Tampilkan postingan dengan label travelogue. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label travelogue. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Desember 2021

Minggu, 31 Maret 2019

Surat dari Montreal (1)

Bapak,

Apa kabar Bapak disana?

Tentu barangkali Bapak sudah tahu soal kepergian saya ke Kanada. Negara berbahasa Perancis di belahan Amerika Utara. Tidak ada yang saya tahu soal negara itu kecuali Celine Dion, Winter Olympic Calgary 1988, dan Toronto Maple Leafs. Yang terakhir itu, saya kenal dari game NHL di PlayStation, walau bukan tim unggulan tapi saya selalu menang ketika memainkannya.

Saya tidak tahu berapa lama perjalanan ke negara itu sampai saya merasakannya sendiri. Perjalanan Bapak tahun 1985 silam ke Sevilla, Spanyol, tentulah lebih singkat dibanding dengan perjalanan saya. Saya menghabiskan waktu kurang lebih 27 jam untuk tiba di ibukota provinsi negara bagian Quebec ini. 

Dari Jakarta menuju Doha, saya terbang 8 jam dengan pesawat 787, sebuah pesawat dengan teknologi paling efisien dikelasnya. Saya melanjutkan penerbangan ke Montreal setelah transit selama 2,5 jam (waktu efektif hanya 30 menit) dengan pesawat 777. Saya duduk selama 22 jam (according to flight computer di entertainment system). Untung, maskapai nasional Qatar ini punya wi-fi di pesawatnya, jadi saya tidak kesulitan menghubungi keluarga di rumah.

Saya masih menatap jendela di terminal kedatangan. Bahwa saya masih tidak percaya bisa berada disini. Entah nasib apa ini namanya. Yang jelas, keinginan saya untuk berada di satu tempat yang lebih jauh dari Bapak dulu di Sevilla, sudah tercapai. Saya disini untuk menuju ke satu tempat dimana semua orang penerbangan mendambakannya (looks lebay ya, Pak). Tetapi, tetap saja, ini semua tidak sempurna karena Bapak sudah tidak ada lagi bersama kami.

Semoga Bapak selalu tenang disana, kami akan selalu mendoakan engkau. Dimana pun, kapan pun.

Bonjour, salam dari Montreal.


Jakarta-Montreal, 17 Maret 2019.


Jumat, 28 Juli 2017

Saucy Crab and a Despacito

 
Sepengalaman saya berkunjung ke Balikpapan, baru kali ini saya makan di sebuah restoran kepiting khas setempat. Restoran Dandito namanya. Terletak di Jalan Marsma Iswahyudi, tidak jauh dari Bandar Udara Internasional Sultan Aji Mahmud Sulaiman, Sepinggan, sekitar 2 KM ke arah kota. Kebetulan, kami tinggal di hotel yang berbatasan dengan tembok pembatas bandara. Sehingga, satu arah menuju kesana.

Well, saya bukan seorang penggemar seafood apalagi kepiting. Namun, saya semakin penasaran karena kini keipitng tidak hanya disajikan sebagai masakan seafood belaka. Kepiting kini memasuki era sejarah baru dengan adanya Bonting (Abon Kepiting) dan keripik kepiting. Saya juga tidak punya referensi kuliner yang cukup di Balikpapan jadi saya ikuti saja kemana angin berhembus. Kami berempat pun akhirnya sepakat kesana.

Suasana makan malam di restoran ini cukup meriah. Ada live band akustik membawakan lagu-lagu terkini, termasuk lagu 'Despacito' yang sangat mengganggu telinga saya. Tak lama, menu pesanan pun tiba. Kepiting Soka Asam Manis dan Kepiting Goreng Saus Lada Hitam.

Harga kepiting disini sebanding dengan apa yang kita dapatkan. Kepitingnya besar dan kepiting gorengnya tidak amis dan empuk. Ada kesegaran didalamnya. Termasuk bumbu saus lada hitam dan saus asam manis yang disajikan. Sebagai pelengkap, kami menambah Cah Kangkung untuk menemani syahdunya Senin malam di Sepinggan. Lidah kami digoyang kenikmatan.

Keesokan harinya, saya jogging pagi lewat restoran itu lagi. Terlihat pemandangan karyawan yang sedang melakukan bongkar muat kepiting. Saya melihat sendiri bagaimana cara mereka menangani menu utama mereka yang paling kesohor. Setidaknya, ada alasan mengapa kita bersedia untuk memberi lebih demi sajian kepiting.

Saya merekomendasikan restoran ini untuk sebuah sajian kepiting yang mengesankan.Walaupun agak mahal, namun sebanding dengan kelezatannya.


Balikpapan-Tangerang Selatan,  24 Juli 2017.



Daging Asap 12 Jam

Saya tertarik untuk mendatangi Marty's Smokehouse sejak menyaksikan liputan mereka di sebuah saluran televisi. Dalam rubrik kuliner yang hanya tayang 5 menit itu, tidak terasa bahwa air liur mulai mengalir deras dan membuat saya penasaran untuk segera mencicipinya. Saya harus segera pulang ke Bandung. 


Keinginan itu baru terwujud awal bulan ini ketika saya dan istri benar-benar menyempatkan waktu untuk makan siang disana. Tidak terlalu sulit untuk menemukan lokasi restoran yang menyajikan menu daging yang telah diasapi selama 12 jam. Letaknya, tidak jauh dari Gedung Sate dan bersebelahan dengan sebuah hotel.

Saya awalnya berniat untuk memesan daging sapi asap, seperti apa yang ada dalam liputan lalu. Tetapi, saya menemukan pilihan lain yaitu Combo Platter yang berisikan Beef Brisket, Jerk Chicken, Cocktail Sausages dan Fries (kentang goreng). Disajikan dengan saus khas racikan mereka: Caramel Glaze, Peri Peri, dan Origin BBQ. IMHO, ini adalah pilihan terbaik untuk first comer. Anda akan punya pilihan untuk lebih menikmati daging sapi atau daging ayam. Satu menu ini masih cukup untuk 3 orang. 

Sensasi yang dihasilkan beef brisket memang luar biasa. A juicy taste filled our mouth. Kami menemukan sensasi yang berbeda ketika mencoba daging ayamnya. Crunchy! dan yang jelas: Enak! Ngeunah pisan, euy!

Saya suka ambien restoran yang buka jam 11.00 WIB dan tutup jam 23.00 WIB ini. Anda bisa memilih outdoor atau indoor. Ada berbagai macam menu pilihan lain untuk menemani santapan khas daging asap mereka. Pun dengan pilihan beverages yang beragam. Cocok untuk penyuka menu daging-dagingan. Harga menu-menu mereka tergolong middle-to-high, tetapi sebanding dengan pengalaman dan sensasi yang dirasakan.

Akhirul kalam, anda bisa makan apapun selama anda menyukainya, tetapi jangan lupa pesan Rasulullah Muhammad SAW: berhentilah sebelum kenyang. 


Bandung, 6 Juli 2017.

Rabu, 28 Desember 2016

Stalking Indonesia with Margie!

"Mendidik satu desa penduduk tempat daerah wisata tentunya jauh lebih mudah dibandingkan mendidik 1.000 turis tengil sok tahu asal berbagai kota besar di Indonesia." 
("Tuh Lumba-lumba", hal. 79)

Courtesy: www.goodreads.com
  
Istilah "stalking" menjadi populer belakangan ini ketika media sosial semakin populer dan aksesibel pada semua lapisan masyarakat. Lengkap satu paket dengan pelakunya yang biasa disebut sebagai "stalker". Stalking bukan hanya berarti sekedar aktivitas melihat-lihat saja. Tetapi juga, mengetahui lebih banyak mengenai satu objek tertentu. Stalking Indonesia tentunya tidak lepas dari latar tersebut.

