Tampilkan postingan dengan label perjuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjuangan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 November 2021

Rumah Mice, Rumah Kita Juga!

Sumber gambar: Mice Cartoon Official Facebook

Menyenangkan sekali rasanya dapat membaca kembali komik dari Mice. Terlepas dari judul ataupun subjeknya. Komik yang habis dibaca sekali duduk ini menampilkan sisi lain dari komik Mice lainnya yang saya punya dan pernah baca sebelumnya. Dalam posisi saya yang kini sama seperti Mice-berkeluarga K2, membaca komik ini memberikan perasaan "heartwarming". Adalah keseharian keluarga yang tentunya kebanyakan sudah kami rasakan di rumah kami yang mungil (dan tepat di Tangsel juga :)))) ).

Segala macam perasaan bercampur aduk kala Mice menyuguhkan komik strip dengan kejadian yang pernah saya alami. Sangat dekat rasanya, sehingga saya sering teringat kembali pada perasaan kala mengalah untuk menuruti keinginan putri kecil saya. Kadang, kalau diingat kembali jadi sering membuat saya nyengir sendiri.

Anyway, sebelum dibukukan komik ini tadinya pernah rutin terbit untuk Ciayo Comics. Alangkah tertinggalnya saya karena saya hampir kehilangan jejak karya dari Mice Misrad sebelum menemukan komik ini. 

Dilabeli Parenthood dan Semua Umur, tidak salah bila komik ini ditujukan untuk seluruh anggota keluarga. Plus, anak-anak pun dapat membaca komik ini karena tidak ada konten berbahaya atau explicit content (macam sampul album Slipknot dkk :D). Sedikit catatan, ada hal yang dapat jadi pertimbangan tentang bagaimana cara Mice Misrad menyikapi anak-anaknya dalam menggunakan Youtube. Kita memang tidak bisa menghindarinya, tetapi kita sebagai orang tua dapat mengaturnya.

Saya setuju bila Mice Misrad kembali membuat komik lanjutan dari volume 1 ini. Ataupun, menerbitkan komik baru dengan tema yang sama. Sometimes, we need a heartwarming stories to keep our heart warm.

 

Judul           : Rumah Mice: Home is Where Our Story Begins Vol. 1
Penulis        : Muhammad 'Mice' Misrad
Penerbit       : m&c
Tahun          : 2019
Tebal           : 80 hal.
Genre          : Komik-Keluarga

CGK, 17 November 2021.

Senin, 01 November 2021

Dari Pojok Sejarah: Sebuah Catatan

Sumber gambar: www.goodreads.com

 
Awalnya, saya dibuat penasaran dengan buku-buku lama dari Emha. Salah satunya termasuk buku ini. Dari judulnya saja, rasanya sudah sangat serius. Apakah yang dimaksud dengan "pojok sejarah" itu? Memangnya ada yang tercecer atau atau tersisa dari "pojok sejarah"? Kalaupun betul begitu, "pojok sejarah"mana? Sejarah pra-kolonialisasi atau pasca-modernisme?
 
Agaknya, semua teka-teki dalam benak saya roboh seketika ketika buku ini benar-benar diterbitkan kembali. Buku berhalaman lebih dari 500 lembar ini memang membutuhkan stamina pembacaan yang prima. Buat saya, ini jadi satu pengalaman yang baru karena buku Emha inilah yang paling banyak halamannya yang pernah saya tamatkan.
 
Ada satu jurus yang saya lakukan sebelum dan selama pembacaan buku ini. Saya 'mengosongkan' diri saya dari segala asumsi dan pretensi sehingga saya bisa menerima dan mencerna isi buku ini bulat-bulat. Saya jadi tidak terpengaruh pertanyaan-pertanyaan saya sebelumnya diatas. Ditambah lagi, semua tulisan Cak Nun disini dibuat dengan gaya bahasa surat-menyurat. Tujuan utamanya adalah adiknya sendiri, Cak Dil.
 
Ini adalah suatu kenikmatan tersendiri karena dengan begitu menurut saya penulisnya akan mampu lepas dari jeratan formal penulisan esai atau artikel. Emha bisa bercerita apa saja tentang Eropa dan negeri asalnya sendiri dengan luwes. Mengingatkan saya pada buku "Surat dari Palmerah" karya Seno Gumira Ajidarma. Bedanya, seperti sudah saya catat sebelumnya: lebih tebal.
 
Banyak surat menarik yang menggambarkan keadaan kehidupan di tahun-tahun penulisannya. Personally, keadaannya pun masih tidak banyak berubah hingga saat ini. Mungkin, yang berubah hanya nama Presiden dari negeri asalnya Emha saja. Selebihnya, saya rasa para pembaca Emha sudah sangat paham.
 
Satu yang menarik adalah saya menemukan kembali sebuah tulisan Emha yang berjudul "Hidup Itu di Hati". Saya pernah membaca tulisan ini dari sebuah laman website tidak resmi yang memuat tulisan-tulisan Emha pada tahun 2009. Nama websitenya apa saya sudah lupa. Ternyata, asal-muasal tulisan itu bermula dari pengembaraan Cak Nun ke Eropa sana dan dimuat dalam buku ini. Kesan pembacaan "Hidup Itu di Hati" pada tahun 2009 dengan 12 tahun kemudian pun masih sama. Barangkali, pada lain kesempatan, hal ini bisa jadi satu bahan tulisan sendiri.
 
Saya menamatkan pembacaan buku ini lebih dari satu tahun sejak tanggal pembelian. Ada banyak waktu terlewati begitu saja. Saya pun jadi tertawa sendiri, mengapa baru mulai intens menamatkan pembacaan pada tiga bulan terakhir ini. Semoga bukan karena alasan work from home dan mendung yang sepertinya sengaja mewakili pikiran saya.


Judul           : Dari Pojok Sejarah
Penulis        : Emha Ainun Nadjib
Penerbit       : Mizan
Tahun          : 2020
Tebal           : 508 hal.
Genre          : Sosial-Budaya-Kehidupan-Kebudayaan

Cipayung, 1 November 2021.


Sabtu, 31 Juli 2021

Surat untuk Ais

Aisyah sayangku,

Awal bulan ini engkau genap berumur 4 tahun. Usia yang sudah cukup bagi Bapak dan Ibu untuk mendaftarkanmu sekolah Taman Kanak-Kanak (TK). Mudah-mudahan,pilihan ini adalah satu dari sekian juta pilihan kami sebagai ikhtiar. Sungguh keadaan pandemi ini membuat kami kesulitan untuk memasukkanmu ke sekolah TPA atau Pengajian, agar minimal engkau bisa a-ba-ta-tsa terlebih dahulu. Namun, kami tetap yakin, engkau akan mampu melaluinya di setiap pelajaran TK-mu nantinya.

Tidak hanya itu saja, di bulan ini juga Bapak bertambah bahagia karena Masmu sudah mampu untuk bersepeda roda dua. Tak lama setelah roda bantunya dilepas, ia segera melesat berkeliling-dan jatuh. Bapak senang sekali melihat semangatnya, walau memang harga yang harus dibayar lumayan besar. Baret-baret di motor dan mobil sudah tentu harus jadi resiko yang paling utama. Tapi tak apa lah, asal bukan hatinya saja yang baret, hehehe.

Aisyah,

Bapak merasa sedikit lega setelah mendapatkan sepeda pink yang selalu kau idamkan. Walaupun tidak benar-benar baru, Bapak harap kau pun juga sama senangnya. Kami sangat bahagia melihatmu bermain sepeda bersama. Kami pun juga dulu begitu. Selalu senang bersepeda dengan teman-teman. Semoga kesenangan ini bisa terus bertahan lama.

