Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Desember 2017

Maknyus!

Sumber gambar: www.klikdokter.com
Siapa yang tidak kenal dengan istilah "Maknyus!" a la Bondan Winarno, saat membawakan acara kuliner di sebuah program televisi swasta. Tak heran, ungkapan kenikmatan itu menjadi trendsetter dan menandai dimulainya era acara perkulineran di layar kaca. Pria bernama lengkap Bondan Haryo Winarno ini menjadi sebuah ikon untuk cita rasa. Tidaklah berlebihan karena pemirsa selalu menunggu kemana ia akan pergi menyantap hidangan.

Perjalanan Bondan Winarno dimulai dengan menjadi seorang jurnalis. Naluri kewartawanannya menjadi bekal istimewa sehingga membuat penonton menggemari petualangan kuliner. Jauh sebelum terkenal sebagai pembawa acara, mendiang memang sudah merintis sebuah komunitas bernama Jalansutra sebuah wahana bagi penikmat wisata boga di Indonesia. Mendiang pun turut berkontribusi pada dunia sastra. Beberapa tulisannya muncul dalam kompilasi/kumpulan cerita dan novel.

Saya masih menjadi follower @PakBondan di Twitter dan saya melewatkan bagian-bagian terakhir hidupnya. Saya tidak tahu apa yang dicuitkannya. Berita duka yang tiba di penghujung November seakan menjadi penegas bagi 'November Rain' yang turun deras saat itu. Ikon kuliner itu meninggalkan kita semua karena penyakit vaskular (aneurisma) yang dideritanya. 

Selamat jalan, Pak Bondan. Terima kasih telah meninggalkan warisan kepada kami untuk terus mencintai kuliner lokal. 


Cipayung, 29 November 2017.


 

Selasa, 31 Oktober 2017

Makuta (Biasa Aja)



Kota Bandung sudah lebih dahulu terkenal dengan berbagai sajian kuliner khasnya. Terlebih di zaman kekinian yang selalu menuntut keunikan. Maraknya produk kuliner yang diendorse oleh selebriti seakan menjadi tren baru. 

Anyway, saya tidak terlalu suka dengan ide semacam itu. Kalau suatu produk memang memberi pengalaman yang menyenangkan maka tidak perlu mesti diendorse oleh kalangan tertentu. Karena rasa akan menentukan segalanya. Akhirnya, tren semacam ini menjadi overrated. Bisa karena kualitas produknya ataupun sekedar pencitraan untuk produk yang biasa saja. 

Termasuk penganan kue berlabel Makuta ini yang diklaim rasanya membuat kangen. Omaigad, first impression saya tidak seperti ketika pertama kali mencicipi sepotong brownies Amanda. 

Saya bisa bilang kue ini punya kualitas bahan yang bagus sekaligus dengan taktik marketingnya. Namun, makanan adalah soal lidah. Dan saya tidak mendapatkan taste yang menyenangkan untuk sebuah kue yang dibandrol dengan harga diatas lima puluh ribu rupiah. 

Bila untuk sekedar menghabiskan rasa penasaran, itu sudah cukup. Selebihnya, saya sudah bilang: overrated. Padahal, dengan range harga yang W.O.W produk kue ini mampu memberi pengalaman rasa yang (seharusnya) tidak terlupakan. 

Cipayung, 23 Oktober 2017. 

Jumat, 28 Juli 2017

Saucy Crab and a Despacito

 
Sepengalaman saya berkunjung ke Balikpapan, baru kali ini saya makan di sebuah restoran kepiting khas setempat. Restoran Dandito namanya. Terletak di Jalan Marsma Iswahyudi, tidak jauh dari Bandar Udara Internasional Sultan Aji Mahmud Sulaiman, Sepinggan, sekitar 2 KM ke arah kota. Kebetulan, kami tinggal di hotel yang berbatasan dengan tembok pembatas bandara. Sehingga, satu arah menuju kesana.

Well, saya bukan seorang penggemar seafood apalagi kepiting. Namun, saya semakin penasaran karena kini keipitng tidak hanya disajikan sebagai masakan seafood belaka. Kepiting kini memasuki era sejarah baru dengan adanya Bonting (Abon Kepiting) dan keripik kepiting. Saya juga tidak punya referensi kuliner yang cukup di Balikpapan jadi saya ikuti saja kemana angin berhembus. Kami berempat pun akhirnya sepakat kesana.