Stalking Indonesia bukanlah local guide semacam Lonely Planet dan buku-buku lain yang sejenisnya. Stalking Indonesia bukan juga buku panduan tentang bagaimana caranya berwisata di berbagai daerah tujuan wisata di Tanah Air. Stalking Indonesia bukan juga catatan perjalanan biasa. Ia adalah buku traveling eksepsional. Ia lahir dari keraguan penulisnya karena tulisan-tulisannya tidak seperti yang biasa dijumpai di travel blog. Ia justru mampu mengungkap lebih jauh secara mendalam tentang suatu objek wisata.

Ia ditulis oleh seorang penggila jalan-jalan dengan rasa ingin tahu yang sangat besar dimana secara obsesif penulisnya selalu ingin ngulik, mengintip, dan melacak semua seluk beluk setiap objek atau tujuan wisata yang dikunjunginya. Akibatnya, informasi yang sampai pada pembaca tergali habis, mulai dari hal-hal yang sepele hingga yang lebay-lebay.

Agaknya, bila kita mau menarik benang merah dari semua catatan Margie dalam buku ini, kita dapat menemukan problem yang sama; repetitive problem di hampir semua objek wisata Tanah Air. Kita tentu menyayangkan mengapa biaya untuk menginap di Raja Ampat begitu mahal. Tetapi, kita juga mafhum bila ternyata harga yang dipatok terlalu mahal itu ternyata demi kelestarian alam sekitar Raja Ampat juga, misalnya. 

Margie yang bangga dengan kebiasaan stalkingnya ini setidaknya membuat kita para pembaca menjadi 'lebih tahu dari tahu'. Bukan hanya sekedar tahu cara ikut melihat pemandangan luar biasa di Bumi Ibu Pertiwi ini, tapi juga melihat sisi-sisi lain dibaliknya, tentang isu dan konflik yang terkadang ikut menyusunnnya. Sebagai bonus, Margie juga memberi kita pilihan. Mau pilih perjalanan pangkal kaya atau perjalanan penuh gengsi. It's up to you. Happy traveling and happy stalking!

Judul                   : Stalking Indonesia
Penulis               : Margareta Astaman
Penerbit             : Penerbit Buku Kompas
Tahun                 : 2014
Tebal                  : 198 hal.
Genre                 : Sosial-Budaya


Cipayung, 26 Desember 2016.

Senin, 14 September 2015

Batavia: Kisah Kapten Woodes Rogers dan Dr. Strehler

Sejarah adalah hal yang selalu menarik untuk diulang kembali. Termasuk, kehadiran buku yang menerbitkan kembali sejumlah artikel bertema sejarah Batavia. Buku ini memuat kembali tulisan-tulisan Frieda Amran dalam Rubrik Wisata Kota Toea harian Warta Kota. Ini merupakan sebuah pengakuan bahwa tulisan-tulisan tersebut memiliki nilai yang bukan hanya sekedar nilai jual tetapi juga nilai-nilai sosio-historis yang menggambarkan suasana tempo dulu di Kota Jakarta.


Frieda Amran tidak hanya menulis tentang kawasan perdagangan yang dulu pernah dikelilingi tempok penanda kota itu. Artikel lainnya juga memotret asal muasal nawa kawasan, bangunan landmark suatu wilayah, tokoh-tokoh, dan tentang budaya, kebiasaan, perilaku, dan potret sosial Jakarta tempo dulu.

Kisah perjalanan "Kapten Woodes Rogers dan Harta Karun Armada Spanyol" jadi cerita pembuka buku ini. Kapten Woodes Rogers adalah pelaut Kerajaan Inggris yang ditugasi menghalau dan merampas muatan kapal-kapal Spanyol yang berlayar dari Amerika Selatan. Alasannya, kapal-kapal Spanyol mengangkut emas dan barang-barang berharga lainnya dari tanah jajahan mereka. Buat saya, cerita itu menegaskan kembali apa yang pernah dikatakan Ibu Guru Sejarah dulu, "Britannia Rules The Waves!".

Cerita yang agak panjang ada pada cerita kedua setelah kejayaan Sang Kapten Woodes Rogers. "Terang Bulan di Laut: Menuju Batavia" adalah kisah petikan dari buku harian seorang dokter berkebangsaan Jerman, dr. Strehler. Ia adalah seorang tenaga medis di sebuah kapal Belanda yang bulak-balik berlayar ke Tropisch Nederland (Belanda Tropis) alias Hindia Belanda. Catatan hariannya itu kemudian terbit pada tahun 1833 sebagai buku berjudul: "Bijzonderheden wegens Batavia en deszelfs omstreken: uit het dagboek gedurende twee reizen derwaarts in 1828-1830 van Dr. Strehler.

Setelah cerita tersebut, penulis mengangkat kisah-kisah lain seputar kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Secara rinci namun ringan penulis menceritakan perbedaan yang dialami oleh warga Batavia yang heterogen, kemegahan khas Eropa di khatulistiwa, suasana Passer Baroe (Pasar Baru), kehidupan kesenian di Gedung Kesenian (Schouwburg), suasana malam minggu di Batavia, kenikmatan pijat dan musik, hingga persoalan akomodasi di Batavia tidak luput dari perhatian penulis.

Pada umumnya, buku ini bercerita tentang hal-hal menarik yang terlewatkan dan dilewatkan begitu saja oleh ahli-ahli sejarah, karena untuk penelitian mereka itu tidaklah penting, terlalu ringan atau terlalu rinci. Bagaimana cerita pelaut-pelaut pertama yang berlayar selama delapan bulan di laut lepas sebelum kapal mereka membuang sauh di perairan Sunda Kelapa? Apa yang dimakan di kapal? Apa saja yang dilakukan untuk mengusir kejenuhan dan rasa bosan? Cerita-cerita ringan itu justru memuat gambaran menarik mengenai orang Indonesia sehari-hari. Cerita kehidupan sosial sehari-hari orang Belanda, orang Indo-Belanda dan orang Indonesia di Batavia merupakan bagian sejarah yang tak kalah pentingnya dengan isu penjajahan dan masa pemerintahan Hindia-Belanda.

Buku ini tidak seperti buku-buku sejarah pada umumnya. Penampilannya ringkas, mudah dibaca, dan tidak terlalu tebal (untuk ukuran buku sejarah). Buku ini bisa dibaca sekali duduk hingga tamat. Penulisnya sangat mampu untuk membuat tulisan sejarah yang nyaman tanpa pembaca harus merasa sedang dibebani tugas untuk menamatkan pembacaan karya ilmiah kesejarahan. 

Akhir kata, penerbitan kisah-kisah lama ini demi meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesejarahan, terutama dalam memahami konteks zaman keemasan Batavia yang sempat dianggap sebagai kota yang paling modern di Asia Tenggara sejalan dengan niat mulia untuk membantu meningkatkan kepedulian dan minat pada sejarah dan warisan budaya, khususnya periode emas Batavia. Serta, Sejarah Indonesia umumnya.


Judul           : Batavia: Kisah Kapten Woodes Rogers dan Dr. Strehler
Penulis        : Frieda Amran
Penerbit      : Penerbit Buku Kompas
Tahun         : 2012
Tebal          : 128 hal.
Genre         : Sejarah-Sosial dan Budaya


Medan Merdeka Barat, 14 September 2015.

Selasa, 11 Agustus 2015

Jejak Mata Pyongyang: Sebuah Jejakan

"Sang pemimpin telah menyatakan dengan jelas bahwa manusia adalah makhluk sosial dengan Chajusong, kreativitas dan kesadaran."
- Kim Jong-Il, On the Juche Idea (1982: 9)



Seno Gumira Ajidarma datang ke Pyongyang sebagai juri pengganti untuk Festival Film Internasional Pyongyang ke-8 pada tahun 2002 silam. SGA menggantikan Marselli Sumarno di ajang bernama Festival Film Negara-Negara Non-Blok dan berkembang Lainnya (8th Pyongyang Film Festival of Non-Aligned and Other Developing Countries). Festival ini berlangsung dari tanggal 4 sampai 13 September 2002. Festival ini berlangsung setiap dua tahun sekali, sebagai negara sahabat Indonesia selalu mengirimkan film dan delegasi kesana.

