Tampilkan postingan dengan label gaya hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gaya hidup. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Desember 2023

Thinkplus T50: Masih Bagus Buat Lari

Saat ini, ada banyak perlengkapan olahraga lari. Mulai dari yang utama dan berpengaruh pada performa, seperti sepatu dan outfit. Hingga, secondary items yang bisa menambah kegantengan atau sekedar untuk mengikuti tren biar bisa dibilang eksis. Untuk alasan yang kedua ini barangkali sering menjadi alasan para pelari untuk melengkapi eksistensinya di dunia perlarian.

Rasanya tidak lengkap berlari tanpa mendengarkan musik. Saya jadi ingat sepuluh tahun lalu, saya masih rutin berlari keliling Monas dengan mendengarkan musik dari lagu-lagu yang ada di ponsel melalui headset berkabel. Saat itu, sudah mulai ada device headset dengan koneksi bluetooth, namun saya tidak mampu membelinya, Hehehe. Saat ini, sudah banyak sekali wireless bluetooth headset dengan berbagai rentang harga di marketplace daring. Mulai dari yang klasik on-ear hingga yang paling kekinian open-ear/air  conduction yang sama-sama menggunakan koneksi bluetooth.

Saya belum tahu rasanya seperti apa headset open ear itu namun saya mulai merasa perlu untuk mengganti headset yang selama ini saya pakai untuk berlari. Headset TWS on-ear harus selalu rutin ditekan agar posisinya tidak mudah goyang karena getaran dari gerakan lari. Sementara, yang bermodel mengalungi leher cukup membuat lecet kulit leher, imbas gesekan karet dengan kulit leher.


Akhirnya, saya menjatuhkan pilihan pada Thinkplus T50 earphone. TWS ini memiliki gantungan yang melingkar untuk menggantung pada daun telinga. Ini mengingatkan saya pada medio 2010 dimana banyak juga model headset dari brand besar yang dipalsukan menggunakaan dudukan semacam ini. Old school never dies, Baby!

Kualitas suara yang saya dapatkan dari TWS ini pun saya bisa beri nilai 80 dari 100. Suara musik dari jasa penyedia musik streaming atau podcast di Youtube selalu bisa saya nikmati. Mid-range dan bassnya lumayan walaupun tidak sekuat TWS yang pernah saya review sebelumnya, Nakamichi TWS1XS. Kapasitas baterainya pun lebih besar dari TWS1XS, 300 mAh dan bisa saya gunakan lebih dari 5 jam berturut untuk sekedar mendengarkan musik.

So far, penggunaannya cukup nyaman baik untuk kerja (online meeting), telepon, berolahraga (sepeda, lari, dan gym). Bahan gantungannya cukup lembut dan terbuat dari karet lentur sehingga mengurangi resiko lecet saat berkeringat. Karet telinganya juga empuk serta diberi pilihan 3 ukuran dalam paket pembeliannya. Koneksi charger sudah menggunakan USB Type-C, jangan khawatir karena Thinkplus juga menyertakan kabel charging dalam paket bawaannya.

Anyway, sebagai alternatif dari TWS headset open-ear yang harganya fantastis itu, rasanya Thinkplus T50 masih dapat diandalkan. Perbandingannya tidak head-to-head memang, tapi bila mungkin ada pembaca disini yang juga pelari, T50 bukanlah gadget/device yang dapat memberi kepuasan serupa, namun tidaklah salah bila T50 bisa jadi satu 'obat ganteng' anda saat berlari. Barangkali, kalau satu waktu anda perlu naik MRT, T50 masih boleh lah...!

Brand : Thinkplus Lenovo
Model : T50 True Wireless Bluetooth Earphone Sport TWS 5.2
Sensitivity : 105 dB +/- 3 dB
Play time : 5 hours
Harga  : Rp. 108.000 (Oktober 2023)


Cipayung, 10 Desember 2023

Minggu, 27 November 2022

Nakamichi TWS1XS: A Review


Finally, pencarian saya untuk sebuah earphone TWS (true wireless stereo) berakhir pada Nakamichi TWS1XS. Padahal, ada banyak pilihan yang sudah masuk dalam keranjang belanja di marketplace Toko Ijo. Pilihan lainnya adalah beberapa seri dari Lenovo Thinkplus yang berada dalam range harga under 200ribuan.

