Tampilkan postingan dengan label memoar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label memoar. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 November 2023

Kepiting Bercapit Emas: Membaca Kembali Tintin

Sumber gambar: www.goodreads.com
 
Membaca lagi Tintin berarti mengulang kembali kisah baca saya puluhan tahun yang lalu. Saya harus mampir ke rumah saudara untuk meminjamnya. Buku komik semacam serial Petualangan Tintin ini habis dibaca sekali duduk. Juga karena ini bukan kali pertama jadi saya hanya menghabiskan waktu sepuluh menit saja untuk menamatkannya.

Kisah rekaan dengan intrik-intrik spionase ini tentu sangat melatih pemahaman saya waktu kecil. Dulu, saya harus membaca berulang kali untuk dapat memahami cerita Tintin. Tentang bagaimana clue, kode, atau petunjuk-petunjuk yang dapat dijadikan alat investigasi yang menuntun pada pembuktian dan pemecahan sebuah kasus.

Anyway, saya menikmati sekali pembacaan kembali Tintin. Tentu saja terima kasih saya ucapkan pada Istri saya yang masih mau membeli komik Tintin. Barangkali, kami berdua sedang butuh jiwa petualang untuk kembali berlayar satu kayuh berdua. Semoga.
 
 
Judul           : Petualangan Tintin: Kepiting Bercapit Emas
Penulis        : Herge
Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2015
Tebal           : 64 hal.
Genre          : Komik-Petualangan


Pajang, 27 November 2023.


Jumat, 04 Agustus 2023

Rest in Peace, My Beloved Script

 

Hari ini, saya nyatakan bahwa script ini telah dideaktivasi. Entah karena si burung kecil sudah berganti logo atau ada hal lainnya, saya tidak tahu.

Kamis, 03 Agustus 2023

Tough Choices: Sebuah Pembukaan

“... life is about the journey, not the destination. The steps along the way are what makes us who we are...” hal. 85


Sumber gambar: www.goodreads.com

Saya pertama kali berkenalan dengan buku ini di suatu perpustakaan sekolah medio 2009. Kebetulan, saat itu seorang siswi sedang membaca sekilas kemudian meminjamnya. Penasaran, akhirnya ketika buku itu dikembalikan, saya lantas mulai membaca sedikit halaman pembuka. Sampulnya menarik dan cukup simple. Sebuah potret seorang perempuan yang nampak masih “perkasa” dengan sisa-sisa kejayaannya. Judulnya pun langsung menimbulkan banyak pertanyaan dalam benak saya.

Buku ini adalah sebuah memoar yang ditulis sendiri oleh Carly Fiorina, mantan CEO Hewlett-Packard (HP). Menarik untuk mengetahui cerita mengenai seorang perempuan yang menjadi pemimpin di sebuah perusahaan besar berskala internasional. Untuk tahu bagaimana latar belakangnya sedari kecil, kisah-kisah dan pergolakan di masa beranjak dewasa, hingga berbagai keputusan yang diambil dalam menjalani serangkaian peristiwa dalam hidupnya.

2013 lalu, pernah sekali waktu saya menemukan buku ini di sebuah toko buku import di bilangan Senayan. Waktu itu, saya tidak punya cukup keinginan untuk menuntaskan pembacaan buku ini. Saya masih punya buku-buku yang belum dibaca dan itu banyak sekali. Keinginan itu muncul kembali ketika saya mulai mengumpulkan daftar wishlist buku yang ingin saya baca di Goodreads, pasca mereka menghapus My Stories di halaman mereka. Saya pun memberanikan diri untuk membeli buku-buku bekas di platform marketplace online shopping, dimulai dengan ‘Seribu Kunang-Kunang di Manhattan’ dan ‘Adam Makrifat’ yang pembaca tentu saja sudah lebih dulu membacanya sebelum tulisan ini.

Saya membeli memoar ini bersamaan dengan buku dari Tina Fey ‘Bossypants’, sebuah memoar yang penuh dengan humor. Saya sengaja menunda ‘Bossypants’ agar dapat fokus menamatkan ‘Tough Choices’ terlebih dahulu. Saya mendapatkan buku ini sebagai buku bekas yang pernah berada dalam rak toko buku yang tahun 2013 lalu saya kunjungi dan harganya tidak dalam kurs rupiah, merupakan pada harga aslinya USD 24,99. Warna kertasnya sudah menguning, kertas sampulnya masih dalam keadaan baik, tidak ada halaman yang rusan ataupun sobek, dan yang paling penting: tidak ada penanda apapun dari pemilik sebelumnya. Anggap saja ini buku baru yang halamannya sudah menua. Hahaha.

Saya selalu menyukai apa yang ditulis Carly Fiorina dalam halaman-halaman awal. I do what i thought was right... My soul still on my own... Kata-katanya seakan menguatkan dan memberi harapan bahwa apa yang kita lakukan adalah hasil pertimbangan kita sendiri dengan segenap pengalaman yang akan kita pertanggungjawabkan.

Sepanjang pembacaan sampai halaman 98, ada banyak hal yang dapat dijadikan pelajaran dan motivasi. Tentang bagaimana menghadapi situasi penuh pilihan, tentang bagaimana mengambil resiko, juga tentang bagaimana berhadapan dengan banyak orang dalam konteks bisnis internasional. Saya merasa mendapatkan banyak insight dari perjalanan yang bahkan belum seperempat buku. Setidaknya, dalam hidup saya yang mulai membosankan ini ada sesuatu yang bisa membuat saya berpikir kembali tentang banyak hal.

Anyway, saya masih harus menamatkan buku ini. Saya selalu merasa harus menamatkan buku ini sejak menemukannya kembali. Saya tidak terlalu tahu sepak terjang dan jejak karir dari si penulisnya. Namun, saya selalu punya alasan untuk belajar memahami kembali bahwa pengalaman adalah guru terbaik.

Pajang, 3 Agustus 2023.

Kamis, 10 Maret 2022

Selasa, 04 Januari 2022

Seribu Kunang-Kunang di Manhattan

Pertama kali membaca judul ini saya membayangkan bahwa benar ada seribu kupu-kupu yang bertebaran di sekitaran kota Manhattan di New York sana. Mungkin, mereka sedang menikmati malam dan sekalian bersedekah dengan turut menerangi Central Park. Entahlah, memang rasanya tidak mungkin karena saya belum pernah melihat kunang-kunang di Central Park pada sitkom “How I Met Your Mother”. Kemudian, bayang itu beralih menjadi nyala lampu dari gedung-gedung pencakar langit yang bertebaran disana. Nah, yang ini rasanya masuk akal. Barangkali, waktu buku ini diterbitkan pada tahun 1972 sudah banyak gedung-gedung tinggi di Manhattan.


Dengan ingatan yang terbatas, saya sudah pernah menawar buku ini dua kali pada kesempatan book fair di Istora. Harga yang ditawarkan penjualnya tidak tanggung-tanggung memang. Seratus ribu rupiah, dan tidak bisa nego turun harga. Saya anggap terlalu mahal sehingga saya urung membelinya. Padahal, memang buku ini sudah jarang untuk terbitan terbaru tahun 2007. Sesuatu yang saya sesali kemudian.

