Tampilkan postingan dengan label Sepakbola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepakbola. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Desember 2017

Air Mata Bola

Sumber gambar: www.goodreads.com
Air Mata Bola adalah sekuel dari Trilogi Sepakbola Sindhunata. Judulnya seakan mewakili berbagai tragedi sepakbola yang tidak selalu memilukan namun menuai air mata. Betapa sepakbola bukan hanya sekedar olahraga belaka. Lebih dari itu, sepakbola adalah bagian panggung kecil kehidupan.

Bagian kedua ini mengambil rentang waktu pada menjelangnya Piala Eropa 1996 di Inggris. Waktu itu, Inggris kembali gegap gempita dengan semangat 'Football Coming Home'. Kemudian, beralih sedikit dengan kemenangan Dortmund atas Juventus pada final Piala Champions 1997.

Air mata bertebaran kala itu karena Juventus sedang berada dalam kondisi ideal untuk menguasai jagad sepakbola Eropa. Timeline ditutup dengan episode menjelang final Piala Champions musim 1998-1999 yang mempertemukan Bayern Muenchen dan Manchester United di Nou Camp, Barcelona.

Saya selalu merujuk buku ini bila butuh rekreasi sejenak untuk menemukan kembali inspirasi dari Predrag Mijatovic. Ia adalah seorang striker yang sangat percaya diri. Alasan yang tepat untuk keberadaannya di skuad Real Madrid kala itu. Kisahnya dapat dibaca dalam artikel berjudul 'Ambisi Sebuah Klub Superlatif'.

Tidak hanya soal itu saja, rasanya selalu menyenangkan kala membaca kembali kisah tidak terduga dari Kroasia dan Republik Ceko di gelaran Euro 96. Allen Boksic dan Davor Suker adalah label dari kejutan-kejutan itu. Munculnya Republik Ceko dalam final menghadapi Jerman adalah sebuah perlawanan dalam kemapanan.

Satu lagi, buku ini juga memuat kisah Eric Cantona dan Sir Alex Ferguson. Usai merekrutnya dari Leeds United, Sir Alex bertanya pada Cantona sebesar apakah dirinya untuk bermain di MU. Cantona balik bertanya sebesar apakah MU untuknya.

Kisah-kisah diatas adalah cerita yang selalu menarik untuk dibaca kembali. Sepakbola sebagai realitas kecil kehidupan mampu menyajikan tontonan yang tidak hanya melulu soal sportivitas teapi juga soal humanisme. Humanisme universal tentang bagaimana memaknai kehidupan yang kadang juga penuh dengan air mata.

Judul           : Air Mata Bola
Penulis        : Sindhunata
Penerbit       : Penerbit Buku Kompas
Tahun          : 2002
Tebal           : 276 hal.
Genre          : Sosial-Budaya


Cipayung, 30 Desember 2017.

Selasa, 31 Oktober 2017

Bola Di Balik Bulan

“We are red, we are white, we are Danish dynamit.”

Sumber gambar: www.goodreads.com
Sepakbola secara filosofis dapat mengajari orang untuk mengalami realisme nasib. Nasib itu sendiri, entah menang atau kalah tidak terbaca dalam suatu pergulatan dalam rentang waktu yang lama, tetapi tiba-tiba terjadi dalam peristiwa tidak terduga.

Sepakbola adalah hidup. Sepakbola tidak hanya berarti sebagai olahraga belaka. Setidaknya, kesimpulan yang demikian dapat diperoleh usai membaca tulisan-tulisan Sindhunata dalam buku ini. ‘Bola Di Balik Bulan’ adalah satu bagian dari trilogi sepakbola Sindhunata. Bersama ‘Air Mata Bola’ dan ‘Bola-Bola Nasib’.

Tidak jelas memang mana buku yang pertama, kedua, dan ketiga. Namun, kalau boleh saya menempatkan ‘Bola Di Balik Bulan’ sebagai buku pertama disusul dengan ‘Air Mata Bola’ dan ‘Bola-Bola Nasib’ sebagai pamungkas. Ini hanya hasil pengamatan sepintas dari pengalaman saya belaka. ‘Bola Di Balik Bulan’ menampilkan suatu suguhan bahwa sepakbola adalah sebuah gairah kehidupan, kemudian usai gairah itu hadirlah sebuah “Air Mata Bola” dimana sepakbola banyak menyajikan drama (yang tidak sedangkal opera sabun) yang menguras air mata. Sehingga kemudian kesemuanya bermuara pada satu keniscayaan bahwa sepakbola itu ibarat kehidupan yang memiliki nasibnya sendiri-sendiri.

‘Bola Di Balik Bulan’ sendiri merupakan sebuah pengandaian dari gegap gempita Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Sebuah sajian sepakbola dunia di negeri yang hanya kenal permainan bola tangan. Namun demikian, Amerika Serikat saat itu mampu lolos dari fase grup dan berhadapan dengan Brazil di babak per delapan final. Tim Sepakbola Amerika Serikat pun ‘memakan’ korban bernama Andres Escobar yang membuat gol bunuh diri sehingga Kolombia harus kalah di tangan tuan rumah. Begitu besar harapan publik Amerika Serikat saat itu sehingga mereka dianggap telah berhasil menemukan bola di bulan. Ya, mereka memang telah menemukan bulan, namun sepakbola masih saja tetap tidak populer disana.

Lewat buku ini saya jadi tahu bahwa Seorang Rinus Michels tidak melatih dan memberi instruksi dengan menyebut nama pemainnya melainkan nomor punggung mereka. Bagi khalayak luas, Sindhunata seakan membawa kita pada gegap gempita jagad persepakbolaan dekade 80-90an. Nama-nama besar saat itu juga tidak lepas dari catatan Sindhunata. Sebut saja macam Van Basten, Gullit, Garrincha, Pele, Maradona, Platini, Papin, Roberto Baggio, Rinus Michels, dan Franz Beckenbauer. Tidak hanya sekedar nama, Sindhunata pun dengan piawai menuliskan kisah-kisah yang melingkupi nama-nama besar tersebut. Sehingga seluruh aspeknya terangkum utuh dalam sebuah kisah.