Pengalaman sebelumnya dengan TWS KW berlabel JBL cukup membuat saya berhati-hati dalam spending budget, apalagi ini menyangkut soal kenyamanan telinga. Percayalah, produk KW dari sebuah brand besar tidak akan memberikan hasil yang memuaskan. Kecuali, memang anda para pembaca yang budiman sengaja memilih produk KW tersebut agar tetap dilihat keren dan tidak ketinggalan zaman.

Saya juga pernah mencoba TWS dari brand lainnya yaitu Mi Fa, harganya diatas 200 ribu, tentu saja membuat saya urung membelinya walau kualitas suara yang dihasilkan sudah bagus untuk sekedar meeting di luar ruangan.

Pilihan jatuh ke Nakamichi karena ini adalah known brand untuk high-end audio di bidang otomotif. Saya jadi ingat waktu ganti head unit audio mobil, Sang Juragan Toko menawarkan head unit single din Nakamichi dengan harga yang reasonable, tidak sampai satu juta rupiah! Katanya, Nakamichi sedang reposisi market sehingga banyak pilihan harganya. Entah, mungkin karena hal itu pula Nakamichi menghadirkan banyak juga pilihan untuk TWS pada rentang harga di bawah 200 ribu.

Secara build quality, TWS1XS lumayan mewah, berbentuk bulat dengan ornamen transparan di bagian tutup flipnya. TWS ini dibekali baterai 200 mAh, dengan kekuatan 3.7 V, 0.74 Wh. Baterainya kuat dipakai lebih dari dua jam. Pastinya berapa? Belum saya coba karena saya belum menggunakan TWS1XS selama tiga jam lebih.

Saya sudah coba earphone ini  untuk menemani sepedaan selama 1 jam 20 menit dan tidak ada masalah berarti dalam penggunaannya, walau yang dipakai hanya yang sebelah kiri. Saya tetap harus waspada dalam berlalu lintas. Untuk dipakai online meeting, earphone ini masih bagus. Memang tidak terlalu kedap karena belum dibekali fitur pengedap suara dari luar. Tidak seperti saudaranya, TW110NC yang punya banyak fitur. Harganya pun tentu saja berbeda.

Yang paling berkesan dari earphone ini adalah suara yang dihasilkannya ketika menonton high quality video di Youtube atau mendengarkan high quality audio di Spotify. Suara bassnya bagus dan seimbang dengan treble yang dihasilkan. Pengalaman mendengarkan musik dengan TWS1XS menjadi lebih menyenangkan! Pun, ketika digunakan untuk mendengarkan pelajaran bahasa di Duolingo.

Akhirul kalam, saya tidak akan bercerita banyak lagi. Sila berselancar di Youtube untuk detail dan review-review lainnya. I would recommend this TWS earphone to you who love quality at a low price.
 

Cipayung, 27 November 2022.

Rabu, 14 November 2018

6 November

6 November, setiap tahun selalu saya peringati sebagai hari “debut” saya di Jakarta. Saya mendapatkan pekerjaan yang sesuai kontrak akan dimulai pada tanggal 6 November, satu dekade yang lalu. Tanggal yang sama dengan debut Alex Ferguson di Manchester United. Mengapa kemudian “debut” di Jakarta ini menjadi sesuatu yang spesial padahal saya sudah resmi bekerja dan dibayar sejak beberapa bulan sebelumnya di Bandung adalah satu hal yang setiap tahunnya selalu saya pikir ulang-untuk tidak menyebutnya sebagai renungan.

