Tampilkan postingan dengan label hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hidup. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 September 2025

Kisah Komikus Legendaris Dunia

Sumber gambar: Koleksi Pribadi

Awalnya, saya merasa harus ada sesuatu yang spesial tentang buku ini. Menagapa? Jarang sekali penulis Indonesia menulis tentang komik, baik mengenai profil komikusnya ataupun reviu atau telaah kritis terhadap karya komik. Buku ini, IMHO, menambah khazanah dunia perkomikan di Indonesia. Saya harus akui itu karena saya merasakan sendiri kesulitan ketika mencari referensi lokal menyangkut komik dan profil pembuat komik. Ya, skripsi saya juga tentang komik!

Menyenangkan rasanya membaca daftar isi buku yang tidak hanya melulu soal komikus dari mancanegara. Penulis menyisipkan dua nama legendaris dalam dunia perkomikan Indonesia. Ada R.A. Kosasih dan Ganes TH. Keduanya tampil namun mengapa ditempatkan di halaman belakang sesudah kita membaca bagaimana kelahiran kartun Popeye The Sailorman dan meriahnya komik Mickey Mouse karya Walt Disney.

Lainnya, saya harus menyampaikan bahwa pembacaan profil dari komikus mancanegara ini rasanya sama dengan membaca halaman Wikipedia yang diterjemahkan. Saya setuju bila penulisnya menyadur kemudian menuliskan kembali hal tersebut itu sah-sah saja. Penulisnya pun sudah menyampaikan bahwa buku ini disusun dengan menggali berbagai sumber daring maupun luring.

Andai saja, penulisnya dapat memberikan daftar pustaka untuk sumber rujukannya tentu buku ini akan lebih "garang". Ditambah lagi, tidak adanya keterangan hak cipta pada gambar-gambar yang disisipkan dalam setiap judul pembahasan. Walaupun, gambar-gambar itu adalah hasil karya komikusnya sendiri namun alangkah lebih baiknya bila sumber hak ciptanya disebutkan guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.

Anyway, apapun itu, saya turut menikmati buku ini sebagai satu karya yang turut mengisi dan memperkaya khazanah perkomikan di Indonesia. Harapannya, supaya siapapun yang ingin meneliti atau membuat telaahan mengenai komik tidak kesulitan lagi dalam mencari referensi. Semoga.

Judul        : Kisah Komikus Legendaris Dunia
Penulis     : Anton W.P.
Penerbit    : Penerbit Katta
Tahun        : 2010
Tebal        : 128 hal.
Genre        : Komik-Biografi

Ciputat, 2 September 2025
Hari Ulang Tahun Bapak. 

Rabu, 06 Agustus 2025

Hampir Sebuah Subversi

Sumber gambar: www.goodreads.com

Sejujurnya, buku ini belum pernah saya tamatkan pembacaannya. Saya tertarik karena judulnya pernah saya baca entah dimana. Saya sudah lupa. Entah itu dalam sebuah kumpulan cerpen atau novel yang pernah saya baca. Entahlah, saya benar-benar lupa.


‘Hampir Sebuah Subversi’ saya temukan dalam jejeran buku dalam rak pajangan di Tobucil, toko buku kecil yang turut mempelopori gerakan literasi lokal medio 2000-an di Bandung. Dulu, letaknya di Jalan Kyai Gede Utama No. 8. Buku ini saya dapatkan ketika Tobucil sudah pindah ke bilangan Jalan Aceh, menempati sebuah paviliun.


Cerpen yang pertama saya baca adalah ‘Hampir Sebuah Subversi’ itu sendiri, yang dijadikan judul buku. Kemudian, ‘Laki-Laki yang Kawin dengan Peri’. Mengapa? Karena kedua cerpen itulah yang pernah disitir dalam bacaan yang pernah saya baca sebelumnya. Selebihnya, saya mengalami ‘masalah’ dalam menamatkan pembacaan cerpen-cerpen lainnya. 


Saya merasa banyak hambatan dalam memulai dan memahami keseluruhan cerita. Padahal, aslinya tidak panjang-panjang amat. Cukuplah memang disebut sebagai sebuah cerita pendek yang habis dibaca sekali duduk. Namun begitu, rupanya buku ini memuat dua puluh tujuh cerita pendek, cukup panjang bukan?

Saya memulai kembali pembacaan ketika Ibu saya merapikan buku-buku yang tercecer sejak pindahan rumah ke dalam lemari yang Istri saya beli. Buku ini ditempatkan bertumpuk dengan buku-buku Emha Ainun Nadjib sehingga cukup menarik perhatian. Saya mulai membaca lagi dari cerpen “Mata Anak Turki”. Saya tidak tahu kenapa. Yang jelas, saya tidak ingin memulai pembacaan dari “Hampir Sebuah Subversi”. Saya teruskan hingga cerpen terakhir berjudul “Jangan Diperabukan”. Setelah selesai, baru mulai lagi dari cerpen pembuka ‘Kuda Itu seperti Manusia Juga’, “Ada Pencuri di Dalam Rumah’, “Laki-Laki yang Kawin dengan Peri”, Mata”, Lurah”, ‘Da’i”, dan “Persekongkolan Ahli Makrifat”.

Kesan pertama yang saya dapat adalah cara Kuntowijoyo bercerita mirip dengan tulisan-tulisan Budi Darma dalam “Orang-Orang Bloomington” dan Umar Kayam dalam “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan”. Latar cerita yang beragam, mulai dari Amsterdam, Amerika, hingga pinggiran kota Jogja, menggambarkan betapa luasnya dinamika kehidupan manusia dengan segala pola interaksi dengan lingkungannya. Barangkali, pengalaman penulisnya ketika menimba ilmu di barat sana turut menambah dalamnya field of experience dan betapa kayanya frame of reference dari penulisnya.

Agaknya memang tidak terlalu berlebihan bila cerpen-cerpen Kuntowijoyo dalam buku ini mirip dengan buku-buku dari penulis yang telah saya sebutkan sebelumnya. Saya merasa sedikit menyesal karena kenapa tidak menamatkan buku ini sejak tahun 2011 silam. Saya jadi ingat lagi beberapa hambatan yang membuat saya tidak pernah bisa menamatkan buku ini saat itu. Entah, apa mungkin karena saya sedang getol-getolnya membaca “chic literature” yang sedang happening saat itu? Sehingga pikiran saya tidak bisa beradaptasi dengan berbagai latar kehidupan dalam cerpen-cerpen Kuntowijoyo. 

Sungguh pun demikian, hal ini turut membuka kesadaran kembali bahwa pengalaman membaca membutuhkan jam terbang juga. Saya tentunya jadi kebingungan sendiri bila harus mengingat dan kembali ke saat itu. Saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi dalam pikiran saya bahwa ternyata buku ini cukup sederhana dan tidak sulit untuk memahaminya.

