Tampilkan postingan dengan label Emha Ainun Nadjib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Emha Ainun Nadjib. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 November 2021

Kelakar a la Madura

Sumber gambar: www.goodreads.com
 
Agaknya, buku ini bisa menjadi pembuktian tentang mengapa Tuhan menciptakan Pulau Madura ketika sedang berkelakar. Disarikan dari guyonan-guyonan Cak Nun tentang per-Madura-an ketika sedang mengisi forum-forum Maiyahan di seantero jagat Nusantara.

Membaca buku ini secara langsung tanpa pernah mengetahui guyonan yang mana dan disampaikan pada forum yang mana, memang bisa jadi mengasyikkan. Seterbitnya buku ini, saya merasa bahwa ada satu hal yang hilang, missing link diantara ketiganya: buku ini, guyonan Maiyahan, dan buku lama Cak Nun berjudul "Folklore Madura".

Saya menyarankan agar setiap penikmat guyonan Cak Nun turut membaca juga buku lama terbitan Progress tersebut. Mudah-mudahan dengan cara tersebut didapati benang merah kenapa Madura bisa jadi sangat spesial dihadapan Cak Nun dan Allah SWT.

 

Judul           : Urusan Laut Jangan Dibawa ke Darat: Jiwamu Butuh Berkelakar
Penulis        : Emha Ainun Nadjib
Penerbit       : Narasi
Tahun          : 2018
Tebal           : 141 hal.
Genre          : Sosial-Budaya-Kehidupan-Kebudayaan

Cengkareng, 22 November 2021

Senin, 01 November 2021

Dari Pojok Sejarah: Sebuah Catatan

Sumber gambar: www.goodreads.com

 
Awalnya, saya dibuat penasaran dengan buku-buku lama dari Emha. Salah satunya termasuk buku ini. Dari judulnya saja, rasanya sudah sangat serius. Apakah yang dimaksud dengan "pojok sejarah" itu? Memangnya ada yang tercecer atau atau tersisa dari "pojok sejarah"? Kalaupun betul begitu, "pojok sejarah"mana? Sejarah pra-kolonialisasi atau pasca-modernisme?
 
Agaknya, semua teka-teki dalam benak saya roboh seketika ketika buku ini benar-benar diterbitkan kembali. Buku berhalaman lebih dari 500 lembar ini memang membutuhkan stamina pembacaan yang prima. Buat saya, ini jadi satu pengalaman yang baru karena buku Emha inilah yang paling banyak halamannya yang pernah saya tamatkan.
 
Ada satu jurus yang saya lakukan sebelum dan selama pembacaan buku ini. Saya 'mengosongkan' diri saya dari segala asumsi dan pretensi sehingga saya bisa menerima dan mencerna isi buku ini bulat-bulat. Saya jadi tidak terpengaruh pertanyaan-pertanyaan saya sebelumnya diatas. Ditambah lagi, semua tulisan Cak Nun disini dibuat dengan gaya bahasa surat-menyurat. Tujuan utamanya adalah adiknya sendiri, Cak Dil.
 
Ini adalah suatu kenikmatan tersendiri karena dengan begitu menurut saya penulisnya akan mampu lepas dari jeratan formal penulisan esai atau artikel. Emha bisa bercerita apa saja tentang Eropa dan negeri asalnya sendiri dengan luwes. Mengingatkan saya pada buku "Surat dari Palmerah" karya Seno Gumira Ajidarma. Bedanya, seperti sudah saya catat sebelumnya: lebih tebal.
 
Banyak surat menarik yang menggambarkan keadaan kehidupan di tahun-tahun penulisannya. Personally, keadaannya pun masih tidak banyak berubah hingga saat ini. Mungkin, yang berubah hanya nama Presiden dari negeri asalnya Emha saja. Selebihnya, saya rasa para pembaca Emha sudah sangat paham.
 
Satu yang menarik adalah saya menemukan kembali sebuah tulisan Emha yang berjudul "Hidup Itu di Hati". Saya pernah membaca tulisan ini dari sebuah laman website tidak resmi yang memuat tulisan-tulisan Emha pada tahun 2009. Nama websitenya apa saya sudah lupa. Ternyata, asal-muasal tulisan itu bermula dari pengembaraan Cak Nun ke Eropa sana dan dimuat dalam buku ini. Kesan pembacaan "Hidup Itu di Hati" pada tahun 2009 dengan 12 tahun kemudian pun masih sama. Barangkali, pada lain kesempatan, hal ini bisa jadi satu bahan tulisan sendiri.
 
Saya menamatkan pembacaan buku ini lebih dari satu tahun sejak tanggal pembelian. Ada banyak waktu terlewati begitu saja. Saya pun jadi tertawa sendiri, mengapa baru mulai intens menamatkan pembacaan pada tiga bulan terakhir ini. Semoga bukan karena alasan work from home dan mendung yang sepertinya sengaja mewakili pikiran saya.


Judul           : Dari Pojok Sejarah
Penulis        : Emha Ainun Nadjib
Penerbit       : Mizan
Tahun          : 2020
Tebal           : 508 hal.
Genre          : Sosial-Budaya-Kehidupan-Kebudayaan

Cipayung, 1 November 2021.


Senin, 03 Mei 2021

Cak Nun Bertutur: Merangkum Indonesia

Sumber gambar: www.goodreads.com
Sumber gambar: www.goodreads.com
 
Dari sekian buku baru Cak Nun, baik yang diterbitkan kembali atau yang memang pure diterbitkan, saya rasa pembacaan buku ini termasuk yang paling lancar. At least, bila dibandingkan dengan progres pembacaan judul-judul buku lain Cak Nun yang baru terbit lainnya. Saya tidak tahu mengapa. Barangkali, alur penceritaan buku ini yang membuat pembacaan saya agak sedikit lebih cepat selesai.
 
Alur penuturan dalam buku ini sesuai dengan selera saya. Flashback. Menuturkan kembali cerita secara historis, alur mundur. Ini yang membuat saya agaknya merasa nyaman. Selain itu, untuk mengetahui bagaimana sesuatu berakhir, harus juga dilihat dengan bagaimana sesuatu itu dimulai.
 
Cak Nun, memulai dengan kisah sepanjang perjalanan di Dipowinatan, Dinasti, KiaiKanjeng hingga bermuara di Maiyah. Awalnya, agak sulit untuk membayangkan penuturan apa yang akan dibawakan Cak Nun sepanjang jalan sunyi hidupnya. Apakah seratus sekian halaman buku ini akan sanggup menampungnya?
 
