Tampilkan postingan dengan label sosial-budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosial-budaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 November 2021

Kelakar a la Madura

Sumber gambar: www.goodreads.com
 
Agaknya, buku ini bisa menjadi pembuktian tentang mengapa Tuhan menciptakan Pulau Madura ketika sedang berkelakar. Disarikan dari guyonan-guyonan Cak Nun tentang per-Madura-an ketika sedang mengisi forum-forum Maiyahan di seantero jagat Nusantara.

Membaca buku ini secara langsung tanpa pernah mengetahui guyonan yang mana dan disampaikan pada forum yang mana, memang bisa jadi mengasyikkan. Seterbitnya buku ini, saya merasa bahwa ada satu hal yang hilang, missing link diantara ketiganya: buku ini, guyonan Maiyahan, dan buku lama Cak Nun berjudul "Folklore Madura".

Saya menyarankan agar setiap penikmat guyonan Cak Nun turut membaca juga buku lama terbitan Progress tersebut. Mudah-mudahan dengan cara tersebut didapati benang merah kenapa Madura bisa jadi sangat spesial dihadapan Cak Nun dan Allah SWT.

 

Judul           : Urusan Laut Jangan Dibawa ke Darat: Jiwamu Butuh Berkelakar
Penulis        : Emha Ainun Nadjib
Penerbit       : Narasi
Tahun          : 2018
Tebal           : 141 hal.
Genre          : Sosial-Budaya-Kehidupan-Kebudayaan

Cengkareng, 22 November 2021

Senin, 01 November 2021

Dari Pojok Sejarah: Sebuah Catatan

Sumber gambar: www.goodreads.com

 
Awalnya, saya dibuat penasaran dengan buku-buku lama dari Emha. Salah satunya termasuk buku ini. Dari judulnya saja, rasanya sudah sangat serius. Apakah yang dimaksud dengan "pojok sejarah" itu? Memangnya ada yang tercecer atau atau tersisa dari "pojok sejarah"? Kalaupun betul begitu, "pojok sejarah"mana? Sejarah pra-kolonialisasi atau pasca-modernisme?
 
Agaknya, semua teka-teki dalam benak saya roboh seketika ketika buku ini benar-benar diterbitkan kembali. Buku berhalaman lebih dari 500 lembar ini memang membutuhkan stamina pembacaan yang prima. Buat saya, ini jadi satu pengalaman yang baru karena buku Emha inilah yang paling banyak halamannya yang pernah saya tamatkan.
 
Ada satu jurus yang saya lakukan sebelum dan selama pembacaan buku ini. Saya 'mengosongkan' diri saya dari segala asumsi dan pretensi sehingga saya bisa menerima dan mencerna isi buku ini bulat-bulat. Saya jadi tidak terpengaruh pertanyaan-pertanyaan saya sebelumnya diatas. Ditambah lagi, semua tulisan Cak Nun disini dibuat dengan gaya bahasa surat-menyurat. Tujuan utamanya adalah adiknya sendiri, Cak Dil.
 
Ini adalah suatu kenikmatan tersendiri karena dengan begitu menurut saya penulisnya akan mampu lepas dari jeratan formal penulisan esai atau artikel. Emha bisa bercerita apa saja tentang Eropa dan negeri asalnya sendiri dengan luwes. Mengingatkan saya pada buku "Surat dari Palmerah" karya Seno Gumira Ajidarma. Bedanya, seperti sudah saya catat sebelumnya: lebih tebal.
 
Banyak surat menarik yang menggambarkan keadaan kehidupan di tahun-tahun penulisannya. Personally, keadaannya pun masih tidak banyak berubah hingga saat ini. Mungkin, yang berubah hanya nama Presiden dari negeri asalnya Emha saja. Selebihnya, saya rasa para pembaca Emha sudah sangat paham.
 
Satu yang menarik adalah saya menemukan kembali sebuah tulisan Emha yang berjudul "Hidup Itu di Hati". Saya pernah membaca tulisan ini dari sebuah laman website tidak resmi yang memuat tulisan-tulisan Emha pada tahun 2009. Nama websitenya apa saya sudah lupa. Ternyata, asal-muasal tulisan itu bermula dari pengembaraan Cak Nun ke Eropa sana dan dimuat dalam buku ini. Kesan pembacaan "Hidup Itu di Hati" pada tahun 2009 dengan 12 tahun kemudian pun masih sama. Barangkali, pada lain kesempatan, hal ini bisa jadi satu bahan tulisan sendiri.
 
Saya menamatkan pembacaan buku ini lebih dari satu tahun sejak tanggal pembelian. Ada banyak waktu terlewati begitu saja. Saya pun jadi tertawa sendiri, mengapa baru mulai intens menamatkan pembacaan pada tiga bulan terakhir ini. Semoga bukan karena alasan work from home dan mendung yang sepertinya sengaja mewakili pikiran saya.


Judul           : Dari Pojok Sejarah
Penulis        : Emha Ainun Nadjib
Penerbit       : Mizan
Tahun          : 2020
Tebal           : 508 hal.
Genre          : Sosial-Budaya-Kehidupan-Kebudayaan

Cipayung, 1 November 2021.


Senin, 28 Mei 2018

EU Law

Just because the latest EU regulation on Data Protection, I had to remind you this.



Cengkareng, 28 Mei 2018.
Postingan pertama setelah Bapak tidak ada

Selasa, 12 Desember 2017

Yamaha NMax

Sebenarnya, agak malu juga untuk menulis sebuah catatan tentang sepeda motor yang sedang mengalami masa kekiniannya. Apalagi ketika sepeda motor sudah menjadi menu sehari-hari bagi para reviewer ataupun pengulik modifikasi. Tantangan itu semakin berasa karena tidak ada pembanding yang sejenis. Mohon pembaca maklum adanya bila nanti si penulis malah membandingkan Yamaha NMax Non-ABS lansiran 2017 dengan Honda BeAT 2014.

Sumber gambar: www.otomonesia.com

Sepeda motor matic memang sedang berada pada masa kejayaannya. Keefektifan dan kepraktisannya menjadi nilai jual yang utama untuk menjalani aktivitas sehari-hari terutama di daerah sekitar Ibu Kota. Sesuai tuntutan zaman dan juga ekspektasi pengguna lahirlah sebuah inovasi baru. Inovasi untuk menyandingkan sepeda motor matic dengan badan yang lebih besar. Generasi selanjutnya dari sepeda motor matic kemudian sering dinamai skuter maksi (maxi scooter). Setidaknya begitulah namanya pada papan informasi stasiun pencucian motor.

Yamaha NMax hadir sebagai sebuah gebrakan. Model yang dinamis dan ergonomis seketika memikat konsumen yang sudah terbiasa dengan skuter matic biasa. Badannya yang tergolong besar adalah sebuah bentuk yang tidak umum, walaupun sudah lebih didahului oleh Honda PCX. Barangkali memang begitu, NMax dihadirkan untuk melawan dominasi Honda PCX di kelas skuter matic besar.

Sepeda motor ini menggunakan teknologi Blue Core pada mesin berkapasitas 155 cc dengan VVA, Variable Valve Actuator. Mirip skema VVT-i pada mobil-mobil Jepang. Teknologi ini diklaim mampu menghemat bahan bakar, bertenaga, dan handal. Suara mesin memang terdengar agak kasar  dalam kondisi masih brand new. Tenaga yang dikeluarkan rasanya cukup besar untuk rute Bandara Soekarno-Hatta - Ciputat. Seiring penggunaan, getaran mesin berubah agak lebih halus setelah menempuh jarak 700 KM.

Teknologi pengereman masih menggunakan sistem cakram ganda, pada rem depan dan rem belakang. Masih sebatas cakram dan piston tanpa disematkan fitur ABS (Anti-lock Breaking System). Pendinginan mesin menggunakan sistem pendingin radiator. Urusan tapak, NMax menggunakan tapak ban lebar tubeless berukuran 110/70 pada bagian depan dan 130/70 pada bagian belakang dengan ukuran velg 13 untuk menjamin kenyamanan berkendara.

