Tampilkan postingan dengan label Agama islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 September 2024

Sejarah Yang Tidak Pernah Sampai


Harusnya banyak yang bisa saya tulis kembali dari buku ini. Agar kita sebagai muslimin-muslimat muda tahu bahwa selama ini sejarah Umat Islam sudah dicatat ulang oleh mereka yang mengaku "Penakluk Dunia".

Harusnya kita tahu bahwa peradaban yang dibangun Umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad SAW adalah melampaui pengetahuan pada zamannya. Yang ada saat ini tinggal pengembangan dari dasar-dasar pengetahuan yang telah ditemukan oleh para cendekiawan Muslim pendahulu.

Saya sedikit kaget saat tiba pada tulisan yang membahas bahwa Thariq bin Ziyad tidak pernah membakar kapalnya. Kisah ini masyhur kita kenal ketika Thariq mencoba menaklukkan Eropa setibanya di daratan usai melewati Selat antara benua Afrika dan Eropa yang kini kita kenal sebagai Selat Gibraltar. Thariq tidak membakar kapalnya! Mengapa cerita yang kita kenal adalah Thariq membakar kapalnya untuk membakar semangat Kaum Muslimin yang ikut berperang dengannya. Inikah sebuah propaganda sejarah? Sejarah ditulis oleh Sang Pemenang?

Buku ini cukup menarik untuk dibaca, kemasannya bagus, ilustrasinya rapi, ada sumber referensi jadi tidak asal tulis. Buku ini layak dibaca hingga tamat dan bersambung ke buku lanjutannya. Hanya saja, penataan teksnya seharusnya bisa dibuat lebih rapi lagi.

Buku ini setidaknya bisa menjawab pertanyaan saya, "Mengapa bangsa yang tidak cebok seperti orang Eropa memiliki peradaban bangsa yang maju, sedangkan kita di Indonesia yang mayoritas Muslim ini selalu bersuci dari hadas kecil dan besar susah untuk maju?".

Apa betul kita mesti telanjang dan benar-benar bersih, suci lahir dan di dalam batin. Seperti kata Ebiet G. Ade? 

Judul           : The Untold Islamic History #1
Penulis        : Edgar Hamas
Penerbit       : Generasi Shalahuddin Berilmu
Tahun          : 2021
Tebal           : 249 hal.
Genre          : Sejarah Islam

 

Cipayung, 8 September 2024.

Senin, 03 Mei 2021

Cak Nun Bertutur: Merangkum Indonesia

Sumber gambar: www.goodreads.com
Sumber gambar: www.goodreads.com
 
Dari sekian buku baru Cak Nun, baik yang diterbitkan kembali atau yang memang pure diterbitkan, saya rasa pembacaan buku ini termasuk yang paling lancar. At least, bila dibandingkan dengan progres pembacaan judul-judul buku lain Cak Nun yang baru terbit lainnya. Saya tidak tahu mengapa. Barangkali, alur penceritaan buku ini yang membuat pembacaan saya agak sedikit lebih cepat selesai.
 
Alur penuturan dalam buku ini sesuai dengan selera saya. Flashback. Menuturkan kembali cerita secara historis, alur mundur. Ini yang membuat saya agaknya merasa nyaman. Selain itu, untuk mengetahui bagaimana sesuatu berakhir, harus juga dilihat dengan bagaimana sesuatu itu dimulai.
 
Cak Nun, memulai dengan kisah sepanjang perjalanan di Dipowinatan, Dinasti, KiaiKanjeng hingga bermuara di Maiyah. Awalnya, agak sulit untuk membayangkan penuturan apa yang akan dibawakan Cak Nun sepanjang jalan sunyi hidupnya. Apakah seratus sekian halaman buku ini akan sanggup menampungnya?
 
Kenyataan yang saya dapati adalah bahwa Cak Nun mampu merangkum penggalan-penggalan kisah jalan sunyinya dalam judul-judul artikel yang serupa cerita pendek. Kisah perjalanan hidup sepanjang Menturo, Jogja, KiaiKanjeng, dan Maiyah terhampar lugas. Sebagaimana KiaiKanjeng, rasanya Cak Nun juga adalah hamba Allah yang diperjalankan. Diperjalankan sesuai dengan keinginan Allah, Tuhannya yang satu.
 
Bahwa ketika kemudian Cak Nun mampu menulis sedikit tentang keadaan Indonesia kekinian pun yang disampaikan hanya dengan satu paragraf saja. Bahwa Indonesia telah kehilangan kontinuitas sebagai bangsa, hingga pengejawantahan Bhinneka Tunggal Ika yang semakin kehilangan esensinya.
 
Saya kagum dengan pencapaian Cak Nun dalam buku ini. Hal ini semakin membuktikan bahwa Indonesia memang hanya bagian dari desanya Cak Nun. Sehingga sebesar apapun Indonesia, Cak Nun akan mampu mengampunya karena ia hanya bagian dari desanya.
 
Segala puji bagi Allah yang memperjalankan hamba-Nya di jalan sunyi.

Judul            : Mbah Nun Bertutur
Penulis        : Emha Ainun Nadjib
Penerbit       : Bentang Pustaka
Tahun          : 2021
Tebal           :  228 hal.
Genre           : Sosial-Budaya-Ketuhanan


Cengkareng, 3 Mei 2021.

Jumat, 06 Juli 2018

Kadang (2)

Kadang,
Saya berpikir bahwa surga itu tidak ada
Bahwa surga itu hanyalah sebuah kiasan
Dalam Rukun Iman tidak disebutkan Iman kepada surga
Justru malah iman kepada Hari Kiamat

Kadang,
Saya berpikir bahwa surga itu tidak ada
Bahkan, kalau perlu tidak perlu ada
Kalau cuma jadi pamrih Ibadah
Kadang. Ya, kadang-kadang.


Bogor, 6 Juli 2018

Rabu, 04 Juli 2018

Kadang

Kadang kita rasanya suka ge-er
Ge-er sudah diampuni dosanya usai Ramadhan
Ge-er punya pahala berlimpah setiap selesai Qiyamul Lail
Ge-er merasa paling paham sendiri setiap selesai ikut Kajian
Kadang...

Bogor, 4 Juli 2018

Selasa, 16 Januari 2018

Selamat Jalan, Habib

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Umat Islam kembali berduka dengan meninggalnya Habib Abdurrahman Muhammad yang merupakan cucu Habib Ali Kwitang meninggal dunia kemarin (Senin, 15/01) di Pondok Gede. Almarhum meninggal dunia selepas Isya di Rumah Sakit Haji Pondok Gede.

Habib Abdurrahman merupakan penerus dakwah dan pimpinan Majelis Ta'lim Habib Ali Al Habsyi di Kwitang. Ia wafat di usia 75 tahun. Almarhum adalah putra kedua dari tujuh bersaudara. Beliau dimakamkan di Pemakaman Keluarga di Masjid Al Riyadh.

Mendengar kabar meninggalnya Habib Kwitang membuat saya tiba-tiba teringat pada satu Hadits Rasulullah SAW. Sungguh bahwasanya Allah SWT menggenggam ilmu dengan mewafatkan para Ulama. Dalam pikiran selintas, meninggalnya Habib Abdurrahman ini jadi penanda. Sebuah tanda bahwa zaman semakin tua. Allah SWT telah menunjukkan tanda-tanda kuasaNya.

Semoga Habib ditempatkan bersama orang-orang saleh di surga Allah SWT. Semoga dilapangkan alam kuburnya. Semoga jamaah yang ditinggalkan senantiasa bersabar dan mengamalkan ajaran-ajaran beliau.

Cipayung, 16 Januari 2018.

Sabtu, 30 September 2017

Harus Pintar Ngegas dan Ngerem

Karena Islam itu mengendalikan, bukan melampiaskan. Hidup itu harus bisa ngegas dan ngerem.