Baru-baru ini, saya mendapatkan buku ini lewat sebuah platform marketplace. Suatu hal yang membuat kesempatan untuk hunting buku-buku lama menjadi kembali terbuka setelah puasa book fair sekian lama, anyway. Kondisi buku yang saya terima masih dalam keadaan acceptable (according to Goodreads), kondisi kertas masih baik, softcover, terbitan Badan Penerbit Pustaka Jaya, cetakan pertama tahun 1972. Tahun dimana saya pun belum lahir.

Buku cetakan pertama ini masih menggunakan ejaan lama. Sesuatu yang sangat saya nikmati karena memberikan pengalaman pembacaan yang berbeda dari biasanya. Hal ini tidak berpengaruh banyak karena buku setebal 64 halaman ini hanya berisi 6 cerita pendek. Kalaupun ada yang lebih luar biasa adalah ukurannya. Buku ini serupa dengan buku saku seukuran 20 x 12 cm, tentu bisa dibayangkan sebesar apa huruf yang digunakannya. Agaknya, tentu dibutuhkan hal lebih agar membuatnya nyaman dibaca, seperti mulai menggunakan kacamata.

Cerpen pertama diberi judul sama dengan judul bukunya. Mengisahkan tentang kehidupan romansa sepasang kekasih di Manhattan. Saya menikmati cerpen ini karena bisa diimajinasikan sebagai sebuah rentetan scene dalam film. Diikuti oleh cerpen “Istriku, Madame Schlitz dan Sang-Raksasa” yang menceritakan kehidupan aku dan istrinya beserta tetangga yang bernama Madame Schlitz. Saya dikejutkan dengan punch line untuk ending yang menggantung. Saya suka.

Cerpen ketiga berjudul “Sybil” ini agaknya mencerminkan fragmen kehidupan keseharian di kota besar. Bagaimana seorang single mother berupaya sekuat tenaga untuk bisa membesarkan anak dengan tetap bekerja. Permasalahan kemudian muncul ketika Sybil bermain dengan Susan, tetangganya. Kalimat terakhir dalam cerpen ini mengingatkan saya pada sebuah cerpen “Pelajaran Mengarang” karya Seno Gumira Ajidarma, dalam kumpulan “Atas Nama Malam”.

“Setjangkir Kopi dan Sepotong Donat” berkisah tentang kehidupan dalam sebuah kedai kopi, dimana orang-orang datang dan pergi untuk sarapan atau brunch menjelang siang, lengkap beserta gairah romansanya. “Chief Sitting Bull” menceritakan kehidupan para lansia yang mulai ketergantungan dengan jatah pemberian rutin dari anaknya dan menjalani rutinitas bersama kolega di taman kota. Saya suka detail dari cerpen ini karena sang tokoh utama dapat menaklukkan hati seorang anak kecil.

Sementara cerpen terakhir, “There Goes Tatum” mengisahkan seorang lelaki yang menjadi korban perampokan dalam usahanya menuju tempat tujuan. Cerpen ini menampilkan sisi lain dari wajah ‘The Big Apple’, satu hal yang umumnya terjadi di kota besar dimana ketimpangan antara the have dan kaum miskin sangat besar.

Kumpulan cerita pendek pertama dari Pak Umar Kayam ini adalah satu dari sekian tonggak karya sastra Indonesia yang patut dijadikan monumen. Betapa karyanya ini turut mewarnai khazanah kebudayaan modern Indonesia pasca tahun 1965. Dengan aktivitasnya dalam bidang kesenian sejak masih mahasiswa, ia mampu memberikan kesan filmis pada cerita-cerita pendeknya. Tema keseharian yang dipilihnya pun memberikan kesan bahwa banyak hal-hal yang menakjubkan dari sebuah kesederhanaan.

Judul           : Seribu Kunang-Kunang di Manhattan: enam tjerita pendek oleh Umar Kayam
Penulis        : Umar Kayam
Penerbit       : Pustaka Jaya
Tahun          : 1972
Tebal           : 64 hal.
Genre          : Sastra Indonesia-Cerita Pendek


Pajang, 4 Januari 2022
Pada ulang tahun Nenek yang ke-86

Jumat, 12 November 2021

Belum Ada Judul (yang kesekian kalinya)

Aku tidak akan pernah lupa bagaimana caranya engkau hadir dalam mimpiku.

Bahkan, kini engkau mampu hadir dihadapanku.

Aku tidak akan pernah lupa bagaimana rasanya.

Aku tidak akan pernah lupa!

Aku benci perasaan itu! 

(Aku benci...)


Benda, 12 November 2021.

Sabtu, 31 Juli 2021

Surat untuk Ais

Aisyah sayangku,

Awal bulan ini engkau genap berumur 4 tahun. Usia yang sudah cukup bagi Bapak dan Ibu untuk mendaftarkanmu sekolah Taman Kanak-Kanak (TK). Mudah-mudahan,pilihan ini adalah satu dari sekian juta pilihan kami sebagai ikhtiar. Sungguh keadaan pandemi ini membuat kami kesulitan untuk memasukkanmu ke sekolah TPA atau Pengajian, agar minimal engkau bisa a-ba-ta-tsa terlebih dahulu. Namun, kami tetap yakin, engkau akan mampu melaluinya di setiap pelajaran TK-mu nantinya.

Tidak hanya itu saja, di bulan ini juga Bapak bertambah bahagia karena Masmu sudah mampu untuk bersepeda roda dua. Tak lama setelah roda bantunya dilepas, ia segera melesat berkeliling-dan jatuh. Bapak senang sekali melihat semangatnya, walau memang harga yang harus dibayar lumayan besar. Baret-baret di motor dan mobil sudah tentu harus jadi resiko yang paling utama. Tapi tak apa lah, asal bukan hatinya saja yang baret, hehehe.

Aisyah,

Bapak merasa sedikit lega setelah mendapatkan sepeda pink yang selalu kau idamkan. Walaupun tidak benar-benar baru, Bapak harap kau pun juga sama senangnya. Kami sangat bahagia melihatmu bermain sepeda bersama. Kami pun juga dulu begitu. Selalu senang bersepeda dengan teman-teman. Semoga kesenangan ini bisa terus bertahan lama.

Aisyah,

Entah, atau hanya ge-er saja, Bapak pelan-pelan sedikit paham mengapa Akung punya perlakuan yang berbeda kepad aunty-mu, ya adik Bapakmu ini. Mungkin ini cuma ge-er saja tapi kalaupun benar ya sudah tidak apa-apa karena memang kau dan Masmu ini punya kebiasaan yang berbeda.

Puji syukur, ulang tahunmu ini kini tidak kami rayakan dengan memotong kue. Kami hanya bisa menuruti keinginanmu untuk punya sepatu baru untuk sekolah. Alhamdulillah, masih ada rejeki kami untuk menyiapkan segala keperluan sekolahmu.

Nak, terakhir, Bapak pesan semoga engkau tidak lelah menuntut ilmu. Zamanmu nanti kelak berbeda tantangannya dengan zaman Bapak. Tetap kuat dan tabah.

Peluk sayang,

 

Cipayung, 2 Juli 2021.

Kamis, 31 Desember 2020

Sunatan

Nak,
 
Baru genap 5 tahun umurmu, namun Bapak harus berani mengambil sebuah keputusan besar. Ya, apalagi kalau bukan sunatan atau khitanan. Sebuah momen 'sakral' untuk anak laki-lak. Bapak harap keputusan kali ini adalah yang terbaik.
 
