Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 September 2024

Been There, Done That!

Medio 2012 silam, saya dibuat penasaran oleh sebuah buku dengan warna yang atraktif, warna Valentino Rossi-begitu saya menyebutnya. Kalau di sepatu Nike yang pernah saya punya warnanya disebut “Volt”. Saat itu, masih jarang buku self-help dengan warna yang mencolok, sepengalaman saya. Kalaupun ada yang berwarna kuning yaitu 23 Episentrum dari Adenita dan bukunya Billy Boen, Young on Top.

Courtesy: www.goodreads.com

Buku ini sempat menjadi satu contoh tentang bagaimana sebuah ide dituangkan menjadi buku dalam workshop berjudul “Creative Writing” yang diselenggarakan oleh PlotPoint pada tahun 2012 itu juga. Saya mendapat kesempatan untuk mengikuti workshop tersebut sebagai hadiah dari kuis yang saya menangkan di linimasa Twitter. Dulu, dulu sekali sebelum Twitter jadi X!

Kembali ke Been There Done That Got The T-Shirt (BTDTGTTS), saya pikir tadinya buku ini adalah buku self-help biasa dengan tampilan isi yang atraktif dan memudahkan pembacanya untuk mengubah sesuatu dalam hidup mereka. Tadinya! Waktu saya hanya mampir sebentar membuka sedikit halamannya di toko buku dan tidak pernah memasukkan buku ini dalam keranjang belanja.

Saya teringat akan waktu silam itu, maka saya memutuskan untuk membaca dan memiliki BTDTGTTS. Saya menurunkan ego saya kali ini untuk membeli buku bekasnya. Agak sulit memang untuk mendapatkan buku ini dalam kondisi baru. Entah saya saja yang malas untuk browsing di marketplace, I don’t care. I need this book, now!

Apa yang saya dapat setelah berhasil menamatkan BTDTGTTS? Well, I have to say that I’m a little bit sorry for myself. It’s a little bit late for me to know that I have to live your life secara meriah! Saya selalu terpaku pada idiom “Been There, Done That!”. Saya terpana ketika melihat kembali dan berkaca pada pengalaman-pengalaman sebelumnya dimana saya merasa cukup dengan semua itu. Saya pernah siaran radio (walau hanya acara talkshow berdurasi 2 jam), saya pernah merangkap jadi sutradara film-aktor-editor untuk tugas mata pelajaran Sejarah, saya pernah jadi crew untuk event Konser Siti Nurhaliza, saya pernah ini, saya pernah itu, and so on. Padahal, kalau saja saya tidak berhenti dan terpana, mungkin saya sudah menjalani hidup saya to the fullest.

BTDTGTTS bukanlah sebuah textbook tentang bagaimana hidup berjalan seperti ini dan seperti itu. Ia juga bukan sebuah guide untuk menjalani hari-hari ke depan dengan penuh motivasi dan semangat membara. BTDTGTTS adalah sebuah activity book yang tidak terlalu tebal namun butuh usaha untuk memahaminya. BTDTGTTS menuntut pembacanya untuk berpikir kembali seraya mengisi pertanyaan-pertanyaan yang ada didalamnya. Saya sendiri kewalahan untuk menemukan the truest answer untuk semua pertanyaan itu. So, wajar saja mengapa Mbak Gina S. Noer menyarankan buku ini sebagai satu buku yang ‘wajib’ dibaca pada workshop menulis yang sudah saya sebutkan tadi.

BTDTGTTS adalah buku yang ringan namun tidak menghibur. Ia mempertanyakan kembali tentang bagaimana pembaca akan menjalani hidup di masa depan. BTDTGTTS bisa dibaca dari bab manapun. Bila dibaca dari awal, tentu akan lebih baik karena lebih runut. Kalaupun dibaca dari tengah, tidak masalah. BTDTGTTS bukan sebuah kitab yang menuntut selesainya pembacaan bab demi bab. Dibaca dari halaman belakang, juga tidak apa. Bukankah sebuah akhir akan mebawa pada awal yang baru?

Saya tidak pernah bosan untuk membuka kembali buku ini walaupun sudah menamatkannya. Rasanya selalu tepat untuk membuka halaman mana saja. Terlalu banyak kejutan dalam buku ini. Saran saya, tandai bab favoritmu dengan pembatas buku. Penomoran halamannya unik seperti buku BIA dari Yoris Sebastian. Mudah-mudahan tidak terlalu terlambat untuk mengatakan bahwa buku ini keren!

Judul       : Been There Done That Got The T-Shirt (B.T.D.T.G.T.T.S)
Penulis     : Risyiana Muthia, visual oleh Emeralda
Penerbit    : Gramedia Pustaka Utama
Tahun       : 2012
Tebal       : 124 hal.
Genre       : Motivasi, Self-help

Cipayung, 20 September 2024.

Jumat, 20 September 2024

101 Creative Notes and The "3i"

Buku ini sudah lama masuk dalam wishlist saya. Apalagi pada saat Twitter sedang enak-enaknya dipakai di Blackberry device. Entah mengapa, buku ini terlupakan. Lama sekali. Hingga kemarin saya memutuskan untuk mulai membaca lagi. Pilihannya jatuh pada beberapa buku Yoris Sebastian yang sudah lama ingin saya tamatkan. Satu dari mereka ada lah 101 Creative Notes ini.