Image result for 6 november
Courtesy: clker.com
Saya tidak tahu kenapa “debut” di Jakarta adalah sesuatu yang spesial. Padahal seharusnya hari yang spesial itu adalah saat saya menerima gaji pertama saya sebesar Rp. 150.000,- medio 2006 silam. Saya sudah lupa kapan kejadian istimewa itu karena Bapak saya sempat kecewa pada saya. Menurut beliau, jumlahnya sangat tidak masuk akal untuk hidup sebulan namun bukankah kata Tuhan, kalau engkau bersyukur maka akan Aku tambahkan nikmatmu?

Lagi-lagi saya tidak paham benar mengapa Jakarta itu selalu spesial? Apakah karena saya terlalu silau pada cahaya pantul matahari di segenap pencakar langit Jakarta? Atau itu hanya sebuah mimpi artifisial dari seorang anak kampung yang mengidamkan sebuah kehidupan megah di cakrawala metropolitan? Saya sendiri heran mengapa perasaan untuk pergi ke Jakarta selalu ada setelah lulus kuliah. Saya merasa harus “keluar” dari rumah.

Menjalani “debut” di Jakarta memberi saya banyak pelajaran. Tidak perlu saya sebut disini satu per satu. Yang jelas, saya jadi semakin tahu apa artinya pulang, pulang ke Bandung. Pulang pada sebuah perasaan nyaman, pulang pada sebuah keadaan tenteram, pulang pada kerinduan.

Sampai saat tulisan ini dibuat, saya sendiri masih mencari tahu mengapa pindahnya saya ke Jakarta menjadi sebuah tonggak yang selalu saya ingat. Saya masih mencari penjelasan tentang mengapa hal ini bisa menjadi sejarah. Saya tidak tahu pasti. Saya menjalani apa yang saya hadapi, ketika kemudian takdir mengantarkan saya kemana pun. Sebuah perjalanan dimulai karena sebuah alasan pencarian. Saya kira itu.


Cengkareng, 7 November 2018.

Selasa, 31 Oktober 2017

Kitab Omong Kosong

“Manusia selalu menuntut dunia membahagiakannya, pernahkah ia berusaha membahagiakan dunia?” 

Sumber gambar: www.goodreads.com

“Kitab tulisan Togog ini berkisah tentang kejadian-kejadian yang berlangsung dalam kisah Ramayana dari Walmiki. Bencana akibat persembahan kuda berlangsung hingga ke anak benua dan menghancurkan seluruh peradaban, kecuali Satya dan Maneka berhasil menemukan kelima bagian Kitab Omong Kosong itu yang keberadaannya tidak diketahui setelah berada di Perpustakaan Negeri Ayodya. Kelima bagian kitab ini memiliki arti dan penafsiran makna yang kental dengan unsur filsafat eksistensialis.”

Catatan pendek diatas dibuat usai menamatkan pembacaan Kitab Omong Kosong medio Juli 2008. Waktu itu saya baru saja membeli buku itu terbitan Bentang Pustaka, 2006. Sampulnya bukan lagi imaji kreatif dari Danarto melainkan agak lebih artistik berwarna kecoklatan.

Well, kalau harus menuliskan kembali apa yang saya dapat dari kitab rekaan Togog itu rasanya jadi agak sedikit-sedikit lupa, kalau saja bukan karena acara bersih-bersih buku kemarin. Barangkali, ‘Kitab Omong Kosong’ sendiri merupakan sebuah ungkapan filosofis untuk mengungkapkan sebuah ketiadaan, tentunya dalam konsep filsafat. Benarkah itu? Saya juga tidak pernah tahu.

Kitab ini membuat kita kembali membaca perjalanan dan kisah cinta Sri Rama dengan Dewi Shinta. Sebuah kisah epos yang terkenal soal cinta-cintaan. Sebuah kisah dimana cinta harus dibuktikan dengan sebuah pengorbanan. Sebagaimana Sri Rama yang menurunkan Hanoman untuk merebut Shinta dari cengkeraman Rahwana, Sang Penguasa Alengka.

Saya dibuat takjub betul akan sosok seorang Hanoman yang gagah berani. Pun dengan berbagai kesaktian yang dimilikinya. Hanoman yang ada di benak saya adalah seorang panglima yang mampu melakukan apa saja untuk memenangkan pertempuran dengan pasukan Rahwana. Saya yang tidak pernah akrab dengan dunia pewayangan jadi ingin tahu bagaimana kisah-kisah wayang diadaptasi. Bagaimana tokoh-tokohnya juga sekalian. 