Suasana makan malam di restoran ini cukup meriah. Ada live band akustik membawakan lagu-lagu terkini, termasuk lagu 'Despacito' yang sangat mengganggu telinga saya. Tak lama, menu pesanan pun tiba. Kepiting Soka Asam Manis dan Kepiting Goreng Saus Lada Hitam.

Harga kepiting disini sebanding dengan apa yang kita dapatkan. Kepitingnya besar dan kepiting gorengnya tidak amis dan empuk. Ada kesegaran didalamnya. Termasuk bumbu saus lada hitam dan saus asam manis yang disajikan. Sebagai pelengkap, kami menambah Cah Kangkung untuk menemani syahdunya Senin malam di Sepinggan. Lidah kami digoyang kenikmatan.

Keesokan harinya, saya jogging pagi lewat restoran itu lagi. Terlihat pemandangan karyawan yang sedang melakukan bongkar muat kepiting. Saya melihat sendiri bagaimana cara mereka menangani menu utama mereka yang paling kesohor. Setidaknya, ada alasan mengapa kita bersedia untuk memberi lebih demi sajian kepiting.

Saya merekomendasikan restoran ini untuk sebuah sajian kepiting yang mengesankan.Walaupun agak mahal, namun sebanding dengan kelezatannya.


Balikpapan-Tangerang Selatan,  24 Juli 2017.



Daging Asap 12 Jam

Saya tertarik untuk mendatangi Marty's Smokehouse sejak menyaksikan liputan mereka di sebuah saluran televisi. Dalam rubrik kuliner yang hanya tayang 5 menit itu, tidak terasa bahwa air liur mulai mengalir deras dan membuat saya penasaran untuk segera mencicipinya. Saya harus segera pulang ke Bandung. 


Keinginan itu baru terwujud awal bulan ini ketika saya dan istri benar-benar menyempatkan waktu untuk makan siang disana. Tidak terlalu sulit untuk menemukan lokasi restoran yang menyajikan menu daging yang telah diasapi selama 12 jam. Letaknya, tidak jauh dari Gedung Sate dan bersebelahan dengan sebuah hotel.

Saya awalnya berniat untuk memesan daging sapi asap, seperti apa yang ada dalam liputan lalu. Tetapi, saya menemukan pilihan lain yaitu Combo Platter yang berisikan Beef Brisket, Jerk Chicken, Cocktail Sausages dan Fries (kentang goreng). Disajikan dengan saus khas racikan mereka: Caramel Glaze, Peri Peri, dan Origin BBQ. IMHO, ini adalah pilihan terbaik untuk first comer. Anda akan punya pilihan untuk lebih menikmati daging sapi atau daging ayam. Satu menu ini masih cukup untuk 3 orang. 

Sensasi yang dihasilkan beef brisket memang luar biasa. A juicy taste filled our mouth. Kami menemukan sensasi yang berbeda ketika mencoba daging ayamnya. Crunchy! dan yang jelas: Enak! Ngeunah pisan, euy!

Saya suka ambien restoran yang buka jam 11.00 WIB dan tutup jam 23.00 WIB ini. Anda bisa memilih outdoor atau indoor. Ada berbagai macam menu pilihan lain untuk menemani santapan khas daging asap mereka. Pun dengan pilihan beverages yang beragam. Cocok untuk penyuka menu daging-dagingan. Harga menu-menu mereka tergolong middle-to-high, tetapi sebanding dengan pengalaman dan sensasi yang dirasakan.

Akhirul kalam, anda bisa makan apapun selama anda menyukainya, tetapi jangan lupa pesan Rasulullah Muhammad SAW: berhentilah sebelum kenyang. 


Bandung, 6 Juli 2017.

Senin, 30 Mei 2016

Bebek Sinjay

Konon, Jembatan Suramadu dibangun untuk mempertemukan para penikmat kuliner Bebek Sinjay yang ada di Madura dengan para penggemarnya yang ada di seantero Tanah Jawa. Saya belum tahu pasti kebenarannya. Namun, kekhasan yang melekat pada kuliner yang satu ini memang selalu membuat rindu untuk kembali.

