Tampilkan postingan dengan label manajemen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manajemen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 September 2016

Danarto Naik Haji + Umrah

Courtesy: www.goodreads.com
 
Ada dua alasan mengapa saya memilih buku ini untuk dibaca hingga selesai.

Yang pertama, Danarto. Seorang seniman yang saya lebih dulu kenal melalui karya-karya gambarnya. Termasuk, gambar sampul buku "Kitab Omong Kosong" dari Seno Gumira Ajidarma pada edisi terbitan Bentang Pustaka. Menarik sekali untuk membaca tulisan dari Pak Haji Danarto, apalagi selama ini beliau hanya terbayangkan sebagai perupa gambar.

Alasan lain, "Menoreh Janji di Tanah Suci" sebuah memoar perjalanan ke Tanah Suci dari Pipiet Senja. Sebuah catatan personal yang melankolis antara hamba dan Sang Pencipta. Saya bermaksud membandingkan saja kedua buku ini dari sisi pengalaman personal penulisnya.

Tadinya, saya berharap bahwa ada buku lain yang berjudul 'Orang Madura Naik Haji', namun karena belum ditemukan maka tidak apa-apa orang Jawa dulu saja pikir saya. Danarto berhasil menuliskan karakter yang melekat pada orang Jawa dalam konteks peribadahan kepada Tuhan dan segenap sisi religiusnya. Saya juga menemukan banyak quote dan perumpamaan yang bagus, yang memang dilontarkan oleh Pak Haji Danarto dalam perjalanannya menuju Baitullah di Tanah Haram sana. Misalnya saja tentang mengapa para Haji dan Hajjah dilarang untuk memotong rambut, hingga mengeluarkan darah dan hanya memakai baju ihram saja, karena sejatinya kita ini milik Allah SWT dengan segala apa yang melekat dan akan kembali kepada Allah SWT jua.

Selain mengupas keseharian peribadahan haji musim 1983, saya juga menemukan bahwa pelaksanaak ibadah haji yang selalu dikoordinir oleh negara itu pada tahun tersebut memang dalam tahap-tahap tidak menyenangkan. Betapa dengan mudahnya pemimpin rombongan memungut uang pengganti biaya-biaya tak nampak dari para jamaahnya, ketersediaan toilet dan kakus yang sangat tidak mencukupi, fasilitas yang jauh dari kata cukup, hingga terbengkalainya kota Mina dengan segala hal yang tidak menyenangkan.

Untuk alasan non-teknis, buku ini memiliki banyak 'cacat minor' yaitu penggalan kutipan ayat suci Al-Qur'an yang banyak mengandung kesalahan tipografi. Saya tidak tahu apakah hal ini luput dari proses editing oleh editor namun yang tampak jelas bagi saya adalah kesalahan pembacaan OCR (Optical Character Recognizition) yang mengakibatkan typographical error semacam itu. Kesannya, buku ini hanya direpro dari buku cetakan lamanya dan itu sangat 'fatal' untuk buku karya penulis sekelas Pak Haji Danarto.

Beruntung, Pak Haji Danarto dengan latar belakang seninya mampu mengolah pengalamannya sedemikian rupa hingga kita tidak perlu merasa begitu jijik dengan keadaan kota Mina. Pak Haji juga piawai memikat pembaca dengan perbandingan yang dibuatnya sendiri ketika mengikuti umrah yang 'dibayarin' dengan umrah yang memang 'diniatin'.

Perjalanan menuju Tuhan adalah perjalanan sunyi setiap jiwa. Pak Haji Danarto telah mencapai Tuhannya disana dengan segenap rasa abdi yang teguh. Andai pun Pak Haji Danarto bukan orang Jawa, saya yakin beliau akan tetap menuliskan pengalamannya di negeri para nabi sana.

Judul        : Orang Jawa Naik Haji + Umrah
Penulis      : Danarto
Penerbit    : Diva Press
Tahun        : 2016
Tebal        : 184 hal.
Genre        : Agama Islam-Ibadah Haji

Cipayung, 23 September 2016.

Sabtu, 30 Juli 2016

The 5 Levels of Leadership

Image Courtesy: www.goodreads.com
Satu lagi buku terjemahan milik istri yang menghiasi rak buku kami adalah buku karya John C. Maxwell ini. Saya sendiri sudah familiar dengan nama si penulis karena buku-buku motivasi dari Parlindungan Marpaung. Buku ini agaknya masih bicara soal kepemimpinan. Bagaimana sekelompok orang dalam organisasi bekerja untuk mencapai hasil tertinggi sebagai puncak kesuksesan.

