Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Juni 2017

Catatan Hikmah (3)

Kita semua perlu belajar kepada Cak Nun bagaimana seharusnya memahami semua itu menurut al-Quran
Sumber gambar: caknun.com
Yang membedakan Islam dengan kebudayaan, Islam dengan industri, Islam dengan selera pribadi, Islam dengan kepentingan politik, Islam dengan segala macam acual nilai ciptaan manusia adalah akar dan sumber pertimbangan dari kemaslahatan dan kemudaratan itu. Bagi Islam, maslahat dan mudarat itu didasarkan pada nilai Allah. Pada yang lain, dasarnya adalah sumber-sumber kepentingan yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan sunnatullah dan iradatullah.
Jakarta, 9 Juni 2017

Penggalan artikel “Matriks-Lima dan Asas Maslahat-Mudarat” dalam buku ‘Tuhan Pun “Berpuasa”’, Emha Ainun Nadjib, Gramedia Pustaka Utama, 2012.

Senin, 05 Juni 2017

Catatan Hikmah (2): Perlunya Ilmu Kematian

Kegiatan puasa adalah perjalanan melancong ke tepian jurang kematian, meskipun engkau sadar untuk membatasinya sehingga tidak melompat masuk ke jurang itu. Perjalanan melancong itu, dalam puasa yang dikonsepkan dengan batas-batas sehat, sekadar mengajakmu untuk mengalami dan menghayati situasi yang seolah-olah antikehidupan, misalnya lapar; dahaga, lemas, loyo, lumpuh, dan seterusnya.

Sumber gambar: caknun.com

Di dalam puasa atau pekerjaan apa pun, substansi yang terpenting adalah kesadaran tentang batas. Batas yang benar pada sesuatu hal akan merelatifkan hakikat suatu pekerjaan dan kondisi. Umpamanya tadi aku sebut bahwa lapar dan haus adalah situasi yang antikehidupan. Itu artinya bahwa lapar dan haus yang tidak dibatasi akan memproduksi mati. Tetapi engkau tidak bias mendikotomikan lapar-haus dengan kenyang-segar apabila engkau memakai kesadaran batas. Sebab, kenyang yang tidak dibatasi juga akan membawa manusia kepada maut.

Juga apabila lapar di situ engkau artikan secara lebih luas menjadi –katakanlah-kemiskinan, kemelaratan, atau kefakiran. Kefakiran yang melampaui batas akan membunuh manusia. Bukan hanya terbunuh fisiknya, tapi mungkin juga daya hidupnya, kepercayaan dirinya, mentalnya, imannya, dan sebagainya.


Jakarta, 5 Juni 2017.

Potongan dari artikel "Perlunya Ilmu Kematian” dalam buku, Emha Ainun Nadjib, Gramedia Pustaka Utama, 2012.

Rabu, 07 Agustus 2013

Menuju Idul Fitri

Sesama umat kita telah bersama-sama menjalani Idul Fitri meskipun harinya bisa berbeda. Kita telah berupaya membersihkan diri satu sama lain dengan cara saling memaafkan.

Cak Nun memimpin doa di #MaiyahJombang. Courtesy: @maiyahan

Idul Fitri telah membuat sifat kebersamaan sosial kita menjadi lebih dari sekadar community atau society: kita menjadi ummah.

Ummah
atau umat adalah suatu konsep dengan tatanan kuantitatif dan persyaratan kualitatif yang berbeda dengan jenis-jenis “perkumpulan manusia” lain yang dikenal dalam sejarah. Umat mengandalkan suatu kohesi, perhubungan yang rekat, dan memiliki daya tarik-menarik, yang disifati oleh sejumlah nilai Allah: kesederajatan antarmanusia, kebenaran nilai, keadilan realitas, dan kebaikan akhlak. Tolak ukur derajat manusia hanya satu: bahwa di mata Allah, yang paling bertakwalah yang tertinggi. Itu ukuran sangat kualitatif, sangat rohaniah, dimana mata pandang sosial budaya antarmanusia hampir-hampir tak mampu melihatnya.

Kalau diantara suatu komunitas Muslimin ada kedudukan dan fungsi-fungsi yang membuat seseorang menindas dan yang lainnya ditindas, maka konsep ummah belum terpenuhi. Wallahualam apakah secara “mutu” kita telah sungguh-sungguh beridul fitri atau belum, tapi memang berlalunya hari raya demi hari raya selama ini belum cukup mengubah perhubungan-perhubungan sosial yang eksploitatif, diskriminatif, dan represif di antara kaum muslimin sendiri.

