Tampilkan postingan dengan label hobi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hobi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Juli 2017

Curtiss P-40B Tomahawk

 
Setelah Stuka yang legendaris, saya menambah koleksi pesawat tempur bersejarah lainnya keluaran Academy Model Aircraft. Model kit berskala 1/72 ini adalah replika dari Curtiss P-40B Tomahawk, pesawat tempur bermesin tunggal yang mulai bertugas pada tahun 1938. Pesawat tempur ini berlaga dalam sejumlah pertempuran di Perang Dunia II. 

P-40B Tomahawk adalah derivatif dari P-40A Warhawk. Saya menyukai versi Flying Tigers milik 1st American Volunteer Group. Saya juga tidak kecewa mendapati ukuran model kit yang memiliki panjang sekitar 16 cm dengan rentang sayap 17 cm. Saya sempat juga memiliki F16, MiG-23 Flogger, MiG-29 Fulcrum, F-16 Fighting Falcon, dan F-14 Tomcat dengan skala yang sama. Rasanya lebih puas dengan P-40B Tomahawk ini. Ukuran pesawat sebenarnya yang memang lebih kecil dibanding pesawat jet tempur modern membuat ukuran 1/72 masih memiliki besar yang tidak terlalu kecil.

Saya melakukan finishing dengan pengecatan badan pesawat menggunakan cat semprot warna silver dari merk P*lox (N*ppon Paint). Sementara, bagian kaca (windshield) saya beri spidol warna hitam untuk menandai pilar-pilarnya. Bagian roda saya beri warna silver juga dan warna spidol hitam pada ban. Ada dua opsi untuk merakit pesawat ini. Versi flying (unmounted landing gear) atau dengan landing gear. Saya memilih opsi kedua, karena Stuka tampak lebih nyata dengan terpasangnya landing gear.

Saya sengaja tidak memberi warna asli yang disarankan dalam kemasan model kit maupun gambar skuadron Hell's Angels (bisa dilihat di Wikipedia). Saya memberi warna silver untuk menandai bahwa pesawat ini adalah buatan Amerika Serikat. Seperti pesawat tempur lainnya saat Perang Dunia II yang berwarna perak.

Tidak ada masalah yang berarti dalam pemasangan decal. Rupanya, warna silver pilihan saya itu membuat daya rekat decal tidak maksimal pada ornamen bagian sayap. Saya perlu beberapa kali memasang kembali ornamen sayap itu. Tandanya harus segera dilakukan pengecatan finsihing dengan warna clear.

Overall, tingkat kesulitan pengerjaan pesawat ini adalah 2/5. Tidak terlalu banyak part yang detail dan harus terpasang pada pesawat. Pesawat ini dirakit pada tanggal 2 Juli 2017 untuk menandai kelahiran putri kedua saya. Jika pada kelahiran saya dan adik saya, Bapak membuatkan masing-masing CN235 dan N250, maka kiranya saya cukupkan tradisi itu.


Bandung, 8 Juli 2017.


Bburago Ferrari F-14T

Ferrari is synonymous with success in Formula One 
- Christian Horner

Sumber gambar: Koleksi Pribadi
Tidak pernah terbayangkan bahwa saya akan memiliki sebuah diecast mobil Formula 1 dari tim Kuda Merah, Scuderia Ferrari. Tadinya saya berharap suatu hari nanti untuk memiliki sebuah miniatur dari McLaren Formula 1, bisa MP4-15 yang dinobatkan jadi Car of The Year tahun 2000 oleh majalah F1 Racing atau malah McLaren-Honda milik Ayrton Senna atau Alain Prost.

Well, kadang nasib tidak selalu berpihak pada waktu. Saya mendapatkan sebuah penawaran untuk miniatur diecast Ferrari F1 milik Kimi Raikkonen, eks driver McLaren Mercedes. Saya bukan seorang fans berat Ferrari. Tetapi, saya mengagumi cara mereka menangani kedua pembalapnya di lintasan balap sejak zaman duet Ross Brawn dan Jean Todt.

Mobil F-14T ini mengingatkan saya pada suatu masa dimana Formula 1 tidak lagi menjadi sesuatu yang menarik. Adopsi teknologi dan batasan regulasi menyebabkan balapan jet darat akhir-akhir ini menjadi monoton. Sama ketika Michael Schumacher merajai Formula 1. 

Anyway, walaupun saya bukan seorang fans Ferrari (lagi-lagi) tapi saya menikmati hasil karya tim yang bermarkas di Maranello ini. Bburago sebagai brand yang telah bertahun-tahun menjadi official licensed partner tim kuda jingkrak berhasil membawa spirit kemenangan mereka. Balutan warna merah yang khas ditambah dengan detail yang mengagumkan membuat diecast berukuran 1:43 ini memiliki pesonanya tersendiri. 


Cipayung, 19 Juli 2017.

Kamis, 30 Juni 2016

PZL Wilga Papercraft


Sepintas, pesawat latih ini terlihat biasa saja. PZL Wilga yang pernah dimiliki oleh TNI-AU ini memang tergolong pesawat tua. Diproduksi pada rentang tahun 1962 hingga 2006. Pesawat ini biasa digunakan sebagai pesawat latih, parachute jumping exercise, dan glider-towing. Walaupun demikian, pesawat ini unik dan mampu menghidupkan kembali obsesi saya terhadap pesawat terbang bermesin tunggal.