Yang perlu dicermati adalah soal kenyamanan. NMax memiliki nilai kenyamanan yang jauh diatas Honda BeAT yang selama ini penulis gunakan. (Ya iya lahhhh). Dimensi badan yang lebih tinggi kemudian posisi stang yang ergonomis ditambah dengan footstep yang luas menjanjikan sebuah pengalaman untuk kenyamanan berkendara. 

Namun, perlu diperhatikan sistem peredam kejut/suspensi bagian belakang bawaan pabrik terasa keras walaupun cukup stabil. Kalau boleh dinilai, sedikit dibawah Suzuki SkyWave. Hal inilah yang seharusnya menjadi perhatian untuk pengembangan produk menyongsong tahun 2018. Semoga ada perbaikan.

Untuk urusan perawatan, hal ini agaknya harus menjadi perhatian. Ada beberapa hal yang menurut penulis bisa dikerjakan sendiri, misalnya ganti oli (jangan lupa reset counter di speedometer), ganti busi, dan ganti air radiator. Memang ada beberapa juga yang menuntut keahlian khusus sehingga bila pemilik khawatir tidak bisa mengerjakan sendiri lebih baik dikerjakan oleh bengkel resmi saja. Selebihnya, itu menjadi pilihan, untuk mengerjakan sendiri atau melalui bengkel resmi. Asalkan tetap sesuai dengan petunjuk perawatan berkala yang ada dalam buku panduan.

Berkendara dengan NMax memang menjadi satu kenikmatan dan kenyamanan sendiri dalam sebuah perjalanan berkendara. Pastikan anda selalu tahu apa yang anda kendarai dan tetap mengemudi dengan aman. Keluarga menanti di rumah!

Spesifikasi detail Yamaha NMax (sumber: laman website YIMM)

Mesin
 
Tipe Mesin Liquid cooled 4-stroke, SOHC
Jumlah/Posisi Silinder Single Cylinder
Kapasitas Mesin 155cc
Diameter x Langkah 58,0 mm x 58.7 mm
Perbandingan Kompresi 10,5 : 1
Daya Maksimum 11.1 kW / 8000 rpm
Torsi Maksimum 14.4 Nm / 6000 rpm
Sistem Starter Electric Starter
Sistem Pelumasan Basah
Kapasitas Oli Mesin Total – 1,00 L ; Berkala 0,90 L
Sistem Bahan Bakar FI (Fuel Injection)
Tipe Kopling Kering, Centrifugal Automatic
Tipe Transmisi V-belt Automatic  
 
Dimensi
 
P x L x T 1.955mm x 740mm x 1.115mm
Jarak sumbu roda 1.350mm
Jarak terendah ke tanah 135mm
Tinggi tempat duduk 765 mm
Berat isi 127 kg
Kapasitas tangki bensin 6,6 L
 
Rangka
 
Tipe Rangka Underbone
Suspensi Depan Teleskopik
Suspensi Belakang Unit Swing
Ban Depan 110/70 - 13 M/C 48P
Ban Belakang 130/70 - 13 M/C 63P
Rem Depan Single Disc Brake
Rem Belakang Single Disc Brake
 
Kelistrikan
 
Sistem   pengapian  TCI
Battery   YTZ7V
Tipe Busi  NGK/CPR8EA-9                                                                


Cipayung, 30 November 2017.


Senin, 27 November 2017

Iblis Tidak Pernah Mati

Sumber gambar: www.goodreads.com
Barangkali, karya Seno Gumira Ajidarma yang paling kelam dan mencekam adalah ‘Iblis Tidak Pernah Mati’ ini. Melihat halaman sampulnya, saya sudah diliputi perasaan tidak enak. Gambar seseorang yang dirupakan memiliki dua tanduk dikepalanya diatas batu dengan gerakan seperti sedang menunggu ditambah kartun karya Asnar Zacky dan paduan warna senja memberikan seolah tidak ada lagi harapan yang terang benderang. Itu 10 tahun yang lalu, saat saya pertama mendapatkan buku ini dalam sebuah book fair di kawasan Braga, Bandung.

10 tahun kemudian, imaji itu tidak berubah. Kesan kengerian sepanjang pembacaan cerpen-cerpen yang kebanyakan lahir pasca reformasi tidak juga lekas hilang. Kelima belas cerpen yang dibagi dalam 4 bagian yaitu Sebelum, Ketika, Sesudah, dan Selamanya menghadirkan satu imaji utuh atas keadaan sebuah negeri.

Kalau saya boleh memilih, cerita pendek “Clara” adalah satu dari sekian cerpen terbaik dalam kumpulan cerpen ini. Saya masih tidak lupa kesan selama pembacaan pertama yang menimbulkan beragam perasaan: marah, haru, dan segenap perasaan lain yang tidak mampu diucapkan. Cerpen ini memotret satu sisi tragedi kemanusiaan yang melanda negeri ini selama masa reformasi.

Cerpen ini sendiri dipulikasikan pertama kali ketika dibacakan oleh Adi Kurdi dan Ratna Riantiarno dalam acara Baca dan Pembahasan Cerpen Seno Gumira Ajidarma, sebuah syukuran penerimaan SEA Write Award oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, Galeri Cipta TIM, 10 Juli 1998. Kemudian, dimuat harian Republika edisi 26 Juli 1998, sebagai “Clara atawa Wanita yang Diperkosa”. “Clara” kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai ‘Clara’ oleh Michael H. Bodden; dibacakan oleh Bruce Kochis dan Christina Alfar di University of Washington – Bothell, Seattle Babb di University of Victoria. Victoria BC (1999, 2.5); Selanjutnya dimuat juga dalam jurnal Indonesia No.68 (Cornell University), Oktober 1999. 

“Clara” diterjemahkan ke bahasa Jepang sebagai ‘Kurara, rape sareta joseino monogatari’ oleh Mikihiro Moriyama; dimuat dalam berkas Seno Gumira Ajidarma, Indonesia, Senryaku to shiteno bungaku-journalism no genkai wo koete (Indonesia, sastra sebagai siasat, melewati batasnya jurnalisme) untuk Takeshi Kaiko Lecture Series No.8 (Japan Foundation).

Clara juga dibacakan untuk publik oleh Hirshi Tomioka dan Kaoru Tomihama di Tokya (1999,2.20), Osaka (1999,2.25) dan Hiroshima (1999,2.27); direkam ulang sebagai paket video Indonesia, Seijino Kisetsuni Bungaku (Indonesia, Sastra dalam Musim Politik) oleh Dewan Promosi Informasi Pendidikan Tinggi untuk proyek Eisetsushin eo riyoshita Daigaku Kokaikouza Moderujigyo (proyek modek kuliah universitas terbuka lewat satelit) tahun 2000. Bersama cerita Jakarta, 14 Februari 2039, diformat ulang menjadi naskah drama Jakarta 2039.

Terakhir, “Clara” juga hadir dalam kumpulan naskah Mengapa Kau Culik Anak Kami? (Galang Press, 2001).

Saya kagum dengan imajinasi SGA yang mampu menampilkan sosok Semar di Bundaran HI. Bukan hanya satu tapi ada sembilan Semar. Sungguh membuat saya kagum karena mungkin saja pada lain waktu yang muncul disana bukan hanya Semar tetapi juga Rahwana.

Sebagai pelengkap, ada dua esai yang turut disertakan usai cerita penutup. Esai pertama berjudul “Paman Gober, Suatu Ketika: Cerpen-Cerpen Eksoforik Seno Gumira Ajidarma” oleh Kris Budiman. Esai ini membahas lima belas cerpen yang ada dalam buku. Intinya, dengan mempertimbangkan dominan atau tidaknya referensi dalam teks kita bisa membedakan antara cerpen-cerpen yang referensial dan yang non-referensial, yang eksoforik dan endoforik.

Esai kedua adalah semacam surat yang dikirim dari Alina atau pula SGA kepada Agus Noor dengan judul “Imajinasi Yang Tak Pernah Mati: Surat dari Alina”. Agak membingungkan memang karena judulnya adalah surat dari Alina. Namun, pada akhir tulisan didapati tanda SGA pada ujung kanan bawah sebagai identitas penulis surat. Silakan pembaca yang budiman menafsirkan sendiri perihal ini. Yang jelas, antara ketiganya kelak punya hubungan sendiri-sendiri.

