Tampilkan postingan dengan label Pemilu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemilu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Agustus 2014

Seminggu di Incheon

Awalnya


Awal tahun ini, saya menerima sebuah kiriman kartu ucapan selamat tahun baru dan kalender dari Incheon Airport Aviation Academy (IAAA), tempat yang kelak saya diami selama seminggu. Saya sempat membayangkan rasanya mengikuti course-course yang ditawarkan disana. Namun, karena mereka fokus kepada Airport Operations, saya tidak begitu menaruh perhatian mengenai training lainnya yang diselenggarakan disana. Walau tetap saya menyimpan keinginan untuk bisa ke Korea sana.

Sampai satu saat bulan Februari lalu, saya menerima satu State Letter dari ICAO perihal kesempatan mengikuti training dengan skema fellowship di IAAA untuk periode bulan Juli tahun ini, bertepatan dengan Bulan Ramadhan. Saya segera membaca dan mencari informasi course yang berkaitan dengan bidang spesialisasi safety. Pada State Letter tersebut, tercantum Electronic Safety Tools Course berkode B-3. Melihat segala persyaratan yang memungkinkan maka saya segera menyiapkan langkah selanjutnya. Mendaftar ke portal website untuk aplikasi dan mengunduh beberapa formulir.

Saya tidak menemui hambatan dalam mengajukan aplikasi via web. Pak Bos pun setuju untuk mengajukan aplikasi bersama-sama, termasuk ketika meminta persetujuan Official Nomination ke Direktur. Tenggat waktu berhasil kami penuhi. Terus terang, masa penantian pengumuman hasil seleksi awal cukup membuat saya was-was karena ada kemungkinan bahwa hanya satu orang saja yang akan diterima dari setiap negara. Saya yakin, kalau Tuhan mau kasih saya pergi kesana, saya pasti pergi kesana.

Hari pengumuman pun tiba. Waktu itu saya sedang berada di Bandung. Sebuah email dari Pak Bos cukup membuat saya terkejut hingga spontan melakukan sujud syukur. Saya dinyatakan lolos untuk melaju ke tahapan selanjutnya yaitu medical report. Saya sangat berharap tidak ada masalah pada hasil medical examination mengingat hasil tahun lalu yang tidak cukup menggembirakan. Saya segera mengunduh form medical report yang dipersyaratkan lalu segera masuk klinik kantor untuk melakukan pemeriksaan. Dokter yang memeriksa saya menyatakan saya fit untuk mengikuti training di IAAA, disahkan oleh statement dan stempelnya. I’m going to Korea, baby! I’m gonna catch you, Min Ah!

Perlu seminggu untuk Panitia Seleksi dari IAAA dan MOLIT (Ministry of Land, Infrastructure, and Transportation) sebelum mereka mengumumkan List of Participants yang diterima. Saya bersama 15 orang peserta lainnya dari berbagai negara seperti Filipina, Laos, Nigeria, Tanzania, Mali, Mongolia, Yaman, Pantai Gading, dan Tunisia, diterima untuk mengikuti Republic of Korea-ICAO Fellowship Training Program Course di Incheon Airport Aviation Academy, 6-13 July 2014.

Saya kembali tidak dapat menahan perasaan saya untuk mengucap syukur pada Allah SWT. Saya segera bersujud syukur segera setelah menerima email konfirmasi beserta Official Invitation Letter dari IAAA dan MOLIT. Tak lama kemudian, ICAO juga mengirim State Letter ke Direktur Jenderal perihal diterimanya saya untuk mengikuti fellowship di Korea.

Saya pun segera mengurus aplikasi visa Korea. Hasil googling, butuh waktu sekitar seminggu untuk proses penerbitan visa. Saya pun menyiapkan dokumen-dokumen pendukung, seperti Surat Referensi Bank (seharga IDR 150.000), surat keterangan kerja, slip gaji 3 bulan terakhir, copy buku tabungan, paspor, Official Invitation Letter, formulir aplikasi Visa, foto 3 x 4, kartu keluarga, dan KTP. Untuk urusan tiket, saya awalnya berharap kantor dapat memfasilitasi saya untuk bisa mencoba pengalaman terbang bersama Korean Air. Saya harus segera memberi konfirmasi kepada IAAA perihal informasi kedatangan dan kepulangan sebelum akhir bulan Juni. Trust me, untuk training organizer di negara maju hal ini sangat penting bagi mereka. Alhasil, kantor tercinta membekali saya tiket Garuda Indonesia Jakarta-Seoul PP. It’s not a bad idea, anyway.

Cepat atau lambat, waktu itu akan segera datang. Saya akan segera mengecap aroma kimchi di negeri asalnya. Ya, saya juga akan menikmati tayangan Arirang, KBS, dan SBS. Pun, menonton boyband-girlband itu langsung disana, minimal lewat televisi :D . Saya sengaja tidak menyiapkan What-To-Do-List-In-Korea. Saya justru berharap bisa merasakan pengalaman Get Lost in Seoul seperti pada tayangan di National Geographic waktu saya training di Kuala Lumpur tahun lalu. Saya juga berdoa supaya punya waktu untuk pergi ke N Seoul Tower, you know what i mean? Saya berniat pergi kesana untuk menulis nama saya dan sang pujaan hati dalam sebuah gembok cinta. Semoga waktu membawa saya kesana.

