Tampilkan postingan dengan label Miniatur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Miniatur. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Juli 2017

Bburago Ferrari F-14T

Ferrari is synonymous with success in Formula One 
- Christian Horner

Sumber gambar: Koleksi Pribadi
Tidak pernah terbayangkan bahwa saya akan memiliki sebuah diecast mobil Formula 1 dari tim Kuda Merah, Scuderia Ferrari. Tadinya saya berharap suatu hari nanti untuk memiliki sebuah miniatur dari McLaren Formula 1, bisa MP4-15 yang dinobatkan jadi Car of The Year tahun 2000 oleh majalah F1 Racing atau malah McLaren-Honda milik Ayrton Senna atau Alain Prost.

Well, kadang nasib tidak selalu berpihak pada waktu. Saya mendapatkan sebuah penawaran untuk miniatur diecast Ferrari F1 milik Kimi Raikkonen, eks driver McLaren Mercedes. Saya bukan seorang fans berat Ferrari. Tetapi, saya mengagumi cara mereka menangani kedua pembalapnya di lintasan balap sejak zaman duet Ross Brawn dan Jean Todt.

Mobil F-14T ini mengingatkan saya pada suatu masa dimana Formula 1 tidak lagi menjadi sesuatu yang menarik. Adopsi teknologi dan batasan regulasi menyebabkan balapan jet darat akhir-akhir ini menjadi monoton. Sama ketika Michael Schumacher merajai Formula 1. 

Anyway, walaupun saya bukan seorang fans Ferrari (lagi-lagi) tapi saya menikmati hasil karya tim yang bermarkas di Maranello ini. Bburago sebagai brand yang telah bertahun-tahun menjadi official licensed partner tim kuda jingkrak berhasil membawa spirit kemenangan mereka. Balutan warna merah yang khas ditambah dengan detail yang mengagumkan membuat diecast berukuran 1:43 ini memiliki pesonanya tersendiri. 


Cipayung, 19 Juli 2017.

Kamis, 30 Juni 2016

PZL Wilga Papercraft


Sepintas, pesawat latih ini terlihat biasa saja. PZL Wilga yang pernah dimiliki oleh TNI-AU ini memang tergolong pesawat tua. Diproduksi pada rentang tahun 1962 hingga 2006. Pesawat ini biasa digunakan sebagai pesawat latih, parachute jumping exercise, dan glider-towing. Walaupun demikian, pesawat ini unik dan mampu menghidupkan kembali obsesi saya terhadap pesawat terbang bermesin tunggal.

Saya terkesan pada desain model kertas pesawat ini. Untuk fuselage saja, model pesawat ini punya 4 bagian yang masing-masing punya kesulitan tersendiri. Entah itu ketika merakit single part maupun line assembly. 


Bagian paling sulit dari Wilga adalah bagian main wing dan tail wing. Saya tidak mengikuti pola bentuk sayap yang digunakan dalam desain. Modifikasi pun akhirnya dilakukan dengan membuat pola airfoil untuk sayap. 

Saya juga mengalami kesulitan dengan landing gear parts. Demi membuat pesawat ini tetap bisa tegak, saya tetap menggunakan pola desain model dengan mengurangi beberapa bagian dari seharusnya. Alhasil, fixed landing gear Wilga rakitan saya tidak sama dengan Wilga yang seharusnya. Wilga buatan saya lebih mirip dengan desain Wilga versi awal dimana belum menggunakan fixed landing gear yang menekuk.


Khusus untuk bagian propeller, saya menggunakan propeller 3 bilah dari mainan pesawat berbahan styrofoam yang biasa didapatkan di warung-warung. Propeller model ini cocok dipadankan dengan Wilga yang berskala 1:40 ini. Dimensi propeller fit untuk perbandingan badan Wilga yang memang besar.


Material yang digunakan masih kertas karton eks amplop. Saya harus akui bahwa kertas karton yang mirip material kotak nasi ini memang mudah dibentuk. Karton semacam ini punya struktur yang lentur dan kuat sehingga saya sarankan untuk digunakan dalam merakit model yang membutuhkan kekuatan struktur. 