Mungkin itulah kenapa, wahyu pertama dari Tuhan adalah perintah membaca. Bacalah. Ya. Bacalah.


Judul           : Hampir Sebuah Subversi
Penulis        : Kuntowijoyo
Penerbit      : Grasindo
Tahun         : 1999
Tebal          : 188 hal.
Genre        : Sastra Indonesia-Cerita Pendek


Cipayung, 4 Agustus 2025.
 

Senin, 23 September 2024

Been There, Done That!

Medio 2012 silam, saya dibuat penasaran oleh sebuah buku dengan warna yang atraktif, warna Valentino Rossi-begitu saya menyebutnya. Kalau di sepatu Nike yang pernah saya punya warnanya disebut “Volt”. Saat itu, masih jarang buku self-help dengan warna yang mencolok, sepengalaman saya. Kalaupun ada yang berwarna kuning yaitu 23 Episentrum dari Adenita dan bukunya Billy Boen, Young on Top.

Courtesy: www.goodreads.com

Buku ini sempat menjadi satu contoh tentang bagaimana sebuah ide dituangkan menjadi buku dalam workshop berjudul “Creative Writing” yang diselenggarakan oleh PlotPoint pada tahun 2012 itu juga. Saya mendapat kesempatan untuk mengikuti workshop tersebut sebagai hadiah dari kuis yang saya menangkan di linimasa Twitter. Dulu, dulu sekali sebelum Twitter jadi X!

Kembali ke Been There Done That Got The T-Shirt (BTDTGTTS), saya pikir tadinya buku ini adalah buku self-help biasa dengan tampilan isi yang atraktif dan memudahkan pembacanya untuk mengubah sesuatu dalam hidup mereka. Tadinya! Waktu saya hanya mampir sebentar membuka sedikit halamannya di toko buku dan tidak pernah memasukkan buku ini dalam keranjang belanja.

Saya teringat akan waktu silam itu, maka saya memutuskan untuk membaca dan memiliki BTDTGTTS. Saya menurunkan ego saya kali ini untuk membeli buku bekasnya. Agak sulit memang untuk mendapatkan buku ini dalam kondisi baru. Entah saya saja yang malas untuk browsing di marketplace, I don’t care. I need this book, now!

Apa yang saya dapat setelah berhasil menamatkan BTDTGTTS? Well, I have to say that I’m a little bit sorry for myself. It’s a little bit late for me to know that I have to live your life secara meriah! Saya selalu terpaku pada idiom “Been There, Done That!”. Saya terpana ketika melihat kembali dan berkaca pada pengalaman-pengalaman sebelumnya dimana saya merasa cukup dengan semua itu. Saya pernah siaran radio (walau hanya acara talkshow berdurasi 2 jam), saya pernah merangkap jadi sutradara film-aktor-editor untuk tugas mata pelajaran Sejarah, saya pernah jadi crew untuk event Konser Siti Nurhaliza, saya pernah ini, saya pernah itu, and so on. Padahal, kalau saja saya tidak berhenti dan terpana, mungkin saya sudah menjalani hidup saya to the fullest.

BTDTGTTS bukanlah sebuah textbook tentang bagaimana hidup berjalan seperti ini dan seperti itu. Ia juga bukan sebuah guide untuk menjalani hari-hari ke depan dengan penuh motivasi dan semangat membara. BTDTGTTS adalah sebuah activity book yang tidak terlalu tebal namun butuh usaha untuk memahaminya. BTDTGTTS menuntut pembacanya untuk berpikir kembali seraya mengisi pertanyaan-pertanyaan yang ada didalamnya. Saya sendiri kewalahan untuk menemukan the truest answer untuk semua pertanyaan itu. So, wajar saja mengapa Mbak Gina S. Noer menyarankan buku ini sebagai satu buku yang ‘wajib’ dibaca pada workshop menulis yang sudah saya sebutkan tadi.

BTDTGTTS adalah buku yang ringan namun tidak menghibur. Ia mempertanyakan kembali tentang bagaimana pembaca akan menjalani hidup di masa depan. BTDTGTTS bisa dibaca dari bab manapun. Bila dibaca dari awal, tentu akan lebih baik karena lebih runut. Kalaupun dibaca dari tengah, tidak masalah. BTDTGTTS bukan sebuah kitab yang menuntut selesainya pembacaan bab demi bab. Dibaca dari halaman belakang, juga tidak apa. Bukankah sebuah akhir akan mebawa pada awal yang baru?

Saya tidak pernah bosan untuk membuka kembali buku ini walaupun sudah menamatkannya. Rasanya selalu tepat untuk membuka halaman mana saja. Terlalu banyak kejutan dalam buku ini. Saran saya, tandai bab favoritmu dengan pembatas buku. Penomoran halamannya unik seperti buku BIA dari Yoris Sebastian. Mudah-mudahan tidak terlalu terlambat untuk mengatakan bahwa buku ini keren!

Judul       : Been There Done That Got The T-Shirt (B.T.D.T.G.T.T.S)
Penulis     : Risyiana Muthia, visual oleh Emeralda
Penerbit    : Gramedia Pustaka Utama
Tahun       : 2012
Tebal       : 124 hal.
Genre       : Motivasi, Self-help

Cipayung, 20 September 2024.

Jumat, 20 September 2024

101 Creative Notes and The "3i"

Buku ini sudah lama masuk dalam wishlist saya. Apalagi pada saat Twitter sedang enak-enaknya dipakai di Blackberry device. Entah mengapa, buku ini terlupakan. Lama sekali. Hingga kemarin saya memutuskan untuk mulai membaca lagi. Pilihannya jatuh pada beberapa buku Yoris Sebastian yang sudah lama ingin saya tamatkan. Satu dari mereka ada lah 101 Creative Notes ini.

Courtesy: www.goodreads.com

Seperti kata Yoris, try to avoid your routine. Maka, saya memulai pembacaan buku ini dari notes nomor 55. Lanjut hingga notes paling akhir. Lalu memulai lagi pembacaan dari halaman pembuka hingga bertemu lagi dengan notes nomor 55. Circling. Ya, i am try to avoid reader's habit. Mencoba mengamalkan satu dari sekian jurus kreatif ala Yoris.

IMO, tidak terlalu banyak teks dalam buku ini. Pembacaan terasa ringan dan bisa tamat baca sekali duduk dalam perjalanan pesawat Jakarta-Surabaya. Mungkin, Itulah mengapa judulnya hanya sebatas "notes" saja. Small message but the impact is huge! Memang penataan dan tata letaknya menampilkan sisi kreatif dari sang penulis dan rekan-rekannya yang berkolaborasi. Baik itu berupa gambar, quotes, ataupun screenshot yang dibuat dengan sebuah tablet keluaran well-known and reputable company.