Kenyataan yang saya dapati adalah bahwa Cak Nun mampu merangkum penggalan-penggalan kisah jalan sunyinya dalam judul-judul artikel yang serupa cerita pendek. Kisah perjalanan hidup sepanjang Menturo, Jogja, KiaiKanjeng, dan Maiyah terhampar lugas. Sebagaimana KiaiKanjeng, rasanya Cak Nun juga adalah hamba Allah yang diperjalankan. Diperjalankan sesuai dengan keinginan Allah, Tuhannya yang satu.
 
Bahwa ketika kemudian Cak Nun mampu menulis sedikit tentang keadaan Indonesia kekinian pun yang disampaikan hanya dengan satu paragraf saja. Bahwa Indonesia telah kehilangan kontinuitas sebagai bangsa, hingga pengejawantahan Bhinneka Tunggal Ika yang semakin kehilangan esensinya.
 
Saya kagum dengan pencapaian Cak Nun dalam buku ini. Hal ini semakin membuktikan bahwa Indonesia memang hanya bagian dari desanya Cak Nun. Sehingga sebesar apapun Indonesia, Cak Nun akan mampu mengampunya karena ia hanya bagian dari desanya.
 
Segala puji bagi Allah yang memperjalankan hamba-Nya di jalan sunyi.

Judul            : Mbah Nun Bertutur
Penulis        : Emha Ainun Nadjib
Penerbit       : Bentang Pustaka
Tahun          : 2021
Tebal           :  228 hal.
Genre           : Sosial-Budaya-Ketuhanan


Cengkareng, 3 Mei 2021.

Sabtu, 30 Desember 2017

Semesta Emha, Sebuah Pendekatan Filosofis

Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya agak terkejut ketika mendapati buku ‘Semesta Emha’ ini sebagai sebuah naskah akademik. Rupanya, Emha Ainun Nadjib sebagai individu telah jadi referensi beberapa karya akademik yang lulus untuk diujikan. Pun, ketika menjelma simpul-simpul Jamaah Maiyah di seluruh Nusantara. Ada banyak sudut pandang yangbisa digunakan untuk membahas seorang Emha.

Buku ini dimulai dengan menguraikan potret seorang Emha Ainun Nadjib. Semacam biografi kecil yang tidak mencapai 1 bab. Pembahasan menjadi kian mendalam ketika menguraikan faset-faset perjalanan Emha Ainun Nadjib. Mulai dari masa kecilnya di Jombang, kemudian fase Malioboro dimana Emha mengenal Umbu, fase teatrikal bersama Dinasti, pementasan Lautan Jilbab, keterlibatan Emha dengan ICMI dan politik, Pak Kanjeng, Padhang Mbulan, fase reformasi hingga yang terkini adalah fase Maiyah. 

Yang terjadi pada bab-bab selanjutnya adalah sebuah filsafat dalam memandang objek berupa Emha Ainun Nadjib. Emha diuraikan dari sudut pandang Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi. Ontologi berbicara tentang kosmologi Emha, bagaimana filsafat dasar Emha sehingga kemudian menghasilkan sebuah eksistensialisme dan metafisika cinta. Epistemologi Emha mengetengahkan kesadaran dan pengetahuan sebagai sebuah kesatuan dalam mencapai kebenaran. Aksiologi Emha membahas etika dan estetika seni yang dijalani oleh Emha. Filsafat pendidikan ala Emha pun terpapar didalamnya.

Filsafat dasar Emha yang telah terbentuk sedemikian rupa kini diejawantahkan sebagai sebuah pemikiran kebudayaan. Sepak terjang Emha dalam bidang sastra, seni dan ideologi dikupas menjadi sebuah eksekusi dari filsafat dasar yang melingkupinya. Hal ini kemudian membawa pembaca pada sebuah teori relativisme kebudayaan dan kebudayaan Ilahiah dari seorang Emha Ainun Nadjib.

Semesta Emha yang multidimensi itu menghasilkan sebuah potensi besar terhadap kemanusiaan. Potensi pemikiran Emha yang humanis itu diteruskan oleh Emha untuk menemani bangsa Indonesia hingga saat ini. Emha dengan segenap perangkat kemaiyahannya terlihat berjalan di arus bawah masyarakat sekelilingnya. Jelas hal ini adalah bukan sesuatu yang populer, melainkan suatu  jalan yang sunyi. Gagasan-gagasan kemanusiaan Emha dari berbagai sumber nilai bersifat dialektis dan dinamis dengan dilandasi konsep kesadaran untuk membangun peradaban yang luhur.

Judul            : Semesta Emha Ainun Nadjib: Bentangan Pengembaraan Pemikiran
Penulis        : Sumasno Hadi
Penerbit       : Mizan
Tahun          : 2017
Tebal           : 216 hal.
Genre           : Filsafat-Sosial Budaya

Cipayung, 28 Desember 2017.

Selasa, 31 Oktober 2017

Daur I: Sebuah Pembukaan

Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya patut bersyukur karena Alhamdulillah, atas izin Allah SWT Emha Ainun Nadjib masih diberikan nikmat sehat dan Islam sehingga mampu menulis kembali. Adapun, tulisan beliau yang benar-benar baru senantiasa saya peroleh lewat laman www.caknun.com. Saya mengamati bahwa laman tersebut pelan-pelan mulai mengalami perubahan. Perubahan itu, setidaknya untuk saya pribadi, saya amati mulai dari rubrik-rubrik tambahan yang dihiasi catatan-catatan Cak Nun.

Begitupun dengan Daur. Saya sempat dibuat tidak paham maksudnya, namun hanya mampu turut memaknai pesan Cak Nun: "...untuk anak cucu..". Tulisan Cak Nun dalam Daur adalah sesuatu yang benar-benar baru tak terkecuali tokoh idola bernama Kiai Sudrun dan Cak Markesot.

Dilihat dari perspektif manfaat dan jariah ilmu, "Daur" sendiri adalah bentuk istikomah pemikiran, perenungan, dan analisis hingga formula-formula kultural lain dari Cak Nun yang mampu memberikan manfaat dalam konteks sosial.

"Daur" adalah sebuah bentuk tulisan Cak Nun yang sudah tidak lagi siap saji dan siap antap. Pembaca diajak untuk menelusuri pembelajaran hidup yang meningkat lagi levelnya. Bisa saja dari satu tulisan pembaca berhenti pada satu kesimpulan, namun tidak menutup kemungkinan bagi pembaca untuk menelusuri kembali ketersambungan dengan tulisan lainnya.

Dengan jumlah pembaca mencapai kurang lebih 1.100-an pembaca setiap hari (lihat halaman xiv) tentu saja "Daur" menjadi sebuah ruang bagi pembaca Cak Nun maupun Jamaah Maiyah untuk senantiasa rehat sejenak dan menemukan jawaban atas clue pemahaman hidup. Sebagaimana dapat dijumpai pada rubrik 'Tadabbur Daur'.

