Tampilkan postingan dengan label esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label esai. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 September 2017

Harus Pintar Ngegas dan Ngerem

Karena Islam itu mengendalikan, bukan melampiaskan. Hidup itu harus bisa ngegas dan ngerem.

Sumber gambar: www.goodreads.com

Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT karena memberikan rezeki dan kesehatan kepada Emha Ainun Nadjib, sehingga dengan ridho-Nya pula Mbah Nun dapat menuliskan buku terbarunya ini. Teruntuk penerbit Noura Books saya juga menyampaikan rasa hormat dan terima kasih sedalam-dalamnya karena mau untuk menerbitkan segala pemikiran Emha Ainun Nadjib sehingga pembaca dapat membacanya berulang-ulang agar semakin paham.

Sebagaimana dikabarkan dalam catatan pembuka, buku Mbah Nun ini menyampaikan kabar langit dengan bahasa yang membumi. Memang benar begitu adanya. Mbah Nun membuka intisari yang lengkap tentang bagaimana kita harus menyikapi apa-apa yang terjadi belakangan ini dengan cara pikir yang berbeda. Mbah Nun mengantarkan sebuah dialektika berpikir yang sederhana namun tetap tidak terlepas dari pangkuan Ibu Al-Quran.

Terlalu banyak quotes yang bisa diambil dari buku ini. Kalaupun sempat, akan saya rangkumkan quotes versi saya dalam tulisan lain. Yang terpenting, saya menemukan kembali sebuah konsistensi. Saya tidak perlu menemukan kembali relasi antara konteks kekinian dengan relevansi materi buku ini. Saya perlu sebuah sikap dan pernyataan tegas bahwa apa yang disampaikan oleh Mbah Nun lewat forum lingkar Maiyah dapat ditemukan dan ditelusuri kembali dalam buku ini.

Bagi pembaca yang sudah akrab dengan ceramah dan tulisan-tulisan Mbah Nun, tentu proses identifikasi keselarasan sikap dan ucapan itu akan menjadi sangat mudah. Lain halnya bagi pembaca yang baru berusaha memahami Emha. Akan berlangsung segenap pengalaman jiwa dan raga untuk melepaskan diri dari ikatan mainstream untuk kemudian menjernihkan hati dan pikiran untuk menerima rentetan pesan Mbah Nun.

InsyaAllah, buku ini akan menjadi media belajar bagi siapapun. Media pembelajaran bagi kita semua untuk selalu mawas diri, untuk selalu sadar bahwa ada kalanya hidup itu tidak selalu harus ngegas. Ada waktunya hidup mempersilakan kita untuk ngerem, untuk menahan. Supaya kita sampai tujuan dengan selamat. Selamat di dunia dan selamat di akhirat. InsyaAllah.

Judul        : Hidup itu Harus Pintar Ngegas & Ngerem
Penulis     : Emha Ainun Nadjib
Penerbit    : Noura Books
Tahun       : 2016
Tebal        : 230 hal.
Genre       : Sosial Budaya


Cipayung, 21 September 2017.

Selasa, 28 Februari 2017

Secangkir Kopi Jon Pakir

Siapa bilang anak orang kaya pasti pintar dan anak orang miskin pasti goblok. Memangnya Tuhan bodoh! Kok bikin aturan begitu! (Si Kembar Bodoh Pintar, hal. 21-22)
 
Sumber gambar: Goodreads
 
Seumur saya membaca Emha saya baru tahu kalau beliau ini pandai meracik kopi. Tidak pernah ada guyonan dalam video-video yang saya tonton lewat YouTube bahwa Cak Nun mampu meracik kopi. Kalau memang begitu, barangkali saya yang terlalu mendenotasikan arti kopi, sehingga kopi yang dimaksud adalah kopi yang biasa kita nikmati. Kopi seduh kental encer manis atau pahit.
 
Kopi racikan Mbah Nun dalam buku keempatnya yang diterbitkan oleh Mizan ini misalnya, tentu bukanlah kopi sebagaimana yang lazimnya kita nikmati sembari menghirup udara pagi. Kopi racikan Jon Pakir ini adalah kopi yang digiling dengan persoalan-persoalan hidup masyarakat kelas bawah yang diungkapkan lewat bahasa jelata, sederhana, dan jenaka.