Sehari sebelum keberangkatan, paspor dan visa Korea sudah saya terima. Kenyataannya, butuh waktu dua minggu lebih untuk mendapatkan izin masuk ke Korea. Barangkali, itu karena agen perjalanan yang ditunjuk oleh kantor saya. Urusan biaya visa, saya dicharge IDR 500.000 oleh bagian keuangan yang dipotong dari uang perjalanan dinas.

Have a safe flight to Incheon!

The Departure

Adalah satu pengalaman tersendiri untuk melakukan perjalanan ke luar negeri di bulan suci Ramadhan. Terlebih, ketika tujuan perjalanan itu adalah satu negeri dimana umat muslim adalah minoritas. Melalui blog hasil googling, saya mendapat informasi bahwa puasa di Korea berlangsung selama kurang lebih 17 jam di musim panas ini. Saya belum tahu detailnya seperti apa, mulai imsak pukul berapa hingga buka puasa jam berapa.

Saya membawa 500 gram rendang vacuum dan 800 gram oatmeal untuk bekal makanan selama di Korea. Saya sengaja menyiapkan bekal seperti itu, at least kalau tidak ada nasi saya masih bisa survive dengan oatmeal yang konon mampu menahan lapar lebih lama dibanding karbohidrat pada nasi. Itu masih ditambah dengan mie instan dan beberapa snack lainnya.

5 Juli 2014 kemarin adalah hari keberangkatan saya menuju Incheon. Saya dijadwalkan terbang menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA878 pukul 23.15 WIB. Saya tiba pukul 21.00 dan segera menuju Lounge Garuda Indonesia di terminal 2 untuk menunggu panggilan boarding. Saya makan malam terlebih dahulu di lounge. Pukul 22.30 panggilan boarding untuk seluruh penumpang GA878. Saya segera bergegas menuju boarding room. Sambil mengantri, Airbus A330-200 PK-GPM sudah terparkir menunggu untuk diberangkatkan.

Sedikit flashback, Agustus 2012 lalu, saya mengikuti sebuah lomba penulisan karya fiksi dengan bertema Korea. Saya mengadaptasi cerita perjalanan seorang teman dan membuatnya dalam tiga bagian cerpen. Saya menulis cerpen dalam bentuk tiga buah surat dari seseorang untuk kekasihnya di Indonesia. Saya juga tidak lupa bagaimana cerita teman saya itu ketika mengunci namanya dan kekasihnya di N Seoul Tower. Saya akan melakukan hal yang sama dengannya.

Saya masih tidak percaya bahwa saya akan pergi ke Korea. Saya masih tidak percaya bahwa saya akan mengalami sendiri pengalaman ini. Saya masih tidak percaya bahwa saya akan pergi ke N Seoul Tower dan menulis nama saya dan sang kekasih di gembok cinta. Bahkan, perasaan semacam itu tidak juga reda ketika pesawat pushback dan line up position untuk segera take off. Saya menutup wajah dengan kedua tangan, ada air mata keluar. Dalam hati, saya berterima kasih pada semua yang sudah mendukung juga berdoa untuk saya. Wajah mereka terbayang satu persatu. Take off position, seru pilot dari kokpit. PK-GPM pun mengangkasa menuju langit Incheon

Penerbangan menuju akan ditempuh selama kurang lebih 7 jam. Malam selarut ini tidak ada lagi yang ingin saya lakukan kecuali tidur. Saya sempat meminta pramugara untuk membangunkan saya pada waktu sahur nanti.  Ia segera menyanggupi permintaan saya. Saya jadi tenang tanpa harus khawatir ketinggalan sahur. Saya segera tidur nyenyak usai menyantap snack pembuka tak lama setelah pesawat mencapai ketinggian jelajah.

Namanya Minji

Pukul 02.00 entah waktu bagian mana, seorang pramugari asal Korea bernama Minji Do (lihat plat nama di dadanya) membangunkan saya disaat semua penumpang lainnya terlelap. Dia membantu menyalakan lampu kabin dan menyiapkan menu makan saya. Pesawat sedang berada diatas wilayah udara Taiwan. 

Menu Sahur 41.000 feet


Saya menikmati sahur saya yang pertama diatas pesawat terbang, 41.000 kaki diatas permukaan laut, diatas langit Taiwan. Sekeliling saya gelap, barangkali hanya saya dan Minji yang terbangun. Menjelang waktu subuh, pramugara yang tadi saya minta bantuannya, membangunkan saya kembali. Saya pun segera menunaikan shalat subuh di ketinggian jelajah 41.000 kaki. Matahari mulai menampakkan senyumnya. Hari sudah pagi disini, entah dimana. Hanya langit biru dan Tuhan yang tahu.

Arrival Card dan Customs Clearance Form

Saya terbangun ketika waktu sarapan pagi. Penumpang lainnya sudah kembali dari tidur mereka dan sedang menikmati sarapan. Saya masih mengantuk. Saya kembali tertidur dan dibangunkan ketika pengumuman persiapan untuk landing. Saya melihat ke jendela sambil mengisi Customs Clearance Form dan Arrival Card, pulau-pulau kecil di sekitar semenanjung sudah mulai terlihat. Sudah pukul 8 lebih disini. Hari sudah terang and this is Sunday, of course. Kiss landing, Incheon.

World's Best Airport 9 Consecutive Times

Tidak salah bila Incheon Airport dinobatkan sebagai bandara terbaik dunia 9 kali berturut-turut. It’s more than airport, it’s beyond expectation. Semuanya dibuat mudah sejak pertama kali kaki kita menginjak bumi. Papan petunjuk ada dimana-mana, tulisannya jelas dalam bahasa Inggris dan Korea. Beberapa tersedia dalam bahasa Cina dan Jepang. Kita dibuat untuk mandiri tanpa harus bertanya kesana-kemari lagi. 