Kita berbahagia melalui Idul Fitri kali ini bersama sekalian sanak saudara dan teman-teman sekampung atau seprofesi, namun diam-diam kita juga tetap harus memelihara kepekaaan terhadap sejumlah hal yang memprihatinkan. Justru sensibilitas semacam itulah yang mendorong naiknya tingkat Idul Fitri kita.

Oleh karena itu, disamping beridul fitri sebagai umat, pertanyaan tafakkur kita adalah seberapa jauh kita--sebagai pribadi-pribadi—telah sungguh-sungguh mengupayakan conditioning peridulfitrian dalam kehidupan kita masing-masing.

Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, lindungilah hamba dan kami semua. Bantulah kami mengidul fitri di lutut kuasa-Mu. Wa la aqwa ‘alanaril jahim. Di neraka, tak kuat hamba ya Rabbi.


Pharmindo, 7 Agustus 2013.

(dikutip dari tulisan Seandainya Allah Pun “Berlebaran” , dalam buku ‘Tuhan Pun Berpuasa’, Emha Ainun Nadjib, Penerbit Buku Kompas, Juni 2012. Hal. 149-153)

Kamis, 11 Juli 2013

Revolusi Puasa Melampiaskan dan Mengendalikan

Menyambut Ramadhan 1434 H, semoga tulisan Emha Ainun Nadjib yang dikutip dalam blog ini, mampu menjadi pengingat bagi kita untuk selalu istiqomah dalam mengawali dan meniatkan ibadah shaum yang akan dijalani sebulan penuh ini.  Insya Allah.


Cak Nun memimpin forum Bangbang Wetan. courtesy: @caknundotcom

Berbeda dengan shalat dan zakat, ibadah puasa bersifat lebih ‘revolusioner’, radikal, dan frontal. Pada orang shalat, dunia dibelakanginya. Pada orang berzakat, dunia di sisinya, tetapi sebagian ia pilah untuk di-‘buang’. Sementara pada orang berpuasa, dunia ada dihadapannya, tetapi tak boleh dikenyamnya.

Orang berpuasa disuruh langsung berpakaian ketiadaan: tidak makan, tidak minum, dan lain sebagainya. Orang berpuasa diharuskan bersikap ‘tidak’ kepada isi pokok dunia yang berposisi ‘ya’ dalam substansi manusia hidup. Orang berpuasa tidak menggerakkan tangan untuk mengambil dan memakan sesuatu yang disenangi; dan itu adalah perang frontal terhadap sesuatu yang sehari-hari merupakan tujuan dan kebutuhan.

Puasa adalah pekerjaan menahan di tengah kebiasaan menumpahkan, atau mengendalikan di tengah tradisi melampiaskan. Pada skala yang besar nanti kita bertemu dengan tesis ini: ekonomi-industri-konsumsi itu mengajak manusia untuk melampiaskan, sementara agama mengajak manusia untuk menahan dan mengendalikan. Keduanya merupakan musuh besar dan akan berperang frontal jika masing-masing menjadi lembaga sejarah yang sama kuat.

Sementara ibadah haji adalah puncak ‘pesta pora’ dan demonstrasi dari suatu sikap dimana dunia disepelekan dan ditinggalkan. Dimana dunia disadari sebagai sekadar seolah-olah megah.

Ibadah tawaf adalah aktualisasi dasar teori inna lillahi wa-inna ilaihi raji’un: suatu perjalanan nonlinier, perjalanan melingkar, perjalanan siklikal, perjalanan yang ‘menuju’ dan ‘kembali’-nya sejarah. Ihram adalah ‘pelecehan’ habis-habisan atas segala pakaian dan hiasan keduniaan yang palsu: status sosial, gengsi budaya, pangkat, pemilikan, kedudukan, kekayaan, atau apa pun saja yang sehari-hari diburu oleh manusia.


(dikutip dari tulisan “Makna Spiritual dan Sosial Puasa” , dalam buku ‘Tuhan Pun Berpuasa’, Emha Ainun Nadjib, Penerbit Buku Kompas, Juni 2012. Hal. XIV-XV)

Pharmindo, 11 Juli 2013.

Sabtu, 11 Agustus 2012

#KotbahTimeline: Ketika Mimbar Jum'at Pindah ke Twitter

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan


Ramadhan, bulan dimana karakter kebanyakan orang berubah 180 derajat, entah itu pencintaan atau sekedar pencitraan.

Pernahkah kamu melihat seorang Imam shalat Jum'at membawakan ceramahnya dalam bentuk timeline di Twitter? Kalau belum pernah, barangkali buku Kotbah Timeline ini akan mewakili rasa penasaran itu.


