suatu malam aku jatuh cinta
pada gadis serupa Cherika
di pojok busway
menatap hampa pada ruang kota
suatu malam aku jatuh cinta
pada gadis serupa Cherika
di pojok Gramedia Melawai
membingkai makna senyum semata
di antara nada-nada galau
malam mengalun lembut
Sudirman-Melawai, 19 Oktober 2011.
Tampilkan postingan dengan label Malam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Malam. Tampilkan semua postingan
Rabu, 09 November 2011
Rabu, 27 April 2011
Suatu Malam Aku Menulis
Airplane, take you away again...
Are you flying above where we live...*)
Are you flying above where we live...*)
Ya. Pesawat buatan Perancis itu pula yang membawamu ke peraduan. Kembali ke pelukan Bunda. Merangkai rindu dalam akhir pekan yang terlalu singkat. Tak kulihat dulu barang sejenak. Manis senyum diatas bibir bergincu tipis yang melambaikan salam perpisahan.
Aku dengar lagu di radio butut itu. Aku akan pergi tuk selamanya. Bukan tuk meninggalkanmu sementara. Aku pasti tak kembali pada dirimu. Tapi kau jangan harap, aku takkan kembali.**) Mirip lagu yang pernah kita nyanyikan. Dulu, waktu kita masih bersama. Saling membuka rasa dan bercerita cita.
Kini, hanya pesan darimu yang jadi penanda rindu. Pesan-pesan yang tertinggal di kotak masuk dan masih enggan kuhapus satu per satu. Ternyata kusadari satu hal. Bahwa lebih mudah untuk mengusap wajahmu dan menyeka air mata daripada menghapus semua pesan itu.
Senja perlahan menghampiri. Butiran gerimis menambah resah yang selalu hadirkan kenangan. Kenapa kita menciptakan kenangan kalau ternyata malah tidak bisa melepasnya? Harusnya kita, aku dan kamu mampu hadapi semua.
Ketika malam semakin larut, aku coba menulis. Entah sajak, puisi, atau hanya catatan biasa. Mungkin untukmu, mungkin untuknya.
Masihkah aku menginginkanmu? Bila setiap pagi masih berharap senyummu
Masihkah aku menginginkanmu? Bila masih tega mengharapkanmu
Masihkah aku menginginkanmu? Bila asa itu masih ada
Masihkah aku menginginkanmu? Bila harap tak pasti resah tak peduli
Masihkah aku menginginkanmu? Takkan ku menanti bila harus mengerti
Masihkah aku menginginkanmu? Sedang cinta aku tak punya
Sudirman-Thamrin, 27 April 2011.
*) dari lirik lagu Sleeps With Butterfly, dinyanyikan oleh Tori Amos
**) adaptasi dari lagu Aku Pasti Kembali, ciptaan Maia, direcycle oleh Pasto
Sabtu, 12 Maret 2011
Entah
mungkin karena rumahmu di Pamulang
selalu membuatku ingin pulang
kemana katamu
ke hatimu jawabku, entah
Medan Merdeka Barat- Paninggilan, 11 Maret 2011. 23.45
selalu membuatku ingin pulang
kemana katamu
ke hatimu jawabku, entah
Medan Merdeka Barat- Paninggilan, 11 Maret 2011. 23.45
Kamis, 10 Maret 2011
Tentang Namamu
bulan sabit menggantung di langit utara
serupa kupu-kupu kertas di taman hati
usai tahu namamu, entah Surat Al-Qur'an ke berapa
serupa tanya di langit gelisah
serupa kupu-kupu kertas di taman hati
usai tahu namamu, entah Surat Al-Qur'an ke berapa
serupa tanya di langit gelisah
Medan Merdeka Barat-Paninggilan. 10 Maret 2011. 20.45
Selasa, 22 Februari 2011
Le Memoire du Nuit
My tea's gone cold I'm wondering why, I got out of bed at all...*
Usai mengumpulkan nyawa dan menggeliat, aku nyalakan radio. Betul, teh manis yang Ibu buatkan sudah terlanjur dingin. Barangkali beliau bangun lebih pagi. Ternyata, memang aku yang telat. Tak biasanya pagi secerah ini.
Aku minum teh buatan Ibu. Rasanya masih sama seperti teh yang selalu beliau buatkan sebelum aku berangkat sekolah dulu. Sambil memegangi kepala aku menatap keluar. It’s not a bad day anyway. The sun is ready to burn, yeah!
Ibu bilang semalam tidurku lelap sekali. Well, mungkin saja. I really had a bad bad bad day yesterday, but i won’t let her know. Beliau juga sempat bertanya kenapa. Tapi rasanya aku belum siap dan enggan ceritakan semuanya. It's Sunday anyway and the sun might be having all this day.
I drank too much last night got bills to pay, my head just feels in pain...*
Rasanya, aku terlalu mabuk malam ini. Bukan Jack Ding atau Joni Walkman yang kutenggak. Mungkin seharian ini aku terlalu banyak menenggak bir kekecewaan. Aku terlalu kecewa seharian ini. Jadi untuk sekedar melupakannya aku tidur saja seharian penuh. Termasuk ketika dengan cueknya tidur di kamar Ibu.
Aku sempat terjaga untuk pindah ke kamarku. Entah pukul berapa ketika kulihat Ibu masih bekerja dengan laporan dan berkas-berkas sialan itu. Aku segera keluar kamar Ibu dan bergegas. Kepalaku masih berat. Mulutku terasa sangat masam. Lalu bisa kau tebak, aku teruskan lagi tidurku. Tentu saja sambil memarkir radio di channel paling favorit yang buka 24 jam. Mirip warung punya temanku, Circle @ (dulu sekali :D ).
Rasanya mataku makin susah diajak berdamai. Entah pukul berapa sekarang. Seperti ada galau menggantung di pelupuk. Sambil terus berusaha masuki alam mimpi aku mendengarkan lagu-lagu yang mengalun pelan.
Till you do me right, I don’t even wanna talk to you...**
After tonight, I’ll never will be the same again... ***
Yeah, it’s gonna be a long long long night.
Pharmindo-Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 22 Februari 2011.
* dari lirik lagu “Thank You” dinyanyikan oleh Dido
** dari lirik lagu “Till You Do Me Right” dinyanyikan oleh After 7
*** dari lirik lagu “After Tonight” dinyanyikan oleh REO Speedwagon
Usai mengumpulkan nyawa dan menggeliat, aku nyalakan radio. Betul, teh manis yang Ibu buatkan sudah terlanjur dingin. Barangkali beliau bangun lebih pagi. Ternyata, memang aku yang telat. Tak biasanya pagi secerah ini.
Aku minum teh buatan Ibu. Rasanya masih sama seperti teh yang selalu beliau buatkan sebelum aku berangkat sekolah dulu. Sambil memegangi kepala aku menatap keluar. It’s not a bad day anyway. The sun is ready to burn, yeah!