Dari sisi waktu pengerjaan, model Wilga ini membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam. Saya sendiri menghabiskan waktu dua hari, masing-masing 2 jam untuk menyelesaikan perakitan model pesawat buatan negerinya Lewandowski ini.

Material       : Kertas Karton eks amplop
Kesulitan    : 3/5
Sumber       : www.paper-replika.com

Cipayung, 16 Juni 2016.

Rabu, 29 Juni 2016

HMCS Kingston MCDV Papercraft



Dari sekian paper model kapal laut, saya jatuh cinta dengan kapal bernomor lambung 700 ini. Sepertinya, model ini cocok sebagai Seacarrier untuk dua unit Ingram saya. HMCS Kingston ini terdiri dari 12 unit dan dioperasikan oleh Angkatan Laut Kerajaan Canada. Proyek pembangunan kapal ini sendiri dinamai Maritime Coastal Defence Vessel (MCDV) Project. Misi utama kapal kelas Kingston ini adalah surveillance area pantai dan training. 


Ada dua versi model dari unduhan MCDV ini. Simple version adalah versi model yang paling mudah dirakit dan minim aksesoris tambahan. Satu model lagi adalah complex version dengan aksesoris yang menyerupai aslinya. Seperti tiang-tiang menara, gun turrette, dan crane. Saya sendiri lebih memilih versi simple karena lebih mudah dirakit. Selain itu, aksesoris tambahan bisa dibuat belakangan.



Saya kembali menggunakan material kertas karton eks amplop UPS. Saya menghabiskan 4 lembar karton untuk bagian model kapal, ditambah satu lembar halaman pengantar bagian depan. Asumsi saya, model kapal ini resmi dirilis oleh Royal Canadian Navy sendiri.

Secara keseluruhan, saya menghabiskan waktu satu jam untuk menyelesaikan model ini. Perakitan badan kapal perlu perhatian khusus, karena apabila satu bagian fuselage tidak firm maka akan merembet ke bagian belakang. Setelah model kapal ini jadi, saya tidak lantas mengolesi bagian dasar kapal dengan lapisan anti bocor. Saya cukup sadar untuk tidak melakukan wet test pada model MCDV ini.

Material    : Kertas Karton eks amplop
Kesulitan   : 3/5
Sumber      : www.papercraftsquare.com

Cipayung, 4 Juni 2016.

Japan Coast Guard Ship Papercraft


Setelah merasa ‘PD’ dengan keberhasilan Seacraft #1: Patlabor Seacarrier, saya mulai browsing dan mengunduh beberapa model kapal laut. Dari hasil penelusuran, tibalah saya di www.papercraftsquare.com dan segera mengetik ‘ship’ di kolom pencarian. Ada beberapa model kapal yang membuat saya tertarik. 

Sebelum saya membuat model kapal-kapal itu, saya ingin mencoba membuat kapal  yang sederhana. Pilihan pertama saya jatuh pada model PLH 01 Soya, 1 dari 4 dari paket Japan Coast Guard Ship. Model ini terhitung cukup sederhana dan tambahan detail bisa dimodifikasi sesuai keinginan pemodel.


Kali ini, saya menggunakan material concorde paper 100 gsm. Memang terhitung tipis, namun ini baru model percobaan sebelum saya lanjut mengerjakan model kapal laut lainnya. Lagipula, dengan kertas yang tipis skala kapal yang sangat kecil lumayan membantu dalam membentuk lipatan-lipatan.

Well, waktu pengerjaan model ini tidak terlalu lama, sekitar 30-40 menit. Barangkali, dengan sedikit tambahan detail, waktu pengerjaan akan bertambah. Kapal berukuran jadi 24 cm x 3,3 cm ini resmi sudah jadi penghias meja kerja.

Material    : Kertas Concorde 100 gsm
Kesulitan  : 1/5
Sumber     : www.papercraftsquare.com
Cipayung, 1 Juni 2016.

