Tampilkan postingan dengan label sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sahabat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 September 2017

Baracas

Saya tidak tahu bahwa Barisan Anti Cinta Asmara ini sempat difilmkan. Kalaupun memang begitu tentulah tampilan grafis visual tentu lebih memuaskan dari sisi cerita karena penonton bisa mengetahui jalan cerita secara utuh.

Sumber gambar: www.goodreads.com
Saya sendiri lebih suka Baracas versi buku karena lebih sederhana dan to the point. Tampilan visual tokoh komik juga bagus, penempatan teks dan pemilihan huruf yang minimalis dan memudahkan pembacaan sehingga membuat perasaan nyaman, nyaman di mata dan nyaman di hati.

Buku ini merupakan adaptasi resmi dari film berjudul sama yang diproduksi oleh thepanasdalammovie dan Max Pictures. Buku ini semakin berkesan dengan penggalan lirik lagu The Panas Dalam, 'Tenang Saja'... Apabila setelahnya kita saling lupa.

Cipayung, 10 September 2017

Jumat, 18 September 2015

Tiga Menguak Takdir

Kalau kami bitjara tentang kebudajaan Indonesia, kami tidak ingat kepada melap-lap hasil kebudajaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudajaan baru jang sehat. 
- Surat Kepercayaan Gelanggang (hal. xi)


Tiga Menguak Takdir adalah cita-cita dari ketiga penggagasnya: Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani. Ide dasar atas terbitnya buku ini  sudah ada di kepala mereka sejak satu setengah tahun sebelum mereka mendirikan 'Gelanggang'. Gelanggang sendiri adalah sebuah rubrik kebudayaan yang mengisi warta mingguan 'Siasat'. Tabloid Siasat mulanya diasuh oleh Chairil Anwar dan Ida Nasution. Kemudian, dilanjutkan oleh Rivai Apin, Asrul Sani, Siti Nuraini, dan terakhir oleh Ramadhan K.H.

Gelanggang bisa diartikan sebagai termpat berkumpulnya sastrawan Angkatan '45. Pada waktu itu, Chairil-Rivai-Asrul hendak menjadikan Gelanggang sebagai suatu kumpulan kesenian (Kunstkring). Tetapi, setelah melalui berbagai diskusi dan pertukaran pikiran, mereka menemukan bahwa belum ada suatu dasar yang menjiwai pertanggungjawaban atas takdir mereka yang berada dalam kumpulan itu. Mereka membutuhkan sebuah angkatan untuk menamai kelompok Gelanggang ini. Angkatan ini tidak saja harus ada, tapi juga harus mempunyai pandangan hidup, suatu tujuan takdir.

Pada dasarnya, baik Chairil Anwar, Rivai Apin, maupun Asrul Sani, menempuh jalan kesenian yang berbeda. Mereka punya jalan masing-masing, yang melatarbelakangi penciptaan karya-karya mereka. Bersatunya mereka dalam Gelanggang tidak lantas membuat setiap dari mereka harus mengikuti haluan salah seorang lainnya. Melainkan, ketiganya telah berupaya untuk menempuh jalan konsensus dan saling menghargai masing-masing pribadi.

"Pendekatan ini tidak berarti menuruti salah satu garis atau garis dari salah seorang dari kami, tapi dalam saling menghargai segi-segi yang dihadapi masing-masing. Garis dasar yang satu, bagi kami apriori, tidak usah dipertengkarkan lagi." Demikian, Asrul Sani menulis.

Kumpulan puisi ini membawa kita menyelami pemikiran dan perasaan Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani. Dengan segenap perbedaan, mereka bersatu demi mencapai cita-cita yang mereka sebut  sebagai 'suatu tujuan takdir'. Lantas, 'takdir' seperti apa yang sebenarnya mereka perjuangkan?

Generasi Gelanggang yang selanjutnya dikenal dengan sebutan Angkatan '45 lahir dan berawal dari kecamuk dan kegetiran atas Perang Kemerdekaan. Kemenangan atas perang akan mengantarkan kemerdekaan. 'Surat Kepercayaan Gelanggang' pun menyuratkan bahwa revolusi di tanah air kami sendiri belum selesai.

Tekanan perasaan dan pikiran semasa itu serta keadaan ekonomi yang mengguncang, telah memenjarakan kemerdekaan mereka. Puisi, lantas menjadi jalan keluar sebagai jalan pembebasan. Rivai Apin sendiri memaknai kemerdekaan kebebasan sebagai kebebasan berkata, berpikir, atau berekspresi yang harus diperjuangkan sendiri. Sedangkan, Asrul Sani, memaknainya dengan pengembaraan ke dunia luas dan alam bebas, seperti tertulis dalam puisinya, 'Surat Untuk Ibu'.

Pembebasan juga tidak hanya dimaknai sebagai pengembaraan jasmani, tetapi juga pengembaraan pikiran. Pengembaraan yang mendaparkan Rivai Apin dalam kehidupan yang tak kenal siang. Tercatat dalam sajak "Anak Malam". Puisi juga menjadi media apresiasi mereka terhadap para pejuang yang telah mengorbankan nyawa, demi tercapainya kemerdekaan. Chairil Anwar menulisnya dalam "Antara Krawang - Bekasi" dan Asrul Sani dengan "Sebagai Kenangan kepada Amir Hamzah, Penyair yang Terbunuh".

Tiga Menguak Takdir terbit pertama kali tahun 1950 oleh Balai Pustaka. Pada tahun yang sama pula, "Surat Kepercayaan Gelanggang" diterbitkan di majalah. Surat itu seakan menjadi jawaban atas Polemik Kebudayaan generasi Pujangga Baru. Pernyataan sikap yang demikian itu seolah memutus generasi sebelumnya. Sebuah upaya dan usaha untuk menguak takdir selanjutnya telah ditegakkan. Sebuah angkatan baru telah dibentuk. Chairil-Rivai-Asrul menegaskan sikap kepengarangan dan gerak estetika mereka dalam buku ini. Sajak-sajak mereka berkatalah dengan sendirinya.

