Tampilkan postingan dengan label humor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label humor. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Agustus 2016

Kelakar #TanpaBatas

"Saya nggak ada masalah sama alay. Tapi, mereka itu ateis, nggak percaya sama Tuhan... Mereka percayanya sama: 7uh4N."

Melirik statement dari judul, buku semi-biografi milik Sammy @notaslimboy ini agaknya sengaja memprovokasi pembaca. Provokasi semacam ini tentunya sudah sangat lumrah bagi pembaca awam: untuk menaikan oplah atau supaya buku jadi best seller dan dicetak ulang berkali-kali. Namun, dalam bukunya ini Sammy tidak menempatkan dirinya ke arah itu. Sammy Si Anak Kolong ini memprovokasi pikiran pembaca supaya benar-benar tanpa batas, dalam memahami konteks stand-up comedy dalam arti luas.

Courtesy: www.goodreads.com

Sammy tidak hanya menulis hal-hal tentang dirinya saja. ia menulis juga keresahan-keresahannya di jagad perstand-upcomedy-an. Sammy membagi tiga cerita besar. Pertama, mengenai Curhat Sosial. Sebuah otokritik tentang sebuah sistem sosial kemasyarakatan yang sangat lekat dengan keseharian kita. Kedua, Politik Menggelitik. Sammy secara gamblang dan tanpa batas melontarkan ocehannya yang      IMHO menampar para politisi di ujung sana. 

Terakhir, Sammy bicara soal Komedi. Sammy bercerita beberapa detail kehidupannya setelah menjadi Comic, yang kini menjadi banyak dikenal orang. Sammy juga menceritakan pengalamannya selama merancang dan mengeksekusi show tunggal pertamanya. Event itu diberi judul sama, #TanpaBatas. 

Anyway, saya menikmati betul buku ini. Tulisan Sammy membuat saya betah dan tidak bosan untuk terus mengulang pembacaan. Saya sendiri merasa seperti sedang membaca script yang ditampilkan Sammy di panggung. Sesekali nyengir sendirian sambil membaca celoteh Sammy memang bisa jadi sebuah rekreasi, demi menghilangkan kejenuhan khas pekerja ibukota. 

Dengan demikian, #TanpaBatas memang harus dimaknai dengan cara yang tidak terlalu serius namun harus dipahami secara serius bahwa ini semua hanyalah sebuah kelakar. Kelakar yang tanpa batas.

Judul        : Kelakar #TanpaBatas: Cuap-cuap Menggelitik Seorang Comic
Penulis     : Sammy @notaslimboy
Penerbit    : Penerbit GagasMedia
Tahun       : 2013
Tebal        : 176 hal.
Genre       : Komedi

Cipayung, 21 Agustus 2016.

Selasa, 09 Februari 2016

Mikiran Yayat

Jangan langsung ditelan mentah-mentah jika menerima sebuah berita. Sebab, yang enak ditelan mentah-mentah itu cuman peuteuy jeung bonteng.

Courtesy: www.goodreads.com

Tampil layaknya sebuah harian kondang yang beredar luas di Jawa Barat, Mang Yayat rupanya cukup cerdik dalam menyajikan parodi mengenai berita-berita tidak serius. “Mikiran Yayat” memang menyajikan berita-berita yang tidak meragukan bagi pembacanya. “Mikiran Yayat” dengan semboyan “Beritanya Dapat Dicangcaya” membuat pembacanya tidak harus bimbang dan ragu dengan berita-berita yang dimuat. Semua berita yang dimuat “Mikiran Yayat” adalah berita yang jujur dengan isi berita sewadul-wadulnya.

“Mikiran Yayat” mengajak pembaca untuk bersantai sejenak, rileks, dan beristirahat sembari menikmati tajuk-tajuk penuh tawa. Dibuat sebagaimana layaknya rubrik-rubrik dalam koran harian, Harian “Mikiran Yayat” memang ditakdirkan untuk membuat pembacanya tertawa. Sebagai harian yang menampilkan humor lokal, buku ini membuktikan bahwa humor daerah layak sekali dibukukan dan dapat dinikmati semua kalangan pembaca dengan lawakan yang segar dan menghibur.

