Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Juni 2024

Kenapa

Kenapa kita tidak pernah bisa setia pada satu hati saja?
Tapi,aku masih tetap merindumu...

Pegangsaan Dua, 21 Februari 2009 

diedit pada 14 Maret 2021 

Jumat, 22 Desember 2023

Titip Rindu buat Ibu*)

Rembulan merah mengambang

Langit Cikampek malam hari

Angin kemarau mengalun terbang

Hantarkan hasrat mimpi kembali

 

Debur rindu bawa kelam

Sejuta rindu bawa mimpi

Desiran ingin bakar malam

Jatiluhur terpatri sepi

 

Ibu... Si Anak meradang

Dalam sedu gemuruh hati

Ibu... anakmu pulang

Remuk redam hati terobati

 

Jakarta, 12 Agustus 2009

*) Sama dengan judul novel Novia Syahidah, Titip Rindu buat Ibu

ditulis kembali mengenang perjalanan Jakarta-Bandung via Purwakarta sekaligus menyambut Hari Ibu 2010, diedit kembali pada 22 Desember 2023 untuk diterbitkan di blog ini.

 

Kamis, 10 Maret 2022

Jumat, 12 November 2021

Belum Ada Judul (yang kesekian kalinya)

Aku tidak akan pernah lupa bagaimana caranya engkau hadir dalam mimpiku.

Bahkan, kini engkau mampu hadir dihadapanku.

Aku tidak akan pernah lupa bagaimana rasanya.

Aku tidak akan pernah lupa!

Aku benci perasaan itu! 

(Aku benci...)


Benda, 12 November 2021.

Kamis, 29 November 2018

Mimpi

Semua bisa terjadi
di dalam mimpi
Benar kata puisi
Sekali berarti sudah itu mati


Jurangmangu, 15 November 2018.

Sabtu, 30 September 2017

Sesobek Buku Harian Indonesia

Pemimpin kami amat pintar
membendung segala tidak
dari mulut kami
yang dibilang pengkhianat

 (Belajar Tidak - Hal. 23)

Sumber gambar: www.goodreads.com
Tidaklah salah bila catatan buku ini mengibaratkan Emha Ainun Nadjib sebagai seorang musafir yang telah menjelajahi seluruh Indonesia, mencicipi ribuan pengalaman didalamnya, dan memanggul ribuan beban dari apa yang telah dirasakannya. Emha memang menempuh jalan sunyinya sendiri dalam menemukan Indonesia. Indonesia hanyalah bagian dari desa semesta Emha. Maka, apabila Emha melakukan sesuatu untuk Indonesia itu hanya bagian dari sedekahnya untuk negeri yang telah ia tinggali untuk sekian lamanya.

Saya terkesan lewat kata pengantar yang ditulis untuk edisi dan cetakan baru ini. Bahwa di era 1970-an, Emha belajar memanggul beban. Era 1980-an gagah dan sombong memanggul beban. Tahun 1990-an mulai kewalahan menanggung beban. Tahun 2000-an hampir putus asa oleh beban. Tahun 2010-an mempertanyakan kenapa memanggul beban dan siapa sebenarnya petugas pemanggul beban.

Edisi pertama buku ini terbit medio 1993, tahun-tahun dimana perekonomian bangsa Indonesia disebut bakal menjadi Macan Asia. Puisi-puisi dalam buku ini setidaknya mengulang ingatan kita pada apa-apa yang terjadi di masa itu. Emha mengumpulkan segenap impresi dan ekspresinya terhadap Indonesia pada tahun-tahun dimana ia mulai kewalahan menanggung beban. Pembaca boleh menentukan sendiri pembermaknaan atas segenap puisi Emha didalamnya.

Relevansi? Jelas puisi-puisi Emha ini masih relevan dengan keadaan berbangsa dan bernegara belakangan ini. Dimana harapan hidup semakin tidak jelas namun dibuat seolah-olah menuju jalan terang. Absennya nilai-nilai keadilan, kemanusiaan yang semakin 'tidak' beradab, kesenjangan hak asasi, kesenjangan sosial yang semakin berjarak masih dapat kita jumpai di pinggir-pinggir jalan negeri tercinta ini.

Puisi-puisi Emha setidaknya hadir untuk membawa satu sudut pandang baru dimana puisi telah kehilangan eksistensinya pada zaman yang semakin serba cepat. Puisi-puisi Emha hadir untuk menemani kita-kaum yang dilemahkan untuk terus berjalan melalui jalan sunyi kita masing-masing. Puisi-puisi Emha yang disembunykan dalam sesobek buku harian Indonesia adalah sebuah catatan, tentang realitas, cita-cita, atau bahkan 'sobek'nya sebuah entitas bernama Indonesia.

