Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Desember 2017

Semesta Emha, Sebuah Pendekatan Filosofis

Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya agak terkejut ketika mendapati buku ‘Semesta Emha’ ini sebagai sebuah naskah akademik. Rupanya, Emha Ainun Nadjib sebagai individu telah jadi referensi beberapa karya akademik yang lulus untuk diujikan. Pun, ketika menjelma simpul-simpul Jamaah Maiyah di seluruh Nusantara. Ada banyak sudut pandang yangbisa digunakan untuk membahas seorang Emha.

Buku ini dimulai dengan menguraikan potret seorang Emha Ainun Nadjib. Semacam biografi kecil yang tidak mencapai 1 bab. Pembahasan menjadi kian mendalam ketika menguraikan faset-faset perjalanan Emha Ainun Nadjib. Mulai dari masa kecilnya di Jombang, kemudian fase Malioboro dimana Emha mengenal Umbu, fase teatrikal bersama Dinasti, pementasan Lautan Jilbab, keterlibatan Emha dengan ICMI dan politik, Pak Kanjeng, Padhang Mbulan, fase reformasi hingga yang terkini adalah fase Maiyah. 

Yang terjadi pada bab-bab selanjutnya adalah sebuah filsafat dalam memandang objek berupa Emha Ainun Nadjib. Emha diuraikan dari sudut pandang Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi. Ontologi berbicara tentang kosmologi Emha, bagaimana filsafat dasar Emha sehingga kemudian menghasilkan sebuah eksistensialisme dan metafisika cinta. Epistemologi Emha mengetengahkan kesadaran dan pengetahuan sebagai sebuah kesatuan dalam mencapai kebenaran. Aksiologi Emha membahas etika dan estetika seni yang dijalani oleh Emha. Filsafat pendidikan ala Emha pun terpapar didalamnya.

Filsafat dasar Emha yang telah terbentuk sedemikian rupa kini diejawantahkan sebagai sebuah pemikiran kebudayaan. Sepak terjang Emha dalam bidang sastra, seni dan ideologi dikupas menjadi sebuah eksekusi dari filsafat dasar yang melingkupinya. Hal ini kemudian membawa pembaca pada sebuah teori relativisme kebudayaan dan kebudayaan Ilahiah dari seorang Emha Ainun Nadjib.

Semesta Emha yang multidimensi itu menghasilkan sebuah potensi besar terhadap kemanusiaan. Potensi pemikiran Emha yang humanis itu diteruskan oleh Emha untuk menemani bangsa Indonesia hingga saat ini. Emha dengan segenap perangkat kemaiyahannya terlihat berjalan di arus bawah masyarakat sekelilingnya. Jelas hal ini adalah bukan sesuatu yang populer, melainkan suatu  jalan yang sunyi. Gagasan-gagasan kemanusiaan Emha dari berbagai sumber nilai bersifat dialektis dan dinamis dengan dilandasi konsep kesadaran untuk membangun peradaban yang luhur.

Judul            : Semesta Emha Ainun Nadjib: Bentangan Pengembaraan Pemikiran
Penulis        : Sumasno Hadi
Penerbit       : Mizan
Tahun          : 2017
Tebal           : 216 hal.
Genre           : Filsafat-Sosial Budaya

Cipayung, 28 Desember 2017.

Selasa, 31 Oktober 2017

Kitab Omong Kosong

“Manusia selalu menuntut dunia membahagiakannya, pernahkah ia berusaha membahagiakan dunia?” 

Sumber gambar: www.goodreads.com

“Kitab tulisan Togog ini berkisah tentang kejadian-kejadian yang berlangsung dalam kisah Ramayana dari Walmiki. Bencana akibat persembahan kuda berlangsung hingga ke anak benua dan menghancurkan seluruh peradaban, kecuali Satya dan Maneka berhasil menemukan kelima bagian Kitab Omong Kosong itu yang keberadaannya tidak diketahui setelah berada di Perpustakaan Negeri Ayodya. Kelima bagian kitab ini memiliki arti dan penafsiran makna yang kental dengan unsur filsafat eksistensialis.”

Catatan pendek diatas dibuat usai menamatkan pembacaan Kitab Omong Kosong medio Juli 2008. Waktu itu saya baru saja membeli buku itu terbitan Bentang Pustaka, 2006. Sampulnya bukan lagi imaji kreatif dari Danarto melainkan agak lebih artistik berwarna kecoklatan.

