Tampilkan postingan dengan label Edisi Galau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edisi Galau. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 November 2018

Belahan Jiwa

Membaca lagi surat-surat mu
Hatiku jatuh rindu

Entah mengapa setiap memainkan lagu ini ingatanku selalu menuju padamu. Ah, mengapa ya? Mengapa semua ini harus juga tentangmu? Aku tidak pernah tahu. Hanya bisa menerka dan mereka-reka saja.
 
Waktu itu kita masih terlalu muda. Terlalu mudah terpesona untuk tahu apa yang orang sebut cinta. Mungkin, kita sama-sama terbuai dalam khayal dan imaji masing-masing. Ya, mungkin saja. Barangkali, kita terbuai bahwa kisah kita adalah Rangga dan Cinta.
 
Aku tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara kita berdua? Aku tidak pernah benar-benar tahu apa namanya. Kita berdua sepakat bahwa jarak membentang. Membentang sebegitu rupa sebelum ada tol Cipularang.
 
Penamu dan penaku pernah bicara. Pernah begitu dekat hingga pada akhirnya justru dalam dekat hanyalah diam yang ada diantara kita.
 
 
Jakarta, 30 November 2018.
 
* Belahan Jiwa, KLa Project

Kamis, 29 November 2018

Mimpi

Semua bisa terjadi
di dalam mimpi
Benar kata puisi
Sekali berarti sudah itu mati


Jurangmangu, 15 November 2018.

Selasa, 31 Januari 2017

AADC #2: Kamu Jahat!

Musim berganti, tapi hati tetap sama rindu
 
Sumber gambar: www.liputan6.com

AADC. Ada Apa Dengan Cinta: (n); film yang hits pada medio 2002-an lalu, sekaligus menjadi tonggak bangkitnya perfilman Indonesia. 

Akhirnya, sekuel hits itu dirilis juga. Semua pecinta film tentu senang dengan kembalinya Cinta dan Rangga. Ya, Cinta kembali diperankan oleh Dian Sastro dan Rangga masih oleh Nicolas Saputra. Yang jelas, kembalinya mereka akan menjawab pertanyaan-pertanyaan selama ratusan purnama. Rangga ngapain aja sih di USA? Cinta udah pacaran lagi belum ya? Hah, sama siapa?
 
Well, harus diakui AADC #2 berhasil menuntaskan dendam dan rindu para penggemarnya. Kita jadi tahu apa saja yang dialami oleh Rangga dan Cinta. Kita juga menyaksikan penjelasan seorang Rangga kepada Cinta. Sekaligus, menikmati keindahan Yogyakarta yang tidak akan pernah usai. Jadi, semua ini adalah soal cinta lama yang bersemi kembali. CLBK.
 
Lupakan segala pertentangan kultur antara dua anak muda ini pada filmnya yang pertama. Tentang bagaimana puitisnya Rangga dan quote yang heboh itu: Salah gue? Salah temen-temen gue? AADC #2 sejatinya adalah kembalinya pertautan dua hati yang hanya milik Cinta dan Rangga saja. Entah karena dirilis pada zaman baper menjadi hits sehingga alur ceritanya pun seperti mengalir dan mudah ditebak: mereka kembali bersama setelah sekian lama berpisah. A truly madly happy ending for both.
 
Sayang sekali, saya tidak melihat adanya benang merah antara promosi prekuel AADC #2 yang disponsori oleh satu aplikasi media sosial itu dengan film sekuelnya. Kecuali, Rangga yang bekerja di USA dan Cinta yang masih berkumpul hangat dengan para sahabatnya termasuk Ladya Cheryl, karena Ladya Cheryl a.k.a Alya tidak ada di sekuel. Barangkali, dengan alasan tidak mau terbawa alur teaser itu Miles Production membuat AADC #2 menjadi sedemikian rupa sehingga dunia ini rasanya hanya milik Cinta dan Rangga. Halah. :D
 
Anyway, AADC #2 tidak dapat dipungkiri lagi sebagai penuntas rindu sekaligus mengobati rasa penasaran kita semua akan kelanjutan kisah Cinta dan Rangga. Jangan lupakan juga Yogyakarta yang selalu menghadirkan perasaan ingin kembali kesana. Semua ramuan nostalgia itu diramu dengan apik sehingga penonton terbuai, baper, dan terbayang-bayang quote lain dari Cinta yang sama hebohnya: Yang kamu lakukan ke saya itu: JAHAT!
 
Judul           : Ada Apa Dengan Cinta 2
Sutradara    : Riri Riza
Pemain       : Nicolas Saputra, Dian Sastro, Dennis Adhiswara, Ario Bayu, 
                     Titi Kamal, Adinia Wirasti, Sissy Priscilla
Produksi    : Miles Productions
Tahun        : 2016
Genre        : Drama Romantis
 

Bumi Asri, 1 Januari 2017.

Rabu, 28 Desember 2016

Cinta Miund, Kolom Curhat yang Well-documented

Courtesy: twicsy.com

Bukan tanpa alasan bila sebuah kolom curhat dikompilasikan kembali menjadi sebuah buku. Seperti layaknya talkshow 'Kick Andy' atau 'Just Alvin', kolom Cinta Miund yang tayang di kanal Kompas Female pada portal kompas.com turut meramaikan remake ini. Bedanya, Miund a.k.a Asmara Letizia Wreksono ini mengangkat kisah klasik yang tidak akan pernah ada habisnya: Cinta.

Penerbitan buku ini tentu sangat berguna bagi para penikmat kolom web. Dengan buku ini, anda tidak perlu akses internet untuk kembali memahami persoalan klasik sepanjang zaman. Entah itu pada diri anda, teman, pacar, kekasih, pasangan, selingkuhan, or whatever you may say. Artikel didalamnya tentu sudah melalui proses editing dimana ada penyesuaian untuk repetitive problem sehingga buku ini nantinya akan selalu jadi referensi pembaca.

Untuk menghilangkan kesan 'terlalu feminin' karena penulis dan pengasuh kolomnya adalah seorang perempuan, Miund punya cara jitu untuk mengatasi hal ini. Pada beberapa kolom, ia menambahkan komentar dari laki-laki dengan tajuk 'Kata Lelaki'. Selain sebagai pendapat penyeimbang, cara ini sangat baik untuk para perempuan dalam memahami isi otak lelaki.

Jangan bayangkan buku ini seperti buku serial 'Chicken Soup' yang fenomenal itu. Tulisan-tulisan Miund justru tampil dengan gaya santai nan elegan yang bisa habis dibaca sekali duduk. Cinta Miund bisa jadi penambah wawasan pembaca dengan segenap problema cinta mulai dari pendekatan alias PDKT, menanggapi curhat berujung sayang, HTS, Office Romance, #kapankawin, how to deal with jealousy, masa lalu dan CLBK, tips singkat menghadapi putus cinta, hingga menafsirkan lagu-lagu cengeng tahun 80-90an (bab favorit saya v^_^v).

Saya beruntung menamatkan buku ini setelah melalui periode Orde Twitter dimana saat itu belum populer istilah 'baper'. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya lika-liku problema hati dan perasaan saya bila saya membaca buku ini saat itu. Urusan soal hati mungkin bisa jadi tambah pelik. Thank God!

Judul        : Cinta Miund
Penulis        : Asmara Letizia Wreksono (Miund)
Penerbit    : Penerbit Buku Kompas
Tahun        : 2012
Tebal        : 294 hal.
Genre        : Humaniora-Romansa
 

Cipayung, 25 Desember 2016.

Jumat, 28 Oktober 2016

Holding Back The Years (not the tears)

According to Youtube, "Holding Back the Years" is the 7th track on Simply Red's debut studio album Picture Book. The song was a huge success for the group and quickly rose to the top of charts across the world.


The single is one of two Simply Red songs (the other being their cover of "If You Don't Know Me by Now") to reach number one on the Billboard Hot 100, for the week ending July 12, 1986. It also reached #2 in the UK and was a worldwide hit. It had initially been released in the UK the year before, but only reached #51.

