Tampilkan postingan dengan label perubahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perubahan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 November 2018

6 November

6 November, setiap tahun selalu saya peringati sebagai hari “debut” saya di Jakarta. Saya mendapatkan pekerjaan yang sesuai kontrak akan dimulai pada tanggal 6 November, satu dekade yang lalu. Tanggal yang sama dengan debut Alex Ferguson di Manchester United. Mengapa kemudian “debut” di Jakarta ini menjadi sesuatu yang spesial padahal saya sudah resmi bekerja dan dibayar sejak beberapa bulan sebelumnya di Bandung adalah satu hal yang setiap tahunnya selalu saya pikir ulang-untuk tidak menyebutnya sebagai renungan.

Image result for 6 november
Courtesy: clker.com
Saya tidak tahu kenapa “debut” di Jakarta adalah sesuatu yang spesial. Padahal seharusnya hari yang spesial itu adalah saat saya menerima gaji pertama saya sebesar Rp. 150.000,- medio 2006 silam. Saya sudah lupa kapan kejadian istimewa itu karena Bapak saya sempat kecewa pada saya. Menurut beliau, jumlahnya sangat tidak masuk akal untuk hidup sebulan namun bukankah kata Tuhan, kalau engkau bersyukur maka akan Aku tambahkan nikmatmu?

Lagi-lagi saya tidak paham benar mengapa Jakarta itu selalu spesial? Apakah karena saya terlalu silau pada cahaya pantul matahari di segenap pencakar langit Jakarta? Atau itu hanya sebuah mimpi artifisial dari seorang anak kampung yang mengidamkan sebuah kehidupan megah di cakrawala metropolitan? Saya sendiri heran mengapa perasaan untuk pergi ke Jakarta selalu ada setelah lulus kuliah. Saya merasa harus “keluar” dari rumah.

Menjalani “debut” di Jakarta memberi saya banyak pelajaran. Tidak perlu saya sebut disini satu per satu. Yang jelas, saya jadi semakin tahu apa artinya pulang, pulang ke Bandung. Pulang pada sebuah perasaan nyaman, pulang pada sebuah keadaan tenteram, pulang pada kerinduan.

Sampai saat tulisan ini dibuat, saya sendiri masih mencari tahu mengapa pindahnya saya ke Jakarta menjadi sebuah tonggak yang selalu saya ingat. Saya masih mencari penjelasan tentang mengapa hal ini bisa menjadi sejarah. Saya tidak tahu pasti. Saya menjalani apa yang saya hadapi, ketika kemudian takdir mengantarkan saya kemana pun. Sebuah perjalanan dimulai karena sebuah alasan pencarian. Saya kira itu.


Cengkareng, 7 November 2018.

Selasa, 29 November 2016

ABG (Adaptif Besar Gesit)

Saya mendapatkan buku ini sebagai kenang-kenangan dari PT. GMF AeroAsia (GMFAA). Setahun lebih buku ini hanya jadi penghias di meja kerja saja. Beberapa minggu yang lalu saya membuka kembali buku ini. 

Courtesy: defora.info
  
Ekspektasi saya waktu itu cukup besar, saya berharap menemukan konten yang mirip buku "Change!" dari Rhenald Kasali. Ada beberapa contoh tentang transformasi dan implementasi perubahan pada organisasi, secara struktural, konseptual, dan habitual. Buku ini cukup unik karena merupakan suatu karya kolaborasi antara Consulting Firm dengan kliennya.

Harapan saya diawal tadi ternyata tidak terlampau jauh, buku ini mengcover bagaimana strategi GMFAA dalam menyambut dan merebut peluang bisnis yang amat besar dengan berbagai praktek implementasi transformasi. Tentunya, konten semacam ini masih berkaitan erat dengan perubahan atau turnaround suatu perusahaan. Lebih jauh, hal ini diperlukan untuk memastikan eksistensi dan sustainity dari suatu perusahaan ditengah kondisi pasar yang terintegrasi, konvergensi teknologi digital, perkembangan e-commerce, dan hadirnya kekuatan baru knowledge economy.