Well, kalau harus menuliskan kembali apa yang saya dapat dari kitab rekaan Togog itu rasanya jadi agak sedikit-sedikit lupa, kalau saja bukan karena acara bersih-bersih buku kemarin. Barangkali, ‘Kitab Omong Kosong’ sendiri merupakan sebuah ungkapan filosofis untuk mengungkapkan sebuah ketiadaan, tentunya dalam konsep filsafat. Benarkah itu? Saya juga tidak pernah tahu.

Kitab ini membuat kita kembali membaca perjalanan dan kisah cinta Sri Rama dengan Dewi Shinta. Sebuah kisah epos yang terkenal soal cinta-cintaan. Sebuah kisah dimana cinta harus dibuktikan dengan sebuah pengorbanan. Sebagaimana Sri Rama yang menurunkan Hanoman untuk merebut Shinta dari cengkeraman Rahwana, Sang Penguasa Alengka.

Saya dibuat takjub betul akan sosok seorang Hanoman yang gagah berani. Pun dengan berbagai kesaktian yang dimilikinya. Hanoman yang ada di benak saya adalah seorang panglima yang mampu melakukan apa saja untuk memenangkan pertempuran dengan pasukan Rahwana. Saya yang tidak pernah akrab dengan dunia pewayangan jadi ingin tahu bagaimana kisah-kisah wayang diadaptasi. Bagaimana tokoh-tokohnya juga sekalian. 

Anyway, ‘Kitab Omong Kosong’ sangat berhasil membuat saya mengidolakan seorang Hanoman. Saya bahkan berkhayal Sembilan Hanoman muncul di Bundaran HI dan mengacak-acak Jakarta karena negeri ini sudah tidak sanggup memberantas para koruptor. Pembaca setia SGA pasti tahu asal-usul munculnya imajinasi saya itu. Hahaha.

Kisah cinta antara Sri Rama dan Dewi Shinta yang saya tahu dan saya baca dengan tuntas adalah kisah yang ada dalam kitab ini. Itu jauh sebelum saya tahu lewat buku Sudjiwo Tejo, Rahvayana, bahwa sebenarnya yang mencintai Shinta dengan tulus dan ikhlas adalah Rahwana. Sekali lagi, Rahwana. Bukan Sri Rama. Mengapa? Kalau memang cinta itu tidak bersyarat mengapa Sri Rama masih meragukan kesucian Shinta selama dalam masa penyekapan di Alengka. Sri Rama yang meragu itu akhirnya membuat Shinta murka dan memutuskan untuk moksa.

Diluar perdebatan wacana antara Rama, Shinta, Rahwana, dan Sudjiwo Tedjo, saya sangat menikmati pembacaan ‘Kitab Omong Kosong’ ini. Rasanya seperti betul-betul membaca sebuah ‘kitab’ yang penuh cerita dan imajinasi.

Judul           : Kitab Omong Kosong
Penulis        : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit       : Bentang Pustaka
Tahun          : 2006
Tebal           : 524 hal.
Genre          : Sastra Indonesia-Novel

 
Cipayung, 27 Oktober 2017.

Jumat, 30 Desember 2016

Membaca Karya-karya SGA versi Andy Fuller

Courtesy: www.balairungpress.com

Kalau saya ditanya mengenai satu buku tentang Seno (Gumira Ajidarma) yang paling sulit dibaca buku inilah jawabannya. Buku ini memang begitu tipis. Tidak sampai 150 halaman. Bentuknya pun seperti buku kumpulan cerpen Seno pada umumnya.  Isinya membahas karya-karya Seno yang sudah saya baca seperti Trilogi Penembak Misterius, Alina, Clara, Wisanggeni Sang Buronan, hingga yang terbaru; Negeri Senja.

Bagi saya tetap saja sulit memahami isi buku ini. Apalagi bila dikaitkan dengan soal filsafat dalam karya sastra. Teori filsafat posmodernisme pernah sesekali mampir di telinga saya ketika kawan-kawan di kampus belajar soal Budaya Populer, Komunikasi Massa, dan Filsafat Komunikasi. Tetap saja, saya tidak begitu paham menggunakannya. Saya sendiri tidak tahu apakah betul Seno hanya menulis saja karya-karyanya tanpa mempertimbangkan mikronarasi atau sastra posmodern.

Karya-karya Seno meliputi laporan jurnalistik, cerpen, kritik film, puisi, dan novel. Tema dan gayanya beragam dan kompleks, kerap menggabungkan genre-genre yang secara tradisional terpisah. Bertukar-tukar antara realisme, fantasi, dan reportase. Pengetahuan atas elemen-elemen yang menatukan hasil karya Seno yang beragam akan menyediakan sebuah kerangka berpikir yang lebih luas guna memahami karya sastranya secara keseluruhan. Barangkali, demikian Andy ingin mencoba hipotesisnya.