Sumber gambar: www.goodreads.com

Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT karena memberikan rezeki dan kesehatan kepada Emha Ainun Nadjib, sehingga dengan ridho-Nya pula Mbah Nun dapat menuliskan buku terbarunya ini. Teruntuk penerbit Noura Books saya juga menyampaikan rasa hormat dan terima kasih sedalam-dalamnya karena mau untuk menerbitkan segala pemikiran Emha Ainun Nadjib sehingga pembaca dapat membacanya berulang-ulang agar semakin paham.

Sebagaimana dikabarkan dalam catatan pembuka, buku Mbah Nun ini menyampaikan kabar langit dengan bahasa yang membumi. Memang benar begitu adanya. Mbah Nun membuka intisari yang lengkap tentang bagaimana kita harus menyikapi apa-apa yang terjadi belakangan ini dengan cara pikir yang berbeda. Mbah Nun mengantarkan sebuah dialektika berpikir yang sederhana namun tetap tidak terlepas dari pangkuan Ibu Al-Quran.

Terlalu banyak quotes yang bisa diambil dari buku ini. Kalaupun sempat, akan saya rangkumkan quotes versi saya dalam tulisan lain. Yang terpenting, saya menemukan kembali sebuah konsistensi. Saya tidak perlu menemukan kembali relasi antara konteks kekinian dengan relevansi materi buku ini. Saya perlu sebuah sikap dan pernyataan tegas bahwa apa yang disampaikan oleh Mbah Nun lewat forum lingkar Maiyah dapat ditemukan dan ditelusuri kembali dalam buku ini.

Bagi pembaca yang sudah akrab dengan ceramah dan tulisan-tulisan Mbah Nun, tentu proses identifikasi keselarasan sikap dan ucapan itu akan menjadi sangat mudah. Lain halnya bagi pembaca yang baru berusaha memahami Emha. Akan berlangsung segenap pengalaman jiwa dan raga untuk melepaskan diri dari ikatan mainstream untuk kemudian menjernihkan hati dan pikiran untuk menerima rentetan pesan Mbah Nun.

InsyaAllah, buku ini akan menjadi media belajar bagi siapapun. Media pembelajaran bagi kita semua untuk selalu mawas diri, untuk selalu sadar bahwa ada kalanya hidup itu tidak selalu harus ngegas. Ada waktunya hidup mempersilakan kita untuk ngerem, untuk menahan. Supaya kita sampai tujuan dengan selamat. Selamat di dunia dan selamat di akhirat. InsyaAllah.

Judul        : Hidup itu Harus Pintar Ngegas & Ngerem
Penulis     : Emha Ainun Nadjib
Penerbit    : Noura Books
Tahun       : 2016
Tebal        : 230 hal.
Genre       : Sosial Budaya


Cipayung, 21 September 2017.

Jumat, 30 Juni 2017

Catatan Hikmah (5)

Puasa yang dilakukan dengan benar dan intensif dalam dimensi badaniah, spiritual, intelektual dan mental, menghasilkan kemenangan-kemenangan kepribadian. Idul Fitri disebut Hari Raya Kemenangan karena sesudah 30 hari berjuang, manusia menemukan kemenang­an atas dirinya sendiri. Melalui pendadaran ibadah puasa, manusia dibina untuk sanggup mempang­limai dirinya sendiri, sanggup melakukan pilihan-pilihan terbaik menurut pandangan Allah, baik dalam dalam soal-soal konsumsi hidup, karier, atau apa pun.


Bandung, 26 Juni 2017.

Disadur dari tulisan Emha Ainun Nadjib berjudul "Idul Fitri: Kemenangan Personal di 'Tengah Kekalahan Struktural'" dalam buku "Tuhan Pun 'Berpuasa'", Gramedia Pustaka Utama, 2012.

Catatan Hikmah (4)

Kalau menjalani Idulfitri dan mudik ke Tuhan, satu-satunya jalan ya memakai cara pandang Tuhan. Materi, kekayaan, tumpukan modal, citra, hamparan uang, pangkat, jabatan dua periode, semua yang tampak mata, adalah mata uang yang tidak laku di dalam pola berpikir Idulfitri, yakni di hadapan Allah. Kita ini hidup di hadapan Allah: emang ada tempat selain itu untuk hidup?”.


Bandung, 25 Juni 2017.

Disadur dari tulisan Emha Ainun Nadjib berjudul "Mudik ke Rumah Fitri", dipublikasikan di www.caknun.com, diakses pada 25 Juni 2017.

Jumat, 09 Juni 2017

Catatan Hikmah (3)

Kita semua perlu belajar kepada Cak Nun bagaimana seharusnya memahami semua itu menurut al-Quran
Sumber gambar: caknun.com
Yang membedakan Islam dengan kebudayaan, Islam dengan industri, Islam dengan selera pribadi, Islam dengan kepentingan politik, Islam dengan segala macam acual nilai ciptaan manusia adalah akar dan sumber pertimbangan dari kemaslahatan dan kemudaratan itu. Bagi Islam, maslahat dan mudarat itu didasarkan pada nilai Allah. Pada yang lain, dasarnya adalah sumber-sumber kepentingan yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan sunnatullah dan iradatullah.
Jakarta, 9 Juni 2017

Penggalan artikel “Matriks-Lima dan Asas Maslahat-Mudarat” dalam buku ‘Tuhan Pun “Berpuasa”’, Emha Ainun Nadjib, Gramedia Pustaka Utama, 2012.

Senin, 05 Juni 2017

Catatan Hikmah (2): Perlunya Ilmu Kematian

Kegiatan puasa adalah perjalanan melancong ke tepian jurang kematian, meskipun engkau sadar untuk membatasinya sehingga tidak melompat masuk ke jurang itu. Perjalanan melancong itu, dalam puasa yang dikonsepkan dengan batas-batas sehat, sekadar mengajakmu untuk mengalami dan menghayati situasi yang seolah-olah antikehidupan, misalnya lapar; dahaga, lemas, loyo, lumpuh, dan seterusnya.

Sumber gambar: caknun.com

Di dalam puasa atau pekerjaan apa pun, substansi yang terpenting adalah kesadaran tentang batas. Batas yang benar pada sesuatu hal akan merelatifkan hakikat suatu pekerjaan dan kondisi. Umpamanya tadi aku sebut bahwa lapar dan haus adalah situasi yang antikehidupan. Itu artinya bahwa lapar dan haus yang tidak dibatasi akan memproduksi mati. Tetapi engkau tidak bias mendikotomikan lapar-haus dengan kenyang-segar apabila engkau memakai kesadaran batas. Sebab, kenyang yang tidak dibatasi juga akan membawa manusia kepada maut.

Juga apabila lapar di situ engkau artikan secara lebih luas menjadi –katakanlah-kemiskinan, kemelaratan, atau kefakiran. Kefakiran yang melampaui batas akan membunuh manusia. Bukan hanya terbunuh fisiknya, tapi mungkin juga daya hidupnya, kepercayaan dirinya, mentalnya, imannya, dan sebagainya.


Jakarta, 5 Juni 2017.

Potongan dari artikel "Perlunya Ilmu Kematian” dalam buku, Emha Ainun Nadjib, Gramedia Pustaka Utama, 2012.

Jumat, 02 Juni 2017

Catatan Hikmah (1)

Karena tanda orang kaya adalah ‘merasa cukup’ dan tanda miskin adalah ‘merasa belum cukup’? Maka puasa hadir ke dalam kepalamu tatkala pikiranmu bertanya:

“Benarkah aku perlu makan di restoran semahal itu?”
“Benarkah ada sesuatu yang prinsipil yang mengharuskanku membeli barang ini?”
“Benarkah ada padaku kewajaran nilai yang mewajibkanku merebut pemilikan saham-saham itu?”

Sumber gambar: caknun.com
Maka puasa merasuk ke dalam dadamu ketika mulutmu berbisik ke telinga nuranimu sendiri.

“Apakah memang aku harus mengambil political decision yang sedahsyat ini, yang dampaknya adalah kesensaraan sekian banyak rakyatku sendiri?”
“Apakah aku memang wajib mempertahankan kekuasaan ini demi sesuatu yang mendasar dan berorientasi kepada kepentingan mayoritas rakyatku?”
“Sampai kapan aku akan mendalangi semua itu dengan keyakinan bahwa ini semua adalah yang terbaik bagi masa depanku sendiri serta masa depan keluargaku sendiri?”
 

