Tampilkan postingan dengan label krisis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label krisis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 September 2011

Potret Bangsa 1967-2007



40 Tahun Oom Pasikom: 
Peristiwa dalam Kartun Tahun 1967-2007  


Membaca kembali berbagai catatan peristiwa tentang sejarah bangsa rupanya sudah biasa. Sejarah yang tertuang dalam bentuk teks hanya menghasilkan generasi yang mulai melupakan akar sejarah bangsa sendiri. Namun, bagaimana bila episode yang terlewati itu dituangkan dan diekspresikan melalui bentuk gambar kartun yang biasa kita baca sehari-hari di media cetak? Rasanya tentu akan lebih mengena dan kontekstual serta memudahkan pembaca yang awam akan suatu peristiwa tertentu.

Walaupun tidak semua peristiwa dapat disajikan setidaknya ada beberapa peristiwa dan polemik tentang kehidupan berbangsa dan bernegara yang dirangkum menjadi sebuah komposisi mengagumkan. Kumpulan gambar yang banyak berbicara dari sudut pandang kaum marjinal (baca: rakyat biasa) menjadi suatu "corong" kritik pada masanya.

Rasanya kita semua perlu tahu bahwa pada tahun 70-an Indonesia melalui Pemerintahnya sudah mulai sadar akan adanya praktek korupsi dari aparat negara yang berkolusi dengan pengusaha. Terbukti dengan dibentuknya TPK (Tim Pemberantas Korupsi. Mungkin entitas inilah yang mengilhami lahirnya KPK. Selain itu, sejalan dengan timeline dimunculkan pula rentetan peristiwa-peristiwa lainnya yang mengiringi Repelita, Pelita, Runtuhnya Orde Baru, hingga Orde Pasca-Reformasi (2007).

Banyak kejadian dan peristiwa lain yang terjadi sepanjang kurun waktu 40 tahun tersebut. Kehadiran buku ini tentu jadi penanda zaman. Sebagai dokumentasi perjalanan sejarah bangsa dimana kita diwajibkan untuk mengambil nilai-nilai positif darinya. Buku ini seakan menjadi kaleidoskop yang merangkum itu semua dengan cara yang tentu saja sangat menghibur.

Judul : 40 Tahun Oom Pasikom: Peristiwa dalam Kartun Tahun 1967-2007
Penulis : GM Sudharta
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun : 2007
Tebal : 296 hal.
Genre : Kartun


Paninggilan, 30 September 2011.


Jumat, 13 Agustus 2010

Menantang Diktator, Menantang Takdir

Judul Buku : Menantang Diktator: Konspirasi Rahasia Anti-Hitler
Penulis : Darma Aji
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun : 2006
ISBN : 9789797091996
Genre : Sejarah Dunia










Conspiracy without solidity will be nothing

Membaca kembali catatan sejarah peninggalan Third Reich dengan simbol kejayaan Nazi dan Adolf Hitler tentu masih sangat menarik untuk diperbincangkan. Perlawanan terhadap rezim yang menjalankan kekuasaan dengan diktatorisme dan totalitarian menjadi sangat tdak mudah. Terlebih lagi, Angkatan Bersenjata Jerman terikat sumpah setia pada Fuehrer.

Menggalang kesatuan ide dan kesepakatan politis demi mencapai tujuan bersama, yaitu bersatunya kembali Jerman dan runtuhnya rezim Nazi seringkali gagal karena tidak kokohnya fondasi konspirasi yang mereka buat sendiri. Dengan demikian, sampailah mereka pada ide untuk membunuh Hitler dan Himmler. Namun, merencanakan pembunuhan Hitler pun bukan perkara yang mudah. Banyak Jenderal masih memegang sumpah setianya pada Fuehrer dan banyak pula yang beranggapan bahwa berkonspirasi membunuh pemimpin Negara adalah suatu tindakan pengkhianatan terhadap Negara.

Berbagai plot telah disiapkan guna menggulingkan rezim diktator yang semakin menenggelamkan Jerman dalam perang melawan Sekutu Barat dan Uni Soviet dibawah pimpinan Stalin. Plot pembunuhan Hitler disusun bersama dengan serangkaian rencana kudeta dan pengambilalihan kekuasaan di Ibukota Jerman saat itu, Berlin. Hanya saja, keberuntungan seringkali menaungi Hitler. Beberapa percobaan sempat mengalami kegagalan. Hitler pun semakin di atas angin dan semakin merasa bahwa tujuan mulia terhadap Third Reich adalah takdirnya.