Saya pikir #KotbahTimeline ini sengaja dibuat untuk menangkap fenomena trending topic. Dimana, menjelang waktu Jum'atan lelaki yang entah itu memang berniat untuk Jum'atan atau hanya sekedar pasang status Jum'atan sering dikategorikan sebagai 'orang ganteng'.

Jangan heran bila pada waktu menjelang Jum'at tengah hari orang yang Jum'atan itu dielu-elukan karena kadar kegantengan mereka dipastikan naik setelah menunaikan shalat Jum'at. Agaknya, mengenai hal ini masih diperlukan suatu penelitian dan ukuran yang jelas serta bisa dipertanggungjawabkan. Ini adalah soal lain.



Didorong oleh rasa kagum dan takjub memiliki sosok kakek dan ayah yang penceramah, akhirnya pemilik akun @pergijauh ini memutuskan untuk menjadi seorang penceramah. Bukan sembarang penceramah. Perceramah orisinil dengan pemikiran sendiri. Begitu katanya di pembukaan.

Twit ringan yang ditulis @pergijauh ini dibagi menjadi ke dalam 52 bagian. Mengikuti tanggalan kalender. Niscaya, jika #KotbahTimeline ini dibaca seminggu sekali setiap hari Jum'at pun tidaklah terlalu salah. Karena memang diisyaratkan demikian.

Walaupun terkesan ringan dan penuh humor, ada beberapa pesan yang mengandung kedalaman makna namun tidak menghilangkan kesan populis. Seperti penggalan khotbah berikut:
"Jangan terlalu sering mengumbar doa di Twitter, karena sesungguhnya Gusti Allah benci kepada tweeps yang riya' dan suka pamer" (Khotbah Minggu 1)

atau yang ini:
"Jikalau kau berdoa untuk orang lain, sertakanlah namanya dalam doa-mu, janganlah memakai hashtag #nomention lagi." (Khotbah Minggu 3)

"Bahwa sesungguhnya menghargai Tuhan-mu jauh lebih penting daripada memberhalakan agamamu" (Khotbah Minggu 3)

Membaca #KotbahTimeline di bulan Ramadhan seperti ini memang memberikan sensasi tersendiri. Ramadhan memberikan kita kesempatan untuk berintrospeksi diri. Melihat lebih dalam kepada diri sendiri demi mencapai derajat ketakwaan. #KotbahTimeline setidaknya mengingatkan kembali dasar-dasar pemaknaan suatu ritual ibadah yang biasa kita jalani.



Tidak ada salahnya untuk memilih #KotbahTimeline sebagai bacaan seru yang dibaca ketika Jum'at tiba. Seperti halnya memilih agama, dalam membaca buku ini pun tidak ada paksaan atasnya.

Sebuah bacaan alternatif yang lagi-lagi dihasilkan dari fitur sebuah media sosial bernama Twitter. #KotbahTimeline berhasil menangkap fenomena-fenomena yang terjadi belakangan ini di kalangan Twitteriyah dan menuliskannya kembali sebagai 'sindiran' halus.

Demi kebutuhan untuk saling mengingatkan dalam konteks hubungan antara manusia dengan Tuhannya maupun atara sesama manusia yang kian hari semakin renggang dan mudah retak. Hanya karena perbedaan kecil dalam memaknai suatu sudut pandang.

Sebelum tulisan ini ditutup, si penulis buku ini @pergijauh pun tidak lupa memberikan tata cara memakai sarung yang baik dan benar untuk Jum'atan. Pesan saya, jangan sampai mengikuti cara yang salah. Ingat, anda mau Jum'atan!

Judul               : Kotbah Timeline
Penulis             : Abdul Gofar Hilman
Penerbit           : Plotpoint Kreatif Publishing
Tahun              : Juni 2012
Tebal               : 232 hal.
Genre              : Komedi

Pharmindo, 11 Agustus 2012.

Senin, 15 Agustus 2011

Receiver Lailatul Qadar

Yang sepenuhnya harus kita urus dalam ‘menyambut’ Lailatul Qadar adalah Receiver Spiritual kita sendiri untuk mungkin menerima Lailatul-Qadar. Kesiapan Diri kita. Kebersihan Jiwa kita. Kejernihan Ruh kita. Kepenuhan Iman kita. Totalitas iman dan kepasrahan kita. Itulah yang harus kita maksimalkan.

Kalau lampumu tak bersumbu dan tak berminyak, jangan bayangkan api.

Kalau gelasmu retak, jangan mimpi menuangkan minuman.

Kalau mentalmu rapuh, jangan rindukan rasukan tenaga dalam.

Kalau kaca jiwamu masih kumuh oleh kotoran-kotoran dunia, jangan minta cahaya akan memancarkan dengan jernih atasmu.