Courtesy: www.goodreads.com

Seperti kata Yoris, try to avoid your routine. Maka, saya memulai pembacaan buku ini dari notes nomor 55. Lanjut hingga notes paling akhir. Lalu memulai lagi pembacaan dari halaman pembuka hingga bertemu lagi dengan notes nomor 55. Circling. Ya, i am try to avoid reader's habit. Mencoba mengamalkan satu dari sekian jurus kreatif ala Yoris.

IMO, tidak terlalu banyak teks dalam buku ini. Pembacaan terasa ringan dan bisa tamat baca sekali duduk dalam perjalanan pesawat Jakarta-Surabaya. Mungkin, Itulah mengapa judulnya hanya sebatas "notes" saja. Small message but the impact is huge! Memang penataan dan tata letaknya menampilkan sisi kreatif dari sang penulis dan rekan-rekannya yang berkolaborasi. Baik itu berupa gambar, quotes, ataupun screenshot yang dibuat dengan sebuah tablet keluaran well-known and reputable company.

At least, pada pembacaan kali ini, saya mendapatkan insight tentang "3i". Intuisi-Impact-Innovation. Yoris menekankan bahwa intuisi adalah ciptaan Tuhan sedangkan hitungan adalah ciptaan manusia, jadi rasanya tidak terlalu salah untuk percaya pada intuisi. Impact, adalah suatu efek yang diakibatkan dari segala tindakan kreatif kita. Ini perlu dipikirkan dalam ekonomi kreatif. Small efforts with big impacts. Terakhir, innovation. Barangkali saya masih terngiang-ngiang dengan pembacaan buku Yoris lainnya tentang Black Innovation Award (BIA). We have to innovate to embrace the unknown. Semuanya, adalah hal-hal yang perlu saya review kembali untuk menata ulang mindset saya yang sudah kadung rada kusut belakangan ini. #curhat

 

Judul           : 101 Creative Notes
Penulis        : Yoris Sebastian
Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2013
Tebal           : 200 hal.
Genre          : Motivasi


Pajang, 20 September 2024

Kamis, 03 Agustus 2023

Tough Choices: Sebuah Pembukaan

“... life is about the journey, not the destination. The steps along the way are what makes us who we are...” hal. 85


Sumber gambar: www.goodreads.com

Saya pertama kali berkenalan dengan buku ini di suatu perpustakaan sekolah medio 2009. Kebetulan, saat itu seorang siswi sedang membaca sekilas kemudian meminjamnya. Penasaran, akhirnya ketika buku itu dikembalikan, saya lantas mulai membaca sedikit halaman pembuka. Sampulnya menarik dan cukup simple. Sebuah potret seorang perempuan yang nampak masih “perkasa” dengan sisa-sisa kejayaannya. Judulnya pun langsung menimbulkan banyak pertanyaan dalam benak saya.

Buku ini adalah sebuah memoar yang ditulis sendiri oleh Carly Fiorina, mantan CEO Hewlett-Packard (HP). Menarik untuk mengetahui cerita mengenai seorang perempuan yang menjadi pemimpin di sebuah perusahaan besar berskala internasional. Untuk tahu bagaimana latar belakangnya sedari kecil, kisah-kisah dan pergolakan di masa beranjak dewasa, hingga berbagai keputusan yang diambil dalam menjalani serangkaian peristiwa dalam hidupnya.

2013 lalu, pernah sekali waktu saya menemukan buku ini di sebuah toko buku import di bilangan Senayan. Waktu itu, saya tidak punya cukup keinginan untuk menuntaskan pembacaan buku ini. Saya masih punya buku-buku yang belum dibaca dan itu banyak sekali. Keinginan itu muncul kembali ketika saya mulai mengumpulkan daftar wishlist buku yang ingin saya baca di Goodreads, pasca mereka menghapus My Stories di halaman mereka. Saya pun memberanikan diri untuk membeli buku-buku bekas di platform marketplace online shopping, dimulai dengan ‘Seribu Kunang-Kunang di Manhattan’ dan ‘Adam Makrifat’ yang pembaca tentu saja sudah lebih dulu membacanya sebelum tulisan ini.

Saya membeli memoar ini bersamaan dengan buku dari Tina Fey ‘Bossypants’, sebuah memoar yang penuh dengan humor. Saya sengaja menunda ‘Bossypants’ agar dapat fokus menamatkan ‘Tough Choices’ terlebih dahulu. Saya mendapatkan buku ini sebagai buku bekas yang pernah berada dalam rak toko buku yang tahun 2013 lalu saya kunjungi dan harganya tidak dalam kurs rupiah, merupakan pada harga aslinya USD 24,99. Warna kertasnya sudah menguning, kertas sampulnya masih dalam keadaan baik, tidak ada halaman yang rusan ataupun sobek, dan yang paling penting: tidak ada penanda apapun dari pemilik sebelumnya. Anggap saja ini buku baru yang halamannya sudah menua. Hahaha.

Saya selalu menyukai apa yang ditulis Carly Fiorina dalam halaman-halaman awal. I do what i thought was right... My soul still on my own... Kata-katanya seakan menguatkan dan memberi harapan bahwa apa yang kita lakukan adalah hasil pertimbangan kita sendiri dengan segenap pengalaman yang akan kita pertanggungjawabkan.