Jon Pakir adalah nama yang dipilih sendiri olehnya. Sang Ayah, Masa Kini, membiarkannya untuk menentukan pilihan sendiri. Suatu hal yang tidak umum karena negara sebesar ini pun ternyata tidak mampu memilih jalannya sendiri. Sila pembaca menafsir sendiri arti dari Jon Pakir, apakah ada kaitannya dengan 'fakir' yang asli bahasa Arab itu atau hanya nama serapan belaka yang dilafalkan oleh orang Sunda. Silakan. Yang jelas, pembaca tidak akan pernah tahu apa hubungan Jon Pakir dengan Cak Markesot.

Keterlibatan Emha yang intens dengan mereka itulah yang membuat esai-esainya tampak hidup, bergairah, dan mewakili perasaan kita yang sesama kelas masyarakat yang terpinggirkan. Emha tampak asyik membuat si Jon Pakir menertawakan dirinya sendiri maupun dalam menghadapi surat-surat pembaca yang memberi kritik padanya.

Kumpulan esai santai ini adalah tulisan-tulisan Emha yang diterbitkan oleh 'Masa Kini', sebuah surat kabar daerah di Yogyakarta. Buku ini menghimpun segenap ide Emha pada rentang waktu 17 Juni 1987 hingga 22 Juli 1988. Maka dari itu, kiranya pembaca yang budiman mungkin akan mengalami kesulitan tatkala menerka-nerka subjek apakah yang menjadi pembahasan Emha. Namun, tidak menutup kemungkinan lain bahwa hal-hal yang sudah usang menjelang usainya dekade 80-an tetap aktual hingga saat ini. Hingga saat buku ini diterbitkan kembali dengan format yang baru.

Untuk itu, apabila pembaca yang budiman ingin menarik simpulan atau hipotesis sementara mengenai keadaan masyarakat negeri ini pada akhir dekade 1980-an dan menjelang akhir dekade 2010-an, buku ini membuka peluang ke arah sana. Sila pembaca menafsirkan sendiri pola-pola yang digunakan penguasa untuk memantapkan kekuasaannya.

Saya mencatat satu kutipan dari satu artikel Jon Pakir:
 
Silakan berbuat jahat, korupsi, mentang-mentang, ber-adigang adigung adiguna, tetapi begitu kita makin terseret ke dekat liang kubur: kita cenderung makin religius. Makin tahu apa yang asli pada hidup ini, apa yang inti dan yang paling kita butuhkan. (Grup Tahlilan Sewaan, hal. 219-220)
 
Kutipan diatas seakan ingin menegaskan bahwa kita ini memang tidak pernah tahu apa yang kita tuju dalam hidup ini. Sehingga kadang segala macam tindak tanduk kita tidak pernah sesuai dengan kemauan Tuhan. Padahal Tuhan sudah bermurah hati dengan membiarkan kita menghirup oksigen setiap pagi. Gratis!

Saya sangat menikmati kumpulan tulisan Emha yang kesekian ini. Tulisannya mudah dicerna, maknanya jelas, dan tidak perlu repot-repot berpikir soal konteks atau lain-lainnya. Aktualitas buku ini masih terasa benar dengan kondisi Republik yang semakin buta mana utara mana selatan. Sementara itu, silakan nikmati Kopi Jawa, Kopi Brasil, Kopi Sekuler, Kopi Masa Kini, Kopi bikinan Jon Pakir....

Judul           : Secangkir Kopi Jon Pakir
Penulis        : Emha Ainun Nadjib
Penerbit      : Penerbit Mizan Pustaka
Tahun          : 2016
Tebal           : 348 hal.
Genre           : Esai-Sosial Budaya
 
 
Cipayung, 23 Februari 2017.

Sabtu, 22 Agustus 2015

Transportasi (berbasis) Digital

Sudah kurang lebih sebulan ini saya menjadi pengguna jasa transportasi taksi dan ojek digital. Maksudnya, Uber Taxi dan Gojek yang sedang jadi trending topic saat ini. Kehadiran layanan transportasi semacam ini tidak bisa dihindari lagi. Perkembangan teknologi yang membuat dunia semakin dalam genggaman akhirnya dan kebutuhan transportasi memadukan keduanya.