Aisyah,

Entah, atau hanya ge-er saja, Bapak pelan-pelan sedikit paham mengapa Akung punya perlakuan yang berbeda kepad aunty-mu, ya adik Bapakmu ini. Mungkin ini cuma ge-er saja tapi kalaupun benar ya sudah tidak apa-apa karena memang kau dan Masmu ini punya kebiasaan yang berbeda.

Puji syukur, ulang tahunmu ini kini tidak kami rayakan dengan memotong kue. Kami hanya bisa menuruti keinginanmu untuk punya sepatu baru untuk sekolah. Alhamdulillah, masih ada rejeki kami untuk menyiapkan segala keperluan sekolahmu.

Nak, terakhir, Bapak pesan semoga engkau tidak lelah menuntut ilmu. Zamanmu nanti kelak berbeda tantangannya dengan zaman Bapak. Tetap kuat dan tabah.

Peluk sayang,

 

Cipayung, 2 Juli 2021.

Minggu, 03 Januari 2021

Goodbye, Endomondo!

Ini adalah catatan singkat saya untuk Endomondo. Lebih tepatnya mungkin jadi sebuah kesan dari pengguna.

Bila harus menulis soal Endomondo, berarti saya harus menembus jala memori kembali ke tahun 2013-an. Saya tidak tahu kapan detailnya, namun saya menggunakan aplikasi olahraga ini sejak menggunakan Blackberry. Sebagai pelari pemula saat itu, saya menginstall aplikasi ini karena Teh Ninit Yunita yang saya follow akun Twitternya. Lumayan, sebagai pencatat hasil lari keliling yang selalu berakhir di Warung Nasi Uduk.

 


Saya cenderung menikmati Endomondo berdampingan dengan aplikasi Nike Running. Walaupun, Nike Running tetap menjadi yang utama. Endomondo hanya sebagai pendukung cadangan untuk menyamakan data saja. Ada beberapa momen dimana Endomondo membuat saya kecewa. Mungkin karena saya sempat berganti-ganti device sehingga akurasinya bermasalah.

Saya agak kaget ketika membuka aplikasi ini beberapa bulan yang lalu dengan sebuah notifikasi bahwa Endomondo akan menghentikan layanannya di tanggal 31 Desember 2020. What?!!! Sekecewa apapun dengan Endomondo namun bila perpisahan itu tiba tetap saja jadi sebuah kenyataan yang tidak menyenangkan.

Endomondo cukup membuat nyaman dengan beberapa fitur seperti personal best dan records. Endomondo mencatat beberapa kemajuan yang cukup menyemangati saya. Saya masih ingat rasa senang dan bahagianya ketika mendapatkan badge Personal Best untuk lari sejauh 1 mil. Saya tidak menyangkan bahwa aplikasi ini menghitung hingga sedetail ini. Sesuatu yang belum saya rasakan di aplikasi lanjutannya: MapMyRun.

Anyway, everything must come to an end. Perubahan itu niscaya adanya. Adios, Endomondo. Please be nice, MapMyRun.


Cipayung, 3 Januari 2021


Kamis, 04 Januari 2018

#BeraniGagal ala Si Juki

"Tidak penah gagal belum tentu hebat, terutama bagi yang belum pernah mencoba" - Si Juki
Sumber gambar: www.goodreads.com
Perkenalan saya dengan Si Juki dimulai pada zaman Twitter masih berkuasa. Entah medio 2012 atau 2013. Yang jelas, saat itu saya sudah tertarik dengan karakter Si Juki namun belum mau untuk membaca komiknya. Saya hanya mampu stalking sesekali ke akun Twitter Faza Meonk @Fazameonk, Sang Pencipta karakter bernama asli Muhamad Marzuki ini.

Belum lama ini muncul iklan di media televisi tentang rilis film Si Juki. Sebuah kabar baik untuk jagad perkomikan di Indonesia. Karya yang tadinya hanya sebatas cetakan buku dapat dinikmati sebagai satu produk sinematografi. Ya, tidak berlebihan bila sama menyamakan Komik Si Juki dengan Komik Dragon Ball yang sudah lebih dulu melegenda.

Komik edisi #BeraniGagal ini mengisahkan rentetan cerita kegagalan yang dialami Si Juki. Dimulai dengan perjalanan Si Juki yang ikut serta dalam Pemilu 2014 dalam format digital. Si Juki menang, namun hasilnya tidak diakui. Mantan Capres yang berduet dengan Si Tuti ini dirundung kegagalan.

Ini adalah pengalaman pertama saya dengan komik Si Juki. Memang ada beberapa missing link karena saya tidak membaca beberapa buku sebelumnya. Namun, hal itu tidak menjadi masalah besar karena komik ini punya alurnya sendiri.

Saya suka alur ceritanya yang dirunut dari awal. Cerita dimulai dari bab Si Juki Sang Capres Gagal, Silsilah Kegagalan, Legenda Kegagalan, Yang Gagal dan Dilahirkan, Tak Selamanya Gagal Itu Pahit, Impian dan Kegagalan. Keresahan kaum Jomblo pun dikisahkan pada bab Jomlo (tidak sama dengan) Gagal. Mengikuti seterusnya bab Semua Pernah Gagal.

Sebagai buku yang habis dibaca sekali duduk, komik Si Juki edisi ini sangat menghibur. Buku ini pun tidak semuanya berisi panel komik. Ada beberapa narasi yang harus dibaca sebagai pengantar sebelum melihat adegan komikal, tentu masih dengan rentetan humor. Ada banyak celotehan segar yang mampu membuat tertawa puas. Ada beberapa sindiran satir dan sinis terhadap kemajuan teknologi akhir-akhir ini. Namun, diatas itu semua yang lebih penting adalah pesan-pesan dalam menyikapi kegagalan. Agaknya, pesan-pesan itulah yang berusaha disampaikan Si Juki untuk Generasi Zaman Now, agar tidak mudah putus asa dalam menghadapi kegagalan.

Anyway, Catatan Hampir Teladan Si Juki ini mengingatkan saya sekilas pada buku Catatan Mahasiswa Gila milik Adhitya Mulya. Ada banyak kejadian konyol didalam kedua buku itu, tetapi muatan pesan dan hikmah keduanya tetap kental dan sangat mudah dipahami. Semoga semakin banyak lagi komik karya anak bangsa, yang tidak hanya pandai menghibur tapi juga jagoan memberikan teladan.

Judul       : #BeraniGagal: Catatan Hampir Teladan Si Juki
Penulis    : Faza Meonk, et.al
Penerbit   : Bukune
Tahun      : 2016
Tebal       : 156 hal.
Genre     : Komik Indonesia

Cipayung-Cengkareng, 4 Januari 2018.

Sabtu, 30 Desember 2017

Air Mata Bola

Sumber gambar: www.goodreads.com
Air Mata Bola adalah sekuel dari Trilogi Sepakbola Sindhunata. Judulnya seakan mewakili berbagai tragedi sepakbola yang tidak selalu memilukan namun menuai air mata. Betapa sepakbola bukan hanya sekedar olahraga belaka. Lebih dari itu, sepakbola adalah bagian panggung kecil kehidupan.

Bagian kedua ini mengambil rentang waktu pada menjelangnya Piala Eropa 1996 di Inggris. Waktu itu, Inggris kembali gegap gempita dengan semangat 'Football Coming Home'. Kemudian, beralih sedikit dengan kemenangan Dortmund atas Juventus pada final Piala Champions 1997.