Catatan Personal

Seandainya saya mengenal buku ini 11-12 tahun yang lalu, tentu saya tidak akan terlalu kebingungan dalam menjawab soal-soal Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru. Saya terus terang merasa kesulitan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar generasi Pujangga Baru, Tabloid/majalah Siasat, Angkatan '45, Surat Kepercayaan Gelanggang, dan segenap persoalan sastra Indonesia di masa itu. Saya belum membaca sendiri seperti apa buku-buku yang sering menjadi pertanyaan dalam soal-soal ujian. Misalnya, Atheis, Tiga Menguak Takdir, Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus, hingga Olenka karya sang maestro Budi Darma.

Saya sendiri perlu melakukan penelitian (observasi, lebih tepatnya) lebih lanjut dan mendalam untuk menemukan jawaban atas pertanyaan saya sendiri terhadap Tiga Menguak Takdir. Yaitu, apa dasar bagi Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani, yang menjadi alasan penentu karya-karya yang ditampilkan dalam Tiga Menguak Takdir? Saya yakin bahwa ketiganya sudah memiliki satu buku kumpulan puisinya yang paling lengkap. Lalu, bagaimana ketiganya melakukan seleksi atau pemilihan atas karya-karya mereka sendiri untuk ditampilkan dalam Tiga Menguak Takdir? Saya rasa, saya masih harus mengkajinya dengan mencermati tanda zaman waktu itu; zaman perang kemerdekaan.

Overall, bisa dibilang, penemuan buku ini bagi saya pribadi adalah menguak takdir atas diri saya lebih dari satu dekade kemarin. Barangkali, ada maksud tersendiri mengapa saya harus baru bisa menamatkan Tiga Menguak Takdir ini usai Tragedi Crane yang jatuh di Mekkah sana. Ya, barangkali.

Judul           : Tiga Menguak Takdir
Penulis        : Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani
Penerbit      : Balai Pustaka
Tahun         : 2013
Tebal          : 82 hal.
Genre         : Sastra Indonesia


Dharmawangsa, 18 September 2015.

Rabu, 29 Juli 2015

FF7: O' Connor's Last Ride

It’s been a long night, without you my friend
And I'll tell you all about it when I see you again
We've come a long way from where we began
Oh, I'll tell you all about it when I see you again

Courtesy: YouTube
Finally, i came to this great movie. The magnificent seven, they said. ‘Furious 7’ serial teranyar ini menyuguhkan petualangan yang menegangkan sekaligus emosional. Ada aroma balas dendam dan nuansa kekeluargaan. Barangkali, ini berawal dari kejadian meninggalnya Paul Walker pada 2013 lalu. Tanpa Paul, memang ada yang hilang dan takkan terganti. Namun, film ini tetap memiliki jiwa Brian O’ Connor dengan segala ciri khasnya sejak seri The Fast and The Furious jilid pertama.

Saya menangkap pola alur yang sama antara film ini dengan serial The Ocean’s (Eleven, Twelve, and Thirteen). Mengapa? Pertama, ada aroma balas dendam. Deckard Shaw (Jason Statham) muncul untuk menuntut balas atas perlakuan Torreto kepada Owen Shaw, adiknya. Kedua, Torreto direkrut kembali untuk menjalankan sebuah misi. Mirip dengan Ocean’s Twelve, selain dituntut untuk menjalankan misi, mereka juga punya alasan tersendiri alias keuntungan ganda bila menerima tawaran itu.

Courtesy: www.imdb.com
‘Furious 7’ seharusnya menjadi serial Fast and Furious yang paling sukses, mengingat seri terakhir ini sarat muatan sentuhan emosional. Brian kini bukan lagi seorang mantan polisi yang jadi dipercaya Torreto. Ia kini sudah berkeluarga dan akan segera memiliki anak kedua dari pernikahannya dengan Mia. Torreto sendiri masih yakin bahwa suatu saat Letty akan kembali mengingat semuanya, semua yang pernah terjadi diantara mereka. Termasuk, pernikahan mereka di Puerto Rico.

Letty      : Why didn't you tell me we were married?
Dom      : You can't tell someone they love you.

Bila pada serial sebelumnya, FF6, ketegangan dimulai ketika berlangsung perkelahian antara Dom’s Team dengan Owen Shaw’s team, dimana Joe Taslim muncul menghajar Tyrese Gibson dengan mutlak. Kali ini, Dominic Torreto harus berhadapan dengan seorang Deckard Shaw, agen MI6 yang terlatih namun sudah dibebastugaskan dan bersekutu dengan tentara bayaran dari Somalia. 

Courtesy: www.imdb.com
Saya mencatat dua kali Dom dan Deckard berduel. Sementara, Brian dan rekan yang lain mengerjakan tugas mereka untuk mengamankan God’s Eye. Menurut saya, inilah pencapaian dan penghormatan tertinggi untuk seorang Dominic Torreto. Ia mengerjakan tugas yang menjadi bagiannya. Ia menghadapi langsung seorang antagonis. That’s what leader did.

Courtesy: YouTube
Walau penonton sudah bakal tahu bagaimana ending dari film ini, setidaknya mereka harus menunggu dengan intensitas ketegangan yang tinggi untuk melihat Brian dan Dom melakukan “one last ride” mereka dan berpisah di jalur Nagreg Garut-Tasik (Just kidding :D). Jason Statham tampil memukau sebagaimana karakternya pada serial The Transporter. Dengan gayanya seperti itu, ia harus menghadapi Dominic Torreto sebagai ‘The Real Street Fighter’.