Catatan Sindhunata ini tadinya hanyalah sebuah tulisan kolom pada harian Kompas dan selalu terbit di halaman awal. Tidak heran bila kemudian banyak pembaca yang menginginkan agar catatan-catatan tersebut dibukukan agar tidak tercecer begitu saja. Saya turut menikmati setiap cerita dalam buku ini. Saya seakan dibuat turut mengalami sendiri kejadian-kejadian yang dicatat Sindhunata. Agaknya, Sindhunata telah berhasil mengangkat kisah dan refleksi sepakbola menjadi sebuah catatan humanis yang universal.

Judul           : Bola Di Balik Bulan
Penulis        : Sindhunata
Penerbit       : Penerbit Buku Kompas
Tahun          : 2002
Tebal           : 296 hal.
Genre          : Sosial-Budaya

 
Cipayung, 26 Oktober 2017

Senin, 27 Februari 2017

Worldcupedia 1930-2022

Sumber gambar: buku.kompas.com

Saya tidak pernah tahu bahwa ada  sebuah kumpulan tulisan bersifat dokumentatif yang mengulas soal Piala Dunia. Piala Dunia sepakbola dibawah asuhan FIFA, tentunya. Mengagumkan, memang. Apalagi, didukung oleh berbagai sumber dari Tabloid Bola. Tabloidnya penggemar sepakbola. Dari sisi Tabloid Bola sendiri, saya hanya tahu publikasi mereka berupa komik serial 'Sepakbolaria' kemudian komik 'Si Gundul' yang mewakili narasi komik di berbagai bidang olahraga.
 
Buku berukuran 14 inci ini mengulas banyak hal mulai dari latar belakang penyelenggaraan piala dunia hingga update terakhir mengenai terpilinya Qatar sebagai tuan rumah kejuaraan untuk tahun 2022. Menarik sekali untuk mengetahui mengapa Piala Dunia pertama diselenggarakan jauh-jauh di Uruguay. Bukan di tanah kelahirannya di Eropa sana.
 
Sepakbola dunia juga ikut merasakan gegap-gempita perang dunia yang mengubah konstelasi geopolitik dunia. Perang Dunia I dan Perang Dunia II tidak membawa sebab yang sedikit bagi perkembangan sejarah Piala Dunia. Simaklah bagaimana Italia berhasil menjadi Juara Dunia dibawah diktator Mussolini, hingga empat tahun kemudian berhasil menjadi jawara kembali.
 
Modernitas sepakbola makin terasa kala Inggris menjadi tuan rumah sekaligus menjuarai PIala Dunia tahun 1966. Sejaka saat itu, selalu ada saja drama di lapangan hijau yang menjadi kenangan setiap piala dunia. Rivalitas Jerman Barat-Belanda yang tidak pernah berakhir; Legenda bernama Pele, Mario Kempes, Maradona, Beckenbauer, Romario, Zinedine Zidane, Ahn Jung Hwan, dan Phillip Lahm lahir di pentas dunia; Drama gol Geoff Hurst yang dibayar Jerman di Piala Dunia 2010, Kegagalan penalti Roberto Baggio, Sundulan Materazzi ke dada ZIdane, Kedigdayaan Spanyol, dan ganasnya Der PAnzer di Brazil 2014 adalah suguhan yang tidak mungkin mudah dilupakan.
 
Ensiklopedia ini tampil dengan sampul tebal dan halaman berkertas glossy. Seakan ingin menampilkan glamoritas gelaran Piala Dunia. Bagaimanapun, sepakbola tidak hanya soal kemenangan. Lebih dari itu, sepakbola adalah gairah. Gairah menuju pencapaian jiwa, menang kalah soal biasa.
 
Judul        : Worldcupedia: Ensiklopedia Piala Dunia 1930-2022
Penulis        : Adi Prinantyo [et.al]
Penerbit    : Penerbit Buku Kompas
Tahun        : 2014Tebal        : 216 hal.
Genre        : Sejarah-Sepakbola
 

Cipayung, 10 Februari 2017.

Minggu, 25 Mei 2014

La Decima

Beginilah tradisi Real: Ia harus menang, tetapi menang saja tidak cukup, ia harus menang dengan gol banyak, menang dengan gol banyak juga tidak cukup, ia harus bermain dengan super ofensif dan indah. *
Bernd Krauss

Courtesy: uefa.com

Minggu dini hari, Madridista di seluruh Republik ini bersorak. Untuk sementara, mereka tidak perlu peduli soal siapa Jokowi, siapa Prabowo, koalisi merah putih atau koalisi kembang gula. Pagi ini adalah milik mereka. Real Madrid berhasil menghancurkan rival sekota mereka, Atletico Madrid, dalam final Liga Champions Eropa yang digelar di Lisabon, Portugal. Real Madrid membayar kontan gelar ke-10 mereka ini dengan skor meyakinkan, 4-1.

Atletico Madrid berhasil menjadi kejutan musim ini dengan berhasil menyisihkan Chelsea dan Barcelona. Gairah mereka semakin menjadi ketika berhasil meraih gelar Juara Liga Spanyol dua minggu sebelumnya. Diego Simeone berharap momentum itu bisa membuat Atletico tetap berada pada jalur juara. Simeone pun paham betul bahwa lawannya itu adalah teman sekota mereka, yang punya keinginan besar untuk menggenapi gelar trofi Liga Champions mereka.

Courtesy: uefa.com
Real Madrid pun punya alasan yang kuat kenapa mereka harus juara. Selain target piala ke-10, skuad mereka pun terhitung sangat ideal untuk menghentikan perlawanan Atletico. Pun, Real Madrid punya Carlo Ancelotti yang sudah sangat paham betul membaca situasi dalam pentas final Liga Champions. Deretan nama bintang dalam skuad Real Madrid seharusnya jadi jaminan gelar ke-10 mereka.