Ingatan Bapak melayang pada suatu waktu dimana Bapak sempat menjadi Panitia Sunatan Massal. Waktu itu Bapak bertugas sebagai penjaga kaki anak-anak yang akan disunat. Maksudnya, Bapak menjadi orang yang memegang kaki anak-anak itu bila mereka meronta kesakitan. Lumayan, bapak harus menghadapi 30-an anak dengan segala macam kondisinya. Sampai Bapak tak mampu makan sate barang seminggu.

Bapak sanggup melihat bagaimana anak-anak itu disunat. Namun, hati Bapak rasanya sama teriris saat melihatmu disunat. Bapak tidak sekuat itu, Nak. Kamu harus lebih kuat dari Bapak, kelak.

Teknologi persunatan rupanya sudah mengalami banyak kemajuan. Bila waktu itu, dengan sunat metode laser anak-anak bisa bermain kembali dalam waktu sekitar 3 hari, kini dengan metode klem, kamu bisa jalan tenang mondar-mandir setelah sunat. Mungkin, baru mulai merasa sakit ketika efek obat penghilang nyeri hilang. Kami dulu lebih payah, walau hanya untuk sekedar berjalan ke kamar mandi.

Nak,

Sungguh Bapak akui keberanianmu. Untuk anak lima tahunan, kamu sudah terlatih menghadapi rasa sakit. Bapak salut karena Bapak pun tidak seberani itu dulu tahun 1996. Sayangnya, Akung dan Uti tidak sedang bersama kita disini. Mendampingimu di momen sakralnya anak laki-laki.

Bagaimanapun itu, tentu Bapak dan Ibu berharap kebaikan selalu bersamamu. Hari ini, esok, dan seterusnya. Jadilah matahari kami yang paling bersinar!


Cipayung, 13 Desember 2020.

Senin, 30 November 2020

Lima Tahun

Aldebaran sayang,

Alde sekarang sudah 5 tahun. Sudah besar, Nak. Menjelang hari ini Bapak terbayang kembali hari-hari bulan pertamamu. Alde masih bayi dan harus kembali ke rumah sakit karena kuning. Bapak dan Ibu sangat berat dengan kenyataan itu tapi demi kesehatanmu kami rela dan pasrah kepada Allah SWT.

Alde waktu itu sering Bapak foto. Banyak sekali foto Alde. Alde anak pertama kami maka Bapak dan Ibu tidak melewatkan momen itu agar nanti bisa bercerita. Kelak, seperti hari ini.

Lima tahun Aldebaran. Alde sudah masuk TK. Walau dengan kondisi pandemi kami senang Alde antusias mengikuti Zoom dan menghafal dari video kiriman Ibu Guru. Semoga Alde dapat berkumpul kembali dengan kawan-kawan di sekolah.

Nak, 

Bapak mohon maaf kalau sering marah. Bapak sering merasa Alde sudah besar dan sudah bisa diperingati. Namun, agaknya Bapak lupa bahwa Alde masih anak-anak. Alde masih ada di dunia permainan. Jadi, Bapak minta maaf ya Nak.

Perjalanan lima tahun ini adalah perjalanan yang luar biasa. Bapak harus lebih banyak belajar sama Ibu untuk lebih bersabar menghadapi Alde dan Ais. Semoga kita semua diberikan kesehatan dan kekuatan untuk melalui semua ini.

Peluk sayang Bapak untuk Alde. Selamat ulang tahun, Nak. 



Cipayung, 9 November 2020.

Minggu, 31 Maret 2019

Surat dari Montreal (2)

Baik semuanya. Ini cerita tentang malam pertama kami di Montreal, Quebec. Sebuah tempat yang sangat jauh dari Pharmindo.
 
Saya telah tiba di Montreal. Sebuah kota yang menamakan dirinya 'The Capital of World Aviation'. Acoording to sebuah monumen kecil di airport. Wajar saja, ada logo ICAO dan IATA disana. Belakangan saya ketahui juga bahwa kantor dua entitas ini saling berdekatan.

Apartemen kami ada di dekat sebuah perempatan. Jalan apa namanya, saya belum tentu paham. Usai menyimpan semua barang dan menunggu malam tiba, saya bersama seorang kawan mencoba mencari sensasi dingin di belahan bumi utara ini. Kami berdua berjalan kaki menuju sebuah kedai kopi terkenal (sebut saja Sbux). 
 
Ini minggu malam. Tidak terlalu sepi, bahkan banyak yang coba menghangatkan diri dengan secangkir minuman hangat. Kami berbeda, kami memesan dua gelas kopi dingin, with ice, dengan tegas tukas kami kepada sang pelayan. Tidak ada obrolan diantara kami. Kami hanya sibuk dengan diri masing-masing. Say mengamati lalu-lalang di trotoar sedangkan kawan saya sibuk dengan ponselnya. Terdengar suara gadis kecil di seberang sana.

Malam makin meninggi dan semakin dingin. Jaket saya nampaknya kurang cukup tebal untuk menahan angin sepoi-sepoi disini. Hampir sejam kami disana. Kami lanjut pulang sambil mampir sebuah toko kelontong. Alhamdulillah, ada telor ayam disana dan juga air mineral. Sesuatu yang sangat kami butuhkan, at least malam ini.

Malam merambat, jalanan mulai menyepi, dan kami semua berenam tidak bisa tidur. Saya hanya menatap langit-langit kamar. Membayangkan besok akan seperti apa. Dalam bayangan saya anak-anak yang berlarian ditemani Ibunya, Bapak yang kini entah sedang apa, dan sekian juta hal-hal lain yang kerap mengganggu.

Sudah jam 2 pagi. Ada suara di dapur. Tak lama, sebuah aroma yang sangat kami kenal masuk ke dalam kamar. Ya, kami makan mie instan saja daripada tidak bisa tidur. Ya, ini jam setengah tiga.

Montreal, 18 Maret 2019.

Surat dari Montreal (1)

Bapak,

Apa kabar Bapak disana?

Tentu barangkali Bapak sudah tahu soal kepergian saya ke Kanada. Negara berbahasa Perancis di belahan Amerika Utara. Tidak ada yang saya tahu soal negara itu kecuali Celine Dion, Winter Olympic Calgary 1988, dan Toronto Maple Leafs. Yang terakhir itu, saya kenal dari game NHL di PlayStation, walau bukan tim unggulan tapi saya selalu menang ketika memainkannya.

Saya tidak tahu berapa lama perjalanan ke negara itu sampai saya merasakannya sendiri. Perjalanan Bapak tahun 1985 silam ke Sevilla, Spanyol, tentulah lebih singkat dibanding dengan perjalanan saya. Saya menghabiskan waktu kurang lebih 27 jam untuk tiba di ibukota provinsi negara bagian Quebec ini. 

Dari Jakarta menuju Doha, saya terbang 8 jam dengan pesawat 787, sebuah pesawat dengan teknologi paling efisien dikelasnya. Saya melanjutkan penerbangan ke Montreal setelah transit selama 2,5 jam (waktu efektif hanya 30 menit) dengan pesawat 777. Saya duduk selama 22 jam (according to flight computer di entertainment system). Untung, maskapai nasional Qatar ini punya wi-fi di pesawatnya, jadi saya tidak kesulitan menghubungi keluarga di rumah.