Kepemimpinan yang sejati bukanlah masalah memiliki pekerjaan atau jabatan tertentu. Capailah hasil dan bangun tim yang produktif, agar anda bisa terus mengembangkan diri dalam peran anda sendiri. Anda harus mau membantu orang lain mengembangkan keahlian mereka agar menjadi pemimpin sesuai kemampuan dan kapasitas mereka.

Jika anda memiliki keahlian dan berdedikasi, anda bisa mencapai puncak kepemimpinan. Suatu kondisi dimana pengalaman anda bisa memperluas pengaruh anda, melebihi jangkauan dan waktu anda, untuk keuntungan orang lain.

Bila disingkat, inilah kelima level dalam kepemimpinan.
1. Jabatan, orang lain mengikuti karena keharusan.
2. Perkenanan, orang lain mengikuti karena mereka ingin.
3. Produktivitas, orang lain mengikuti karena apa yang telah anda lakukan untuk organisasi.
4. Mengembangkan orang lain, orang lain mengikuti karena apa yang telah anda lakukan untuk mereka.
5. Puncak, orang lain mengikuti karena jati diri anda dan apa yang anda wakili.

Anyway, ketidaknyamanan akibat proses penerjemahan selalu jadi masalah dalam membaca buku semacam ini. Saya jadi penasaran seperti apa terbitan aslinya. Hal ini cukup penting bagi saya agar mampu menyesuaikan dengan konteks yang dimaksud penulis. Namun, overall buku ini cukup membantu bagi pengembangan diri pribadi maupun pimpinan/pemimpin yang sedang memegang satu otorisasi atas wewenang tertentu.

Judul           : The 5 Levels of Leadership
Penulis        : John C. Maxwell
Penerbit      : PT. Menuju Insan Cemerlang
Tahun          : 2012
Tebal           : 382 hal.
Genre           : Manajemen-Kepemimpinan

Cipayung, 27 Juli 2016.

Why They Don’t Want You To Get Rich

Image Courtesy: abprasbuk.blogspot.com

Well, saya menemukan buku ini ketika iseng mencari-cari buku di satu toko di kawasan Palasari. Judulnya terdengar agak tidak menyenangkan. Why They Don’t Want You To Get Rich. Siapa ‘they’, siapa ‘You’? Saya jadi siapa? Apakah hanya jadi ‘you’? Berarti, memang ada satu atau lebih pihak yang memang tidak menginginkan kita semua menjadi kaya? Ada satu atau lebih sistem yang membuat kita lebih nyaman untuk tidak menjadi kaya? Itulah yang terlintas dalam benak saya, saat itu, dulu sekali. 

Seorang kawan yang dulu menjadi pedagang sekaligus aktivis MLM tiba-tiba mendatangi saya ketika saya sedang membaca buku ini di dalam bis kota. Dia menyatakan kesalutannya karena saya mulai membaca buku-buku motivasional seperti itu. saya sendiri tidak menganggap buku ini sebagai satu buku motivasi atau pengembangan diri. Saya anggap buku ini sama seperti ‘Hello Laziness’ milik Corinne Maier. A joke about business complexity. Saya maklum saja saat bertemu kawan itu karena saya sedang menjadi pedagang pulsa dengan omset yang lumayan untuk ukuran mahasiswa.

Sampai saat tulisan ini dibuat, saya sendiri merasa perlu membaca ulang untuk mengulang kembali apa yang pernah saya pelajari dan menyesuaikan dengan konteks diri saya saat ini. Saya mencatat beberapa judul chapter yang sempat saya baca berulang-ulang. ‘Jadilah sesuatu yang unik atau jangan jadi apa-apa’, sounds too greedy but that was something to remind you to keep being unique. ‘Berani bertanggungjawab dan memegang kendali’, statement yang tegas sekali. Get your life and control it. Satu lagi, ‘Bergerak cepat atau berhenti dan minggir’. Statement terakhir ini yang rupanya membekas di akhir masa kuliah. Bergerak cepat kumpulkan bahan skripsi, buat skripsi, atau selesai!