Situasi seperti ini agaknya pernah terjadi di El Real. Tahun 1998, El Real punya skuad Galacticos 90’an yang dihuni nama besar seperti Predrag Mijatovic, Raul Gonzalez, Davor Suker, Fernando Hierro, Clarence Seedorf, dan Roberto Carlos. Medio 2002, Los Galacticos kedatangan Zinedine Zidane, David Beckham, dan Michael Owen.

Jadi, bisa dibayangkan betapa sulitnya bagi seorang Ancelotti untuk menangani pemain kaliber-kaliber individualis besar ini. Ancelotti seakan tidak perlu membentuk mereka lagi. Tugas utamanya hanya perlu membimbing karakter-karakter semacam Cristiano Ronaldo, Gareth Bale, Karim Benzema, Angel Di Maria, Xabi Alonso, dan Sergio Ramos menjadi sebuah kesebelasan yang padu.

Bagaimanapun, semalam tadi Ancelotti rupanya paham untuk segera mengandaskan Atletico meski harus bermain hingga babak perpanjangan waktu. Ancelotti tidak ingin final ini selesai dengan adu penalti. Mungkin, dalam benak Ancelotti masih terbayang kegagalan AC Milan dalam adu penalti menghadapi Liverpool di Istanbul, 2005 lalu. 

Courtesy: uefa.com
Maka, ketika Sergio Ramos melesakkan gol penyeimbang, semua pemain Real tahu apa yang harus dilakukan: segera menyelesaikan pertandingan. Gol-gol dari Gareth Bale, Marcelo, dan penalti Cristiano Ronaldo menyudahi perlawanan tim sekota. Antiklimaks untuk sebuah drama anti-mainstream. Atletico memang gagal membuat kaya petaruh-petaruh besar, namun ia sanggup menegaskan eksistensi atas sebuah entitas dalam sepakbola modern.

Hala Madrid!

Pharmindo, 25 Mei 2014 
 
* Dari artikel berjudul “Ambisi Sebuah Klub Superlatif” dalam “Air Mata Bola: Trilogi Sepakbola Sindhunata” hal. 112

Minggu, 21 Juli 2013

This is Indonesia!: LIVERPOOL FC ASIA TOUR 2013



Awalnya

Final FA Cup 1996. Courtesy: belfasttelegraph.co.uk

Saya sudah lupa kapan saya mulai mencintai Liverpool FC. Kalaupun mengira-ngira, barangkali medio 90-an. Yang jelas, saat itu saya sangat kecewa ketika Liverpool dikalahkan Manchester United di Final Piala FA tahun 1996 di Webley. Gol yang dibuat Eric Cantona pada menit ke-85 membuyarkan impian Liverpudlians untuk menikmati titel FA Cup ke-6.

Pertandingan ini juga menandai comeback Eric Cantona ke Premier League usai menjalani skorsing 7 bulan akibat insiden ‘tendangan kungfu’. Saya sungguh menikmati Liverpool dekade 90-an. Liverpool masih punya Robbie Fowler (my childhood hero), Stan Collymore, winger Steve McManaman, John Barnes, David James, dan Jason McAteer, yang kemudian diteruskan oleh generasi Gerrard-Owen-Carragher.

Final UEFA Champions League 2005 Istanbul

Dilema mulai melanda ketika Final Liga Champions 2005, dimana Liverpool menghadapi AC Milan. Keduanya adalah tim favorit saya. Satu di Inggris, satu lagi di Italia. Saya sungguh tidak bisa memprediksi siapa yang akan jadi juara. Namun, tetap hati kecil berkata bahwa melihat performa Liverpool hingga ke final di Istanbul tidak menutup kemungkinan mereka bisa meraih trofi Liga Champions ke-5 mereka. Walau tetap saja perang batin tidak bisa dihindari.

Milan berhasil unggul 3-0 sepanjang babak pertama melalui gol cepat Paolo Maldini dan dua gol Hernan Crespo. Saya mengira final ini sudah berakhir untuk kemenangan AC Milan. Ternyata, Liverpool berhasil bangkit memanfaatkan permainan Milan yang mulai mengendur. 3 gol dalam 6 menit dari Gerrard, Smicer, dan Alonso, adalah pembuktian bahwa Gerrard cs masih belum menyerah hingga memaksa Milan bermain drama adu penalti. Penampilan gemilang Jerzy Dudek turut mewarnai sejarah Liverpool yang berhasil meraih titel kasta tertinggi di Eropa yang ke-5.

Maka dari itu, ketika tiket pertandingan pra-musim sudah dirilis, saya segera membeli. Ditambah bonus sempat bertemu dengan Robbie Fowler di Senayan City (Kamis, 18 Juli 2013) yang akan mengisi sebuah acara di gerai sports equipment. Sayang, saya tidak mendapat kesempatan foto bersama.

Liverpool FC Indonesia Tour 2013

Brendan Rodgers saat Konferensi Pers resmi

Kabar tentang kedatangan Liverpool ke Indonesia sudah berhembus saat penandatanganan kontrak kerjasama sponsorship antara Garuda Indonesia dengan Liverpool FC. Asumsi bahwa Liverpool akan benar-benar menjejakkan kakinya di Bumi Pertiwi tidak bisa dihindari. Banyak yang berharap bahwa Liverpool suatu saat akan singgah di Indonesia untuk tur pra-musim. Hingga kabar itu benar-benar menjadi kenyataan usai musim 2012-2013 berakhir.

Kedatangan Liverpool FC di Bandara Halim Perdanakusuma (17 Juli 2013)

Liverpool menjadikan Jakarta sebagai tujuan tur pra-musim mereka, bersama Melbourne dan Bangkok. Perlu dicatat bahwa kedatangan mereka ke Indonesia tanpa undangan atau dukungan promotor. Liverpool menilai bahwa Indonesia merupakan satu basis suporter terbesar di Asia Tenggara. Data kasar facebook, dari 12 juta orang yang ‘like’ Liverpool FC di seluruh dunia, 1,2 juta ‘like’ berasal dari Indonesia. Sedikit jauh diatas Inggris sendiri yang hanya 1,17 juta. Data itu belum termasuk data ‘real’ yang menurut Ketua Urusan Komersial Liverpool FC Billy Hogan mencapai 5,5 juta orang (harian Kompas, 20 Juli 2013).