Jakarta, 2 Juni 2017.
 
Potongan dari artikel ‘Puasa dan “Tarikat Wajib” dalam Kebudayaan’ dalam buku ‘Tuhan Pun “Berpuasa”’, Emha Ainun Nadjib, Gramedia Pustaka Utama, 2012.


Jumat, 28 Oktober 2016

Mati Ketawa ala Refotnasi

Tiap hari saya bertemu dengan ribuan rakyat di berbagai daerah dan pulau. Hampir semua bertanya, “Kok, partai politik kita sekarang begitu banyak? Ini demokrasi ataukah perpecahan ataukah ketidakdewasaan? Kami harus memilih yang mana?”

Courtesy: www.goodreads.com




Catatan pembukaan untuk buku ini telah ditulis pada 30 Juli 2016 yang lalu. Disini, masih dalam blog ini. Bahwa kemudian baru tiga bulan kemudian buku ini ditamatkan, penulis mohon maaf. Sesungguhnya, dalam usaha menamatkan buku ini hanya diperlukan waktu. Cukup hanya waktu saja. Mengapa? Karena kita butuh waktu untuk memahami apa yang terjadi pada Indonesia, seperti yang Emha tulis. Pun, ketika kita akhirnya harus menyediakan waktu untuk berpikir, apakah jalan yang ditempuh bangsa ini pasca kejatuhan Pak Harto dan mulainya reformasi sudah berada pada jalan yang lurus, shirottol mustaqiim?


Buku ini cukup ringan walaupun muatannya terkesan "berat". Apalagi menyangkut segala hal tentang periode reformasi yang sungguh cukup "menyiksa" kenangan lahir dan batin kita sebagai bangsa Indonesia. Emha agaknya sengaja ingin berpesan bahwa apapun kondisinya kita tetap harus bisa melihat jernih. Misalnya, tentang apa di balik siapa, atau malah siapa di balik apa. Celakanya, segala pemberitaan media massa justru malah memperkeruh situasi lahir dan batin bangsa Indonesia sehingga tidak lagi bisa berpikir jernih. Lha wong arsitek jaman Orde Baru itu sama dengan arsitek Orde Reformasi. Tetapi adakah yang menggugat? Itu baru penggalan satu contoh kecil saja.

Saya tidak menyangka bahwa buku ini memuat satu frame dari sekian timeline kisah hidup Emha. Satu bagian yang paling humanis, ketika putri Emha meninggal dalam kandungan karena terlilit tali pusar. Saya membaca sebuah kisah penuh ketegaran dan keikhlasan karena bahwasanya si anak putri ini sudah menanti ibu dan bapakna di Surga kelak, InsyaAllah.

Selanjutnya, saya menemukan kembali satu titik konsistensi seorang Muhammad Ainun Nadjib. Pada bagian-bagian akhir, Emha menjawab berbagai pertanyaan yang dituduhkan kepadanya. Emha dengan tegas dan lugas memberikan gugatannya. Kenapa kalau Emha shalawatan kok banyak yang bilang menggalang massa, sedangkan MTV (Music Television) dibiarkan merajalela merusak mental anak bangsa? Bila memang anda rajin membaca buku-buku Cak Nun belakangan ini, saya yakin anda akan menemukan hal yang serupa. Konsistensi yang istiqomah.

After all, bila anda adalah generasi kekinian yang hanya mengerti sepenggal-sepenggal mengenai sejumlah hal, patut rasanya mendekonstruksi kembali alam pikiran anda. Buku ini bisa jadi pengantar yang baik ke arah sana. Minimal, mereformasi diri sendiri dengan pelajaran dari sebuah negeri yang kerepotan cari nasi. Ah, refotnasi.

Judul       : Mati Ketawa ala Refotnasi
Penulis    : Emha Ainun Nadjib
Penerbit   : Bentang Pustaka
Tahun      : 2016
Tebal       : 200 hal.
Genre      : Sosial-Budaya


Medan Merdeka Barat, 28 Oktober 2016.

 

Selasa, 27 September 2016

Danarto Naik Haji + Umrah

Courtesy: www.goodreads.com
 
Ada dua alasan mengapa saya memilih buku ini untuk dibaca hingga selesai.

Yang pertama, Danarto. Seorang seniman yang saya lebih dulu kenal melalui karya-karya gambarnya. Termasuk, gambar sampul buku "Kitab Omong Kosong" dari Seno Gumira Ajidarma pada edisi terbitan Bentang Pustaka. Menarik sekali untuk membaca tulisan dari Pak Haji Danarto, apalagi selama ini beliau hanya terbayangkan sebagai perupa gambar.

Alasan lain, "Menoreh Janji di Tanah Suci" sebuah memoar perjalanan ke Tanah Suci dari Pipiet Senja. Sebuah catatan personal yang melankolis antara hamba dan Sang Pencipta. Saya bermaksud membandingkan saja kedua buku ini dari sisi pengalaman personal penulisnya.

Tadinya, saya berharap bahwa ada buku lain yang berjudul 'Orang Madura Naik Haji', namun karena belum ditemukan maka tidak apa-apa orang Jawa dulu saja pikir saya. Danarto berhasil menuliskan karakter yang melekat pada orang Jawa dalam konteks peribadahan kepada Tuhan dan segenap sisi religiusnya. Saya juga menemukan banyak quote dan perumpamaan yang bagus, yang memang dilontarkan oleh Pak Haji Danarto dalam perjalanannya menuju Baitullah di Tanah Haram sana. Misalnya saja tentang mengapa para Haji dan Hajjah dilarang untuk memotong rambut, hingga mengeluarkan darah dan hanya memakai baju ihram saja, karena sejatinya kita ini milik Allah SWT dengan segala apa yang melekat dan akan kembali kepada Allah SWT jua.

Selain mengupas keseharian peribadahan haji musim 1983, saya juga menemukan bahwa pelaksanaak ibadah haji yang selalu dikoordinir oleh negara itu pada tahun tersebut memang dalam tahap-tahap tidak menyenangkan. Betapa dengan mudahnya pemimpin rombongan memungut uang pengganti biaya-biaya tak nampak dari para jamaahnya, ketersediaan toilet dan kakus yang sangat tidak mencukupi, fasilitas yang jauh dari kata cukup, hingga terbengkalainya kota Mina dengan segala hal yang tidak menyenangkan.

Untuk alasan non-teknis, buku ini memiliki banyak 'cacat minor' yaitu penggalan kutipan ayat suci Al-Qur'an yang banyak mengandung kesalahan tipografi. Saya tidak tahu apakah hal ini luput dari proses editing oleh editor namun yang tampak jelas bagi saya adalah kesalahan pembacaan OCR (Optical Character Recognizition) yang mengakibatkan typographical error semacam itu. Kesannya, buku ini hanya direpro dari buku cetakan lamanya dan itu sangat 'fatal' untuk buku karya penulis sekelas Pak Haji Danarto.

Beruntung, Pak Haji Danarto dengan latar belakang seninya mampu mengolah pengalamannya sedemikian rupa hingga kita tidak perlu merasa begitu jijik dengan keadaan kota Mina. Pak Haji juga piawai memikat pembaca dengan perbandingan yang dibuatnya sendiri ketika mengikuti umrah yang 'dibayarin' dengan umrah yang memang 'diniatin'.

Perjalanan menuju Tuhan adalah perjalanan sunyi setiap jiwa. Pak Haji Danarto telah mencapai Tuhannya disana dengan segenap rasa abdi yang teguh. Andai pun Pak Haji Danarto bukan orang Jawa, saya yakin beliau akan tetap menuliskan pengalamannya di negeri para nabi sana.

Judul        : Orang Jawa Naik Haji + Umrah
Penulis      : Danarto
Penerbit    : Diva Press
Tahun        : 2016
Tebal        : 184 hal.
Genre        : Agama Islam-Ibadah Haji

Cipayung, 23 September 2016.