Another comment is dari buku ini saya akhirnya mendapat pencerahan mengenai sesuatu yang disebut “LEVERAGE”. Leverage ini didefinisikan oleh si penerjemah sebagai pendongkrak. Pendongkrak to a new heights. I guess. Tulisan Brian Sher cukup membuat saya sedikit paham tentang sebuah kata yang membuat orang menjadi jutawan.

Seperti halnya buku bisnis dan manajemen dari Barat sana, tentu saja porsi individualitas menempati tempat tertinggi yang menjiwai seluruh isi buku. Tidak hanya dalam cara pandang tetapi juga hingga level implementasi. Bahwa bersaing dengan tetangga sendiri adalah wajar dan pemenang adalah ia yang sanggup bertahan dalam persaingan. The winner takes it all.

Judul        : Why They Don’t Want U To Get Rich
Penulis        : Brian Sher
Penerbit    : Hikmah
Tahun        : 2007
Tebal        : 273 hal.
Genre        : Bisnis-Manajemen

Cipayung, 24 Juli 2016 

Jumat, 29 April 2016

Komik Perencanaan Keuangan

Courtesy: www.goodreads.com
Eksistensi komik sebagai media penyampai pesan yang efektif kembali diuji melalui komik ini. Setidaknya itu hipotesis yang saya ajukan usai pembacaan komik ini. Komik ini saya beli empat tahun yang lalu, dan baru beberapa hari kemarin ditemukan sehingga saya baru bisa tulis di blog sekarang. Padahal saya sempat membuat review singkat di Goodreads.

Perencanaan keuangan. Sesuatu yang selalu menjadi topik pembicaraan seputar masalah manajemen keuangan. Apalagi, booming kelas menengah yang sedang melanda negeri ini membuat segala tetek bengek soal perencanaan keuangan mendapat tempat sendiri dalam masyarakat. Peran perencana keuangan mulai dibutuhkan untuk menanggulangi kecemasan di masa depan.

Perencanaan keuangan yang baik tentu dimulai dari kesadaran yang timbul sebagai akibat dari ekspektasi. Pada suatu kondisi dimana uang menjadi barang yang langka, tentu dibutuhkan strategi khusus untuk tetap memilikinya. Masalahnya, hingga saat ini masyarakat belum memiliki suatu guidance/petunjuk yang jelas soal investasi dan instrumen keuangan lainnya agar uang yang mereka miliki dapat tumbuh dan berkembang. 

Media komik sebagai media komunikasi visual dapat membantu kesenjangan informasi mengenai hal tersebut. Penyampaian gagasan dari Financial Planner terkemuka di negeri ini menjadi satu nilai tambah tersendiri bagi muatan pesan yang ingin disampaikan. Saya pun harus kembali menguji hipotesis saya, apakah pembaca mampu menerapkan pelajaran manajemen keuangan setelah membaca komik ini? Saya kira nanti saja, di tulisan yang lain. Entah kapan.

Akhir kata, selamat belajar merencanakan keuangan.

Judul        : Komik Perencanaan Keuangan Mr. Edu
Penulis     : Mike Rini Sutikno
Penerbit   : PT. Elex Media Komputindo
Tahun       : 2010
Tebal        : 120 hal.
Genre       : Manajemen-Keuangan

Medan Merdeka Barat, 26 April 2016.

Minggu, 15 April 2012

Cinta, Sejarah, Selingkuh, Spiritual, dan Manajemen. (CBD-Cerita Buku Diskon edisi April)

Menyenangkan sekali rasanya untuk bisa memborong buku lagi tanpa harus bertanya-tanya, "Kapan mau selesai lha wong yang kemarin saja belum tamat?". Memang seharusnya begitu. Selesaikan dulu buku-buku yang masuk daftar wishlist kemarin. Tuliskan resensi dan catatan pribadi di blog, lalu buat wishlist baru. Ah, lupakan dulu kebiasaan itu. Kebetulan, lagi ada sale di Gramedia Matraman. Ingat, sale tidak pernah datang dua kali. 

Untuk beberapa alasan, inilah jawaban saya.

1. Konser, Meiliana K. Tansri.


Sudah lama sekali saya ingin tahu apa saja dibalik sebuah konser. Terutama konser resital piano. Selama ini, yang ada di kepala saya hanyalah resital piano dari Francis Lim. Resital fiktif dalam buku "Travelers Tale: Belok Kanan Barcelona". Saya harap buku ini dapat memberikan gambaran yang lebih detil. Terlebih, ketika sebuah konflik atas nama cinta terselip disitu.

