Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 November 2021

Rumah Mice, Rumah Kita Juga!

Sumber gambar: Mice Cartoon Official Facebook

Menyenangkan sekali rasanya dapat membaca kembali komik dari Mice. Terlepas dari judul ataupun subjeknya. Komik yang habis dibaca sekali duduk ini menampilkan sisi lain dari komik Mice lainnya yang saya punya dan pernah baca sebelumnya. Dalam posisi saya yang kini sama seperti Mice-berkeluarga K2, membaca komik ini memberikan perasaan "heartwarming". Adalah keseharian keluarga yang tentunya kebanyakan sudah kami rasakan di rumah kami yang mungil (dan tepat di Tangsel juga :)))) ).

Segala macam perasaan bercampur aduk kala Mice menyuguhkan komik strip dengan kejadian yang pernah saya alami. Sangat dekat rasanya, sehingga saya sering teringat kembali pada perasaan kala mengalah untuk menuruti keinginan putri kecil saya. Kadang, kalau diingat kembali jadi sering membuat saya nyengir sendiri.

Anyway, sebelum dibukukan komik ini tadinya pernah rutin terbit untuk Ciayo Comics. Alangkah tertinggalnya saya karena saya hampir kehilangan jejak karya dari Mice Misrad sebelum menemukan komik ini. 

Dilabeli Parenthood dan Semua Umur, tidak salah bila komik ini ditujukan untuk seluruh anggota keluarga. Plus, anak-anak pun dapat membaca komik ini karena tidak ada konten berbahaya atau explicit content (macam sampul album Slipknot dkk :D). Sedikit catatan, ada hal yang dapat jadi pertimbangan tentang bagaimana cara Mice Misrad menyikapi anak-anaknya dalam menggunakan Youtube. Kita memang tidak bisa menghindarinya, tetapi kita sebagai orang tua dapat mengaturnya.

Saya setuju bila Mice Misrad kembali membuat komik lanjutan dari volume 1 ini. Ataupun, menerbitkan komik baru dengan tema yang sama. Sometimes, we need a heartwarming stories to keep our heart warm.

 

Judul           : Rumah Mice: Home is Where Our Story Begins Vol. 1
Penulis        : Muhammad 'Mice' Misrad
Penerbit       : m&c
Tahun          : 2019
Tebal           : 80 hal.
Genre          : Komik-Keluarga

CGK, 17 November 2021.

Selasa, 07 Juli 2020

Tiga Tahun

Aisyah, putriku.

Hari ini genap usiamu beranjak tiga tahun. Tiga tahun yang penuh suka dan riang. Engkau semakin lincah dan gesit untuk mengimbangi Mas Alde.

Tiga tahun, Aisyah. Sudah waktunya mengenal dunia, sedikit-sedikit saja. Bapak tahu, Ais mulai senang belajar bernyanyi.  Walau masih dengan terbata, tapi Bapak tetap suka. 

Aisyah, manisku.

Semoga tahun ini Aisyah mulai bisa mengenal a ba ta tsa dan a be ce de. Kami yakin Aisyah mampu dan bisa. Maafkan kalau kami sering kekurangan waktu untuk menemanimu belajar.

Agaknya, pandemi tahun ini jadi pelajaran besar buat setiap orangtua. Entah mungkin ini adalah jalan Tuhan untuk mengganti setiap detik kebersamaan yang hilang. Kami minta maaf, Nak. Bila belum mampu punya kesabaran yang tinggi untuk menghadapi setiap kelincahanmu.

Aisyah, sayang.

Bapak masih ingat tanggal 2 Juli tahun lalu. Waktu itu, Uti menjalani operasi mata. Bapak menuliskan sesuatu untukmu dari halaman parkir RS Mata Cicendo dengan segenap bayangan dan kenangan tentangmu. Hari ini, Bapak menulis lagi ketika pandemi belum akan usai.

Aisyah,

Kami selalu berdoa agar engkau selalu mendapatkan yang terbaik dari Allah SWT. Tak henti-hentinya kami menasbihkan namamu agar selalu dalam penjagaan dan lindungan-Nya. Kiranya, tidak berlebihan pinta kami. Semoga Aisyah selalu sehat.

Cipayung, 2 Juli 2020.

Kamis, 28 November 2019

Selamat Ulang Tahun, Aldebaran


Aldebaran sayang,

Empat tahun sudah usiamu kini. Empat tahun menyadarkan Bapak bahwa engkau adalah anugerah istimewa yang sangat tak pantas kami kecewakan. Maafkan Bapak dan Ibu bila sering marah-marah.

