Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Agustus 2025

Hampir Sebuah Subversi

Sumber gambar: www.goodreads.com

Sejujurnya, buku ini belum pernah saya tamatkan pembacaannya. Saya tertarik karena judulnya pernah saya baca entah dimana. Saya sudah lupa. Entah itu dalam sebuah kumpulan cerpen atau novel yang pernah saya baca. Entahlah, saya benar-benar lupa.


‘Hampir Sebuah Subversi’ saya temukan dalam jejeran buku dalam rak pajangan di Tobucil, toko buku kecil yang turut mempelopori gerakan literasi lokal medio 2000-an di Bandung. Dulu, letaknya di Jalan Kyai Gede Utama No. 8. Buku ini saya dapatkan ketika Tobucil sudah pindah ke bilangan Jalan Aceh, menempati sebuah paviliun.


Cerpen yang pertama saya baca adalah ‘Hampir Sebuah Subversi’ itu sendiri, yang dijadikan judul buku. Kemudian, ‘Laki-Laki yang Kawin dengan Peri’. Mengapa? Karena kedua cerpen itulah yang pernah disitir dalam bacaan yang pernah saya baca sebelumnya. Selebihnya, saya mengalami ‘masalah’ dalam menamatkan pembacaan cerpen-cerpen lainnya. 


Saya merasa banyak hambatan dalam memulai dan memahami keseluruhan cerita. Padahal, aslinya tidak panjang-panjang amat. Cukuplah memang disebut sebagai sebuah cerita pendek yang habis dibaca sekali duduk. Namun begitu, rupanya buku ini memuat dua puluh tujuh cerita pendek, cukup panjang bukan?

Saya memulai kembali pembacaan ketika Ibu saya merapikan buku-buku yang tercecer sejak pindahan rumah ke dalam lemari yang Istri saya beli. Buku ini ditempatkan bertumpuk dengan buku-buku Emha Ainun Nadjib sehingga cukup menarik perhatian. Saya mulai membaca lagi dari cerpen “Mata Anak Turki”. Saya tidak tahu kenapa. Yang jelas, saya tidak ingin memulai pembacaan dari “Hampir Sebuah Subversi”. Saya teruskan hingga cerpen terakhir berjudul “Jangan Diperabukan”. Setelah selesai, baru mulai lagi dari cerpen pembuka ‘Kuda Itu seperti Manusia Juga’, “Ada Pencuri di Dalam Rumah’, “Laki-Laki yang Kawin dengan Peri”, Mata”, Lurah”, ‘Da’i”, dan “Persekongkolan Ahli Makrifat”.

Kesan pertama yang saya dapat adalah cara Kuntowijoyo bercerita mirip dengan tulisan-tulisan Budi Darma dalam “Orang-Orang Bloomington” dan Umar Kayam dalam “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan”. Latar cerita yang beragam, mulai dari Amsterdam, Amerika, hingga pinggiran kota Jogja, menggambarkan betapa luasnya dinamika kehidupan manusia dengan segala pola interaksi dengan lingkungannya. Barangkali, pengalaman penulisnya ketika menimba ilmu di barat sana turut menambah dalamnya field of experience dan betapa kayanya frame of reference dari penulisnya.

Agaknya memang tidak terlalu berlebihan bila cerpen-cerpen Kuntowijoyo dalam buku ini mirip dengan buku-buku dari penulis yang telah saya sebutkan sebelumnya. Saya merasa sedikit menyesal karena kenapa tidak menamatkan buku ini sejak tahun 2011 silam. Saya jadi ingat lagi beberapa hambatan yang membuat saya tidak pernah bisa menamatkan buku ini saat itu. Entah, apa mungkin karena saya sedang getol-getolnya membaca “chic literature” yang sedang happening saat itu? Sehingga pikiran saya tidak bisa beradaptasi dengan berbagai latar kehidupan dalam cerpen-cerpen Kuntowijoyo. 

Sungguh pun demikian, hal ini turut membuka kesadaran kembali bahwa pengalaman membaca membutuhkan jam terbang juga. Saya tentunya jadi kebingungan sendiri bila harus mengingat dan kembali ke saat itu. Saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi dalam pikiran saya bahwa ternyata buku ini cukup sederhana dan tidak sulit untuk memahaminya.

Mungkin itulah kenapa, wahyu pertama dari Tuhan adalah perintah membaca. Bacalah. Ya. Bacalah.


Judul           : Hampir Sebuah Subversi
Penulis        : Kuntowijoyo
Penerbit      : Grasindo
Tahun         : 1999
Tebal          : 188 hal.
Genre        : Sastra Indonesia-Cerita Pendek


Cipayung, 4 Agustus 2025.
 

Jumat, 01 Juli 2022

Adam Makrifat

Sumber gambar: www.goodreads.com


Pertama kali mengenal judul ini lewat sebuah pertanyaan dalam Lembar Kerja Siswa (LKS) Bahasa Indonesia zaman duduk di bangku sekolah. Sebagai siswa yang tidak pernah membaca buku ini tentu saja saat itu saya kebingungan karena tidak tahu isi ceritanya. Paling banter sampai kelas 1 SMA, hanya kumpulan cerpen “Sepotong Senja Untuk Pacarku” saja yang pernah saya tamatkan.
 
Kekaguman pada karya Alm. Danarto muncul kembali ketika membaca buku “Kitab Omong Kosong” karya Seno Gumira Ajidarma, dimana sampul bukunya merupakan hasil karya gambar Alm. Danarto. Buku Alm. Danarto yang pernah saya baca sebelum Adam Makrifat adalah “Orang Jawa Naik Haji” dan saat ini sedang berusaha menamatkan “Godlob”.
 
Hasrat untuk membaca “Adam Makrifat” datang tiba-tiba saja pada suatu malam. Saya tertarik untuk memilih buku bekas dengan karakter gambar sampul aslinya. Rupanya, kondisinya masih acceptable dan merupakan edisi cetakan pertama. Pernah dijadikan koleksi sebuah kelompok teater juga. 
 
Rupanya, hanya ada enam cerpen dalam buku ini. Tidak banyak memang tetapi saya rasa ada maksudnya. Entah karena saat itu format kumpulan cerita pendek seperti ini memang punya daya tarik tersendiri bagi pembaca maupun penerbit atau memang penulisnya sengaja hanya memberikan enam cerita pendeknya saja untuk dibukukan. Saya kembali teringat pada buku “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan” karya Umar Kayam yang hanya menampilkan cerita pendek dengan jumlah yang sama.
 
Ada banyak kejutan sepanjang pembacaan buku ini. Kejutan itu dimulai tidak saja ketika dalam pembacaan ceritanya. Tetapi juga, dalam kata pengantar dalam kolom. Alm. Danarto benar-benar membuat sastra meriah dan merangsang pembaca untuk ikut mengomentari hasil karya penulis. Saya merasa kagum pada Alm. Danarto karena pada tahun-tahun tersebut sudah berani merangsang pembacanya untuk benar-benar memberikan kritik yang pantas pada sastra.
 
Saya merasakan sebuah karya yang meriah. Penuh dengan sensasi, fantasi, dan kebebasan bercerita. Lepas dari pakem-pakem teoritis. Fantastis rasanya, mengingat karya ini ditulis pada rentang tahun 1975-1981, pada masa-masa pembangunan Orde Baru. Entah, saya sulit menemukan kaitan atau hubungan antara keenam cerita pendek itu dengan kejadian-kejadian selama Orde Baru. Rasanya, keenam cerita pendek ini adalah hasil cipta karya rasa dan karsa dari seorang Alm. Danarto yang membuat cerita-cerita itu tidak hanya hidup dalam sekedar teks belaka. Ada sebuah petualangan fantasi dan imajinatif dari kisah-kisah yang seakan nyata ini.
 
Adam Makrifat sendiri diambil dari satu judul cerpen dalam buku ini yang terbit pada tanggal 3 September 1975, sehari setelah ulang tahun Bapak saya yang ke-20. Judul-judul lainnya adalah “Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat” (11 Maret 1975), “Megatruh” (28 Maret 1978), “Lahirnya Sebuah Kota Suci” (17 September 1980), “Bedoyo Robot Membelot” (7 April 1981), dan sebuah cerpen yang sangat unik, tidak ada judulnya dan hanya diberi gambar not balok dengan tanda bunyi ‘ngung-ngung’ dan ‘cak-cak’cak’ mirip pada sebuah tarian dari Bali.