Sepanjang pembacaan sampai halaman 98, ada banyak hal yang dapat dijadikan pelajaran dan motivasi. Tentang bagaimana menghadapi situasi penuh pilihan, tentang bagaimana mengambil resiko, juga tentang bagaimana berhadapan dengan banyak orang dalam konteks bisnis internasional. Saya merasa mendapatkan banyak insight dari perjalanan yang bahkan belum seperempat buku. Setidaknya, dalam hidup saya yang mulai membosankan ini ada sesuatu yang bisa membuat saya berpikir kembali tentang banyak hal.

Anyway, saya masih harus menamatkan buku ini. Saya selalu merasa harus menamatkan buku ini sejak menemukannya kembali. Saya tidak terlalu tahu sepak terjang dan jejak karir dari si penulisnya. Namun, saya selalu punya alasan untuk belajar memahami kembali bahwa pengalaman adalah guru terbaik.

Pajang, 3 Agustus 2023.

Sabtu, 30 Juli 2016

The 5 Levels of Leadership

Image Courtesy: www.goodreads.com
Satu lagi buku terjemahan milik istri yang menghiasi rak buku kami adalah buku karya John C. Maxwell ini. Saya sendiri sudah familiar dengan nama si penulis karena buku-buku motivasi dari Parlindungan Marpaung. Buku ini agaknya masih bicara soal kepemimpinan. Bagaimana sekelompok orang dalam organisasi bekerja untuk mencapai hasil tertinggi sebagai puncak kesuksesan.

Kepemimpinan yang sejati bukanlah masalah memiliki pekerjaan atau jabatan tertentu. Capailah hasil dan bangun tim yang produktif, agar anda bisa terus mengembangkan diri dalam peran anda sendiri. Anda harus mau membantu orang lain mengembangkan keahlian mereka agar menjadi pemimpin sesuai kemampuan dan kapasitas mereka.

Jika anda memiliki keahlian dan berdedikasi, anda bisa mencapai puncak kepemimpinan. Suatu kondisi dimana pengalaman anda bisa memperluas pengaruh anda, melebihi jangkauan dan waktu anda, untuk keuntungan orang lain.

Bila disingkat, inilah kelima level dalam kepemimpinan.
1. Jabatan, orang lain mengikuti karena keharusan.
2. Perkenanan, orang lain mengikuti karena mereka ingin.
3. Produktivitas, orang lain mengikuti karena apa yang telah anda lakukan untuk organisasi.
4. Mengembangkan orang lain, orang lain mengikuti karena apa yang telah anda lakukan untuk mereka.
5. Puncak, orang lain mengikuti karena jati diri anda dan apa yang anda wakili.

Anyway, ketidaknyamanan akibat proses penerjemahan selalu jadi masalah dalam membaca buku semacam ini. Saya jadi penasaran seperti apa terbitan aslinya. Hal ini cukup penting bagi saya agar mampu menyesuaikan dengan konteks yang dimaksud penulis. Namun, overall buku ini cukup membantu bagi pengembangan diri pribadi maupun pimpinan/pemimpin yang sedang memegang satu otorisasi atas wewenang tertentu.

Judul           : The 5 Levels of Leadership
Penulis        : John C. Maxwell
Penerbit      : PT. Menuju Insan Cemerlang
Tahun          : 2012
Tebal           : 382 hal.
Genre           : Manajemen-Kepemimpinan

Cipayung, 27 Juli 2016.

Analisis Tulisan Tangan

Image Courtesy: www.goodreads.com
Sejauh mana tulisan tangan menggambarkan siapa anda, bagaimana kepribadian anda, bagaimana karakter anda, dan bagaimana konsep diri yang ada tampilkan? Well, buku ini adalah jawaban yang tepat untuk sekian pertanyaan diatas. Ditambahi anak judul ‘Grapho for success’, buku ini rasanya memadupadankan cara menganalisis tulisan tangan dengan segenap materi motivasional.

Saya sendiri belum mempraktekkan apa yang diperintahkan buku ini. Maka dari itu, saya sangat penasaran dengan eksperimen ini. Masalahnya, saya belum punya cukup waktu untuk menulis kembali dari awal, mengikuti petunjuk buku. 

Kalaupun ada tulisan tangan saya yang bisa dianalisa untuk keperluan eksperimen, saya tidak punya pilihan lagi selain draft surat cinta yang saya tulis untuk sebuah lomba menulis. Dulu, belum ada istilah ‘baper’ (bawa perasaan-red) sehingga rasanya sah bagi saya untuk melupakan segala kejadian setelah ditulisnya surat cinta itu.

Seperti layaknya buku-buku motivasional praktis, buku ini berniat membantu kita untuk menemukan kelebihan dan kelemahan diri kita. Dengan begitu, kita akan  mampu memformulasikan tindakan dan reaksi apa yang akan kita lakukan dalam konteks interaksi sehari-hari. Namun, dengan adanya skill analisis tulisan tangan, setidaknya buku ini tidak akan membuat anda menghabiskan waktu dengan percuma. Anda akan belajar banyak. Tentang diri anda, tepatnya.

 
Cipayung, 27 Juli 2016.

