Tampilkan postingan dengan label Ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Desember 2023

Titip Rindu buat Ibu*)

Rembulan merah mengambang

Langit Cikampek malam hari

Angin kemarau mengalun terbang

Hantarkan hasrat mimpi kembali

 

Debur rindu bawa kelam

Sejuta rindu bawa mimpi

Desiran ingin bakar malam

Jatiluhur terpatri sepi

 

Ibu... Si Anak meradang

Dalam sedu gemuruh hati

Ibu... anakmu pulang

Remuk redam hati terobati

 

Jakarta, 12 Agustus 2009

*) Sama dengan judul novel Novia Syahidah, Titip Rindu buat Ibu

ditulis kembali mengenang perjalanan Jakarta-Bandung via Purwakarta sekaligus menyambut Hari Ibu 2010, diedit kembali pada 22 Desember 2023 untuk diterbitkan di blog ini.

 

Selasa, 03 Juli 2018

Selamat Ulang Tahun, Aisyah

Aisyah sayang,

Hari ini engkau tepat berusia satu tahun. Persis di tanggal dan hari yang sama dengan hari lahirmu setahun lalu. Hari yang juga penuh dengan ketidaknyaman di hati Bapak karena Ibumu harus menjalani operasi Sectio Caesaria-untuk yang kedua kalinya. Untuk engkau tahu, Ibu belum genap dua tahun setelah menjalani operasi yang pertama. Khawatir memang namun akhirnya dengan rasa sakit yang masih tertinggal, engkau lahir di Rumah Sakit yang sama dengan Mas Aldebaran.

Ini adalah tulisan pertama Bapak setelah Akung meninggal. Ya, Bapak belum sanggup mengetik apapun untuk menggugurkan kewajiban satu bulan enam posting di blog ini. Bahkan, tidak ada postingan atau hanya sekedar draft di bulan Maret. Ada banyak faktor tentang kenapa hal ini bisa terjadi. Biar nanti Bapak urai dulu satu per satu. Biar Bapak menata hati kembali usai Akung tidak ada.

Aisyah,

Memang disayangkan, Akung tidak sampai untuk melihat engkau berulang tahun. Bila Aldebaran adalah mahkota Akung, maka engkau adalah cahaya Akung, yang selalu menyinari langkah Akung. Begitulah kalau diandaikan. Seandainya Akung bisa melihat engkau sudah mulai belajar berdiri sendiri, Bapak berharap Akung sedang dalam pangkuan Rabb-Nya bersama kedua buyutmu, Eyang Kung dan Eyang Ti. Utimu pun sama, tidak sempat melihatmu beranjak setahun. Uti masih harus menjalani pengobatan usai opname di Malam Lebaran kemarin.

Apapun itu, Bapak dan Ibu selalu mendoakan agar engkau tumbuh sehat dan menjadi anak yang patuh dan berbudi bakti kepada Agama dan Orang Tua. Sungguh tiada hal lain yang membahagiakan Bapak dan Ibu selain doa anak-anaknya.

Ulang tahunmu ini memang tidak semeriah Aldebaran dahulu. Bapak pun hanya bisa pulang malam di hari istimewamu ini. Engkau sudah larut dalam tidurmu yang tenang. Bapak hanya bisa menciumimu dan memegangi tanganmu saja.

Aisyah manisku,

Selamat ulang tahun, sayang. Cepatlah besar dan bersinar, taklukkan congkaknya dunia. Doa kami selalu di nadimu.

Bogor, 2 Juli 2018.
 

Rabu, 13 Desember 2017

Elegi Senja Pertama

Jingga di bahumu
Malam di depanmu
Dan bulan siaga sinari langkahmu
Teruslah berjalan
Teruslah melangkah
Ku tahu kau tahu aku ada



Tidak ada matahari pagi ini. Langit masih mendung sisa hujan semalam. Ibu masih terbaring diam di ranjang.

"Aku tinggal dulu. Kamu baik-baik ya. Jangan lupa makan."

Bagas membangunkanku pelan dengan kata-katanya. Aku tidak tahu kalau dia ikut menginap denganku disini, disamping Ibu. Ah, aku pasti lelah usai menempuh perjalanan panjang semalam. Amsterdam-Jakarta-Bandung ternyata tidak sejengkal jari manisku di bola dunia. Perjalanan pulang yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku.

Sumber gambar: www.hipwee.com

*

"Kamu pergi sekolah sendirian bisa? Ibu nggak bisa antar kamu pagi ini. Ibu harus mengantar pesanan."
"Nggak apa-apa kok, Bu. Nita bisa pergi sendiri. Siapa tahu Selly masih di rumah, jadi bisa bareng ke sekolah."
"Ini uang jajan kamu. Kunci rumah Ibu simpan di tempat biasa."

