natural hazard berupa weather. Pilot dan FOO/Dispatcher pun mampu belajar untuk mengukur resiko penerbangan dari analisa fenomena cuaca. Karena memang buku ini diterbitkan sebagai advisory bagi masyarakat penerbangan di Amerika Serikat, tentu pengetahuan tambahan tentang operasi penerbangan General Aviation disana turut membantu pembaca dalam merencanakan perjalanan penerbangan yang aman dan selamat.

Buku tipis ini memberi pemahaman yang lebih mudah dimengerti lewat pembagian fenomena cuaca dengan tabel bantu. Tidak hanya itu saja, walaupun buku ini intended to General Aviation which is in Indonesia ditafsirkan sebagai penerbangan pesawat kecil (charter, perintis, atau non-komersial); pelajaran mengenai briefing dan planning dapat diterapkan juga pada praktik operasional harian dari penerbangan komersial berjadwal dan tidak berjadwal sekalipun. Learn and get the substances.
 
Jika pembaca berminat, publikasi terbitan FAA tersebut bisa didapatkan dari link berikut: GA Weather

Selamat belajar.
 
 
Cipayung, 29 September 2016.

Selasa, 22 Oktober 2013

Surat Pengunduran Diri

Ada perasaan yang berbeda saat membaca sebuah surat pengunduran diri seorang kawan. Sebuah pernyataan tegas bahwa ia akhirnya memutuskan untuk melepas segala yang pernah diraihnya disini. Meninggalkan semua yang telah bekerja bersama, bahkan bermain futsal dan berkeringat bersama. I've been there for one or twice. Setidaknya, saya paham bagaimana rasanya mengalami hal seperti itu.


Bagaimanapun, perpisahan serapi apapun dipersiapkan tetap saja pahit ketika diungkapkan. Semua terjadi demi satu alasan. Saya tidak perlu mengkonfirmasi alasan dibalik pengunduran dirinya. Saya percaya bahwa ia telah menunjukkan kuasa atas nasibnya sendiri. Ia telah menjadi cahaya bagi gelapnya hari di depan sana. 

Usai membaca suratnya, saya hanya bisa mengenang kembali tawa-tawa itu. Soal guyonannya sepulang dari Bangkok, mulutnya yang tak berhenti berkicau sepanjang perjalanan Bogor-Sentul untuk mencari 'PSK', hingga kelakuannya setiap bermain futsal; tidak pernah serius tapi selalu bikin gol. Satu yang tidak akan pernah saya lupa darinya adalah sepatu futsal brand premium yang sengaja ia beli ketika tahu bahwa sore itu kami akan menggelar futsal rutin. Ia bilang "Kalau beli barang yang bagus sekalian, biarin mahal juga. Kalau memang pas dapet yang murah, itu rejeki loe!."

Saya memang sudah jarang lagi bertemu dengannya. Terakhir, minggu lalu di sebuah training internal. Setiap kali ngobrol dengannya selalu saja ada cerita yang membuat kami tertawa. Itulah yang kami rindukan darinya. Saat ini, mungkin ia sedang menunggu jawaban dari surat pengunduran diri itu. Sambil mengangkasa entah ke belahan bumi mana. Bye, Capt. We'll miss you. Thank you for being a funny and humble jumbojet skipper in our line-up.

Paninggilan, 22 Oktober 2013.

Jumat, 12 September 2008

Selendang Air Batal Terbang - Catatan Seorang Pilot

Kabar yang tiba pagi ini dari sebuah harian ibukota memang membuat perasaanku sedikit lega. Beginilah ceritanya.

