Tampilkan postingan dengan label Perempuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perempuan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Juni 2024

Kenapa

Kenapa kita tidak pernah bisa setia pada satu hati saja?
Tapi,aku masih tetap merindumu...

Pegangsaan Dua, 21 Februari 2009 

diedit pada 14 Maret 2021 

Jumat, 22 Desember 2023

Sesah Hilapna - A Commemorate to Unforgetfulness

Asa-asa urang teh nembean tepang, aya keureuteug hate dugdeg sur ser sesah hilapna...

Geuing beut sungkan papisah... Deuh... Sesah hilapna...

Kantenan urang teh nembean tepang aya nu eunteup gerets kadeudeuh sesah hilapna...

Nyanding asih dina ati... Deuh... sungkan patebih...*)

 

Rhein.. Carrarhein... Hanya itu saja yang ku tahu tentang dia. Hanya namanya saja. Pertemuan ini berlalu begitu saja. Tidak lebih cepat dari 1 lap balapan Formula 1. Juga, tidak lebih lambat dari Fastest Lap Kimi Raikonnen. Kau boleh bilang sepintas lalu saja. Ya, memang seperti itu. Untung saja, aku masih ingat namanya. Namanya yang selalu akan jadi bagian cerita hidupku ini.

Tidak perlu lagi kuceritakan bagaimana aku tahu namanya. Tidak juga kau perlu tahu mengapa sulit untuk melupakannya. Toh, pertemuan kami tidak disengaja. Aku tidak berkuasa apa-apa atas kejadian ini. Aku hanya tahu kalau aku sedang menjalani kemestian.

Aku sedang berada di dalam perjalanan. Perjalanan yang akan membawaku kepada diriku sendiri. Entah mengapa aku merasa punya kekuatan dan harapan yang kuat untuk melakukan suatu perjalanan, sendirian. Perjalanan ini bukan dalam misi bisnis, dagang, bekerja, tapi lebih pada silaturahmi. Silaturahmi pada kenangan-kenangan yang berceceran di sepanjang jalan menuju tujuan. Silaturahmi dengan suasana baru yang kuharap dapat mengantarkanku pada diriku sendiri.

 

Whatever tomorrow brings i'll be there...**)

.

Aku masih berada dalam perjalanan sambil berpikir akan pergi kemana lagi setelah ini. Ada banyak kemungkinan. Aku masih bisa pergi lagi ke Magelang untuk mengambil kembali kenangan tentangnya. Kenangan yang tertinggal dalam kabut Merbabu. Belum lagi yang tercecer dan menyatu dalam butiran air di kolam renang Sukotjo. Benar-benar sebuah napak tilas yang mungkin bakal berkesan. Aku ingin sekali lagi ke Magelang atau, sekedar main ke Yogyakarta. Meretas mimpi yang mungkin terobati. Aku masih menatap gelap diluar jendela sana. Bus masih melaju kencang. Sepi. Sendirian melintas jalan sunyi. Sendiri. Seperti aku. Menuju kesana. Kesana.


Pegangsaan Dua, 19 Desember 2008

*)Sesah Hilapna, dinyanyikan oleh Hetty Koes Endang

**) Drive, lagunya Incubus. Di Indonesia malah ditiru jadi nama Band.

diedit kembali pada 22 Desember 2023 untuk terbit di blog ini

Jumat, 16 September 2022

Surat Cinta dari Fuzhou (lagi)

Cintaku,

Hari ini aku kembali ke Fuzhou. Seharusnya aku sudah berada disampingmu, saat ini. Seharusnya aku sudah menghapus peluhmu, Mencium keningmu dengan segenap perasaan. Penuh cinta dan romansa. Sayang sekali, kita tidak pernah bisa memilih takdir. Seperti saat kita menuang segelas bir.

Aku kembali pada suara gemuruh ombak yang sama. Entah berapa juta hari yang lalu. Aku kembali pada angin yang sama. Angin yang terbawa topan Muifa dari arah ShangHai sana. Aku kembali pada aroma yang sama. Aroma perpisahan yang selalu tidak pernah menyenangkan.

Aku tidak pernah tahu apa yang terjadi. Apakah kembalinya aku ini meninggalkan jejak pada dia dan dirinya. Aku tidak pernah tahu apakah ini adil untuk mereka. Siapa bilang hidup ini begitu "fair" soal asmara dan membagi hati.

Manisku,

Sudah terlalu banyak perasaan di dunia ini. Setiap saat, setiap waktu, kita menciptakannya. Aku, engkau, kita, mereka, dan entah siapa lagi. Aku kembali menatap lampu-lampu jembatan yang masih sama warnanya seperti saat kutinggalkan. Gemerlap, serupa kilau auramu yang takkan pernah mudah untuk kulupakan.

Sayangku,

Agaknya, kali ini perasaaanku sedikit lega. Aku tahu akan menuju kemana. Aku akan pulang padamu. Kembali lagi padamu. Kembali seperti dulu. Saat desah nafasmu begitu dekat, dan engkau kupeluk erat.

Terimalah salam sayangku yang kesekian juta kalinya. Entah engkau masih mau apa tidak. Aku hanya tahu satu hal. Aku mencintaimu.


dari tempat paling sepi di dunia.
Teluk Haiying, Fuzhou. 14 September 2022

Surat Cinta dari ShangHai

Cintaku,

Akhirnya, aku tiba juga di ShangHai. Sebuah kota yang hanya pernah kita bayangkan. Sebuah nama yang hanya kita kenal lewat film-film Jacky Chan dan Andy Lau. Sebuah nama yang tidak pernah terlintas akan menjadi goresan dalam catatan kecil perjalanan kita. Aku merasakan denyut kota yang sama. Denyut kota yang pernah kita rasakan ketika mengitari Bundaran HI kala itu. Saat senyummu masih selalu menumbuhkan keraguanku.

Begitulah, cintaku. Aku memulai perjalanan yang kesekian kalinya ini di Hari Kemerdekaan Republik tercinta. Aku terdampar di pinggiran kota, namanya Minhang District, mungkin daerahnya seluas kecamatan. Aku akan memulai hari-hariku yang hanya seperti ini untuk entah berapa lama.

Aku teringat pesan darimu dulu. Engkau selalu bilang padaku untuk tidak pernah mengacaukan hari pertama. Hari pertama apapun itu. Aku berusaha memenuhi janjiku padamu itu. Aku jalani hari-hariku dengan selancar-lancarnya.

Manisku,

Hari-hariku disini kemudian adalah hari-hari penuh rindu. Hari-hari dimana suara-suara gemuruh kota selalu membawa ingatan ini kepadamu. Aku titipkan rindu pada angin. Aku titipkan rindu pada gelombang. Namun, mereka semua tidak pernah sampai kepadamu. Katanya, mereka dihantam badai topan di Laut Cina Selatan.

Aku pernah mencoba hilangkan sepi. Aku pergi menuju keramaian kota. Aku menuju pusat cahaya. Aku hanya mampu terdiam dan takjub. Aku takjub pada takdir yang membawaku kemari. Hanya untuk mengingat namamu dan mendoakanmu seraya memohon pada Tuhan untuk jangan hilangkan perasaan ini kepadamu.

