Just because the latest EU regulation on Data Protection, I had to remind you this.
Cengkareng, 28 Mei 2018.
Postingan pertama setelah Bapak tidak ada
Tampilkan postingan dengan label media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label media. Tampilkan semua postingan
Senin, 28 Mei 2018
Kamis, 19 Oktober 2017
Dalang Galau Ngetwit
Semua sekadar menjalani takdir. Ada yang ditakdirkan pasrah. Ada yang ditakdirkan berusaha. Ada juga yang ditakdirkan untuk tidak percaya bahwa semua sekadar menjalani takdir.
![]() |
| Sumber gambar: www.goodreads.com |
Saya termasuk satu dari sekian orang yang kagum dengan kekuatan Twitter. Sebuah cuitan kecil berbatas 140 karakter mampu menjelma menjadi satu narasi tulisan. Pun, ketika tulisan-tulisan tersebut dikumpulkan dan menjelma menjadi sebuah buku yang utuh. Maka ketika sang Rahvayana menuliskan kembali segenap kumpulan twit lengkap dengan narasinya, pembaca wajib bersyukur karena sang dalang tidak hanya menceritakan segenap kegalauannya.
Buku ini memang layak dibaca siapapun. Baik pemilik akun twitter yang rajib ngetwit ataupun hanya untuk sekedar stalking mantan (ups.) Sujiwo berhasil memainkan kata-kata serupa wayang andalannya. Sujiwo menyampaikan pesan-pesan yang humanis dan beberapa diantaranya anti-mainstream.
Subjek yang dibahas Sujiwo pun luas, seluas pemahamannya terhadap kausalitas dalam perjalanan hidupnya. Dari soal matematika yang ternyata tidak selalu pasti hingga urusan seni yang pemahaman atasnya ditentukan isi kepala masing-masing. Soal Rama-Shinta hingga Habibie-Ainun. Saya menikmati proses dialektika yang dikemukakannya. Setidaknya, untuk dipakai sebagai bahan refleksi.
Lebih luas, pemikiran Sujiwo yang merdeka tidak hanya menghibur namun mempu menyentil sedikit bagian hidup kita sehingga tidaklah berlebihan bila kemudian pembaca mencapai pencerahan. Sujiwo juga tidak lantas kehilangan keedanannya karena kegalauannya sendiri sudah menunjukkan keedanan itu sendiri.
Oleh karena itu, pembaca pun harus menyediakan hati dan pikiran yang terbuka. Menerima curhatan soal kegalauan adalah persoalan tersendiri sebagaimana menerima segala keedanan. Oleh karena itu, dengan pikiran dan pemahaman yang terbuka pembaca tentu sudah lebih pintar untuk menemukan makna dibalik setiap twit Sang Dalang.
Buku ini memang layak dibaca siapapun. Baik pemilik akun twitter yang rajib ngetwit ataupun hanya untuk sekedar stalking mantan (ups.) Sujiwo berhasil memainkan kata-kata serupa wayang andalannya. Sujiwo menyampaikan pesan-pesan yang humanis dan beberapa diantaranya anti-mainstream.
Subjek yang dibahas Sujiwo pun luas, seluas pemahamannya terhadap kausalitas dalam perjalanan hidupnya. Dari soal matematika yang ternyata tidak selalu pasti hingga urusan seni yang pemahaman atasnya ditentukan isi kepala masing-masing. Soal Rama-Shinta hingga Habibie-Ainun. Saya menikmati proses dialektika yang dikemukakannya. Setidaknya, untuk dipakai sebagai bahan refleksi.
Lebih luas, pemikiran Sujiwo yang merdeka tidak hanya menghibur namun mempu menyentil sedikit bagian hidup kita sehingga tidaklah berlebihan bila kemudian pembaca mencapai pencerahan. Sujiwo juga tidak lantas kehilangan keedanannya karena kegalauannya sendiri sudah menunjukkan keedanan itu sendiri.
