Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Juli 2018

Kadang (2)

Kadang,
Saya berpikir bahwa surga itu tidak ada
Bahwa surga itu hanyalah sebuah kiasan
Dalam Rukun Iman tidak disebutkan Iman kepada surga
Justru malah iman kepada Hari Kiamat

Kadang,
Saya berpikir bahwa surga itu tidak ada
Bahkan, kalau perlu tidak perlu ada
Kalau cuma jadi pamrih Ibadah
Kadang. Ya, kadang-kadang.


Bogor, 6 Juli 2018

Kamis, 17 Maret 2016

Kepada Cinta

Courtesy: www.bukukita.com

Tidak ada alasan lain bagi saya untuk membaca buku ini kecuali penasaran dengan surat cinta tulisan Adhitya Mulya. Itu saja. Lainnya saya anggap bonus. Termasuk surat cinta dari Raditya Dika. Maklum saja, buku ini memuat tulisan surat cinta dari para pemenang kontes surat cinta. Tidak melulu soal surat cinta sepasang kekasih. 'Kepada Cinta' menghadirkan cinta yang universal, kepada keluarga, teman, sahabat, bahkan cinta sejenis.

Sebagai seorang penulis musiman dan dadakan yang surat cintanya pernah dimuat dalam satu buku kompilasi, saya sangat menikmati pembacaan buku ini. Tata letak dan tipografi yang beragam membuat tidak mudah bosan dan jenuh. Kalaupun benar jenuh dan bosan, barangkali karena terlalu banyak cinta didalamnya.

Judul       : Kepada Cinta: True Love Keeps No Secret
Penulis    : Adhitya Mulya [et.al]
Penerbit   : Gagasmedia
Tahun      : 2009
Tebal       : 244 hal.
Genre      : Fiksi- Kumpulan Surat Cinta

Cipayung, 16 Maret 2016.

Minggu, 04 Mei 2014

On a Fine Night (2)

On a fine night, the lights of Jakarta will tell you a thousand stories, if you would just listen to them. 




Of a water splash from the corner of the pool when the children's laughing
 

Of a lover sitting down the traffic on a heavy Saturday evening rain
 

Of a famous dangdut songs played by street vendors while preparing the dishes
 

Of a book a man read while waiting for his beloved
 

Of a football club's anthem on a minimarket

In the city, that will never sleeps

The city lights will tell everything, if you just listen to them.



Cilandak, 3 Mei 2014

Selasa, 04 Juni 2013

On a Fine Night

On a fine night, the lights of Jakarta will tell you a thousand stories, if you would just listen to them. 




Of the two best friends walking together sharing their 'how's life' while traffic goes by...

Of a lover waiting their beloved ones while seating on the motorcycle and queuing near the city's landmark

Of the cyclists coffee seller preparing cup by cup, while their customer waiting to lights the cigarettes...

Of the song was playing in the angkot's music player...

Of the song that was playing on the radio when we're just saying goodbye...

In the city, that will never sleeps.

The city lights will tell everything, if you just listen to them.



Bunderan HI-Paninggilan-Medan Merdeka Barat, 4 Juni 2013

Selasa, 30 April 2013

Sebuah Prosa, Sebuah Cerita

Spasi

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?

Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.

Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali. jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Jadi, jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.

Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.

Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.



Sebuah prosa dari Dewi Lestari yang ditulis tahun 1998, dikutip dari Filosofi Kopi (2012)
 
                                                                     *

Ada semacam perasaan magis saat membaca prosa diatas. Spasi, adalah kata sederhana untuk menyiratkan makna jarak, seberapa pun panjangnya terentang. Spasi, adalah jeda untuk membuka ruang. Karena dalam ruang itu kehidupan berada. Dinamika dan segala persoalan hidup ada karenanya.

Tak terkecuali saat membaca kembali prosa ini. Dalam keadaan dan situasi yang berbeda, things will never be the same again. Jarak mengulur waktu. Memisahkan dua hati yang meminta untuk jalan saling beriring. Rindu, hanyalah akibat dari jarak.