Begitu pun usaha dari Kolonel Clauss von Stauffenberg pada 20 Juli 1944 yang membawa bom dalam koper dan meninggalkannya di ruang rapat markas Hitler di Wolfersschanze (Wolf’s Lair), Prusia Timur. Kisah heroik ini juga pernah difilmkan dengan judul Valkyrie (MGM, 2008) dan dibintangi oleh Tom Cruise yang memerankan sendiri Stauffenberg. Valkyrie sendiri adalah nama dewa dalam mitologi Jerman-Nordik yang juga namanya dijadikan sandi operasi pengambilalihan keamanan darurat dalam negeri bila sewaktu-waktu kepala Negara berada dalam keadaan bahaya.


Melalui buku ini, pembaca diajak lebih menyelami kejadian-kejadian konspirasi sepanjang berkuasanya Rezim Nazi dibawah komando Adolf Hitler, der Fuehrer. Pembaca juga akan mendapatkan wawasan tambahan sepanjang Perang Dunia II, tentang bagaimana taktik militer Jerman pasca D-Day di Normandia dan War of Stalingrad, dan juga apa dan siapa yang ikut berperan seputar masa-masa kelam dalam sejarah kemanusiaan. Lebih lengkap lagi bila pembaca juga menonton film dokumenter D Day 6.6.44 (2004) dan War of The Century: When Hitler Fought Stalin (2000) rilisan BBC Films sehingga objektivitas pembaca akan tetap terjaga dengan informasi dan arsip-arsip terbaru yang dirilis Rusia guna kepentingan riset.


Paninggilan, 13 Agustus 2010. 10.33

* Edisi Sejarawan Dadakan

Minggu, 16 Mei 2010

The Bailout

From : cinta@kantorberita.net
To : bedul@kempos.com
Subject : Euro VS Century Bailout


Dear Bedul,

Would you like to asses this case (Euro Bailout). Do you have any concern regarding it? I mean, is this case as same as Century's bailout? I hope you do well for my question here,


Faithfully yours, with love


Cinta

* * * * *


Deutsche Bank chief casts doubt on Greece bailout


Deutsche Bank CEO Josef Ackermann has expressed doubts about Greece's ability to repay its sovereign debt despite billions of euros in EU bailouts.

In an interview with German public broadcaster ZDF, Deutsche Bank CEO Josef Ackermann has questioned Greece's ability to pay down its massive debt despite an international rescue package of 110 billion euros ($138 billion).

A separate, 750 billion euro fund created to help stabilize the euro, however would help stabilize Spain and Italy's troubled economies, Ackermann said.

Ackermann is one of Europe's top bankers, and is a key architect of the private sector contribution to the bailout package to Greece. Despite the bailout and drastic austerity measures from the Greek government, Ackermann isn't completely optimistic when it comes to Greece's total recovery.

"I have my doubts about whether Greece is in a really position to step up its efforts," Ackermann said in the ZDF interview.

Should Greece fail to get its debt problem under control, Ackermann said it could lead to a sort of "meltdown" that could affect other countries.

Hope not lost

While Greece's future remains unclear, Ackermann said the EU's fund to stabilize the currency would have a positive impact in Spain and Italy, whose finances are also on shaky ground. Those countries could be stabilized enough to "reduce or consolidate the danger of contagion," but in the case of Portugal, things would be "a little more difficult."

Ackermann also had a positive outlook when it comes to inflation in the eurozone and the euro's strength as a world currency.

"In the next two to three years, I don't see any chance of [high inflation]." Ackermann said. We have very clear economic growth, we have unutilized capacity… inflation is surely not our problem."

He added that the euro remained "fundamentally strong," despite recent dips in trading against the dollar.

In fact, said Ackermann, a weakened euro could actually be beneficial to Germany, who relies heavily on exports.

* * * * *


Dear Cinta,

Terima kasih atas kepercayaannya. Tidak pernah terpikirkan bahwa seorang penulis jadi-jadian seperti saya ini dipercaya untuk memberikan penilaian terhadap suatu kejadian yang saya sendiri tidak paham persis letak persoalannya. Masalah krisis sejatinya adalah masalah keuangan dan hubungan keduanya masih perlu dikaji lebih jauh apakah saling mempengaruhi atau tidak.

