Tampilkan postingan dengan label pernikahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pernikahan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Desember 2023

Cerita dari Pangandaran - Part 3 (habis)

Hari ini adalah pelepasan bagi 2 sahabat kami. Dua anak manusia yang cintanya dipertemukan oleh takdir. Apakah Tuhan sengaja membiarkan mereka mendapatkan takdirnya masing-masing? Bukan karena kebetulan semata?


Seorang dari kami tampak mengenakan busana warna putih dengan peci warna putih juga, berbalut kalungan bunga melati. Dialah sahabat kami itu yang mengundang kami dating ke pantai ini. Dari sorot matanya yang ada hanya ketenangan.Tidak terlihat adanya beban. Hari inilah yang akan jadi awal dari segalanya di fase hidupnya yang baru. Mengarungi samudera kehidupan rumah tangga yang Insya Allah berada dalam naunganNya. Insya Allah, satu kayuh berdua*).


Kami mengantarkan mereka hingga dihadapan penghulu. Do’a-do’a dan lantunan ayat suci selesai dibacakan. Tibalah saatnya mengucap ikrar yang taruhannya dunia akhirat. Rupanya ada yang terlewat. Dia mencobanya sekali lagi. Sah? Sah! Sah! Sah! Alhamdulillah.


Tangis haru mewarnai pagi yang belum terlalu panas itu. Kami menyaksikan dua sahabat kami mengikat janji mereka dalam sebuah ikatan pernikahan. Entah, apa yang terpikir di kepala kami? Apakah ada diantara kami ini yang sedang membayangkan rasanya seperti mereka berdua? Atau hanya berpikir: Setelah ini siapa lagi yah?


Tembang Rhoma Irama dari Grup Qasidahan menemani kami menyantap hidangan yang disuguhkan. Lalu berganti dengan grup Nasyid dimana sahabat kami juga ada disana ikut menyanyi. Ada yang harus segera berakhir. Kami naik panggung. Foto. Jeprat jepret. Pamit pulang.


Bukan liburan kalau langsung pulang. Masih juga sempat mampir di pantai barat menyeberang ke pasir putih. Yang tersisa hanya aku, Mamank, dan Herman. Kami bertiga hanya memandangi perahu yang semakin menjauh. Kami bisa lihat mereka semua selamat sampai tujuan.


Kami hanya melamun, membuat lubang, merokok, lalu berlalu untuk sholat. Selepas shalat di mushola yang panas itu, kami mendinginkan hati dan pikiran dengan kelapa muda. This is life!


Nggak belanja, bukan liburan! Sepertinya inilah yang ada di benak para pelancong perempuan ini. Karena terlalu lama, kami putuskan supaya orang Jakarta (orang besoknya kerja, di Jakarta lagi…) untuk berangka duluan. Aku disana ikut mereka.


Aku minta diantar ke terminal, just want to ask, Budiman ke Jakarta berangkat jam berapa, namun entah mengapa, aku memutuskan untuk terbang ke Bekasi. Ini adalah keputusan yang sulit. Aku meninggalkan teman-teman. Tapi, justru inilah inti dari perjalanan ini. AKu memilih naik Budiman Pangandaran-Bekasi.


Akhir sebuah perjalanan


Perjalanan ini sangat berarti untukku.  Perjalanan menempuh  kesendirian. Bukan sekedar perjalanan biasa. Perjalanan ini adalah untuk sebuah keinginan yang baru saat ini terpikirkan kembali. Kenapa harus selalu menunggu untuk memulai sebuah perjalanan? Kenapa tidak memulainya saja sendirian? Sendirian sampai tempat tujuan.


Perjalanan ini adalah suatu pertanda bahwa kadang dalam kehidupan banyak sekali variabelnya yang berubah-rubah. Hidup ini seperti rumus fisika atau kimia yang mengandung ketetapan didalamnya walau variabelnya berubah atau diganti. Perjalanan mengajarkanku untuk meraih tujuan dengan caraku sendiri. Dan betapa kadang dalam perjalanan juga semuanya bisa berubah walau masih dengan tujuan yang sama.



*) sebuah judul lagu dari Kla Project


Pegangsaan Dua, 22 December 2008, 15.54 

Tulisan ini berasal dari Notes di Facebook, diedit kembali tanggal 22 Desember 2023 untuk terbit di blog ini.

Cerita dari Pangandaran - Part 2



Sore di Pangandaran adalah sisa-sisa kerinduan. Dibawah langit yang mendung dan jalanan basah. Para wisatawan segera bersiap menyambut datangnya malam. Malam belum menjelang. Senja pun belum turun. Betapa bahagianya kami dapat berjumpa kembali sahabat seperjuangan dengan plat D. Tak lama setelah melepas rindu dan laporan sama yang punya hajat, kami segera menjelajah pantai.


Senja mulai turun dan gelap. Angin semakin kencang. Kami masih di pantai. Bermain-main dengan ombak yang saling berkejaran. Blitz dari kamera digital yang bagai petir itu menandai kami yang rada-rada narsis ini. Hujan kembali turun. Hujan mengusir kami kembali ke madrasah.


Selepas waktu Isya, rasanya perut ini mulai berteriak minta diisi. Betul saja, cacing-cacingnya sudah minta makan. Mereka teriak ingin makan seafood atau sekedar ikan baker. Tak hanya itu saja, mereka juga berteriak ingin makan di restoran yang ada TV-nya supaya mereka (lagi-lagi) bisa berteriak mendukung Firman Utina Cs yang sedang menjaga skor tetap 1-0.


Selama babak kedua itulah waktu makan kami. Indonesia kalah 2-1. Perut kenyang. Udang terkulai. Kerapu terbakar. Asap rokok mengepul. Heuaay. Pulang. Cari duren. Duren menyapa dihadapan kami. Sengaja kami menghadap pantai timur dalam gelap yang semakin pekat. Kacang rebus dan kamera masih jadi teman kami.


Tak lama, tiga orang sahabat menyusul kami. Semakin lengkap rasanya malam minggu ini. Sahabat, kopi hitam, kopi susu, kacang rebus, dan sepenggal kisah.


Ada kejadian yang membosankan ketika harus menemukan penginapan tempat para perempuan akan menginap. Sudah 3 kali keliling tapi tetap hasilnya 0 besar. Untung, Tuhan masih menitipkan tanda-tanda kekuasaanNya hingga kami pun tahu harus menuju kemana.


Kami, para lelaki, tiba di penginapan dan langsung membuka apapun yang kami bawa. Buka baju. Buka celana. Buka mulut (nguap tandanya ngantuk). Buka tas. Buka seleting (mau pipis…). Buka minum. Buka laptop nonton bokep (yeahhh..) Buka mata sampai jam 2 pagi. Sayangnya, DJ_arot sudah terkulai duluan. Perlahan disusul Christ, Mamank, Angga and Kubil.


Malam yang semakin dingin dan sedikit gerimis menutup cerita malam itu.

 

Pegangsaan Dua, 22 Desember 2008

Tulisan ini berasal dari Notes di Facebook, diedit kembali tanggal 22 Desember 2023 untuk terbit di blog ini.


Cerita dari Pangandaran - Part 1

Perjalanan malam hari ini diawali hampir dengan sebuah kesalahan. Sebuah kesalahan yang akan merusak irama perjalanan. 3 jam lamanya menunggu busway sampai Kampung Rambutan hampir saja berakhir ditangan Perkasa Jaya. Dibutuhkan sedikit keberanian dan kenekatan untuk melakukan perjalanan ini. Akhirnya, Budiman: Banjar –Jakarta Executive.

****

Menyusuri pagi hari sepanjang Banjar-Pangandaran adalah kehilangan. Kabut sepanjang perjalanan hanyalah teman. Hamparan sawah yang masih menghijau adalah kerinduan. Aku lihat kembali kehidupan yang biasa. Anak-anak pergi sekolah berjalan kaki. Petani ke sawah dengan sepeda tuanya. Para Pedagang pasar membawa dagangannya ke dalam bis.

Aku bisa menyaksikan itu semua setelah tertidur sejauh 30 km. Hujan yang turun di pagi itu membawa suasana basah dalam resah. Titik-titik hujan yang menempa kaca depan bus menghujam bagai perasaan di minggu sore. Perjalanan masih jauh. Aku coba untuk tertidur kembali namun aku tak bisa. Aku hanya bisa memandang keluar dengan sebuah harapan.

Aku tiba di Terminal Pangandaran tepat setengah tujuh pagi. Aku melihat lagi kehidupan yang biasa. Hujan gerimis belum mau reda. Bau basah pasir pantai mulai tercium. Ombak semakin kencang. Aku bisa dengar dari hembusannya. Hujan gerimis semakin besar. Pantai masih sepi. Barangkali, nanti siang aku akan kesana.

Ima menyambutku, begitu juga keluarganya. Aku memutuskan untuk tidak berangkat bersama teman-teman dari Jatinangor. Aku tiba disana bersama kakaknya yang menjemputku. Tiba-tiba aja aku bercerita banyak sekali pada Ima. Tentang pekerjaan (I hate to told it on the holiday), rezeki, cerita teman-teman., dan lain sebagainya. Aku bercerita dalam hujan yang semakin deras. Untungnya, Ima masih mau mengobrol denganku.

Siang ini, setelah tertidur lagi 2 jam, aku ingin ke Pantai. Sendirian saja. Ketika gerimis masih enggan untuk pergi aku kesana, Menyusuri sepanjang pantai barat sampai seorang kawan menelpon.