Saya terkesan pada desain model kertas pesawat ini. Untuk fuselage saja, model pesawat ini punya 4 bagian yang masing-masing punya kesulitan tersendiri. Entah itu ketika merakit single part maupun line assembly. 


Bagian paling sulit dari Wilga adalah bagian main wing dan tail wing. Saya tidak mengikuti pola bentuk sayap yang digunakan dalam desain. Modifikasi pun akhirnya dilakukan dengan membuat pola airfoil untuk sayap. 

Saya juga mengalami kesulitan dengan landing gear parts. Demi membuat pesawat ini tetap bisa tegak, saya tetap menggunakan pola desain model dengan mengurangi beberapa bagian dari seharusnya. Alhasil, fixed landing gear Wilga rakitan saya tidak sama dengan Wilga yang seharusnya. Wilga buatan saya lebih mirip dengan desain Wilga versi awal dimana belum menggunakan fixed landing gear yang menekuk.


Khusus untuk bagian propeller, saya menggunakan propeller 3 bilah dari mainan pesawat berbahan styrofoam yang biasa didapatkan di warung-warung. Propeller model ini cocok dipadankan dengan Wilga yang berskala 1:40 ini. Dimensi propeller fit untuk perbandingan badan Wilga yang memang besar.


Material yang digunakan masih kertas karton eks amplop. Saya harus akui bahwa kertas karton yang mirip material kotak nasi ini memang mudah dibentuk. Karton semacam ini punya struktur yang lentur dan kuat sehingga saya sarankan untuk digunakan dalam merakit model yang membutuhkan kekuatan struktur. 

Dari sisi waktu pengerjaan, model Wilga ini membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam. Saya sendiri menghabiskan waktu dua hari, masing-masing 2 jam untuk menyelesaikan perakitan model pesawat buatan negerinya Lewandowski ini.

Material       : Kertas Karton eks amplop
Kesulitan    : 3/5
Sumber       : www.paper-replika.com

Cipayung, 16 Juni 2016.

Rabu, 29 Juni 2016

HMCS Kingston MCDV Papercraft



Dari sekian paper model kapal laut, saya jatuh cinta dengan kapal bernomor lambung 700 ini. Sepertinya, model ini cocok sebagai Seacarrier untuk dua unit Ingram saya. HMCS Kingston ini terdiri dari 12 unit dan dioperasikan oleh Angkatan Laut Kerajaan Canada. Proyek pembangunan kapal ini sendiri dinamai Maritime Coastal Defence Vessel (MCDV) Project. Misi utama kapal kelas Kingston ini adalah surveillance area pantai dan training. 


Ada dua versi model dari unduhan MCDV ini. Simple version adalah versi model yang paling mudah dirakit dan minim aksesoris tambahan. Satu model lagi adalah complex version dengan aksesoris yang menyerupai aslinya. Seperti tiang-tiang menara, gun turrette, dan crane. Saya sendiri lebih memilih versi simple karena lebih mudah dirakit. Selain itu, aksesoris tambahan bisa dibuat belakangan.



Saya kembali menggunakan material kertas karton eks amplop UPS. Saya menghabiskan 4 lembar karton untuk bagian model kapal, ditambah satu lembar halaman pengantar bagian depan. Asumsi saya, model kapal ini resmi dirilis oleh Royal Canadian Navy sendiri.

Secara keseluruhan, saya menghabiskan waktu satu jam untuk menyelesaikan model ini. Perakitan badan kapal perlu perhatian khusus, karena apabila satu bagian fuselage tidak firm maka akan merembet ke bagian belakang. Setelah model kapal ini jadi, saya tidak lantas mengolesi bagian dasar kapal dengan lapisan anti bocor. Saya cukup sadar untuk tidak melakukan wet test pada model MCDV ini.

Material    : Kertas Karton eks amplop
Kesulitan   : 3/5
Sumber      : www.papercraftsquare.com

Cipayung, 4 Juni 2016.

Japan Coast Guard Ship Papercraft


Setelah merasa ‘PD’ dengan keberhasilan Seacraft #1: Patlabor Seacarrier, saya mulai browsing dan mengunduh beberapa model kapal laut. Dari hasil penelusuran, tibalah saya di www.papercraftsquare.com dan segera mengetik ‘ship’ di kolom pencarian. Ada beberapa model kapal yang membuat saya tertarik. 

Sebelum saya membuat model kapal-kapal itu, saya ingin mencoba membuat kapal  yang sederhana. Pilihan pertama saya jatuh pada model PLH 01 Soya, 1 dari 4 dari paket Japan Coast Guard Ship. Model ini terhitung cukup sederhana dan tambahan detail bisa dimodifikasi sesuai keinginan pemodel.


Kali ini, saya menggunakan material concorde paper 100 gsm. Memang terhitung tipis, namun ini baru model percobaan sebelum saya lanjut mengerjakan model kapal laut lainnya. Lagipula, dengan kertas yang tipis skala kapal yang sangat kecil lumayan membantu dalam membentuk lipatan-lipatan.

Well, waktu pengerjaan model ini tidak terlalu lama, sekitar 30-40 menit. Barangkali, dengan sedikit tambahan detail, waktu pengerjaan akan bertambah. Kapal berukuran jadi 24 cm x 3,3 cm ini resmi sudah jadi penghias meja kerja.

