Tampilkan postingan dengan label biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biografi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Maret 2017

Outliers


Outliers menarik perhatian saya dalam sebuah wawancara di radio medio 2009 lalu. Acara itu dilangsungkan dalam rangka penerbitan buku sekaligus promosi. Banyak cerita yang menggugah kesadaran saya. Bahwa orang sukses itu memang sudah diciptakan dari sananya. Ada beberapa analisis yang bisa membuktikan hal itu. Pada bab-bab awal, Malcolm Gladwell menjelaskan pembuktian saintifiknya.

Buku ini menceritakan bagaimana para “Outliers” membentuk diri mereka. Malcolm Gladwell ingin pertanyaan inti dari buku ini: “what makes high-achievers different?”. Dia menjawab bahwa kita terlalu menyimpan perhatian penuh pada kebiasaan atau bagaimana menjadi orang yang sukses. Kita lupa untuk melihat hal-hal lain dibelakang kesuksesan dan keberhasilan para “Outliers”. Misalnya saja, pada darimana mereka berasal, bagaimana kultur dan kebiasaan mereka, keadaan keluarga mereka, soal keturunan, dan lain-lain. Sebagai contoh, Gladwell memberi penjelasan tentang bagaimana menjadi seorang pemain sepakbola terbaik, mengapa orang Asia hebat dalam bidang matematika, dan mengapa The Beatles menjadi band terbaik sepanjang masa.

Selain latihan yang intens, kultur, dan kebiasaan, ada satu hal lain yang coba dikuak oleh Outliers ini. Satu hal itu adalah kesempatan. Ada banyak contoh tentang mengapa generasi yang lahir pada tahun tertentu memiliki penghidupan yang lebih baik di masa pasca depresi di Amerika Serikat.
Ada beberapa catatan khusus tentang bagaimana Bill Gates dan The Beatles menjadi masterpiece abad ke-20. Selama ini, kita hanya tahu bahwa Bill Gates adalah seorang mahasiswa yang tidak menyelesaikan kuliahnya dan kemudian mendirikan Microsoft. Selama ini kita dibuai dengan kisah bahwa kesuksesan tidak hanya melulu dari bangku kuliah. Saya tidak meragukan pendapat itu hanya saja perlu dicermati bahwa Bill Gates sudah melakukan apa yang dipelajarinya di masa kuliah selama 10.000 jam pada masa sekolahnya.
Semasa sekolah, Bill Gates muda sering menghabiskan waktunya dengan komputer yang bisa dipinjamnya seusai sekolah bahkan hingga larut malam. Selama itu, ia lebih banyak bereksperimen dengan membuat berbagai program komputer. Maka, ketika ia kuliah dan melihat apa yang ditawarkan oleh kampusnya adalah sesuatu yang sudah dikerjakannya selama kurang lebih 10.000 jam lamanya kemudian ia memutuskan untuk berhenti kuliah. Tidak mungkin Microsoft akan menjadi perusahaan besar tanpa skill Bill Gates yang sudah terlatih bahkan sebelum kuliah.
Sekali lagi, kita selalu dibuai oleh mimpi Bill Gates, bahwa tidak selalu anak kuliahan yang akan meraih kesuksesan. Tetapi, alangkah baiknya bila kita melihat kembali apa yang sudah Bill Gates lakukan sehingga ia mengambil keputusan yang berani untuk meninggalkan kampusnya. Seringkali kita generasi muda ini terjebak hanya pada hasilnya, bukan pada proses 10.000 jam yang membentuk Bill Gates menjadi pribadi yang utuh di bisnis pemrograman komputer.

Tentang The Beatles, band asal Liverpool, Inggris ini telah mengalami hal yang serupa dengan Bill Gates. The Beatles mendapatkan pengalaman 10.000 jamnya di Hamburg, Jerman. Tampil dari satu klub ke klub lainnya selama 8 jam semalam telah membentuk mereka menjadi band legendaris dunia. Melalui masa-masa panggung di Hamburg, The Beatles berlatih dan menempa diri mereka untuk memikat pengunjung. Mereka harus memainkan musik mereka di hadapan audiens yang belum paham benar tentang musik yang mereka bawakan. Dengan jam terbang yang semakin tinggi, The Beatles berhasil memikat banyak orang di Hamburg dan ketika akhirnya mereka mendaki kesuksesan
di berbagai belahan dunia, mereka sudah memiliki bekal untuk itu: pengalaman panggung 10.000 jam.

Simak pula tentang bagaimana Korean Air (dahulu Korean Air Lines) membuat transformasi pada sisi operasinya dengan mengandalkan warisan kebudayaan mereka. Tentang bagaimana budaya hormat dan budaya kerja menjadi salah satu transformasi yang penting bagi kelangsungan usaha mereka. Perlu dicatat, mereka melakukan semua itu setelah mengalami krisis keselamatan.

Last but not least, Malcolm Gladwell turut memberi contoh kecil tentang bagaimana seorang Outliers itu. Ia adalah produk kesempatan, takdir, warisan, dan berbagai hal yang kelihatannya natural dimiliki oleh seseorang. Ia mencontohkan dirinya sendiri sebagai keturunan dari nenek moyangnya yang punya kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi dan menikah dengan orang yang pantas pada kurun waktu yang menguntungkan.
Buku ini baru saya baca tiga tahun setelah acara radio itu tayang dan baru menamatkannya bulan ini. Saya rasa tidak ada istilah terlambat. Karena bagaimanapun isi buku ini tidak berubah atau mengalami revisi. Malcolm Gladwell menulis buku lainnya guna melengkapi Outliers, seperti The Tipping Point, Blink, What the Dog Saw. Gladwell mengajak pembacanya pada suatu pengalaman yang baru untuk melakukan self-motivation tanpa harus menggurui.

Judul      : Outliers
Penulis   : Malcolm Gladwell
Penerbit  : Gramedia Pustaka Utama
Tahun     : 2011
Tebal      : 339 hal.
Genre     : Psikologi Sosial


Cipayung, 31 Maret 2017.
Ditulis kembali dengan penambahan dari tulisan tanggal 13 Januari 2013.

Selasa, 31 Januari 2017

Trilogi Otobiografi Mohammad Hatta #1: Bukittinggi - Rotterdam Lewat Betawi

Kita manusia dan segala yang hidup diatas dunia adalah baru. Alam, matahari, bulan, dan bintang semuanya baru. Semuanya buatan Tuhan. Segala yang terjadi ada yang menjadikan. Ada awal, ada akhirnya.

Sumber gambar: www.goodreads.com

Membaca buku pertama serial trilogy ‘Untuk Negeriku’ karya Bung Hatta ini menimbulkan semacam perasaan yang sentimental. Terasa betul bahwa buku ini ditulis dengan sentuhan personal Bung Hatta. Catatan personal yang lengkap dengan segala latar belakang emosionalnya.

Mohammad Hatta kecil dibesarkan dengan latar belakang agama yang kuat. Bung Hatta adalah seorang cucu dari ulama besar, Datuk Abdul Rahman, yang terkemuka dan memiliki banyak murid di Batuhampar. Ia sudah mulai dididik dengan ajaran Islam yang ketat sedari kecil. Hatta kecil sudah diperkenalkan dengan prinsip-prinsip keislaman dan jalan tarekat menuju Tuhan. Kelak, hal ini pula yang akan membentuk kepribadiannya. 