Ibu bilang semalam tidurku lelap sekali. Well, mungkin saja. I really had a bad bad bad day yesterday, but i won’t let her know. Beliau juga sempat bertanya kenapa. Tapi rasanya aku belum siap dan enggan ceritakan semuanya. It's Sunday anyway and the sun might be having all this day.
*
I drank too much last night got bills to pay, my head just feels in pain...*
Rasanya, aku terlalu mabuk malam ini. Bukan Jack Ding atau Joni Walkman yang kutenggak. Mungkin seharian ini aku terlalu banyak menenggak bir kekecewaan. Aku terlalu kecewa seharian ini. Jadi untuk sekedar melupakannya aku tidur saja seharian penuh. Termasuk ketika dengan cueknya tidur di kamar Ibu.
Aku sempat terjaga untuk pindah ke kamarku. Entah pukul berapa ketika kulihat Ibu masih bekerja dengan laporan dan berkas-berkas sialan itu. Aku segera keluar kamar Ibu dan bergegas. Kepalaku masih berat. Mulutku terasa sangat masam. Lalu bisa kau tebak, aku teruskan lagi tidurku. Tentu saja sambil memarkir radio di channel paling favorit yang buka 24 jam. Mirip warung punya temanku, Circle @ (dulu sekali :D ).
Rasanya mataku makin susah diajak berdamai. Entah pukul berapa sekarang. Seperti ada galau menggantung di pelupuk. Sambil terus berusaha masuki alam mimpi aku mendengarkan lagu-lagu yang mengalun pelan.
Till you do me right, I don’t even wanna talk to you...**
After tonight, I’ll never will be the same again... ***
Yeah, it’s gonna be a long long long night.
*
Pharmindo-Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 22 Februari 2011.
* dari lirik lagu “Thank You” dinyanyikan oleh Dido
** dari lirik lagu “Till You Do Me Right” dinyanyikan oleh After 7
*** dari lirik lagu “After Tonight” dinyanyikan oleh REO Speedwagon
Rabu, 26 Januari 2011
Usai Merenda Malam
Rindu yang mereda
Tinggal gelisah dalam tanya
Akankah sama jadinya
Mengenang dahulu
Atau, selesai dari masa lalu
Paninggilan, 23 Januari 2011. 23.46
Tinggal gelisah dalam tanya
Akankah sama jadinya
Mengenang dahulu
Atau, selesai dari masa lalu
Paninggilan, 23 Januari 2011. 23.46
Jumat, 21 Januari 2011
Angin Tolonglah Aku Sedang Jatuh Cinta
"Aku benci angin diluar sana...!"
Dia keluar ruanganku. Ada apa dengannya? Apa yang terjadi sehingga angin begitu dipersalahkan? Apakah angin berhembus terlalu kencang usai hujan sesaat pagi ini?
Angin yang berhembus kencang masih menyapu wajahnya. Suatu ketika akan ia rindukan kembali saat-saat seperti itu. Hanya angin yang masih setia menyapu dan membelainya. Dia sudah lupa tentang jemari kekasihnya yang selalu menyeka air mata dipipinya. Kekasihnya telah pergi jauh. Jauh sekali. Menyisakan kerinduan itu padanya.
Andai aku jadi angin. Aku akan berhembus menyapu wajahnya yang dibalut bedak tipis. Seperti angin malam yang selalu membelai lentik bulu matanya. Akan pula kuciumi bibir tipisnya itu. Dan yang pasti, aku akan jadi udara yang masih dan selalu dihirupnya.
Maka hanya aku saja yang akan menyapu wajah cantik itu.
Pegangsaan Dua, Kelapa Gading. 26 Februari 2009
* judul cerita ini diambil dari bait pertama lirik lagu "Angin" milik DEWA, Album Cintailah Cinta (2002).
*
Dia keluar ruanganku. Ada apa dengannya? Apa yang terjadi sehingga angin begitu dipersalahkan? Apakah angin berhembus terlalu kencang usai hujan sesaat pagi ini?
Angin yang berhembus kencang masih menyapu wajahnya. Suatu ketika akan ia rindukan kembali saat-saat seperti itu. Hanya angin yang masih setia menyapu dan membelainya. Dia sudah lupa tentang jemari kekasihnya yang selalu menyeka air mata dipipinya. Kekasihnya telah pergi jauh. Jauh sekali. Menyisakan kerinduan itu padanya.
*
Andai aku jadi angin. Aku akan berhembus menyapu wajahnya yang dibalut bedak tipis. Seperti angin malam yang selalu membelai lentik bulu matanya. Akan pula kuciumi bibir tipisnya itu. Dan yang pasti, aku akan jadi udara yang masih dan selalu dihirupnya.
Maka hanya aku saja yang akan menyapu wajah cantik itu.
Pegangsaan Dua, Kelapa Gading. 26 Februari 2009
* judul cerita ini diambil dari bait pertama lirik lagu "Angin" milik DEWA, Album Cintailah Cinta (2002).
Minggu, 31 Oktober 2010
30 Hari, 30 Lirik
Ketika engkau sedang membaca semua lirik ini, terserah apa yang ada di dalam pikiranmu. Bilang saja aku sedang mengalami broken heart, silakan. Galau? Mangga.
Sepuluh hari pertama
1. Thinking 'bout you every night and find out where i am, i'm not livin' in your heart.
(Olivia Ong - Koini Ochite)
2. Mengertilah aku resah, mungkinkah aku cemburu... Tolonglah tenangkan aku, putuskan dia bercintalah denganku. (Melly Goeslaw - Bercintalah Denganku)
3. If i could ask God just one question, why are'nt you here with me? (Mandy Moore feat. Jonathan Foreman)
4. For years i've been telling myself the same old stories... And now i know i've already blown much chances than anyone should ever gets... (Hugh Grant - Don't Write Me Off)
5. Dont ask me why, the times has passed us by, someone else moved in from far away... (Bee Gees - First of May)
6. Bukan aku meragukanmu tapi sungguh ku tak ingin, engkau jauh dari diriku... (Rida Sita Dewi - Ketika Kau Jauh)
7. And i cant fight this feeling anymore, i've forgotten what i started fighting for... (REO Speedwagon - Can't Fight This Feeling)
8. Have i told you lately that i loved you, have i told you there's nothing else above you? (Rod Stewart - Have I Told You Lately)
9. After tonight, i will never be the same again... (REO Speedwagon - After Tonight)
10. Rasa sesal di dasar hati diam tak mau pergi, haruskah aku lari dari kenyataan ini, pernah ku mencoba tuk sembunyi, namun senyummu tetap mengikuti (Iwan Fals - Yang Terlupakan)
Sepuluh hari kedua.