This single catched my ears two or three months before they arrive to Jakarta, for the concert. After quite some times, i found this single is really interesting. I don't know, or it's just a feeling. It's a throwback. Yes, to a memory that i can't speak of.


Medan Merdeka Barat, 28 Oktober 2016.

Rabu, 12 November 2014

12 Tahun AADC

Adalah cinta yang mengubah jalannya waktu
Karena cinta, waktu terbagi dua
Denganmu dan rindu, untuk membalik masa


Dua tahun lalu, saya menemukan sebuah jawaban atas sebuah pertanyaan dua belas tahun lalu. Finally, tahun ini Rangga dan Cinta mengalaminya. Dua belas tahun jarak waktu dan ruang membentang akhirnya kembali tayang. Apa hubungannya? Abaikan. Apapun itu, kita harus berterimakasih pada perusahaan developer aplikasi chatting yang sengaja mengumpulkan The Signature of 2002. Minus Dennis Adhiswara.


Ada Apa Dengan Cinta akhirnya kembali tayang. Meski dalam format mini drama yang habis ditonton sekali duduk. Biarpun begitu, AADC versi 2014 ini membuat para muda-mudi yang mengalami masa-masa bangkitnya perfilman Indonesia medio 2002 silam,  kembali mengenang masa keemasan paling indah dalam hidup mereka (Saya sih iya. Kamu?). Mini drama ini seakan ingin menjawab pertanyaan atas segenap rasa penasaran kita, “12 tahun ini Rangga dan Cinta ngapain aja?”.

Rangga terlalu sibuk, mana sempat ingat sama Cinta.
Dimulai dengan Rangga yang disela kesibukannya harus menyempatkan diri pulang ke Jakarta demi urusan pekerjaan. Well said. Rangga kini sudah jadi pekerja kreatif yang (nampaknya) sukses di New York sana. Ukurannya apa? Rangga bisa dapat penugasan ke luar negeri dari kantornya.

Sambil menyiapkan bekal perjalanan tugasnya, tak sengaja Rangga menjatuhkan buku “Aku” karya Sjuman Djaya. Ini pasti sebuah konspirasi besar alam semesta untuk mengembalikan ingatan Rangga pada Cinta.

The Gang: Friendship never ends
Cinta sendiri (barangkali) menjalani pekerjaan impiannya. Sambil sesekali berkumpul bersama geng SMA, Alya, Maura, Milly, dan Carmen; yang tentunya sudah punya hidup masing-masing juga. Saat itu juga, Rangga menemukan kembali Cinta lewat fitur aplikasi chatting yang terkenal gara-gara stikernya itu. Rangga yang terkenang masa lalu bersama Cinta, mengirim pesan langsung ke ponsel  Cinta. Sejenak, Cinta merasa aneh karena ia tidak mengenal Rangga yang lain. Alhasil, pesan Rangga itu berhasil mengoyak jala memori dalam ingatan Cinta.


Rangga berusaha menemui Cinta dalam perjalanannya ke Jakarta. OK, sampai disini barangkali juga pembaca sudah mafhum bahwa beredar kabar hoax yang menyatakan bahwa Cinta sudah tidak lagi tinggal di Jakarta tapi di Bekasi, lalu Rangga mencoba menyamar menjadi agen MLM untuk mendekati kembali Cinta. Prelude yang bagus untuk rehat sejenak dari kebosanan rutinitas :p.


Rangga terus menerus mengirimi pesan pada Cinta. Pesan yang percuma saja karena tidak terbalas. Cinta sendiri bukannya tak ada usaha.  Ia mencoba meyakinkan perasaannya kembali pada Rangga. Satu sisi, ia tidak ingin memberikan harapan apa-apa untuk Rangga. Namun, sisi lain hatinya pun merasa ingin melangkah dan melanjutkan hidup tanpa bayang-bayang masa lalu (baca: Rangga).

Rangga dan Cinta bakal ciuman lagi?

Memang dasarnya sekuel mini ini berbasis drama, selalu ada kejutan menjelang akhir cerita. Lupakan sejenak pesan sponsor. Cinta memutuskan untuk tidak menjawab pesan-pesan Rangga. Rangga pun sudah patah harapan untuk bertemu Cinta. Keajaiban itu nyata bagi mereka yang meyakininya. Sepertinya doa Rangga didengar Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan Maha Pembulakbalik Hati, yang akhirnya mengirim Cinta untuk menemui Rangga. Lagi-lagi, menjelang waktu keberangkatan Rangga.

Detik tidak pernah melangkah mundur,
Tapi kertas putih itu selalu ada.
Waktu tidak pernah berjalan mundur,
Dan hari tidak pernah terulang.
Tetapi, pagi selalu menawarkan cerita yang baru.
Untuk semua pertanyaan, yang belum sempat terjawab.


“Jadi, beda satu purnama di New York dan di Jakarta?” Pertanyaan akhir yang menutup cerita. Kiranya, penonton harus kembali menunggu jawaban apa yang akan Rangga berikan pada Cinta.

Gugatan Seorang Penulis Dadakan

Saya termasuk dalam generasi emas yang ikut mengalami fenomena Ada Apa Dengan Cinta jilid pertama. Saya juga termasuk dalam golongan pembaca yang ikut penasaran dengan buku “Aku” tulisan Sjuman Djaya namun batal membelinya di toko buku. Saya masih kelas 1 SMA ketika Cinta memberikan ciuman perpisahan pada Rangga. Film ini seakan mewakili keberadaan entitas kami di dunia yang tak pernah selebar daun kelor ini.

Kembalinya kisah Rangga dan Cinta ini sempat saya ketahui dari judul headline sebuah portal berita online. Katanya, pemeran AADC-minus Dennis Adhiswara @omdennis- kembali reuni untuk promosi sebuah produk. Saya tidak lantas membaca berita itu lebih lanjut karena tidak menyangka bahwa reuni mereka akan berakhir dengan sebuah rilis mini drama.

Weekend minggu lalu, saat Persib bersiap merayakan keberhasilannya menjuarai Liga Indonesia, saya dikejutkan dengan rilis sekuel AADC yang bisa ditonton di Youtube. Saya tidak menyangka bahwa akan ada konspirasi besar antara pemilik modal (sebut saja perusahaan pengembang aplikasi chatting berwarna hijau) dengan reuni pemeran AADC.


Saya bersyukur karena akhirnya tidak lagi penasaran, apakah Rangga berhasil melalui satu purnama tanpa Cinta nun jauh disana. Buktinya, keduanya baik-baik saja tanpa harus saling mengingat, hanya dengan menjalani hidup masing-masing saja. Tetapi, kita memang tidak pernah tahu apa nasib waktu. Kita tidak pernah benar-benar paham bagaimana persinggungan takdir mempertemukan kita dengan seseorang, lantas akrab lengket seperti ketan, kemudian kembali berpisah atas nama takdir pula.

Melalui mini drama ini, kita kembali dihadapkan pada Cinta yang masih mengalami peer pressure dari keempat sahabatnya. Lupakan Rangga, cari yang lain saja. Begitu kata mereka *kecuali Alya*  yang merasakan kegundahan Cinta. *peluk Ladya Cheril*. Cinta terlihat seperti yang tidak mau cari ‘gara-gara’ dengan Rangga namun akhirnya mengalah pada perasaannya dan menemui Rangga di saat-saat terakhir langkah Rangga di Jakarta. Pelajarannya, barangkali Dian Sastro dan Nicholas Saputra ingin berpesan bahwa tidak baik memberikan harapan palsu pada seseorang kecuali kamu sudah seganteng dan secantik mereka berdua. #justsaying

Alya, aku juga pengen kita mulai dari awal lagi *digetok Mira Lesmana*

12 tahun waktu berlalu dan mereka berdua asyik dengan hidup masing-masing dan hanya dihabiskan dengan pertemuan singkat di akhir cerita. Keduanya tidak sama-sama berusaha untuk menjalin kembali apa yang telah mereka mulai. Kalau saat itu umur mereka 18 tahun, berarti mereka sekarang sudah berumur 30 tahun. Waktu yang cukup dari ideal untuk mempersatukan tali cinta abadi. Hal ini menandai satu fenomena bahwa kaum muda di Ibukota baru memulai untuk menjalin hubungan serius di penghujung umur 20-an mereka. Tentu, perlu penelitian lebih lanjut untuk membuktikan hipotesis dadakan saya ini.