*****

Larangan Terbang dan Pembatalan Keberangkatan Tujuan Negeri Kabut

JAKARTA, KEMPES (12/9) - Dengan masih diberlakukannya larangan terbang untuk airline Indonesia ke Uni Eropa maka Indonesia telah kehilangan potensi pemasukan dari sektor pariwisata. Namun, hal ini tidak menjadi masalah bagi Selendang Corporation, holding company dari Selendang Air yang berbasis di Bandung dan Singapura. Selendang Air kini mengoperasikan hanya 1 unit pesawat jenis Boeing 777-228ER yang berada di Singapura untuk penerbangan internasional dan 1 unit Boeing 737-200 untuk penerbangan domestik antar kota. Ketika ditanyai mengenai jumlah armadanya itu, Aninda, GM Corporate Communication Selendang Air hanya mengatakan bahwa mereka sedang menunggu kedatangan 2 unit pesawat baru jenis BAe 146 Learjet dan Airbus A380. "Larangan ini jelas bukan masalah bagi kami karena kami masih bisa terbang ke Eropa sana dengan menggunakan bendera Singapura. Ini bukan masalah nasionalisme, ini murni bisnis semata." seperti yang diungkapkan oleh Selendang Merah, CEO Selendang Corporation (SLEC). Hal ini diungkapkannya dalam acara press conference "Negeri Kabut: Delayed" kemarin di Selendang Grand Hotel. Pembatalan ini terpaksa dilakukan oleh SLEC karena peringatan dari Departemen Transportasi dan Departemen Pariwisata Negeri Kabut. Hampir semua calon penumpang mengaku tidak keberatan atas pembatalan ini karena mereka telah mendapatkan penjelasan yang sedetail mungkin dari SLEC dan pengembalian penuh (refund) telah dilakukan. "Yang jelas dengan pembatalan ini kami masih punya waktu untuk mempersiapkan lebaran tahun ini" jelas Johnny, seorang Pengusaha yang batal berangkat ke Negeri Kabut.

*****

Aku hanya terdiam sebentar untuk melanjutkan bacaanku sambil berpikir. Aneh sekali tulisan itu. Fokus tulisan itu kemana? Apakah imbas larangan terbang mempengaruhi kinerja Selendang Air atau malah konferensi pers tentang pembatalan pemberangkatan ke Negeri Kabut.

Yang pasti dengan adanya berita itu aku masih bisa santai. Betul apa kata si Pengusaha itu. Aku jadi punya banyak waktu untuk menyiapkan lebaran tahun ini. Aku juga masih belum tahu apa aku akan jadi berlebaran karena belum ada pengumuman resminya kapan mulai libur dan yang paling penting adalah kapan THR akan dibagikan. Di hari puasa yang ke-12 ini aku masih bisa santai. Sambil tetap mempersiapkan diri untuk terbang. Boeing 777 yang baru itu masih dalam proses final check untuk dibawa ke Indonesia.

Setidaknya, jadwal ujicoba pesawat baru sudah keluar. Madura-Madrid, Jakarta-Jepara, Bandung-Bandar Seri Begawan, dan Malang-Maladewa. Aku malah bingung, ini jadwal terbang pesawat atau apa. Aku sedang tidak ingin memikirkannya. Aku hanya ingin memikirkan dia.

Terlepas dari berita yang kubaca ini. Aku bertemu dengannya kemarin. Aku pernah cerita tentang dia kan? Yang dulu pernah kuajak dangdutan di Gasibu. Aku bertemu lagi dengannya. Namun kini dia tidak lagi sebagai pramugari. Sejak dia resign dari Selendang Air, aku tidak tahu lagi kemana jejaknya. Namun, kemarin dia terlihat berbeda walau masih dengan lipstik merah menggoda. Dari Nicole Kidman sampai Nicole Richie belum pernah aku lihat yang seperti dia. Aku hanya mengamatinya sekilas dari jauh tanpa menyapanya. Aku ikuti dia hingga ke parkiran. Sudah ada lelaki yang menunggunya. Siapa dia? Aku sedikit terkejut. Hah, yang kaya begini ini sudah sering kurasakan jadi aku tinggalkan saja dia. Dan tiba-tiba saja, sekarang, keesokan harinya, aku ingin memikirkan dia.