Tidak banyak orang yang mengira bahwa Mohammad Hatta besar tidak sebagai alim ulama. Sebagaimana ia pernah ditahbiskan dahulu pada masa kecilnya. Ia melanjutkan pendidikan menengah MULO di Padang. Disinilah ia mulai belajar berorganisasi melalui klub sepakbola Swallod dan organisasi Jong Sumatranen Bond (JSB). Takdir pun membawanya hingga ke Betawi. Hatta pun bersekolah di Prins Hendrik School.

Lulus dari PHS, ia diimingi jabatan dengan fasilitas yang lumayan. Dengan tekad belajarnya yang tinggi, Hatta memutuskan untuk meneruskan sekolah. Saya bisa ikut merasakan pergulatan pada pikiran dan jiwa Hatta pada fase hidupnya yang kesekian ini. Kecintaannya pada Indonesia hingga keinginan dan impiannya yang tinggi mendorong Mohammad Hatta untuk meneruskan sekolah di negeri Belanda. Ketertarikannya yang tinggi terhadap bidang ekonomi menuntunnya belajar di Handelshogeschool di Rotterdam pada usia 19 tahun.

Kiprah Bung Hatta di negerinya Van Der Vaart sana seperti sudah kita baca di buku sejarah. Hatta tidak hanya terus belajar dan belajar. Bung Hatta juga rajin membangun jaringan dengan sesama pelajar Indonesia disana dengan membentuk Perhimpunan Indonesia (PI). PI terlibat aktif dalam gerakan anti kolonialisme dan imperialism internasional. Ia sempat ditangkap dan diadili karena aktivitas pergerakannya. Justru di pengadilan itulah memoar pembelaan Bung Hatta menjadi sebuah masterpiece berjudul “Indonesia Merdeka”.

Membaca buku pertama ini pembaca diajak untuk memahami ihwal mengenai identitas Mohammad Hatta. Bagaimana pembentukan karakternya dan siapa saja yang berperan dalam fase-fase hidupnya. Pembaca juga turut diajak mengembara dengan episode-episode hidup Bung Hatta yang terasa betul gairahnya untuk Indonesia Merdeka. 

Judul                    : Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi (Untuk Negeriku, #1)
Penulis                 : Mohammad Hatta
Penerbit                : Penerbit Buku Kompas
Tahun                   : 2011
Tebal                    : 324 hal.
Genre                   : Biografi-Memoar


Cipayung, 26 Januari 2017.

Rabu, 28 Desember 2016

Pak Harto, Pak Nas, dan Saya

Courtesy: www.goodreads.com


Catatan pengalaman seorang dokter kepresidenan ini adalah sebuah memoar autobiografi dengan cara penulisan yang sederhana namun mengesankan. Mengandalkan kekuatan memori, dr. Frits August Kakiailatu membagi kisah-kisahnya. Tidak hanya terbatas pada tugasnya sebagai dokter kepresidenan tetapi juga banyak cerita lainnya, semisal kisah masa kecilnya, masa sekolah di Universitas Indonesia, panggilan masuk kemiliteran, semuanya dengan runut diceritakan. Gaya semacam ini mengingatkan saya pada serial 'Petite Histoire' karya Rosihan Anwar.

Pembacaan buku ini begitu mengalir dalam episode-episode penting kehidupan dr. Frits. Ia seakan menulis sembari membayangkan dirinya berbicara langsung pada pembacanya. Tentang bagaimana opininya dalam menganalisa kasus pasien anonim yang ternyata Pak Harto, bagaimana mula 'perselisihan' dirinya dengan tim dokter dari RSCM kala menangani kembali Pak Harto, pun cerita tentang pengalaman kedinasannya di TNI AL hingga mampu meraih beasiswa untuk belajar Urologi di negeri Belanda.

Saya tertarik pada buku ini karena judulnya. Tidak main-main, seorang dokter menjadi saksi hidup dalam keterlibatannya dengan dua tokoh penting dalam sejarah republik. Pak Soeharto dan Pak Abdul Haris Nasution, keduanya adalah Jenderal Besar TNI. Tentu, ada muatan yang ingin disampaikan dari dokter yang juga anggota Sosietat Urolog Internasional ini mengingat persentuhannya dengan kedua tokoh tersebut. dr. Frits memberikan segalanya dalam buku ini. Agaknya tidak berlebihan, karena beliau menulis juga pengalaman-pengalaman lain soal kemanusiaan selama ia bertugas menjadi urolog. Ia pun tidak melupakan almamaternya dengan mengangkat Paguyuban EGA yang selalu menjadi bagian dari dirinya.

Memoar singkat dokter kelahiran Magelang, 17 Juli 1936 ini mendedikasikan karyanya sebagai kisah bukti perjuangan untuk maju dan menceritakan jerih payah dalam pengalaman; sebagai contoh pembelajaran bagi kita semua. Memoar sederhana ini juga menepis mitos bahwa seorang dokter adalah manusia penting dan maha tahu yang dapat menentukan hidup-mati pasiennya. dr. Frits mengajarkan kita semuanya, tanpa basa-basi.

Judul           : Pak Harto, Pak Nas, dan Saya
Penulis        : Frits August Kakiailatu
Penerbit      : Penerbit Buku Kompas
Tahun          : 2014
Tebal           : 156 hal.
Genre          : Biografi-Memoar


Cipayung, 25 Desember 2016

Selasa, 30 Agustus 2016

Kelakar #TanpaBatas

"Saya nggak ada masalah sama alay. Tapi, mereka itu ateis, nggak percaya sama Tuhan... Mereka percayanya sama: 7uh4N."

Melirik statement dari judul, buku semi-biografi milik Sammy @notaslimboy ini agaknya sengaja memprovokasi pembaca. Provokasi semacam ini tentunya sudah sangat lumrah bagi pembaca awam: untuk menaikan oplah atau supaya buku jadi best seller dan dicetak ulang berkali-kali. Namun, dalam bukunya ini Sammy tidak menempatkan dirinya ke arah itu. Sammy Si Anak Kolong ini memprovokasi pikiran pembaca supaya benar-benar tanpa batas, dalam memahami konteks stand-up comedy dalam arti luas.

Courtesy: www.goodreads.com

Sammy tidak hanya menulis hal-hal tentang dirinya saja. ia menulis juga keresahan-keresahannya di jagad perstand-upcomedy-an. Sammy membagi tiga cerita besar. Pertama, mengenai Curhat Sosial. Sebuah otokritik tentang sebuah sistem sosial kemasyarakatan yang sangat lekat dengan keseharian kita. Kedua, Politik Menggelitik. Sammy secara gamblang dan tanpa batas melontarkan ocehannya yang      IMHO menampar para politisi di ujung sana. 

Terakhir, Sammy bicara soal Komedi. Sammy bercerita beberapa detail kehidupannya setelah menjadi Comic, yang kini menjadi banyak dikenal orang. Sammy juga menceritakan pengalamannya selama merancang dan mengeksekusi show tunggal pertamanya. Event itu diberi judul sama, #TanpaBatas. 

Anyway, saya menikmati betul buku ini. Tulisan Sammy membuat saya betah dan tidak bosan untuk terus mengulang pembacaan. Saya sendiri merasa seperti sedang membaca script yang ditampilkan Sammy di panggung. Sesekali nyengir sendirian sambil membaca celoteh Sammy memang bisa jadi sebuah rekreasi, demi menghilangkan kejenuhan khas pekerja ibukota. 