Oleh karena itu, pembaca pun harus menyediakan hati dan pikiran yang terbuka. Menerima curhatan soal kegalauan adalah persoalan tersendiri sebagaimana menerima segala keedanan. Oleh karena itu, dengan pikiran dan pemahaman yang terbuka pembaca tentu sudah lebih pintar untuk menemukan makna dibalik setiap twit Sang Dalang.
Judul : Dalang Galau Ngetwit
Penulis : Sujiwo Tejo
Penerbit : Imania
Tahun : 2013
Tebal : 219 hal.
Genre : Sosial-Budaya
Cipayung, 4 Oktober 2017.
Selasa, 09 Februari 2016
Mikiran Yayat
Jangan langsung ditelan mentah-mentah jika menerima sebuah berita. Sebab, yang enak ditelan mentah-mentah itu cuman peuteuy jeung bonteng.
![]() |
| Courtesy: www.goodreads.com |
Tampil layaknya sebuah harian kondang yang beredar luas di Jawa Barat, Mang Yayat rupanya cukup cerdik dalam menyajikan parodi mengenai berita-berita tidak serius. “Mikiran Yayat” memang menyajikan berita-berita yang tidak meragukan bagi pembacanya. “Mikiran Yayat” dengan semboyan “Beritanya Dapat Dicangcaya” membuat pembacanya tidak harus bimbang dan ragu dengan berita-berita yang dimuat. Semua berita yang dimuat “Mikiran Yayat” adalah berita yang jujur dengan isi berita sewadul-wadulnya.
“Mikiran Yayat” mengajak pembaca untuk bersantai sejenak, rileks, dan beristirahat sembari menikmati tajuk-tajuk penuh tawa. Dibuat sebagaimana layaknya rubrik-rubrik dalam koran harian, Harian “Mikiran Yayat” memang ditakdirkan untuk membuat pembacanya tertawa. Sebagai harian yang menampilkan humor lokal, buku ini membuktikan bahwa humor daerah layak sekali dibukukan dan dapat dinikmati semua kalangan pembaca dengan lawakan yang segar dan menghibur.
“Mikiran Yayat” layak dijadikan sebagai hiburan sejati buat penduduk bumi. “Mikiran Yayat” mengulas politik, acara gosip, kuis, reality show, mistik, klenik hingga Persib Bandung tercinta yang disambung-sambungkan dengan gaya komedik. Mulai dari berita-berita seputar pemain sepakbola, Lukas Podolski, politisi, artis, pelawak, hingga dukun ramal dan dukun beranak.
Saya sangat menikmati buku ini. Konteks kedekatan budaya yang digunakan Mang Yayat rupanya begitu terasa untuk saya. Saya tidak melewatkan satu tajuk pun tanpa tertawa lepas. Begitu pun pada cerpen berjudul "Banyak Jalan Menuju Romlah" yang jadi penutup. Ada beberapa hal sentimental yang terkenang kembali sembari tertawa menertawakan kelakuan si aku dalam mengejar Romlah.
Sebagai buku komedi, “Mikiran Yayat” masih membekali pembacanya dengan karikatur yang sama-sama cerdas dengan beritanya. Cukup dibaca dan dinikmati, tidak perlu dipikirkan! Seperti jargon diatas, tidak semua berita perlu ditelan. Maka, “Mikiran Yayat” pun demikian. Anggap saja anda seperti sedang membaca koran pagi. Sekali duduk, selesai.
Judul : Mikiran Yayat
Penulis : Mang Yayat
Penerbit : B-First
Tahun : 2013
Tebal : 194 hal.
Genre : Humor
Cipayung, 8 Februari 2016.
Rabu, 16 Oktober 2013
Cover Version Artists
....nyanyikan lagu orang lain dan kau akan terkenal...
(Punk Hari Ini – Superman Is Dead)
Prolog
Belakangan, lagu-lagu di radio-terutama lagu Indonesia, menunjukkan peningkatan dari segi produktivitas. Dibalik itu, bermunculan pula lah banyak penyanyi baru. Ada yang muncul dan memulai debutnya dengan membawakan lagu dari album perdananya ataupun menyanyikan lagu orang lain (cover version, recycle, or else). Bagi saya, itu tidak jadi masalah. Selama hal itu direstui sang pemilik hak cipta. Terlebih, penikmat musik ini bisa menikmati beragam sajian.