Apakah aku mulai terbakar api cemburu yang dahsyatnya bagai api yang membakar Alengka*)? Aku rasa tidak, mungkin saja lelaki itu hanya supirnya yang selalu menunggunya. Berarti, hebat sekali dia, sudah jadi apa dia sekarang? Atau mungkin saja seseorang telah menjemputnya dan janjian bertemu di parkiran? Masuk akal. Atau? Ahhhh, Kalau sudah begini pasti masih banyak atau yang lain. Entah mengapa aku tiba-tiba begini. Padahal, dia sudah lenyap dan berlalu dari hidupku. Aku tidak akan banyak bertanya lagi. Aku hanya ingin diam dan sendiri sambil melanjutkan tidurku.


Bukit Pakar Timur 100, 12 September 2008, 16.55


*) dari cerita wayang Ramayana, bagian Hanoman Membakar Alengka

Kamis, 28 Agustus 2008

Ada Lagi Yang Jatuh - Catatan Seorang Pilot

bangka pos


Satu hari dalam hidupku aku bisa tertawa lepas. Tertawa bukan karena sesuatu yang lucu. Tetapi karena peristiwa yang bodoh. Sore itu aku hanya diam di rumah dan membuka gablegzone.com, situs news & entertainment milik rekanan Selendang Corporation, ScarfMedia. Aku tertawa karena news update hari ini dipenuhi dengan headline yang seperti ini: 1) Sriwijaya Air yang Tergelincir Sudah Berusia Tua (Pesawat tua kok masih dipake, terus jatuh nyalahin umur, Aneh), 2) Gerimis, Sriwijaya Air Tergelincir di Jambi (Cuaca ikut disalahin! Aneh), 3) Pesawat Sriwijaya Tergelincir karena Rem Rusak (Nyalahin mekanik? Aneh). Aneh. Ada banyak sesuatu yang aneh.

Setelah dibaca, ternyata memang beritanya tidak cukup komprehensif, namun itulah sifat media sekarang apa lagi untuk media online dimana ketepatan dan kecepatan wartawan dalam menulis memang dituntut. Aku hanya tertawa, namun kemudian cukup tersenyum-senyum saja sendirian berteman segelas kopi aceh, biskuit, dan mantapnya Garfit. Aku membayangkan bahwa tidak hanya aku saja yang tertawa, tetapi juga para Bapak-bapak yang terhormat yang berada di Uni Eropa terutama itu tuh si Presiden Komisi Eropa, Jose Manuel Barroso. Aku seakan-akan bisa mendengar tawa dan obrolan mereka yang membahana di ruangan kerja mereka masing-masing dan saling mengirim pesan melalui YM.

***

presiden : lihat tuh pesawat indonesia jatuh lagi.. ha ha ha

wapres : iya tuh masih sering jatuh, minta larangan dicabut,

presiden : iya, mana SBY sampe ngajak ketemuan di Istananya, udah liat beritanya? baca aja disini: http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2007/11/23/brk,20071123-112176,id.html

wapres : belum tuh, saya baca sekarang

ketua komisi transportasi eropa : pak presiden komisi, lihat 737 kissing the sawah lagi hwahahahaha

presiden : hahaha ini lagi dibahas juga

ketua komisi transportasi eropa : saya tambah lagi saja banned time nya ya ;)

presiden : setuju :-D

wapres : silakan, biar kapok sekalian, udah tau pesawat tua, masih dipake, punya Boeing pula, beli Airbus donk

ketua komisi transportasi eropa : iyah, biar kita nggak jadi PHK karyawan kaya Indonesian Aerospace a.k.a PT.DI itu, btw situ kenal menteri perhubungan Indonesia itu?

wapres : kenal deket sih nggak, cuma trek rekord nya saya tau

presiden : iyah, dia kan mantan direktur utamanya PT.DI yang lengser gara-gara didemo semua karyawannya

ketua komisi transportasi eropa : oh ya,?