Senin, 04 April 2016

Leaving Microsoft Like a John Wood

Courtesy: www.goodreads.com

“Setelah manusia menghasilkan banyak uang, dia biasanya menjadi pendengar yang buruk.”
- John Wood

Membaca buku ini bagaikan menjalani sebuah petualangan. Petualangan tentang semua kemungkinan yang dimungkinkan oleh hidup ini sendiri. John Wood telah meninggalkan semua yang ia punya; harta; karir yang fantastis; yang ternyata tidak kunjung membuatnya bahagia. Sebuah lompatan kecil dalam hidupnya telah menjungkirbalikkan semua dunianya.

John Wood adalah seorang pekerja kerah putih yang memiliki karir cemerlang di Microsoft. Lewat sebuah email dari temannya dan perjalanan ke Nepal telah membukakan matanya sehingga ia melakukan apa yang ingin dan harus ia lakukan. Meninggalkan Microsoft adalah hanya satu fase yang harus dilaluinya. Selanjutnya, ia merangkai impian dari satu hal yang kecil untuk banyak hal besar.

John Wood mendirikan 'Room to Read' sebagai non-governmental organization/lembaga non-pemerintah yang tadinya bertujual untuk membantu sebuah sekolah di Nepal. Dari satu sekolah, 'Room to Read' semakin mendapatkan kepercayaan dari para donatur dan berhasil memberikan dampak nyata bagi lebih dari 1,3 juta anak-anak yang tersebar di belahan Asia dan Afrika. 'Room to Read' berperan nyata dengan membangun sekolah, laboratorium komputer, dan perpustakaan; menerbitkan judul bahasa lokal untuk buku anak dan memberikan beasiswa bagi anak-anak perempuan.

Inilah satu dari sekian kisah filantropis sejati yang inspiratif.


Judul        : Leaving Microsoft to Change The World
Penulis     : John Wood
Penerbit    : Bentang Pustaka
Tahun       : 2007
Tebal        : 368 hal.
Genre       : Memoar


Medan Merdeka Barat, 4 April 2016.

Rabu, 10 Februari 2016

Top Words

Don’t tell me sky is the limit because there’s already foot steps on the moon 
– Calvin Kizana

Courtesy: www.goodreads.com

Katanya, pengalaman adalah guru yang terbaik. Namun, bila harus menunggu pengalaman pribadi, berapa lama kita akan mendapatkan pelajaran dan hikmah itu? Beruntung, Billy Boen mau menulis 21 kisah inspiratif dari orang-orang muda yang impactful serta berkontribusi positif dan nyata bagi lingkungan di sekitarnya. 

Billy Boen merangkum kisah sukses dan perjalanan karir mereka. Kontributor dalam buku ini adalah bintang tamu yang sengaja dipilih dan dihadirkan oleh Billy Boen dalam acara radionya dalam kurun waktu 2009-2011. Beberapa nama barangkali sudah tidak asing lagi bagi pembaca, sebut saja Andrew Darwis, founder Kaskus Network dan Yoris Sebastian, Chief Creative Officer OMG Creative Consulting. 

“Top Words” berisi kisah-kisah inspiratif tentang bagaimana cara memimpin, cara berpikir, dan memiliki karakter-karakter pemenang. Maklum saja, mayoritas para kontributor ini adalah pemimpin di organisasinya masing-masing. Cakupan bidang industri mereka pun cukup luas, dari mulai industri fast-moving goods, media, dealership, digital creative media, food and beverages, hingga consulting firm. Dengan begitu, Billy Boen telah menyajikan hidangan ‘siap saji’ berbagai varian menu untuk kita nikmati.

 Membaca pengalaman orang lain dengan cara “Top Words” adalah bentuk pembelajaran yang paling cepat, murah, dan efektif. Kita dapat belajar dengan cepat bahwa orang-orang sukses memiliki determinasi tinggi pada tujuan yang ingin mereka capai. Selain itu, nilai-nilai yang bersifat personal seperti rendah hati, willingness to learn, dan kreativitas menjadi nilai tambah yang cukup kontributif.

Personally, saya suka sekali kutipan diatas dari Calvin Kizana, CEO PT. Elasitas Multi Kreasi. Seakan mengingatkan bahwa pencapaian itu harus selalu lebih tinggi. The sky is not the limit, karena sudah ada tapak jejak manusia di bulan. Itu pun kalau teori konspirasinya dilupakan sejenak, barangkali.

Judul    : Top Words
Penulis    : Billy Boen
Penerbit: B-First
Tahun    : 2013
Tebal    : 194 hal.
Genre    : Motivasi

Cipayung, 9 Februari 2016.

Senin, 28 Desember 2015

Practical Intuition

Intuisi adalah perangkat yang lebih "kuat" jika ia tidak hilang di antara komponen-komponen lainnya dalam proses pengambilan keputusan. (Hal. 98)



Awalnya, saya termasuk orang yang skeptis terhadap kemampuan intuitif. Namun, sejauh pengalaman ternyata ada banyak peristiwa yang merubah cara pandang saya terhadap intuisi. Saya pernah sangat menyesal atas keterlambatan saya dalam mengurus beasiswa dari salah satu BUMN padahal saya sudah mewanti-wanti diri sendiri agar melakukan beberapa hal antisipatif agar tidak kehilangan peluang beasiswa tersebut. Karena saya kemudian mengabaikan hal-hal tersebut maka saya pun kehilangan kesempatan. Sejak kejadian itu, saya mulai perlahan untuk melatih intuisi dengan bantuan buku ini. 