Fans menyambut kedatangan Liverpool FC.

Antusiasme fans menjadi energi tersendiri bagi Liverpool untuk mendekati basis komunitas pendukungnya di Indonesia. Liverpudlians Indonesia menyumbang 16 persen dari jumlah fans Liverpool sedunia. Oleh karena itu, mereka memilih langsung Indonesia sebagai tujuan tur pra-musim. Lengkap dengan seluruh pemain utama, minus Luis Suarez dan Pepe Reina yang masih menjalani libur pasca Piala Konfederasi. 

Tour and Charity, together.


Coaching Clinic di satu sekolah di Jakarta

Tidak hanya itu, keberadaan Liverpool di Indonesia lebih lama dibandingkan dengan Arsenal. Beberapa acara yang digelar Liverpool FC Foundation turut memeriahkan tur pra-musim mereka di Jakarta. Coaching clinic digelar di beberapa sekolah hingga buka puasa bersama anak-anak yatim pun dijalani. Selain staf coach dari Liverpool FC Foundation, turut hadir pula Robbie Fowler, Ian Rush, dan Dietmar 'Didi' Hamann. Yang berkesan, salah satu coaching clinic diberikan kepada Special Olympic Indonesia (SO-Ina). Hal ini tentu sangat berkontribusi bagi community relations yang turut dibangun dan menjadi satu paket dengan tur pra-musim ini.

Indonesia XI VS Liverpool FC

Pengalaman bermain melawan Arsenal minggu sebelumnya membuat Indonesia XI harus bekerja ekstra melawan Liverpool. Berbagai evaluasi tentu sudah diterapkan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Secara umum, tidak banyak yang berubah dari komposisi pemain asuhan Jacksen F Tiago. 

Starter Liverpool FC
Starting XI Liverpool: 22 Mignolet; 2 Johnson, 5 Agger, 4 Toure, 3 Enrique; 21 Lucas, 8 Gerrard, 6 Alberto, 19 Downing; 10 Coutinho, 9 Aspas

Cadangan: 1 Jones, 11 Assaidi, 14 Henderson, 31 Spearing, 24 Allen, 29 Borini, 31 Sterling, 34 Kelly, 37 Skrtel, 38 Flano, 47 Wisdom, 49 Robinson, 33 Ibe

Starter Indonesia XI
Starting Indonesia XI: Kurnia Meiga, Ruben Sanadi, Igbonefo, M. Roby, Hasyim Kipuw, Taufik, Bustomi, Maitimo, Mofu, Van Dijk, Titus Bonai

Cadangan: I Made Wirawan, Dian Agus, Ramadhan, Fachruddin, Yustinus Pae, Boaz Solossa, Bayu Gatra, Pellu, Ahmad Juprianto, Ferdinand Sinaga

Tidak seperti ketika melawan Belanda, Indonesia XI kali ini mengenakan seragam merah sedangkan Liverpool mengenakan seragam ketiga mereka untuk musim ini.


Liverpool berhasil unggul di menit 10 dengan gol dari Coutinho. Sementara, Indonesia XI masih bisa menekan pertahanan Liverpool dengan beberapa peluang dari tendangan bebas maupun tendangan sudut. Hingga babak pertama usai, kedudukan masih 1-0.

Memasuki babak kedua, Liverpool dan Indonesia XI mulai melakukan pergantian pemain. Demi menjaga kebugaran pemain, Liverpool mengganti semua pemain kecuali kiper Simon Mignolet. Kedua tim masih berusaha saling menyerang. Indonesia XI berhasil menekan beberapa kali dan beberapa peluang tercipta. Liverpool pun demikian, namun baru menit 87 Sterling berhasil membuat gol memanfaatkan kerjasama dengan Assaidi. Hingga peluit panjang dibunyikan, skor 2-0 untuk keunggulan Liverpool.



Sepanjang pertandingan, Liverpudlians tak henti-hentinya menyorakkan chants kebanggaan dan lagu wajib ‘You’ll Never Walk Alone’. Pun, mereka ikut bersorak bagi Indonesia XI. Tidak ada batas antara fanatisme dan nasionalisme yang kadang dimaknai dengan sempit. Malam itu adalah malam persahabatan Liverpool dan Indonesia. 



Gelora Bung Karno penuh dengan spanduk dan bendera dari Liverpudlians seantero Indonesia. Atmosfer The Reds begitu terasa. Namun, satu yang membuat noda adalah spanduk yang bertuliskan “We’ll never forget your brutality in Heysel 1985”. Entah siapa yang membuat, keterlibatan oknum-oknum tertentu tidak bisa dipastikan. Yang jelas, mereka pulang dengan spanduk itu di pertengahan babak pertama diiringi gemuruh penonton. Hal itu tidak lantas mengurangi kegembiraan Liverpudlians. Suporter sepakbola Indonesia harus lebih belajar untuk saling menghargai satu sama lain untuk mewujudkan sepakbola prestasi.

Aftermatch


Tidak seperti laga ekshibisi sebelumnya, usai pertandingan para pemain disambut dengan pengalungan medali layaknya akhir laga Final Liga Champions sebagai tanda penghormatan dan penghargaan atas partisipasi. Kemudian, kapten Liverpool, Steven Gerrard menerima Standard Chartered Cup mewakili pemenang laga ekshibisi. Hal ini merupakan hiburan tersendiri bagi penonton usai disuguhi laga 90 menit. 