Jadi, bertapalah dengan puasamu, bersunyilah dengan i’tikafmu, mengendaplah dengan lapar dan hausmu. Membeninglah dengan rukuk dan sujudmu. Puasa mengantarkanmu menjauh dari kefanaan dunia, sehingga engkau mendekat ke alam spiritualitas. Puasa menanggalkan barang-barang pemberat pundak, nafsu-nafsu pengotor hati, serta pemilikan-pemilikan penjerat kaki kesorgaanmu.


Emha Ainun Nadjib, 2 September 2010.

Dikutip dari Official Website Kenduri Cinta

Rabu, 10 Agustus 2011

Revolusi Puasa, Melampiaskan dan Mengendalikan

Berbeda dengan salat dan zakat, ibadah puasa bersifat lebih ‘revolusioner’ radikal dan frontal. Waktunya pun dilakukan pada masa yang ditentukan, seperti disebutkan al-Qur’an. Dan, waktu puasa wajib sangat terbatas. Hanya pada bulan Ramadhan.

Orang yang berpuasa diperintahkan untuk berhadapan langsung atau meng-engkau-kan wakil-wakil paling wadag dari dunia dan diinstruksikan untuk menolak dan meninggalkannya pada jangka waktu tertentu.

Pada orang salat, dunia dibelakanginya. Pada orang berzakat, dunia di sisinya, namun sebagian ia pilah untuk dibuang. Sementara pada orang berpuasa, dunia ada di hadapannya namun tak boleh dikenyamnya.

Orang berpuasa disuruh langsung berpakaian ketiadaan: tidak makan, tidak minum, dan lain sebagainya. Orang berpuasa diharuskan bersikap ‘tidak’ kepada isi pokok dunia yang berposisi ‘ya’ dalam substansi manusia hidup. Orang berpuasa tidak menggerakkan tangan dan mulut untuk mengambil dan memakan sesuatu yang disenangi; dan itu adalah perang frontal terhadap sesuatu yang sehari-hari merupakan tujuan dan kebutuhan.

Puasa adalah pekerjaan menahan di tengah kebiasaan menum-pahkan, atau mengendalikan di tengah tradisi melampiaskan. Pada skala yang besar nanti kita bertemu dengan tesis ini; ekonomi-industri-konsumsi itu mengajak manusia untuk melampiaskan, sementara agama mengajak manusia untuk menahan dan mengendalikan. Keduanya merupakan musuh besar, dan akan berperang frontal jika masing-masing menjadi lembaga sejarah yang sama kuat.


Emha Ainun Nadjib, 31 Maret 2010


Potongan tulisan "MAKNA SPIRITUAL DAN SOSIAL IBADAH PUASA (komplit)"
dikutip dari Kenduri Cinta Official Website

Senin, 08 Agustus 2011

Hidup Itu Di Hati

Manusia hidup dari hatinya. Manusia bertempat tinggal dihatinya. Hati adalah sebuah perjalananan panjang. Manusia menyusurinya, menuju kepuasannya, kesejahteraannya, kebahagiaannya, & Tuhannya. Berbagai makhluk menghalanginya, terkadang atau seringkalo, dirinya sendirilah yang merintanginya.



Hati adalah pusat kehendak yang membuat manusia tertawa dan menangis, sedih dan gembira, suka ria atau berputus asa. Manusia mengembara dihatinya: pikiran membantunya, maka pikiran harus bekerja sekeras-kerasnya, pikiran bisa perlu berrevolusi, pikiran tak boleh tidur, pikiran harus dipacu lebih cepat dari waktu cahaya.

Hati tidak selalu mengerti persis apa yang dihendakinya. Ia hanya bisa berkiblat ke Tuhannya untuk memperoleh kejernihan dan ketepatan kemauannya.

Pikiran ikut menolongnya mendapatkan kejernihan dan ketetapan itu, tapi pikiran tidak bisa menerangkan apa-apa tentang Tuhannya. Pikiran mengabdi kepada hatinya, hati selalu bertanya kepada Tuhannya. Di hadapan Tuhan, pikiran adalah kegelapan dan kebodohan. Jika pikiran ingin mencapai Tuhannya, ia menyesuaikan diri dengan hukum dimensi hatinya. Jika tidak, pikiran akan menawarkan kerusakan, keterjebakan, dan bumerang.

Jika pikiran hanya mampu mempersembahkan benda-benda kepada hatinya, maka hati akan tercampak ke ruang hampa dan pikiran sendiri memperlebar jarak dari Tuhannya.