Bagi Cak Nun sendiri, tulisan-tulisan "Daur" adalah upaya untuk mengembalikan "mata" kita dari keterjeratan pada materialisme dimana materi menjadi variabel dan faktor utama. Akibatnya, kita semua hanya melihat berdasarkan materi dan transaksi sehingga melihat dan membayangkan Tuhan dengan cara berpikir materi.

Semoga dengan dibukukannya "Daur" edisi pembuka hingga edisi ke-65 kita dapat menemukan mata air yang mengalirkan ilmu kehidupan. Semoga terus berlahiran generasi-generasi baru yang mau belajar agar kehidupan dapat berlanjut secara berkesinambungan pada masa depan dengan nilai peradaban yang lebih tinggi. Semoga.

Judul        : Daur I: Anak Asuh Bernama Indonesia
Penulis     : Emha Ainun Nadjib
Penerbit    : Bentang Pustaka
Tahun       : 2017
Tebal        : 394 hal.
Genre       : Sosial Budaya

Cipayung, 29 Oktober 2017.


Sabtu, 30 September 2017

Sesobek Buku Harian Indonesia

Pemimpin kami amat pintar
membendung segala tidak
dari mulut kami
yang dibilang pengkhianat

 (Belajar Tidak - Hal. 23)

Sumber gambar: www.goodreads.com
Tidaklah salah bila catatan buku ini mengibaratkan Emha Ainun Nadjib sebagai seorang musafir yang telah menjelajahi seluruh Indonesia, mencicipi ribuan pengalaman didalamnya, dan memanggul ribuan beban dari apa yang telah dirasakannya. Emha memang menempuh jalan sunyinya sendiri dalam menemukan Indonesia. Indonesia hanyalah bagian dari desa semesta Emha. Maka, apabila Emha melakukan sesuatu untuk Indonesia itu hanya bagian dari sedekahnya untuk negeri yang telah ia tinggali untuk sekian lamanya.

Saya terkesan lewat kata pengantar yang ditulis untuk edisi dan cetakan baru ini. Bahwa di era 1970-an, Emha belajar memanggul beban. Era 1980-an gagah dan sombong memanggul beban. Tahun 1990-an mulai kewalahan menanggung beban. Tahun 2000-an hampir putus asa oleh beban. Tahun 2010-an mempertanyakan kenapa memanggul beban dan siapa sebenarnya petugas pemanggul beban.

Edisi pertama buku ini terbit medio 1993, tahun-tahun dimana perekonomian bangsa Indonesia disebut bakal menjadi Macan Asia. Puisi-puisi dalam buku ini setidaknya mengulang ingatan kita pada apa-apa yang terjadi di masa itu. Emha mengumpulkan segenap impresi dan ekspresinya terhadap Indonesia pada tahun-tahun dimana ia mulai kewalahan menanggung beban. Pembaca boleh menentukan sendiri pembermaknaan atas segenap puisi Emha didalamnya.

Relevansi? Jelas puisi-puisi Emha ini masih relevan dengan keadaan berbangsa dan bernegara belakangan ini. Dimana harapan hidup semakin tidak jelas namun dibuat seolah-olah menuju jalan terang. Absennya nilai-nilai keadilan, kemanusiaan yang semakin 'tidak' beradab, kesenjangan hak asasi, kesenjangan sosial yang semakin berjarak masih dapat kita jumpai di pinggir-pinggir jalan negeri tercinta ini.

Puisi-puisi Emha setidaknya hadir untuk membawa satu sudut pandang baru dimana puisi telah kehilangan eksistensinya pada zaman yang semakin serba cepat. Puisi-puisi Emha hadir untuk menemani kita-kaum yang dilemahkan untuk terus berjalan melalui jalan sunyi kita masing-masing. Puisi-puisi Emha yang disembunykan dalam sesobek buku harian Indonesia adalah sebuah catatan, tentang realitas, cita-cita, atau bahkan 'sobek'nya sebuah entitas bernama Indonesia.

Judul       : Sesobek Buku Harian Indonesia
Penulis    : Emha Ainun Nadjib
Penerbit  : Bentang Pustaka
Tahun      : 2017
Tebal       : 124 hal.
Genre      : Sastra Indonesia-Kumpulan Puisi


Cipayung, 20 September 2017.

Harus Pintar Ngegas dan Ngerem

Karena Islam itu mengendalikan, bukan melampiaskan. Hidup itu harus bisa ngegas dan ngerem.

Sumber gambar: www.goodreads.com

Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT karena memberikan rezeki dan kesehatan kepada Emha Ainun Nadjib, sehingga dengan ridho-Nya pula Mbah Nun dapat menuliskan buku terbarunya ini. Teruntuk penerbit Noura Books saya juga menyampaikan rasa hormat dan terima kasih sedalam-dalamnya karena mau untuk menerbitkan segala pemikiran Emha Ainun Nadjib sehingga pembaca dapat membacanya berulang-ulang agar semakin paham.

Sebagaimana dikabarkan dalam catatan pembuka, buku Mbah Nun ini menyampaikan kabar langit dengan bahasa yang membumi. Memang benar begitu adanya. Mbah Nun membuka intisari yang lengkap tentang bagaimana kita harus menyikapi apa-apa yang terjadi belakangan ini dengan cara pikir yang berbeda. Mbah Nun mengantarkan sebuah dialektika berpikir yang sederhana namun tetap tidak terlepas dari pangkuan Ibu Al-Quran.

Terlalu banyak quotes yang bisa diambil dari buku ini. Kalaupun sempat, akan saya rangkumkan quotes versi saya dalam tulisan lain. Yang terpenting, saya menemukan kembali sebuah konsistensi. Saya tidak perlu menemukan kembali relasi antara konteks kekinian dengan relevansi materi buku ini. Saya perlu sebuah sikap dan pernyataan tegas bahwa apa yang disampaikan oleh Mbah Nun lewat forum lingkar Maiyah dapat ditemukan dan ditelusuri kembali dalam buku ini.

Bagi pembaca yang sudah akrab dengan ceramah dan tulisan-tulisan Mbah Nun, tentu proses identifikasi keselarasan sikap dan ucapan itu akan menjadi sangat mudah. Lain halnya bagi pembaca yang baru berusaha memahami Emha. Akan berlangsung segenap pengalaman jiwa dan raga untuk melepaskan diri dari ikatan mainstream untuk kemudian menjernihkan hati dan pikiran untuk menerima rentetan pesan Mbah Nun.