Aku berada di tepian sungai terbesar disini. Dengan segala temaram dan gemerlap cahaya kota. Aku hanya merasakan kesepian. Engkau tidak disini bersamaku.

Sayangku,

Sisa perjalananku selanjutnya adalah hari-hari berselimut rindu. Aku menghitung hari. Menit demi menit. Detik demi detik. Tanpa terasa ada satu dan dua hati mengisi hariku. Menemani hari-hari sepi tanpa dirimu. Melewati malam dengan lagu-lagu galau kesukaanmu hingga akhirnya merasukiku. Cukup dalam, namun belum sedalam perasaanku padamu.

Aku tidak tahu apakah ini sebuah kesalahan. Semakin aku coba untuk sembunyi hasilnya percuma saja: Aku tersiksa lagi. Mungkin, kesalahan ini semakin terasa indahnya.

Pada suatu malam, ketika hujan badai telah reda dan malam semakin meninggi. Aku menarik nafas dalam-dalam, menghirup semua angin malam yang pernah ada dalam lirik lagu Broery Marantika. Aku hirup semuanya hanya untuk menyuruh mereka agar mau membuka kembali jala-jala kenangan bersamamu. Hasilnya sama saja: Aku galau!

 

Minhang, ShangHai. 10-12 Sept 2022

Rabu, 12 Januari 2022

By The River Piedra, I Sat Down and Wept: Pembacaan Kedua

Sumber gambar: www.goodreads.com

 

Buku ini adalah buku kedua dari Paulo Coelho yang saya baca setelah 'The Alchemist' atau 'Sang Alkemis'. Pertama kali dibaca pada Oktober 2009 dan selesai sebulan setelahnya. Terus terang, buku ini punya judul yang menarik untuk dibaca. "By The River Piedra, I Sat Down and Wept", bisa dimaknai bermacam-macam. Entah itu menangis sedih atau tangis bahagia, rasanya membuat penasaran. Apalagi gambar sampulnya juga mendukung imaji atas pembacaan teks didalamnya.

Bertema cinta, buku ini menceritakan perjalanan cinta dua manusia, Pilar dan sang lelaki teman masa kecilnya yang akhirnya menyatakan cintanya setelah menjalani kehidupan spiritual yang mendalam. Mereka berdua akhirnya dipertemukan oleh takdir. Mereka pun mengadakan perjalanan dengan segala lika-likunya. Termasuk segenap perjalanan yang dipenuhi pergulatan dan karunia Tuhan.

Jujurly, saya sudah lupa dengan kesan pembacaan pertama atas buku ini setelah satu dekade lebih. Saya menghabiskan waktu sebulan untuk menamatkannya. Namun, pada pembacaan yang kedua ini rasanya lebih mengalir dan ringan saja. Mungkin karena pengalaman dan jam terbang saya dengan novel lain sehingga membuatnya lebih mudah.

Saya masih ingat bahwa saya mengharapkan sebuah kejutan pada buku ini, terutama karena judulnya. Saya harap pembaca maklum adanya, karena ternyata buku ini tidak memiliki banyak kejutan. Ada sedikit intens menjelang akhir cerita, ketika mereka berdua telah sampai pada Biara di sekitar Sungai Piedra. Namun, lagi-lagi disana hanya ada sebuah akhir yang bahagia. Cinta telah menemukan jalannya sendiri.

Judul           : Di Tepi Sungai Piedra, Aku Duduk dan Menangis
Penulis        : Paulo Coelho
Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2005
Tebal           : 224 hal.
Genre          : Novel


Pajang, 12 Januari 2022

Sabtu, 31 Juli 2021

Surat untuk Ais

Aisyah sayangku,

Awal bulan ini engkau genap berumur 4 tahun. Usia yang sudah cukup bagi Bapak dan Ibu untuk mendaftarkanmu sekolah Taman Kanak-Kanak (TK). Mudah-mudahan,pilihan ini adalah satu dari sekian juta pilihan kami sebagai ikhtiar. Sungguh keadaan pandemi ini membuat kami kesulitan untuk memasukkanmu ke sekolah TPA atau Pengajian, agar minimal engkau bisa a-ba-ta-tsa terlebih dahulu. Namun, kami tetap yakin, engkau akan mampu melaluinya di setiap pelajaran TK-mu nantinya.

Tidak hanya itu saja, di bulan ini juga Bapak bertambah bahagia karena Masmu sudah mampu untuk bersepeda roda dua. Tak lama setelah roda bantunya dilepas, ia segera melesat berkeliling-dan jatuh. Bapak senang sekali melihat semangatnya, walau memang harga yang harus dibayar lumayan besar. Baret-baret di motor dan mobil sudah tentu harus jadi resiko yang paling utama. Tapi tak apa lah, asal bukan hatinya saja yang baret, hehehe.

Aisyah,

Bapak merasa sedikit lega setelah mendapatkan sepeda pink yang selalu kau idamkan. Walaupun tidak benar-benar baru, Bapak harap kau pun juga sama senangnya. Kami sangat bahagia melihatmu bermain sepeda bersama. Kami pun juga dulu begitu. Selalu senang bersepeda dengan teman-teman. Semoga kesenangan ini bisa terus bertahan lama.

Aisyah,

Entah, atau hanya ge-er saja, Bapak pelan-pelan sedikit paham mengapa Akung punya perlakuan yang berbeda kepad aunty-mu, ya adik Bapakmu ini. Mungkin ini cuma ge-er saja tapi kalaupun benar ya sudah tidak apa-apa karena memang kau dan Masmu ini punya kebiasaan yang berbeda.

Puji syukur, ulang tahunmu ini kini tidak kami rayakan dengan memotong kue. Kami hanya bisa menuruti keinginanmu untuk punya sepatu baru untuk sekolah. Alhamdulillah, masih ada rejeki kami untuk menyiapkan segala keperluan sekolahmu.

Nak, terakhir, Bapak pesan semoga engkau tidak lelah menuntut ilmu. Zamanmu nanti kelak berbeda tantangannya dengan zaman Bapak. Tetap kuat dan tabah.

Peluk sayang,

 

Cipayung, 2 Juli 2021.

Senin, 23 Desember 2019

Helen dan Sukanta

Sumber: www.goodreads.com

Selalu menyenangkan untuk membaca tulisan-tulisan Pidi Baiq yang mengaku sebagai imigran dari surga. Setelah serial Dilan dan Milea-yang dengan gagahnya menghancurkan imaji saya tentang mereka usai difilmkan, Helen dan Sukanta agaknya menjadi sebuah pengecualian untuk cinta yang mendayu-dayu khas anak remaja.

Entah, saya sudah lupa kapan, saya pernah berkunjung ke blog Pidi Baiq dan membaca beberapa paragraf awal dari Helen dan Sukanta. Begitu pula dengan Dilan, yang catatan awalnya dapat dibaca dalam blog sang penulis. Harapan saya satu per satu menjadi kenyataan. Dilan sudah terbit-sekaligus difilmkan. Kemudian, menyusul Helen dan Sukanta. Sebuah novel romantis dengan ending yang tragis.