Aku masih ingat percakapan dengan Ibu di satu pagi yang sudah lama sekali. Aku masih SD waktu itu. Entah kenapa ingatanku pagi ini kembali ke masa itu. Satu waktu dimana aku mulai menyadari bahwa Ibu adalah seorang Ibu yang luar biasa kuat, tabah, dan tegar. Satu titik dimana aku mulai merasakan ketulusan Ibu, yang takkan bisa tergantikan oleh apapun di dunia ini.

Aku terlahir tanpa mengenal siapa ayahku. Kata Nenek, ayah sudah lama meninggal sebelum aku lahir. Ayahku seorang ahli biologi molekuler yang juga seorang dosen. Determinasi dan ketekunannya membuat Ayah punya reputasi yang baik di kalangan akademisi dan peneliti. Sayang, hal itu pula yang perlahan menggerogoti tubuh Ayah. Ayah meninggal karena gangguan fungsi liver. Selebihnya, aku tidak tahu lagi soal Ayah. Tepatnya, belum mencari tahu.

Aku tumbuh dibimbing Ibu seorang diri. Kami tinggal berdua di rumah peninggalan Ayah. Sebenarnya, Ibu bisa saja menjual rumah itu dan kami tinggal bersama Nenek. Waktu aku tanya begitu, Ibu selalu bilang bahwa rumah itu terlalu banyak menyimpan kenangan tentang Ibu dan Ayah. Lagipula, ada campur tangan Kakek yang turut mendesain facade rumah itu, maklum ia seorang arsitek.

"Bukankah kenangan itu ada untuk dilupakan, Bu?"
"Begitu, ya. Kamu lagi baca buku apa?"
"Nggak sih. Tapi, banyak orang memilih kenangan mereka sendiri dan berusaha melupakannya."
"Sayang, suatu saat nanti kamu akan tahu, kenapa kenangan diciptakan dan mengapa beberapa dari mereka tinggal di hati kita."

Aku memang tidak pernah bisa sedekat itu dengan Ibu. Aku sangat jarang bisa bicara atau sekedar mengobrol ringan dengannya. Aku mulai mau dekat dengan Ibu usai menstruasi pertamaku. Aku terlalu takut menghadapi gerbang dimulainya masa remajaku. Kata orang, aku juga akan mengalami masa puber. Dari majalah remaja yang aku sering pinjam dari Kak Sheila, kakaknya Selly, aku menemukan banyak hal soal bagaimana menjadi seorang remaja. Termasuk tahapan-tahapan yang akan aku lalui nantinya. Kak Sheila sering berkata padaku bahwa tak lama lagi aku akan segera merayakan "Goodbye Miniset". Terus terang semua itumembuatku takut. Aku butuh seseorang untuk menguatkanku, mengantarku dengan perasaan gembira menuju gerbang itu. Aku tidak punya siapa-siapa lagi untuk berbagi, selain Ibu tentunya.

Ibu dengan setia menemaniku, ketika aku memilih dan membeli pembalut wanita pertamaku. Aku melihat api cinta yang dahsyat dimatanya. Barangkali, Ibu tidak pernah menyangka bahwa ia benar-benar ada disisiku, selalu ada disampingku, hingga aku menjalani masa remajaku. Ibu juga yang membantu menjelaskan soal perubahan fisik yang terjadi pada tubuhku. Ibu juga tak henti-hentinya memperhatikanku. Mulai dari penampilan, gaya bahasa, tutur bicara, segalanya tak luput dari perhatian Ibu. Aku semakin sadar bahwa aku akan tumbuh jadi perempuan dewasa, tak lama lagi. Aku jadi semakin takut.

Satu kali, aku mulai tahu rasanya jatuh cinta. Seperti anak SMP lainnya, aku terkagum-kagum pada kakak kelas yang jago main basket. Setiap pulang sekolah hari Rabu, aku dan Selly selalu punya alasan untuk pulang telat. Aku biasa berkilah pada Ibu bahwa kami harus pergi ke rumah teman lain untuk kerja kelompok. Padahal, aku dan Selly hanya duduk di pinggir lapangan sekolah melihat Arya dan Bimo latihan basket.

Aku dan Selly berhadapan dengan seorang bintang lapangan yang tentunya juga idola semua perempuan di sekolah ini. Kami tidak pernah bisa mengalihkan atensi Arya dan Bimo. Sampai suatu saat, mereka mengajak kami minum jus di kantin sekolah usai latihan. Mereka heran karena kami selalu jadi penonton setia latihan mereka. Aku dan Selly tentu senang merasa diperhatikan seperti itu. Ternyata mereka tahu kehadiran kami setiap latihan. Namun, rasa senang yang terlanjur melambung itu hanya sesaat saja. Arya dan Bimo sudah punya pacar di sekolah lain. Damn!