Air mata bertebaran kala itu karena Juventus sedang berada dalam kondisi ideal untuk menguasai jagad sepakbola Eropa. Timeline ditutup dengan episode menjelang final Piala Champions musim 1998-1999 yang mempertemukan Bayern Muenchen dan Manchester United di Nou Camp, Barcelona.

Saya selalu merujuk buku ini bila butuh rekreasi sejenak untuk menemukan kembali inspirasi dari Predrag Mijatovic. Ia adalah seorang striker yang sangat percaya diri. Alasan yang tepat untuk keberadaannya di skuad Real Madrid kala itu. Kisahnya dapat dibaca dalam artikel berjudul 'Ambisi Sebuah Klub Superlatif'.

Tidak hanya soal itu saja, rasanya selalu menyenangkan kala membaca kembali kisah tidak terduga dari Kroasia dan Republik Ceko di gelaran Euro 96. Allen Boksic dan Davor Suker adalah label dari kejutan-kejutan itu. Munculnya Republik Ceko dalam final menghadapi Jerman adalah sebuah perlawanan dalam kemapanan.

Satu lagi, buku ini juga memuat kisah Eric Cantona dan Sir Alex Ferguson. Usai merekrutnya dari Leeds United, Sir Alex bertanya pada Cantona sebesar apakah dirinya untuk bermain di MU. Cantona balik bertanya sebesar apakah MU untuknya.

Kisah-kisah diatas adalah cerita yang selalu menarik untuk dibaca kembali. Sepakbola sebagai realitas kecil kehidupan mampu menyajikan tontonan yang tidak hanya melulu soal sportivitas teapi juga soal humanisme. Humanisme universal tentang bagaimana memaknai kehidupan yang kadang juga penuh dengan air mata.

Judul           : Air Mata Bola
Penulis        : Sindhunata
Penerbit       : Penerbit Buku Kompas
Tahun          : 2002
Tebal           : 276 hal.
Genre          : Sosial-Budaya


Cipayung, 30 Desember 2017.

Senin, 30 Oktober 2017

Rekonstruksi Panglima Besar Soedirman

Yang sakit itu Soedirman, tapi Panglima Besar tidak pernah sakit

Sumber gambar: www.goodreads.com
Buku ini hadir sebagai bentuk reproduksi edisi khusus Koran Tempo yang membahas tentang Bapak Pendiri TNI ini. Melalui kehadiran buku ini, pembaca disajikan beberapa keterangan yang "disembunyikan" oleh konstruksi sejarah orde baru. Dengan demikian, buku ini merupakan dekonstruksi atas konstruksi imajiner Jenderal Besar Soedirman versi Orde Baru. Pembaca dihadapkan pada satu sosok utuh seorang Panglima Besar Soedirman. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Sejarah sebuah bangsa yang baru merdeka tergambar dalam buku ini. Batu landasan pendirian Tentara Nasional Indonesia diletakkan oleh seorang Soedirman muda yang berumur 29 tahun. Sudah tentu bukan hal yang mudah, integrasi laskar-laskar rakyat sebagai kekuatan sayap militer dengan tentara republik eks Peta-KNIL, seringkali menimbulkan gesekan bagai kerikil tajam dalam tubuh Republik muda,

Dengan kharisma yang dimilikinya, Panglima Besar Soedirman berhasil meredam konflik dan meletakkan dasar fondasi penting untuk Tentara Nasional Indonesia. Dalam kondisi sesulit apapun, ia tetap tunduk pada kepemimpinan sipil Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Usaha penerbitan kembali kisah sejarah bangsa semacam ini patut mendapatkan apresiasi. Penulisan profil para perwira militer penting Indonesia membutuhkan ketekunan. Militer tetap mempertahankan aura ketertutupan yang sulit ditembus. Alhasil, pembacaan kembali sejarah ke belakang, pembaca diharapkan mampu menilai sendiri dan melakukan rekonstruksi sendiri atas fakta sejarah negeri ini.

Judul        : Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir
Penulis     : Arif Zulkifli (ed.)
Penerbit    : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun       : 2012
Tebal        : 160 hal.
Genre       : Sejarah-Indonesia

Cipayung, 21 Oktober 2017

Kamis, 31 Agustus 2017

Drupadi

Apakah perempuan diandaikan tidak punya kemauan? Tentu seorang perempuan memiliki kehendaknya sendiri.

Sumber gambar: www.goodreads.com
Kisah tentang Drupadi adalah kisah sejati kodrati seorang perempuan. Sebuah kisah yang menyayat hati karena ketulusan yang suci. Tentulah tidak perlu saya ulang lagi bagaimana kisah Drupadi. Belakangan ini, kisah epik Mahabharata kembali muncul di layar kaca. Sila tengok sendiri jalan ceritanya di bagian Drupadi yang masih berkaitan dengan lakon Pandawa Dadu.

Saya tidak heran jika Seno Gumira Ajidarma kembali menulis tentang sebuah lakon. Sesudah pengemasan kembali kisah epik Ramayana dalam Kitab Omong Kosong, tentunya. Seno sendiri agaknya memainkan wacana tentang hegemoni gender yang diibaratkannya dengan kisah Pandawa dan Drupadi. Seno banyak menggunakan referensi lain yang menambah kekuatan buku ini. Utamanya soal Mahabharata.

Drupadi yang hadir ke tangan pembaca yang budiman adalah Drupadi yang telah melewati sekian banyak riwayat publikasi. Bab 1 hingga bab 4 dimuat secara bersambung dalam majalah mingguan Zaman, 14 Januari-11 Februari 1984. Bab 5 masih dimuat Zaman edisi 22 Desember 1984. Bab 6 hingga 10 ditulis medio 2000. Bab 10 muncul kembali dalam harian Kompas Minggu 7 Januari 2001, Cerpen Pilihan Kompas 2002, dan Senja dan Cinta yang Berdarah (2014). Sedangkan, Bab 6, 7, 8, 9 dimuat pada berbagai harian yaitu Suara Pembaruan, Media Indonesia, Republika, dan Suara Merdeka.

Drupadi tidak menyukai suratan karena kehidupan manusia menjadi tidak berarti tanpa adanya perjuangan. Jika segalanya telah menjadi suratan, apakah yang masih menarik dalam hidup yang berkepanjangan ini? Apakah usaha manusia tidak ada artinya? Apakah memang semua sudah ditentukan seperti nasibnya yang menjadi istri dari kelima ksatria Pandawa? Drupadi adalah sebuah kehendak sekaligus gugatan.

Judul        : Drupadi: Perempuan Poliandris
Penulis     : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit   : Gramedia Pustaka Utama
Tahun       : 2017
Tebal        : 149 hal.
Genre       : Sastra Indonesia - Kumpulan Cerpen


Tangerang, 23 Agustus 2017.

Senin, 31 Juli 2017

Surat untuk Aisyah

Anakku,

Catatan ini ditulis menjelang sebulan usiamu. Pada hari Senin, dua hari sebelum imunisasimu yang pertama. Kehadiranmu adalah pelengkap bagi kebahagiaan kami. Bapak dan Ibu sudah menantimu dan sangat bersyukur. 

Nak, karena perbedaan jarak antara Mas Aldebaran denganmu belum genap dua tahun maka satu-satunya jalan untuk kelahiranmu adalah melalui operasi sectio caesaria, sama seperti Mas Alde. 

Hari kelahiranmu adalah sebuah perdebatan. Antara jarak lahir normal dengan cuti sebelum lebaran. Begitulah yang Bapak tangkap dan akhirnya Bapak putuskan untuk membawa Ibu segera ke Bandung untuk mendapat second  opinion dari Dokter. 2 Juli adalah tanggal yang sudah ditentukan. Bisa lebih cepat, tidak boleh lebih lambat. Bahkan, tadinya tanggal lahirmu adalah 1 Syawal 1438 H.