Lagu-lagu lama yang dinyanyikan kembali ini terhitung mengalami peningkatan yang cukup lumayan dari segi kuantitas walau tanpa data eksak jumlahnya berapa. Yang jelas, kerinduan akan lirik-lirik lagu lama itu terobati dengan kemunculannya dalam versi yang berbeda. Saya masih ingat ketika Ello (Marcello Tahitoe, putra mendiang Diana Nasution) menyanyikan dan mengaransemen ulang hits lama yang juga dipopulerkan oleh Diana Nasution ‘Pergi Untuk Kembali’. Sejak saat itu, versi repro dari lagu-lagu lama perlahan mulai bermunculan hingga saat ini.
Saya tidak akan merinci lagu Indonesia apa saja yang dicover. Perhatian saya sekarang tertuju pada tiga nama yang saya anggap spesial dalam merecycle lagu dari penyanyi aslinya. Mereka datang dari Negeri Barat. Mereka adalah Hannah Trigwell, HelenaMaria, dan Jayesslee. Kekuatan mereka menghadirkan suatu sensasi tersendiri dalam menikmati sebuah versi lain dari karya aslinya.
Hannah Trigwell
![]() |
| Hannah Trigwell covering '22' - courtesy: @YouTube |
Berawal dari sebuah pencarian di Youtube, saya menemukan sebuah sensasi baru dalam menikmati musik. Waktu itu, saya sedang terpesona oleh ‘California King Bed’ milik Rihanna. Voila! Saya jatuh cinta pada pertemuan pertama ini. Karakter vokal Hannah Trigwell sangat kuat dalam memaknai pesan dari lirik lagu itu.
Hannah Trigwell berhasil memadukan karakter vokal yang unik dengan lirik yang emosional. Semua itu dilakukannya sambil memainkan gitar akustiknya. Musik yang dimainkannya merepresentasikan keriangan masa muda. Lagu recycle lain yang jadi favorit saya adalah ‘22’ (Taylor Swift); ‘Stay’ (Rihanna ft. Mikky Ekko), Dark Side (Kelly Clarkson), dan ‘Don’t Speak’ (No Doubt).
Hannah Trigwell berhasil memadukan karakter vokal yang unik dengan lirik yang emosional. Semua itu dilakukannya sambil memainkan gitar akustiknya. Musik yang dimainkannya merepresentasikan keriangan masa muda. Lagu recycle lain yang jadi favorit saya adalah ‘22’ (Taylor Swift); ‘Stay’ (Rihanna ft. Mikky Ekko), Dark Side (Kelly Clarkson), dan ‘Don’t Speak’ (No Doubt).
Hannah Trigwell mendapat penghargaan sebagai 'Best International Unsigned Act' pada gelaranSt. Helier Online Music Awards pada tahun 2011. Tahun 2012 lalu ia menandatangani kontrak dengan 3 Peace Records, sebuah perusahaan label rekaman asal Amerika Serikat yang juga menjadi label resmi untuk Boyce Avenue. Band yang juga banyak memainkan lagu recycle.
Ia juga merilis sebuah album EP (Extended Play) yang diberi judul ‘Pieces’. Album ini menandai proses perjalanan musiknya, baik sebagai penyanyi maupun seorang artis. Musik karyanya mendapatkan banyak pujian dari musisi terkenal seperti Ed Sheeran, John Rzeznik (Goo Goo Dolls), The Script, dan masih banyak lagi. Saat ini, Hannah Trigwell sedang mengerjakan album debutnya. Disela kesibukannya itu, ia juga ikut serta dalam Boyce Avenue World Tour 2013. Awal tahun depan, Hannah Trigwell akan memulai debut tur yang bertajuk Hannah Trigwell Debut Headline UK Tour.
HelenaMaria
![]() |
| HelenaMaria covering 'Titanium' - courtesy: @YouTube |
HelenaMaria adalah sebutan untuk duo yang beranggotakan Helena Mehalis dan Maria Mehalis. Keduanya lahir di New Brunswick, New Jersey sebagai pasangan kembar identik. Keduanya memiliki perbedaan dalam memainkan alat musik, karena Maria terlahir sebagai kidal. Mereka memainkan piano dan gitar sebagai alat utama dalam bermusik.