Pada satu kesempatan di Surabaya, saya tidak punya waktu untuk menyeberang hingga ke Tanah Madura untuk menikmati sajian bebek khas Bebek Sinjay. Alhasil, saya pun mencari tahu dan Googling dimana lokasi Bebek Sinjay terdekat dari hotel di sekitar Jemursari. Katanya, mereka sudah membuka banyak cabang di dalam kota Surabaya.


Pilihan saya jatuh pada gerai yang berlokasi di Ruko Grand Ahmad Yani, tepat di depan Taman Pelangi, Jalan Ahmad Yani, Surabaya. Gerai ini buka mulai pukul 09.00 pagi hingga 20.00 malam. Pengunjung wajib langsung antri ke kasir untuk memilih sekaligus membayar menu pesanan. Disini tidak ada pelayan yang akan mengantarkan pesanan ke meja pengunjung. Anda diwajibkan mengambil pesanan anda sendiri usai pelayan mempersiapkannya di meja layan sebelah kasir. Maka, sangat disarankan untuk tidak datang kesini sendirian (apalagi jomblo :D). 

Cita rasa khas Bebek Sinjay, selain teknik masak yang memang berbeda itu adalah sambal pencit. Sambal pencit adalah sambal yang dibuat dari mangga muda yang diramu sedemikian rupa dengan cabai dan bumbu lainnya sehingga menghasilkan sensasi rasa pedas yang meriah dan menyegarkan. Sensasi seperti itulah yang memanjakan lidah dan membuat ingin kembali lagi. Kalau boleh kasih saran, piring makan agak kurang besar dan jatah sambal per piring yang sedikit kurang banyak.

Anyway, cita rasa Bebek Sinjay memang unik dan berbeda dibanding warung makan bebek lainnya. Saya menggunakan perbandingan dengan Bebek Tugu Pahlawan, depan Tugu Pahlawan. Namun, tentu saja keduanya menggunakan jurus masak yang berbeda sehingga perbandingan tersebut tidak apple-to-apple. 

Finally, you are not looking for good culinary experience. Instead, a great taste of culinary.

Jemursari, 20 Mei 1986.

Kamis, 23 Juli 2015

Pizza Sambal Matah

The biggest lie i tell myself is i'm only going to eat one slice of pizza.
- Anonim

Sekali waktu, saya menikmati senja di Kuta, Bali. Entah sudah berapa kali senja pernah saya lewati di Bali, tepatnya di Sanur dan Tanah Lot. Tapi baru kali ini saya benar-benar mengalami senja di Kuta, Bali.

Saya dan seorang kawan sengaja menghabiskan waktu ngabuburit di pinggir pantai. Mataharinya sedang bagus, tidak tertutup awan. Senja yang semburat dengan jingga akan menjadi penutup hari yang indah. Kami pun duduk santai di sebuah resto bar and grill. Kata teman saya, pizza disini enak.

Kami langsung memesan pizza yang direkomendasikan itu. Namanya Pizza Mozzarella Sambal Matah. Dari namanya saja, langsung terbayang perpaduan antara sambal matah yang tradisional itu bersama pizza dan keju mozzarella.


Tak lama usai adzan Maghrib berkumandang di ponsel, kami segera menikmati pizza yang unik ini. Lapisan roti pizza dibuat tidak terlalu tebal sehingga menjaga kerenyahannya. Freshly from the oven, masih dengan lelehan keju mozzarella dan sambal matah yang mengelilingi topping pizza.

By the way, this is recommended one. Sesudahnya, saya merasa cukup kenyang. Barangkali, karena pizza ini hanya dinikmati berdua saja. Urusan harga, it's really worth your money. Mamamia!


Kuta, 8 Juli 2015.

Rabu, 22 Juli 2015

Ini Dia Kuliner Makassar!

Ada beberapa hal yang ingin saya lakukan bila berkunjung ke Makassar. Makan enak, itu salah satunya. Selama ini, saya hanya tahu kuliner khas Makassar lewat televisi dan media cetak. Makanan semacam Pisang Ijo, Pallubutung, Konro dan Coto, belum pernah mendarat dengan mulus di lidah. Maka, ketika kesempatan itu tiba, saya tidak melewatkannya.