InsyaAllah, buku ini akan menjadi media belajar bagi siapapun. Media pembelajaran bagi kita semua untuk selalu mawas diri, untuk selalu sadar bahwa ada kalanya hidup itu tidak selalu harus ngegas. Ada waktunya hidup mempersilakan kita untuk ngerem, untuk menahan. Supaya kita sampai tujuan dengan selamat. Selamat di dunia dan selamat di akhirat. InsyaAllah.

Judul        : Hidup itu Harus Pintar Ngegas & Ngerem
Penulis     : Emha Ainun Nadjib
Penerbit    : Noura Books
Tahun       : 2016
Tebal        : 230 hal.
Genre       : Sosial Budaya


Cipayung, 21 September 2017.

Cahaya Maha Cahaya

Kumpulan puisi Emha yang terbit pada tahun 2004 silam ini barangkali menjadi kumpulan puisi tipis yang paling susah saya tamatkan. Mulai dari membaca di rumah, di mobil jemputan, di pesawat menuju Manado, dalam gerbong KA Parahyangan, tak kunjung selesai juga pembacaan.

Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya sendiri belakangan ini memang mengalami ‘kemunduran’ dalam membaca. Satu bulan paling habis satu atau dua judul saja. Lantas, saya tidak bisa menambah koleksi bacaan disebabkan kemajuan bacaan yang sangat lambat itu.

Terus terang, memahami ‘Cahaya Maha Cahaya’ lebih sulit dibandingkan dengan ’99 untuk Tuhanku’, misalnya. Kemesraan antara Emha dengan Tuhannya itu memang agak sulit untuk dijabarkan lewat cara pandang biasa. 

Kemesraan Emha dengan Tuhannya nampak dalam “Ajari Aku Tidur”. Emha bermesraan macam seorang anak yang minta dikeloni oleh ibunya. Lebih baik ia tidur saja usai didera segala urusan dunia.
Ajari Aku Tidur
 
tuhan sayang ajari aku tidur
seperti dulu menemuimu di rahim ibu
sesudah lahir menjadi anak kehidupan
sesudah didera tatakrama, pendidikan, politik,
              dan kebodohan
bisaku cuma tertidur
tertidur


Emha tidak menulis kritik sosial yang tajam dalam setiap syairnya. Emha memposisikan diri sebagai seorang hamba yang berusaha menuju cahaya setelah dihampas gelombang kehidupan yang tak henti-hentinya membutakan mata, hati, jiwa, dan pikiran.

Saya mencatat beberapa syair yang rasanya perlu saya pahami. Adakah sebuah tendensi atau hanyalah sebuah imaji semata. Misal, pada bait puisi berjudul “Satu Kekasihku”.

Satu Kekasihku

mati hidup satu kekasihku
takkan kubikin ia cemburu
kurahasiakan dari anak istri
kulindungi dari politik dan kia
i

Siapakah politik dan kiai yang dimaksud Emha? Mengapa sesuatu itu takkan ia buat cemburu hingga mesti dirahasiakan dari anak istri hingga sangat perlu dilindungi dari politik dan kiai? Wallahu’alam. Mungkin perlu satu buku lagi untuk menjelaskan hubungan antara politik dan kiai sehingga jelaslah hubungan keduanya.

Emha sebagai subordinat dari mereka yang terkalahkan mengadu pada Tuhannya. Dalam “Lempari Aku”, Emha seakan menunjukkan pada Tuhan bahwa ia masih ada.

dengan sembahyang mungkin kau menerimaku
tapi dengan sakit tak bisa kau elakkan hadirku

Cahaya Maha Cahaya memang hanya sebuah buku kumpulan puisi yang tipis namun justru dalam ketipisannya itulah terkuak kebesaran dan keluasan dunia seorang Emha. Emha sebagai penyair menuliskan segala keresahannya; tentang manusia dan kepastian kuasa Tuhan yang tidak perlu dipertanyakan lagi.

Cipayung, 18 September 2017.

Judul        : Cahaya Maha Cahaya
Penulis    : Emha Ainun Nadjib
Penerbit    : Pustaka Firdaus
Tahun        : 2004
Tebal        : 71 hal.
Genre        : Sastra Indonesia-Kumpulan Puisi

Jumat, 30 Juni 2017

Catatan Hikmah (5)

Puasa yang dilakukan dengan benar dan intensif dalam dimensi badaniah, spiritual, intelektual dan mental, menghasilkan kemenangan-kemenangan kepribadian. Idul Fitri disebut Hari Raya Kemenangan karena sesudah 30 hari berjuang, manusia menemukan kemenang­an atas dirinya sendiri. Melalui pendadaran ibadah puasa, manusia dibina untuk sanggup mempang­limai dirinya sendiri, sanggup melakukan pilihan-pilihan terbaik menurut pandangan Allah, baik dalam dalam soal-soal konsumsi hidup, karier, atau apa pun.


Bandung, 26 Juni 2017.

Disadur dari tulisan Emha Ainun Nadjib berjudul "Idul Fitri: Kemenangan Personal di 'Tengah Kekalahan Struktural'" dalam buku "Tuhan Pun 'Berpuasa'", Gramedia Pustaka Utama, 2012.

Catatan Hikmah (4)

Kalau menjalani Idulfitri dan mudik ke Tuhan, satu-satunya jalan ya memakai cara pandang Tuhan. Materi, kekayaan, tumpukan modal, citra, hamparan uang, pangkat, jabatan dua periode, semua yang tampak mata, adalah mata uang yang tidak laku di dalam pola berpikir Idulfitri, yakni di hadapan Allah. Kita ini hidup di hadapan Allah: emang ada tempat selain itu untuk hidup?”.


Bandung, 25 Juni 2017.

Disadur dari tulisan Emha Ainun Nadjib berjudul "Mudik ke Rumah Fitri", dipublikasikan di www.caknun.com, diakses pada 25 Juni 2017.

Jumat, 09 Juni 2017

Catatan Hikmah (3)

Kita semua perlu belajar kepada Cak Nun bagaimana seharusnya memahami semua itu menurut al-Quran
Sumber gambar: caknun.com
Yang membedakan Islam dengan kebudayaan, Islam dengan industri, Islam dengan selera pribadi, Islam dengan kepentingan politik, Islam dengan segala macam acual nilai ciptaan manusia adalah akar dan sumber pertimbangan dari kemaslahatan dan kemudaratan itu. Bagi Islam, maslahat dan mudarat itu didasarkan pada nilai Allah. Pada yang lain, dasarnya adalah sumber-sumber kepentingan yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan sunnatullah dan iradatullah.
Jakarta, 9 Juni 2017

Penggalan artikel “Matriks-Lima dan Asas Maslahat-Mudarat” dalam buku ‘Tuhan Pun “Berpuasa”’, Emha Ainun Nadjib, Gramedia Pustaka Utama, 2012.