Selasa, 31 Mei 2016

1 Jam Bersama Nabi




Dari judulnya saja, saya kira buku ini menceritakan perjumpaan penulis dengan satu dari sekian banyak Nabi. Atau malah acara talkshow di sebuah stasiun televisi swasta. Namun, perumpamaan judul buku ini tidak kesana. Penulisnya tahu betul akan rasa cinta yang mendalam pada sang Rasulullah sehingga berabad jarak menjadi tak ada artinya lagi. 

Buku ini mengkaji hadits Nabi SAW yang tertuang dalam kumpulan 40 Hadits Masyhur karya Imam An-Nawawi. Pelajaran dari tiap-tiap hadits disajikan melalui dialog imajiner antara penulia dengan Rasulullah SAW yang senantiasa dirindukannya. 

30 hadits yang dibahas oleh penulis di sela-sela waktu tetirahnya di sebuah pesantren di kawasan Puncak, Bogor, mencakup hal-hal fundamental dalam kehidupan kaum muslimin. Tidak hanya seputar habluminallah tetapi juga bagaimana seorang muslim memaknai dan menjalankan peran dalam konteks habluminannaas. 

Buku ini pantas dibaca sebagai sarana rekreasi sejenak untuk sekedar mengendapkan hati dan berkaca. Bahwa memang dalam diri Rasulullah SAW itu ada suri tauladan (QS Al-Ahzab 33:21) bagi seluruh umat manusia. Dengan demikian, kita senantiasa mawas diri dalam rangka menjalankan peran sebagai khalifatullah di muka bumi. 

Judul     : 1 Jam Bersama Nabi
Penulis  : Tasirun Sulaiman
Penerbit : Noura Books
Tahun     : 2013
Tebal      : 213 hal. 
Genre     : Agama Islam-Hadits

Cipayung, 30 Mei 2016

Kamis, 26 Mei 2016

Perkara Paling Najis Sedunia


Courtesy: www.pengenbuku.net
At first, membaca judulnya, saya pikir buku ini adalah buku fikih populer untuk remaja atau dewasa. Ternyata saya salah. Buku ini dikhususkan untuk anak-anak, terutama pada usia mulai belajar sholat. Sebelum pelajaran mendirikan sholat, biasanya pelajaran mengenai Bab Thoharoh dan Bab Istinja (bersuci) lebih dulu diberikan. Emblem ‘Fakta dan Fikih’ yang ikut menempel pada judul buku ini turut memberi keyakinan pada orang tua bahwa anak-anak sudah mulai harus belajar memahami apa itu najis dan bagaimana cara menyucikannya.

Pelajaran-pelajaran dalam buku ini mengajak anak untuk memahami pengertian najis. Lalu, tingkatan najis itu bagaimana, apa-apa saja. Kemudian cara membersihkannya seperti apa. Tidak ketinggalan, fakta-fakta seputar najis itu sendiri menjadi materi yang tidak terpisahkan. Misalkan saja, apa itu air seni, ciri air seni yang sehat, apa itu darah, bagaimana proses pembentukan faeses, hingga bagaimana cara orang zaman dahulu membuang kotorannya.

Buku anak tentu tidak pernah lepas dari ilustrasi. Ilustrasi buku ini cukup representatif sesuai dengan tema pernajisan. Namun, saya sarankan untuk para orang tua agar mempersiapkan pengajaran buku ini 1 atau 2 jam setelah makan. Mengapa? Sila lihat sendiri saja bagaimana ilustrasi didalamnya. I would give PG Rating (Parental Guide) for that.

Sudah saya tulis diatas bahwa pelajaran mengenai pernajisan sangat penting sebelum melangkah menuju pelajaran sholat. Ilmu pernajisan tingkat dasar ini sangat penting untuk dikuasai sejak dini. Hal ini tentu saja untuk menumbuhkan kesadaran dan kebiasaan anak untuk bersuci.

Menurut saya, buku ini sangat menarik untuk dipahami juga oleh para orang tua, sebagai usaha untuk merefresh atau recurrent pengetahuan kita tentang basic pernajisan. Namun, tentunya kita para orang dewasa ini sudah tentu harus paham tentang benda-benda lain yang bisa digunakan untuk bersuci, misalnya. Sehingga, beberapa hal yang belum sempat tercantum bisa kita benahi sebagai bekal anak-anak kita.

Akhirul kalam, basic ilmu pernajisan dalam buku ini sudah cukup. Tinggal bagaimana para orang tua mengajarkannya kepada anak-anak. Sehingga, anak-anak menjadi paham dan terbiasa untuk menyucikan dirinya.

Judul     : Fakta dan Fikih Tentang Perkara Paling Najis Sedunia
Penulis  : Dewi Cendika
Penerbit : DAR! Mizan
Tahun     : 2013
Tebal      : 98 hal.
Genre     : Agama Islam-Fikih Populer

Cipayung, 19 Mei 2016.

Jumat, 25 Desember 2015

Orang Maiyah

Hidup orang Maiyah tidak tergantung kekayaan dan atau kemiskinan, tetapi tergantung pada proses pembelajaran menggunakan akal dan nuraninya untuk menyutradarai hidup menuju yang pantas dituju. 



Mengambil sub judul: Terang dalam kegelapan, Kaya dalam kemiskinan, buku 'Orang Maiyah' ini hadir sebagai penerang dan penjawab tanya, setidaknya tentang apa itu makhluk yang dinamakan Orang Maiyah. Sepengetahuan saya, baru buku ini yang khusus menerangkan apa yang terjadi dalam forum-forum Maiyah asuhan Cak Nun dan kawan-kawan. Adapun, mengenai asal usul dan pengenalan singkat tentang Jamaah Maiyah, telah lebih dulu ditulis oleh Prayogi R. Saputra dalam "Spiritual Journey: Pemikiran dan Perenungan Emha Ainun Nadjib". 

Buku ini membahas rangkuman dialog Cak Nun bersama tujuh orang Jamaah Maiyah lainnya dalam menginternalisasikan peran forum Maiyah dalam keseharian hidup mereka. Dalam Forum Jamaah Maiyah yang tersebar di berbagai kota dengan codename Bangbang Wetan, Gambang Syafaat, Kenduri Cinta, Jamparing Asih, dan lainnya itu tidak ada guru dan murid. Semua orang adalah murid, sang penghendak ilmu. 

Maiyahan-sebutan lain untuk forum Maiyah-menjadi saat yang paling ditunggu-tunggu oleh Jamaah Maiyah. Suatu momen dimana mereka rela tanpa lelah dan terpaksa duduk selama lima hingga tujuh jam untuk berkumpul dan berpikir tentang topik yang disajikan. Bergantian, Cak Nun hadir sebagai narasumber beserta tokoh-tokoh lain. Kadang diiringi lantunan musik suguhan Kiai Kanjeng. 

'Orang Maiyah' membuktikan kapasitas Jamaah Maiyah sebagai penghasil karya buah pikiran yang bukan merupakan sebuah karangan. Penulis yang terlibat dalam buku ini menulis dengan tulus tanpa pretensi dan kebanggaan sebagai penulis. Cak Nun berperan sebagai editor yang mengurusi lalu-lintas naskah mereka. 

Bagi saya pribadi, dalam buku ini saya menjumpai statement penegas dari Cak Nun yang sama ada dalam buku Spiritual Journey. 

"Lebih baik saya nyolokin lombok rawit ke mulut orang Maiyah daripada duduk menerangkan dan mengurai panjang lebar tentang makna lombok kepada mereka"

Ini adalah satu bukti konsistensi Cak Nun dalam usahanya menggembleng mental orang Maiyah agar mau mentransferkan kembali ilmu yang telah mereka dapat ke jamaah lainnya. Dengan demikian, maka paripurna lah adanya orang Maiyah sebagai orang-orang yang ikhlas dan mau berpikir. 

Lima belas esai buah karya orang Maiyah ini mengajak kita agar memaknai hidup dari sudut pandang yang berbeda. Walaupun buku ini pernah diterbitkan dengan judul yang sama pada tahun 2007, tetapi relevansi kekinian dengan realita Maiyah tidak pernah berubah. Betapa Allah SWT dapat dicapai dengan ijtihad seperti yang dilakukan orang-orang Maiyah ini. 