Saya suka pada karakter vokal mereka. HelenaMaria cenderung memainkan lagu dengan beat yang tinggi dan berhasil mengemasnya kembali dengan rapi walau beat yang dimainkan diturunkan. Namun, pada cover version ‘When I Was Your Man’ (Bruno Mars) yang cenderung pelan, HelenaMaria mampu membuat versi lain dengan karakter vokal yang sama kuat dengan si penyanyi aslinya. Versi recycle dari ‘Titanium’ (David Guetta ft. Sia), ‘One More Night’ (Maroon 5), ‘Diamond’ (Rihanna) pun menunjukkan kekuatan lain dari musikalitas dan karakter vokal mereka.
Tahun 2006 silam, HelenaMaria merilis album perdana mereka berjudul ‘Serene’. Pada tahun 2009 dan 2010, HelenaMaria mulai merilis cover version dan video dari beberapa lagu-lagu hits di iTunes dan YouTube. Mereka juga pernah mencoba mengikuti American Idol, namun mereka disarankan untuk tetap tampil sebagai duo oleh sang produser acara itu.
Jayesslee
![]() |
| Jayesslee covering 'Try' - courtesy: @YouTube |
Seperti HelenaMaria, Jayesslee juga adalah duo beranggotakan Janice Lee dan Sonia Lee. Pada 2008 silam, mereka mulai bermain dengan YouTube. Karena tertarik dengan fitur yang bisa membuat mereka terhubung dengan audiens di seluruh dunia, mereka memutuskan untuk membuat akun dengan nama “Jayesslee”. “Jayesslee” sendiri diambil dari inisial nama mereka. ‘Jay’ untuk J (Janice) dan ‘Ess’ untuk S (Sonia) dan ‘Lee’ dari nama keluarga (surname) mereka.
Walaupun video pertama Jayesslee diupload dari kamar tidur mereka yang berantakan, subscriber video Jayesslee terus bertambah. Akhirt tahun 2009 Jayesslee mengalami hits yang cukup fantastis setelah mengcover lagu ‘Officially Missing You’ (Tamia).
Pada tahun2010, mereka terbang ke Los Angeles untuk debut konser pertama Jayesslee. Sejak itu, mereka mulai berkeliling ke berbagai negara seperti Kanada, Singapura, Malaysia, dan Thailand untuk tampil dan menyapa penggemar mereka.
Jayesslee juga menyelesaikan rangkaian tur Asia mereka tahun lalu di 8 kota besar dengan jumlah penonton mencapai 3.500 orang. Mereka berkeliling diantaranya ke Perth, Sydney, Melbourne, Manila, Kuala Lumpur, Jakarta (i missed this one :( ) , dan Bangkok. Mereka juga tampil di beberapa program televisi seperti “E! News Asia” , “Channel V” dan “MTV Show”.
Tahun 2013 ini, Jayesslee mencatatkan nama mereka sebagai channel YouTube dari Australia yang paling banyak dilanggan, dengan subcriber mencapai 1 juta dan 12 juta pageviews.
Karakter vokal dan musikalitas dari Jayesslee agak sedikit berbeda dari HelenaMaria. Musik Jayesslee bagi saya terdengar lebih ringan. Sama dengan komposisi dari Hannah Trigwell yang lebih banyak memainkan gitar akustik. Track favorit saya dari Jayesslee adalah ‘Payphone’ (Maroon 5), ‘Nobody’ (Wonder Girls), dan ‘Try’ (Pink).
Penciptaan kembali sebuah karya adalah sebuah usaha untuk memaknai kembali arti dibalik penciptaan awal karya itu. Keinginan untuk menciptakan sebuah bentuk musik yang baru melalui cover version menghadirkan sebuah sensasi baru dalam menikmati musik. Kemungkinan bahwa pendengar dan penikmat musik akan melakukan komparasi terhadap keduanya memang tidak terelakkan. Justru disitulah terletak proses dialektika dalam bermusik.