Lain waktu, aku jatuh cinta lagi pada guru pelajaran Seni Musik. Aku tidak tahu apakah Ibu pernah mengalami hal yang sama denganku. Aku suka memanggilnya Mas Daniel, karena ia masih cukup muda dan juga jadi anggota The Symphony 8, sebuah grup orkestra klasik yang cukup terkenal di kotaku. Aku mulai rajin latihan biola, alat musik yang aku pilih dengan asal hanya karena ingin jadi seperti seorang Sharon Corrs. Aku memainkan melodi 'Toss The Feathers' saat pertunjukan yang jadi ujian akhir pelajaran. Aku berhasil mendapat nilai sempurna dan standing ovation dari Kepala Sekolah serta Mas Daniel. Lagi-lagi, aku dibuat kecewa ketika tiket spesial pertunjukan The Symphony 8 pemberian Mas Daniel hanya untuk sekedar melihatnya menerima pelukan mesra dari seseorang yang mengaku sebagai kekasihnya.

Seakan bisa membaca perasaanku, Ibu mulai mengajakku bicara sejak kejadian malam itu. Ibu melihat perubahan yang tidak biasa akhir-akhir ini. Aku tidak lagi bergairah memainkan biola ketika Ibu memintanya. Tiba-tiba aku tersadar saat aku sudah berada di pelukan Ibu, dengan derai mata yang masih hangat. Aku masih ingat kata Ibu.

"Gagal memiliki bukan berarti gagal mencintai, sayang."

*

Aku tidak pernah menyangka bahwa aku masih bersama Anita hingga saat ini. Menemaninya pergi membeli pembalut wanita pertamanya hingga menjelaskannya soal perubahan fisik yang terjadi padanya. Sepuluh tahun berlalu sejak ia bisa memanggilku Ibu dengan sempurna. Kini, malah aku yang tak sadar bahwa waktu berjalan begitu cepat. Anak perempuanku yang belum pernah bertemu ayahnya itu kini sudah jadi gadis remaja. Tak lama lagi, seorang laki-laki akan jatuh cinta padanya. Atau malah ia yang jatuh hati duluan, pada Guru Musiknya barangkali. Seperti aku dulu.

Aku jadi malu bila mengingat lagi masa itu lagi. Aku tidak akan pernah lupa Bagus yang gila kerja itu berani bertemu Bapak dan mengutarakan niatnya untuk menikahiku. Padahal, saat itu aku masih jadi kekasih Daniel, seorang guru piano yang sengaja Bapak pilih untuk mengajariku memainkan melodi lagu kesukaannya, "Memories Of Youth" dari Richard Clayderman.

Sayangnya, Daniel tidak punya cukup nyali untuk melamarku. Ia terlalu takut menghadapi Bapak karena tidak mau jadi orang yang tidak tahu diri. Aku berkali-kali meyakinkannya bahwa cinta kami tidak akan pernah gagal hanya karena ia 'berhutang' pada Bapak. Bapak sangat menghargai kejujuran dan keberanian. Bagus tahu itu, maka dengan sepeda kumbangnya ia datang ke rumahku dan menyampaikan niatnya.

Aku mendapat restu kedua orangtuaku untuk menikah dengan Bagus. Dia sudah jadi dosen muda waktu itu. Aku cukup realistis untuk memulai hidupku bersama Bagus karena gaji dosen waktu itu tidaklah terlalu besar. Banyak pria lain yang patah hati karena aku lebih memilih Bagus. Bahkan, Handi, arsitek handal tangan kanan Bapak pun ikut merasakannya.

Aku kaget ketika Bagus membawaku ke konservatorium milik sahabatnya. Tepat di hari ulang tahun pertama pernikahan kami, Bagus memainkan lagu kesukaan Bapak "Memories of Youth" dan "Ballade pour Adeline" kesukaanku. Aku tidak menyangka bahwa Bagus bermain piano lebih baik daripada aku yang sengaja dikursuskan oleh Bapak. Sejak itu, Bagus tidak pernah berhenti memberiku kejutan.

Aku jadi anak perempuan pertama yang memberi cucu untuk Bapak dan Ibu. Anita Diandra Febrina, begitu kami menamainya. Lahir tanggal 14 Februari, dimana Bagus masih berada di Australia untuk hari seminar pertamanya. This mommy little girl will never see his father karena Bagus meninggal tak lama setelah kepulangannya. Kataku, sambil menggendong Anita di peristirahatan terakhir lelaki pemain melodi terindah sepanjang hidupku.