Saya rasa tidak ada salahnya apabila anda seorang pembaca yang awam akan filsafat turut membaca buku ini. Secara tidak langsung, anda tentu akan belajar mengenai posmodernisme hanya lewat buku yang setebal 118 halaman ini. That’s a good idea. Lebih jauh, anda akan diajak lebih jauh dalam menganalisis politik kebudayaan Orde Baru. Ya, Seno adalah seorang kritikus Orde Baru, seorang oposan. Maka, ketika karya-karyanya yang terbit sepanjang Orde baru dianalisis, anda tentu akan mendapatkan gambaran Orde Fiksi yang ada dalam dunia Seno sehingga anda perlu atau tidak sengaja mengait-ngaitkan dengan relita di zaman Orde Baru.

Ada istilah lain yang baru saya dengar, yaitu metafiksi dan metanarasi. Selama ini kita hanya disuguhkan metabolisme, metafisika, dan metallica (ups..). Namanya juga peneliti, Andy Fuller menulis juga soal metafiksi dan kaitannya dengan budaya populer. Ada banyak karya Seno yang dianalisis melalui topik ini. Anda mungkin sudah membaca beberapa diantaranya, yaitu Alina Si Pendengar, Bandana, Wisanggeni Sang Buronan, Clara, dan Negeri Senja. Adanya hubungan dengan budaya populer turut menghilangkan kekakuan bentuk budaya tinggi. Dengan cara inilah Seno turut memperluas jangkauan sastra posmodern Indonesia.

Anyway, penelitian Andy Fuller yang luas dan mendalam mengenai karya-karya Seno ini merupakan salah satu pintu masuk untuk berada ‘di dalam’ Indonesia. Indonesia memiliki modal fiksi yang besar dalam pendayagunaan kekerasan dan korupsi, begitu kata testimoni Afrizal Malna. Secara akademis, buku ini membuka peluang diskusi lebih lanjut sebagaimana buku Seno lainnya yaitu “Layar Kata”, yang selalu dicari untuk dijadikan referensi penelitian film Indonesia. Kita bisa membahas relevansi gaya posmodern karya sastra Indonesia dalam konteks pasca-reformasi, misalnya.

Judul        : Sastra dan Politik: Membaca Karya-karya Seno Gumira Ajidarma
Penulis        : Andy Fuller
Penerbit    : INSIST Press
Tahun        : 2011
Tebal        : 118 hal.
Genre        : Sastra Indonesia

 
Cipayung, 27 Desember 2016.

Selasa, 18 Oktober 2016

Wisanggeni Gugat: Sebuah Catatan untuk Wisanggeni Sang Buronan

Courtesy: www.goodreads.com

Wisanggeni Sang Buronan adalah satu dari sekian buku Seno Gumira AJidarma yang sangat saya nantikan untuk dicetak kembali. Saya bersyukur karena semester II 2016 ini Wisanggeni kembali hadir mengisi khazanah ruang sastra Indonesia. Sekaligus menambahi isi rak buku saya.

Entah mengapa, sejak mulai pembacaan pada halaman pembuka, saya tidak merasa cerita Wisanggeni Gugat ini sebagai sebuah cerita. Walaupun buku ini sejatinya memang hadir rentetan cerita bersambung, dikumpulkan, dan diberi ilustrasi oleh Haji Danarto. Iya, betul. Danarto tukang lukis itu yang juga turut membuat sampul buku "Kitab Omong Kosong".

Wisanggeni, Sang Buronan para Dewa ini menjadi tokoh antagonis yang harus ditiadakan demi satu tatanan takdir yang telah ditentukan. Eksistensi Wisanggeni hingga melahirkan lakon Sang Buronan ini telah merongrong kemapanan jalan sejarah. Namun, pertanyaannya kembali bergeser, bila memang hanya untuk memenuhi kemapanan takdir sejarah dunia, bukankah kelahiran Wisanggeni sendiri sudah merupakan takdir? Bila memang Wisanggeni adalah anak haram sejarah, mengapa lantas ia memiliki jalan takdirnya sendiri?