Membaca judulnya saja, buku ini menyiratkan segenap usaha GMFAA untuk semakin adaptif dengan bisnis dan pasarnya, semakin besar menjadi market leader, dan semakin gesit mengantisipasi tantangan serta menyambut peluang.

Terus terang, untuk genre manajemen dan bisnis, buku ini cukup lengkap tapi sedikit membosankan. Membosankan karena pengulangan istilah-istilah yang sama dan terus menerus, hal baiknya adalah denganr epetisi ini diharapkan para eksekutif di segmen pembaca dapat memahami dan mengerti proses transformasi perusahaan, sejak mulai perencanaan, eksekusi, implementasi, dan evaluasi.

Judul      : Adaptif Besar Gesit
Penulis   : Hendrik Lim, MBA
Penerbit  : Defora Publisher
Tahun     : 2013
Tebal      : 299 hal.
Genre     : Bisnis & Manajemen
 

Medan Merdeka Barat, 20 November 2016.






Senin, 31 Oktober 2016

Episode Dibuang Sayang: Twitterature

Courtesy: www.twitter.com

Konektivitas Digital

Dalam lima tahun belakangan ini, bermunculan macam-macam media jejaring sosial. Perkembangannya yang pesat turut membuka akses yang lebih mudah untuk menggunakannya. Hal ini memberikan cara baru kepada kita untuk berinteraksi dengan sesama tanpa terbatasi oleh ruang dan waktu. Media jejaring sosial bekerja sesuai prinsip-prinsip dasar Web 2.0 yang berbasis pada user-centric communication dan user-generated content. Sehingga, isi pesan yang dikomunikasikan bukan lagi mass produced messages yang dibuat oleh media massa secara umum melainkan melalui interaksi dan kolaborasi user (pengguna) di dalam media tersebut. 

Pengaruh media jejaring sosial telah mengubah cara kita dalam berinteraksi dengan sesama, bagaimana kita mendapatkan informasi, dan juga turut mempengaruhi dinamika kelompok sosial dan hubungan pertemanan kita. Kini, banyak pengguna internet yang memanfaatkannya sebagai alat sosialisasi.

Media jejaring sosial juga mempengaruhi kita dalam mendapatkan informasi dan berita. Diversi komunikasi dalam media jejaring sosial melalui portal berita berbeda. Dewasa ini, sangat mudah untuk jadi bagian dari suatu media jejaring sosial. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan informasi. Tidak ada batasan tentang apa yang bisa kita peroleh. Kedengarannya seperti hal yang bagus sekarang ini, tapi ini menunjukkan bahwa kebanyakan orang tidak bisa hidup dan menghindar dari media tersebut.

Media jejaring sosial menyediakan perangkat yang bisa digunakan untuk berkomunikasi, saling berbagi dan bertukar informasi, dan menciptakan hubungan-hubungan baru baik dalam kehidupan personal maupun profesional. Dengan popularitas media jejaring sosial yang semakin meningkat dan kemajuan yang pesat dalam perkembangan teknologi komunikasi turut mempengaruhi cara kita dalam berinteraksi sosial.

Kemajuan yang pesat juga dialami oleh industri telekomunikasi. Kemajuan tersebut membawa pengaruh yang sangat besar, yaitu dengan terbukanya akses kepada masyarakat untuk lebih dapat menikmati fasilitas teknologi komunikasi. Kemudahan akses juga menyebabkan perubahan yang signifikan dalam pemanfaatan teknologi komunikasi. Walaupun internet mampu menghubungkan jutaan manusia dan telah mengubah metode percakapan tradisional yang sudah sering kita lakukan, melalui tatap muka langsung misalnya. Perubahan dalam interaksi sosial ini tidak selalu positif atau negatif. Perubahan ini mengembangkan beberapa medium berbeda yang memungkinkan kita untuk berkomunikasi dan selama kita masih bisa bertatap muka langsung dalam kehidupan sosial kita sehari-hari, kita bisa mendapatkan keseimbangan diantara keduanya.