wapres : emang bener Bos, kita udah ngintelin dia dari dulu, eh sekarang jadi menteri, apa kita mau percaya sama dia?

presiden : mimpin perusahaan aja didemo semua karyawannya, lha kok dipercaya mimpin departemen?

presiden : kalo ada yang jatuh selalu aja nyalahin cuaca, nggak mikir apa pilotnya yang salah

ketua komisi transportasi eropa : iyah, itu mahh pilotnya yang salah, kelebihan, nggak bisa liat titik tolak untuk landing, ya pasti mbreset gitu kan...

wapres : ho oh

presiden : iyah, pilotnya juga geblek, terus nyalahin pesawat tua, pesawat spain air yang kemaren kobong di madrid juga pesawat tua kan? tapi itu murni accident. at least, di eropa kita percaya deh maintenancenya, di indonesia? ntar dulu deh, eh diberita yang di geblegzone.com mereka nyalahin rem pula, emang landing ngerem ya, kalo gitumah remnya ngelock terus mbreset ya wajar toh...

ketua komisi transportasi eropa : lho.. pak presiden sudah diceritain sama si eks mekanik adam air itu toh?

presiden : sudah

*****

Kira-kira begitulah yang mereka bicarakan. Mereka bisa dengan puas melihat berita itu. Bahkan, salah satu dari mereka mungkin sedang mempertimbangkan kemungkinan untuk memperpanjang larangan terbang ke sana, ke Eropa. Harusnya aku ikut berduka, karena Selendang Air juga berbendera Indonesia dengan kode PK, yang tentu kena imbas larangan itu. Tapi, aku tidak ikut pusing. Aku sudah pernah melewati hadangan barikade Uni Eropa dengan pesawat yang kurang lebih sama dan tidak terjadi apa-apa dengan pesawatku. Aku masih bisa selamat. Buktinya kini aku masih bisa menulis catatan ini sambil menunggu Boeing 777-228ER yang baru itu selesai di maintenance di GMF.

Aku belum tahu bagaimana reaksi Selendang Merah bila membaca berita ini. Aku kira itu tidak penting. Tapi sebagai pemimpin perusahaan bolehlah dia berpikir sekali-kali tentang keselamatan penerbangan maskapainya. Hari ini hujan turun deras sekali, apakah sederas dengan yang kemarin turun di Jambi? Aku tidak tahu. Bukan urusanku. Sekarang aku hanya ingin duduk santai menikmati hujan,masih dengan kopi yang mengepul sambil menamatkan buku itu, "Negeri Kabut".


Bukit Pakar Timur 100, 28 Agustus 2008, 13.16


NB: Tadinya judul tulisan ini Ksatria dan Pesawat Jatuh, nah siapa ksatrianya?
*) Gambar diambil dari okezone.com courtesy of Bangka Pos

Sabtu, 23 Agustus 2008

Tujuan: Negeri Kabut - Catatan Seorang Pilot v.3


Armada baru Selendang Air tiba. Boeing 777-228ER yang diplot sebagai pengganti Boeing 737-200, yang juga gambarnya sering kusertakan di setiap catatanku yang kemarin. Pesawat ini sebenarnya tidak terlalu baru. Pertama kali dirilis tahun 1993 dan sampai sekarang masih diproduksi. Pesawat ini terbang pertama kali pada tahun 1994. Sekarang sudah 2008, berarti pesawat ini sudah lumayan berumur. Tapi, kalau memang pesawat baru ini benar-benar baru keluaran 2008, aku memang ingin segera menerbangkannya.

Sesuai tugasnya, pesawat pengganti ini akan melayani berbagai tujuan (yang tentunya aneh-aneh). Tugas pertama pesawat ini adalah: Negeri Kabut. Seperti apa yang pernah kuceritakan kemarin. Namun, terjadi pengunduran jadwal karena rupanya Departemen Pariwisata Negeri Kabut meminta kami untuk menggunakan pesawat selain Boeing 737 dan variannya. Hal ini disebabkan oleh ketebalan kabut yang sering berubah-ubah sehingga dikhawatirkan pesawat tidak mampu terbang dengan baik dan membahayakan keselamatan penumpang. Mereka menghimbau supaya kami mempersiapkan pesawat yang lebih baik dan (tentunya) lebih baru dari Boeing 737-200 yang kami punya kemarin.

