Tampilkan postingan dengan label Rosihan Anwar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rosihan Anwar. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Oktober 2015

Kisah-kisah Zaman Revolusi Kemerdekaan, Sejarah Kecil Indonesia Jilid 7

orang bicara memuji jasa
"dengan darah dituliskan kemerdekaan bangsa"
kawan seperjuangan heningkan cipta
(Di Kubur Pahlawan - Rosihan Anwar)


Rosihan Anwar kembali lagi dengan jilid terbaru dari Sejarah Kecil 'Petite Histoire'. Buku jilid ke-7 ini merupakan kumpulan dari tiga buku lama yang terbit pada tahun 1970-an. 'Kisah-kisah Zaman Revolusi', "Kisah-Kisah Jakarta setelah Proklamasi', dan 'Kisah-Kisah Jakarta Menjelang Clash ke-1'. Ketiganya diterbitkan oleh penerbit Pustaka Jaya.



Penerbitan kembali buku ini tidak lepas dari amanat beliau, yang menginginkan ketiga buku itu diterbitkan kembali secara lebih baik setelah tahun 2000. Sayang sekali, hasrat mendiang Rosihan Anwar untuk menerbitkan kembali ketiga buku itu tidak sampai. Namun, gagasan untuk penerbitan kembali itu pun kemudian dijadikan serial terbaru untuk melengkapi rangkaian  'Petite Histoire'. Bertepatan dengan peringatan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-70, tahun 2015 ini, buku ini hadir ke tengah pembaca.

Isi dari ketiga buku itu amat monumental. Rosihan Anwar menceritakan secara gamblang, aktual, dan historis semua peristiwa yang terjadi, dilihat, dan dialami sendiri oleh beliau pada periode Revolusi Perang Kemerdekaan 1945-1949. Pada setiap pertemuan ilmiah kesejarahan, kisah-kisah ini seringkali diceritakan. Sebagai usaha untuk memproyeksikan kembali sejarah nasional secar akurat, terukur, serta filosofis.
 
Buku serial terakhir 'Petite Histoire' ini dibagi ke dalam tiga judul besar. Bagian pertama diawali oleh Kisah-kisah Jakarta Setelah Proklamasi. Rosihan Anwar menuliskan kesaksiannya terhadap keadaan Jakarta pasca diproklamirkannya kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945 dan beberapa kejadian yang mengelilinginya. Diantaranya adalah Rapat Besar di Lapangan Ikada (Lapangan Banteng), 19 September 1945; dan juga peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.

Adapun, pada bagian kedua, Kisah-kisah Zaman Revolusi, Rosihan Anwar menceritakan beberapa peristiwa bersejarah dalam lingkup yang lebih luas. Almarhum dengan lugas bercerita tentang kejatuhan Semarang; Front Jakarta-Bekasi; Sandiwara Malino, yang adalah usaha Belanda untuk memecah belah Republik Indonesia melalui pembentukan Negara Indonesia Timur; Pembantaian Raymond Westerling; hingga misi pemjemputan Jenderal Besar Soedirman dari gerilya. Pada bagian ini, peran Inggris sebagai penerima mandat sekutu untuk masa peralihan dari Jepang dituturkan lebih gamblang. Hal yang tidak begitu nampak pada keenam serial 'Petite Histoire' sebelumnya.

Bagian terakhir diberi judul Kisah-kisah Jakarta Menjelang Clash Ke-1. Keadaan Jakarta diceritakan amat jelas menjelang aksi polisionil Belanda yang selalu dikenal dengan nama Agresi Militer Belanda I, 21 Juli 1947. Pada bagian ini, Rosihan Anwar tidak hanya bercerita mengenai pengalaman pribadinya saja, termasuk ketika menjadi asisten Sir Archibald Clark Kerr. Rosihan Anwar juga menulis tentang sepak terjang Tan Malaka (secara terbatas) dan membalas Surat Terbuka dari seorang wartawan Belanda, yang mencibir usaha-usaha Rosihan Anwar sebagai wartawan pejuang Republik.

Melalui bagian terakhir, terlihat secara jelas bagaimana usaha Belanda untuk kembali berkuasa di Indonesia sangat besar. Belanda masih ingin menjadikan Republik Indonesia sebagai suatu negara merdeka dibawah Kerajaan Belanda. Untuk itu, Belanda memanfaatkan mandat yang diberikan kepada Inggris hingga akhirnya Inggris percaya bahwa Belanda mampu menjaga keadaan Republik tetap kondusif.