Judul          : Orang Maiyah
Penulis       : Emha Ainun Nadjib
Penerbit      : Bentang Pustaka
Tahun         : 2015
Tebal           : 100 hal. 
Genre         : Agama Islam-Sosial Budaya


Bumi Asri, 25 Desember 2015. 

Kamis, 29 Oktober 2015

Tingkah Laku Juha

Orang yang menjual asap makanan, ia akan mendengarkan bunyi uang receh

Barangkali, pembaca sudah mafhum dengan Nasruddin. Dalam beberapa riwayat dinamai juga dengan Nashiruddin Juha atau Nasyruddin Hoya. Kisah-kisah tentangnya telah mengalami pembauran antara Juha yang berkebangsaan Arab dan Juha yang berkebangsaan Romawi sehingga ada sebagian kitab yang berpendapat bahwa Juha ini adalah kisah-kisah fiktif.


Nashiruddin Juha adalah seorang tokoh yang entah bagaimana dalam beberapa kisahnya selalu digelari sebagai seorang sufi. Syekh Nashiruddin sangat piawai dalam memerankan gurauan dan canda yang berguna. Didalamnya, seringkali terselip falsafah hidup yang kalau dapat kita renungkan, kita akan mampu berproses menjadi manusia yang baik dan sempurna.

Buku ini merupakan terjemahan dari "Nawaridu Juha Al-Kubra" karya Dr. Darwisy Juwaidy dan diterbitkan oleh Ad-Daarun Namudzajiyah Lit-Thiba'ah Wan-Nasyr pada 1432H/2011. Ada 388 kisah jenakan yang menyentil keseharian hidup kita. Humor yang disampaikan Syekh Nashiruddin adalah humor yang menyindir, menyadarkan, sekaligus mengibur. Ia seakan membuktikan bahwa nilai-nilai mulia dalam kehidupan dapat dibuat dengan sedemikian rupa sebagai sarana dakwah. Tanpa harus mengajari.

Catatan Singkat
 
Personally, saya sangat menyenangi tokoh yang di buku yang saya punya dinamai Nasyruddin ini. Saya sudah terbiasa dengan lawakan dan guyonan beliau dalam buku kecil itu-saya lupa judulnya. Kisah-kisah singkatnya selalu penuh makna dan falsafah hidup yang dalam. Bahwa dalam kesederhanaannya, Nasyruddin memiliki tingkat kesufian yang sudah sangat tinggi.

Saya menyadari betul bahwa buku ini merupakan buku terjemahan. Sehingga, saya tidak kesulitan menemukan alasan mengapa saya kesulitan memahami kisah-kisah jenaka Syekh Nashiruddin Juha. Apakah ada kaitannya dengan Nasyruddin yang ada di field of experience saya sebelumnya? Barangkali, benar adanya.

Anyway, "Tingkah Laku Juha" dapat menjadi alternatif bacaan hikmah. Sesekali pembaca mungkin saja dibuat maklum atau nyengir dengan kelakuan Syekh Nashiruddin. Agar lebih mengena, sediakan waktu sejenak usai membaca tiap kisah pendek beliau. Hal ini diperlukan agar pembaca dapat meresapi lebih mendalam pesan yang ingin disampaikannya. Sejalan dengan firman Tuhan: terdapat pelajaran (hikmah) untuk mereka yang berpikir.

Judul           : Tingkah Laku Juha
Penulis        : Dr. Darwisy Juwaidy
Penerbit      : Penerbit Salsabila
Tahun         : 2012
Tebal          : 376 hal.
Genre         : Agama Islam-Hikmah

Dharmawangsa, 29 Oktober 2015.
Pulang dari rumah Pak RT

Rabu, 21 Oktober 2015

Atheis

"Tuhan tidak ada. Tuhan kabur, samar-samar, tidak jelas, gaib. (Hal. 123)
 
'Atheis' pertama kali terbit pada tahun 1949, hanya berselang jarak empat tahun dari proklamasi kemerdekaan Republik. 'Atheis' memotret suatu kondisi zaman dimana penganut paham filsafat eksistensialisme dan marxisme beradu usai perang dunia ke-2. Achdiat K. Mihardja dengan cermat memperhatikan tanda-tanda zaman dan menuliskannya ke dalam roman ini. Pemuda-pemudi Indonesia yang sempat mengecap pendidikan di Barat membawa paham-paham tersebut masuk ke dalam negeri, apalagi situasi perang kemerdekaan saat itu membuat kondisi Republik masih terlunta-lunta dalam melaksanakan ideologinya.
 
 
'Atheis' sendiri adalah satu-satunya karya Achdiat K. Mihardja yang terbit di Indonesia. Karya novel beliau, 'Debu Cinta Bertebaran' terbit untuk pertama kalinya di Singapura. 'Atheis' menjadi bagian dari sejarah sastra Indonesia klasik yang memperkaya khazanah kesusasteraan Indonesia. 'Atheis' telah mengalami cetak ulang sebanyak 26 kali hingga tahun 2014. 'Atheis', dengan sendirinya, menahbiskan dirinya sebagai monumen sastra Indonesia.
 
'Atheis' mewakili gejolak yang muncul di kaum muda Indonesia pasca kemerdekaan. Dengan diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia maka menarik banyak pelajar Indonesia yang selesai bersekolah di negeri Barat untuk kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Kebebasan pemikiran ala barat di kalangan 'vrijdenker' (free thinker) pada awal abad XX mulai memasuki babak baru dalam sejarah Republik yang begitu muda.
 
Pertentangan yang disuguhkan dalam 'Atheis' sesungguhnya adalah tipikal klasik. Kaum Atheis, yang menyanjung paham materialisme harus menghadapi kaum tradisional yang masih memegang teguh kaidah agama mereka. Munculnya paham Marxisme dan komunisme pada dekade-dekade selanjutnya membuat 'konflik' yang tak kunjung reda.
 
Empat belas bab dalam 'Atheis' menjelaskan bagaimana seorang Hasan harus berkonflik dengan batinnya sendiri. Hasan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat beribadah. Hasan pun menjadi seorang hama Tuhan yang sangat taat beribadah. Pertemuannya dengan sahabat lamanya, Rusli, adalah awal dimana iman Hasan mulai tergerus. Rusli adalah seorang yang rasional dan menganut paham materialisme ala Nietzsche. Rusli selalu mampu membantah argumen-argumen Hasan tentang ketuhanan.
 
Jalan hidup Hasan semakin berliku tatkala ia mulai jatuh hati pada Kartini yang dikenalkan padanya oleh Rusli. Kartini punya kesamaan yang sama dengan Rusli. Ia menganut paham ala barat itu. Kedekatan Hasan dengan Rusli semakin memuluskan cintanya pada Kartini.Percintaan mereka berujung hingga pernikahan walau tanpa restu orang tua Hasan.
 
Kehidupan pernikahan yang selalu dibayangkan Hasan pudar perlahan ketika ia mengetahui Kartini sering keluar dengan Anwar. Hasan pun bercerai dengan Kartini. Usai melewati puncak kemarahan dirinya. Hasan pun menyesal terhadap jalan hidup yang telah ia pilih. Ia telah menjadi Atheis dan telah mencabut nyawa Anwar.
 
Dalam novel ini, atheis yang disebutkan dalam judul tidak mengacu kepada tokoh tertentu yang dipertentangkan terhadap tokoh utama Hasan. Tetapi, lebih ditujukan kepada persoalan kehidupan yang dialami dan dijalani oleh tokoh Hasan. Hasan sendiri tidak pernah benar-benar menjadi seorang Atheis. Roman 'Atheis' menggambarkan jiwa Hasan sebagai kapal yang terombang-ambing antara theisme dan atheisme. Maka, ketika akhir hayatnya, Hasan masih mengucapkan 'Allahu Akbar!!!' sebagai tanda keimanannya.
 