Senin, 05 Juni 2017

Catatan Hikmah (2): Perlunya Ilmu Kematian

Kegiatan puasa adalah perjalanan melancong ke tepian jurang kematian, meskipun engkau sadar untuk membatasinya sehingga tidak melompat masuk ke jurang itu. Perjalanan melancong itu, dalam puasa yang dikonsepkan dengan batas-batas sehat, sekadar mengajakmu untuk mengalami dan menghayati situasi yang seolah-olah antikehidupan, misalnya lapar; dahaga, lemas, loyo, lumpuh, dan seterusnya.

Sumber gambar: caknun.com

Di dalam puasa atau pekerjaan apa pun, substansi yang terpenting adalah kesadaran tentang batas. Batas yang benar pada sesuatu hal akan merelatifkan hakikat suatu pekerjaan dan kondisi. Umpamanya tadi aku sebut bahwa lapar dan haus adalah situasi yang antikehidupan. Itu artinya bahwa lapar dan haus yang tidak dibatasi akan memproduksi mati. Tetapi engkau tidak bias mendikotomikan lapar-haus dengan kenyang-segar apabila engkau memakai kesadaran batas. Sebab, kenyang yang tidak dibatasi juga akan membawa manusia kepada maut.

Juga apabila lapar di situ engkau artikan secara lebih luas menjadi –katakanlah-kemiskinan, kemelaratan, atau kefakiran. Kefakiran yang melampaui batas akan membunuh manusia. Bukan hanya terbunuh fisiknya, tapi mungkin juga daya hidupnya, kepercayaan dirinya, mentalnya, imannya, dan sebagainya.


Jakarta, 5 Juni 2017.

Potongan dari artikel "Perlunya Ilmu Kematian” dalam buku, Emha Ainun Nadjib, Gramedia Pustaka Utama, 2012.

Jumat, 02 Juni 2017

Catatan Hikmah (1)

Karena tanda orang kaya adalah ‘merasa cukup’ dan tanda miskin adalah ‘merasa belum cukup’? Maka puasa hadir ke dalam kepalamu tatkala pikiranmu bertanya:

“Benarkah aku perlu makan di restoran semahal itu?”
“Benarkah ada sesuatu yang prinsipil yang mengharuskanku membeli barang ini?”
“Benarkah ada padaku kewajaran nilai yang mewajibkanku merebut pemilikan saham-saham itu?”

Sumber gambar: caknun.com
Maka puasa merasuk ke dalam dadamu ketika mulutmu berbisik ke telinga nuranimu sendiri.

“Apakah memang aku harus mengambil political decision yang sedahsyat ini, yang dampaknya adalah kesensaraan sekian banyak rakyatku sendiri?”
“Apakah aku memang wajib mempertahankan kekuasaan ini demi sesuatu yang mendasar dan berorientasi kepada kepentingan mayoritas rakyatku?”
“Sampai kapan aku akan mendalangi semua itu dengan keyakinan bahwa ini semua adalah yang terbaik bagi masa depanku sendiri serta masa depan keluargaku sendiri?”
 

Jakarta, 2 Juni 2017.
 
Potongan dari artikel ‘Puasa dan “Tarikat Wajib” dalam Kebudayaan’ dalam buku ‘Tuhan Pun “Berpuasa”’, Emha Ainun Nadjib, Gramedia Pustaka Utama, 2012.


Selasa, 28 Februari 2017

Secangkir Kopi Jon Pakir

Siapa bilang anak orang kaya pasti pintar dan anak orang miskin pasti goblok. Memangnya Tuhan bodoh! Kok bikin aturan begitu! (Si Kembar Bodoh Pintar, hal. 21-22)
 
Sumber gambar: Goodreads
 
Seumur saya membaca Emha saya baru tahu kalau beliau ini pandai meracik kopi. Tidak pernah ada guyonan dalam video-video yang saya tonton lewat YouTube bahwa Cak Nun mampu meracik kopi. Kalau memang begitu, barangkali saya yang terlalu mendenotasikan arti kopi, sehingga kopi yang dimaksud adalah kopi yang biasa kita nikmati. Kopi seduh kental encer manis atau pahit.
 
Kopi racikan Mbah Nun dalam buku keempatnya yang diterbitkan oleh Mizan ini misalnya, tentu bukanlah kopi sebagaimana yang lazimnya kita nikmati sembari menghirup udara pagi. Kopi racikan Jon Pakir ini adalah kopi yang digiling dengan persoalan-persoalan hidup masyarakat kelas bawah yang diungkapkan lewat bahasa jelata, sederhana, dan jenaka.

Jon Pakir adalah nama yang dipilih sendiri olehnya. Sang Ayah, Masa Kini, membiarkannya untuk menentukan pilihan sendiri. Suatu hal yang tidak umum karena negara sebesar ini pun ternyata tidak mampu memilih jalannya sendiri. Sila pembaca menafsir sendiri arti dari Jon Pakir, apakah ada kaitannya dengan 'fakir' yang asli bahasa Arab itu atau hanya nama serapan belaka yang dilafalkan oleh orang Sunda. Silakan. Yang jelas, pembaca tidak akan pernah tahu apa hubungan Jon Pakir dengan Cak Markesot.

Keterlibatan Emha yang intens dengan mereka itulah yang membuat esai-esainya tampak hidup, bergairah, dan mewakili perasaan kita yang sesama kelas masyarakat yang terpinggirkan. Emha tampak asyik membuat si Jon Pakir menertawakan dirinya sendiri maupun dalam menghadapi surat-surat pembaca yang memberi kritik padanya.

Kumpulan esai santai ini adalah tulisan-tulisan Emha yang diterbitkan oleh 'Masa Kini', sebuah surat kabar daerah di Yogyakarta. Buku ini menghimpun segenap ide Emha pada rentang waktu 17 Juni 1987 hingga 22 Juli 1988. Maka dari itu, kiranya pembaca yang budiman mungkin akan mengalami kesulitan tatkala menerka-nerka subjek apakah yang menjadi pembahasan Emha. Namun, tidak menutup kemungkinan lain bahwa hal-hal yang sudah usang menjelang usainya dekade 80-an tetap aktual hingga saat ini. Hingga saat buku ini diterbitkan kembali dengan format yang baru.

Untuk itu, apabila pembaca yang budiman ingin menarik simpulan atau hipotesis sementara mengenai keadaan masyarakat negeri ini pada akhir dekade 1980-an dan menjelang akhir dekade 2010-an, buku ini membuka peluang ke arah sana. Sila pembaca menafsirkan sendiri pola-pola yang digunakan penguasa untuk memantapkan kekuasaannya.