Saya jadi tahu artinya sebuah spasi, dalam sebuah penantian. Saya belajar menerima bahwa spasi atau pun jeda hanyalah sebuah penguji bagi ruang yang entah kapan atau sedang ditinggali. Pun, ketika menyadari bahwa dalam jeda, saya tahu bahwa saya semakin merindukannya.

Ik hou van jou.
 

Pharmindo, 30 April 2013.

Senin, 30 Januari 2012

Melodrama Senja



“Tidak bisakah kita berbahagia dengan apa yang sudah kita miliki saja?”
“........................................”
“Bukankah kita sudah bahagia dengan apa yang sudah kita miliki?”
“Menurutmu?”
“Aku rasa kita sudah. Mencapai kebahagiaan dengan sederhana. Aku mencintaimu. Itu saja.”
“........................................”
“Aku tahu kau mengingkarinya, hanya untuk memberiku waktu untuk pergi.”
“Maksudmu?”
“Tanya hatimu, benar itu yang kau mau?”
“........................................”

Hanya itu saja yang kuingat. Percakapan terakhir dengan perempuan itu saat senja belum tiba. Mendung pun bukan pertanda akan segera turun hujan namun resahnya sengaja mewakili pikiranku. Dalam kegamangan seperti ini, apa yang bisa aku lakukan hanya untuk meyakinkannya bahwa aku pun sama mencintainya. Tak ada yang bisa kulakukan. Dia pergi. Selesai.
*

Pekerjaan yang menumpuk kadang sama seksinya dengan wanita yang paling menggairahkan sekalipun. Setidaknya untukku. Saat ini. Membuatku nafasku semakin memburu untuk segera menuntaskannya satu per satu. Sebelum terlibat dalam pergulatan lainnya.

Aku tidak bersemangat membaca koran hari ini. Isinya hanya seputar catatan akhir tahun redaksi yang selalu meninggalkan wacana. Lagipula, propaganda pemerintah di akhir tahun ini lebih banyak menemui jalan buntu. Korupsi milyaran masih dihukum lima tahun penjara, sengketa komoditas pangan impor, dan segala provokasi atas nama perubahan membuatku muak. Jadi, tidak ada pentingnya sama sekali. Apa peduliku?

Belakangan, aku merasa sangat kelelahan. Aku sudah coba rajin lari pagi setiap weekend. Itu tidak membantu. Minum suplemen, tidak ada efeknya. Hingga suatu saat aku menemukan jawaban atas masalah ini. Aku melarikan diri dari kenyataan. Kadang itu jadi pilihan terbaik, tapi tetap saja tidak menyelesaikan masalah.

Seperti rumus fisika Bab Tekanan. Penampang milikku tidak cukup besar untuk menerima tekanan permukaan yang selalu lebih besar. Sehingga, ada imbalance disana. Masalahnya, aku bukan Airbus yang cukup dengan sekali tekan tombol overhead panel masalah imbalance bisa selesai. Aku hanya manusia dengan segala problematika yang membelenggu.

Aku mulai berpikir untuk berdamai dengan diri sendiri. Entah dalam hal apa. Pokoknya aku merasa harus seperti itu. Seperti biasa, masalah mulai timbul ketika aku mencoba mencari penyebabnya. Aku belum berdamai dengan perasaanku sendiri. Aku tahu, perasaan itu sering menipu. Maka, aku pikir mungkin ini akar dari semua masalah dan tekanan yang sedang mendera.

Aku masih belum mengakuinya. Bahwa aku menyimpan rasa, itu pasti. Bahwa aku terlalu takut untuk mengalami kegagalan, itu jelas. Aku semakin tidak tahu aku berada dimana. Aku serasa berada dalam ketidakpastian dan sangat takut untuk menghadapinya.

Aku tahu, cepat atau lambat aku akan mengatakan hal itu padanya. Bahwa aku sangat menginginkannya kembali. Entah kapan. Yang aku tahu, gerimis telah turun mengiringi senja di kota yang tak pernah mati ini. Segera aku nyalakan media player.