11. Loving you it hurts sometimes, i'm standing here you just don't bye, i'm always there you just don't feel or you just don't wanna feel... (D'Cinnamons - Loving You)
12. It takes some times, God knows how long, i know that i can't forget you, as soon as forever it through, i'll be over you... (TOTO - I'll Be Over You)
13. Heart of mine, how will you keep from dying, stop reminiscing who is she kissing... (Bobby Caldwell - Heart Of Mine)
14. Semua terserah padamu aku begini adanya, kurelakan keputusanmu apapun yang akan kau katakan (Broery Marantika feat. Dewi Yull - Jangan Ada Dusta Diantara Kita)
15. Bye bye baby bye bye, she said in the letter, and that was all she wrote, guess this is goodbye, guess this is forever (Firehouse - All She Wrote)
16. Mungkin diriku bagimu tak ada artinya, tapi kuingin sebaliknya, kuharap kau disisiku bila hatiku merindu, tapi kau takkan pernah tiba jua... (Atiek CB - Kau Ada Dimana)
17. Can't believe that i'm a fool again, i thought this love would never end, how was i to know, you never told me... (Westlife - Fool Again)
18. Biarkan hari berselang malam, seribu gelap berganti terang, waktu kan menjawab hanya dirimu satu cintaku (Warna - Waktu Kan Menjawab)
19. I don't want to talk about it, how you broke my heart... (Rod Stewart - I Don't Want To Talk About It)
20. It must have been love but it's over now, it must have been good but i lost it somehow... (Roxette - It Must Have Been Love)
Sepuluh hari ketiga.
21. Aku terbakar cemburu, cemburu buta, tak bisa kupadamkan amarah dihatiku... (Padi - Terbakar Cemburu)
22. Aku pulang, tanpa dendam, kuterima kekalahanku... (Sheila On 7 - Berhenti Berharap)
23. Karena denganmu atau tanpamu ku tak mampu jalani, kisah kita tak menentu bersamamu tanpamu... (Base Jam - Denganmu Tanpamu)
24. Just like me, they long to be, close to you... (Carpenters - Close To You)
25. You really know where to starts, fixing a broken heart... (Indicent Obsession - Fixing A Broken Heart)
26. I've wasted all my tears, wasted all those years, and nothing had the chance to be good, nothing ever could... (Simply Red - Holding Back The Years)
27. How can you mend this broken man, how can a looser ever win? (Bee Gees - How Can You Mend A Broken Heart)
28. I woke up one morning to find my love gone, my love is gone for you too... (Olivia Ong - Bittersweet)
29. Tak mudah untuk dihati, tak mudah untuk dihadapi, saat harus mengucap selamat tinggal... (Indra Lesmana & Gilang Ramadhan - Selamat Tinggal)
30. Biarkan kucoba lagi mencari bunga pengganti diantara puing-puing cinta ini... (Rano Karno & Nella Regar - Jangan Lagi Kau Menangis Untukku)
Teluk Buyung-Pharmindo-Paninggilan, 9-25 Oktober 2010. 23.34.
*dibuat untuk pengganti 30 Hari Menulis Patah Hati
Sepuluh hari pertama
1. Thinking 'bout you every night and find out where i am, i'm not livin' in your heart.
(Olivia Ong - Koini Ochite)
2. Mengertilah aku resah, mungkinkah aku cemburu... Tolonglah tenangkan aku, putuskan dia bercintalah denganku. (Melly Goeslaw - Bercintalah Denganku)
3. If i could ask God just one question, why are'nt you here with me? (Mandy Moore feat. Jonathan Foreman)
4. For years i've been telling myself the same old stories... And now i know i've already blown much chances than anyone should ever gets... (Hugh Grant - Don't Write Me Off)
5. Dont ask me why, the times has passed us by, someone else moved in from far away... (Bee Gees - First of May)
6. Bukan aku meragukanmu tapi sungguh ku tak ingin, engkau jauh dari diriku... (Rida Sita Dewi - Ketika Kau Jauh)
7. And i cant fight this feeling anymore, i've forgotten what i started fighting for... (REO Speedwagon - Can't Fight This Feeling)
8. Have i told you lately that i loved you, have i told you there's nothing else above you? (Rod Stewart - Have I Told You Lately)
9. After tonight, i will never be the same again... (REO Speedwagon - After Tonight)
10. Rasa sesal di dasar hati diam tak mau pergi, haruskah aku lari dari kenyataan ini, pernah ku mencoba tuk sembunyi, namun senyummu tetap mengikuti (Iwan Fals - Yang Terlupakan)
Sepuluh hari kedua.
11. Loving you it hurts sometimes, i'm standing here you just don't bye, i'm always there you just don't feel or you just don't wanna feel... (D'Cinnamons - Loving You)
12. It takes some times, God knows how long, i know that i can't forget you, as soon as forever it through, i'll be over you... (TOTO - I'll Be Over You)
13. Heart of mine, how will you keep from dying, stop reminiscing who is she kissing... (Bobby Caldwell - Heart Of Mine)
14. Semua terserah padamu aku begini adanya, kurelakan keputusanmu apapun yang akan kau katakan (Broery Marantika feat. Dewi Yull - Jangan Ada Dusta Diantara Kita)
15. Bye bye baby bye bye, she said in the letter, and that was all she wrote, guess this is goodbye, guess this is forever (Firehouse - All She Wrote)
16. Mungkin diriku bagimu tak ada artinya, tapi kuingin sebaliknya, kuharap kau disisiku bila hatiku merindu, tapi kau takkan pernah tiba jua... (Atiek CB - Kau Ada Dimana)
17. Can't believe that i'm a fool again, i thought this love would never end, how was i to know, you never told me... (Westlife - Fool Again)
18. Biarkan hari berselang malam, seribu gelap berganti terang, waktu kan menjawab hanya dirimu satu cintaku (Warna - Waktu Kan Menjawab)
19. I don't want to talk about it, how you broke my heart... (Rod Stewart - I Don't Want To Talk About It)
20. It must have been love but it's over now, it must have been good but i lost it somehow... (Roxette - It Must Have Been Love)
Sepuluh hari ketiga.
21. Aku terbakar cemburu, cemburu buta, tak bisa kupadamkan amarah dihatiku... (Padi - Terbakar Cemburu)
22. Aku pulang, tanpa dendam, kuterima kekalahanku... (Sheila On 7 - Berhenti Berharap)
23. Karena denganmu atau tanpamu ku tak mampu jalani, kisah kita tak menentu bersamamu tanpamu... (Base Jam - Denganmu Tanpamu)
24. Just like me, they long to be, close to you... (Carpenters - Close To You)
25. You really know where to starts, fixing a broken heart... (Indicent Obsession - Fixing A Broken Heart)
26. I've wasted all my tears, wasted all those years, and nothing had the chance to be good, nothing ever could... (Simply Red - Holding Back The Years)
27. How can you mend this broken man, how can a looser ever win? (Bee Gees - How Can You Mend A Broken Heart)
28. I woke up one morning to find my love gone, my love is gone for you too... (Olivia Ong - Bittersweet)
29. Tak mudah untuk dihati, tak mudah untuk dihadapi, saat harus mengucap selamat tinggal... (Indra Lesmana & Gilang Ramadhan - Selamat Tinggal)
30. Biarkan kucoba lagi mencari bunga pengganti diantara puing-puing cinta ini... (Rano Karno & Nella Regar - Jangan Lagi Kau Menangis Untukku)
Teluk Buyung-Pharmindo-Paninggilan, 9-25 Oktober 2010. 23.34.