At least, pada pembacaan kali ini, saya mendapatkan insight tentang "3i". Intuisi-Impact-Innovation. Yoris menekankan bahwa intuisi adalah ciptaan Tuhan sedangkan hitungan adalah ciptaan manusia, jadi rasanya tidak terlalu salah untuk percaya pada intuisi. Impact, adalah suatu efek yang diakibatkan dari segala tindakan kreatif kita. Ini perlu dipikirkan dalam ekonomi kreatif. Small efforts with big impacts. Terakhir, innovation. Barangkali saya masih terngiang-ngiang dengan pembacaan buku Yoris lainnya tentang Black Innovation Award (BIA). We have to innovate to embrace the unknown. Semuanya, adalah hal-hal yang perlu saya review kembali untuk menata ulang mindset saya yang sudah kadung rada kusut belakangan ini. #curhat

 

Judul           : 101 Creative Notes
Penulis        : Yoris Sebastian
Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2013
Tebal           : 200 hal.
Genre          : Motivasi


Pajang, 20 September 2024

Senin, 09 September 2024

(Saya Tidak Pernah Bosan) Mengintip Jakarta

Saya membaca komik untuk sekedar menghilangkan kejenuhan. Tentunya, si komik ini haruslah pula bisa jadi bahan tertawaan buat diri kita sendiri. Seperti komik ini, komik kompilasi dari tiga orang seniman komik yang memiliki ciri khas masing-masing.

Courtesy: www.goodreads.com


Tidak ada yang baru dengan tema seputar Jakarta. Jakarta masih selalu seperti itu. Masih dengan hiruk-pikuknya di hari kerja dari hari-hari lainnya yang tidak pernah sepi. Agaknya, ketiga komikus ini dapat menangkap eh mengintip Jakarta dari sisi lain yang tentu saja seputar kehidupan yang mereka jalani. Di Jakarta, tentunya!

Komik ini terbit pertama kali pada tahun 2014, lalu naik cetak kembali pada tahun 2015 dan 2016. Tahun-tahun dimana Komik Indonesia banyak bermunculan dari beragam penerbit lokal juga yang berusaha memfasilitasi komikus-komikus berbakat untuk berkarya. Sebuah fenomena yang menarik karena mereka dapat mengangkat tema yang relate dengan kehidupan sehari-hari pada tahun-tahun mendatang.

Isu yang diangkat komik ini masih sangat relate dengan keseharian warga Jakarta. Saya sendiri sampai kadang tertawa sendiri setiap mengulang pembacaan. Maklum, beberapa tahun lalu saya sempat mengalami beberapa sketsa yang diintip oleh para komikus penulisnya. Tak heran, saya tidak pernah bosan.

Judul           : Mengintip Metropolitan
Penulis        : Haryadhi, Sheila Rooswitha, "Mice" Misrad
Penerbit       : Octopus Garden
Tahun          : 2014
Tebal           : 144 hal.
Genre          : Komik Urban

 

Cipayung, 8 September 2024

Sejarah Yang Tidak Pernah Sampai


Harusnya banyak yang bisa saya tulis kembali dari buku ini. Agar kita sebagai muslimin-muslimat muda tahu bahwa selama ini sejarah Umat Islam sudah dicatat ulang oleh mereka yang mengaku "Penakluk Dunia".

Harusnya kita tahu bahwa peradaban yang dibangun Umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad SAW adalah melampaui pengetahuan pada zamannya. Yang ada saat ini tinggal pengembangan dari dasar-dasar pengetahuan yang telah ditemukan oleh para cendekiawan Muslim pendahulu.

Saya sedikit kaget saat tiba pada tulisan yang membahas bahwa Thariq bin Ziyad tidak pernah membakar kapalnya. Kisah ini masyhur kita kenal ketika Thariq mencoba menaklukkan Eropa setibanya di daratan usai melewati Selat antara benua Afrika dan Eropa yang kini kita kenal sebagai Selat Gibraltar. Thariq tidak membakar kapalnya! Mengapa cerita yang kita kenal adalah Thariq membakar kapalnya untuk membakar semangat Kaum Muslimin yang ikut berperang dengannya. Inikah sebuah propaganda sejarah? Sejarah ditulis oleh Sang Pemenang?

Buku ini cukup menarik untuk dibaca, kemasannya bagus, ilustrasinya rapi, ada sumber referensi jadi tidak asal tulis. Buku ini layak dibaca hingga tamat dan bersambung ke buku lanjutannya. Hanya saja, penataan teksnya seharusnya bisa dibuat lebih rapi lagi.

Buku ini setidaknya bisa menjawab pertanyaan saya, "Mengapa bangsa yang tidak cebok seperti orang Eropa memiliki peradaban bangsa yang maju, sedangkan kita di Indonesia yang mayoritas Muslim ini selalu bersuci dari hadas kecil dan besar susah untuk maju?".

Apa betul kita mesti telanjang dan benar-benar bersih, suci lahir dan di dalam batin. Seperti kata Ebiet G. Ade? 

Judul           : The Untold Islamic History #1
Penulis        : Edgar Hamas
Penerbit       : Generasi Shalahuddin Berilmu
Tahun          : 2021
Tebal           : 249 hal.
Genre          : Sejarah Islam

 

Cipayung, 8 September 2024.

Jumat, 30 Agustus 2024

Satu Dekade KLa Project


 
Izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi,
Bila hati mulai sepi tiada terobati

Album “Dekade: 1988-1998” adalah album Kla Project pertama yang saya dengarkan secara penuh full album. Alasannya mudah saja, dalam album ini ada banyak lagu-lagu popular Kla Project dan menjadi hits pada masanya. Jadi, rasanya sangat menyenangkan. Satu album penuh yang diisi dengan lagu-lagu hits dan bisa saya ikut nyanyikan. Saya meminjam album ini dalam bentuk kaset pita dari Paman. Saya tidak punya pretensi apa-apa, hanya saja saya butuh sesuatu untuk saya dengarkan selain radio dan kaset-kaset lainnya. Waktu itu, menjelang ujian SPMB. Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru. Album ini menemani saya dalam menjalani hari-hari persiapan ujian.

Hari-hari itu adalah masa yang tak pernah mudah. Saya hanya punya waktu sebulan penuh untuk persiapan dan latihan soal. Saya mulai jam 07.00 di pagi hari dan selesai setiap jam 17.00. Istirahat hanya pada saat butuh ke kamar kecil dan waktu shalat saja. Selebihnya, saya berada di meja belajar berkutat dengan buku-buku persiapan ujian. Saya tidak melakukan kegiatan belajar di malam hari. Kalaupun ada hanyalah sekedar membaca-baca pelajaran yang bisa dibaca dalam rumpun Ilmu Sosial. Maklum, saya yang murid IPA ini mengikuti ujian SPMB IPS. Bukan IPC, agar saya fokus. Sebuah Keputusan yang saya anggap tidaklah terlalu salah.