"bila senja telah tiba.... hatiku tambah sengsara..."*)


Paninggilan, 30 Januari 2011


*) dari lirik lagu "Hidup yang Sepi" dinyanyikan oleh Koes Plus.


Kamis, 30 Juni 2011

Debu Cinta Bertebaran




Novel kaleidoskop yang penuh dengan pertentangan batin dan pemikiran antara liberalisasi atas nama modernisasi global dengan nilai humanisme universal ketimuran. Suatu pertentangan yang membuat cinta pun hanya tinggal debu-debunya saja dan bertebaran dibawa angin zaman. Penulis berhasil menggambarkan pola pikir dan sudut pandang seorang Indonesia yang "terasing" di negeri seberang. Ditengah-tengah rawannya nilai kemanusiaan dalam perang yang berkecamuk di sebagian belahan dunia lain dan gemerlap metropolitan kota Sydney.

Gejolak pemikiran pasca revolusi kemerdekaan sangat terasa pada jalan cerita. Tentang bagaimana arus pemikiran individualisme Barat bercampur dengan kolektivitas ketimuran. Tentang bagaimana seorang Indonesianis melihat kedalam bangsanya sendiri. Menarik untuk dibaca sebagai refleksi penyadaran kembali tentang sejarah perjuangan bangsa terutama pasca revolusi kemerdekaan.

Judul: Debu Cinta Bertebaran
Penulis: Achdiat K. Mihardja
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun: 2004
Genre: Novel




Paninggilan, 31 Mei 2011.

Rabu, 11 Mei 2011

Mengenangmu (3)

Ling Ling Ling Ling Oh kekasihku.... *)


Ya, lagu yang Ibu stel di radio butut pagi itu jadi penanda
Betapa suatu masa terlewati
Cerita tentangku dan dirimu
Hadirkan rindu
Selimuti luka

Betapa kuingat lagi manis senyummu
Lengkap dengan lentik dua matamu
bawa teduh
redakan gelisah

Boleh aku jujur padamu?

Aku pernah menginginkanmu
Tapi terlalu pengecut
Hanya rindu pada hadirmu
Bukan pada hatimu
Telah kau tinggalkan makna eksistensial
yang dulu sempat Kierkegaard agungkan

Sayang sayang sayang
Entah berapa hari telah kuhabiskan
Hanya untuk berpaling dari segala kenangan itu: bahwa kita pernah bersama
Menambat harap pada lubang di hati



Paninggilan-Medan Merdeka Barat, 9 Mei 2011.


*) dari lagu "Ling Ling (Oh Kekasihku)" dinyanyikan oleh The Phoenix

Selasa, 10 Mei 2011

Mengenangmu (2)

Yang tertinggal hanya gambarmu di meja kamarku... Ditemani dua puisi tentang lara hati... *)


Masih di mejaku, ada gambarmu
Dosakah aku?
Bila masih selalu menatapimu yang telah resmi diperistri
Bahkan juga telah menyusui buah hati yang kelak mewarisi indah binar matamu

Maybe this is an exceptional, and i knew that was true. You're the truth and haven't knew the answer.

And i'm all alone...
Like many nights before...
Life is very long.



Pharmindo, 15 September 2010


*) dari lagu "Lara Hati" dinyanyikan oleh Katon Bagaskara.

Kamis, 05 Mei 2011

Mengenangmu

ada yang beda, walau senyum itu masih sama
entah
tak ada lagi gairah, seperti saat masih disana
every smile you fake, i'll be watching you*
lagu itu selalu kuingat
kadang jadi penanda
betapa relatifnya makna satu senyum: senyumanmu

setidaknya aku lihat lagi dua bola matamu
dan lirikanmu yang pernah membuatku rindu
melambaikan bayangmu dalam pejamku

ah, kapan bisa kumiliki saat itu lagi
sedang engkau tak lagi disini
serupa gelisah yang kau beri
jauh menepi pada ujung hati
terseret angin terbawa panas, tersapu jelaga hari


Paninggilan, 3 Mei 2011

* The Police, Every Breath You Take

Senin, 11 April 2011

Air Mata Sore




Tangismu sore tadi memang baru pertama kulihat. Pada merah rona pipi dan lentik matamu mengalir air mata. Aku pun sama demikian. Sama menangis dalam hati. Hati penuh peluh rindu. Hanya untuk terima kenyataan; bahwa perpisahan itu benar adanya.