Siang pun segera membawa matahari dan membuka awan mendung. Langit tampak berawan. Kami berdua menyusuri pantai timur sampai akhirnya berhenti disebuah warung baso di Pasar dekat Terminal. Sesudahnya kami berdua masih saja berputar-putar di Pangandaran yang Cuma segitu-segitu saja. Sampai akhirnya kawan-kawan dari Bandung akan segera tiba.

**** end of part.1

 

Pegangsaan Dua, 22 Desember 2008

Tulisan ini berasal dari Notes di Facebook, diedit kembali tanggal 22 Desember 2023 untuk terbit di blog ini.


Rabu, 30 Desember 2015

A Reminder


A beautiful friend sent us a gift include the message inside the box. 

It's always a gentle reminder for us. Though, we've been through a year. May the force be with us. 


Dharmawangsa, 30 Desember 2015. 

Senin, 27 Juli 2015

Ted 2: Yes, Ted is Back!

There are no chicks with dicks, Johnny, only guys with tits.  
Ted

Courtesy: www.imdb.com
Sejak menonton seri perdana ‘Ted’, film ini sudah menyita perhatian dengan explicit content dalam ceritanya. Teddy Bear yang sangat spesial ini bukan sekedar boneka yang bisa bicara dan berinteraksi dengan manusia. Lebih dari itu, Ted kelihatan sebagai sosok manusia dalam bentuk boneka Teddy Bear yang lucu. Hanya saja, beruang lucu nan imut ini bukanlah sosok yang tepat untuk teman tidur anak-anak.

Sekuel ini menyoal personifikasi Ted. Masih diperankan oleh Seth MacFarlane, Ted dan kekasihnya, Tami-Lynn (Jessica Barth), akhirnya menikah. Setahun pertama pernikahan mereka berjalan normal. Memasuki tahun berikutnya, masalah mulai banyak mendera mereka. Serangkaian perselisihan dan cekcok adalah keseharian mereka hingga keduanya tidak saling bicara di tempat kerja.

Atas saran seorang teman, Ted berbicara mengenai keinginannya untuk memiliki seorang bayi. Sejak saat itu, keduanya mulai rukun kembali dan menjalani berbagai program demi mendapatkan keturunan. Masalah utama yang harus mereka hadapi selain Ted yang tidak memiliki penis adalah Ted dinyatakan sebagai properti, bukan sebagai manusia yang memiliki akal dan jiwa.

Courtesy: www.imdb.com
 Masalah yang pertama bisa selesai karena John (Mark Wahlberg) bisa membantu menjadi donor sperma setelah mereka gagal mendapat sperma milik Tom Brady, pemain NFL terkenal. Namun, tidak secepat itu. Ternyata, usaha yang mereka lakukan menjadi sia-sia karena tidak dibenarkan oleh undang-undang. Semua dokter yang mereka datangi menganggap Ted bukanlah manusia melainkan hanya sebuah properti sehingga tidak bisa mendapatkan donor sperma.

Atas dasar itulah mereka mengajukan tuntutan ke pengadilan agar Ted bisa mendapatkan pengakuan sebagai manusia. Usaha mereka berlanjut hingga menemukan sosok Samantha (Amanda Seyfried), pengacara yang mau membantu mereka atas dasar kesetaraan (equality). Sebelum persidangan dimulai, sudah ada konspirasi untuk memenangkan pihak tergugat dimana nanti bila Ted dinyatakan secara resmi sebagai properti, sebuah perusahaan mainan akan mengakuisisi hak ciptanya dan menjualnya ke seluruh dunia.

Ted kembali bertemu dengan musuh lamanya. Bila pembaca masih ingat di seri sebelumnya, si pengagum misterius ini hadir lagi dan menjadi bagian dari konspirator. Ted berhasil lolos dan melanjutkan persidangan lanjutan dengan mendapat bantuan dari seorang pengacara dengan reputasi meyakinkan, Patrick Meighan (Morgan Freeman). Teddy Bear memang dibuat untuk membuat bahagia semua anak-anak di dunia. Begitupun sekuel Ted ini, Ted mengalami sebuah happy ending. Ted dinyatakan sebagai manusia dan secara resmi diberikan hak-hak dan kewajiban warga negara kepadanya.

Catatan Singkat Kolumnis Dadakan

Anyway, ending semacam ini tentu mudah ditebak oleh para penggemar film. Tidak ada pula hal lain yang istimewa pada film yang dirilis tanggal 26 Juni lalu ini. Sayangnya, film ini bernasib sama seperti ‘Fifty Shades of Grey’ yang tidak tayang di Indonesia. Penikmat film khususnya penggemar Ted harus maklum karena tidak lulus sensor (menurut standar Badan Sensor Film).

Saya cukup menikmati setiap scene ‘Ted 2’. Kekonyolan tingkah laku Ted dan John Bennett adalah hiburan tersendiri bagi setiap penggemar Ted. Hal itu semakin menjadi-jadi kala Samantha si pengacara juga adalah penikmat ganja sehingga mereka bisa menikmatinya bersama-sama.

And you know what, jangan menonton film ini bersama anak di bawah umur. Saya khawatir mereka akan dewasa sebelum waktunya.


Judul           : Ted 2
Sutradara    : Seth MacFarlane
Cast            : Mark Wahlberg, Jessica Barth, Seth MacFarlane, Amanda Seyfried, Morgan Freeman
Durasi        : 115 menit
Tahun         : 2015
Produksi     : Universal Pictures
Genre         : Komedi Dewasa


Sentul, 27 Juli 2015.

Rabu, 18 Maret 2015

5 w 6 d


رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Furqon: 74)


Kebayoran Baru, 16 Maret 2015.

Sabtu, 28 Februari 2015

Kisah Tiga Negeri (5)

Message in the Bottle

Sudah jadi kebiasaan saya mengoleksi botol minum sejak mulai aktif mengikuti berbagai lomba lari. Kebiasaan itu juga yang mendorong saya untuk mengoleksi botol minum dari sebuah jaringan kedai kopi internasional. Sebut saja Sbux! (you’re very fond of it!).

Cukup sederhana memang, botol minum mereka bentuknya masih begitu-begitu saja namun perbedaannya cukup signifikan dari satu negara ke negara lainnya. They put a name of their city (or country) on the bottle. Satu alasan yang cukup untuk sebuah eksistensi.

Saya belum punya tumbler dari negerinya Lee Kuan Yew ini, maka satu target saya sepanjang perjalanan ini adalah mendapatkan botol minum dari kedai di Singapura ini. Kebetulan, di Vivo City ada outletnya. Saya membeli satu botol berwarna oranye seharga SGD 20 yang sudah termasuk satu large chocolate/tea/coffee pilihan. Saya memilih coklat panas dan langsung berlari menuju area check-in ferry Batam Fast.

Bad luck for us. Kami tidak mendapatkan jadwal ferry jam 3 sehingga harus menunggu satu jam lagi untuk ferry selanjutnya. Oke, sampai disini kami belum panik. Bahkan kami masih bisa menyeruput habis coklat panas dan sebotol air mineral.

Jam empat lebih kami naik ferry. Kami berdoa supaya tidak ada aral melintang dalam penyeberangan kami. Pesawat Garuda ke Bandung akan take-off pukul 17.30 WIB. Tak lama, kami pun tertidur dan terbangun ketika ferry akan merapat ke Batam Center. Sudah pukul 17.00 ketika ferry bersandar. Kepanikan mulai terasa ketika kami mengantri lagi di lajur imigrasi kedatangan. Entah berapa menit yang kami habiskan, kami pun segera mencari taksi menuju Bandara Hang Nadim. Oh ya, itu pun sudah pukul 17.30.

Kami tidak menemukan taksi resmi menuju bandara. Sehingga kami mau saja ketika seorang supir menawari kami. Tak banyak pikir, kami pun segera mengiyakan tawarannya. Harga taksi dari pelabuhan Batam Center menuju bandara Hang Nadim adalah Rp. 90.000,-. Kami mencoba menawar namun si supir bilang kalau itu harga resmi dari Koperasi Taksi disana.

The Delay

Supir taksi memang tahu kami terlambat dan ia segera mengebut. Saya tidak tahu apa yang ada di benak Ella. Ada guratan lelah diwajahnya. Untuk saya sendiri, seandainya memang kami terlambat check-in, saya rela menghabiskan semalam lagi di Batam. Tiket pesawat tidak hangus dan mudah-mudahan bisa dapat flight. Walau tentunya hal itu akan berdampak pada jadwal kami keesokan harinya di Bandung.

17.50 WIB kami sampai di Hang Nadim. Selesai bayar taksi, kami bergegas menuju counter Garuda Indonesia. Petugas disana bilang kalau kami sudah terlambat. Itupun ditandai dengan anggukan teman di petugas tadi yang menandakan bahwa kami sudah tidak bisa check-in. Oke, saya tidak akan mengalah walau terlihat mengemis untuk kebaikan mereka. 

Akhirnya, saya tanya status pesawat tujuan Bandung itu, apa sudah pushback, taxi, atau take-off. Si petugas nampak terdiam dan rekannya yang tadi itu mengangguk. Saya diperingatkan untuk tidak terlambat lagi pada penerbangan-penerbangan saya selanjutnya. Who cares, now where is your airplane? Boarding pass pun issued, artinya pesawat memang masih belum berangkat ke Bandung. Alhamdulillah.