Judul           : Adam Makrifat
Penulis        : Danarto
Penerbit       : Balai Pustaka
Tahun          : 1982
Tebal           : 72 hal.
Genre          : Sastra Indonesia-Cerita Pendek
 

Pajang, 1 Juli 2022

Rabu, 12 Januari 2022

By The River Piedra, I Sat Down and Wept: Pembacaan Kedua

Sumber gambar: www.goodreads.com

 

Buku ini adalah buku kedua dari Paulo Coelho yang saya baca setelah 'The Alchemist' atau 'Sang Alkemis'. Pertama kali dibaca pada Oktober 2009 dan selesai sebulan setelahnya. Terus terang, buku ini punya judul yang menarik untuk dibaca. "By The River Piedra, I Sat Down and Wept", bisa dimaknai bermacam-macam. Entah itu menangis sedih atau tangis bahagia, rasanya membuat penasaran. Apalagi gambar sampulnya juga mendukung imaji atas pembacaan teks didalamnya.

Bertema cinta, buku ini menceritakan perjalanan cinta dua manusia, Pilar dan sang lelaki teman masa kecilnya yang akhirnya menyatakan cintanya setelah menjalani kehidupan spiritual yang mendalam. Mereka berdua akhirnya dipertemukan oleh takdir. Mereka pun mengadakan perjalanan dengan segala lika-likunya. Termasuk segenap perjalanan yang dipenuhi pergulatan dan karunia Tuhan.

Jujurly, saya sudah lupa dengan kesan pembacaan pertama atas buku ini setelah satu dekade lebih. Saya menghabiskan waktu sebulan untuk menamatkannya. Namun, pada pembacaan yang kedua ini rasanya lebih mengalir dan ringan saja. Mungkin karena pengalaman dan jam terbang saya dengan novel lain sehingga membuatnya lebih mudah.

Saya masih ingat bahwa saya mengharapkan sebuah kejutan pada buku ini, terutama karena judulnya. Saya harap pembaca maklum adanya, karena ternyata buku ini tidak memiliki banyak kejutan. Ada sedikit intens menjelang akhir cerita, ketika mereka berdua telah sampai pada Biara di sekitar Sungai Piedra. Namun, lagi-lagi disana hanya ada sebuah akhir yang bahagia. Cinta telah menemukan jalannya sendiri.

Judul           : Di Tepi Sungai Piedra, Aku Duduk dan Menangis
Penulis        : Paulo Coelho
Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2005
Tebal           : 224 hal.
Genre          : Novel


Pajang, 12 Januari 2022

Selasa, 04 Januari 2022

Seribu Kunang-Kunang di Manhattan

Pertama kali membaca judul ini saya membayangkan bahwa benar ada seribu kupu-kupu yang bertebaran di sekitaran kota Manhattan di New York sana. Mungkin, mereka sedang menikmati malam dan sekalian bersedekah dengan turut menerangi Central Park. Entahlah, memang rasanya tidak mungkin karena saya belum pernah melihat kunang-kunang di Central Park pada sitkom “How I Met Your Mother”. Kemudian, bayang itu beralih menjadi nyala lampu dari gedung-gedung pencakar langit yang bertebaran disana. Nah, yang ini rasanya masuk akal. Barangkali, waktu buku ini diterbitkan pada tahun 1972 sudah banyak gedung-gedung tinggi di Manhattan.


Dengan ingatan yang terbatas, saya sudah pernah menawar buku ini dua kali pada kesempatan book fair di Istora. Harga yang ditawarkan penjualnya tidak tanggung-tanggung memang. Seratus ribu rupiah, dan tidak bisa nego turun harga. Saya anggap terlalu mahal sehingga saya urung membelinya. Padahal, memang buku ini sudah jarang untuk terbitan terbaru tahun 2007. Sesuatu yang saya sesali kemudian.

Baru-baru ini, saya mendapatkan buku ini lewat sebuah platform marketplace. Suatu hal yang membuat kesempatan untuk hunting buku-buku lama menjadi kembali terbuka setelah puasa book fair sekian lama, anyway. Kondisi buku yang saya terima masih dalam keadaan acceptable (according to Goodreads), kondisi kertas masih baik, softcover, terbitan Badan Penerbit Pustaka Jaya, cetakan pertama tahun 1972. Tahun dimana saya pun belum lahir.

Buku cetakan pertama ini masih menggunakan ejaan lama. Sesuatu yang sangat saya nikmati karena memberikan pengalaman pembacaan yang berbeda dari biasanya. Hal ini tidak berpengaruh banyak karena buku setebal 64 halaman ini hanya berisi 6 cerita pendek. Kalaupun ada yang lebih luar biasa adalah ukurannya. Buku ini serupa dengan buku saku seukuran 20 x 12 cm, tentu bisa dibayangkan sebesar apa huruf yang digunakannya. Agaknya, tentu dibutuhkan hal lebih agar membuatnya nyaman dibaca, seperti mulai menggunakan kacamata.

Cerpen pertama diberi judul sama dengan judul bukunya. Mengisahkan tentang kehidupan romansa sepasang kekasih di Manhattan. Saya menikmati cerpen ini karena bisa diimajinasikan sebagai sebuah rentetan scene dalam film. Diikuti oleh cerpen “Istriku, Madame Schlitz dan Sang-Raksasa” yang menceritakan kehidupan aku dan istrinya beserta tetangga yang bernama Madame Schlitz. Saya dikejutkan dengan punch line untuk ending yang menggantung. Saya suka.

Cerpen ketiga berjudul “Sybil” ini agaknya mencerminkan fragmen kehidupan keseharian di kota besar. Bagaimana seorang single mother berupaya sekuat tenaga untuk bisa membesarkan anak dengan tetap bekerja. Permasalahan kemudian muncul ketika Sybil bermain dengan Susan, tetangganya. Kalimat terakhir dalam cerpen ini mengingatkan saya pada sebuah cerpen “Pelajaran Mengarang” karya Seno Gumira Ajidarma, dalam kumpulan “Atas Nama Malam”.

“Setjangkir Kopi dan Sepotong Donat” berkisah tentang kehidupan dalam sebuah kedai kopi, dimana orang-orang datang dan pergi untuk sarapan atau brunch menjelang siang, lengkap beserta gairah romansanya. “Chief Sitting Bull” menceritakan kehidupan para lansia yang mulai ketergantungan dengan jatah pemberian rutin dari anaknya dan menjalani rutinitas bersama kolega di taman kota. Saya suka detail dari cerpen ini karena sang tokoh utama dapat menaklukkan hati seorang anak kecil.

Sementara cerpen terakhir, “There Goes Tatum” mengisahkan seorang lelaki yang menjadi korban perampokan dalam usahanya menuju tempat tujuan. Cerpen ini menampilkan sisi lain dari wajah ‘The Big Apple’, satu hal yang umumnya terjadi di kota besar dimana ketimpangan antara the have dan kaum miskin sangat besar.

Kumpulan cerita pendek pertama dari Pak Umar Kayam ini adalah satu dari sekian tonggak karya sastra Indonesia yang patut dijadikan monumen. Betapa karyanya ini turut mewarnai khazanah kebudayaan modern Indonesia pasca tahun 1965. Dengan aktivitasnya dalam bidang kesenian sejak masih mahasiswa, ia mampu memberikan kesan filmis pada cerita-cerita pendeknya. Tema keseharian yang dipilihnya pun memberikan kesan bahwa banyak hal-hal yang menakjubkan dari sebuah kesederhanaan.

Judul           : Seribu Kunang-Kunang di Manhattan: enam tjerita pendek oleh Umar Kayam
Penulis        : Umar Kayam
Penerbit       : Pustaka Jaya
Tahun          : 1972
Tebal           : 64 hal.
Genre          : Sastra Indonesia-Cerita Pendek


Pajang, 4 Januari 2022
Pada ulang tahun Nenek yang ke-86

Senin, 23 Desember 2019

Helen dan Sukanta

Sumber: www.goodreads.com

Selalu menyenangkan untuk membaca tulisan-tulisan Pidi Baiq yang mengaku sebagai imigran dari surga. Setelah serial Dilan dan Milea-yang dengan gagahnya menghancurkan imaji saya tentang mereka usai difilmkan, Helen dan Sukanta agaknya menjadi sebuah pengecualian untuk cinta yang mendayu-dayu khas anak remaja.