 
Membaca Helen dan Sukanta berarti mengembalikan ingatan kepada Bumi Priangan-utamanya Tjiwidei, masa kolonial pasca politik etis. Kisah romantis antara seorang Noni belanda dengan anak pribumi saat itu adalah hal yang tabu. Demikian pula dengan Helen dan Sukanta. Terlalu banyak perbedaan untuk menjadi hambatan kisah cinta mereka.

Saya tidak akan menyoroti bagaimana kisah cinta mereka, darimana Helen bisa kenal dengan Sukanta, dan segenap perjalanan yang mengasah cinta mereka. Helen dan Sukanta adalah sebuah kisah tragis, walaupun hanya baru bisa ditemukan pada seperempat terakhir buku.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pendudukan Jepang atas koloni Hindia Belanda membawa banyak perubahan. Tidak hanya bagi kaum kolonial tetapi juga pada kaum pribumi yang mendambakan kemerdekaan. Kisah Helen dan Sukanta berada pada tengah masa peralihan itu.

Helen yang pulang ke Tjiwidei untuk menemui ibunya yang sakit dan kemudian meninggal tidak pernah menyangka bahwa perpisahan dengan Ukan (panggilan untuk Sukanta) itu adalah perpisahan untuk selamanya. Pasukan Jepang berhasil menduduki Kalijati, kemudian menyeberang ke Lembang. Ukan, entahlah dimana. Helen kemudian masuk kamp tawanan Jepang dimana ia harus kehilangan buah hati yang sedang dikandungnya. Pernah sekali Helen kembali untuk mencari Ukan ke Lembang. Hasilnya sia-sia saja. Bahkan, kalau tidak karena kenalannya di perkebunan dulu, Helen tidak akan tahu nasibnya.

Saya mendapatkan kesan bahwa novel ini sangat humanis. Penulisnya berhasil membawa ingatan tentang masa kolonial beradu dengan masa pendudukan ditambah konflik antara dua hati yang saling mencinta. Tetapi, adalah tragis ketika kita tidak pernah tahu nasib tentang orang-orang yang kita cintai. Begitulah, Helen dan Sukanta dalam pergulatan takdirnya masing-masing.

Judul            : Helen dan Sukanta
Penulis        : Pidi Baiq
Penerbit       : The Panasdalam Publishing
Tahun          : 2019
Tebal           : 364 hal.
Genre           : Novel-Sejarah
 
Ciputat-Cengkareng, 23 Desember 2019.
Ulasan penuh pertama usai Bapak tidak ada.

Jumat, 30 November 2018

Belahan Jiwa

Membaca lagi surat-surat mu
Hatiku jatuh rindu

Entah mengapa setiap memainkan lagu ini ingatanku selalu menuju padamu. Ah, mengapa ya? Mengapa semua ini harus juga tentangmu? Aku tidak pernah tahu. Hanya bisa menerka dan mereka-reka saja.
 
Waktu itu kita masih terlalu muda. Terlalu mudah terpesona untuk tahu apa yang orang sebut cinta. Mungkin, kita sama-sama terbuai dalam khayal dan imaji masing-masing. Ya, mungkin saja. Barangkali, kita terbuai bahwa kisah kita adalah Rangga dan Cinta.
 
Aku tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara kita berdua? Aku tidak pernah benar-benar tahu apa namanya. Kita berdua sepakat bahwa jarak membentang. Membentang sebegitu rupa sebelum ada tol Cipularang.
 
Penamu dan penaku pernah bicara. Pernah begitu dekat hingga pada akhirnya justru dalam dekat hanyalah diam yang ada diantara kita.
 
 
Jakarta, 30 November 2018.
 
* Belahan Jiwa, KLa Project

Kamis, 29 November 2018

Mimpi

Semua bisa terjadi
di dalam mimpi
Benar kata puisi
Sekali berarti sudah itu mati


Jurangmangu, 15 November 2018.

Rabu, 13 Desember 2017

Elegi Senja Pertama

Jingga di bahumu
Malam di depanmu
Dan bulan siaga sinari langkahmu
Teruslah berjalan
Teruslah melangkah
Ku tahu kau tahu aku ada



Tidak ada matahari pagi ini. Langit masih mendung sisa hujan semalam. Ibu masih terbaring diam di ranjang.

"Aku tinggal dulu. Kamu baik-baik ya. Jangan lupa makan."

Bagas membangunkanku pelan dengan kata-katanya. Aku tidak tahu kalau dia ikut menginap denganku disini, disamping Ibu. Ah, aku pasti lelah usai menempuh perjalanan panjang semalam. Amsterdam-Jakarta-Bandung ternyata tidak sejengkal jari manisku di bola dunia. Perjalanan pulang yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku.

Sumber gambar: www.hipwee.com

*

"Kamu pergi sekolah sendirian bisa? Ibu nggak bisa antar kamu pagi ini. Ibu harus mengantar pesanan."
"Nggak apa-apa kok, Bu. Nita bisa pergi sendiri. Siapa tahu Selly masih di rumah, jadi bisa bareng ke sekolah."
"Ini uang jajan kamu. Kunci rumah Ibu simpan di tempat biasa."

Aku masih ingat percakapan dengan Ibu di satu pagi yang sudah lama sekali. Aku masih SD waktu itu. Entah kenapa ingatanku pagi ini kembali ke masa itu. Satu waktu dimana aku mulai menyadari bahwa Ibu adalah seorang Ibu yang luar biasa kuat, tabah, dan tegar. Satu titik dimana aku mulai merasakan ketulusan Ibu, yang takkan bisa tergantikan oleh apapun di dunia ini.

Aku terlahir tanpa mengenal siapa ayahku. Kata Nenek, ayah sudah lama meninggal sebelum aku lahir. Ayahku seorang ahli biologi molekuler yang juga seorang dosen. Determinasi dan ketekunannya membuat Ayah punya reputasi yang baik di kalangan akademisi dan peneliti. Sayang, hal itu pula yang perlahan menggerogoti tubuh Ayah. Ayah meninggal karena gangguan fungsi liver. Selebihnya, aku tidak tahu lagi soal Ayah. Tepatnya, belum mencari tahu.

Aku tumbuh dibimbing Ibu seorang diri. Kami tinggal berdua di rumah peninggalan Ayah. Sebenarnya, Ibu bisa saja menjual rumah itu dan kami tinggal bersama Nenek. Waktu aku tanya begitu, Ibu selalu bilang bahwa rumah itu terlalu banyak menyimpan kenangan tentang Ibu dan Ayah. Lagipula, ada campur tangan Kakek yang turut mendesain facade rumah itu, maklum ia seorang arsitek.

"Bukankah kenangan itu ada untuk dilupakan, Bu?"
"Begitu, ya. Kamu lagi baca buku apa?"
"Nggak sih. Tapi, banyak orang memilih kenangan mereka sendiri dan berusaha melupakannya."
"Sayang, suatu saat nanti kamu akan tahu, kenapa kenangan diciptakan dan mengapa beberapa dari mereka tinggal di hati kita."