Teristimewa tahun ini karena Alde sudah mau ikut belajar di Bimba. Alde sudah bisa mengikuti pelajaran disana. Calistung ala Bimba. Kami InsyaAllah tidak akan menuntut Alde untuk bisa ini-itu.

Alde juga sudah mulai mau untuk mengaji. Alhamdulillah, lagi-lagi kami tidak akan menuntut Alde untuk bisa bacaam dan hafalan ini-itu.

Aldebaran sayangku, maafkan Bapak dan Ibu bila hanya bisa membelikanmu kue ulang tahun seperti yang biasa kita beli. Mainan Alde sudah banyak, sayang. Nanti Bapak coba keluarkan satu per satu supaya Alde tidak bosan.

Maafkan Bapak, Nak, bila Bapak sering meninggalkanmu bila panggilan tugas tiba. Sejatinya Bapak ingin selalu berada di dekat Alde, Aisyah, dan Ibu. Maafkan Bapak lagi, Nak, bila tulisan ini terlalu lama dipublish.

Sehat selalu Aldebaran.

Jakarta- Hong Kong - Beijing
9-28 November 2019

Selasa, 02 Juli 2019

Selamat Ulang Tahun (Kedua)

Aisyah Putri Bapak tercinta,

Bapak senang dan bersyukur bisa tiba sampai hari ini. Walau Bapak tidak bisa mendampingi bersama melewatinya. Selamat ulang tahun, Aisyah.

Hari ulang tahun keduamu ini membuat Bapak senang sekaligus bersedih. Bapak senang, itu sudah pasti. Aisyah sehat, riang, dan selalu menghibur Bapak dan Ibu. Namun, Bapak sedih karena Uti harus masuk Rumah Sakit. Uti harus dioperasi besok di RS Mata Nasional di Bandung.

Harusnya, Bapak ajak serta Ibu, Mas Alde dan Aisyah. Kita bersama mendampingi Uti. Tapi begitulah nasib berkata. Bahwa kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Sudah biar Bapak sendiri saja. Mas Alde sudah mulai senang mengaji kembali dan belajar di Bimba.

Aisyah sayangku,

Tidak ada perayaan untukmu hari ini. Tidak ada balon alfabet mengeja huruf demi huruf namamu. Namun, itu tidak mengurangi luapan kebahagiaan di hati Ibu dan Bapak beserta Uti, Nti, Kakek, dan Nenek. Adalah doa dan harapan yang selalu kami panjatkan ke Illahi Robbi. Kelak agar engkau tumbuh seperti yang sudah diamanatkan.

Aisyah manisku,

Terimalah catatan kecil ini. Sebagai penanda singkat bahwa Bapak kelak kan mengenang hari ini. Selamat ulang tahun. Teruslah menjadi surga kecil kami.

Bandung, 2 Juli 2019.

Senin, 27 November 2017

@TentangAnak

Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya sudah berkali-kali menulis catatan, review, atau resensi soal twit yang dibukukan. Kali ini saya melakukannya lagi. Oops, I did it again.

Twitter bagi saya adalah sebuah old glory. Saya sudah jarang membuka Twitter sejak zaman Android mulai meraja menghapus kejayaan era Blackberry. Saya tidak sempat mengikuti twit-twit soal pengasuhan anak. Kalaupun ada, itu hanya soal pranikah. Saya lupa untuk menyiapkan episode setelah nikah.

Well, saya harus bersyukur karena ada seorang ayah yang mau berbagi. Tolong dicatat, bahwa sosok ayah ini bukan seorang ahli atau praktisi dalam pengasuhan anak. Untuk itu, adalah sebuah penghargaan baginya karena dapat memberi sedikit tetesan ilmu untuk para orang tua.

Buku ini adalah buku santai. Artinya, pembaca tidak usah harus terlalu serius. Namun, untuk informasi atau pengetahuan lebih lanjut pembaca bisa menelusurinya secara mandiri. Walaupun buku ini bersumber dari kicauan penulisnya, dalam bagian akhir buku disertakan pula referensi yang digunakan penulis.

Parenting should be fun. Buku ini mengajak pembaca untuk menikmati dan berproses sebagai orang tua yang dianugerahi sebuah amanah yang tidak terkira besarnya, yaitu anak. Tidak hanya seputar anak, penulis juga mengingatkan agar para suami juga fokus dengan para bu ebu (ibu-ibu). Ya, penulis berhasil membuat saya merasa bersalah pada istri saya.