Pada hari kelahiranmu, semua berjalan sangat lambat. Kota Bandung masih tidur menunggu esok. Bapak dan Ibu juga sangat berat untuk meninggalkan Mas Alde sendirian. Ibu sudah siap di ruang operasi ketika sang dokter baru saja tiba siang itu.

14.36 Waktu Indonesia bagian Bandung Utara, engkau dinyatakan secara resmi lahir menatap dunia, lepas dari rahim Ibu. Saat yang menegangkan ketika menunggumu hingga jam 4 sore dan belum ada kabar. Tak lama, engkau dibawa untuk dibersihkan.Berat badanmu 3,2 kg dengan panjang 48 cm.  Bapak dan Ibu kini punya seorang putri untuk menemani Mas Aldebaran.

Mengadzani dan megiqamahimu adalah saat yang Bapak tunggu. Hati Bapak bergetar melihat senyummu. Adzan kedua setelah Mas Aldebaran dua tahun lalu. Seperti Mas Aldebaran, engkau pun langsung menerima Vitamin K pertamamu. Oh ya, Bapak senang mendengar kabar bahwa engkau langsung mendapatkan ASI dari Ibu. Jarak waktu yang lama dari kelahiran hingga ke ruang pembersihan adalah karena engkau sedang menerima ASI lewat Inisiasi Menyusui Dini.

Sayangku,

Bapak senang karena bisa menungguimu sepanjang hari. Penat memang terasa, tapi itu selalu tergantikan dengan kiriman foto Mas Aldebaran yang main bersama Eyangnya dan juga oleh tangisanmu.

Ibu pulih agak lebih lambat dibanding sebelumnya. Bapak lihat betul kepayahan Ibu usai operasi. Bapak dan Ibu dibuat kembali sedih ketika engkau seharusnya sudah diizinkan pulang namun kadar bilirubinmu masih 13. Artinya, engkau harus menginap dua malam lagi. Itulah saat yang berat karena Ibu sudah ingin membawamu pulang-apapun yang terjadi. Namun, pada satu sisi, Bapak juga tidak sanggup membiarkanmu dalam keadaan gawat begitu.

Setelah melalui pergulatan selama berjam-jam, kami putuskan untuk meninggalkanmu di ruang perawatan. Sedih rasanya. Namun, kami juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Setidaknya, itulah ikhtiar kami untuk kesehatanmu. Walau kami sudah pernah mengalaminya bersama Mas Aldebaran tetap saja terasa berat.

Aisyah, manisku,

Pergulatan kembali Bapak rasakan saat akan memberimu nama. Mas Aldebaran harus menunggu sampai tujuh hari. Bapak tidak ingin engkau lebih lama darinya, tapi akhirnya pada hari ke-13 engkau baru diberi nama. Itupun harus segera karena sudah ditunggu oleh Tukang Aqiqah. Maka kami bersepakat menamaimu Aisyah Farhanah Aurora. 

Ada cerita lain tentang namamu, tadinya ingin Bapak tambahkan Achernar dan diakhiri oleh Alhakam. Achernar adalah nama bintang paling terang di konstelasi Eridani, atau Alpha Eri. Seperti Aldebaran yang juga Alpha Tauri. Bapak bukan Ahli Astronomi ataupun berkecimpung disitu hanya saja ide akan bintang paling bersinar di lautan jagat semesta tanpa batas selalu membuat Bapak kagum.

Aisyah, anakku. Jadilah selalu pribadi yang menyenangkan, taat pada Tuhan dan orang tua.


Bandung-Jakarta, 31 Juli 2017.

Minggu, 30 April 2017

The Tide Turns: Pendaratan Bersejarah di Normandia

Sumber gambar: www.amazon.com
Pada 6 Juni 1944, Operasi Overlord dimulai. Sekutu mengerahkan sejuta prajurit untuk merebut Pantai Normandia, Perancis dari cengkeraman NAZI Jerman. Serbuan sekutu ini menjadi titik balik medan laga di Perang Eropa selama masa Perang Dunia II karena sesudahnya mengubah posisi NAZI Jerman yang semula gigih menyerang menjadi bertahan, sebelum akhirnya berangsur-angsur mundur dan kalah usai Battlle of The Bulge.

Invasi ke Normandia menandai dibukanya garis depan pertempuran yang kedua di Eropa. Serangan ini merupakan bencana terbesar bagi Hitler dan Angkatan Bersenjata Jerman. Selain bertujuan menghadirkan tentara sekutu di wilayah Eropa daratan, serangan ini juga memutus akses Jerman dengan pelabuhan-pelabuhan Atlantik di Perancis. Dengan begitu, pertempuran yang dilakukan oleh kapal selam Jerman, U-Boat juga dipastikan dapat berakhir.

Lepasnya Normandia juga berpengaruh besar bagi sistem peringatan dini Angkatan Udara Jerman, Luftwaffe. Hilangnya sistem radar berarti Jerman menjadi vulnerable terhadap serangan udara dari Sekutu. Hilangnya Luftwaffe di langit Eropa menandai kesuksesan pesawat pembom Sekutu untuk melakukan pemboman dan mendukung pergerakan pasukan.

Komik ini berusaha menghimpun semua yang berserakan dari invasi yang lebih dikenal dengan istilah 'D-Day'. Doug Murray berhasil menampilkan episode-episode penting kejatuhan NAZI Jerman dalam ruang bingkai yang terbatas. Tentu, tidak perlu ada pergulatan wacana mengenai sudut pandang yang digunakan sang komikus dalam karyanya ini. Sudah tentu, sang pemenang peranglah yang berhak menentukan sejarah atas pencatatan tragedi runtuhnya Third Reich.

Judul           : The Tide Turns: D-Day Invasion
Penulis        : Doug Murray
Penerbit      : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun          : 2008
Tebal           : 48 hal.
Genre          : Sejarah-Komik
 

Cipayung, 30 April 2017.

Jumat, 31 Maret 2017

Outliers


Outliers menarik perhatian saya dalam sebuah wawancara di radio medio 2009 lalu. Acara itu dilangsungkan dalam rangka penerbitan buku sekaligus promosi. Banyak cerita yang menggugah kesadaran saya. Bahwa orang sukses itu memang sudah diciptakan dari sananya. Ada beberapa analisis yang bisa membuktikan hal itu. Pada bab-bab awal, Malcolm Gladwell menjelaskan pembuktian saintifiknya.

Buku ini menceritakan bagaimana para “Outliers” membentuk diri mereka. Malcolm Gladwell ingin pertanyaan inti dari buku ini: “what makes high-achievers different?”. Dia menjawab bahwa kita terlalu menyimpan perhatian penuh pada kebiasaan atau bagaimana menjadi orang yang sukses. Kita lupa untuk melihat hal-hal lain dibelakang kesuksesan dan keberhasilan para “Outliers”. Misalnya saja, pada darimana mereka berasal, bagaimana kultur dan kebiasaan mereka, keadaan keluarga mereka, soal keturunan, dan lain-lain. Sebagai contoh, Gladwell memberi penjelasan tentang bagaimana menjadi seorang pemain sepakbola terbaik, mengapa orang Asia hebat dalam bidang matematika, dan mengapa The Beatles menjadi band terbaik sepanjang masa.