Saya masih menatap jendela di terminal kedatangan. Bahwa saya masih tidak percaya bisa berada disini. Entah nasib apa ini namanya. Yang jelas, keinginan saya untuk berada di satu tempat yang lebih jauh dari Bapak dulu di Sevilla, sudah tercapai. Saya disini untuk menuju ke satu tempat dimana semua orang penerbangan mendambakannya (looks lebay ya, Pak). Tetapi, tetap saja, ini semua tidak sempurna karena Bapak sudah tidak ada lagi bersama kami.

Semoga Bapak selalu tenang disana, kami akan selalu mendoakan engkau. Dimana pun, kapan pun.

Bonjour, salam dari Montreal.


Jakarta-Montreal, 17 Maret 2019.


Kamis, 31 Januari 2019

Menggugah Kesadaran Berpolitik



Prelude

Hingar bingar Pemilu 2019 belum atau mungkin sudah mencapai puncaknya. Yang jelas, pada perjalanan terakhir ke Tanah Air Bandung tercinta, nuansa itu sudah terlihat dari ramainya spanduk iklan caleg di setiap perempatan jalan. Ada banyak caleg muda yang belum pernah nyaleg sebelumnya. Masih terlihat binar-binar harapan dari tatapan mata mereka. Pun demikian dengan para caleg veteran. Senyum mereka menyiratkan sebuah optimisme untuk kembali menatap hari-hari di depan yang masih belum jelas.

Atas kesadaran itu, saya merasa bahwa regenerasi percalegan itu memang perlu adanya. Entah dengan dasar atau bekal ilmu politik macam apa seseorang berani mendeklarasikan dirinya sebagai wakil rakyat. Apakah cukup dengan kursus singkat atau cukup dengan mendengarkan pengalaman saja?

Keinginan membaca buku ini muncul saat pembacaan buku "Jokowi, Sengkuni, Machiavelli' dari Seno Gumira Ajidarma. Keinginan itu hanya jadi keinginan belaka hingga saya menginjakkan kaki kembali di Pasar Buku Palasari setelah dua juta tahun vakum belanja disitu. 

Sebuah pemahaman bisa diperoleh dengan membaca terlebih dahulu dasar-dasar objektivitas suatu hal. Bukankah perintah Tuhan yang pertama pada Muhammad SAW adalah "Bacalah". Dengan demikian, mudah-mudahan dapat memperkuat dasar-dasar dalam pemahaman ilmu politik, sebelum terjun nyata ke ranah habluminannaas.


Palasari, 14 Januari 2019

Senin, 31 Desember 2018

Selamat Tinggal, 2018!

Selamat tinggal, 2018. Terima kasih untuk segala pelajaran di tahun yang tidak pernah berakhir ini. Terima kasih untuk segala pencapaian yang (masih) terasa hampa. Selamat tinggal. Semoga sukses.

Cengkareng, 31 Desember 2018.

Jumat, 30 November 2018

Belahan Jiwa

Membaca lagi surat-surat mu
Hatiku jatuh rindu

Entah mengapa setiap memainkan lagu ini ingatanku selalu menuju padamu. Ah, mengapa ya? Mengapa semua ini harus juga tentangmu? Aku tidak pernah tahu. Hanya bisa menerka dan mereka-reka saja.
 
Waktu itu kita masih terlalu muda. Terlalu mudah terpesona untuk tahu apa yang orang sebut cinta. Mungkin, kita sama-sama terbuai dalam khayal dan imaji masing-masing. Ya, mungkin saja. Barangkali, kita terbuai bahwa kisah kita adalah Rangga dan Cinta.
 
Aku tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara kita berdua? Aku tidak pernah benar-benar tahu apa namanya. Kita berdua sepakat bahwa jarak membentang. Membentang sebegitu rupa sebelum ada tol Cipularang.
 
Penamu dan penaku pernah bicara. Pernah begitu dekat hingga pada akhirnya justru dalam dekat hanyalah diam yang ada diantara kita.
 
 
Jakarta, 30 November 2018.
 
* Belahan Jiwa, KLa Project

Kamis, 29 November 2018

Mimpi

Semua bisa terjadi
di dalam mimpi
Benar kata puisi
Sekali berarti sudah itu mati


Jurangmangu, 15 November 2018.

3 Tahun Aldebaran

Bapak, Assalammualaikum. 
Kami tahu engkau tidak lagi disini. Duduk bersama cucu pertamamu, mencium pipi dan memeluknya seraya berkata “Selamat ulang tahun, cucu Akung…”. Kami tahu dan paham bahwasanya tugas Bapak sudah selesai. Bapak rupanya tidak ditugaskan oleh Allah SWT untuk sampai mengantarkan Aldebaran ke Taman Pendidikan Al-Qurán di komplek sebelah. Memang sudah cita-cita Bapak untuk mengantar Aldebaran sekolah sambal naik motor Nmax. Kadang, takdir Tuhan memang tidak boleh dipilih, kita tidak bisa memilih takdir sebagaimana kita memilih shaf untuk shalat di Masjid.

Bapak, Aldebaran sudah mulai masuk sekolah TPA menjelang genap 3 tahun umurnya. Anak sekecil itu yang masih senang berlari-lari di lapangan TPA sudah bisa membaca dua huruf awal rangkaian huruf hijaiyah. “a”, “ba”, begitu katanya di depan Ustadz pembimbing. Not bad lah Pak. Alde baru membiasakan lagi membaca huruf hijaiyah pasca fase Upin-Ipin. 

Sekali pernah saya menemani Alde ke sekolah TPA. Saya adalah tipikal orang tua zaman sekarang yang sedikit-sedikit khawatir Aldebaran jatuh atau berebut bola dengan temannya. Padahal, zaman Bapak dulu tidak begitu. Bapak dan Ibu membiarkan saya begitu saja. Pulang dengan baju kotor penuh keringat itu sudah biasa. Malamnya, Bapak pasti marah. That’s all. 

Saya jadi ingat masa-masa itu. Kelakukan saya nampaknya sama seperti apa yang saya lihat pada Aldebaran sekarang. Maklum saja Pak, TPA ini punya lapangan basket dan lapangan futsal berumput. Sama seperti TPA Al-Falaah yang punya lapangan bekas sawah. Sekarang sudah jadi rumah.

Pak, mungkin Bapak bisa tahu dan lihat sendiri. Aldebaran sekarang sudah bisa membaca surat Al-Fatihah. Agak sulit membiasakannya memang namun bila diingatkan untuk membacanya sambal mendoakan Akung, ia pasti mau dan agak “emosional”. Wajar ya Pak, Alde belum paham Akung pergi kemana.

Tidak hanya itu saja, Alde juga sudah bisa menghitung satu dua tiga sampai sepuluh, dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Catat, Pak. In English lho, Pak dan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan skor TOEIC saya yang jadi Pole Position di kantor. Mungkin pengaruh tab (iPad) Aki Ni dan video unduhan dari Youtube berpengaruh pada ingatannya.

Apapun itu, kami disini merasa sangat bersyukur bahwa di umurnya yang ketiga ini, ada banyak kemajuan. Walaupun di hari ulang tahunnya ini gejala radang belum juga mereda, kami tetap merayakannya dengan suka cita. Minimal di hati kami masing-masing.

Oh ya, Aisyah pun makin bertambah besar. Makannya banyak dan tidak susah. Aisyah juga mulai belajar ngomong dan semakin bisa berkomunikasi dengan kami. Ah, andai Bapak ada disini bersama kami.

Bapak, sampaikan salam saya pada Eyang Kung dan Eyang Tik disana. Kelak kita akan berjumpa kembali. Saya akhiri cerita saya ini. Wassalammualaikum.