Keberhasilan 'Atheis' terletak hampir pada semua unsurnya. Penggunaan teknik cerita berbingkai memungkinkan setiap peristiwa yang terjadi di dalam 'Atheis' seolah-olah terjadi diluar diri pengarangnya. 'Atheis' mampu melepaskan tokoh aku dari tokoh utama cerita. Unsur-unsur lainnya seperti perwatakan, latar cerita yang lekat dengan keseharian keagamaannya masing-masing secara padu mendukung tema yang menyuguhkan ketegangan antara keyakinan theisme dan atheisme.

Atas pencapaian yang demikian itu, 'Atheis' dianugerahi Hadiah Tahunan Pemerintah pada tahun 1969. 'Atheis' diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh R. J. Maguire. 'Atheis' juga sempat diangkat ke layar lebar oleh Syuman Djaya pada tahun 1974. 'Atheis' kini menjadi satu dari sekian karya sastra monumentgal yang masih terus dibaca dan dibicarakan.
 
Catatan Singkat
 
Perkenalan dengan 'Atheis' dimulai dengan sebuah pertanyaan soal di LKS (Lembar Kerja Siswa) pelajaran Bahasa Indonesia SMA. Saya tidak tahu harus memilih pilihan jawaban yang mana ketika disodorkan hal tentang 'Atheis'. Hal itu membuat saya mendatangi Perpustakaan Sekolah dan meminjam 'Atheis'. Waktu itu, rupanya 'Atheis' terlalu berat untuk saya. Jadi, saya hanya membaca-baca sekilas mengenai pertentangan yang dialami tokoh Hasan.
 
Selanjutnya, pembacaan 'Atheis' hanya berlangsung parsial di Majalah Horison yang membahas karya monumental milik Achdiat K. Mihardja ini. Baru di Indonesian Book Fair tahun ini saya sengaja mengunjungi stand Balai Pustaka dan membawa 'Atheis' pulang untuk kedua kalinya. Alasannya cukup jelas, selain untuk menambah koleksi buku karya "Aki" Achdiat K. Mihardja, saya juga ingin memiliki satu karya sastra yang bisa dikatakan 'maju' pada zamannya.
 
Saya tidak berlebihan memberikan predikat 'maju pada zamannya' untuk 'Atheis'. Pada tahun terbitnya, tidak banyak karya sastra Indonesia yang mempertentangkan soal pemikiran Barat dan keyakinan tradisional masyarakat di tengah situasi Republik yang saat itu masih prematur. Kemudian, tidak banyak punya karya sastra yang seumuran dengan 'Atheis', yang mampu bertahan lama, mengalami cetak ulang berpuluh-puluh kali dan selalu menjadi referensi bagi generasi terkini.
 
Akhirul kalam, 'Atheis' mampu memberikan aspek-aspek yang menantang mengenai tema yang diangkatnya. 'Atheis' mampu memainkan tema yang cukup peka dan sensitif hampir sepanjang sejarah kesadaran manusia. Untuk itu, 'Atheis' telah melampaui zamannya dan terus hidup di setiap zaman yang akan datang.

Judul           : Atheis
Penulis        : Achdiat K. Mihardja
Penerbit      : Balai Pustaka
Tahun         : 2014
Tebal          : 252 hal.
Genre         : Sastra Indonesia-Roman
 
 
Dharmawangsa, 20 Oktober 2015.

Sabtu, 19 September 2015

99 Untuk Tuhanku: Menggapai Kemesraan Lewat Puisi

Tuhanku,
berdekatankah kita
sedang rasa teramat jauh
tapi berjauhankah kita
sedang rasa begini dekat.


Ada banyak cara yang ditempuh sejumlah seniman untuk menggapai kemesraan dengan Tuhannya masing-masing. Emha Ainun Nadjib telah menempuh jalannya sendiri menuju Tuhan. Dengan puisi, Emha menyatakan kemesraan, cinta, dan kasih sayangnya kepada Tuhan. Emha lantas mengumpulkan semua puisinya itu dalam '99 Untuk Tuhanku' yang lahir kembali setelah 30 tahun lebih setelah penerbitannya yang pertama.

Tulisan ini mencatat beberapa hal yang saya tangkap dari beberapa puisi pilihan. Tentunya, dasar pemilihan puisi-puisi ini adalah puisi yang mengingatkan saya pada statement/pernyataan-pernyataan Emha dalam esai, ceramah, diskusi, yang lahir kemudian, jauh setelah lahirnya 99 puisi Emha untuk Tuhannya ini. Dengan harapan, bagi saya pribadi saya mampu menemukan hubungan dan kesesuaian sikap antar apa yang pernah ditulis dulu dengan apa yang dikatakan/dilakukan sekarang.

Dalam puisi ke-8, Emha menyatakan pelepasannya atas segala harapan, kenikmatan, dan kemungkinan sejarah untuk membawa dirinya pada suatu keadaan yang ideal. Namun, sejarah sendiri hanyalah paket-paket kegagahan dan kecengengan berisi pedang serta sampah dan perut para pemenang.
 
tapi apa gerangan sejarah, Kekasih?
ialah paket-paket kegagahan
dan kecengengan
berisi pedang serta sampah
dan perut para pemenang
 

Puisi ke-23 adalah pernyataan Emha atas jalan yang ia pilih dan sedang ia tempuh. Emha telah memilih jalan yang sunyi ditengah hiruk pikuk zaman. 

Tuhanku,
inilah sepiku
di tengah pekik zaman
yang membuatku bisu.
 

Puisi ke-30 memuat pernyataan Emha yang eksistensial. Tentu dengan makna konotatif khas puisi. Emha berseru pada Tuhannya agar tidak lantas menjadikan dunia ini sebagai tempat tinggalnya. Sebagai tempat tinggalnya dalam keabadian. Tidak. Emha tidak menginginkan dunia dengan berdiam didalamnya.
 
Tuhanku,
jangan katakan dunia ini
ialah tempat kediamanku.

Puisi ke-37 membuat saya teringat pada forum-forum Maiyahan maupun forum lainnya yang menghadirkan Emha sebagai pembicara. Emha membuka dirinya, menjadi orang tua, menjadi pendengar yang baik, menjadi lawan diskusi, bagi siapapun yang menginginkan interaksi dengan dirinya.
 
Tuhanku,
bagai Engkau, kusediakan cinta kasih bagi segala
hal yang tak beres, bagi racun-racun, para
musuh dan pengkhianatan, bagi yang enak
dicintai maupun yang tak sedap


Puisi nomor 42 tidak terlalu panjang. Menurut saya, puisi ini berkaitan dengan semangat Emha dalam memberikan pencerahan dalam masyarakat. Puisi ini berisi semangat Emha dalam menuju Tuhannya dengan tidak melarikan diri dari dunia yang semakin mengajarkan manusia untuk menjauhi Tuhannya. Dalam perjuangannya itu, Emha tidak pernah beranjak dari dirinya sendiri.

bukanlah karena aku ingin melarikan diri
dari dunia yang menjauhi-Mu ini
sebab dalam bertualang kepada-Mu
tak pernah aku beranjak
dari diriku sendiri.


Puisi nomor 59 menyatakan pertanyaan atau gugatan kecil Emha kepada Tuhannya. Dengan segenap kemajuan zaman yang semakin menjauhkan manusia dari Tuhannya, mengapa Tuhan tidak lantas menurunkan kembali pada Nabi. Emha menyatakan bahwa zaman-zaman ini adalah zaman yang membutuhkan lebih banyak Nabi. Puisi ini walaupun sederhana namun cenderung filosofis. Ada pertentangan pemikiran yang mendasari gagasan untuk menurunkan kembali Nabi setelah Khatammul Anbiya Rasulullah SAW.
 
Tuhanku
apakah sesungguhnya arti kehendak-Mu
dengan tak menurunkan lagi
seorang Nabi pun
untuk zaman yang membutuhkan
lebih banyak Nabi-Nabi?


Dalam puisinya yang ke-65, Emha menyisipkan doa. Agar kita selalu berendah hati dalam memohon kepada Tuhan dan hanya bertanya apa yang dibutuhkan dan sejati didambakan. Puisi ini memiliki makna yang panjang. Emha tidak menggiring pembaca untuk berdoa apa saja kepada Tuhan walaupun Tuhan telah bersabda: memintalah kepada-Ku, niscaya aku kabulkan. Emha seakan mengingatkan bahwa memintalah hanya yang diperlukan dan dibutuhkan. 