Kemasan mini drama sekuel ini rasanya cukup baik dengan polesan scoring yang tepat. Dibuka dengan puisi Rangga, diiringi instrumen lagu-lagu official soundtrack, dan ditutup dengan puisi Rangga dan Cinta. Perlu ada analisis tersendiri pula mengapa lagu ‘Demikianlah’ menjadi dominan di akhir cerita. Apa karena ada liriknya yang berkata: “kata orang rindu itu indah”, sehingga Rangga dan Cinta butuh waktu lagu untuk menikmati kebersamaan mereka dalam bentangan jarak dan waktu? Semoga kita tidak perlu menunggu hingga 12 tahun lagi untuk mendapatkan jawaban.

Terakhir, andai saya jadi Rangga saya akan menjawab pertanyaan Cinta.

“Jadi, beda satu purnama di New York dan di Jakarta?”

Saya akan menjawab:

“Cinta, percayalah, bahwa ketika engkau menatap purnama di langit Jakarta, aku pun menatap purnama yang sama di langit New York” *keselek duren*



Paninggilan, 12 November 2014.
menatap nanar pada gerimis, rindu

Rabu, 10 Juli 2013

25 Minutes

Boy I've missed your kisses all the time but this is
Twenty five minutes too late

Sudah jadi ‘ritual’ setiap hari Rabu pagi untuk stay tune di @motion975fm. Kurang lebih sama rasanya dengan selalu sarapan di warung nasi uduk yang sama. Bukan apa-apa, kalau bukan soal rasa mana mau saya datang kembali, over and over. Hal itulah yang membuat ‘ritual’ pagi ini selalu penuh arti *halah. Radioshow #SapaPagi bertajuk #GURIH975 alias ‘Lagu Perih’ yang bertagline: lagu-lagu penuh isi yang membuat kosong selalu sukses membuat Rabu pagi menjadi slowly moving. 


Saya suka radioshow ini karena memutarkan lagu-lagu perih yang hits dan favorit. Contoh, sebut saja ‘Right Here Waiting’, ‘Heaven Knows’, ‘How Do You Heal a Broken Heart’, bahkan ‘Tenda Biru’ sekalipun. I love how memories find a way to be remind as a past glorious moment.
 
Belakangan, saya perhatikan bahwa lagu jagoan dari Michael Learns To Rock yang judulnya “25 Minutes” (siapa sih yang gak kenal ini lagu? *angkatan tua*) selalu masuk playlist. Barangkali, lagu ini adalah lagu kenangan yang punya banyak makna bagi beberapa orang. Sehingga, maklum saja kalau ’25 Minutes’ selalu main setiap Rabu pagi.

Untuk saya, ’25 Minutes’ ini adalah sebuah lagu untuk keterlambatan yang berujung pada penyesalan. Kalau kata Kahitna: “kau datang, mengapa terlambat? Saat aku baru jadi dengannya...”. So, if you love somebody, please tell her your feelings. Don’t wait until the time passed. Don’t wait until she standing in front of the church. 

Once upon a time, i used to feel this way. I can deeply feel how’s the feeling of the poor boy. To see her in front of the church. To hear her crying by saying a note of goodbye. To deeply broken when realized that it was too late to tell her. It happened when I saw her standing in front of the wedding stage. With her man, of course! No other words than “She looks so happy in her wedding dress.” That’s been my facebook status for the day.
 
I can still hear her say... Gimana gak perih coba?

 
25 Minutes

After some time 
I've finally made up my mind
She is the girl and I really want to make her mine
I'm searching everywhere to find her again
To tell her I love her
And I'm sorry 'bout the things I've done

I find her standing in front of the church
The only place in town where I didn't search
She looks so happy in her wedding dress
But she's crying while she's saying this

Boy I've missed your kisses all the time but this is
Twenty five minutes too late
Though you traveled so far boy I'm sorry your are
Twenty five minutes too late

Against the wind I'm going home again
Wishing me back to the time when we were more than friends

But still I see her in front of the church
The only place in town where I didn't search
She looked so happy in her wedding dress
But she cried while she was saying this

Boy I've missed your kisses all the time but this is
Twenty five minutes too late
Though you traveled so far boy I'm sorry your are
Twenty five minutes too late

Out in the streets
Places where hungry hearts have nothing to eat
Inside my head
Still I can hear the words she said

Boy I've missed your kisses all the time but this is
Twenty five minutes too late
Though you traveled so far boy I'm sorry your are
Twenty five minutes too late

I can still hear her say.......



Medan Merdeka Barat, 10 Juli 2013

Jumat, 31 Mei 2013

Surat Kecil untuk Aninda

Aninda,

Apakah engkau tidak pernah menanyakan kapan kita akan bertemu? Tidakkah engkau ingin bertanya kepadaku tentang perasaanku usai menonton film yang kau sebutkan? Tidakkah mau engkau bercerita kembali tentang segala kegalauanmu?

Aku melihat bintang di langit malam. Satu bintang di langit kelam. Seketika itu pula, aku merindukanmu. Aku masih ingat betapa engkau menyukai lagu itu. Biarpun engkau memendam cintamu sendiri.

Kelak, bintang pun berguguran. Bintang yang nampak malam ini akan segera terganti. Namun, rindu untukmu malam ini takkan pernah terganti. Hanya saja ia berubah dalam untaian rasa dalam tulisan ini. Biarlah dia abadi disini. Ketika rasa telah ditasbihkan pada semesta. Berharap engkau mau mengerti keadaan ini.



Aninda,

No matter how deep you fall, how hurt you've been broken, let me be the one who cure you. Let me reach you to letting go of those painful memories.

Aku takkan janjikan apapun kecuali diriku ini yang akan selalu ada untukmu. Tak peduli seberapa deras hujan badai di hatimu, aku adalah orang pertama yang akan berlari dan memayungimu. Pastikan dirimu tidak ikut basah bersama derasnya.


Pharmindo, 31 Mei 2013.

Sabtu, 16 Maret 2013

Smart Eating #menujuLangsing2013


Hari Senin (11/3), hari dimana sejarah telah menetapkan (Alm) Soeharto sebagai penerima mandat sebagaimana kini dikenal sebagai Supersemar, Surat Perintah Sebelas Maret, menjadi sangat berarti bagi saya. Bukan karena saya mendapatkan perintah serupa. Dulu, 11 Maret ini selalu dianggap tanggal ‘keramat’ oleh beberapa sahabat di kampus, misal @lucktygs yang selalu menandai 11 Maret sebagai ‘gerbang’ menuju skripsi yang akan mengantarnya ke prosesi ritual bertoga.

11 Maret 2013, usai menjalani pemeriksaan neurologi melalui tes EEG (electro encephalography) di Lakespra Saryanto, Cawang, saya kembali ke Balai Kesehatan Penerbangan di Kemayoran untuk mengambil hasil dari test kesehatan yang saya jalani sejak hari Jum’at (8/3). Alangkah terkejutnya, bahwa ketika hasil tes sudah dirilis , saya dinyatakan tidak memenuhi standar kelaikan medis bagi penerbang. Dalam detail pemeriksaan, disebutkan kadar asam urat saya sangat tinggi, yaitu 8,4 jauh melebihi standar 7,0. Dengan demikian, saya menerima ‘supersemar’ versi dokter penguji: (1) turunkan kadar asam urat, (2) diet rendah purin, (3) diet rendah lemak. Saya resmi menjalani ‘terapi’ untuk mengurangi kadar asam urat yang dinilai membahayakan.