Entah, saya sudah lupa kapan, saya pernah berkunjung ke blog Pidi Baiq dan membaca beberapa paragraf awal dari Helen dan Sukanta. Begitu pula dengan Dilan, yang catatan awalnya dapat dibaca dalam blog sang penulis. Harapan saya satu per satu menjadi kenyataan. Dilan sudah terbit-sekaligus difilmkan. Kemudian, menyusul Helen dan Sukanta. Sebuah novel romantis dengan ending yang tragis.

 
Membaca Helen dan Sukanta berarti mengembalikan ingatan kepada Bumi Priangan-utamanya Tjiwidei, masa kolonial pasca politik etis. Kisah romantis antara seorang Noni belanda dengan anak pribumi saat itu adalah hal yang tabu. Demikian pula dengan Helen dan Sukanta. Terlalu banyak perbedaan untuk menjadi hambatan kisah cinta mereka.

Saya tidak akan menyoroti bagaimana kisah cinta mereka, darimana Helen bisa kenal dengan Sukanta, dan segenap perjalanan yang mengasah cinta mereka. Helen dan Sukanta adalah sebuah kisah tragis, walaupun hanya baru bisa ditemukan pada seperempat terakhir buku.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pendudukan Jepang atas koloni Hindia Belanda membawa banyak perubahan. Tidak hanya bagi kaum kolonial tetapi juga pada kaum pribumi yang mendambakan kemerdekaan. Kisah Helen dan Sukanta berada pada tengah masa peralihan itu.

Helen yang pulang ke Tjiwidei untuk menemui ibunya yang sakit dan kemudian meninggal tidak pernah menyangka bahwa perpisahan dengan Ukan (panggilan untuk Sukanta) itu adalah perpisahan untuk selamanya. Pasukan Jepang berhasil menduduki Kalijati, kemudian menyeberang ke Lembang. Ukan, entahlah dimana. Helen kemudian masuk kamp tawanan Jepang dimana ia harus kehilangan buah hati yang sedang dikandungnya. Pernah sekali Helen kembali untuk mencari Ukan ke Lembang. Hasilnya sia-sia saja. Bahkan, kalau tidak karena kenalannya di perkebunan dulu, Helen tidak akan tahu nasibnya.

Saya mendapatkan kesan bahwa novel ini sangat humanis. Penulisnya berhasil membawa ingatan tentang masa kolonial beradu dengan masa pendudukan ditambah konflik antara dua hati yang saling mencinta. Tetapi, adalah tragis ketika kita tidak pernah tahu nasib tentang orang-orang yang kita cintai. Begitulah, Helen dan Sukanta dalam pergulatan takdirnya masing-masing.

Judul            : Helen dan Sukanta
Penulis        : Pidi Baiq
Penerbit       : The Panasdalam Publishing
Tahun          : 2019
Tebal           : 364 hal.
Genre           : Novel-Sejarah
 
Ciputat-Cengkareng, 23 Desember 2019.
Ulasan penuh pertama usai Bapak tidak ada.

Kamis, 04 Januari 2018

#BeraniGagal ala Si Juki

"Tidak penah gagal belum tentu hebat, terutama bagi yang belum pernah mencoba" - Si Juki
Sumber gambar: www.goodreads.com
Perkenalan saya dengan Si Juki dimulai pada zaman Twitter masih berkuasa. Entah medio 2012 atau 2013. Yang jelas, saat itu saya sudah tertarik dengan karakter Si Juki namun belum mau untuk membaca komiknya. Saya hanya mampu stalking sesekali ke akun Twitter Faza Meonk @Fazameonk, Sang Pencipta karakter bernama asli Muhamad Marzuki ini.

Belum lama ini muncul iklan di media televisi tentang rilis film Si Juki. Sebuah kabar baik untuk jagad perkomikan di Indonesia. Karya yang tadinya hanya sebatas cetakan buku dapat dinikmati sebagai satu produk sinematografi. Ya, tidak berlebihan bila sama menyamakan Komik Si Juki dengan Komik Dragon Ball yang sudah lebih dulu melegenda.

Komik edisi #BeraniGagal ini mengisahkan rentetan cerita kegagalan yang dialami Si Juki. Dimulai dengan perjalanan Si Juki yang ikut serta dalam Pemilu 2014 dalam format digital. Si Juki menang, namun hasilnya tidak diakui. Mantan Capres yang berduet dengan Si Tuti ini dirundung kegagalan.

Ini adalah pengalaman pertama saya dengan komik Si Juki. Memang ada beberapa missing link karena saya tidak membaca beberapa buku sebelumnya. Namun, hal itu tidak menjadi masalah besar karena komik ini punya alurnya sendiri.

Saya suka alur ceritanya yang dirunut dari awal. Cerita dimulai dari bab Si Juki Sang Capres Gagal, Silsilah Kegagalan, Legenda Kegagalan, Yang Gagal dan Dilahirkan, Tak Selamanya Gagal Itu Pahit, Impian dan Kegagalan. Keresahan kaum Jomblo pun dikisahkan pada bab Jomlo (tidak sama dengan) Gagal. Mengikuti seterusnya bab Semua Pernah Gagal.

Sebagai buku yang habis dibaca sekali duduk, komik Si Juki edisi ini sangat menghibur. Buku ini pun tidak semuanya berisi panel komik. Ada beberapa narasi yang harus dibaca sebagai pengantar sebelum melihat adegan komikal, tentu masih dengan rentetan humor. Ada banyak celotehan segar yang mampu membuat tertawa puas. Ada beberapa sindiran satir dan sinis terhadap kemajuan teknologi akhir-akhir ini. Namun, diatas itu semua yang lebih penting adalah pesan-pesan dalam menyikapi kegagalan. Agaknya, pesan-pesan itulah yang berusaha disampaikan Si Juki untuk Generasi Zaman Now, agar tidak mudah putus asa dalam menghadapi kegagalan.

Anyway, Catatan Hampir Teladan Si Juki ini mengingatkan saya sekilas pada buku Catatan Mahasiswa Gila milik Adhitya Mulya. Ada banyak kejadian konyol didalam kedua buku itu, tetapi muatan pesan dan hikmah keduanya tetap kental dan sangat mudah dipahami. Semoga semakin banyak lagi komik karya anak bangsa, yang tidak hanya pandai menghibur tapi juga jagoan memberikan teladan.

Judul       : #BeraniGagal: Catatan Hampir Teladan Si Juki
Penulis    : Faza Meonk, et.al
Penerbit   : Bukune
Tahun      : 2016
Tebal       : 156 hal.
Genre     : Komik Indonesia

Cipayung-Cengkareng, 4 Januari 2018.

Sabtu, 30 Desember 2017

AKU: Sesudah

Sumber gambar: Koleksi Pribadi
Terus terang, saya tidak mengharapkan sebuah kejutan nan eksplosif dalam buku ini. Sebagai sebuah skenario mengenai (sebagian) perjalanan hidup Chairil Anwar tentulah ada beberapa hal yang bisa saja hilang karena pembermaknaan yang berbeda. Tentang bagaimana narasi dan teks skenario dipahami secara tekstual ataupun melalui imajinasi visual. Namun, saya tentulah merasa sangat bahagia karena melalui pemahaman tekstual pada buku ini saya dapat membuat imajinasi buatan saya sendiri.

Saya bisa membayangkan bagaimana Chairil yang tiba-tiba saja masuk ke rumah Oomnya, Syahrir, yang dulu Perdana Menteri itu semasa zaman Republik. Pun, ketika Chairil nyelonong begitu saja ketika ikut naik kereta rombongan Perdana Menteri ke Yogyakarta. 

Lewat buku ini, setidaknya pembaca bisa dibuat paham mengenai suasana apa yang membuat sajak-sajak Chairil Anwar menjadi begitu menggelora, kadang-kadang syahdu, dan tiba-tiba mengandung kepasrahan yang total pada Si Penciptanya.

Setidaknya saya mendapatkan jawaban tentang latar suasana yang mebuat sajak ‘Aku’ menjadi legenda sepanjang masa. Tentang mengapa ‘Senja di Pelabuhan Kecil’ bisa menjadi begitu syahdu, ketika Chairil termenung di pinggir pantai. Juga, penggalan syair ‘...Waktu jalan aku tidak tau apa nasib waktu...’ yang pernah saya baca dalam satu cerpen milik Seno Gumira Ajidarma, yang tercipta semasa Agresi Militer Belanda I.