Satu catatan lagi yaitu bahwa penulis tidak sungkan untuk mengangkat isu parents vs parents dalam bab Mertua vs Menantu. Setidaknya, ada hal-hal positif yang perlu kita amati dari sudut pandang orang tua kita. Sejalan anak yang tumbuh besar kita kadang lupa bahwa mereka pun ikut menua.

Anyway, buku ini sangat layak dibaca oleh para orang tua baru atau parents wannabe. Sebagai bahan belajar buku ini cukup variatif dan membahas isu-isu penting seputar pengasuhan anak di zaman now seperti sekarang ini. Semoga pembaca dapat menyiapkan bekal untuk menempuh perjalanan panjang tak terlupakan bersama anak-anak. Selamat menikmati.

Judul           : @TentangAnak
Penulis        : Joko Dwinanto
Penerbit      : Noura Books
Tahun          : 2014
Tebal          : 248 hal.
Genre         : Pengasuhan Anak

 
Cipayung, 21 November 2017

Senin, 31 Juli 2017

Surat untuk Aisyah

Anakku,

Catatan ini ditulis menjelang sebulan usiamu. Pada hari Senin, dua hari sebelum imunisasimu yang pertama. Kehadiranmu adalah pelengkap bagi kebahagiaan kami. Bapak dan Ibu sudah menantimu dan sangat bersyukur. 

Nak, karena perbedaan jarak antara Mas Aldebaran denganmu belum genap dua tahun maka satu-satunya jalan untuk kelahiranmu adalah melalui operasi sectio caesaria, sama seperti Mas Alde. 

Hari kelahiranmu adalah sebuah perdebatan. Antara jarak lahir normal dengan cuti sebelum lebaran. Begitulah yang Bapak tangkap dan akhirnya Bapak putuskan untuk membawa Ibu segera ke Bandung untuk mendapat second  opinion dari Dokter. 2 Juli adalah tanggal yang sudah ditentukan. Bisa lebih cepat, tidak boleh lebih lambat. Bahkan, tadinya tanggal lahirmu adalah 1 Syawal 1438 H.

Pada hari kelahiranmu, semua berjalan sangat lambat. Kota Bandung masih tidur menunggu esok. Bapak dan Ibu juga sangat berat untuk meninggalkan Mas Alde sendirian. Ibu sudah siap di ruang operasi ketika sang dokter baru saja tiba siang itu.

14.36 Waktu Indonesia bagian Bandung Utara, engkau dinyatakan secara resmi lahir menatap dunia, lepas dari rahim Ibu. Saat yang menegangkan ketika menunggumu hingga jam 4 sore dan belum ada kabar. Tak lama, engkau dibawa untuk dibersihkan.Berat badanmu 3,2 kg dengan panjang 48 cm.  Bapak dan Ibu kini punya seorang putri untuk menemani Mas Aldebaran.

Mengadzani dan megiqamahimu adalah saat yang Bapak tunggu. Hati Bapak bergetar melihat senyummu. Adzan kedua setelah Mas Aldebaran dua tahun lalu. Seperti Mas Aldebaran, engkau pun langsung menerima Vitamin K pertamamu. Oh ya, Bapak senang mendengar kabar bahwa engkau langsung mendapatkan ASI dari Ibu. Jarak waktu yang lama dari kelahiran hingga ke ruang pembersihan adalah karena engkau sedang menerima ASI lewat Inisiasi Menyusui Dini.

Sayangku,

Bapak senang karena bisa menungguimu sepanjang hari. Penat memang terasa, tapi itu selalu tergantikan dengan kiriman foto Mas Aldebaran yang main bersama Eyangnya dan juga oleh tangisanmu.

Ibu pulih agak lebih lambat dibanding sebelumnya. Bapak lihat betul kepayahan Ibu usai operasi. Bapak dan Ibu dibuat kembali sedih ketika engkau seharusnya sudah diizinkan pulang namun kadar bilirubinmu masih 13. Artinya, engkau harus menginap dua malam lagi. Itulah saat yang berat karena Ibu sudah ingin membawamu pulang-apapun yang terjadi. Namun, pada satu sisi, Bapak juga tidak sanggup membiarkanmu dalam keadaan gawat begitu.