Nampaknya, para Pejabat di Departemen Transportasi Negeri Kabut memang mengerti semua yang telah terjadi di negeri kami yang terkena larangan terbang ke wilayah Uni Eropa, dan tentunya mereka tidak mau itu terjadi lagi di Negeri Kabut. Mereka cukup pintar untuk memberi peringatan kepada setiap wisatawan yang akan datang berkunjung ke Negeri Kabut. Peringatan itu kami sambut dengan sebuah perubahan besar. Selendang Merah akhirnya menepati janji untuk mendatangkan pesawat baru. Para wisatawan pun mengerti dengan adanya himbauan ini dan tanpa banyak komplain mereka menerima saja keputusan kami yang mengubah jadwal penerbangan. Lagipula, siapa yang mau mati di ketinggian 2000 kaki di tengah kabut tebal dengan pesawat tua?. Aku pun tidak mau track recordku tercemar. Dan memang, siapa yang akan menolak terbang perdana dengan pesawat baru ke sebuah tujuan yang baru pula? Aku rasa kalau pun ada mungkin orang itu sedang goblok*).

Pesawat baru telah tiba. Tujuan sudah di depan mata. Penumpang sudah mengantri. Aku harus bersiap. Aku tidak perlu lagi kursus di Boeing Training Center untuk sekedar menerbangkan simulator Boeing 777. Aku sudah terbiasa jadi nampaknya tidak terlalu sulit untuk beradaptasi dengan pesawat bermesin Rolls-Royce ini dengan kemampuan daya angkat 85.000 lbf (378 kN). Mekanik pun belum sempat mengecek pesawat ini pada saat aku berada di landasan untuk menyambutnya. Aku hanya ingin minta mekanik sahabatku itu untuk melepas semua peralatan terbang milikku yang masih melekat di Boeing 737-200 itu. Kalau perlu, ia kusuruh memperbaiki pesawat milik Angkatan Udara dari Negara tetangga dan mengambil seluruh peralatan pengintainya, lalu dipasangkan di pesawat baru yang belum ku beri nama itu. Tapi, rasanya yang kemarin pun sudah cukup. Kalau cuma beda soket power mungkin ia bisa memodifikasinya. Ah, dia pasti sanggup.

Selendang Merah tidak banyak berkata ketika pesawat ini tiba. Dia hanya memandanginya dan memintaku untuk mengatur semuanya. Dan aku pula yang diserahinya tugas untuk memberi nama panggilan untuk pesawat ini. Belum terpikir olehku namanya. Kalau mungkin, tadinya akan kuberi nama Hanoman, tentu aneh mengingat Gatotkaca (N-250) dan Tetuko (CN-235) pernah digunakan pesawat buatan IPTN itu. Aku sedang membaca Kitab Omong Kosong dan sudah sampai pada bab Hanoman Membakar Alengka, yang dalam Ramayana versi Jawanya disebut juga Anoman Obong. Maka, hanya itu saja yang terpikir olehku sekarang.

Hanggar sudah ditutup. Aku akan segera pulang. Tukang Pos datang hari ini. Ia mengantarkan sebuah buku. Aku ingin membaca buku itu yang juga masih dari pengarang yang sama dengan Kitab itu, buku itu judulnya "Negeri Kabut" juga.


Bukit Pakar Timur 100, 23 Agustus 2008, 17.32


*) mengikuti lirik lagu Iwan Fals, Mata Indah Bola Pingpong, "...kalau ada yang tak suka, mungkin sedang goblok..."