Saya mencatat satu kutipan dari satu artikel Jon Pakir:
 
Silakan berbuat jahat, korupsi, mentang-mentang, ber-adigang adigung adiguna, tetapi begitu kita makin terseret ke dekat liang kubur: kita cenderung makin religius. Makin tahu apa yang asli pada hidup ini, apa yang inti dan yang paling kita butuhkan. (Grup Tahlilan Sewaan, hal. 219-220)
 
Kutipan diatas seakan ingin menegaskan bahwa kita ini memang tidak pernah tahu apa yang kita tuju dalam hidup ini. Sehingga kadang segala macam tindak tanduk kita tidak pernah sesuai dengan kemauan Tuhan. Padahal Tuhan sudah bermurah hati dengan membiarkan kita menghirup oksigen setiap pagi. Gratis!

Saya sangat menikmati kumpulan tulisan Emha yang kesekian ini. Tulisannya mudah dicerna, maknanya jelas, dan tidak perlu repot-repot berpikir soal konteks atau lain-lainnya. Aktualitas buku ini masih terasa benar dengan kondisi Republik yang semakin buta mana utara mana selatan. Sementara itu, silakan nikmati Kopi Jawa, Kopi Brasil, Kopi Sekuler, Kopi Masa Kini, Kopi bikinan Jon Pakir....

Judul           : Secangkir Kopi Jon Pakir
Penulis        : Emha Ainun Nadjib
Penerbit      : Penerbit Mizan Pustaka
Tahun          : 2016
Tebal           : 348 hal.
Genre           : Esai-Sosial Budaya
 
 
Cipayung, 23 Februari 2017.

Senin, 27 Februari 2017

Petikan (2)

.....

Lima
 

Orang dungu dan orang pandai
Mengarang tubuhnya sendiri-sendiri
Diramu berdasar sangkaan dan keinginan
Yang tak diuji dan tak dijernihkan
 

Ramuan tuhan-tuhanan dijadikan gincu
Dioleskan ke bibir
Dijajakan ke sana-kemari
Agar laris dagangan duniawi
 

Tuhan dijadikan suku cadang
Untuk membuat peluru dan senapan
Dibubuhkan namanya di surat-surat keputusan
Dikurung dalam kandang kambing-kambing hitam

 

Enam
 

Orang lain berteku-tekun sembahyang
Sambil merendahkan orang lain dan menajiskan
Tuhan dimonopoli
Diakui sebagai miliknya sendiri

Orang yang sembahyangnya gagal sembahyang
Tak menemu kesejatian
Orang yang sembahyangnya berhala
Syari'at-lah tuhannya

 

Tujuh
 

Yang bukan tuhan dituhankan
Yang tuhan tak dijadikan sesembahan
Orang mabuk di putaran gelombang
Terseret dari salah paham ke salah paham

Kekuasaan dan kemegahan
Uang dan segala bentuk kekerdilan
Berfungsi tuhan
Karena dinomorsatukan

 

Delapan
 

Tuhan disederhanakan
Menjadi kayu pagar berbaris
Terbuntu jalanan ke cakrawala
Langit ditutupi awan jelaga

Jiwa lapar umat
Dicekoki penafsiran dusta
Hati mereka yang dahaga
Dijawab dengan paham syari'at yang buta

Sampai tiba suatu hari
Engaku ditanya oleh dirimu sendiri
Siapakah Tuhan hidupmu, ya shahibi?
Kau jawab: Umara dan Ulama, tak ragu lagi

 

Sembilan
 

Tuhan sudah sangat populer
Sudah dijadikan komoditas yang amat sekuler
Diiklankan dengan indahnya
Disebut dan dimanfaatkan di mana-mana

Allah yang sebenarnya
Mahasuci Dia
Dari ludah segala jenis Fir'aun
Yang merasuki tulang sumsum




Petikan dari puisi "Tuhan Sudah Sangat Populer", dalam "Seribu Masjid Satu Jumlahnya", halaman 107-109, Emha Ainun Nadjib, Mizan: 2016

Cipayung, 16 Februari 2017

Petikan (1)

Gusti
Kami pasrah sepasrah-pasrahnya
Kami telanjang setelanjang-telanjangnya
Kami syukuri apa pun
Sebab rahasia-Mu agung
Tak ada apa-apa yang penting
Dalam hidup yang cuma sejenak ini
Kecuali berlomba lari
Untuk melihat telapak kaki siapa
Yang paling dulu menginjak
Halaman rumah-Mu

Gusti
Lihatlah
Mulut kami fasih
Otak kami secerdik setan
Jiwa kami luwes
Bersujud bagai para malaikat-Mu
Namun saksikan
Adakah hidup kami mampu begitu?
Langkah kami yang mantap dan dungu
Hasil-hasil kerja kami yang gagah dan semu
Arah mata kami yang bingung dan tertipu
Akan sanggupkah melunasi hutang kami
Kepada kasih cinta penciptaan-Mu?

Gusti
Masa depan kami sendiri kami bakar
Namun betapa Engkau bijaksana
Kelakuan kami semakin nakal
Namun kebesaran-Mu Mahakekal
Nafsu kami semakin rakus
Tapi betapa rahmat-Mu tak putus-putus
Kemanusiaan kami semakin dangkal
Sehingga Engkau menjadi terlampau mahal

Gusti
Kamilah pesakitan
Di penjara yang kami bangun sendiri
Kamilah narapidana
Yang tak berwajah lagi
Kaki dan tangan ini
Kami ikat sendiri
Maka hukumlah atau ampuni kami
Dan jangan biarkan terlalu lama menanti



Petikan dari puisi "Doa Pesakitan", dalam "Seribu Masjid Satu Jumlahnya", halaman 100-101, Emha Ainun Nadjib, Mizan: 2016

Cipayung, 15 Februari 2017.

Jumat, 28 Oktober 2016

Mati Ketawa ala Refotnasi

Tiap hari saya bertemu dengan ribuan rakyat di berbagai daerah dan pulau. Hampir semua bertanya, “Kok, partai politik kita sekarang begitu banyak? Ini demokrasi ataukah perpecahan ataukah ketidakdewasaan? Kami harus memilih yang mana?”