Anyway, ‘Kitab Omong Kosong’ sangat berhasil membuat saya mengidolakan seorang Hanoman. Saya bahkan berkhayal Sembilan Hanoman muncul di Bundaran HI dan mengacak-acak Jakarta karena negeri ini sudah tidak sanggup memberantas para koruptor. Pembaca setia SGA pasti tahu asal-usul munculnya imajinasi saya itu. Hahaha.

Kisah cinta antara Sri Rama dan Dewi Shinta yang saya tahu dan saya baca dengan tuntas adalah kisah yang ada dalam kitab ini. Itu jauh sebelum saya tahu lewat buku Sudjiwo Tejo, Rahvayana, bahwa sebenarnya yang mencintai Shinta dengan tulus dan ikhlas adalah Rahwana. Sekali lagi, Rahwana. Bukan Sri Rama. Mengapa? Kalau memang cinta itu tidak bersyarat mengapa Sri Rama masih meragukan kesucian Shinta selama dalam masa penyekapan di Alengka. Sri Rama yang meragu itu akhirnya membuat Shinta murka dan memutuskan untuk moksa.

Diluar perdebatan wacana antara Rama, Shinta, Rahwana, dan Sudjiwo Tedjo, saya sangat menikmati pembacaan ‘Kitab Omong Kosong’ ini. Rasanya seperti betul-betul membaca sebuah ‘kitab’ yang penuh cerita dan imajinasi.

Judul           : Kitab Omong Kosong
Penulis        : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit       : Bentang Pustaka
Tahun          : 2006
Tebal           : 524 hal.
Genre          : Sastra Indonesia-Novel

 
Cipayung, 27 Oktober 2017.

Sabtu, 30 September 2017

@BlogDokter


Sumber gambar: www.goodreads.com
Perkembangan teknologi yang semakin pesat belakangan ini memberikan banyak kemudahan bagi kita untuk mencari informasi secara mandiri. Ada banyak alternatif media yang menyediakan beragam informasi, tidak terkecuali informasi seputar kesehatan. Beruntung, atas nama dokumentasi ada orang-orang yang mau membagi ilmu di dunia maya. Buku ini adalah satu contoh dari hal tersebut.

Expertise yang dimiliki seorang dokter akan menjadi sangat bermanfaat bagi publik ketika bisa dibaca luas oleh masyarakat. Kontribusi terhadap publik ini menjadi sumbangan yang berguna bagi usaha peningkatan kesehatan masyarakat. Terlebih ketika masyarakat dihadapkan pada beragam pilihan informasi dengan tingkat akurasi yang meyakinkan.

Buku ini secara garis besar merangkum problem kesehatan yang umum ditemukan pada perempuan, bayi dan anak, kaum pria maupun pada organ-organ di badan kita. Tidak berlebihan rasanya bila buku ini patut dijadikan quick reference handbook, di kantor maupun di rumah. Buku ini sangat praktis, aplikatif, dan mudah dipahami.

Lewat artikel-artikel dalam buku ini pula, sang penulis berusaha menanamkan mindset untuk senantiasa menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh lewat olahraga. Tubuh kita juga memerlukan ritmenya sendiri supaya tetap berada dalam kondisi segar dan bugar.

Judul      : @BLOGDOKTER: Segala Hal Tentang Kesehatan yang Wajib Anda Ketahui 
Penulis   : dr. I Made C. Wirawan
Penerbit  : Noura Books
Tahun     : 2013
Tebal      : 288 hal.
Genre     : Kesehatan


Cipayung, 22 September 2017.