Hal pertama yang saya lakukan di bandar udara terbaik di duni ini adalah mencari toilet. Betul kata traveler-traveler di blog mereka, toilet disini tidak menggunakan air untuk bersuci usai buang air. Semuanya menggunakan disposal tissue yang larut dengan air dan tidak menyebabkan mampet. Bila pembaca merasa belum terbiasa dan kesulitan beradaptasi dengan gaya seperti ini, sila mampir ke supermarket terdekat untuk membeli air minum botol kemasan seharga KRW 1.000 (IDR 12.000).

Saya tidak menemui kesulitan untuk sampai di pintu imigrasi. Saya diambil foto dan sidik jari oleh petugas Imigrasi dan segera berjalan lagi menuju baggage handling. Rupanya, saya masih harus menggunakan airport shuttle train menuju main building. Sekilas, pengalaman ini mengingatkan saya pada Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Entah siapa yang meniru siapa, yang jelas skema KLIA sama dengan di Incheon Airport. Tata bangunannya pun sama, dan karena saya menggunakan maskapai asing maka pesawat kami harus parkir di Extention Building. Pengalaman serupa tapi tak sama.

Saya pun tiba di pintu kedatangan dan langsung menuju Gate 13 dimana terdapat shuttle bus ke Best Western Hotel Incheon. Saya berjalan dari Gate 4 menuju Gate 13 sambil memperhatikan lalu-lalang Airport Limousine, sebutan untuk bis antar kota dari Incheon Airport. Saya mengamati tarif perjalanan, cara membeli tiket, dan yang paling penting adalah rute-rutenya. Kebanyakan, bis-bis ini menuju Seoul dan beberapa wilayah lain di pinggiran Seoul. Bahkan, bis menuju Busan pun ada. Padahal jarak Incheon-Busan bisa mencapai 500 km lebih via jalan tol Incheon-Seoul-Busan.

Saya menunggu 10 menit hingga shuttle bus hotel tiba. Saya menitipkan barang bawaan di concierge karena waktu check in masih pukul 14.00 local time Incheon. Saya kembali menunggu shuttle dari hotel ke airport. Saya akan pergi ke Seoul untuk melakukan pemilu saya yang pertama di luar negeri.

Let's Get Lost in Seoul

Berdasarkan informasi sebelumnya yang saya terima dari panitia pemungutan suara di Kedutaan Besar Republik Indonesia Seoul, pemilu diselenggarakan sejak pukul 09.00 hingga 20.00. Saya diberi pilihan untuk memilih di KBRI Seoul atau Jumin Center Incheon. Saya wajib membawa paspor dan bukti kewarganegaraan lainnya untuk bisa memilih disana. Sudah jelas, saya akan pergi ke KBRI Seoul daripada ke Jumin Center. FYI, Incheon Airport berada di sebuah pulau yang masih termasuk wilayah Incheon Metropolitan. Jadi, daripada saya get lost in Incheon lebih baik get lost in Seoul. :D

Saya sempat bingung ketika akan menuju Seoul namun karena KBRI Seoul terletak dekat stasiun Saetgang, maka saya memutuskan mencari bis dengan tujuan Seoul Station. Asal sudah sampai ke Seoul Station, saya pasti bisa menemukan kereta menuju Saetgang. Saya naik bis 6111 yang melewati Seoul Station dan membayar KRW 10.000 (sekitar IDR 120.000). Jalan tol hari minggu ini lengang. Bis melaju dengan kecepatan 100-110 km/jam. Butuh 45 menit untuk tiba di Seoul Station.

Masjid Agung Itaewon
Selanjutnya, pengalaman saya sudah lebih dahulu diposting disini. Sila baca tautan untuk cerita pengalaman hari pertama saya di Seoul. Bagaimana saya mencari lokasi KBRI Seoul yang ternyata berseberangan dengan KBS Annex, lalu pertemuan saya dengan teman-teman TKI yang membantu saya menemukan Masjid di Itaewon, hingga saya kembali ke hotel.

Annyeonghaseyo,
Jung-gu, Incheon, 8 Juli 2014.

Rabu, 09 Juli 2014

Get Lost in Seoul dan Pemilu

Pemilu Presiden tahun ini adalah pemilu presiden saya yang ketiga. Tetapi ini akan jadi berbeda sejak saya tidak akan berada di TPS RW24 Kelurahan Melong, Cimahi Selatan. Saya tidak tahu angin apa yang membawa saya hingga ke Incheon untuk sebuah Fellowship Course dari Ministry of Land, Infrastructure, and Transportation Republic of Korea dan ICAO. Saya dijadwalkan untuk tiba di Incheon Airport Aviation Academy pada tanggal 6 Juli 2014, hari Minggu.

Saya sempat mengecek informasi bahwa Pemilu di luar negeri/KBRI/konsulat jenderal akan dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 6 Juli 2014. Tepat pada hari kedatangan saya. Beberapa hari sebelum keberangkatan, saya segera menghubungi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul melalui e-mail. Esok sorenya, saya mendapatkan balasan dari PPLN Korea Selatan bahwa betul pemilu akan dilaksanakan pada hari Minggu. Saya diberi pilihan untuk melakukan pemilihan di KBRI Seoul atau Jumin Center, Incheon. Saya memilih untuk pergi ke Seoul, tak lama setelah mendarat dan check-in ke Best Western Airport Hotel.