Setengah berlari menuju boarding room. Eng ing eng. Now, there’s the airplane. Standing still on the apron. Kami tak henti-hentinya mengucapkan syukur. Pertanda Yang Maha Kuasa masih mendengar doa kami. Belum sempat kami duduk di ruang tunggu, sudah ada panggilan naik ke pesawat. Yeah! We are going home!

Jam 18.15 pesawat masih tidak bergerak kendati penumpang sudah mulai duduk rapi dan permen sudah dibagikan oleh pramugari. Tak lama, mesin pesawat dinyalakan. Saya sempat bertanya pada seorang pramugari yang bertugas. Memang di musim liburan tahun baru ini semua jadwal penerbangan GA mengalami efek domino dari delay pada penerbangan sebelumnya. Pesawat yang kami naiki pun bernasib sama setelah sebelumnya menerbangi rute Denpasar-Bandung, Bandung-Batam, dan kini Batam-Bandung.

18.30 pesawat berhenti sempurna di ujung runway Hang Nadim. Menunggu clearance dari ATC Officer untuk mengangkasa. Saya cukup lega. Begitu pun Ella yang melamun menghadap jendela kabin.

Life is Very Long



Satu hari ini terasa sangat panjang bagi kami. Sejak sarapan nasi goreng di hotel, jalan-jalan ke Masjid Sultan Abu Bakar, mengantri di Woodlands, lunch di Bugis, ketinggalan ferry di Harbourfront, hingga telat check-in di Hang Nadim. Time management is a must on your travel line. Itu pelajaran utama kami. Selanjutnya, choose the option for your convenient. Tentukan kenyamananmu sendiri. Seperti ketika kami membeli daily pass dan tiket ferry pulang-pergi di Hang Nadim.

Kami melewati langit yang sama seperti kemarin sementara pencarian QZ8501 masih diteruskan. Guncangan terasa di beberapa titik. Perjalanan ini tak lama lagi segera berakhir. Ketika akhirnya kami landing di Husein Sastranegara, tak ada kata selain ucapan syukur. Kami pun sudah terlalu lelah untuk berfoto wefie. Keluar bandara, kami pun berjalan kaki santai menuju tempat pemberhentian angkot.

Saya bersyukur karena dengan selamat sentosa berhasil menyelesaikan perjalanan 'Satu Hari, Tiga Negeri' bersama Istri tercinta. Masih ada perjalanan lain yang akan kami tempuh. The story has to ends where it’s begins. Menyisakan cerita pada ingatan yang tak lekang. Au revoir.

Bandung, 2 Januari 2015.

Kisah Tiga Negeri (4)

Menikmati Johor

Ada banyak tujuan yang ingin kami nikmati selama di Johor ini. Sebut saja Lego Land atau Hello Kitty Town. Namun, karena memang lokasi keduanya sangat jauh dan waktu tinggal kami yang cuma semalam, saya dan Ella urung pergi kesana. Barangkali nanti kami harus menyediakan waktu lebih banyak.

Masjid Sultan Abu Bakar, Johor Bahru

Tujuan kami hari ini sebelum pulang adalah Masjid Sultan Abu Bakar. Kebetulan hari ini adalah hari Jum’at barangkali ada sedikit keramaian menjelang shalat Jum’at, perhaps. Selebihnya, karena memang tidak ada lagi objek wisata terdekat dari penginapan kami. Saya sendiri tidak mencari tahu lebih dahulu mengenai sejarah Masjid ini. Hanya beberapa review yang saya baca mensyaratkan kami supaya mampir kesana.

Kami pun segera melaju dengan taksi usai check-out. Suasana pagi yang saya kenal. Bedanya, disini lebih sepi sehingga menghadirkan perasaan tenteram. Tidak seperti di Kuala Lumpur dimana kita harus menyesuaikan diri dengan derap langkah khas ibukota. Kami membayar taksi seharga RM 7 untuk sampai ke Masjid.



Masjid Sultan Abu Bakar terletak tepat di tepi Selat Johor. Masjid ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan lain. Diantaranya adalah Mahad dan sekolah. Pemandangan sekitarnya cukup menyenangkan dan melegakan. Hamparan lautan biru beradu dengan daratan Singapura di tapal batas horison.



Saya segera mencari posisi yang tepat untuk mengambil foto. Kebetulan matahari bersinar terik di langit Johor. Kami berfoto di sisi Masjid yang menghadap ke laut. Kami hanya punya waktu setengah jam disini. Kami tidak ingin terlalu lama lagi berada disini sehingga terlambat menyeberang ke Singapura dan Batam.



Sesi foto selesai. Kami telah mengemas kenangan di Masjid ini. Waktunya kembali ke JB Sentral di pusat kota. Rupanya, Johor tidak hanya memberi kenangan sebatas gambar. Kami masih harus menunggu 15 menit untuk dapat taksi yang mamu mengangkut kami ke JB Sentral. Kami menunggu di tepi jalan yang sepi. Hanya beberapa kendaraan yang melintas setiap lima menit. Beruntung, ada taksi yang searah dengan kami.



Setibanya di JB Sentral, kami segera naik bis tujuan Singapura. Kami menuju Bangunan Sultan Iskandar dimana terdapat kantor imigrasi Johor Bahru. Kami hanya perlu lima menit untuk urusan cap paspor. Saya dan Ella naik bis tujuan Kranji dengan tarif RM 1 atau SGD 1. Terserah mau pake mata uang yang mana.

Menuju Singapura

Menjelang pukul sepuluh pagi, rupanya jalan tol menuju Woodlands dilanda kemacetan. Mungkin saja, hal ini disebabkan usainya liburan tahun baru sehingga terjadi arus balik dari Johor menuju Singapura. Sebelum tiba di Woodlands, kami sudah turun dari bis dan berjalan kaki menuju kantor imigrasi Singapura.

Kejutan belum berhenti. Setelah mengisi form imigrasi, kami menghadapi antrian lagi. Antrian yang baru mencapai giliran kami satu jam kemudian. Masih ada lelah di wajah kami berdua. Kami memang ingin segera beristirahat. Maksudnya, segera tiba di Singapura, makan siang, lalu pergi menyeberang ke Batam. Well said, kami menghabiskan satu jam ini dengan mengantri sambil mengobrol.

Jam sebelas waktu kami naik bis ke Kranji. Tidak ada yang berubah disana. Warung nasi yang menjual makanan seharga SGD 2 masih tetap buka dan antrian penumpang KRT masih sama seperti kemarin-kemarin. Kami salah naik kereta. Kami naik ke arah Woodlands sehingga harus menunggu kereta selanjutnya. Perjalanan pun terasa lambat. Setengah satu siang kami tiba di Dhoby Ghaut. Kami Ella masuk antrian untuk menukarkan 2 kartu daily pass yang kami beli kemarin lusa demi mendapatkan deposit SGD 40. Lima belas menit saja dan itu cukup membuat kami kalang kabut menuju Stasiun MRT Bugis untuk membeli oleh-oleh di Bugis Market.

Lunch at Bugis

Dengan alasan waktu yang merambat, saya menganjurkan Ella untuk tidak mengelilingi pasar. Cukup beli di kios yang dulu pernah saya sambangi. Urusan oleh-oleh selesai. Sudah jam satu lebih dan kami harus makan siang sebelum melanjutkan perjalanan. Perut kami sudah minta diisi sejak mengantri di Woodlands.



Kami makan di food court seberang Bugis Market. Kami memesan nasi rames ala Singapura. Menunya cukup lengkap untuk harga SGD 3. Untuk minum, saya membeli dua gelas jus buah yang segelasnya berharga SGD 1 di Pasar Bugis. Beberapa warga dan anak sekolahan duduk di meja sekeliling kami. Yang mengagetkan, tempat makan ini menyediakan menu tambahan yaitu petai!
Perjalanan berlanjut. Kami kembali ke stasiun MRT Bugis untuk segera meluncur ke Harbourfront MRT Station.


Bandung, 2 Januari 2015.

Sabtu, 21 Februari 2015

Kisah Tiga Negeri (2)

Menuju Negeri Lee Kuan Yeuw

31 Desember 2014. Hari terakhir tahun ini. Saya tidak pernah menyangka bahwa saya akan mengalami perjalanan ini. Melakukan pergantian tahun di negeri orang. Memang tak jauh, hanya di negerinya Lee Kuan Yew. Namun, perjalanan memang selalu membawa kita pada sesuatu yang baru. Terlebih, saya ditemani istri tercinta kali ini.

Kami tidak punya agenda apapun untuk malam tahun baru ini. Pagi ini, kami harus segera berangkat menuju Batam Center. Agak sedikit terlambat karena kami terlalu menikmati kemalasan pagi hari. Kami baru check-out sekitar pukul 08.30 bersama pasangan asal Singapura yang mengajak kami untuk menyewa mobil (sharing) bersama. Ide yang bagus. Kami membayar bill hotel plus Rp. 80.000,- sebagai harga sewa mobil.

Laki-laki asal Singapura itu menebak tujuan kami adalah negerinya. Betul, kami memang akan kesana. Akhirnya, si perempuan ikut bicara dan memberi tahu kami spot-spot bagus untuk menikmati malam pergantian tahun disana. Vivo City Mall dan Marina Bay Sands sudah jelas masuk dalam daftar mereka.