Material    : Kertas Concorde 100 gsm
Kesulitan  : 1/5
Sumber     : www.papercraftsquare.com
Cipayung, 1 Juni 2016.

Cessna 172 Seaplane Papercraft


Berawal dari kebiasaan baru untuk hunting paper model terbaru di www.papercraftsquare.com, saya menemukan model pesawat Cessna 172 Seaplane ini. Ini adalah tantangan yang baru bagi pemodel amatir macam saya. Cessna 172 ini tidak menggunakan fixed landing gear dan wheels, namun menggunakan semacam floating devices sebagai pengganti landing gear. Uniknya, paper model ini adalah hasil kreasi modeler Indonesia, Julius Perdana, aktivis www.paper-replika.com. Padahal, pesawat model floatplane ini populasinya terhitung jarang di Indonesia.


Untuk merakit model ini saya menggunakan kertas karton bekas amplop UPS (United Parcel Service). Kertas karton ini saya tidak tahu spesifikasi beratnya, namun cukup kuat dan lentur untuk membentuk fuselage pesawat. Selain itu, karton ini saya dapat dengan mudah setiap menerima paket dokumen teknis dari beberapa pabrik pesawat di luar negeri. Semangat go-green!

Saya tidak mengalami kesulitan berarti dalam melakukan cutting dan folding. Hanya saja, karena salah persepsi, bagian upper cockpit tidak sesuai dengan template. Fuselage Cessna ini saya buat terlalu langsing. Sehingga, saya harus melakukan modifikasi pada upper cockpit tempat dimana wing ikut menempel. Beruntung, dengan sedikit modifikasi saya berhasil menambah bagian krusial tersebut.


Sebagai ganti penahan sayap, saya menggunakan tusuk gigi yang diwarnai hitam. Selain itu, bagian kaki-kaki yang menempel pada floating gearss menggunakan tusuk gigi juga. Kesulitan lain yaitu menyeimbangkan berat pesawat setelah floating gears dipasang. Lem yang tidak langsung kering pun menambah masa penantian. Saya pun menambah lem serbaguna untuk memperkuat kaki-kaki dan mempercepat pengeringan. 

Untuk mengetes kekuatan kaki-kaki, saya memajang pesawat dalam posisi tergantung pada gantungan. Saya mencoba kekuatan efek gravitasi pada floating gears. Alhamdulillah. Test selama 24 jam berhasil, kaki-kaki masih menempel dan semakin kuat dengan keringnya lem. Cessna 172 Seaplane siap menjalani wet test, itu pun kalau saya tidak lupa mengolesi floating gears dengan pelapis anti bocor.

Material     : Kertas karton, lem serbaguna, gunting, cutter
Kesulitan    : 3/5
Sumber      : www.papercraftsquare.com ; www.paper-replika.com

Cipayung, 23 Juni 2016.

Selasa, 24 Mei 2016

Seacraft #1: SV2 Sea Carrier

Terinspirasi dari satu scene di serial Patlabor di episode 34 ketika Divisi 2 menyergap Griffon dan Triple S dan mereka harus menyeberang menggunakan sebuah kapal motor, saya kembali ke hobi lama yang sempat saya tinggalkan. Papercraft modeling. Entah, hobi akan saya tinggalkan sampai kapan bila saya tidak kembali membuat model kertas ini. 

Courtesy: Kido Keisatsu's Youtube Channel

Sebenarnya, ide ini mulai muncul ketika Ingram 2 datang, dimana akhirnya saya bisa memasangkan Ingram 1 dengan rifle yang ada di paket Ingram 2. Mirip dengan situasi Ingram 1 yang pertama kalinya dibekali rifle pada saat penyergapan Griffon. Hanya saja, ide itu terlintas kembali di satu hari yang lowong luar biasa.

Desain Awal SV2 Sea Carrier

Sebelum membuat model kapal laut pertama saya ini, saya membaca berita di Kaskus mengenai produk kapal perang PT. PAL yang dikirim ke Filipina. Tiba-tiba saya merasa yakin bisa membuat paper model kapal laut, walaupun hanya bagian haluan depannya saja. Esok paginya, baru saya mulai membuat pola dasar dengan pensil dan penggaris menggunakan kertas dari map yang sudah tidak terpakai. Saya juga mulai browsing untuk melihat pola (pattern) dari model kertas untuk kapal laut sejenis frigate. 

Pattern Modeling
Hasilnya? Lumayan. Potongan pertama untuk bagian alas kapal berhasil dibuat. Saya tambah lapisan bagian samping untuk melihat apakah pola model kapal buatan saya ini setidaknya bisa membuat kapal ini mengapung. Selanjutnya, saya membuat pola landasan untuk bagian badan kapal ditambah ruang kendali. Bagian buritan belakang sengaja saya buka sebagai landasan untuk Ingram atau kendaraan lainnya.

Unfinished SV2 Sea Carrier

SV2 Sea Carrier Unpainted & Unarmed
Model kapal laut ini dibuat tidak mengikuti pattern dari model yang sudah ada. Model carrier ini dibuat berdasarkan perhitungan dadakan as build, not as designed. Anyway, this is my first unscaled and unmodeled papercraft. I enjoyed my time with this model. I’m glad to having and build this special vehicle.