Parung, 9 April 2011.

Sabtu, 09 April 2011

Sisa Hujan Semalam

sisa hujan semalam masih terasa
pada lengkung pucat bulan sabit
sebelah bintang pagi langit selatan
gerimis menawan pagi

sisa hujan semalam tinggalkan mimpi pada rumput basah
pada harap selintas
senyummu pagi ini
ada kesan tertinggal


Parung, 31 Maret 2011

Kamis, 24 Maret 2011

Paragraf Rindu

Binar sayu dua mata itu sudah cukup untuk membuatku rindu padamu. Sejengkal rindu hanya jarak semu bagai horison terasing* di jiwamu. Karena aku rindu padamu. Maka, biarkanlah rinduku berdekapan erat-erat dengan kesunyian jiwamu yang paling dalam. Biarlah kusempurnakan tragedi nasibku di hadapanmu.**


Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 24 Maret 2011.


*) dari judul pameran "Horison Terasing", 26 April - 20 Mei 2003 di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung
**) dari cerpen karya Emha Ainun Nadjib, "Pesta", Kompas 28 November 1977 dalam "Dua Kelamin Bagi Midin: Cerpen Kompas Pilihan 1970-1980", Penerbit Kompas, 2003. Hal. 264

Sabtu, 12 Maret 2011

Entah

mungkin karena rumahmu di Pamulang
selalu membuatku ingin pulang
kemana katamu
ke hatimu jawabku, entah



Medan Merdeka Barat- Paninggilan, 11 Maret 2011. 23.45

Rabu, 19 Januari 2011

Le Memoir du Soir

Aninda,

Entah cepat atau lambat, aku tahu saat seperti ini akan terjadi. Saat meninggalkan kota ini dengan segenap perasaan yang tertinggal. Tertinggal pada hatimu atau malah disela-sela rerumputan di perbukitan Utara itu. Ini bukan pertama kali, tapi sudah untuk kesekian kalinya. Kini, semua itu kembali menyeruak dalam ingatan. Mengiringi deru mesin-mesin, pada suatu sore di terminal yang tak rapi.

Aku pernah membayangkan bahwa saat ini memang akan tiba. Melaju mengejar mimpi-mimpi kosmopolis-artifisial buatan ibukota dengan bis paling eksekutif yang pernah ada. Impianku melaju didera deru mesin yang saling berkejaran dengan parau suaramu. Usai kau ucapkan salam perpisahan kita di ujung jalan itu. Menangiskah kau kemarin?

Aninda,

Tahukah engkau? Dulu, aku selalu menatap getir matahari sore yang selalu mengantar senja. Dibalik jendela bis sambil menatap keluasan semesta. Sesekali terbayang wajah-wajah sahabat dan semua yang pernah mengisi hati ini. Ah, betapa kenyataan memang tidak selalu menyenangkan.

Rasanya sangat tidak pantas bila aku mengeluh pada Tuhan. Ini hanya bagian kecil dari jutaan potongan scene kehidupan yang tentu masih berlanjut. Kalau aku menyerah dan kalah saat ini, aku justru malu pada diriku sendiri. Betapa masih banyak orang yang pernah lebih menderita dibandingkan dengan aku yang disiksa perasaanku sendiri. Yeah, sometimes i'm afraid of myself.

Aninda,

Aku belum pahami betul apa maksud semua ini. Apakah ini hanya ujian godaan religi ataukah hanya sekedar momen penguras rasa? Rasa dimana gelisah tak pernah pudar.



Pharmindo-Leuwi Panjang-Paninggilan 16-18 Januari 2011.