Album ini menemani malam-malam saya. Semakin lama saya dengarkan, saya semakin menikmati musikalitas Kla Project. Ada beberapa lagu dari sesi KLakustik yang disisipkan dalam album ini. Kalau tidak salah, “Yogyakarta” yang selalu membuat rindu kembali ke Yogyakarta, “Waktu Tersisa”, “Salamku Sahabat”, “Tentang Kita”, dan “Semoga”. “Semoga” ini cukup baru untuk telinga saya. Sehingga lagu ini kemudian jadi favorit saya Bersama dengan “Belahan Jiwa”. Apalagi nuansa yang dihadirkannya adalah suasana konser KLakustik di Taman Ismail Marzuki tahun 1995 silam. Sebuah pertunjukan yang megah untuk sebuah band yang berumur 7 tahun.

Dulu, akses internet tidak semudah saat ini. Jadi, saya tidak pernah tahu seperti apa gambaran visual konsernya. Yang jelas, saya hanya bisa berharap untuk dapat memiliki kaset KLakustik yang terbagi jadi dua keping kaset. Saya baru bisa mendapatkan album KLakustik pada tahun 2023 lalu dalam bentuk CD di sebuah toko music terkenal di bilangan Sabang, Jakarta Pusat, dengan harga yang sangat menyenangkan pula.

Kembali ke Dekade. Album bersampul dominan warna hitam ini seperti menyimpan unsur magis yang dapat menyihir setiap pendengarnya. Apalagi bila sudah sampai pada “Takluk” di side B. Anyway, this album is fantastic. Sebuah pencapaian bagi sebuah band yang tidak pernah mudah. Seingat saya, pada tahun 1997, setahun sebelum album ini dirilis, Lilo mengeluarkan single pertama dari albumnya yang cukup viral juga saat itu dengan lagu andalan “Sandra”. Sandra oh Sandra, waktu merambat menjelang senja. Katon juga sempat merilis album “Harmoni Menyentuh” pada tahun yang sama dengan singlenya “Meniti Hutan Cemara”. Jenuhku adalah beban, yang tak boleh terulang. Seakan dua pertanda itu menegaskan terjadinya sesuatu dalam Kla Project. 

Anyway, saya kini menikmati kembali album ini dalam bentuk yang lain. Kalau dulu dalam bentuk kaset, sekarang saya bisa menikmatinya dalam bentuk digital music streaming yang mengharuskan kita berlangganan. Sebut saja Oknum “S” hahahaha. Juga, saya mendapatkan keping CD album ini yang berisi dua keping CD dan bonus sebuah booklet yang berisi lirik lagu-lagu dalam album serta ucapan salutation dari Kla Project.
Album ini dinaungi label Prosound dan hadir dalam dua keping CD serta kaset pita ini adalah bukti bahwa Kla Project belum usai pada usianya yang satu dekade itu. Setahun sesudah “Dekade”, kemudian lahir album “Sintesa” pada tahun 1998 dengan hits andalannya “Sudi Turun ke Bumi”. Saya tidak bisa berkomentar banyak mengenai album “Sintesa”. Menyusul setahun sesudahnya, album bertajuk “Klasik” dengan hitsnya yang popular yaitu “Menjemput Impian”. Kekasih aku pulang, menjemput Impian. Lalu, “Kidung Mesra”. Ingin masuki puri dihatimu, hangatkan ruangnya dengan cinta. Aaahhh, cinta.

To conclude this post, album ini is simply amazing. Merangkum sepuluh tahun perjalanan band legendaris dengan lirik-lirik nan puitis. 

Meski tlah jauh, aku akan tetap menulis tentang kita
Walaupun aku bahagia tanpamu, aku akan selalu merindukan gerimis
Pada belahan jiwa, yang membuatku takluk
Aku takkan lepaskan, semoga 
Kita selalu satu kayuh berdua


Cipayung, 28 Agustus 2024

7, The Magnificent


Aisyah sayang,

Beranjak tujuh tahun umurmu kini. 7 tahun, beberapa dari mereka sering bilang Magnificent 7. Mungkin karena mereka hanya tahu bahwa banyak keajaiban dari pemilik nomor 7. Entah David Beckham, Ronaldo Portugal, atau tujuh yang lainnya. Apapun itu, selamat! Bapak senang bisa melihat Aisyah tumbuh menjadi anak yang riang dan bersemangat.
 
Aisyah harus jadi lebih baik lagi, Nak. Semakin rajin sholatnya, semakin rajin belajarnya, dan semakin berbakti pada orang tua. Doa kami selalu menyertaimu, Nak. Masih terbayang di benak Bapak, waktu Aisyah baru belajar jalan. Masih tertatih namun selalu ingin terus berjalan walau kadang jauh. Namun, selalu bangkit lagi. 
 
Aisyah sekarang sudah bisa naik sepeda ke sekolah. Bapak salut dengan keberanian Ais. Pertahankan itu, Nak. Dunia butuh orang yang berani. Berani berbuat baik dan benar serta berani mengakui kesalahan. Aisyah, harus lebih baik lagi ya, Nak.
 
Peluk sayang dari Bapak dan Ibu.
 
 
Cipayung, 2 Juli 2024.

Rabu, 26 Juni 2024

Someday

Jakarta is a strange place which i am still trying to comprehend. On the one side there is a grit, the grime and the in-your-face poverty, on the upper side the glamorous, cosmopolitan Jakarta. As part of the upper-middle class, one gains automatic access to the hippest bars, the fanciest parties and the most fashionable events. Trendy restaurants provide modern Western cuisine targeted towards sucker like me, who suffer from bouts of nostalgia and are willing to pay a premium to cure their cravings.

You can walk into a bar and feel like you're back in Sydney or New York ar any other international city. In Jakarta, you can live the same lifestyle as you had while you overseas, or sometimes even better.

But in the end, life is not about all that. It is about the people you surround yourself with. To love where you live, you must be with the ones that make you feel belong.

At the end of the day, wherever you are. when you are surrounded by friends and loved ones, even the worst day can turn to the best.


 
 
Disadur dari tulisan berjudul "Coming Home" by Tessa Wijaya. The Jakarta Post Weekender. Juli 2009
 
Ditulis kembali sebagai pindahan dari Notes di Facebook

Kenapa

Kenapa kita tidak pernah bisa setia pada satu hati saja?
Tapi,aku masih tetap merindumu...

Pegangsaan Dua, 21 Februari 2009 

diedit pada 14 Maret 2021 

Senin, 08 Januari 2024

Membunuh Perasaan

Kau mintakan aku bercerita padamu tentang bagaimana caranya agar aku tidak selalu rindu pada rumahku. Baik, begini ceritanya.

Waktu itu setelah kelulusan. Aku masih menikmati saat-saat itu. Suatu waktu dimana tiap detiknya masih sama seperti saat cerita ini aku buat. Sama sepertimu. Aku hanya ingin menikmati hari-hari setelah kelulusan dengan biasa saja. Aku tahu aku harus mencari pekerjaan. Aku tahu itu dan aku rasa aku akan memulainya nanti.