Judul       : Sesobek Buku Harian Indonesia
Penulis    : Emha Ainun Nadjib
Penerbit  : Bentang Pustaka
Tahun      : 2017
Tebal       : 124 hal.
Genre      : Sastra Indonesia-Kumpulan Puisi


Cipayung, 20 September 2017.

Cahaya Maha Cahaya

Kumpulan puisi Emha yang terbit pada tahun 2004 silam ini barangkali menjadi kumpulan puisi tipis yang paling susah saya tamatkan. Mulai dari membaca di rumah, di mobil jemputan, di pesawat menuju Manado, dalam gerbong KA Parahyangan, tak kunjung selesai juga pembacaan.

Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya sendiri belakangan ini memang mengalami ‘kemunduran’ dalam membaca. Satu bulan paling habis satu atau dua judul saja. Lantas, saya tidak bisa menambah koleksi bacaan disebabkan kemajuan bacaan yang sangat lambat itu.

Terus terang, memahami ‘Cahaya Maha Cahaya’ lebih sulit dibandingkan dengan ’99 untuk Tuhanku’, misalnya. Kemesraan antara Emha dengan Tuhannya itu memang agak sulit untuk dijabarkan lewat cara pandang biasa. 

Kemesraan Emha dengan Tuhannya nampak dalam “Ajari Aku Tidur”. Emha bermesraan macam seorang anak yang minta dikeloni oleh ibunya. Lebih baik ia tidur saja usai didera segala urusan dunia.
Ajari Aku Tidur
 
tuhan sayang ajari aku tidur
seperti dulu menemuimu di rahim ibu
sesudah lahir menjadi anak kehidupan
sesudah didera tatakrama, pendidikan, politik,
              dan kebodohan
bisaku cuma tertidur
tertidur


Emha tidak menulis kritik sosial yang tajam dalam setiap syairnya. Emha memposisikan diri sebagai seorang hamba yang berusaha menuju cahaya setelah dihampas gelombang kehidupan yang tak henti-hentinya membutakan mata, hati, jiwa, dan pikiran.

Saya mencatat beberapa syair yang rasanya perlu saya pahami. Adakah sebuah tendensi atau hanyalah sebuah imaji semata. Misal, pada bait puisi berjudul “Satu Kekasihku”.

Satu Kekasihku

mati hidup satu kekasihku
takkan kubikin ia cemburu
kurahasiakan dari anak istri
kulindungi dari politik dan kia
i

Siapakah politik dan kiai yang dimaksud Emha? Mengapa sesuatu itu takkan ia buat cemburu hingga mesti dirahasiakan dari anak istri hingga sangat perlu dilindungi dari politik dan kiai? Wallahu’alam. Mungkin perlu satu buku lagi untuk menjelaskan hubungan antara politik dan kiai sehingga jelaslah hubungan keduanya.

Emha sebagai subordinat dari mereka yang terkalahkan mengadu pada Tuhannya. Dalam “Lempari Aku”, Emha seakan menunjukkan pada Tuhan bahwa ia masih ada.

dengan sembahyang mungkin kau menerimaku
tapi dengan sakit tak bisa kau elakkan hadirku

Cahaya Maha Cahaya memang hanya sebuah buku kumpulan puisi yang tipis namun justru dalam ketipisannya itulah terkuak kebesaran dan keluasan dunia seorang Emha. Emha sebagai penyair menuliskan segala keresahannya; tentang manusia dan kepastian kuasa Tuhan yang tidak perlu dipertanyakan lagi.

Cipayung, 18 September 2017.

Judul        : Cahaya Maha Cahaya
Penulis    : Emha Ainun Nadjib
Penerbit    : Pustaka Firdaus
Tahun        : 2004
Tebal        : 71 hal.
Genre        : Sastra Indonesia-Kumpulan Puisi

Senin, 27 Februari 2017

Petikan (2)

.....