Sebagai bagian dari Web 2.0, media jejaring sosial berpengaruh terhadap cara kita berinteraksi dengan sesama melalui perubahan dalam dinamika kelompok sosial dan pertemanan. Media jejaring sosial turut menyumbang devaluasi dalam nilai pertemanan. Nilai-nilai hubungan tradisional yang berkaitan dengan kepercayaan dan dukungan. Media jejaring sosial menciptakan model baru dalam interaksi sosial dan pertemanan. Seiring dengan pertumbuhan lingkar sosial masyarakat, hubungan pertemanan digital tidak sekuat ikatan pertemanan tradisional di dunia nyata. Walaupun mampu membedakan dinamika pertemanan yang demikian itu, media jejaring sosial membantu kita menciptakan hubungan pertemanan yang baru dan menambah interaksi sosial.

Banyak efek yang ditimbulkan oleh media jejaring sosial baik positif maupun negatif. Tidak ada tuntutan untuk fokus terhadap efek negatif maupun efek positif media jejaring sosial. Hal itu bergantung kepada penggunaan media jejaring sosial itu sendiri, nilai-nilai yang berlaku di masyarakat sekitar, dan keduanya tentu saja berbeda untuk masing-masing orang.

Twitter dan Sastra

Twitter memungkinkan penulis untuk menjelajah ruang yang lebih luas dalam imajinasi pembacanya. Twitter mampu menghadirkan tokoh-tokoh rekaan penulis menjadi entitas yang hidup. Twitter menghidupkan kembali tokoh-tokoh fiktif ciptaan penulis untuk kemudian menjadi anasir yang nyata. Tokoh-tokoh yang semula hanya mampu diimajinasikan pembaca melalui teks bacaan kini menjadi realitas yang memiliki wujud dan entitasnya sendiri. Demikian adanya sehingga tidak terlalu salah untuk mengambil kesimpulan dan menyebutnya sebagai “Twitterature”. Gabungan dari kata “Twitter” dan “literature” yang membentuk makna sebagai sebuah “New Creative Outlet”.

Twitterature adalah istilah yang pertama kali dipopulerkan lewat majalah TIME (http://content.time.com/time/magazine/article/0,9171,1993863,00.html). Dalam artikel di halaman web Majalah TIME, twitterature diartikan bebas sebagai satu usaha untuk menghidupkan kembali penulis, tokoh-tokoh rekaan ciptaan penulis, hingga isi dari karya mereka, ke dalam suatu bentuk realitas. Kenyataan tersebut mendorong munculnya penggunaan istilah ini untuk merujuk pada suatu karya sastra yang dimunculkan kembali melalui Twitter dan merujuk pada karya aslinya. Sejarah sastra adalah juga tentang penggunaan media itu sendiri. Sejak ditemukannya papirus hingga media sosial berbasis teknologi web seperti dewasa ini.

Sangat memungkinkan untuk menghidupkan kembali karya-karya penulis-penulis terkenal seperti Pablo Neruda, Ernest Hemingway, maupun Shakespeare. Proses menghidupkan kembali yang dilakukan oleh sekelompok orang melalui akun Twitter dengan nama para penulis itu. Karya-karya mereka kemudian direproduksi kembali menjadi twit yang hanya 140 karakter itu. Hal yang tentu menimbulkan beragam reaksi dari pembacanya. Sebagai pembaca sastra, Twitterature tentu sangat membantu mereka untuk mengobati kerinduan atas karya-karya penulis hebat itu.

Di Indonesia sendiri, dalam pengamatan yang masih terbatas, sudah terbit beberapa buku yang mencirikan hal tersebut (Twitterature). Awalnya, Kicau kacau penulis galau si Indra Herlambang, kumpulan @sajak_cinta, twittit Djenar Mahesa Ayu, and now Twivortiare. Realitas fiksi semakin diuji ketika tokoh2 fiktif itu dihidupkan. AFAIK, @alexandrarheaw did it well. Menghidupkan tokoh fiksi dari Twivortiare sehingga menarik pengalaman pembaca untuk benar-benar terlibat dalam dunia fiksi yang dibangun oleh frame set and field of experience dari Divortiare-Twivortiare. Ini menandakan babak baru dalam kehidupan sastra Indonesia. 