Dengan demikian, #TanpaBatas memang harus dimaknai dengan cara yang tidak terlalu serius namun harus dipahami secara serius bahwa ini semua hanyalah sebuah kelakar. Kelakar yang tanpa batas.

Judul        : Kelakar #TanpaBatas: Cuap-cuap Menggelitik Seorang Comic
Penulis     : Sammy @notaslimboy
Penerbit    : Penerbit GagasMedia
Tahun       : 2013
Tebal        : 176 hal.
Genre       : Komedi

Cipayung, 21 Agustus 2016.

Kamis, 31 Maret 2016

A Prelude to an Authorized Biography

Jika dia menghabiskan waktu untuk menoleh ke masa lalu, semakin sedikit waktu tersisa untuk bergerak ke depan. – Charles Moore

Courtesy: www.goodreads.com

Menarik sekali untuk memperbincangkan Margaret Thatcer, satu dari sekian perempuan yang paling berpengaruh di medio 80-90an. Sepak terjangnya memang menimbulkan pro dan kontra, baik dari kawan sepaham maupun dari pihak sayap kiri di pemerintahan. Namun, dengan segenap kontroversinya, Lady Thatcer tetaplah pribadi yang dicari untuk dibuatkan otobiografinya.

Usai berhenti menjabat sebagai Perdana Menteri, banyak penerbit datang pada Thatcer. Tentu mereka tertarik pada kenangan pribadi dan kisah tersembunyi di balik pemerintahannya. Mereka berebutan ingin mendapatkan hak untuk menerbitkan memoarnya. Ia sendiri sebenarnya lebih suka untuk tidak mengumbar cerita pribadi.

Barangkali, karena didasari oleh rasa geram akibat dipaksa untuk menginggalkan tahta Perdana Menteri, Thatcer mulai sadar untuk menjelaskan apa saja yang sudah dicapai selama masa pemerintahannya. Untuk hal ini, sebuah tim yang terdiri dari para asistennya mengemban tugas berat untuk membujuk Lady Thatcer guna mengungkapkan anekdot informative, sentuhan pribadi, dan narasi jernih yang merupakan dasar dari memoar bermutu.

Lady Thatcer ternyata tidak mampu memaparkan kehidupannya secara akurat. Memorinya yang teramat kuat dalam menguasi fakta dan statistik pemerintah, gagal ketika diminta merunut riwayat hidupnya secara detail. Thatcer terlalu sibuk menjalani hidupnya sehingga tidak sempat merekam pengalaman pribadi.

Membaca bagian pembuka dari buku setebal 1080 halaman ini adalah suatu perjalanan memasuki sejarah hidup seseorang yang lugas. Karenanya, buku ini ditulis dengan tidak mengikuti kaidah autobiografi pada umumnya. Thatcer yang sering melompat dari satu topik ke topic lain membuat kesulitan tersendiri bagi penulis. Walaupun begitu, penulis berhasil mengkaji kehidupan dari seseorang yang tidak pernah mengkaji hidupnya sendiri.

Perempuan bernama lahir Margaret Hilda Roberts ini istimewa. Dialah perempuan pertama dan satu-satunya yang pernah menjadi pemimpin partai politik di Inggris. Dialah perempuan yang membawa Inggris melewati pertikaian denga Irlandia Utara, Perang DIngin dan Perang Falkland. Thatcer memang telah tiada, namun minat publik kepadanya akan selalu ada. Seiring dengan surutnya kontroversi yang hilang ditelan arus sejarah, minat terhadap Thatcer akan kian meningkat.

 
Medan Merdeka Barat, 31 Maret 2016

Selasa, 16 Juni 2015

Jenderal Spoor



Bukan tanpa alasan kenapa saya menaruh minat besar pada buku ini. Pembacaan sebelumnya atas buku 'Doorstoot Naar Djokdja' dan serial Sejarah Indonesia dari Rosihan Anwar secara tidak langsung menyebut satu nama: Simon H. Spoor. Ia adalah Panglima Tentara KNIL dengan karir yang gemilang namun akhir hidupnya justru tragis. 

Beruntung, karya biografi terjemahan dari Belanda ini diterbitkan kembali di Indonesia. Setidaknya, kita bisa lebih belajar memahami bagaimana konstruksi Jenderal Spoor dari sudut pandang pihak Belanda. 

Semoga pembacaan terhadap buku ini cepat selesai. 


Dharmawangsa, 16 Juni 2015. 


Rabu, 06 November 2013

Juara Sejati Bernama King


Luar biasa! Kesan pertama yang saya tangkap dari beberapa bab awal. Biografi memoar perjalanan seorang maestro bulutangkis ini ditulis dengan apa adanya. Kesan setiap cerita didalamnya tidak hanya berkisah soal kesuksesan. Berbagai kisah kegagalan Liem Swie King diceritakan dengan jujur. Termasuk, cerita soal kekalahannya yang dianggap sebagai 'pemberi jalan' untuk gelar ke-8 All England bagi Rudy Hartono.

Cerita perjalanan Liem Swie King di dunia bulu tangkis tidak selalu penuh dengan kesuksesan. Terutama setelah kekalahan pertamanya usai 33 bulan tak terkalahkan di berbagai kejuaraan. Kekalahan tersebut didapatnya usai skorsing 3 bulan dari PB PBSI akibat kelalaiannya pada SEA Games X tahun 1979 di Jakarta. Akibatnya, King dinyatakan kalah WO. King tampil sebagai pribadi yang sportif yang dengan jujur mau mengakui kesalahannya. Satu hal yang tidak mudah, mengingat status King sebagai Juara All England. King dengan mudah bertutur soal  satu fase proses perjalanan dimana ia mencoba untuk bangkit dan meraih kembali percaya dirinya.

Lintasan memori soal kedigdayaan bangsa Indonesia di kancah perbulutangkisan dunia juga menyisakan setangkup haru. Beberapa kali saya hampir menitikkan air mata dan merinding membayangkan betapa gempitanya kejayaan Indonesia waktu itu. All England, Piala Thomas, Piala Uber, dan Kejuaraan Dunia adalah menu utama santapan khusus bagi atlit bulu tangkis Indonesia. Sayangnya, atlit bulu tangkis Indonesia masa kini belum mengambil pelajaran dari kisah Liem Swie King. Indonesia kini jauh tertinggal dari negara-negara pesaingnya.

King's Smash. Courtesy: www.badmintoncentral.com
Buku ini menghadirkan sosok Liem Swie King sebagai pribadi yang utuh. Mulai dari kisah perjalanan hidupnya, bagaimana hubungan King dengan keluarga, perkenalan pertamanya dengan bulu tangkis, jatuh bangun King di arena, hingga alasan-asalan dibalik pengunduran dirinya dari dunia yang telah diidamkannya sejak kecil.

King juga menuturkan kisahnya bersama Robert Budi Hartono, pemilik perusahaan rokok Djarum yang cukup berpengaruh dalam karir profesionalnya. Sebagai penyeimbang, testimoni dari rekan, kawan, pelatih, dan wartawan olahraga ikut mengisi cerita sehingga pembaca dengan mudah memahami sisi lain dari King.

Melalui buku ini, pembaca diajak untuk mengakrabi pribadi King yang cenderung pendiam dan dingin. Beberapa testimonial dan catatan dokumentasi media turut dihadirkan sebagai panduan bagi pembaca untuk lebih objektif dalam 'membaca' King. Selebihnya, pembaca diajak kilas balik sejenak ke masa-masa keemasan bulu tangkis nasional. Catatan emas yang diraih putra-putri terbaik bangsa itu kini menanti untuk diulang kembali. King mengajarkan pada kita bahwa juara sejati selalu bersedia berbuat lebih.