Gemuruh kembali bergema di seantero Gelora Bung Karno ketika Steven Gerrard memimpin skuad Liverpool diikuti skuad Indonesia XI melakukan walkaround ovation ke arah penonton. Sungguh suatu penghormatan yang sangat berkesan bagi fans Liverpool se-Indonesia. Saya pun hampir menitikkan air mata melihat Melwood Players melambai ke arah penonton. Liverpool, this night will still unforgettable to us!


Dikutip dari akun twitter @OfficialLFC_ID , Brendan Rodgers mengapresiasi dukungan Liverpudlians Indonesia yang diakui sama berisiknya dengan pada Scouser.


Pada kartun Minggu pagi di Harian Kompas, dimuat soal pertandingan Liverpool VS Indonesia XI. Masalahnya, adalah bukan soal nasionalisme yang kadang dimaknai sempit, tetapi sepakbola adalah soal universalisme.


Kartun ini juga mengingatkan saya pada Mice yang memang seorang Liverpudlian. Lebih lengkap bisa dibaca disini



Epilog

Saya bangga dan turut gembira karena bisa menjadi bagian dari sejarah kedatangan Liverpool FC pertama kali di Indonesia. Sebuah catatan dalam sejarah persepakbolaan Indonesia. Tidak menutup kemungkinan bahwa Liverpool akan kembali mengunjungi Indonesia. Tentunya, saya sangat berharap momen itu akan tiba. 


Bagaimanapun, sepakbola adalah bagian kecil dari fragmen-fragmen kehidupan. Sepakbola adalah bukan soal kalah-menang, skor, perbedaan warna, dan jumlah trofi, lebih dari itu sepakbola adalah jalan menemukan kembali hakikat kemanusiaan.


Paninggilan, 21 Juli 2013.

Note: all trademarks mentioned in this post belong to their respective owners.

Sabtu, 08 Juni 2013

Ceuk Aing Oge, de Jong!

Entah untuk alasan apa PSSI berani mengundang Timnas Belanda untuk main di Indonesia sebagai bagian dari Tur Asia mereka. Kalau untuk alasan bisnis, masuk akal. Indonesia punya basis fans yang kuat untuk para pemain Belanda dan Timnas mereka sekalipun. Sebut saja RVP; Arjen Robben, Wesley Sneijder, dan Dirk Kuyt. Belum lagi, keterikatan sejarah dua bangsa yang sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Dengan demikian, dari sudut pandang bisnis ini adalah peluang yang sangat menjanjikan keuntungan.


Kalau memang untuk alasan pembenahan prestasi, apa PSSI tidak menyadari sudah banyak ujicoba yang dilakukan dan hanya berakhir dengan kekalahan belaka. Tanpa corrective action yang menyeluruh terhadap sistem manajemen tim nasional. Alih-alih meningkatkan prestasi, malah membuat rangking Indonesia semakin merosot di daftar peringkat FIFA.

Tapi, apapun itu, niatan untuk memajukan sepakbola Indonesia dengan jalan mencari sparing partner yang punya kualitas standar permainan yang lebih jauh diatas timnas adalah langkah nyata menuju kesana. Minimal, pemain timnas bisa melatih mental mereka dalam menghadapi lawan yang memang tidak sepadan.

Pertandingan Indonesia melawan Belanda sendiri buat saya menyiratkan pada banyak memori atas pembacaan kuartologi Rosihan Anwar: Sejarah Kecil 'Petite Histoire' Indonesia jilid 1-4 dan 'Doorstoot Naar Djokdja' karya Julius Pour. Memori atas segenap peristiwa masa lalu kian meruang. Pikiran saya mulai liar.

Sungguh suatu kenikmatan bahwa kita tidak perlu ikut merasakan perjuangan mengusir Belanda dari tanah air tercinta. Sehingga kita kini bisa menyaksikan Boaz Solossa dan kawan-kawan saling menjabat kolega mereka yang datang jauh dari Negeri Kincir Angin. Apakah mereka berpikir tentang darah dan air mata yang tumpah selama perang kemerdekaan? Apakah mereka merasakan desir perjuangan Jenderal Soedirman dalam mempertahankan Republik? It was lost a long time ago but do they really feel those?


Bahkan, sebelum pertandingan dimulai Indonesia seakan mengalami kembali masa-masa perjuangan Republik di meja perundingan. Sebagai tuan rumah, Indonesia kehilangan hak untuk mengenakan kostum merah putih kebanggaan. Toh, walaupun berasal dari perusahaan apparel yang sama, tiada jalan yang bisa diusahakan agar Republik kembali meraih kehormatannya. Seakan-akan, promotor dan event organizer adalah Tuhan kecil yang menentukan takdir timnas.

Republik Indonesia selalu jadi pihak yang 'dipaksa' atau sengaja harus menerima apapun yang diajukan Belanda. Perundingan Linggarjati dan Renville terlanjur jadi saksi. Terima kasih pada delegasi pimpinan Bung Hatta yang gigih berjuang untuk kedaulatan Republik di KMB, Den Haag 1949. Keengganan timnas Belanda untuk menggunakan kostum tandang mereka adalah satu bukti lagi bahwa posisi daya tawar kita masih rendah, sekalipun kita adalah tuan rumah.

Pun, ketika melihat bendera Belanda diarak naik bersamaan dengan lagu nasional Het Wilhelmus. Bendera merah-putih-biru itu berkibar di tanah yang dulu sempat menolaknya. Bendera yang dulu sengaja diturunkan paksa dan disobek demi berkibarnya sang Merah Putih. Rasanya, saya tidak perlu mengingatkan pembaca pada Insiden Hotel Yamato.


Anyway, pertandingan yang tergolong ke dalam FIFA Matchday ini menyuguhkan tontonan yang sangat menghibur. Kita dibuat lupa soal Century, impor sapi, 40 wanita di sekitar Ahmad Fathanah, Korupsi Dada Rosada, isu kenaikan harga BBM, sampai tingginya harga jengkol di pasaran. Seperti kata Emha Ainun Nadjib dalam satu ceramahnya, asal Indonesia menang main bal-balan (sepakbola) kabeh lali. Semua berseru untuk satu nama: INDONESIA!

de Jong, ik hou van jou...!!!