Sabtu, 16 Agustus 2008

Selendang Air Terbang Lagi - Catatan Seorang Pilot v.2


Di satu pagi yang indah sekali*) aku bangun tak biasanya. Aku terbangun karena mendengar suara orang banyak berkerumun di depan rumahku yang cuma tipe 36 itu. Oh rupanya mereka sedang beramai-ramai bekerjasama untuk memasang umbul-umbul dan bendera untuk memeriahkan kemerdekaan negara ini. Karena kamarku di lantai atas aku bisa melihat mereka semua. Anak-anak kecil yang berlarian sambil membawa bendera pada sebatang lidi, ibu-ibu yang tiba-tiba lupa memberhentikan tukang sayur dan lupa membuatkan sarapan, bapak-bapak yang masih mengenakan sarung sambil merokok. Semuanya berkumpul. Aku juga lihat pemuda dan remaja sedang memasang gawang di lapangan.

Maka ketika mereka melihat ke arahku. Mereka hanya tersenyum. Mereka maklum. Karena pekerjaanku seorang pilot. Seorang pilot dengan jadwal terbang yang tak tentu. Kadang sebulan aku tidak pulang, kadang pula hanya dirumah saja. Semuanya terjadi begitu saja. Tetapi, mereka masih menunjukkan rasa hormatnya padaku. Toh, aku bukan siapa-siapa, jadi aku tidak terlalu terbebani ketika mengeluarkan 5 lembar uang 100ribu untuk sekedar konsumsi mereka pagi ini.

Ketika aku sedang melamun di teras sambil merokok dan minum kopi, tiba-tiba saja henponku bernyanyi "...masihkah kau ingat... sayang...."**) lagu itu lagi. Artinya, ada telepon masuk. Hmmm. Selendang Merah menelponku. Ada apa ya, apa karena aku melanggar larangan terbang dari Uni Eropa kemarin, yang melibatkanku pada sebuah pertarungan hebat hingga akhirnya Departemen Luar Negeri dan Departemen Perhubungan turun tangan. Aduh, sial pikirku.

"Siapkan pesawat sekarang!"
"Tapi masih di GMF^), Pak."
"Siapkan sekarang. Kamu terbang hari ini. Temui saya dengan pesawat dan seluruh armada darat jam 10 tepat."
"Segera, Pak"
"Jangan lupa helikopter yang selalu kita pakai ke sawah dan ladang itu"
"Siap, Pak"

Aku tidak pernah bisa menolak panggilan sekaligus perintah Selendang Merah. Aku hanya bisa menurutinya itu saja. Aku tidak peduli apakah perintahnya benar atau salah. Itu bukan urusanku. Urusanku hanya menerbangkan pesawat, titik. Tapi, aku juga heran kenapa ia menyuruhku juga untuk menyiapkan seluruh armada. Bukannya si Sarman yang mantan reserse itu. Ah, lagi-lagi aku hanya bisa mengikuti perintahnya. Hari ini pasti ada yang terjadi. Sesuatu yang besar untuk Selendang Merah. Ah, lagi-lagi-lagi itu bukan urusanku. Tapi, mungkin saja. Logis.

Aku menemuinya di base Selendang Corporation. Ia tidak banyak berkata. Ia hanya bilang, "hari ini semua armada akan digunakan ke Garut. Batalkan seluruh jadwal terbang dan perjalanan." Untungnya, hari ini semua armada sedang off karena tidak ada jadwal.

"Sarman, pimpin seluruh armada darat ke Jatinangor, Cirebon, dan Jakarta, Siapkan juga 1 bus di dekat gerbang tol Pasteur. Midun, kau bawa 737."
Tinggal aku yang belum disuruhnya.
"Kau denganku di heli"
Sudah kuduga.
"Ada pertanyaan?"
Semua diam
"Hari ini sahabatku akan tunangan. Saya minta anda semua menjemput semua teman saya yang di Bandung, Jatinangor, atau bahkan yang luar kota sekalipun, ini alamat dan kontak mereka. 737 disiapkan untuk mengangkut rombongan dari keluarga teman saya. Saya minta ba'da dzuhur semua sudah tiba di Jl. Patriot Dalam 1 No. 12. Tarogong. Tidak ada yang telat."
Semua mengangguk. Tanpa aba-aba semua bubar.