Buku ini tampil dengan desain lansekap, memuat 10 esai dan 1 tulisan pengantar dengan cetakan warna foto hitam putih. Tampilan seperti ini sungguh mengungkap nilai klasik di setiap karya fotonya. Maklum, saat itu belum musim kamera digital. Sehingga, ia yang sudah terlanjur akrab dengan kamera SLR manual Nikon FM-5 berusaha mendapatkan gambar sebanyak mungkin.

Cerita dibalik datangnya SGA ke negeri komunis ortodoks ini semakin menguatkan profil SGA sebagai kritikus film selain karena bukunya yang berjudul "Layar Kata: Menengok 20 Skenario Pemenang Citra, Festival Film Indonesia, 1973-1992" (Yayasan Bentang Budaya, 2000). Pada buku ini, mohon maaf apabila pembaca tidak banyak mendapatkan jejak mata dari film-film yang beradu di festival. SGA memusatkan perhatiannya pada kota Pyongyang itu sendiri. Kota yang jadi ibukota Republik Rakyat Demokratik Korea, negeri komunis ortodoks yang masih tersisa di muka bumi. Untuk tidak menyebutnya sebagai ibukota Korea Utara.

SGA mengamati bermacam-macam perilaku manusia selama 17 hari masa penugasannya. Ia menghasilkan catatan dan jejak mata berupa foto-foto, yang hanya bisa didapatkan dengan menyiasati berbagai larangan. Ia sendiri heran mengapa baru bisa mulai menulis kembali semua kesan yang menempel diingatannya 10 tahun kemudian.

Kematian Kim Jong-Il punya peran besar dalam penulisan pengalaman yang sudah satu dekade berlalu. Selain itu, cerpennya yang berjudul "Melodrama di Negeri Komunis" yang ditulisnya semasa tinggal di Pyongyang juga sudah dibukukan dalam "Aku Kesepian, Sayang: Datanglah Menjelang Kematian" (Gramedia Pustaka Utama, 2002) dan dimuat kembali dalam harian Media Indonesia, 1 Desember 2002.

Tulisan diawali dengan esai pengantar mengenai alasan kedatangannya ke Pyongyang hingga momen penyadaran yang membuatnya mau menuliskan kembali segenap pengalamannya itu. Satu hal yang tidak pernah berubah. Foto Lenin dan Karl Marx di pusat kota Pyongyang. Esai kedua memuat pengalaman unik  ketika para juri tiba di restoran. Esai ketiga berjudul "Ditempel Intel Mehong", bercerita tentang para pemancing di tepi sungai yang ditemui SGA ketika memotret sambil menikmati pagi. Rupanya, satu diantara pemancing itu adalah seorang intel karena SGA mendapat 'teguran' ketika bertugas sebagai juri pada siangnya.

Potret kehidupan masyarakat yang semakin dalam dapat dibaca pada catatan selanjutnya yang berjudul "Regulasi Cinta & Escort Lady", "Ribetnya Memotret di Pyongyang", "Modernitas Serba Kelabu", "Dalam Penjara Ideologis" dan "Busana Formal Kaum Proletar". SGA mengalami keseragaman total sebagai corak utama negeri yang dibangun atas filsafat komunisme Juche. Seno juga mempersoalkan dialektika materialisme dengan sosialisme, serta hubungannya dengan semangat patriotisme yang menurutnya kelabu. Negara ini juga termasuk unik, karena selalu menganggap dirinya modern, walaupun pemahaman modern disini tidak memiliki arti yang sama dengan modernitas yang dialami negeri komunis lainnya seperti Vietnam dan China.

Seno juga menunjukkan gugatannya atas peranan Negara terhadap kehidupan rakyatnya. Seperti kemunafikan, begitu tulisnya, saat menjumpai permainan judi di lantai dasar hotel yang ditempatinya. Negara sudah jelas menjadi bandar atas permainan judi itu, yang juga merupakan simbol kapitalisme diatas semangat ideologi anti-kapitalismenya.

Saya bersyukur karena tulisan Seno Gumira Ajidarma ini dibuat tidak dalam konteks untuk media tertentu. Sehingga terjadi penyesuaian dimana-mana, dipantas-pantaskan, agar layak bagi pembaca dengan citra yang sudah ditentukan. Alih-alih melaporkan, yang dikerjakan menjadi proyek pencitraan media bersangkutan. Segenap tulisannya ini berusaha menangkap fenomena penindasan rakyat oleh pemerintah negerinya sendiri.

Pandangan untuk melawan imperialisme Amerika Serikat dihayati oleh para pemimpin dan rakyatnya dengan naif. Kesimpulannya, Rakyat Republik Rakyat Demokratik Korea dibangun dengan konsep sebuah studio film, tempat rakyatnya meyakini kehidupan di dalam studio film yang serba artifisial itu sebagai sesuatu yang nyata. Segalanya kembali ke tangan bangsa Korea, untuk merebut sendiri kebebasannya, jika memang pembebasan merupakan suatu jawaban.


Judul        : Jejak Mata Pyongyang
Penulis     : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit   : Muffin Graphics (PT. Mizan Pustaka)
Tebal        : 156 hal.
Tahun       : 2015
Genre       : Travelogue-Esai (dengan gambar)


Dharmawangsa, 11 Agustus 2015.




Kamis, 23 Juli 2015

Pizza Sambal Matah

The biggest lie i tell myself is i'm only going to eat one slice of pizza.
- Anonim

Sekali waktu, saya menikmati senja di Kuta, Bali. Entah sudah berapa kali senja pernah saya lewati di Bali, tepatnya di Sanur dan Tanah Lot. Tapi baru kali ini saya benar-benar mengalami senja di Kuta, Bali.

Saya dan seorang kawan sengaja menghabiskan waktu ngabuburit di pinggir pantai. Mataharinya sedang bagus, tidak tertutup awan. Senja yang semburat dengan jingga akan menjadi penutup hari yang indah. Kami pun duduk santai di sebuah resto bar and grill. Kata teman saya, pizza disini enak.

Kami langsung memesan pizza yang direkomendasikan itu. Namanya Pizza Mozzarella Sambal Matah. Dari namanya saja, langsung terbayang perpaduan antara sambal matah yang tradisional itu bersama pizza dan keju mozzarella.


Tak lama usai adzan Maghrib berkumandang di ponsel, kami segera menikmati pizza yang unik ini. Lapisan roti pizza dibuat tidak terlalu tebal sehingga menjaga kerenyahannya. Freshly from the oven, masih dengan lelehan keju mozzarella dan sambal matah yang mengelilingi topping pizza.

By the way, this is recommended one. Sesudahnya, saya merasa cukup kenyang. Barangkali, karena pizza ini hanya dinikmati berdua saja. Urusan harga, it's really worth your money. Mamamia!


Kuta, 8 Juli 2015.

Rabu, 22 Juli 2015

Ini Dia Kuliner Makassar!

Ada beberapa hal yang ingin saya lakukan bila berkunjung ke Makassar. Makan enak, itu salah satunya. Selama ini, saya hanya tahu kuliner khas Makassar lewat televisi dan media cetak. Makanan semacam Pisang Ijo, Pallubutung, Konro dan Coto, belum pernah mendarat dengan mulus di lidah. Maka, ketika kesempatan itu tiba, saya tidak melewatkannya.

The Chronicles of Pisang Ijo & Jalangkote

Menu kuliner khas Makassar yang pertama saya coba adalah Pisang Ijo. Senang sekali bisa mencicipi penganan segar ini langsung di tempat Pisang Ijo dilahirkan. Pisang Ijo pertama saya di Makassar ini beralamat di Rumah Makan Muda Mudi, Jalan Rusa No. 45 Makassar. Usai menikmati kesegarannya, saya memesan Jalangkote. Jalangkote adalah penganan semacam pastel, namun yang ini khas Makassar.