Bagi saya, hal ini adalah sebuah pukulan telak. Dalam pengertian sederhana yang saya tahu, penderita asam urat tidak diperbolehkan mengkonsumsi sayuran hijau. Tak pelak, kenyataan itu sangat membuat saya kecewa. Artinya, di usia saya yang ke 27 tahun, saya tidak boleh lagi menikmati tumis sosin (sawi hijau) paling enak sedunia buatan Ibu, setidaknya selama masa pemulihan. Hari-hari selanjutnya, saya hanya bisa menyesali diri sendiri. Saya tidak boleh makan sayuran hijau yang jelas-jelas adalah makanan favorit. Saya merasa kecewa terhadap diri saya sendiri karena tidak berhasil menjaga kesehatan badan. Terbukti dengan 3 catatan ‘supersemar’ dokter penguji plus satu bonus catatan lagi: Turunkan BMI (body mass index) ke level < 30 (sekarang saya 32). Ini menandakan saya harus mengurangi berat badan at least 10 kg.

Setelah vonis dokter tersebut dibacakan, saya harus belajar menerima kenyataan. Saya harus mulai memperhatikan asupan makanan. Mengubah pola makan, pola pikir, dan kebiasaan makan harus segera saya lakukan demi kesehatan jangka panjang. Untuk itu, saya sempat kembali pada program Diet Golongan Darah, sesuai petunjuk dari buku “Diet Golongan Darah O” tulisan Dr. Peter J. D’Adamo. Saya mereview kembali kategori makanan yang dianjurkan dan beberapa pantangan. Saya semakin dibuat tersiksa dengan petunjuk buku yang mengisyaratkan bahwa saya akan kehilangan lagi beberapa makanan favorit.

Untuk Golongan Darah O, buku itu menyarankan agar saya mengurangi konsumsi sayuran, apapun bentuknya. Saya semakin berusaha menghindari kenyataan, namun saya tidak punya pegangan lain dalam usaha saya menjalankan ‘supersemar’ dokter penguji.

Saya diminta untuk melakukan tes ulangan hari Rabu (14/3). Pada hasil tes ulangan, ada hasil menggembirakan. Kadar asam urat sudah turun, sehingga saya dinyatakan laik medis sebagai penerbang. Dibuktikan dengan Certificate of Medical yang dirilis Balai Kesehatan Penerbangan.

Hasil konsultasi dengan dokter, seorang sahabat SMP

Smart Eating #menujuLangsing2013

Bulan Februari kemarin, presenter kondang Erwin Parengkuan @erwinparengkuan, bersama Jana Parengkuan, istrinya, dan Dr. Samuel Oetoro, MS, SpGK., merilis sebuah buku berjudul “Smart Eating: 1.000 Jurus Makan Pintar & Hidup Bugar”. Saya sempat tertarik untuk membacanya namun keinginan itu masih terpendam hingga Jum’at kemarin (15/3) saya menghadiri Diskusi Buku ini di Periplus Plaza Indonesia. Informasi yang saya peroleh dari twitter kemudian menuntun saya untuk segera melakukan reservasi.



Erwin Parengkuan bercerita tentang kebiasaan makan sehat yang sudah dijalaninya. Kemudian, Jana Parengkuan memberikan tips dan insight seputar memadukan menu makanan sehat dalam menu harian keluarga. Apalagi ketika harus berhadapan dengan anak-anak untuk memperkenalkan menu makanan sehat. Dr. Samuel Oetoro, banyak memberikan insight seputar kandungan gizi dalam makanan sehat yang dibuat oleh Erwin Parengkuan dan Jana Parengkuan. Wawasan yang diperoleh dari pertimbangan sisi medis ini turut memberikan encourage kepada partisipan bahwa makanan sehat itu tidak selalu mahal dan membuat repot dalam penyajiannya.

Dalam diskusi ini juga disisipkan demo membuat makanan sehat. Diantaranya Sanapi, yaitu jus paduan dari Sawi, Nanas, dan Pisang, dan juga Salad Apel Kismis Almond Seledri. Selain itu juga, partisipan bisa mencoba resep lainnya, yaitu Ayam Rendang Kemiri. Semua menu itu dibuat berdasarkan pengalaman Erwin Parengkuan dalam menjalani pola makan sehat.

@erwinparengkuan menyiapkan Sanapi

@janaparengkuan membuat Mixed Salad

Untuk dapat kesempatan berpartisipasi dalam diskusi ini cukup melegakan saya. Saya jadi tahu apa yang harus saya lakukan untuk menindaklanjuti rekomendasi ‘supersemar’ dari dokter penguji. Saya pun tahu batas-batas yang tidak boleh saya langgar dalam usaha menurunkan kadar asam urat. Melalui konsultasi langsung dengan Dr. Samuel, saya mendapatkan wawasan baru tentang tantangan yang harus saya hadapi ke depan. Ditambah, buku Smart Eating, yang dibagikan gratis kepada partisipan, saya anggap sebagai manual book dalam merubah kebiasaan makan.

Salah Persepsi Food Combining dan Diet Golongan Darah

Saya lebih dulu mengenal konsep food combining dibandingkan dengan diet golongan darah dan smart eating. Ketika saya tanyakan itu kepada Dr. Samuel Oetoro, MS, SpGK, beliau membuat membuat sebuah penjelasan singkat dengan analogi sederhana.

Food combining menuntut kita untuk memiliah makanan sesuai dengan konsep asam-basa. Makanan yang mengandung asam harus dipadukan dengan makanan yang mengandung basa. Dengan demikian, sistem pencernaan akan lebih mudah melakukan tugasnya, sehingga diperoleh suatu efisiensi atas proses penyerapan makanan.

Konsep ini berlainan dengan teori yang Dr. Samuel jelaskan. Bahwa, apapun makanan yang masuk ke dalam tubuh, baik itu asam atau basa tetap akan menjadi netral di dalam organ pencernaan. Dengan sendirinya, asam lambung beserta enzim-enzim yang ada dalam siklus pencernaan akan kembali membuat makanan yang masuk bersifat netral.

Kemudian, tentang diet golongan darah, Dr. Samuel memberikan analogi yang sangat jelas. Ketika kita sakit lalu datang ke dokter kemudian tidak kunjung sembuh, apakah kita akan datang ke dokter yang sama? Maksudnya adalah, perbandingan berapa banyak orang yang merasakan manfaat dari golongan darah dengan yang tidak memperoleh apapun dari diet tersebut yang datang kembali ke dokter yang sama tidak pernah disebutkan. Lagipula, diet golongan darah ini tidak berangkat dari pijakan hasil sebuah penelitian, Evidence-Based Medicine, kata Dr. Samuel.

Diet golongan darah berawal dari pengamatan terbatas terhadap pasien-pasien yang kemudian pendapat mereka dijadikan testimoni untuk melakukan sebuah terobosan dalam diet. Belum ada hasil penelitian sial diet golongan darah. Sehingga, anda tentu dapat menilai sendiri kadar reliabilitas dan validitas data (halah) dalam kesimpulan diet tersebut.

Konklusi

Berawal dari hashtag #menujuLangsing2013 dari Ligwina Hananto @mrshananto, saya berniat mempunyai program serupa ketika melihat lingkar perut melebihi angka 95. Usaha yang saya lakukan sejauh ini adalah rutin lari pagi setiap weekend dengan judul Paninggilan Morning Run. Usaha itu ternyata tidak cukup karena saya belum berhasil merubah pola makan dan mengurangi asupan kalori, saya  pun masih belum bisa menghentikan kebiasaan merokok.