Khusus untuk timeline Agresi Militer Belanda I, tercipta pula sebuah sajak perjuangan yang selalu dikenang warga Bekasi-Krawang, ‘Antara Krawang-Bekasi’. Maklum, Chairil diceritakan telah menikah dengan seorang gadis dari Karawang bernama Hapsah, Dari Hapsah pula Chairil memiliki seorang putri yang dinamainya, Evawani.

Memasuki bagian akhir, saya merasakan aroma kehilangan yang semakin menguat. Chairil agaknya tidak kuasa menahan penyakitnya hingga ia harus menyendiri di sebuah kamar yang dicarikan khusus untuknya. Perkawinannya dengan Hapsah pun harus berakhir, ia digugat cerai. Sebuah adegan yang membuat saya bergetar kala Chairil Anwar menggendong Evawani sebentar sebelum Ibunya datang. Ah, tokoh kita ini juga seorang manusia.

Menjelang akhir perjalanan hidupnya, rupanya Chairil Anwar sudah mampu meramal kematiannya sendiri. Ia sudah merasakan maut itu datang sebelum Malaikat Maut benar-benar melaksanakan tugasnya. Ia sudah menulis ‘...rimba jadi semati tugu di Karet, di Karet (daerahku yang akan datang)...’. Chairil Anwar sudah tahu ia akan berpulang kemana. Masalahnya hanya soal waktu saja, entah kapan.

Tidak diragukan lagi bahwa Chairil Anwar-terlepas dari segala kontroversinya soal sajak-sajak saduran dan terjemahan-adalah seorang pionir sastra Indonesia. Chairil Anwar menandai tonggak lini masa sastra Indonesia dengan menamai angkatannya sebagai ‘Angkatan 45’. Chairil masih berseru: “Revolusi!”, menjelang akhir-akhir masa hidupnya. Sebuah pernyataan yang tabah dan berani seakan-akan ia masih akan hidup seribu tahun lagi.

Judul           : AKU: Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar
Penulis        : Sjuman Djaya
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2017
Tebal           : 155 hal.
Genre          : Sastra Indonesia-Skenario

Cipayung, 29 Desember 2017.

Semesta Emha, Sebuah Pendekatan Filosofis

Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya agak terkejut ketika mendapati buku ‘Semesta Emha’ ini sebagai sebuah naskah akademik. Rupanya, Emha Ainun Nadjib sebagai individu telah jadi referensi beberapa karya akademik yang lulus untuk diujikan. Pun, ketika menjelma simpul-simpul Jamaah Maiyah di seluruh Nusantara. Ada banyak sudut pandang yangbisa digunakan untuk membahas seorang Emha.

Buku ini dimulai dengan menguraikan potret seorang Emha Ainun Nadjib. Semacam biografi kecil yang tidak mencapai 1 bab. Pembahasan menjadi kian mendalam ketika menguraikan faset-faset perjalanan Emha Ainun Nadjib. Mulai dari masa kecilnya di Jombang, kemudian fase Malioboro dimana Emha mengenal Umbu, fase teatrikal bersama Dinasti, pementasan Lautan Jilbab, keterlibatan Emha dengan ICMI dan politik, Pak Kanjeng, Padhang Mbulan, fase reformasi hingga yang terkini adalah fase Maiyah. 

Yang terjadi pada bab-bab selanjutnya adalah sebuah filsafat dalam memandang objek berupa Emha Ainun Nadjib. Emha diuraikan dari sudut pandang Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi. Ontologi berbicara tentang kosmologi Emha, bagaimana filsafat dasar Emha sehingga kemudian menghasilkan sebuah eksistensialisme dan metafisika cinta. Epistemologi Emha mengetengahkan kesadaran dan pengetahuan sebagai sebuah kesatuan dalam mencapai kebenaran. Aksiologi Emha membahas etika dan estetika seni yang dijalani oleh Emha. Filsafat pendidikan ala Emha pun terpapar didalamnya.

Filsafat dasar Emha yang telah terbentuk sedemikian rupa kini diejawantahkan sebagai sebuah pemikiran kebudayaan. Sepak terjang Emha dalam bidang sastra, seni dan ideologi dikupas menjadi sebuah eksekusi dari filsafat dasar yang melingkupinya. Hal ini kemudian membawa pembaca pada sebuah teori relativisme kebudayaan dan kebudayaan Ilahiah dari seorang Emha Ainun Nadjib.

Semesta Emha yang multidimensi itu menghasilkan sebuah potensi besar terhadap kemanusiaan. Potensi pemikiran Emha yang humanis itu diteruskan oleh Emha untuk menemani bangsa Indonesia hingga saat ini. Emha dengan segenap perangkat kemaiyahannya terlihat berjalan di arus bawah masyarakat sekelilingnya. Jelas hal ini adalah bukan sesuatu yang populer, melainkan suatu  jalan yang sunyi. Gagasan-gagasan kemanusiaan Emha dari berbagai sumber nilai bersifat dialektis dan dinamis dengan dilandasi konsep kesadaran untuk membangun peradaban yang luhur.

Judul            : Semesta Emha Ainun Nadjib: Bentangan Pengembaraan Pemikiran
Penulis        : Sumasno Hadi
Penerbit       : Mizan
Tahun          : 2017
Tebal           : 216 hal.
Genre           : Filsafat-Sosial Budaya

Cipayung, 28 Desember 2017.

Kamis, 28 Desember 2017

AKU: Sebelum

Sumber gambar: Dokumentasi Pribadi
Catatan Sebelum Tamat

AKU. Terpampang jelas dalam halaman judul sebuah buku berwarna abu-abu. Buku yang tiba-tiba menjadi hits dan bacaan wajib usai tampil di film AADC tahun 2002 silam. Buku kecil yang bercerita tentang Chairil Anwar. Sjuman Djaya, penulisnya, berusaha menulis skenario film berdasarkan perjalanan hidup dan karya penyair Chairil Anwar. Tentang ‘AKU’, adalah satu karya terpenting dari Sjuman Djaya sehingga menempatkannya di jajaran seniman besar Indonesia.

Keinginan membaca ‘AKU’ memang terlintas sejak zaman AADC. Rangga berhasil membuat suatu gebrakan sastra di kalangan anak muda. Ya, anak-anak muda zaman itu tiba-tiba penasaran dengan buku ini. Termasuk saya. Padahal, setiap lewat toko buku saya hanya mampu memegangnya saja. Tanpa membawanya ke meja kasir. Tidak ada trigger lain yang mampu menumbuhkan keinginan itu.

Chairil Anwar adalah pribadi yang meledak pada zamannya. Karya yang dihasilkannya menunjukkan gairah tinggi pada kehidupan yang dijalaninya. Barangkali, orang zaman sekarang menyebutnya sebagai progresif. Sjuman Djaya memotret perjalanan hidup Chairil Anwar frame by frame sehingga terlihat jelas rentang waktu kehidupannya.

Saya belum tiba pada halaman akhir buku ini. Saya masih terhenti pada halaman pertengahan. Namun, saya dapat merasakan gairah kehidupan Chairil Anwar yang menggelora. Pun, rasa kehilangan yang mendalam akibat duka yang dialami Ibunya dan meninggalnya Nenekda tercinta. Semua itu terangkum dalam skenario yang disusun apik (setidaknya sampai halaman pertengahan) dan benar-benar mampu menerjemahkan ‘Semangat’ yang diinginkan pada zaman itu. Chairil benar-benar ingin hidup seribu tahun lagi.

 
Meruya, 28 Desember 2017.

Senin, 27 November 2017

Iblis Tidak Pernah Mati

Sumber gambar: www.goodreads.com
Barangkali, karya Seno Gumira Ajidarma yang paling kelam dan mencekam adalah ‘Iblis Tidak Pernah Mati’ ini. Melihat halaman sampulnya, saya sudah diliputi perasaan tidak enak. Gambar seseorang yang dirupakan memiliki dua tanduk dikepalanya diatas batu dengan gerakan seperti sedang menunggu ditambah kartun karya Asnar Zacky dan paduan warna senja memberikan seolah tidak ada lagi harapan yang terang benderang. Itu 10 tahun yang lalu, saat saya pertama mendapatkan buku ini dalam sebuah book fair di kawasan Braga, Bandung.

10 tahun kemudian, imaji itu tidak berubah. Kesan kengerian sepanjang pembacaan cerpen-cerpen yang kebanyakan lahir pasca reformasi tidak juga lekas hilang. Kelima belas cerpen yang dibagi dalam 4 bagian yaitu Sebelum, Ketika, Sesudah, dan Selamanya menghadirkan satu imaji utuh atas keadaan sebuah negeri.