Kemunculan layanan tersebut adalah imbas dari mobilitas masyarakat Jakarta yang menbutuhkan kecepatan dan ketepatan waktu. Sementara, layanan transportasi massal yang tersedia masih belum dapat diandalkan. 

Pro dan Kontra

Kehadiran layanan semacam itu kini menghadirkan bermacam silang pendapat. Satu sisi, memenuhi kebutuhan angkutan masyarakat dengan cara yang praktis dan harga terjangkau. Namun, dari sisi lain, aspek legal dan keselamatan menjadi isu tersendiri yang harus dihadapi penyedia jasa.

Usaha Pemerintah untuk menertibkan praktek bisnis semacam ini bisa dibilang hanya sebatas 'mengharamkan', dengan menggunakan istilah angkutan liar. Lalu, bagaimana dengan angkutan omprengan yang bisa banyak dijumpai di beberapa daerah di pusat kota Jakarta? Apa karena dilindungi oknum tertentu lantas menjadi legal beroperasi? Toh, kalau kecelakaan sama-sama tidak mendapat jaminan asuransi dari Jasa Raharja walau sama-sama bayar ongkos.

Saya rasa tidak adil bila harus demikian. Semua pihak punya kesempatan yang sama untuk berusaha. Apalagi, dengan tingkat kemacetan dan kecepatan rata-rata per jam yang semakin lambat, membuat manusia Jakarta harus lebih pandai mensiasati kebutuhannya. Termasuk urusan memilih moda transportasi.

Ekonomi Kerakyatan, Seperti Apa?

Bila memang Pemerintah masih menggemborkan istilah 'Ekonomi Kerakyatan", seharusnya Pemerintah memberi kesempatan yang sama pada pengusaha transportasi digital. Toh, metode yang digunakan masih konvensional, namun lebih rapi dn sistematis dengan adanya bantuan dari aplikasi.

Dari sisi rakyat sebagai pengguna layanan, sudah menjadi hal yang wajar bila masyarakat lebih memilih menggunakan jasa transportasi yang terjangkau dan praktis. Sementara di sisi lain, para pengusaha juga bermaksud untuk memajukan ekonomi masyarakat dengan ikut bergabung dan mendapat berbagai keuntungan. Pendapatan lebih, misalnya. Realita yang berkembang justru kebalikannya. Terjadi penolakan di beberapa daerah karena Gojek dianggap merusak pasar ojek pangkalan.

Saya sendiri menjadi pengguna bukan karena sekedar ikutan tren tetapi memang karena butuh. Bayangkan, saya bisa menghemat ongkos untuk berkunjung ke Ciledug, yang bila menggunakan taksi biasa biayanya tak kurang dari Rp. 100.000,- . Sementara, dengan Uber saya hanya membayar Rp. 11.000,- karena memakai kode promosi, dari tarif asli Rp. 86.000,-. Sama halnya dengan Gojek, dari Jl. Dharmawangsa X menuju Lebak Bulus, ojek pangkalan meminta tarif Rp. 30.000,- sedangkan dengan Gojek hanya setengahnya.

Kalaupun, ada hal yang perlu dikritisi adalah soal keamanan pembayaran dimana Uber mensyaratkan penggunaan kartu kredit sebagai metode pembayaran. Untuk hal ini, saya rasa Uber perlu meningkatkan fitur keamanan transaksinya. Lainnya, adalah soal edukasi mengenai safety riding bagi pengemudi kendaraan roda dua.

Saya tentu berharap bahwa adanya moda transportasi konvensional namun sistematis seperti ini tidak lantas menjadikan angkutan semacam ini sebagai 'angkutan liar'. Persoalan penolakan dan pelarangan operasi Gojek seharusnya mendapatkan perhatian khusus karena pembatasan semacam ini justru tidak menghasilkan apa-apa.

Berlabel buatan anak bangsa, alangkah baiknya apabila pengusaha bisa merangkul lebih banyak pengemudi untuk sama-sama menghasilkan keuntungan dan mewujudkan transportasi murah untuk masyarakat.



Dharmawangsa, 22 Agustus 2015.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...