Jum'at pagi, dalam sebuah harian yang mengaku sebagai harian olahraga pertama di Indonesia, saya mengamati prediksi starting line up pemain yang akan diturunkan oleh Tim Ratu Beatrix. Terdapat satu nama yang masuk shortlist saya dalam gelaran UEFA Champions League musim ini, Siem de Jong. Siem de Jong, pemain asal Ajax Amsterdam ini diperkirakan akan menemani RVP di lini depan Belanda.

image courtesy: twitter.com/siemdejong

Saya mengamati bahwa de Jong akan jadi pemain yang berbahaya untuk pertahanan timnas. Saya yakin itu sejak melihat aksinya ketika Ajax Amsterdam menahan seri Manchester City. Siem de Jong memiliki andil besar dengan mencetak tiga gol yang membuat dahi Roberto Mancini semakin berkerut. Bukan mustahil kalau suatu saat Siem de Jong akan menjadi The Next Ajax's Hot Property seperti para pendahulunya.

Menjelang kick-off, Siem de Jong tidak nampak dalam starting eleven. Barangkali, Louis van Gaal sengaja menyimpan de Jong dan memberikan kesempatan pada penonton Indonesia untuk merasakan kehebatan van Persie dan Sneijder. Memang, van Persie berhasil membuat publik terhenyak dengan gol di menit awal yang dianulir wasit karena terjebak offside. Kemudian, tak kurang ada 4 peluang lainnya yang mentah di tangan Kurnia Mega. Skor 0-0 adalah hasil yang realistis bagi Indonesia dalam mengimbangi permainan agresif Belanda.

Memasuki babak kedua, Siem de Jong diturunkan untuk menggantikan Robin van Persie, bersama dengan pemain lainnya. Agaknya, van Gaal masih ingin melihat potensi dari skuad muda Oranje untuk mengikuti kultur buatannya, seperti ketika melatih Ajax, Barcelona, AZ Alkmaar, dan Bayern Muenchen. Siem de Jong berhasil memecah kebuntuan serangan een soldaten von Oranje dengan memanfaatkan umpan lambung Schanker. Tak lama kemudian, berasal dari sebuah kemelut, de Jong mencetak debut gol keduanya. Robben juga ikut menitipkan namanya dalam papan skor setelah berhasil mengecoh dua bek plus Kurnia Mega.

Memang rasanya sangat tidak menyenangkan bahwa Indonesia dikalahkan lagi oleh kompeni Belanda. Tragedi masa lalu zaman perang masih terlanjur membekas. Luka sejarah itu masih ada.


Namun, yang membuat saya ikut bersorak adalah Siem de Jong. Siem de Jong mencetak dua gol. Sesuai dengan prediksi sebelumnya, saya merasa puas bahwa Siem de Jong berhasil menjadi seorang pembeda. Saya sangat puas karena Siem de Jong membuktikan hasil pengamatan saya selama ini. Saya pun tak kuasa untuk berkata, 'de Jong, ik hou van jou...!!!'.

Beruntung sekali Siem de Jong menggantikan van Persie. RVP, Sneijder, bahkan Robben pun bagi saya sudah overdue. Coverage media sepanjang musim sudah cukup menegaskan bahwa Robin van Persie berhasil memberi gelar ke-20 untuk Manchester United. Pun, untuk Arjen Robben usai keberhasilannya mempersembahkan treble winners bagi Der Bavarians, Bayern Muenchen. Sudah terlalu banyak liputan berita soal mereka, setiap hari, setiap minggu.

So, matchday ini adalah milik de Jong. Louis van Gaal harusnya jadi orang paling beruntung malam ini karena Indonesia telah menunjukkan padanya seorang bakat baru yang potensial. Seperti kita maklumi, Belanda selalu punya generasi penyerang hebat sejak zaman Johan Cryuff. Tak pelak, Siem de Jong adalah one of a kind generasi penerus mereka.

Ceuk aing oge, de Jong!

 

Paninggilan, 7 Juni 2013.

Sabtu, 12 Januari 2013

Mice Menggugat Komentator Sepakbola

Yeah, Mice is a Liverpudlians!



Pembukaan yang sangat “mengagumkan” untuk para Liverpudlians. Dari awal, Mice sudah menggarap konstruksi realitas yang memang sedang terjadi saat ini. Liverpool tidak lebih baik dari Manchester United. Guyonan pembukaan yang cukup menggebrak.

Buku yang habis dibaca sekali duduk ini, bisa dianggap juga sebagai "kamus parodi". Parodi  untuk istilah-istilah yang sering kita dengar dari para komentator sepakbola. Pada bagian ini, Mice cukup “lempeng” untuk memberi penafsiran makna melalui gambar kartun. Mice memberikan definisi literer sesuai dengan istilah-istilah para komentator.





Mice, secara tidak langsung melakukan kritik terhadap dominasi dan hegemoni kaum kapitalis pemilik modal yang menguasai setiap tayangan langsung siaran sepakbola. Hal ini muncul karena terjadi pemakluman umum terhadap kaum pemodal. Karena para pemodal sudah terlanjur mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk membeli hak siar siaran liga-liga sepakbola dunia, maka mereka menarik sebanyak-banyaknya pemodal lain untuk secara bersama-sama ‘menguasai’ penonton. Agaknya, mereka juga paham soal teori Komunikasi Massa.

Tidak berhenti sampai disitu. Mice nampak sengaja membuat kartun ini menjadi dua bagian. Bagian kedua,  "Football's Coming Home" menampilkan suatu pemaknaan atas realitas yang juga terjadi secara nyata di hadapan kita. "Football's Coming Home" tampil dengan sederhana tetapi mengandung makna yang dalam.



Mice bercerita tentang masa kecilnya, disaat bermain sepakbola adalah satu-satunya hal yang bisa membuatnya bahagia, bersama kawan-kawan tentunya. This is the best part. Rentetan peristiwa masa kecil dimunculkan. Nostalgia romantis menggugah memori kembali pada masa-masa itu. Pembaca yang mengalami runtutan peristiwa tadi pasti merindukan kembali momen masa kecil seperti itu.