Kalau Budi Darma bilang bahwa ‘Iblis Tidak Pernah Mati’ sebagai sesuatu yang mengerikan dan mengharukan kiranya pembaca dapat menilai sendiri keabsahannya. Dalam konteks ini, sastra telah bicara sebagai suatu metafor atas sebuah fenomena. Pun, ketika ia menjelma sebagai ruang kesadaran bahwa kita masih punya nilai-nilai kemanusiaan dalam merayakan kehidupan ini.

Judul         : Imajinasi Tidak Pernah Mati
Penulis      : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit    : Galang Press
Tahun        : 2001
Tebal         : 264 hal.
Genre        : Sastra Indonesia-Kumpulan Cerpen  

Cipayung, 23 November 2017.

Selasa, 31 Oktober 2017

Daur I: Sebuah Pembukaan

Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya patut bersyukur karena Alhamdulillah, atas izin Allah SWT Emha Ainun Nadjib masih diberikan nikmat sehat dan Islam sehingga mampu menulis kembali. Adapun, tulisan beliau yang benar-benar baru senantiasa saya peroleh lewat laman www.caknun.com. Saya mengamati bahwa laman tersebut pelan-pelan mulai mengalami perubahan. Perubahan itu, setidaknya untuk saya pribadi, saya amati mulai dari rubrik-rubrik tambahan yang dihiasi catatan-catatan Cak Nun.

Begitupun dengan Daur. Saya sempat dibuat tidak paham maksudnya, namun hanya mampu turut memaknai pesan Cak Nun: "...untuk anak cucu..". Tulisan Cak Nun dalam Daur adalah sesuatu yang benar-benar baru tak terkecuali tokoh idola bernama Kiai Sudrun dan Cak Markesot.

Dilihat dari perspektif manfaat dan jariah ilmu, "Daur" sendiri adalah bentuk istikomah pemikiran, perenungan, dan analisis hingga formula-formula kultural lain dari Cak Nun yang mampu memberikan manfaat dalam konteks sosial.

"Daur" adalah sebuah bentuk tulisan Cak Nun yang sudah tidak lagi siap saji dan siap antap. Pembaca diajak untuk menelusuri pembelajaran hidup yang meningkat lagi levelnya. Bisa saja dari satu tulisan pembaca berhenti pada satu kesimpulan, namun tidak menutup kemungkinan bagi pembaca untuk menelusuri kembali ketersambungan dengan tulisan lainnya.

Dengan jumlah pembaca mencapai kurang lebih 1.100-an pembaca setiap hari (lihat halaman xiv) tentu saja "Daur" menjadi sebuah ruang bagi pembaca Cak Nun maupun Jamaah Maiyah untuk senantiasa rehat sejenak dan menemukan jawaban atas clue pemahaman hidup. Sebagaimana dapat dijumpai pada rubrik 'Tadabbur Daur'.

Bagi Cak Nun sendiri, tulisan-tulisan "Daur" adalah upaya untuk mengembalikan "mata" kita dari keterjeratan pada materialisme dimana materi menjadi variabel dan faktor utama. Akibatnya, kita semua hanya melihat berdasarkan materi dan transaksi sehingga melihat dan membayangkan Tuhan dengan cara berpikir materi.

Semoga dengan dibukukannya "Daur" edisi pembuka hingga edisi ke-65 kita dapat menemukan mata air yang mengalirkan ilmu kehidupan. Semoga terus berlahiran generasi-generasi baru yang mau belajar agar kehidupan dapat berlanjut secara berkesinambungan pada masa depan dengan nilai peradaban yang lebih tinggi. Semoga.

Judul        : Daur I: Anak Asuh Bernama Indonesia
Penulis     : Emha Ainun Nadjib
Penerbit    : Bentang Pustaka
Tahun       : 2017
Tebal        : 394 hal.
Genre       : Sosial Budaya

Cipayung, 29 Oktober 2017.


Bola Di Balik Bulan

“We are red, we are white, we are Danish dynamit.”

Sumber gambar: www.goodreads.com
Sepakbola secara filosofis dapat mengajari orang untuk mengalami realisme nasib. Nasib itu sendiri, entah menang atau kalah tidak terbaca dalam suatu pergulatan dalam rentang waktu yang lama, tetapi tiba-tiba terjadi dalam peristiwa tidak terduga.

Sepakbola adalah hidup. Sepakbola tidak hanya berarti sebagai olahraga belaka. Setidaknya, kesimpulan yang demikian dapat diperoleh usai membaca tulisan-tulisan Sindhunata dalam buku ini. ‘Bola Di Balik Bulan’ adalah satu bagian dari trilogi sepakbola Sindhunata. Bersama ‘Air Mata Bola’ dan ‘Bola-Bola Nasib’.

Tidak jelas memang mana buku yang pertama, kedua, dan ketiga. Namun, kalau boleh saya menempatkan ‘Bola Di Balik Bulan’ sebagai buku pertama disusul dengan ‘Air Mata Bola’ dan ‘Bola-Bola Nasib’ sebagai pamungkas. Ini hanya hasil pengamatan sepintas dari pengalaman saya belaka. ‘Bola Di Balik Bulan’ menampilkan suatu suguhan bahwa sepakbola adalah sebuah gairah kehidupan, kemudian usai gairah itu hadirlah sebuah “Air Mata Bola” dimana sepakbola banyak menyajikan drama (yang tidak sedangkal opera sabun) yang menguras air mata. Sehingga kemudian kesemuanya bermuara pada satu keniscayaan bahwa sepakbola itu ibarat kehidupan yang memiliki nasibnya sendiri-sendiri.

‘Bola Di Balik Bulan’ sendiri merupakan sebuah pengandaian dari gegap gempita Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Sebuah sajian sepakbola dunia di negeri yang hanya kenal permainan bola tangan. Namun demikian, Amerika Serikat saat itu mampu lolos dari fase grup dan berhadapan dengan Brazil di babak per delapan final. Tim Sepakbola Amerika Serikat pun ‘memakan’ korban bernama Andres Escobar yang membuat gol bunuh diri sehingga Kolombia harus kalah di tangan tuan rumah. Begitu besar harapan publik Amerika Serikat saat itu sehingga mereka dianggap telah berhasil menemukan bola di bulan. Ya, mereka memang telah menemukan bulan, namun sepakbola masih saja tetap tidak populer disana.

Lewat buku ini saya jadi tahu bahwa Seorang Rinus Michels tidak melatih dan memberi instruksi dengan menyebut nama pemainnya melainkan nomor punggung mereka. Bagi khalayak luas, Sindhunata seakan membawa kita pada gegap gempita jagad persepakbolaan dekade 80-90an. Nama-nama besar saat itu juga tidak lepas dari catatan Sindhunata. Sebut saja macam Van Basten, Gullit, Garrincha, Pele, Maradona, Platini, Papin, Roberto Baggio, Rinus Michels, dan Franz Beckenbauer. Tidak hanya sekedar nama, Sindhunata pun dengan piawai menuliskan kisah-kisah yang melingkupi nama-nama besar tersebut. Sehingga seluruh aspeknya terangkum utuh dalam sebuah kisah.

Catatan Sindhunata ini tadinya hanyalah sebuah tulisan kolom pada harian Kompas dan selalu terbit di halaman awal. Tidak heran bila kemudian banyak pembaca yang menginginkan agar catatan-catatan tersebut dibukukan agar tidak tercecer begitu saja. Saya turut menikmati setiap cerita dalam buku ini. Saya seakan dibuat turut mengalami sendiri kejadian-kejadian yang dicatat Sindhunata. Agaknya, Sindhunata telah berhasil mengangkat kisah dan refleksi sepakbola menjadi sebuah catatan humanis yang universal.