Courtesy: www.goodreads.com




Catatan pembukaan untuk buku ini telah ditulis pada 30 Juli 2016 yang lalu. Disini, masih dalam blog ini. Bahwa kemudian baru tiga bulan kemudian buku ini ditamatkan, penulis mohon maaf. Sesungguhnya, dalam usaha menamatkan buku ini hanya diperlukan waktu. Cukup hanya waktu saja. Mengapa? Karena kita butuh waktu untuk memahami apa yang terjadi pada Indonesia, seperti yang Emha tulis. Pun, ketika kita akhirnya harus menyediakan waktu untuk berpikir, apakah jalan yang ditempuh bangsa ini pasca kejatuhan Pak Harto dan mulainya reformasi sudah berada pada jalan yang lurus, shirottol mustaqiim?


Buku ini cukup ringan walaupun muatannya terkesan "berat". Apalagi menyangkut segala hal tentang periode reformasi yang sungguh cukup "menyiksa" kenangan lahir dan batin kita sebagai bangsa Indonesia. Emha agaknya sengaja ingin berpesan bahwa apapun kondisinya kita tetap harus bisa melihat jernih. Misalnya, tentang apa di balik siapa, atau malah siapa di balik apa. Celakanya, segala pemberitaan media massa justru malah memperkeruh situasi lahir dan batin bangsa Indonesia sehingga tidak lagi bisa berpikir jernih. Lha wong arsitek jaman Orde Baru itu sama dengan arsitek Orde Reformasi. Tetapi adakah yang menggugat? Itu baru penggalan satu contoh kecil saja.

Saya tidak menyangka bahwa buku ini memuat satu frame dari sekian timeline kisah hidup Emha. Satu bagian yang paling humanis, ketika putri Emha meninggal dalam kandungan karena terlilit tali pusar. Saya membaca sebuah kisah penuh ketegaran dan keikhlasan karena bahwasanya si anak putri ini sudah menanti ibu dan bapakna di Surga kelak, InsyaAllah.

Selanjutnya, saya menemukan kembali satu titik konsistensi seorang Muhammad Ainun Nadjib. Pada bagian-bagian akhir, Emha menjawab berbagai pertanyaan yang dituduhkan kepadanya. Emha dengan tegas dan lugas memberikan gugatannya. Kenapa kalau Emha shalawatan kok banyak yang bilang menggalang massa, sedangkan MTV (Music Television) dibiarkan merajalela merusak mental anak bangsa? Bila memang anda rajin membaca buku-buku Cak Nun belakangan ini, saya yakin anda akan menemukan hal yang serupa. Konsistensi yang istiqomah.

After all, bila anda adalah generasi kekinian yang hanya mengerti sepenggal-sepenggal mengenai sejumlah hal, patut rasanya mendekonstruksi kembali alam pikiran anda. Buku ini bisa jadi pengantar yang baik ke arah sana. Minimal, mereformasi diri sendiri dengan pelajaran dari sebuah negeri yang kerepotan cari nasi. Ah, refotnasi.

Judul       : Mati Ketawa ala Refotnasi
Penulis    : Emha Ainun Nadjib
Penerbit   : Bentang Pustaka
Tahun      : 2016
Tebal       : 200 hal.
Genre      : Sosial-Budaya


Medan Merdeka Barat, 28 Oktober 2016.

 

Sabtu, 30 Juli 2016

Catatan untuk Buku Baru Emha: Refotnasi

Image Courtesy: www.goodreads.com
Belum selesai pembacaan buku kumpulan puisi Cak Nun, ‘Seribu Masjid, Satu Jumlahnya: Catatan Tahajud Cinta Seorang Hamba’, saya segera menghampiri toko buku langganan untuk mendapatkan edisi terbaru ‘Mati Ketawa ala Refotnasi: Menyorong Rembulan’. Terus terang, saya tidak ingin ketinggalan satu pun edisi terbaru dari buku-buku Emha. Saya tidak ingin menyesal dan terus penasaran dengan jalan pikiran Cak Nun yang selalu mendekonstruksi cara pikir saya sebelumnya.

To be honest, sebelum benar-benar bisa membaca buku ini, saya masih menduga bahwa buku ini adalah kelanjutan tulisan Emha setelah ‘2,5 Jam di Istana’. Benar saja, ada statement bahwa buku ini merupakan semacam lanjutan dari buku itu. Emha benar-benar turun dan menemani kaum yang dilemahkan dan terpinggirkan untuk senantiasa memperbarui segenap ikhtiar untuk menyikapi keadaan bangsa di era awal reformasi.

Saya jadi teringat pada syair dari lagu “Shalli Wassalim” yang ada di album Emha Ainun Nadjib berjudul “Berhijrah dari Kegelapan”.

Sayang, sayang, sayang, orang hebat tinggi hati...
Omong demokrasi, pidato berapi-api...
Ternyata karena menginginkan kursi...
Sementara rakyat, kerepotan cari nasi...

Entah ada hubungannya atau tidak, antara reformasi dan repot nasi, saya anggap buku ini adalah kesaksian Emha pada suatu masa di republik tercinta ini. Satu kesaksian agar kita mampu berkaca, untuk senantiasa istirahat sejenak, menatap ke dalam diri demi menjawab satu, ribuan, atau bahkan jutaan pertanyaan yang belum selesai. Tentang bagaimana reformasi melanda bangsa ini. Pun, kenapa bangsa yang katanya bangsa yang besar ini jadi kerepotan cari nasi.

*tulisan ini dibuat setelah membeli buku Cak Nun yang terbaru “Mati Ketawa ala Refotnasi” dan membaca artikel dengan judul sama di bagian akhir buku. 

Pharmindo, 30 Juli 2016.

Sabtu, 30 Januari 2016

Alasan-alasan Kagum Kepada Orang Indonesia


Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar sehingga tidak membutuhkan kebesaran. Orang yang masih mengejar kebesaran adalah orang yang masih kecil atau kerdil. Indonesia tidak pernah bernafsu terhadap kehebatan karena aslinya memang sudah hebat.

Ungkapan diatas termaktub dalam halaman 20-21. Agaknya, Cak Nun memang kagum betul dengan yang namanya Orang Indonesia. Sebelum membaca lebih jauh, perlu dibuat dulu batas konsensus sejauh mana pengertian Orang Indonesia menurut Cak Nun.

Pembaca tidak harus ambil pusing untuk hal ini karena Cak Nun memang sengaja tidak memberi batasan mana Orang Indonesia atau yang bukan. Tidak pula dibatasi apakah orang-orang yang mendiami bumi Nusantara sejak era Majapahit hingga masa Presiden SBY. Pokoknya, bila anda memang Orang Indonesia, sungguh betul anda-anda ini memang punya potensi besar untuk dikagumi oleh bangsa-bangsa lain di dunia. 

Pembacaan buku diawali dengan syair "Ilir-Ilir" yang dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga. Barangkali, Cak Nun ingin pembaca memahami betul bahwa memang  Indonesia ini sudah hebat dari sono-nya.  Lir ilir tandure wis sumilir..