Anyway, rasanya tidak sia-sia menghabiskan waktu 137 menit hanya untuk menyaksikan sebuah happy ending. Alamat dedikasi pada screen penutup untuk Paul Walker mengisyaratkan semua alasan bagi penciptaan #FF7. Pemilihan lagu sebagai soundtrack utama dari Wiz Khalifa feat. Charlie Puth, See You Again, agaknya memang beralasan. Nuansa emosional kembali terasa kala soundtrack film ini diputar. The lyric tells you everything. How can we not talk about family when family's all that we got?


Judul           : Furious 7
Sutradara    : James Wan
Cast            :Vin Diesel, Paul Walker, Tyrese Gibson, Dwayne Johnson, Jordana Brewster,
                    Michelle Rodriguez, Ludacris, Gal Gadot
Durasi        : 137 menit
Tahun         : 2015
Produksi     : Universal Pictures
Genre         : Action-Thriller


Dharmawangsa – Sentul, 29 Juli 2015.

Minggu, 04 Mei 2014

On a Fine Night (2)

On a fine night, the lights of Jakarta will tell you a thousand stories, if you would just listen to them. 




Of a water splash from the corner of the pool when the children's laughing
 

Of a lover sitting down the traffic on a heavy Saturday evening rain
 

Of a famous dangdut songs played by street vendors while preparing the dishes
 

Of a book a man read while waiting for his beloved
 

Of a football club's anthem on a minimarket

In the city, that will never sleeps

The city lights will tell everything, if you just listen to them.



Cilandak, 3 Mei 2014

Minggu, 09 Februari 2014

Princess, Bajak Laut, & Alien

"Sebab ingatan yang terjebak adalah waktu yang berjalan mundur."
(Princess, hal. 68.)

Sebuah pengalaman yang meregang batas antara fiksi dan realita. Bloody imaginative. Mistis tapi fantastis. 

Begitulah kesan yang saya dapatkan dari buku kolaborasi kedua Clara Ng dan Icha Rahmanti ini. Sepintas, saya pikir plotnya akan mirip seperti Pintu Harmonika, karya mereka sebelumnya. Bisa dilihat dari tiga tokoh utama (main character) di halaman sampul belakang. Namun, permainan plot disini lebih dinamis. Pembaca dibuat harus membebaskan imajinasi saat membaca tiga kitab disini. Kitab Princess, Kitab Bajak Laut, dan Kitab Alien.

Kitab pertama dan terakhir penuh dengan tuturan imajinatif dalam jagad tanpa batas. Cerita-cerita yang hanya terjadi dalam dunia khayal hadir dalam bentuk yang nyata dan malah jadi semacam permainan antara fiksi dan realita. Kitab kedua, Kitab Bajak Laut lah yang justru sangat dekat dengan keseharian dan realita kehidupan nyata. Cerita didalamnya menunjukkan alur perjalanan hidup seorang manusia. Mungkin saja, seseorang di dunia ini pernah mengalami hal yang demikian. Agaknya, itulah yang membuat kitab kedua tampil manusiawi.

Personally, saya suka bagaimana penulisnya membuat ending cerita. Itu bukan hal yang mudah karena harus menyambungkan benang merah dari setiap lompatan alur cerita. Rasanya seperti dalam film 'Click' (Adam Sandler, Kate Beckinsale; 2006) ketika tahu Troy terbangun setelah tidur selama tiga jam. Mirip Adam Sandler yang terbangun kaget dan mendapati dirinya di atas kasur dalam sebuah toko.

Harus diakui, kolaborasi penulisan antara Icha Rahmanti dan Clara Ng mewujudkan sebuah kisah yang fantastis. Keduanya mampu menulis cerita yang tidak terbatas pada dunia anak-anak saja. Kaum remaja, dan dewasa pun bisa mengikutinya tanpa harus memperolok diri mereka sendiri bahwa mereka menikmati sajian yang demikian. Kekuatan latar belakang bacaan mereka masing-masing serta didukung data riset dan fakta menjadikan siapapun yang membaca buku ini ibarat tersedot kaleidoskop, larut dan terhanyut ke alam dunia didalamnya.

Judul          : Princess, Bajak Laut, & Alien
Penulis       : Clara Ng & Icha Rahmanti
Penerbit    : Plotpoint Publishing
Tahun        : 2013
Tebal         : 347 hal.
Genre        : Novel-Fantasi/Fiksi Ilmiah


Paninggilan, 9 Februari 2014.

Minggu, 02 Februari 2014

Pacific Rim, Planes, & Catching Fire.

Today there is not a man nor woman in here that shall stand alone. Not today. Today we face the monsters that are at our door and bring the fight to them. Today, we are cancelling the apocalypse! 
(Pentecost, from Pacific Rim)

I know it’s much too late to watching these awesome movies. Well deserved because i just had my long weekend to run (another) movie marathon. As titled above, i spend my weekend with them.

Pacific Rim

 

Somebody whose my good old buddy told me this movie is more worth on him other than The Transformers. He’s not made a mistake by telling me this.

Film fiksi ilmiah kesekian ini kembali mengangkat pertempuran hebat antara umat manusia dengan spesies asing. You may say they’re an alien who aiming to conquer planet earth. They’re not working alone. They made another creatures just to vanishing people from this lovely earth.

Sekilas, film ini mirip dengan ‘Godzilla’. Penampakan rupa monster Kaiju mirip betul dengan si ‘Godjira’. Saya yakin ada andil orang Jepang dalam pembuatan film ini (selain Rinko Kikuchi pastinya). Film ini berhasil memainkan instensitas ketegangan dengan akhir yang sudah dapat ditebak. The hero is the one who stands last!

Seperti ‘Transformers’, film ini mengajarkan respek terhadap sesama rekan seperjuangan. Kepercayaan adalah barang mahal yang harus tetap dipertahankan dan sebisa mungkin jangan sampai kehilangan hal itu sedikit pun.