Setelah melalui pergulatan selama berjam-jam, kami putuskan untuk meninggalkanmu di ruang perawatan. Sedih rasanya. Namun, kami juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Setidaknya, itulah ikhtiar kami untuk kesehatanmu. Walau kami sudah pernah mengalaminya bersama Mas Aldebaran tetap saja terasa berat.

Aisyah, manisku,

Pergulatan kembali Bapak rasakan saat akan memberimu nama. Mas Aldebaran harus menunggu sampai tujuh hari. Bapak tidak ingin engkau lebih lama darinya, tapi akhirnya pada hari ke-13 engkau baru diberi nama. Itupun harus segera karena sudah ditunggu oleh Tukang Aqiqah. Maka kami bersepakat menamaimu Aisyah Farhanah Aurora. 

Ada cerita lain tentang namamu, tadinya ingin Bapak tambahkan Achernar dan diakhiri oleh Alhakam. Achernar adalah nama bintang paling terang di konstelasi Eridani, atau Alpha Eri. Seperti Aldebaran yang juga Alpha Tauri. Bapak bukan Ahli Astronomi ataupun berkecimpung disitu hanya saja ide akan bintang paling bersinar di lautan jagat semesta tanpa batas selalu membuat Bapak kagum.

Aisyah, anakku. Jadilah selalu pribadi yang menyenangkan, taat pada Tuhan dan orang tua.


Bandung-Jakarta, 31 Juli 2017.

Selasa, 29 November 2016

Setahun

Nak,

Setahun juga umurmu. Genap setahun usiamu. Banyak doa dalam harap terucap untukmu. Tidak ada pesta, tiup lilin dan juga rangkaian balon di hari bahagiamu. 

Setahun bersamamu adalah setahun yang paling mengagumkan yang pernah terjadi pada Bapak dan Ibu. Engkau adalah satu alasan untuk selalu kembali dari rutinitas yang membosankan dan menjenuhkan.

Setahun ini, Bapak dan Ibu minta maaf kalau kami masih terlalu bergantung pada Kakung dan Uti dalam mengurusmu. 

Selamat ulang tahun, Aldebaran. Doa kami di nadimu.



Cipayung, 9 November 2016.

Selasa, 27 September 2016

Tanya Jawab Tumbuh Kembang Batita

Courtesy: www.kmediabookstore.com

Usia 1-3 tahun adalah masa keemasan ketika seorang anak mengalami proses tumbuh-kembang yang sangat pesat. Berbagai tingkat kepandaian fisik dan psikologis dicapai dalam kurun waktu tersebut. Selama rentang waktu tersebut, orang tua disarankan untuk mendampingi anak, guna mengamati perkembangan si buah hati. 

Para orang tua pun kerap bertanya mengenai kondisi-kondisi ideal terhadap perkembangan si buah hatinya. Buku ini merangkum 100 pertanyaan tersebut, mungkin tidak semua tetapi jawaban-jawaban buku bermodel FAQ (Frequently Asked Question) ini bersumber dari seorang pakar dibidangnya.

Meskipun sudah seringkali dinyatakan bahwa kecepatan perkembangan dan pertumbuhan setiap anak berbeda secara individual, ada yang rata-rata atau normal, ada yang lebih cepat, ada pula yang lebih lambat, para orang tua kerap dicemaskan dengan keterlambatan atau ketidaksamaan perkembangan buah hatinya. 

Memang ada baiknya untuk para orang tua agar mengetahui tahap-tahap perkembangan normal anak yang berlaku secara umum. Dengan patokan normal ini, para orang tua diharapkan mampu menilai seberapa jauh perkembangan buah hatinya. Lebih cepat atau lebih lambat dibandingkan anak seusianya.

Petunjuk-petunjuk dalam buku ini membantu memberikan saya wawasan yang cukup sebagai indikator pertumbuhan anak. Tentu saja, kita tidak perlu untuk memaksakan sesuatu yang belum mampu dicapai anak. Buku ini berfungsi sebagai alat deteksi dini apabila ada suatu kecenderungan pada anak, tentunya menurut hasil pengamatan orang tuanya. Dilengkapi dengan berbagai tips seputar tumbuh kembang anak, rasanya buku ini tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Judul        : Tanya Jawab Tumbuh Kembang Batita
Penulis     : Mayke S. Tedjasaputra
Penerbit    : Penerbit Erlangga
Tahun       : 2012
Tebal        : 118 hal.
Genre        : Keluarga-Pengasuhan Anak

Cipayung, 27 Agustus 2016.