Keadaan seperti ini terus berlangsung hingga saya melakukan tes kesehatan dengan standar kelaikan medis untuk penerbang. Mengapa saya melakukan  itu? Spesifikasi medis untuk penerbang dirancang sedemikian rupa dengan detail-detail tertentu sehingga diperoleh hasil yang strict, ketat, sehingga apabila salah satu komponennya dianggap melebihi batas maka peserta tes dianggap failed atau gagal. Saya mengalami kegagalan itu. Baru setelah meminum obat dari dokter penguji, menahan diri untuk tidak melanggar pantangan, lalu masuk lab kembali, saya memperoleh Certificate of Medical (Medex Certificate).

Kejadian ini membuat saya harus melakukan sesuatu. Rekomendasi tertanggal 11 Maret 2013 itu membuat saya harus membuat keputusan untuk melakukan turnover terhadap kebiasaan yang masih dijalani hingga hari ini. Percepatan mutlak diperlukan demi mencapai tujuan #menujuLangsing 2013.

Konsep Smart Eating yang diperkenalkan Erwin Parengkuan and Friends melalui buku ‘Smart Eating’ adalah panduan yang simpel dan praktis untuk merubah kebiasaan itu.Variasi menu dalam smart eating tidak lantas membuat rutinitas makan menjadi suatu kebiasaan yang harus dikurangi. Justru, konsep makan dalam smart eating kembali diperkuat dengan gagasan yang mudah dipraktekkan. Bila seorang penerbang butuh panduan dari Aircraft Flight Manual, saya menjadikan buku ‘Smart Eating’ ini sebagai manual/panduan saya dalam program kesehatan yang saya canangkan. Memang sulit untuk merubah kebiasaan, tapi seperti pepatah bilang: tidak ada kata terlambat untuk memulai.


You Ask, Doctor Answer

Dalam diskusi itu, saya juga mencatat beberapa pertanyaan lain yang diajukan ke narasumber. Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam buku catatan kecil saya.

My Question:
Setelah mengenal food combining dan diet golongan darah terlebih dahulu, saya menemukan beberapa makanan pantangan, terutama dalam kaitannya dengan diet golongan darah yang sedang saya jalani, bagaimana korelasi hal tersebut dengan konsep smart eating, karena ada beberapa makanan pantangan yang masuk ke dalam menu smart eating? Misal, sayuran hijau untuk penderita asam urat.

Doctor’s Answer:
Untuk penderita asam urat dengan kadar > 8 (it’s me, anyway), memang sangat diwajibkan untuk tidak mengkonsumsi lagi sayuran hijau. Perlu dicatat juga untuk mengurangi asupan protein. Kalau kadar asam urat sudah < 7, sudah boleh lagi menkonsumsi sayuran hijau dalam batasan tertentu. Tetapi, harus tetap berhati-hati dengan asupan protein, karena protein jadi satu faktor pemicu tingginya asam urat

Anyway, pertanyaan yang lebih mirip curhat ini membuat saya punya harapan biar hanya sedikit. Bahwa, suatu hari nanti, saya akan bisa kembali makan sayuran hijau favorit saya :)) .

Q: Apakah boleh mengganti gula dengan madu dalam asupan makanan sehari-hari?

A: Madu termasuk asupan yang mengandung kadar glisemik tinggi, sehingga takarannya tetap harus diperhatikan

Q: Bagaimana cara mengkonsumsi teh hijau yang baik?

A: Sebagai anti-oksidan dan anti-karsinogenik, teh hijau akan bermanfaat dikonsumsi 3-5 cangkir per hari. Diseduh dengan suhu air 70 derajat celcius. Catatan, tidak diminum sehabis makan karena akan mengganggu metabolisme enzim pencernaan. Hal ini berlaku juga untuk teh hitam dan teh lainnya.

Q: Mengapa dalam demo digunakan batang sayuran, lalu bagaimana kadar vitamin C yang terlarut dalam variasi minuman jeruk, dan bagaimana mendapat manfaat dari konsumsi susu?

A: batang sayuran digunakan karena memiliki kadar air yang tinggi, sehingga ketika masuk dalam pencernaan akan memberikan sinyal kenyang ke otak, akibatnya kita tidak akan merasa lapar lagi. Vitamin C dalam jeruk tidak boleh disajikan dalam keadaan panas karena kadar vitamin akan segera menguap bila terkena air panas. Susu harus diminum dalam keadaan hangat, tidak dalam keadaan dingin atau panas.

Q: Saat ini, produk gula jagung sudah banyak beredar di pasaran, apakah efek jangka panjang dari mengkonsumsi produk gula jagung tersebut?

A: Perlu diperhatikan bahwa dalam komposisi produk gula jagung yang kini beredar di pasaran (lihat bagian belakang kemasan) tetap mengandung bahan pemanis buatan, aspartam. Aspartam dalam batasan tertentu diperbolehkan. Efek jangka panjang dari konsumsi produk gula jagung yang mengandung aspartam ini akan membahayakan kesehatan. Menurut penelitian terbaru, gula termasuk ke dalam toxic yang mengakibatkan penyakit degeneratif, dan mempercepat penuaan sel.

Sedikit catatan pribadi dari pertanyaan tentang gula jagung diatas. Usai divonis menderita diabetes, Bapak saya menggunakan gula jagung sebagai pengganti gula murni. Namun, saya juga kaget karena komposisi gula jagung ini tidak murni atau sebagian besar terdiri dari jagung, tetapi malah terbuat dari aspartam. Hal ini membuat saya dan Bapak tidak lagi mengkonsumsi produk tersebut lalu mengganti gula murni dengan madu.

Semoga tulisan ini membantu dalam menuju kehidupan yang lebih sehat sebagai bekal di hari depan.


Paninggilan, 16 Maret 2013.

Selasa, 26 Februari 2013

Dance With My Father

Gus Dur adalah seorang Bapak yang amat santun kepada tetangganya, tetapi sangat keras mendidik disiplin mental anak-anaknya sendiri dengan hajaran dan gemblengan sedemikian rupa. Kalau pakai budaya Jombang, agar anak-anak menjadi tangguh mentalnya, ia perlu diancup-ancupno ndik jeding (kepalanya dibenam-benamkan ke air kamar mandi), dibatek ilate (ditarik lidahnya keluar mulut sehingga tak bisa omong), atau disambleki mbarek sabuk lulang (dicambuki pakai ikat pinggang kulit).
                                                      

Emha Ainun Nadjib, dalam Kompas, Senin, 25 Februari 2013.

Baiklah, kita mulai penulisan malam ini. Sebelum beranjak ke materi lainnya. Entah itu review film terbaru Rain, R2B:Soar Into The Sun atau sebuah catatan iseng usai membaca bagian awal buku Doorstoot Naar Djokja (Julius Pour, 2009) yang membuat saya teringat kembali pada waktu memimpin Kompi Kuning melawan Kompi Merah dalam perang paintball di Citarik. *abaikan

Mungkin, saya terbawa perasaan sentimental mengingat penulis artikel itu adalah Emha Ainun Nadjib, budayawan asal Jombang yang bermukim di Yogyakarta. Sedikit cerita tentang Jombang, medio bulan ini saya sempatkan untuk mengambil cuti demi tetirah sejenak dan napak tilas ke makam Eyang di Jombang. Barangkali, untuk urusan sentimentil sebuah tulisan ini dibuat. Mencoba mengkaitkan perasaan yang tertinggal disana dengan sebuah tanda tanya soal asal usul demi menyusun kepingan makna eksistensialitas diri.

Membaca kembali paragraf pembuka diatas, saya jadi ingat kembali bagaimana cara Bapak memperlakukan saya, dengan segala caranya yang kemudian membentuk pribadi saya. Saya mengalami suatu pengalaman yang akan terus saya kenang. Beberapa diantaranya tidak ingin saya ingat dan bahas lagi, apalagi untuk diceritakan. Bagaimanapun, ingatan tentang hal ini tetap hidup dalam benak saya.