Kisah-kisah dalam trilogi diatas merangkum semua peristiwa dalam satu lintas masa sejarah Republik, terutama menjelang Agresi Militer Belanda yang pertama. Rosihan Anwar, tidak hanya menampilkan kemampuan kewartawanannya belaka. Beliau juga adalah seorang seniman panggung teater. Maka jangan heran, bila pembaca menemukan sisipan puisi dan sajak milik beliau. Pembeda inilah yang membuat buku ini menjadi terkesan lebih personal. Sejarah versi Rosihan Anwar adalah sejarah yang objektif, personal, dan tentu saja: reflektif.
 
Judul           : Sejarah Kecil 'Petite Histiore' Indonesia: Kisah-kisah Zaman Revolusi Kemerdekaan
Penulis        : Rosihan Anwar
Penerbit      : Penerbit Buku Kompas
Tahun         : 2015
Tebal          : 354 hal.
Genre         : Sejarah Indonesia


Dharmawangsa, 26 Oktober 2015.

Minggu, 20 April 2014

Sang Pelopor, Anak Bangsa dalam Pusaran Sejarah

Buku jilid terakhir dari serial Sejarah Kecil ‘Petite Histoire’ Indonesia dari Rosihan Anwar ini merupakan kelanjutan buku jilid 5 yang berjudul ‘Sang Pelopor: Tokoh-tokoh Sepanjang Perjalanan Bangsa'. Buku ini mengisahkan anak-anak bangsa yang turut mengisi sejarah perjalanan bangsa. Bisa dipahami bahwa mereka terdiri dari golongan aparatur birokrasi/pemerintahan, penggiat budaya, pengusaha, ilmuwan, dan pekerja pers. Khusus untuk yang disebut terakhir, dapat digolongkan sebagai pencerah pada zamannya dengan berbagai sisi kemanusiaannya.



Seperti jilid nomor sebelumnya, buku ini juga merupakan kelanjutan revisi dari buku 'In Memoriam: Mengenang yang Wafat', yang juga diterbitkan pada tahun 2002 oleh Penerbit Buku Kompas. Terdapat pula beberapa tambahan tulisan yang belum termuat pada edisi sebelumnya. Oleh karena itu, pembaca dapat mengenang kembali jasa dan peninggalan (legacy) tokoh-tokoh yang berdedikasi sesuai bidangnya masing-masing sepanjang sejarah Republik hingga meninggalnya mendiang Rosihan Anwar pada tahun 2011 lalu.

Beberapa nama yang ada dalam buku ini diantaranya sudah dikenal karena reputasinya. Sebut saja, Wiweko Supeno; Des Alwi; Sarbini Sumawinata; Sumitro Djojohadikusumo, bapak dan begawan ekonomi Indonesia; Buya HAMKA, ulama legendaris yang juga menghasilkan beberapa karya sastra monumental; Y. B. Mangunwijaya; A. H. Nasution; Maria Ulfah Soebadio, perintis perjuangan membela kaum perempuan; B.M Diah, politisi yang juga pelopor di bidang pers nasional; Hoegeng Iman Santoso yang selalu dikenang sebagai polisi yang jujur dan lurus; hingga Miriam Budiardjo, perempuan ilmuwan perintis disiplin ilmu politik Indonesia. Tak pelak, mereka pun dianugerahi titel ‘Sang Pencerah’ oleh editor.

Banyak nama yang mengisi buku ini. Tak semua nama bersinar terang meski jasa dan pengabdian pada nusa dan bangsa tidak lagi diragukan bahkan sebagian tidak lagi dikenal generasi muda. Lebih jauh, bila pembaca mengikuti serial Sejarah Kecil Indonesia ini sejak awal maka pembaca dapat menemukan keterkaitan antara beberapa peristiwa dalam perjalanan sejarah bangsa. Lebih jauh, pembaca dapat menilai sendiri konsistensi dari pernyataan Rosihan Anwar dari edisi yang satu ke edisi yang lain.

Personally, edisi jilid terakhir ini cukup berkesan. Rosihan Anwar menempatkan para tokoh penggiat budaya dalam satu bagian tersendiri. Budaya dalam hal ini tidak melulu sastra. Perlu diingat bahwa Rosihan Anwar juga menyukai film sehingga konteks budaya yang ditulisnya mempunyai arti budaya dalam konteks yang lebih luas. 