Judul       : Panggil Aku King
Penulis     : Robert Adhi Ksp
Penerbit   : Penerbit Buku Kompas
Tahun      : 2009
Tebal       : 456 hal.
Genre      : Biografi-Memoar

Paninggilan-Medan Merdeka Barat, 6 November 2013.

Rabu, 16 Oktober 2013

Cover Version Artists

....nyanyikan lagu orang lain dan kau akan terkenal...
(Punk Hari Ini – Superman Is Dead)

Prolog

Belakangan, lagu-lagu di radio-terutama lagu Indonesia, menunjukkan peningkatan dari segi produktivitas. Dibalik itu, bermunculan pula lah banyak penyanyi baru. Ada yang muncul dan memulai debutnya dengan membawakan lagu dari album perdananya ataupun menyanyikan lagu orang lain (cover version, recycle, or else). Bagi saya, itu tidak jadi masalah. Selama hal itu direstui sang pemilik hak cipta. Terlebih, penikmat musik ini bisa menikmati beragam sajian.

Lagu-lagu lama yang dinyanyikan kembali ini terhitung mengalami peningkatan yang cukup lumayan dari segi kuantitas walau tanpa data eksak jumlahnya berapa. Yang jelas, kerinduan akan lirik-lirik lagu lama itu terobati dengan kemunculannya dalam versi yang berbeda. Saya masih ingat ketika Ello (Marcello Tahitoe, putra mendiang Diana Nasution) menyanyikan dan mengaransemen ulang hits lama yang juga dipopulerkan oleh Diana Nasution ‘Pergi Untuk Kembali’. Sejak saat itu, versi repro dari lagu-lagu lama perlahan mulai bermunculan hingga saat ini.

Saya tidak akan merinci lagu Indonesia apa saja yang dicover. Perhatian saya sekarang tertuju pada  tiga nama yang saya anggap spesial dalam merecycle lagu dari penyanyi aslinya. Mereka datang dari Negeri Barat. Mereka adalah Hannah Trigwell, HelenaMaria, dan Jayesslee. Kekuatan mereka menghadirkan suatu sensasi tersendiri dalam menikmati sebuah versi lain dari karya aslinya.

Hannah Trigwell

Hannah Trigwell covering '22' - courtesy: @YouTube
Berawal dari sebuah pencarian di Youtube, saya menemukan sebuah sensasi baru dalam menikmati musik. Waktu itu, saya sedang terpesona oleh ‘California King Bed’ milik Rihanna. Voila! Saya jatuh cinta pada pertemuan pertama ini. Karakter vokal Hannah Trigwell sangat kuat dalam memaknai pesan dari lirik lagu itu.

Hannah Trigwell berhasil memadukan karakter vokal yang unik dengan lirik yang emosional. Semua itu dilakukannya sambil memainkan gitar akustiknya. Musik yang dimainkannya merepresentasikan keriangan masa muda. Lagu recycle lain yang jadi favorit saya adalah ‘22’ (Taylor Swift); ‘Stay’ (Rihanna ft. Mikky Ekko), Dark Side (Kelly Clarkson), dan ‘Don’t Speak’ (No Doubt).

Hannah Trigwell mendapat penghargaan sebagai 'Best International Unsigned Act' pada gelaranSt. Helier Online Music Awards pada tahun 2011. Tahun 2012 lalu ia menandatangani kontrak dengan 3 Peace Records, sebuah perusahaan label rekaman asal Amerika Serikat yang juga menjadi label resmi untuk Boyce Avenue. Band yang juga banyak memainkan lagu recycle.

Ia juga merilis sebuah album EP (Extended Play) yang diberi judul ‘Pieces’. Album ini menandai proses perjalanan musiknya, baik sebagai penyanyi maupun seorang artis. Musik karyanya mendapatkan banyak pujian dari musisi terkenal seperti Ed Sheeran, John Rzeznik (Goo Goo Dolls), The Script, dan masih banyak lagi. Saat ini, Hannah Trigwell sedang mengerjakan album debutnya. Disela kesibukannya itu, ia juga ikut serta dalam Boyce Avenue World Tour 2013. Awal tahun depan, Hannah Trigwell akan memulai debut tur yang bertajuk Hannah Trigwell Debut Headline UK Tour.

HelenaMaria

HelenaMaria covering 'Titanium' - courtesy: @YouTube
HelenaMaria adalah sebutan untuk duo yang beranggotakan Helena Mehalis dan Maria Mehalis. Keduanya lahir di New Brunswick, New Jersey sebagai pasangan kembar identik. Keduanya memiliki perbedaan dalam memainkan alat musik, karena Maria terlahir sebagai kidal. Mereka memainkan piano dan gitar sebagai alat utama dalam bermusik.

Saya suka pada karakter vokal mereka. HelenaMaria cenderung memainkan lagu dengan beat yang tinggi dan berhasil mengemasnya kembali dengan rapi walau beat yang dimainkan diturunkan. Namun, pada cover version ‘When I Was Your Man’ (Bruno Mars) yang cenderung pelan, HelenaMaria mampu membuat versi lain dengan karakter vokal yang sama kuat dengan si penyanyi aslinya. Versi recycle dari ‘Titanium’ (David Guetta ft. Sia), ‘One More Night’ (Maroon 5), ‘Diamond’ (Rihanna) pun menunjukkan kekuatan lain dari musikalitas dan karakter vokal mereka.

Tahun 2006  silam, HelenaMaria merilis album perdana mereka berjudul ‘Serene’. Pada tahun 2009 dan 2010, HelenaMaria mulai merilis cover version dan video dari beberapa lagu-lagu hits di iTunes dan YouTube. Mereka juga pernah mencoba mengikuti American Idol, namun mereka disarankan untuk tetap tampil sebagai duo oleh sang produser acara itu.

Jayesslee

Jayesslee covering 'Try' - courtesy: @YouTube
Seperti HelenaMaria, Jayesslee juga adalah duo beranggotakan Janice Lee dan Sonia Lee. Pada 2008 silam, mereka mulai bermain dengan YouTube. Karena tertarik dengan fitur yang bisa membuat mereka terhubung dengan audiens di seluruh dunia, mereka memutuskan untuk membuat akun dengan nama “Jayesslee”. “Jayesslee” sendiri diambil dari inisial nama mereka. ‘Jay’ untuk J (Janice) dan ‘Ess’ untuk S (Sonia) dan ‘Lee’ dari nama keluarga (surname) mereka.

Walaupun video pertama Jayesslee diupload dari kamar tidur mereka yang berantakan, subscriber video Jayesslee terus bertambah. Akhirt tahun 2009 Jayesslee mengalami hits yang cukup fantastis setelah mengcover lagu ‘Officially Missing You’ (Tamia).

Pada tahun2010, mereka terbang ke Los Angeles untuk debut konser pertama Jayesslee. Sejak itu, mereka mulai berkeliling ke berbagai negara seperti Kanada, Singapura, Malaysia, dan Thailand untuk tampil dan menyapa penggemar mereka.

Jayesslee juga menyelesaikan rangkaian tur Asia mereka tahun lalu di 8 kota besar dengan jumlah penonton mencapai 3.500 orang. Mereka berkeliling diantaranya ke Perth, Sydney, Melbourne, Manila, Kuala Lumpur, Jakarta (i missed this one :( ) , dan Bangkok. Mereka juga tampil di beberapa program televisi seperti “E! News Asia” , “Channel V” dan “MTV Show”.