Konektivitas digital telah mengubah cara kita dalam berkomunikasi. Komunikasi yang sederhana kini menjadi lebih kompleks dengan hadirnya media jejaring sosial. Media yang tumbuh pesat karena pada dasarnya mengakomodir kebutuhan dasar manusia yang berhubungan ego, emosi, dan eksistensi. Pemenuhan kebutuhan akan afeksi, rekognisi, dan apresiasi turut menjadikan media jejaring sosial sebagai suatu fenomena. Terutama bila dihubungkan dengan dampak yang ditimbulkannya. Sudah banyak kita saksikan Revolusi Sosial yang terjadi di beberapa negara Timur Tengah. Hal itu menunjukkan efektivitas dari media tersebut.

Komunikasi yang sejatinya adalah proses personal. Suatu proses penyampaian pesan dari individu kepada individu lainnya melalui suatu medium kini kembali menjadi lebih personal. Media sosial seperti Facebook dan Twitter adalah contohnya. Lewat medium tersebut, setiap individu bebas berkomunikasi dan berinteraksi dengan siapa saja, dengan yang dikenal ataupun tidak dikenal sekalipun. Seperti apa yang dikonsepkan dalam Web 2.0.

Belum lagi kehadiran media sosial yang lebih spesifik terhadap satu topik tertentu. LinkedIn misalnya, yang menghubungkan individu dengan individu lainnya berdasarkan aktivitas profesional mereka. Lihat juga, Goodreads dan Flixster. Goodreads adalah semacam 'surga' kecil bagi pecinta dan penikmat buku. Mereka bisa berjejaring dengan dunia perbukuan melalui apa yang mereka baca. Sedangkan Flixster bekerja hampir mirip dengan Goodreads. Hanya saja, Flixster menggunakan film sebagai objeknya.

Kehadiran media sosial membawa kita pada konektivitas global. Dimana ruang dan waktu tidak lagi menjadi hambatan untuk saling berinteraksi. Jarak hanyalah tinggal hitungan angka-angka belaka. Ketika mulai tergantikan oleh media-media komunikasi alternatif.

Kehadiran media sosial tidak hanya berdampak pada perubahan cara berkomunikasi. Perubahan juga nampak pada dunia sastra. Interaksi antara penulis, pembaca, dan penerbit menjadi lebih personal. Media sosial menjadi sarana dokumentasi yang efektif bagi para penulis untuk menyalurkan idenya. Dengan kemampuannya yang demikian itu, media sosial dengan segala kompleksitasnya menjelma menjadi mesin rekam berkemampuan super. Proses termu balik yang terjadi melalui sosial media membuat siapapun tidak akan pernah kehilangan jejaknya di dunia maya.

Twitter telah menjelma menjadi alat komunikasi yang efektif. The communication is getting personal (again). Twitter juga telah bertransformasi menjadi sarana dokumentasi yang efektif. Fenomena ini bukan isapan jempol belaka. Bahkan, fenomena ini akan bertahan setidaknya untuk lima tahun ke depan.

Tidak heran apabila Twitter adalah tren yang happening saat ini. Semua orang ingin tahu. Semua orang ingin menggunakannya. Semua orang ingin eksistensinya diakui.

Twitter juga seakan menghidupkan tokoh-tokoh dalam karya fiksi. Contoh: @alexandrarheaw, @harrisrisjad, @lupustwit @luluadiklupus. Twitter menambah semarak khazanah jagad sastra Indonesia. Twitter menjadikan batas antara fiksi dan fakta sedikit membias. Ketika fiksi dihadirkan dalam bentuk virtual yang menyerupai kenyataan. Personifikasi fiksi dalam realita membentuk wujudnya sendiri. Twitter membuat para tokoh fiktif itu seakan hidup. Mereka hidup tanpa kehilangan sedikitpun karakter dari cerita fiksi itu sendiri.  Mereka benar-benar ada. Mereka akan tetap hidup dan terus tumbuh layaknya makhluk non-fiktif. 