“Mikiran Yayat” layak dijadikan sebagai hiburan sejati buat penduduk bumi. “Mikiran Yayat” mengulas politik, acara gosip, kuis, reality show, mistik, klenik hingga Persib Bandung tercinta yang disambung-sambungkan dengan gaya komedik. Mulai dari berita-berita seputar pemain sepakbola, Lukas Podolski, politisi, artis, pelawak, hingga dukun ramal dan dukun beranak.

Saya sangat menikmati buku ini. Konteks kedekatan budaya yang digunakan Mang Yayat rupanya begitu terasa untuk saya. Saya tidak melewatkan satu tajuk pun tanpa tertawa lepas. Begitu pun pada cerpen berjudul "Banyak Jalan Menuju Romlah" yang jadi penutup. Ada beberapa hal sentimental yang terkenang kembali sembari tertawa menertawakan kelakuan si aku dalam mengejar Romlah.

Sebagai buku komedi, “Mikiran Yayat” masih membekali pembacanya dengan karikatur yang sama-sama cerdas dengan beritanya. Cukup dibaca dan dinikmati, tidak perlu dipikirkan! Seperti jargon diatas, tidak semua berita perlu ditelan. Maka, “Mikiran Yayat” pun demikian. Anggap saja anda seperti sedang membaca koran pagi. Sekali duduk, selesai.

Judul      : Mikiran Yayat
Penulis   : Mang Yayat
Penerbit  : B-First
Tahun     : 2013
Tebal      : 194 hal.
Genre     : Humor

Cipayung, 8 Februari 2016.

Sabtu, 18 Januari 2014

Bukan Sakit Biasa

"Orang emang nggak selamanya ada di bawah. Nggak selamanya kalo udah jatuh mesti tertimpa tangga. nggak selamanya juga lagi lari dikejar musuh, akhirnya nyusruk ke lubang. Ada kalanya nasib di bawah, terus bisa naik lagi sedikit-sedikit."

Setidaknya, paragraf diatas adalah satu dari sekian banyak quote dalam buku ini. Inti persoalannya sederhana. Bahwa dalam kehidupan sehari-hari keluarga Lupus pun ada banyak hikmah yang bisa diambil sebagai pelajaran.

Courtesy: www.goodreads.com

Anyway, Lupus ABG kembali hadir dengan 12 kisah baru. Plus, tips-tips keren yang bakal bikin kamu tambah kece. Cerita-cerita jayus khas Lupus sudah pasti jadi menu utama buku ini. Jangan heran kalau kelakuan Papi yang superpedit itu berubah disini. Selain itu, konteks cerita juga mulai menyesuaikan dengan laju zaman. Ada cerita tentang Papi yang hampir menabrak seorang Nenek, yang menyebrang jalan sambil mendengarkan lagu Raisa, Apalah (Arti Menunggu).

Cerita berjudul "Perpustakaan Kita" barangkali jadi satu bagian eksepsional disini. Bersama "Aids, Aids, Aids... Ciaaat!" kedua cerita ini merangkum kegelisahan dan respon kaum muda atas yang terjadi dalam lingkungannya. Kesadaran akan bahaya HIV/AIDS dan upaya mengembalikan fungsi rekreasional dari perpustakaan. Khusus untuk ini, perlu diberikan apresiasi tersendiri karena Lupus berhasil mengikuti roda zaman sekaligus menggugah kepedulian kaum muda.



Pharmindo, 18 Januari 2014.

Minggu, 12 Agustus 2012

Mencoba Sukses: Bacaan Wajib (calon) Orang Sukses

"Kenapa harus klep jantung yang gua ambil?"
"Karena gua gak punya klep bajaj." Sutradara gusar.


Sebagai sebuah komedi horor, "Mencoba Sukses" harus dipahami dalam konteks yang disampaikan dalam bagian pengantarnya. Bagaimana buku ini harus dibuat seringkas, ringan, dan sekomedik mungkin. Demi tercapainya tujuan-tujuan yang disebutkan dalam pengantarnya.

Disini, pembaca tidak akan repot dipusingkan soal karakterisasi. Karena, pada umumnya pembaca sudah lebih dulu akrab dengan tokoh-tokoh seperti Pocong, Babi Ngepet (belakangan ganti nama jadi Babi Nge-Pad setelah punya iPad), Genderuwo, Suster Ngesot, Kuntilanak, dan sahabat mereka lainnya.