Pesan yang dibawa Mice melalui kartun bagian kedua tadi cukup jelas. Disaat Inggris merindukan kembali kejayaan sepakbola mereka, kita di Indonesia masih ribut soal PSSI dan KPSI. Ini adalah suatu bentuk kritik moral terhadap institutsi sepakbola negeri ini yang sarat akan muatan kepentingan golongan tertentu. Negeri ini punya 250 juta penduduk, tetapi tidak ada satu orang pun yang bisa mengurus sepakbola nasional. Suatu hal yang memalukan, mengingat negara tetangga sudah jauh berlari meninggalkan kita yang masih saja meributkan hal-hal remeh, soal siapa dapat apa.


Anyway, kartun ini worth reading dan sangat perlu untuk mengimbangi rutinitas keseharian penonton sepakbola yang begitu-begitu saja. Terutama, dalam memaknai ucapan sang komentator.


Judul                     : Kamus Istilah Komentator Bola / Football's Coming Home!
Penulis                 : Muhammad “Mice” Misrad
Penerbit              : Octopus’s Garden Publishing
Tahun                   : Desember 2012
Tebal                     : 112 hal.
Genre                   : Kartun-Sepakbola
 



Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 12 Januari 2013.

Rabu, 04 Juli 2012

Apakah Laga Eropamu Berakhir Duka atau Ceria?

Begitu pertanyaan dari sebuah portal situs berita. Pertanyaan seperti itu justru sangat layak ditanyakan pada Wayne Rooney, Cristiano Ronaldo, atau Rafael van der Vaart. Mengapa? Wayne Rooney adalah produk Premiership yang tempatnya hampir tidak tergantikan di line up striker The Three Lions. Pun, ketika Premiership menjelma sebagai liga sepakbola terbaik di dunia. Namun, bukan jaminan bagi Inggris untuk meraih kesuksesan di gelaran Piala Eropa tahun ini. Inggris hancur lebur di tangan Italia setelah drama adu penalti.

Tanyakan pula pada Cristiano Ronaldo, kenapa seorang pemain terbaik dan termahal di dunia gagal menjadi inspirasi bagi negaranya yang belum pernah sekalipun menikmati trofi penguasa sepakbola Eropa? Begitu juga kepada van der Vaart, mengapa Belanda yang bertabur pemain bintang yang bertaburan di seantero klub besar Eropa gagal menyumblim dalam permainan khas der Oranje? Barangkali, kalau mau menyebutkan masalah mereka tanpa harus memberikan pretensi, mungkin sebabnya adalah egoisme sentris. Sehingga, Portugal dan Belanda tampil tidak sebagai tim, tetapi hanya sebagai kumpulan individu yang bermain secara berkelompok.



Buat saya, 4-0 untuk Spanyol atau Italia sekalipun tidak menjadi soal. Final sesungguhnya di Piala Eropa tahun ini sudah selesai sebelum Italia bertemu dengan Spanyol. Laga Italia versus Inggris dan Italia versus Jerman adalah dua partai “final” yang menurut saya lebih krusial dibandingkan pertarungan Iberian Warriors melawan Roman Knights.



Italia, yang tahun ini kembali digoyang isu skandal Calciopolli Jilid 2, menggantungkan asa pada kenangan 6 tahun lalu saat mereka menjuarai Piala Dunia 2006. Waktu itu, meski dibayangi skandal Calciopolli, Italia mampu tampil prima, mengalahkan tuan rumah Jerman, dan masuk final melawan Prancis, lalu menang di adu penalti.

Kisah serupa hampir terulang andai saja Spanyol tidak lebih fit dari Italia. Italia kembali bertemu Jerman di semifinal, mengulang kenangan itu, dan Italia kembali menang. 2-0. Dibayar kontan dengan dua gol yang diborong Si Bengal Balotelli. Inilah final sesungguhnya buat saya. Sudah tidak diragukan lagi reputasi keduanya sebagai tim turnamen. Jerman tampil dengan kekuatan talenta mudanya. 



Reformasi sistem sepakbola timnas Jerman memang mengubah Jerman menjadi tim yang penuh semangat dan haus kemenangan. Sebuah potret yang sempurna untuk melawan Italia, dengan kekuatan yang hampir seadanya karena regenerasi yang lambat. Namun, siapa sangka agresivitas Jerman mendadak tidak berkutik saat menghadapi Italia yang seadanya.

Final melawan Spanyol, Italia kembali melambungkan asa untuk kembali merengkuh mahkota seperti enam tahun lalu. Begitulah, sepakbola telah menampilkan dirinya sebagai sebuah tragedi sekaligus kebahagiaan. Sudah banyak tragedi terjadi di Ukraina-Polandia kemarin. Kemenangan Spanyol sebagai juara Eropa dua kali berturut-turut adalah bagai menemukan bola dibalik bulan. Dibutuhkan lebih dari sekedar sejarah dan tiki-taka untuk menemukannya. Bola-bola nasib pun tidak kalah berperan ketika Italia terpaksa harus turun dengan sepuluh orang pemain, usai Thiago Motta mengalami cedera.


Spanyol telah mengukir sejarah baru di jagad persepakbolaan Eropa. Spanyol telah membuktikan kendati Liga BBVA bukan liga terbaik tetapi kualitas pemain timnas tetap terjaga. Spanyol tidak kehilangan talenta meski David Villa tidak bisa tampil. Bukan mustahil bila hal itu menimpa Xavi atau Torres sekalipun Spanyol akan tetap tampil impresif. Hala Espana. La Roja is all in!

Medan Merdeka Barat, 4 Juli 2012.