Betul ceritanya seperti cerita silat, bagaikan membaca kembali Kitab Nagabumi I dan II. Tetapi, yang lebih penting adalah muatan filosofis dibalik cerita sang anak Arjuna yang dibesarkan Antaboga ini. SGA berhasil memotret kisah Wisanggeni ini sebagai perumpamaan bagi sebagian kecil peristiwa sejarah yang pernah dijalani negeri ini. Betapa keberadaan suatu entitas bisa jadi merupakan ancaman besar bagi sebuah kemapanan-politik, kekuasaan, sejarah, atau budaya- walaupun entitas itu tadi punya jalan takdirnya sendiri.

Judul            : Wisanggeni Sang Buronan
Penulis         : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit       : Laksana
Tahun           : 2016
Tebal            : 108 hal.
Genre           : Cerita Pendek-Sastra Indonesia


Medan Merdeka Barat, 18 Oktober 2016.

Selasa, 11 Agustus 2015

Jejak Mata Pyongyang: Sebuah Jejakan

"Sang pemimpin telah menyatakan dengan jelas bahwa manusia adalah makhluk sosial dengan Chajusong, kreativitas dan kesadaran."
- Kim Jong-Il, On the Juche Idea (1982: 9)



Seno Gumira Ajidarma datang ke Pyongyang sebagai juri pengganti untuk Festival Film Internasional Pyongyang ke-8 pada tahun 2002 silam. SGA menggantikan Marselli Sumarno di ajang bernama Festival Film Negara-Negara Non-Blok dan berkembang Lainnya (8th Pyongyang Film Festival of Non-Aligned and Other Developing Countries). Festival ini berlangsung dari tanggal 4 sampai 13 September 2002. Festival ini berlangsung setiap dua tahun sekali, sebagai negara sahabat Indonesia selalu mengirimkan film dan delegasi kesana.

Buku ini tampil dengan desain lansekap, memuat 10 esai dan 1 tulisan pengantar dengan cetakan warna foto hitam putih. Tampilan seperti ini sungguh mengungkap nilai klasik di setiap karya fotonya. Maklum, saat itu belum musim kamera digital. Sehingga, ia yang sudah terlanjur akrab dengan kamera SLR manual Nikon FM-5 berusaha mendapatkan gambar sebanyak mungkin.

Cerita dibalik datangnya SGA ke negeri komunis ortodoks ini semakin menguatkan profil SGA sebagai kritikus film selain karena bukunya yang berjudul "Layar Kata: Menengok 20 Skenario Pemenang Citra, Festival Film Indonesia, 1973-1992" (Yayasan Bentang Budaya, 2000). Pada buku ini, mohon maaf apabila pembaca tidak banyak mendapatkan jejak mata dari film-film yang beradu di festival. SGA memusatkan perhatiannya pada kota Pyongyang itu sendiri. Kota yang jadi ibukota Republik Rakyat Demokratik Korea, negeri komunis ortodoks yang masih tersisa di muka bumi. Untuk tidak menyebutnya sebagai ibukota Korea Utara.

SGA mengamati bermacam-macam perilaku manusia selama 17 hari masa penugasannya. Ia menghasilkan catatan dan jejak mata berupa foto-foto, yang hanya bisa didapatkan dengan menyiasati berbagai larangan. Ia sendiri heran mengapa baru bisa mulai menulis kembali semua kesan yang menempel diingatannya 10 tahun kemudian.

Kematian Kim Jong-Il punya peran besar dalam penulisan pengalaman yang sudah satu dekade berlalu. Selain itu, cerpennya yang berjudul "Melodrama di Negeri Komunis" yang ditulisnya semasa tinggal di Pyongyang juga sudah dibukukan dalam "Aku Kesepian, Sayang: Datanglah Menjelang Kematian" (Gramedia Pustaka Utama, 2002) dan dimuat kembali dalam harian Media Indonesia, 1 Desember 2002.

Tulisan diawali dengan esai pengantar mengenai alasan kedatangannya ke Pyongyang hingga momen penyadaran yang membuatnya mau menuliskan kembali segenap pengalamannya itu. Satu hal yang tidak pernah berubah. Foto Lenin dan Karl Marx di pusat kota Pyongyang. Esai kedua memuat pengalaman unik  ketika para juri tiba di restoran. Esai ketiga berjudul "Ditempel Intel Mehong", bercerita tentang para pemancing di tepi sungai yang ditemui SGA ketika memotret sambil menikmati pagi. Rupanya, satu diantara pemancing itu adalah seorang intel karena SGA mendapat 'teguran' ketika bertugas sebagai juri pada siangnya.