Judul           : Bola Di Balik Bulan
Penulis        : Sindhunata
Penerbit       : Penerbit Buku Kompas
Tahun          : 2002
Tebal           : 296 hal.
Genre          : Sosial-Budaya

 
Cipayung, 26 Oktober 2017

Kamis, 19 Oktober 2017

Dalang Galau Ngetwit

Semua sekadar menjalani takdir. Ada yang ditakdirkan pasrah. Ada yang ditakdirkan berusaha. Ada juga yang ditakdirkan untuk tidak percaya bahwa semua sekadar menjalani takdir.

 
Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya termasuk satu dari sekian orang yang kagum dengan kekuatan Twitter. Sebuah cuitan kecil berbatas 140 karakter mampu menjelma menjadi satu narasi tulisan. Pun, ketika tulisan-tulisan tersebut dikumpulkan dan menjelma menjadi sebuah buku yang utuh. Maka ketika sang Rahvayana menuliskan kembali segenap kumpulan twit lengkap dengan narasinya, pembaca wajib bersyukur karena sang dalang tidak hanya menceritakan segenap kegalauannya.

Buku ini memang layak dibaca siapapun. Baik pemilik akun twitter yang rajib ngetwit ataupun hanya untuk sekedar stalking mantan (ups.) Sujiwo berhasil memainkan kata-kata serupa wayang andalannya. Sujiwo menyampaikan pesan-pesan yang humanis dan beberapa diantaranya anti-mainstream.

Subjek yang dibahas Sujiwo pun luas, seluas pemahamannya terhadap kausalitas dalam perjalanan hidupnya. Dari soal matematika yang ternyata tidak selalu pasti hingga urusan seni yang pemahaman atasnya ditentukan isi kepala masing-masing. Soal Rama-Shinta hingga Habibie-Ainun. Saya menikmati proses dialektika yang dikemukakannya. Setidaknya, untuk dipakai sebagai bahan refleksi.

Lebih luas, pemikiran Sujiwo yang merdeka tidak hanya menghibur namun mempu menyentil sedikit bagian hidup kita sehingga tidaklah berlebihan bila kemudian pembaca mencapai pencerahan. Sujiwo juga tidak lantas kehilangan keedanannya karena kegalauannya sendiri sudah menunjukkan keedanan itu sendiri.

Oleh karena itu, pembaca pun harus menyediakan hati dan pikiran yang terbuka. Menerima curhatan soal kegalauan adalah persoalan tersendiri sebagaimana menerima segala keedanan. Oleh karena itu, dengan pikiran dan pemahaman yang terbuka pembaca tentu sudah lebih pintar untuk menemukan makna dibalik setiap twit Sang Dalang.

Judul     : Dalang Galau Ngetwit
Penulis  : Sujiwo Tejo
Penerbit : Imania
Tahun    : 2013
Tebal     : 219 hal.
Genre    : Sosial-Budaya

Cipayung, 4 Oktober 2017.

Sabtu, 30 September 2017

Baracas

Saya tidak tahu bahwa Barisan Anti Cinta Asmara ini sempat difilmkan. Kalaupun memang begitu tentulah tampilan grafis visual tentu lebih memuaskan dari sisi cerita karena penonton bisa mengetahui jalan cerita secara utuh.

Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya sendiri lebih suka Baracas versi buku karena lebih sederhana dan to the point. Tampilan visual tokoh komik juga bagus, penempatan teks dan pemilihan huruf yang minimalis dan memudahkan pembacaan sehingga membuat perasaan nyaman, nyaman di mata dan nyaman di hati.

Buku ini merupakan adaptasi resmi dari film berjudul sama yang diproduksi oleh thepanasdalammovie dan Max Pictures. Buku ini semakin berkesan dengan penggalan lirik lagu The Panas Dalam, 'Tenang Saja'... Apabila setelahnya kita saling lupa.

Cipayung, 10 September 2017

Kamis, 31 Agustus 2017

Negara 1/2 Gila

Sumber gambar: www.goodreads.com
Keseharian dan tingkah laku orang Indonesia memang terkadang patut ditertawakan. Sekaligus menjadi bahan perenungan bahwa bangsa yang katanya bangsa besar ini rakyatnya masih memiliki perilaku dan sikap tidak peduli. Kemunculan para seniman komik masa kini sebenarnya sudah sering mengangkat tema ini. Dengan ragam dan ciri khas keunikan visual masing-masing.

Agaknya, itu pula yang membuat Trio Komikus di Negara Setengah Gila ini turut hadir ‘menertawakan’ bangsanya sendiri. Rumrum, Dody, dan Mujix, merepresentasikan sebuah ide tentang perilaku-perilaku yang ‘Indonesia Banget’. Tentunya, menggiring tawa namun penuh makna, apakah hal ini akan terus kita biarkan sehingga menjadi sesuatu yang selalu melekat dan tak mungkin lepas?

Terlepas dari kenyataan itu dimana terjadi pertarungan wacana antara kenyataan dan imaji kreatif, komik ini sangat menghibur. Kita tidak bisa mengelak dari satu fungsi komik sebagai bahan bacaan rekreatif. Ketiga seniman komik berhasil melahirkan kembali ide lama menjadi sebuah karya dengan tampilan visual yang unik.

Judul       : Negara 1/2 Gila
Penulis    : Dody-Mujix-Rumrum
Penerbit  : MediaKita
Tahun      : 2013
Tebal      : 92 hal.
Genre      : Komik Indonesia


Cipayung, 28 Agustus 2017

Minggu, 30 April 2017

Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi

Bagaimana caranya menertibkan imajinasi?
 
Sumber gambar: www.goodreads.com
Buku ini mau tidak mau harus dianggap sebagai satu dari sekian masterpiece Seno Gumira Ajidarma. Bukan karena muatan isinya ataupun permainan antara fiksi dan fakta seperti di Trilogi Insiden. "Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi" adalah sebuah kumpulan cerita pendek ringan nan menghibur. Menurut catatan pembuka penulisnya, ia mendapatkan inspirasi dari judul sebuah komposisi musik berjudul 'Jangan Bertepuk dalam Toilet' karya Franki Raden dekade 80-an. 

"Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi" diterbitkan kembali sebagai Edisi Kedua, artinya terdapat perubahan dan tambahan, yaitu sebuah prosa berjudul sama yang berasal dari skenario film televisi berjudul sama pula. Dalam buku ini, pembaca disuguhi dua cerita "Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi". Pertama, prosa yang selesai tahun 2005. Kedua, cerita asli dari tahun 1990 pada penerbitan pertamanya. 

Ceritanya masih sama. Tentang Sophie yang senang bernyanyi di kamar mandi dan membuat geger sebuah perkampungan di Jakarta. Tentu saja tidak ada yang salah dengan Sophie ketika ia memutuskan untuk indekost di kampung itu. Namun, justru imajinasi pada Bapak-bapak penghuni kampung ditambah kekhawatiran tidak beralasan dari para istri mereka membuat cerita ini semakin asyik diikuti. Konteks kehidupan sehari-hari di gang yang kumuh dengan segenap problematika khas kaum pinggiran Jakarta jadi bumbu yang menarik sebagai pelengkap cerita.

Lebih jauh, buku ini juga mengajarkan pembaca tentang keabsahan sebuah kebenaran. Suatu hal bisa dianggap sebagai kebenaran bila diakui oleh banyak orang. Artinya, sesuatu hal yang belum tentu benar bisa menjadi sebuah kebenaran tak terbantahkan hanya bila sudah jadi kehendak umum, bukan melalui hipotesis yang teruji.  Kebenaran para istri yang merasa suaminya semakin dingin setelah kedatangan Sophie yang sering menyanyi  di kamar mandi itu kemudian menjadi sebuah pembenaran untuk 'pengusiran' Sophie. 

Realitas seperti inilah yang justru akhir-akhir ini sering kita alami. Betapa nasib kita seringkali ditentukan oleh orang banyak tanpa alasan yang masuk akal. Kalau menyanyi di kamar mandi saja yang notabene ruang privat kita sudah dilarang lalu bagaimana dengan hak-hak kita yang lain? Perlukah juga dibatasi oleh sebuah kehendak umum?

