Tampilkan postingan dengan label Indonesia Raya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia Raya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Oktober 2009

Potongan E-mail dan Sumpah Pemuda

"Memang Cikeas, beberapa Menteri dan Panitia Harkitnas pusat tidak kenal wacana apapun kecuali 'merekrut' mereka: kaum muda yg bertekad meneguhkan kebangkitan generasi muda mandiri itu. Bisa dipahami kenapa tak pernah lahir manusia baru Indonesia, setiap yg tumbuh selalu diletakkan sebagai ekor dari generasi sebelumnya.

Sebenarnya eksekusi movement mereka bisa dengan mudah dilaksanakan andaikan mereka mau jadi 'boneka industri', karena ratusan perusahaan siap mensponsori mereka. Tapi jadi batal 'dzat'nya, pilihan watak kemandirian hidupnya.

Tapi saya percaya itu tak akan lantas kalah oleh tantangan dan halangan, mereka tak akan menjebak diri menjadi benih2 murni nasionalisme yang balik ke mainstream untuk hanya menjadi penempuh2 karier pribadi yg egosentris dan primordial.

Thanks dan salam"

*****

Satu email dari seorang sahabat yang juga 'orang dalam' di lingkungan rumah tangga kepresidenan cukup mengejutkan. Ditengah situasi politik saat ini yang membuat siapapun mau merapat lebih dekat dengan kekuasaan tiba-tiba saja ia agak berontak. Mungkin ia sudah waras dan mulai paham serta sadar posisinya. Ia mungkin sudah sadar bahwa yang ada disekelilingnya hanyalah omong kosong belaka adanya. Budaya birokrasi yang terlanjur mengakar kuat tanpa terasa telah menjerat semua urusan yang ada disana.

Pesan itu lebih cocok tendensinya kalau lagi musimnya bahas wacana kebangkitan nasional yang selalu diperingati pada bulan Mei. Tapi, aku pikir ini masih ada hubungannya dengan Sumpah Pemuda yang gegap gempitanya hilang begitu saja hari ini oleh gemuruh yang selalu datang di akhir bulan, apalagi kalau bukan gajian. Sumpah pemuda yang tak lagi muda. 81 tahun sudah setelah para pemuda dari seluruh negeri berikrar untuk Indonesia yang merdeka.

Sejak periode kebangkitan nasional, pemuda telah menjadi motor yang menggerakkan seluruh perangkat mesin kebangsaan untuk sama-sama bercita-cita merdeka. Maka tak heran bila kemudian mereka berkumpul untuk mendeklarasikan cita-cita yang selalu diidamkan. Merdeka dari penjajahan. Sumpah pemuda hanyalah sebuah peretas menuju jalan perjuangan memperebutkan kemerdekaan.

Sumpah Pemuda mengandung makna tekad, upaya, dan ikhtiar pemuda dalam meraih cita-cita kebangsaan melalui satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia. Melalui Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 bangsa ini memulai suatu pergerakan baru menuju Indonesia merdeka setelah diawali dengan berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908.

Kondisi pasca kemerdekaan di zaman modern seperti saat ini, Sumpah Pemuda hanyalah tinggal jadi satu penanda setiap tahunnya tanpa benar-benar ada waktu khusus untuk menghayati kembali maknanya. Kita hanya tahu 28 Oktober itu adalah harinya Sumpah Pemuda. That’s all. Kita mungkin telah lupa juga kalau hari itu pertama kalinya Indonesia Raya diperdengarkan.

Kaum muda selayaknya jadi generasi mandiri yang lahir menjadi manusia baru Indonesia. Sayangnya, setiap mereka yang tumbuh selalu dijadikan ekor dari generasi sebelumnya. Mereka sengaja diposisikan seperti itu oleh bermacam-macam alasan dan kepentingan agar mindsetnya mentok Cuma sebatas ekor atau pengikut saja tanpa ada breakthrough. Mereka hanya akan mengikuti siapa yang lebih menguntungkan. Menguntungkan untuk karir pribadi-pribadi yang sangat egosentris dan primordial.

Karena itu mereka telah menjadi ‘makhluk industri’ yang movementnya bisa dieksekusi setiap saat. Tidak butuh waktu lama karena ratusan perusahaan siap mensponsori mereka. Imbas dari perebutan kepentingan itu akibatnya mengorbankan sikap-sikap dan pola pikir mandiri. Hasilnya, konsumerisme di level kaum muda meningkat dan itu adalah ekspektasi kaum kapitalis.