Cipayung, 9 November 2018.

Senin, 19 November 2018

Untuk Bintang

Sumber gambar: id.wikipedia.org
Untuk Bintang sejatinya adalah judul album pertama Cokelat. Band yang terbentu di Bandung pada tahun 1996. Cokelat berhasil menembus label setelah lama bermain di jalur indie. Bersama Padi, Caffeine, dan Wong, mereka sempat bergabung dalam satu album kompilasi bertajuk “Indie Ten”. Sebuah album berisi sepuluh lagu terbaik dari band-band indie. Seingat saya, waktu itu album ini “Indie Ten” mengalami kesuksesan dari segi penjualan. Dari sisi komersial lainnya, beberapa alumni “Indie Ten” masih eksis bahkan ada yang sudah mengalami metamorfosa. 

Saya sendiri menjadi penikmat musik Indie pada tahun 90-an akhir. Waktu itu di Bandung masih ada Radio Fire 95,6 FM. Saya lupa tepatnya jam berapa indie music radioshow itu. Saya mendengarkannya malam hari sambil mengerjakan PR atau sekedar baca-baca komik dan buku pelajaran. Saya bersyukur ketika album “Indie Ten” dirilis. Ini merupakan sebuah langkah besar bagi musisi yang berada di jalur indie. Album indie terakhir saya adalah “Indie-Go” sebuah album kompilasi juga, dari i-Radio kalau tidak salah compilernya, dengan main hits dari Flush, “Gopek”. We'll talk about this later.

“Untuk Bintang” sendiri merupakan lagu kesembilan dari 10 lagu dalam album ini. Selain hits “Pergi”, album ini juga memuat kembali single Cokelat di “Indie Ten” yaitu “Bunga Tidur”. Lagu “Untuk Bintang” sendiri menurut saya agak mirip dengan “Soon” milik Moonpools and Caterpillar, band indie asal Filipina yang bermukim di USA. Saya tidak tahu bagaimana pastinya, yang jelas “Soon” dirilis pada  tahun 1995, merujuk pada laman Wikipedia.

Thanks to online music streaming platform, now i can easily stream the song. Sekarang tidak sulit rasanya untuk menemukan lagu dalam album yang ingin kita mainkan. Ya, saya bisa merasakan kembali ciri khas Cokelat. Cokelat manis dengan vokal khas Kikan dan dibalut semangat indie. Ada beberapa hal yang tidak tergantikan memang. Sebuah perasaan yang hadir beserta segenap memori tentang masa itu. Yeah, i miss my indie time.

Selamat Hari Pahlawan!
Cipayung, 10 November 2018

Rabu, 14 November 2018

6 November

6 November, setiap tahun selalu saya peringati sebagai hari “debut” saya di Jakarta. Saya mendapatkan pekerjaan yang sesuai kontrak akan dimulai pada tanggal 6 November, satu dekade yang lalu. Tanggal yang sama dengan debut Alex Ferguson di Manchester United. Mengapa kemudian “debut” di Jakarta ini menjadi sesuatu yang spesial padahal saya sudah resmi bekerja dan dibayar sejak beberapa bulan sebelumnya di Bandung adalah satu hal yang setiap tahunnya selalu saya pikir ulang-untuk tidak menyebutnya sebagai renungan.

Image result for 6 november
Courtesy: clker.com
Saya tidak tahu kenapa “debut” di Jakarta adalah sesuatu yang spesial. Padahal seharusnya hari yang spesial itu adalah saat saya menerima gaji pertama saya sebesar Rp. 150.000,- medio 2006 silam. Saya sudah lupa kapan kejadian istimewa itu karena Bapak saya sempat kecewa pada saya. Menurut beliau, jumlahnya sangat tidak masuk akal untuk hidup sebulan namun bukankah kata Tuhan, kalau engkau bersyukur maka akan Aku tambahkan nikmatmu?

Lagi-lagi saya tidak paham benar mengapa Jakarta itu selalu spesial? Apakah karena saya terlalu silau pada cahaya pantul matahari di segenap pencakar langit Jakarta? Atau itu hanya sebuah mimpi artifisial dari seorang anak kampung yang mengidamkan sebuah kehidupan megah di cakrawala metropolitan? Saya sendiri heran mengapa perasaan untuk pergi ke Jakarta selalu ada setelah lulus kuliah. Saya merasa harus “keluar” dari rumah.

Menjalani “debut” di Jakarta memberi saya banyak pelajaran. Tidak perlu saya sebut disini satu per satu. Yang jelas, saya jadi semakin tahu apa artinya pulang, pulang ke Bandung. Pulang pada sebuah perasaan nyaman, pulang pada sebuah keadaan tenteram, pulang pada kerinduan.

Sampai saat tulisan ini dibuat, saya sendiri masih mencari tahu mengapa pindahnya saya ke Jakarta menjadi sebuah tonggak yang selalu saya ingat. Saya masih mencari penjelasan tentang mengapa hal ini bisa menjadi sejarah. Saya tidak tahu pasti. Saya menjalani apa yang saya hadapi, ketika kemudian takdir mengantarkan saya kemana pun. Sebuah perjalanan dimulai karena sebuah alasan pencarian. Saya kira itu.


Cengkareng, 7 November 2018.

Rabu, 31 Oktober 2018

Kumerindu

Mumpung gairah menulis belum hilang, let me tell you something by this blog. Ini bukan tulisan tentang rindu. Judul diatas adalah satu judul lagu kolaborasi antara PAS Band dengan Bunga Citra Lestari atawa BCL. Lagunya bagus, musiknya enak, kedua entitas bermusik dengan gayanya masing-masing. PAS Band utuh sebagai sebuah band dan BCL memadu vokal.