Potret kehidupan masyarakat yang semakin dalam dapat dibaca pada catatan selanjutnya yang berjudul "Regulasi Cinta & Escort Lady", "Ribetnya Memotret di Pyongyang", "Modernitas Serba Kelabu", "Dalam Penjara Ideologis" dan "Busana Formal Kaum Proletar". SGA mengalami keseragaman total sebagai corak utama negeri yang dibangun atas filsafat komunisme Juche. Seno juga mempersoalkan dialektika materialisme dengan sosialisme, serta hubungannya dengan semangat patriotisme yang menurutnya kelabu. Negara ini juga termasuk unik, karena selalu menganggap dirinya modern, walaupun pemahaman modern disini tidak memiliki arti yang sama dengan modernitas yang dialami negeri komunis lainnya seperti Vietnam dan China.

Seno juga menunjukkan gugatannya atas peranan Negara terhadap kehidupan rakyatnya. Seperti kemunafikan, begitu tulisnya, saat menjumpai permainan judi di lantai dasar hotel yang ditempatinya. Negara sudah jelas menjadi bandar atas permainan judi itu, yang juga merupakan simbol kapitalisme diatas semangat ideologi anti-kapitalismenya.

Saya bersyukur karena tulisan Seno Gumira Ajidarma ini dibuat tidak dalam konteks untuk media tertentu. Sehingga terjadi penyesuaian dimana-mana, dipantas-pantaskan, agar layak bagi pembaca dengan citra yang sudah ditentukan. Alih-alih melaporkan, yang dikerjakan menjadi proyek pencitraan media bersangkutan. Segenap tulisannya ini berusaha menangkap fenomena penindasan rakyat oleh pemerintah negerinya sendiri.

Pandangan untuk melawan imperialisme Amerika Serikat dihayati oleh para pemimpin dan rakyatnya dengan naif. Kesimpulannya, Rakyat Republik Rakyat Demokratik Korea dibangun dengan konsep sebuah studio film, tempat rakyatnya meyakini kehidupan di dalam studio film yang serba artifisial itu sebagai sesuatu yang nyata. Segalanya kembali ke tangan bangsa Korea, untuk merebut sendiri kebebasannya, jika memang pembebasan merupakan suatu jawaban.


Judul        : Jejak Mata Pyongyang
Penulis     : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit   : Muffin Graphics (PT. Mizan Pustaka)
Tebal        : 156 hal.
Tahun       : 2015
Genre       : Travelogue-Esai (dengan gambar)


Dharmawangsa, 11 Agustus 2015.




Kamis, 28 Mei 2015

Tiada Ojek di Paris: Obrolan Urban

"Ideologi bukanlah konsep, melainkan praktik kehidupan sehari-hari itu sendiri."  Hal. 89

 
Perdebatan wacana tentang sebuah kota selalu menarik untuk dibahas. Betapa keberadaaan sebuah kota bukan hanya soal nama saja, tetapi juga soal makna. Lebih jauh, soal keberadaannya secara historis, morfologis, dan sosiologis. Lalu, seperti apakah Jakarta dalam benak seorang Seno Gumira Ajidarma?


Apa yang SGA tulis disini tidak jauh berbeda dengan buku terdahulu, "Affair" dan "Kentut Kosmopolitan". Bagi yang akrab dengan "Surat dari Palmerah", bagian 'kesenian' buku ini mungkin sudah mafhum bagi anda. Gambar-gambar reproduksi dari produk budaya yang dihasilkan sepanjang sejarah perjalanan republik turut menghiasi bacaan ringan ini.

Obrolan ringan tentang Jakarta dalam buku ini dibuat ringan dan habis sekali baca. Maklum saja, buku ini adalah kumpulan tulisan SGA di "Affair", "Kentut Kosmopolitan", dan Majalah Djakarta! free mag. Walaupun begitu, muatan filsafat kental sekali dalam pembacaan.

SGA mempertanyakan, pernahkah kita melihat tukang ojek mangkal di sekitar Menara Eiffel, Paris. Tentu sudah lumrah bagi kita di Jakarta kalau seorang eksekutif muda berlarian untuk mengejar ojek supaya tidak terlambat ikut meeting di gedung-gedung pencakar langit sepanjang Sudirman-Thamrin-Kuningan.

Pertanyaan itu berlaku juga untuk hal-hal lain yang hanya ada di Jakarta. Contoh lain yang dekat dengan keseharian adalah dunia yang orang Jakarta buat dalam mobilnya sendiri. Ada ruang yang tercipta dalam kemacetan setiap hari. Pun, ketika bicara kesenjangan daerah dengan Ibukota dan gosip yang berkeliaran sepanjang hari di infotainment. Semuanya melekat dalam keseharian orang-orang Jakarta.