Aku masih menulis buku harianku ketika Anita menerima telepon pertama dari anak lelaki yang sedang mendekatinya. Anita mulai mengambil jarak denganku, aku bisa rasakan hal itu. Aku rasa inilah waktu untuk memberinya ruang privasi. Peranku berubah, aku harus menjadi seorang teman sekaligus sahabat untuknya.

Aku cukup tahu bagaimana Anita bermain dengan perasaannya. Aku sudah terbiasa dengan hal ini. Naluri Ibu manapun di dunia ini pasti bisa merasakan getarannya. Apapun itu, aku harus tetap bertahan dan selalu ada untuknya. Aku tahu ketakutan terbesarku. Akhirnya, aku harus akui kalau aku sangat takut untuk tidak selalu mampu menemaninya, selalu disisinya. Melewati prom night pertamanya, kelulusan SMA yang selalu penuh cerita, hari-harinya di universitas, hingga mendengarkan cerita soal wawancara kerja pertamanya.


*

Tanpamu... semua tak berarti... cinta sudah lewat...


Pada senja pertamaku di Tanah Air, aku merasa menjadi orang yang sangat bodoh. Aku mendadak merasa jadi orang paling kejam di dunia. Aku meninggalkan Ibu seorang diri di rumah demi sebuah pekerjaan di Belanda sana. Aku meninggalkan Ibu beserta segenap cinta kasih yang pernah ia sematkan dalam setiap hela nafasku. Aku masih bisa merasakan semua kasih sayang yang telah Ibu berikan sepenuhnya. Aku yakin, cinta tidak pernah gagal membuat Ibu mengerti. Hingga saat ini, saat aku memandangi pusaranya.


Jakarta-Bandung, 14 Februari 2014.


* Ditulis untuk kompilasi 'Love Never Fails 1" presented by @NulisBuku. Diterbitkan sebagai satu cerpen di buku ke-5 kompilasi "Love Never Fails".

Selasa, 25 Agustus 2015

Catatan #AyahASI: Bukan Sekedar Berbagi

...bahwa proses pemberian ASI is the best thing happen in the life of a family.
- (hal. 13)


Awalnya, saya tahu gerakan #AyahASI @ID_AyahASI ini di Twitter melalui retweetan beberapa orang yang saya follow. Saya belum cukup aware sampai akhirnya saya mengalami sendiri kebingungan dalam mempersiapkan masa kehamilan dan sesudahnya. Saya pun teringat kembali bahwa para dedengkot gerakan #AyahASI ini menerbitkan bukunya. Dengan demikian, saya berharap bahwa saya tidak terlalu terlambat untuk memahami dan mempersiapkan segala keperluan istri selama masa kehamilan maupun pasca hamil.
 
 

ASI atau Air Susu Ibu adalah bagian penting dari tumbuh kembang si buah hati. Betapa kandungannya memang sudah paling sesuai untuk kebutuhan bayi. Pemberian ASI Eksklusif adalah isu tersendiri mengingat saat ini gencar sekali promosi untuk menggantinya dengan susu formula. Di lain pihak, hal ini menimbulkan dilema ketika susu formula seringkali dijadikan 'senjata' pengganti ASI. Dengan berbagai alasan tentunya.

Masalah ASI bukan hanya urusan Kaum Ibu belaka. Perkara ini juga harus melibatkan peran serta yang seimbang dan setara dari Kaum Pria. Beruntung, ada delapan orang laki-laki keren yang berbuat sesuatu demi mencerdaskan kehidupan para Bapak yang justru sering kehilangan tingkat kecerdasan seketika kala berhadapan dengan urusan mengurus anak.

Saya percaya bahwa langkah kecil kedelapan suami yang membagi ceritanya dalam buku ini adalah sebuah wacana yang besar dalam memberikan pemahaman peran penting menyusui. Meski disajikan dalam bentuk bacaan ringan dalam cerita-cerita pengalaman keseharian para #AyahASI, tidak lantas membuat buku ini kehilangan tujuan utamanya untuk menjadi inspirasi sekaligus berbagi.

Mereka percaya bahwa semua orang tua menginginkan semua hal yang terbaik untuk buah hatinya. Maka tidaklah terlalu salah apabila pengalaman mereka menjadi buku pelajaran yang tidak terlalu text book. Dengan begitu, mereka juga menyertakan pendapat para ahli dan berbagai tips yang sangat berguna dan bermanfaat.

Tidak hanya itu saja, pengetahuan lain semisal soal penggunaan susu formula juga sangat membantu bagi para calon Ayah yang belum paham betul mengenainya. Plus, insert spesial dimana pembaca akan tahu apa yang bisa dibeli dengan uang untuk beli susu formula selama 6 bulan. Atau, simak juga tips untuk pembaca yang masih bingung bagaimana memilih rumah sakit yang pro menyusui dini (ASI) sekaligus memilih dokter spesialis anak.