Cerita tentang para tokoh pelopor dalam sejarah pusaran bangsa ini ditulis apa adanya, dengan penekanan pada sisi-sisi kemanusiaan yang menyentuh dan tetap memukau khas gaya tulisan Rosihan Anwar. Lewat buku ini, penulisnya ingin menyampaikan pesan sekaligus menginspirasi khalayak untuk menebalkan kembali rasa kebangsaan yang tengah dilanda erosi dan distorsi.

Judul           : Sejarah Kecil ‘Petite Histoire’ Indonesia, Jilid 6: Sang Pelopor, Anak Bangsa dalam 
                      Pusaran Sejarah
Penulis        : Rosihan Anwar
Penerbit       : Penerbit Buku Kompas
Tahun           : 2012
Tebal            : x + 334 hal.
Genre           : Sejarah-Memoar

Pharmindo, 20 April 2014.

Kamis, 23 Mei 2013

Napak Tilas ke Belanda: 60 Tahun Perjalanan Wartawan KMB 1949

How a story ends has much to deals with  how it begins
-Nancy Fiorina-

Membaca kembali catatan Rosihan Anwar, sama saja dengan membuka kilasan peristiwa sejarah. Episode kali ini menampilkan Rosihan Anwar sebagai tokoh utama. Rosihan Anwar adalah satu-satunya wartawan peliput Konferensi Meja Bundar yang diselenggarakan di Den Haag, pada Desember 1949. Pada kesempatan itu pula, terjadi sebuah tonggak peristiwa  sejarah terpenting selama Perang Kemerdekaan. 27 Desember 1949, Republik Indonesia menerima kedaulatan dari si penjajah Belanda.




Sebagai wartawan, Rosihan Anwar yang hadir atas undangan Pemerintah Kerajaan Belanda tidak ketinggalan meliput beberapa peristiwa penting seputar KMB 1949. Beberapa sketsa disuguhkan sebagai sebuah usaha flashback. Perlu dicatat bahwa kekuatan memori dan ingatan Rosihan Anwar masih tajam ketika dihadapkan dengan beberapa tempat dan nama. Catatan-catatan kecil yang bersifat personal pun masih dapat diingatnya dan direkam dalam buku ini.

Banyak kenangan personal yang diceritakan. Terutama, saat meninjau kembali sebuah lokasi di Valerius Strasse. Sebuah tempat dimana keintiman Rosihan Anwar dan Zuraida Sanawi menghadirkan seorang putri cantik yang juga ikut mendampinginya dalam kunjungan 60 tahun kemudian.

Pada bagian akhir, Rosihan Anwar entah sengaja atau tidak, menempatkan satu bab khusus soal perlunya membaca kembali sejarah kolonial Indonesia. Maksud beliau, supaya kita generasi penerus Republik mampu berkaca pada sejarah untuk tidak mengulangi kesalahan serupa yang membuat bangsa menjadi stagnan seperti dirasakan belakangan ini.

Kalau pembaca punya waktu, sila simak video berikut. Video ini diambil pada kesempatan yang sama dimana Rosihan Anwar melakukan napak tilas.




Judul       : Napak Tilas ke Belanda: 60 Tahun Perjalanan Wartawan KMB 1949
Penulis     : Rosihan Anwar
Penerbit   : Penerbit Buku Kompas
Tahun      : 2010
Tebal       : 224 hal.
Genre      :Memoar-Sejarah

Ditulis kembali,
Curug, 23 Mei 2013.


 

Minggu, 17 Februari 2013

Sketsa Sejarah Republik (2)

Dilihat dari gambar sampulnya, buku seri ke-4 dari petikan Sejarah Kecil Indonesia ini kiranya memberi perhatian lebih pada sosok dan profil seorang Rosihan Anwar. Jam Gadang di Bukittinggi itu merupakan perlambang identitas asal usul Rosihan Anwar yang sengaja diungkapkannya dalam 19 bab buku ini.

Selain itu, pada bab-bab pembuka, Rosihan Anwar bercerita tentang tokoh-tokoh yang masih ada hubungannya dengan perjuangan republik. Tokoh-tokoh itu tidak bersentuhan langsung dengan beberapa peristiwa sejarah negeri. Namun, kehadiran mereka tidak lalu dapat dilupakan begitu saja. Bahkan, Rosihan Anwar pun menulis tentang Anwar Ibrahim yang asal Malaysia itu. Tak ketinggalan kisah awkward moment dengan Soe Hok Gie, ikut diceritakan.