*dibuat untuk pengganti 30 Hari Menulis Patah Hati
Kamis, 21 Oktober 2010
Kisah Semalam
Kuputuskan mencari seikat seruni di tengah pekatnya malam ini. Tepat ketika Nina dan Nadira terlelap di peraduan sambil berharap bertemu Ibunya dalam mimpi.
Kuputuskan untuk melukis langit malam ini. Bagai merangkai tasbih dari ciuman terpanjang di awal musim semi.
Ketika Kirana menanti dengan sebilah pisau di utara bayu. Entah seseorang sedang menungguku at Pedder Bay.
Paninggilan, 18 Oktober 2010. 00:13
*beberapa keywords dalam tulisan ini bisa ditemukan di halaman judul "9 Dari Nadira" karya Leila S. Chudori
Kuputuskan untuk melukis langit malam ini. Bagai merangkai tasbih dari ciuman terpanjang di awal musim semi.
Ketika Kirana menanti dengan sebilah pisau di utara bayu. Entah seseorang sedang menungguku at Pedder Bay.
Paninggilan, 18 Oktober 2010. 00:13
*beberapa keywords dalam tulisan ini bisa ditemukan di halaman judul "9 Dari Nadira" karya Leila S. Chudori
Minggu, 10 Oktober 2010
The Pace
Ready for the pace of life...
Begitulah kata zodiak hari kemarin tentang peruntungan saya. Dalam keadaan setengah mengantuk saya sedikit menyadari bahwa mungkin esok akan ada kejutan untuk saya. Mungkin juga itu semua akan mencampuraduk perasaan saya. Siapa tahu? Anak SD juga tahu, tomorrow still a mystery.
Paginya teriakan dua anak kecil (anaknya Paman saya) membangunkan saya dari keheningan panjang (mimpi apa saya semalam...?). Langit gelap mega berarak mendung melintas. Tak lama hujan turun. Tentu diawali dengan guludug (gemuruh campur kilat). Waw, rencana hari ini sepertinya batal.
Beberapa detik kemudian, komputer menampilkan message "BOOTMGR is missing. Failed to load. Ctrl+Alt+Del to reboot". Sialan, alamat pertanda tak baik. Inikah awal maksud dari ramalan itu? Seandainya hidup ini adalah sebuah sistem seperti komputer yang punya dua kombinasi sakti: tentu saja Ctrl+Alt+Del (shutdown) dan Ctrl+Z (undo), akan jadi favorit. Barangkali hanya Tuhan sajalah yang akan kecewa karena pekerjaannya terinterupsi oleh sistem (yang juga ciptaanNya) tersebut.
Satu jam berlalu. Keringat mulai mengucur. Terpaksa recovery manager harus turun tangan sekalian install ulang. Data available for erase? Delete data? Yes. Enter. OMG, saya sedikit lengah. Akibatnya, file-file musik dan video mesum Ar*el vs CT ikut lenyap. Semoga Tuhan memberkati komputer yang baru diinstall ulang ini.
Sampai akhirnya si Blackie berhasil loading sempurna, hujan mulai berhenti. Mentari mulai nampak. Selamat menjelang siang, dunia. Eh, ternyata eh ternyata, si DVD-ROM sialan malah ikut pensiun. So, Pak Bos yang dapat laporan tentang hal ini segera mengajak saya untuk jalan-jalan. Cuci mata katanya. Sekalian mampir ke Service Center. Terima kasih, saya akan membatalkan agenda saya. Padahal ada satu janji yang harus saya lunasi. It's ok lah, jangkrik Boss!.
Singkat cerita everything's totally under control. Dari mulai mengatasi macetnya Jakarta sampai turun naik ke lantai 25. Termasuk waktu pit stop makan di Mayestik. Sip lah, you're the best, Boss!
Sore mengawali senja pembukaan. Semburat kekuningan di kaki langit nampak semarak. Entah apalagi yang akan terjadi. What will be, will be. Kutipan dari teman sebelah meja waktu SMA di kelas IPA (sok penting banget ya kesannya :D)

(sampai disini Penulis berhenti sebentar bersiap-siap mereka ulang kejadian sebelum tulisan ini ditulis sambil mengambil nafas dalam-dalam.)
Kabar berikutnya yang benar-benar memacu "pace" dr jantung ini adalah..eng ing eng... Nama laki-laki lain dalam secarik surat. Surat pendek berjudul SMS (gak penting banget, sumpah :D). Seperti judul lagu dangdut saja. OMG, Eau My God*. Rupanya yang datang bukan sekedar kabar.
Tak lama kemudian terjadi beberapa peristiwa yang tidak bisa dihindari. Bagai satu sekuensial khas komik yang tak terelakkan. Mulai dari bahasan tentang tweets "gak penting" demi memenuhi kebutuhan informasi followers (sounds like judul skripsi). Percakapan di telpon yang lagi-lagi "gak penting" tapi tetap berarti buat yang di ujung sana. Hingga ditutup oleh renungan tentang hal-hal "cemen" yang seharusnya tidak sampai melibatkan Tuhan.
Menjelang dini hari, saya semakin menyadari bahwa segala kemungkinan dalam hidup ini memang tidak terhindari. Segalanya kadang terjadi begitu cepat. They always get you. The problem is apakah semua itu berada dalam keseimbangan tata kosmos kemestian atau malah kita yang harus menyesuaikan. Segalanya masih mungkin terjadi dan setiap kemungkinan memiliki probabilitas masing-masing untuk berubah dalam variabel yang entah konstan atau dinamis. Dan malam pun makin merambat menuju sepertiganya membawa akhir cerita.
Mayestik-Paninggilan, 9-10 Oktober 2010.
*diucapkan Jenson Button jauh sebelum jadi Juara Dunia F1, ketika akan menjajal tikungan terkenal, Eau Rouge atau Air Merah, di Sirkuit Spa-Franchorchamps, Belgia, medio 2000. Ada di Majalah F1 Racing edisi tahun yang sama tapi saya lupa bulannya. Mohon pembaca maklum adanya.
Begitulah kata zodiak hari kemarin tentang peruntungan saya. Dalam keadaan setengah mengantuk saya sedikit menyadari bahwa mungkin esok akan ada kejutan untuk saya. Mungkin juga itu semua akan mencampuraduk perasaan saya. Siapa tahu? Anak SD juga tahu, tomorrow still a mystery.
Paginya teriakan dua anak kecil (anaknya Paman saya) membangunkan saya dari keheningan panjang (mimpi apa saya semalam...?). Langit gelap mega berarak mendung melintas. Tak lama hujan turun. Tentu diawali dengan guludug (gemuruh campur kilat). Waw, rencana hari ini sepertinya batal.