Apapun itu, saat ini kita diberikan banyak pilihan untuk menikmati beragam musik yang ingin kita nikmati. Dengan demikian, pemaknaan atas wujud sebuah objek tidak akan stagnan pada satu bentuk tertentu saja. Selamat menikmati.
Paninggilan, 16 Oktober 2013.
Note: Any trademarks in this post belong to their respective owners.
Senin, 05 September 2011
Komik Anak Sekolah Gokil - Bacaan Wajib Menuju Indonesia Cerdas 2015
Rutinitas keseharian dunia pendidikan memang selalu mengasyikkan untuk dijadikan bahan ejekan. Selalu ada saja yang bisa ditertawakan. Mulai dari kelakuan murid dan guru yang tidak pernah bisa akur hingga tindak-tanduk sesama murid yang punya keunikan masing-masing.
Lihat saja aktor utama dalam komik ini, Vannes & Aditas, duet maut geng iseng yang selalu ribut di sekolah. Mereka berdua selalu punya sejuta jurus ampuh buat mengakali Pak Kepsek dan Pak Noodle, Sang Guru Killer yang sangat menyebalkan. Nggak ketinggalan anggota geng lainnya. Si Kosong, yang didiagnosis berpenyakit selalu-dapat-nilai-nol. Si Bebop, gudang jerawat yang bermimpi punya pacar cantik kayak Miss Universe. Xena, si Cewek Kuda Nil--gebetan Anthony si Superkeren, tapi dia malah mupeng dan superngebet sama Vannes.
Komik karya komikus Malaysia ini mengadopsi bentuk komik strip empat panel dengan dua cerita pada satu muka halaman. Bentuk seperti ini mengingatkan kita pada komik strip Garfield yang tampil dengan tiga panel.
Walaupun komik ini diterbitkan pertama kali di Malaysia, tetapi tidak mengurangi esensi dari humor khas anak sekolah. Tidak terlalu berlebihan pula bila kita pada akhirnya bisa menyimpulkan bahwa selera humor orang Malaysia itu tidak jauh berbeda dengan kita orang Indonesia.
Judul : Komik Sekolah Anak Gokil
Penulis : Michael C. Keith
Penerbit : DAR! Mizan
Tahun : 2010
Tebal : 116 hal.
Genre : Komik
Medan Merdeka Barat, 5 September 2011.
Komik karya komikus Malaysia ini mengadopsi bentuk komik strip empat panel dengan dua cerita pada satu muka halaman. Bentuk seperti ini mengingatkan kita pada komik strip Garfield yang tampil dengan tiga panel.
Walaupun komik ini diterbitkan pertama kali di Malaysia, tetapi tidak mengurangi esensi dari humor khas anak sekolah. Tidak terlalu berlebihan pula bila kita pada akhirnya bisa menyimpulkan bahwa selera humor orang Malaysia itu tidak jauh berbeda dengan kita orang Indonesia.
Judul : Komik Sekolah Anak Gokil
Penulis : Michael C. Keith
Penerbit : DAR! Mizan
Tahun : 2010
Tebal : 116 hal.
Genre : Komik
Medan Merdeka Barat, 5 September 2011.
Senin, 06 Juli 2009
Nobody's Note
Cerita di Hari Jum’at: Ibroh dari Sebuah Suplemen
Adalah kebiasaan saya untuk membeli Koran Harian Republika setiap hari Jum’at. Bila sedang tidak pulang ke Bandung tentu hal itu adalah menu wajib di Jum’at petang. Alasan yang utama adalah segala intisari berita sepekan terakhir terkadang direview dalam sebuah kesimpulan menjelang akhir pekan. Selain itu juga, di edisi Jum’at, Republika menyertakan bonus suplemen Dialog Jum’at. Lumayan, hitung-hitung untuk belajar agama dan meneguhkan iman yang makin menipis ini seminggu sekali.