Rosihan juga menceritakan pengalaman-pengalaman yang dirasakannya ketika melakukan "peran" yang berbeda-beda sebagai penulis resensi (resensor), kolumnis, reporter, penulis editorial, komentator luar negeri, dan terakhir sebagai seorang sastrawan. Perlu dicatat, bahwa Rosihan Anwar pernah menulis dua cerita pendek, yaitu "Radio Masyarakat" dan "Pamankoe" yang dimuat dalam majalah mingguan Djawa Baroe. Kedua cerpen itu tidaklah luar biasa, katanya. "Radio Masyarakat" meraih hadiah ketiga dalam sebuah sayembara dan dimuat oleh H. B. Jassin dalam buku antologi Gema Tanah Air. Sedangkan, "Pamankoe" dimuat pada awal 1945.


Kemudian, Rosihan Anwar menceritakan jatidiri dan asal usulnya. Tentang siapa saja yang disebut sebagai nenek moyangnya. Rosihan tidak kehilangan detil cerita dalam pengungkapan beberapa peristiwa yang saling berkaitan dengan apa yang pernah ditulisnya pada seri buku 1-3. Dapatlah kiranya pembaca menemukan fakta bahwa Rosihan Anwar punya hubungan kerabat dengan Marah Roesli. Penulis yang terkenal dengan karya "Siti Nurbaya" yang tak pernah lekang oleh waktu sejak 1920 hingga kini.

Rosihan menginsafi betul peran dan jalan hidup yang ditempuhnya. Terbukti, beberapa catatan harian peribadinya sengaja dimunculkan dalam satu bab menjelang akhir buku. Dengan beberapa suntingan di sana-sini Rosihan Anwar menulis tentang kegelisahannya di masa usia Republik masih muda. Konfrontasi dan konflik yang terus meningkat terekam jelas dalam catatannya. Khusus untuk catatan seputar peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, membuat saya teringat pada Bung Tomo, "Pertempuran 10 November 1945".

Kredit khusus diberikan Rosihan Anwar pada cucunya, Azka, yang membantu sepanjang penulisan seri buku terakhir ini (kelak terbit seri ke-5 dan ke-6). Tak lupa juga, Rosihan Anwar menyisipkan sebuah sajak berjudul asli "Radja Djin" yang dimuat dalam koran Merdeka pada peringatan 6 bulan Republik Indonesia. Nama Radja Djin mengacu pada penamaan cara sandiwara Stambul, dimana Radja Djin digunakan untuk pelaku utama pria, sedangkan "Sri Panggung" untuk pelaku utama perempuan.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Secara pribadi, minat saya terhadap sejarah sudah berlangsung lama. Saya masih ingat, sejak masih TK saya selalu membaca buku pelajaran IPS Sejarah untuk kelas 6 SD. Buku itu selalu tersimpan di satu lemari di Rumah Nenek di Teluk Buyung.

Saya merasa beruntung karena akhirnya selama kurang lebih dua bulan ini berhasil melakukan sebuah perjalanan panjang, long-range reading, terhadap serial Petite Histoire ini. Kemudian, saya harus mengambil nafas lagi karena ternyata masih ada terbitan baru serial ke-5 dan ke-6.

Pembacaan ini ternyata memberi sebuah efek domino. Ketertarikan atas sejarah dan cerita-cerita non-fiksi membuat buku-buku lain seputar sejarah Kiblik mengantri untuk dibaca. Sebut saja Doorstot Naar Djokja, Napak Tilas ke Belanda, dan Mengenang Sjahrir. Khusus untuk yang disebut terakhir, itu memang amanat Ibu yang menginginkan saya membaca tentang Sjahrir dan Natsir. Entah apa maksudnya, tapi suatu hari nanti saya akan lakukan permintaan Ibu itu.

Saya bersyukur karena "nafsu" atas pengetahuan sejarah negeri ini terpuaskan dengan terbitnya Sejarah Kecil Indonesia ini. Saya memberi perhatian lebih bagi hal-hal yang "kecil" itu karena darinya tentu akan menguak hal-hal lain yang lebih besar. Penutup, saya selalu ingat sebuah kalimat dari Seno Gumira Ajidarma: Sejarah, seberapa jauh kita belajar darinya?

Judul       : Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia; jilid 4
Penulis     : Rosihan Anwar
Penerbit   : Penerbit Buku Kompas
Tahun      : 2010
Tebal       : 282 hal.
Genre      : Sejarah

Paninggilan, 17 Februari 2013.
-di hari ulang tahun Ibu-

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...