Jumat, 28 Juli 2017

Bburago Ferrari F-14T

Ferrari is synonymous with success in Formula One 
- Christian Horner

Sumber gambar: Koleksi Pribadi
Tidak pernah terbayangkan bahwa saya akan memiliki sebuah diecast mobil Formula 1 dari tim Kuda Merah, Scuderia Ferrari. Tadinya saya berharap suatu hari nanti untuk memiliki sebuah miniatur dari McLaren Formula 1, bisa MP4-15 yang dinobatkan jadi Car of The Year tahun 2000 oleh majalah F1 Racing atau malah McLaren-Honda milik Ayrton Senna atau Alain Prost.

Well, kadang nasib tidak selalu berpihak pada waktu. Saya mendapatkan sebuah penawaran untuk miniatur diecast Ferrari F1 milik Kimi Raikkonen, eks driver McLaren Mercedes. Saya bukan seorang fans berat Ferrari. Tetapi, saya mengagumi cara mereka menangani kedua pembalapnya di lintasan balap sejak zaman duet Ross Brawn dan Jean Todt.

Mobil F-14T ini mengingatkan saya pada suatu masa dimana Formula 1 tidak lagi menjadi sesuatu yang menarik. Adopsi teknologi dan batasan regulasi menyebabkan balapan jet darat akhir-akhir ini menjadi monoton. Sama ketika Michael Schumacher merajai Formula 1. 

Anyway, walaupun saya bukan seorang fans Ferrari (lagi-lagi) tapi saya menikmati hasil karya tim yang bermarkas di Maranello ini. Bburago sebagai brand yang telah bertahun-tahun menjadi official licensed partner tim kuda jingkrak berhasil membawa spirit kemenangan mereka. Balutan warna merah yang khas ditambah dengan detail yang mengagumkan membuat diecast berukuran 1:43 ini memiliki pesonanya tersendiri. 


Cipayung, 19 Juli 2017.

Sabtu, 29 April 2017

Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah Untuk Tidak Miskin


Sumber gambar: www.goodreads.com

Berawal dari sebuah promo di twitter, saya mendapatkan buku ini dengan harga yang lumayan murah. Diatas rata-rata diskon toko buku online. Sebagai bagian dari kelas menengah (cieee...)-mengacu pada kriteria yang disebutkan dalam buku ini- saya ingin tahu bagaimana perencanaan keuangan yang baik. Terlebih, penulisnya sendiri adalah seorang financial planner berpengalaman, Ligwina Hananto @mrshananto, yang pernah mempunyai acara radio khusus untuk subjek financial planning. Belakangan, @mrshananto juga pernah muncul juga di televisi membawakan acara dengan tema serupa.

Saya rasa penting bagi kita untuk mulai “menyelamatkan” keuangan pribadi. Kondisi ekonomi di Indonesia yang sering tidak menentu namun ddidorong pula oleh “kekuatan” kelas menengah yang konsumtif, maka asumsi investasi bukan lagi hal yang tabu dan menakutkan untuk dijalani secara pribadi. Niscaya, buku ini menjadi panduan awal tentang bagaimana mengelola keuangan pribadi. 

@mrshananto menyediakan guidance atau clue dengan tajuk 100 hal yang perlu dilakukan untuk tidak miskin. Dengan kata lain, petunjuk-petunjuk itu adalah bagaimana menjadi kelas menengah yang berdaya. Terutama dari sisi finansial. Dimuat dalam flipcard yang mudah untuk dibawa, memudahkan siapapun untuk membawanya kemana saja untuk jadi pengingat tentang 100 hal tersebut.

Walaupun penghasilan pas-pasan, tapi yang namanya perencanaan keuangan itu tetap diperlukan. Somehow, refer to term 'kelas menengah' or middle-class, buku ini adalah guidance material untuk melakukan perencanaan keuangan sebaik mungkin. Termasuk cara menjalani siklus keuangan seperti yang telah direncanakan.

Kekuatan kelas menengah yang sanggup mempertahankan Indonesia dari goncangan krisis ekonomi adalah pertanda sebuah kekuatan lain yang muncul di Indonesia. Fenomena yang berdampak langsung pada sektor keuangan ini secara tidak langsung ikut mempengaruhi sisi kehidupan lainnya. Dengan demikian, bila golongan kelas menengah ini mampu mempertahankan dirinya sendiri maka secara tidak langsung juga berimbas pada sekala ekonomi yang lebih luas. Patut dibaca, oleh kita para kelas menengah ini, biar #kelasmenengahngehe sekalipun.