Anyway, saya suka desain robot-robot Jaeger ini. Tidak seperti Autobots dan Decepticon yang dibuat lebih menyerupai manusia. Apalagi dengan sistem AI (artificial intelligence) Jaeger yang melibatkan interaksi dengan sistem sensorik tubuh manusia, semakin membuat kekaguman pada makhluk raksasa ini. saya tidak tahu bagaimana jadinya bila Cherno Alpha, Striker, dan Gipsy diadu dengan Optimus Prime, Bumblebee, dan Starscream. Tentu akan jadi battle yang sangat menarik sekaligus menegangkan.

Planes


Sebagai catatan, saya sudah menonton ‘Planes’, film animasi dari Disney sebagai suksesor ‘Cars’ setengah jalan di flight entertainment pesawat menuju Kuala Lumpur, akhir November 2013 lalu. Saya memang penasaran ending dari film ini. Namun, saya rasa tidak akan jauh seperti ‘Cars’. Menyimak alur dan jalan cerita sepertinya memang akan begitu.

Betul saja, Dusty Crophopper melakukan hal yang sama seperti Lightning McQueen menyelesaikan balapan pertamanya. Film ini membuat saya menertawakan banyak hal. Mulai dari joke ejekan buat pesawat agrikultur (Dusty Crophopper = Air Tractor), landing di USS Flysenhower (hello, Mr. Eisenhower?), hingga cara Dusty dan Skipper menaklukkan Ripslinger.

Sebagai pelajaran, ‘Planes’ memberi inspirasi untuk selalu berbuat baik, bahkan kepada lawan sekalipun. Karena kita tidak akan pernah tahu kapan kita akan butuh bantuan mereka. That’s the main point, i guess.

The Hunger Games 2: Catching Fire


Sebetulnya saya kurang suka menonton film yang diangkat dari serial buku, semisal Harry Potter dkk. (kecuali Jason Bourne and its predecessors). Namun, saya sudah terlanjur menonton The Hunger Games akibat rekomendasi seorang kawan. Saya merasa harus melanjutkan serial ini seperti menamatkan serial Bourne quartology.

Survival, masih jadi isu utama film ini yang mencampur perjuangan atas nama cinta dengan naluri bertahan hidup individual. Saya cukup menikmati aksi Katniss Everdeen di sekuel ini. Padahal, saya sudah cukup tegang tidak akan mampu menamatkan film berdurasi dua jam lebih ini.

Saya tidak akan menulis review soal film ini. Biar saja para kritikus itu melakukan tugasnya. ‘Catching Fire’ adalah jembatan pembuka jalan yang bagus menuju sekuel edisi ketiga, To Kill A Mockingjay. Penggemar THG tentu harus bersabar untuk menunggu THG 3 dirilis dan menunggu bagaimana visualisasinya. Akankah mampu mereprentasikan cerita seperti dalam bukunya. Harap dicatat, saya belum membaca satu pun buku trilogi The Hunger Games.

Last but not least, scene ketika Katniss memanah langit untuk mendapatkan energi dari kilat yang menyambar adalah adegan favorit saya. Bagian paling dramatis dalam film ini. Katniss moves like she’s catching fire everywhere. What about you?


Pharmindo, 2 Februari 2014.

Sabtu, 18 Januari 2014

Bukan Sakit Biasa

"Orang emang nggak selamanya ada di bawah. Nggak selamanya kalo udah jatuh mesti tertimpa tangga. nggak selamanya juga lagi lari dikejar musuh, akhirnya nyusruk ke lubang. Ada kalanya nasib di bawah, terus bisa naik lagi sedikit-sedikit."

Setidaknya, paragraf diatas adalah satu dari sekian banyak quote dalam buku ini. Inti persoalannya sederhana. Bahwa dalam kehidupan sehari-hari keluarga Lupus pun ada banyak hikmah yang bisa diambil sebagai pelajaran.

Courtesy: www.goodreads.com

Anyway, Lupus ABG kembali hadir dengan 12 kisah baru. Plus, tips-tips keren yang bakal bikin kamu tambah kece. Cerita-cerita jayus khas Lupus sudah pasti jadi menu utama buku ini. Jangan heran kalau kelakuan Papi yang superpedit itu berubah disini. Selain itu, konteks cerita juga mulai menyesuaikan dengan laju zaman. Ada cerita tentang Papi yang hampir menabrak seorang Nenek, yang menyebrang jalan sambil mendengarkan lagu Raisa, Apalah (Arti Menunggu).

Cerita berjudul "Perpustakaan Kita" barangkali jadi satu bagian eksepsional disini. Bersama "Aids, Aids, Aids... Ciaaat!" kedua cerita ini merangkum kegelisahan dan respon kaum muda atas yang terjadi dalam lingkungannya. Kesadaran akan bahaya HIV/AIDS dan upaya mengembalikan fungsi rekreasional dari perpustakaan. Khusus untuk ini, perlu diberikan apresiasi tersendiri karena Lupus berhasil mengikuti roda zaman sekaligus menggugah kepedulian kaum muda.



Pharmindo, 18 Januari 2014.

Selasa, 22 Oktober 2013

Surat Pengunduran Diri

Ada perasaan yang berbeda saat membaca sebuah surat pengunduran diri seorang kawan. Sebuah pernyataan tegas bahwa ia akhirnya memutuskan untuk melepas segala yang pernah diraihnya disini. Meninggalkan semua yang telah bekerja bersama, bahkan bermain futsal dan berkeringat bersama. I've been there for one or twice. Setidaknya, saya paham bagaimana rasanya mengalami hal seperti itu.