* images are reproduced from UEFA website, www.uefa.com/uefaeuro

Senin, 19 September 2011

Pelajaran Sejarah: 18 "Penjahat" Paling Dimusuhi dalam Sejarah Piala Dunia


Judul : Football Villains: Kisah Seru 18 "Penjahat" Paling Dimusuhi dalam Sejarah Piala Dunia
Penulis : Owen A. McBall
Penerbit : B-first
Tahun : 2010
Tebal : 202 hal.
Genre : Olahraga-Sepakbola

Sepakbola adalah suatu wahana kehidupan. Entah benar atau tidak, tetapi sepakbola telah menjelma menjadi satu entitas yang akan selalu hidup dalam benak dan sanubari penggemarnya. Adalah sepakbola juga yang menggambarkan berbagai realita kehidupan. Sejatinya adalah tentang betapa tipisnya sekat pemisah antara kemenangan-kekalahan, pahlawan-pecundang, kerja keras-keberuntungan dan beberapa hal menarik lainnya yang mampu disajikan oleh hidup ini.

Simak saja beberapa penjelasan tentang siapa yang mengusulkan adanya asisten wasit yang berlari kesana-kemari seperti setrika, atau siapa pula yang berinisiatif mengadakan hukuman dengan kartu merah dan kartu kuning. Tidak hanya itu, buku ini juga menyajikan cerita-cerita tentang tokoh sepakbola pada zamannya. Ditulis dengan memperhatikan timeline, maka pembaca tidak akan terlalu sulit untuk membayangkan lorong waktu dalam cerita beserta tokoh-tokoh yang terlibat didalamnya.

Semua tokoh itu tampil dengan sensasinya masing-masing. Eropasentris Sir Stanley Rous, Maradona dengan ke"dewa"annya, glamorisme David Ginola, kebodohan David Beckham, kedipan maut Cristiano Ronaldo, tangan Thierry Henry yang bukan Tangan Tuhan, hingga anomali kesalahan terhadap Marco Materazzi. Temukan juga alasan lain selain Battle of Tiera del Fuego, tentang mengapa pertandingan Inggris VS Argentina selalu jadi "perang suci" bagi kedua tim.

Semua kisah mengajarkan pada kita bahwa sepakbola pun tak ubahnya seperti hidup yang biasa kita jalani. Semua ingin menuju puncak kejayaannya, entah bagaimana caranya, yang pasti kita semua selalu ingin jadi pemenang. Walau kadang, (seperti sudah ditulis diatas) batas antara pemenang dan pecundang, sangatlah tipis.


Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 19 September 2011.

Kamis, 30 Desember 2010

Our Garuda Has Landed

...we hate it when our friend become succesful...*

Euforia publik sepakbola nasional kembali meninggi setelah Timnas Indonesia berhasil masuk Final AFF Cup 2010. Usai pertandingan melawan Filipina dimana Indonesia memang sudah duluan kalah 12-0 (dalam hal kegantengan dan ketampanan) publik seakan dibuai bahwa meraih piala AFF yang pertama kalinya adalah bukan keniscayaan semata. Tingkat keyakinan hyper-confident seakan dialami skuad Garuda yang kini dihuni pemain-pemain baru (yang kelak jadi idola baru) macam Irfan Bachdim, Achmad Bustomi, dan Cristian Gonzales.

Ketika wasit meniup peluit panjang tanda Indonesia akan mencoba mengganyang Malaysia di Final, saya sudah menduga bahwa dua partai final itu akan jadi antiklimaks untuk Indonesia. Saya tidak begitu yakin Timnas akan meraih mahkota AFF. Terserah anda mau sebut sekalian menjuluki saya seorang nihilis-pesimis yang antinasionalis.


Memang demikian adanya. Anda boleh kaget, kecewa dan jadi orang pertama yang tidak menerima kenyataan ini. Entah kebetulan atau memang sudah takdirnya mesti begini ternyata memang betul kejadian. Garuda jatuh tertembak laser Melaise. Tanda-tanda itu sudah tersirat. Bukan hanya dari membludaknya jumlah penonton sehingga menimbulkan kerusuhan soal tiket. Ada beberapa alasan yang membuat saya tidak yakin bahwa Timnas akan juara tahun ini.

So, inilah alasan-alasan itu:

1. Setiap Timnas main, masjid selalu sepi. Kadang hanya tinggal muadzin yang merangkap jadi imam sekaligus makmum. Kemana Pak Kiai atau Pak Haji yang biasa berdoa dengan khusyuk itu? Barangkali kalau beliau-baliau itu mau lebih khusyuk dan mampu menggiring umat untuk sama-sama mendoakan Timnas di masjid maka tidak perlulah Timnas diistighosahkan. Semoga Tuhan selalu memberkahi para Muadzin.

2. Suporter yang banyaknya bukan main itu sholatnya dimana? Apakah ada waktu barang sebentar saja untuk sekedar meluangkan waktu sholat? Tentu ada berbagai macam alasan dan juga pembenaran. Entah fasilitasnya memang tidak mencukupi hingga takut tidak kebagian tempat duduk. Bagaimana Timnas mau menang kalau yang mendoakannya saja nggak sholat?

3. Kaos timnas mirip dengan Timnas Portugal. Mantan penjajah juga. Bedanya jelas, mereka punya Cristiano Ronaldo, kita punya Irfan Bachdim. Portugal adalah tim hebat which is nggak pernah juara! Entah di Eropa ataupun dunia. Paling banter, ikut merasakan final. Makanya, Indonesia juga cukup sampai final saja!

Addendum: Ngurus tiket aja nggak bisa kok mau jadi juara?

Itulah beberapa alasan yang cukup simple bagi saya. Tentang kenapa Timnas belum diridhoi Tuhan untuk menggenggam piala AFF tahun ini. Terserah anda, apakah anda punya analisis, pembenaran, atau pendapat sendiri. Ini murni celoteh saya. Buat yang protes, ingat ini blog saya.

Paninggilan, 29 Desember 2010.

* Morissey, We Hate It When Our Friend Become Succesful

mengenang kalahnya Timnas Indonesia secara agregat 4-2 dari Melaise di Turnamen AFF Cup 2010.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...