Beberapa detik kemudian, komputer menampilkan message "BOOTMGR is missing. Failed to load. Ctrl+Alt+Del to reboot". Sialan, alamat pertanda tak baik. Inikah awal maksud dari ramalan itu? Seandainya hidup ini adalah sebuah sistem seperti komputer yang punya dua kombinasi sakti: tentu saja Ctrl+Alt+Del (shutdown) dan Ctrl+Z (undo), akan jadi favorit. Barangkali hanya Tuhan sajalah yang akan kecewa karena pekerjaannya terinterupsi oleh sistem (yang juga ciptaanNya) tersebut.
Satu jam berlalu. Keringat mulai mengucur. Terpaksa recovery manager harus turun tangan sekalian install ulang. Data available for erase? Delete data? Yes. Enter. OMG, saya sedikit lengah. Akibatnya, file-file musik dan video mesum Ar*el vs CT ikut lenyap. Semoga Tuhan memberkati komputer yang baru diinstall ulang ini.
Sampai akhirnya si Blackie berhasil loading sempurna, hujan mulai berhenti. Mentari mulai nampak. Selamat menjelang siang, dunia. Eh, ternyata eh ternyata, si DVD-ROM sialan malah ikut pensiun. So, Pak Bos yang dapat laporan tentang hal ini segera mengajak saya untuk jalan-jalan. Cuci mata katanya. Sekalian mampir ke Service Center. Terima kasih, saya akan membatalkan agenda saya. Padahal ada satu janji yang harus saya lunasi. It's ok lah, jangkrik Boss!.
Singkat cerita everything's totally under control. Dari mulai mengatasi macetnya Jakarta sampai turun naik ke lantai 25. Termasuk waktu pit stop makan di Mayestik. Sip lah, you're the best, Boss!
Sore mengawali senja pembukaan. Semburat kekuningan di kaki langit nampak semarak. Entah apalagi yang akan terjadi. What will be, will be. Kutipan dari teman sebelah meja waktu SMA di kelas IPA (sok penting banget ya kesannya :D)

(sampai disini Penulis berhenti sebentar bersiap-siap mereka ulang kejadian sebelum tulisan ini ditulis sambil mengambil nafas dalam-dalam.)
Kabar berikutnya yang benar-benar memacu "pace" dr jantung ini adalah..eng ing eng... Nama laki-laki lain dalam secarik surat. Surat pendek berjudul SMS (gak penting banget, sumpah :D). Seperti judul lagu dangdut saja. OMG, Eau My God*. Rupanya yang datang bukan sekedar kabar.
Tak lama kemudian terjadi beberapa peristiwa yang tidak bisa dihindari. Bagai satu sekuensial khas komik yang tak terelakkan. Mulai dari bahasan tentang tweets "gak penting" demi memenuhi kebutuhan informasi followers (sounds like judul skripsi). Percakapan di telpon yang lagi-lagi "gak penting" tapi tetap berarti buat yang di ujung sana. Hingga ditutup oleh renungan tentang hal-hal "cemen" yang seharusnya tidak sampai melibatkan Tuhan.
Menjelang dini hari, saya semakin menyadari bahwa segala kemungkinan dalam hidup ini memang tidak terhindari. Segalanya kadang terjadi begitu cepat. They always get you. The problem is apakah semua itu berada dalam keseimbangan tata kosmos kemestian atau malah kita yang harus menyesuaikan. Segalanya masih mungkin terjadi dan setiap kemungkinan memiliki probabilitas masing-masing untuk berubah dalam variabel yang entah konstan atau dinamis. Dan malam pun makin merambat menuju sepertiganya membawa akhir cerita.
Mayestik-Paninggilan, 9-10 Oktober 2010.
*diucapkan Jenson Button jauh sebelum jadi Juara Dunia F1, ketika akan menjajal tikungan terkenal, Eau Rouge atau Air Merah, di Sirkuit Spa-Franchorchamps, Belgia, medio 2000. Ada di Majalah F1 Racing edisi tahun yang sama tapi saya lupa bulannya. Mohon pembaca maklum adanya.
Suatu Malam Aku Mendengar
Semalaman ini, setidaknya aku tidak harus lagi memutar lagu-lagu seperti ini:
Ketika malam tiba, ingin ku mengungkap tanya, dengan siapa kau melewatinya... (1)
If i could ask God just one question, why are'nt you here with me...(2)
Lelah,lelah hati ini... Menggapai hatimu, tak jua menyatu... (3)
Berganti dengan lagu...
For years i've been telling myself the same old stories... And now i know i've already blown much chances than anyone should ever gets... (4)
Dont ask me why the times has passed us by, someone elses moved in from far away... (5)
Bukan aku meragukanmu tapi sungguh ku tak ingin, engkau jauh dariku...(6)
And i cant fight this feeling anymore, i forgotten what i started fighting for... (7)
Have i told you lately that i loved you (8)
If i ever loose my faith in you (9)
Terakhir...
Katakanlah, katakan sejujurnya, apa mungkin kita bersatu... Kalau tak mungkin lagi kita menyanyikan lagu cinta biarkanlah ku pergi jauh.... (10)
Paninggilan, 10 Oktober 2010. 01.20
1. Iwan Fals, Aku Bukan Pilihan
2. Mandy Moore ft. Jonathan Foreman, Someday We'll Know
3. Rafika Duri, Tirai
4. Hugh Grant, Dont Write Me Off
5. Bee Gees, First of May
6. Rida Sita Dewi, Ketika Kau Jauh
7. REO Speedwagon, Cant Fight This Feeling
8. Rod Stewart, Have I Told You Lately
9. Sting, If I Ever Loose My Faith
10. Christine Panjaitan, Katakan Sejujurnya
Ketika malam tiba, ingin ku mengungkap tanya, dengan siapa kau melewatinya... (1)
If i could ask God just one question, why are'nt you here with me...(2)
Lelah,lelah hati ini... Menggapai hatimu, tak jua menyatu... (3)
Berganti dengan lagu...
For years i've been telling myself the same old stories... And now i know i've already blown much chances than anyone should ever gets... (4)
Dont ask me why the times has passed us by, someone elses moved in from far away... (5)
Bukan aku meragukanmu tapi sungguh ku tak ingin, engkau jauh dariku...(6)
And i cant fight this feeling anymore, i forgotten what i started fighting for... (7)
Have i told you lately that i loved you (8)
If i ever loose my faith in you (9)
Terakhir...
Katakanlah, katakan sejujurnya, apa mungkin kita bersatu... Kalau tak mungkin lagi kita menyanyikan lagu cinta biarkanlah ku pergi jauh.... (10)
Paninggilan, 10 Oktober 2010. 01.20
1. Iwan Fals, Aku Bukan Pilihan
2. Mandy Moore ft. Jonathan Foreman, Someday We'll Know
3. Rafika Duri, Tirai
4. Hugh Grant, Dont Write Me Off
5. Bee Gees, First of May
6. Rida Sita Dewi, Ketika Kau Jauh
7. REO Speedwagon, Cant Fight This Feeling
8. Rod Stewart, Have I Told You Lately
9. Sting, If I Ever Loose My Faith
10. Christine Panjaitan, Katakan Sejujurnya
Senin, 27 September 2010
The Nightsong
Suatu malam, paman saya seperti biasa menemui kami di basecamp yang serupa rukan (alias rumah iya kantor juga iya). Kami tak bicara banyak. Kami hanya membahas kekalahan Chelsea dari timnya Juragan dari Arab, Manchester City 1-0, kekalahan kandang Arsenal atas tim promosi West Bromwich Albion, dan juga hasil seri 2-2 antara Liverpool-Sunderland (The Anfield Gang is now walking alone :(( ).