Bagaimanapun, perpisahan serapi apapun dipersiapkan tetap saja pahit ketika diungkapkan. Semua terjadi demi satu alasan. Saya tidak perlu mengkonfirmasi alasan dibalik pengunduran dirinya. Saya percaya bahwa ia telah menunjukkan kuasa atas nasibnya sendiri. Ia telah menjadi cahaya bagi gelapnya hari di depan sana. 

Usai membaca suratnya, saya hanya bisa mengenang kembali tawa-tawa itu. Soal guyonannya sepulang dari Bangkok, mulutnya yang tak berhenti berkicau sepanjang perjalanan Bogor-Sentul untuk mencari 'PSK', hingga kelakuannya setiap bermain futsal; tidak pernah serius tapi selalu bikin gol. Satu yang tidak akan pernah saya lupa darinya adalah sepatu futsal brand premium yang sengaja ia beli ketika tahu bahwa sore itu kami akan menggelar futsal rutin. Ia bilang "Kalau beli barang yang bagus sekalian, biarin mahal juga. Kalau memang pas dapet yang murah, itu rejeki loe!."

Saya memang sudah jarang lagi bertemu dengannya. Terakhir, minggu lalu di sebuah training internal. Setiap kali ngobrol dengannya selalu saja ada cerita yang membuat kami tertawa. Itulah yang kami rindukan darinya. Saat ini, mungkin ia sedang menunggu jawaban dari surat pengunduran diri itu. Sambil mengangkasa entah ke belahan bumi mana. Bye, Capt. We'll miss you. Thank you for being a funny and humble jumbojet skipper in our line-up.

Paninggilan, 22 Oktober 2013.

Kamis, 26 September 2013

Yovie and His Friends: Irreplaceable #TakkanTerganti

Awalnya



Beberapa bulan lalu, dalam sebuah wawancara Yovie Widianto mengatakan bahwa ia akan menggelar sebuah konser pada bulan September ini. Kontan, sejak saat itu saya terus mengikuti konser apa gerangan September nanti. Waktu penantian itu semakin terasa kala saya mendapatkan informasi bahwa tiket presale untuk konser bertajuk “Irreplaceable: Takkan Terganti” ini pada konser 27 Tahun Kahitna, Juni lalu. Belum ada informasi mengenai artis-artis lain yang akan tampil dalam konser ini. Namun, Yovie sudah merilis beberapa nama penyanyi kondang yang akan menemaninya di konser perayaan 30 tahun berkarya di kancah musik Indonesia.

Saya turut mengantri demi mendapatkan tiket presale yang dikorting 50% sembari menunggu Kahitna naik panggung. Niat untuk mendapatkan tiket Festival (kelas paling murah) pun gagal karena kuota yang sold-out, lalu saya menggantinya dengan tiket Festival 1. Saya semakin deg-degan karena antrian sudah hampir bubar. Voila, I got the ticket! Selanjutnya, tinggal menunggu tanggal bersejarah dalam hidup saya sebagai penggemar dan penikmat karya-karya Yovie Widianto.
 

Belakangan, beberapa hari sebelum konser saya dengar iklan di radio bahwa ada additional musician yang akan tampil menemani Yovie Widianto di atas panggung. Sharon Corr dan Rick Price. Nama terakhir sudah tidak asing lagi karena bersama Kahitna, Rick Price sudah pernah menggelar konser dalam tur 5 kota tahun 2012 lalu. Kehadiran Sharon Corr tentu menjadi warna tersendiri dalam konser nanti. Violis sekaligus backing vokal The Corrs ini akan mengawali penampilan perdananya di Indonesia.

Menjelang konser dimulai saya kembali dilanda perasaan cemas. Bukan apa-apa, karena alasan pekerjaan saya masih dalam perjalanan Bandung-Jakarta. Saya berharap tentu dapat tiba di venue tepat pada waktunya. Saya juga belum menukarkan e-voucher dengan tiket resmi. Sudah jelas saya akan kehilangan banyak waktu disitu. 

Satu catatan untuk panitia. Begitu tiba di loket penukaran tiket, saya terkejut karena tiket saya (Festival 1) sudah habis. Saya sangat kecewa karena panitia tidak menghitung dengan pasti jumlah tiket yang dikeluarkan pada saat presale dengan pada saat show (D-day). Saya yang sudah mau marah-marah pada petugas tiket ditawari penggantian tiket Festival dengan kelas GOLD. Seketika, kemarahan saya mereda. Saya mendapatkan tiket kategori GOLD. Artinya, saya mendapatkan tempat duduk untuk menikmati konser musisi favorit saya. Yeay! Kalau Tuhan mau kasih ganti, pasti diganti dengan yang lebih baik.

The Show #TakkanTerganti

Marcell
Memasuki ruang konser, saya diberitahu penonton di sebelah saya bahwa saya tidak terlalu terlambat karena baru dua lagu yang dimainkan. Saya baru baca di satu portal berita bahwa Mario Kahitna memulai konser dengan lagu ‘Terlalu Cinta’ yang aslinya dinyanyikan oleh Rossa dan bersama Marcell melantunkan lagu ‘Katakan Saja’.

Marcell kembali membawakan lagu ‘Peri Cintaku’ dimana terdapat lirik yang sangat mengiris hati: “Tuhan memang satu, kita yang tak sama...”. Penonton dibuat histeris dengan penampilan Marcell. Tak lama, Rio Febrian tampil dengan menyanyikan potongan lirik lagu hitsnya: “Aku takkan bertahan bila tak teryakinkan.. sesungguhnya cintaku memang hanya untukmu...” Rio Febrian tampil bersama Dikta (Yovie and Nuno) meneruskan lagu “Bukan Untukku” itu.

RAN @RANforyourlife

Belum usai kejutan itu, RAN langsung menggebrak dengan membawakan lagu “Tentang Diriku” yang langsung membuat penonton bergoyang. Tak sampai usai, lagu “Andai Dia Tahu” langsung dibuat medley dengan sisipan lirik lagu “Suratku” yang diiringi Hedy Yunus. 