Aku memulai beberapa pekerjaan kecil yang memang sering aku lakukan. Kembali menghubungi kawan-kawan lama dan ya begitu-begitu saja. Pernah juga aku kerja tak dibayar. Aku pernah mengalaminya. Dan percayalah, kau pasti tidak akan mau merasakannya. Jangan. Jangan pernah.

Begitulah, sampai suatu saat aku merasa harus segera meninggalkan kotaku itu. Aku selalu merasa harus pergi dari kota yang telah membesarkanku. Padahal, situasinya tidak terlalu parah. Aku masih punya penawaran untuk sebuah pekerjaan lagi. Tapi, karena begitu kuatnya dorongan itu, aku memilih berhenti saja supaya aku bisa lebih leluasa. Klasik. Padahal itu cuma jadi pembenaran saja kalau aku masih merasa harus pergi menuju kota impian.

Perasaan itu terus menghimpitku. Maka yang bisa kulakukan hanyalah menikmati hari-hari secara berbeda. Aku harus menjalani hari-hariku dengan apa yang kuinginkan. Aku tidak pernah akan tahu kapan hari terakhirku di kota itu. Aku hanya bisa melakukan apa yang biasa kulakukan. Mendengarkan radio, selonjoran sampai tengah malam, atau malah merokok di keheningan malam juga aku lakukan. Aku harus mempersiapkan segalanya. Semuanya. Agar kelak bila memang aku meninggalkan kota ini aku benar-benar tidak harus berpikir apa-apa lagi dan yang pasti tidak akan ada penyesalan.

Suatu hari, aku harus pergi ke kota tujuanku. Kotaku yang sekarang ini. Aku harus mengikuti suatu ujian. Aku berangkat dengan semangat. Semangat, siapa tahu aku ditakdirkan untuk menaklukkan kota itu.

Esok harinya aku telah kembali bersama hujan di kota asalku. Aku kembali lagi dengan harapan akan kembali. Perasaan itu masih ada. Aku masih merasakan getarannya yang sangat kuat. Aku harus pergi. Aku harus pergi. Sampai saatnya benar-benar tiba. Aku mendapatkan pekerjaan. Entah, tanpa pertanda tanpa firasat, perpisahan itu terjadi pula. Kutinggalkan kedua orang tuaku dan juga adikku yang beranjak dewasa. Semua itu terjadi begitu saja. Begitu saja.

***

Aku jalani hidupku yang sekarang ini. Aku masih menyimpan kerinduan untuk sekedar pulang menengok rumah sebentar. Apakah akan masih kutemui senyuman rindu Ibunda dan hangatnya tatapan Bapak, belum lagi tawa riang si Adik melihat Kakaknya pulang? Akankah semua itu menyambut pulangnya si anak ini?

Perlu kau tahu, aku menulis cerita ini sambil berurai air mata ditemani Barry Gibbs yang menyanyikan lagu I Started a Joke.

Aku masih menyimpan kerinduan itu. Dengan penghasilanku sekarang sebenarnya aku bisa pulang setiap minggu. Persis seperti cerita Bapak ketika bekerja dikota ini. Namun, entahlah aku hanya bisa pulang seminggu sekali. Rasanya lelah sekali dan setiap weekend hanya kuhabiskan untuk beristirahat saja.

Bilamana rasa rindu menyerang, ada beberapa hal yang aku lakukan. Aku sering pergi ke Stasiun Jatinegara dan berlama-lama disana setiap hari Jum'at. Aku merasakan sebuah perasaan yang dahsyat kala melihat orang-orang berlarian menghampiri Argo Gede. Mereka-mereka itulah yang masih punya kehidupan di Bandung, sama sepertiku. AKu melihat kerinduan dari mata mereka. Maka yang bisa kulakukan hanyalah melihat itu semua terjadi. Dengan itupun aku merasa lega. Aku titipkan kerinduan ini pada setiap rangkaian gerbong Argo Gede.

Kalaupun tak sempat, aku hanya berdiri saja sambil berpura-pura  menunggu bis di depan pool travel itu. Aku lihat mobil yang setiap jamnya berangkat. Aku lihat lagi wajah-wajah penuh rindu. Maka aku pun tenang setelahnya. Sama seperti tadi.

Aku masih akan berada disini untuk waktu yang tak tentu. Aku masih akan disini dulu. Ada yang masih harus kucari. Ada yang harus kuselesaikan. Disini.



8 Januari 2009

* Tulisan lama di Facebook, terbit ulang di blog ini dengan alasan dokumentasi.

Jumat, 22 Desember 2023

Cerita dari Pangandaran - Part 3 (habis)

Hari ini adalah pelepasan bagi 2 sahabat kami. Dua anak manusia yang cintanya dipertemukan oleh takdir. Apakah Tuhan sengaja membiarkan mereka mendapatkan takdirnya masing-masing? Bukan karena kebetulan semata?


Seorang dari kami tampak mengenakan busana warna putih dengan peci warna putih juga, berbalut kalungan bunga melati. Dialah sahabat kami itu yang mengundang kami dating ke pantai ini. Dari sorot matanya yang ada hanya ketenangan.Tidak terlihat adanya beban. Hari inilah yang akan jadi awal dari segalanya di fase hidupnya yang baru. Mengarungi samudera kehidupan rumah tangga yang Insya Allah berada dalam naunganNya. Insya Allah, satu kayuh berdua*).


Kami mengantarkan mereka hingga dihadapan penghulu. Do’a-do’a dan lantunan ayat suci selesai dibacakan. Tibalah saatnya mengucap ikrar yang taruhannya dunia akhirat. Rupanya ada yang terlewat. Dia mencobanya sekali lagi. Sah? Sah! Sah! Sah! Alhamdulillah.


Tangis haru mewarnai pagi yang belum terlalu panas itu. Kami menyaksikan dua sahabat kami mengikat janji mereka dalam sebuah ikatan pernikahan. Entah, apa yang terpikir di kepala kami? Apakah ada diantara kami ini yang sedang membayangkan rasanya seperti mereka berdua? Atau hanya berpikir: Setelah ini siapa lagi yah?


Tembang Rhoma Irama dari Grup Qasidahan menemani kami menyantap hidangan yang disuguhkan. Lalu berganti dengan grup Nasyid dimana sahabat kami juga ada disana ikut menyanyi. Ada yang harus segera berakhir. Kami naik panggung. Foto. Jeprat jepret. Pamit pulang.


Bukan liburan kalau langsung pulang. Masih juga sempat mampir di pantai barat menyeberang ke pasir putih. Yang tersisa hanya aku, Mamank, dan Herman. Kami bertiga hanya memandangi perahu yang semakin menjauh. Kami bisa lihat mereka semua selamat sampai tujuan.