Menuju Seoul
Saya pergi ke Seoul dengan bis airport limousine tujuan Seoul Station. Menurut informasi dari KBRI, lokasi mereka tidak jauh dari stasiun Saetgang (line 9). Jadi, saya memutuskan lebih baik naik kereta dari Seoul Station. Saya tidak membawa peta atau petunjuk apapun. Kedua ponsel saya pun tidak berfungsi karena saya tidak membeli SIM card. Kalaupun ada, harganya mahal sekali 50.000 KRW (sekitar Rp. 500.000). Praktis, saya hanya mengandalkan alamat yang KBRI dari website mereka.

Masalah pertama yang saya hadapi adalah tiket bis. Sepanjang 13 pintu kedatangan ada banyak counter pembelian tiket, namun ketika saya bertanya pada petugas informasi yang berkeliaran (dan memakai rompi resmi) mereka segera menyuruh saya naik bis dan membayar tiket ke dalam kotak yang ada di sebelah pengemudi. Rata-rata, bis airport limousine tujuan Seoul mengenakan tarif 10.000 KRW sekali jalan untuk penumpang dewasa. Anak-anak dibawah lima tahun hanya dikenakan 8.000 KRW (tetep aja mahal :D ).
Setelah tiba di Seoul Station, saya segera mengecek lokasi Stasiun Saetgang di subway line 9. Saa masih harus transit sebelum masuk ke line 9. Mesin tiket kereta di Seoul kurang lebih sama seperti di Kuala  Lumpur atau Bangkok. Tersedia petunjuk dalam bahasa Inggris. Tarif minimal sekali jalan adalah 1.150 KRW ditambah deposit 500 KRW yang bisa diambil setelah tiba di stasiun tujuan dengan mengembalikan kartu ke deposit machine.


Setelah kurang lebih satu jam berkeliling dan berganti-ganti kereta plus beberapa kali salah arah, saya tiba di stasiun Saetgang. Tampak beberapa orang Indonesia lainnya sama-sama berjalan menuju arah Ankara Park, sebuah taman yang terletak di sebelah KBRI Seoul. Jarak dari Saetgang ke KBRI hanya sekitar 300 meter. Tak jauh dari sana juga terdapat gedung KBS Annex. KBS tentu sudah tak asing lagi bagi para penikmat drama Korea.


Saya bertemu dengan banyak orang Indonesia (ya iya lah, ini kedutaan emangnya kebun binatang?). Saya segera mendaftar ke panitia dan mereka meminta paspor. Setelah itu, saya dibawa ke meja antrian untuk mendapatkan nomor. Sekali lagi, mereka mengecek alamat (Incheon Airport Aviation Academy) dan tiket saya. Saya pun dipanggil masuk bilik suara dan panitia mengingatkan untuk tidak membawa ponsel. Saya pun masuk, memilih pasangan capres, mengambil foto sebentar, lalu kembali ke ruang tunggu.
Antusiasme warga Indonesia di Seoul nampak jelas. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa dan pekerja. Saya sempat berkenalan dengan mereka. Obrolan kami hanya seputar Seoul saja, tidak ada obrolan soal capres-cawapres pilihan. Pun, tidak ada exit poll. Sebuah polling yang dilakukan setelah pemilih keluar dari TPS.



Heading to Incheon via Itaewon

Dalam perjalanan pulang, saya bertemu dengan kawan-kawan penggiat mushola di Guro. Tujuan saya pun berubah, yang semula ke Dongdaemun berganti ke Itaewon. Saya memang ingin pergi Itaewon namun mata saya kurang jeli mencari dimana letak stasiun sehingga memutuskan untuk pergi Dongdaemun saja. Akhirnya, saya pergi ke Itaewon dimana terdapat Masjid Agung Seoul yang dikelola Dewan Islam Korea.


Sebagai salah satu destinasi wisata di Seoul, Masjid Itaewon juga sering dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai negara. Saat ini, sudah ada papan pengumuman yang mewajibkan perempuan untuk menutupi aurat mereka sebelum pintu masuk masjid. Sepanjang jalanan menanjak menuju Masjid Itaewon, banyak penjual makanan khas Arab, India, bahkan Indonesia. Cita rasanya sungguh menggoda. 

Usai shalat Dzuhur, saya melanjutkan perjalanan kembali ke Incheon. Sudah pukul 5 sore disini, jadi saya kemungkinan besar tiba di Incheon Airport sekitar pukul 6.30. Waktu buka puasa sendiri masih lama yaitu pukul 19.58. Musim panas di Korea menyebabkan waktu siang yang lebih panjang. Sehingga, umat Muslim disini harus menyiapkan diri untuk shaum sejak imsak pukul 03.15 hingga 19.58.

Saya segera menuju stasiun Itaewon setelah mampir sebentar di Starbucks. Saya naik Airport Railroad (AREX) menuju Incheon International Airport. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 1,5 jam dengan tarif 4,150 KRW plus 500 KRW deposit.
Konklusi
Pengalaman hari ini cukup menyenangkan. Saya jadi paham bagaimana caranya jalan-jalan ke Seoul dari Academy. Saya juga puas menertawakan diri sendiri kala dengan ‘PD’nya mengambil leaflet tentang Seoul yang berjudul bahasa Inggris tapi ternyata isinya bahasa Korea semua. Kadang, perjalanan itu hanya tinggal dijalani saja. Pergilah kemana langkah membawamu.