Lima
 

Orang dungu dan orang pandai
Mengarang tubuhnya sendiri-sendiri
Diramu berdasar sangkaan dan keinginan
Yang tak diuji dan tak dijernihkan
 

Ramuan tuhan-tuhanan dijadikan gincu
Dioleskan ke bibir
Dijajakan ke sana-kemari
Agar laris dagangan duniawi
 

Tuhan dijadikan suku cadang
Untuk membuat peluru dan senapan
Dibubuhkan namanya di surat-surat keputusan
Dikurung dalam kandang kambing-kambing hitam

 

Enam
 

Orang lain berteku-tekun sembahyang
Sambil merendahkan orang lain dan menajiskan
Tuhan dimonopoli
Diakui sebagai miliknya sendiri

Orang yang sembahyangnya gagal sembahyang
Tak menemu kesejatian
Orang yang sembahyangnya berhala
Syari'at-lah tuhannya

 

Tujuh
 

Yang bukan tuhan dituhankan
Yang tuhan tak dijadikan sesembahan
Orang mabuk di putaran gelombang
Terseret dari salah paham ke salah paham

Kekuasaan dan kemegahan
Uang dan segala bentuk kekerdilan
Berfungsi tuhan
Karena dinomorsatukan

 

Delapan
 

Tuhan disederhanakan
Menjadi kayu pagar berbaris
Terbuntu jalanan ke cakrawala
Langit ditutupi awan jelaga

Jiwa lapar umat
Dicekoki penafsiran dusta
Hati mereka yang dahaga
Dijawab dengan paham syari'at yang buta

Sampai tiba suatu hari
Engaku ditanya oleh dirimu sendiri
Siapakah Tuhan hidupmu, ya shahibi?
Kau jawab: Umara dan Ulama, tak ragu lagi

 

Sembilan
 

Tuhan sudah sangat populer
Sudah dijadikan komoditas yang amat sekuler
Diiklankan dengan indahnya
Disebut dan dimanfaatkan di mana-mana

Allah yang sebenarnya
Mahasuci Dia
Dari ludah segala jenis Fir'aun
Yang merasuki tulang sumsum




Petikan dari puisi "Tuhan Sudah Sangat Populer", dalam "Seribu Masjid Satu Jumlahnya", halaman 107-109, Emha Ainun Nadjib, Mizan: 2016

Cipayung, 16 Februari 2017

Petikan (1)

Gusti
Kami pasrah sepasrah-pasrahnya
Kami telanjang setelanjang-telanjangnya
Kami syukuri apa pun
Sebab rahasia-Mu agung
Tak ada apa-apa yang penting
Dalam hidup yang cuma sejenak ini
Kecuali berlomba lari
Untuk melihat telapak kaki siapa
Yang paling dulu menginjak
Halaman rumah-Mu

Gusti
Lihatlah
Mulut kami fasih
Otak kami secerdik setan
Jiwa kami luwes
Bersujud bagai para malaikat-Mu
Namun saksikan
Adakah hidup kami mampu begitu?
Langkah kami yang mantap dan dungu
Hasil-hasil kerja kami yang gagah dan semu
Arah mata kami yang bingung dan tertipu
Akan sanggupkah melunasi hutang kami
Kepada kasih cinta penciptaan-Mu?

Gusti
Masa depan kami sendiri kami bakar
Namun betapa Engkau bijaksana
Kelakuan kami semakin nakal
Namun kebesaran-Mu Mahakekal
Nafsu kami semakin rakus
Tapi betapa rahmat-Mu tak putus-putus
Kemanusiaan kami semakin dangkal
Sehingga Engkau menjadi terlampau mahal

Gusti
Kamilah pesakitan
Di penjara yang kami bangun sendiri
Kamilah narapidana
Yang tak berwajah lagi
Kaki dan tangan ini
Kami ikat sendiri
Maka hukumlah atau ampuni kami
Dan jangan biarkan terlalu lama menanti



Petikan dari puisi "Doa Pesakitan", dalam "Seribu Masjid Satu Jumlahnya", halaman 100-101, Emha Ainun Nadjib, Mizan: 2016

Cipayung, 15 Februari 2017.

Sabtu, 19 September 2015

99 Untuk Tuhanku: Menggapai Kemesraan Lewat Puisi

Tuhanku,
berdekatankah kita
sedang rasa teramat jauh
tapi berjauhankah kita
sedang rasa begini dekat.


Ada banyak cara yang ditempuh sejumlah seniman untuk menggapai kemesraan dengan Tuhannya masing-masing. Emha Ainun Nadjib telah menempuh jalannya sendiri menuju Tuhan. Dengan puisi, Emha menyatakan kemesraan, cinta, dan kasih sayangnya kepada Tuhan. Emha lantas mengumpulkan semua puisinya itu dalam '99 Untuk Tuhanku' yang lahir kembali setelah 30 tahun lebih setelah penerbitannya yang pertama.