 
Medan Merdeka Barat, 17 Mei 2016.

Sabtu, 30 April 2016

D-Style AV-98 Ingram



Sejatinya, D-Style adalah lini produk model kit milik Kotobukiya. D-Style tampil dengan gaya khas bootleg dimana model sengaja dibuat lebih buntet dari aslinya dengan ukuran kecil tanpa skala. Kalau di dunia diecast, perbandingannya ibarat Tomy/Tomica dengan Choro-Q. CMIIW.

Saya sendiri cukup senang dengan model kit yang dijuluki Patlabor KW ini karena mereka mengeluarkan edisi set Patlabor lengkap. Set Patlabor terdiri dari Ingram 1, Ingram 2, Ingram Zero, dan Griffon J9. 

Saya sudah punya Ingram 1 tahun 2012 lalu. Namun, tidak langsung menambah koleksi Ingram 2. Saya baru hunting Ingram 2 karena mereka menambahkan mobil komando (command car) sebagai bonus. 

Tak ada Jepang yang tak retak. Produk Kotobukiya ini ditiru juga oleh Double Rabbit, vendor dari China. Tentu saja dengan harga yang masuk akal, below 100K. 



D-Style masih menggunakan format snap-on dan snap-fit. Artikulasi terhitung cukup baik untuk bagian tangan dan sedikit terbatas di bagian kaki. Bonus lain dari Ingram 2 ini adalah Riot Gun sejenis rifle. Dalam serial kartun TV, Riot Gun digunakan pertama kali ketika Ingram berhadapan dengan Griffon dalam misi pencegatan. 

Tidak ada kesulitan berarti dalam merakit Ingram 2. Semua part mirip dengan Ingram 1. Kecuali headgear Labor tunggangan Isao Ota ini. Finishing pun tidak terhitung banyak. Paling tidak, saya menggunakan drawing pen 0.1 mm. Tidak lagi menggunakan spidol permanen warna hitam yang saya dapat dari bonus membeli gembok cinta di N Seoul Tower. 

By the way, Patlabor buat saya adalah bagian dari mimpi-mimpi masa anak-anak. Dan Patlabor KW, berhasil mewujudkannya. 

Cipayung, 30 April 2015. 

Jumat, 29 April 2016

Hongli Gundam


Belum lama ini saya merakit Gundam kembali. Sebelumnya, saya sudah punya GAT-X105 Strike Gundam dan Exia Gundam skala 1/144, 2 model dari 4 seri model buatan Bandai. Namun, dengan artikulasi terbatas, kaki tidak dapat digerakkan atau dilipat.

Pilihan kali ini jatuh pada Kyrios Gundam buatan Hongli. Saya sendiri sudah penasaran dengan merk Hongli terutama karena faktor harga yang below Rp. 100.000 dan Made in China pula,-. Cukup murah untuk model kit Gundam walaupun harus mengorbankan kualitas. Maklum, buatan China.

Kesan pertama membuka boks Hongli, saya cukup terkesan dengan cara mereka meniru Bandai. Walaupun, saya akhirnya jadi tahu perbedaan besar antara keduanya. Sekali lagi mohon maklum. 

Material plastik rasanya terbuat dari plastik daur ulang. Terlihat jelas dari parts yang berwarna gelap. Fitur snap-on dan snap-fit terasa kurang meyakinkan. Diperlukan sedikit pekerjaan untuk membuat lubang agak besar. Decal dan stiker pun rasanya tidak menggunakan kertas khusus dan warna stiker pun terlihat terang mirip kertas warna terang berbahan kertas biasa. 

Hongli Kyrios Gundam 1/144 Scale Fighter Unpainted

Saya sengaja tidak menggunakan stiker dalam pengerjaan Kyrios Gundam ini. Buku petunjuk perakitan sudah cukup memuat detail pengerjaan. Hanya saja, petunjuk yang tercatat menggunakan bahasa China dan sedikit bahasa Inggris dengan banyak kesalahan tipografi. 

Overall, sebagai model kit yang masih setia meniru Bandai, Hongli mampu mengisi segmen low-cost modeling. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Hongli dapat menjadi alternatif pilihan belajar dan mengasah skill bagi para penghobi level entry atau pemula sebelum naik kelas ke model kit merk premium.

 
Cipayung, 25 April 2016.

Rabu, 30 Maret 2016

Super Cobra, Sebuah Misi Tebus Dosa


Seperti judul diatas, alasan saya membeli model kit Super Cobra ini adalah untuk menebus kesalahan saya 16 tahun yang lalu. Saat itu, saya sudah punya mainan plastik heli AH-1D Cobra dan dengan sadar mengizinkan adik sahabat saya untuk memainkannya. Seperti yang sudah diduga, heli Cobra itu rusak berat. Blade patah dan kaca kanopi pecah. Maklum, jatuh dari ketinggian pangkuan Ibu. Saya juga sudah lupa dimana terakhir kali menyimpan bangkai heli Cobra itu. Saya cukup sadar sekarang untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Walaupun memang model kit plastic injection mold generasi saat ini agak ringkih.