data:image/jpeg;base64,/9j/4AAQSkZJRgABAQAAAQABAAD/2wCEAAkGBxASEhUSEBASEhUVFRUVFRUVFQ8VFxcVFRUWFhUXGBUYHSggGBolHRUVITEhJSkrLi4uFx8zODMtNygtLisBCgoKDg0OGg8QGi0dHR0rKy0tLS0rLi0tKy0rLi0tMC0tNy8vMC8tLS0tLy8rLysrLSstLSstLS0tMSstLS0tK//AABEIAKgBLAMBIgACEQEDEQH/xAAcAAABBQEBAQAAAAAAAAAAAAAAAQIDBAUGBwj/xABFEAACAQIDBAYGCQIEBQUBAAABAgADEQQSIQUTMUEGFFFhkfAiUlNxgdEWIzJCkpOhscEHFXKi0vEzYoKy4URUZMLDJf/EABoBAQEBAQEBAQAAAAAAAAAAAAABAgMEBQb/xAAyEQEAAgECAwYCCQUAAAAAAAAAAQIRAxIEITETFEFRUmEFoRUyU4GRscHR4QYiI2Jx/9oADAMBAAIRAxEAPwDhN5DeSCkM1zcADmcx7TYBQSTYE8ORjkS/FlXWwvmN7WvbKDpqup09Ids+1OrWOsvlRpzPgl3kN5IzT4+muhCnSrxIJ19HQW1ubCxGsWnTsVzcyPRIe9swXjaw48L3trJ29MZy1GjaZiMdUtPM32QW9wJ/aSbh+Yy/4iinwYgzXfYWKeqlHMrZ6e+Vgx3Qp2vmvb0QLW4dkenROvlzmrh0TJTfM9Qqtqt8mpXjpPkW+K6s/Up+L9Vp/wBOcLXHa6/4Rj9/yY26HOovwDk/sB+sX6sc3b4Kvzm0nRDEkmz0MoRagqby6FWJAIYDXUQwfQ7FVahp0jSfKoLMr+iM17C9r307NLjtE81/iHF26cv+Q+hpfB/hFOczux52n9MMUunAIR35iT+1pDSuxCqLliAAOZOgEXaNJ6LNTqKVdTlIPLt/T9xKzYjd0XqA2Z70qfaLreqw9ysF99UHlPfwOtq9lbU1Jz5Ph/HtDha8RTS4esVxHPHv0+XP7zcftfISmGYC2jVx9pjzFI/cTsYekeNwDaYjuSSWJJJuSSSSe8niYkBON7zecy8NaxWMQICEBMtFk+GxTpfKdCLMDwI7xIIl5EXa1JWGakDa12XiV+YlUxaNUqbg288O+S1mDAtltry4SiGJFiQgi2iXklOrYEWBB7f37oDBFEdoe6LTTXu5yCMiDIRxBHwk719b2BPb55yOriGa1zw0HcOwQpVo94ki4UngbnzoJWvHK5HAySNPE7LNMKxP2gCBzII427L3jcJVpAHeAHTQfzeVa+PdwAxva1vhIVYc4wq5QyNYNoL6m3LvlfF0QreiwZeII7O/vipVAuJMuHVlvexHL+R2x0FKBjnWxtGSoIsIkAjWjo1jA1aWNKgZbAi5vrxNtbcOQ8O8wp43LlyqBl0HE8wed/VS3ZlEzd8O0eIhvh2jxE+nNaz4PNG6GmMdowyj0mzEm51sBa3C1ha3C0Trpta3MG5LE6W5njwA+Ezd8O0eIhvh2jxEmynkubO5TpHWGGOGUKUIZRUsS4pswYoGv9k2llOllTJu3w9GomSkmVhUsRSvlOjcdZ55vR2jxEN6vaPET5/0fPhf5fy/Q/TmnMc9COufrTHPz6PR6XTOsp9GjSC7taaou9UKqknQqwa+vbyk2D6b1UZ3tkzKosM7rcX9ItUckHgONtOXGeZisO0eIlrDYWrUF0Qso4ubBBbjeo1lX4mI4G0c5v8AJzv8X0bRMd3jn/tP7NTa+0HxeIzAZmchRYAZiTppf3DjwUXPOZm166s4VGzU6S5EI4NqS7j/ABMWP+HKOUkqV0pKVpMHqMCrVFvlRToy0idWJGhfQWuFvfNM2ddS8YilekPk5m151LdZEIQvOLQgIQhBCF4Qok+GqWNjqDoRIY+iNR4QibH4Y03Km3wNxY98ry1tCsWax+6At+ZsLaytIgtACKJewNAWZj90Xt38omcLhWahlALaX5c5CW7NB2QdiTcxsAhFELQEiwiwhIsIQCS0a5Xx0kMUwrc2rRpVKS16Qy2srrpo3K3d3zCtLOEr2zKeDC0rkSRGCSQheEqCMaPjWhYdH/ecV7d/ERf7zivbv4iVAvnzyikefPKbYWf7zivbv4iJ/esV7d/EeMq5YmWUWjtrFe3fxEvbKxONqtfe1Sin6wgj0V4kzGCzd2vto4fDLhqQ3bvc1rW0BGig9p4mZmWoZO1ekuIdzu6rInBQLDQczpqTxmRisTVqH62o9QjhnZmt7rnSRgxGN5GiQtAwgEIQgIYRYQCELRYCCOWIJawVDM2uiqMzH/lHm0khdoW3jW7jr7hK8lxFTMxbtN/lI5WQJq4EgUarMLAAKp7XJvYd9hMtFvOj6M7aeitakFR6TU2ZldVazKpCut/stc8ZmYWHM2iWj3NzGyoLQgIQAwhCARIsLQEjibwtEMABjqhBN42TUKBcHKLka27YVDEixIQkQiOjTCtwDz55RQJKqx2Tz55zoxKAiIafd5+csZfPnnL2zaFOzVK1xSSxLAkanQKvrE/pEyQbgtnU0pnEV2UIt7IbhmYfZUdtzOXxmJNR2drXY300A7gOyTbWxxqvcFsguEUm+VeQkWAwjVXCLz4nkB2znltPsjACqXZjZKaF346gWAAPK5IlGpxnZdI1oYKkMHRYl2CviW9YjVEtyGt/CcaxiFNMIQlBFiRBAWEIAwAQiwgKJeo+jRc+sVUfD0j/ABIdmYCrXqpRooXqObKotqfjLm1ENMLRZcrUswfgfTJ9LXmRYCRGdaLaLHWlQiia1TBPTwq1tAtdyi9pFPVh3C9pmU7X14c/dNvZ2KqpTrUEzVUqpZFCBxmuDcD7psDqIkc7COIjbyBIRYQEhCEBIohCAt4hhCAkt7Lr5Kim9hexPZfn75ViiRYS4ymVdgddTqP4kEtYy1l43/jlaVRBIjTHRplIdOg8+eckK+fPOIg8+ecsIvn+B3zbMwbhcLnYC9hza18o4mUOku2hWCUqTMUTmQFzN3KOU09t4wUcPu1WzVdCdb5BxHxnI0aTm7KpIFgSAbC+gueUzMtRyRstp1/9OsOBUqYmoo3WHQuxPN7egP58JzdbBvTUO66NmCnhcrxI7hwkj410oiglQ5GIqOo0BbgAe2wEnUQ7SxbVaj1HNyzFie8yrFMaZVBhCEAhFhCEhFhCgCLEEWEaezse1Ki4p+izsoLgekF4gK3FTfslQm/GWMDQzUareqaf+ZraSHLIkmhYuWLaLbT3zSGWk1PEPTvlYqSORINj+0fRS5JtoqliPd2yoxJuTMqYDAwtCUJaEBFB7pAkSOYxDKEgIQkBCBMSAogIkUQqWpew58v/ABI2tpbs189kkvdbebSIiAkaY6NaCHX0KRJsB/4+M06VqNJq5ytl0Ua/a4W93fK+DQBSztlTmb6e4DnMrHVzibhGFOjTH3ja/wAzLKsnHV61ctVe7C9ieQvwA7BLeyC9c0sIpVFapdm4Zud2PYADYStjceGRaVMWppcjtZjxZpUo1mQ5lNiOB94tMjf6b45KlfJSACUlFNbcCF4nx/ac5C8QmUBiGEWUJCFoQghFhAIQhICauEo4bKBVWrc650ZTx5ZCNfGMRbJlIFjZuV727YWlwmV6piaNOiaNDO2dleo7hVJyg5UUDlqSTMyPIiQhvnz3QJixJRNg8Q1Nsy24EEHUFToQR3zT2muFNFXp4c0Xcn0d4zgZCPTXML2NyLd0xbzdp7WbEU0w+KrolKhTqbomnmOY2IW663JHE6CZmFhzlohklcC5ym47bWkUqgGxiXgYkIVjCJCQLEixDKAwtCEgLQheEKlpjTu4RlRbRUblHgX05yCG0a0ey2NjGMJRrbZ2u1U5R6KDQKJlFjwjDVX1h4iJvF9YeIlU+JeN3q9o8RDeL6w8RAdAxu8XtHiIbxfWHiIDoRu8X1h4iG8X1h4iA6LGbxfWHiI5e6AsISzglQn6zNax1W1weR74Q3A4R6tRKVMZndgqgcyTYT0/an9MKeDwjV6xeo4KrlU2AJ0L3H3bzP8A6X1lw+Lpb0IqufQrWBGoN1zHgeXdN3p10xFZmWlvaZVt2yMVysBezDKbWvxBmY5yPOq63P6afsJAdR7vPhLDvc3/ANv9pA2nnzpOjKMr588ohOtwIpjTIGGJ5898cfPntiEwGTZ6PVqJz0K9EOtRTlqLpUpOoJUqeangwPKY5ml0bKdYRahyq+amTwALqQDfkL2kwrHaJLGLwrU3am4sykgjvH8REwjtwUn4GZysQrMIklNI66cOMjMpMEhFiQhIQjkAvr38O4QGxY+6djfiX/TFYKOKuPeQP/rAhhJbp2N+Jf8ATD0PVb8S/wCnjAYss0hbKwkSlPVb8S/6Y6keNuAklUmLo+iG53y2HZa4/mU2l7HAqRbgQCD2+bylUsTFVfV+6pezp/gT5Q3VL2dP8CfKec1U2khco1Qo28JArF39MOgKCoQAVzKwQMqjKLHlK7PtH6ndpiQcjIc1W4XM1Vc9TNWbUBkbhU+zYEWnDb7u2Xp26pezp/gT5Q3VL2dP8CfKeZ4p9qHIXFc6tpRqopSqKaIpJzDPRLrnsQT6TXXlJsVTxy1t4hrvnatlAq1N3TLFlQuprZcoBVhZG4cAdY2+5l6NuqXs6f4E+UN1S9nT/AnynnFZMaKNS/WjVZ6ZISszD0aZVjT+tSyl/SIBW45aWkLvtZlGU1lKUaVJw1Sl9Y61bvWQgmxy242uMwI4Rt9zL03dUvZ0/wACfKG6pezp/gT5TzzZ2I2jlYFKqpuqtNQ1RTVz3L06ly72JBK3Lmxy8pWfBYtgWpnGrr6KVcXUUgBKn2itRhfMKfM3vrpeNvuZembql7On+BPlMjavRPZuJB32CoEn76IKb+/Olj+s5pdoY9bs9Kq4NXOoptRzCm1GpTyEMygZWFNiLnV7gngMnB0MYdGGPAyj7Vd1Is6kqGGJfMSMx1HPiBZRYifMYPTv+mr4RWxGEZq1Bbl0axqUh61wPTQczoRzuLkcJRe09iRdpF1NTeHKyAkVvRZHd3f6vRWsGVNRcBRbNxPnfTzYQweKZaYtSqfWUu4E+kn/AEn9Cs6VnPKXO0Y5n9G9trh3K1aYrYep6Nakbaj1k9V143ku1cOlOoy02LpoUYqVzIRdTY8Bb9pzKVJ3fRl+vYZsI3pYmgC+FOgapS41KF+dvtKJqvJiebmifPnlGNLFanlOv6/yP4lepx0nRhG4jGHnzzj28+e2MMKRWIv36ee+NMDGkyBdPPONt8dLwtEkVoNtyuwAdlewADMql7Dh6XEgTrtl7XZ8HUqsVvSXKQQLk1BZW8VFpwE7PYOyGegxW9ko757C+tytJT2m5JtOWpjDpp5yyK1Ld0QGGrhahJ772nPsJ2/TPDKiZVBGV1pi/q06Sg27fSzTk6eUUmJtcsAO0Aam0tJ5JZRiRTEE2wWOpLc27b/sf0jLx9Dj8G/7TAc1a2iXA7eBbvJ7O6MFQ9p/jwjIoEKCYl4vCOGXnmHuAP8AIgPw1EubL589s0cBQBJXtVx2fZIPwlbBYkLmCroRqeZ+PIDsljZBu9uwVD8MszZqFTHsCwAPAW+IlNo+obkn4yNpY6I+huuj1B4v84ddHqDxf5zm+tnth1s9svaU9Ly934j7X5Ok68PUHi/zh14eoPF/nOb64e2HXD2x2lPSd34j7X5Ok68PUHi/zh14eoPF/nOb64e2HXD2x2lPSd34j7T5Ok68PUHi/wA4deHqDxf5zAp47kZPv52rXTtGYh4dXU4rSti1mx14eoPF/nDrw9QeL/OY+/hv5rs6eTl3rX9Utjrw9QeL/OZm3dn4bGKq16VwhzKVeopBIsdQeB7O4TqNh9FS6ipiCyg6hBobf8x5e7/abFXophSLBXU9odif81xM/wCOJ6PVWnF2rnc8m+hWzvZVPzqvzk+G6K4Km61KaVVdGDKwrVQQw4Eazo9v7IqYVhc5kb7L2tr2Ecj+8yd/NxWk+DzW1uIpO2bTku0dkYSvUaq9GzMczZWdQWPFst7XPH3yk3RbAnU0n/MqS5v4b+XbVnt9b1KJ6J4D2T/m1PnA9EsB7J/zanzl7fySsHTLnVlzDMtwRdTwI7RG2p2+t6mX9D9n+yf82r84n0O2f7J/zavzm7SwOIYBlo1CG1BCtY+7tlMV421WdbXjrMs8dD9njXdP+bV+cT6G7P8AZP8Am1fnNpsPWBcGm4NMZnBB9FTwJ7BI8OHqHLTUsbE2AvoOJk21O21+mZZP0O2f7J/zavznQ7ONKhSelTpLlcKGuXJsvDW8hw2Er1FzU6TuvC6qSL+8SQ7NxQtfD1dTYeg2psT+wPhJNKT1hqNbifCZUtr7Jw2JbNVpm+tgr1FAzG5sLzM+hmzrW3T/AJtX5zof7Xiv/b1fwN8pBRoVmvlpubMFNlOjE2APYbxFKeROtxPjMsP6FbO9lU/Oq/OL9C9neyqfnVfnNWq7KSrAqwNiDoQRLaYDEnhQqnQHRW4G9j7jY+Eu2vkzGtrz0mXPfQjZvsqn51X5xPoRs32VT86r85vYrDV6YzVKVRB2srAeMjxAemQKishIBAYEGx4H3aGNtSdbiI6zLF+g+zfYv+dV+cPoPs32NT86r85s2fJvMpyXy5rG2bja/bI9/G2vknb6/qllfQfZvsX/ADqvzh9B9m+xqfnVfnNXfw38u2vkd41vUzaPQzZym4ov8atQjwJj8P0RwCEstJ7kEa1ap0Isecv7+G/k2V8jvGv6mV9CNm+yqfnVvnD6D7N9lU/OrfOau/hv5dlfI7xrepzPWe8eMOs948Z5teE8ex+g3PSes9/6w6z3jxnm4iXjYbnpPWe/9YdZ7/1nm14t42LuekdZ7xLlDGXHHhPK5o7Bx26q6n0W9Fv4PwP7mb0/7ZebiadpT3h6P1iavRZFq4uijagvcjtygtb/ACzk+sS5sfa5w9enWAvu3DEDmvBgO8qSJ3meT5tKRFomX0HPHOgP9Qa6YjqWID10aoyUmUFqiamwIGroPEd40HrmBxdOtTWrSYOjgMrDgQfPCYfRPofhsCGZBnrOSXqsPSNzfKo+6vcOPO88totMxh+j0NTSrp3i8ZmcY+fNd6U4dXwlYH7tNnHcUGYftPHesT0r+pO3kw+FakGG9rgoq8wh/wCIx7rae8iePdYnop0fE4usTaGv1iHWJkdYh1iby8uxr9YnotTZtOotCvVBqLRwdN9ymr1Da407NOHP9/I+sTpdqdK7PhKmEdlehh0pvcEAsLZlI+8pt5Mzbm7aMVrE59nS9FNt1MVj89SwApVAiD7KL6Og7TwuefusJxuFxGqe9f4m39K8EleljaKPTqm4xFAL6DBhZmR+AbgeV7cje71x2wFqb8HEkhs4o5Xy5r3A1FrX5ZrSROG7U3xETaOU/m7ljTp1sQa3DEVaWHHfegCB8czCYnRDDDCtVavxauMJTvzN7kjuOh/6Zy/S3pimJShucyutRqzggjK+gpAH7xCk3PdF6XdMkxD4Y0LgUrVXBBH1xI0145QDrwOaZiJdrXpu3eXT73TUxWo4XdUq64duu1ae8chVCqtRhckG18o/SSbGfEjE0BVx9HEqWcZKdRGIO5qHMQFGmhHxEzdq9KNkYhGp1WxAVqoreijA5t2E4695+Mo7M2xsbDVqdai2Jupa+ZSRlam44W43KwcomMTyj3/Q9dr7WZr0ziWBY5fqrqddNclrfGdoSu9r5bX3uDz29clP4yzzDZnTXFUaikVWekrf8I5bFLn0eFwbcO+dFh+lmzqTVmp1KxFavRrENTclSrqaguTqNLjw7JZhNK0eM/j+i90ioJjBWq4cWr4d3p1aY4uiMyq47TZf3HITS2tjHpYWpUpsUYYbB2YWuLu4PHuJnm9LpK1HG1MVQJIatVbKbjPTeoWysOVwR7jadftDpnsyuKqVWrCnUp0V9FCCCju5Hwuovw4xJWazNp6TP88ydEtuVsTVbDYhzWp1UcEMFuCBe4IHk2lT+oFTLiKYv/6el/3VJWHSPZuERzs9Kz13UotSroKYPE6/A2A1sNYv9+2Xi6VIY816Vakgpl6YZg4XgdFb36jS5l8csTGabJtmUtSt/wDylP8A8v8A/NpzvWJd6S9IMK1GlhMEjijTY1Gd9GdyCBodfvHjblpYTm+sSxLhq0jMR5Q1+sQ6xMjrEOsTWXPY1+sQ6xMjrEOsRk2NfrEOsTI6xDrEZNjzu8M0ITzvtC8LwhALwvCEAvAmEIG5sza4sEqGxGgY8x3981N/CE3WXk1aRE5jxauwelWMwRPVqtlJu1Jxnpk9uW4KnvUi/O86DE/1Y2iy2RMNTPNglRj8Az2B994QlxDMXtEYiXH4vaFWq7Va1RqtRvtOxuT2DsA7ALAcpFvoQlYmMjfQ30IQYG+hvoQgwN9DfQhBgb6G+hCDA30N9CEGBvob6EIMDfQ30IQYG+hvoQgwN9DfQhBgb6G+hCDA30N9CEGBvob6EIMP/9k=
Sumber gambar: www.youtube.com
Saya tidak akan melakukan kritik terhadap mereka. Saya tidak akan memberi penilaian apapun karena saya tidak punya otoritas yang demikian. Saya mengapresiasi karya mereka yang dimuat dalam album THE BEAST OF PAS pada tahun 2006 silam. PAS Band membuka cakrawala musik mereka dengan tidak kehilangan ciri khas yang sudah terlanjur menjadi trademark. 