Kemampuan intuitif adalah kemampuan kualitatif seseorang untuk mensintesakan segenap kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman. Utamanya, kemampuan intuitif ini seringkali digunakan sebagai satu cara pengambilan keputusan. 

Menurut Laura Day, sang penulis sekaligus konsultan "Practical Intuition", intuisi dapat memberikan informasi yang tepat, terpercaya, dan berguna tentang apa saja bila dilatih dengan benar. Seringkali kita dihadapkan pada keadaan untuk mengambil sebuah tindakan atau keputusan dalam selubung ketidaktahuan. Laura Day, memberikan latihan-latihan untuk menajamkan intuisi demi menghadapi situasi yang demikian itu. 

Pendekatan Laura Day dalam buku ini dilakukan secara sistematis dan logis. Hal ini turut membantu pembaca tahap demi tahap penguasaan intuisi pribadi.  Laura Day menekankan bahwa intuisi bukanlah hal yang mistis. Intuisi adalah semacam latar kesadaran tentang bagaimana situasi bekerja dan merupakan fakta-fakta yang tersembunyi dalam otak. 

Sebagai testamen, Demi Moore turut menyumbangkan pengalamannya bersama Laura Day. Ia menjelaskan situasi dari beberapa peristiwa penting dalam hidupnya yang ia lalui bersama dengan Laura Day, dimana ia dihadapkan pada berbagai kemungkinan dari keputusan-keputusan yang diambilnya. Demi menyadari bahwa dengan bantuan yang benar, intuisinya telah tumbuh dan membantunya untuk jitu mengambil keputusan dan tindakan. 

Sekilas, saya merasakan atmosir yang sama antara buku ini dengan The Outliers karya Malcolm Gladwell. Hanya saja, keduanya memiliki perbedaan yang signifikan dalam menafsirkan sesuatu hal sebelum sampai pada keputusan. Agak heran rasanya bahwa di tengah persepsi skeptis masyarakat Barat mengenai 'sesuatu diluar sana' berkembang sebuah metode untuk menafsirkan bahkan menyimpulkan keadaan di masa datang. 

Laura Day mengajarkan pada kita bahwa intuisi adalah bakat alami yang bisa dilatih. Melalui berbagai latihan, ia mengajak pembaca untuk menjelajahi alam bawah sadar. Buku ini kemudian membungkusnya dengan ringkas dan sangat jelas agar kita mampu membuka kemampuan alami yang kita semua miliki. Laura Day memberikan suatu cara yang mudah untuk menajamkan intuisi dan menggunakannya dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi. 

Judul       : Practical Intuition
Penulis     : Laura Day
Penerbit   : PT. Serambi Ilmu Semesta
Tahun      : 2006
Tebal        : 333 hal. 
Genre       : Pengembangan Diri


Bumi Asri, 28 Desember 2015. 

NB:
Diterjemahkan dari buku asli dengan judul "Practical Intuition: How to Harnes the Power of Your Instinct and Make It Work for You", Pocket Books, New York Times: 1997. 




Senin, 26 Agustus 2013

Metallica, Nothing Else Matters!


Awalnya

Perkenalan saya dengan Metallica berawal ketika Paman (adik bungsu Ibu) mengutarakan niatnya untuk nonton konser Metallica tahun 1993 silam. Saya yang masih berumur 7 tahun hanya bisa melamun saja saat Ibu dan Nenek mengkhawatirkan kepergian paman saya itu. Maklum, mereka takut kalau terjadi kerusuhan dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan disana. Waktu itu, belum terbersit sedikitpun punya keinginan untuk bermimpi bahwa 20 tahun lagi saya akan berada pada posisi yang sama dengan paman saya.

Kabar berita dari konser perdana Metallica di Jakarta berakhir rusuh. Tidak cukupnya kapasitas Stadion Lebak Bulus membuat penonton yang kurang lebih berjumlah 100.000 orang memaksa untukk masuk ke dalam stadion. Kekacauan pun tidak bisa dihindari. Alhasil, konser tidak berjalan lancar dan Metallica baru mau datang lagi kemari setelah 20 tahun kemudian.


Kepulangan Paman kami sambut dengan sukacita. Paman saya langsung bercerita bagaimana pengalamannya menghindari gebukan polisi dan petugas keamanan lainnya. Kelak, pengalaman seperti inilah yang terus akan dikenangnya dan selalu menjadi penanda romantika atas fanatisme terhadap entitas bernama Metallica.

Usai ‘Naik Haji’ di Konser Metallica 1993, Paman saya membeli drum set lengkap. Lalu, didandani supaya mirip dengan milik Lars Ulrich. Tak lupa, potongan kliping dari majalah Hai ikut ditempel di dinding dan bisa dibaca sambil bermain drum. Hal itulah yang sampai saat ini tidak bisa saya lupakan. Sering saya hanya duduk di bangku drum hanya untuk membaca kedahsyatan konser tahun 1993 itu. Perlahan, saya mulai tahu rasanya punya kesenangan. Disadari atau tidak, sejak itulah saya mulai punya keinginan untuk bisa main drum.