Silakan menikmati tingkah polah manusia yang selalu berubah seiring berubahnya persepsi tentang dimensi ruang dan waktu mereka akibat tuntutan kehidupan perkotaan yang serba cepat dan tak memberikan waktu untuk berhenti sejenak. Tentang orang-orang modern yang tertipu dan terkungkung oleh modernitas yang mereka buat sendiri. Pembaca silakan nyengir, tertawa atau miris, menyaksikan semua hal yang hanya terjadi di Jakarta. Dengan demikian, pemaknaan suatu hal dan ideologi-ideologi yang menukanginya menandakan sebuah pergulatan wacana yang interkontekstual.


Judul        : Tiada Ojek di Paris: Obrolan Urban
Penulis     : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit   : Penerbit Mizan
Tebal        : 210 hal.
Tahun       : 2015
Genre       : Sosial-Budaya


Serpong, 28 Mei 2015.

Selasa, 30 November 2010

Membaca Kembali Aki Melalui Manifest

Mengacu kepada judul diatas, rasanya kita tidak akan pernah berpaling lagi pada sosok lain selain Achdiat K. Mihardja (alm). Begawan sastra Indonesia yang menghabiskan sebagian banyak umurnya di Negeri Kangguru sana. Penulis yang juga menghasilkan karya-karya besar lainnya seperti Atheis (Novel, 1949) dan Debu Cinta Bertebaran (Novel, 1973) memiliki beberapa keistimewaan yang menjadikannya sebagai saksi zaman.

Aki, begitu beliau biasa dipanggil, berumur panjang, sempat menyaksikan epos pasang-surut perkembangan perjalanan bangsa sepanjang penggalan abad ke-20 dan 21. Beliau adalah legenda yang menjelmakan suka-derita Indonesia. Pada kalbunya mengendap falsafah hidup tentang arti kemanusiaan yang mudah beralih menjadi adi-kegetiran jika ketamakan dan kepongahan melalaikan manusia dari misi kemanusiaan.


Beliau terlahir dari generasi yang dipersatukan oleh pengalaman yang sama dengan genersi Intelektual zaman Soekarno. Sama-sama produk awal pendidikan Politik Etis, sama-sama tumbuh dalam gelombang pasang kemunculan dan pertentangan ragam ideologi-politik, sama-sama menciptakan tanda "indonesia" sebagai komunitas impian baru, sama-sama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, dan kelak sama-sama dikecewakan oleh rezim Orde Baru.

Proses pencarian beliau tertuang dalam manifest yang beliau beri nama sebagai "Manifesto Khalifatullah". Melihat kepada penamaan tersebut, menandakan pada proses pencarian untuk menemukan tugas penciptaan. Semua makhluk memiliki tugas penciptaan. Suatu tugas dalam bentuk pendelegasian kasih sayang Tuhan dengan menjadi Khalifah (wakil Tuhan) di muka bumi. Sayangnya, tidak semua manusia menyadari tugas penciptaan tersebut. karena iblis tidak pernah diam dan tidak pernah mati untuk senantiasa menggagalkan terwujudnya pencapaian tugas tersebut. Begitulah, yang ingin Aki sampaikan melalui manifestnya ini.

Walaupun lebih berbentuk novel, Aki enggan menyebutnya demikian. Aki lebih suka menyebutnya "kispan" alias Kisah Panjang. Ini mungkin disebabkan karena Aki ingin membagi rekaman perjalanan intelektual dan spiritual yang dialaminya. Karena memang tidak mudah untuk menghadapi berbagai pertemuan dan pertentangan dengan aliran-aliran pemikiran yang dianut orang-orang macam Karl Marx, Engles, Siddharta, Adam Smith, dan Nietzsche.

Satu lagi yang membuat manifest ini sungguh berarti adalah bahwa Manifesto Khalifatullah ini ditulisa dalam keadaan mata Aki yang hampir buta. Proses penulisannya pun harus diselesaikan oleh seorang typist komputer. Maka rasanya tidak salah bila dalam testimoninya, Taufiq Ismail mendeskripsikan Manifesto Khalifatullah sebagai semacam rangkaian kuliah penutup tentang makna kehidupan dari seorang Dosen Sastra Emeritus.