Memang semua armada darat kami adalah yang terbaik dan berbeda dari kebanyakan perusahaan travel. Kami punya Toyota Land Rover untuk angkutan reguler, Nissan Elgrand yang entah sama rasanya dengan Toyota Alphard, dan puluhan Toyota New Camry, serta 10 unit bus SAAB-SCANIA dari Swedia. Rasanya, kalo kami masih telat kami pasti malu.

Selendang Merah masih berada di kantor denganku. Rupanya ia sibuk mengatur teman-temannya agar mau datang ke Garut. Aku hanya mempersiapkan helikopter. Membuka tudungnya dan membuka kotak peralatan untuk membuka peralatan tempur yang menempel. Aku hanya menyesuaikan saja dengan tema hari ini: Pertunangan. Tidak lucu kalau kami datang ke pertunangan sahabatnya dengan peralatan tempur yang fully-loaded. Kita sudah merdeka Bung!.

"Siap-siap, kita terbang 30 menit sebelum Dzuhur. Kita shalat dulu di Masjid Raya Tarogong. Lalu, pulangnya kita makan dan berendam di Sumber Alam***)"
"Siap, Pak."
Sekarang aku yang bingung, helikopter Apache seperti yang kau lihat ini mau diparkir dimana?

Bukit Pakat Timur 100, 16 Agustus 2008, 17.49

****)dibuat untuk 2 sahabat yang akan segera bertunangan, Vita-Waluyo. Anda Inspirasinya.

^) GMF, Garuda Maintenance Facility, fasilitas maintenance pesawat maskapai Garuda Indonesia Airlines

*)Koes Plus, Pagi Yang Indah
**) Iis Sugianto - Jangan Sakiti Hatinya
***) Sebuah resort di Cipanas, Garut

Kamis, 14 Agustus 2008

Catatan Seorang Pilot Selendang Air


Dalam hidupku yang biasa ini aku merasa tak ada lagi yang harus dan bisa kuceritakan. Apa lagi yang harus kuceritakan? Sebagai seorang pilot tugasku hanya menerbangkan pesawat. Itu saja. Aku hanya lihat awan-awan itu diatas sana. Belum lagi segala alat instrumen penerbangan. Mulai dari tekanan bahan bakar, hidrolik, dll, di dalam kokpit. Untuk urusan yang satu ini aku hanya ingin agar penumpang (dan aku juga tentunya) selamat di perjalanan. Aku tidak mau mendadak harus mendarat darurat di sebuah tempat terpencil hanya gara-gara instrumen di kokpit tidak berfungsi. Aku harus memastikan semuanya bekerja dengan baik. Walaupun ada campur tangan mekanik disana. Itulah bagian dari pekerjaanku.

Aku hanya menerbangkan pesawat. Mungkin kau bertanya bagaimana rasanya, bagiku rasanya sama saja dengan mengendarai motor atau bahkan delman sekalipun. Bedanya, pesawat bisa terbang dan nggak bisa dibawa sembarangan. Tidak bisa ugal-ugalan di jalan tol. Kalau aku tidak menjadi pilot tentu aku sudah memilih menjadi supir travel atau bus saja. Tapi yang lewat Tol Cipularang saja. Supaya aku bisa ngebut sengebut-ngebutnya.