Buku ini dapat dibaca tamat sekali duduk. Artinya, tidak terlalu membutuhkan effort lebih dalam memahaminya. Namun, buku ini juga tidak lantas membosankan bila dibaca berulang-ulang. Dapat dengan jelas dipahami bagaimana dan mengapa ASI mutlak diperlukan oleh buah hati kita. Pembaca juga dihadiahi komik yang menghibur di setiap akhir cerita. Barangkali saja, selama pembacaan mengalami satu ketegangan.

Buku ini layak jadi panduan atau sekedar bacaan santai sebagai sarana belajar bagi para calon orangtua yang sedang merencanakan pernikahan, kehamilan, dan persalinan. Cerita-cerita dalam buku ini memberikan wawasan yang lebih nyata, informatif, dan reflektif sehingga buku ini layak dijadikan ensiklopedia 'wajib' yang harus dibaca setiap calon Bapak. Buku ini menguatkan kesadaran Kaum Pria untuk mendukung dan mendampingi istri dalam pemberian ASI walau dengan pengetahuan seadanya.

Judul           : Catatan AyahASI: Kami Bukan Ahli, Cuma Mau Berbagi
Penulis        : Sogi Indra Dhuaja (et.al); Tutut M. Lestari (ed.)
Penerbit      : Penerbit Lentera Hati
Tahun         : 2013
Tebal          : 188 hal.
Genre         : Keluarga-Parenting
 
 
Dharmawangsa, 25 Agustus 2015.

Selasa, 30 September 2014

Pusara Senja

Jingga di bahumu
Malam di depanmu
Dan bulan siaga sinari langkahmu
Teruslah berjalan
Teruslah melangkah
Ku tahu kau tahu aku ada

Tidak ada matahari pagi ini. Langit masih mendung sisa hujan semalam. Ibu masih terbaring diam di ranjang.

"Aku tinggal dulu. Kamu baik-baik ya. Jangan lupa makan."

Bagas membangunkanku pelan dengan kata-katanya. Aku tidak tahu kalau dia ikut menginap denganku disini, disamping Ibu. Ah, aku pasti lelah usai menempuh perjalanan panjang semalam. Amsterdam-Jakarta-Bandung ternyata tidak sejengkal jari manisku di bola dunia. Perjalanan pulang yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. 

*

"Kamu pergi sekolah sendirian bisa? Ibu nggak bisa antar kamu pagi ini. Ibu harus mengantar pesanan."
"Nggak apa-apa kok, Bu. Nita bisa pergi sendiri. Siapa tahu Selly masih di rumah, jadi bisa bareng ke sekolah."
"Ini uang jajan kamu. Kunci rumah Ibu simpan di tempat biasa.


Aku masih ingat percakapan dengan Ibu di satu pagi yang sudah lama sekali. Aku masih SD waktu itu. Entah kenapa ingatanku pagi ini kembali ke masa itu. Satu waktu dimana aku mulai menyadari bahwa Ibu adalah seorang Ibu yang luar biasa kuat, tabah, dan tegar. Satu titik dimana aku mulai merasakan ketulusan Ibu, yang takkan bisa tergantikan oleh apapun di dunia ini.

Aku terlahir tanpa mengenal siapa ayahku. Kata Nenek, ayah sudah lama meninggal sebelum aku lahir. Ayahku seorang ahli biologi molekuler yang juga seorang dosen. Determinasi dan ketekunannya membuat Ayah punya reputasi yang baik di kalangan akademisi dan peneliti. Sayang, hal itu pula yang perlahan menggerogoti tubuh Ayah.  Ayah meninggal karena gangguan fungsi liver. Selebihnya, aku tidak tahu lagi soal Ayah. Tepatnya, belum mencari tahu.

Aku tumbuh dibimbing Ibu seorang diri. Kami tinggal berdua di rumah peninggalan Ayah. Sebenarnya, Ibu bisa saja menjual rumah itu dan kami tinggal bersama Nenek. Waktu aku tanya begitu, Ibu selalu bilang bahwa rumah itu terlalu banyak menyimpan kenangan tentang Ibu dan Ayah. Lagipula, ada campur tangan Kakek yang turut mendesain facade rumah itu, maklum ia seorang arsitek.

"Bukankah kenangan itu ada untuk dilupakan, Bu?"
"Begitu, ya. Kamu lagi baca buku apa?"
"Nggak sih. Tapi, banyak orang memilih kenangan mereka sendiri dan berusaha melupakannya."
"Sayang, suatu saat nanti kamu akan tahu, kenapa kenangan diciptakan dan mengapa beberapa dari mereka tinggal di hati kita."