Tahun 2013 ini, Jayesslee mencatatkan nama mereka sebagai channel YouTube dari Australia yang paling banyak dilanggan, dengan subcriber mencapai 1 juta dan 12 juta pageviews.

Karakter vokal dan musikalitas dari Jayesslee agak sedikit berbeda dari HelenaMaria. Musik Jayesslee bagi saya terdengar lebih ringan. Sama dengan komposisi dari Hannah Trigwell yang lebih banyak memainkan gitar akustik. Track favorit saya dari Jayesslee adalah ‘Payphone’ (Maroon 5), ‘Nobody’ (Wonder Girls), dan ‘Try’ (Pink).


Penciptaan kembali sebuah karya adalah sebuah usaha untuk memaknai kembali arti dibalik penciptaan awal karya itu. Keinginan untuk menciptakan sebuah bentuk musik yang baru melalui cover version menghadirkan sebuah sensasi baru dalam menikmati musik. Kemungkinan bahwa pendengar dan penikmat musik akan melakukan komparasi terhadap keduanya memang tidak terelakkan. Justru disitulah terletak proses dialektika dalam bermusik.

Apapun itu, saat ini kita diberikan banyak pilihan untuk menikmati beragam musik yang ingin kita nikmati. Dengan demikian, pemaknaan atas wujud sebuah objek tidak akan stagnan pada satu bentuk tertentu saja. Selamat menikmati.


Paninggilan, 16 Oktober 2013.

Note: Any trademarks in this post belong to their respective owners.

Selasa, 19 Februari 2013

Dua Sastrawan Jepang

Menarik untuk mengetahui selayang pandang literatur Jepang melalui tulisan Edwin McClellan. Penulis secara khusus memang menempuh jalur studi di bidang literatur Jepang. Sehingga, penyampaian tentang kedua tokoh besar dalam sejarah perkembangan sastra Jepang dapat diulas dengan objektif.


Buku ini cenderung berkesan sebagai buku semi-biografi. Natsume Soseki dan Shimazaki Toson dihadirkan dalam fragmen-fragmen kecil mengenai sejarah kehidupan personal mereka. Pengalaman-pengalaman mereka disajikan kembali ke hadapan pembaca mulai pengaruh restorasi Meiji hingga kehidupan mereka selama menempuh pendidikan gaya barat di luar negeri. Beberapa karya mereka menampilkan muatan-muatan perasaan mereka selama periode tersebut. Tak heran bila kemudian Botchan karya Soseki meraih banyak penghargaan dan banyak diterjemahkan di berbagai negara.

Walaupun tulisan penulis tidak secara utuh menghadirkan imaji atas kedua sastrawan Jepang itu namun pembaca memperoleh gambaran penuh tentang kedua sosok sastrawan Jepang itu. Misal saja, mengenai hal-hal yang berkaitan dengan karya-karya mereka. Menarik karena Edwin McClellan sepertinya sengaja membongkar semua hal yang berkaitan dengan cerita lain dibalik penciptaan karya mereka. Hal ini menjadi nilai tambah bagi pembaca untuk memahami pribadi personal dan karya mereka secara lebih detil.

Judul        : Two Japanese Novelists: Soseki & Toson
Penulis     : Edwin McClellan
Penerbit   : Tuttle Publishing
Tahun      : 2004
Tebal       : 180 hal.
Genre      : Kesusasteraan Jepang

Bogor, 6 Februari 2013.

Minggu, 17 Februari 2013

Sketsa Sejarah Republik (2)

Dilihat dari gambar sampulnya, buku seri ke-4 dari petikan Sejarah Kecil Indonesia ini kiranya memberi perhatian lebih pada sosok dan profil seorang Rosihan Anwar. Jam Gadang di Bukittinggi itu merupakan perlambang identitas asal usul Rosihan Anwar yang sengaja diungkapkannya dalam 19 bab buku ini.

Selain itu, pada bab-bab pembuka, Rosihan Anwar bercerita tentang tokoh-tokoh yang masih ada hubungannya dengan perjuangan republik. Tokoh-tokoh itu tidak bersentuhan langsung dengan beberapa peristiwa sejarah negeri. Namun, kehadiran mereka tidak lalu dapat dilupakan begitu saja. Bahkan, Rosihan Anwar pun menulis tentang Anwar Ibrahim yang asal Malaysia itu. Tak ketinggalan kisah awkward moment dengan Soe Hok Gie, ikut diceritakan.

Rosihan juga menceritakan pengalaman-pengalaman yang dirasakannya ketika melakukan "peran" yang berbeda-beda sebagai penulis resensi (resensor), kolumnis, reporter, penulis editorial, komentator luar negeri, dan terakhir sebagai seorang sastrawan. Perlu dicatat, bahwa Rosihan Anwar pernah menulis dua cerita pendek, yaitu "Radio Masyarakat" dan "Pamankoe" yang dimuat dalam majalah mingguan Djawa Baroe. Kedua cerpen itu tidaklah luar biasa, katanya. "Radio Masyarakat" meraih hadiah ketiga dalam sebuah sayembara dan dimuat oleh H. B. Jassin dalam buku antologi Gema Tanah Air. Sedangkan, "Pamankoe" dimuat pada awal 1945.


Kemudian, Rosihan Anwar menceritakan jatidiri dan asal usulnya. Tentang siapa saja yang disebut sebagai nenek moyangnya. Rosihan tidak kehilangan detil cerita dalam pengungkapan beberapa peristiwa yang saling berkaitan dengan apa yang pernah ditulisnya pada seri buku 1-3. Dapatlah kiranya pembaca menemukan fakta bahwa Rosihan Anwar punya hubungan kerabat dengan Marah Roesli. Penulis yang terkenal dengan karya "Siti Nurbaya" yang tak pernah lekang oleh waktu sejak 1920 hingga kini.

Rosihan menginsafi betul peran dan jalan hidup yang ditempuhnya. Terbukti, beberapa catatan harian peribadinya sengaja dimunculkan dalam satu bab menjelang akhir buku. Dengan beberapa suntingan di sana-sini Rosihan Anwar menulis tentang kegelisahannya di masa usia Republik masih muda. Konfrontasi dan konflik yang terus meningkat terekam jelas dalam catatannya. Khusus untuk catatan seputar peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, membuat saya teringat pada Bung Tomo, "Pertempuran 10 November 1945".

Kredit khusus diberikan Rosihan Anwar pada cucunya, Azka, yang membantu sepanjang penulisan seri buku terakhir ini (kelak terbit seri ke-5 dan ke-6). Tak lupa juga, Rosihan Anwar menyisipkan sebuah sajak berjudul asli "Radja Djin" yang dimuat dalam koran Merdeka pada peringatan 6 bulan Republik Indonesia. Nama Radja Djin mengacu pada penamaan cara sandiwara Stambul, dimana Radja Djin digunakan untuk pelaku utama pria, sedangkan "Sri Panggung" untuk pelaku utama perempuan.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Secara pribadi, minat saya terhadap sejarah sudah berlangsung lama. Saya masih ingat, sejak masih TK saya selalu membaca buku pelajaran IPS Sejarah untuk kelas 6 SD. Buku itu selalu tersimpan di satu lemari di Rumah Nenek di Teluk Buyung.