Aku memang tidak pernah bisa sedekat itu dengan Ibu. Aku sangat jarang bisa bicara atau sekedar mengobrol ringan dengannya. Aku mulai mau dekat dengan Ibu usai menstruasi pertamaku. Aku terlalu takut menghadapi gerbang dimulainya masa remajaku. Kata orang, aku juga akan mengalami masa puber. Dari majalah remaja yang aku sering pinjam dari Kak Sheila, kakaknya Selly, aku menemukan banyak hal soal bagaimana menjadi seorang remaja. Termasuk tahapan-tahapan yang akan aku lalui nantinya. Kak Sheila sering berkata padaku bahwa tak lama lagi aku akan segera merayakan "Goodbye Miniset". Terus terang semua itumembuatku takut. Aku butuh seseorang untuk menguatkanku, mengantarku dengan perasaan gembira menuju gerbang itu. Aku tidak punya siapa-siapa lagi untuk berbagi, selain Ibu tentunya.

Ibu dengan setia menemaniku, ketika aku memilih dan membeli pembalut wanita pertamaku. Aku melihat api cinta yang dahsyat dimatanya. Barangkali, Ibu tidak pernah menyangka bahwa ia benar-benar ada disisiku, selalu ada disampingku, hingga aku menjalani masa remajaku. Ibu juga yang membantu menjelaskan soal perubahan fisik yang terjadi pada tubuhku. Ibu juga tak henti-hentinya memperhatikanku. Mulai dari penampilan, gaya bahasa, tutur bicara, segalanya tak luput dari perhatian Ibu. Aku semakin sadar bahwa aku akan tumbuh jadi perempuan dewasa, tak lama lagi. Aku jadi semakin takut.

Satu kali, aku mulai tahu rasanya jatuh cinta. Seperti anak SMP lainnya, aku terkagum-kagum pada kakak kelas yang jago main basket. Setiap pulang sekolah hari Rabu, aku dan Selly selalu punya alasan untuk pulang telat. Aku biasa berkilah pada Ibu bahwa kami harus pergi ke rumah teman lain untuk kerja kelompok. Padahal, aku dan Selly hanya duduk di pinggir lapangan sekolah melihat Arya dan Bimo latihan basket.

Aku dan Selly berhadapan dengan seorang bintang lapangan yang tentunya juga idola semua perempuan di sekolah ini. Kami tidak pernah bisa mengalihkan atensi Arya dan Bimo. Sampai suatu saat, mereka mengajak kami minum jus di kantin sekolah usai latihan. Mereka heran karena kami selalu jadi penonton setia latihan mereka. Aku dan Selly tentu senang merasa diperhatikan seperti itu. Ternyata mereka tahu kehadiran kami setiap latihan. Namun, rasa senang yang terlanjur melambung itu hanya sesaat saja. Arya dan Bimo sudah punya pacar di sekolah lain. Damn!

Lain waktu, aku jatuh cinta lagi pada guru pelajaran Seni Musik. Aku tidak tahu apakah Ibu pernah mengalami hal yang sama denganku. Aku suka memanggilnya Mas Daniel, karena ia masih cukup muda dan juga jadi anggota The Symphony 8, sebuah grup orkestra klasik yang cukup terkenal di kotaku. Aku mulai rajin latihan biola, alat musik yang aku pilih dengan asal hanya karena ingin jadi seperti seorang Sharon Corrs. Aku memainkan melodi 'Toss The Feathers' saat pertunjukan yang jadi ujian akhir pelajaran. Aku berhasil mendapat nilai sempurna dan standing ovation dari Kepala Sekolah serta Mas Daniel. Lagi-lagi, aku dibuat kecewa ketika tiket spesial pertunjukan The Symphony 8 pemberian Mas Daniel hanya untuk sekedar melihatnya menerima pelukan mesra dari seseorang yang mengaku sebagai kekasihnya.

Seakan bisa membaca perasaanku, Ibu mulai mengajakku bicara sejak kejadian malam itu. Ibu melihat perubahan yang tidak biasa akhir-akhir ini. Aku tidak lagi bergairah memainkan biola ketika Ibu memintanya. Tiba-tiba aku tersadar saat aku sudah berada di pelukan Ibu, dengan derai mata yang masih hangat. Aku masih ingat kata Ibu.

"Gagal memiliki bukan berarti gagal mencintai, sayang."

*

Aku tidak pernah menyangka bahwa aku masih bersama Anita hingga saat ini. Menemaninya pergi membeli pembalut wanita pertamanya hingga menjelaskannya soal perubahan fisik yang terjadi padanya. Sepuluh tahun berlalu sejak ia bisa memanggilku Ibu dengan sempurna. Kini, malah aku yang tak sadar bahwa waktu berjalan begitu cepat. Anak perempuanku yang belum pernah bertemu ayahnya itu kini sudah jadi gadis remaja. Tak lama lagi, seorang laki-laki akan jatuh cinta padanya. Atau malah ia yang jatuh hati duluan, pada Guru Musiknya barangkali. Seperti aku dulu.

Aku jadi malu bila mengingat lagi masa itu lagi. Aku tidak akan pernah lupa Bagus yang gila kerja itu berani bertemu Bapak dan mengutarakan niatnya untuk menikahiku. Padahal, saat itu aku masih jadi kekasih Daniel, seorang guru piano yang sengaja Bapak pilih untuk mengajariku memainkan melodi lagu kesukaannya, "Memories Of Youth" dari Richard Clayderman.

Sayangnya, Daniel tidak punya cukup nyali untuk melamarku. Ia terlalu takut menghadapi Bapak karena tidak mau jadi orang yang tidak tahu diri. Aku berkali-kali meyakinkannya bahwa cinta kami tidak akan pernah gagal hanya karena ia 'berhutang' pada Bapak. Bapak sangat menghargai kejujuran dan keberanian. Bagus tahu itu, maka dengan sepeda kumbangnya ia datang ke rumahku dan menyampaikan niatnya.

Aku mendapat restu kedua orangtuaku untuk menikah dengan Bagus. Dia sudah jadi dosen muda waktu itu. Aku cukup realistis untuk memulai hidupku bersama Bagus karena gaji dosen waktu itu tidaklah terlalu besar. Banyak pria lain yang patah hati karena aku lebih memilih Bagus. Bahkan, Handi, arsitek handal tangan kanan Bapak pun ikut merasakannya.

Aku kaget ketika Bagus membawaku ke konservatorium milik sahabatnya. Tepat di hari ulang tahun pertama pernikahan kami, Bagus memainkan lagu kesukaan Bapak "Memories of Youth" dan "Ballade pour Adeline" kesukaanku. Aku tidak menyangka bahwa Bagus bermain piano lebih baik daripada aku yang sengaja dikursuskan oleh Bapak. Sejak itu, Bagus tidak pernah berhenti memberiku kejutan.

Aku jadi anak perempuan pertama yang memberi cucu untuk Bapak dan Ibu. Anita Diandra Febrina, begitu kami menamainya. Lahir tanggal 14 Februari, dimana Bagus masih berada di Australia untuk hari seminar pertamanya. This mommy little girl will never see his father karena Bagus meninggal tak lama setelah kepulangannya. Kataku, sambil menggendong Anita di peristirahatan terakhir lelaki pemain melodi terindah sepanjang hidupku.