2. Hening (Silence), Shusaku Endo


Mendengar nama penulisnya, sudah jelas buku ini adalah buku terjemahan. Buku yang aslinya terbit dalam bahasa saudara tua kita, bahasa Jepang. Kemudian, buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris baru ke bahasa Indonesia. Mudah-mudahan proses pengalihbahasaan tidak membuat cerita kehilangan maknanya.

Berlatar kondisi sosio-kultural Jepang di abad ke-17, periode Edo. Pada zaman dimana berlangsung pelarangan terhadap iman Kristiani. Menarik sekali untuk membaca lebih jauh mengenai 'gugatan' buku ini terhadap Tuhan. Apakah Tuhan tetap dalam diam dan hening melihat penderitaan dari para penyebar kasihNya?

3. Pertempuran 10 November 1945, Sutomo (Bung Tomo)


Ini adalah buku yang direproduksi dari buku aslinya. Dihadirkan kembali atas dasar kebutuhan untuk mengingatkan kita pada suatu peristiwa sejarah dalam periode awal kemerdekaan Republik ini. Buku yang ditulis langsung oleh Bung Tomo, tokoh yang selalu dikenal dalam buku pelajaran Sejarah sebagai pemimpin Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. 

Membaca sekilas, buku ini akan membawa kita pada suasana Republik tercinta pasca kemerdekaan. Betapa sulitnya untuk mempertahankan kemerdekaan dibandingkan dengan usaha-usaha untuk mencapainya. Ada banyak hikmah untuk dipelajari agar kita tidak kehilangan identitas bangsa. Sejarah selalu hadir untuk kebutuhan saling mengingatkan.

4. Pelangi di Akhir Badai, Adriana S. Ginanjar.


Isu tentang perselingkuhan selalu menarik untuk dibahas. Selingkuh menjadi bagian dari realitas manusia modern. Selingkuh sudah terjadi sejak pernikahan melembaga. Selingkuh adalah satu kenyataan ketika pernikahan tidak menemukan lagi hakikatnya. Cinta saja tidak pernah cukup.

Ditulis oleh seorang praktisi konseling pernikahan, buku ini memberikan visualisasi nyata tentang perselingkuhan dibalik pernikahan. Satu hal yang membuat saya tertarik pada buku ini adalah sebab-musabab dibalik selingkuh. Menarik juga untuk mengetahui sejauh apa batasan selingkuh itu sendiri. 

Buku ini diangkat dari kisah nyata yang benar-benar terjadi dan dialami sendiri oleh para narasumber. Lebih jauh, buku ini akan mengajarkan siapapun (baik yang sudah menikah atau pun belum) untuk menerima kenyataan dan berdamai atas peristiwa selingkuh yang dilakukan oleh pasangan.

5. Riwayat Kerja si Dudi (Komik Manajemen), Rico Sierma & Eva H. Saragih.


Setelah komik Indonesia mengalami masa kebangkitannya medio 2000-an ini maka mulai banyak komikus yang melakukan berbagai ekplorasi bentuk grafis dan penjelajahan tema. Dan komik manajemen ini adalah salah satunya. Penyampaian pesan-pesan yang berkaitan seputar manajemen kini tidak lagi membosankan. Paduan unsur grafis dan teks pada komik mampu menjadi jembatan komunikasi yang baik. Ini semakin membuktikan efektivitas komik sebagai media pembelajaran, walau masih banyak perdebatan atas pernyataan tersebut.

6. Spiritual Journey Emha Ainun Nadjib, Prayogi R. Saputra. (Ini nggak diskon!)


Tidak banyak buku yang bercerita tentang Emha Ainun Nadjib bila bukan Emha sendiri yang menulisnya. Dari pembacaan sepintas, buku ini berisi tentang kisah-kisah dibalik Jamaah Maiyah; asal-usul, perjalanan, dan imbasnya pada individu-individu yang terlibat didalamnya. 

Tidak hanya itu saja, barangkali lewat buku ini penulisnya ingin sekali memberikan alasan dan jawaban Emha atas eksistensinya yang hampir tidak pernah lagi diangkat media mainstream di negeri ini. Buku ini, agaknya menjadi bahan perenungan bagi kita semua untuk lebih melihat ke dalam diri sendiri. Untuk tetap bermanfaat walau hanya dalam diam dan sendirian di jalan yang sunyi.


Paninggilan, 15 April 2012.


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...