Waktu kecil saya tumbuh sebagai anak-anak normal yang bergaul di lingkungan komunal. Maksudnya, selalu bermain dengan teman sepermainan yang sama, maklum anak komplek. Dari situ, kemudian muncul banyak “pertentangan” antara keinginan saya sebagai anak yang ingin bermain dengan kehendak. Tak pelak, karena hal itulah kemudian saya membuat masalah yang membuat orang tua (utamanya Bapak) mengambil sebuah tindakan.

Saya pernah dihukum dengan dibanjur (disiram) dengan air sumur. Bapak dan Ibu pernah melakukannya kepada saya hanya karena saya menolak untuk segera pulang ke rumah setelah dipanggil berkali-kali. Setibanya di rumah, saya disuruh membuka baju kemudian jongkok dekat sumur. Lalu, Bapak segera menarik tali timba. Seketika, tubuh saya sudah basah. Sambil menangis saya berteriak “udah...udaaaahh” , tetapi sebelum tiga kali guyuran Bapak atau Ibu tidak akan berhenti. Efek dari aksi polisionil (halah bahasanya) itu lumayan membuat kapok.

Lain waktu, saya pernah dihajar habis-habisan dengan sapu lidi. Saya tidak ingat lagi apa sebabnya. Yang saya ingat, Bapak begitu marah sehingga menarik saya ke kamar tidur sambil menenteng sapu lidi dan memukul punggung saya berkali-kali. Rasa benci terhadap Bapak muncul semakin kuat. Saya benci, benci sekali sama Bapak. Saya tidak bisa menghindari perasaan semacam itu. Entah saya memang salah atau tidak yang jelas efek jera dari setiap pukulan Bapak sudah cukup untuk membuat saya mengaku salah.

Untung saja saya tidak mengalami hal yang dilakukan Gus Dur, seperti pada paragraf yang ditulis Emha. Tetapi, entah karena sama-sama orang Jawa Timur seperti Gus Dur, Bapak memang santun dengan tetangga tetapi keras terhadap anak-anaknya sendiri. Bila saya sedang main dengan anak tetangga, dan terjadi sesuatu pada anak itu yang bukan disebabkan oleh kesalahan saya, maka saya lah yang kemudian jadi sasaran amukan Bapak. Saya bingung karena saya merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Namun, saya tetap terima konsekuensinya. Kadang, tidak boleh main keluar rumah selama 3 hari atau terpaksa menerima hukuman fisik seperti dipukul sapu lidi.

Kalau dulu sudah ada yang namanya Komnas Perlindungan Anak, saya pasti sudah melaporkan kejadian itu. Zaman telah berubah. Keterbukaan pandangan orang tua dalam cara mengasuh dan membimbing anak mulai berkembang pesat. Cara-cara lama telah ditinggalkan. Hukuman fisik dianggap sudah tidak pantas. Berhubung Generasi DHA masa kini memiliki way of life sendiri yang berbeda dengan zaman saya.

Itulah bayangan yang ada di benak saya selagi membaca artikel Emha diatas. Ingatan saya kembali ke masa-masa itu. Kata orang bijak, selalu ada hikmah di balik peristiwa. Mungkin, Bapak ingin mengajarkan saya bahwa hidup ini kadang tidak bersahabat. Hidup ini keras, Bung! Jadi, beliau mengambil tindakan yang dianggap perlu untuk membuat anaknya ini kuat dan tegar. Sekalipun, saya mengalami kekerasan fisik semacam itu, saya tetap merasa selalu rindu akan sosok seorang Bapak. Sosok yang selalu membuat saya menundukkan kepala ketika meminta uang Rp. 100,- untuk jajan.

Butuh waktu lama untuk tahu apa makna dibalik semua itu. Januari 2007, saya tinggal di Surabaya selama 21 hari. Kesempatan itu saya gunakan untuk bersilaturahmi dengan keluarga dari nasab Bapak. Saya bertemu dengan Bu De yang sepesusuan dengan Bapak. Dari Bu De, saya berhasil memperoleh keterangan mengenai cerita dan jalan hidup Bapak. Keterangan yang mengantarkan pada sebuah kesimpulan bahwa Bapak menghendaki saya untuk bisa memilih jalan sendiri. Sama dengan yang beliau alami.

Seringkali saya mendapatkan cerita bahwa keinginan Bapak tidak sejalan dengan pilihan saya. Bagi beliau, itu adalah konsekuensi dari sebuah sikap yang ingin ditanamkannya dulu. Saya kemudian mentafakkuri diri sendiri dengan membuka kembali jalan memori. Ketika memilih jurusan untuk kuliah, misalnya. Saya sempat mendapat keterangan bahwa beliau tidak menghendaki pilihan saya. Tetapi, karena saya punya pilihan sendiri yang saya yakini maka beliau tidak banyak komentar dan setuju-setuju saja.

Kini, saat tulisan ini dibuat, saya sampai pada sebuah konklusi. Kalau dulu nggak gitu, ya sekarang nggak gini.


Paninggilan, 26 Februari 2013




Kamis, 11 Oktober 2012

Story of a Song: Bidam

Title : Bidam (Sad Story)
Singer : Lee Yo Won
Album : OST. The Great Queen Seon Deok Special Part 2 (2009)

Korean

baraboneun geudae nune garyeojin nunmuri boyeoyo
amureochi antago haedo alsuitjyo manhi himdeureotdangeol

naransaram, geureonsaram, saranghan cham gomaun geudae
honja ulgo geuriwohago, huhoehaneun nan babogatayo

i noraereul deutgo innayo ireon nae mam deullinayo
doragal su eomneun gireul tteonangeotcheoreom jeomanchi deo meolli inneyo
saranghaeyo saranghalgeyo orae orae gieokhaeyo
daeum sesang uri dasi mannalttaekkaji ichyeojiji anke

naransaram, geureonsaram, saranghan cham gomaun geudae
imi urin eogeutnan sarang, seuchyeogayo, aesseuji marayo

i noraereul deutgo innayo ireon nae mam deullinayo
doragal su eomneun gireul tteonangeotcheoreom jeomanchi deo meolli inneyo
saranghaeyo saranghalgeyo orae orae gieokhaeyo
daeum sesang uri dasi mannalttaekkaji ichyeojiji anke


English

I see the hidden tears in your eyes
Eventhough you say nothing’s wrong, I know
It was very hard for you

Someone like who I am
Thank you very much for loving me
Crying and dreading by yourself
I'm regret like a fool

Chorus:

Are you listening to this song?
Can you hear my feelings?
Like leaving to a path you can’t turn back
The distance is far away
I love you, I will love you forever
I will remember you forever
Until we meet again in the next realm
So I won’t forget you

Someone like who I am
Thank you very much for loving me
Already our love is not meant to be
It passes, don’t make an effort

*****


Mendengarkan lagu ini sepintas rasanya mirip dengan lagu D’Cinnamons, So Would You Let Me. Barangkali, terbawa suasana oleh siang yang mendung dan hujan yang membuat semua terasa begitu syahdu dan menyentuh. Ditambah lagi dengan kesendirian yang berteman sepi semakin membuat saya tersentuh. Kalau D’Cinnamons memulai lagunya dengan petikan gitar akustik, Bidam dimulai dengan permainan piano bertempo lambat. Kalau boleh berkomentar, rasanya sama galaunya.

Adalah suatu hal yang baru bagi saya untuk mendengarkan lagu berbahasa Korea. Memang ini bukan yang pertama. Semenjak drama televisi “Full House” tamat tidak pernah terbersit dalam benak saya untuk mencoba menikmati lagu Korea. Lagipula saya tidak begitu mengikuti drama-drama dari Korea. Seperti mengikuti sinetron saja rasanya.