Kedua menu tadi jadi penutup hari pertama saya di Makassar. Pilihan yang tidak terlalu salah untuk menikmati buka puasa pertama saya di Bumi Para Daeng. Saya dan teman-teman masih berencana untuk menikmati pengalaman kuliner khas Makassar lainnya. Esok hari, kami akan mencari Konro Bakar. Tentu saja, sepulang dari tugas di Kantor Otoritas Bandar Udara, dekat Bandara Sultan Hasanuddin sana.

Konro Bakar Karebosi

Senja masih lama turun. Terik matahari menemani sore yang panas pertanda kemarau. Usai menyimpan tas dan mengganti baju di hotel, kami segera bergegas menuju Lapangan Karebosi. Konon, dekat sana ada Rumah Makan spesial yang menyajikan konro bakar. 

Tak jauh dari Lapangan Karebosi, pengemudi mobil yang kami sewa membawa kami menuju Rumah Makan Konro Bakar Karebosi. Kami berusaha untuk tiba lebih awal karena khawatir tidak kebagian tempat. Maklum, tempat makan ini selalu penuh menjelang waktu berbuka puasa. 



Pesanan kami tiba 10 menit sebelum Adzan Maghrib. Sepuluh menit kemudian, kami sudah lahap dan menafsir pengalaman masing-masing dengan Konro Bakar ini. Daging konro ini dibakar dengan sempurna, well done. Diracik dengan bumbu tertentu yang membuatnya empuk dan memiliki cita rasa rempah yang khas, dipadu dengan bumbu kacang dan kuah. Barangkali, bila kami memakannya tepat setelah konro disajikan, tentu akan lebih mudah menaklukkan bagian lemak yang terlanjur mengeras. Overall, this is the best!

Aroma Coto Gagak

Perjalanan kami belum selesai. Kami masih ingin mencoba Coto Makassar. Sambil menunggu Konro Bakar dicerna dan memberi ruang untuk menu selanjutnya, kami pulang dulu ke hotel di Losari. Bang Azhar, pengemudi kami, merekomendasikan satu tempat makan Coto Makassar yang pernah dikunjungi Jokowi ketika kampanye tahun lalu.



Kami pun mengiyakan saja ketika ia membawa kami kesana. Aroma Coto Gagak sesuai namanya terletak di Jalan Gagak No. 27, Makassar. Banyak pilihan menu Coto yang menggugah selera. Pengunjung bisa memesan Coto daging, paru, jeroan, ataupun campur. Coto Makassar dinikmati dengan ketupat yang ukurannya tidak terlalu besar. Walaupun porsi Coto Makassar ini sama dengan Soto Kudus, saya tidak sanggup untuk menambah. Konro Bakar rupanya sudah cukup memakan ruang pencernaan saya.

Otak-Otak Ibu Elly

Sebelum pulang ke hotel, kami mampir ke tempat oleh-oleh khas Makassar yaitu Otak-Otak Ibu Elly di Jalan Kijang. Otak-Otak ini adalah menu oleh-oleh favorit dari Istri saya. Walaupun di Jakarta dapat dijumpai di Jalan Fatmawati, namun tetap saja rasanya beda, kata Istri saya.


Saya pun sependapat. Otak-otak yang dijual per paket berisi 10, 20, dan 50 ini tidak terlalu tahan lama. Maka jangan heran bila penjual bertanya lebih dahulu soal kapan kita mau pulang. Ini dilakukan untuk menjaga kesegaran dari Otak-Otak. Akhir kata, its taste is really something and worth your money.

Sebagai penutup, saya bersyukur dapat mencicipi kuliner khas Makassar seperti yang sudah saya ceritakan tadi. Lain waktu kemari, saya masih penasaran dan ingin mencicipi Mie Titi dan Sop Saudara. Semoga masih ada kesempatan.


Dharmawangsa-Medan Merdeka Barat, 15 Juli 2015.

Selasa, 30 Juni 2015

Pisang Ijo


It's nice for being here and having this. Right in the place where it came from. 


Losari, 30 Juni 2014. 

Senin, 27 April 2015

Rumah adalah di Mana Pun

Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita mengerti,
Tanpa kita bisa menawar
Terimalah dan hadapilah
 
(Soe Hok Gie, 1966)

Setiap selesai membaca buku kadang saya menulis juga review mengenai buku yang sudah dibaca itu. Terlepas dari kaidah-kaidah penulisan resensi yang dulu didapat dari mata kuliah Penulisan Artikel dan Resensi Buku. Ada kalanya saya benar-benar memberikan tinjauan atas satu buku. Nyatanya, seringkali saya hanya menulis apa yang terlintas di benak saya.

Tadinya, saya ingin menulis satu tinjauan lengkap atas buku ini. Namun, lagi-lagi, akibat satu-dua komentar di Goodreads, membuat saya batal menulis yang demikian itu. Saya ingin membandingkan pengalaman pembacaan saya dengan kritik-kritik yang buku ini terima di Goodreads.



Editing. Memang betul buku ini punya masalah serius dengan hal ini. Dari sisi penulisan dan penyajian teks, saya mengalami ketidaknyamanan sejak pembacaan halaman pertama. Barangkali, saya sudah terbisaa dengan tulisan teks yang rata kiri-kanan. Saya yakin buku ini telah lulus tahap-tahap editorial. Tidak mungkin buku ini mengcompile sedemikian banyak tulisan lalu diterbitkan ke publik begitu saja. Tetap disayangkan bahwa hal semacam ini masih luput dari perhatian Sang Editor. Justru, saya menaruh apresiasi pada desain tata letak sampul buku.

Sejak buku ini adalah kumpulan tulisan yang didokumentasikan dalam blog pribadi penulisnya maka maklum bila pembacanya menjumpai “selera” penulisan yang berbeda. Ada beberapa hal personal yang harus berhadapan dengan selera komersial. Artinya, ada bagian tulisan yang harus diubah. Itu kata komentator.

Menurut saya, tidak ada yang harus dirubah dari semua tulisan yang dimuat. Karena memang terbit pertama kali di blog penulisnya maka ketika buku ini mengusung tema kolektif semacam ini haruslah ditampilkan sebagaimana tulisan ini terbit pertama kalinya.

Otentisitas adalah harga mati untuk sebuah karya yang didokumentasikan secara personal dan kemudian diangkat menjadi sebuah karya kompilasi. Nilai-nilai yang bersifat dan personal itulah yang membuat tulisan ini hidup.

Pembaca boleh saja mempunyai seleranya sendiri, namun pembaca juga haru memahami apa yang jadi bacaannya. Pembaca harus paham latar belakang kontekstual yang melahirkan tulisan memoir perjalanan seperti yang ada dalam buku ini.

Saya tidak harus mengulangi lagi pernyataan saya sebelumnya bahwa semua tulisan dalam buku ini bersifat personal dan individual. Agak mengherankan ketika semua tulisan dalam buku ini harus berhadapan dengan makhluk yang bernama “pesan moral”. Tidak semua tulisan perlu disertai dengan pesan moral. Kecuali dalam beberapa tulisan yang memang mengharuskan isinya memiliki nilai yang bisa jadi pelajaran bagi pembaca.

Saya maklum saja karena mungkin saja komentar semacam ini muncul dari pembaca yang terlalu ‘serius’ dengan working paper atau jurnal. Tulisan mengenai perjalanan (travelogue) tidak hanya bercerita tentang bagaimana si penulis melakukan perjalanan. Pembaca dibebaskan sebebas-bebasnya untuk mengambil sendiri nilai moral dari yang sudah mereka baca. Saya kira ini hanya soal persepsi belaka karena sangat tidak mungkin untuk menyamakan persepsi, gaya tulis, dan tema dengan selera pembaca.

*

Judul buku ini sendiri sudah cukup menggugah dan membuat penasaran. Kita sudah lebih dari sering mendengar istilah: “Home is where your heart is.” Bagi para pengelana atau backpacker kelas jadi-jadian, hatinya bisa berada dimana saja. Hatinya mengembara sepanjang perjalanan. Hatinya bisa saja tertinggal di tempat tujuannya, tapi itu akan membawanya selalu kembali pada kesejatian cintanya.