Badan akan lebur ke tanah. Pikiran akan lebur diruang dan waktu. Hati akan lebur di Tuhan. Jika derajat hati diturunkan ke tanah, jika tingkat pikiran bersibuk dengan bongkahan logam, maka dalam keniscayaan lebur ke Tuhan, mereka akan hanya siap menjadi onggokan kayu, yang terbakar tidak oleh cinta kasih Tuhan, melainkan oleh api.

Jika hati hanya berpedoman kepada badan, maka ia hanya akan ketakutan oleh batas usia, oleh mati, oleh kemelaratan, oleh ketidakpunyaan. Jika pikiran hanya mengurusi badan, jika pikiran tak kenal ujung maka ia akan rakus kepada alam, akan membusung dengan keangkuhan, kemudian kaget dan kecewa oleh segala yang dihasilkan. (Dari Pojok Sejarah)


Emha Ainun Nadjib



26 Maret 2009, 12:56

Selasa, 14 September 2010

Mudik

Orang tak bisa tak mudik, karena hidup adalah pergi untuk kembali. Atau, perginya orang hidup, adalah kembali*.

Dengan demikian, mudik yang mulanya hanya kebiasaan perlahan-lahan menjadi semacam tradisi. Kemudian, oleh dinamika dan mobilitas masyarakat ia berevolusi kembali menjadi suatu budaya yang berulang setiap tahun. Pun kini ketika budaya tersebut mereinkarnasi wujudnya menjadi semacam ritual yang boleh dibilang 'wajib' tanpa harus mengacu pada aliran mazhab tertentu.

Begitu dahsyatnya peristiwa mudik ini sehingga menjadi barang yang laku dijual setiap tahunnya. Stasiun TV dan media elektronik lainnya saling berlomba menayangkan dan menyiarkan informasi terkini seputar arus lalu-lintas jalur mudik. Bahkan, ada beberapa yang disertai pemandangan visual langsung pada titik-titik yang menjadi sentral pergerakan kaum pemudik.


Sejatinya mudik adalah untuk menemukan kembali sesuatu yang hilang. Bisa saja itu berupa wujud fisik dan non-fisik. Wujud fisik itu bisa menjelma dalam bentuk raga orang tua dan segenap sanak famili keluarga besar. Berbeda dengan wujud non-fisik yang bisa hadir dalam bentuk abstrak seperti suasana kampung halaman dan segenap perasaan yang melingkupinya.

Secara kasat mata, mudik seringkali diibaratkan sebagai sarana untuk menjalin silaturahmi sambil menemukan kembali semangat dalam balutan suasana kekeluargaan. Maka, esensi dari mudik itu sendiri harus tetap terjaga dalam ikatan fisik dan non-fisik itu tadi.

Disadari atau tidak, orang membutuhkan mudik, terlepas dari modus dan motif mudik itu sendiri. Mudik sangat penting untuk mengisi kekosongan diri di tengah zaman yang menindas harkat manusia dan derajat kemanusiaan**. Mudik lebaran yang secara sosiologis dirayakan setahun sekali menjadi momentum yang jangan sampai terlewat.

Mumpung masih ada jatah umur, lebih baik rajin-rajin pulang kampung. Dan yang paling efektif adalah menjelang atau seusai Ramadhan. Suatu waktu dimana semua keluarga pasti berkumpul dan kita bisa bercengkerama beberapa saat untuk menutupi kekecewaan dan kenyataan dalam hidup yang tidak selalu menyenangkan yang terlanjur menggumpal dalam kalbu.

Lebih jauh, mudik mengajarkan makna sebenarnya dari Innalillah wa inna ilaihi roji'un. Bahwa hakikat setiap detik kehidupan adalah untuk berproses dalam lingkaran tersebut: segala yang berasal dari Allah akan kembali juga pada Allah. Kita dan apa saja adalah hak-Nya dan satu-satunya kemungkinan hanyalah kembali ke pangkuan-Nya.

Barakallahi wallakum. Wallahu'alam bis shawab. Selamat bermudik.


Pharmindo, 12 September 2010. 23:12


* Emha Ainun Najib dalam esai ''Mudik Keluarga, Mudik Bangsa'' dalam buku ''Jejak Tinju Pak Kiai'', Penerbit Buku Kompas, 2008.

** Masih dari sumber buku yang sama diatas.

Malam Terakhir

Tarawih malam terakhir semalam tadi hanya menyisakan sepi dalam balutan kantuk yang semakin menjadi. Dalam 11 rakaat yang entah masih ada pahalanya atau malah nilainya tergerus kantuk itu sendiri.

Tuhanku, apalah yg sudah kulakukan untukmu di Ramadhan yang kesekian kalinya ini? Adakah setiap huruf dalam lantunan ayat-ayat itu bernilai pahala seperti yang telah kau janjikan?