Aku masih menulis buku harianku ketika Anita menerima telepon pertama dari anak lelaki yang sedang mendekatinya. Anita mulai mengambil jarak denganku, aku bisa rasakan hal itu. Aku rasa inilah waktu untuk memberinya ruang privasi. Peranku berubah, aku harus menjadi seorang teman sekaligus sahabat untuknya.

Aku cukup tahu bagaimana Anita bermain dengan perasaannya. Aku sudah terbiasa dengan hal ini. Naluri Ibu manapun di dunia ini pasti bisa merasakan getarannya. Apapun itu, aku harus tetap bertahan dan selalu ada untuknya. Aku tahu ketakutan terbesarku. Akhirnya, aku harus akui kalau aku sangat takut untuk tidak selalu mampu menemaninya, selalu disisinya. Melewati prom night pertamanya, kelulusan SMA yang selalu penuh cerita, hari-harinya di universitas, hingga mendengarkan cerita soal wawancara kerja pertamanya.


*

Tanpamu... semua tak berarti... cinta sudah lewat...


Pada senja pertamaku di Tanah Air, aku merasa menjadi orang yang sangat bodoh. Aku mendadak merasa jadi orang paling kejam di dunia. Aku meninggalkan Ibu seorang diri di rumah demi sebuah pekerjaan di Belanda sana. Aku meninggalkan Ibu beserta segenap cinta kasih yang pernah ia sematkan dalam setiap hela nafasku. Aku masih bisa merasakan semua kasih sayang yang telah Ibu berikan sepenuhnya. Aku yakin, cinta tidak pernah gagal membuat Ibu mengerti. Hingga saat ini, saat aku memandangi pusaranya.


Jakarta-Bandung, 14 Februari 2014.


* Ditulis untuk kompilasi 'Love Never Fails 1" presented by @NulisBuku. Diterbitkan sebagai satu cerpen di buku ke-5 kompilasi "Love Never Fails".

Senin, 27 November 2017

@TentangAnak

Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya sudah berkali-kali menulis catatan, review, atau resensi soal twit yang dibukukan. Kali ini saya melakukannya lagi. Oops, I did it again.

Twitter bagi saya adalah sebuah old glory. Saya sudah jarang membuka Twitter sejak zaman Android mulai meraja menghapus kejayaan era Blackberry. Saya tidak sempat mengikuti twit-twit soal pengasuhan anak. Kalaupun ada, itu hanya soal pranikah. Saya lupa untuk menyiapkan episode setelah nikah.

Well, saya harus bersyukur karena ada seorang ayah yang mau berbagi. Tolong dicatat, bahwa sosok ayah ini bukan seorang ahli atau praktisi dalam pengasuhan anak. Untuk itu, adalah sebuah penghargaan baginya karena dapat memberi sedikit tetesan ilmu untuk para orang tua.

Buku ini adalah buku santai. Artinya, pembaca tidak usah harus terlalu serius. Namun, untuk informasi atau pengetahuan lebih lanjut pembaca bisa menelusurinya secara mandiri. Walaupun buku ini bersumber dari kicauan penulisnya, dalam bagian akhir buku disertakan pula referensi yang digunakan penulis.

Parenting should be fun. Buku ini mengajak pembaca untuk menikmati dan berproses sebagai orang tua yang dianugerahi sebuah amanah yang tidak terkira besarnya, yaitu anak. Tidak hanya seputar anak, penulis juga mengingatkan agar para suami juga fokus dengan para bu ebu (ibu-ibu). Ya, penulis berhasil membuat saya merasa bersalah pada istri saya.

Satu catatan lagi yaitu bahwa penulis tidak sungkan untuk mengangkat isu parents vs parents dalam bab Mertua vs Menantu. Setidaknya, ada hal-hal positif yang perlu kita amati dari sudut pandang orang tua kita. Sejalan anak yang tumbuh besar kita kadang lupa bahwa mereka pun ikut menua.

Anyway, buku ini sangat layak dibaca oleh para orang tua baru atau parents wannabe. Sebagai bahan belajar buku ini cukup variatif dan membahas isu-isu penting seputar pengasuhan anak di zaman now seperti sekarang ini. Semoga pembaca dapat menyiapkan bekal untuk menempuh perjalanan panjang tak terlupakan bersama anak-anak. Selamat menikmati.

Judul           : @TentangAnak
Penulis        : Joko Dwinanto
Penerbit      : Noura Books
Tahun          : 2014
Tebal          : 248 hal.
Genre         : Pengasuhan Anak

 
Cipayung, 21 November 2017

Kamis, 31 Agustus 2017

Dilan 3

Aku ingin bercerita kepadamu tentang diriku, karena aku adalah karakter utama di dalam cerita hidupku sendiri. Hidupku adalah ceritaku. Diriku adalah diriku.

Sumber gambar: www.goodreads.com
Buku terakhir dari serial trilogi Dilan karya Pidi Baiq ini hadir dengan judul “Milea: Suara dari Dilan”. Seakan-akan buku ini ingin bicara bahwa isinya adalah sebuah ‘pembelaan’ dari Dilan. Ah, nampaknya terlalu berat bila dinamakan sebuah ‘pembelaan’. Let’s just say this is a clarification. Ya, sebuah klarifikasi dari Dilan. Untuk isi buku pertama dan kedua, sila tengok pranala luar yang ada dalam blog ini. 

Prasangka, betul-betul bisa mempengaruhi keyakinan. Mempengaruhi persepsi dan menimbulkan pikiran negatif.

Jangan heran bila pembaca yang budiman sudah disuguhi quote pendek dari Dilan: “Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu.” Membuat angan-angan pembaca setidaknya lari ke arah pembayangan perpisahan antara Dilan dan Milea. Bukankah dalam buku kedua hal itu sudah ditengarai oleh Milea?

Saya setuju bila buku ini adalah sebuah klarifikasi dari Dilan, sang penutur utama. Dilan memberikan semua penjelasan mengenai semua yang sudah ia lakukan bersama Milea, termasuk semua yang sudah dituturkan Milea dalam buku terdahulu. Klarifikasi yang Dilan berikan dimaksudkan agar pembaca yang budiman sekalian dapat lebih memahami lebih dari apa yang telah Milea ungkapkan.

Kamu boleh bebas berpendapat tentang diriku, bahkan dengan penilaian yang terburuk sekalipun karena aku percaya, di dalam caranya masing-masing, setiap orang melakukan kesalahan. Dan, setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk dimaafkan.

Saya tidak mau memberi nilai bahwa serial ini adalah sebuah kisah romantis antara sepasang anak manusia yang dirundung cinta. Sekilas mungkin tidak salah bila pembaca berpendapat demikian. Namun, bila dipandang dari sisi biografis, trilogi Dilan-Milea ini tidaklah terlalu salah juga. Pun bila, penulisan yang dirangkai dengan ragam bahasa tutur seperti layaknya membaca sebuah buku harian. 

Jalanilah hidupmu dengan mengacu kepada pikiranmu sendiri tanpa harus memaksa orang untuk berpikir yang sama dengan dirimu.