Personifikasi pada berbagai karakter tadi turut menyumbang sebuah pemaknaan baru. Mereka dibiarkan bermain dan hidup dalam alam imajinasi pembaca. Dari situlah sebuah komedi tampil menampakkan wujudnya. Permainan antara jalan cerita dengan imajinasi pembaca.

Bersiaplah untuk tertawa sepuasnya dengan dialog-dialog yang mengocok perut. Ditambah dengan ilustrasi yang anti mainstream dan cenderung jadi parodi. Belum lagi, fenomena urban yang dirangkum "Mencoba Sukses" jadi bumbu tawa tersendiri.

"Mencoba Sukses" (versi saya) dimulai dengan sebuah email dari Pocong yang jobless usai akting terakhirnya. Untuk pembaca yang belum tamat 'Empat Musim Cinta' tentu saja ini adalah hal baru. Jadi, harus baca dari awal.



Pocong yang baru join di mailing list hantuindonesiaunite mencoba peruntungannya kembali dengan mencari info soal job yang mungkin bisa didapatkannya. Pernah bayangin memedi yang tadi disebutkan saling kirim pesan di milis? Nah, jawabannya ada disini. Mana sampai ada guyon soal Hantu Indonesia Perjuangan, akibat isu keretakan di milis hantuindonesia unite.

Singkat cerita, Pocong bertemu dengan Babi Ngepet dan mulai merencanakan sebuah aksi agar mereka berdua bisa main film. Untuk itu, mereka mencoba segalanya, mulai dari minta tips dari Kuntilanak hingga mendatangi produser yang desperate ingin membuat tiruan film Ayat-Ayat Cinta.


Namun, ketika peluang itu datang, Pocong seakan lupa pada nasib Babi Ngepet. Karena terlalu jumawa mendapatkan peran utama. setelah itu, Babi Ngepet pun serasa kehilangan. Maka, ia pun kembali menikmati facebook dengan iPad barunya. Penasaran kenapa sampai Babi Ngepet bisa punya iPad?

Proses syuting pun berjalan. Ternyata, sebagai pemeran utama akting Pocong tidak seperti yang diharapkan. Diam-diam, Kuntilanak dan Suster Ngesot merencanakan Pocong untuk diganti dengan Jin Tomang. Hal ini juga yang menyebabkan judul film ikut diganti: Ayat-Ayat Jin Tomang.

Dengan harga diri yang berceceran Pocong harus meninggalkan proyek film yang prestisius itu. Apapun alasannya, Pocong tetap tersingkir. Sampai suatu ketika, Pocong kembali mengaktifkan dirinya di milis hantuindonesiaunite dan menemukan sesuatu yang aneh. Babi Ngepet segera menghubungi Pocong.

Babi Ngepet kembali menemui Pocong untuk memberikan sebuah penjelasan. Tak lama, terkuaklah semuanya. Dengan bantuan Toni a.k.a Syaitonirojim, Babi Ngepet berhasil membubarkan syuting film itu. Penjelasan Babi Ngepet itu memang berharga mahal karena membuat mereka berhutang pada Toni.


Adakah solusi untuk membayar hutang itu? Menyadari bakatnya, Babi Ngepet pun menjelaskan idenya pada Pocong. Dengan segera, disaksikan kerlingan bintang kejora, Pocong pun mengumpulan seluruh kepercayaan dirinya, demi satu judul: Pocong Cenat Cenut.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Menyenangkan rasanya melihat penulis favorit kita menulis lagi. Melihat judulnya sepintas 'Mencoba Sukses' membuat saya teringat judul album The Changcuters 'Mencoba Sukses Kembali'. Apa ada hubungannya? Saya tidak tahu pasti. Yang jelas, @adhityamulya penulis "Mencoba Sukses" yang saya kenal itu tergolong penggemar girlband @Princess_Ind.

Tapi, kalau dipikir lebih lanjut, soal judul tadi mungkin ada hubungannya dengan buku-buku @adhityamulya sebelumnya: Gege Mengejar Cinta dan Jomblo. Dua judul dengan predikat bestseller dan terbaik dimasanya (if i may add). Pemilihan nama "Mencoba Sukses" barangkali ada hubungannya dengan dua buku itu tadi. Sebagai representasi sebuah harapan bahwa buku yang baru terbit setelah Catatan Mahasiswa Gila ini meraih kesuksesan yang setara dengan pendahulunya, #GMC dan #Jomblo.