Tuhanku, Ramadhanku kali hanya berisi keyakinan semu. Khattam pun tak mampu. Masih terhenti di deretan ayat An-Nisa. Masihkah ada nilainya bila semua itu menuju padaMu?

Tuhanku, aku berharap semua kelakuanku di RamadhanMu yang akan segera berlalu ini tidak lantas menambah dukaMu yang abadi. Entah harus berapa lafadz maaf harus terucap ke haribaanMu.

Tuhanku, RamadhanMu akan segera berlalu meninggalkan kami yang tertatih menuju ridhoMu. Tiada lain yang kami inginkan selain umur untuk kembali menyambut Ramadhan yang akan datang. Supaya kami bisa semakin menata diri dan berkaca atas segala kealpaan kami terhadapMu.

Tuhanku, diantara bulir-bulir hujan yang semisal dosa kami, kami serahkan kembali padaMu. Asalkan Engkau sedang tidak marah, apapun yang terjadi kami tidak peduli. Kami terimakan dan ridho atas segala keputusanMu.

Tuhanku, maafkan kami yang terlalu lancang untuk selalu mengemis dan meminta supaya doa-doa kami tidak menggantung di langitMu yang maha luas tak terkira. Maka, Ya Allah perkenankan kami (yang tak layak untuk surgaMu ini) untuk sekedar menikmati kesucian di awal bulan Syawal, yang sesungguhnya kami pun malu untuk menyambut hari kemenangan besok.

Tuhanku, di senja yang mendung ini, di ambang Syawal nan fitri, perkenankanlah kami untuk kembali pada kesucian. Seraya menyebut namaMu yang agung, mengumandangkan takbir penuh haru, sambil mengucap selamat jalan Ya Ramadhan. Mudah-mudahan, Engkau masih berbaik hati supaya kami bisa menyambutnya kembali. Barakallahi wa lakum.



Pharmindo, 09 September 2010. 17:55

Setiap Habis Ramadhan

Setiap habis Ramadhan, satu judul lagu dari Bimbo yang selalu terngiang menjelang akhir perpisahan dengan bulan Ramadhan penuh berkah. Dulu, biasanya di akhir bukan suci ini saya selalu minta diputarkan lagu Lebaran Sebentar Lagi. Hampir setiap menjelang lebaran, saya dan adik saya menunggu penuh harap 'uang THR' yang dihitung per hari tamat puasa dan juga jatah baju baru yang Ibu telah belikan.

Betapa kami sungguh gembira. Biarpun hanya untuk setahun sekali tetapi sungguh berarti rasanya. Singkat kata, hanya Lebaran lah yang mampu memberikan kenikmatan tersendiri seperti itu. Bagi kami, rasanya seperti baru terbebas dari suatu kewajiban dan kami harus menyambutnya dengan suka cita. Suatu hal yang kelak saya sadari bahwa hal itu kurang tepat.

Kini, beranjak dewasa saya tersadar bahwa momen-momen seperti bulan Ramadhan ini memang sangat jarang sekali sehingga sangat layak untuk mengisi dan menjalaninya dengan sepenuh hati dan melakukan semua amalan terbaik yang mampu dilakukan. Bukankah Rasulullah SAW pun telah mengingatkan bahwa seandainya kita tahu segala manfaat dan barokah di bulan Ramadhan niscaya kita pasti menginginkan setiap bulan adalah bukan Ramadhan.

Betapa bulan Ramadhan ini bukan hanya menjadi ritual tahunan semata demi memenuhi rukun Islam. Makna dibalik kehadiran Ramadhan sendiri semakin ditegaskan dengan adanya malam Lailatul Qadar. Suatu malam yang lebih baik dari 1000 bulan ibadah. Belum lagi, momen-momen seperti buka puasa bersama, sahur on the road (yang belakangan ini marak dan menjadii tren), i'tikaf bersama dll, yang semakin menguatkan tali silaturahmi dan kasih sayang dengan sesama.

Ramadhan memang telah dan akan segera berlalu. Ia akan datang kembali tanpa harus menunggu kepastian apakah kita bisa menemuinya kembali. Ia akan kembali dan pasti kembali. Adakah kerinduan kita untuk menyambutnya kembali? Menyambut Ramadhan bak seorang tamu agung yang datang dari jauh dan membawa sekian banyak hal-hal yang hanya bisa ditakar oleh timbangan Allah SWT yang Maha Sempurna. Mudah-mudahan Ramadhan kali ini membawa perubahan dan menjadi titik pangkal bagi suatu awal yang baru bagi kita semua. Uusikum wa nafsii bi taqwallah.