Sastra sendiri, dimana lebih banyak hidup dalam pikiran pembacanya menyediakan ruang untuk itu. Ruang imajinasi seluas-luasnya untuk menjelajahi petualangan alam pikiran. Sastra tidak menutup kemungkinan bagi pembacanya untuk mengalami sendiri pengalaman menikmati fiksi dalam realita. Apakah sama bedanya antara fiksi yang dihidupkan dalam kenyataan? 

Gairah dalam penciptaan karya sastra membutuhkan media dokumentasi yang baik, aksesibel, dan efisien. Utamanya, bukan karena masalah karya itu sendiri melainkan alasan dokumentasi. Dokumentasi yang menjadikan sebuah karya itu ada dan bisa diapresiasi khalayak. Dokumentasi pikiran, itulah alasan utama. Sekali lagi, karena sastra hidup dalam pikiran dan juga dihasilkan dari pikiran penulisnya.

Sebagai contoh, karakterisasi Beno dan Alexandra dalam Twivortiare. Twivortiare sendiri merupakan sekuel dari Divortiare. Penggemar karya-karya Ika Natassa tentu akan mampu untuk meresapi perbedaan diantara keduanya. Istilah “Twitterature” pun pertama kali saya dapat dari bagian pembuka Twivortiare.

Karakterisasi yang dimaksud adalah bagaimana tokoh Alexandra dan Beno yang secara faktual telah hidup melalui teks (Divortiare) bertransformasi dalam personifikasi user di Twitter. Alexandra menjelma menjadi karakter yang ‘hidup’ dan seakan berada dalam lingkungan kenyataan sehari-hari. Personifikasi karakter ini membuat imajinasi pembaca semakin diasah. Pembaca pun dibuat penasaran dengan kisah-kisah selanjutnya karena Alexandra akan tetap hidup dengan twit-twit yang dibuatnya. Hal ini menjadikan tidak lantas menjadikan ending dari cerita dalam teks (buku Twivortiare) menjadi stagnan. Justru, dengan personifikasi seperti ini penulis mempunyai ruang gerak dinamis untuk eksplorasi tokoh-tokohnya.

Contoh lainnya adalah Lupus. Siapa yang tidak kenal dengan tokoh anak muda yang satu ini. Pemilik rambut jambul kakaktua yang jago ngocol itu. Dalam konteks kekinian, serial Lupus yang hadir kembali di Tabloid Gaul, menyapa kembali pembacanya di Twitter. Siapa yang tidak kangen dengan Anto, Gusur, Boim, dan Fifi Alone. Pembaca setia Lupus pasti sangat merindukan kehadiran mereka. Kini, mereka dapat berinteraksi langsung dengan pembacanya. Interaksi yang berlangsung dalam siklus tersebut membuat tokoh-tokoh rekaan itu menjadi hidup dan seakan-akan memang ada. 

Impact lainnya terhadap sastra adalah pengembangan dari dokumentasi karya sastra itu sendiri. Sebagai contoh, Twittit dari Djenar Maesa Ayu. Kumpulan cerpen terbaru yang dikembangkan dari twit-twit sang penulis. Mirip dengan buku kumpulan cerpen 25 Tahun Kahitna. Bedanya, Kahitna menjadikan judul-judul lagu mereka sebagai judul cerpen untuk kemudian dikembangkan oleh penulis-penulis sahabat Kahitna. Sedangkan, Djenar merekonstruksi twit  yang pernah ditulisnya ke dalam suatu bentuk cerpen yang utuh.

Dari beberapa contoh diatas, tidaklah terlalu salah untuk menarik kesimpulan bahwa sastra Indonesia telah mengalami suatu proses dinamika dalam dialektika dengan pembacanya. Kini, suatu karya sastra tidak hanya bersumber pada catatan teks yang tertulis saja (baca: tercetak). Kehadiran media sosial telah mengembangkan sastra itu sendiri. Sehingga, penulis mempunyai ruang jelajah imajinasi serta dokumentasi yang lebih tersusun rapi, dan sangat mudah untuk melakukan penelusuran kembali (retrieval) atas jejak rekam karyanya.