Kalau saya boleh memilih, cerita pendek “Clara” adalah satu dari sekian cerpen terbaik dalam kumpulan cerpen ini. Saya masih tidak lupa kesan selama pembacaan pertama yang menimbulkan beragam perasaan: marah, haru, dan segenap perasaan lain yang tidak mampu diucapkan. Cerpen ini memotret satu sisi tragedi kemanusiaan yang melanda negeri ini selama masa reformasi.

Cerpen ini sendiri dipulikasikan pertama kali ketika dibacakan oleh Adi Kurdi dan Ratna Riantiarno dalam acara Baca dan Pembahasan Cerpen Seno Gumira Ajidarma, sebuah syukuran penerimaan SEA Write Award oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, Galeri Cipta TIM, 10 Juli 1998. Kemudian, dimuat harian Republika edisi 26 Juli 1998, sebagai “Clara atawa Wanita yang Diperkosa”. “Clara” kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai ‘Clara’ oleh Michael H. Bodden; dibacakan oleh Bruce Kochis dan Christina Alfar di University of Washington – Bothell, Seattle Babb di University of Victoria. Victoria BC (1999, 2.5); Selanjutnya dimuat juga dalam jurnal Indonesia No.68 (Cornell University), Oktober 1999. 

“Clara” diterjemahkan ke bahasa Jepang sebagai ‘Kurara, rape sareta joseino monogatari’ oleh Mikihiro Moriyama; dimuat dalam berkas Seno Gumira Ajidarma, Indonesia, Senryaku to shiteno bungaku-journalism no genkai wo koete (Indonesia, sastra sebagai siasat, melewati batasnya jurnalisme) untuk Takeshi Kaiko Lecture Series No.8 (Japan Foundation).

Clara juga dibacakan untuk publik oleh Hirshi Tomioka dan Kaoru Tomihama di Tokya (1999,2.20), Osaka (1999,2.25) dan Hiroshima (1999,2.27); direkam ulang sebagai paket video Indonesia, Seijino Kisetsuni Bungaku (Indonesia, Sastra dalam Musim Politik) oleh Dewan Promosi Informasi Pendidikan Tinggi untuk proyek Eisetsushin eo riyoshita Daigaku Kokaikouza Moderujigyo (proyek modek kuliah universitas terbuka lewat satelit) tahun 2000. Bersama cerita Jakarta, 14 Februari 2039, diformat ulang menjadi naskah drama Jakarta 2039.

Terakhir, “Clara” juga hadir dalam kumpulan naskah Mengapa Kau Culik Anak Kami? (Galang Press, 2001).

Saya kagum dengan imajinasi SGA yang mampu menampilkan sosok Semar di Bundaran HI. Bukan hanya satu tapi ada sembilan Semar. Sungguh membuat saya kagum karena mungkin saja pada lain waktu yang muncul disana bukan hanya Semar tetapi juga Rahwana.

Sebagai pelengkap, ada dua esai yang turut disertakan usai cerita penutup. Esai pertama berjudul “Paman Gober, Suatu Ketika: Cerpen-Cerpen Eksoforik Seno Gumira Ajidarma” oleh Kris Budiman. Esai ini membahas lima belas cerpen yang ada dalam buku. Intinya, dengan mempertimbangkan dominan atau tidaknya referensi dalam teks kita bisa membedakan antara cerpen-cerpen yang referensial dan yang non-referensial, yang eksoforik dan endoforik.

Esai kedua adalah semacam surat yang dikirim dari Alina atau pula SGA kepada Agus Noor dengan judul “Imajinasi Yang Tak Pernah Mati: Surat dari Alina”. Agak membingungkan memang karena judulnya adalah surat dari Alina. Namun, pada akhir tulisan didapati tanda SGA pada ujung kanan bawah sebagai identitas penulis surat. Silakan pembaca yang budiman menafsirkan sendiri perihal ini. Yang jelas, antara ketiganya kelak punya hubungan sendiri-sendiri.

Kalau Budi Darma bilang bahwa ‘Iblis Tidak Pernah Mati’ sebagai sesuatu yang mengerikan dan mengharukan kiranya pembaca dapat menilai sendiri keabsahannya. Dalam konteks ini, sastra telah bicara sebagai suatu metafor atas sebuah fenomena. Pun, ketika ia menjelma sebagai ruang kesadaran bahwa kita masih punya nilai-nilai kemanusiaan dalam merayakan kehidupan ini.

Judul         : Imajinasi Tidak Pernah Mati
Penulis      : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit    : Galang Press
Tahun        : 2001
Tebal         : 264 hal.
Genre        : Sastra Indonesia-Kumpulan Cerpen  

Cipayung, 23 November 2017.

Selasa, 31 Oktober 2017

Kitab Omong Kosong

“Manusia selalu menuntut dunia membahagiakannya, pernahkah ia berusaha membahagiakan dunia?” 

Sumber gambar: www.goodreads.com

“Kitab tulisan Togog ini berkisah tentang kejadian-kejadian yang berlangsung dalam kisah Ramayana dari Walmiki. Bencana akibat persembahan kuda berlangsung hingga ke anak benua dan menghancurkan seluruh peradaban, kecuali Satya dan Maneka berhasil menemukan kelima bagian Kitab Omong Kosong itu yang keberadaannya tidak diketahui setelah berada di Perpustakaan Negeri Ayodya. Kelima bagian kitab ini memiliki arti dan penafsiran makna yang kental dengan unsur filsafat eksistensialis.”

Catatan pendek diatas dibuat usai menamatkan pembacaan Kitab Omong Kosong medio Juli 2008. Waktu itu saya baru saja membeli buku itu terbitan Bentang Pustaka, 2006. Sampulnya bukan lagi imaji kreatif dari Danarto melainkan agak lebih artistik berwarna kecoklatan.

Well, kalau harus menuliskan kembali apa yang saya dapat dari kitab rekaan Togog itu rasanya jadi agak sedikit-sedikit lupa, kalau saja bukan karena acara bersih-bersih buku kemarin. Barangkali, ‘Kitab Omong Kosong’ sendiri merupakan sebuah ungkapan filosofis untuk mengungkapkan sebuah ketiadaan, tentunya dalam konsep filsafat. Benarkah itu? Saya juga tidak pernah tahu.

Kitab ini membuat kita kembali membaca perjalanan dan kisah cinta Sri Rama dengan Dewi Shinta. Sebuah kisah epos yang terkenal soal cinta-cintaan. Sebuah kisah dimana cinta harus dibuktikan dengan sebuah pengorbanan. Sebagaimana Sri Rama yang menurunkan Hanoman untuk merebut Shinta dari cengkeraman Rahwana, Sang Penguasa Alengka.

Saya dibuat takjub betul akan sosok seorang Hanoman yang gagah berani. Pun dengan berbagai kesaktian yang dimilikinya. Hanoman yang ada di benak saya adalah seorang panglima yang mampu melakukan apa saja untuk memenangkan pertempuran dengan pasukan Rahwana. Saya yang tidak pernah akrab dengan dunia pewayangan jadi ingin tahu bagaimana kisah-kisah wayang diadaptasi. Bagaimana tokoh-tokohnya juga sekalian. 

Anyway, ‘Kitab Omong Kosong’ sangat berhasil membuat saya mengidolakan seorang Hanoman. Saya bahkan berkhayal Sembilan Hanoman muncul di Bundaran HI dan mengacak-acak Jakarta karena negeri ini sudah tidak sanggup memberantas para koruptor. Pembaca setia SGA pasti tahu asal-usul munculnya imajinasi saya itu. Hahaha.

Kisah cinta antara Sri Rama dan Dewi Shinta yang saya tahu dan saya baca dengan tuntas adalah kisah yang ada dalam kitab ini. Itu jauh sebelum saya tahu lewat buku Sudjiwo Tejo, Rahvayana, bahwa sebenarnya yang mencintai Shinta dengan tulus dan ikhlas adalah Rahwana. Sekali lagi, Rahwana. Bukan Sri Rama. Mengapa? Kalau memang cinta itu tidak bersyarat mengapa Sri Rama masih meragukan kesucian Shinta selama dalam masa penyekapan di Alengka. Sri Rama yang meragu itu akhirnya membuat Shinta murka dan memutuskan untuk moksa.