Pharmindo, 9 September 2010. 01:05

Selasa, 08 September 2009

Puasa di Jakarta (dan sedikit cerita lainnya)

Bulan Ramadhan semakin beranjak melewati setengah rembulan. Masih rembulan yang sama. Rembulan yang kadang berwarna kemerahan kala menggantung di langit Cikampek bagaikan bola lampu raksasa di tengah jamuan makan malam. Puasa di Jakarta adalah kerinduan. Kerinduan pada suasana Ramadhan di kampung halaman. Rindu pada mushaf yang selalu dibaca menjelang maghrib. Rindu pada suara muadzin-muadzin yang selalu diagungkan menjelang waktu berbuka puasa. Rindu pada ceramah seusai Subuh yang menambah kantuk semakin menjadi.

Seperti biasanya, tidak banyak yang terjadi padaku selama Ramadhan kali ini. Aku masih sama seperti muslim lainnya yang sahur menjelang waktu imsak dan berbuka puasa kala maghrib menjelang. Masalah kesehatan terutama berat badan bukan lagi masalah serius yang harus diperhatikan. Sudah tentu Ramadhan kali ini aku tidak makan tiga kali sehari. Paling banyak dua kali sehari. Sahur dan buka. Sudah itu saja. Jadi, kemungkinan berat badan akan turun bukan khayalan semata.

Ramadhan kali ini rasanya berlalu begitu saja. Sama seperti yang telah kulalui pada tahun-tahun sebelumnya. Tiba-tiba sudah tengah bulan. Harus kuakui kualitas ibadahku masih sama-sama saja. Aku masih menjalankan shalat lima waktu, kadang-kadang ditambah shalat sunat rawatib. Tilawah qur’an kadang-kadang sehabis maghrib. Itu pun melanjutkan bacaan yang tidak selesai sejak Ramadhan-Ramadhan kemarin, bukan dimulai dari potongan ayat pertama Al Fatihah. Disaat kawan yang lain berlomba mengkhattamkan Qur’an, aku malah asyik menamatkan Plan of Attack dari Dale Brown yang tebalnya 510 halaman itu.

Rupanya, aku terbawa alur cerita buku itu yang bercerita tentang proliferasi nuklir Rusia yang berimplikasi pada serangan udara pesawat bomber Rusia ke target-target anti serangan di wilayah Amerika Utara, USA dan Canada. Membaca buku itu ibarat menonton film perang buatan Hollywood. Kurang lebih sama dengan ketika kau menonton Tom Cruise di film “Top Gun”. Mungkin itu sebabnya, ada buku yang diangkat kisahnya untuk dijadikan film atau film yang dibuat berdasarkan pelebaran jalan cerita pada suatu buku tertentu. Kisah seorang pilot ternyata bisa lebih menarik dari tenggelamnya Fir’aun ditelan Laut Merah.

Aku lihat status facebook dan ternyata telah banyak terjadi perubahan. Status kawan-kawan kini lebih banyak dihiasi dengan ucapan syukur atau minimal ucapan-ucapan lainnya yang menyertakan nama Tuhan disana. Ada yang bahagia dan mengucap syukur. Ada yang kecewa sambil tetap optimis bahwa Tuhan tidak akan pernah salah dalam member ujian. Ada yang tidak tahu harus berbuat apalagi sehingga “memaksa” Tuhan untuk memberikan petunjuknya. Ada juga yang cukup menulis juz yang sedang dibacanya sehingga semua Jamaah Al Fasbukiyah mengetahui dan menulis komentar bernada semangat untuk mengkhattamkan Qur’an. Aku rasa hal seperti itulah yang tidak perlu. Soal ibadah biar diri sendiri dan Tuhan saja yang tahu. Khawatir menjadi riya’. Bila sudah begitu percuma saja pahala yang sudah terkumpul lenyap begitu saja bagai api memakan kayu bakar. Begitulah yang kupahami dari Guru Agama waktu sekolah di SMA.

Cerita selanjutnya masih sama saja. Konsumerisme dan konsumtivisme masih menjadi isu yang menarik untuk diangkat menjadi tema bulanan. Lihat saja, banyak pusat perbelanjaan yang mengadakan special offer hingga sale gila-gilaan. Bahkan, ada yang sampai mengklaim bahwa ditempatnya itulah konsumen akan benar-benar menikmati shopping experience yang berbeda untuk pertama kalinya di Indonesia. Sebagai implikasi menjelang lebaran hal ini terlihat sangat lumrah. Selumrah kita meninggalkan kekhusyukan sepuluh hari terakhir untuk saling berlomba memadati pasar-pasar dan tempat perbelanjaan.