The Chronicles of Pisang Ijo & Jalangkote

Menu kuliner khas Makassar yang pertama saya coba adalah Pisang Ijo. Senang sekali bisa mencicipi penganan segar ini langsung di tempat Pisang Ijo dilahirkan. Pisang Ijo pertama saya di Makassar ini beralamat di Rumah Makan Muda Mudi, Jalan Rusa No. 45 Makassar. Usai menikmati kesegarannya, saya memesan Jalangkote. Jalangkote adalah penganan semacam pastel, namun yang ini khas Makassar.



Kedua menu tadi jadi penutup hari pertama saya di Makassar. Pilihan yang tidak terlalu salah untuk menikmati buka puasa pertama saya di Bumi Para Daeng. Saya dan teman-teman masih berencana untuk menikmati pengalaman kuliner khas Makassar lainnya. Esok hari, kami akan mencari Konro Bakar. Tentu saja, sepulang dari tugas di Kantor Otoritas Bandar Udara, dekat Bandara Sultan Hasanuddin sana.

Konro Bakar Karebosi

Senja masih lama turun. Terik matahari menemani sore yang panas pertanda kemarau. Usai menyimpan tas dan mengganti baju di hotel, kami segera bergegas menuju Lapangan Karebosi. Konon, dekat sana ada Rumah Makan spesial yang menyajikan konro bakar. 

Tak jauh dari Lapangan Karebosi, pengemudi mobil yang kami sewa membawa kami menuju Rumah Makan Konro Bakar Karebosi. Kami berusaha untuk tiba lebih awal karena khawatir tidak kebagian tempat. Maklum, tempat makan ini selalu penuh menjelang waktu berbuka puasa. 



Pesanan kami tiba 10 menit sebelum Adzan Maghrib. Sepuluh menit kemudian, kami sudah lahap dan menafsir pengalaman masing-masing dengan Konro Bakar ini. Daging konro ini dibakar dengan sempurna, well done. Diracik dengan bumbu tertentu yang membuatnya empuk dan memiliki cita rasa rempah yang khas, dipadu dengan bumbu kacang dan kuah. Barangkali, bila kami memakannya tepat setelah konro disajikan, tentu akan lebih mudah menaklukkan bagian lemak yang terlanjur mengeras. Overall, this is the best!

Aroma Coto Gagak

Perjalanan kami belum selesai. Kami masih ingin mencoba Coto Makassar. Sambil menunggu Konro Bakar dicerna dan memberi ruang untuk menu selanjutnya, kami pulang dulu ke hotel di Losari. Bang Azhar, pengemudi kami, merekomendasikan satu tempat makan Coto Makassar yang pernah dikunjungi Jokowi ketika kampanye tahun lalu.



Kami pun mengiyakan saja ketika ia membawa kami kesana. Aroma Coto Gagak sesuai namanya terletak di Jalan Gagak No. 27, Makassar. Banyak pilihan menu Coto yang menggugah selera. Pengunjung bisa memesan Coto daging, paru, jeroan, ataupun campur. Coto Makassar dinikmati dengan ketupat yang ukurannya tidak terlalu besar. Walaupun porsi Coto Makassar ini sama dengan Soto Kudus, saya tidak sanggup untuk menambah. Konro Bakar rupanya sudah cukup memakan ruang pencernaan saya.

Otak-Otak Ibu Elly

Sebelum pulang ke hotel, kami mampir ke tempat oleh-oleh khas Makassar yaitu Otak-Otak Ibu Elly di Jalan Kijang. Otak-Otak ini adalah menu oleh-oleh favorit dari Istri saya. Walaupun di Jakarta dapat dijumpai di Jalan Fatmawati, namun tetap saja rasanya beda, kata Istri saya.


Saya pun sependapat. Otak-otak yang dijual per paket berisi 10, 20, dan 50 ini tidak terlalu tahan lama. Maka jangan heran bila penjual bertanya lebih dahulu soal kapan kita mau pulang. Ini dilakukan untuk menjaga kesegaran dari Otak-Otak. Akhir kata, its taste is really something and worth your money.

Sebagai penutup, saya bersyukur dapat mencicipi kuliner khas Makassar seperti yang sudah saya ceritakan tadi. Lain waktu kemari, saya masih penasaran dan ingin mencicipi Mie Titi dan Sop Saudara. Semoga masih ada kesempatan.


Dharmawangsa-Medan Merdeka Barat, 15 Juli 2015.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...