Tuhanku
anugerahilah kami kerendahan hati
untuk senantiasa memohon dan bertanya kepada-Mu
apa yang sesungguhnya kami butuhkan
apa yang murni kami perlukan
apa yang sejati, sejati-sejatinya
kami dambakan

Puisi nomor 76 memuat lagi pilihan Emha. Emha sengaja memilih sepi. Sepi yang sunyi. Barangkali dalam sepi sunyi itu, Emha menafsir rahasia-rahasia Tuhan dalam semesta ruang dan waktu. Emha memilih untuk menepi dalam sepi sunyi. Tak terpengaruh riuh rendah deru kehidupan yang tak henti selalu mendorongnya untuk tampil kembali.

Tuhanku Yang Mahahening!
kupilih sepi
sepi yang sunyi
maupun sepi dalam ramai.
sepi rahasia-Mu
yang menampung semesta ruang dan waktu
tak penuh oleh keributan jagat seribu
 

Emha kembali menyatakan pembebasan jiwanya pada puisi ke-87. Emha telah melepaskan segala ikatannya terhadap kekuasaan. Ia lepaskan juga ikatannya terhadap perkumpulan apapun. Ia ingin jadi individu dengan jiwa yang bebas jua. Tidak diperintah dan tidak memiliki. Emha hanya milik Tuhannya belaka. Maka, ia berikan segala hak apapun kepada yang berhak menerima darinya.
 
Tuhanku,
tak ingin aku memerintah
memerintah ialah diperintah.
tak ingin aku memiliki
memiliki adalah dimiliki.
Tuhanku,
berserah diri kepada-Mu
menumbuhkan segala kekuatan
yang tak bisa diganggu

Bagi Emha, cara ini adalah sebuah sembahyang. Sembahyang sederhana sebagai usaha untuk merebut dirinya sendiri dari tengah cengkeraman kehidupan, kebudayaan, peradaban, politik, ekonomi, persaingan kalah-menang serta berbagai macam kecenderungan yang makin menjauhkannya kepada Allah SWT.

Sebutlah Emha sedang membaca puisi, berdoa, melakukan suatu pertobatan, suatu katarsis pikiran dan roh, atau bahkan sedang melaporkan kekhilafan-kekhilafannya, maka semuanya itu adalah benar. Puisi-puisi Emha mengikuti modifikasi budaya yang merangkum maknanya sebagai ungkapan rasa keagamaan, keindahan, kesenian, sekaligus pernyataan terus menerus akan kebenaran Allah SWT.

Dengan makna-makna yang tak terpilahkan itu maka Emha telah memilih sikap hidup yang sekaligus melandasi pola ungkapnya. Kesemua puisi Emha telah dibawanya ke dalam suatu sikap sembahyang, yakni buku ini sendiri '99 Untuk Tuhanku'.

Semua puisinya dimulai dengan nama Tuhanku. Seolah 99 puisi Emha ini mentafakkuri keberadaannya yang sama dengan jumlah nama-nama Allah SWT-Asmaul Husna.

Catatan Personal

Walaupun puisi-puisi lahir sebelum masa reformasi tahun 1998, tahun dimana Emha tampil terakhir kalinya di layar televisi, namun saya mencatat ada beberapa puisi (yang sudah saya tuliskan diatas) yang menjadi sikap Emha atas kejadian-kejadian seputar Reformasi 1998. Emha telah melepaskan segala ikatannya dengan pemerintahan, penguasa, partai, atau kelompok keagamaan manapun, setelah lengsernya Presiden Soeharto. Suatu tindakan yang didasari atas dasar keprihatinan batinnya ketika melihat kawan-kawan seperjuangannya ternyata ikut menikmati kue Reformasi 1998.

Dengan demikian, paripurna lah kiranya segenap puisi Emha yang terkumpul dalam buku ini. Puisi bagi Emha rupanya bukan hanya sebuah karya, sebuah jalan pemikiran. Tetapi, lebih jauh puisi juga adalah pola ungkap konsistensi sikap seorang Emha Ainun Nadjib.
 
Judul           : 99 Untuk Tuhanku
Penulis        : Emha Ainun Nadjib
Penerbit      : Penerbit Bentang
Tahun         : 2015
Tebal          : 112 hal.
Genre         : Puisi - Sastra Indonesia  

Dharmawangsa, 19 September 2015.

Selasa, 15 September 2015

Istriku Seribu: Sebuah Dialektika Poligami

Rahman dulu, baru Rahim. Beres cinta sosial dulu, barulah ketenteraman cinta pribadi. 
 Emha Ainun Nadjib (hal. 64)




Alhamdulillahirabbil'alamin. Lagi-lagi saya harus mengucapkan syukur ke hadirat Illahi Rabbi atas terbitnya kembali buku ini yang saya beli berbarengan dengan buku Emha lainnya, yaitu "99 Untuk Tuhanku". "Istriku Seribu" rupanya menempuh perjalanan yang lumayan panjang untuk hadir kembali ditengah-tengah masyarakat.
 
"Istriku Seribu" merupakan kumpulan esai Emha Ainun Nadjib yang mengangkat isu poligami dalam konteks kehidupan bermasyarakat. Mulai dari asal mula turunnya ayat yang mengatur poligami, kewajiban manusia terhadap sesamanya, prasangka manusia yang membutakan, hingga konsep cinta dalam berbagai bentuk. Emha kali ini tidak tampil sendirian. Ia ditemani oleh Yai (Kiai) Sudrun, barangkali pembaca Emha sudah kenal sebelumnya.
 
Sebagian pembaca pasti kaget bila menyadari bahwa buku ini tidaklah cukup tebal untuk membahas isu semacam poligami. Pembaca mungkin tidak akan percaya bahwa Emha mampu menguraikan hal-hal yang demikian itu dalam buku yang tebalnya tak sampai 100 halaman. Pun, dimensi buku ini pun cenderung lebih kecil dari buku komik Jepang terjemahan.
 
Perlu dipahami juga bahwa walaupun esai-esai didalamnya berdiri dengan judul masing-masing, sesungguhnya semuanya itu adalah satu jua adanya. Emha dengan cerdik menempatkan esai-esainya sedemikian rupa agar pembaca mampu mencerna pelajaran dari setiap kisah, cerita, dan segenap dialektikanya bersama Yai Sudrun. Memang telah disinggung di bagian awal bahwa sedianya judul asli tulisan dalam "Istriku Seribu" ini adalah "Poligami Monopoligami Nopomimogali", yang lantas membuat Yai Sudrun langsung naik pitam.
 
Dalam memahami "Istriku Seribu", pembaca harus membaca esai dengan urut mulai dari awal. Harus ada kesepahaman nilai terlebih dahulu dengan penulisnya sebelum menafsirkan isi buku ini. Mungkin hal itu diperlukan pengulangan beberapa kali demi tercapainya satu konsensus bersama dan juga sebagai ijtihad agar tidak salah mengartikan.
 
Untuk mulai proses memahami tersebut, bisa dimulai pada esai 'Sudrun dan Tuhan Tak Mau Diduakan', Emha mengajak kita untuk memahami Kanjeng Nabi Muhammad SAW, yang baginya Aisyah itu adalah istri utama namun menjelang dicabutnya nyawa Beliau, yang disebut-sebut justru bukanlah Aisyah R.A, melainkan "Ummatiii... Ummatiii..". Kemudian, pada konteks sifat Allah SWT Ar-Rahim (cinta ke dalam, cinta vertikal, cinta personal) istri kita adalah ibunya anak-anak kita. Persuami-istrian lelaki-perempuan adalah suami-istri dengan skala ar-Rahim, meskipun berposisi dialektis dengan ar-Rahman: suami-istri sosial (cinta meluas, horizontal, keluar). Pada Kanjeng Nabi, istri ar-Rahim-nya adalah Khadijah, yang bersamanya justru beliau berdua memberi kontribusi-kontribusi sangat besar secara ar-Rahman.
 