Cessna 172 Seaplane Papercraft


Berawal dari kebiasaan baru untuk hunting paper model terbaru di www.papercraftsquare.com, saya menemukan model pesawat Cessna 172 Seaplane ini. Ini adalah tantangan yang baru bagi pemodel amatir macam saya. Cessna 172 ini tidak menggunakan fixed landing gear dan wheels, namun menggunakan semacam floating devices sebagai pengganti landing gear. Uniknya, paper model ini adalah hasil kreasi modeler Indonesia, Julius Perdana, aktivis www.paper-replika.com. Padahal, pesawat model floatplane ini populasinya terhitung jarang di Indonesia.


Untuk merakit model ini saya menggunakan kertas karton bekas amplop UPS (United Parcel Service). Kertas karton ini saya tidak tahu spesifikasi beratnya, namun cukup kuat dan lentur untuk membentuk fuselage pesawat. Selain itu, karton ini saya dapat dengan mudah setiap menerima paket dokumen teknis dari beberapa pabrik pesawat di luar negeri. Semangat go-green!

Saya tidak mengalami kesulitan berarti dalam melakukan cutting dan folding. Hanya saja, karena salah persepsi, bagian upper cockpit tidak sesuai dengan template. Fuselage Cessna ini saya buat terlalu langsing. Sehingga, saya harus melakukan modifikasi pada upper cockpit tempat dimana wing ikut menempel. Beruntung, dengan sedikit modifikasi saya berhasil menambah bagian krusial tersebut.


Sebagai ganti penahan sayap, saya menggunakan tusuk gigi yang diwarnai hitam. Selain itu, bagian kaki-kaki yang menempel pada floating gearss menggunakan tusuk gigi juga. Kesulitan lain yaitu menyeimbangkan berat pesawat setelah floating gears dipasang. Lem yang tidak langsung kering pun menambah masa penantian. Saya pun menambah lem serbaguna untuk memperkuat kaki-kaki dan mempercepat pengeringan. 

Untuk mengetes kekuatan kaki-kaki, saya memajang pesawat dalam posisi tergantung pada gantungan. Saya mencoba kekuatan efek gravitasi pada floating gears. Alhamdulillah. Test selama 24 jam berhasil, kaki-kaki masih menempel dan semakin kuat dengan keringnya lem. Cessna 172 Seaplane siap menjalani wet test, itu pun kalau saya tidak lupa mengolesi floating gears dengan pelapis anti bocor.

Material     : Kertas karton, lem serbaguna, gunting, cutter
Kesulitan    : 3/5
Sumber      : www.papercraftsquare.com ; www.paper-replika.com

Cipayung, 23 Juni 2016.

Selasa, 08 Maret 2016

Stuka Model Kit Finishing: Painting and Decaling

Tulisan ini didasari oleh ketidakmampuan saya untuk segera move-on dari Stuka. Proses pengerjaan Stuka, mulai dari assembling (perakitan), painting (pengecatan), hingga finishing (decaling) masih melekat dan membuat perhatian saya belum beralih walaupun saya sudah memesan model kit lain, yaitu Kyrios Gundam.



Sepanjang sejarah pengerjaan model kit, mulai dari Apache AH64D 1/72, F16, MiG-29 Fulcrum, F15, dan F14 buatan Academy skala 1/144 belum sekalipun saya selesaikan hingga decaling. Saya tidak pernah menempelkan decal pada model yang telah selesai dirakit. Saya belum percaya diri untuk menempelkan decal pada model. Saya masih dirundung kegagalan merakit Mazda RX7 tahun 2002 silam. Saya sudah merasa cukup untuk merakit saja, tanpa pengecatan ulang (repainting), dan mengganti stiker decal dengan Rugos ® .


Anyway, pada Proyek Stuka ini saya merasa harus menghentikan kebiasaan saya. Selain karena pertimbangan faktor sejarah, Stuka ini juga saya dedikasikan untuk Aldebaran, putra saya. Maka mulailah saya mencari cat semprot warna hijau gelap khas Luftwaffe. Berhubung warna tersebut tidak ada di toko besi dekat rumah, maka saya mengganti dengan warna Fuji Green No. 162 dari varian cat Pylox ®. Mengikuti panduan, saya mengecat permukaan bagian atas pesawat dengan warna hijau tersebut. Warna hijau fuji membuat fuselage Stuka menjadi lebih terang, tidak gelap sebagaimana Stuka asli milik Luftwaffe. Saya rasa itu bukan masalah besar, lagipula dengan warna yang lebih terang membuat Stuka versi saya lebih bisa untuk dinikmati.