Tulisan ini mencatat beberapa hal yang saya tangkap dari beberapa puisi pilihan. Tentunya, dasar pemilihan puisi-puisi ini adalah puisi yang mengingatkan saya pada statement/pernyataan-pernyataan Emha dalam esai, ceramah, diskusi, yang lahir kemudian, jauh setelah lahirnya 99 puisi Emha untuk Tuhannya ini. Dengan harapan, bagi saya pribadi saya mampu menemukan hubungan dan kesesuaian sikap antar apa yang pernah ditulis dulu dengan apa yang dikatakan/dilakukan sekarang.

Dalam puisi ke-8, Emha menyatakan pelepasannya atas segala harapan, kenikmatan, dan kemungkinan sejarah untuk membawa dirinya pada suatu keadaan yang ideal. Namun, sejarah sendiri hanyalah paket-paket kegagahan dan kecengengan berisi pedang serta sampah dan perut para pemenang.
 
tapi apa gerangan sejarah, Kekasih?
ialah paket-paket kegagahan
dan kecengengan
berisi pedang serta sampah
dan perut para pemenang
 

Puisi ke-23 adalah pernyataan Emha atas jalan yang ia pilih dan sedang ia tempuh. Emha telah memilih jalan yang sunyi ditengah hiruk pikuk zaman. 

Tuhanku,
inilah sepiku
di tengah pekik zaman
yang membuatku bisu.
 

Puisi ke-30 memuat pernyataan Emha yang eksistensial. Tentu dengan makna konotatif khas puisi. Emha berseru pada Tuhannya agar tidak lantas menjadikan dunia ini sebagai tempat tinggalnya. Sebagai tempat tinggalnya dalam keabadian. Tidak. Emha tidak menginginkan dunia dengan berdiam didalamnya.
 
Tuhanku,
jangan katakan dunia ini
ialah tempat kediamanku.

Puisi ke-37 membuat saya teringat pada forum-forum Maiyahan maupun forum lainnya yang menghadirkan Emha sebagai pembicara. Emha membuka dirinya, menjadi orang tua, menjadi pendengar yang baik, menjadi lawan diskusi, bagi siapapun yang menginginkan interaksi dengan dirinya.
 
Tuhanku,
bagai Engkau, kusediakan cinta kasih bagi segala
hal yang tak beres, bagi racun-racun, para
musuh dan pengkhianatan, bagi yang enak
dicintai maupun yang tak sedap


Puisi nomor 42 tidak terlalu panjang. Menurut saya, puisi ini berkaitan dengan semangat Emha dalam memberikan pencerahan dalam masyarakat. Puisi ini berisi semangat Emha dalam menuju Tuhannya dengan tidak melarikan diri dari dunia yang semakin mengajarkan manusia untuk menjauhi Tuhannya. Dalam perjuangannya itu, Emha tidak pernah beranjak dari dirinya sendiri.

bukanlah karena aku ingin melarikan diri
dari dunia yang menjauhi-Mu ini
sebab dalam bertualang kepada-Mu
tak pernah aku beranjak
dari diriku sendiri.


Puisi nomor 59 menyatakan pertanyaan atau gugatan kecil Emha kepada Tuhannya. Dengan segenap kemajuan zaman yang semakin menjauhkan manusia dari Tuhannya, mengapa Tuhan tidak lantas menurunkan kembali pada Nabi. Emha menyatakan bahwa zaman-zaman ini adalah zaman yang membutuhkan lebih banyak Nabi. Puisi ini walaupun sederhana namun cenderung filosofis. Ada pertentangan pemikiran yang mendasari gagasan untuk menurunkan kembali Nabi setelah Khatammul Anbiya Rasulullah SAW.
 
Tuhanku
apakah sesungguhnya arti kehendak-Mu
dengan tak menurunkan lagi
seorang Nabi pun
untuk zaman yang membutuhkan
lebih banyak Nabi-Nabi?


Dalam puisinya yang ke-65, Emha menyisipkan doa. Agar kita selalu berendah hati dalam memohon kepada Tuhan dan hanya bertanya apa yang dibutuhkan dan sejati didambakan. Puisi ini memiliki makna yang panjang. Emha tidak menggiring pembaca untuk berdoa apa saja kepada Tuhan walaupun Tuhan telah bersabda: memintalah kepada-Ku, niscaya aku kabulkan. Emha seakan mengingatkan bahwa memintalah hanya yang diperlukan dan dibutuhkan. 