Cerpen lain yang dimuat dalam buku ini masih tergolong dalam cerita yang ringan dan kadang absurd. Tentang seorang kakek yang duduk di tepi sungai bersama cucunya, tentang Sukab yang dipipinya ada jejak bibir yang merah basah, cerita satir soal urusan hari seperti dimuat dalam 'Mestikah Kuiris Telingaku Seperti Van Gogh'. Absurditas Seno nampak dalam cerpen 'Kriiiiiiiinngngngng!', 'Lambada', Guru Sufi Lewat', dan 'Segi Tiga Emas' yang lebih terlihat sebagai cerita pewayangan. Cerpen yang justru agak realis adalah 'Duduk di Depan Jendela', 'Midnight Express', dan ' Seorang Wanita di Sebuah Loteng'.

Judul        : Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi
Penulis        : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit    : Galang Press
Tahun        : 2006
Tebal        : 220 hal.
Genre        : Sastra Indonesia-Kumpulan Cerpen

 
Cipayung, 25 April 2017.

Jumat, 31 Maret 2017

Kosmik: Harapan Untuk Komik Indonesia

Sumber gambar: Captured from Kosmik.id

Perkembangan komik Indonesia (komik buatan komikus Indonesia) pasca terbitnya skripsi komik saya di tahun 2008 cukup mengagumkan. Kemajuan ini ditandai dengan munculnya berbagai media penerbitan, mulai dari konvensional dan digital. Macam ojek dan taksi saja. 

Saya tidak akan memberi penilaian khusus pada tampilan komik karya komikus Indonesia yang banyak dipengaruhi gaya manga asal Jepang. Saya juga tidak akan memberi judgement mengenai bagaimana seharusnya komik dikemas sebagai sebuah budaya dan produk ekonomi. 

Ada banyak cara di jaman information superhighway ini untuk membaca komik. Banyak website bermunculan yang menampilkan produk komik populer. Namun, khusus untuk komik Indonesia saya akan memberi catatan untuk Kosmik. Sebuah website untuk membaca komik secara online yang bisa diakses di www.kosmik.id. Kosmik juga hadir di platform Android.

Untuk membaca komik, pembaca bisa melakukan registrasi. Karena dikemas sebagai online marketplace juga, maka pembaca akan memiliki akun sebagaimana layaknya online shop untuk membeli produk-produk yang ada di Kosmik. OK, ada ekonomi yang berjalan disini. 

Kosmik hadir untuk menampilkan komik bagus kepada pembacanya. Kosmik juga berusaha  membantu penerbitan komik secara editorial, pemasaran, distribusi serta edukasi komik supaya lebih banyak lagi komik bagus yang lahir dan tersebar di bumi. 

Saya setuju. Kami pembaca komik memang butuh komik bagus. Tidak hanya bagus secara visual tetapi juga punya cerita yang bagus dan alangkah lebih bagus lagi bila cerita itu memang dekat dengan keseharian kita sehingga kita bisa lebih paham bila hidup ini dipandang dari sisi sebuah komik.

Serpong, 30 Maret 2017.


Jumat, 10 Maret 2017

Kaldu Ikan

Sumber gambar: www.goodreads.com

Saya tidak tahu mengapa karya yang cukup bersejarah ini dinamai ‘kaldu ikan’. Entah karena memang dalam konteks perayaan setengah abad hubungan bilateral Indonesia-Jepang sehingga untuk menghormati kebiasaan makan ikan orang Jepang dipilihlah judul itu. Sejatinya, kaldu adalah hasil turunan dari produk protein hewani. Maka dari itu, untuk mengambil simpulan yang lebih sederhana kita anggap saja kalau kaldu ikan ini adalah hasil turunan dari dialog dan dialektika kebudayaan dua negara sahabat, Indonesia – Jepang. Ada pendapat lain? Silakan. 

Komik yang bertajuk ‘Kaldu Ikan: Komik Indonesia + Jepang’ adalah sebuah karya kolaboratif. Proyek ini digagas oleh Takahashi Mizuki dan Ade Darmawan untuk menerbitkan buku kompilasi komik di Indonesia yang merupakan karya seniman Indonesia dan Jepang. Komik ini diterbitkan sebagai bagian dari “KITA!!: Japanese Artists Meet Indonesia” yang diselenggarakan untuk merayakan 50 tahun hubungan diplomatic bilateral Indonesia-Jepang. Pameran itu juga diikuti oleh 50 seniman yang aktif dan giat berkespresi di berbagai bidang, mulai dari seni, desain, manga, hingga tata boga.

Menariknya, komik ini juga bisa didapatkan secara gratis di berbagai lokasi pameran di Jakarta (The Japan Foundation, ruangrupa), Bandung (Selasar Sunaryo Art Space), dan Yogyakarta (Museum Nasional Yogya, Rumah Seni Cemeti, Lembaga Indonesia Perancis, Ruang Mes 56). Selain itu, anda bisa mendapatkan komik ini langsung dari komikusnya. Walaupun gratis, komik ini hanya dicetak 3000 eksemplar saja. Saya beruntung jadi satu dari 3000 orang pemilik komik ini.

Ide komik ini digagas oleh Ade Darmawan (curator ruangrupa) dan Takahashi Mizuki yang seorang seniman asal Jepang. Takahashi, menyinggung soal komik Jepang yang tidak diimpor oleh Indonesia. Komik buatan seniman Jepang dalam ‘Kaldu Ikan’ ini bukan diciptakan atas dasar strategi untuk mengincar kesuksesan eksplosif secara komersial. Oleh karenanya, tidak mudah untuk diekspor dan impor. Selain itu, identitas gaya ekspresi yang khas dan tetap memiliki jalur akses pada sastra, kesenian, desain, dan sebagainya itulah yang menjadikan keempat komikus ini mendapat tempat di perayaan ulang tahun bilateral Indonesia-Jepang.

Sementara, Ade Darmawan menganggap terbitnya komik kolaborasi ini sebagai energy baru dari sebuah pertukaran gagasan interdisiplin yang intens sehingga pengkayaan gagasan dari disiplin lain terjadi. Komik harus mempunyai keluasan wawasan dan kontekstualitas. Kolaborasi dengan disiplin ilmu lainnya seperti sastra, social-politik, sejarah, arsitektur, filsafat dan lainnya sangat dibutuhkan untuk menghasilkan karya-karya komik yang kaya akan gagasan lain selain “menggambar”. 

Pilihan keempat komikus Indonesia dalam komik ini adalah karena masing-masing dari mereka memperlihatkan keberagaman pendekatan yang sangat kuat dalam bertutur melalui gambar yang telah secara intens mereka lakukan dalam waktu yang cukup lama. Gambar hanya sebuah pintu awal yang atraktif dalam mengundang kita ke lapisan-lapisan gagasan lainnya. Bila anda menginginkan sebuah nama besar, Beng Rahadian ada dalam deretan komikus “Kaldu Ikan”.

Untuk saya pribadi, komik ini justru terbit usai selesainya skripsi komik saya. Sehingga, saya tidak bisa menambahkan dimensi lain dari seni komik Jepang (manga) dan perkembangan komik yang lebih actual di Indonesia. Komik favorit saya adalah komik karya Dwinita Larasati yang berjudul “Prajab 12 Desember 2007”. Barangkali, ini terkesan subjektif karena saya mengalami juga yang namanya Diklat Prajab pada Maret 2011. Namun, jauh sebelum Diklat Prajab, saya sudah menyenangi bahasa gambar buatannya. Storyline yang berurut serta ilustrasi yang mengingatkan akan kenikmatan kuliner khas kota Bandung (yang ini alasan subjektif).


Judul           : Kaldu Ikan: Komik Indonesia + Jepang
Penulis        : Takahashi Mizuki, Ade Darmawan (ed.)
Penerbit       : The Japan Foundation
Tahun          : 2008
Tebal          : 126 hal.
Genre          : Komik

Medan Merdeka Barat, 9 Maret 2017.