Saya tidak mengharapkan sebuah kejutan dari buku ini. Bila akhirnya difilmkan, itu urusan lain. Biar Dilan dan Milea hidup sebagai tokoh abstrak dalam khayal semata. Yang jelas, kehadiran sesosok Cika dalam hidup Dilan cukup membawa arah kisah ini ke arah yang seharusnya: Perpisahan.

Judul            : Milea: Suara dari Dilan
Penulis         : Pidi Baiq
Penerbit       : Pastel Books
Tahun           : 2016
Tebal           : 357 hal.
Genre          : Sastra Indonesia - Novel



Cipayung, 25 Agustus 2017

Drupadi

Apakah perempuan diandaikan tidak punya kemauan? Tentu seorang perempuan memiliki kehendaknya sendiri.

Sumber gambar: www.goodreads.com
Kisah tentang Drupadi adalah kisah sejati kodrati seorang perempuan. Sebuah kisah yang menyayat hati karena ketulusan yang suci. Tentulah tidak perlu saya ulang lagi bagaimana kisah Drupadi. Belakangan ini, kisah epik Mahabharata kembali muncul di layar kaca. Sila tengok sendiri jalan ceritanya di bagian Drupadi yang masih berkaitan dengan lakon Pandawa Dadu.

Saya tidak heran jika Seno Gumira Ajidarma kembali menulis tentang sebuah lakon. Sesudah pengemasan kembali kisah epik Ramayana dalam Kitab Omong Kosong, tentunya. Seno sendiri agaknya memainkan wacana tentang hegemoni gender yang diibaratkannya dengan kisah Pandawa dan Drupadi. Seno banyak menggunakan referensi lain yang menambah kekuatan buku ini. Utamanya soal Mahabharata.

Drupadi yang hadir ke tangan pembaca yang budiman adalah Drupadi yang telah melewati sekian banyak riwayat publikasi. Bab 1 hingga bab 4 dimuat secara bersambung dalam majalah mingguan Zaman, 14 Januari-11 Februari 1984. Bab 5 masih dimuat Zaman edisi 22 Desember 1984. Bab 6 hingga 10 ditulis medio 2000. Bab 10 muncul kembali dalam harian Kompas Minggu 7 Januari 2001, Cerpen Pilihan Kompas 2002, dan Senja dan Cinta yang Berdarah (2014). Sedangkan, Bab 6, 7, 8, 9 dimuat pada berbagai harian yaitu Suara Pembaruan, Media Indonesia, Republika, dan Suara Merdeka.

Drupadi tidak menyukai suratan karena kehidupan manusia menjadi tidak berarti tanpa adanya perjuangan. Jika segalanya telah menjadi suratan, apakah yang masih menarik dalam hidup yang berkepanjangan ini? Apakah usaha manusia tidak ada artinya? Apakah memang semua sudah ditentukan seperti nasibnya yang menjadi istri dari kelima ksatria Pandawa? Drupadi adalah sebuah kehendak sekaligus gugatan.

Judul        : Drupadi: Perempuan Poliandris
Penulis     : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit   : Gramedia Pustaka Utama
Tahun       : 2017
Tebal        : 149 hal.
Genre       : Sastra Indonesia - Kumpulan Cerpen


Tangerang, 23 Agustus 2017.

Jumat, 30 Juni 2017

Selamat Tinggal, Jupe

10 Juni 2017, Julia Perez meninggal dunia. Perempuan bernama asli Yulia Rachmawati itu menghembuskan nafas terakhirnya di RSCM. Penyakitnya telah membuat Jupe semakin lemah hingga akhirnya wafat.

Jupe sendiri sudah malang melintang di dunia hiburan tanah air untuk waktu yang cukup lama. Saya sendiri lebih mengenang Jupe ketika ia menjadi satu dari sekian pemain sinetron malam, 'Konak' alias Komedi Nakal, medio 2003 lalu. Segenap kontroversi kerap menghinggapinya.

Sang pemilik tembang 'Belah Duren' kini telah tiada. Namun, torehan rasa yang ia tinggalkan akan tetap diingat. Selamat jalan dan selamat tinggal, Jupe.


Cipayung, 12 Juni 2017.


Minggu, 30 April 2017

Jazz, Parfum, & Insiden: sebuah catatan

Barangkali ideologi memang belum mati. Namun kalau masih hidup pun sebaiknya ideologi dibunuh saja. Terlalu banyak omong kosong dalam perbincangan ideologis - yang kita perlukan adalah kebahagiaan yang konkret... - Hal. 170 

Sumber gambar: www.goodreads.com

Barangkali, pembaca sudah maklum bahwa buku ini adalah bagian dari Trilogi Insiden. Barangkali juga pembaca sudah mafhum bahwa tidak ada hubungan antara Jazz, Parfum, dan Insiden. Barangkali saja. Namun, di tangan Seno Gumira Ajidarma, Jazz telah berubah bukan hanya menjadi sekedar aliran musik belaka. Jazz adalah sebuah romantisme bagi sebuah roman metropolitan.

Perlu diakui bahwa karya monumental kesekian ini memperlihatkan sisi kehidupan jurnalistik SGA. SGA menempuh jalannya sendiri dalam menyuarakan ketidakadilan dan represivitas Orde Baru. SGA membalut romantisme ala metropolitan dengan unsur musik jazz dan parfum sebagai sebuah metafora untuk sensualitas kaum perempuan.

Seperti telah dapat dibaca pada "Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara", pada roman metropolitan ini ada pertentangan antara fakta dengan fiksi. Pengemasan keduanya dalam cerpen dan roman telah menghadirkan perbedaan yang signifikan. Betapa tuntutan mengenai fakta dalam fiksi akan lebih tinggi dalam sebuah cerita pendek. 

Berbeda dengan apa yang terjadi pada dua unsur tersebut (fakta dan fiksi) dalam sebuah roman. Pertama, pembaca bisa menganggap bahwa apa yang disebutkan fakta dalam fiksi di sebuah roman adalah sebagai tulisan/bualan penulisnya supaya romannya bisa punya cerita yang panjang. Kedua, kalaupun ada fakta dalam fiksi sebuah roman, maka itu bisa saja sebuah kebetulan supaya cerita antar bab bisa saling berhubungan menuju sebuah ending.

Tentu saja, kedua pendapat diatas masih terlalu subjektif dan lahir hanya dari seorang penulis dadakan sekelas saya. Pada proses pembacaan kumpulan cerpen 'Saksi Mata' (terbit kembali di Trilogi Insiden) saya sebagai pembaca awam cenderung menuntut keabsahan dari catatan-catatan jurnalistik yang dimuatnya. Hal ini tentu berbeda ketika saya menghadapi 'Jazz, Parfum, & Insiden' dimana banyak sekali catatan jurnalistik yang dimuat dari berbagai sumber. Saya cenderung masa bodoh dengan catatan mana yang benar-benar bisa dipercaya maupun dengan catatan mana yang isinya hanya kibul belaka.