Aku memang tidak pernah bisa sedekat itu dengan Ibu. Aku sangat jarang bisa bicara atau sekedar mengobrol ringan dengannya. Aku mulai mau dekat dengan Ibu usai menstruasi pertamaku. Aku terlalu takut menghadapi gerbang dimulainya masa remajaku. Kata orang, aku juga akan mengalami masa puber. Dari majalah remaja yang aku sering pinjam dari Kak Sheila, kakaknya Selly, aku menemukan banyak hal soal bagaimana menjadi seorang remaja. Termasuk tahapan-tahapan yang akan aku lalui nantinya. Kak Sheila sering berkata padaku bahwa tak lama lagi aku akan segera merayakan "Goodbye Miniset". Terus terang semua itumembuatku takut. Aku butuh seseorang untuk menguatkanku, mengantarku dengan perasaan gembira menuju gerbang itu. Aku tidak punya siapa-siapa lagi untuk berbagi, selain Ibu tentunya.

Ibu dengan setia menemaniku, ketika aku memilih dan membeli pembalut wanita pertamaku. Aku melihat api cinta yang dahsyat dimatanya. Barangkali, Ibu tidak pernah menyangka bahwa ia benar-benar ada disisiku, selalu ada disampingku, hingga aku menjalani masa remajaku. Ibu juga yang membantu menjelaskan soal perubahan fisik yang terjadi pada tubuhku. Ibu juga tak henti-hentinya memperhatikanku. Mulai dari penampilan, gaya bahasa, tutur bicara, segalanya tak luput dari perhatian Ibu. Aku semakin sadar bahwa aku akan tumbuh jadi perempuan dewasa, tak lama lagi. Aku jadi semakin takut.

Satu kali, aku mulai tahu rasanya jatuh cinta. Seperti anak SMP lainnya, aku terkagum-kagum pada kakak kelas yang jago main basket. Setiap pulang sekolah hari Rabu, aku dan Selly selalu punya alasan untuk pulang telat. Aku biasa berkilah pada Ibu bahwa kami harus pergi ke rumah teman lain untuk kerja kelompok. Padahal, aku dan Selly hanya duduk di pinggir lapangan sekolah melihat Arya dan Bimo latihan basket.

Aku dan Selly berhadapan dengan seorang bintang  lapangan yang tentunya juga idola semua perempuan di sekolah ini. Kami tidak pernah bisa mengalihkan atensi Arya dan Bimo. Sampai suatu saat, mereka mengajak kami minum jus di kantin sekolah usai latihan. Mereka heran karena kami selalu jadi penonton setia latihan mereka. Aku dan Selly tentu senang merasa diperhatikan seperti itu. Ternyata mereka tahu kehadiran kami setiap latihan. Namun, rasa senang yang terlanjur melambung itu hanya sesaat saja. Arya dan Bimo sudah punya pacar di sekolah lain. Damn!

Lain waktu, aku jatuh cinta lagi pada guru pelajaran Seni Musik. Aku tidak tahu apakah Ibu pernah mengalami hal yang sama denganku. Aku suka memanggilnya Mas Daniel, karena ia masih cukup muda dan juga jadi anggota The Symphony 8, sebuah grup orkestra klasik yang cukup terkenal di kotaku. Aku mulai rajin latihan biola, alat musik yang aku pilih dengan asal hanya karena ingin jadi seperti seorang Sharon Corrs. Aku memainkan melodi 'Toss The Feathers' saat pertunjukan yang jadi ujian akhir pelajaran. Aku berhasil mendapat nilai sempurna dan standing ovation dari Kepala Sekolah serta Mas Daniel. Lagi-lagi, aku dibuat kecewa ketika tiket spesial pertunjukan The Symphony 8 pemberian Mas Daniel hanya untuk sekedar melihatnya menerima pelukan mesra dari seseorang yang mengaku sebagai kekasihnya.

Seakan bisa membaca perasaanku, Ibu mulai mengajakku bicara sejak kejadian malam itu. Ibu melihat perubahan yang tidak biasa akhir-akhir ini. Aku tidak lagi bergairah memainkan biola ketika Ibu memintanya. Tiba-tiba aku tersadar saat aku sudah berada di pelukan Ibu, dengan derai mata yang masih hangat. Aku masih ingat kata Ibu.

"Gagal memiliki bukan berarti gagal mencintai, sayang."