Rabu, 31 Agustus 2016

Screaming-Free Parenting

Courtesy: www.goodreads.com
  
Terus terang, saya kagum pada judul buku ini. Catchy dan membuat penasaran. Saya berharap buku ini dapat menjawab keluhan dan tantangan para orang tua yang membesarkan anakanya ditengah pusaran zaman yang kian cepat ini.

Buku ini setidaknya memberikan gambaran pada setiap orang tua atau calon orang tua tentang metode atau cara-cara praktis dalam pengasuhan anak dengan menggunakan energi dan emosi yang positif. Peran orang tua menentukan bagaimana anak akan membangun masa depannya. Orang tua dituntut untuk lebih perhatian, lebih kreatif, penuh kasih sayang, tanpa teriakan dan memasang raut muka yang tidak menyenangkan.

Untuk mencapainya diperlukan segenap usaha. Mulai dari mengubah paradigma orang tua-anak, belajar memberikan pujian dan memuliakan anak, berlatih menjadi teman, hingga manajemen marah. Bab favorit saya. IMHO, buku ini lebih tepat diaplikasikan pada anak usia 5 tahun lebih, dalam rangka menanamkan sifat dan membangun karakter-karakter positif anak.

Judul        : Screaming-Free Parenting
Penulis      : Teguh Iman Perdana
Penerbit    : Penerbit Kaifa
Tahun        : 2012
Tebal        : 148 hal.
Genre        : Keluarga-Pengasuhan Anak

Cipayung, 26 Agustus 2016.

Selasa, 30 Agustus 2016

Parent's Stories: A Quick Guide for Parents

"Kita ingin anak kita berdaya dalam menghadapi dan mengatasi sendiri rintangan di zamannya. Dan masa lalu kita, bisa jadi tidak selalu sama dengan masa depan mereka."

Saya menjadi fans Adhitya Mulya sejak membaca novel "Jomblo" dan berlanjut hingga mengikuti personal blognya. Dari sekedar membaca sebuah kisah fiksi hingga membaca serius cerpen-cerpen terbaru miliknya yang belum diterbitkan penerbit manapun. Dari membaca refleksi pengalaman kesehariannya hingga nasihat-nasihat dan anjurannya dalam menjadi orang tua. 

Courtesy: www.goodreads.com
Beberapa tulisan dalam blog suamigila.com memang sempat naik cetak menjadi sebuah buku bercover kuning "Catatan Mahasiswa Ganteng Gila". Saya bersyukur bahwa ada penerbit yang kembali mau menerbitkan tulisan-tulisan beliau (lagi-lagi) yang bersumber dari pengalamannya dan dibagikan ke blog. Dengan demikian, ide-ide seputar pengasuhan anak versi Adhitya Mulya telah menjadi resmi setingkat dengan buku-buku parenting lainnya.

Saya dapat membaca kekhawatiran dalam benak penulis, bahwa tantangan dalam membesarkan anak kini menjadi semakin besar. Tuntutan dan ekspektasi orang tua terhadap anak semakin tinggi. Hingga anak-anak masa kini tidak lagi tumbuh sebagaimana mereka harus tumbuh sesuai kemampuannya. Agaknya, hal inilah yang membuat banyak orang tua lupa bahwa anak-anak memiliki takdirnya sendiri.

Saya sendiri merasa sepaham dengan ide-ide parenting versi Adhitya Mulya dan Ninit Yunita karena pengalaman mereka di zaman hiperteknologi belakangan ini. Ada beberapa cara lama yang harus ditinggalkan untuk kemudian diganti dengan pendekatan yang lebih holistik terhadap anak. Referensi yang disertakan penulis dalam artikel-artikel dalam buku ini sangat membantu, apabila orang tua ingin membaca lebih lanjut. Implikasi lain, Adhitya Mulya tidak menawarkan sesuatu yang belum benar teruji keabsahannya. Adhitya Mulya berhasil memadukan teori pengasuhan anak dengan sintesa pengalamannya.

Semua orang tua pasti ingin punya akan dengan berbagai kualitas yang dapat membuat mereka berdaya di masa depan. Dengan buku ini, para orang tua dibantu dengan mendapatkan berbagai tips dan trik yang nyata dan menarik. A must read for all parents and parents wannabe.

Judul        : Parent's Stories: Membesarkan Anak yang Berdaya
Penulis        : Adhitya Mulya
Penerbit    : Penerbit PandaMedia
Tahun        : 2016
Tebal        : 166 hal.
Genre        : Keluarga-Pengasuhan Anak

 
Cipayung, 25 Agustus 2016.