Model kit terbaru kali ini dating dari satu brand Jepang yang sudah terkenal dengan varian mini 4WD, Tamiya. Agak excited memang untuk mendapatkan item ini karena selain brand, pertimbangan lainnya yaitu kualitas material dan detail. Perbedaan yang saya dapati antara Stuka dengan Super Cobra memang agak lumayan. Tetapi, secara keseluruhan diantara kedua brand model kit itu memang memiliki keunikan sendiri dimana modeler penghobi harus menyesuaikan.

Project Super Cobra ini saya mulai dengan pembuatan dan pengecatan kanopi pada kaca. Saya meniru sebuah tayangan video di Youtube sehingga memutuskan untuk mencoba membuat kanopi untuk pertama kalinya. Dengan sedikit kemauan, niat, dan tools, akhirnya saya berhasil menyelesaikannya. Thanks to the masking tape. Saya berhasil melakukan suatu lompatan besar dalam karir saya sebagai perakit model kit dadakan.


Selebihnya, saya mulai membuat pola camouflage pada bodi heli (lagi-lagi) dengan masking tape. Saya tidak membuat pola yang terlalu besar, mengingat saya hanya akan memainkan dua warna saja. Yaitu hijau dan warna dasar abu-abu.Saya juga masih mengandalkan spray paint Fuji Green seperti yang saya gunakan di Stuka. Ditambah warna Deep Blue untuk pewarnaan kanopi, weaponry, landing gear, dan rear blade.

Super Cobra 1/72 ini memiliki tingkat kesulitan yang agak lumayan. Bagian fuselage yang ramping memang memiliki kesulitannya sendiri. Namun, kesulitan yang sangat terasa adalah berat heli sesudah semua part selesai dipasang terlalu ringan sehingga cenderung berat ke belakang. Untuk mengatasi imbalance weight, saya terpaksa membongkar kembali bagian badan atas heli. Saya menambahkan ballast pemberat berupa dua buah paku 5 cm yang saya tanam dan tempel dalam fuselage bagian dalam. Penambahan 2 buah paku sebagai ballast ini rupanya cukup efektif untuk menjaga keseimbangan heli. Saya sarankan untuk melakukan penambahan ballast pada model kit sejenis agar heli bisa berdiri sebagaimana mestinya.


Saya belum melakukan finishing dengan menambahkan decal pada Super Cobra ini. At least, saya sudah melakukan satu hal sebelumnya tidak pernah saya lakukan. Saya belum pernah melakukan pembuatan kanopi dengan cara mengecat. Again, that masking tape is really works. Masking tape sangat membantu dalam pengerjaan kanopi. Saya juga belum pernah membuat camo pada semua model kit sebelumnya, dengan percobaan pertama pada Super Cobra, saya masih membuka kemungkinan untuk melakukan hal yang sama pada model kit lain yang akan datang selanjutnya. Dengan demikian, dosa 16 tahun lalu sudah terbayar. I feel at ease now. So, never stop to learn and experience new experience. 

Model Kit      : Bell AH-1W Super Cobra
Skala              : 1/72
Manufacturer : Tamiya

Cipayung, 27 Maret 2016.

Selasa, 08 Maret 2016

Stuka Model Kit Finishing: Painting and Decaling

Tulisan ini didasari oleh ketidakmampuan saya untuk segera move-on dari Stuka. Proses pengerjaan Stuka, mulai dari assembling (perakitan), painting (pengecatan), hingga finishing (decaling) masih melekat dan membuat perhatian saya belum beralih walaupun saya sudah memesan model kit lain, yaitu Kyrios Gundam.



Sepanjang sejarah pengerjaan model kit, mulai dari Apache AH64D 1/72, F16, MiG-29 Fulcrum, F15, dan F14 buatan Academy skala 1/144 belum sekalipun saya selesaikan hingga decaling. Saya tidak pernah menempelkan decal pada model yang telah selesai dirakit. Saya belum percaya diri untuk menempelkan decal pada model. Saya masih dirundung kegagalan merakit Mazda RX7 tahun 2002 silam. Saya sudah merasa cukup untuk merakit saja, tanpa pengecatan ulang (repainting), dan mengganti stiker decal dengan Rugos ® .


Anyway, pada Proyek Stuka ini saya merasa harus menghentikan kebiasaan saya. Selain karena pertimbangan faktor sejarah, Stuka ini juga saya dedikasikan untuk Aldebaran, putra saya. Maka mulailah saya mencari cat semprot warna hijau gelap khas Luftwaffe. Berhubung warna tersebut tidak ada di toko besi dekat rumah, maka saya mengganti dengan warna Fuji Green No. 162 dari varian cat Pylox ®. Mengikuti panduan, saya mengecat permukaan bagian atas pesawat dengan warna hijau tersebut. Warna hijau fuji membuat fuselage Stuka menjadi lebih terang, tidak gelap sebagaimana Stuka asli milik Luftwaffe. Saya rasa itu bukan masalah besar, lagipula dengan warna yang lebih terang membuat Stuka versi saya lebih bisa untuk dinikmati.


Selesai pengecatan, saya membiarkan Stuka polos semalaman. Baru keesokan harinya saya mulai proses lanjutan yaitu penempelan stiker decal. Saya paling tidak suka menunggu, begitu pun ketika harus menyisihkan waktu untuk proses decaling. Saya menonton dulu panduan pemasangan decal pada model kit yang ada di Youtube. Saya pun segera menyiapkan alat-alat dan bahan seperti air hangat untuk memisahkan decal dari stiker induknya, pinset, dan pembersih telinga untuk menyerap air. Saya tidak mungkin menuruti apa kata video Youtube karena memang tidak menyiapkan decal enamel sebagai pelapis dasar dan pelapis akhir di model kit.