Selasa, 28 Februari 2017

Secangkir Kopi Jon Pakir

Siapa bilang anak orang kaya pasti pintar dan anak orang miskin pasti goblok. Memangnya Tuhan bodoh! Kok bikin aturan begitu! (Si Kembar Bodoh Pintar, hal. 21-22)
 
Sumber gambar: Goodreads
 
Seumur saya membaca Emha saya baru tahu kalau beliau ini pandai meracik kopi. Tidak pernah ada guyonan dalam video-video yang saya tonton lewat YouTube bahwa Cak Nun mampu meracik kopi. Kalau memang begitu, barangkali saya yang terlalu mendenotasikan arti kopi, sehingga kopi yang dimaksud adalah kopi yang biasa kita nikmati. Kopi seduh kental encer manis atau pahit.
 
Kopi racikan Mbah Nun dalam buku keempatnya yang diterbitkan oleh Mizan ini misalnya, tentu bukanlah kopi sebagaimana yang lazimnya kita nikmati sembari menghirup udara pagi. Kopi racikan Jon Pakir ini adalah kopi yang digiling dengan persoalan-persoalan hidup masyarakat kelas bawah yang diungkapkan lewat bahasa jelata, sederhana, dan jenaka.

Jon Pakir adalah nama yang dipilih sendiri olehnya. Sang Ayah, Masa Kini, membiarkannya untuk menentukan pilihan sendiri. Suatu hal yang tidak umum karena negara sebesar ini pun ternyata tidak mampu memilih jalannya sendiri. Sila pembaca menafsir sendiri arti dari Jon Pakir, apakah ada kaitannya dengan 'fakir' yang asli bahasa Arab itu atau hanya nama serapan belaka yang dilafalkan oleh orang Sunda. Silakan. Yang jelas, pembaca tidak akan pernah tahu apa hubungan Jon Pakir dengan Cak Markesot.

Keterlibatan Emha yang intens dengan mereka itulah yang membuat esai-esainya tampak hidup, bergairah, dan mewakili perasaan kita yang sesama kelas masyarakat yang terpinggirkan. Emha tampak asyik membuat si Jon Pakir menertawakan dirinya sendiri maupun dalam menghadapi surat-surat pembaca yang memberi kritik padanya.

Kumpulan esai santai ini adalah tulisan-tulisan Emha yang diterbitkan oleh 'Masa Kini', sebuah surat kabar daerah di Yogyakarta. Buku ini menghimpun segenap ide Emha pada rentang waktu 17 Juni 1987 hingga 22 Juli 1988. Maka dari itu, kiranya pembaca yang budiman mungkin akan mengalami kesulitan tatkala menerka-nerka subjek apakah yang menjadi pembahasan Emha. Namun, tidak menutup kemungkinan lain bahwa hal-hal yang sudah usang menjelang usainya dekade 80-an tetap aktual hingga saat ini. Hingga saat buku ini diterbitkan kembali dengan format yang baru.

Untuk itu, apabila pembaca yang budiman ingin menarik simpulan atau hipotesis sementara mengenai keadaan masyarakat negeri ini pada akhir dekade 1980-an dan menjelang akhir dekade 2010-an, buku ini membuka peluang ke arah sana. Sila pembaca menafsirkan sendiri pola-pola yang digunakan penguasa untuk memantapkan kekuasaannya.

Saya mencatat satu kutipan dari satu artikel Jon Pakir:
 
Silakan berbuat jahat, korupsi, mentang-mentang, ber-adigang adigung adiguna, tetapi begitu kita makin terseret ke dekat liang kubur: kita cenderung makin religius. Makin tahu apa yang asli pada hidup ini, apa yang inti dan yang paling kita butuhkan. (Grup Tahlilan Sewaan, hal. 219-220)
 
Kutipan diatas seakan ingin menegaskan bahwa kita ini memang tidak pernah tahu apa yang kita tuju dalam hidup ini. Sehingga kadang segala macam tindak tanduk kita tidak pernah sesuai dengan kemauan Tuhan. Padahal Tuhan sudah bermurah hati dengan membiarkan kita menghirup oksigen setiap pagi. Gratis!

Saya sangat menikmati kumpulan tulisan Emha yang kesekian ini. Tulisannya mudah dicerna, maknanya jelas, dan tidak perlu repot-repot berpikir soal konteks atau lain-lainnya. Aktualitas buku ini masih terasa benar dengan kondisi Republik yang semakin buta mana utara mana selatan. Sementara itu, silakan nikmati Kopi Jawa, Kopi Brasil, Kopi Sekuler, Kopi Masa Kini, Kopi bikinan Jon Pakir....

Judul           : Secangkir Kopi Jon Pakir
Penulis        : Emha Ainun Nadjib
Penerbit      : Penerbit Mizan Pustaka
Tahun          : 2016
Tebal           : 348 hal.
Genre           : Esai-Sosial Budaya
 
 
Cipayung, 23 Februari 2017.

Rabu, 30 November 2016

Dewa 19: Sebuah Flashback

Menonton video konser Dewa ini mengingatkan saya pada konser mereka bertajuk A Mild Live Dewa Live in Bandung, medio tahun 2000 lalu. Waktu itu mereka naik panggung di Dago Tea House. Harga tiket hanya IDR 15000 plus sebungkus rokok isi 12 batang. Ari Lasso memang sudah tidak ada di line-up. Pun, ada gitaris additional. Saya lupa namanya.


Malam itu begitu meriah. Album 'Bintang Lima' yang baru dirilis itu seakan menjadi penanda kebangkitan kembali Sang Dewa dari tidur panjangnya. Hanya saja, tidak adanya Ari Lasso cukup mengganggu kenangan-kenangan di lagu-lagu lama mereka.

Saya tidak mendapatkan lagi vokal khas Ari Lasso pada lagu 'Cukup Siti Nurbaya', 'Elang', 'Kirana', dan 'Kamulah Satu-satunya'. Selebihnya, untuk lagu-lagu di album baru itu sudah 'Once banget'.

Video yang diambil pada Soundrenaline 2015 Dewa feat. Ari Lasso ini menangkap sebuah set nostalgia yang mampu menghidupkan kembali kenangan tentang masa keemasan mereka. Ari Lasso kembali menjadi frontman yang memimpin dengan penuh energi.

Saya setuju dengan usul Felix Dass, sang narator dari SFTC. Janganlah membuat karya baru. Tetaplah jadi masa lalu yang bisa ditengok sekali-kali. Rasanya adil; penggemar dapat perjalanan ke belakang, dan Dewa mendapat kompensasi finansial yang baik. Win-win solution. Karya baru, hanya akan memberikan warna gelap yang merusak benang merah sejarah. Bukan apa-apa, Ahmad Dhani bukan lagi penulis lagu yang keren sekarang. And that's the problem.


Halim Perdanakusuma, 30 November 2016.

Jamrud: Sebuah Catatan Kecil

Biarlah Pak SBY punya versinya sendiri untuk 'Pelangi Dimatamu'. Tidak ada band rock lain seperti Jamrud, satu band yang jadi bayi dari Log Zhelebour dan punya catatan 2 platinum pada masa jayanya. Jamrud masih mempertahankan gaya rocker mereka, dan Azis MS masih ada disitu. Walau sempat vokalis berganti, kini Krisyanto telah kembali. Lengkap dengan 'TOA' di lagu 'Putri'.


Jamrud bisa dibilang sebagai The Most Original Rock Band in Indonesia. Ketika band-band rock lain menyanyikan musik yang sama, Jamrud sudah menyajikan hal-hal ekstrim (sex and other cheeky reality) khas 90-an. Pada saat itu, mereka berhasil menggaet animo penggemar musik rock.

Cara penulisan lagu mereka pun menyentuh berbagai selera berbau budaya nan sensitif dengan fun dan casual packaging. 'Surti dan Tejo' adalah satu buktinya. Jamrud berhasil menangkap fenomena, untuk kalangan tertentu. Tentu saja dengan cara mereka sendiri.

Jamrud punya energi kreativitas yang tinggi, konsistensi, dan integritas. Jadi, tidaklah salah untuk menempatkan Jamrud di line-up event semacam Soundrenaline ini.