Untuk yang masih muda, nongkrong dan belanja di distro masih akan jadi budaya setidaknya 10 tahun lagi. Untuk yang beranjak dewasa, belanja barang branded dengan harga sale bisa jadi pilihan utama ketika THR telah dibayarkan. Untuk kaum dewasa menjelang tua dimana belanja bukan lagi kebutuhan utama mereka hanya cukup menerima pemberian saja dari anak-anak atau keluarga terdekat. Toh, dengan begitu lebaran masih akan tetap semarak.

Kalau ada yang sampai membuatku sibuk menjelang lebaran ini adalah persiapan mudik. Aku akan bersama jutaan warga kota ini akan terlibat bersama dalam sebuah ritual tahunan. Tujuanku tidak jauh, hanya sampai ke Bandung saja. Namun, esensinya masih akan tetap sama. Mudik ya pulang ke kampung halaman. Kira-kira begitu tafsirnya walau tentu berbeda dengan ketika pulang pas bukan waktunya mudik. Kalau lebaran tahun ini tidak diundur dan di suspend, Insya Allah ini akan jadi mudik pertama. Jadi aku belum akan terlalu banyak cerita karena aku belum mengalaminya.

***

Mestinya kau tak perlu buka buku harianku
Hanya akan membuat dirimu tersiksa dalam rasa curiga *)

Pelan lagu mengalun dari speaker. Sebuah lagu lama dari Krisdayanti zaman dulu dia belum terkenal dan seheboh sekarang. Dulu lagu itu memang hits. Aku masih ingat cuplikan video klipnya. Ternyata, dari zaman dulu selingkuh itu memang sudah ada dan tercipta. Maka, aku tidak heran apabila sekarang cerita dalam lagu itu menimpa si penyanyinya. Aku memang tidak mengikuti berita perceraian Krisdayanti. Aku hanya baru tahu kejelasan ceritanya dari tulisan di kolom kecil The Jakarta Post hari ini. Anang mengaku kehilangan separuh jiwanya. What a sad story. But that’s reality. Once you get betrayed, you’ll get another betrayal. Kadang cinta dan pengkhianatan menjadi sebuah ikatan yang utuh tanpa harus saling melepaskan. Dan inilah waktu yang tepat untuk berkata "I'm sorry goodbye***)"

Lagu lainnya yang keluar dari speaker yang bermerek sama dengan nama atasanku terdengar sedikit aneh.

Waktu aing datang ka imah sia
Ku indung sia dipareuman lampuna
kagok edan ku aing sagala dipacok
sihorengteh indung sia kabagean **)

Aku jadi teringat kisah seorang anak kecil. Ia selalu tidur bersama ibunya setiap malam. Pada suatu purnama yang sempurna, ia terbangun dari tidurnya dan tidak mendapati sang ibu disampingnya. Mungkin karena sudah menyimpan rasa curiga ia pergi mengambil sebilah pisau di dapur. Kemudian, ia berjalan keluar rumah diterangi purnama yang bagaikan bola lampu neon besar.Entah bagaimana, dalam kegelapan kamar, ia kini mendapati ibunya sedang hanyut dalam pelukan seorang lelaki yang tidak ia kenal. Keduanya tidak bangun dan tidak tahu bahwa ada seorang anak kecil dengan sebilah pisau tengah menanti mereka untuk memberi izin pada Izrail untuk mencabut nyawa keduanya. Singkat cerita, si anak kembali pulang ke rumah dengan pisau berlumuran darah. Ia tidak tahu apa-apa. Tidak ada pula teriakan kesakitan ketika akhirnya Izrail melaksanakan tugasnya.

Mengerikan memang. Tapi, apapun masih bisa terjadi dalam hidup ini. Semuanya kadang bisa jadi kejutan tanpa harus menunggu keajaiban.

***

Senja telah turun di Jakarta. Matahari kini bagaikan bola merah membara. Sinarnya kini menembus jendela ruanganku. Gemuruh terdengar tandanya pekerja pulang ke rumah. Semua saling berlomba. Mengejhar adzan maghrib katanya. Aku tahu maghrib pun akan segera menghampiriku tepat dalam macetnya Jakarta. Debu, cinta, dan rindu berkejaran menghiasi kota yang tidak pernah diam sepi.


Kelapa Gading, 8 September 2009


*) Krisdayanti, “Terserah (buku harian)”. Ngetop pada zamannya.
**) The Panas Dalam, “Maklum Poek”. Penampilan liriknya dalam bahasa sunda tergolong cukup ekstrim tapi menghibur.
***) Krisdayanti, "I'm Sorry Goodbye".

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...