Saya benar-benar menjiwai Metallica pada saat booming DVD bajakan sekitar medio 2005-an. Setelah sebelumnya hanya akrab dengan beberapa lagu seperti “The Unforgiven” dan “Enter Sandman”. Ditambah lagi beberapa momen keakraban dengan Paman yang selalu memutar lagu Metallica dalam istilah ‘kesenian’ baginya.

Metallica is Back!

Kedatangan Metallica di Jakarta sempat diprediksi akan batal. Belum lagi, ditambah fakta kerusuhan tahun 1993 lalu. Namun, melalui akun resmi twitternya, Metallica menyatakan bahwa mereka sudah membuat keputusan resmi untuk datang ke Indonesia dalam rangkaian Metallica On Tour #MetOnTour 2013.


Mendengar berita itu, saya seakan dibuat tidak percaya untuk kesekiankalinya tahun ini. Setelah mengalami momen mendebarkan untuk menyambut kedatangan Liverpool FC dan menyanyi bersama Sixpence None The Richer, Metallica adalah satu keajaiban Tuhan yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. This is it. This is your last chance! Belum tentu 10 atau 20 tahun lagi mereka akan kembali lagi ke Indonesia.

Tiket Metallica Live in Jakarta 2013


Tiket Metallica Tahun 1993


Saya tentu berharap bisa menonton Metallica Live in Jakarta ini bersama dengan Paman saya itu. Saya melihat sendiri bagaimana kecintaannya terhadap Metallica. Jadi, rasanya sayang sekali kalau kesempatan ini dilewatkan. Diam-diam, saya membeli tiket untuk saya berikan padanya usai lebaran kemarin. Namun, dengan malu-malu Paman saya hanya menjawab bahwa ini sudah bukan saatnya. “udah gak bisa gondrong lagi sekarang mah...” begitu katanya. Walau saya tahu dalam hatinya tetap menyimpan kerinduan untuk menonton band pujaan yang selalu jadi inspirasinya untuk jadi musisi.


Ibu saya pun sempat mengkhawatirkan saya karena jawaban Paman. Ibu khawatir suasana rusuh kembali. Maka dari itu, sehari sebelum Metallica menggelar konser 20 years after, saya pulang ke Bandung menemui Ibu. Mencoba meminta pengertian dan doa dari beliau supaya konser berjalan lancar. Bayangkan, berapa puluh ribu orang sudah menanti kedatangan Metallica sejak 20 tahun lalu. Doa ibu, nothing else matters!

The Show

Kalau kau percaya pada mimpi, inilah saatnya kau percaya!


Saya tidak pernah menyangka bahwa saya terbangun di hari Minggu pagi dengan tiket konser Metallica di tangan. Sampai saya tiba sendiri di depan kerumunan crowd yang sudah mengantri di pintu masuk Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan. Inilah waktunya. Saya benar berada disuatu tempat yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Dari hanya membaca klipingan Metallica dari majalah hingga bisa jadi penonton konser mereka. Dari hanya video konser di Youtube hingga kini menatap wajah James Hetfield langsung.

Band pembuka Seringai langsung Membakar Jakarta. Mereka adalah bagian dari pemimpi yang 20 tahun lalu sempat berdoa pada Tuhan agar mendatangkan Metallica kembali ke Indonesia. Bukan main, Tuhan bukan hanya datangkan Metallica saja. Tetapi, menjadikan mereka sebagai band pembuka! Sepanggung dengan Metallica, dibayar kontan lengkap dengan hits seperti Serigala Militia, Akselerasi Maksimal, dan Individu Merdeka. Sebagai pemanasan, Seringai sudah cukup membakar semangat para Metheads untuk menyambut Metallica.


Pukul 20.30, panggung gelap, backsound mati. The Ecstasy of Gold dan Hit The Lights langsung menggebrak GBK. Hetfield, Ulrich, Hammett, dan Trujillo semua terlihat sangat bersemangat. Tidak kalah dengan penonton yang terus menerus mengiringi lirik lagu yang dibawakan James Hetfield cs. Metallica semakin menghentak Jakarta dengan Master of Puppets. "Come crawling faster. Obey your master. Your life burns faster. Obey your master, master!”

“Hello Jakarta! You are so energetic tonight!”
tidak lupa Hetfield menyapa penonton yang langsung disambut gegap gempita. Mirip seperti pada konser-konser mereka di Youtube.

Selanjutnya, penonton dimanjakan dengan penampilan spektakuler lainnya. Paduan sound dan lighting turut menunjang suasana konser yang sampai hari ini adalah konser terbaik di Indonesia. In my opinion. 

Suasana syahdu usai high tension dengan rentetan Hit The Lights-Master of Puppets-Fuel, didapat dengan dimainkannya Fade To Black. "Kalian suka lagu itu? I love you too. Kita seperti keluarga," kata Hetfield usai lagu berakhir.

Tensi konser kembali dibuat naik dengan lagu-lagu hits lain seperti Welcome Home (Sanitarium), One, Nothing Else Matters, Ride The Lightning, dan Sad But True. Tidak ketinggalan Orion, For Whom The Bell Tolls, Blackened, Enter Sandman, Fight Fire With Fire, dan Creeping Death. 


Sepanjang konser saya dan kawan-kawan hanya bisa menebak kira-kira setelah ini lagu apa lagi. Sempat saya berteriak meminta The Unforgiven, yang langsung dibalas aneh penonton di depan saya. Tapi saya tetap bersemangat meminta Seek And Destroy. Sudah hampir 17 lagu namun Seek And Destroy belum dimainkan. Itu rasanya aneh sama sekali.