Proses penempelan decal memang membutuhkan ketelitian dan kesabaran sebagai faktor utama penentu keberhasilan detail. Saya pun berhasil memasang decal untuk pertama kalinya pada model kit Stuka 1/72 ini. Saya tidak memasang semua stiker yang diberikan. Alasannya, selain kebanyakan terlalu kecil, bila semua decal dipasang tangan saya akan mengalami kesulitan dalam mencari pegangan/patokan karena bagian fuselage belakang sudah kena decal. 


Untuk mengeringkan decal, setelah menggunakan pembersih telinga, saya pun menjemur Stuka di bawah terik matahari selama kurang lebih 15 menit. Usai dijemur, Stuka yang sudah gagah ini saya pajang sambil sedikit dikenai terpaan kipas angin. Proyek Stuka ini menyisakan satu pekerjaan lagi. Pengecatan dengan menggunakan cat semprot warna clear alias bening untuk melapisi seluruh lapisan badan atas dan bawah. Pengecatan ini bermaksud agar menguatkan decal yang telah terpasang sehingga bila kena air tidak akan kembali memudar. CMIIW.

Satu pekerjaan tersisa ini akan saya selesaikan nanti usai paket Kyrios Gundam tiba. Saya akan melihat terlebih dahulu apakah model kit Gundam membutuhkan hal yang sama dengan Stuka. Ini sangat penting. Terutama soal budget, apalagi bagi modeler penghobi amatir seperti saya ini.


Cipayung, 7 Maret 2016.

Minggu, 28 Februari 2016

The Legend Rebuilt: Stuka

"Verloren ist nur, wer sich selbst aufgibt" ("Lost are only those, who abandon themselves") 
Hans-Ulrich Rudel (July, 1916 - 1982) 
Luftwaffe Stuka Ace



Perkenalan saya dengan pesawat tempur legendaris Angkatan Udara Jerman ini dimulai ketika membaca buku "Dekade Kejayaan Luftwaffe". Pesawat ini memiliki reputasi yang hebat dimana terlibat pada Perang Saudara Spanyol, ekspansi Jerman ke Front Barat, hingga awal penaklukan Front Timur Rusia.

Junkers Ju-87 memiliki keunggulan karena dapat menghadapi serbuan infantri dan tank sekutu. Dijuluki "Sturzkampfflugzeug" yaitu Pengebom Tukik alias Dive Bomber biasa disingkat "Stuka" dimana pesawat tempur ini mampu menghalau serangan artileri lawan dan tank dengan cara menukik lambat. Pesawat ini cukup berperan untuk membuka infantri Jerman untuk masuk ke wilayah musuh. 

Stuka untuk saya adalah satu dari sekian banyak peninggalan Perang Dunia II yang patut mendapat catatan tersendiri. Bagaimana pun, peran Stuka sebagai line-up tempur di Luftwaffe ikut mewarnai dekade kejayaan Angkatan Udara yang pernah disegani di dunia. 

Now, one of them belong to me. 

Cipayung, 28 Februari 2016. 

Rabu, 17 Juni 2015

Pengalaman Pertama dengan Tomytec



Setelah menikah, saya tidak bisa lagi jor-joran dalam budget belanja hobi, terutama koleksi diecast. Walau begitu, itu tidak lantas menghentikan saya untuk sekedar iseng berkeliaran di FJB Kaskus. Kini, saya cenderung membatasi koleksi tipe diecast skala 1:64, apalagi setelah Tomy reguler (biru) harganya lebih dari US$ 3. Tipe bis tidak termasuk yang harus saya hindari karena bagaimanapun, saya tumbuh besar dengan kesukaan pada kendaraan itu. 

Beruntung, saya mendarat di thread dimana si penjual sedang melego habis semua koleksi Tomica miliknya. Ada yang dijual per set dan ada juga yang loose. Saya jatuh hati pada dua buah bis seri Tomytec #3 Mitsubishi Aero Queen dan Tomytec #4 Mitsubishi Low Decker. Saya mendapat harga yang pantas untuk dua buah bis Tomytec secondhand deals dan free ongkir setelah menego si penjual. 

Setelah barang sampai, saya jadi tahu apa yang membedakan bis keluaran Tomy reguler dan Tomytec. Material, jelas jauh berbeda. Tomytec menggunakan bahan mirip plastik sehingga lebih ringan dari Tomy reguler. Detail, agaknya berimbang namun harus diakui detail Tomytec lebih unggul. Perhatian saya kemudian tertuju pada sumbu roda. Tomytec terlihat seperti mainan biasa dimana kedua sumbu rodanya terlihat begitu saja begitu bis dibalik (lihat bagian bawah). 

Overall, Tomy reguler barangkali diciptakan untuk bisa dimainkan sekaligus dipajang sebagai koleksian. Sedangkan, Tomytec lebih cenderung untuk dipamerkan saja. In my honest opinion, detail yang dibawa Tomytec memang mengizinkannya untuk hanya jadi pusat perhatian. 


Dharmawangsa, 17 Juni 2015. 