Saya masih punya daftar tujuan yang harus disinggahi. Entah itu Gyeongbokgung Palace, Dongdaemun History Park, Namdaemun Market, Gangnam District, atau toko musik untuk membeli CD Wonder Girls dan SNSD. Sementara hari ini saya cukupkan sekian. Saya sudah lelah. Sambil menunggu waktu buka puasa, saya menyiapkan semangkuk oatmeal dan rendang vacuum yang saya bawa dari Indonesia.

Bismillahirrahmanirrahim.


Incheon, 6 Juli 2014

Selasa, 14 Juli 2009

JK: Jaga Kehormatan(mu)

Jum’at pagi, hampir semua wajah media cetak dipenuhi headline yang serupa. JK ucapkan selamat pada SBY. Ucapan selamat tersebut sebagai reaksi atas jumlah perolehan suara pemilu presiden via quickcount yang dikeluarkan oleh berbagai lembaga survey. Sedangkan KPU sendiri masih baru akan mengumumkan hasil resmi pemilu presiden pada 25 Juli 2009 nanti.

Perlu diakui bahwa kedewasaan dan kematangan dalam berpolitik terutama untuk mengakui kekalahan adalah hal yang sulit dan berat untuk dilakukan. Apalagi sambil mengingat ketatnya rivalitas demi menjaring suara pemilih. JK dengan legowo dan semangat ksatria telah menunjukkan sikap yang gentle untuk memberikan ucapan selamat terlebih dahulu tanpa harus menunggu rilis resmi KPU.

Ucapan selamat itu juga mengandung makna bahwa kedewasaan dalam berpolitik berarti juga menyambung silaturahmi yang sempat terputus gara-gara rivalitas tadi. Bayangkan saja, partnership yang terbentuk selama hampir 5 tahun harus diakhiri dengan rivalitas head-to-head. Rivalitas itu kini telah berakhir dan pemenangnya masih berupa indikasi tanpa rilis resmi. Dengan demikian, ucapan selamat itu adalah sebuah kemestian. SBY-JK belum akan expired dalam waktu dekat ini. Mereka berdua masih jadi Presiden dan Wakil Presiden hingga Oktober nanti, saat Presiden terpilih dilantik. Walau pelantikan itu bisa dipercepat, SBY-JK tentu masih akan bersatu dan akan mengumpulkan semua perangkat kabinet yang kemarin habis-habisan mengadu strategi, daya, dan upaya untuk memenangkan kandidat capres masing-masing.

Kiranya, JK mulai realistis untuk menilai kekalahannya. Apapun dan bagaimana pun caranya perolehan suara JK-WIN tidak akan bertambah secara signifikan untuk menyaingi jumlah suara kedua rivalnya. JK juga mungkin menyadari bahwa indikasi tanpa rilis resmi melalui quickcount dari berbagai lembaga survey seringkali gambaran nyata dari hasil akhir pemilu.Bahwa pada sebelum pemilu popularitas SBY mulai menurun dan elektabilitas JK meningkat bukan lagi hal yang perlu didebatkan dan dibahas lagi. Kini semuanya sudah terbukti. Tinggal menunggu hasil akhir. Kekalahan sudah didepan mata.

Tentu, mereka masih akan duduk bersama, satu meja dengan menteri-menterinya untuk membahas perihal RAPBN 2010 serta keadaan politik, hukum, ekonomi, dan keamanan pasca pemilu presiden. Kiranya, para menteri juga masih akan menunjukkan dedikasi dan integritas moralnya tanpa harus grasak-grusuk supaya nanti terpilih lagi untuk periode selanjutnya.

*****

Ucapan selamat di malam Jum’at dari Menteng ke Cikeas adalah sebuah penghormatan. Penghormatan yang timbul dari kejujuran. Kejujuran untuk mengakui kekalahan dan keadaan diri sendiri yang memang kurang berdaya melawan saingannya. Sikap seperti itu tidak akan pernah menimbulkan suatu tindakan perendahan diri. Tetapi, sikap yang demikian adalah sikap yang akan menjaga kehormatan. Welcome back, Yudhoyono!


Cakung, 11 Juli 2009

Kamis, 09 Juli 2009

JK: Jaga Kemaluan(mu)

Demikianlah Ya Allah. Telah engkau berikan suaramu pada pemilu kemarin. Telah engkau pilihkan presiden kami. Kemenangan memang sudah di depan mata. Tinggal menunggu waktu saja. Polling-polling terbaru tidak lagi jadi patokan. Semuanya berubah di hari pemilihan. Menang mutlak. Itulah pencapaian kemenangan yang sesungguhnya.

*****

Kemenangan yang demokratis, begitulah komentar para pakar yang entah dibayar hanya untuk meyakinkan masyarakat bahwa pemenang pemilu adalah pilihan terbaik untuk bangsa ini. Seakan pemahaman masyarakat dipersempit bahwa sang pemenanglah yang akan menunjukkan jalan keluar dari segala permasalahan bangsa ini. Pun ketika media televisi yang saling unjuk kekuatan dengan quickcountnya masing-masing agar keabsahan yang menjadi bukti legitimasi bagi si pemenang tetap terjaga dan mudah-mudahan terjaga pula kredibilitasnya.