Kabar baik dari buku ini adalah kita dihadirkan pengalaman masing-masing penulis dengan ceritanya masing-masing dalam membelah kekayaan dan keindahan bumi pertiwi. Ajaibnya, semua penulis kisah-kisah perjalanan ini adalah perempuan! Pembaca bisa tahu sekaligus merasakan patah hati di Mandalawangi, Bromo, dan Baluran. Kemudian, menyemai cinta dalam perjalanan menuju Kawah Ijen, Mahameru, dan Bali. Kenangan tentang sosok Ibu akan menyeruak kala perjalanan agak bergeser ke Lombok. Sabang dan Minangkabau menyuguhkan pengalaman pendewasaan diri. Kecintaan pada negeri ini akan semakin menebal kala Tana Toraja, Larantuka, dan Raja Ampat menghadirkan keunikannya.

Ada beberapa tulisan yang jadi favorit saya. Tulisan berjudul “Kabut Cinta Mandalawangi” dari Agita Violy dan “melarung Ingatan Tentangmu di Bromo”. Buku ini justru menjadi semakin unik dengan tema-tema individualnya. Ada cerita soal patah hati, menemukan cinta dalam perjalanan, hingga kenangan tentang Ibu. Maka, alangkah saya bersyukur bahwa Sang Editor tidak menempatkan tema-tema seragam menjadi bab yang sekuensial.

Judul        : Rumah adalah di Mana Pun
Penulis     : Adinto F. Susanto (ed.)
Penerbit   : Grasindo
Tebal        : 258 hal.
Tahun       : 2014
Genre       : Travelogue-Memoar


Pharmindo-Medan Merdeka Barat, 27 April 2015.

Jumat, 27 Maret 2015

99 Cahaya di Langit Eropa: Sebuah Kesan

Akhirnya, saya tidak pernah jadi untuk membeli buku ini. Satu dan lain hal membuat saya mengesampingkan buku ini untuk dibaca. Walau memang buku yang judulnya selalu saya plesetkan menjadi ’99 Kastangel di Langit Eropa’ ini terus membuat saya penasaran. Satu waktu, ketika sedang membereskan buku-buku bacaan, saya menemukan buku dari Harum Rais dan suaminya ini. Rupanya, istri saya sudah lebih duluan tamat. Alhasil, seminggu yang lalu, saya berhasil menamatkan buku ini.

Tadinya, saya akan menuliskan kesan pembacaan serupa resensi yang biasa saya tulis disini. Namun, saya lebih tergelitik untuk membuat satu “sikap” saya atas segenap ‘pro dan kontra’ atas buku ini yang dimulai dari sebuah komentar di Goodreads. Saya tidak akan memberi pembelaan maupun penilaian apapun karena buku sebagai produk sastra akan mati begitu terbit dan dibaca khalayak.

Ada pembaca 99 Cahaya di Langit Eropa yang menganggap buku ini sebagai buku yang tidak jelas karena termasuk buku yang tanggung. Tanggung kenapa? Buku ini bukan buku traveling pun bukan buku catatan perjalanan. Lantas, ada juga pendapat yang menyebutkan buku ini ‘agak lebay’ dan terlalu drama, terutama pada adegan si penulis di Granada. Tindakannya meminta izin untuk shalat dua rakaat di Masjid peninggalan masa kejayaan Islam yang kini berwujud gereja itu dianggap berlebihan.

Personally, saya hanya menganggap buku ini sebagai memoir dari penulisnya. Memoir yang sengaja ditulis sebagai monument kesaksian atas segenap perjalanannya menapaki sisa-sisa pecahan sejarah kejayaan Islam di Austria, Paris, Spanyol, dan Turki. Sejak memoir adalah kesan pribadi penulisnya maka sah-sah saja bila apa yang ditulis si penulis memang terkesan personal. Mau kisah yang dimuat itu lebay selebay-lebaynya drama pun terserah si penulis, karena memoir mengangkat isu yang personal. Saya sendiri pun agak terganggu dengan penggunaan pilihan kata “Jemaah” untuk “Jamaah” di sepertiga bagian akhir buku.

Tolong jangan lupakan juga peran editor dalam proses penerbitan buku ini. Editing buku ini dibuat sedemikian rupa hingga sampai ke mata pembaca dan menimbulkan beragam kesan pembacaan. Bagaimanapun, buku ini berhasil diangkat ke layar lebar dan menuai kesuksesan (untuk ukuran box office di Indonesia). Artinya, kisah yang terangkum dalam memoir memiliki muatan nilai dan pesan yang patut jadi cermin untuk kyalayak.

Terlepas dari paragraf-paragraf sebelumnya, buku ini memang layak dibaca oleh mereka yang mengagumi sejarah kisah kejayaan Islam dan berusaha menggali nilai-nilai maupun pelajaran dari sana. Tidaklah terlalu salah bila kemudian buku ini mengajak pembacanya untuk kembali mentafakuri diri, mengetahui dari mana kita berasal, hingga bersiap pada hari dimana kita semua kembali kepadaNya.

Judul        : 99 Cahaya di Langit Eropa
Penulis     : Hanum Salsabila Rais
Penerbit   : Gramedia Pustaka Utama
Tebal        : 340 hal.
Tahun       : 2013
Genre       : Memoar-Sejarah Islam


Medan Merdeka Barat, 27 Maret 2015.

Sabtu, 28 Februari 2015

Kisah Tiga Negeri (5)

Message in the Bottle

Sudah jadi kebiasaan saya mengoleksi botol minum sejak mulai aktif mengikuti berbagai lomba lari. Kebiasaan itu juga yang mendorong saya untuk mengoleksi botol minum dari sebuah jaringan kedai kopi internasional. Sebut saja Sbux! (you’re very fond of it!).

Cukup sederhana memang, botol minum mereka bentuknya masih begitu-begitu saja namun perbedaannya cukup signifikan dari satu negara ke negara lainnya. They put a name of their city (or country) on the bottle. Satu alasan yang cukup untuk sebuah eksistensi.

Saya belum punya tumbler dari negerinya Lee Kuan Yew ini, maka satu target saya sepanjang perjalanan ini adalah mendapatkan botol minum dari kedai di Singapura ini. Kebetulan, di Vivo City ada outletnya. Saya membeli satu botol berwarna oranye seharga SGD 20 yang sudah termasuk satu large chocolate/tea/coffee pilihan. Saya memilih coklat panas dan langsung berlari menuju area check-in ferry Batam Fast.

Bad luck for us. Kami tidak mendapatkan jadwal ferry jam 3 sehingga harus menunggu satu jam lagi untuk ferry selanjutnya. Oke, sampai disini kami belum panik. Bahkan kami masih bisa menyeruput habis coklat panas dan sebotol air mineral.

Jam empat lebih kami naik ferry. Kami berdoa supaya tidak ada aral melintang dalam penyeberangan kami. Pesawat Garuda ke Bandung akan take-off pukul 17.30 WIB. Tak lama, kami pun tertidur dan terbangun ketika ferry akan merapat ke Batam Center. Sudah pukul 17.00 ketika ferry bersandar. Kepanikan mulai terasa ketika kami mengantri lagi di lajur imigrasi kedatangan. Entah berapa menit yang kami habiskan, kami pun segera mencari taksi menuju Bandara Hang Nadim. Oh ya, itu pun sudah pukul 17.30.

Kami tidak menemukan taksi resmi menuju bandara. Sehingga kami mau saja ketika seorang supir menawari kami. Tak banyak pikir, kami pun segera mengiyakan tawarannya. Harga taksi dari pelabuhan Batam Center menuju bandara Hang Nadim adalah Rp. 90.000,-. Kami mencoba menawar namun si supir bilang kalau itu harga resmi dari Koperasi Taksi disana.