Kami hanya melamun, membuat lubang, merokok, lalu berlalu untuk sholat. Selepas shalat di mushola yang panas itu, kami mendinginkan hati dan pikiran dengan kelapa muda. This is life!


Nggak belanja, bukan liburan! Sepertinya inilah yang ada di benak para pelancong perempuan ini. Karena terlalu lama, kami putuskan supaya orang Jakarta (orang besoknya kerja, di Jakarta lagi…) untuk berangka duluan. Aku disana ikut mereka.


Aku minta diantar ke terminal, just want to ask, Budiman ke Jakarta berangkat jam berapa, namun entah mengapa, aku memutuskan untuk terbang ke Bekasi. Ini adalah keputusan yang sulit. Aku meninggalkan teman-teman. Tapi, justru inilah inti dari perjalanan ini. AKu memilih naik Budiman Pangandaran-Bekasi.


Akhir sebuah perjalanan


Perjalanan ini sangat berarti untukku.  Perjalanan menempuh  kesendirian. Bukan sekedar perjalanan biasa. Perjalanan ini adalah untuk sebuah keinginan yang baru saat ini terpikirkan kembali. Kenapa harus selalu menunggu untuk memulai sebuah perjalanan? Kenapa tidak memulainya saja sendirian? Sendirian sampai tempat tujuan.


Perjalanan ini adalah suatu pertanda bahwa kadang dalam kehidupan banyak sekali variabelnya yang berubah-rubah. Hidup ini seperti rumus fisika atau kimia yang mengandung ketetapan didalamnya walau variabelnya berubah atau diganti. Perjalanan mengajarkanku untuk meraih tujuan dengan caraku sendiri. Dan betapa kadang dalam perjalanan juga semuanya bisa berubah walau masih dengan tujuan yang sama.



*) sebuah judul lagu dari Kla Project


Pegangsaan Dua, 22 December 2008, 15.54 

Tulisan ini berasal dari Notes di Facebook, diedit kembali tanggal 22 Desember 2023 untuk terbit di blog ini.

Cerita dari Pangandaran - Part 2



Sore di Pangandaran adalah sisa-sisa kerinduan. Dibawah langit yang mendung dan jalanan basah. Para wisatawan segera bersiap menyambut datangnya malam. Malam belum menjelang. Senja pun belum turun. Betapa bahagianya kami dapat berjumpa kembali sahabat seperjuangan dengan plat D. Tak lama setelah melepas rindu dan laporan sama yang punya hajat, kami segera menjelajah pantai.


Senja mulai turun dan gelap. Angin semakin kencang. Kami masih di pantai. Bermain-main dengan ombak yang saling berkejaran. Blitz dari kamera digital yang bagai petir itu menandai kami yang rada-rada narsis ini. Hujan kembali turun. Hujan mengusir kami kembali ke madrasah.


Selepas waktu Isya, rasanya perut ini mulai berteriak minta diisi. Betul saja, cacing-cacingnya sudah minta makan. Mereka teriak ingin makan seafood atau sekedar ikan baker. Tak hanya itu saja, mereka juga berteriak ingin makan di restoran yang ada TV-nya supaya mereka (lagi-lagi) bisa berteriak mendukung Firman Utina Cs yang sedang menjaga skor tetap 1-0.


Selama babak kedua itulah waktu makan kami. Indonesia kalah 2-1. Perut kenyang. Udang terkulai. Kerapu terbakar. Asap rokok mengepul. Heuaay. Pulang. Cari duren. Duren menyapa dihadapan kami. Sengaja kami menghadap pantai timur dalam gelap yang semakin pekat. Kacang rebus dan kamera masih jadi teman kami.


Tak lama, tiga orang sahabat menyusul kami. Semakin lengkap rasanya malam minggu ini. Sahabat, kopi hitam, kopi susu, kacang rebus, dan sepenggal kisah.


Ada kejadian yang membosankan ketika harus menemukan penginapan tempat para perempuan akan menginap. Sudah 3 kali keliling tapi tetap hasilnya 0 besar. Untung, Tuhan masih menitipkan tanda-tanda kekuasaanNya hingga kami pun tahu harus menuju kemana.


Kami, para lelaki, tiba di penginapan dan langsung membuka apapun yang kami bawa. Buka baju. Buka celana. Buka mulut (nguap tandanya ngantuk). Buka tas. Buka seleting (mau pipis…). Buka minum. Buka laptop nonton bokep (yeahhh..) Buka mata sampai jam 2 pagi. Sayangnya, DJ_arot sudah terkulai duluan. Perlahan disusul Christ, Mamank, Angga and Kubil.


Malam yang semakin dingin dan sedikit gerimis menutup cerita malam itu.

 

Pegangsaan Dua, 22 Desember 2008

Tulisan ini berasal dari Notes di Facebook, diedit kembali tanggal 22 Desember 2023 untuk terbit di blog ini.


Titip Rindu buat Ibu*)

Rembulan merah mengambang

Langit Cikampek malam hari

Angin kemarau mengalun terbang

Hantarkan hasrat mimpi kembali

 

Debur rindu bawa kelam

Sejuta rindu bawa mimpi

Desiran ingin bakar malam

Jatiluhur terpatri sepi

 

Ibu... Si Anak meradang

Dalam sedu gemuruh hati

Ibu... anakmu pulang

Remuk redam hati terobati

 

Jakarta, 12 Agustus 2009

*) Sama dengan judul novel Novia Syahidah, Titip Rindu buat Ibu

ditulis kembali mengenang perjalanan Jakarta-Bandung via Purwakarta sekaligus menyambut Hari Ibu 2010, diedit kembali pada 22 Desember 2023 untuk diterbitkan di blog ini.

 

Sesah Hilapna - A Commemorate to Unforgetfulness

Asa-asa urang teh nembean tepang, aya keureuteug hate dugdeg sur ser sesah hilapna...

Geuing beut sungkan papisah... Deuh... Sesah hilapna...

Kantenan urang teh nembean tepang aya nu eunteup gerets kadeudeuh sesah hilapna...

Nyanding asih dina ati... Deuh... sungkan patebih...*)

 

Rhein.. Carrarhein... Hanya itu saja yang ku tahu tentang dia. Hanya namanya saja. Pertemuan ini berlalu begitu saja. Tidak lebih cepat dari 1 lap balapan Formula 1. Juga, tidak lebih lambat dari Fastest Lap Kimi Raikonnen. Kau boleh bilang sepintas lalu saja. Ya, memang seperti itu. Untung saja, aku masih ingat namanya. Namanya yang selalu akan jadi bagian cerita hidupku ini.

Tidak perlu lagi kuceritakan bagaimana aku tahu namanya. Tidak juga kau perlu tahu mengapa sulit untuk melupakannya. Toh, pertemuan kami tidak disengaja. Aku tidak berkuasa apa-apa atas kejadian ini. Aku hanya tahu kalau aku sedang menjalani kemestian.