Bailout Yunani ini saya kira akan berimplikasi terhadap milai mata uang Euro yang sedang melemah, dan juga terhadap keadaan inflasi di Eropa terutama di Negara-negara seperti Italia dan Spanyol. Tujuan dari bailout sendiri adalah untuk menyelamatkan Yunani dan Eropa dari krisis berkepanjangan. Hal ini dimaklumkan karena Eropa masih mengalami sisa-sisa krisis tahun 2008 lalu dan belum sepenuhnya pulih sehingga apabila Yunani tidak segera ditolong maka dikhawatirkan kejatuhan Eropa tinggal menunggu waktu saja.

Dari sisi sejarah, ada hal yang menarik yang saya rasa patut kita perhatikan. Okupansi Hitler atas Yunani pada awal 1940-an menjadi satu hal tersendiri dibalik alasan Deutcshe Bank untuk menanggung biaya bailout atas Yunani. Jerman kini menanggung beban moral akibat perjalanan sejarah bangsanya. Saya yakin, jika bisa membaca masa depan negerinya, Otto von Bismarck pun tidak akan meridhoi tindakan agresi Hitler karena Jerman akan menanggung beban akibat nafsu kekuasaan Hitler.

Bagaimanapun, Cinta, bailout dimanapun dan apapun bentuknya punya tujuan yang positif dan logis sebagai usaha untuk menghindar dari krisis. Hanya saja, terkadang muncul berbagai implikasi dari kebijakan ini dan celakanya, banyak pihak yang menjadikan proses pengambilan kebijakan ini sebagai celah untuk menyerang individu. Dalam konstelasi geopolitik regional, tentu Cinta sendiri lebih tahu siapa objek dan subjeknya.



Semoga berkenan,
Peluk Hangat,


-Bedul-



Paninggilan, 16 Mei 2010. 07.48


*berita diambil dari www.dw-world.com © Deutsche Welle

Senin, 13 Oktober 2008

Catatan di Masa Krisis

Dalam hari-hari yang kujalani kembali sebagai seorang pengangguran, aku merasa tidak ada yang perlu untuk kuceritakan apalagi sampai harus membuatkan tulisan tentangnya. Namun, tiba-tiba aku merasa harus menulis sesuatu. Baiklah, aku tidak akan menulis tentang bagaimana keseharian seorang pengangguran. Aku tidak akan bercerita padamu tentang hari-hari seorang pengangguran yang selalu sama dari detik ke detik berikutnya. Aku tidak akan bercerita tentang hidup seorang pengangguran yang sedikit demi sedikit aka mengalami krisis. Aku juga tidak akan bercerita bahwa nasib memang selalu membutuhkan teman untuk bercerita. Suatu saat mungkin nasib akan menghampirimu dan ia akan bercerita padamu tentang bagaimana seorang pengangguran hanya bisa bermimpi dan menabur harapan untuk masa depan.

Semuanya kembali seperti biasa. Dunia pun memang begitu adanya. Kini aku bukan lagi seorang pustakawan yang selalu menulis Surat dari Bukit. Sudah lama pula aku tidak menulis catatan yang selalu diakhiri dengan kata Salam dari Bukit. Lebaran sudah berlalu. Saatnya kembali pada kenyataan yang hampir biasa. Kota-kota besar akan penuh sesak dengan kaum pendatang yang membeli mimpi di kampungnya dan berharap mimpinya itu jadi kenyataan di kota. Semua itu terjadi begitu saja setiap tahunnya. Mungkin suatu saat nanti aku juga akan jadi bagian dari mereka yang datang untuk menantang kehidupan di metropolitan yang semakin gemerlap oleh mereka yang menanamkan uangnya.

Pada hari yang biasa ini, rupanya dunia kita sedang (kembali) mengalami krisis. Dunia ini sudah bertambah tua namun krisis demi krisis salaing bergantian untuk menggerogoti dunia ini. Krisis apa yang belum pernah dunia ini alami? Krisis Nuklir? Krisis Pangan? Krisis Lingkungan? Atau yang lebih parah Krisis Kemanusiaan? Kali ini krisis keuangan yang bersumber dari negerinya Rambo itu membuat seluruh dunia merasakan getirnya dan mereka semakin merasa bahwa punya uang di masa sulit seperti ini benar-benar berharga walau nilai tukar terhadap dolar semakin turun. Dari Bursa Efek Jakarta hingga New York Stock Exchange semuanya ambruk tak terkecuali. Bahkan, BEJ sempat ditutup selama beberapa hari karena ada sentimen panik dari para pemain di lantai bursa.