The Delay

Supir taksi memang tahu kami terlambat dan ia segera mengebut. Saya tidak tahu apa yang ada di benak Ella. Ada guratan lelah diwajahnya. Untuk saya sendiri, seandainya memang kami terlambat check-in, saya rela menghabiskan semalam lagi di Batam. Tiket pesawat tidak hangus dan mudah-mudahan bisa dapat flight. Walau tentunya hal itu akan berdampak pada jadwal kami keesokan harinya di Bandung.

17.50 WIB kami sampai di Hang Nadim. Selesai bayar taksi, kami bergegas menuju counter Garuda Indonesia. Petugas disana bilang kalau kami sudah terlambat. Itupun ditandai dengan anggukan teman di petugas tadi yang menandakan bahwa kami sudah tidak bisa check-in. Oke, saya tidak akan mengalah walau terlihat mengemis untuk kebaikan mereka. 

Akhirnya, saya tanya status pesawat tujuan Bandung itu, apa sudah pushback, taxi, atau take-off. Si petugas nampak terdiam dan rekannya yang tadi itu mengangguk. Saya diperingatkan untuk tidak terlambat lagi pada penerbangan-penerbangan saya selanjutnya. Who cares, now where is your airplane? Boarding pass pun issued, artinya pesawat memang masih belum berangkat ke Bandung. Alhamdulillah.

Setengah berlari menuju boarding room. Eng ing eng. Now, there’s the airplane. Standing still on the apron. Kami tak henti-hentinya mengucapkan syukur. Pertanda Yang Maha Kuasa masih mendengar doa kami. Belum sempat kami duduk di ruang tunggu, sudah ada panggilan naik ke pesawat. Yeah! We are going home!

Jam 18.15 pesawat masih tidak bergerak kendati penumpang sudah mulai duduk rapi dan permen sudah dibagikan oleh pramugari. Tak lama, mesin pesawat dinyalakan. Saya sempat bertanya pada seorang pramugari yang bertugas. Memang di musim liburan tahun baru ini semua jadwal penerbangan GA mengalami efek domino dari delay pada penerbangan sebelumnya. Pesawat yang kami naiki pun bernasib sama setelah sebelumnya menerbangi rute Denpasar-Bandung, Bandung-Batam, dan kini Batam-Bandung.

18.30 pesawat berhenti sempurna di ujung runway Hang Nadim. Menunggu clearance dari ATC Officer untuk mengangkasa. Saya cukup lega. Begitu pun Ella yang melamun menghadap jendela kabin.

Life is Very Long



Satu hari ini terasa sangat panjang bagi kami. Sejak sarapan nasi goreng di hotel, jalan-jalan ke Masjid Sultan Abu Bakar, mengantri di Woodlands, lunch di Bugis, ketinggalan ferry di Harbourfront, hingga telat check-in di Hang Nadim. Time management is a must on your travel line. Itu pelajaran utama kami. Selanjutnya, choose the option for your convenient. Tentukan kenyamananmu sendiri. Seperti ketika kami membeli daily pass dan tiket ferry pulang-pergi di Hang Nadim.

Kami melewati langit yang sama seperti kemarin sementara pencarian QZ8501 masih diteruskan. Guncangan terasa di beberapa titik. Perjalanan ini tak lama lagi segera berakhir. Ketika akhirnya kami landing di Husein Sastranegara, tak ada kata selain ucapan syukur. Kami pun sudah terlalu lelah untuk berfoto wefie. Keluar bandara, kami pun berjalan kaki santai menuju tempat pemberhentian angkot.

Saya bersyukur karena dengan selamat sentosa berhasil menyelesaikan perjalanan 'Satu Hari, Tiga Negeri' bersama Istri tercinta. Masih ada perjalanan lain yang akan kami tempuh. The story has to ends where it’s begins. Menyisakan cerita pada ingatan yang tak lekang. Au revoir.

Bandung, 2 Januari 2015.

Kisah Tiga Negeri (4)

Menikmati Johor

Ada banyak tujuan yang ingin kami nikmati selama di Johor ini. Sebut saja Lego Land atau Hello Kitty Town. Namun, karena memang lokasi keduanya sangat jauh dan waktu tinggal kami yang cuma semalam, saya dan Ella urung pergi kesana. Barangkali nanti kami harus menyediakan waktu lebih banyak.

Masjid Sultan Abu Bakar, Johor Bahru

Tujuan kami hari ini sebelum pulang adalah Masjid Sultan Abu Bakar. Kebetulan hari ini adalah hari Jum’at barangkali ada sedikit keramaian menjelang shalat Jum’at, perhaps. Selebihnya, karena memang tidak ada lagi objek wisata terdekat dari penginapan kami. Saya sendiri tidak mencari tahu lebih dahulu mengenai sejarah Masjid ini. Hanya beberapa review yang saya baca mensyaratkan kami supaya mampir kesana.

Kami pun segera melaju dengan taksi usai check-out. Suasana pagi yang saya kenal. Bedanya, disini lebih sepi sehingga menghadirkan perasaan tenteram. Tidak seperti di Kuala Lumpur dimana kita harus menyesuaikan diri dengan derap langkah khas ibukota. Kami membayar taksi seharga RM 7 untuk sampai ke Masjid.



Masjid Sultan Abu Bakar terletak tepat di tepi Selat Johor. Masjid ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan lain. Diantaranya adalah Mahad dan sekolah. Pemandangan sekitarnya cukup menyenangkan dan melegakan. Hamparan lautan biru beradu dengan daratan Singapura di tapal batas horison.



Saya segera mencari posisi yang tepat untuk mengambil foto. Kebetulan matahari bersinar terik di langit Johor. Kami berfoto di sisi Masjid yang menghadap ke laut. Kami hanya punya waktu setengah jam disini. Kami tidak ingin terlalu lama lagi berada disini sehingga terlambat menyeberang ke Singapura dan Batam.



Sesi foto selesai. Kami telah mengemas kenangan di Masjid ini. Waktunya kembali ke JB Sentral di pusat kota. Rupanya, Johor tidak hanya memberi kenangan sebatas gambar. Kami masih harus menunggu 15 menit untuk dapat taksi yang mamu mengangkut kami ke JB Sentral. Kami menunggu di tepi jalan yang sepi. Hanya beberapa kendaraan yang melintas setiap lima menit. Beruntung, ada taksi yang searah dengan kami.



Setibanya di JB Sentral, kami segera naik bis tujuan Singapura. Kami menuju Bangunan Sultan Iskandar dimana terdapat kantor imigrasi Johor Bahru. Kami hanya perlu lima menit untuk urusan cap paspor. Saya dan Ella naik bis tujuan Kranji dengan tarif RM 1 atau SGD 1. Terserah mau pake mata uang yang mana.

Menuju Singapura

Menjelang pukul sepuluh pagi, rupanya jalan tol menuju Woodlands dilanda kemacetan. Mungkin saja, hal ini disebabkan usainya liburan tahun baru sehingga terjadi arus balik dari Johor menuju Singapura. Sebelum tiba di Woodlands, kami sudah turun dari bis dan berjalan kaki menuju kantor imigrasi Singapura.

Kejutan belum berhenti. Setelah mengisi form imigrasi, kami menghadapi antrian lagi. Antrian yang baru mencapai giliran kami satu jam kemudian. Masih ada lelah di wajah kami berdua. Kami memang ingin segera beristirahat. Maksudnya, segera tiba di Singapura, makan siang, lalu pergi menyeberang ke Batam. Well said, kami menghabiskan satu jam ini dengan mengantri sambil mengobrol.

Jam sebelas waktu kami naik bis ke Kranji. Tidak ada yang berubah disana. Warung nasi yang menjual makanan seharga SGD 2 masih tetap buka dan antrian penumpang KRT masih sama seperti kemarin-kemarin. Kami salah naik kereta. Kami naik ke arah Woodlands sehingga harus menunggu kereta selanjutnya. Perjalanan pun terasa lambat. Setengah satu siang kami tiba di Dhoby Ghaut. Kami Ella masuk antrian untuk menukarkan 2 kartu daily pass yang kami beli kemarin lusa demi mendapatkan deposit SGD 40. Lima belas menit saja dan itu cukup membuat kami kalang kabut menuju Stasiun MRT Bugis untuk membeli oleh-oleh di Bugis Market.