Selain menawarkan komposisi musik yang berbeda dari musisi yang tampil, konser Yovie kali ini juga menghadirkan banyak tawa lewat obrolan-obrolan di panggung. Misal, celetukan Hedy Yunus soal usia saat berkelakar dengan Rio Febrian. Belum lagi guyonan-guyonan khas Mario Ginanjar. Banyak juga ‘curcol’ dari penyanyi yang tampil didaulat membawakan lagu-lagu Yovie Widianto. Betapa bahagianya seorang Yovie karena karyanya bisa diterima dan everlasting di hati pendengarnya. Penonton dibuat tidak bosan menunggu Yovie and His Friends singing his greatest songs.

Alexa kemudian tampil membawakan hits legendaris yang mengawali perjalanan karir solo Hedy Yunus, “Suratku”. Bagi Soulmate Kahitna yang terbiasa dengan nuansa mellow dari lagu aslinya pasti akan dibuat terpana dengan versi band dari Alexa.

Andien dan Raisa

Andien dan Raisa tak kalah menggebrak. Andien membawakan lagu “Kini” yang lebih dulu dipopulerkan Rossa dan direcycle oleh Marcell. Paduan nada jazzy dari keduanya menjadikan lagu ini lebih catchy. Tidak berhenti disitu, Raisa langsung menyanyikan lagu hits dari Yovie and Nuno, “Dia Milikku”. Kesan ‘pertengkaran’ dalam lagu itu dibuat nyata dengan tarikan vokal Andien dan Raisa yang punya ciri khas tersendiri. Ada kejutan dalam lagu itu dimana disisipkan petikan lirik dari hits Kahitna, “Cinta Sendiri”.

Kahitna
Kahitna, sebagai band yang turut andil dalam karir musik Yovie Widianto, melanjutkan kegembiraan dalam konser dengan membawakan “Bunga Jiwaku” dan “Tak Setampan Romeo”, hits lainnya dari Yovie and Nuno. Soulmate menyambut penampilan Kahitna dengan riuh, seakan terpuaskan oleh penampilan idolanya. Kahitna kemudian mengajak Dikta dan 5Romeo untuk bernyanyi bersama. Mereka secara medley menyanyikan “Janji Suci” (Yovie and Nuno) – “Tak Sebebas Merpati” (Kahitna) – “Cinta Abadi” (5Romeo). Disela-sela obrolan panggung, mereka juga menyanyikan sepenggal lirik dari lagu Kahitna “Menikahimu”.

Seakan menangkap gairah penonton yang semakin memuncak, Yovie mengajak penonton untuk menikmati bersama karyanya bersama Kahitna yang mengantarkan mereka meraih penghargaan internasional pertama, “Lajeungan”. Lagu berbahasa Madura ini tampil semarak karena turut dihiasi oleh koreografi dari tiga vokalis Kahitna. Lajeungan pun menutup penampilan Kahitna.

Selang berganti, Hedy Yunus masih stay di panggung dan masuk Rio Febrian untuk tampil kembali membawakan lagu hitsnya “Ku Jatuh Cinta Lagi”. Usai bernyanyi bersama, keduanya terlibat dalam perbincangan seru bersama Yovie Widianto soal dibalik penciptaan lagu itu. “Jadi yang salah siapa?” selalu terucap tanya dari Rio Febrian yang dibalas Yovie dengan memainkan petikan lagu dari “Aku, Dirimu, Dirinya”. Cinta takkan salah. “Cinta nggak pernah salah...” balas Yovie. Berturut-turut kemudian Rio Febrian dan Hedy Yunus kembali bernyanyi medley pada bagian chorus “Merenda Kasih” (Hedy Yunus), “Aku, Dirimu, Dirinya” (Kahitna), dan “Lebih Baik Darinya” (Rio Febrian).

Usai tampil, Hedy Yunus dan Rio Febrian masih terlibat dalam perbincangan seru. Topik obrolan semakin mengerucut ketika mereka menantang Yovie untuk menciptakan satu lagu dalam waktu singkat (sekitar 4 menit) dimana nada dalam lagu itu nanti dipilih oleh penonton. Tak perlu waktu lama karena Masayu Anastasia segera naik panggung untuk memilih nada dari keyboard yang dimainkan Yovie. Penonton diberi kesempatan untuk memilihkan tiga kata yang akan menjadi lirik dalam lagu itu. Terpilihlah tiga nada yaitu Do-Si-Sol dan tiga kata: janda, sakit, dan melayang. Kata ‘janda’ diperoleh dari Titi Rajo Bintang yang duduk bersebelahan bersama Titi DJ sehingga Hedy Yunus segera menangkap kata ‘janda’ itu untuk dimasukkan dalam lirik lagu. Penonton kembali diberi kesempatan untuk memilih dua dari empat penyanyi yang akan menyanyikan lagu itu. Pilihannya, Mario Ginanjar, Hedy Yunus, Marcell, dan Rio Febrian. 

Masayu Anastasia naik panggung
 
Akhirnya, Marcell dan Rio Febrian terpilih bersama Yovie Widianto untuk menciptakan lagu dadakan itu di belakang panggung. Mario Ginanjar dan Hedy Yunus sontak menyatakan kepuasannya karena mereka sudah lebih duluan pengalaman soal ikut serta dalam penciptaan lagu dadakan dalam beberapa konser sebelumnya.
Sambil menunggu lagu dadakan itu selesai, penonton dihibur dengan kolaborasi Alexa dan RAN yang membawakan hits Yovie Widianto yang populer di tahun 90-an, “Cukup Sudah” yang dinyanyikan oleh penyanyi pendatang baru saat itu, Glenn Fredly. Penampilan dua band yang berbeda warna ini memberikan kesan yang lebih baru untuk lagu hits itu.