Aku sedang berada di dalam perjalanan. Perjalanan yang akan membawaku kepada diriku sendiri. Entah mengapa aku merasa punya kekuatan dan harapan yang kuat untuk melakukan suatu perjalanan, sendirian. Perjalanan ini bukan dalam misi bisnis, dagang, bekerja, tapi lebih pada silaturahmi. Silaturahmi pada kenangan-kenangan yang berceceran di sepanjang jalan menuju tujuan. Silaturahmi dengan suasana baru yang kuharap dapat mengantarkanku pada diriku sendiri.

 

Whatever tomorrow brings i'll be there...**)

.

Aku masih berada dalam perjalanan sambil berpikir akan pergi kemana lagi setelah ini. Ada banyak kemungkinan. Aku masih bisa pergi lagi ke Magelang untuk mengambil kembali kenangan tentangnya. Kenangan yang tertinggal dalam kabut Merbabu. Belum lagi yang tercecer dan menyatu dalam butiran air di kolam renang Sukotjo. Benar-benar sebuah napak tilas yang mungkin bakal berkesan. Aku ingin sekali lagi ke Magelang atau, sekedar main ke Yogyakarta. Meretas mimpi yang mungkin terobati. Aku masih menatap gelap diluar jendela sana. Bus masih melaju kencang. Sepi. Sendirian melintas jalan sunyi. Sendiri. Seperti aku. Menuju kesana. Kesana.


Pegangsaan Dua, 19 Desember 2008

*)Sesah Hilapna, dinyanyikan oleh Hetty Koes Endang

**) Drive, lagunya Incubus. Di Indonesia malah ditiru jadi nama Band.

diedit kembali pada 22 Desember 2023 untuk terbit di blog ini

Selasa, 12 Desember 2023

Thinkplus T50: Masih Bagus Buat Lari

Saat ini, ada banyak perlengkapan olahraga lari. Mulai dari yang utama dan berpengaruh pada performa, seperti sepatu dan outfit. Hingga, secondary items yang bisa menambah kegantengan atau sekedar untuk mengikuti tren biar bisa dibilang eksis. Untuk alasan yang kedua ini barangkali sering menjadi alasan para pelari untuk melengkapi eksistensinya di dunia perlarian.

Rasanya tidak lengkap berlari tanpa mendengarkan musik. Saya jadi ingat sepuluh tahun lalu, saya masih rutin berlari keliling Monas dengan mendengarkan musik dari lagu-lagu yang ada di ponsel melalui headset berkabel. Saat itu, sudah mulai ada device headset dengan koneksi bluetooth, namun saya tidak mampu membelinya, Hehehe. Saat ini, sudah banyak sekali wireless bluetooth headset dengan berbagai rentang harga di marketplace daring. Mulai dari yang klasik on-ear hingga yang paling kekinian open-ear/air  conduction yang sama-sama menggunakan koneksi bluetooth.

Saya belum tahu rasanya seperti apa headset open ear itu namun saya mulai merasa perlu untuk mengganti headset yang selama ini saya pakai untuk berlari. Headset TWS on-ear harus selalu rutin ditekan agar posisinya tidak mudah goyang karena getaran dari gerakan lari. Sementara, yang bermodel mengalungi leher cukup membuat lecet kulit leher, imbas gesekan karet dengan kulit leher.


Akhirnya, saya menjatuhkan pilihan pada Thinkplus T50 earphone. TWS ini memiliki gantungan yang melingkar untuk menggantung pada daun telinga. Ini mengingatkan saya pada medio 2010 dimana banyak juga model headset dari brand besar yang dipalsukan menggunakaan dudukan semacam ini. Old school never dies, Baby!

Kualitas suara yang saya dapatkan dari TWS ini pun saya bisa beri nilai 80 dari 100. Suara musik dari jasa penyedia musik streaming atau podcast di Youtube selalu bisa saya nikmati. Mid-range dan bassnya lumayan walaupun tidak sekuat TWS yang pernah saya review sebelumnya, Nakamichi TWS1XS. Kapasitas baterainya pun lebih besar dari TWS1XS, 300 mAh dan bisa saya gunakan lebih dari 5 jam berturut untuk sekedar mendengarkan musik.

So far, penggunaannya cukup nyaman baik untuk kerja (online meeting), telepon, berolahraga (sepeda, lari, dan gym). Bahan gantungannya cukup lembut dan terbuat dari karet lentur sehingga mengurangi resiko lecet saat berkeringat. Karet telinganya juga empuk serta diberi pilihan 3 ukuran dalam paket pembeliannya. Koneksi charger sudah menggunakan USB Type-C, jangan khawatir karena Thinkplus juga menyertakan kabel charging dalam paket bawaannya.

Anyway, sebagai alternatif dari TWS headset open-ear yang harganya fantastis itu, rasanya Thinkplus T50 masih dapat diandalkan. Perbandingannya tidak head-to-head memang, tapi bila mungkin ada pembaca disini yang juga pelari, T50 bukanlah gadget/device yang dapat memberi kepuasan serupa, namun tidaklah salah bila T50 bisa jadi satu 'obat ganteng' anda saat berlari. Barangkali, kalau satu waktu anda perlu naik MRT, T50 masih boleh lah...!

Brand : Thinkplus Lenovo
Model : T50 True Wireless Bluetooth Earphone Sport TWS 5.2
Sensitivity : 105 dB +/- 3 dB
Play time : 5 hours
Harga  : Rp. 108.000 (Oktober 2023)


Cipayung, 10 Desember 2023

Senin, 04 Desember 2023

Why? Science Standards, Memahami Standar Lewat Komik

Sumber gambar: www.gramedia.com


Sejatinya, komik serial Why? ini adalah komik edukasi untuk anak-anak dengan rentang umur sekolah dasar. Tujuannya, agar mempermudah proses pembelajaran anak dalam pelajaran yang berkaitan dengan sains atau ilmu pengetahuan alam. Sepanjang pembacaan, andaikan buku ini ada saat saya masih sekolah dulu, mungkin hidup akan jadi lebih mudah. Halaah. Andaipun begitu, saya beleum tentu punya uang untuk membelinya.

Membaca komik ini membawa ingatan saya kembali pada masa awal sekolah menengah pertama. Saya kembali mengingat pelajaran Fisika, terutama tentang satuan-satuan yang digunakan dalam Sistem Internasional. Lewat pembacaan, saya merefresh kembali memori tentang beberapa satuan yang sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Bedanya, dengan komik ini pembaca dibuat paham tentang mengapa harus ada satuan atau ukuran pengukuran yang sama melalui cerita Paman dan Komji yang kembali ke Zaman Babilonia dimana Kerajaan Assyria (Asiria) berusaha memperluas pengaruhnya.