Maka, tak ada bangsa lain di dunia yang kewajiban rasa syukurnya melebihi bangsa Indonesia. Kata Koes Plus, kail dan jala cukup menghidupimu, tongkat dan kayu jadi tanamanan. 

Apalagi alasan yang anda temukan untuk tidak mengagumi orang Indonesia? Gunung-gunung disini hijau, sementara anda bisa hitung sendiri jumlah helai rumput kering yang ada di Jabal Musa Sang Kalimullah itu. Peradaban padi suku Jawa tidak ada tandingannya di dunia. Bukan karena mereka pemalas atau karena manajemen kebijakan pertanian pemerintah. Melainkan, orang Jawa tidak perlu cemas: sewaktu-waktu bisa menanam padi sambil tidur dan memaneninya sambil mengantuk. Sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas anugerah alam subur dari-Nya. 

Indonesia tidak pernah kekurang stok pemimpin. Disini stok pemimpin berlimpah. Bila negara kita disebut sedang mengalami krisis, itu adalah semacam tawadlu sosial, sikap yang menghindarkan diri dari sikap sombong. Begitulah orang Indonesia bersikap demikian agar diremehkan oleh bangsa lain. Bahwasanya, kita punya prinsip religius bahwa semakin direndahkan manusia, semakin tinggi derajat kita dihadapan Allah SWT. 

Bangsa Indonesia adalah bangsa bibit unggul, bangsa garda depan, bangsa besar yang tak butuh kebesaran. Bangsa Indonesia bukan bangsa pemalas. Justru, dunia besar karena Indonesia karena Indonesia adalah kapten kesebelasan dunia.

Semua sifat dan potensi orang Indonesia bisa sangat positif dalam menyongsong masa depan. Lebih-lebih ketika sedang memasuki tahap lingsir wengi alias kegelapan total di berbagai bidang. Maka bila suatu saat nanti muncul ramalan sirnanya NKRI, niscaya pertolongan Tuhan akan hadir dengan cara yang tidak disangka-sangka, berdasarkan melimpahnya "setoran" rakyat Indonesia kepada Tuhan berupa kesengsaraan, keputusasaan, dan derita yang tak sudah-sudah. 

Buku ini dengan gamblang dan apa adanya, mengungkapkan sisi-sisi yang justru tidak pernah jadi hal positif bagi manusia Indonesia. Dengan pendekatan komedis dan (sedikit) sinis, Cak Nun mengabadikan pandangan, harapan, bahkan juga parodi tentang sisi-sisi kualitatif manusia Indonesia. Sisi-sisi yang jarang mendapat ekspos tentang bagaimana manusia Indonesia menyikapi dirinya.

Judul      : Kagum Kepada Orang Indonesia
Penulis    : Emha Ainun Nadjib
Penerbit   : Bentang Pustaka
Tahun      : 2015
Tebal       : 78 hal. 
Genre      : Sosial-Budaya

Cipayung, 28 Januari 2016.

Jumat, 25 Desember 2015

Orang Maiyah

Hidup orang Maiyah tidak tergantung kekayaan dan atau kemiskinan, tetapi tergantung pada proses pembelajaran menggunakan akal dan nuraninya untuk menyutradarai hidup menuju yang pantas dituju. 



Mengambil sub judul: Terang dalam kegelapan, Kaya dalam kemiskinan, buku 'Orang Maiyah' ini hadir sebagai penerang dan penjawab tanya, setidaknya tentang apa itu makhluk yang dinamakan Orang Maiyah. Sepengetahuan saya, baru buku ini yang khusus menerangkan apa yang terjadi dalam forum-forum Maiyah asuhan Cak Nun dan kawan-kawan. Adapun, mengenai asal usul dan pengenalan singkat tentang Jamaah Maiyah, telah lebih dulu ditulis oleh Prayogi R. Saputra dalam "Spiritual Journey: Pemikiran dan Perenungan Emha Ainun Nadjib". 

Buku ini membahas rangkuman dialog Cak Nun bersama tujuh orang Jamaah Maiyah lainnya dalam menginternalisasikan peran forum Maiyah dalam keseharian hidup mereka. Dalam Forum Jamaah Maiyah yang tersebar di berbagai kota dengan codename Bangbang Wetan, Gambang Syafaat, Kenduri Cinta, Jamparing Asih, dan lainnya itu tidak ada guru dan murid. Semua orang adalah murid, sang penghendak ilmu. 

Maiyahan-sebutan lain untuk forum Maiyah-menjadi saat yang paling ditunggu-tunggu oleh Jamaah Maiyah. Suatu momen dimana mereka rela tanpa lelah dan terpaksa duduk selama lima hingga tujuh jam untuk berkumpul dan berpikir tentang topik yang disajikan. Bergantian, Cak Nun hadir sebagai narasumber beserta tokoh-tokoh lain. Kadang diiringi lantunan musik suguhan Kiai Kanjeng. 

'Orang Maiyah' membuktikan kapasitas Jamaah Maiyah sebagai penghasil karya buah pikiran yang bukan merupakan sebuah karangan. Penulis yang terlibat dalam buku ini menulis dengan tulus tanpa pretensi dan kebanggaan sebagai penulis. Cak Nun berperan sebagai editor yang mengurusi lalu-lintas naskah mereka. 

Bagi saya pribadi, dalam buku ini saya menjumpai statement penegas dari Cak Nun yang sama ada dalam buku Spiritual Journey. 

"Lebih baik saya nyolokin lombok rawit ke mulut orang Maiyah daripada duduk menerangkan dan mengurai panjang lebar tentang makna lombok kepada mereka"

Ini adalah satu bukti konsistensi Cak Nun dalam usahanya menggembleng mental orang Maiyah agar mau mentransferkan kembali ilmu yang telah mereka dapat ke jamaah lainnya. Dengan demikian, maka paripurna lah adanya orang Maiyah sebagai orang-orang yang ikhlas dan mau berpikir. 

Lima belas esai buah karya orang Maiyah ini mengajak kita agar memaknai hidup dari sudut pandang yang berbeda. Walaupun buku ini pernah diterbitkan dengan judul yang sama pada tahun 2007, tetapi relevansi kekinian dengan realita Maiyah tidak pernah berubah. Betapa Allah SWT dapat dicapai dengan ijtihad seperti yang dilakukan orang-orang Maiyah ini. 

Judul          : Orang Maiyah
Penulis       : Emha Ainun Nadjib
Penerbit      : Bentang Pustaka
Tahun         : 2015
Tebal           : 100 hal. 
Genre         : Agama Islam-Sosial Budaya


Bumi Asri, 25 Desember 2015. 

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...