Minggu, 10 November 2013

SBM Fun Run Bandung 5K

Akhirnya saya kembali berlari di Bandung di gelaran SBM Fun Run Bandung: 5K Closer To Your Happiness. Tema gelaran lomba kali ini cukup unik. 5K Closer To Your Happiness. Barangkali, panitianya percaya bahwa dengan berlari kita akan lebih dekat dengan yang namanya bahagia. Terbukti, setiap papan petunjuk yang dibubuhi quotes soal kebahagiaan. Contoh saja: one minute you angry, you loss 60 seconds of your happiness.



Race hari ini mengambil lokasi di dalam kampus ITB. Lomba dibagi menjadi dua lap. Inilah perbedaan yang signifikan dari race yang penah saya ikuti sebelumnya. Saya belum pernah mengikuti race seperti ini. Saya merasa jadi seperti pembalap yang diberi checkboard “FINAL LAP” ketika memasuki Lap ke-2. Mungkin itu pula sebabnya saya tidak terlalu tertarik untuk berlari mengitari stadion atau lapangan olahraga. Saya lebih senang berlari mengikuti jalur jalan raya.

Selain itu, pengalaman lain yang saya dapat dalam race ini yaitu pelari harus menghadapi medan naik-turun mengitari sekitar kawasan kampus. Race track yang turun-naik membuat pelari harus pintar-pintar mengatur nafas. Pengalaman ini sangat jauh berbeda dengan excitement ketika menanjak dan menurun di Semanggi.



Anyway, kalau saya harus berbahagia hari ini adalah kehadiran dua orang sahabat yang ikut menyambut usai menyentuh garis finish. Pun, ketika bertemu kembali kawan-kawan relawan #BebersihBandungYuk untuk bertukar info soal Bandung Trail Run #YukNgetrel setiap hari Sabtu. 



Akhirul kalam, menyambut Hari Pahlawan, medali hari ini saya persembahkan untuk mereka yang gugur di Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Sejarah akan selalu mengenang anda semua. Selamat Hari Pahlawan 1435H. Jadikan dirimu pahlawan olehmu, untuk diri sendiri dan lingkungan terdekatmu.


Pharmindo, 10 November 2013.

Minggu, 14 Oktober 2012

Takdir Cinta

Katanya, be careful of what you're wishing because you'll never knew when it comes to you. I do believe on such those words. Things just happened, without ever notice, sometimes. It may happen to all of us. Seperti kata @agus_noor dan @djenarmaesaayu dalam cerpen Kunang-Kunang di Dalam Bir, kita tidak pernah bisa meminta takdir seperti kita meminta segelas bir.

Katanya, kalau kita menginginkan sesuatu maka seluruh alam ini akan berkonspirasi untuk mendukung kita mencapainya. Termaktub dalam buku The Secret, dimuat juga sebagai buah pikiran dalam Laskar Pelangi. Pun, dalam konsep Mestakung alias Semesta Mendukung.

Katanya, things happen for a reason (reasons juga sometimes), nothing's free in this world. Saya tidak tahu apa ada hubungan diantara mereka semua. Padahal, ketika kita menginginkan sesuatu justru kita gagal mendapatkannya. Yang terakhir ini, ngutip dari @adhityamulya di bukunya "Gege Mengejar Cinta" #GMC.



What i want to tell you here is... Masih inget postingan terakhir di bulan September. Masih inget waktu saya nulis harus punya mokit Patlabor sebelum nikah? Kalau masih belum mudeng, sila lihat Selendang's Archice di tab sebelah kanan. 

Alhasil, gak lama setelah posting itu selesai ditulis dan selesai pula target posting bulanan, saya berhasil menemukan yang dicari. Saya tidak tahu harus berapa kali lagi mengucapkan: Thank God, It's Kaskus! Memang sedikit kecewa waktu tahu barang yang diincar sudah keduluan sama orang lain :( , but at least tangan Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri. Tak ada rotan akar pun jadi. Tak ada mokit Bandai, mokit lain pun jadi. 

Ini memang saya yang kurang gaul atau memang lack of knowledge. AV-98 Ingram 1 ini keluaran tahun 2011. Berarti, sudah setahun lebih. So, i keep asking myself: kemana aja loe? Anyhoo, satu pekerjaan lagi sudah menanti diantara pekerjaan-pekerjaan yang belum selesai dan tuntas. You may call me a procrastinator, if i may add.


Medan, 14 Oktober 2012

NB: Judul posting sengaja dibuat begitu, sama dengan judul lagu Rossa yang jadi OMPS Ayat-Ayat Cinta, supaya lebih dramatis kayak kisah Fahri *ngarep tepuk tangan pembaca*

Minggu, 30 September 2012

Masa Kecil Kurang Bahagia (atau belum selesai?)

Suatu malam, saya pernah berdoa dalam hati. Bukan doa tulus tetapi lebih merupakan rangkaian kata yang bermuatan sinis. Kenapa? Saya tahu bahwa saya tidak berhasil mendekati hatinya. Saya tahu sudah ada orang lain mengisi hatinya. Dengan congkaknya saya berdoa kepada Tuhan: "Ya Tuhan, semoga ada bagian dari masa lalu lelaki itu yang belum selesai." Apapun itu, saya berharap bahwa masa lalu lelaki itu akan menghalanginya dari perempuan yang namanya selalu ada di hati. (Even now when she had gone).