Judul: Manifesto Khalifatullah
Penulis: Achdiat K. Mihardja (1911-2010)
Penerbit: Arasy Mizan, 2005
Tebal: 215 hal.
Genre: Memoar


Blok M-Paninggilan, 30 November 2010. 21.05



Jumat, 12 Februari 2010

The Books

“Jadi begini ceritanya. Ada konflik perebutan kekuasaan di jajaran kepresidenan Filipina. Yang satu berhaluan komunis dan pihak lainnya menganut demokrasi turunan Amerika. Suatu waktu, kapal patrol China diserang oleh Patroli AL Filipina, di dekat Spratlys Island, di daerah yang terlarang menurut versi masing-masing. Kejadian itu memaksa AL China untuk menembakkan misil berhulu ledak nuklirnya. Kebetulan waktu itu AS sedang dalam persiapan untuk meninggalkan Filipina dengan meninggalkan semua fasilitas pangkalan militernya. Karena, isu nuklir dikhawatirkan membuat panik dunia dengan World War Versi Tiga maka AS harus segera bertindak untuk memastikan apa yang terjadi disana.”

“Lalu?”

“Dengan bantuan satelit terbaru punya mereka yang dibeli dari Sky Masters Inc., Angkatan Udara AS berusaha untuk menemukan sumber ledakan nuklir tersebut. Ketika diperoleh konfirmasi bahwa nuklir tersebut berasal dari misil milik China maka AS memutuskan untuk bertindak. Ditambah lagi ketika ada coup di internal pemerintahan Filipina dengan dibunuhnya Presiden Filipina. Pengkudeta yang berhaluan komunis meminta bantuan China untuk menjadikan negaranya sebagai aneksasi dari China. Sedangkan, pemimpin pemerintahan yang legal meminta bantuan dan dukungan dari AS untuk menangkal setiap kemungkinan serangan dari China. Seperti yang anda duga, AS dan China terlibat dalam konfrontasi militer. Angkatan Udara AS menurunkan bomber-bombernya untuk menghadang serbuan dari Angkatan Laut China. Namun, jangan kaget kalau ternyata ceritanya jadi begini, setelah diplomat-diplomat Gedung Putih berhasil meyakinkan Beijing dan mencapai kesepakatan maka perang pun dihentikan. Republik Filipina kembali sebagai Negara yang berdaulat, tidak sebagai aneksasi dari China maupun sekutu AS.”

“Kira-kira, apa kata kunci yang tepat untuk buku itu?”

“Politik, Kekuasaan, Ekonomi, Bisnis, Militer, Hubungan Diplomatik-Multilateral, Patriotisme, Nuklir, dan Perdamaian.”

“Kesan yang anda dapat dari The Sky Masters ini?”

“Bahwa dalam suatu konflik apalagi yang melibatkan kepentingan-kepentingan banyak Negara atau multilateral diperlukan suatu cara dan formulasi khusus untuk menangkal segala bentuk kerusakan yang mungkin ditimbulkan. Diplomasi tetap memegang peranan yang penting dalam usaha untuk mengakhiri konflik. Militer diperlukan hanya ketika diplomasi sudah mentok, namun itupun lantas tidak jadi satu legitimasi untuk agresi atau serangan militer.”

“Sebelum selesai baca buku ini, buku apa saja yang anda baca sebelumnya, yang bahasa Inggris?”

“Sudah beberapa, tapi kalau untuk novel dan yang halamannya lebih dari 300 halaman sejauh ini sudah empat buku termasuk yang sekarang ini. Ada The Enemy dari Lee Child, Soft Target punyanya Stephen Leather, lalu Plan of Attack dari penulis yang sama. Yang The Enemy masuknya best-seller versi New York Times lho.”

“Apakah ada kesan-kesan khusus dari buku-buku tersebut?”

“Tentu saja ada. Kalau tidak ada kenapa harus ada cerita yang panjang dan njelimet seperti itu. Semuanya ada hubungannya dengan militer. Mereka memberi pelajaran untuk lebih aware dan lebih fleksibel dalam menghadapi setiap kejutan dari hidup ini. Mulai dari menghandle masalah, menyakinkan diri sendiri, sampai menyelesaikan masalah atau malah konflik.”

“Apakah ada korelasinya dengan fiksi-fiksi yang telah anda baca dengan realita saat ini?”

“Ada, beberapa. Terutama menyangkut hubungan bilateral AS-China yang hingga hari ini masih tetap panas dan bergejolak. Mulai dari kesepakatan tariff ekspor, serangan hacker China terhadap Google China, sampai penjualan senjata AS ke Taiwan yang menyulut reaksi pemutusan hubungan bisnis dengan para pedagang senjata legal AS. Belum lagi, keadaan diperparah dengan Obama yang dikabarkan akan menerima Dalai Lama di Washington, yang kontan membuat China makin berang saja. Selebihnya, fiksi yang bercerita tentang hubungan kedua Negara pasca kejatuhan komunis dan perang dingin masih memiliki hibungan yang faktual dengan kondisi mereka saat ini.”