Kamis, 26 Mei 2016

Perkara Paling Najis Sedunia


Courtesy: www.pengenbuku.net
At first, membaca judulnya, saya pikir buku ini adalah buku fikih populer untuk remaja atau dewasa. Ternyata saya salah. Buku ini dikhususkan untuk anak-anak, terutama pada usia mulai belajar sholat. Sebelum pelajaran mendirikan sholat, biasanya pelajaran mengenai Bab Thoharoh dan Bab Istinja (bersuci) lebih dulu diberikan. Emblem ‘Fakta dan Fikih’ yang ikut menempel pada judul buku ini turut memberi keyakinan pada orang tua bahwa anak-anak sudah mulai harus belajar memahami apa itu najis dan bagaimana cara menyucikannya.

Pelajaran-pelajaran dalam buku ini mengajak anak untuk memahami pengertian najis. Lalu, tingkatan najis itu bagaimana, apa-apa saja. Kemudian cara membersihkannya seperti apa. Tidak ketinggalan, fakta-fakta seputar najis itu sendiri menjadi materi yang tidak terpisahkan. Misalkan saja, apa itu air seni, ciri air seni yang sehat, apa itu darah, bagaimana proses pembentukan faeses, hingga bagaimana cara orang zaman dahulu membuang kotorannya.

Buku anak tentu tidak pernah lepas dari ilustrasi. Ilustrasi buku ini cukup representatif sesuai dengan tema pernajisan. Namun, saya sarankan untuk para orang tua agar mempersiapkan pengajaran buku ini 1 atau 2 jam setelah makan. Mengapa? Sila lihat sendiri saja bagaimana ilustrasi didalamnya. I would give PG Rating (Parental Guide) for that.

Sudah saya tulis diatas bahwa pelajaran mengenai pernajisan sangat penting sebelum melangkah menuju pelajaran sholat. Ilmu pernajisan tingkat dasar ini sangat penting untuk dikuasai sejak dini. Hal ini tentu saja untuk menumbuhkan kesadaran dan kebiasaan anak untuk bersuci.

Menurut saya, buku ini sangat menarik untuk dipahami juga oleh para orang tua, sebagai usaha untuk merefresh atau recurrent pengetahuan kita tentang basic pernajisan. Namun, tentunya kita para orang dewasa ini sudah tentu harus paham tentang benda-benda lain yang bisa digunakan untuk bersuci, misalnya. Sehingga, beberapa hal yang belum sempat tercantum bisa kita benahi sebagai bekal anak-anak kita.

Akhirul kalam, basic ilmu pernajisan dalam buku ini sudah cukup. Tinggal bagaimana para orang tua mengajarkannya kepada anak-anak. Sehingga, anak-anak menjadi paham dan terbiasa untuk menyucikan dirinya.

Judul     : Fakta dan Fikih Tentang Perkara Paling Najis Sedunia
Penulis  : Dewi Cendika
Penerbit : DAR! Mizan
Tahun     : 2013
Tebal      : 98 hal.
Genre     : Agama Islam-Fikih Populer

Cipayung, 19 Mei 2016.

Senin, 16 November 2015

Seminggu



Nak. Catatan ini ditulis ketika usiamu menginjak seminggu tanggalan kalender masehi. Pada hari dimana kamu diperbolehkan pulang usai menjalani terapi penyinaran akibat kadar bilirubinmu yang naik. 

Nak, perlu kamu tahu bahwa kelahiranmu adalah hal paling terbaik yang pernah terjadi kepada Bapak dan Ibu. Kami bersyukur kepada Allah SWT karena engkau lahir dengan selamat dan sehat. Kami sudah sangat menantimu sejak hasil USG 4-dimensi menampakkan garis wajahmu. 

Menurut Dokter Triani, kamu akan lahir pada tanggal 6 November 2015. Tanggal yang sama ketika Bapakmu bekerja pertama kali di Jakarta. Hari yang sama ketika Sir Alex Ferguson mulai melatih MU. Setelah Ibumu mengambil cuti di awal untuk mempersiapkan kelahiranmu, rupanya tanggal kelahiranmu ikut bergeser. Namun, itu bukanlah masalah. Kami tetap menantimu. 