Diluar perdebatan wacana antara Rama, Shinta, Rahwana, dan Sudjiwo Tedjo, saya sangat menikmati pembacaan ‘Kitab Omong Kosong’ ini. Rasanya seperti betul-betul membaca sebuah ‘kitab’ yang penuh cerita dan imajinasi.

Judul           : Kitab Omong Kosong
Penulis        : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit       : Bentang Pustaka
Tahun          : 2006
Tebal           : 524 hal.
Genre          : Sastra Indonesia-Novel

 
Cipayung, 27 Oktober 2017.

Kamis, 19 Oktober 2017

Dalang Galau Ngetwit

Semua sekadar menjalani takdir. Ada yang ditakdirkan pasrah. Ada yang ditakdirkan berusaha. Ada juga yang ditakdirkan untuk tidak percaya bahwa semua sekadar menjalani takdir.

 
Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya termasuk satu dari sekian orang yang kagum dengan kekuatan Twitter. Sebuah cuitan kecil berbatas 140 karakter mampu menjelma menjadi satu narasi tulisan. Pun, ketika tulisan-tulisan tersebut dikumpulkan dan menjelma menjadi sebuah buku yang utuh. Maka ketika sang Rahvayana menuliskan kembali segenap kumpulan twit lengkap dengan narasinya, pembaca wajib bersyukur karena sang dalang tidak hanya menceritakan segenap kegalauannya.

Buku ini memang layak dibaca siapapun. Baik pemilik akun twitter yang rajib ngetwit ataupun hanya untuk sekedar stalking mantan (ups.) Sujiwo berhasil memainkan kata-kata serupa wayang andalannya. Sujiwo menyampaikan pesan-pesan yang humanis dan beberapa diantaranya anti-mainstream.

Subjek yang dibahas Sujiwo pun luas, seluas pemahamannya terhadap kausalitas dalam perjalanan hidupnya. Dari soal matematika yang ternyata tidak selalu pasti hingga urusan seni yang pemahaman atasnya ditentukan isi kepala masing-masing. Soal Rama-Shinta hingga Habibie-Ainun. Saya menikmati proses dialektika yang dikemukakannya. Setidaknya, untuk dipakai sebagai bahan refleksi.

Lebih luas, pemikiran Sujiwo yang merdeka tidak hanya menghibur namun mempu menyentil sedikit bagian hidup kita sehingga tidaklah berlebihan bila kemudian pembaca mencapai pencerahan. Sujiwo juga tidak lantas kehilangan keedanannya karena kegalauannya sendiri sudah menunjukkan keedanan itu sendiri.

Oleh karena itu, pembaca pun harus menyediakan hati dan pikiran yang terbuka. Menerima curhatan soal kegalauan adalah persoalan tersendiri sebagaimana menerima segala keedanan. Oleh karena itu, dengan pikiran dan pemahaman yang terbuka pembaca tentu sudah lebih pintar untuk menemukan makna dibalik setiap twit Sang Dalang.

Judul     : Dalang Galau Ngetwit
Penulis  : Sujiwo Tejo
Penerbit : Imania
Tahun    : 2013
Tebal     : 219 hal.
Genre    : Sosial-Budaya

Cipayung, 4 Oktober 2017.

Sabtu, 30 September 2017

Sesobek Buku Harian Indonesia

Pemimpin kami amat pintar
membendung segala tidak
dari mulut kami
yang dibilang pengkhianat

 (Belajar Tidak - Hal. 23)

Sumber gambar: www.goodreads.com
Tidaklah salah bila catatan buku ini mengibaratkan Emha Ainun Nadjib sebagai seorang musafir yang telah menjelajahi seluruh Indonesia, mencicipi ribuan pengalaman didalamnya, dan memanggul ribuan beban dari apa yang telah dirasakannya. Emha memang menempuh jalan sunyinya sendiri dalam menemukan Indonesia. Indonesia hanyalah bagian dari desa semesta Emha. Maka, apabila Emha melakukan sesuatu untuk Indonesia itu hanya bagian dari sedekahnya untuk negeri yang telah ia tinggali untuk sekian lamanya.

Saya terkesan lewat kata pengantar yang ditulis untuk edisi dan cetakan baru ini. Bahwa di era 1970-an, Emha belajar memanggul beban. Era 1980-an gagah dan sombong memanggul beban. Tahun 1990-an mulai kewalahan menanggung beban. Tahun 2000-an hampir putus asa oleh beban. Tahun 2010-an mempertanyakan kenapa memanggul beban dan siapa sebenarnya petugas pemanggul beban.

Edisi pertama buku ini terbit medio 1993, tahun-tahun dimana perekonomian bangsa Indonesia disebut bakal menjadi Macan Asia. Puisi-puisi dalam buku ini setidaknya mengulang ingatan kita pada apa-apa yang terjadi di masa itu. Emha mengumpulkan segenap impresi dan ekspresinya terhadap Indonesia pada tahun-tahun dimana ia mulai kewalahan menanggung beban. Pembaca boleh menentukan sendiri pembermaknaan atas segenap puisi Emha didalamnya.

Relevansi? Jelas puisi-puisi Emha ini masih relevan dengan keadaan berbangsa dan bernegara belakangan ini. Dimana harapan hidup semakin tidak jelas namun dibuat seolah-olah menuju jalan terang. Absennya nilai-nilai keadilan, kemanusiaan yang semakin 'tidak' beradab, kesenjangan hak asasi, kesenjangan sosial yang semakin berjarak masih dapat kita jumpai di pinggir-pinggir jalan negeri tercinta ini.

Puisi-puisi Emha setidaknya hadir untuk membawa satu sudut pandang baru dimana puisi telah kehilangan eksistensinya pada zaman yang semakin serba cepat. Puisi-puisi Emha hadir untuk menemani kita-kaum yang dilemahkan untuk terus berjalan melalui jalan sunyi kita masing-masing. Puisi-puisi Emha yang disembunykan dalam sesobek buku harian Indonesia adalah sebuah catatan, tentang realitas, cita-cita, atau bahkan 'sobek'nya sebuah entitas bernama Indonesia.

Judul       : Sesobek Buku Harian Indonesia
Penulis    : Emha Ainun Nadjib
Penerbit  : Bentang Pustaka
Tahun      : 2017
Tebal       : 124 hal.
Genre      : Sastra Indonesia-Kumpulan Puisi


Cipayung, 20 September 2017.

Nagabumi II


Sumber Gambar: www.goodreads.com
Ada semacam perasaan haru dan bahagia ketika menyelesaikan pembacaan Nagabumi jilid kedua ini. Pun, ada semacam rasa penasaran yang tidak terlampiaskan kala membaca kata: "BERSAMBUNG" di akhir halaman. 

Ada pula semacam perasaan sedih membayangkan bila suatu masa entah kapan nanti Nagabumi jilid ketiga tidak kunjung terbit melanjutkan perjalanan Golok Karat dan Pendekar Tanpa Nama menuju Shangri-la menemui Maha Guru Kupu-Kupu Hitam.

Sebuah pembacaan panjang yang menghabiskan setengah dekade. Saya sendiri bingung entah mengapa baru bisa menamatkan Nagabumi II selama itu. Padahal, Nagabumi I cukup hanya butuh 4 bulan saja. Itu pun termasuk lama karena saya hanya membacanya setiap pulang ke Cimahi. Nagabumi II ini pada bulan April 2012 dipesan di Medan Merdeka Barat, dikirim ke Ciledug, dipindah ke Cimahi, berangkat lagi ke Ciputat. Perjalanan yang panjang dan tak kunjung selesai.

Saya mengikuti kembali pembacaan yang masih sempat ditandai sejak awal. Hanya beberapa halaman pembuka dan untung masih ada pembatas buku disana. Saya menutup pembacaan pertama pada halaman-halaman awal maka saya lanjutkan kembali dengan mudah.

Pengembaraan Pendekar Tanpa Nama berlanjut. Perjalanan mempertemukannya dengan Amrita, putri cantik pemimpin kaum pemberontak. Ia terlibat dalam sebuah pusaran pemberontakan yang berasal dari dendam yang telah mengakar. Petualangannya bersama Amrita kemudian mengantarkannya kepada Harimau Perang.

Perjalanan mengejar Harimau Perang ini menghabiskan lebih dari setengah halaman buku. Pendekar Tanpa Nama harus berurusan dengan para bhiksu Shaolin untuk sebuah kepastian bernama Harimau Perang. Perjalanannya tidak selalu mulus. Ia dipaksa oleh Kupu-Kupu Hitam untuk pergi ke Shangri-la, mencuri sebuah kitab silat.