Kalau sudah begitu itu berarti tanda bahaya untuk nasionalisme. Nasionalisme yang terjalin utuh sejak Indonesia merdeka akan lebih kehilangan esensinya. Nasionalisme bangsa ini naik turun. Kalau dicubit Malaysia baru teriak “Ganyang Malaysia…”. Belum ada satu kejadian yang menyadarkan masyarakat secara massal untuk menggelorakan nasionalisme sejati. Bukan nasionalisme semu, bukan nasionalisme kesukuan. Nasionalisme Indonesia: Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa.


Kelapa Gading, 29 Oktober 2009

Jumat, 02 Oktober 2009

Batik, Identitas, dan Bencana

“Merenungkan Indonesia adalah juga merenungkan identitas kebangsaan kita.” *)

Sekilas Sejarah Batik

Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.

Jadi, kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX.

Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian Batik menjadi alat perjuangan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedagang Muslim melawan perekonomian Belanda.

Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam keraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar keraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar keraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.

Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga keraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.

Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Zaman Majapahit, Batik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majapahit, dapat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojokerto adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Majokerto ada hubungannya dengan Majapahit.

Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan pembatikan di daerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit. Pada waktu itu daerah Tulungagung yang sebagian terdiri dari rawa-rawa dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, yang pada saat bekembangnya Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang benama Adipati Kalang, dan tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit.

Diceritakan bahwa dalam aksi polisionil yang dilancarkan oleh Majapahati, Adipati Kalang tewas dalam pertempuran yang konon dikabarkan disekitar desa yang sekarang bernama Kalangbret. Demikianlah maka petugas-petugas tentara dan keluara kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal diwilayah Bonorowo atau yang sekarang bernama Tulungagung antara lain juga membawa kesenian membuat batik asli.



Identitas Bangsa

Batik menjadi tema hari ini, 2 Oktober 2009, dimana UNESCO sepakat untuk menamakan batik sebagai world heritage kepunyaan Indonesia. Siapa yang menyangka bahwa hari ini batik akan mendapatkan rekognisi dari UNESCO? Kita sebagai bangsa Indonesia tentunya berbangga bahwa (akhirnya) batik secara resmi telah mendapatkan klaim dari dunia internasional sebagai warisan budaya nusantara. Hari ini juga seruan untuk mengenakan batik merebak dimana-mana dan menjadi satu tren yang happening. Entah untuk menghargai niat baik UNESCO atau kita memang masih menghargai warisan budaya nenek moyang sendiri.

Pengukuhan ini juga membuat lega perasaan kita dari ancaman dan rongrongan Malaysia yang selalu tanpa malu mengklaim beberapa dari budaya Indonesia sebagai kepunyaannya. Perdebatan pun selalu meruncing dan tiba pada satu guyonan bahwa Malaysia adalah Truly Maling Asia.Kita ini bangsa Indonesia, bangsa yang punya identitas kuat baik secara sosiologis, historis, dan kultural walau memang masih ada keterkaitan hubungan dengan bangsa Melayu.

Budaya kita direpresentasikan dalam berbagai bentuk kesenian di tiap daerah. Batik, hanyalah satu representasi dari sekian banyak elemen yang menyusun dan membentuk identitas kebangsaan. Batik kini telah mengalami pergeseran dalam nilai utilisasi atau penggunaannya. Terutama setelah cekcok dengan Malaysia yang terang-terangan mengklaim batik sebagai milik mereka. Bak anak kecil merebut mainan temannya sendiri.

Batik tidak hanya digunakan dalam acara yang sifatnya resmi saja seperti undangan pernikahan maupun jamuan resmi lainnya. Bahkan sejak lama pun anak-anak sekolah sudah menggunakan batik setiap hari Jum’at. Kini, giliran orang-orang kantoran pun mengikuti tren tersebut yang dimulai dengan PNS yang selalu mengenakan batik KORPRI.

Bagaimana seandainya bila kemarin itu Malaysia tidak mengutak-atik batik? Bagaimana bila kemarin itu Malaysia tidak melakukan self-recognition atas segala sesuatu yang jadi milik kita bangsa Indonesia? Mengapa kita harus menunggu saat dimana identitas kita terancam oleh bangsa yang terjebak di persimpangan jalan dalam proses pencarian identitasnya?

Nasionalisme

Dalam pengamatan yang masih terbatas dan masih dapat terbantahkan oleh tesis doktoral studi kebudayaan, kenyataan yang ada saat ini menunjukkan bahwa kita masih terjebak dalam nasionalisme semu (pseudo-nationalism). Rasa nasionalisme kita bukan lagi dibangun dan dipelihara dari peringatan Sumpah Pemuda dan hari Kemerdekaan 17 Agustus.