Saya merasa beruntung karena akhirnya selama kurang lebih dua bulan ini berhasil melakukan sebuah perjalanan panjang, long-range reading, terhadap serial Petite Histoire ini. Kemudian, saya harus mengambil nafas lagi karena ternyata masih ada terbitan baru serial ke-5 dan ke-6.

Pembacaan ini ternyata memberi sebuah efek domino. Ketertarikan atas sejarah dan cerita-cerita non-fiksi membuat buku-buku lain seputar sejarah Kiblik mengantri untuk dibaca. Sebut saja Doorstot Naar Djokja, Napak Tilas ke Belanda, dan Mengenang Sjahrir. Khusus untuk yang disebut terakhir, itu memang amanat Ibu yang menginginkan saya membaca tentang Sjahrir dan Natsir. Entah apa maksudnya, tapi suatu hari nanti saya akan lakukan permintaan Ibu itu.

Saya bersyukur karena "nafsu" atas pengetahuan sejarah negeri ini terpuaskan dengan terbitnya Sejarah Kecil Indonesia ini. Saya memberi perhatian lebih bagi hal-hal yang "kecil" itu karena darinya tentu akan menguak hal-hal lain yang lebih besar. Penutup, saya selalu ingat sebuah kalimat dari Seno Gumira Ajidarma: Sejarah, seberapa jauh kita belajar darinya?

Judul       : Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia; jilid 4
Penulis     : Rosihan Anwar
Penerbit   : Penerbit Buku Kompas
Tahun      : 2010
Tebal       : 282 hal.
Genre      : Sejarah

Paninggilan, 17 Februari 2013.
-di hari ulang tahun Ibu-

Minggu, 03 Oktober 2010

Catatan di Minggu Pagi

Menikmati hari Minggu dengan bangun siang tentu sangat menyenangkan. Tetapi, bila dibangunkan oleh raungan mesin dan klakson dari loper koran bisa jadi sesuatu yang mengganggu. Bisa jadi juga satu hal yang tidak menyenangkan. Dan itu terjadi pada saya.

Tentu banyak alasan mengapa banyak orang membaca koran di pagi hari. Ada yang memang karena hanya punya waktu di pagi hari. Ada yang memang kebiasaan baca di pagi hari. Ada juga yang mengikuti formalitas semata, seperti yang Pak Edwin pernah bilang waktu belajar Komunikasi Massa.

Saya tidak pernah punya kolom favorit yang selalu saya tunggu setiap minggunya. Saya tidak mengidolakan satu kolom bagaikan subscribed threads di forum-forum yang saya ikuti. Walaupun begitu saya selalu punya kolom yang setidaknya harus sempat dibaca atau disimak biar kata itu cuma kolom Teka Teki Silang atau pun komik strip seperti Panji Koming.

Saya juga tidak perlu tahu mengapa kolom Sastra, Kesenian, dan Kebudayaan ditempatkan pada hari Minggu. Apakah untuk memanjakan para penikmat sastra, seni, dan budaya yang hanya punya waktu luang di hari Minggu, saya rasa saya tidak perlu tahu juga. Yang saya tahu, dengan mata yang masih pedas saya membaca liputan wawancara tentang kebudayaan bersama Ajip Rosidi. Sosok seorang tokoh dalam ranah sastra daerah dan nasional yang semakin saya akrabi semenjak membaca karya beliau yang berjudul, “Orang dan Bambu Jepang”.

Beliau juga yang semenjak tahun 1999 ikut menggagas Hadiah Sastra Rancage, yang kini tidak hanya terbatas pada penulis Sunda saja, tetapi juga penulis dari Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Perlu dicatat, itu dilakukan beliau tanpa (berharap) dukungan dari Pemerintah.


Beberapa Catatan


"Budaya Tak Pernah Diperhatikan..."

Sejak negara Indonesia didirikan, budaya tak pernah diperhatikan, itu kalau kebetulan pejabatnya mempunyai perhatian.

Kebudayaan hanya embel-embel apalagi sekarang kebudayaan dimasukkan dalam pariwisata, artinya kebudayaan hanya dimasukkan sebagai komoditas yang bisa dijual.

Mereka tidak pernah memikirkan bahwa kebudayaan itu merupakan salah satu bagian dari pembangunan bangsa. Mereka merasa cukup dengan memberikan hadiah pada seniman atau lembaga yang bergerak di bidang kesenian. Hanya itu saja.

Membaca petikan diatas, saya teringat akan sesuatu. Saya cukup miris dengan kenyataan bahwa masalah kebudayaan bangsa yang sejatinya menjadi urusan pemerintah ternyata tidak pernah mendapat perhatian serius dan seringkali terpinggirkan. Zaman Orde Baru, Kebudayaan menjadi satu dengan Pendidikan dibawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Rasanya masuk akal bila masalah pendidikan dan kebudayaan berada satu atap dibawah lembaga yang menaunginya. Setidaknya, pendidikan akan membuat orang tersadar akan masalah khazanah kebudayaan bangsanya. Itu menurut logika sederhanacsaya yang masih perlu diuji keabsahannya.

Sedangkan kini, masalah kebudayaan kembali dipisahkan dengan masalah pendidikan dan dilebur ke dalam urusan pariwisata. Bergabung dalam Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan. Dari kedua-duanya, kebudayaan tidak pernah mendapat tempat pertama. Selalu berada setelah subjek yang pertama. Hal itu mengindikasikan (lagi-lagi) Pemerintah memang tidak pernah serius mengenai urusan kebudayaan ini. Barangkali, Pemerintah hanya peduli dengan Visit Indonesia Year yang jelas-jelas demi usaha meningkatkan bisnis pariwisata dengan menjual kebudayaan-kebudayaan masyarakat yang layak dijual (menurut hitung-hitungan dagang). Bisa saja, keresahan yang diungkapkan oleh Ajip Rosidi itu benar adanya. Sekali lagi, itu menurut logika sederhana saya yang masih bisa terbantahkan, maklum saya hanya rakyat biasa.

Dari sekian petikan wawancara dalam kolom ini, rasanya saya sependapat lagi dengan beliau mengenai masa depan Indonesia. Saya pesimis? Tidak. Realistis? Ya. Seperti bisa disimak pada petikan berikut:

Bagaimana Anda melihat negeri ini ke depan?
Saya sudah putus asa. Dalam otobiografi saya katakan saya tidak melihat masa depan Indonesia. (Dalam otobiografi Hidup Tanpa Ijazah, Ajip menulis "Aku tidak melihat ada fajar yang akan merekah di sebelah depan yang dekat...")

Apakah itu tidak pesimistis?
Banyak orang mengatakan begitu. Saya kira, saya tidak pesimistis, tapi realistis. Saya tidak mengharapkan yang muda akan mengubah kultur politik kita. Sudah berapa generasi dari '66, '98 yang muda masuk, tapi kalau sudah masuk mereka ikut juga. Saya lakukan saja apa yang dapat saya lakukan, dan saya tidak pernah meminta pada Pemerintah.



Paninggilan, 3 Oktober 2010. 21.15

Sumber Bacaan: Ajip Rosidi dalam kolom Persona, harian Kompas, Minggu 3 Oktober 2010.

Kamis, 08 Juli 2010

Obituari 2 Maestro

Belum usai menuliskan isi kepala tentang Abdullah Totong Mahmud, baru saja saya mendapat kabar bahwa Achdiat Karta Mihardja meninggal dunia.

*

Ambilkan Bulan, Bu.