Cerita berhenti tanpa sebuah kepastian apakah Pendekar Tanpa Nama berhasil mencuri kitab silat dalam kurun waktu 30 hari. Memang rasanya tidak menyenangkan ketika cerita harus berhenti tanpa ada kepastian, minimal hingga ada kelanjutan cerita sedikit tentang bagaimana nasib Pendekar Tanpa nama selanjutnya. Tapi, bukankah ini adalah sebuah cara agar Nagabumi III segera hadir? Semoga.

Penggalan demi penggalan bab dalam Nagabumi (baik I dan II) mengingatkan saya pada kumpulan cerita silat Kho Ping Hoo yang bisa terbit dengan puluhan buku untuk satu judul. Untuk itu, agaknya Nagabumi masih lebih baik karena cerita dan riawayat perjalanan Pendekar tanpa Nama terangkum utuh dalam satu buku. Ilustrasi isi dari Beng Rahadian turut memberi nilai visual pada Nagabumi. Setidaknya, pembaca bisa diajak berimajinasi tentang tempat-tempat yang dijelajahi oleh Pendekar Tanpa Nama.

Saya berharap Nagabumi akan masih berlanjut. Bagaimana pun, sebuah perjalanan membutuhkan sebuah akhir.

Cahaya Maha Cahaya

Kumpulan puisi Emha yang terbit pada tahun 2004 silam ini barangkali menjadi kumpulan puisi tipis yang paling susah saya tamatkan. Mulai dari membaca di rumah, di mobil jemputan, di pesawat menuju Manado, dalam gerbong KA Parahyangan, tak kunjung selesai juga pembacaan.

Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya sendiri belakangan ini memang mengalami ‘kemunduran’ dalam membaca. Satu bulan paling habis satu atau dua judul saja. Lantas, saya tidak bisa menambah koleksi bacaan disebabkan kemajuan bacaan yang sangat lambat itu.

Terus terang, memahami ‘Cahaya Maha Cahaya’ lebih sulit dibandingkan dengan ’99 untuk Tuhanku’, misalnya. Kemesraan antara Emha dengan Tuhannya itu memang agak sulit untuk dijabarkan lewat cara pandang biasa. 

Kemesraan Emha dengan Tuhannya nampak dalam “Ajari Aku Tidur”. Emha bermesraan macam seorang anak yang minta dikeloni oleh ibunya. Lebih baik ia tidur saja usai didera segala urusan dunia.
Ajari Aku Tidur
 
tuhan sayang ajari aku tidur
seperti dulu menemuimu di rahim ibu
sesudah lahir menjadi anak kehidupan
sesudah didera tatakrama, pendidikan, politik,
              dan kebodohan
bisaku cuma tertidur
tertidur


Emha tidak menulis kritik sosial yang tajam dalam setiap syairnya. Emha memposisikan diri sebagai seorang hamba yang berusaha menuju cahaya setelah dihampas gelombang kehidupan yang tak henti-hentinya membutakan mata, hati, jiwa, dan pikiran.

Saya mencatat beberapa syair yang rasanya perlu saya pahami. Adakah sebuah tendensi atau hanyalah sebuah imaji semata. Misal, pada bait puisi berjudul “Satu Kekasihku”.

Satu Kekasihku

mati hidup satu kekasihku
takkan kubikin ia cemburu
kurahasiakan dari anak istri
kulindungi dari politik dan kia
i

Siapakah politik dan kiai yang dimaksud Emha? Mengapa sesuatu itu takkan ia buat cemburu hingga mesti dirahasiakan dari anak istri hingga sangat perlu dilindungi dari politik dan kiai? Wallahu’alam. Mungkin perlu satu buku lagi untuk menjelaskan hubungan antara politik dan kiai sehingga jelaslah hubungan keduanya.

Emha sebagai subordinat dari mereka yang terkalahkan mengadu pada Tuhannya. Dalam “Lempari Aku”, Emha seakan menunjukkan pada Tuhan bahwa ia masih ada.

dengan sembahyang mungkin kau menerimaku
tapi dengan sakit tak bisa kau elakkan hadirku

Cahaya Maha Cahaya memang hanya sebuah buku kumpulan puisi yang tipis namun justru dalam ketipisannya itulah terkuak kebesaran dan keluasan dunia seorang Emha. Emha sebagai penyair menuliskan segala keresahannya; tentang manusia dan kepastian kuasa Tuhan yang tidak perlu dipertanyakan lagi.

Cipayung, 18 September 2017.

Judul        : Cahaya Maha Cahaya
Penulis    : Emha Ainun Nadjib
Penerbit    : Pustaka Firdaus
Tahun        : 2004
Tebal        : 71 hal.
Genre        : Sastra Indonesia-Kumpulan Puisi

Baracas

Saya tidak tahu bahwa Barisan Anti Cinta Asmara ini sempat difilmkan. Kalaupun memang begitu tentulah tampilan grafis visual tentu lebih memuaskan dari sisi cerita karena penonton bisa mengetahui jalan cerita secara utuh.

Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya sendiri lebih suka Baracas versi buku karena lebih sederhana dan to the point. Tampilan visual tokoh komik juga bagus, penempatan teks dan pemilihan huruf yang minimalis dan memudahkan pembacaan sehingga membuat perasaan nyaman, nyaman di mata dan nyaman di hati.

Buku ini merupakan adaptasi resmi dari film berjudul sama yang diproduksi oleh thepanasdalammovie dan Max Pictures. Buku ini semakin berkesan dengan penggalan lirik lagu The Panas Dalam, 'Tenang Saja'... Apabila setelahnya kita saling lupa.

Cipayung, 10 September 2017

Kamis, 31 Agustus 2017

Negara 1/2 Gila

Sumber gambar: www.goodreads.com
Keseharian dan tingkah laku orang Indonesia memang terkadang patut ditertawakan. Sekaligus menjadi bahan perenungan bahwa bangsa yang katanya bangsa besar ini rakyatnya masih memiliki perilaku dan sikap tidak peduli. Kemunculan para seniman komik masa kini sebenarnya sudah sering mengangkat tema ini. Dengan ragam dan ciri khas keunikan visual masing-masing.

Agaknya, itu pula yang membuat Trio Komikus di Negara Setengah Gila ini turut hadir ‘menertawakan’ bangsanya sendiri. Rumrum, Dody, dan Mujix, merepresentasikan sebuah ide tentang perilaku-perilaku yang ‘Indonesia Banget’. Tentunya, menggiring tawa namun penuh makna, apakah hal ini akan terus kita biarkan sehingga menjadi sesuatu yang selalu melekat dan tak mungkin lepas?

Terlepas dari kenyataan itu dimana terjadi pertarungan wacana antara kenyataan dan imaji kreatif, komik ini sangat menghibur. Kita tidak bisa mengelak dari satu fungsi komik sebagai bahan bacaan rekreatif. Ketiga seniman komik berhasil melahirkan kembali ide lama menjadi sebuah karya dengan tampilan visual yang unik.

Judul       : Negara 1/2 Gila
Penulis    : Dody-Mujix-Rumrum
Penerbit  : MediaKita
Tahun      : 2013
Tebal      : 92 hal.
Genre      : Komik Indonesia


Cipayung, 28 Agustus 2017

Dilan 3

Aku ingin bercerita kepadamu tentang diriku, karena aku adalah karakter utama di dalam cerita hidupku sendiri. Hidupku adalah ceritaku. Diriku adalah diriku.

Sumber gambar: www.goodreads.com
Buku terakhir dari serial trilogi Dilan karya Pidi Baiq ini hadir dengan judul “Milea: Suara dari Dilan”. Seakan-akan buku ini ingin bicara bahwa isinya adalah sebuah ‘pembelaan’ dari Dilan. Ah, nampaknya terlalu berat bila dinamakan sebuah ‘pembelaan’. Let’s just say this is a clarification. Ya, sebuah klarifikasi dari Dilan. Untuk isi buku pertama dan kedua, sila tengok pranala luar yang ada dalam blog ini. 

Prasangka, betul-betul bisa mempengaruhi keyakinan. Mempengaruhi persepsi dan menimbulkan pikiran negatif.