Kami berpisah di Batam Center. Mereka boarding menuju antrian ferry Wave Master sedangkan kami menuju counter Batam Fast. Saya dan Ella sempat tertahan sepuluh menit disini karena antrian yang lumayan panjang. Tidak masalah karena masih ada setengah jam menuju keberangkatan walau sempat khawatir tidak kebagian jadwal penyeberangan jam 10.00 WIB. Kami lalu menuju area pengecekan imigrasi. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Saya menangkap senyum petugas yang tadi menyuruh kami untuk pergi ke counter Batam Fast untuk check-in. Maklum, kali ini saya tidak dibantu agen perjalanan :D .

Perjalanan menggunakan ferry ditempuh selama satu jam. 15 menit lebih lama karena kondisi ombak dan cuaca yang gerimis. Pada misi penyeberangan kali ini kapal ferry kami tidak didatangi petugas patroli perbatasan. Agak sedikit kaget ketika penyeberangan saya yang pertama sempat diperiksa oleh polisi.

Wilkommen en Singapore!



Cuaca agak sedikit cerah dan matahari mulai terlihat. Sisa-sisa gerimis masih membekas ketika Ella menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Harbourfront, Singapura. Kami segera menuju antrian imigrasi yang memang sudah padat oleh penumpang dari ferry sebelumnya. Seperti biasa, saya menjumpai lagi petugas imigrasi yang cekatan membuka jalur antrian. Kami menghabiskan waktu 15 menit untuk menyelesaikan urusan cap paspor.

Karena sudah dekat dengan Sentosa Island, Ella minta untuk segera menuju kesana. Ada beberapa pilihan untuk menyeberang ke Sentosa. Ada kereta gantung dan kereta shuttle dari Vivo City. Jalan kaki pun bisa. Namun, akhirnya kami urung pergi kesana. Kami tidak ingin kehabisan waktu disana. Maka kami pun hanya duduk-duduk santai di teras Vivo City Mall berteman angin laut sambil mencoba kamera DSLR pertama saya.

Selain liburan, pada perjalanan kali ini juga saya dibekali oleh perlengkapan baru. Sebuah kamera DSLR buatan Nikon dan tripod jadi teman seperjalanan. Selain kamera pocket Lumix FH-4 tercinta, tentunya. Saya belum banyak belajar fotografi digital sehingga perjalanan ini akan jadi momen latihan.

Saya segera memasang tripod dan mengambil beberapa foto di pinggir pantai. Saya juga mencoba beberapa fitur kamera. Saya akan menghabiskan banyak jepretan selama perjalanan ini karena saya ingin tahu sejauh mana penguasaan saya atas kamera DSLR. Usai puas berfoto dan rehat sejenak meredakan mabuk laut, kami beranjak lagi menuju stasiun MRT di underground Vivo City. Tujuan selanjutnya adalah Merlion Park. Saya akan mengajak Ella menuju Singapore’s trademark sekaligus mengesahkan perjalanan pertamanya kesini dengan berfoto latar Singa Merlion.



Kami membeli tiket daily pass seharga SGD 24. Jaminan SGD 20 akan didapatkan bila menukarkan daily pass pada saat habis masa berlakunya. Ini adalah satu cara yang bagus apabila kita puas jalan-jalan seharian di Singapura. Kita tidak perlu repot lagi untuk mengantri tiket. Tiket daily pass ini juga berlaku untuk semua moda transportasi, tidak hanya terbatas pada subway MRT.

Merlion is a Must!

Pada stasiun tujuan pertama, kami salah turun. Kami pun kembali ke Vivo City Mall dan mengambil rute menuju Raffles Place, dimana kami harus transit di stasiun Dhoby Ghaut. Kami pun akhirnya tiba di stasiun Raffles Place dan berjalan menuju Merlion Park.



Sudah menjadi keharusan bahwa berfoto dengan Merlion adalah semacam stempel yang mengesahkan kedatangan kita di negeri ini. Seakan tertulis dalam kitab suci bahwa Merlion adalah ritus khusus yang wajib didatangi. Ini terjadi lagi pada kami. 2013 lalu saya berfoto disini bersama kawan-kawan kantor. Kali ini, saya bersama dengan istri tercinta mengabadikan momen bersama Merlion dan Marina Bay Sands Hotel.


Hari pun beranjak menuju senja. Kami berjumpa dengan seorang perempuan dari Indonesia yang sedang menunggu temannya untuk menikmati tahun baru di Merlion Park. Ia hanya akan duduk-duduk saja disana seraya menunggu lalu kembali ke Indonesia pada pagi pertama di 2015. Kami pun pamit dan berjalan menuju Raffles Place.



Kami melepas lelah dengan menikmati es krim ala Orchard. Bedanya, yang ini tidak pakai roti tapi pakai kue waffel kering. Harganya pun masih SGD 1, dimana harga es krim ala Orchard mengalami kenaikan yang kini harganya menjadi SGD 1,2. Kami berdua pun tidak lupa untuk menghabiskan waktu berfoto bersama. Ada banyak spot bagus. Cukup pasang tripod, pasang timer, and smile!


Tak terasa sudah pukul 7 malam lebih, kami pun harus mengakhiri sesi foto outdoor hari ini. Seragam Merah Liverpool yang kami kenakan sepanjang hari ini sudah terekam dengan baik dalam kamera. Pertanda eksistensi ala couple yang sedang jadi trend belakangan ini. Ella memeriksa kembali booking hotel. Kami mendapat kamar di hostel backpacker, Lofi Inn Backpackers, yang berada di Hamilton Road. Batas check-in tertulis pukul 11 malam ini. Kami masih punya banyak waktu untuk menemukan alamat itu. Terlebih disaat kami benar-benar get lost tanpa handphone dan wifi.



Finding Hamilton

Keajaiban dimulai sejak kami naik MRT dari Raffles Place menuju Hamilton Road. Sebelum berangkat saya memang pernah mencari posisi hotel di Google Maps. Saya menandai patokan menuju ke hostel adalah dari Mustafa Center. Dengan demikian, berangkatlah kami menuju stasiun MRT Little India.

Setibanya di Little India, saya dilanda kebingungan karena tidak bisa menemukan posisi Mustafa Center walaupun sudah bertanya pada polisi yang berpatroli. Kami terus berjalan menyusuri jalan besar. Saya melihat Ella sudah lelah. Saya pun demikian. Tanpa disadari, kami mengalami adu argumen kami yang pertama disini. Kami sudah mulai lapar ketika menemukan sebuah warnet. Aha!
Kami mencoba mencari lokasi hotel dari tempat kami ngewarnet. Kami membayar sewa SGD 1 untuk 30 menit. Dari warnet, kami hanya perlu tinggal mengambil jalan lurus menuju Hamilton Road. Akhirnya, the problem solved! Waktunya cari makan.

Kami pun menjatuhkan pilihan pada restoran di perempatan jalan sekitar 800 meter dari warnet. Walaupun melabeli restorannya dengan masakan India, namun restoran ini menyediakan variasi yang cukup lengkap. Ada nasi goreng dan capcay, serta masakan khas Melayu dan Thailand. Kami pun memesan seporsi capcay yang cukup untuk berdua dan roti canai berkuah gulai. Kami menghabiskan SGD 12 untuk dinner yang cukup menyenangkan ini.



Kami berjalan kembali menuju Hamilton Road yang terletak di ujung jalan. Perasaan lega seketika menyeruak. Ah, betapa ingin kami segera merebahkan diri sebelum menyaksikan pesta kembang api yang katanya ada yang digelar di dekat lokasi hostel. Lofi Inn yang kami cari pun tak begitu susah ditemukan. And you know what, shit starts from here.

Sometimes, Life Left You Unanswered



Setibanya di Lofi Inn kami segera check-in, petugas resepsionis hostel sudah bersiap untuk pergi. Ia sudah ditunggu temannya, mereka akan merayakan tahun baru. Katanya, dua orang petugas pengganti shift sudah ada dan sedang bersiap-siap di belakang. Kami menunggu kembali. Beberapa tamu yang datang sebelum kami pun tampak kesal. Perasaan saya mulai tidak enak. Kami pun menunggu hingga menjelang pukul 11 malam. Tak terasa sudah satu jam lebih.

Pukul 11 malam, tidak ada petugas hostel yang dapat dihubungi. Lima belas menit kemudian ada dua orang petugas yang dengan gagahnya memberitahu para tamu bahwa Lofi Inn mengalami kerusakan sistem reservasi sehingga tamu yang membooking kamar via agoda.com dan booking.com tidak bisa mendapatkan kamar yang memang sudah penuh. Mereka meyakinkan kami untuk segera mencarikan hostel pengganti di sekitar lokasi yang berdekatan. Setahu saya, ketika kami tiba di Hamilton Road memang ada beberapa hostel lain. Mungkin juga mereka sudah penuh apalagi ini sekarang adalah malam tahun baru.

Menjelang menit-menit pergantian tahun, kami belum juga dapat kepastian. Sementara si petugas semakin kewalahan mencari hostel pengganti. Kami diperbolehkan menggunakan fasilitas kamar mandi hostel. Saya dan Ella bergantian cuci muka dan sholat. 

Akhirnya, kami menikmati kembang api dari kejauhan saja. Kami masih belum dapat kepastian tempat tinggal malam ini. Dari jendela yang mengarah keluar di lantai tiga Lofi Inn, saya melihat kembang api di kejauhan. Sementara Ella berada di bawah bersama tamu-tamu lain yang membaur. Beberapa tamu mengucapkan Happy New Year pada yang lainnya. Saya melihat harapan baru tumbuh di mata mereka.