Saya tidak menganggap buku ini seperti novel yang harus dibaca tamat dari awal sampai akhir. Karena sifatnya yang guidance material, maka saya membaca subjek-subjek tertentu saja. Sampai akhirnya saya tersadar bahwa buku ini belum saya pahami sepenuhnya. Oleh karena itu, hingga tulisan ini naik cetak saya masih terus membacanya, sekedar meyakinkan bahwa dari 100 hal itu ada satu atau beberapa hal yang benar-benar saya lakukan. Selamat belajar.

Judul          : Untuk Indonesia Yang Kuat: 100 Langkah Untuk Tidak Miskin
Penulis       : Ligwina Hananto
Penerbit     : Literati
Tahun        : 2010
Tebal         : 240 hal.
Genre        : Perencanaan Keuangan


Cipayung, 19 April 2017.

Jumat, 31 Maret 2017

Kosmik: Harapan Untuk Komik Indonesia

Sumber gambar: Captured from Kosmik.id

Perkembangan komik Indonesia (komik buatan komikus Indonesia) pasca terbitnya skripsi komik saya di tahun 2008 cukup mengagumkan. Kemajuan ini ditandai dengan munculnya berbagai media penerbitan, mulai dari konvensional dan digital. Macam ojek dan taksi saja. 

Saya tidak akan memberi penilaian khusus pada tampilan komik karya komikus Indonesia yang banyak dipengaruhi gaya manga asal Jepang. Saya juga tidak akan memberi judgement mengenai bagaimana seharusnya komik dikemas sebagai sebuah budaya dan produk ekonomi. 

Ada banyak cara di jaman information superhighway ini untuk membaca komik. Banyak website bermunculan yang menampilkan produk komik populer. Namun, khusus untuk komik Indonesia saya akan memberi catatan untuk Kosmik. Sebuah website untuk membaca komik secara online yang bisa diakses di www.kosmik.id. Kosmik juga hadir di platform Android.

Untuk membaca komik, pembaca bisa melakukan registrasi. Karena dikemas sebagai online marketplace juga, maka pembaca akan memiliki akun sebagaimana layaknya online shop untuk membeli produk-produk yang ada di Kosmik. OK, ada ekonomi yang berjalan disini. 

Kosmik hadir untuk menampilkan komik bagus kepada pembacanya. Kosmik juga berusaha  membantu penerbitan komik secara editorial, pemasaran, distribusi serta edukasi komik supaya lebih banyak lagi komik bagus yang lahir dan tersebar di bumi. 

Saya setuju. Kami pembaca komik memang butuh komik bagus. Tidak hanya bagus secara visual tetapi juga punya cerita yang bagus dan alangkah lebih bagus lagi bila cerita itu memang dekat dengan keseharian kita sehingga kita bisa lebih paham bila hidup ini dipandang dari sisi sebuah komik.

Serpong, 30 Maret 2017.


Selasa, 31 Januari 2017

Melihat Indonesia dari Sepeda

Courtesy: www.goodreads.com

Saya mungkin satu dari sekian pembaca yang merasa bakal mendapatkan satu pemandangan Indonesia yang indah dari sebuah sepeda. Tentang bagaimana sendi-sendi kehidupan nusantara terjalin mesra di daerah-daerah, misalnya. Saya tidak mendapatkan pemandangan yang demikian, meski saya tidak memungkiri tulisan terakhir dalam buku ini yang bercerita soal pengalaman personal bersepeda Surabaya-Jakarta dalam rangka perayaan 45 Tahun Kompas.

Menarik sekali untuk membuat beberapa hipotesa dadakan mengenai boomingnya sepeda di kota-kota besar tempat bermukimnya para kelas menengah. Entah itu sebagai imbas yang kekinian atau kontekstual atau malah hanya sebagai mode yang sementara saja. Untuk tujuan idealis, hanya segelintir saja pelakunya yang betul-betul konsekuen dengan apa yang telah diawalinya.