Media masih menari diatas arus pusaran berita suksesi incumbent yang berhasil mengalahkan lawan politiknya dengan kemenangan mutlak. Berita-berita seminggu kedepan akan masih dihiasi kilauan-kilauan kemenangan ini. Masalah kisruh DPT, dan gugatan kecurangan lainnya mungkin hanya akan jadi penggembira saja di headline-headline media cetak. Sementara, kandidat yang kalah mungkin sedang mempersiapkan dirinya masing-masing untuk melakukan apa yang terlanjur diucapkannya ketika tidak terpilih nanti dalam suatu debat. Ada yang tetap berjuang dan ada yang akan pulang kampung. Untuk yang masih berjuang, semoga Tuhan bersama anda yang terus membela kepentingan rakyat kecil. Untuk yang akan pulang kampung, semoga kepulangannya membawa manfaat dan berkah bagi kampung halaman.

Tidak usah bicara tentang bagaimana selebrasi dari tim sukses yang benar-benar sukses mengantarkan kliennya meraih kursi presiden. Mereka tentu sudah bosan karena dari tiap menit tidak ada perubahan yang signifikan pada hasil quickcount. Paling tidak mereka baru akan melirik pada setiap statement yang dilontarkan lawan politik mereka. Mereka dengarkan dan kalau perlu tidak sekedar diamati, dicatat dan dianalisis. Kalau bisa, sumpah serapah dan segala tudingan itu mereka buat jadi bom Molotov yang sewaktu-waktu mereka lemparkan. Mungkin mereka hanya akan tertawa sambil bertepuk tangan untuk menyenangkan hati mereka sendiri setelah melakukan pembalasan yang selalu lebih indah.

Lagi kau bertanya tentang pembagian jatah kekuasaan alias bagi-bagi posisi. Siapa yang duduk disini, siapa yang duduk disitu. Siapa menjabat apa, siapa kebagian proyek apa. Kau masih berharap kebagian jatah? Lupakan saja, Bung! Kecuali kalau memang anda kemarin memang menunggangi kendaraan yang sama dengan para pecundang yang maunya main aman supaya kebagian jatah menteri boleh saja. Memang tidak salah berjudi dengan menawarkan diri untuk menunggangi mesin politik yang masih bertenaga. Belum lagi, tanpa ada hambatan dan lawan yang berarti. Serasa ngebut di jalan tol Jagorawi di tengah malam tentunya dengan Maseratti atau Cabriolet pujaan.

Kalau kau sadari, pihak mana yang sebenarnya diuntungkan dari pemilu kemarin? Anda makin bingung? Atau malah mau menjawab bahwa sebenarnya pihak-pihak yang paling dirugikan dari pemilu kemarin adalah mereka yang menginginkan pemilu ini berjalan dua putaran. Mungkin ada benarnya. Pemilu dua putaran seperti 2004. Tapi ingat juga Bung, waktu itu calonnya ada 5 pasangan, jadi dua putaran adalah hal yang wajar. Saya pun begitu. Saya sangat ingin pemilu ini berjalan dua putaran. Tak perlu lah kita bahas penghematan anggaran negara sebesar Rp. 25 Trilyun untuk kelancaran proses demokrasi.

Apakah demokrasi negeri ini hanya seharga 25T saja? Namun, kenyataan memang selalu berbeda. Rakyat seakan terbungkam oleh iklan-iklan dan propaganda bahwa pemilu ini cukup satu putaran saja. Rakyat tentu tidak akan berpikir panjang tentang proses demokrasi yang akan melegitimasi kekuasaan. Mereka hanya tahu bahwa semakin cepat selesai mereka akan bisa focus kembali pada apa yang telah mereka kerjakan. Mereka mungkin juga sudah tahu bahwa apapun hasilnya, siapapun pemenangnya belum tentu ada perubahan yang signifikan dalam kehidupan mereka. Yang penting besok masih bisa makan nasi.

Indikasi tanpa rilis resmi sudah menyebar dimana-mana. Ucapan selamat mengalir deras ke Cikeas. Sementara saya masih terperangkap dalam pekerjaan saya. Kalau nanti malam anda mampir ke Cikeas, sampaikan salam saya untuk Putra Pacitan yang kembali menjabat menjadi presiden kita. Bukan karena tak rindu, tolong bilang saja saya sibuk-seperti biasa. Atau kalau anda cukup nekat, bilang saja saya sedang belajar demokrasi la roiba fih*) bersama Emha Ainun Nadjib di Kadipiro, Yogyakarta sana.

Dua putaran, kisruh DPT bermasalah, selebrasi kemenangan Pemilu, nilai tukar rupiah menguat, MK bersiap menerima pengaduan, isu Munaslub Partai Golkar yang lebih cepat lebih baik. Dunia masih belum berhenti berputar. Terlalu cepat untuk berhenti sekarang. Lanjutkan saja langkah kita.

*****

Menyimak hasil pemilu kemarin membuat hati hamba menjadi kecut padamu, Ya Allah. Hamba merasa sangat malu. Sungguh hamba ini malu Ya Allah, berteriak-teriak kesana kemari hanya untuk meyakinkan hati hamba bahwa pemilu kemarin akan berjalan dua putaran. Hamba juga yang mengajak kawan-kawan di facebook untuk bersama-sama menjadikan pemilu kemarin supaya berjalan dua ronde. Hamba juga lah yang selalu bercerita pada setiap kawan yang hamba temui bahwa pemilu dua putaran adalah pemilu yang ideal untuk iklim demokrasi saat ini. Hamba sungguh tidak bisa menjaga kemaluan. Sungguh tidak bisa. Sungguh hamba malu sekali Ya Allah. Hamba malu. Malu. Malu sekali.