Rio Febrian dan Marcell

Tantangan untuk mencipta lagu sekejap pun akhirnya selesai. Yovie memainkan lagu dengan apik lewat keyboard andalannya. Tiga nada yang harus ada dalam lirik pun berhasil dikombinasikan selaras dengan tiga kata.

“Melayang ku denganmu, oh sakitnya, mungkin aku dulu tak sebaik saat ini. Kini engkau sendiri, mereka bilang kau janda, namun hatiku ingin temaniku"

Duet Marcell dan Rio Febrian yang didaulat menyanyi pun mendapat sambutan hangat dari penonton. "Ya, lagu ini judulnya 'Janda Melayang’.." celetuk Hedi Yunus yang langsung disambut tawa penonton.

Angela
Penonton seakan dibuat terus terpesona oleh Yovie. Yovie Widianto yang dikenal juga sebagai penghasil penyanyi muda bertalenta seperti Alika dan Angel Pieters, kembali membawa bibit muda lainnya yaitu Angela dari Negeri Kincir Angin, negerinya Van Basten dan Ruud Gullit. Angela yang tampil anggun menyanyikan lagu “Sebatas Mimpi”. Bukan yang biasa dibawakan Hedy Yunus dalam versi Bahasa Indonesia, tetapi versi recycle campuran Bahasa Inggris dan Indonesia. Penampilan pertama Angela pun mendapatkan sambutan meriah. Di akhir lagu, Yovie menyatakan harapannya agar bisa bekerjasama lebih lanjut dengan Angela. Satu lagu penyanyi bertalenta siap mewarnai langit musik Indonesia.

Yovie dan Sharon Corr
Sharon Corr kemudian masuk panggung. Violis The Corr ini membuka penampilannya dengan memainkan “Toss The Feathers” diiringi band pengiring. Rasanya, sama ketika melihat penampilan The Corrs memainkan lagu yang sama dalam konser mereka di Landsdowne Road. Sharon melanjutkan penampilannya dengan menyanyikan lagu hits The Corrs yang sudah akrab di penikmat musik Indonesia, “So Young” dan “Radio”

Penampilan Sharon ditutup dengan duet bersama Andien membawakan lagu soundtrack dari SEA Games 2011 “Together We Will Shine (Kita Bisa)”. Sebelum turun panggung, Sharon menyatakan rasa bangganya bisa sepanggung dengan Yovie Widianto. Ia juga menyatakan bahwa ia telah merilis album singlenya dan akan kembali ke Indonesia tahun depan untuk menggelar konser tunggalnya. "Thank you, terima kasih. I'm lucky to play with you." ucap Sharon.

Duet Andien dan Sharon Corr
Usai penampilan Sharon Corr, Rick Price tampil lewat video footage/testimonial yang menceritakan tentang asal muasal ia bisa bekerjasama dengan Kahitna. Ia sungguh senang bisa kembali tampil sepanggung bersama Kahitna. Rick Price menyebut Yovie Widianto sebagai musisi jenius. Seperti saya sudah singgung, Rick Price memang pernah menggelar konser bersama Kahitna dalam rangkaian tur lima kota.

Rick Price kemudian bersama Kahitna membawakan lagu yang mereka ciptakan bersama, “Everybody Need Somebody”. Sepintas lagu ini agak mirip komposisi nada lagu “September” dari Earth Wind And Fire. Betul saja, di tengah lagu disisipkan potongan lirik lagu “September”.

Apa yang kamu harapkan ketika seorang Rick Price berdiri di panggung? Mario Ginanjar meminta Rick Price untuk membawakan sebuah lagu. “Please, sing for us, our favorite song.” Begitu kata Mario. Seakan mengerti, Rick Price kemudian membawakan hits legendarisnya “Heaven Knows”. Penonton pun langsung ikut larut bernyanyi sepanjang lagu. Saya sempat merinding ketika di bagian reff seluruh penonton ikut bernyanyi, “Maybe my love will comeback someday... Only heaven knows”. Rick Price pun langsung berkomentar, “Oh, that’s beautiful”.

Rick Price
Saya kira, penampilan Rick Price ini adalah bagian dari penutup konser. Namun ternyata saya salah karema Raisa kembali naik panggung setelah video promo film “Mantan Terindah” yang akan tayang 2014 nanti. Raisa menyanyikan hits patah hati yang selalu bikin gagal move on, “Mantan Terindah”. Keindahan suara Raisa kembali menghipnotis penonton untuk ikut bernyanyi bersama. “Mau dikatakan apa lagi... Kita tak akan pernah satu...”



Carlo Saba dan Yovie and Nuno menyambung penampilan Raisa dengan hits “Menjaga Hati”. Disambung kembali oleh Kahitna dengan “Cerita Cinta” dan “Cantik” yang dimainkan dengan aransemen dan komposisi baru yang lebih atraktif. Menjelang akhir konser, satu persatu artis pendukung bersama menyanyikan "Takkan Terganti" dan "Hanya Untukku" (Chrisye) dilanjutkan dengan medley “Juwita (Lebih Dekat Denganmu)” (Yovie and Nuno) dan “Kemenangan Hati” (Yovie Widianto feat. Dirly & Gea Idol). Mereka semua berada dalam satu panggung bersama Yovie Widianto. Mereka sangat berterima kasih karena dipercaya Yovie untuk membawakan karya-karyanya. Sedang, Yovie sangat senang karena karya-karyanya bisa diapresiasi dengan baik oleh dunia musik Indonesia.