Selasa, 30 November 2010

Membaca Kembali Aki Melalui Manifest

Mengacu kepada judul diatas, rasanya kita tidak akan pernah berpaling lagi pada sosok lain selain Achdiat K. Mihardja (alm). Begawan sastra Indonesia yang menghabiskan sebagian banyak umurnya di Negeri Kangguru sana. Penulis yang juga menghasilkan karya-karya besar lainnya seperti Atheis (Novel, 1949) dan Debu Cinta Bertebaran (Novel, 1973) memiliki beberapa keistimewaan yang menjadikannya sebagai saksi zaman.

Aki, begitu beliau biasa dipanggil, berumur panjang, sempat menyaksikan epos pasang-surut perkembangan perjalanan bangsa sepanjang penggalan abad ke-20 dan 21. Beliau adalah legenda yang menjelmakan suka-derita Indonesia. Pada kalbunya mengendap falsafah hidup tentang arti kemanusiaan yang mudah beralih menjadi adi-kegetiran jika ketamakan dan kepongahan melalaikan manusia dari misi kemanusiaan.


Beliau terlahir dari generasi yang dipersatukan oleh pengalaman yang sama dengan genersi Intelektual zaman Soekarno. Sama-sama produk awal pendidikan Politik Etis, sama-sama tumbuh dalam gelombang pasang kemunculan dan pertentangan ragam ideologi-politik, sama-sama menciptakan tanda "indonesia" sebagai komunitas impian baru, sama-sama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, dan kelak sama-sama dikecewakan oleh rezim Orde Baru.

Proses pencarian beliau tertuang dalam manifest yang beliau beri nama sebagai "Manifesto Khalifatullah". Melihat kepada penamaan tersebut, menandakan pada proses pencarian untuk menemukan tugas penciptaan. Semua makhluk memiliki tugas penciptaan. Suatu tugas dalam bentuk pendelegasian kasih sayang Tuhan dengan menjadi Khalifah (wakil Tuhan) di muka bumi. Sayangnya, tidak semua manusia menyadari tugas penciptaan tersebut. karena iblis tidak pernah diam dan tidak pernah mati untuk senantiasa menggagalkan terwujudnya pencapaian tugas tersebut. Begitulah, yang ingin Aki sampaikan melalui manifestnya ini.

Walaupun lebih berbentuk novel, Aki enggan menyebutnya demikian. Aki lebih suka menyebutnya "kispan" alias Kisah Panjang. Ini mungkin disebabkan karena Aki ingin membagi rekaman perjalanan intelektual dan spiritual yang dialaminya. Karena memang tidak mudah untuk menghadapi berbagai pertemuan dan pertentangan dengan aliran-aliran pemikiran yang dianut orang-orang macam Karl Marx, Engles, Siddharta, Adam Smith, dan Nietzsche.

Satu lagi yang membuat manifest ini sungguh berarti adalah bahwa Manifesto Khalifatullah ini ditulisa dalam keadaan mata Aki yang hampir buta. Proses penulisannya pun harus diselesaikan oleh seorang typist komputer. Maka rasanya tidak salah bila dalam testimoninya, Taufiq Ismail mendeskripsikan Manifesto Khalifatullah sebagai semacam rangkaian kuliah penutup tentang makna kehidupan dari seorang Dosen Sastra Emeritus.

Judul: Manifesto Khalifatullah
Penulis: Achdiat K. Mihardja (1911-2010)
Penerbit: Arasy Mizan, 2005
Tebal: 215 hal.
Genre: Memoar


Blok M-Paninggilan, 30 November 2010. 21.05



Sabtu, 16 Agustus 2008

Masih Sama-sama

Kita masih menatap matahari yang sama. Berpijak di tanah yang sama. Minum dari mata air yang sama. Bila malam turun, purnama rembulan masih sama membayangi.

Kita masih disini. Di kota ini. Di batas kota ini*) Kita masih disini. Menikmati Lembang di waktu senggang. Kita masih disini. Masih kabut yang sama membayangi.

Kita masih disini. Aku disana, engkau disini, kalian disitu. Apa sulit bertemu?.

Tak usah tanya tentang waktu. Tantanglah waktu.


Bukit Pakar Timur 100, 16 Agustus 2008, 13.21


*) Sebuah lagu dari Tommy J. Pisa, Di batas kota ini

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...