Berita tentang krisis ini akan sama setiap harinya dimana pemerintahan di seluruh penjuru dunia akan memberikan bail out terhadap sektor perbankan yang memang menjadi objek dari krisis ini. Pada berita lainnya, kabar tentang indeks gabungan sejumlah lantai bursa akan diberitakan mengalami penurunan indeks yang cukup signifikan setidaknya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Berita semacam itu akan mejadi langganan headline sebuah koran nasional dan breaking news yang muncul setiap jamnya dari sebuah televisi nasional.

Krisis ini setidaknya membuka mata dunia bahwa Amerika Serikat memang berperan besar dalam terjadinya badai krisis dunia ini. Malapetaka ini berawal dari tidak kunjung selesainya kasus ”subprime mortgage” atau kredit perumahan di Amerika sana. Begitulah, tanpa penyelesaian yang pasti dan dibiarkan semakin larut dalam kekacauan ekonomi lokal maka seluruh dunia pun ikut menanggung beban dari krisis ini. Kenapa Amerika Serikat selalu saja dijadikan kiblat ekonomi modern? Kenapa kurs nilai tukar mata uang dengan dolar amerika selalu jadi patokan kemajuan ekonomi suatu bangsa?

Aku rasa semua ini hanya akal-akalan saja. Tentu ada aktor dan sutradaranya dibalik semua kejadian ini. Semua ini hanya omong kosong agar IMF mau kembali menjulurkan tangannya pada setiap negera yang terlibas badai krisis ini. Sama seperti yang bangsa ini hadapi sekitar 1 dekade yang lalu. Lagu lama ini akan diputar kembali dengan cara yang lebih global, modern, dan lebih canggih untuk menghadapi infrastruktur keuangan dan ekonomi Indonesia yang lebih kuat dibandingkan 10 tahun yang lalu.

Aku yakin ada skenario besar yang mengatur semuanya. Kurang lebih mirip dengan skenario Calciopolli yang menjungkalkan Juventus ke Serie-B di Italia sana. Skenario ini akan berjalan dengan mulus karena pada dasarnya persepsi seluruh warga dunia sudah sama bahwa mereka pada akhirnya akan menyadari dunia ini sedang mengalami krisis. Pembentukan persepsi yang melibatkan peran media ini tentu akan mempermudah sang sutradara untuk menjalankan semua rencana-rencana yang tersusun rapi dalam berkas-berkas seusai rapat. Rencana-rencana yang baru akan terungkap 3 atau 4 tahun ke depan, ketika seluruh warga dunia akhirnya menyadari juga bahwa mereka sebenarnya hanya jadi bagian dari permainan omong kosong ekonomi dunia.

Kejadian seperti ini tentu mirip dengan yang terjadi di Indonesia pasca krisis di tahun 1999 dimana IMF memberikan tangannya untuk menyelamatkan bangsa yang karam ini. Presiden dimasa itu ”dipaksa” untuk menandatangani nota kerjasama yang sebetulnya merugikan seluruh sendi-sendi kehidupan bangsa. Maka, apabila pada medio 2003 negeri kita kembali ribut tentang divestasi beberapa BUMN strategis dan liberalisasi pendidikan dengan merubah PTN-PTN menjadi BHMN semua itu hanyalah sisa-sisa dari bom waktu yang disetel 3 atau 4 tahun ke belakang itu. Kita hanya akan jadi sitting duck (sasaran empuk) dari rudal-rudal skenario global yang mewakili kepentingan kaum imperialis-kapitalis modern.

Aku rasa untuk saat ini krisis ini belum benar-benar terasa bagi kami kaum pustakawan dan belum terlambat pula bagi kami untuk menyadarinya. Kami hanya mengikuti beritanya saja lewat koran yang dilanggan setiap bulan dan internet yang selalu kami buka sebelum berdoa untuk memulai pekerjaan. Kalau memang krisis ini benar-benar menyapa dan memberi salam selamat pagi Dunia kepada kami, aku belum tahu akan seperti apa jadinya dunia ini.


Salam dari Pharmindo,


Pharmindo, 13 Oktober 2008, 08.41

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...