Selain latihan yang intens, kultur, dan kebiasaan, ada satu hal lain yang coba dikuak oleh Outliers ini. Satu hal itu adalah kesempatan. Ada banyak contoh tentang mengapa generasi yang lahir pada tahun tertentu memiliki penghidupan yang lebih baik di masa pasca depresi di Amerika Serikat.
Ada beberapa catatan khusus tentang bagaimana Bill Gates dan The Beatles menjadi masterpiece abad ke-20. Selama ini, kita hanya tahu bahwa Bill Gates adalah seorang mahasiswa yang tidak menyelesaikan kuliahnya dan kemudian mendirikan Microsoft. Selama ini kita dibuai dengan kisah bahwa kesuksesan tidak hanya melulu dari bangku kuliah. Saya tidak meragukan pendapat itu hanya saja perlu dicermati bahwa Bill Gates sudah melakukan apa yang dipelajarinya di masa kuliah selama 10.000 jam pada masa sekolahnya.
Semasa sekolah, Bill Gates muda sering menghabiskan waktunya dengan komputer yang bisa dipinjamnya seusai sekolah bahkan hingga larut malam. Selama itu, ia lebih banyak bereksperimen dengan membuat berbagai program komputer. Maka, ketika ia kuliah dan melihat apa yang ditawarkan oleh kampusnya adalah sesuatu yang sudah dikerjakannya selama kurang lebih 10.000 jam lamanya kemudian ia memutuskan untuk berhenti kuliah. Tidak mungkin Microsoft akan menjadi perusahaan besar tanpa skill Bill Gates yang sudah terlatih bahkan sebelum kuliah.
Sekali lagi, kita selalu dibuai oleh mimpi Bill Gates, bahwa tidak selalu anak kuliahan yang akan meraih kesuksesan. Tetapi, alangkah baiknya bila kita melihat kembali apa yang sudah Bill Gates lakukan sehingga ia mengambil keputusan yang berani untuk meninggalkan kampusnya. Seringkali kita generasi muda ini terjebak hanya pada hasilnya, bukan pada proses 10.000 jam yang membentuk Bill Gates menjadi pribadi yang utuh di bisnis pemrograman komputer.

Tentang The Beatles, band asal Liverpool, Inggris ini telah mengalami hal yang serupa dengan Bill Gates. The Beatles mendapatkan pengalaman 10.000 jamnya di Hamburg, Jerman. Tampil dari satu klub ke klub lainnya selama 8 jam semalam telah membentuk mereka menjadi band legendaris dunia. Melalui masa-masa panggung di Hamburg, The Beatles berlatih dan menempa diri mereka untuk memikat pengunjung. Mereka harus memainkan musik mereka di hadapan audiens yang belum paham benar tentang musik yang mereka bawakan. Dengan jam terbang yang semakin tinggi, The Beatles berhasil memikat banyak orang di Hamburg dan ketika akhirnya mereka mendaki kesuksesan
di berbagai belahan dunia, mereka sudah memiliki bekal untuk itu: pengalaman panggung 10.000 jam.

Simak pula tentang bagaimana Korean Air (dahulu Korean Air Lines) membuat transformasi pada sisi operasinya dengan mengandalkan warisan kebudayaan mereka. Tentang bagaimana budaya hormat dan budaya kerja menjadi salah satu transformasi yang penting bagi kelangsungan usaha mereka. Perlu dicatat, mereka melakukan semua itu setelah mengalami krisis keselamatan.

Last but not least, Malcolm Gladwell turut memberi contoh kecil tentang bagaimana seorang Outliers itu. Ia adalah produk kesempatan, takdir, warisan, dan berbagai hal yang kelihatannya natural dimiliki oleh seseorang. Ia mencontohkan dirinya sendiri sebagai keturunan dari nenek moyangnya yang punya kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi dan menikah dengan orang yang pantas pada kurun waktu yang menguntungkan.
Buku ini baru saya baca tiga tahun setelah acara radio itu tayang dan baru menamatkannya bulan ini. Saya rasa tidak ada istilah terlambat. Karena bagaimanapun isi buku ini tidak berubah atau mengalami revisi. Malcolm Gladwell menulis buku lainnya guna melengkapi Outliers, seperti The Tipping Point, Blink, What the Dog Saw. Gladwell mengajak pembacanya pada suatu pengalaman yang baru untuk melakukan self-motivation tanpa harus menggurui.

Judul      : Outliers
Penulis   : Malcolm Gladwell
Penerbit  : Gramedia Pustaka Utama
Tahun     : 2011
Tebal      : 339 hal.
Genre     : Psikologi Sosial


Cipayung, 31 Maret 2017.
Ditulis kembali dengan penambahan dari tulisan tanggal 13 Januari 2013.

Selasa, 31 Januari 2017

Trilogi Otobiografi Mohammad Hatta #1: Bukittinggi - Rotterdam Lewat Betawi

Kita manusia dan segala yang hidup diatas dunia adalah baru. Alam, matahari, bulan, dan bintang semuanya baru. Semuanya buatan Tuhan. Segala yang terjadi ada yang menjadikan. Ada awal, ada akhirnya.

Sumber gambar: www.goodreads.com

Membaca buku pertama serial trilogy ‘Untuk Negeriku’ karya Bung Hatta ini menimbulkan semacam perasaan yang sentimental. Terasa betul bahwa buku ini ditulis dengan sentuhan personal Bung Hatta. Catatan personal yang lengkap dengan segala latar belakang emosionalnya.

Mohammad Hatta kecil dibesarkan dengan latar belakang agama yang kuat. Bung Hatta adalah seorang cucu dari ulama besar, Datuk Abdul Rahman, yang terkemuka dan memiliki banyak murid di Batuhampar. Ia sudah mulai dididik dengan ajaran Islam yang ketat sedari kecil. Hatta kecil sudah diperkenalkan dengan prinsip-prinsip keislaman dan jalan tarekat menuju Tuhan. Kelak, hal ini pula yang akan membentuk kepribadiannya. 

Tidak banyak orang yang mengira bahwa Mohammad Hatta besar tidak sebagai alim ulama. Sebagaimana ia pernah ditahbiskan dahulu pada masa kecilnya. Ia melanjutkan pendidikan menengah MULO di Padang. Disinilah ia mulai belajar berorganisasi melalui klub sepakbola Swallod dan organisasi Jong Sumatranen Bond (JSB). Takdir pun membawanya hingga ke Betawi. Hatta pun bersekolah di Prins Hendrik School.

Lulus dari PHS, ia diimingi jabatan dengan fasilitas yang lumayan. Dengan tekad belajarnya yang tinggi, Hatta memutuskan untuk meneruskan sekolah. Saya bisa ikut merasakan pergulatan pada pikiran dan jiwa Hatta pada fase hidupnya yang kesekian ini. Kecintaannya pada Indonesia hingga keinginan dan impiannya yang tinggi mendorong Mohammad Hatta untuk meneruskan sekolah di negeri Belanda. Ketertarikannya yang tinggi terhadap bidang ekonomi menuntunnya belajar di Handelshogeschool di Rotterdam pada usia 19 tahun.

Kiprah Bung Hatta di negerinya Van Der Vaart sana seperti sudah kita baca di buku sejarah. Hatta tidak hanya terus belajar dan belajar. Bung Hatta juga rajin membangun jaringan dengan sesama pelajar Indonesia disana dengan membentuk Perhimpunan Indonesia (PI). PI terlibat aktif dalam gerakan anti kolonialisme dan imperialism internasional. Ia sempat ditangkap dan diadili karena aktivitas pergerakannya. Justru di pengadilan itulah memoar pembelaan Bung Hatta menjadi sebuah masterpiece berjudul “Indonesia Merdeka”.