Tuhanku
anugerahilah kami kerendahan hati
untuk senantiasa memohon dan bertanya kepada-Mu
apa yang sesungguhnya kami butuhkan
apa yang murni kami perlukan
apa yang sejati, sejati-sejatinya
kami dambakan

Puisi nomor 76 memuat lagi pilihan Emha. Emha sengaja memilih sepi. Sepi yang sunyi. Barangkali dalam sepi sunyi itu, Emha menafsir rahasia-rahasia Tuhan dalam semesta ruang dan waktu. Emha memilih untuk menepi dalam sepi sunyi. Tak terpengaruh riuh rendah deru kehidupan yang tak henti selalu mendorongnya untuk tampil kembali.

Tuhanku Yang Mahahening!
kupilih sepi
sepi yang sunyi
maupun sepi dalam ramai.
sepi rahasia-Mu
yang menampung semesta ruang dan waktu
tak penuh oleh keributan jagat seribu
 

Emha kembali menyatakan pembebasan jiwanya pada puisi ke-87. Emha telah melepaskan segala ikatannya terhadap kekuasaan. Ia lepaskan juga ikatannya terhadap perkumpulan apapun. Ia ingin jadi individu dengan jiwa yang bebas jua. Tidak diperintah dan tidak memiliki. Emha hanya milik Tuhannya belaka. Maka, ia berikan segala hak apapun kepada yang berhak menerima darinya.
 
Tuhanku,
tak ingin aku memerintah
memerintah ialah diperintah.
tak ingin aku memiliki
memiliki adalah dimiliki.
Tuhanku,
berserah diri kepada-Mu
menumbuhkan segala kekuatan
yang tak bisa diganggu

Bagi Emha, cara ini adalah sebuah sembahyang. Sembahyang sederhana sebagai usaha untuk merebut dirinya sendiri dari tengah cengkeraman kehidupan, kebudayaan, peradaban, politik, ekonomi, persaingan kalah-menang serta berbagai macam kecenderungan yang makin menjauhkannya kepada Allah SWT.

Sebutlah Emha sedang membaca puisi, berdoa, melakukan suatu pertobatan, suatu katarsis pikiran dan roh, atau bahkan sedang melaporkan kekhilafan-kekhilafannya, maka semuanya itu adalah benar. Puisi-puisi Emha mengikuti modifikasi budaya yang merangkum maknanya sebagai ungkapan rasa keagamaan, keindahan, kesenian, sekaligus pernyataan terus menerus akan kebenaran Allah SWT.

Dengan makna-makna yang tak terpilahkan itu maka Emha telah memilih sikap hidup yang sekaligus melandasi pola ungkapnya. Kesemua puisi Emha telah dibawanya ke dalam suatu sikap sembahyang, yakni buku ini sendiri '99 Untuk Tuhanku'.

Semua puisinya dimulai dengan nama Tuhanku. Seolah 99 puisi Emha ini mentafakkuri keberadaannya yang sama dengan jumlah nama-nama Allah SWT-Asmaul Husna.

Catatan Personal

Walaupun puisi-puisi lahir sebelum masa reformasi tahun 1998, tahun dimana Emha tampil terakhir kalinya di layar televisi, namun saya mencatat ada beberapa puisi (yang sudah saya tuliskan diatas) yang menjadi sikap Emha atas kejadian-kejadian seputar Reformasi 1998. Emha telah melepaskan segala ikatannya dengan pemerintahan, penguasa, partai, atau kelompok keagamaan manapun, setelah lengsernya Presiden Soeharto. Suatu tindakan yang didasari atas dasar keprihatinan batinnya ketika melihat kawan-kawan seperjuangannya ternyata ikut menikmati kue Reformasi 1998.

Dengan demikian, paripurna lah kiranya segenap puisi Emha yang terkumpul dalam buku ini. Puisi bagi Emha rupanya bukan hanya sebuah karya, sebuah jalan pemikiran. Tetapi, lebih jauh puisi juga adalah pola ungkap konsistensi sikap seorang Emha Ainun Nadjib.
 
Judul           : 99 Untuk Tuhanku
Penulis        : Emha Ainun Nadjib
Penerbit      : Penerbit Bentang
Tahun         : 2015
Tebal          : 112 hal.
Genre         : Puisi - Sastra Indonesia  

Dharmawangsa, 19 September 2015.