Dengan demikian, kita masih akan berhadapan dengan wacana ini setidaknya dalam lima tahun ke depan. Komunikasi akan berlangsung semakin intens antara pembaca dan penulis. Karya-karya sastra baru akan bermunculan karena kemudahan akses penulis terhadap dokumentasi karyanya di media sosial. Bahkan sangat tidak mungkin suatu saat nanti media sosial itu bertransformasi menjadi karya sastra itu sendiri.

April 2012
Esai ini dibuat untuk sebuah kompilasi, terbit atau tidak penulis sudah lupa

Jumat, 29 Mei 2015

Slilit Sang Kiai

Courtesy: www.caknun.com

Saya agak keheranan waktu pertama kali menjumpai buku Emha dengan judul seperti ini. Tadinya, saya pikir slilit milik Sang Kiai ini punya kesaktian atau makrifat. Entah digunakan untuk apa. Barulah saya pahami kemudian ketika benar-benar membaca tulisan yang diangkat jadi judul seluruh buku ini. Ternyata, gara-gara slilit seorang Kiai batal masuk surga.

Begini ceritanya. Seorang Kiai telah makan daging di sebuah kenduri, waktu itu ia sibuk meladeni orang yang ingin bersalaman dengan dirinya, ia tak sempat untuk menyingkirkan slilit daging di giginya. Dalam perjalanan pulang ke rumah, Pak Kiai mengambil seujung potongan bambu dari pagar tetangganya untuk membuang slilit daging di gigi Pak Kiai, layaknya tusuk gigi.

Kemudian, Pak Kiai meninggal dunia. Lalu ada seorang santri yang mimpi bertemu dengan Pak Kiai yang tertahan di pintu surga. Dalam mimpinya Pak Kiai berkata, "Dosa-dosaku telah Allah ampuni kecuali satu. Aku tidak sempat meminta izin pemilik rumah untuk mengambil sedikit dari bambunya untuk kujadikan tusuk gigi. itu membuatku sangat repot di alam kubur."

Tulisan ini punya muatan pesan yang amat dalam. Betapa slilit yang remeh itu telah merepotkan seorang Kiai yang selalu dipersepsikan mudah menggapai surga. Betapa hal kecil yang amat remeh pun ternyata dapat menghalangi kita dari jalan kebaikan bila diperolah dengan cara yang tidak benar dan tidak disukai Allah SWT. Bayangkan saja bagaimana runyamnya para koruptor dan para maling duit rakyat ketika menghadapi hari penghisaban.

Dari kisah tersebut, kemudian Emha menjelaskan perkara-perkara lainnya semacam itu yang tidak saja melulu habluminallah tetapi juga habluminannas. Tulisan Emha muncul dengan cermat dan cerdas dalam menganalisa etika sosial yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 

"Slilit Sang Kiai" hadir kembali dalam wujud cetak ulang setelah lahir pertama kali pada tahun 1991. Buku ini tetap memiliki nilai relevansi yang tinggi dengan kondisi saat ini. Bagaimanapun adanya, kehidupan ini tidak bersifat parsial-statis tetapi kontekstual dinamis. Walaupun sudah tidak lagi aktual, namun nilai kontekstualnya tetap terjaga. 


Judul        : Slilit Sang Kiai
Penulis     : Emha Ainun Nadjib
Penerbit   : Pustaka Utama Grafiti
Tebal        : 243 hal.
Tahun       : 1991
Genre       : Sosial-Budaya


Pharmindo-Medan Merdeka Barat, 29 Mei 2015.

Rabu, 09 April 2014

Today, I Vote!