Membaca buku pertama ini pembaca diajak untuk memahami ihwal mengenai identitas Mohammad Hatta. Bagaimana pembentukan karakternya dan siapa saja yang berperan dalam fase-fase hidupnya. Pembaca juga turut diajak mengembara dengan episode-episode hidup Bung Hatta yang terasa betul gairahnya untuk Indonesia Merdeka. 

Judul                    : Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi (Untuk Negeriku, #1)
Penulis                 : Mohammad Hatta
Penerbit                : Penerbit Buku Kompas
Tahun                   : 2011
Tebal                    : 324 hal.
Genre                   : Biografi-Memoar


Cipayung, 26 Januari 2017.

Jumat, 30 September 2016

Battle of Los Angeles

Captured and reproduced from www.imdb.com
Agak sulit dimengerti mengapa bumi selalu menjadi incaran makhluk luar angkasa. Khusus untuk film ini, saya memberi catatan bahwa spaceship yang digunakan invader adalah spaceship a la Transformers 4. Entah kebetulan atau tidak, yang jelas kedua spaceship ini mirip. Bedanya, di film ini tidak diperlihatkan bagaimana jeroan, tidak seperti TF4 yang menampilkan aksi heroik penyelamatan Optimus Prime. 

US Marine Corps kembali menjadi fokus dari cerita film ini ketika mereka terlibat misi untuk mengevakuasi warga sipil dari serangan invader yang sudah menguasai daratan Amerika lewat Santa Monica di Los Angeles. Saya memberi perhatian khusus bahwa sekitar lebih dari 70% film ini berisi rentetan suara senjata dan dentuman ledakan bom. Penikmat film action/perang pasti menikmati suasana semacam ini.

Petuah berharga dari film ini adalah kebersamaan, keberanian, dan percaya (trust). Saya mengamati bahwa hampir tidak ada evakuasi yang gagal dilaksanakan. Saya mengharapkan sebuah kejutan macam di film Rambo (entah yang keberapa), ketika John Rambo tidak jadi dievakuasi dari daerah yang dikuasai Vietkong usai membebaskan seorang tahanan. 

Film yang dirilis tahun 2011 ini adalah tipikal film U.S.A. Patriotisme, adalah jargon utamanya. Barangkali, memang ada hubungannya dengan propagandanya sebagai global peacemaker or peacekeeper. Memang tidak terhitung sudah berapa film yang mengisahkan pertempuran tentara AS. Entah itu melawan tentara betulan yang berwujud manusia atau karakter fiksional, semacam alien atau malah meteorit. I dont know, but they seem against everything that threat their interest.

Judul          : Battle Los Angeles
Sutradara   : Jonathan Liebesman
Pemain      : Aaron Eckhart, Michelle Rodriguez, Bridget Moynahan, Neyo
Produksi    : Columbia Pictures
Tahun        : 2011
Genre        : Action

Cipayung, 25 September 2016.

Ah Boys to Men

Courtesy: www.newnation.sg
Tidak banyak film oriental yang saya tonton selepas masa-masa paling menyenangkan tahun 90-an. Kalaupun ada, itu hanya film-film karya Stephen Chow yang sering diputar ulang di televisi swasta nasional. Film buatan Singapura ini saya tonton secara tidak sengaja juga ketika mencari channel tontonan dari sebuah provider televisi berbayar.
 
Saya mulai menonton ketika masuk adegan balas dendam dari sekelompok rekrutan National Service (NS). Scene menampilkan anak-anak rekrutan NS melempari target mereka dengan kotoran. Kejadian itu juga mengundang serangan balasan. Sebagai konsekuensinya, mereka dihukum dengan tidak boleh keluar dari barak selama beberapa waktu. Mulai dari sini, ketegangan dan moral film mulai terasa. Nilai-nilai kedisiplinan militer dan kesetiakawanan menjadi hal utama yang mengisi scene-scene selanjutnya.
 
Film yang berlokasi shooting di Pulau Tekong ini menampilkan nasionalisme sebagai isu utama. Untuk saya, hal ini sangat menggelitik. Apakah benar bahwa kaum muda Singapura sudah kehilangan rasa nasionalismenya? Ada satu quote menarik ketika para NS dikumpulkan dan surat untuk mereka dibuang. Si Sersan Pelatih bilang: "Rasa kehilangan kalian untuk surat-surat itu tidak sebanding dengan rasa kehilangan orang tua, kakak, adik, dan teman jika Singapura benar-benar diserang."
 
Terus terang, saya terenyuh usai menonton film ini. Bagaimanapun, rasa nasionalisme itu harus dibangkitkan kembali. Agar Bangsa Indonesia kembali menjadi bangsa yang mampu berdiri di kaki sendiri. Juga generasi mudanya tidak lantas menjadi generasi tempe.

Cipayung, 24 September 2016.

Rabu, 31 Agustus 2016

Catatan Pembuka untuk Para Priyayi

Courtesy: www.goodreads.com

Sudah lama sekali saya mengidamkan buku ini. Terlebih setelah berhasil mendapatkan "Mangan Ora Mangan Kumpul". "Para Priyayi" selalu menggelitik rasa penasaran saya. Tentang bagaimana status priyayi itu berkembang menjadi sebuah identitas yang memiliki tingkatan tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Setidaknya, saya membutuhkan gambaran tentang hal itu, dimana priyayi telah menjadi semacam gengsi kelas dalam tatanan hidup bermasyarakat.

Saya belum sampai pada halaman setengah buku ini. Namun, sudah cukup memiliki gambaran bagaimana priyayi itu "dilestarikan". Saya juga belum sampai pada jawaban, apakah yang dimaksud dengan priyayi itu sendiri? Apakah sebuah status kelas dalam masyarakat? Apakah hanya sekedar istilah dan sebutan bagi para kaum elite birokrasi? Lantas apa bedanya dengan birokrat? Apakah priyayi ini jalan hidup atau hanya sebuah gaya hidup belaka?

Apapun itu jawabannya, saya masih harus menamatkan buku ini terlebih dahulu. Sebagai kewajiban untuk memahami secara utuh seorang priyayi menurut penuturan Umar Kayam.

Cipayung, 29 Agustus 2016.

Selasa, 30 Agustus 2016

Kode Untuk Republik

"Ada benang merah antara kerahasiaan dan kemerdekaan, di Indonesia kita menyebutnya Sandi Negara."

Impresi pertama saya atas buku ini adalah buku ini harus saya miliki karena bicara tentang sejarah republik. Menilik judulnya, "Kode Untuk Republik" tentunya bicara soal peran kode-kode yang dihandle oleh sebuah Dinas perkodean pada masa perang kemerdekaan. Dinas perkodean tersebut selanjutnya dinamakan Dinas Kode. Kini, Dinas Kode telah berevolusi menjadi sebuah badan otonom dibawah komando Presiden yaitu Lembaga Sandi Negara.
 
Courtesy: www.goodreads.com

Buku ini terhitung memiliki cakupan yang lengkap. Artinya, selain menggunakan sitasi referensi yang valid dan meyakinkan, penulisnya terampil untuk memasukkan sejarah penciptaan sandi. Tentunya, hal ini berguna bagi pembaca awam sebagai penyelaras konteks sebelum pembacaan detail mengenai peran kode dalam perang kemerdekaan. Awalnya, bagi sebagian pembaca mungkin terasa membosankan namun bisa tulisan tersebut diabaikan agak sulit untuk memahami beberapa istilah yang digunakan pada bab-bab berikutnya.