You might think, someday mantan-mantan lelaki itu muncul satu persatu lengkap dengan segudang permasalahannya. Saya tidak munafik. Justru itu hal yang paling memungkinkan, yang paling mungkin bisa terjadi. Atau malah, lebih parah. Trauma masa lalu soal relationship membuat lelaki itu tidak yakin dengan perempuan pilihannya (yang juga saya pilih, damn!). Pokoknya, malam itu saya berharap semoga doa saya itu menjadi nyata. Egois sekali. Padahal, saya tidak punya kuasa apapun supaya lelaki itu menyerah mendekati "Cinta Gue" (ngikutin gaya @harrisrisjad di #AntologiRasa by @ikanatassa).

Tadi malam, it's all coming back to me now kalau kata Celine Dion. Maksudnya, saya malah menemukan ada bagian masa lalu saya yang belum selesai. Bagian masa lalu yang selalu membayangi. Mengendap dalam dasar khayal imajinasi pikiran terluar. Merasuk dalam angan.



Pernah tahu Noah Izumi? atau tahu ceritanya sedikit. Well, sebelum heboh Noah dengan tur 2 benua 5 negara, saya sudah duluan kenal Noah. Noah Izumi, pilot Alphonse AV-98 Ingram, Patlabor Mobile Unit. Kalau pembaca termasuk @generasi90 dan sempat mengalami jaman #90an pasti tahu soal serial kartun anime yang satu ini. Walau saya tidak pernah tahu bagaimana cerita Patlabor dari awal, ada satu hal yang paling membenam di benak saya. Apalagi kalau bukan robot AV-98 Ingram. Tidak pernah terbayangkan kalau ternyata robot AV-98 dibuatkan juga replikanya sebagai model kit. Dan yang lebih mengganggu, keinginan itu muncul saat iseng browsing di FJB @kaskus *sigh.


Ternyata oh ternyata, saya baru sadar bahwa ada juga bagian dari masa lalu yang belum selesai. You may say that saya mengalami "masa kecil kurang bahagia". Bagaimana tidak, mengikuti serialnya saja hanya sepotong-sepotong, masih didera keinginan untuk punya replika robotnya pula. Sudah satu dekade lebih sejak keinginan itu pertama muncul. Kini, saya hanya berharap-harap cemas semoga saya bisa menemukan Alphonse dengan harga yang worth buying. Kalau bisa, sebelum mas kawin disematkan, one of the most wanted thing in my life sudah nongkrong dengan gantengnya di lemari khusus koleksi. Mengapa? Karena hobi model kit ini rawan menguras isi kantong dan sangat berpengaruh terhadap kondisi reliabilitas pembiayaan  hidup (ngomongin apaan sih? *diprospek Financial Planner : D ).

Sekarang aku tersadar.... Ya, better realize than never know and found it.


Paninggilan, 30 September 2012.

Jumat, 10 Juni 2011

Royal Alhakam Air Force


Kadang-kadang kita juga perlu menunjukkan bahwa kita ini bangsa yang berdaulat atas seluruh tanah air. Kadang-kadang juga kita mesti unjuk diri tanpa harus saling menyerang.

Il Squadra de RAAF (Royal Alhakam Air Force)

MiG-29 Fulcrum (Multirole Fighter)

Performance:

- Maximum speed: Mach 2.25 (2,400 km/h, 1,490 mph)
- Range: 1,430 km (772 nmi, 888 mi) with maximum internal fuel[117]
- Thrust/weight: 1.01

Armaments:

- 1 x 30 mm GSh-30-1 cannon with 150 rounds
- Up to 3,500 kg (7,720 lb) of weapons including six air-to-air missiles — a mix of semi-active radar homing (SARH) and AA-8 "Aphid", AA-10 "Alamo", AA-11 "Archer", AA-12 "Adder", FAB 500-M62, FAB-1000, TN-100, ECM Pods, S-24, AS-12, AS-14


MiG-23 Flogger (Interceptor/Fighter)

Performance:

- Maximum speed: Mach 2.32, 2,445 km/h
- Range: 1,150 km with six AAMs combat
- Thrust/weight: 0.88

Armaments:

- 1x Gryazev-Shipunov GSh-23L 23 mm cannon with 200 rounds
- R-23/24 (AA-7 "Apex")
- R-60 (AA-8 "Aphid")
- R-27 (AA-10 "Alamo")
- R-73 (AA-11 "Archer")
- R-77 (AA-12 "Adder")




F-14 Tomcat (Interceptor/Fighter/Multirole Fighter)

Performance:

- Maximum speed: Mach 2.34 (1,544 mph, 2,485 km/h) at high altitude
- Combat radius: 500 nmi (575 mi, 926 km)
- Thrust/weight: 0.91

Armaments:

- 1× 20 mm (0.787 in) M61 Vulcan 6-barreled gatling cannon, with 675 rounds
- AIM-54 Phoenix, AIM-7 Sparrow, AIM-9 Sidewinder
- JDAM Precision-guided munition (PGMs)
- Paveway series of Laser guided bombs
- Mk 80 series of unguided iron bombs
- Mk 20 Rockeye II
- Tactical Airborne Reconnaissance Pod System (TARPS)
- LANTIRN targeting pod




Alhakam Air Force Base, 10 Juni 2011.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...