Lunch at Bugis

Dengan alasan waktu yang merambat, saya menganjurkan Ella untuk tidak mengelilingi pasar. Cukup beli di kios yang dulu pernah saya sambangi. Urusan oleh-oleh selesai. Sudah jam satu lebih dan kami harus makan siang sebelum melanjutkan perjalanan. Perut kami sudah minta diisi sejak mengantri di Woodlands.



Kami makan di food court seberang Bugis Market. Kami memesan nasi rames ala Singapura. Menunya cukup lengkap untuk harga SGD 3. Untuk minum, saya membeli dua gelas jus buah yang segelasnya berharga SGD 1 di Pasar Bugis. Beberapa warga dan anak sekolahan duduk di meja sekeliling kami. Yang mengagetkan, tempat makan ini menyediakan menu tambahan yaitu petai!
Perjalanan berlanjut. Kami kembali ke stasiun MRT Bugis untuk segera meluncur ke Harbourfront MRT Station.


Bandung, 2 Januari 2015.

Minggu, 22 Februari 2015

Kisah Tiga Negeri (3)

1 Januari 2015 dimulai dengan sarapan pagi buatan istri tercinta. Sepasang roti bakar srikaya dan secangkir kopi hitam manis cukup untuk menghangatkan badan sehabis mandi. Awal yang bagus untuk memulai hari yang mendung ini. Diluar nampak gerimis. Belum banyak toko-toko yang buka di sekitar Hamilton Road. Kalaupun ada hanya sebuah pujasera di pojokan jalan. Itu pun sepi sekali, hanya ada dua orang tua yang nampak sedang mengobrol. 



Kami segera berkemas dan check-out dengan membayar sewa kamar seharga SGD 24, lebih murah sedikit dibandingkan Lofi Inn yang berharga SGD 28 per malam. Kami berjalan kaki menuju stasiun MRT Ferrer Park. Tujuan kami selanjutnya adalah Singapore Zoo yang berada di Mandai Lake Road. Kami segera menuju stasiun Ang Mo Kio untuk transit dan meneruskan ke Zoo naik bis 138.

Sarapan Cinta

Kami tiba di Ang Mo Kio dengan perut yang keroncongan minta diisi. Usai mencari loket pemberangkatan bis 138, kami pun mampir di Subway untuk membeli paket sandwich seharga SGD 5 sebagai bekal untuk nanti di Zoo. Kami juga membeli paket nasi lemak seharga SGD 2. Lumayan untuk sarapan. Isinya cukup lengkap. Nasi lemak plus sambal goreng ikan teri, sambal goreng kentang, dan sambal cabai.

Personally, sarapan nasi lemak ini adalah yang berkesan sepanjang usia pernikahan kami. Saya membagi dua sebungkus nasi ini dan kami saling menyuapi. Sebuah romantisme lokal dalam keramaian stasiun MRT. Kami sengaja membeli satu bungkus saja karena sudah punya bekal untuk di kebun binatang nanti.

Sepenggal Doa Nenek

Selesai sarapan datanglah sebuah keajaiban. Seorang nenek yang sedari tadi duduk disamping saya memberikan sebuah paket makanan. Katanya, ia sedang menunggu temannya namun teman yang ditunggu tidak datang. Paket makanan itu tadi sudah disiapkan untuk temannya. Daripada mubazir, ia memberikan paket itu kepada kami.

Kami terus terang kaget namun mengerti alasan Nenek itu. Ia juga seorang muslim dan tinggal di apartemen seberang stasiun Ang Mo Kio. Ia minta didoakan supaya panjang umur dan terus sehat. Kami pun minta didoakan supaya selamat sampai tujuan hingga kembali ke Bandung. Tidak ada hambatan dalam berkomunikasi karena kami berbicara dalam bahasa Melayu. Nenek tadi pun pergi.

Saya mengecek paket makanan itu. Kurang lebih seperti lumpia goreng berisi seafood (udang dan kerang). Lumayan, kalaupun tidak sempat kami makan bisa jadi untuk oleh-oleh saja sekalian, pikir saya. Saya dan Ella cukup menyadari bahwa paket pemberian Nenek tadi menambah beban dalam perjalanan kami. Kami berharap bisa menemukan solusi untuk paket makanan ini. Entah kami habiskan nanti di hotel setibanya di Johor atau malah kami bawa pulang.

Singapore Zoo

Kami pun segera naik bis 138 bertarif SGD 2,1 per penumpang. Perjalanan dari Ang Mo Kio menuju Singapore Zoo ditempuh selama 20 menit. Pemandangan sepanjang jalan pun cukup menyenangkan. Kita jadi tahu bagaimana Singapura begitu serius dalam mengurus perairan negaranya. Terbukti dari banyaknya dam dan reservoir penampung air. Singapore Zoo sendiri juga terletak di pinggir Mandai Road Lake, sebuah danau.

Gerimis menyambut kami di pelataran Singapore Zoo. Saya dan Ella heran mengapa kami begitu penasaran dengan kebun binatang di negeri orang sedangkan kami pun belum pernah lagi kembali mengunjungi kebun binatang Bandung sejak masuk kuliah.



Singapore Zoo menamai dirinya sebagai ‘The World’s Best Rainforest Zoo’. Oh cmon, you’re kidding me. Yes! Kebun binatang ini adalah taman buatan. Bedanya dengan kebun binatang Bandung yang lebih alami adalah bahwa Singapura sangat serius dalam menyiapkan kebun binatang miliknya. Sepintas, bisa dilihat dari bagaimana mereka mengorganisir paket perjalanan maupun pembelian tiket via laman web mereka. Belum soal desain landscape dan penempatan satwa.



Kami membeli tiket masuk  seharga SGD 37 plus tiket Parkhopper SGD 4 sehingga kami membayar masing-masing SGD 41. Saya jadi semakin penasaran dengan fasilitas Singapore Zoo dengan harga tiket sebesar itu.

Well, sisi artifisial dari kebun binatang ini ada di hampir tiap sudutnya. Saya kagum dengan desain kebun binatang disini. Saya yakin mereka juga pasti sangat serius dalam mengurus satwa-satwa yang mendiaminya. Jadwal feeding setiap satwa terlihat jelas di papan informasi sebelum kita masuk kandang mereka.



Cotton-top Tamarin adalah hewan pertama yang kami jumpai. Saya menyempatkan memotret hewan ini. Kami pun berjalan lagi menuju Rainforest Walk sebelum singgah sebentar di kandang Proboscis Monkey. Lima menit lagi adalah jadwal feeding mereka. Saya dan Ella pun menunggu waktu pembagian makan itu. Lima menit berlalu dan tidak ada tanda-tanda feeding maka kami pun berjalan lagi menuju Tiger Trek untuk menjumpai seekor Harimau Putih yang sedang bersantai. Kami juga menjumpai Pygmy Hippo yang sedang berendam.



Australian Outback jadi tujuan selanjutnya. Bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana Australia, saya sangat merekomendasikan untuk mengunjungi lokasi ini. Satwa liar khas Australia ada disini seperti Kangguru Abu-abu dan Wallaby. Satu yang aneh disini bagi saya adalah adanya Burung Kasuari disini. Barangkali, sebelum patahan benua Australia memisahkan diri dari pulau Irian memang habitat kasuari sudah lebih dulu ada disana.



Kami cukup menikmati perjalanan ini. Dari peta yang dibagikan, ada sebuah picnic site tak jauh dari lokasi kami sekarang, Great Rift Valley of Ethiopia dimana tinggal Hamadryas Baboon, Nubuan Ibex, dan Banded Mongoose. Jalanan yang menanjak membuat kami cukup kelelahan. Saya dan Ella pun bergegas menuju Pavilion by The Lake dimana terdapat zona istirahat (picnic site). 