Pemilihan umum telah memanggil kita
Seluruh rakyat menyambut gembira


Seperti mars Pemilu masa orde baru, akhirnya hari Rabu, 9 April 2014 ini benar-benar tiba. Hari penentuan bagi kelanjutan fungsi legislatif sebagai bagian dari tias politica dianut Republik ini. Segala macam dan rupa pencitraan demi meraih dukungan dan menggaet suara pemilih telah tiba pada muaranya.  Suara anda menentukan masa depan bangsa. Kira-kira begitulah simpulan halus himbauan negara agar seluruh warga negara mau ikut berpartisipasi.


Sebagai warga negara yang bertanggungjawab, sudah menjadi kewajiban saya untuk memberikan suara pada hajatan rutin lima tahunan ini. Saya masih ingat pada hari Pemilu pertama saya tahun 2004 lalu ketika kami, para pemuda komplek, mencoblos partai yang kami yakini sebagai ‘Messiah’, juru selamat dari zaman kalabendhu, zaman penuh kekacauan dalam cerita Panji Koming. Saya cukup optimis dengan apa yang saya pilih walau kemudian saya dibuat kecewa juga.

Keadaan yang kurang lebih sama masih dialami hingga hari ini. Kekecewaan atas segala ketidakberesan di negeri ini menjadi hesitansi sendiri bagi pemilih, terutama dari kalangan menengah baru (growing middle class). Ancaman golput masih terus membayangi dan akan selalu ada dalam setiap Pemilu. Keengganan juga muncul kala pemilihan langsung caleg kali ini karena pemilih ‘dipaksa’ mengenali calon yang akan mewakilinya. Tidak jarang saya mendengar celoteh kawan-kawan yang memilih untuk tidak memilih karena tidak ingin bertanggungjawab atas tindakan caleg-caleg yang nantinya bobrok-bobrok juga saat duduk di kursi legislatif.

Saya pun sepenuhnya sadar, bahwa tidak ada jaminan bahwa partai atau caleg yang kita pilih hari ini akan membawa perubahan berarti dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sama dengan tidak adanya jaminan atas sholat, puasa, dan ibadah lainnya yang saya lakukan diterima Allah SWT, jaminan apakah saya masih bernafas pada detik yang ke-75.241 hari ini. Tidak ada jaminan juga  apakah pilihan saya nanti membawa manfaat atau mudharat.

Bukankah dalam agama pun kita telah dididik untuk selalu berpikiran positif dan berprasangka baik. Apa yang kita pikirkan, apa yang kita lihat, belum tentu seperti yang ada di pikiran kita. Tugas saya adalah memilih calon legislatif yang memang sudah siap lahir-batin untuk duduk mewakili konstituennya. Apabila nanti mereka bertindak diluar apa yang diamanahkan, itu sudah bukan urusan saya lagi. Biar itu jadi urusan mereka dengan Tuhannya saja.

Yang jelas, saya punya hak untuk ikut bersuara bila para wakil rakyat itu mulai bertingkah karena saya ikut memilih. Lebih baik mana, kecewa karena ikut memilih, atau sama-sama kecewa padahal tidak ikut memilih. Saya lebih memilih opsi pertama karena saya bertanggungjawab atas pilihan saya.


Pharmindo, 9 April 2014.

Minggu, 02 Januari 2011

Welcoming 2011: New Year, New Life

Selamat tahun baru 2011 di 1432 H,
semoga selalu membawa berkah,
have a blessed year,
mohon maaf lahir dan batin...

Kamis, 26 November 2009

Pembangunan dan Perubahan

“Time goes on, people touch and they’re gone…” *)

Bung, masih sadarkah anda bahwa zaman pembangunan masih berlangsung kendati sudah bukan zaman orde baru? Masih sadarkah anda bahwa proses pembangunan secara fisik masih berlangsung di depan mata kita sehari-hari? Masih sadarkah anda bahwa kita tidak bisa lepas dari makhluk yang namanya pembangunan?

Saya baru sadar kemarin, ketika melihat truk molen pengaduk pasir beton hilir mudik keluar masuk komplek. Oh ya, saya lupa kasih tahu Bung kalau saya tinggal di sebuah komplek perumahan di pinggiran kota. Kebetulan dibelakang komplek ini telah dibangun sebuah megaproyek untuk ukuran kota Cimahi. Lahan yang dulunya adalah persawahan dengan hasil yang lumayan kini telah berganti dengan deretan gedung. Tentu bukan deretan gedung seperti di ruas Jalan Thamrin-Sudirman, Jakarta.