Proses kelahiranmu dimulai dengan induksi. Terhitung sejak hari Minggu, 8 November. Dimana konspirasi Spanyol mengalahkan Valentino Rossi yang gagal menjadi Juara Dunia MotoGP namun memenangi semua simpati penontonnya. Proses itu bukanlah hal yang mudah bagi Ibumu. Kontraksi yang dialaminya membuat Ibumu kerap mencengkeram erat jemari Bapak. Manusia berusaha dan Tuhan pula menentukan. Induksi hanya berhasil membuka jalan lahirmu hingga pembukaan 5. 

Inilah saat yang paling berat untuk Bapak. Dimulai ketika para suster dan dokter mempersiapkan Ibumu untuk  naik meja operasi demi menyelamatkanmu. Saat itu Ibu sudah puasa dua kali selama enam jam. Bapak tahu betapa lemahnya Ibumu. Namun, Bapak tetap berdoa karen dari hasil tes denyut jantungmu, hasilnya bagus, normal, dan stabil. Proses Sectio Caesaria pun dimulai. Bapak menandatangani persetujuan agar segera diambil tindakan. 

Nak, satu lagi hal yang paling berat untuk Bapak selama Bapak menikah dengan Ibu. Adalah ketika mengantarkan Ibumu ke Ruang Operasi di lantai 3. Bapak bisa membayangkan betapa besarnya kekuatan dan pengorbanan Ibumu. Bapak hanya sanggup menahan air mata sembari menciumi kening dan pipi Ibu. Bapak tidak mau kelihatan cengeng dan melankolis seperti lagu-lagu Almarhum Rinto. *abaikan *lupakan

Bapak masih menangis di kamar mandi ketika dipanggil Suster untuk menandatangani beberapa hal. Kau tahu, Nak. Nenek Haji, Eyang Uti, Eyang Kakung, dan Aunty Feby tidak begitu menampakkan raut muka tegang. Mereka berhasil menenangkan Bapak hingga Bapak mau makan nasi jatah makan malam Ibu yang belum disentuh. 

Bapak menunggu cemas sembari berdzikir dalam hati. Semoga engkau dan Ibumu selamat. Hanya ruangan tunggu sepi dan sesekali terdengar suara Haji Muhidin. 

Bapak sedang merebahkan diri di kursi tunggu ketika suster memanggil masuk ke ruang operasi. Bapak khawatir terjadi sesuatu pada kamu atau Ibumu. Tak lama, Bapak mendengar kabar gembira: bahwa engkau telah lahir dengan selamat. Kamu tepat ada di hadapan Bapak, di dalam kotak perawatan, dengan rambut acak-acakan dan sedikit gumpalan darah tipis. Bapak segera menandatangani surat kelahiranmu. 

Hari Senin, 26 Muharram 1437H, 9 November 2015, pukul 21.48 WIB. Engkau lahir dan resmi menjadi anggota terbaru keluarga kecil kami. 

Bapak diminta menemanimu kembali ke IGD Kebidanan, tempat kamu akan dibersihkan sembari menunggu Ibumu sadar dari pengaruh bius. Bapak bilang sama Nenek Haji bahwa engkau sudah lahir. Kau perlu tahu, bahwa Eyang Kakungmu begitu bahagia dengan kabar itu. Itu adalah pelukan bahagia kedua dari Eyangmu, setelah di hari wisuda sarjana Bapak. 

Menemanimu di ruang bebersih adalah momen yang sangat Bapak nikmati. Bapak mengumandangkan Adzan dan Iqamah di kedua telingamu. Alangkah bergetarnya hati Bapak ketika engkau tersenyum. Mungkin, ini adalah adzan pertama Bapak setelah lomba adzan di TPA. Dulu sekali. 

Suster segera membersihkanmu. Bapak semakin bergetar mendengar tangisanmu. Tak lupa Bapak merekam momen itu lewat kamera ponsel. Bapak seakan merasakan sakitmu ketika suntikan pertamamu, Vitamin K, mendarat mulus di paha kirimu. Bapak berdoa semoga kelak engkau senantiasa sehat. Usai pengecekan fisik, mandi, lalu engkau dibalut bedong, tugas Bapak adalah menggendongmu. Bapak menggendongmu untuk pertama kalinya. Engkau pun hanya tertidur dan memejamkan mata sementara si suster mengambil foto untuk kenang-kenangan saat engkau pulang nanti. 