Kelapa Gading, 9 Juli 2009


*) Demokrasi La Roiba Fih, Emha Ainun Nadjib, Penerbit Kompas, 2009

Senin, 06 Juli 2009

Nobody's Note

Cerita di Hari Jum’at: Ibroh dari Sebuah Suplemen

Adalah kebiasaan saya untuk membeli Koran Harian Republika setiap hari Jum’at. Bila sedang tidak pulang ke Bandung tentu hal itu adalah menu wajib di Jum’at petang. Alasan yang utama adalah segala intisari berita sepekan terakhir terkadang direview dalam sebuah kesimpulan menjelang akhir pekan. Selain itu juga, di edisi Jum’at, Republika menyertakan bonus suplemen Dialog Jum’at. Lumayan, hitung-hitung untuk belajar agama dan meneguhkan iman yang makin menipis ini seminggu sekali.

Pun, Jum’at kemarin (3/7) saya membeli Koran seperti biasa di kios langganan. Pertama menyentuh rasanya seperti tidak biasa. Terasa lebih tebal. Perasaan , suplemen Dialog Jum’at belum akan ditambah jatah halamannya. Mungkin, ada rubrik lain. Itulah yang ada di benak saya kemudian. Saya tidak sempat menengok seluruh halaman karena mengejar waktu shalat maghrib yang selalu singkat. Saya hanya membaca headline yang berjudul “Satu Putaran Panaskan Debat”.

Anda semua tentu menyimak debat terakhir di malam Jum’at itu kan? Satu debat yang entah diposisikan sebagai debat yang berkonotasi saling serang pendapat dari kontestan atau diskusi untuk mencari penyelesaian dan jalan keluar. Sedikit mengulas kembali, tidak banyak yang berubah dalam debat tersebut. Megawati masih dengan pendapat-pendapatnya yang terkesan sangat normative. SBY yang masih tampil jaim, dan JK yang terlihat santai namun lebih serius dalam pembahasan masalah.

Setelah shalat maghrib dan makan sebungkus nasi padang. Saya mulai membuka halaman satu per satu. Beritanya masih dihiasi kabar dari kematian tragis Michael Jackson yang membuat DEA (Drugs Enforcement Agency) turun tangan, Franck Ribery yang keukeuh (ngotot-pen) ingin pindah ke Real Madrid, Semifinal Wimbledon, dan yang paling menyita perhatian saya adalah Operasi Khanjar (Operasi Tebasan Pedang) yang dilakukan oleh Marini AS di Afghanistan , operasi militer terbesar dibawah kepemimpinan Barack Obama.

Alangkah terkejutnya ketika mengetahui sebab Koran hari ini berasa lebih tebal. Terselip satu lagi suplemen yang berfungsi sebagai alat kampanye SBY-Boediono dengan judul “Amanah untuk Rakyat”. Suplemen yang berjumlah 16 halaman ini bercerita tentang profil SBY dan Boediono dari mereka lahir hingga mereka meniti karir masing-masing. Diceritakan bagaimana SBY lahir dan tumbuh dalam lingkungan masyarakat pesantren, bersekolah negeri di Pacitan, sekolah militer di AKABRI, hingga karir militer dan sipilnya sampai saat ini. Begitu pun dengan pasangannya, Boediono. Cerita dimulai dengan masa kecil Boediono yang santun dan sederhana sebagai anak pedagang batik di Blitar. Lalu, diceritakan pula bagaimana perjalanan pendidikan dan karir Boediono sampai saat ini pula.

Bagi saya apa yang terjadi hari ini adalah sebuah keanehan. Aneh karena menurut saya media telah kehilangan independensinya. Media, terlebih di zaman pemilu yang kesekian ini telah menjadi senjata yang ampuh bagi setiap insane politik yang ingin menegaskan eksistensinya. Aneh. Sama anehnya ketika Metro TV menjadi corong dan wahana pencitraan dari satu kandidat capres lainnya. Begitu juga ketika menjelang pemilu legislative, masih di harian yang sama, terpampang iklan full page dari PDIP yang menyangkal seluruh pencapaian di masa pemerintahan SBY-JK demi menegaskan citra partai yang peduli wong cilik yang juga tentu sudah terlanjur melekat pada partai berlambang banteng ireng (banteng hitam) tersebut.

Entah teori komunikasi massa mana yang digunakan. Permainan dengan media ini tentu bukan tanpa tujuan dan hasil yang ingin dicapai. Saya tidak sempat membandingkan dengan media cetak lainnya. Apakah mereka juga melakukan hal yang sama dengan kandidat yang lain, saya belum tahu. Saya memandang hal ini sebagai konsekuensi yang wajar dari demokrasi yang selalu kita banggakan dan nilai bisnis yang menggiurkan. Dari sudut pandang demokrasi, kebebasan berpendapat melalui media lebih terjamin tanpa adanya diskriminasi dan intimidasi pihak lain. Sedang dari sisi bisnis, Koran butuh iklan sebagai pemasukan terbesarnya dan si pengiklan butuh media untuk menyampaikan sesuatu yang mereka bawa (namanya juga kampanye). Maka sangat wajar bila mereka menerima order untuk membuat suplemen yang seperti itu agar profil si pengiklan mendapatkan exposure kepada publik dan Koran mendapat pemasukan yang sudah tentu besar dari si pengiklan.