Sejarah sepeda di Indonesia ini jejaknya masih samar. Awal mula kedatangannya hingga siapa importer pertamanya saja belum dapat ditelusuri. Namun, sebagai sebuah produk budaya kedatangan sepeda di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sisi historis pendudukan Belanda. Kabar baiknya, evolusi sepeda di Indonesia dan sejarah awalnya disajikan dalam buku ini.

Ada anggapan bahwa dari judulnya buku ini harus menampilkan perspektif tentang Indonesia, dalam arti sempit maupun arti yang luas. Saya sendiri cenderung menempatkan buku ini dalam konteks yang lebih kekinian. Sesuai zaman yang dipotretnya. Saya perkirakan pada sekitar tahun 2005 hingga medio 2010-an. Walaupun, hanya berupa kumpulan beberapa tulisan yang pernah naik cetak harian Kompas. Buku ini sendiri bervariasi, menampilkan artikel mengenai sejarah sepeda hingga perkembangan teknologi. Dari mulai sekedar kendaraan priyayi hingga menjadi pujaan para kolektor.

Ekspektasi saya terpenuhi dengan buku ini. Setidaknya, ada beberapa pustaka referensi dalam penyusunannya. Perpaduan antara artikel dan memoar perjalanan didalamnya membuat buku ini menjadi semakin enak dibaca sambil bersantai. Tetapi, yang jelas, buku ini berhasil menjadi ‘racun’ untuk saya karena saya pun akhirnya menginginkan sebuah sepeda onthel.

Judul            : Jelajah Sepeda Kompas: Melihat Indonesia dari Sepeda
Penulis         : Ahmad Arif
Penerbit       : Penerbit Buku Kompas
Tahun           : 2010
Tebal            : 196 hal.
Genre           : Sosial-Budaya


Cipayung, 25 Januari 2017.

Sabtu, 30 Juli 2016

In Bed With Model$

Courtesy: www.goodreads.com
Back to year 2006, terbit sebuah buku yang menurut saya fenomenal. Buku ini tidak berada di deretan Best Seller toko buku namun masuk kriteria fenomenal. Mengapa? Mau tidak mau harus diakui Moammar Emka-si penulis buku- memang menulis sesuatu yang benar-benar terjadi dan mengangkat realitas yang sedang terjadi dalam dunia permodelan sejagad republik. Ditambah gimmick judul yang benar-benar provokatif dan merangsang setiap pembaca ingin tahu lebih dalam seluk beluk jagad permodelan.

Setidaknya,  buat saya pembacaan buku ini mengandung beberapa makna. ‘In Bed With Model$’ mengandung makna “sesuatu” yang bersifat di balik layar. Tertutup dan tersembunyi. Kamar adalah ruang pribadi untuk segala macam aktivitas yang pribadi pula. Sehingga, paduan kata dalam judul diatas adalah sebuah realitas yang distempeli cap “RAHASIA” atawa “CONFIDENTIAL”. 

Penggunaan kata “Model$” yang menggunakan simbol dolar ($) adalah satu bentuk penggambaran sisi-sisi gelap dan rahasia dari sejumlah model yang ia temui selalu melibatkan unsur uang, dalam jumlah kecil maupun besar. Sebuah kegiatan transaksional.

Buku ini ditulis dalam waktu yang cukup singkat. Menurut penulisnya sendiri, ia hanya memerlukan waktu 20 hari. Itu sudah termasuk mengorek ingatan dan reka ulang adegan sepanjang pengalaman penulis bersama model-model. Oh ya, tulisan Emka juga enak dibaca secara random karena tidak ada sekuensial pada setiap judul. Sehingga, tidak masalah bila pembaca membaca “Party With Model$” lebih dahulu dan mengakhirinya dengan “Money Talks”.

Judul           : In Bed With Model$
Penulis        : Moammar Emka
Penerbit      : GagasMedia
Tahun          : 2006
Tebal           : 252 hal.
Genre          : Gaya Hidup

Cipayung, 24 Juli 2016

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...