Perjuangan selanjutnya adalah membangunkan Ibumu dan membawanya ke ruang perawatan. Bapak segera memeluk Ibu dalam tidurnya. Ibu tersadar dan langsung memintamu untuk ada di sampingnya. Tak lama engkau pun datang. Betapa bahagianya Ibumu saat itu. Ibu selanjutnya berusaha membuatmu mengenal ASI. 

Sepanjang malam pertama itu Bapak tidak akan pernah lupa dengan tangisanmu. Kamu begitu unik. Biar punya tempat tidur sendiri di kotak bayi, kamu selalu menangis tak lama sesudah Bapak baringkan. Ibumu sudah tertidur lelah bersama Nenek Haji disampingnya. Tinggallah engkau dan Bapak. Bapak menggendongmu hingga pukul setengah lima pagi. Saat menggendongmu itu Bapak rasakan betapa damainya jiwa dan ragamu. I would spent my time just to seeing you like this, Son. 

Tangisan pertama di pagi hari menandai keluarnya faeces pertamamu. Puluhan pesan daro handai taulan soal kelahiranmu di SMS, BBM, dan WhatsApp ikut membuka pagi pertamamu. Bapak sudah lelah ketika pagi menjelang. Ketika Bapak bangun, hanya ada kamu dan Ibu yang sedang tidur. Kamu pun menangis lagi. Seperti tahu Bapak sudah sedia menggendongmu lagi. Sepanjang siang hingga malam tak hentinya kamu menangis ketika akan Bapak baringkan ke tempat tidur. Ibu juga semakin berusaha memompa ASI untukmu. Walau masih sedikit tetapi kamu sudah mulai terbiasa. 

Dua malam bersamamu rasanya tidak pernah cukup. Bapak harus kembali ke Jakarta, melanjutkan Initial FOO Course. Mau tidak mau, suka tidak suka, Bapak harus membesarkan hati Bapak untuk berani dan 'tega' meninggalkanmu. Sepanjang jalan, Bapak hanya bisa menatapi dan menciumi fotomu. 

Senang hati Bapak ketika Ibumu sudah diizinkan pulang. Ibu semakin bersemangat menyusuimu. Dari foto-foto kiriman Eyang dan Auntymu, Bapak bisa lihat kebahagiaan dalam pancaran sinar matamu. 

Sampai tiba pada hari Sabtu lalu, dimana kamu dinyatakan kuning dengan kadar bilirubin 17 dan harus menjalani rawat inap selama dua hari. Saat itu, Bapak tidak bisa pulang karena masih ada kelas. Bapak bisa bayangkan Ibu dan Eyang Putrimu yang menangis. Bapak pun sudah siap dengan kabar itu sejak Eyang Kakung mengirim foto dengan mata yang agak kuning. 

Malam minggu Bapak pulang. Eyang Putri sudah tenang. Ibu juga tampak tenang. Besok, Bapak dan Ibu akan datang kepadamu. 

Adalah sangat tidak menyenangkan untuk datang ke rumah sakit demi melihat yang tercinta hanya bisa terbaring lemah. Melihatmu bertelanjang dada dalam pose tidur yang merdeka dibalut sinar biru adalah hal yang menyakitkan hati Bapak dan Ibu. Demi kesehatanmu kelak, Bapak dan Ibu harus menanti kesembuhanmu. Rupanya, karena golongan darahmu sama dengan Bapak sehingga kemungkinan kuningmu lebih besar. 

Untung saja, segera tiba waktunya kamu disusui. Kami khawatir karena susu formula yang diberikan padamu selama masa perawatan akan mempengaruhi kemampuanmu mencerna ASI. Yang terpenting, Bapak dan Ibu bisa menggendong sekaligus menyusuimu. Kami hanya sebentar, barang setengah jam saja melepas kerinduan. Bapak harus kembali ke Jakarta dan Ibu menanti serta mendoakanmu di rumah. 

Hari ini, ketika Bapak menulis catatan ini, Bapak merasa senang dengan kepulanganmu. Bapak juga senang dengan kabar bahwa kamu sudah mulai bisa menyusui pada Ibu. Tidak melalui feeder cup dan sendok lagi. Bapak terus berdoa semoga engkau terus tumbuh sehat dan menikmati ASI dari Ibu. Percayalah, Nak. Bapak pun rindu sangat kepadamu. Menggendongmu hingga terlelap  adalah selalu Bapak nantikan. 

Selamat, Nak. Selamat atas kepulanganmu. Selamat ulang tahun seminggu pertamamu. 


Dharmawangsa, 16 November 2015. 

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...