Sempat sekali Hetfield beraksi di panggung, ia memberitahu bahwa konser ini sudah selesai. Dari ekspresi wajahnya saya lihat ia mengatakan: “It’s going late. Go home, now. Get some sleep.” Namun, penonton semakin bergemuruh “We want more!!!” berulang-ulang. Saya sangat berharap bahwa lagu terakhir ini benar-benar Seek And Destroy.

Suatu keajaiban bahwa lampu panggung kembali dinyalakan dan Metallica langsung menggeber Seek And Destroy sebagai lagu penutup. Kontan kami semua dan penonton Jamaah Haji Metallicah langsung menghentak bumi Senayan. Sungguh suatu penampilan yang tidak akan pernah terlupakan. Metallica pun terkesan dengan penonton Indonesia yang sangat bersemangat dan tidak henti-hentinya ikut bernyanyi bersama mereka.

“Jakarta, we’ll be back fuckin* soon..” begitu kata Lars Ulrich di penghujung konser.

Sebelum membawakan Cyanide, Hetfield juga sempat bilang bahwa penonton Jakarta adalah anggota kelima Metallica. “You are our fifth members!”.

Robert Trujillo juga tak lupa memberikan sambutan, “Hello Jakarta! Makasih banyak!!!” yang langsung dibalas penonton seisi Stadion. Trujillo sempat melakukan beberapa encore termasuk aksi panggung rolling dengan bass. 


Sebelum meninggalkan panggung, Hetfield, Ulrich, Hammett, dan Trujillo membagikan beberapa gimmick untuk penonton. Entah darimana, Hetfield kembali naik panggung dengan membawa bendera Merah Putih. Mereka pun segera naik panggung kembali dan berfoto bersama sambil membentangkan bendera Merah Putih dengan tulisan “Metallica Solo – Indonesia”. 

Aftershow 

Saya tidak bisa membayangkan terbangun di hari Senin pagi, 26 Agustus 2013, dengan hanya membaca headline harian umum di seantero Jakarta Raya bahwa Metallica sukses menggelar konser di Indonesia. Saya tidak bisa membayangkan bahwa saya hanya akan menikmati kedahsyatan aksi panggung Metallica hanya dari page Youtube MetallicaTV saja tanpa pernah mengalami kenyataan yang sebenarnya. Semua kenyataan semalam bersama Metallica telah terjadi dalam satu periode kehidupan saya. Satu lagi mimpi yang jadi kenyataan.

Insya4JJI mabrur, Lur!!! #MetallicaJKT

Secara umum, penampilan Metallica semalam luar biasa. Tanpa harus menghadirkan banyak gimmick sisipan dalam show, Metallica sudah sukses mengembalikan perasaan rindu yang sempat tenggelam dan hilang selama 20 tahun. It’s all about the music. And, Metallica did that! Nothing else matters!

Saking bersemangatnya, pita warna ungu penanda tribun konser pun masih saya pakai ke kantor tadi pagi. Saya jadikan pita itu penanda bahwa saya telah menunaikan ‘ibadah suci’. Kalau mereka yang baru pulang umroh atau haji saja masih mengenakannya, kenapa saya yang pulang ‘naik haji’ dengan nonton Metallica tidak bisa? Mungkin saya yang salah atau terlalu butuh sensasi. Demi apa? Demi Metallica! Terima kasih, Metallica!


Paninggilan, 26 Agustus 2013.

Minggu, 09 Desember 2012

The Chronicles of Parlindungan Marpaung: Tiga Buku Motivasi

Perkenalan pertama saya dengan Parlindungan Marpaung berlangsung medio 2005. Saat itu, anak-anak Himpunan Mahasiswa menyelenggarakan sebuah bookfair. Pada satu stand, terdapat buku “Setengah Isi , Setengah Kosong”. Awalnya, saya mengira buku ini hanyalah sebuah buku motivasi yang memandang segala persoalan kehidupan dengan perspektif ‘looking through the glass’.

Kemudian, setelah membaca beberapa cerita dalam buku itu, ternyata ‘Setengah Isi, Setengah Kosong’ itu hanyalah satu bagian cerita saja dari sekian banyak cerita pendek motivasional. Mengertilah saya bahwa buku ini bukanlah buku motivasi yang straight. Tetapi terpilah menjadi tiga bagian diikuti dengan kumpulan cerita pendek yang menggugah sisi kemanusiaan kita untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan.

Sebetulnya, saya masih kurang paham makna cerita-cerita motivasional dalam buku “Setengah Isi, Setengah Kosong”. Entah karena waktu itu saya masih kuliah dan belum bersentuhan dengan lingkungan pekerjaan yang menuntut profesionalitas. Pengalaman itu akhirnya mengantarkan saya pada implementasi dari cerita-cerita itu sewaktu mendapat pekerjaan tiga bulanan di sebuah galeri seni di Bandung Utara medio 2006 dan magang di perusahaan telekomunikasi milik negara medio 2007.