Konklusi

Seperti konser Metallica bulan Agustus lalu, konser ini adalah satu lagi mimpi dan pencapaian buat saya yang mulai jatuh cinta pada karya Yovie Widianto sejak zaman 'Cerita Cinta' hingga kini. Saya telah melewatkan beberapa penampilan spesial Yovie Widianto bersama Kahitna, salah satunya adalah rangkaian konser tur lima kota bersama Rick Price tahun lalu. Maka, ketika saya mendapatkan kabar langsung dari Yovie tentang gelaran di bulan September ini, segera saja saya bersiap-siap untuk jadi satu dari 5000 penonton di Jakarta Convention Center. Saya pun sangat bersyukur karena tiket presale Festival 1 milik saya bisa 'diupgrade' oleh panitia ke Gold. Terima kasih untuk rekan-rekan kantor yang 'menahan' saya di Bandung beberapa jam sebelum konser dimulai. Tuhan memberkahi kalian.


Kesungguhan Yovie Widianto dalam berkarir menghasilkan sebuah totalitas yang tidak diragukan. Raihan penghargaan internasional pertamanya diraih bersama Kahitna berkat lagu “Lajeungan”. Untuk ukuran saat itu, belum banyak musisi Indonesia yang mampu membuat aransemen seperti dalam “Lajeungan”. Saya pertama kali menikmati “Lajeungan” dari CD album “25 Tahun Kahitna”.

Bagi Yovie Widianto, konser ini sangat berarti sekali karena kehadiran keluarga besarnya. Betapa bahagianya seorang Yovie Widianto karena istri, anak, serta Ibunda tercinta yang sempat meragukan pilihannya untuk menjadi musisi , dapat turut hadir menyaksikan penampilannya bersama dengan rekan musisi lain. Yovie berhasil membuktikan bahwa melalui musik, ia tidak perlu jadi diplomat untuk bisa keliling dunia. Yovie juga mengucapkan terima kasihnya kepada keluarga besar almarhum Elfa Secioria, guru musik yang sangat dihormatinya, untuk telah hadir bersama 5000-an penonton yang memenuhi JCC.

Selain menghasilkan hits untuk Kahitna, Yovie juga berhasil menciptakan hits bagi penyanyi lainnya. Sebut saja Rossa, Rio Febrian, Marcell, Glenn Fredly, Ruth Sahanaya, Hedy Yunus, Febby Febiola dan masih banyak penyanyi lainnya. Lewat Yovie Widianto Music Factory, ia juga telah mengorbitkan penyanyi baru seperti Alika @alikaislamadina dan Angel Pieters. Melalui Yovie and Nuno, Yovie juga menciptakan hits populer seperti “Inginku Bukan Hanya Jadi Temanmu”, “Indah Kuingat Dirimu”, “Janji Suci”, “Menjaga Hati”, “Galau” dan masih banyak lagi.

Melalui konser peringatan 30 tahun berkarya, Yovie seakan mengingatkan pada penyanyi pendatang baru bahwa karakter suara lebih penting dibanding keindahan suara itu sendiri. Banyak penyanyi yang mengandalkan suara emas mereka tanpa memperhatikan kualitas karakter suara. Akibatnya, banyak penyanyi yang ‘gagal’ dalam menapaki karir di belantika musik Indonesia. Selain itu, komposisi dan improvisasi adalah nilai tambah bagi sebuah musisi. Dengan komposisi yang teratur dan improvisasi  yang tepat sebuah lagu bisa memiliki berbagai nuansa.

Kehadiran dua penyanyi asing sebagai  featuring artists adalah kejutan yang sangat spesial. Sharon Corr yang selama ini hanya jadi violis dan backing vokal untuk Andrea Corr mampu menunjukkan kemampuan vokal yang prima diusianya yang sudah berkepala empat. Pun, Rick Price yang kelihatan semakin gaek, masih bisa menyanyikan “Heaven Knows” dengan cemerlang. Satu lagi impian saya terwujud: menonton seorang Sharon Corr membawakan lagu-lagu The Corrs. “Toss The Feathers” yang dimainkan Sharon adalah ekstasi saya malam kemarin. Saya sangat bersyukur karena saya dapat melihat langsung Sharon Corr memainkan nada-nada dalam lagu instrumental itu. Saya anggap penampilan Sharon Corr ini sebagai ganti dari konser The Corrs yang batal digelar awal 2000-an lalu.

Rasanya tidak berlebihan bila sepak terjang dan kontribusi Yovie Widianto disamakan dengan maestro musik dunia sekelas David Foster. Banyak orang yang mengibaratkan Yovie Widianto sebagai David Fosternya Indonesia. Yovie pun tidak mengelak dari apresiasi semacam itu karena David Foster dinilainya sebagai satu musisi yang berpengaruh terhadap musik yang diciptakannya.

Menonton konser Yovie and His Friends ini ibarat juga menyaksikan show David Foster and Friends. Kurang lebih, konsep yang ditampilkan sama antara keduanya. Mereka bersama-sama dengan musisi lainnya berkolaborasi dalam satu pertunjukan yang tentu saja spektakuler. Satu contoh saja. Dalam setiap konsernya, David Foster selalu menyertakan talenta baru untuk ia bawa. Seperti Charice Pempengco yang diajaknya berduet menyanyikan “Because You Loved Me” dengan Celine Dion dalam David Foster and Friends Concert 2008. Malam kemarin, Yovie pun menampilkan bakat baru temuannya, Angela.

Bila pembaca memang pernah menyaksikan pertunjukan David Foster (via DVD, Youtube, or else) dan sempat hadir di JCC kemarin, saya rasa pembaca pun akan merasakan hal yang sama dengan yang saya rasakan. Keduanya adalah maestro dengan karya-karya emas yang diterima dan diapresiasi dengan baik oleh sesama rekan musisi mereka. Tak heran, kelak keduanya akan menjadi torehan tinta emas dalam sejarah musik Indonesia dan dunia.

Happy Lucky Me!


JCC-Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 25-26 September 2013

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...