Selanjutnya, saya masih mengutak-atik model-model desain 2D bis AKAP yang baru saya unduh dari www.bismania.com untuk dijadikan papercraft, dan juga Land Rover Discovery III 2006 European Edition skala 1:100 yang akan saya modifikasi jadi mobil operasional lapangan tim kami (semoga Tuhan mengabulkan wishlist kami...!). Besok, saya berencana mencari papermodel Cherokee 1996 Limited USA (model Cherokee favorit saya) sambil berkhayal untuk dijadikan mobil operasional juga.
Tak lama saya pun segera menyudahinya karena barangkali saja datangnya beliau ini membawa suatu kabar. Sambil ngobrol perlahan lagu itu pun mengalun sunyi usai hujan reda di keheningan malam minggu. Lagu lama dari Paul Carrack yang saya download kemarin lusa, Eyes Of Blue (thank God it's 4shared!). Sambil kaget, paman saya itu pun bertanya kenapa sampai lagu itu bisa ada disini.
Entah karena saking senangnya, paman saya seperti terdiam ketika melihat lagu itu di playlist Winamp. Mungkin, itu membuatnya teringat kembali akan masa-masa galaunya dahulu. Betul saja, dia pun mulai bercerita tentang malam-malam panjang yang dilaluinya sambil mendengarkan lagu keluaran tahun yang sama dengan Toyota Corona Absolute generasi terakhir itu. Tak lupa juga beserta ungkapan-ungkapan atas segala kegelisahan hidup yang membaur dan segera menghilang bersama asap rokok yang terbawa angin.
Saya pikir, paman saya itu tidak menyukai lagu-lagu pop jadul seperti yang biasa saya dengarkan di radio. Makanya, saya agak sedikit heran dengan kejadian ini. Betapa suatu lagu mampu membuat kita bercerita tentang segala ingatan dibelakangnya. Termasuk, membuat kita jujur terhadap perasaan kita sendiri. Mungkin itulah sebabnya, lagu-lagu kenangan (a.k.a jadul alias oldies) akan terus hidup dan dikenang.
Saya sendiri menyenangi lagu itu secara kebetulan karena sering mendengarnya di nightshow sebuah radio di Bandung. Karena itu pula saya segera mendownloadnya (again, God Bless 4shared!) supaya semua ingatan tentang momen-momen yang saya rasakan di malam itu tidak hilang perlahan. Apalagi, kalau sampai teringat wajah seseorang yang pernah membuat perasaan ini jadi sedikit layu dan berbunga tiba-tiba. Saya rasa lebih baik kehilangan rasa cinta dibandingkan kehilangan momen-momen yang membuat kita bisa membuka diri dan jujur pada hati sendiri (sampai saat ini saya pun tidak yakin pernah menulis kalimat yang demikian :D ).
Saya rasa adalah manusiawi bila suatu saat kita mengalami hal yang demikian itu. Terkadang ada beberapa momen yang hadir kembali dan menyeruak dalam ingatan justru ketika mendengarkan suatu lagu dari masanya. Boleh jadi itu semacam Original Soundtrack yang bisa diasosiasikan untuk merepresentasikan bagian-bagian kecil peristiwa hidup yang kita jalani.
Sebagai penutup, quote ini saya kutip dari komentar seorang teman di album kenangan SMA: "Picture fade away, Memory is Forever".
Akhirul kalam, wallahu'alam bis shawab.
Paninggilan, 26 September 2010. 21:41
Selanjutnya, saya masih mengutak-atik model-model desain 2D bis AKAP yang baru saya unduh dari www.bismania.com untuk dijadikan papercraft, dan juga Land Rover Discovery III 2006 European Edition skala 1:100 yang akan saya modifikasi jadi mobil operasional lapangan tim kami (semoga Tuhan mengabulkan wishlist kami...!). Besok, saya berencana mencari papermodel Cherokee 1996 Limited USA (model Cherokee favorit saya) sambil berkhayal untuk dijadikan mobil operasional juga.
Tak lama saya pun segera menyudahinya karena barangkali saja datangnya beliau ini membawa suatu kabar. Sambil ngobrol perlahan lagu itu pun mengalun sunyi usai hujan reda di keheningan malam minggu. Lagu lama dari Paul Carrack yang saya download kemarin lusa, Eyes Of Blue (thank God it's 4shared!). Sambil kaget, paman saya itu pun bertanya kenapa sampai lagu itu bisa ada disini.
Entah karena saking senangnya, paman saya seperti terdiam ketika melihat lagu itu di playlist Winamp. Mungkin, itu membuatnya teringat kembali akan masa-masa galaunya dahulu. Betul saja, dia pun mulai bercerita tentang malam-malam panjang yang dilaluinya sambil mendengarkan lagu keluaran tahun yang sama dengan Toyota Corona Absolute generasi terakhir itu. Tak lupa juga beserta ungkapan-ungkapan atas segala kegelisahan hidup yang membaur dan segera menghilang bersama asap rokok yang terbawa angin.
Saya pikir, paman saya itu tidak menyukai lagu-lagu pop jadul seperti yang biasa saya dengarkan di radio. Makanya, saya agak sedikit heran dengan kejadian ini. Betapa suatu lagu mampu membuat kita bercerita tentang segala ingatan dibelakangnya. Termasuk, membuat kita jujur terhadap perasaan kita sendiri. Mungkin itulah sebabnya, lagu-lagu kenangan (a.k.a jadul alias oldies) akan terus hidup dan dikenang.
Saya sendiri menyenangi lagu itu secara kebetulan karena sering mendengarnya di nightshow sebuah radio di Bandung. Karena itu pula saya segera mendownloadnya (again, God Bless 4shared!) supaya semua ingatan tentang momen-momen yang saya rasakan di malam itu tidak hilang perlahan. Apalagi, kalau sampai teringat wajah seseorang yang pernah membuat perasaan ini jadi sedikit layu dan berbunga tiba-tiba. Saya rasa lebih baik kehilangan rasa cinta dibandingkan kehilangan momen-momen yang membuat kita bisa membuka diri dan jujur pada hati sendiri (sampai saat ini saya pun tidak yakin pernah menulis kalimat yang demikian :D ).
Saya rasa adalah manusiawi bila suatu saat kita mengalami hal yang demikian itu. Terkadang ada beberapa momen yang hadir kembali dan menyeruak dalam ingatan justru ketika mendengarkan suatu lagu dari masanya. Boleh jadi itu semacam Original Soundtrack yang bisa diasosiasikan untuk merepresentasikan bagian-bagian kecil peristiwa hidup yang kita jalani.