“Berarti, sebuah karya sastra adalah cerminan atas realita?”

“Bisa saja, seperti unsur-unsur realitas-fiksional dalam novel Olenka dari Budi Darma yang tentunya masih bisa diperdebatkan sampai hari ini. Sebagai perbandingan untuk hal ini anda bisa menambahkan Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara dari Seno Gumira Ajidarma. Di bukunya Seno yang itu banyak sekali pembahasan tentang cerminan fakta terhadap fiksi maupun sebaliknya.”

“Buku lainnya yang sedang anda baca?”

“Two Japanese Novelists dari David McClellan. Sebuah minibiografi singkat tentang dua penulis asal Jepang, Natsumi Sosuke dan Shimazaki Toson, baik tentang kehidupan pribadinya maupun proses penciptaan karya-karyanya. Satu buku tentang Kajian Budaya Feminis dari Aquarini, lalu A Countess Below Stairs, novel karya Eva Ibbotson, penulis Inggris.”

“Menarik sekali bahwa pada akhirnya anda membaca juga satu buku yang menafsirkan kehidupan sastra Timur. Apa urgensinya?”

“Waktu saya beli buku itu, saya sedang mencari sesuatu tentang sastra Jepang dan ingin mendapatkan gambaran yang lebih real dari penulisnya. Kebetulan, ada buku itu walau hanya bahas dua orang saja. Saya memang berharap buku ini minimal sama dengan bukunya Korrie Layun Rampan, Tokoh-tokoh Cerita Pendek Indonesia, karena keduanya memang berisi biografi singkat dari penulis beserta satu karyanya.

Analisis tentang buku Jepang ini juga saya rasa harus dibandingkan dengan buku Proses Kreatif yang sampai empat jilid itu, bila kita memang mau membahas proses kreatif penulis Jepang dengan penulis Indonesia. Diluar alasan-alasan itu, saya kadang bermimpi suatu saat turun dari pesawat di Narita sambil memegang buku itu sambil menghirup wangi sakura. Sakura di Narita.

Tetapi, menurut saya yang paling penting adalah bahwa dalam buku itu kita diajak untuk menatap kembali pada keadaan Jepang pasca Restorasi Meiji, tentang bagaimana perkembangan novel Jepang modern yang ditandai dengan karya-karya dari Soseki dan Toson itu sendiri, karena bagaimana pun karya-karya dari mereka berdua mencirikan satu peradaban baru dalam bercerita, yang pada akhirnya mempengaruhi sejarah penulisan novel di Jepang sana.”

“Saya melihat di rak buku, anda juga memiliki buku-buku dari sastrawan Indonesia seperti Kumpulan Sajak Sitor Situmorang, Antologi Lengkap Cerpen A.A Navis, dan Kumpulan Essainya Iwan Simatupang. Anda bisa jelaskan mengapa?”

“Ketiga buku itu bisa disebut sebagai monumen-monumen sastra Indonesia. Ketiganya punya ciri khas masing-masing dalam setiap karyanya. Sitor sering menulis dan bercerita tentang pengembaraannya di Leiden, Amsterdam, hingga ke Lembah Sungai Yang Tze di China sana. A.A Navis dengan cerpennya yang penuh dengan nada sindiran, mengejek, dan sinis, kadang-kadang dengan ironi yang tajam. Iwan Simatupang menjadi sangat menarik tidak hanya karena banyak cerpennya yang inkonvensional dan isinya memberi pencerahan karena bobot pikiran yang sangat berharga bagi kehidupan. Beliau juga sering menambahkan bumbu-bumbu filsafat eksistensialisme dari Kierkegaard dan tokoh-tokoh lainnya yang ia anut selama tinggal di Eropa sana sehingga setiap karyanya menjadi menarik untuk dipelajari.”

“ Terakhir, tiga judul buku yang ingin anda baca saat ini?”

“Tea for Two dari Clara Ng, satu buku dengan judul yang cukup menggoda. Rekayasa Fiksi punyanya Fariz R.M, si pelantun tembang Barcelona itu yang bercerita tentang penciptaan karya-karyanya. Terakhir, Goenawan Muhammad dengan Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai, yang versi bahasa maupun yang bahasa Inggris.”



Pharmindo, 5 Februari 2010
diterbitkan di Ciledug, Tangerang, 12 Februari 2010




LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...