*

Aku tidak pernah menyangka bahwa aku masih bersama Anita hingga saat ini. Menemaninya pergi membeli pembalut wanita pertamanya hingga menjelaskannya soal perubahan fisik yang terjadi padanya. Sepuluh tahun berlalu sejak ia bisa memanggilku Ibu dengan sempurna. Kini, malah aku yang tak sadar bahwa waktu berjalan begitu cepat. Anak perempuanku yang belum pernah bertemu ayahnya itu kini sudah jadi gadis remaja. Tak lama lagi, seorang laki-laki akan jatuh cinta padanya. Atau malah ia yang jatuh hati duluan, pada Guru Musiknya barangkali. Seperti aku dulu.

Aku jadi malu bila mengingat lagi masa itu lagi. Aku tidak akan pernah lupa Bagus yang gila kerja itu berani bertemu Bapak dan mengutarakan niatnya untuk menikahiku. Padahal, saat itu aku masih jadi kekasih Daniel, seorang guru piano yang sengaja Bapak pilih untuk mengajariku memainkan melodi lagu kesukaannya, "Memories Of Youth" dari Richard Clayderman. 

Sayangnya, Daniel tidak punya cukup nyali untuk melamarku. Ia terlalu takut menghadapi Bapak karena tidak mau jadi orang yang tidak tahu diri. Aku berkali-kali meyakinkannya bahwa cinta kami tidak akan pernah gagal hanya karena ia 'berhutang' pada Bapak. Bapak sangat menghargai kejujuran dan keberanian. Bagus tahu itu, maka dengan sepeda kumbangnya ia datang ke rumahku dan menyampaikan niatnya. 

Aku mendapat restu kedua orangtuaku untuk menikah dengan Bagus. Dia sudah jadi dosen muda waktu itu. Aku cukup realistis untuk memulai hidupku bersama Bagus karena gaji dosen waktu itu tidaklah terlalu besar. Banyak pria lain yang patah hati karena aku lebih memilih Bagus. Bahkan, Handi, arsitek handal tangan kanan Bapak pun ikut merasakannya.
Aku kaget ketika Bagus membawaku ke konservatorium milik sahabatnya. Tepat di hari ulang tahun pertama pernikahan kami, Bagus memainkan lagu kesukaan Bapak "Memories of Youth" dan "Ballade pour Adeline" kesukaanku. Aku tidak menyangka bahwa Bagus bermain piano lebih baik daripada aku yang sengaja dikursuskan oleh Bapak. Sejak itu, Bagus tidak pernah berhenti memberiku kejutan.

Aku jadi anak perempuan pertama yang memberi cucu untuk Bapak dan Ibu. Anita Diandra Febrina, begitu kami menamainya. Lahir tanggal 14 Februari, dimana Bagus masih berada di Australia untuk hari seminar pertamanya. This mommy little girl will never see his father karena Bagus meninggal tak lama setelah kepulangannya. Kataku, sambil menggendong Anita di peristirahatan terakhir lelaki pemain melodi terindah sepanjang hidupku.
Aku masih menulis buku harianku ketika Anita menerima telepon pertama dari anak lelaki yang sedang mendekatinya. Anita mulai mengambil jarak denganku, aku bisa rasakan hal itu. Aku rasa inilah waktu untuk memberinya ruang privasi. Peranku berubah, aku harus menjadi seorang teman sekaligus sahabat untuknya. 

Aku cukup tahu bagaimana Anita bermain dengan perasaannya. Aku sudah terbiasa dengan hal ini. Naluri Ibu manapun di dunia ini pasti bisa merasakan getarannya. Apapun itu, aku harus tetap bertahan dan selalu ada untuknya. Aku tahu ketakutan terbesarku. Akhirnya, aku harus akui kalau aku sangat takut untuk selalu mampu menemaninya. Melewati prom night pertamanya, kelulusan SMA yang selalu penuh cerita, hari-harinya di universitas, hingga mendengarkan cerita soal wawancara kerja pertamanya.

*

Tanpamu... semua tak berarti... cinta sudah lewat...

Pada senja pertamaku di Tanah Air, aku merasa menjadi orang yang sangat bodoh. Aku mendadak merasa jadi orang paling kejam di dunia. Aku meninggalkan Ibu seorang diri di rumah demi sebuah pekerjaan di Belanda sana. Aku meninggalkan Ibu beserta segenap cinta kasih yang pernah ia sematkan dalam setiap hela nafasku. Aku masih bisa merasakan semua kasih sayang yang telah Ibu berikan sepenuhnya. Aku yakin, cinta tidak pernah gagal membuat Ibu mengerti. Hingga saat ini, saat aku memandangi pusaranya.



Jakarta-Bandung, 14 Februari 2014.


Minggu, 03 Februari 2013

Amos Lee Chronicles

Finally, found this book. Just to complete the missing part of the series! Yeaay!!