Saya kagum pada PAS Band, dalam satu wawancara mereka tidak berpikir panjang dan tanpa ragu untuk take vocal dengan BCL ketika ia menyatakan keinginannya untuk bernyanyi. It's not a mainstream anyway but they did it and it was a success. BCL sendiri dalam konser tunggalnya berterima kasih pada PAS Band karena sudah membuka jalannya untuk jadi penyanyi. 

Kadang, suatu hal yang terjadi begitu saja dengan sangat sederhana. You want to sing? OK, you can sing with us, let's go make a record. As simple as that.

 
Cipayung, 8 Oktober 2018.

Selasa, 14 Agustus 2018

Prolog Satu Dekade

Agustus 2018. Tahu-tahu sudah bulan Agustus. Saya sudah merencanakan bahwa bulan Agustus tahun ini adalah perayaan satu dekade blog Selendang Warna. Sesuai rencana, bulan Agustus ini saya melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Saya akan menuliskan perjalanan blog ini dalam enam bagian tulisan. Khusus untuk perayaan satu dekade. Saya tidak bisa membuat album seperti KLa Project untuk menandai sebuah eksistensi selama satu dekade. Belakangan, Afgan juga meniru hal yang sama dengan KLa Project.

https://cdn.calciomercato.com/images/2013-11/boban3.356x237.jpg
Sumber gambar: www.calciomercato.com

Awalnya, saya ingin semua berjalan sesuai rencana. Tetapi, kadang hidup tidak memberi kita kesempatan segampang itu. Sebuah kejadian besar menimpa keluarga besar kami. Bapak saya meninggal bulan Februari lalu. Kejadian itu mengubah segalanya, termasuk untuk blog ini. Bahkan, saya tidak menulis satu tulisan pun selama bulan Maret. Saya merasa kehilangan segalanya dan tidak ada lagi gairah untuk menulis. Soal ini baiknya dibahas lain kali saja.

Keinginan untuk menulis kadang-kadang muncul dari beberapa tulisan lama di telepon selular. Saya perlu mengubah pola tulisan saja sehingga effort yang dibutuhkan tidak terlalu besar. Selama masih bersifat personal dan kontemplatif, yang selama ini saya jadikan haluan. Namun, itu hanya terjadi pada beberapa tulisan saja. Sisanya menguap begitu saja digilas kaki sang waktu yang sombong.

Tiba-tiba sudah Agustus. Ingatan bawah sadar saya mengingatkan bahwa saya harus segera melakukan sesuatu. Tidak mudah. Sangat tidak mudah rasanya karena saya harus mengingat kembali pada satu titik dimana saya mulai berhenti menulis. Ya, setelah Bapak meninggal itu tadi.

Bila dilihat satu dekade ke belakang, saya bisa mereka-reka kembali, menyusun kepingan demi kepingan memori tentang momen apa saja yang sudah saya lewati. Semacam penanda zaman yang merekam apa saja yang pernah ada dalam pikiran saya. Ada rasa malu, bangga, senang, sedih, kecewa, dan segenap perasaan lain yang meliputi dan kadang masih bisa saya rasakan getirnya.

Semoga catatan pembuka ini menjadi penanda baru agar saya mampu mencapai tujuan saya di perayaan satu dekade blog Selendang Warna. Apapun itu, saya berharap bahwa apa yang telah saya lakukan selama ini ada manfaatnya untuk para pembaca. Terlebih, untuk diri saya sendiri sebagai wahana dokumentasi pikiran.

Bogor, 14 Agustus 2018.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...