Nasionalisme kita kita ini terbentuk dari perasaan khawatir. Khawatir akan meledaknya bom akibat teroris keparat pelarian dari Negeri Jiran. Khawatir akan dicaploknya Reog Ponorogo, Tari Pendet, dan Ambalat oleh negeri yang merasa jadi pusatnya peradaban bangsa Melayu (dengan Kerajaan Melayu sebagai basisnya). Karena perasaan khawatir itu terus menggelora dan dikhawatirkan bila dibiarkan akan merusak sendi-sendi identitas kebangsaan maka kita pun mulai sadar bahwa kita itu cenderung memandang remeh dan lengah pada apa yang telah kita miliki dalam hal yang berhubungan dengan konteks sosiologis-historis-kultural.

Berapa banyak dari kita yang mendukung gerakan Indonesiaunite? Sebuah gerakan yang membawa pesan moral bahwa kita tidak takut dengan segala ancaman yang mengancam bangsa ini. Sebuah gerakan yang menggema setelah aksi The Last Bombing di Mega Kuningan yang menyebabkan batalnya Timnas PSSI All Star untuk belajar sepakbola dari murid-murid Sir Alex Ferguson.

Gerakan ini disebut-sebut sebagai Sumpah Pemuda 2.0 yang mencoba membangkitkan semangat kita sebagai bangsa yang berdaulat dan mau melakukan apa saja yang terbaik untuk negeri ini termasuk pemulihan citra sebagai negara teror. Tersisa satu pertanyaan, bila Indonesiaunite dianggap sumpah pemuda jilid 2 dan menjadi suatu semangat nasionalisme baru mengapa judulnya harus menggunakan bahasa asing? Kenapa tidak menggunakan bahasa Indonesia saja? Indonesia bersatu misalnya, walau sudah keduluan sama SBY untuk menamai kabinetnya.

Identitas dan Nasionalisme

Nasionalisme yang berangkat dari kekhawatiran ini tentu akan sangat berbahaya bagi identitas bangsa sebesar Indonesia. Perlahan hal ini akan menggerogoti makna eksistensial dari identitas bangsa itu sendiri. Padahal, identitas memberikan makna eksistensial bagi suatu komunitas sekaligus menyadarkannya akan keberadaan komunitas lain di sisi mereka.

Bencana

Lupakan sejenak perdebatan tentang batik yang telah mendapatkan pengakuan internasionalnya. Jelas itu bukan hal yang mudah untuk mempertahankan dan mempertanggungjawabkannya. Berapa banyak dari kita yang tahu jumlah motif dan corak batik di setiap daerah? Apa bedanya batik Pekalongan, batik Madura, dan batik Trusmi. Lalu, adakah hubungan pola batik dari batik Majalengka, Indramayu, Cirebon, dan Kuningan? Mari kita lupakan sejenak yang demikian itu.

Negeri kita ini masih dirundung duka akibat bencana. 5 tahun yang lalu saat SBY mengawali kepemimpinannya negeri ini dilanda Tsunami yang menghanyutkan ribuan rakyat Aceh. 5 tahun kemudian bom dan gempa silih berganti mewarnai kedukaan negeri ini. Gempa menjalar dari selatan Jawa Barat hingga ke Pariaman dan Jambi lalu ke Manado.

Apakah Tuhan sedang menuntut kita untuk sama-sama membangkitkan rasa nasionalisme dan menguji identitas bangsa dengan menolong sesama saudara kita yang tertimpa musibah? Adalah hal yang logis bila Tuhan menginginkannya. Mungkin juga Tuhan inginkan kita tunjukkan identitas kita yang senang untuk berbagi dengan sesama dan saling bergotong royong serta bahu membahu dalam membangun negeri ini. Tuhan tidak ingin kita terjebak dalam hal-hal yang palsu dan semua karena semua itu tidaklah nyata adanya.

Penutup

Batik telah menjadi identitas satu bangsa yang kini sedang dilipur lara akibat bencana. Mari kita berdoa kepada Tuhan secara vertikal, tidak tanggung-tanggung, supaya doa kita tidak menggantung di langit dan diterima oleh Tuhan. Mintakan agar bangsa ini tidak kehilangan identitas, rasa nasionalisme, dan semangat dalam membangun negeri yang sedang ditimpa banyak ujian ini.


Kelapa Gading, 2 Oktober 2009


*) Jamal D. Rahman, dalam kolom Catatan Kebudayaaan Majalah Horison, Edisi September 2009
**) Sekilas tentang sejarah batik dikutip dari http://pesonabatik.site40.net/Sejarah_Batik.html


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...