Setelah Khadijah R.A wafat, istri ar-Rahim Beliau adalah Aisyah. Istri beliau yang lain pada masa sepuhnya adalah istri-istri dalam konteks ar-Rahman: istri sosial, istri yang diambil karena dan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sosial: banyaknya janda-janda peperangan, sejumlah wanita teraniaya, jumlah tak seimbang antara lelaki dan perempuan.
 
Kaum Muslim bersemayam di kandungan kalbu Kanjeng Nabi, terkadang bagai salju yang sejuk, terkadang bagai api yang membakar dada beliau. Kanjeng Nabi tidak punya masalah pribadi dengan manusia, dunia, atau Tuhan. Beliau sudah dijamin masuk surga. Namun, setiap malam, Kanjeng Nabi bersujud, tahajud, menangis, menangis, menangis. Dan yang Beliau tangisi bukan diri Beliau sendiri, bukan istrinya yang ar-Rahim, Khadijah almarhumah atau Aisyah, melainkan istri ar-Rahman: yakni Umat Islam.
 
Mungkin salah satu hal yang Kanjeng Nabi tangisi adalah karena Kaum Muslim yang istri utamanya tidak pernah benar-benar meletakkan Beliau sebagai istri atau suami Beliau yang utama. Dalam hampir semua bagian dari sejarahnya, Kaum Muslim memperistrikan-atau lebih akurat: mempermaisurikan-harta benda, kekuasaan, kepentingan pribadi, dan keserakahan dunia. Allah dan Muhammad seringkali disebut-sebut dalam konteks kepentingan untuk mendapatkan kekayaan atau kekuasaan. Allah dan Kanjeng Nabi hanya instrumen bagi Kaum Muslim  yang dipakai untuk memperbanyak perolehan modal, deposit materi, kekuasaan, atau popularitas.(Hal. 47-49)
 
Emha mulai bicara lugas soal poligami sejak asal-usul hingga pedoman pelaksanaannya sejak esai berjudul 'Satu Suami Ratusan Istri'. Pada zaman sebelum Kanjeng Nabi mengantarkan ajaran Allah, lelaki di masyarakat meletakkan kaum wanita sebagai barang atau aksesori berlian atau budak. Lelaki waktu itu, kalau kaya, bisa mengawini ratusan wanita. Kaum wanita dianiaya, direndahkan derajatnya, dianggap barang, diambil dan dibuang semaunya oleh lelaki.
 
Dalam keadaan itu, Allah SWT melakukan revolusi: dari fakta ratusan istri diradikalkan menjadi hanya paling banyak empat istri, dengan peringatan keras jangan mengeksploitasi mereka dalam hal apapun. Dari ratusan istri diradikalkan menjadi empat istri merupakan sebuah tahap, Dan, tahap inilah yang dipergunakan oleh sebagian besar pelaku pernikahan dalam Islam untuk dipakai sebagai dasar hukum bahwa lelaki boleh beristri empat. Segala sesuatunya disetop disini dan dilegitimasi bahwa syariat Islam memperkenankan hal itu, seolah-olah tidak ada dimensi lain yang perlu dipertimbangkan. Maka, seluruh dunia pada abad 21 ini beranggapan seperti itu, stagnan dalam justifikasi bahwa Islam memperbolehkan lelaki kawin empat. (hal. 84-86)

Esai selanjutnya, 'Tuhan Mengajak Berdiskusi' berisi diskusi antara ayat Tuhan dengan akal pikiran manusia. Tuhan tidak hanya memberi perintah, tetapi juga mengajak manusia berdiskusi, agar manusia memproses pemikirannya kemudian mengambil keputusan sendiri dengan akalnya.

Pada kalimat yang sama, dengan radikalisasi ratusan istri menjadi empat istri, Tuhan memancing kedewasaan akal manusia: Kalau engkau takut tidak akan bisa berbuat adil, maka satu istri saja. Itu pun kalimat sebelumnya, yang menyebut istri satu atau dua atau tiga atau empat dimulai dengan kata 'maka'. Artinya,  pasti ada anak kalimat sebelumnya. Ada latar belakangnya, ada pertimbangan-pertimbangannya, tidak bisa dipotong disitu.

Maka, kawin empat itu juga berangkat dari prasyarat-prasyarat sosial yang kita himpun  disamping dari yang dipaparkan oleh Tuhan dan sejarah, juga kita cari melalui aktivitas akal kita sendiri. Kawin empat, menurut kematangan akal dan rasa kalbu kemanusiaan, tidak pantas dilakukan atas pertimbangan individu. Ia memiliki konteks sosial. Ia bukan merupakan hak individu, melainkan kewajiban sosial. Kewajiban adalah sesuatu yang 'terpaksa' atau wajib kita lakukan, senang atau tidak senang. Karena masalahnya tidak terletak pada selera, kenikmatan atau kemauan pribadi, melainkan pada kemaslahatan bersama.

Engkau menjadi manusia yang tidak tahu diri kalau Tuhan mengatakan, 'kalau engkau takut tak bisa berbuat adil...' lantas engkau bersombong menjawab kepada Tuhan, 'Aku bisa kok berbuat adil', kemudian ambil perempuan jadi istri keduamu. Bahkan engkau nyatakan 'Aku ingin memberi contoh poligami yang baik'-seolah-olah Tuhan tidak membekalimu dengan akal dan rasa kalbu kemanusiaan. (hal. 88-90)

Melalui "Istriku Seribu", Emha mengajak kita untuk senantiasa berijtihad dengan memproses pemikiran dengan akal dan rasa kalbu kemanusiaan. Emha tidak menafsirkan poligami menjadi sebuah polemik yang kaku dan tetap. Emha ingin berpesan bahwa banyak hal-hal yang harus dipahami terlebih dahulu dalam memaknai satu dan sekian banyak ayat-ayat Tuhan. Termasuk implikasi sosio-historisnya dalam konteks kehidupan berkeluarga. Emha tidak berkata tidak kepada poligami, tetapi ia menegaskan kembali satu persyaratan utama dari Allah SWT. Satu hal yang sering kita anggap remeh; bahwa kita bisa dan mampu berlaku adil. Sedang, Tuhan-yang menciptakan manusia-sangatlah paham, bahwa ciptaannya itu takkan mampu berbuat demikian.
 
Catatan Singkat

Usai pembacaan buku ini selesai, saya tidak hanya mendapatkan penjelasan Emha mengenai poligami yang telah diuraikan diatas, buku ini juga mengantarkan saya kembali pada definisi Manajemen, dimana sebelumnya pada bulan Ramadhan tahun 2011 lalu pernah saya muat juga dalam blog ini. Bila pembaca penasaran, sila loncat ke halaman 39 atau klik link berikut.

Selain definisi manajemen versi Emha Ainun Nadjib, saya juga menemukan keteguhan sikap Emha atas dunia. Seperti yang pernah saya saksikan pada satu sesi pengajian Maiyahan.
 
"Silakan menertawakanku, melecehkanku, membuangku. Namun, engkau wahai dunia, tidak akan sedikit pun pernah mampu mengubah sejengkal saja kakiku dari pijakan cinta yang kupilih."
 
"Kalian tidak akan pernah bisa memusnahkanku, karena aku sudah merdeka dari kemusnahan, sudah merdeka dari yang kalian pahami sebagai kehidupan dan kematian." (hal. 58)

Sungguh tegas pernyataan Emha diatas. Pernyataan yang lahir dari keteguhan hati dan kebesaran jiwa, yang hanya mendamba pada Allah SWT semata. Agaknya, mengenai sikap Ehma yang demikian itu tidaklah perlu diadakan penelitian tersendiri. Lintasan waktu sejarah telah menggembleng Emha untuk menempuh jalan sunyinya sendiri.

Judul           : Istriku Seribu
Penulis        : Emha Ainun Nadjib
Penerbit      : Penerbit Bentang
Tahun         : 2015
Tebal          : 98 hal.
Genre         : Agama Islam-Sosial dan Budaya 


Dharmawangsa, 15 September 2015.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...