Beberapa bulan yang lalu, sekitar bulan Mei entah apa yang merasuki saya waktu itu, saya menjadi sangat ingin sekali mendengarkan lagu Ambilkan Bulan. Thanks God it’s 4shared. Menjelang tidur, saya selalu memutar lagu itu sebagai pengantar. Pertama kali mendengar tahu ada lagu anak-anak seperti itu kira-kira sekitar medio 1997. Entah Tasya atau siapa yang menyanyikannya, kalau tidak salah ingatan yang tersisa di kepala saya adalah model yang jadi Ibu si anak di video klipnya adalah Maudy Koesnaedi.


Adalah suatu perasaan yang mengagumkan untuk mengenang sang pencipta lewat karya-karyanya. Apalagi kalau ternyata karyanya abadi dan selalu menjadi pertanda zaman. Mengenai lagu itu juga ada alasan emosional sehingga saya tidak pernah bosan memaksa si Ngipod untuk memutarbalik playlist. Menurut saya, kekuatan lirik yang sangat dahsyat tercermin dari lagu ini. Saya sendiri tidak pernah punya pengalaman untuk sekedar memintakan bulan pada Ibu. Barangkali karena saya anak laki-laki jadi Ibu tidak pernah menjadi Ibu yang diperankan dalam video klip lagu ini.

Saya tidak menyangka bahwa ditengah guyuran hujan dan gemuruh dari langit pada siang 8 Juli kemarin bangsa Indonesia telah kehilangan seorang maestro lagu anak-anak. Mendengar kabar wafatnya Pak A.T. Mahmud saya hanya bisa diam sambil memutar lagu itu dikepala saya, berulang-ulang. Semoga bulan pun ikut menerangi jalan keabadian Pak Abdullah.

Lelaki kelahiran Palembang, 3 Februari 1930 yang juga sahabat Prof. Emil Salim semasa SMP itu kini telah tiada untuk selamanya. Namun, karyanya akan tetap abadi. Selalu dikenang sepanjang masa oleh mereka yang tak pernah lupa akar rumput bangsanya.

Achdiat K. Mihardja


Perkenalan saya dengan Begawan sastra yang satu ini dimulai dengan cerpen beliau yang dimuat dalam Tokoh-tokoh Cerita Pendek Indonesia hasil kompilasi Korrie Layun Rampan sekitar tahun 2005. Judul cerpennya saya lupa. Tetapi dari biografi singkat penulisnya sudah barang tentu beliau ini adalah satu dari sekian banyak maestro sastra Indonesia. Buktinya, beliau menjadi Guru Besar yang mengajar Kesusasteraan Indonesia di Australia National University (ANU). Biografi singkat itu juga yang selalu menyemangati saya supaya suatu saat nanti harus bisa berlabuh di ANU, Canberra atau Monash di Melbourne. Saya mengenal lebih dekat sosok beliau melalui Majalah Horison edisi bulan April 2010.

Beliau lahir di Cibatu, Garut, Jawa Barat pada tanggal 6 Maret 1911 dan wafat pada usia 99 tahun di Australia sana. Ia pernah mengenyam pendidikan AMS-A Solo dan Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia. Semasa mudanya, beliau pernah bekerja sebagai guru di perguruan Taman Siswa, Redaktur Balai Pustaka, Kepala Jawatan Kebudayaan Perwakilan Jakarta Raya, dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1956-1961), dan sejak 1961 hingga pensiun sebagai dosen kesusastraan Indonesia pada Australian National University, Canberra, Australia.


Hingga hari ini belum ada satu pun karya beliau yang saya baca secara penuh. Kecuali tulisan cerpennya di buku Korrie Layun Rampan tadi. Awal-awal menulis di blog saya sering mengutip judul novel beliau lainnya, Debu Cinta Bertebaran, untuk dimasukkan kedalam tulisan. Keduanya adalah karya fenomenal yang mengalami cetak ulang di dalam negeri dan luar negeri. Akan tetapi, barangkali Atheis lah yang merupakan karya terpenting dari beliau. Waktu di SMA, penggalan novel Atheis seringkali jadi bahan soal dan pertanyaan di LKS (Lembar Kerja Siswa) Bahasa Indonesia.

Pada masanya, Atheis yang ditulis sekitar tahun 1940-an mengemukakan masalah baru yang belum pernah dikemukakan sastrawan-sastrawan lain. Terlebih lagi pada masa itu atheisme mulai di kenal di Indonesia. Pemikiran Karl Marx dan Frederick Nietzsche merasuki ranah pembicaraan kaum intelektual. Atheis menjadi satu bukti respon dan keterlibatan beliau dalam diskusi tentang atheisme.

Satu lagi yang membuat Atheis akan selalu dikenang dan melegenda dalam sejarah sastra Indonesia adalah isinya yang membahas benturan nilai-nilai antara theisme dengan atheisme dalam tatanan masyarakat tradisional Indonesia. Ada konteks ikatan pertentangan budaya antara nilai-nilai tradisional dengan nilai-nilai modern serapan dari Barat. Implikasinya terlihat langsung pada benturan antara nilai-nilai kepercayaan pada Tuhan di satu sisi dan nilai-nilai penolakan terhadap Tuhan di sisi lain*).

Selamat jalan, Aki. Doa kami bersamamu. Terima kasih untuk telah jadi pembeda, antara mereka yang memilih jalan Tuhannya dan mereka yang mencoba membuat jalan sendiri menuju keabadian yang kekal.


Paninggilan, 8 Juli 2010. 23.35


*) dikutip dari Majalah Horison, April 2010

NB: Profil A. T. Mahmud dapat dibaca di website Tokoh Indonesia

Kamis, 10 Juni 2010

David Foster (A Short Biography)

Tidak berlebihan untuk mengatakan bila semua yang disentuh David Foster berubah jadi emas-bahkan platinum. Penulis lagu dan produser sekaligus peraih 15 kali Grammy Award (termasuk tiga kali Producer of the year) dengan 44 nominasi, penerima 7 kali Canadian Juno Awards, satu kali Emmy Awards, dan 3 kali nominasi Oscar yang diraihnya dalam 4 dekade kesuksesan yang luar biasa. Bahkan, ia juga berhasil mengorbitkan beberapa penyanyi terbaik dunia sepanjang masa. Untuk keberhasilannya ini beberapa kalangan pengamat musik menamainya, Midas of Music Industry.

Satu dari pencapaian tertinggi dalam karir David Foster adalah konser spektakuler one-night only “Hit Man: David Foster and Friends” yang menampilkan Andrea Bocelli, Michael Buble, Josh Groban, Celine Dion, Peter Cetera, Kenny G, Brian McKnight, Katherine McPhee, Blake Shelton, penyanyi debutan Charice, dll. Rekaman konser itu juga tersedia dalam CD dan DVD.

Dalam konser tersebut, ia tampil sebagai host yang tentu saja menambah daftar panjang bakat dan keahliannya. Selain tampil sebagai host dalam konser tersebut, David Foster juga berperan membawakan welcome highlight dengan menampilkan beberapa hits nomor satu dan lagu-lagu favorit pemenang berbagai penghargaan. Rencananya, biografinya yang berjudul “Hit Man: Forty Years Making Music, topping the Charts and Winning Grammies” akan dirilis pada 11 November. Setelah itu, konser ini akan disiarkan di PBS pada bulan Desember.