Senin, 01 April 2013

Puisi (Cahaya Bulan) - #storyofasong #1

1 April 1969 - 1 April 2013

Hari ini, saya merasa diingatkan kembali untuk melanjutkan pembacaan atas buku 'Soe Hok-Gie Sekali Lagi'. Alasannya sederhana. Belakangan saya juga jadi pendengar setia lagu 'Donna Donna' yang merupakan satu dari sekian soundtrack film 'Gie'.

Lagu itu dinyanyikan dengan apik oleh Sita RSD @sitanursanti. Setelah sebelumnya banyak diremake pula oleh penyanyi folksong mancanegara, satu diantaranya adalah Joan Baez. Sita, yang ikut bermain dalam film 'Gie' ikut membawakan lagu Donna Donna dalam sebuah adegan pementasan di kampus FS UI.

Kembali pada figur Soe Hok-Gie. Pembacaan kembali tadi membawa saya pada halaman dimana terdapat satu puisi yang bertanggal sama dengan tanggal hari ini. Sebuah puisi yang liriknya saya hafal setengah-setengah. Sebuah puisi yang tidak secara utuh ikut disisipkan dalam kompilasi soundtrack film 'Gie'.

Puisi berjudul 'Sebuah Tanya' ini kemudian diadaptasi jadi satu lagu di album soundtrack film 'Gie'. Saya lupa judul pastinya, apakah masih sama berjudul 'Cahaya Bulan' dengan tanda kurung puisi. Puisi yang dibacakan dengan apik oleh sang pemeran utama 'Gie'. Berpadu indah dengan lengkingan vokal powerful dari Okta Tobing.

Pembawaan Nicholas Saputra @nicsap sebagai pengisi suara pembaca puisi dalam lagu ini mengingatkan saya pada puisi yang dibacakan Dian Sastro @therealdisastr dalam satu soundtrack film 'Ada Apa Dengan Cinta'.  Potongan lirik terkenal disitu adalah 'pecahkan saja gelasnya, biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh'. Entah, karena memang produser dan sutradara kedua film ini adalah orang yang sama sehingga ada nuansa serupa yang muncul dalam penggarapan soundtrack dan scoring musiknya.

'Sebuah Tanya' yang kemudian disentuh dengan musikalisasi memberi nuansa tersendiri bagi sisi lain kehidupan Soe Hok-Gie. Tidak banyak yang tahu sisi romantika dalam kehidupan Soe Hok-Gie. Setidaknya, sampai buku 'Catatan Seorang Demonstran' terbit. Lebih jelas bisa disimak 'pengakuan kekasih-kekasih' Soe Hok-Gie dalam buku yang saya lanjutkan pembacaannya ini. 


Setiap mendengarkan lagu ini, saya selalu teringat adegan dimana Nicholas Saputra yang memerankan Soe Hok-Gie beradu akting dengan Wulan Guritno. Lalu, lagu ini juga menjadi simbol pengingat pada suatu masa dimana figur seorang Soe Hok-Gie menancap erat pada setiap aktivis kampus. Usai booming film 'Gie' yang memang ditujukan untuk membangkitkan kembali semangat kaum muda Indonesia. Didukung dengan penerbitan kembali beberapa literatur tentang Soe Hok-Gie.

Waktu di kampus dulu, Soe Hok-Gie selalu digambarkan sebagai sosok mahasiswa yang paripurna. Sosok mahasiswa dengan karakter pendobrak yang berani melawan arus. Sosok mahasiswa aktivis yang berhasil memadukan unsur intelektualitas kedalam tutur kata dan perilakunya. Singkatnya, figur mahasiswa idaman.

Saat itu, saat film 'Gie' beredar, semua mahasiswa pergerakan (maksudnya yang bergerak sekitar sekre organisasi kemahasiswaan) seakan berusaha berlomba-lomba mencitrakan dirinya sebagai jelmaan Soe Hok-Gie di era modern. Mereka mencoba mengikuti gaya bahasa, tutur kata, pola pikir, dan perilaku sang mahasiswa pujaan. Tak ketinggalan juga meniru kecintaan Soe Hok-Gie pada alam membuat mereka mendadak jadi pendaki gunung. Fenomena yang mirip seperti saat film '5 cm' booming akhir-akhir ini. Sayangnya, mereka hanya berbekal apa yang dilihat dalam film saja. Saya pun tidak yakin kalau mereka membaca sampai tuntas buku 'Catatan Seorang Demonstran'. 