Entah sebuah proyek ambisius atau memang program pemerintah proyek ini dinamakan Rusunami. Kurang lebih singkatan dari Rumah Susun untuk Warga Miskin. Walaupun begitu, saya lebih suka menyebutnya dengan sebutan apartemen bukan rusun atawa rumah susun. Saya masih belum bisa membedakan antara rumah susun dengan apartemen seperti yang sedang anda tempati saat ini. Apa karena status peruntukannya lantas rusunami versi pemerintah tidak boleh disejajarkan minimal disamakan penamaannya dengan apartemen megah buatan Agung Podomoro Group? Lain kali kita bahas.

Begitulah Bung. Setiap harinya 3-4 unit truk molen mengantri menunggu giliran untuk melaksanakann tugasnya: menumpahkan adukan semen dan pasir. Pemandangan serupa tentu bukan yang pertama kali saya lihat. Sudah ratusan mungkin ribuan kali saya berpapasan dengan truk molen dengan label perusahaan yang berbeda. Yang membuatnya terasa berbeda kali ini adalah bahwa truk-truk itu kini beroperasi di dekat rumah saya tinggal lalu saya merasa bahwa telah terjadi banyak perubahan. Terutama dalam waktu setahun terakhir ini.

Saya melihat bahwa pembangunan yang kini semakin mendekat dan nampak jelas di mata saya telah membawa dampak yang besar bagi sebagian penduduk di komplek saya. Saya bisa merasakan gairah perekonomian yang akan segera menggeliat dan menuju klimaksnya. Semua terasa lebih dinamis. Berbeda jauh dengan kondisi beberapa tahun ke belakang dimana suasana komplek cenderung lebih statis dan monoton. Pembangunan rusunami itu akan membuka akses yang lebih luas dengan komplek kami sebagai sentral dari pertumbuhannya.

Sementara pembangunan masih terus berlangsung saya mengamati perubahan-perubahan lainnya. Orang tua kami mulai memasuki masa pensiunnya. Sebagian dari mereka ada yang menghabiskan uang pensiunnya dengan naik haji ke Tanah Haram. Ada yang membeli mobil untuk disewakan kembali. Ada yang membeli rumah untuk dikontrakkan kembali. Ada yang membuka warung di teras rumahnya. Ada yang mencari aktivitas rutin di Masjid. Ada yang senang di rumah saja barangkali sambil menghitung jumlah uang pensiun yang masih tersisa.

Kemudian, kami yang seumuran dengan saya dan dengan Bung juga mulai memasuki usia produktif menurut angkatan kerja. Beragam pekerjaan kami jalani. Ada yang jadi kru event organizer, ada yang merantau ke luar kota, ada yang jadi pekerja part-time, ada yang kerja di bank dan gajian setiap tanggal 25, ada yang jadi guru olahraga, ada yang jadi guru TK, ada yang jadi staf marketing dealer motor, ada yang kerjanya di rumah saja-seperti saya ini.

Perubahan lainnya yang bisa dibilang cukup drastis adalah kaum remajanya. Entah karena pengaruh zaman yang semakin maju dengan pembangunannya kini mereka tidak seperti kami ketika remaja dulu. Dengan arus information superhighway membuat mereka lebih cepat belajar dan terbuka terhadap suatu hal. Jangan heran bila Bung menemukan anak SD yang bertanya siapa Miyabi itu. Semuanya jadi antitesis kami dahulu.

Begitulah, generasi-generasi baru terus dilahirkan dan membuat semarak dunia ini. Sama halnya dengan pembangunan yang akan terus jadi tanda perubahan. Tidak ada yang abadi. Perubahan itulah yang abadi.


Salam dari Pharmindo,

Cimahi, 25 November 2009


*) David Foster & Olivia Newton John, “For Just a Moment”, OST. St. Elmo’s Fire

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...