Pemandangan disana cukup menyenangkan. Angin berhembus pelan dari danau yang mengelilingi kebun binatang. Danau itu adalah bagian dari Upper Seletar Reservoir. Sebuah dam yang dibuat pemerintah Singapura untuk urusan pengairan dalam negeri. Kami menikmati bekal kami disini.

Sepotong sandwich saya potong jadi dua bagian. Lumayan untuk mengisi perut kami hingga waktu makan siang nanti. Kami harus pandai menghemat air minum karena disini sangat mahal. Rata-rata SGD 1 per satu botol 500 ml. Ada beberapa tempat yang airnya bisa langsung diminum, namun saya tidak mau kompromi dengan urusan higienitas. Saya khawatir akan berpengaruh pada kesehatan selama kami di perjalanan.

Singapore Zoo's Parkhopper

Karena sudah membeli tiket Parkhopper, kami pun mengantri di stasiun 4 dekat tempat piknik. Kami akan menikmati lokasi-lokasi lain dengan kendaraan kereta tarik ini. Saya akui kalau kami sangat kelelahan bila harus mengelilingi kebun binatang dengan berjalan kaki. Kami pun harus menyimpan tenaga karena kami masih harus tiba di Johor sore ini. 



Dengan Parkhopper, kami melihat wahana-wahana lainnya. Ada Free Ranging Orang Utan Island yang dipenuhi sekelompok Orang Utan, Wild Africa; yang berisi satwa-satwa liar khas gurun Afrika, ada juga Cat Country, Snake House, Fragile Forest dan area main anak-anak Rainforest Kidzworld. Saya berniat mampir lagi kemari kelak bila anak kami lahir. 




Selepas turun dari Parkhopper, lokasi terakhir yang kami kunjungi adalah Frozen Tundra yang jadi tempat tinggal Beruang Kutub, Racoon Dog, dan Wolverine. Yang jelas bukan Wolverine seperti yang diperankan Hugh Jackman. Kami menikmati kelakuan si Polar Bear yang menggemaskan. Ia menceburkan dirinya kedalam kolam yang temperaturnya dibuat sama dengan habitat aslinya di kutub selatan sana.



Puas dengan segala sajian Singapore Zoo,kami pun segera menuju pintu keluar dari menunggu bis 138 lagi yang akan membawa kami kembali ke Ang Mo Kio. Sebenarnya, ada shuttle bus gratis menuju ke Ang Mo Kio namun baru tersedia pukul 13.30. artinya, kami harus menunggu setengah jam lagi. Kami pun akhirnya naik bis 138 yang datang tak lama kemudian.



Kami kembali ke Ang Mo Kio saat waktu makan siang tiba. Saat kami masih bingung mau makan apa, rupanya kios nasi lemak tadi pagi masih buka. Kami pun membeli lagi dua bungkus nasi lemak dan dua botol air mineral. Walaupun kami makan makanan yang sama dengan sarapan, kami merasa lega karena mendapatkan menu dengan harga yang bersahabat.

Kami makan di halaman luar stasiun. Kami  tidak sendirian, ada beberapa orang juga yang makan sambil menunggu kereta. Ada juga yang merokok. Kami makan siang ditemani udara siang yang tidak begitu panas karena agak sedikit mendung. Kami menikmati sekali menu makan siang kami di hari pembuka 2015 ini.

Usai makan siang kami segera membeli tiket MRT menuju stasiun Kranji. Mirip dengan nama satu stasiun di daerah Bekasi Barat. Dari Kranji nanti kami akan naik bis tujuan Johor Bahru Sentral (JB Sentral), stasiun kereta antar kota di Johor sana.

Johor Bahru

Setibanya di Kranji, kami langsung menuju tempat pemberhentian bis ke Johor. Tiket bus menuju JB Sentral seharga SGD 1 atau RM 1. Terserah penumpang mau membayar menggunakan mata uang yang mana. Dari Kranji bis melewati Woodlands, yaitu gedung imigrasi Pemerintah Singapura.

Semua penumpang harus turun untuk urusan imigrasi ini. Kunjungan ke Woodlands ini menandai berakhirnya petualangan kami di Singapura hari ini. Kami pun resmi meninggalkan negeri yang telah membesarkan Lee Kuan Yew. Setelah beres urusan cap paspor, kami menunggu bis  di lajur pemberangkatan. Saran saya: Jangan lupa nomor trayek bis yang anda naiki. Agar tidak lupa, cek lagi tiket yang diberikan saat keberangkatan di Kranji. Pengemudi bis akan mengecek kembali tiket anda dan anda tidak akan membayar lagi hingga sampai ke JB Sentral.

Johor Bahru-Singapura dihubungan melalui sebuah jalan tol diatas Selat Johor. Perjalanan dari Woodlands menuju JB Sentral hanya memakan waktu 15 menit. Apabila macet, kadang bisa mencapai 1 jam. Johor menjadi salah satu alternatif bagi warga Singapura selain Batam.

Kami pun tiba dengan selamat sentosa di Johor Bahru Sentral. Saya merasakan suatu perbedaan yang cukup signifikan dengan di Singapura. Barangkali, itu cuma perasaan saja. Namun, saya mendapati perasaan yang sama seperti ketika berkunjung ke Kuala Lumpur dua kali tahun lalu.

Ella sudah membooking hotel di Johor ini. Kami sempat berdebat untuk memilih jalan menuju ke Zen Zeng Hotel. Perdebatan mereda di Starbucks JB Sentral (iya, kami perlu wifi gratis!) ketika kami menyimpulkan bahwa jalan dari JB Sentral menuju hotel lumayan jauh (3 km) dan agak ribet. Kami harus naik taksi.

Kami pun naik taksi dan membayar RM 7. Hari sudah mulai senja ketika kami check-in. Hotel yang kami tempati berada di wilayah perniagaan. Artinya, tetangga sebelah kami adalah ruko-ruko dan ada beberapa restoran. Letaknya juga di pinggir rel kereta antar kota. Mungkin, jika tadi kami berjalan kaki mengikuti rel dari JB Sentral, kami akan mudah menemukan hotel ini.

Kami mendapatkan kamar yang lumayan luas untuk ukuran hotel backpacker seharga RM 72 semalam ini (Rp. 250.000,-). Ada jendela mengarah ke bagian belakang hotel dimana terdapat rel kereta. Kamar mandinya pun lumayan, ada shower dan air panas. Tapi, pihak hotel tidak menyediakan air minum di dalam kamar. Pengunjung cukup membawa teko plastik yang disediakan di kamar untuk diisi di lantai 2. Not bad.

Setelah cukup mengistirahatkan diri dan shalat, saya dan Ella pun mencari makan malam. Ada dua restoran khas India di seberang hotel. Satu bernuansa masakan kambing dan satu lagi lebih variatif, Village Restaurant namanya. Ternyata satu grup dengan restoran kambing tadi. Kami memesan dua ayam tandoori berbumbu hijau dan satu lagi ayam spicy.



Kami menghabiskan RM 47 untuk makan malam ini. Artinya, makan malam tadi cukup mahal bila dibandingkan dengan restoran Nasi Kandar Penang langganan saya di Kuala Lumpur dulu. But, it’s absolutely acceptable. Sajian restoran india ini memang tasty. Mungkin itu juga sebabnya kenapa ada stiker Tripadvisor di pintu masuk restoran.

Malam kian meninggi. Suara kereta api terakhir terdengar di JB Sentral. Sementara acara televisi masih membahas soal kecelakaan AirAsia QZ8501. Kami hanya bisa menunggu mata kami terpejam seraya membayangkan apa yang sudah kami lalui sejak di Singapura hingga tiba di Johor Bahru. Sometimes, life left us unanswered, but then life will lead you into something you never imagined before.

Bandung, 2 Januari 2015.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...