Sebagai edisi pembuka postingan bertagar #storyofasong ini, secara khusus saya dedikasikan kepada sosok sang mahasiswa paripurna yang wafat di Puncak Mahameru, 16 Desember 1969. Bagaimanapun, Soe Hok-Gie adalah satu figur yang turut mewarnai sejarah Indonesia. Utamanya, sebagai pemeran utama dalam riwayat pergerakan mahasiswa. Mahasiswa bersatu tak bisa dikalahkan. Hidup mahasiswa!

Paninggilan, 1 April 2013
-mengenang 44 tahun puisi 'Sebuah Tanya' karya Soe Hok-Gie
 
Sebuah Tanya - Soe Hok-Gie

akhirnya semua akan tiba 
pada pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.

Apakah kau masih berbicara selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku.

(kabut tipis pun turun pelan-pelan
di lembah kasih, lembah Mandalawangi
kau dan aku tegak berdiri
melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

apakah kau masih membelaiku selembut dahulu
ketika kudekap kau
dekaplah lebih mesra, lebih dekat.
 
(lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya
kau dan aku berbicara 
tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta

(haripun menjadi malam 
Kulihat semuanya menjadi muram
Wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
dalam bahasa yang tidak kita mengerti
Seperti kabut pagi itu)

manisku, aku akan jalan terus 
membawa kenangan-kenangan
dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru.

Selasa, 1 April 1969
- Soe Hok-Gie 
dikutip seperti dalam buku "Soe Hok-Gie Sekali Lagi: Buku, Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya" cetakan ke-2, Januari 2010; diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia

Jumat, 06 Januari 2012

Tentang Kita


Kalau syarat untuk mencintaimu adalah seperti yang Lea bilang, aku pasti sudah jadi kekasih terbaik: aku tahu nama tengahmu, aku juga tahu tanggal lahirmu.


Lagipula, tak ada syarat istimewa bagimu untuk memiliki hati dan segenap jiwaku. Cukup bagiku hadirmu: membawa cinta selalu.

Barangkali, sambil mengendap makna dalam lirik Bee Gees kau kan temukan makna berartinya diriku.

Ingat, aku takkan pernah meletakkan cinta pada bait yang paling suci hingga jadi rahasia yang justru tak mampu kau ungkap dengan kata.


Pharmindo-Medan Merdeka Barat, 2 Januari 2012

Rabu, 09 November 2011

Suatu Malam di Sudut Kota

suatu malam aku jatuh cinta
pada gadis serupa Cherika
di pojok busway
menatap hampa pada ruang kota

suatu malam aku jatuh cinta
pada gadis serupa Cherika
di pojok Gramedia Melawai
membingkai makna senyum semata

di antara nada-nada galau
malam mengalun lembut





Sudirman-Melawai, 19 Oktober 2011.

Minggu, 30 Januari 2011

Beri Aku Alasan Untuk Pulang

beri aku alasan untuk pulang
pada senyum yang melekat rona wajahmu

beri aku alasan untuk pulang
membilas rindu pada teduh matamu

beri aku alasan untuk pulang
pada setiap nasihat Ibu

beri aku alasan untuk pulang
entah hanya untuk menatap gelisah wajahmu

*

beri aku alasan untuk pulang
menambat harap pada labuhan hatimu

beri aku alasan untuk pulang
menebar cita pada ladang harapmu

beri aku alasan untuk pulang
entah hanya untuk mencintai resahmu

beri aku alasan untuk pulang
alasan abadi bukan pembenaran


Cengkareng-Paninggilan. 26 Januari 2011.

Rabu, 26 Januari 2011

Usai Merenda Malam

Rindu yang mereda
Tinggal gelisah dalam tanya
Akankah sama jadinya
Mengenang dahulu
Atau, selesai dari masa lalu


Paninggilan, 23 Januari 2011. 23.46

Sabtu, 22 Januari 2011

The Wishes




It's been a year since those wishesNothing's been writtenKeeping silencein reminiscing places


Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 19 Januari 2011.

Kamis, 13 Januari 2011

Una Verso y Poema Esta Manana

Bolehkah aku duduk disini?
Sendiri menemani sendiri
Mengurai resah menambal sepi
Menandai mimpi memindai hari

Bolehkah aku duduk disini?
Sendiri meyakini arti hari
Merangkai jarak rindu pada kepingan mimpi
Tiga musim basah dalam lembaran sepi

Bolehkah aku duduk disini?