Pernah sekali dalam hidupku yang begini ini aku tertarik pada seorang pramugari. Aku rasa umurnya sekitar 22 an. Kakinya semampai (bukan semeter tak sampai). Lekuk badannya begitu mempesona dibalut atasan satin ketat berwarna emas. Ah, ingin sekali rasanya ia yang jadi temanku terbang. Bukan si Midun itu yang hafalnya cuma rute Bandung-Jakarta saja. aku tahu dia juga suka padaku. Kami sering menghabiskan waktu bersama kala transit di kantin Bandara. Bahkan, kalau kami sedang off, kami sering jalan-jalan ke sebuah tempat di Bandung Utara. Pernah juga kami tenggelam dalam lautan manusia di dalam sebuah konser dangdut di Gasibu. Tapi bagiku itu tidak ada artinya ia hanya berlalu begitu saja. Seperti air putih yang hanya menghilangkan haus sekejap. Seperti itulah wanita-wanita berlalu dalam hidupku.

Hei, Tidakkah kau mau bertanya padaku bagaimana aku bisa bergabung dengan komplotan Selendang Air yang berada di bawah Selendang Warna Corporation, dengan seorang bos yang sering disebut sebagai Selendang Merah. Ah.. selendang merah mengingatkan aku pada sebuah lagu Anita Tourisia.

Tidakkah juga kau mau bertanya padaku tentang rasanya terbang ke Negeri Senja? Aku sempat merinding ketika membaca sebuah website yang membahas tentang Negeri Senja. Disana dituliskan bahwa siapa saja yang pergi kesana tidak akan bisa kembali. Aku menjadi ketakutan. Aku telah melewati bermacam-macam jenis badai dan aku tidak takut. Namun, mendadak aku menjadi ketakutan. Setelah aku tenang, aku berpikir. Aku hanya mengantarkan penumpang saja. Tidak lebih. Aku tidak akan menginap disana karena bandara disana kecil sehingga aku harus langsung kembali ke base. Justru penumpang lah yang akan berada disana dan tidak akan pernah kembali selamanya. Ha ha ha. Mungkin mereka semua memilih jalan keabadian. tapi, bukankah keabadian hanya ada di Surga? (untuk anda yang percaya kalau surga itu benar ada).

Tidakkah kau mau juga bertanya padaku tentang rasanya terbang ke Negeri Kabut? Hmm. minggu depan aku baru akan pergi kesana jadi aku minta simpanlah dulu pertanyaanmu. Tunggu aku kembali dari sana. Kalaupun aku mau, aku hanya ingin berhenti barang semalam saja. Karena esok paginya aku ingin melihat bagaimana wanita itu keluar dari apartemennya lalu membuka lingerie tidurnya, menampakkan buah dadanya hingga terlihat seekor kupu-kupu menjelma dari buah dadanya. Aku juga ingin tahu yang orang sebut sebagai Tempat Terindah untuk Mati. Kalau sempat aku akan membawa pesawatku melintasinya dan mengambil foto udara. Tua-tua begini pesawatku masih bisa ditambah perangkat foto udara, seorang mekanik sahabatku yang memasangkannya. Dia bilang, dia ambil alat ini kala dia menyervis pesawat intai milik Angkatan Udara sebuah negara tetangga.

Apa kau mau tahu rasanya terbang dari Bandung-Magelang-Yogyakarta via Madrid-Helsinki? Rasanya hanya seorang penumpang yang gila saja yang memintaku untuk mengantarkannya kesana. Bagaimana tidak, pesawatku berkode PK yang artinya kode dari Indonesia. Dan kau tahu sendiri kalau semua pesawat Indonesia kena larangan terbang oleh Uni Eropa. Tapi aku harus tetap terbang ke Madrid dan Helsinki. Kau tentu mau tahu bagaimana aku bisa lolos melewati hadangan barikade Uni Eropa ketika aku masuki wilayah udara terluar mereka. Lalu bagaimana pesawatku yang cuma Boeing 737-200 yang tua itu dikejar oleh E-2000 Eurofighter dan satu skuadron panAvia Tornado yang siap melepaskan rudalnya kapan saja. Lalu, belum lagi satu skuadron Harrier sudah menunggu ketika aku melintasi selat Channel. Ah, buatmu itu tidak terlalu penting.


Bukit Pakar Timur, 14 Agustus 2008, 19.20


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...