Penulis mengambil alur sejarah mulai dari Perang Dunia Kedua, dimana sebuah mesin bernama 'Enigma' menjadi sebuah kartu as bagi Pasukan Jerman dalam menaklukkan daerah-daerah incarannya. Dari Perang Dunia itu, imbas yang terasa pada Indonesia adalah drama kekalahan Jepang. Rencana operasi militer Jepang dapat diketahui Sekutu melalui mesin-mesin pemecah kode sehingga mereka bisa menyiapkan serangan untuk menghalau aksi Jepang.

"Perang Kode" antara pemerintahan Republik melawan pemerintahan Hindia Belanda yang berupaya untuk menduduki kembali Indonesia terjadi secara terbuka. Dinas Intelijen Militer Hindia Belanda, NEFIS, yang selama pendudukan Jepang hijrah ke Australia kembali ke Indonesia usai perjanjian-perjanjian antara Republik dengan Hindia Belanda. 

Dinas Kode mulai mendapati peran pentingnya ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I dan II. Dengan siasat gerilya kolaboratif, petugas-petugas sandi setidaknya berhasil menyampaikan beberapa pesan penting, untuk membuktikan bahwa Republik benar-benar masih ada. Mereka adalah pahlawan-pahlawan perang kemerdekaan yang sayangnya kini tidak banyak dikenal. Bersyukur sekali, buku ini mampu menghadirkan kembali kenangan atas mereka sebagai usaha apresiasi atas segala daya upaya dan usaha mereka untuk Republik.

Dinas Kode sendiri mengalami beberapa perubahan nomenklatur sejak berada di Djawatan Sandi Angkatan Perang, Djawatan Sandi, hingga menjadi Lembaga Sandi Negara yang berurusan dengan segala macam tetek bengek kriptografi untuk kepentingan pemerintah NKRI.

Saya tidak kesulitan menamatkan buku ini. Buku ini menyitir kembali buku-buku yang telah saya tamatkan yaitu "Doorstoot naar Djokdja" karya Julius Pour dan biografi Jenderal Spoor karya J. A. de Moor. Buku ini ditulis dengan sistematis dan memiliki daftar pustaka sebagaimana layaknya buku-buku sejarah. Untuk saya, hal ini adalah sangat penting. Agar "Kode Untuk Republik" tidak hanya menjadi penghias di perpustakaan Lembaga Sandi Negara semata. Tetapi juga, menjadi lentera bagi republik.

Judul        : Kode Untuk Republik
Penulis        : Pratama D. Prasadha
Penerbit    : PT. Marawa Tiga Warna
Tahun        : 2015
Tebal        : 237 hal.
Genre        : Sejarah Indonesia

 
Cipayung, 23 Agustus 2016.

Jumat, 29 April 2016

Belajar Sejarah di Futurelearn.com

Courtesy: www.futurelearn.com

Sebulan yang lalu saya resmi menamatkan sebuah online course dengan subjek Perang Dunia I atau World War I disingkat (WWI). Online course ini diselenggarakan oleh sebuah situs social learning, yaitu www.futurelearn.com. Situs ini menghimpun berbagai institusi dunia yang membuka kelas belajar online di berbagai bidang ilmu. Biaya belajar di Futurelearn gratis namun peserta harus membayar 65 GBP untuk mendapatkan sertifikat.

Sebelum ikut kursus, Perang Dunia I bagi saya adalah perang yang sangat tidak masuk akal, non-sense. Dalam buku pelajaran Sejarah zaman SMP, selalu disebutkan bahwa Perang Dunia I disebabkan oleh terbunuhnya Franz Ferdinand, putra mahkota Hongaria, oleh seorang nasionalis Serbia. Konflik kemudian meninggi ketika Rusia, Jerman, Perancis, Inggris, dan Amerika Serikat ikut terlibat. Tidak pernah ada statement khusus mengenai kenapa konflik antara Austria-Hongaria yang menyatakan perang terhadap Serbia mempu menarik pelatuk senjata perpecahan antara Jerman dan Rusia.

Berbeda dengan Perang Dunia II dimana kebangkitan ultra-nasionalis Nazi di Jerman menyebabkan terjadinya blitzkrieg ke Polandia dan menyebar ke seluruh Eropa. Sehingga, kesimpulan saya untuk Perang Dunia I masih seperti itu: “perang yang nggak jelas”.

Pencerahan akhirnya tiba dengan kursus online dari University of New South Wales, Australia ini. Saya jadi mengerti benang merah konflik antara Jerman, Rusia, Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat. Saya dibuat paham bahwa Jerman harus menyerang Prancis lebih dahulu sebelum berhadapan dengan Rusia. Prancis pun mendapat bantuan dari Inggris dan Amerika Serikat. Beberapa tahun kemudian, Australia, Selandia Baru, dan Canada ikut mengirimkan pasukan mereka untuk bertempur di Prancis.

Perang Dunia I adalah medan perang pembelajaran bagi sekutu (Prancis, Inggris, Amerika Serikat) dan Jerman dalam menuju perang modern. Perang parit (trench warfare) dan perang elektronik (electronic warfare) menjadi subjek utama dalam pengembangan taktik militer. Sejalan dengan dikembangkannya konsep ‘Stormtrooper’ milik Jerman.

Melalui pembelajaran kembali ini, saya mendapat gambaran yang lebih luas dan detail tentang terjadinya perang. Dengan demikian, saya tidak lagi memiliki pendapat bahwa Perang Dunia I adalah perang yang non-sense dan ‘nggak jelas’. Tautan konflik ditayangkan dan dipelajari bersama.

Ada dua hal yang menjadi perhatian khusus saya di kursus ini, yaitu adalah mengenai pengaruh perang terhadap literatur dan juga pemaknaan atau perayaan khusus dalam mengenang perang yang berlangsung sejak 1914 hingga 1918 itu. Beberapa negara Eropa memiliki kenangan terhadap perang yang membekas dan dituangkan dalam sejumlah karya fiksi dalam bentuk novel atau puisi. Pemaknaan khusus terhadap Perang Dunia I lebih dirasakan khususnya di Australia dan Selandia Baru dimana dihelat ANZAC Day (Australia and New Zealand Army Corps) yang turut berperang melawan Jerman di Prancis bagian utara.

Anyway, kursus online yang berlangsung selama enam minggu ini cukup membuat pengetahuan saya bertambah, khususnya untuk Perang Dunia I. Lewat model kursus semacam ini, peserta juga dilatih untuk mengembangkan kemampuan bahasa Inggris. Maklum, sampai saat tulisan ini naik cetak belum ada kursus online dengan bahasa pengantar bahasa Indonesia.


Cipayung, 16 April 2016.

Senin, 04 April 2016

Leaving Microsoft Like a John Wood

Courtesy: www.goodreads.com

“Setelah manusia menghasilkan banyak uang, dia biasanya menjadi pendengar yang buruk.”
- John Wood

Membaca buku ini bagaikan menjalani sebuah petualangan. Petualangan tentang semua kemungkinan yang dimungkinkan oleh hidup ini sendiri. John Wood telah meninggalkan semua yang ia punya; harta; karir yang fantastis; yang ternyata tidak kunjung membuatnya bahagia. Sebuah lompatan kecil dalam hidupnya telah menjungkirbalikkan semua dunianya.

John Wood adalah seorang pekerja kerah putih yang memiliki karir cemerlang di Microsoft. Lewat sebuah email dari temannya dan perjalanan ke Nepal telah membukakan matanya sehingga ia melakukan apa yang ingin dan harus ia lakukan. Meninggalkan Microsoft adalah hanya satu fase yang harus dilaluinya. Selanjutnya, ia merangkai impian dari satu hal yang kecil untuk banyak hal besar.