*

Sementara menunggu jawabmu, kuhadirkan seribu tanya, mengapa pelangi enggan nampak di ujung langit utara. Usai hujan gelisah melanda kota yang tak pernah terlalu tua, tempat labuhan mimpi-mimpi kosmopolis-artifisial.

Ah, sementara duduk, akan kubuatkan juga rumah untukmu dari sisa-sisa dinding hati. Menjelmakan mahakarya. Rumah terindah untuk anak-anak kita nanti. Tempat mereka bermain dan belajar mengucap "Ibu...".

Sementara pada dinding kamar kulukis engkau disitu. Peretas rindu sejak dari kalbu. Pada gerimis selintas, kau tak tahu. Jarak merentang hanya sejengkal tatap sayu.

Karena itu, biarkan aku belajar mencintai resahmu*). Ketika hidup telah dikatakan pada lembar-lembar sepi. Ketika aku merasa lelah berjuang dengan kata-kata dan suara.

Bagai rintik (entah hujan, entah gelisah) yang saling berkejaran di jalan-jalan kota, kata-kata ingin mencintaimu bertebaran sebebas puisi menjelma paragraf bisu.



Medan Merdeka Barat, 13 Januari 2010

*) Adaptasi dari puisi Sulaiman Djaya, Silence Memoir, Majalah Sastra Horison, Desember 2010.

Minggu, 08 Agustus 2010

Tentang Mimpi-mimpi di Pakutik

Ada mimpi datang dan pergi
Pada senja selintas di musim basah

Sedang kau pun tahu

Tak satu pun menuju padamu


Kau juga tahu
Tak ada rindu meluruh
Saat mimpi menyebut namamu

Hanya kosong yang entah semu





Sedang malam masih merambat

Menambat harap pada bintang

Di pojok langit utara

Gelap, dingin, (dan lagi-lagi) sepi




Pakutik, Sungai Pinang, 4 Agustus 2010. 22.19 WITA

Sabtu, 17 Juli 2010

Setelah Malam Ini

Setelah malam ini
Ratu Sofia masih harus berpikir
Akankah Catalan dimerdekakan
Seperti Habibie melepas Timor Timur

Setelah malam ini
Hanya tinggal sisa cerita
Tentang keinginan-keinginan tanpa batas
Menuju horison terasing*


Setelah malam ini
Masih ada rasa mengusik
Tentang nama yang tersirat
Laki-laki lain dalam secarik surat**

Setelah malam ini
Angin berdebar menyebar impresi
Dan malam kian mendendangkan sunyi
Aku (masih) sendiri



Paninggilan, 12 Juli 2010. 03.59


ditulis usai Spanyol mengalahkan Belanda, 1-0 di Final Piala Dunia 2010

* Horison Terasing, satu judul pameran yang pernah diselenggarakan di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung
** Laki-laki Lain dalam Secarik Surat, Kumpulan Cerpen Budi Darma, Bentang Pustaka, 2008


NB: judul diatas sama dengan judul lagu Kahitna, Setelah Malam Ini, album Permaisuri (2000)
crossposting dengan judul yang sama dari sini

Rabu, 07 Juli 2010

Senja di Jakarta

Senja di Jakarta*

Senja di Jakarta adalah warna-warni kehidupan
deru kota membahana dalam ruang dan waktu

Senja di Jakarta adalah tentang gairah
tentang bagaimana menyambut malam
sambil berpikir mau apa besok?

Senja di Jakarta adalah tentang kisah
dari sekian banyak cerita ketidakadilan

Sebentar, aku hirup dulu aroma kopi buatanmu


Mungkin, kalau ikut aku kemarin
Kau pasti merengek minta pulang
Ketika si pengkhotbah bersuara
(lagi-lagi) tentang ketidakadilan
yang kini dialami anaknya
itulah dunia kita, Aninda

Senja di Jakarta
bagai asap rokok yang segera terseret angin
terkapar, terlindas, terhempas

Senja di Jakarta
masih menyisakan cerita
yang terus mengalun
entah sampai kapan


Jakarta, 6 Juli 2010. 22.10

')dengan ingatan pada cahaya senja yang berkilauan sepanjang Jalan Sudirman

* sama dengan judul novel karangan Muchtar Lubis, "Senja di Jakarta", diterbitkan Yayasan Obor Indonesia. Kabar terakhir yang saya terima, buku tersebut bisa dicetak ulang sesuai permintaan (print on demand).

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...