Konser “Hit Man: David Foster and Friends”

David Foster berkarya di jalur musik sejak tahun 1973 dan dengan cepat segera mendapat reputasi sebagai kibordis yang disegani. Ia juga sering diminta tampil untuk mengiringi musisi lain. Sebut saja John Lennon, Diana Ross, George Harrison, dan Rod Stewart. Pada akhir tahun 1970, ia mulai beralih untuk menulis lagu dan memproduserinya seperti ketika bekerjasama dengan Earth, Wind and Fire yang menghasilkan lagu “After The Love Has Gone” dan “Got To Be Real” yang meraih sukses besar.

Karirnya pun semakin menanjak pada tahun 1980-an ketika ia memproduseri sekaligus menulis beberapa lagu luar biasa yang masuk dalam jajaran single No.1, seperti “Hard To Say I’m Sorry” dari Chicago, “The Glory of Love” Peter Cetera, dan “Man in Motion” John Parr. Sementara menyelesaikan multi-platinum selling songs dari OST Ghostbusters, Footloose dan album 16, 17, dan 18 dari Chicago, pada periode ini juga ia masih memproduseri dan menulis lagu untuk Alice Cooper, Al Jarreau, Hall and Oates, Kenny Rogers, Kenny Loggins, Boz Scaggs, dan Olivia Newton-John.

Periode 1990-an reputasinya kembali menghasilkan beberapa hits seperti hit pertama Celine Dion “The Power of Love”, “Unforgettable” Natalie Cole, “Have You Ever” Brandy, “Music of My Heart” Gloria Estefan dan N’Sync, serta single “Somewhere”dan album “Back To Broadway” dari Barbara Streisand. Pada tahun 1993, ia kembali menikmati tahun yang sangat berharga dimana ia dianugerahi Billboard Magazine’s "Top Singles Producer”, "Top R&B Producer," dan Top Grammy Nominee dengan 7 nominasi yang mengejutkan. Diatas itu semua, ia mendapatkan penghargaan “Producer of The Year” untuk soundtrack film The Bodyguard.

Setelah melewati tahun yang menggembirakan sepanjang 1993, David Foster tetap berkarya dan menapaki kesuksesan kembali pada tahun-tahun berikutnya (1994-1997). Ditandai dengan beberapa hits yaitu “Unbreak My Heart” Toni Braxton, “I Will Always Love You” Whitney Houston, “I Swear” All-4-One dan “Because You Loved Me” Celine Dion. Single-single tersebut berhasil meraih posisi No.1 pada tangga lagu Billboard Pop Singles dan berhasi memecahkan rekor dengan bertahan selama 42 minggu.


Pada akhir 90-an, David Foster mendirikan 143 (I Love You) Records dan bermitra dengan Warner Brothers. Dibawah label barunya, ia mulai merekrut beberapa bakat baru yang luar biasa. Tercatat nama-nama tenar seperti, The Corrs, yang telah menjual 30 juta kopi rekaman, Plus One, Grup Penyanyi Lagu Rohani, dan Kevin Sharp, bintang televisi dan penyanyi country yang meraih platinum.

*



Memasuki milenium baru merupakan awal bagi David Foster untuk kembali menemukan gairah dan bakat baru. Ia kembali dan memproduseri Josh Groban, yang dikritik karena albumnya diklaim telah terjual sebanyak 17 juta kopi. Pada 2007, Josh Groban dan David Foster berpasangan untuk album Natal “Noel” yang memecahkan rekor sebagai album Natal terlaris tahun 2007 dengan lima minggu berturut-turut bertahan di chart no.1 dan terjual sebanyak 3,7 juta kopi.

Selanjutnya, ia melirik Michael Buble, yang juga berasal dari Kanada. Seorang penyanyi dengan soft low voice yang albumnya, Call Me Irresponsible berhasil menduduki peringkat 2 chart Billboard dan menjadi nomor satu beberapa minggu kemudian. Album itu sendiri telah terjual lebih dari 5 juta kopo di seluruh dunia. Proyek terbaru darinya adalah bekerjasama dengan storyteller sekaligus musisi, Peter Cincotti. Album ke-2 dari Peter Cincotti, East of Angel Town, berisikan paduan dari funk jazz, rock dan blues. David Foster tidak berhenti dan terus mencari untuk menemukan bakat-bakat baru seperti Renee Olsted dan pianis William Joseph.

Diluar dari petualangannya untuk menemukan bibit-bibit baru, ia juga kembali bekerjasama dengan beberapa nama besar dan veteran dalam industri musik. Ia memproduseri album peraih platinum milik Andrea Bocelli, Amore, bersama dengan tambahan DVD/CD combo, Under the Desert Sky. Ia juga memproduseri dan menulis bersama dengan Carol Bayer Sager untuk lagu peraih Golden Globe, “The Prayer” yang dibawakan oleh Celine Dion dan Andrea Bocelli, dan beberapa hits untuk Madonna dan Michael Jackson. Kemudian, ia juga memproduseri beberapa album lainnya seperti duet Nicole Kidman “Come What May” dalam soundtrack film Moulin Rouge, album multi-platinum Celine Dion “Miracle” dan juga diberi kehormatan untuk membuat lagu penutup Olimpiade Musim Dingin 2006 bersama Amy, putrinya, dimana mereka menulis dan memproduserinya bersama.

Kesuksesan dan pencapaian hebat David Foster dalam industri musik selama 3 dekade terakhir juga membawakannya kesempatan untuk berkontribusi pada masyarakat disekitarnya terutama pada anak-anak. Pada tahun 1986, ia mendirikan David Foster Foundation yang bermarkas di Kanada sebelah barat, dimana ia sering mengadakan fundraising dana amal untuk membantu anak-anak yang membutuhkan transplantasi organ. Ia juga tampil pada beberapa acara amal, seperti the Andre Agassi Foundation, Race to Erase MS, Muhammad Ali’s Fightnight Foundation, Cap Cure Prostate Cancer Research Foundation, Malibu High School Scholarship Program, The Carousel Ball, and Cedars-Sinai Research Center for Woman’s Cancer.

Sepanjang karirnya, David Foster telah menunjukkan dirinya sebagai musisi yang kreatif, pekerja keras, dan perhatian. Ia tumbuh sebagai produser dan penulis lagu papan atas yang telah bekerja dengan banyak nama besar dan berhasil padu dengan mereka untuk menciptakan banyak hits terbaik selama 80-an dan 90-an.

Sebagai penulis dan produser, ia juga berhasil untuk membentuk dan memoles karir dari bintang-bintang muda berbakat. Kecenderungannya untuk menemukan bakat-bakat baru dan juga dedikasi dan kesuksesannya selama 3 dekade terakhir adalah sebuah bukti bahwa ia masih memungkinkan untuk meraih beberapa pencapaian, penghargaan, dan apresiasi untuk karyanya yang mengagumkan. Sepertinya, para penggemarnya akan masih dibuat untuk menunggu karya-karya dari David Foster selama beberapa tahun ke depan.

Biodata

Nama Lengkap : David Walter Foster
Tanggal Lahir : 1 November, 1949
Asal : Victoria, British Columbia, Canada
Genre : Pop, R&B, classical, gospel, adult-contemporary
Profesi : Record producer, composer, songwriter, arranger
Instrumen : piano, keyboards, synthesizers
Website : www.davidfoster.com

Penulis adalah penggemar karya-karya David Foster.

Tulisan ini disarikan, dan disajikan dengan mengutip pada www.davidfoster.com/biography




Paninggilan, 10 Juni 2010. 23.23

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...