Kami pun mendapatkan kamar, seorang petugas membawa saya dan Ella ke penginapan sebelah. Kira-kira 4 ruko bedanya dari Lofi Inn, sebuah hostel backpacker berjudul Pillow Talk. Saya meminta ranjang yang sama dengan Ella setelah meyakinkan di penjaga sekaligus owner Pillow Talk. Namun, karena ada seorang kawan perempuan lain dari Indonesia yang juga tidak kebagian kamar di Lofi Inn, saya harus rela tidur terpisah dari Ella.

Kamar hostel untuk backpacker termasuk unik. Satu kamar bisa diisi hingga 16 orang dengan tempat tidur ganda (atas-bawah). Saya kebagian di ranjang atas yang cukup nyaman. Saya harus rela menikmati malam pertama saya tanpa istri disamping. Namanya juga hostel backpacker. Kalau pengen enak ya kenapa nggak tinggal di Fullerton, ucap saya dalam hati.

Satu pelajaran telah kami alami soal booking hotel via external channel seperti agoda dan booking.com. Ella menduga kejadian yang kami alami ini adalah trik marketing dari sekumpulan pengusaha hotel agar mendapat kue yang sama sepanjang perayaan tahun baru.

Malam semakin meninggi. Pesta telah usai. Ledakan kembang api sayup-sayup masih terdengar dari kejauhan. Sementara itu, backpackers lain mulai berdatangan dan segera tidur. Perjalanan saya dan Ella belum akan berakhir. Kami masih akan menikmati Singapura seharian. Rencananya kami akan pergi ke Singapore Zoo lalu sorenya kami menyeberang ke Johor Bahru, Malaysia.

Mata saya mulai berat. Barangkali, Ella pun begitu. Terima kasih Tuhan untuk perjalanan kami hari ini.

Johor Bahru, 1 Januari 2015.

Kamis, 29 Januari 2015

Kisah Tiga Negeri (1)

If travel teach us how to see, why all I see is you? (Anonim)

Prolog

Konon, cara terbaik untuk mengetahui karakter seseorang adalah dengan melakukan perjalanan bersama. Beberapa hari menjelang hari pernikahan, kami memutuskan untuk tidak menikmati liburan dengan hanya berdiam diri ‘mager’ di rumah. Terlalu sayang bila kesempatan ini dibiarkan berlalu begitu saja. Dengan begitu, maka proses pengenalan kami sebagai suami-istri akan semakin intens. Untuk saya dan Ella hal ini tentu jadi satu pengalaman baru mengingat perjalanan kami ini melintasi beberapa negara. Tentu dengan beberapa kesulitannya sendiri. Let’s see how we solve those problems on the road.

Selasa, 23 Desember 2014, di sela-sela waktu training, saya mencoba mencari tiket penerbangan ke beberapa negara tetangga sambal berharap mendapat tiket promo atau harga yang pantas. Saya sendiri sangat paham bahwa merencanakan perjalanan untuk akhir tahun harus dibuat jauh hari sebelumnya. Saya berharap punya sedikit keberuntungan untuk mendapatkan tiket murah (dengan harga yang realistis tentunya) untuk ‘liburan dadakan’ kami.

Saya sempat sedikit patah harapan karena tidak ada penerbangan yang harganya sesuai dengan budget kami. Rencana pun kami rubah dengan melakukan perjalanan jarak dekat saja. Menatap senja di puncak Semeru jadi pilihan kami. Saya belum setuju dengan ide Ella itu sampai saya teringat sebuah iklan yang dipasang di satu perempatan jalan. Crash, boom, bang! Yeap, saya mendapatkan tiket promo Garuda Indonesia tujuan Bandung-Batam PP untuk 2 orang. Let’s go abroad, darling!

Masih dengan jantung yang berdebar usai menuntaskan pembayaran lewat kartu kredit, saya segera mengirim copy email e-ticket ke Ella. Tak lupa seraya mengingatkan Ella untuk membooking hotel di kota-kota yang akan jadi tujuan kami. Saya bersyukur, Ella segera mendapatkan konfirmasi hotel via booking.com. Again, that’s how credit card saves your life! Itinerary sudah didapat dan kami masih harus bersabar karena hari pernikahan masih pada akhir pekan ini. At least, kami sudah punya kepastian kemana kami akan pergi menghabiskan sisa hari libur akhir tahun sekaligus merayakan tahun baru 2015.

30 Desember 2014: The Departure



Hari pernikahan kami, 27 Desember, telah berlalu. Beberapa kerabat sudah pulang kembali ke kampong halaman untuk memulai hari kembali. Sementara, kami juga masih harus membereskan beberapa hal seperti mengembalikan busana adat beserta perlengkapannya. Saya dan Ella sendiri cukup disibukkan dengan mengatur penyimpanan hadiah dari undangan yang hadir.

Persiapan keberangkatan pun kami buat sesederhana mungkin. Selain pakaian, saya membawa perlengkapan standar wajib traveling seperti kamera, tongsis, dan tripod. Saya pun tidak jadi membawa perlengkapan lari walaupun sebenarnya ingin membuat personal record lari di tiga negara berbeda.

Selasa ini kami menyelesaikan pengembalian beberapa perlengkapan busana adat ke satu alamat yang berada di dekat rumah nenek saya. Saya dan Ella langsung siap-siap membawa perlengkapan dan perbekalan untuk perjalanan kami. Kami minta diturunkan di Bandara Husein Sastranegara.

Usai pamit, kami segera menuju ke counter check-in dan menemukan pintu masuk kesana ramai oleh para pengantar yang ingin ikut masuk ke dalam area keberangkatan. Untuk yang satu ini, Indonesia Banget! Kami lantas pergi sholat dulu di mushola. Antrian masih memanjang ketika saya dan Ella akan masuk. Rupanya, masih banyak pengantar yang keukeuh ingin masuk walau sudah dihadang petugas.

Sesampainya didalam, kami menuju meja petugas check-in Garuda Indonesia. Pesawat kami belum tiba. GA336 yang akan membawa kami ke Batam masih dalam perjalanan menuju Bandung dari Denpasar. Selama menunggu, kami mampir ke Starbucks dan memesan Green Tea. Rasanya sangat special karena ini adalah pengalaman pertama istri saya dengan Starbucks :D.

Tak lama setelah minuman kami habis, pesawat Boeing 737-800 PK-GMN parkir di apron dan penumpang dipersilakan naik. Tepat pukul 14.55 pesawat mendaki langit ke arah barat, menuju horizon tanpa batas. Seperti biasa, saya segera menyalakan perangkat inflight entertainment dan memilih lagu-lagu pilihan untuk menemani perjalanan.

Perjalanan dengan Garuda Indonesia ini juga dari pengalaman pertama Ella. Maka, saya tidak keberatan untuk mengajarinya beberapa cara menggunakan perangkat hiburan. Ketika Ella mulai mahir kami pun sibuk dengan hiburan kami masing-masing. Kami sempat agak khawatir dengan penerbangan ini karena factor cuaca yang jadi satu contributing factor pada kecelakaan AirAsia QZ8501. Kami pun makan siang diatas ketinggian 37.000 kaki dengan kabin yang bergoyang.

Batam!

Kami landing di Bandara Hang Nadim Batam pukul 16.40, tepat waktu sesuai jadwal. Sebelum menuju pintu keluar, kami mampir dulu di counter tiket Batam Fast untuk membeli tiket penyeberangan ferry ke Harbourfront, Singapura, esok hari. Sebagai catatan, saya menghemat Rp. 150.000,- dengan membeli tiket disini. Harga tiket di Sekupang atau Batam Center adalah Rp. 450.000,- pulang-pergi include tax. Saya membayar dua tiket dengan harga Rp. 600.000,- include pajak dengan pemilihan jadwal yang fleksibel pulang-pergi. Saya sarankan untuk membeli di counter bandara saja bila ingin menyeberang ke negerinya Lee Kuan Yew, praktis dan hemat.

Kami segera menuju hotel tempat kami akan menginap, Formosa Hotel. Pada kunjungan pertama saya ke Batam bersama rekan-rekan sepekerjaan, kami pun menginap di hotel ini. Letaknya yang berada tak jauh dari pusat perbelanjaan Nagoya memudahkan kami untuk membeli sekedar bekal untuk perjalanan besok sekalian jalan-jalan sebentar.

Kami menghemat tenaga untuk besok dengan harapan bisa menjelajahi Negeri Singa seharian penuh menjelang malam pergantian tahun masehi. Kami menikmati malam yang semarak di Batam. Suasana tahun baru sudah terasa. Semoga tahun baru membawa pengalaman baru bagi kami.


Batam, 30 Desember 2014.

Sabtu, 10 Januari 2015

The Day We Find Love (Once Again)

I finally found someone, someone to share my life...
I finally found the one, to be with every night...
My life has just began, i finally found someone...






Bandung, 27 Desember 2014.

Kamis, 25 Desember 2014

H-2

It's getting closer. I didn't even remember  what really happened in past years. Come away with me. The best is yet to be. 


Pharmindo, 25 Desember 2014. 

Senin, 01 Desember 2014

Catatan Hati Pengantin

Barangkali benar, tidak ada yang bisa menyiapkan diri kita lahir batin sebelum memasuki gerbang pernikahan. Karena memang tidak pernah ada institusi pendidikan yang membekali seseorang untuk benar-benar siap mengarungi bahteranya.