Saya menikmati kembali masa-masa itu lewat video ini. Sebuah memori yang tidak pernah hilang ketika Krisyanto menyanyikan 'Putri' dengan khas berkupluk dan kacamata hitam, dan tak ketinggalan: TOA.


Halim Perdanakusuma, 30 November 2016.
Dengan kenangan pada 'Surti dan Tejo' di panggung perpisahan SMP 9 Bandung tahun 2001.

Senin, 31 Oktober 2016

Episode Dibuang Sayang: Twitterature

Courtesy: www.twitter.com

Konektivitas Digital

Dalam lima tahun belakangan ini, bermunculan macam-macam media jejaring sosial. Perkembangannya yang pesat turut membuka akses yang lebih mudah untuk menggunakannya. Hal ini memberikan cara baru kepada kita untuk berinteraksi dengan sesama tanpa terbatasi oleh ruang dan waktu. Media jejaring sosial bekerja sesuai prinsip-prinsip dasar Web 2.0 yang berbasis pada user-centric communication dan user-generated content. Sehingga, isi pesan yang dikomunikasikan bukan lagi mass produced messages yang dibuat oleh media massa secara umum melainkan melalui interaksi dan kolaborasi user (pengguna) di dalam media tersebut. 

Pengaruh media jejaring sosial telah mengubah cara kita dalam berinteraksi dengan sesama, bagaimana kita mendapatkan informasi, dan juga turut mempengaruhi dinamika kelompok sosial dan hubungan pertemanan kita. Kini, banyak pengguna internet yang memanfaatkannya sebagai alat sosialisasi.

Media jejaring sosial juga mempengaruhi kita dalam mendapatkan informasi dan berita. Diversi komunikasi dalam media jejaring sosial melalui portal berita berbeda. Dewasa ini, sangat mudah untuk jadi bagian dari suatu media jejaring sosial. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan informasi. Tidak ada batasan tentang apa yang bisa kita peroleh. Kedengarannya seperti hal yang bagus sekarang ini, tapi ini menunjukkan bahwa kebanyakan orang tidak bisa hidup dan menghindar dari media tersebut.

Media jejaring sosial menyediakan perangkat yang bisa digunakan untuk berkomunikasi, saling berbagi dan bertukar informasi, dan menciptakan hubungan-hubungan baru baik dalam kehidupan personal maupun profesional. Dengan popularitas media jejaring sosial yang semakin meningkat dan kemajuan yang pesat dalam perkembangan teknologi komunikasi turut mempengaruhi cara kita dalam berinteraksi sosial.

Kemajuan yang pesat juga dialami oleh industri telekomunikasi. Kemajuan tersebut membawa pengaruh yang sangat besar, yaitu dengan terbukanya akses kepada masyarakat untuk lebih dapat menikmati fasilitas teknologi komunikasi. Kemudahan akses juga menyebabkan perubahan yang signifikan dalam pemanfaatan teknologi komunikasi. Walaupun internet mampu menghubungkan jutaan manusia dan telah mengubah metode percakapan tradisional yang sudah sering kita lakukan, melalui tatap muka langsung misalnya. Perubahan dalam interaksi sosial ini tidak selalu positif atau negatif. Perubahan ini mengembangkan beberapa medium berbeda yang memungkinkan kita untuk berkomunikasi dan selama kita masih bisa bertatap muka langsung dalam kehidupan sosial kita sehari-hari, kita bisa mendapatkan keseimbangan diantara keduanya.

Sebagai bagian dari Web 2.0, media jejaring sosial berpengaruh terhadap cara kita berinteraksi dengan sesama melalui perubahan dalam dinamika kelompok sosial dan pertemanan. Media jejaring sosial turut menyumbang devaluasi dalam nilai pertemanan. Nilai-nilai hubungan tradisional yang berkaitan dengan kepercayaan dan dukungan. Media jejaring sosial menciptakan model baru dalam interaksi sosial dan pertemanan. Seiring dengan pertumbuhan lingkar sosial masyarakat, hubungan pertemanan digital tidak sekuat ikatan pertemanan tradisional di dunia nyata. Walaupun mampu membedakan dinamika pertemanan yang demikian itu, media jejaring sosial membantu kita menciptakan hubungan pertemanan yang baru dan menambah interaksi sosial.

Banyak efek yang ditimbulkan oleh media jejaring sosial baik positif maupun negatif. Tidak ada tuntutan untuk fokus terhadap efek negatif maupun efek positif media jejaring sosial. Hal itu bergantung kepada penggunaan media jejaring sosial itu sendiri, nilai-nilai yang berlaku di masyarakat sekitar, dan keduanya tentu saja berbeda untuk masing-masing orang.

Twitter dan Sastra

Twitter memungkinkan penulis untuk menjelajah ruang yang lebih luas dalam imajinasi pembacanya. Twitter mampu menghadirkan tokoh-tokoh rekaan penulis menjadi entitas yang hidup. Twitter menghidupkan kembali tokoh-tokoh fiktif ciptaan penulis untuk kemudian menjadi anasir yang nyata. Tokoh-tokoh yang semula hanya mampu diimajinasikan pembaca melalui teks bacaan kini menjadi realitas yang memiliki wujud dan entitasnya sendiri. Demikian adanya sehingga tidak terlalu salah untuk mengambil kesimpulan dan menyebutnya sebagai “Twitterature”. Gabungan dari kata “Twitter” dan “literature” yang membentuk makna sebagai sebuah “New Creative Outlet”.

Twitterature adalah istilah yang pertama kali dipopulerkan lewat majalah TIME (http://content.time.com/time/magazine/article/0,9171,1993863,00.html). Dalam artikel di halaman web Majalah TIME, twitterature diartikan bebas sebagai satu usaha untuk menghidupkan kembali penulis, tokoh-tokoh rekaan ciptaan penulis, hingga isi dari karya mereka, ke dalam suatu bentuk realitas. Kenyataan tersebut mendorong munculnya penggunaan istilah ini untuk merujuk pada suatu karya sastra yang dimunculkan kembali melalui Twitter dan merujuk pada karya aslinya. Sejarah sastra adalah juga tentang penggunaan media itu sendiri. Sejak ditemukannya papirus hingga media sosial berbasis teknologi web seperti dewasa ini.

Sangat memungkinkan untuk menghidupkan kembali karya-karya penulis-penulis terkenal seperti Pablo Neruda, Ernest Hemingway, maupun Shakespeare. Proses menghidupkan kembali yang dilakukan oleh sekelompok orang melalui akun Twitter dengan nama para penulis itu. Karya-karya mereka kemudian direproduksi kembali menjadi twit yang hanya 140 karakter itu. Hal yang tentu menimbulkan beragam reaksi dari pembacanya. Sebagai pembaca sastra, Twitterature tentu sangat membantu mereka untuk mengobati kerinduan atas karya-karya penulis hebat itu.

Di Indonesia sendiri, dalam pengamatan yang masih terbatas, sudah terbit beberapa buku yang mencirikan hal tersebut (Twitterature). Awalnya, Kicau kacau penulis galau si Indra Herlambang, kumpulan @sajak_cinta, twittit Djenar Mahesa Ayu, and now Twivortiare. Realitas fiksi semakin diuji ketika tokoh2 fiktif itu dihidupkan. AFAIK, @alexandrarheaw did it well. Menghidupkan tokoh fiksi dari Twivortiare sehingga menarik pengalaman pembaca untuk benar-benar terlibat dalam dunia fiksi yang dibangun oleh frame set and field of experience dari Divortiare-Twivortiare. Ini menandakan babak baru dalam kehidupan sastra Indonesia. 

Konektivitas digital telah mengubah cara kita dalam berkomunikasi. Komunikasi yang sederhana kini menjadi lebih kompleks dengan hadirnya media jejaring sosial. Media yang tumbuh pesat karena pada dasarnya mengakomodir kebutuhan dasar manusia yang berhubungan ego, emosi, dan eksistensi. Pemenuhan kebutuhan akan afeksi, rekognisi, dan apresiasi turut menjadikan media jejaring sosial sebagai suatu fenomena. Terutama bila dihubungkan dengan dampak yang ditimbulkannya. Sudah banyak kita saksikan Revolusi Sosial yang terjadi di beberapa negara Timur Tengah. Hal itu menunjukkan efektivitas dari media tersebut.