Sebagai penutup, quote ini saya kutip dari komentar seorang teman di album kenangan SMA: "Picture fade away, Memory is Forever".
Akhirul kalam, wallahu'alam bis shawab.
Paninggilan, 26 September 2010. 21:41
Minggu, 21 September 2008
Cerita Pada Suatu Malam
Malam telah turun menggerayangi langit. Perlahan bulan dan bintang menatap sekilas. Masihkah malam bertambah kelam? Malam adalah kehilangan. Kehilangan tentang kekasih, tentang hidup, bahkan cinta. Malam adalah kelambu yang menutupi sebuah ranjang. Mampu menampakkan sebagian walau tak seluruhnya. Malam juga yang membuat tersingkapnya satu sisi kehidupan setiap manusia. Malam adalah persembunyian. Persembunyian bagi seonggok jiwa yang rapuh karena terang telah mengganti hari. Kadang, malam menutupi kesucian dan menampakkan kepalsuan. Segala yang kelihatan suci disaat terang belum tentu bila malam menemaninya. Kau juga tidak pernah tahu tentang malamnya segala entitas di jagad raya ini.
Aku disini menulis tentang malam. Hanya yang aku tahu saja tentang malam. Malam bagiku hanyalah sebuah ruang waktu saja yang sudah menjadi kebiasaan-dan pasti akan tiba. Malam buatku sangat berarti. Aku bangun pada setiap malam dimana malam menampakkan dirinya yang anggun tanpa keangkuhan sedikitpun. Malam adalah bagian dari diriku juga. Seperti engkau yang selalu menunjuk satu bintang di langit kelam*).
Aku bukan seorang penjaga malam, bukan juga wanita malam, atau malah kunang-kunang malam. Aku hanyalah seorang penulis yang menulis di waktu malam. Entah kenapa, setiap malam aku menulis rasanya ada saja yang menemaniku. Aku bisa merasakannya. Aku bisa mendengar suara penyanyi jazz yang melengking. Aku bisa mendengar obrolan para penjaga malam yang rupanya tidak kebagian jatah zakat dan elpiji hari ini. Aku juga bisa mendengar suara tembakau yang dibakar kala mereka mulai mengobrol.
Aku juga sudah terbiasa dengan riuh rendah suara tuts keyboard mahasiswa yang mengerjakan tugas kuliah ataupun skripsinya. Aku bisa dengar teriakan speaker di lantai dugem yang penuh dengan hedonis-hedonis muda. Aku bisa dengar marahnya seorang istri karena suaminya pulang larut malam setelah mabuk-mabukkan dengan rekan sekerjanya. Aku juga bisa mendengar si perempuan itu ketika mulai menangis.
Aku hanya menuliskan cerita ini pada sebuah malam yang biasa. Ramalan cuaca berkata malam ini hujan tidak akan turun. Langit sepertinya masih kelam. Aku masih akan terus menulis hingga engkau terjaga dan bertanya padaku jam berapa sekarang hingga aku dengan sigap akan menyelimutimu kembali sampai engkau kembali tertidur dan mimpi indah. Aku masih menulis. Aku mendengar sebuah lagu.
malam ini tak ingin aku sendiri...
kucari damai bersama bayanganmu...**)
Malam juga bisa berarti kesepian. Kesepian yang tak kunjung padam karena rindu yang terbakar. Kesepian yang selalu berujung rindu. Rindu pada peluk hangat kekasih. Rindu pada belaian sayang Ibu. Pada kerasnya tatapan Bapak. Akankah kesepian selalu seperti itu? Mengapa malam begitu membuat kesepian dan kehilangan menjadi seakan lebih berarti dibandingkan siang. Apa karena semuanya hanya tampak remang saja?
Aku masih menulis dan malam masih terlalu muda. Engkau sekarang masih pulas tertidur dengan rona wajah yang tersenyum. Aku jadi teringat padamu sewaktu masih berada jauh dariku. Aku tak berharap engkau mimpikan aku. Semoga mimpimu indah walau bukan denganku, itu harapku. Dulu engkau pernah jauh dariku hingga malamku berbeda dengan malam di tempatmu. Engkau selalu memaksaku bercerita tentang malam disini sedang disana engkau masih saja tertegun menunggu malam.
Malamku disini masih sama seperti malam-malam yang pernah kita habiskan bersama usai memaksa senja untuk menampakkan keindahannya di pantai itu. Engkau tentu masih ingat kala kita habiskan hari hanya untuk menunggu senja mengganti malam. Engkau juga tentu masih teringat ketika seseorang yang jahil menggunting senja itu dan mengirimkan senja itu pada kekasihnya yang di ujung dunia.
Malam masih menggenangi langit. Aku masih terus menulis tentang malamku. Sementara, engkau masih tersenyum dalam tidurmu. Akankah engkau masih akan terus begini bila suatu saat malam tak lagi seperti malam? Akankah engkau masih bisa tersenyum karena malam telah menyelimutimu? Apakah malam-malam yang terlewati ini masih akan bisa disebut malam? Aku tak mau menjawab atau sekalipun berkomentar.
Mendadak aku teringat pada malam-malamku yang lain. Malam yang kuhabiskan berteman tumpukan buku-buku di rak perpustakaan. Ditemani dengan secangkir kopi kental panas dan rokok buatan Kediri. Aku hanya duduk-duduk saja sementara e-mailku berisi pesan dari Pustakawan dari Sarang Perawat itu. Aku sedang tidak ingin membahasnya. Aku hanya ingin memikirkanmu saja. Kadang aku mengharapkanmu berada di sela-sela tumpukan buku itu. Menyelinap bersembunyi di bawah luna kelam.
Memang benar adanya. Aku pernah merasakan malam membawakan rindu yang rapuh ini padamu. Aku pernah juga mengirimkan rindu itu yang kuhembuskan dalam setiap hembusan asap rokok buatan Kediri itu. Aku hanya bisa mengirimkan itu saja padamu. Aku kirimkan rindu itu lewat angin malam. Bukan lewat kurir atau tukang pos. Entah, apa engkau bisa menerimanya dengan menghirup angin malam yang mungkin mampir ke tempatmu.
Aku belum mengantuk malam ini. Kadang aku berpikir, enak sekali bisa sepertimu. Tertidur kala malam mulai meninggi lantas mulai bermimpi. Sudah lama rasanya aku kehilangan saat-saat itu. Saat-saat aku menemanimu. Saat-saat aku mendekapmu. Saat-saat aku membacakan cerita-cerita tentang malam. Hingga akhirnya, kau mulai tertidur, terlelap, lantas terlihat begitu bahagia dengan senyuman itu. Aku selalu berada disampingmu, menemanimu hingga sampai pada saat ini aku masih selalu menulis cerita. Tepat pada saat malam.