Namun, siapapun yang mulai membaca roman ini agaknya tidaklah perlu mengkaitkan antara parfum dengan bau mayat-mayat yang bergelimpangan usai terdengar suara tembakan. Tidak ada kaitannya sama sekali atau malah jalan pikiran saya saja yang menghubungkan mereka. Setidaknya, pembaca tidak akan kehilangan ketokohan Sukab maupun Alina. Pembaca punya banyak alternatif jalan cerita tentang peran Sukab dan Alina dalam roman ini. Sukab sudah jelas disebut dalam cerita, namun Alina hanya muncul utuh dalam ending cerita: sebuah surat. Untuk itu, sila pembaca yang budiman menakar sendiri roman ini secara utuh, tentang seseorang yang selalu mengenakan Walkman, tenggelam dalam jazz dan harum parfum, dan membaca insiden yang berdarah.

Judul           : Jazz, Parfum, & Insiden
Penulis        : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit      : Bentang
Tahun          : 2004
Tebal           : 252 hal.
Genre          : Sastra Indonesia-Roman

Cipayung, 27 April 2017.

Selasa, 31 Januari 2017

AADC #2: Kamu Jahat!

Musim berganti, tapi hati tetap sama rindu
 
Sumber gambar: www.liputan6.com

AADC. Ada Apa Dengan Cinta: (n); film yang hits pada medio 2002-an lalu, sekaligus menjadi tonggak bangkitnya perfilman Indonesia. 

Akhirnya, sekuel hits itu dirilis juga. Semua pecinta film tentu senang dengan kembalinya Cinta dan Rangga. Ya, Cinta kembali diperankan oleh Dian Sastro dan Rangga masih oleh Nicolas Saputra. Yang jelas, kembalinya mereka akan menjawab pertanyaan-pertanyaan selama ratusan purnama. Rangga ngapain aja sih di USA? Cinta udah pacaran lagi belum ya? Hah, sama siapa?
 
Well, harus diakui AADC #2 berhasil menuntaskan dendam dan rindu para penggemarnya. Kita jadi tahu apa saja yang dialami oleh Rangga dan Cinta. Kita juga menyaksikan penjelasan seorang Rangga kepada Cinta. Sekaligus, menikmati keindahan Yogyakarta yang tidak akan pernah usai. Jadi, semua ini adalah soal cinta lama yang bersemi kembali. CLBK.
 
Lupakan segala pertentangan kultur antara dua anak muda ini pada filmnya yang pertama. Tentang bagaimana puitisnya Rangga dan quote yang heboh itu: Salah gue? Salah temen-temen gue? AADC #2 sejatinya adalah kembalinya pertautan dua hati yang hanya milik Cinta dan Rangga saja. Entah karena dirilis pada zaman baper menjadi hits sehingga alur ceritanya pun seperti mengalir dan mudah ditebak: mereka kembali bersama setelah sekian lama berpisah. A truly madly happy ending for both.
 
Sayang sekali, saya tidak melihat adanya benang merah antara promosi prekuel AADC #2 yang disponsori oleh satu aplikasi media sosial itu dengan film sekuelnya. Kecuali, Rangga yang bekerja di USA dan Cinta yang masih berkumpul hangat dengan para sahabatnya termasuk Ladya Cheryl, karena Ladya Cheryl a.k.a Alya tidak ada di sekuel. Barangkali, dengan alasan tidak mau terbawa alur teaser itu Miles Production membuat AADC #2 menjadi sedemikian rupa sehingga dunia ini rasanya hanya milik Cinta dan Rangga. Halah. :D
 
Anyway, AADC #2 tidak dapat dipungkiri lagi sebagai penuntas rindu sekaligus mengobati rasa penasaran kita semua akan kelanjutan kisah Cinta dan Rangga. Jangan lupakan juga Yogyakarta yang selalu menghadirkan perasaan ingin kembali kesana. Semua ramuan nostalgia itu diramu dengan apik sehingga penonton terbuai, baper, dan terbayang-bayang quote lain dari Cinta yang sama hebohnya: Yang kamu lakukan ke saya itu: JAHAT!
 
Judul           : Ada Apa Dengan Cinta 2
Sutradara    : Riri Riza
Pemain       : Nicolas Saputra, Dian Sastro, Dennis Adhiswara, Ario Bayu, 
                     Titi Kamal, Adinia Wirasti, Sissy Priscilla
Produksi    : Miles Productions
Tahun        : 2016
Genre        : Drama Romantis
 

Bumi Asri, 1 Januari 2017.

Rabu, 28 Desember 2016

Stalking Indonesia with Margie!

"Mendidik satu desa penduduk tempat daerah wisata tentunya jauh lebih mudah dibandingkan mendidik 1.000 turis tengil sok tahu asal berbagai kota besar di Indonesia." 
("Tuh Lumba-lumba", hal. 79)

Courtesy: www.goodreads.com
  
Istilah "stalking" menjadi populer belakangan ini ketika media sosial semakin populer dan aksesibel pada semua lapisan masyarakat. Lengkap satu paket dengan pelakunya yang biasa disebut sebagai "stalker". Stalking bukan hanya berarti sekedar aktivitas melihat-lihat saja. Tetapi juga, mengetahui lebih banyak mengenai satu objek tertentu. Stalking Indonesia tentunya tidak lepas dari latar tersebut.

Stalking Indonesia bukanlah local guide semacam Lonely Planet dan buku-buku lain yang sejenisnya. Stalking Indonesia bukan juga buku panduan tentang bagaimana caranya berwisata di berbagai daerah tujuan wisata di Tanah Air. Stalking Indonesia bukan juga catatan perjalanan biasa. Ia adalah buku traveling eksepsional. Ia lahir dari keraguan penulisnya karena tulisan-tulisannya tidak seperti yang biasa dijumpai di travel blog. Ia justru mampu mengungkap lebih jauh secara mendalam tentang suatu objek wisata.

Ia ditulis oleh seorang penggila jalan-jalan dengan rasa ingin tahu yang sangat besar dimana secara obsesif penulisnya selalu ingin ngulik, mengintip, dan melacak semua seluk beluk setiap objek atau tujuan wisata yang dikunjunginya. Akibatnya, informasi yang sampai pada pembaca tergali habis, mulai dari hal-hal yang sepele hingga yang lebay-lebay.

Agaknya, bila kita mau menarik benang merah dari semua catatan Margie dalam buku ini, kita dapat menemukan problem yang sama; repetitive problem di hampir semua objek wisata Tanah Air. Kita tentu menyayangkan mengapa biaya untuk menginap di Raja Ampat begitu mahal. Tetapi, kita juga mafhum bila ternyata harga yang dipatok terlalu mahal itu ternyata demi kelestarian alam sekitar Raja Ampat juga, misalnya. 

Margie yang bangga dengan kebiasaan stalkingnya ini setidaknya membuat kita para pembaca menjadi 'lebih tahu dari tahu'. Bukan hanya sekedar tahu cara ikut melihat pemandangan luar biasa di Bumi Ibu Pertiwi ini, tapi juga melihat sisi-sisi lain dibaliknya, tentang isu dan konflik yang terkadang ikut menyusunnnya. Sebagai bonus, Margie juga memberi kita pilihan. Mau pilih perjalanan pangkal kaya atau perjalanan penuh gengsi. It's up to you. Happy traveling and happy stalking!