Komunikasi yang sejatinya adalah proses personal. Suatu proses penyampaian pesan dari individu kepada individu lainnya melalui suatu medium kini kembali menjadi lebih personal. Media sosial seperti Facebook dan Twitter adalah contohnya. Lewat medium tersebut, setiap individu bebas berkomunikasi dan berinteraksi dengan siapa saja, dengan yang dikenal ataupun tidak dikenal sekalipun. Seperti apa yang dikonsepkan dalam Web 2.0.

Belum lagi kehadiran media sosial yang lebih spesifik terhadap satu topik tertentu. LinkedIn misalnya, yang menghubungkan individu dengan individu lainnya berdasarkan aktivitas profesional mereka. Lihat juga, Goodreads dan Flixster. Goodreads adalah semacam 'surga' kecil bagi pecinta dan penikmat buku. Mereka bisa berjejaring dengan dunia perbukuan melalui apa yang mereka baca. Sedangkan Flixster bekerja hampir mirip dengan Goodreads. Hanya saja, Flixster menggunakan film sebagai objeknya.

Kehadiran media sosial membawa kita pada konektivitas global. Dimana ruang dan waktu tidak lagi menjadi hambatan untuk saling berinteraksi. Jarak hanyalah tinggal hitungan angka-angka belaka. Ketika mulai tergantikan oleh media-media komunikasi alternatif.

Kehadiran media sosial tidak hanya berdampak pada perubahan cara berkomunikasi. Perubahan juga nampak pada dunia sastra. Interaksi antara penulis, pembaca, dan penerbit menjadi lebih personal. Media sosial menjadi sarana dokumentasi yang efektif bagi para penulis untuk menyalurkan idenya. Dengan kemampuannya yang demikian itu, media sosial dengan segala kompleksitasnya menjelma menjadi mesin rekam berkemampuan super. Proses termu balik yang terjadi melalui sosial media membuat siapapun tidak akan pernah kehilangan jejaknya di dunia maya.

Twitter telah menjelma menjadi alat komunikasi yang efektif. The communication is getting personal (again). Twitter juga telah bertransformasi menjadi sarana dokumentasi yang efektif. Fenomena ini bukan isapan jempol belaka. Bahkan, fenomena ini akan bertahan setidaknya untuk lima tahun ke depan.

Tidak heran apabila Twitter adalah tren yang happening saat ini. Semua orang ingin tahu. Semua orang ingin menggunakannya. Semua orang ingin eksistensinya diakui.

Twitter juga seakan menghidupkan tokoh-tokoh dalam karya fiksi. Contoh: @alexandrarheaw, @harrisrisjad, @lupustwit @luluadiklupus. Twitter menambah semarak khazanah jagad sastra Indonesia. Twitter menjadikan batas antara fiksi dan fakta sedikit membias. Ketika fiksi dihadirkan dalam bentuk virtual yang menyerupai kenyataan. Personifikasi fiksi dalam realita membentuk wujudnya sendiri. Twitter membuat para tokoh fiktif itu seakan hidup. Mereka hidup tanpa kehilangan sedikitpun karakter dari cerita fiksi itu sendiri.  Mereka benar-benar ada. Mereka akan tetap hidup dan terus tumbuh layaknya makhluk non-fiktif. 

Sastra sendiri, dimana lebih banyak hidup dalam pikiran pembacanya menyediakan ruang untuk itu. Ruang imajinasi seluas-luasnya untuk menjelajahi petualangan alam pikiran. Sastra tidak menutup kemungkinan bagi pembacanya untuk mengalami sendiri pengalaman menikmati fiksi dalam realita. Apakah sama bedanya antara fiksi yang dihidupkan dalam kenyataan? 

Gairah dalam penciptaan karya sastra membutuhkan media dokumentasi yang baik, aksesibel, dan efisien. Utamanya, bukan karena masalah karya itu sendiri melainkan alasan dokumentasi. Dokumentasi yang menjadikan sebuah karya itu ada dan bisa diapresiasi khalayak. Dokumentasi pikiran, itulah alasan utama. Sekali lagi, karena sastra hidup dalam pikiran dan juga dihasilkan dari pikiran penulisnya.

Sebagai contoh, karakterisasi Beno dan Alexandra dalam Twivortiare. Twivortiare sendiri merupakan sekuel dari Divortiare. Penggemar karya-karya Ika Natassa tentu akan mampu untuk meresapi perbedaan diantara keduanya. Istilah “Twitterature” pun pertama kali saya dapat dari bagian pembuka Twivortiare.

Karakterisasi yang dimaksud adalah bagaimana tokoh Alexandra dan Beno yang secara faktual telah hidup melalui teks (Divortiare) bertransformasi dalam personifikasi user di Twitter. Alexandra menjelma menjadi karakter yang ‘hidup’ dan seakan berada dalam lingkungan kenyataan sehari-hari. Personifikasi karakter ini membuat imajinasi pembaca semakin diasah. Pembaca pun dibuat penasaran dengan kisah-kisah selanjutnya karena Alexandra akan tetap hidup dengan twit-twit yang dibuatnya. Hal ini menjadikan tidak lantas menjadikan ending dari cerita dalam teks (buku Twivortiare) menjadi stagnan. Justru, dengan personifikasi seperti ini penulis mempunyai ruang gerak dinamis untuk eksplorasi tokoh-tokohnya.

Contoh lainnya adalah Lupus. Siapa yang tidak kenal dengan tokoh anak muda yang satu ini. Pemilik rambut jambul kakaktua yang jago ngocol itu. Dalam konteks kekinian, serial Lupus yang hadir kembali di Tabloid Gaul, menyapa kembali pembacanya di Twitter. Siapa yang tidak kangen dengan Anto, Gusur, Boim, dan Fifi Alone. Pembaca setia Lupus pasti sangat merindukan kehadiran mereka. Kini, mereka dapat berinteraksi langsung dengan pembacanya. Interaksi yang berlangsung dalam siklus tersebut membuat tokoh-tokoh rekaan itu menjadi hidup dan seakan-akan memang ada. 

Impact lainnya terhadap sastra adalah pengembangan dari dokumentasi karya sastra itu sendiri. Sebagai contoh, Twittit dari Djenar Maesa Ayu. Kumpulan cerpen terbaru yang dikembangkan dari twit-twit sang penulis. Mirip dengan buku kumpulan cerpen 25 Tahun Kahitna. Bedanya, Kahitna menjadikan judul-judul lagu mereka sebagai judul cerpen untuk kemudian dikembangkan oleh penulis-penulis sahabat Kahitna. Sedangkan, Djenar merekonstruksi twit  yang pernah ditulisnya ke dalam suatu bentuk cerpen yang utuh.

Dari beberapa contoh diatas, tidaklah terlalu salah untuk menarik kesimpulan bahwa sastra Indonesia telah mengalami suatu proses dinamika dalam dialektika dengan pembacanya. Kini, suatu karya sastra tidak hanya bersumber pada catatan teks yang tertulis saja (baca: tercetak). Kehadiran media sosial telah mengembangkan sastra itu sendiri. Sehingga, penulis mempunyai ruang jelajah imajinasi serta dokumentasi yang lebih tersusun rapi, dan sangat mudah untuk melakukan penelusuran kembali (retrieval) atas jejak rekam karyanya.

Dengan demikian, kita masih akan berhadapan dengan wacana ini setidaknya dalam lima tahun ke depan. Komunikasi akan berlangsung semakin intens antara pembaca dan penulis. Karya-karya sastra baru akan bermunculan karena kemudahan akses penulis terhadap dokumentasi karyanya di media sosial. Bahkan sangat tidak mungkin suatu saat nanti media sosial itu bertransformasi menjadi karya sastra itu sendiri.

April 2012
Esai ini dibuat untuk sebuah kompilasi, terbit atau tidak penulis sudah lupa

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...