Sepertinya, buku kedua ini adalah klimaks dari Amos Lee: The Series. Bila buku pertama berperan sebagai pengantar menuju kehidupan Amos Lee dengan segala problematikanya, dan buku ketiga yang lebih merupakan sebagai "prelude to epilogue", maka buku kedua ini lebih manampilkan unsur-unsur filosofis tentang bagaimana meraih kemenangan, memaknai kemenangan, lalu bagaimana bersikap sebagai seorang pemenang.

Buku ini menampilkan beberapa hal yang biasa dalam konteks hubungan persahabatan juga disajikan sebagai permasalahan. Amos Lee merasa cemburu pada Alvin yang mulai dekat dengan Somaly, dan berusaha membujuk Anthony agar melakukan sesuatu untuk memisahkan mereka berdua. Kecemburuan semacam ini menjadi hal yang menarik sepanjang pengalaman membaca. Kiranya, Adeline Foo tidak pernah kehilangan referensi dalam sejarah penciptaan tokohnya.

Buku kedua ini banyak diisi tentang persoalan memotivasi diri sendiri. Beberapa diantaranya adalah pepatah lama. Namun, tidak berarti ketinggalan zaman. Amos Lee telah membuktikannya. Amos Lee mengalami pengalaman turun naik dalam mengatasi masalah yang menerpanya. Persaingan dengan Michael yang sarat dan kental muatan bullying hingga menimbulkan proses demotivasi pada dirinya. And the most important thing is, menarik untuk tahu sebab apa yang membuatnya memutuskan kembali berlatih  dengan tim renang, dan akhirnya menjadi juara pertandingan antar sekolah.

Personally, buku kedua ini melengkapi cerita-cerita yang hilang dalam pembacaan buku pertama dan ketiga. Ibarat jembatan yang menghubungkan dua desa berseberangan. Amos Lee bercerita awal persaingannya dengan Michael  dan Bif, lalu bagaimana kemampuan Amos Lee untuk menulis mulai terasah. Jangan lupa, pada buku ketiga Amos Lee punya media yang terbit rutin untuk memuat beberapa topik penting yang kelihatannya sepele.

Kadang, untuk menjadi dewasa kita harus berkaca pada kelakuan anak-anak seperti Amos Lee dan kawan-kawannya. Beberapa hal kadang tidak berubah. The more things change, the more they stay the same.

Judul       : The Diary of Amos Lee: Renungan di WC, Tentang Pertandingan, Anak Cewek, dan Kemenangan
Penulis     : Adeline Foo
Penerbit   : Penerbit Buah Hati
Tahun      : 2011
Tebal       : 122 hal.
Genre      : Teenlit


Paninggilan, 24 Januari 2013.
_happy wedding day to Alfa & Qori_

Jumat, 17 Februari 2012

Selamat Ulang Tahun, Ibu.

Ibu,

Ibu adalah sosok yang takkan bisa terganti oleh siapapun. Ibu adalah perempuan hebat yang lebih dari mampu untuk menanggung beban seberat apapun. Buat saya, Ibu adalah semuanya.

Ibu tidak berkata apa-apa ketika Bapak mengambil keputusan untuk berhenti kerja dan pensiun (lebih awal). Ibu tidak bertanya tentang keputusan Bapak. Termasuk segala kemungkinan yang mungkin muncul sebagai konsekuensi pilihan Bapak. Beliau tidak banyak menuntut dan tetap percaya pada keputusan Bapak, apapun itu.

Ibu pun tidak banyak bertanya mengenai masa depan saya. Beliau hanya titip pesan supaya saya memilih apapun yang benar-benar bisa membuat saya terpacu untuk jadi lebih baik. Waktu wisuda, Ibu dan Bapak menangis ketika saya masuk Top Ten Achiever dan menerima penghargaan khusus dalam acara seremonial. Itu hanya bagian kecil dari yang saya bisa lakukan. I still have another more for you.

Ibu pula yang pernah membuat saya menangis. Dalam suatu wawancara kerja di BPPT, pertanyaan tentang Ibu adalah pertanyaan yang paling dramatis dan melankolis. Mungkin itu sebabnya harus ada air mata sebagai penanda bahwa kasih Ibu sepanjang zaman.

Hari ini, 51 Tahun usia Ibu. Setengah abad terlampaui dengan curahan kasih yang tiada henti pada saya dan adik. Sampai saat ini, saya belum tahu apakah saya pernah membalas barang secuil kasih beliau. Hanya Tuhan dan Ibu yang tahu.

Selamat ulang tahun, Ibu. Doa kami selalu bersamamu. Dalam suka, duka, dan kenangan.


Medan Merdeka Barat, 17 Februari 2012.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...