Namun semua itu menjadi terbalik medio Februari kemarin. Tepatnya, sejak saya menyenangi sinetron berjudul “Surgeon Bong Dal Hee”, dimana penyanyi lagu ini, Lee Yo Won, jadi pemeran “Bong Dal Hee” dalam drama tersebut. Ini adalah kali pertama sejak era “Full House” dimana saya mulai menonton drama Korea lagi.Memang pada akhirnya drama itu tamat juga. Namun, kesan yang ditimbulkannya sangat dalam.

Memang lagu ini bukan OST Surgeon Bong Dal Hee melainkan drama lainnya yang masih dibintangi Lee Yo Won yaitu “The Great Queen Seon Deok”. Namun, demi alasan kesan yang tertinggal, saya memutuskan untuk mendownloadnya dan menikmatinya. Saya tidak cukup paham bahasa Korea, tetapi sedikit petunjuk dari sebuah blog sudah cukup untuk membantu menafsirkan isi dan maksud lagu tersebut.

Secara teknik vokal, Lee Yo Won masih terlihat biasa saja. Ada beberapa nada tinggi di bagian reff yang tidak dapat dicapai. Bagi pendatang baru yang memang tidak dibesarkan untuk jadi penyanyi saya rasa sudah cukup. Barangkali, kalau lagu ini dinyanyikan oleh penyanyi profesional tentu akan lebih baik walau akan kehilangan sedikit kesan dari suara penyanyi aslinya.

Bagaimanapun, lagu ini telah memberikan nuansa yang berbeda dalam hidup saya yang semakin terasa datar ini. Barangkali, dengan adanya sesuatu yang baru ini semakin membuka mata, hati, telinga, dan pikiran saya terhadap berbagai macam pengalaman baru. Semakin saya mendengarkan lagu ini, semakin ingin saya menikmatinya dengan galau, sendirian saja.

Additional Note (sebuah catatan dadakan)

Memang lagu ini bukan lagu Korea pertama saya. The first was still soundtrack from "Full House" (saranghaeyo Ji Eun <3 ). Waktu itu, siapa sih yang nggak terpesona sama sinetron Korea yang satu ini. Jauh sebelum #KoreanWave menggila seperti sekarang. Saya mulai mendengarkan lagu Korea setelah khataman “My Girlfriend is a Gumiho (special thanks to @anindarizka for recommending this one, GBU). Shi Min Ah did it well to sing Sha La La. Jadi kebayang scenes dimana si Miho disakitin sama Dae Woong.


Anyway, back then, Gumiho membuat saya tersadar (plis, nggak pake nyanyi kayak Raisa. Sekarang aku tersadar...) bahwa saya masih punya dua serial Korea yang belum ditamatkan. Surgeon Bong Dal-Hee dan Fashion 70's dimana Lee Yo Won ikut main. So, lately when i realize it, this Bidam songs remains in my head. Seperti nostalgia yang biasa, this song bringing back all the memories left. Saat rasa masih bersauh berharap menambat pada labuhan hati terakhir. Dan aku tak ingin terjebak nostalgia (halah, ngambil judul punya @raisa6690 lagi :)) ).





Paninggilan, 2 Mei 2010, 14.45
catatan dadakan ditulis di Paninggilan, 11 Oktober 2012 (at Lelly's birthday)

*original lyrics and translation provided by princess-chocolates.blogspot.com


Minggu, 23 September 2012

The Girl Whom You Should Tied

1. If you find a girl who reads, keep her close. When you find her up at 2AM clutching a book & weeping, make her a cup of tea & hold her.

2. You may lose her for a couple of hours but she will always come back to you.

3. She’ll talk as if the characters in the book re real, because for a while, they always are. Date a girl who reads because you deserve it.




4. You deserve a girl who can give you the most colorful life imaginable.

5. If you can only give her monotony, and stale hours and half-baked proposals, then you’re better off alone.

6. If you want the world and the worlds beyond it, date a girl who reads. ☺


Self titled, adapted from @clara_ng 's tweets.


Pharmindo, September 2012.

Kamis, 28 Juni 2012

Di Antara Kebahagiaan, Cinta, dan Perselingkuhan

25 Tahun Kahitna, 25 Cerpen Kahitna

25 Tahun sudah Kahitna mewarnai pelangi langit musik Indonesia. Sebuah pertanda kematangan usia dewasa. Tidak heran apabila momen 25 Tahun Kahitna ikut dimeriahkan dengan penerbitan kumpulan cerpen dari personil Kahitna sendiri ditambah dengan beberapa sahabat mereka. Buku ini adalah perwujudan imaji kreatif sebagai bentuk tafsiran judul-judul lagu Kahitna yang dituangkan dalam bentuk cerita pendek.

Menarik untuk melihat bagaimana sebuah judul lagu dikembangkan menjadi poteret sebuah cerita yang utuh. Sejatinya, tentang kebahagiaan cinta dua manusia, ketidaksanggupan mengalami cinta, hingga pengingkaran atas nama cinta.Cinta, kadang sederhana. Kadang bisa jadi begitu rumit. Pemaknaan atas lirik lagu Kahitna membuat 25 cerpen ini seakan memiliki nyawanya sendiri-sendiri.

Favorit saya disini adalah cerpen yang ditulis Indra Brasco berjudul Tak Sebebas Merpati. Personally, cerpen itu memiliki rasa pengungkapan yang kuat. Ketika rasa tidak lagi sebatas kata-kata. Cerpen itu saya rasa adalah bukti kesungguhan dan pengungkapan cinta dari penulisnya, Indra Brasco kepada istri tercinta, Mona Ratuliu. Cerpen itu terasa sungguh hidup karena dilatarbelakangi pengalaman dan realitas yang nyata bersamanya. Bahkan, saya sempat berpikir bahwa yang ditulis Indra Brasco ini adalah semacam "memoar kecil", l' petite memoir.


Formasi terakhir Kahitna. (Courtesy: Kahitna FB Group)

Kenangan Masa Kecil personil Kahitna. (Courtesy: Kahitna FB Group)

Overall, buku ini menggambarkan pemaknaan dan pencitraan dari cinta itu sendiri. Dalam bentuk penyajian yang berbeda dalam menafsirkan cerita yang berangkat dari judul suatutu lagu. Hal ini menandakan bahwa sastra tulis mampu berkolaborasi dengan medium seni apa pun. Untuk memaknai perasaan, atas nama kebahagiaan, cinta, dan perselingkuhan. 

Judul: Di Antara Kebahagiaan, Cinta, dan Perselingkuhan
Penulis: Kahitna dan Sahabat
Penerbit: Gramdedia Pustaka Utama
Tahun: 2011
Tebal: 173 hal.
Genre: Kumpulan Cerpen


Medan Merdeka Barat, 28 Juni 2012.

Senin, 13 Februari 2012

Hari yang Aneh


03.07: Buka pager rumah TB17. B 18XX TKG take off. Pemandangan sepanjang jalan: Gerobak Tukang sayur
03.10: Gerbang Tol Pasteur. Heading Jakarta. Full throttle. Pikiran mulai tak tenang. Rentetan cerita sepanjang weekend terus menghujam.
03.59: Cikarang Timur. Aroma kenangan semakin semerbak.
04.10: Cikarang Barat. Kantuk menyerang tiba-tiba bagai rindu.
04.59: Gerbang Tol Halim.Cari sarapan. Warung langganan: TUTUP!
05.15: Landed safely at Komplek Perhubungan Udara Rawasari. Subuhan. Tidur lagi.
06.15: SMS dari Ibu, sent.
06.25: another SMS, unreplied.
07.29: Bangun pagi. Mata pedas. Ganti baju. Berangkat menerjang belantara kemacetan.
08.30: Busway. Penuh. Mirip lagu God Bless, “Bis Kota”. Bergantungan, berdesakan.
09.31: DKUPPU Lt.22. On Air!
10.21: Ketua PKPN finally find me! Hari ini Selasa? Kelabakan bikin surat dan nota dinas.
11.45: Can i meet with your director? Kata Kepala Sekolah Flying School dari Filipina. Nggak ada staf lain yang bisa jelasin ke doi ya? Why must me? Hari ini, saya termasuk kedalam golongan orang yang percaya bahwa sekecil apapun pengalaman akan tetap berguna walau harus menunggu seratus tahun lagi.
12.07: Makan siang. Nggak langsung dimakan. Bukan nggak selera. I’m loosing my appetite.
13.26: Naskah surat dan nota dinas beres. Ready to sign.
14.03: Officially signed!
14.29: The Headmaster wants to see me again. Ok, your letter is being sent to my director but please note that he is in Singapore to visit Singapore Air Show for one week. What? Me? DGCA contact person? Why? Is it really worth?
15.34: Go home! Sleeping in jemputan as always.
17.10: She text me. Again. x_x
17.25: At home, finally.
18.37: Muntah-muntah!
19.38: Berusaha tetap kuat (dan ganteng). Kirim-kirim email. Download dua lagu Whitney Houston pilihan. I Have Nothing and Didn’t We Almost Have It All.
20.49: Berencana untuk tidur cepat dan melupakan semua kejadian hari ini.