Judul                   : Stalking Indonesia
Penulis               : Margareta Astaman
Penerbit             : Penerbit Buku Kompas
Tahun                 : 2014
Tebal                  : 198 hal.
Genre                 : Sosial-Budaya


Cipayung, 26 Desember 2016.

Cinta Miund, Kolom Curhat yang Well-documented

Courtesy: twicsy.com

Bukan tanpa alasan bila sebuah kolom curhat dikompilasikan kembali menjadi sebuah buku. Seperti layaknya talkshow 'Kick Andy' atau 'Just Alvin', kolom Cinta Miund yang tayang di kanal Kompas Female pada portal kompas.com turut meramaikan remake ini. Bedanya, Miund a.k.a Asmara Letizia Wreksono ini mengangkat kisah klasik yang tidak akan pernah ada habisnya: Cinta.

Penerbitan buku ini tentu sangat berguna bagi para penikmat kolom web. Dengan buku ini, anda tidak perlu akses internet untuk kembali memahami persoalan klasik sepanjang zaman. Entah itu pada diri anda, teman, pacar, kekasih, pasangan, selingkuhan, or whatever you may say. Artikel didalamnya tentu sudah melalui proses editing dimana ada penyesuaian untuk repetitive problem sehingga buku ini nantinya akan selalu jadi referensi pembaca.

Untuk menghilangkan kesan 'terlalu feminin' karena penulis dan pengasuh kolomnya adalah seorang perempuan, Miund punya cara jitu untuk mengatasi hal ini. Pada beberapa kolom, ia menambahkan komentar dari laki-laki dengan tajuk 'Kata Lelaki'. Selain sebagai pendapat penyeimbang, cara ini sangat baik untuk para perempuan dalam memahami isi otak lelaki.

Jangan bayangkan buku ini seperti buku serial 'Chicken Soup' yang fenomenal itu. Tulisan-tulisan Miund justru tampil dengan gaya santai nan elegan yang bisa habis dibaca sekali duduk. Cinta Miund bisa jadi penambah wawasan pembaca dengan segenap problema cinta mulai dari pendekatan alias PDKT, menanggapi curhat berujung sayang, HTS, Office Romance, #kapankawin, how to deal with jealousy, masa lalu dan CLBK, tips singkat menghadapi putus cinta, hingga menafsirkan lagu-lagu cengeng tahun 80-90an (bab favorit saya v^_^v).

Saya beruntung menamatkan buku ini setelah melalui periode Orde Twitter dimana saat itu belum populer istilah 'baper'. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya lika-liku problema hati dan perasaan saya bila saya membaca buku ini saat itu. Urusan soal hati mungkin bisa jadi tambah pelik. Thank God!

Judul        : Cinta Miund
Penulis        : Asmara Letizia Wreksono (Miund)
Penerbit    : Penerbit Buku Kompas
Tahun        : 2012
Tebal        : 294 hal.
Genre        : Humaniora-Romansa
 

Cipayung, 25 Desember 2016.

Sabtu, 30 Juli 2016

Cerita Sahabat: Kumpulan Cerita Sahabat

Image Courtesy: www.goodreads.com
Sebenarnya, sudah lama sekali saya ingin menulis sesuatu tentang buku ini. Buku ini sengaja saya beli medio 2012 lalu, suatu waktu dimana saya lagi rajin-rajinnya menulis untuk ikut lomba menulis. Kumpulan cerpen ini seakan jadi media pembelajaran untuk menambah wawasan dan melatih gaya menulis.
 
Saya tidak menandai secara khusus cerpen-cerpen favorit maupun yang ceritanya biasa saja. Saya juga tidak mempertimbangkan siapa-siapa saja yang cerpennya ikut tayang. Yang jelas, saya harus belajar dan mendapatkan sesuatu dari buku ini, ditambah unsur hiburan yang sangat menyenangkan untuk mengikuti kisah-kisah didalamnya.
 
Alberthiene Endah, sebagai kolaborator dalam buku ini agaknya memang sudah menandai karya-karya mereka sebelumnya. Entah lewat media dunia maya yang mana, yang jelas performa karya mereka menginspirasinya untuk menggandeng dan bersama-sama membuat kumpulan cerpen ini. Cerita-cerita yang berciri spontan, tajam, praktis dan berbumbu itulah yang jadi kriteria mengapa karya-karya mereka yang terpilih untuk diterbitkan secara kolaboratif.
 
Mengenai hal kolaboratif inilah yang menurut saya masih sangat jarang di Indonesia. Sebagai seorang penulis yang lebih dulu kesohor, Alberthiene Endah cukup rendah hati untuk mau berkarya dengan kebanyakan penulis muda yang belum benar teruji konsistensinya. Satu langkah maju sudah dibuat. By the way, Cerita Sahabat edisi kedua sudah terbit. Saya akan menulis sesuatu tentangnya. Nanti.
 
Judul        : Cerita Sahabat
Penulis        : Alberthiene Endah & Friends
Penerbit    : Gramedia Pustaka Utama
Tahun        : 2012
Tebal        : 336 hal.
Genre        : Sastra Indonesia-Cerita Pendek

 
Cipayung, 25 Juli 2016 

In Bed With Model$

Courtesy: www.goodreads.com
Back to year 2006, terbit sebuah buku yang menurut saya fenomenal. Buku ini tidak berada di deretan Best Seller toko buku namun masuk kriteria fenomenal. Mengapa? Mau tidak mau harus diakui Moammar Emka-si penulis buku- memang menulis sesuatu yang benar-benar terjadi dan mengangkat realitas yang sedang terjadi dalam dunia permodelan sejagad republik. Ditambah gimmick judul yang benar-benar provokatif dan merangsang setiap pembaca ingin tahu lebih dalam seluk beluk jagad permodelan.

Setidaknya,  buat saya pembacaan buku ini mengandung beberapa makna. ‘In Bed With Model$’ mengandung makna “sesuatu” yang bersifat di balik layar. Tertutup dan tersembunyi. Kamar adalah ruang pribadi untuk segala macam aktivitas yang pribadi pula. Sehingga, paduan kata dalam judul diatas adalah sebuah realitas yang distempeli cap “RAHASIA” atawa “CONFIDENTIAL”. 

Penggunaan kata “Model$” yang menggunakan simbol dolar ($) adalah satu bentuk penggambaran sisi-sisi gelap dan rahasia dari sejumlah model yang ia temui selalu melibatkan unsur uang, dalam jumlah kecil maupun besar. Sebuah kegiatan transaksional.

Buku ini ditulis dalam waktu yang cukup singkat. Menurut penulisnya sendiri, ia hanya memerlukan waktu 20 hari. Itu sudah termasuk mengorek ingatan dan reka ulang adegan sepanjang pengalaman penulis bersama model-model. Oh ya, tulisan Emka juga enak dibaca secara random karena tidak ada sekuensial pada setiap judul. Sehingga, tidak masalah bila pembaca membaca “Party With Model$” lebih dahulu dan mengakhirinya dengan “Money Talks”.

Judul           : In Bed With Model$
Penulis        : Moammar Emka
Penerbit      : GagasMedia
Tahun          : 2006
Tebal           : 252 hal.
Genre          : Gaya Hidup

Cipayung, 24 Juli 2016

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...