Aku masih belum tahu kapan aku mulai tertidur, sama seperti malam-malam kemarin. Aku masih belum mengantuk. Aku masih akan terus menulis sambil berpikir cerita apa lagi yang akan kutulis untukmu. Cerita yang selalu kutulis dan kuceritakan kembali. Hingga akhirnya kau tertidur dan menampakkan senyum itu lagi. Sebuah senyuman bahagia yang masih sama setiap malamnya.
Bukit Pakar Timur 100, 21 September 2008, 15.59
*) sebuah judul lagu dari Rida Sita Dewi, Satu Bintang di Langit Kelam, album Bertiga, 1996
**) sebuah lagu dari Dian Pisesha, Tak Ingin Sendiri, dinyanyikan pula oleh Hetty Koes Endang
Aku disini menulis tentang malam. Hanya yang aku tahu saja tentang malam. Malam bagiku hanyalah sebuah ruang waktu saja yang sudah menjadi kebiasaan-dan pasti akan tiba. Malam buatku sangat berarti. Aku bangun pada setiap malam dimana malam menampakkan dirinya yang anggun tanpa keangkuhan sedikitpun. Malam adalah bagian dari diriku juga. Seperti engkau yang selalu menunjuk satu bintang di langit kelam*).
Aku bukan seorang penjaga malam, bukan juga wanita malam, atau malah kunang-kunang malam. Aku hanyalah seorang penulis yang menulis di waktu malam. Entah kenapa, setiap malam aku menulis rasanya ada saja yang menemaniku. Aku bisa merasakannya. Aku bisa mendengar suara penyanyi jazz yang melengking. Aku bisa mendengar obrolan para penjaga malam yang rupanya tidak kebagian jatah zakat dan elpiji hari ini. Aku juga bisa mendengar suara tembakau yang dibakar kala mereka mulai mengobrol.
Aku juga sudah terbiasa dengan riuh rendah suara tuts keyboard mahasiswa yang mengerjakan tugas kuliah ataupun skripsinya. Aku bisa dengar teriakan speaker di lantai dugem yang penuh dengan hedonis-hedonis muda. Aku bisa dengar marahnya seorang istri karena suaminya pulang larut malam setelah mabuk-mabukkan dengan rekan sekerjanya. Aku juga bisa mendengar si perempuan itu ketika mulai menangis.
Aku hanya menuliskan cerita ini pada sebuah malam yang biasa. Ramalan cuaca berkata malam ini hujan tidak akan turun. Langit sepertinya masih kelam. Aku masih akan terus menulis hingga engkau terjaga dan bertanya padaku jam berapa sekarang hingga aku dengan sigap akan menyelimutimu kembali sampai engkau kembali tertidur dan mimpi indah. Aku masih menulis. Aku mendengar sebuah lagu.
malam ini tak ingin aku sendiri...
kucari damai bersama bayanganmu...**)
Malam juga bisa berarti kesepian. Kesepian yang tak kunjung padam karena rindu yang terbakar. Kesepian yang selalu berujung rindu. Rindu pada peluk hangat kekasih. Rindu pada belaian sayang Ibu. Pada kerasnya tatapan Bapak. Akankah kesepian selalu seperti itu? Mengapa malam begitu membuat kesepian dan kehilangan menjadi seakan lebih berarti dibandingkan siang. Apa karena semuanya hanya tampak remang saja?
Aku masih menulis dan malam masih terlalu muda. Engkau sekarang masih pulas tertidur dengan rona wajah yang tersenyum. Aku jadi teringat padamu sewaktu masih berada jauh dariku. Aku tak berharap engkau mimpikan aku. Semoga mimpimu indah walau bukan denganku, itu harapku. Dulu engkau pernah jauh dariku hingga malamku berbeda dengan malam di tempatmu. Engkau selalu memaksaku bercerita tentang malam disini sedang disana engkau masih saja tertegun menunggu malam.
Malamku disini masih sama seperti malam-malam yang pernah kita habiskan bersama usai memaksa senja untuk menampakkan keindahannya di pantai itu. Engkau tentu masih ingat kala kita habiskan hari hanya untuk menunggu senja mengganti malam. Engkau juga tentu masih teringat ketika seseorang yang jahil menggunting senja itu dan mengirimkan senja itu pada kekasihnya yang di ujung dunia.
Malam masih menggenangi langit. Aku masih terus menulis tentang malamku. Sementara, engkau masih tersenyum dalam tidurmu. Akankah engkau masih akan terus begini bila suatu saat malam tak lagi seperti malam? Akankah engkau masih bisa tersenyum karena malam telah menyelimutimu? Apakah malam-malam yang terlewati ini masih akan bisa disebut malam? Aku tak mau menjawab atau sekalipun berkomentar.
Mendadak aku teringat pada malam-malamku yang lain. Malam yang kuhabiskan berteman tumpukan buku-buku di rak perpustakaan. Ditemani dengan secangkir kopi kental panas dan rokok buatan Kediri. Aku hanya duduk-duduk saja sementara e-mailku berisi pesan dari Pustakawan dari Sarang Perawat itu. Aku sedang tidak ingin membahasnya. Aku hanya ingin memikirkanmu saja. Kadang aku mengharapkanmu berada di sela-sela tumpukan buku itu. Menyelinap bersembunyi di bawah luna kelam.
Memang benar adanya. Aku pernah merasakan malam membawakan rindu yang rapuh ini padamu. Aku pernah juga mengirimkan rindu itu yang kuhembuskan dalam setiap hembusan asap rokok buatan Kediri itu. Aku hanya bisa mengirimkan itu saja padamu. Aku kirimkan rindu itu lewat angin malam. Bukan lewat kurir atau tukang pos. Entah, apa engkau bisa menerimanya dengan menghirup angin malam yang mungkin mampir ke tempatmu.
Aku belum mengantuk malam ini. Kadang aku berpikir, enak sekali bisa sepertimu. Tertidur kala malam mulai meninggi lantas mulai bermimpi. Sudah lama rasanya aku kehilangan saat-saat itu. Saat-saat aku menemanimu. Saat-saat aku mendekapmu. Saat-saat aku membacakan cerita-cerita tentang malam. Hingga akhirnya, kau mulai tertidur, terlelap, lantas terlihat begitu bahagia dengan senyuman itu. Aku selalu berada disampingmu, menemanimu hingga sampai pada saat ini aku masih selalu menulis cerita. Tepat pada saat malam.
Aku masih belum tahu kapan aku mulai tertidur, sama seperti malam-malam kemarin. Aku masih belum mengantuk. Aku masih akan terus menulis sambil berpikir cerita apa lagi yang akan kutulis untukmu. Cerita yang selalu kutulis dan kuceritakan kembali. Hingga akhirnya kau tertidur dan menampakkan senyum itu lagi. Sebuah senyuman bahagia yang masih sama setiap malamnya.
Bukit Pakar Timur 100, 21 September 2008, 15.59
*) sebuah judul lagu dari Rida Sita Dewi, Satu Bintang di Langit Kelam, album Bertiga, 1996
**) sebuah lagu dari Dian Pisesha, Tak Ingin Sendiri, dinyanyikan pula oleh Hetty Koes Endang
Langganan:
Komentar (Atom)