Sungguh sebuah kejutan karena "Mencoba Sukses" adalah sekuel lanjutan dari cerpen "Scene 40 Yang Bermasalah Itu" yang dimuat dalam antologi 'Empat Musim Cinta' (GagasMedia,2010). Ide yang disampaikan dalam "Mencoba Sukses" termasuk sederhana. Justru, dalam kesederhanaannya buku ini malah bisa bercerita banyak. Walau tidak se'berat' #GMC dan #Jomblo.

"Mencoba Sukses" sebagai sebuah bentuk novel ringan bergenre komedi horor mampu berperan ganda. Selain sebagai antitesis mainstream untuk film komedi horo esek-esek juga sebagai penangkap beberapa fenomena yang lazim terjadi di zaman media sosial seperti sekarang ini. "Mencoba Sukses" adalah novel yang berkonteks kekinian yang dipadukan dengan unsur-unsur klenik. Paduan keduanya menghasilkan komposisi jalan cerita yaang ringan, menghibur, walau sedikit absurd.

Dengan demikian, agaknya tujuan @adhityamulya sudah tercapai. Mencoba sukses untuk mendidik Alde dan Arza dan sukses menghibur pembaca yang setia menunggu karya terbarunya.

Judul              : Mencoba Sukses; Sebuah Komedi Horor
Penulis           : Adhitya Mulya
Penerbit         : GagasMedia
Tahun             : 2012
Tebal             : 192 hal.
Genre             : Novel Komedi
 

Pharmindo, 11 Agustus 2012.

Sabtu, 08 Oktober 2011

Pamali (bukan suami Bu Mali)

 
  
Pamali. Suatu istilah untuk mengartikan pantangan adalah produk atau hasil dari kebudayaan asli yang sengaja ditinggalkan oleh leluhur kita. Pamali lahir dari suatu hasil pemikiran yang berkembang pada suatu zaman sebagai tindakan preventif (bersifat mencegah). Pamali bisa dianggap sebagai 'local wisdom' yang tumbuh dalam suatu lingkungan masyarakat. Pamali pada prinsipnya berusaha menyelaraskan nilai-nilai kehidupan sosial dalam interaksi sesama manusia. Dengan demikian, pamali di satu tempat akan berbeda dengan di tempat lainnya.

Namun, kemajuan zaman yang berimbas pada pola pikir masyarakat di abad modern ini cenderung mengganggap pamali ini sebagai hal yang sudah tidak relevan. Pamali sudah tidak dikaitkan lagi dengan logika umum sehingga masyarakat dengan pemikiran yang maju dan logis hanya menganggap pamali itu sebagai mitos atau Misteri anu atos-atos (misteri yang sudah-sudah)*.


Komik ini mengangkat beberapa pamali yang hidup dan umum dijumpai di Tanah Sunda. Temukan alasan-alasan tentang mengapa anak perawan tidak boleh makan dari cobek, tidak boleh membaca nisan di pemakaman, dan mengapa-mengapa lainnya. Dikemas dengan sketsa komik yang segar dengan tokoh berhidung enam dan tidak melulu menggunakan Manga Style membuat komik ini terasa berbeda dari komik-komik kebanyakan. Tentu saja, ini merupakan berita baik untuk perkembangan Komik Indonesia yang kini mulai menggeliat kembali dibawah penerbit-penerbit lokal dan independen.

Dalam menyikapi beberapa pamali dalam komik ini kita tidak selalu harus serius. Pamali yang dikemas dalam bentuk komik ini tentu menyuguhkan cara pandang lain dalam menyikapi nilai-nilai sosial yang berlaku di masyarakat. Beberapa mungkin sudah tidak relevan dan tidak logis. Tapi, bukankah pamali itu juga merupakan warisan nenek moyang kita yang mengandung pesan dan makna tertentu. Sudah tentu, pembaca dihadapkan pada situasi untuk memilah-milah dan mengambil nilai positif dari pamali tersebut.


Judul : Pamali: Segerombolan Komik tentang Mitos dan Pantangan
Penulis : Norvan Pecandupagi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2009
Tebal : 120 hal.
Genre : Komik-Budaya



Paninggilan, 8 Oktober 2011

* Menirukan istilah seorang sahabat

Selasa, 31 Mei 2011

Something in the Sky


ATC (Lady) : Sir, can i turn you on 8 miles?
Pilot : You can try, Madam.




Medan Merdeka Barat, 31 Mei 2011.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...