Selesai pengecatan, saya membiarkan Stuka polos semalaman. Baru keesokan harinya saya mulai proses lanjutan yaitu penempelan stiker decal. Saya paling tidak suka menunggu, begitu pun ketika harus menyisihkan waktu untuk proses decaling. Saya menonton dulu panduan pemasangan decal pada model kit yang ada di Youtube. Saya pun segera menyiapkan alat-alat dan bahan seperti air hangat untuk memisahkan decal dari stiker induknya, pinset, dan pembersih telinga untuk menyerap air. Saya tidak mungkin menuruti apa kata video Youtube karena memang tidak menyiapkan decal enamel sebagai pelapis dasar dan pelapis akhir di model kit.


Proses penempelan decal memang membutuhkan ketelitian dan kesabaran sebagai faktor utama penentu keberhasilan detail. Saya pun berhasil memasang decal untuk pertama kalinya pada model kit Stuka 1/72 ini. Saya tidak memasang semua stiker yang diberikan. Alasannya, selain kebanyakan terlalu kecil, bila semua decal dipasang tangan saya akan mengalami kesulitan dalam mencari pegangan/patokan karena bagian fuselage belakang sudah kena decal. 


Untuk mengeringkan decal, setelah menggunakan pembersih telinga, saya pun menjemur Stuka di bawah terik matahari selama kurang lebih 15 menit. Usai dijemur, Stuka yang sudah gagah ini saya pajang sambil sedikit dikenai terpaan kipas angin. Proyek Stuka ini menyisakan satu pekerjaan lagi. Pengecatan dengan menggunakan cat semprot warna clear alias bening untuk melapisi seluruh lapisan badan atas dan bawah. Pengecatan ini bermaksud agar menguatkan decal yang telah terpasang sehingga bila kena air tidak akan kembali memudar. CMIIW.

Satu pekerjaan tersisa ini akan saya selesaikan nanti usai paket Kyrios Gundam tiba. Saya akan melihat terlebih dahulu apakah model kit Gundam membutuhkan hal yang sama dengan Stuka. Ini sangat penting. Terutama soal budget, apalagi bagi modeler penghobi amatir seperti saya ini.


Cipayung, 7 Maret 2016.

Minggu, 28 Februari 2016

The Legend Rebuilt: Stuka

"Verloren ist nur, wer sich selbst aufgibt" ("Lost are only those, who abandon themselves") 
Hans-Ulrich Rudel (July, 1916 - 1982) 
Luftwaffe Stuka Ace



Perkenalan saya dengan pesawat tempur legendaris Angkatan Udara Jerman ini dimulai ketika membaca buku "Dekade Kejayaan Luftwaffe". Pesawat ini memiliki reputasi yang hebat dimana terlibat pada Perang Saudara Spanyol, ekspansi Jerman ke Front Barat, hingga awal penaklukan Front Timur Rusia.

Junkers Ju-87 memiliki keunggulan karena dapat menghadapi serbuan infantri dan tank sekutu. Dijuluki "Sturzkampfflugzeug" yaitu Pengebom Tukik alias Dive Bomber biasa disingkat "Stuka" dimana pesawat tempur ini mampu menghalau serangan artileri lawan dan tank dengan cara menukik lambat. Pesawat ini cukup berperan untuk membuka infantri Jerman untuk masuk ke wilayah musuh. 

Stuka untuk saya adalah satu dari sekian banyak peninggalan Perang Dunia II yang patut mendapat catatan tersendiri. Bagaimana pun, peran Stuka sebagai line-up tempur di Luftwaffe ikut mewarnai dekade kejayaan Angkatan Udara yang pernah disegani di dunia. 

Now, one of them belong to me. 

Cipayung, 28 Februari 2016. 

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...