John Wood mendirikan 'Room to Read' sebagai non-governmental organization/lembaga non-pemerintah yang tadinya bertujual untuk membantu sebuah sekolah di Nepal. Dari satu sekolah, 'Room to Read' semakin mendapatkan kepercayaan dari para donatur dan berhasil memberikan dampak nyata bagi lebih dari 1,3 juta anak-anak yang tersebar di belahan Asia dan Afrika. 'Room to Read' berperan nyata dengan membangun sekolah, laboratorium komputer, dan perpustakaan; menerbitkan judul bahasa lokal untuk buku anak dan memberikan beasiswa bagi anak-anak perempuan.

Inilah satu dari sekian kisah filantropis sejati yang inspiratif.


Judul        : Leaving Microsoft to Change The World
Penulis     : John Wood
Penerbit    : Bentang Pustaka
Tahun       : 2007
Tebal        : 368 hal.
Genre       : Memoar


Medan Merdeka Barat, 4 April 2016.

Senin, 30 November 2015

Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara

Buku ini lebih terasa sebagai memoar seorang Seno Gumira Ajidarma tentang bagaimana seorang wartawan menghadapi periuk kekuasaan yang mendominasi kontrol terhadap pers. Rentang waktu sejarah republik kembali dibuka kembali pada tahun 1991. Peristiwa yang kemudian dinamai Insiden Dili 1991 tak pelak membawa nama Timor Timur mencuat dalam jagat konstelasi politik internasional. Konflik yang tak berkesudahan membuat situasi tak nyaman berlangsung hingga liberasi tahun 1999.


Banyak kejadian yang dialami SGA dalam usahanya untuk membeberkan fakta-fakta tentang peristiwa tersebut. Namun, seperti dapat ditemui pada sampul buku, pers Indonesia lebih dahulu "tiarap" dengan melakukan self-censorship. Sebagai "korban" kebijakan media tempatnya bernaung maka SGA menampilkan fakta-fakta itu melalui jalur sastra. Itulah mengapa kemudian kita mengenal karyanya "Jazz, Parfum, dan Insiden". Kemudian dimuat juga sebagai kumpulan cerpen berlatar belakang sama yaitu "Saksi Mata". Beberapa cerpen mengenai 'pembungkaman' ini juga masuk dalam kompilasi cerpen lainnya seperti "Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta".

Kemudian, SGA juga menggugat peran sastra di tengah masyarakat Indonesia yang diumpamakannya "masyarakat yang tidak membaca". Makna kata "membaca" disini bisa menjadi satu bahan diskusi, apakah bersifat kata kerja sifat, misalnya. Tulisannya itu dibuat sebagai pidato ketika menerima penghargaan South East Asia Literary Awards di Bangkok, Thailand.

Personally, buku ini sangat dianjurkan untuk dibaca dewasa ini. Keteguhan atas prinsip yang menjadi "nafas" utama yang menyemangati penulisnnya perlu untuk diapresiasi dalam menghadapi zaman sekarang yang penuh kepalsuan. Semangat integritas yang menjadi nilai utama adalah pelajaran yang bisa dipetik dalam menghadapai gelombang sejarah bangsa di masa depan nanti.

Judul                : Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara
Penulis             : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit           : Bentang Pustaka
Tahun               : 2005
Tebal                : 244 hal.
Genre               : Kumpulan Esai

Halim Perdanakusuma, 30 November 2015

Minggu, 29 November 2015

Seputar Proklamasi Kemerdekaan

Courtesy: buku.kompas.com

Ada banyak kisah seputar pelaksanaan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tercinta ini. Beberapa dari pelaku sejarah saat itu menghasilkan karya dari memoar mereka. Sejarawan pun terlibat dalam mengungkap kejadian-kejadian pra dan pasca proklamasi. Hingga, ada beberapa nama yang tidak begitu dikenal namun memberikan kontribusi nyata yang tidak sedikit. 

Buku ini berhasil menghimpun berbagai sudut pandang pada lintas waktu sesuai dengan judulnya: seputar proklamasi kemerdekaan. Dimana Jepang telah menyerah kalah pada Sekutu, NICA yang berusaha kembali dengan datangnya Sekutu, hingga meletusnya Agresi/Clash ke 1 dan 2. 

Kesaksian dalam buku ini dibuka dengan bab yang memperbincangkan tanggapan para ahli dan pelaku sejarah terhadap buku memoar tulisan Bung Hatta, "Sekitar Proklamasi". Memoar itu lantas menjadi pembahasan karena berhubungan dengan isu soal kedatangan Sekutu di bawah komando Admiral Patterson yang menjadi referensi Bung Hatta saat itu untuk bernegosiasi dengan pihak Jepang. Melalui bab ini, Bung Hatta dengan sangat legowo menerima kritik terhadap memoarnya. Perbincangan dengan perantara media cetak memberi kita pelajaran bahwa saling mengkritik itu wajar demi tujuan sejarah yang lebih jelas serta dalam tatanan yang bersahabat. 

Memasuki bab kedua, agaknya pembaca diajak untuk lebih mendalami kejadian-kejadian atau peristiwa yang berlangsung seputar saat penentuan teks proklamasi, peristiwa Remgasdengklok, hingga Proklamasi itu sendiri. Teks proklamasi yang otentik itu menjadi bahasan tersendiri oleh sejarawan Nugroho Notosusanto. Ada juga dua catatan panjang mengenai orang-orang Indonesia yang melakukan mogok masal pada perusahaan Belanda, KPM, di Australia sana usai mendapati kabar Indonesia merdeka. 

Aksi-aksi heroik nan memukau yang tidak pernah tercatat dalam buku Pelajaran Sejarah Indonesia manapun diungkap pada bab ketiga. Tentang suka dan duka usaha penyiaran Proklamasi ditengah kedatangan pasukan Sekutu untuk melucuti tentara Jepang yang kalah perang. Sila baca dan resapi catatan perjuangan mereka-mereka yang bekerja bahu membahu di pedalaman demi menjaga utuhnya Republik Indonesia. 

Pada bab keempat, diungkap keterlibatan Jepang dalam hubungannya dengan Proklamasi Kemerdekaan. Peran Laksamana Tadashi Maeda beserta koleganya yang bersama-sama hadir pada penyusunan naskah otentik Proklamasi. Jangan heran bila pembaca mendapati silang pendapat mengenai versi sejarah yang selama ini beredar. Bahwa memang kita sendiri kurang antisipatif terhadap berkembangnya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dalam sudut pandang Jepang. Khusus mengenai hal ini, justru dapat menjadi awalan bagi para sejarawan untuk menilik lebih dekat dan meneliti kembali perihal wacana tersebut serta meluruskannya dengan fakta-fakta yang ada dan objektif. 

Secara keseluruhan, buku ini adalah sebuah kliping koran (harian Kompas dan Intisari) yang mengalami proses klasifikasi dan identifikasi tertentu sebagai buah riset dokumentasi yang sistematis. Dengan begitu, hal ini membuktikan bahwa ketertarikan terhadap sebuah sumber sejarah tertentu tidak hanya berupa kesaksian tertulis dalam bentuk buku semata, tetapi juga dapat berawal dari sebuah kolom artikel di koran. Untuk ini, kita patutnya bersyukur pada usaha yang demikian itu demi terjaganya obyektivitas sejarah. 

Judul           : Seputar Proklamasi Kemerdekaan
Penulis        : Hendri F. Isnaeni (ed.)
Penerbit       : Penerbit Buku Kompas
Tahun           : 2015
Tebal.           : 258 hal. 
Genre           : Sejarah Indonesia

Bumi Asri, 29 November 2015. 

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...