Harus saya akui bahwa membaca buku bertema pernikahan adalah satu persiapan yang baik bagi calon pengantin. Melalui buku ini, pembaca diajak menyelami gambaran perjalanan kehidupan pernikahan. Segenap jatuh bangun usaha, turun naik gelombang kehidupan, pasang surut kasih sayang, dalam keseharian pernikahan digambarkan disini.

Ada beberapa nama yang saya kenal yang berkontribusi dalam kumpulan cerita ini. Sebut saja, Novia Syahidah, penulis buku "Titip Rindu Buat Ibu" dan Sinta Yudisia yang juga penulis beberapa buku bestseller. 

Saya mendapatkan gambaran yang lebih nyata bila dibandingkan dengan buku bertema serupa "Sakinah Bersamamu", masih dari penulis yang sama. Ada sepuluh bab yang menghimpun keseharian kehidupan pernikahan. Dimulai dengan hal-hal yang utama dalam pernikahan, yaitu kesehatan dan perekonomian keluarga. Kemudian, perihal rindu terhadap pasangan dan pekerjaan rumah tangga pun jadi bab tersendiri. Selanjutnya, tidak kalah dalam penting adalah pentingnya memilih tempat tinggal serta adanya orang ketiga dalam kehidupan pernikahan.

Memasuki bab-bab akhir, pembaca dihadapkan pada hal-hal yang berkaitan dengan komunikasi situasional dalam pernikahan. Betapa komunikasi antar individu sangat berpengaruh dalam kehidupan rumah tangga pernikahan. Komunikasi yang terjalin pun tidak hanya dalam lingkup keluarga kecil saja, komunikasi dengan mertua dan kerabat juga menjadi fokus yang harus diperhatikan oleh setiap pasangan. Hingga akhirnya, ditutup oleh bab mengenai kehilangan yang disebabkan oleh maut.

Pada setiap akhir bab, ada satu konklusi sebagai bahan renungan dari penulis. Perbandingan pengalaman penulis dan para pengisi cerita menjadi satu nilai plus tersendiri. Saya mengambil banyak manfaat dari buku ini. Saya jadi lebih sadar akan hal-hal yang akan saya hadapi dalam kehidupan pernikahan nanti. Terakhir, saya berterima kasih karena buku ini telah membantu saya menghadapi berbagai kekhawatiran menjelang pernikahan yang tinggal menghitung hari.


Paninggilan-Medan Merdeka Barat, 30 November 2014.

Kamis, 27 November 2014

Surat dari Sanur (3)




My Dearest Ella,

Today must be a long long day for you. Saya tidak tahu apakah engkau sudah sampai ke Jakarta ketika surat ini mulai ditulis. Sejak kereta rel listrik Jakarta - Bogor selalu menyanyikan lagu yang sama. Kereta tiba pukul berapa...

Saya terbangun pagi ini dengan kalender yang menunjukkan tanggal 27 November. Tidak ada apa-apa memang dengan tanggal ini. Hanya saja, ketika saya terduduk lesu penuh kantuk di kloset, tiba-tiba saya teringat pada rencana kita satu bulan lagi sejak hari ini. Hari pernikahan kita semakin menjelang. Bagai gelombang yang menghantam karang.

Siang tadi hujan deras mengguyur Bedugul. Saya tidak mendapatkan apa-apa disana selain basah. Kami hanya menemani rekan kami dari Bhutan itu. Mereka ingin pergi ke tempat eksotis seperti itu. Saya melihat rona bahagia dari pancaran sinar mata mereka. Mereka nampak berbahagia walau hujan deras enggan berhenti sejenak. Keindahan danau yang dikelilingi Pura ini tertutup kabut pula. Mirip Situ Patenggang di Ciwidey sana.

Menjelang sore, kami pergi lagi ke Tanah Lot. Tanah Lot jadi satu tempat lagi yang ingin mereka kunjungi. Dawa menunjukkan foto-foto Tanah Lot hasil Googling kemarin. Ia minta tolong agar saya dan Pak Bambang bicara pada panitia agar diberikan waktu untuk berkunjung kesana. Akhirnya, kami pun pergi kesana. Hujan sudah reda. Namun senja seperti di Sanur kemarin memang langka adanya. Awan tebal yang entah kumolonimbus atau stratokumulus menghalangi keindahan senja. 

Malam ini, bulan sabit bersinar terang. Seperti menggantung di atas lautan tenang. Saya tidak tahu apakah engkau disana memandangi bulan sabit yang sama di langit yang sudah terlalu tua. Saya berjalan-jalan sebentar di tepi pantai usai makan malam. Saya harus mengakui bahwa saya pun mengalami tekanan untuk menyiapkan hari pernikahan kita. 

Dolly Parton pernah bilang, "If you want the rainbow, you gotta put up with the rain." Tidak ada sesuatu yang instan di dunia ini kecuali lautan yang membelah ketika Musa menyeberanginya atas izin Tuhan. Jika kita ingin melihat pelangi di ujung sana, kita harus melalui dan membiarkan hujan berlalu terlebih dahulu. Saya berharap, apapun yang kita usahakan-dengan segala kekhawatiran-akan menjadi pengantar yang sempurna bagi pelangi di ujung senja. Nanti, satu putaran purnama lagi.

Seperti biasa, bersama surat ini juga saya kirimkan riak debur ombak yang menghantam karang di Tanah Lot. Rinduku, lebih dari itu.

Selamat malam kekasihku, semoga malam indah temani nyenyaknya tidurmu.

Penuh rindu,


Affectionately yours.


Tanah Lot-Sanur, 27 November 2014.
H-30

Rabu, 26 November 2014

Surat dari Sanur (2): Episode Senja



Selamat malam kekasihku,

Akhirnya, saya menjumpai senja pertama di Sanur. Tadi pagi hujan deras dan siang begitu panas. Usai kelas sore tadi, saya berlari seperti biasa. Kemudian, masih dengan keringat yang bercampur asin laut, senja tiba perlahan. Mendekatkan cahayanya yang selalu menimbulkan perasaan ajaib. 

Rasanya, saya tidak perlu jadi seorang Sukab. Menggunting sepotong senja untuk kemudian mengirimkannya pada satu yang terkasih, Alina. Saya rasa saya tidak akan melakukannya untukmu. Bahaya besar akan menimpa umat manusia bila sampai senja di Sanur saya gunting dan paketkan supaya engkau bisa memajangnya di meja kerjamu. 

Cintaku,

Hari ini semua modul sudah selesai disampaikan. Artinya, tugas instruktur sudah selesai walau masih harus memeriksa ujian Jum'at esok. Percayalah, bahwa aku pun sebenarnya ingin pulang saja dan segera menemuimu. Berbincang santai denganmu seraya menyelesaikan semua persiapan untuk pernikahan kita nanti yang tinggal menghitung satu purnama lagi. 

Senja ini menuntun pada lamunan tentangmu. Sejauh mana pun saya berlari, ia akan selalu menuntun kepadamu. Saya memang terlalu angkuh untuk mampu menuturkan kata lewat jaringan Indosat. Tapi jangan sekali-kali engkau pikir aku tidak pernah ingin berusaha ada di dekatmu. Membenarkan letak kerudungmu sambil menemanimu minum teh. Ya, kalimat itu tadi sengaja saya adaptasi dari puisi Soe Hok Gie. Beruntung kita masih diberkahi dua jemari yang sehat untuk memijat layar sentuh yang juga ajaib itu. 

Ella yang baik,

Sejenak saya termenung di hadapan laut yang membentang. Langit masih berwarna keunguan. Laut yang terhampar dan bergelora itu mengajari saya bercermin. Tubuh kita ini hanya perahu pada dunia dan angin waktu. Entah, suasana senja yang selalu menghadirkan perasaan menakjubkan ini membuat diri saya terkesiap dan tiba pada pikiran seperti itu. Entah apa maknanya, saya harap Ella mengerti, satu saat nanti. 

Disini, saya kirimkan juga potret senja sore tadi. Kiranya, engkau mampu menafsirkan sendiri senja macam apa yang mampu menenangkan dalam riak gelisah berulang. Apakah senja serupa dengan kesedihan yang sama, bila hanya untuk dinikmati sendirian?

Penuh cinta dan peluk hangat,


Afrectionately yours. 



Sanur, 26 November 2014. 
Teringat pada cerpen "Sepotong Senja Untuk Pacarku"

Kamis, 30 Oktober 2014

Emergency Couple (Korean Drama)

Menjelang keberangkatan saya ke Incheon bulan Juli lalu, saya menonton satu dari 21 episode drama ini di Channel M. Saya sudah lupa episode ke berapa. Saya tidak terlalu ingat kecuali waktu tayangnya di akhir pekan. Setibanya saya di Incheon, lewat stasiun televisi tvN, saya kembali menonton Oh Chang Min yang berusaha merebut hati Oh Jin Hee, mantan istrinya. Saya juga lupa episodenya.



Rasa penasaran akibat serial drama yang tak tuntas ditonton akhirnya menuntun saya untuk pergi ke toko DVD langganan dan membeli copy bajakan drama ini. Saya memang lebih suka drama  Korea semacam ini. Temanya jelas. Masih berujar tentang cinta. Namun, kehidupan seputar para dokter yang bekerja di IGD rumah sakit tentu menjadi daya tarik sendiri.

Emergency Couple (EC) mengingatkan saya pada drama bertema sama sebelumnya, “Surgeon Bong Dal Hee” (SBDH). Seperti sudah disinggung sebelumnya, EC bercerita tentang kehidupan romantika para dokter dan pekerja di Instalasi Gawat Darurat, sedangkan SBDH mengangkat kisah para dokter magang dan dokter spesialis di Instalasi Bedah.