Kebetulan, saya pernah mendapati seorang karyawan yang duduk di sebelah kubikel ikut membaca buku itu juga. Saya rasa beliau yang duduk di sebelah ini masih mau untuk belajar dan menemukan kembali hakikat dari pekerjaan yang dilakoninya. Melihat hal itu, dengan sok tahu, saya membuat kesimpulan bahwa siapapun dimana pun tentu membutuhkan guide atau panduan untuk menemukan kembali motivasi yang luntur, baik itu tergerus arus zaman, stagnansi korporat, atau faktor-faktor eksternal lainnya.

Setengah Isi, Setengah Kosong



Dalam konteks pengembangan sumber daya manusia, tentu manusia itu sendiri memegang peran inti sebagai objek sekaligus subyek pelaksana perubahan. Kekuatan untuk selalu belajar dan mau berubah ke arah yang lebih baik tergantung pada sejauh mana kemampuan individu untuk melihat ke dalam dirinya sendiri untuk kemudian melakukan perubahan yang dimaksud. Dalam lingkup organisasi, baik yang kecil maupun yang besar, dinamika yang terjadi didalamnya tentu mempengaruhi motivasi indidivu. Naik turun, besar kecil gelombang dinamika tersebut menuntut kita untuk tidak kehilanga sedikitpun nilai integritas dan profesionalisme. Baru waktu itu, saya rasa ada manfaat dari buku “Setengah Isi, Setengah Kosong”.

Membaca kembali buku ini rasanya seperti menjalani recurrent training atau semacam refreshment. Untuk menyelaraskan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang behubungan dengan nilai-nilai integritas dan profesional. Sampai saat ini pun, saya masih merasa perlu untuk membuka kembali lembaran demi lembaran buku ini. “Setengah Isi, Setengah Kosong” masih memiliki nilai relevansi yang tinggi dengan keadaan saya sekarang, yang juga masih akan berkutat dengan lingkungan organisasi yang besar dengan segenap dinamikanya.

Nilai-nilai kearifan dari kehidupan tidak akan berubah hanya karena tuntutan zaman. Manusia akan selalu menyesuaikan diri dengan habitatnya. Oleh karena itu, dimanapun manusia itu berada, ia tentu akan selalu menggali nilai-nilai kemanusiaan sepanjang semua itu berkaitan dengan keadaan diri dan lingkungannya.

Fulfilling Life: Merayakan Hidup yang Bukan Main


Buku ini saya anjurkan untuk dibaca setelah “Setengah Isi, Setengah Kosong” walau tidak menutup kemungkinan bahwa pembaca lebih memilih untuk membaca buku ini terlebih dulu. Alasan saya, ada beberapa konteks tertentu yang bisa dicapai dengan membaca buku yang pertama. Buku ini sebagai kelanjutan “Setengah Isi, Setengah Kosong” membawa pembaca pada  tingkatan selanjutnya. Artinya, pengejawantahan “Setengah Isi, Setengah Kosong” akan nampak ketika pembaca sudah mulai bisa merayakan kehidupan.

Betul bahwa buku kedua Parlindungan Marpaung ini lebih banyak bercerita tentang aktualisasi nilai-nilai motivasional buku yang pertama. Fulfilling Life memberikan insight soal esensi dari kehidupan yang sedang kita jalani. Kecenderungan pengungkapan makna yang lebih kuat dalam buku ini tidak didapatkan dari cerita-cerita praktis seperti buku pertama. Eksplorasi makna hakiki kehidupan pada buku ini mendapat porsi lebih. Sehingga, tanpa berkesan menggurui penulis  mengungkap banya makna dan nilai-nilai kehidupan yang mampu mengaliri kembali jiwa yang gersang (baca: terdemotivasi/demotivated).


Buku ini terbit kembali dalam edisi revisi yang kemudian judulnya menjadi “Life is Choice: Hidup Adalah Pilihan” dan kembali diterbitkan oleh penerbit yang sama.

Setengah Pecah, Setengah Utuh


Sekilas terdengar mirip dengan judul buku sebelumnya: “Setengah Isi, Setengah Kosong”. Buku terbaru Parlindungan Marpaung ini mengambil konsep dari sebutir telur. Sebelum sebuah kue yang enak disajikan tentu sebutir telur ini tadi mengalami beberapa proses. Mulai dari dipecahkan, kemudian diaduk dalam adonan, untuk kemudian dibentuk sedemikian rupa menjadi sebuah kue yang menarik dan tentunya memiliki rasa yang enak.

Begitulah kehidupan ini sendiri. Kebahagiaan dan kesuksesan tidak datang dengan sendirinya. Tidak ada jalan pintas menuju kesuksesan. Tidak ada cara singkat menuju pintu kebahagiaan. Melainkan keduanya datang setelah kita ditempa seperti butiran telur tadi. Proses-proses dalam kehidupan membutuhkan kesabaran, kekuatan, dan keikhlasan. Melalui kehendak Yang Maha Kuasa, kita diberikan ujian, cobaan, dan godaan yang bukan tanpa maksud kecuali untuk menjadikan kita sebagai pribadi yang kuat, tangguh, dan hebat.

Buku ini melengkapi khazanah buku motivasional lainnya dari penulis. Untuk pembaca setia Parlindungan Marpaung, tentu akan memiliki pengalaman-pengalaman khusus yang berkaitan dengan buku-buku sebelumnya. Ibarat hubungan antarkonteks yang kembali menemukan benang merahnya.



Paninggilan, 9 Desember 2012

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...