Pun, Jum’at kemarin (3/7) saya membeli Koran seperti biasa di kios langganan. Pertama menyentuh rasanya seperti tidak biasa. Terasa lebih tebal. Perasaan , suplemen Dialog Jum’at belum akan ditambah jatah halamannya. Mungkin, ada rubrik lain. Itulah yang ada di benak saya kemudian. Saya tidak sempat menengok seluruh halaman karena mengejar waktu shalat maghrib yang selalu singkat. Saya hanya membaca headline yang berjudul “Satu Putaran Panaskan Debat”.
Anda semua tentu menyimak debat terakhir di malam Jum’at itu kan? Satu debat yang entah diposisikan sebagai debat yang berkonotasi saling serang pendapat dari kontestan atau diskusi untuk mencari penyelesaian dan jalan keluar. Sedikit mengulas kembali, tidak banyak yang berubah dalam debat tersebut. Megawati masih dengan pendapat-pendapatnya yang terkesan sangat normative. SBY yang masih tampil jaim, dan JK yang terlihat santai namun lebih serius dalam pembahasan masalah.
Setelah shalat maghrib dan makan sebungkus nasi padang. Saya mulai membuka halaman satu per satu. Beritanya masih dihiasi kabar dari kematian tragis Michael Jackson yang membuat DEA (Drugs Enforcement Agency) turun tangan, Franck Ribery yang keukeuh (ngotot-pen) ingin pindah ke Real Madrid, Semifinal Wimbledon, dan yang paling menyita perhatian saya adalah Operasi Khanjar (Operasi Tebasan Pedang) yang dilakukan oleh Marini AS di Afghanistan , operasi militer terbesar dibawah kepemimpinan Barack Obama.
Alangkah terkejutnya ketika mengetahui sebab Koran hari ini berasa lebih tebal. Terselip satu lagi suplemen yang berfungsi sebagai alat kampanye SBY-Boediono dengan judul “Amanah untuk Rakyat”. Suplemen yang berjumlah 16 halaman ini bercerita tentang profil SBY dan Boediono dari mereka lahir hingga mereka meniti karir masing-masing. Diceritakan bagaimana SBY lahir dan tumbuh dalam lingkungan masyarakat pesantren, bersekolah negeri di Pacitan, sekolah militer di AKABRI, hingga karir militer dan sipilnya sampai saat ini. Begitu pun dengan pasangannya, Boediono. Cerita dimulai dengan masa kecil Boediono yang santun dan sederhana sebagai anak pedagang batik di Blitar. Lalu, diceritakan pula bagaimana perjalanan pendidikan dan karir Boediono sampai saat ini pula.
Bagi saya apa yang terjadi hari ini adalah sebuah keanehan. Aneh karena menurut saya media telah kehilangan independensinya. Media, terlebih di zaman pemilu yang kesekian ini telah menjadi senjata yang ampuh bagi setiap insane politik yang ingin menegaskan eksistensinya. Aneh. Sama anehnya ketika Metro TV menjadi corong dan wahana pencitraan dari satu kandidat capres lainnya. Begitu juga ketika menjelang pemilu legislative, masih di harian yang sama, terpampang iklan full page dari PDIP yang menyangkal seluruh pencapaian di masa pemerintahan SBY-JK demi menegaskan citra partai yang peduli wong cilik yang juga tentu sudah terlanjur melekat pada partai berlambang banteng ireng (banteng hitam) tersebut.
Entah teori komunikasi massa mana yang digunakan. Permainan dengan media ini tentu bukan tanpa tujuan dan hasil yang ingin dicapai. Saya tidak sempat membandingkan dengan media cetak lainnya. Apakah mereka juga melakukan hal yang sama dengan kandidat yang lain, saya belum tahu. Saya memandang hal ini sebagai konsekuensi yang wajar dari demokrasi yang selalu kita banggakan dan nilai bisnis yang menggiurkan. Dari sudut pandang demokrasi, kebebasan berpendapat melalui media lebih terjamin tanpa adanya diskriminasi dan intimidasi pihak lain. Sedang dari sisi bisnis, Koran butuh iklan sebagai pemasukan terbesarnya dan si pengiklan butuh media untuk menyampaikan sesuatu yang mereka bawa (namanya juga kampanye). Maka sangat wajar bila mereka menerima order untuk membuat suplemen yang seperti itu agar profil si pengiklan mendapatkan exposure kepada publik dan Koran mendapat pemasukan yang sudah tentu besar dari si pengiklan.