Bila suatu hari nanti anda ada yang membacanya dan kagum dengan isi suplemen tersebut tolong beri tahu saya. Itu artinya anda masih waras. Sama seperti saya. Saya mengagumi kisah-kisah didalam suplemen tersebut. Tetapi, dalam situasi politik saat ini bahasa penyampaian yang digunakan pun memang bahasa dengan kesan positif yang pada akhirnya menggiring kesadaran pembaca untuk kemudian bersimpati lalu memilih pasangan tersebut pada pemilu 8 Juli nanti. Semuanya telah direncanakan dengan sedemikian matang. Bukan tanpa alasan tim sukses SBY-Boediono menempatkan public profiling tersebut pada harian Republika yang punya credo “Pegangan Kebenaran”.

Saya masih terkesima dengan kisah-kisah tersebut. Cukup ambil ibrohnya (pelajaran) saja. Cukup ambil nilai-nilai yang terkandung didalamnya:kerja keras, pantang menyerah, santun, sederhana, rendah hati, dll. Masalah pilihan, saya kira anda semua sudah lebih pintar untuk menentukan siapa yang akan dipilih pada pemilu mendatang. Biar hati nurani anda dan sepasang mata yang setajam garuda dipadu dengan kecepatan berpikir menuntun anda semua untuk memilih kandidat yang pantas untuk memimpin Indonesia.

Salam hangat dari Cakung.

Jakarta, 4 Juli 2009

Jumat, 05 Juni 2009

Yang Belum Terkirim (3): Jilbabku, Jilbabmu

Jilbab adalah simbol. Simbol seorang perempuan muslim. Kalau kau sedang hidup di zaman pemilu yang kesekian ini, ia bukan hanya menjadi sekedar simbol. Ia telah menjelma menjadi sebuah wacana dan komoditas politik-bisnis. Wacana tentang jilbab telah menjadi obrolan sehari-hari. Jilbab adalah simbol perubahan. Orang-orang menyebutnya hijrah. Maka jangan sampai heran kalau banyak temanmu yang berucap segala puji bagi Tuhan setelah kau menyelenggarakan konferensi pers untuk mengumumkan hijrahmu itu.

Kenyataannya sekarang jilbab sudah kehilangan fungsinya. Yang tadinya menutupi aurat kini jilbab dikonstruksikan sebagai alat untuk mengorek kekurangan orang lain. Kalau dihubungkan dengan konteks politik praktis, jilbab kini telah kehilangan fitrahnya sebagai penutup aurat. Jilbab dengan sangat terpaksa telah menemukan dirinya menjadi wacana politik. Sebagai sebuah simbol ia dijadikan peluru untuk menyerang musuh politik. Tidak secara langsung. Ada proses pembentukan persepsi melalui media. Itulah hebatnya efek komunikasi massa.

Pun ketika jilbab yang wis kadung jadi komoditas politik dipadukan dengan bisnis. Kekuatannya akan berubah lebih kuat dari sekedar peluru. Ia akan menjadi racun dalam pikiran. Racun yang menyerang isi kepala orang awam yang tidak pernah mengerti politik. Sampai disini anda masih mengerti apa yang saya bahas kan?

*****

Jilbab memang sudah kehilangan fitrahnya. Bila dilihat kembali fungsinya, jilbab adalah penutup aurat yang pada perkembangannya telah disesuaikan dengan arus modernitas dan terlihat lebih adaptif dengan dunia fesyen. Jilbab menutupi aurat, dimana aurat itu sudah tentu haram untuk dilihat apalagi sengaja dipamerkan. Bahkan, untuk beberapa alas an, ada yang sengaja mengenakan jilbab agar terlihat lebih menarik dari sebelumnya. Itu sah-sah saja.

Yang patut dihindari adalah menjadikan jilbab sebagai peluru, racun, dan kendaraan politik. Jilbab dijadikan simbol keberhasilan kekuasaan. Bangunlah semangat memakai jilbab sebagai sebuah budaya baru. Semangat untuk menutupi aurat bangsa. Jadikanlah semangat jilbab ini untuk menutupi apa yang sudah seharusnya tidak dilihat orang. Kemiskinan masih membayangi negara yang pertumbuhan ekonominya paling tinggi di ASEAN sejak dilanda krisis ini. Negeri yang implementasi pendidikan murahnya masih menjadi pertanyaan besar dan sengketa pemerintah pusat dan daerah. Pengangguran angkanya masih juga belum berkurang. Penanganan pasca bencana yang carut-marut. Dan masih banyak lagi masalah yang belum reda dan usai. Jadikanlah semuanya tertutupi oleh jilbab yang kita kenakan sebagai bangsa yang besar.

Insya Allah, bila jilbab dikembalikan kepada fitrahnya dan juga tanpa kehilangan semangatnya negeri ini tidak akan lagi menjadi negeri yang diremehkan dalam lingkungan pergaulan internasional. Kesuksesan dalam memaknai jilbab yang bukan sekedar simbol ini akan berpengaruh besar bagi budaya bangsa. Jadikanlah jilbab bukan sekedar komoditas politik-bisnis semata. Jadikan semangat berjilbab ini sebagai mentalitas bangsa. Bahkan, ada yang bilang bahwa kesuksesan seorang suami dalam mendidik istrinya terlihat dari jilbab istrinya. Apabila sebelum berumah tangga istrinya masih belum mengenakan jilbab dan setelah berumah tangga istrinya berjilbab barulah seorang suami dicap sukses mendidik istri. Nah, kalo yang sebelum nikah sudah berjilbab, bagaimana cara mengukur kesusksesannya? Saya belum tahu. itu cuma obrolan warung kopi.



Kelapa Gading, 3 Juni 2009


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...