Komik ini juga memberi penekanan bahwa standar adalah ‘akar dari sains’. Standardisasi  memiliki peranan yang besar terhadap kemajuan sains. Bagaimana pentingnya? Penjelasan dalam cerita petualangan Komji dapat membantu pembaca untuk setidaknya memahami mengapa asal mula keseragaman pengukuran dan bagaimana pengaruhnya terhadap kemajuan dunia dan ilmu pengetahuan.

Komik serial ini memiliki banyak judul yang tentu saja masih berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Buku ini lebih dulu saya tamatkan karena judulnya ‘agak saintifik’ untuk saya yang medioker ini. Saya masih ada dua buku Why? lagi untuk ditamatkan. Anyway, saya sangat menikmati pembacaan komik ini. Sedikit membuat dahi berkenyit tapi ya sudahlah...!

Judul           : Why? Science Standards, Standar Pengukuran
Penulis        : Yea Rim Dang
Penerbit       : Elex Media Komputindo
Tahun          : 2019
Tebal           : 160 hal.
Genre          : Komik Sains



Pajang, 4 Desember 2023


Senin, 27 November 2023

Kepiting Bercapit Emas: Membaca Kembali Tintin

Sumber gambar: www.goodreads.com
 
Membaca lagi Tintin berarti mengulang kembali kisah baca saya puluhan tahun yang lalu. Saya harus mampir ke rumah saudara untuk meminjamnya. Buku komik semacam serial Petualangan Tintin ini habis dibaca sekali duduk. Juga karena ini bukan kali pertama jadi saya hanya menghabiskan waktu sepuluh menit saja untuk menamatkannya.

Kisah rekaan dengan intrik-intrik spionase ini tentu sangat melatih pemahaman saya waktu kecil. Dulu, saya harus membaca berulang kali untuk dapat memahami cerita Tintin. Tentang bagaimana clue, kode, atau petunjuk-petunjuk yang dapat dijadikan alat investigasi yang menuntun pada pembuktian dan pemecahan sebuah kasus.

Anyway, saya menikmati sekali pembacaan kembali Tintin. Tentu saja terima kasih saya ucapkan pada Istri saya yang masih mau membeli komik Tintin. Barangkali, kami berdua sedang butuh jiwa petualang untuk kembali berlayar satu kayuh berdua. Semoga.
 
 
Judul           : Petualangan Tintin: Kepiting Bercapit Emas
Penulis        : Herge
Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2015
Tebal           : 64 hal.
Genre          : Komik-Petualangan


Pajang, 27 November 2023.


Jumat, 04 Agustus 2023

Rest in Peace, My Beloved Script

 

Hari ini, saya nyatakan bahwa script ini telah dideaktivasi. Entah karena si burung kecil sudah berganti logo atau ada hal lainnya, saya tidak tahu.

Kamis, 03 Agustus 2023

Tough Choices: Sebuah Pembukaan

“... life is about the journey, not the destination. The steps along the way are what makes us who we are...” hal. 85


Sumber gambar: www.goodreads.com

Saya pertama kali berkenalan dengan buku ini di suatu perpustakaan sekolah medio 2009. Kebetulan, saat itu seorang siswi sedang membaca sekilas kemudian meminjamnya. Penasaran, akhirnya ketika buku itu dikembalikan, saya lantas mulai membaca sedikit halaman pembuka. Sampulnya menarik dan cukup simple. Sebuah potret seorang perempuan yang nampak masih “perkasa” dengan sisa-sisa kejayaannya. Judulnya pun langsung menimbulkan banyak pertanyaan dalam benak saya.

Buku ini adalah sebuah memoar yang ditulis sendiri oleh Carly Fiorina, mantan CEO Hewlett-Packard (HP). Menarik untuk mengetahui cerita mengenai seorang perempuan yang menjadi pemimpin di sebuah perusahaan besar berskala internasional. Untuk tahu bagaimana latar belakangnya sedari kecil, kisah-kisah dan pergolakan di masa beranjak dewasa, hingga berbagai keputusan yang diambil dalam menjalani serangkaian peristiwa dalam hidupnya.

2013 lalu, pernah sekali waktu saya menemukan buku ini di sebuah toko buku import di bilangan Senayan. Waktu itu, saya tidak punya cukup keinginan untuk menuntaskan pembacaan buku ini. Saya masih punya buku-buku yang belum dibaca dan itu banyak sekali. Keinginan itu muncul kembali ketika saya mulai mengumpulkan daftar wishlist buku yang ingin saya baca di Goodreads, pasca mereka menghapus My Stories di halaman mereka. Saya pun memberanikan diri untuk membeli buku-buku bekas di platform marketplace online shopping, dimulai dengan ‘Seribu Kunang-Kunang di Manhattan’ dan ‘Adam Makrifat’ yang pembaca tentu saja sudah lebih dulu membacanya sebelum tulisan ini.

Saya membeli memoar ini bersamaan dengan buku dari Tina Fey ‘Bossypants’, sebuah memoar yang penuh dengan humor. Saya sengaja menunda ‘Bossypants’ agar dapat fokus menamatkan ‘Tough Choices’ terlebih dahulu. Saya mendapatkan buku ini sebagai buku bekas yang pernah berada dalam rak toko buku yang tahun 2013 lalu saya kunjungi dan harganya tidak dalam kurs rupiah, merupakan pada harga aslinya USD 24,99. Warna kertasnya sudah menguning, kertas sampulnya masih dalam keadaan baik, tidak ada halaman yang rusan ataupun sobek, dan yang paling penting: tidak ada penanda apapun dari pemilik sebelumnya. Anggap saja ini buku baru yang halamannya sudah menua. Hahaha.

Saya selalu menyukai apa yang ditulis Carly Fiorina dalam halaman-halaman awal. I do what i thought was right... My soul still on my own... Kata-katanya seakan menguatkan dan memberi harapan bahwa apa yang kita lakukan adalah hasil pertimbangan kita sendiri dengan segenap pengalaman yang akan kita pertanggungjawabkan.

Sepanjang pembacaan sampai halaman 98, ada banyak hal yang dapat dijadikan pelajaran dan motivasi. Tentang bagaimana menghadapi situasi penuh pilihan, tentang bagaimana mengambil resiko, juga tentang bagaimana berhadapan dengan banyak orang dalam konteks bisnis internasional. Saya merasa mendapatkan banyak insight dari perjalanan yang bahkan belum seperempat buku. Setidaknya, dalam hidup saya yang mulai membosankan ini ada sesuatu yang bisa membuat saya berpikir kembali tentang banyak hal.

Anyway, saya masih harus menamatkan buku ini. Saya selalu merasa harus menamatkan buku ini sejak menemukannya kembali. Saya tidak terlalu tahu sepak terjang dan jejak karir dari si penulisnya. Namun, saya selalu punya alasan untuk belajar memahami kembali bahwa pengalaman adalah guru terbaik.

Pajang, 3 Agustus 2023.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...