Paninggilan, 13 Februari 2012. 20.52

Rabu, 09 November 2011

Suatu Malam di Sudut Kota

suatu malam aku jatuh cinta
pada gadis serupa Cherika
di pojok busway
menatap hampa pada ruang kota

suatu malam aku jatuh cinta
pada gadis serupa Cherika
di pojok Gramedia Melawai
membingkai makna senyum semata

di antara nada-nada galau
malam mengalun lembut





Sudirman-Melawai, 19 Oktober 2011.

Jumat, 28 Oktober 2011

Sunday Morning Call: Story of a Song

Barangkali, bila musik bisa jadi suatu terapi mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi satu terapi bagi saya. Semoga lekas sembuh.

*

Dekade lalu, sekitar tahun 2000, Oasis kembali meluncurkan album terbaru mereka saat itu: Standing in the Shoulder of a Giants dengan merilis single terbaru dari album tersebut yaitu Go Let It Out dan Sunday Morning Call. Waktu itu saya masih SMP dan memang sedang menggandrungi band-band beraliran alternative. Apalagi, teman sekelas banyak juga yang ngefans dengan band-band Britpop seperti Blur dan Oasis.

Ada beberapa momen yang entah secara sengaja atau tidak malah terasosiasikan dengan lagu Sunday Morning Call. Pertama kali nonton video klip Sunday Morning Call, saya sudah jatuh cinta dengan liriknya. Itu terjadi dalam masa peralihan sekitar tengah tahun 2001, ketika saya lulus SMP dan secara resmi dipanggil anak SMA!

Karena belum terbiasa dengan lingkungan pergaulan di SMA yang masih SMP-sentris, maksudnya hanya berteman dengan teman yang satu SMP, maka saya pun masih melakukan hal yang sama dengan sering main ke rumah seorang sahabat. Biar sekolah kami berbeda namun rumahnya dekat dengan sekolah saya sehingga setiap hari Jumat saya selalu mampir. Seperti biasa, sambil bermain komputer dan ngulik gitar saya selalu request lagu Sunday Morning Call, apalagi sahabat saya ini punya versi akustiknya. Hail The Gallagher's!

Selanjutnya, ada dua momen (seingat saya) yang soundtracknya adalah Sunday Morning Call. Pertama, pada hari dimana Masa Orientasi Siswa (MOS) berakhir. Entah kenapa kok saya jadi terngiang-ngiang lagu ini padahal waktu penutupan sempet naik panggung full band dengan memainkan lagu Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki setelah batal bawain lagu I Will Survive. Sembari berjalan pulang saya hanya memainkan lagu itu saja dalam kepala yang jengah ini. Saya merasa akan kehilangan suatu perasaan. Perasaan kagum yang entah apa namanya pada tutor kelompok kami. Do you feel what you're not supposed to feel?

Kedua, sekitar awal tahun 2002 dimana saya mengalami hari yang "sangat buruk" dengan Guru Matematika yang dengan suksesnya menempatkan angka 4 di kolom nilai Matematika. Mirip dengan nomor rumah saya. Setelah kejadian itu (kebetulan malam minggu) saya hanya bisa melamun galau menatap dinding kosong sambil bertanya-tanya: "Mengapa ini terjadi pada saya?". Saya datang ke sekolah untuk belajar dan mendapatkan sesuatu. Then, i was realized that i'm coming for nothing! Lagu itu mengalun pelan. ...Slip your shoes on and then out you crawl.... into the day that couldn't give you more.

*
Oasis - Sunday Morning Call

Here's another sunday morning call
You hear yer head-a-banging on the door
Slip your shoes on and then out you crawl
Into the day that couldn't give you more
But what for?

And in your head do you feel
What you're not supposed to feel
And you take what you want
But you don't get it for free
You need more time
Cos your thoughts and words won't last forever more
But I'm not sure if it will ever work out right
But it's ok, it's all right

When you're lonely and you start to hear
The little voices in your head at night
You will only sniff away the tears
So you can dance until the morning light
But at what price?

And in your head do you feel
What you're not supposed to feel
And you take what you want
But you can't get all for free
You need more time
Cos your thoughts and words won't last forever more
And I'm not sure if it'll ever work out right
If it'll ever, ever, ever works out right
Cos it never, never, never works out right

And in your head do you feel
What you're not supposed to feel
And you take what you want
But you won't get help for free
You need more time
Cos your thoughts and words won't last forever more
But I'm not sure if it will ever, ever, ever work out right
if it will ever, ever, ever work out right
will it ever, ever, ever work out right




Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 28 Oktober 2011.


* Oasis's lyric provided by LetsSingIt

Minggu, 24 Juli 2011

Penggalan Lirik di atas Rel Kereta

Waktu terus berlalu, menuai usia kita
Biar dua hati bercanda, di padang yg kita bina

Bahagialah kasihku, abadilah cintaku

Biarlah dunia berlalu


It's painfully clear

There's a river of tears

Behind my eyes



Tak mudah untuk dihati, tak mudah untuk dihadapi
Saat harus mengucap: selamat tinggal


Selamat jalan kekasih...

Selamat tinggal masa lalu

Aku 'kan melangkah

Maafkanlah segala yang pernah kulakukan padamu




Cirebon Ekspres Cirebon-Jakarta, 10 Juli 2011.

Rabu, 20 Juli 2011

Lonely Loner Symphony (2)


Aku bukan siapa-siapa dan tak seharusnya merasa apa.
Satu peristiwa sejarah terlewati.
Tentang sebuah nama.
Bahagiamu... Bahagiaku pasti...
Selamat mengarungi warna-warni gelombang dunia satu kayuh berdua.
Just like i used to be,
I'm all alone...
And, life is very long...


Cirebon-Jakarta, 11 Juli 2011

Selasa, 19 Juli 2011

Lonely Loner Symphony



A Great Loner walking alone and made a journey himself
Walking through the memory lane of her
Shattering the sky
God always knows why
Life happens,
Everytime, everywhere


Paninggilan, 8 Juli 2011.


Jumat, 15 Juli 2011

Quote of The Day

"Hidup itu kadang tentang menghargai pilihan."

Kadang kita orang hidup ini harus bisa dan mampu menghargai pilihan, apalagi yang dipilih sendiri. Apapun konsekuensinya, pilihan harus ditetapkan. Suka atau tidak, benar atau salah, baik atau buruk sekalipun.

Memang benar hati ini masih mengharapkan dan tak ingin usai begitu saja. Benar juga hati ini masih ingin menyapa. Masa kan tiba bawa waktu tinggal harap cemas. Saya telah memilih sikap demikian. Entah hanya untuk pembenaran sepihak atau untuk mengurangi perasaan bersalah. Mungkin juga sangat tidak adil bagi seseorang. Tetapi begitulah hidup. Kadang kenyataan tidak selalu menyenangkan.

Diatas bis jemputan, Tomang. 14 Juli 2011.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...