Bila suatu hari nanti anda ada yang membacanya dan kagum dengan isi suplemen tersebut tolong beri tahu saya. Itu artinya anda masih waras. Sama seperti saya. Saya mengagumi kisah-kisah didalam suplemen tersebut. Tetapi, dalam situasi politik saat ini bahasa penyampaian yang digunakan pun memang bahasa dengan kesan positif yang pada akhirnya menggiring kesadaran pembaca untuk kemudian bersimpati lalu memilih pasangan tersebut pada pemilu 8 Juli nanti. Semuanya telah direncanakan dengan sedemikian matang. Bukan tanpa alasan tim sukses SBY-Boediono menempatkan public profiling tersebut pada harian Republika yang punya credo “Pegangan Kebenaran”.
Saya masih terkesima dengan kisah-kisah tersebut. Cukup ambil ibrohnya (pelajaran) saja. Cukup ambil nilai-nilai yang terkandung didalamnya:kerja keras, pantang menyerah, santun, sederhana, rendah hati, dll. Masalah pilihan, saya kira anda semua sudah lebih pintar untuk menentukan siapa yang akan dipilih pada pemilu mendatang. Biar hati nurani anda dan sepasang mata yang setajam garuda dipadu dengan kecepatan berpikir menuntun anda semua untuk memilih kandidat yang pantas untuk memimpin Indonesia.
Salam hangat dari Cakung.
Jakarta, 4 Juli 2009
Adalah kebiasaan saya untuk membeli Koran Harian Republika setiap hari Jum’at. Bila sedang tidak pulang ke Bandung tentu hal itu adalah menu wajib di Jum’at petang. Alasan yang utama adalah segala intisari berita sepekan terakhir terkadang direview dalam sebuah kesimpulan menjelang akhir pekan. Selain itu juga, di edisi Jum’at, Republika menyertakan bonus suplemen Dialog Jum’at. Lumayan, hitung-hitung untuk belajar agama dan meneguhkan iman yang makin menipis ini seminggu sekali.
Pun, Jum’at kemarin (3/7) saya membeli Koran seperti biasa di kios langganan. Pertama menyentuh rasanya seperti tidak biasa. Terasa lebih tebal. Perasaan , suplemen Dialog Jum’at belum akan ditambah jatah halamannya. Mungkin, ada rubrik lain. Itulah yang ada di benak saya kemudian. Saya tidak sempat menengok seluruh halaman karena mengejar waktu shalat maghrib yang selalu singkat. Saya hanya membaca headline yang berjudul “Satu Putaran Panaskan Debat”.
Anda semua tentu menyimak debat terakhir di malam Jum’at itu kan? Satu debat yang entah diposisikan sebagai debat yang berkonotasi saling serang pendapat dari kontestan atau diskusi untuk mencari penyelesaian dan jalan keluar. Sedikit mengulas kembali, tidak banyak yang berubah dalam debat tersebut. Megawati masih dengan pendapat-pendapatnya yang terkesan sangat normative. SBY yang masih tampil jaim, dan JK yang terlihat santai namun lebih serius dalam pembahasan masalah.
Setelah shalat maghrib dan makan sebungkus nasi padang. Saya mulai membuka halaman satu per satu. Beritanya masih dihiasi kabar dari kematian tragis Michael Jackson yang membuat DEA (Drugs Enforcement Agency) turun tangan, Franck Ribery yang keukeuh (ngotot-pen) ingin pindah ke Real Madrid, Semifinal Wimbledon, dan yang paling menyita perhatian saya adalah Operasi Khanjar (Operasi Tebasan Pedang) yang dilakukan oleh Marini AS di Afghanistan , operasi militer terbesar dibawah kepemimpinan Barack Obama.