Yang menarik, Choi Yeo Jin, yang sempat berperan sebagai Cho Ah Ra di SBDH, kembali bermain di EC dan berperan sebagai dokter spesialis, Sim Ji Hye. Saya senang melihatnya kembali bermain dalam drama bertema sama. She’s growing up now and looks so mature.

Emergency Couple mengisahkan Oh Chang Min dan Oh Chang Hee, pasangan yang disatukan oleh takdir, lantas dipisahkan dan dipertemukan kembali. Pernikahan mereka tidak berlangsung lama. Kematangan emosi mereka belum teruji kala menghadapi berbagai masalah dalam keseharian pernikahan mereka. Ketika sudah tak tertahankan makan perceraian menjadi pilihan mereka. Mereka berdua menjalani hidupnya masing-masing. Oh Jin Hee mendapat dukungan mantan ayah mertuanya untuk melanjutkan ke sekolah kedokteran. Begitu juga dengan Oh Chang Min.


Komplikasi cerita meninggi ketika Oh Chang Min dan Oh Jin Hee berada dalam kelompok yang sama dalam program dokter magang. Oh Chang Min jelas kaget dan tidak menyangka akan bertemu lagi dengan mantan istrinya. Perasaan awkward diantara mereka berdua selalu menjadi bahan pertanyaan teman-teman sekelompok mereka. Terutama, Han Ah Reum yang menyimpan rasa pada Oh Chang Min.

Dalam menjalani program magang, kelompok mereka berada dalam pengawasan Dokter Kepala, Gook Cheon Soo. Dokter ini dikenal sebagai dokter bertangan dingin dengan attitude yang hampir sama, dingin. Semua berubah ketika Oh Jin Hee mulai terlibat beberapa urusan dengan Dokter Kepala. Oh Chang Min pun sempat dibuat cemburu. Namun, ketika Oh Jin Hee mendapat ancaman pemecatan, Oh Chang Min meminta tolong kepada Pamannya untuk membujuk Kepala Rumah Sakit tempatnya bekerja untuk membatalkan hukuman kepada Oh Jin Hee.

Konflik semakin meninggi ketika Oh Jin Hee yang sedang menikmati perasaannya bersama Dokter Cheon Soo, dihadang oleh Oh Chang Min. Ia bertekad untuk mendapatkan Oh Jin Hee kembali. Dokter Kepala menanggapinya biasa saja. Namun, ia harus akui bahwa ada beberapa hal yang berbeda. Terlebih, ketika Sim Ji Hye, mantan kekasihnya menjadi sesama dokter kepala partner di IGD. Kenangan masa lalu bersama Sim Ji Hye sempat membawa Gook Cheon Soo terhanyut. Sim Ji Hye sendiri cukup sadar bahwa ada sesuatu antara Cheon Soo dengan Jin Hee.


Personally, drama ini cukup memberi wawasan ringan seputar kehidupan pernikahan. Bahwa kedewasaan dan kematangan emosi adalah hal yang sangat penting untuk dimiliki setiap pasangan. Saling mengerti dan memahami adalah sebuah perjalanan. It’s not just a destination, it’s more than a journey.

Melalui drama ini juga saya mendapat pemahaman bahwa perceraian masih menjadi satu ‘aib’ dalam tatanan kehidupan bermasyarakat di Korea sana. Setiap pasangan yang bercerai kelak akan mendapat judgement dari lingkungan di sekitarnya sebagai pasangan yang telah melakukan kesalahan. Khusus untuk hal ini, saya pernah mendapat pengalaman ketika berbicara soal mantan kekasih dengan seorang rekan peserta seminar di Kuala Lumpur setahun yang lalu. Esoknya, rekan saya itu tidak lagi seramah saat jumpa pertama.

Adegan yang saya suka dari Emergency Couple adalah ketika Cheon Soo mabuk dan sengaja pulang ke rumah Ji Hye lalu mereka berdebat sebentar. Belum lama tertidur, Ji Hye menyiram air Cheon Soo karena ia menganggap Cheon Soo tidak mengerti perasaannya. Kalau saya menonton lagi drama itu, scene ini pasti akan selalu saya putar ulang.

Ending dari drama ini juga dapat ditalar kemungkinannya. Apakah Oh Chang Min akan berhasil meyakinkan Oh Jin Hee untuk menikah kembali. Atau malah Oh Jin Hee yang berlabuh pada Gook Cheon Soo. Atau malahan tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil menjalin tali cintanya.

Anyway, drama yang tayang sejak Januari hingga April 2014 ini menyajikan sebuah gambaran realita yang mungkin saja ada di sekitar kita. Jalinan takdir hanya tinggal menunggu waktu saja untuk menampakkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tak jarang ada berbagai macam kejutan dan keajaiban singgah. Waktu pula yang akan menguji sejauh mana kekuatan cinta akan bertahan. Catatan terakhir, main song “Scent of A Flower” yang dibawakan Lim Jeong Hee dalam Original Soundtracknya pun punya makna lirik yang sangat dalam.

Judul         : Emergency Couple
Pemeran   :  Song Ji Hyo – Oh Jin Hee; Choi Jin Hyeok – Oh Chang Min; 
                    Lee Pil Mo – Gook Cheon Soo; Choi Yeo Jin – Sim Ji Hye; Clara – Han Ah Reum
Tayang      : 21 Eps./ tvN


Pharmindo-Paninggilan, Agustus-Oktober 2014.

Senin, 29 September 2014

Aku, Kau, dan KUA: The Movie

Tak kenal, maka ta'aruf...




Selayaknya film adaptasi, 'Aku, Kau, dan KUA' berusaha menyampaikan pesan-pesan dari bukunya yang terbit lebih dahulu. Film ini mencoba menangkap realita seraya memberikan pemahaman soal tahapan menuju ikatan suci pernikahan. Film ini berkesan santai namun berusaha untuk tetap tampil serius. 

Perjalanan menemukan pasangan hidup adalah lika-liku tersendiri. Fenomena taaruf menjadi topik bahasan utama dalam film komedi romantis ini. Sang sutradara, Monty Tiwa, mengemasnya dengan apik menjadi tontonan yang menghibur sekaligus mengedukasi. "Mengangkat soal ta'aruf sebagai opsi untuk memilih pasangan dalam film menjadi hal yang sangat menarik," ujarnya. 

Film ini berpesan bahwa menikah dengan proses ta'aruf itu menjadi hal yang menyenangkan untuk menghindari hal-hal buruk saat pacaran. Lagipula dalam Islam sendiri tidak mengenal istilah pacaran. 

Film ini juga berusaha meluruskan kesalahpahaman terkait taaruf di kehidupan sehari-hari. Film yang berdurasi 100 menit ini bercerita tentang Uci (Eriska Rein), Rico (Adipati Dolken), Deon (Deva Mahendra), Fira (Nina Zatulini), Mona (Karina Nadila), Pepi (Babe Cabiita), Lando (Eza Gionino), Jerry (Fandy Christian), Aida (Bianca Liza) dan Christian Sugiono dalam menemukan jodohnya. 

Jalan cerita sendiri diawali dari pernikahan Fira dan Lando yang gagal berlangsung, kemudian Deon yang memendam rasa pada Fira memutuskan untuk ta'aruf dengan Fira. Melalui segenap usaha Deon memenangkan hati Fira. Sementara itu, Mona memilih putus dari Jerry yang meminta sesuatu yang tidak boleh dilakukan sebelum menikah. Mona lantas jatuh cinta pada Ustadz muda yang ditemuinya pada satu acara seminar tentang memilih jodoh. Karakter kuat Dwi Sasono dalam memerankan sang Ustadz menjadi daya tarik utama dalam scene. Uci sendiri lebih berperan sebagai malaikat bagi sahabat-sahabatnya itu. Tak disangka, Rico menyatakan kesungguhannya kepada Uci. Uci pun lantas mengajak Rico untuk berdamai dengan segenap kekelaman di masa lalunya sebelum menerima pinangan. 

Anyway, semangat dari film ini cukup baik. Menghibur, mendidik, sekaligus memberikan pemahaman melalui cerita-cerita yang terjadi di lingkungan kehidupan sehari-hari. Film ini seakan ingin menunjukkan tahapan proses menuju pernikahan dengan cara yang baik bagi setiap pasang individu. Tanpa harus menerjemahkan maksud awal dari bukunya secara eksplisit. Bila pun terbit kembali dalam bentuk kepingan CD/DVD, fengan segala muatannya 'Aku, Kau, dan KUA' layak masuk daftar 'Must See'. 


Paninggilan-Sarinah, 29 September 2014. 

Jumat, 26 September 2014

Sabtu Bersama Bapak

"Waktu dulu kita jadi anak, kita gak nyusahin orangtua. Nanti kita sudah tua, kita gak nyusahin anak."
Gunawan Garnida

Kalau ada satu karya Adhitya Mulya yang perlu mendapat bintang lima alias highest appreciation tidak salah bila jatuh ke buku terbarunya ini. Sabtu Bersama Bapak bukan sekedar novel biasa. Penulisnya sengaja memasukkan unsur-unsur parenting, bagaimana mendapatkan hati seorang perempuan, serta kehidupan pra dan pasca pernikahan. Tak lupa juga, pesan sisipan penulis: being jomblo is totally wrong :D.