Jangan heran bila pembaca yang budiman sudah disuguhi quote pendek dari Dilan: “Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu.” Membuat angan-angan pembaca setidaknya lari ke arah pembayangan perpisahan antara Dilan dan Milea. Bukankah dalam buku kedua hal itu sudah ditengarai oleh Milea?

Saya setuju bila buku ini adalah sebuah klarifikasi dari Dilan, sang penutur utama. Dilan memberikan semua penjelasan mengenai semua yang sudah ia lakukan bersama Milea, termasuk semua yang sudah dituturkan Milea dalam buku terdahulu. Klarifikasi yang Dilan berikan dimaksudkan agar pembaca yang budiman sekalian dapat lebih memahami lebih dari apa yang telah Milea ungkapkan.

Kamu boleh bebas berpendapat tentang diriku, bahkan dengan penilaian yang terburuk sekalipun karena aku percaya, di dalam caranya masing-masing, setiap orang melakukan kesalahan. Dan, setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk dimaafkan.

Saya tidak mau memberi nilai bahwa serial ini adalah sebuah kisah romantis antara sepasang anak manusia yang dirundung cinta. Sekilas mungkin tidak salah bila pembaca berpendapat demikian. Namun, bila dipandang dari sisi biografis, trilogi Dilan-Milea ini tidaklah terlalu salah juga. Pun bila, penulisan yang dirangkai dengan ragam bahasa tutur seperti layaknya membaca sebuah buku harian. 

Jalanilah hidupmu dengan mengacu kepada pikiranmu sendiri tanpa harus memaksa orang untuk berpikir yang sama dengan dirimu.

Saya tidak mengharapkan sebuah kejutan dari buku ini. Bila akhirnya difilmkan, itu urusan lain. Biar Dilan dan Milea hidup sebagai tokoh abstrak dalam khayal semata. Yang jelas, kehadiran sesosok Cika dalam hidup Dilan cukup membawa arah kisah ini ke arah yang seharusnya: Perpisahan.

Judul            : Milea: Suara dari Dilan
Penulis         : Pidi Baiq
Penerbit       : Pastel Books
Tahun           : 2016
Tebal           : 357 hal.
Genre          : Sastra Indonesia - Novel



Cipayung, 25 Agustus 2017

Drupadi

Apakah perempuan diandaikan tidak punya kemauan? Tentu seorang perempuan memiliki kehendaknya sendiri.

Sumber gambar: www.goodreads.com
Kisah tentang Drupadi adalah kisah sejati kodrati seorang perempuan. Sebuah kisah yang menyayat hati karena ketulusan yang suci. Tentulah tidak perlu saya ulang lagi bagaimana kisah Drupadi. Belakangan ini, kisah epik Mahabharata kembali muncul di layar kaca. Sila tengok sendiri jalan ceritanya di bagian Drupadi yang masih berkaitan dengan lakon Pandawa Dadu.

Saya tidak heran jika Seno Gumira Ajidarma kembali menulis tentang sebuah lakon. Sesudah pengemasan kembali kisah epik Ramayana dalam Kitab Omong Kosong, tentunya. Seno sendiri agaknya memainkan wacana tentang hegemoni gender yang diibaratkannya dengan kisah Pandawa dan Drupadi. Seno banyak menggunakan referensi lain yang menambah kekuatan buku ini. Utamanya soal Mahabharata.

Drupadi yang hadir ke tangan pembaca yang budiman adalah Drupadi yang telah melewati sekian banyak riwayat publikasi. Bab 1 hingga bab 4 dimuat secara bersambung dalam majalah mingguan Zaman, 14 Januari-11 Februari 1984. Bab 5 masih dimuat Zaman edisi 22 Desember 1984. Bab 6 hingga 10 ditulis medio 2000. Bab 10 muncul kembali dalam harian Kompas Minggu 7 Januari 2001, Cerpen Pilihan Kompas 2002, dan Senja dan Cinta yang Berdarah (2014). Sedangkan, Bab 6, 7, 8, 9 dimuat pada berbagai harian yaitu Suara Pembaruan, Media Indonesia, Republika, dan Suara Merdeka.

Drupadi tidak menyukai suratan karena kehidupan manusia menjadi tidak berarti tanpa adanya perjuangan. Jika segalanya telah menjadi suratan, apakah yang masih menarik dalam hidup yang berkepanjangan ini? Apakah usaha manusia tidak ada artinya? Apakah memang semua sudah ditentukan seperti nasibnya yang menjadi istri dari kelima ksatria Pandawa? Drupadi adalah sebuah kehendak sekaligus gugatan.

Judul        : Drupadi: Perempuan Poliandris
Penulis     : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit   : Gramedia Pustaka Utama
Tahun       : 2017
Tebal        : 149 hal.
Genre       : Sastra Indonesia - Kumpulan Cerpen


Tangerang, 23 Agustus 2017.

Minggu, 30 April 2017

Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi

Bagaimana caranya menertibkan imajinasi?
 
Sumber gambar: www.goodreads.com
Buku ini mau tidak mau harus dianggap sebagai satu dari sekian masterpiece Seno Gumira Ajidarma. Bukan karena muatan isinya ataupun permainan antara fiksi dan fakta seperti di Trilogi Insiden. "Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi" adalah sebuah kumpulan cerita pendek ringan nan menghibur. Menurut catatan pembuka penulisnya, ia mendapatkan inspirasi dari judul sebuah komposisi musik berjudul 'Jangan Bertepuk dalam Toilet' karya Franki Raden dekade 80-an. 

"Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi" diterbitkan kembali sebagai Edisi Kedua, artinya terdapat perubahan dan tambahan, yaitu sebuah prosa berjudul sama yang berasal dari skenario film televisi berjudul sama pula. Dalam buku ini, pembaca disuguhi dua cerita "Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi". Pertama, prosa yang selesai tahun 2005. Kedua, cerita asli dari tahun 1990 pada penerbitan pertamanya. 

Ceritanya masih sama. Tentang Sophie yang senang bernyanyi di kamar mandi dan membuat geger sebuah perkampungan di Jakarta. Tentu saja tidak ada yang salah dengan Sophie ketika ia memutuskan untuk indekost di kampung itu. Namun, justru imajinasi pada Bapak-bapak penghuni kampung ditambah kekhawatiran tidak beralasan dari para istri mereka membuat cerita ini semakin asyik diikuti. Konteks kehidupan sehari-hari di gang yang kumuh dengan segenap problematika khas kaum pinggiran Jakarta jadi bumbu yang menarik sebagai pelengkap cerita.

Lebih jauh, buku ini juga mengajarkan pembaca tentang keabsahan sebuah kebenaran. Suatu hal bisa dianggap sebagai kebenaran bila diakui oleh banyak orang. Artinya, sesuatu hal yang belum tentu benar bisa menjadi sebuah kebenaran tak terbantahkan hanya bila sudah jadi kehendak umum, bukan melalui hipotesis yang teruji.  Kebenaran para istri yang merasa suaminya semakin dingin setelah kedatangan Sophie yang sering menyanyi  di kamar mandi itu kemudian menjadi sebuah pembenaran untuk 'pengusiran' Sophie. 

Realitas seperti inilah yang justru akhir-akhir ini sering kita alami. Betapa nasib kita seringkali ditentukan oleh orang banyak tanpa alasan yang masuk akal. Kalau menyanyi di kamar mandi saja yang notabene ruang privat kita sudah dilarang lalu bagaimana dengan hak-hak kita yang lain? Perlukah juga dibatasi oleh sebuah kehendak umum?

Cerpen lain yang dimuat dalam buku ini masih tergolong dalam cerita yang ringan dan kadang absurd. Tentang seorang kakek yang duduk di tepi sungai bersama cucunya, tentang Sukab yang dipipinya ada jejak bibir yang merah basah, cerita satir soal urusan hari seperti dimuat dalam 'Mestikah Kuiris Telingaku Seperti Van Gogh'. Absurditas Seno nampak dalam cerpen 'Kriiiiiiiinngngngng!', 'Lambada', Guru Sufi Lewat', dan 'Segi Tiga Emas' yang lebih terlihat sebagai cerita pewayangan. Cerpen yang justru agak realis adalah 'Duduk di Depan Jendela', 'Midnight Express', dan ' Seorang Wanita di Sebuah Loteng'.

Judul        : Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi
Penulis        : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit    : Galang Press
Tahun        : 2006
Tebal        : 220 hal.
Genre        : Sastra Indonesia-Kumpulan Cerpen

 
Cipayung, 25 April 2017.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...