Alangkah terkejutnya ketika mengetahui sebab Koran hari ini berasa lebih tebal. Terselip satu lagi suplemen yang berfungsi sebagai alat kampanye SBY-Boediono dengan judul “Amanah untuk Rakyat”. Suplemen yang berjumlah 16 halaman ini bercerita tentang profil SBY dan Boediono dari mereka lahir hingga mereka meniti karir masing-masing. Diceritakan bagaimana SBY lahir dan tumbuh dalam lingkungan masyarakat pesantren, bersekolah negeri di Pacitan, sekolah militer di AKABRI, hingga karir militer dan sipilnya sampai saat ini. Begitu pun dengan pasangannya, Boediono. Cerita dimulai dengan masa kecil Boediono yang santun dan sederhana sebagai anak pedagang batik di Blitar. Lalu, diceritakan pula bagaimana perjalanan pendidikan dan karir Boediono sampai saat ini pula.
Bagi saya apa yang terjadi hari ini adalah sebuah keanehan. Aneh karena menurut saya media telah kehilangan independensinya. Media, terlebih di zaman pemilu yang kesekian ini telah menjadi senjata yang ampuh bagi setiap insane politik yang ingin menegaskan eksistensinya. Aneh. Sama anehnya ketika Metro TV menjadi corong dan wahana pencitraan dari satu kandidat capres lainnya. Begitu juga ketika menjelang pemilu legislative, masih di harian yang sama, terpampang iklan full page dari PDIP yang menyangkal seluruh pencapaian di masa pemerintahan SBY-JK demi menegaskan citra partai yang peduli wong cilik yang juga tentu sudah terlanjur melekat pada partai berlambang banteng ireng (banteng hitam) tersebut.
Entah teori komunikasi massa mana yang digunakan. Permainan dengan media ini tentu bukan tanpa tujuan dan hasil yang ingin dicapai. Saya tidak sempat membandingkan dengan media cetak lainnya. Apakah mereka juga melakukan hal yang sama dengan kandidat yang lain, saya belum tahu. Saya memandang hal ini sebagai konsekuensi yang wajar dari demokrasi yang selalu kita banggakan dan nilai bisnis yang menggiurkan. Dari sudut pandang demokrasi, kebebasan berpendapat melalui media lebih terjamin tanpa adanya diskriminasi dan intimidasi pihak lain. Sedang dari sisi bisnis, Koran butuh iklan sebagai pemasukan terbesarnya dan si pengiklan butuh media untuk menyampaikan sesuatu yang mereka bawa (namanya juga kampanye). Maka sangat wajar bila mereka menerima order untuk membuat suplemen yang seperti itu agar profil si pengiklan mendapatkan exposure kepada publik dan Koran mendapat pemasukan yang sudah tentu besar dari si pengiklan.
Bila suatu hari nanti anda ada yang membacanya dan kagum dengan isi suplemen tersebut tolong beri tahu saya. Itu artinya anda masih waras. Sama seperti saya. Saya mengagumi kisah-kisah didalam suplemen tersebut. Tetapi, dalam situasi politik saat ini bahasa penyampaian yang digunakan pun memang bahasa dengan kesan positif yang pada akhirnya menggiring kesadaran pembaca untuk kemudian bersimpati lalu memilih pasangan tersebut pada pemilu 8 Juli nanti. Semuanya telah direncanakan dengan sedemikian matang. Bukan tanpa alasan tim sukses SBY-Boediono menempatkan public profiling tersebut pada harian Republika yang punya credo “Pegangan Kebenaran”.
Saya masih terkesima dengan kisah-kisah tersebut. Cukup ambil ibrohnya (pelajaran) saja. Cukup ambil nilai-nilai yang terkandung didalamnya:kerja keras, pantang menyerah, santun, sederhana, rendah hati, dll. Masalah pilihan, saya kira anda semua sudah lebih pintar untuk menentukan siapa yang akan dipilih pada pemilu mendatang. Biar hati nurani anda dan sepasang mata yang setajam garuda dipadu dengan kecepatan berpikir menuntun anda semua untuk memilih kandidat yang pantas untuk memimpin Indonesia.
Salam hangat dari Cakung.
Jakarta, 4 Juli 2009
Langganan:
Komentar (Atom)