Untuk pembaca yang sudah terbiasa dengan buku-buku lain yang ditulis Adhitya Mulya, pasti akan menemukan klik dengan Sabtu Bersama Bapak. Sebut saja, tokoh Bapak dinamakan Gunawan Garnida. Pembaca yang familiar dengan Gege Mencari Cinta pasti bertanya-tanya apa hubungannya dengan Geladi ‘Gege’ Garnida.

Saya pun menemukan korelasi antara tulisan-tulisan di blog pribadi Adhitya Mulya, suamigila.com dengan cerita Sabtu Bersama Bapak. Planning, planning, planning, dan what if. Jika dalam buku, Satya Garnida bersama ketiga anaknya diceritakan membuat kapal perang dengan menggunakan bahan seadanya dan juga ketika ia mulai menjaga kebugaran di offshore, maka dalam dunia nyata hal itu sudah lebih dulu dipraktekkan.

Komposisi ceritanya sendiri agak sedikit kompleks. Bab pembuka sudah seperti teka-teki. Oke, penulis berhasil membuat opening yang filmis. Baru pada bab selanjutnya permainan alur ini bisa terbaca.

Kakak beradik Satya Garnida dan Cakra Garnida menjalani dua episode kehidupan berbeda. Termasuk sang Ibu, Itje Garnida, yang menyembunyikan rahasian penyakitnya. Sang kakak tampil lebih impresif dibanding sang adik. Ibu Itje tampil lebih sebagai penyeimbang dan pengingat. Nilai-nilai yang ditinggalkan Bapak mereka agaknya meresap betul. Hanya saja, sang adik lebih inferior sehingga telat mendapat jodoh.

Cakra jatuh hati pada seorang Ayu, teman kantornya. Namun, tidak semulus yang dibayangkan. Cakra harus bersaing dengan seorang bandit asmara yang mendekati Ayu juga. Sampai disini, saya terngiang lagi Project P berjudul Goodbye Ayu :)))). Ketika asa hilang, maka dua terbilang. Atas usaha Ibu Itje, akhirnya Cakra mau dikenalkan dengan anak dari teman ibunya itu. Cakra sendiri kaget karena perempuan itu adalah Ayu. Begitu pun Ayu, ia mengizinkan hatinya untuk memberi satu hari penuh untuk Cakra agar mereka bisa saling mengenal. Mereka pun akhirnya berproses hingga satu hari Cakra melamar Ayu.

Satya sendiri mengalami kehidupan pernikahan yang turun naik. Dengan pekerjaannya di kilang minyak lepas pantai, Satya agak kesulitan membagi waktu bersama keluarga. Ia sempat menjadi momok yang menakutkan bagi ketiga anaknya. Setiap pulang ke rumah, semua selalu salah di mata Satya. Alhasil, sebuah email dari Rissa membuatnya tersadar. Saya kagum bagaimana Adhitya Mulya menggambarkan usaha Satya untuk berubah. Saya yakin bahwa dalam dunia nyata pun hal itu sudah dilakukannya.

Anyway, Sabtu Bersama Bapak adalah sebuah heartwarming novel. Pembaca bisa merasakan airmata sekaligus berderai tawa dalam sekali baca. Satu kelebihan yang jarang dimiliki novel-novel bergenre sama. Ditambah lagi, nilai-nilai hubungan orang tua-anak dan yang patut dijadikan pelajaran terutama oleh pasangan-pasangan muda, baik yang menikah ataupun belum menikah.

Sabtu Bersama Bapak membuka cakrawala baru dalam menyikapi kehidupan secara lebih luas dengan segala kompleksitasnya. Bukan hanya bagaimana seorang Bapak meninggalkan ‘legacy’ berupa pesan kepada anak-anaknya, pelajaran dalam mencari cinta (dan pasangan hidup), bagaimana menjadi seorang Bapak dan Suami yang baik, dan bagaimana perjuangan seorang Ibu dalam membesarkan anak-anaknya dengan tetap menjaga proporsi badannya (if i may add ;) ).

Dengan Sabtu Bersama Bapak, kiranya peran sang penulis sebagai Bapak, Suami, dan Penulis kian paripurna. Semoga karya selanjutnya pun demikian.


Paninggilan-Medan Merdeka Barat, 26 September 2014
sambil nunggu Jum’atan

Kamis, 31 Juli 2014

The Mirror Has Two Faces

Sejak pertama kali mendengar “I Finally Found Someone”, duet karya Bryan Adams dan Barbra Streisand saya tidak tahu bahwa lagu ini merupakan soundtrack sebuah film. Kemudian, dari sebuah majalah film yang membahas Top 10 Greatest Movie Soundtrack barulah saya tahu bahwa duet cantik itu milik film “The Mirror Has Two Faces”. Sejak saat itu pula saya penasaran dengan film ini. Alhasil, baru awal bulan ini saya bisa menonton lewat televisi langganan berbayar.


Menarik untuk tahu awal kisah cinta Rose Morgan dan Gregory Larkin yang berawal dari sebuah iklan di koran. Kakak Rose, Claire (Mimi Rogers), menjawab iklan tersebut dan mengatur sebuah kencan untuk Rose dan Gregory. Gregory sendiri sedang mencari pasangan yang mampu mengimbanginya secara intelektual, maklum ia adalah seorang dosen Matematika di Columbia University. Gregory berpandangan bahwa seks membuat runyam hubungan antara pria dan wanita, karena ia selalu kehilangan rasio akal sehatnya setiap kali tergoda oleh seorang wanita.

Rose sendiri adalah seorang dosen Sastra Inggris di universitas yang sama. Satu waktu, Gregory menyelinap ke dalam kelas Rose. Gregory terpesona dengan materi yang Rose bawakan. Mereka pun akhirnya mulai kencan. Beberapa kali pula mereka saling bertukar pikiran sehingga membawa perubahan dalam cara mengajar mereka. Gregory yang merasa cocok, segera melamar Rose. Dengan satu syarat, bahwa mereka akan menjalani kehidupan cinta yang platonik, dengan ‘occasional sex’ yang hanya dilakukan sesekali ketika Rose minta saja.

Seiring berjalannya hari-hari pernikahan mereka, Rose semakin jatuh cinta dengan sosok Gregory. Gregory sendiri merasa semakin nyaman bersama Rose, walau kehidupan seks mereka tidak seperti orang normal kebanyakan. Satu malam, Rose menggoda Gregory untuk berhubungan intim. Gregory rupanya terganggu namun ia tidak mau menyakiti perasaan Rose. Gregory menolaknya karena takut merubah perasaannya pada Rose. Rose sendiri merasa bersalah dengan keadaan itu. Namun, tetap saja ia memendam keinginan itu.

Hari-hari mereka pun selanjutnya berjalan hambar. Rose harus semakin bersabar menghadapi Gregory. Gregory pun semakin sibuk ketika bukunya laris dan akan dipromosikan di Eropa. Artinya, Gregory harus pergi tiga bulan lamanya sebelum bisa kembali ke kampus. Rose sendiri berharap jarak akan membawa perubahan pada hubungan mereka.

Gregory tidak pernah lupa memberi kabar selama perpisahan sementara mereka itu. Rose sendiri berkutat melawan dirinya sendiri. Ia bertekad untuk mengubah penampilannya, secara fisik of course, demi sebuah perhatian dari Gregory. Rose juga berharap Gregory akan menyadarinya ketika ia pulang nanti. Rose mengubah dirinya, ia belajar menggunakan make-up, melakukan diet, mengubah gaya rambut, rajin berolahraga, hingga mengubah gaya berpakaian.

Gregory pun akhirnya pulang. Ia tidak dapat menyembunyikan perasaan rindunya kepada Rose. Rose sendiri tahu itu, maka ia menyiapkan sebuah kejutan. Ia berharap Gregory dapat membaca keinginannya setelah melihat perubahan dalam dirinya. Gregory kaget melihat Rose yang telah berubah. Dalam benaknya, ia masih menyimpan imaji Rose dalam citra yang lama. Bukan seperti yang ada dihadapannya. Gregory tidak lagi meihat Rose yang dulu.

Rose pun akhirnya tidak tahan dan meninggalkan Gregory. Rose menganggap kehidupan pernikahannya yang passionless itu adalah sebuah kesalahan. Rose telah salah menilai Gregory. Keduanya pun akhirnya berpisah dan kembali pada kehidupan mereka masing-masing sebagai dosen. Selama masa berpisah itu, keduanya menyadari bahwa mereka saling jatuh cinta. Perpisahan yang sedang mereka jalani hanya sebuah alasan belaka. Hanya saja, cinta mereka terhalang oleh teori atau pemikiran dari Gregory yang tidak berdasar. Gregory segera menyadarinya dan menginginkan Rose untuk kembali padanya. 

Melalui sebuah ending yang dramatis, di suatu pagi hari yang dingin, Gregory berhasil meyakinkan Rose untuk melanjutkan pernikahan mereka.

I Finally Found Someone pun mengalun, mengantar akhir kisah mereka.

Did i keep you wait... i didn’t mind

I apologize... Baby, that’s fine


Judul           : The Mirror Has Two Faces
Sutradara    : Barbra Streisand
Cast            : Barbra Streisand, Jeff Bridges, Pierce Brosnan, Lauren Bacall, George Segal
Tahun         : 1996
Produksi     : Phoenix Pictures
Genre         : Drama

Pharmindo, 31 Juli 2014
Berharap menyanyikan “i Finally Found Someone” di pelaminan. Nanti.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...