Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Januari 2018

#BeraniGagal ala Si Juki

"Tidak penah gagal belum tentu hebat, terutama bagi yang belum pernah mencoba" - Si Juki
Sumber gambar: www.goodreads.com
Perkenalan saya dengan Si Juki dimulai pada zaman Twitter masih berkuasa. Entah medio 2012 atau 2013. Yang jelas, saat itu saya sudah tertarik dengan karakter Si Juki namun belum mau untuk membaca komiknya. Saya hanya mampu stalking sesekali ke akun Twitter Faza Meonk @Fazameonk, Sang Pencipta karakter bernama asli Muhamad Marzuki ini.

Belum lama ini muncul iklan di media televisi tentang rilis film Si Juki. Sebuah kabar baik untuk jagad perkomikan di Indonesia. Karya yang tadinya hanya sebatas cetakan buku dapat dinikmati sebagai satu produk sinematografi. Ya, tidak berlebihan bila sama menyamakan Komik Si Juki dengan Komik Dragon Ball yang sudah lebih dulu melegenda.

Komik edisi #BeraniGagal ini mengisahkan rentetan cerita kegagalan yang dialami Si Juki. Dimulai dengan perjalanan Si Juki yang ikut serta dalam Pemilu 2014 dalam format digital. Si Juki menang, namun hasilnya tidak diakui. Mantan Capres yang berduet dengan Si Tuti ini dirundung kegagalan.

Ini adalah pengalaman pertama saya dengan komik Si Juki. Memang ada beberapa missing link karena saya tidak membaca beberapa buku sebelumnya. Namun, hal itu tidak menjadi masalah besar karena komik ini punya alurnya sendiri.

Saya suka alur ceritanya yang dirunut dari awal. Cerita dimulai dari bab Si Juki Sang Capres Gagal, Silsilah Kegagalan, Legenda Kegagalan, Yang Gagal dan Dilahirkan, Tak Selamanya Gagal Itu Pahit, Impian dan Kegagalan. Keresahan kaum Jomblo pun dikisahkan pada bab Jomlo (tidak sama dengan) Gagal. Mengikuti seterusnya bab Semua Pernah Gagal.

Sebagai buku yang habis dibaca sekali duduk, komik Si Juki edisi ini sangat menghibur. Buku ini pun tidak semuanya berisi panel komik. Ada beberapa narasi yang harus dibaca sebagai pengantar sebelum melihat adegan komikal, tentu masih dengan rentetan humor. Ada banyak celotehan segar yang mampu membuat tertawa puas. Ada beberapa sindiran satir dan sinis terhadap kemajuan teknologi akhir-akhir ini. Namun, diatas itu semua yang lebih penting adalah pesan-pesan dalam menyikapi kegagalan. Agaknya, pesan-pesan itulah yang berusaha disampaikan Si Juki untuk Generasi Zaman Now, agar tidak mudah putus asa dalam menghadapi kegagalan.

Anyway, Catatan Hampir Teladan Si Juki ini mengingatkan saya sekilas pada buku Catatan Mahasiswa Gila milik Adhitya Mulya. Ada banyak kejadian konyol didalam kedua buku itu, tetapi muatan pesan dan hikmah keduanya tetap kental dan sangat mudah dipahami. Semoga semakin banyak lagi komik karya anak bangsa, yang tidak hanya pandai menghibur tapi juga jagoan memberikan teladan.

Judul       : #BeraniGagal: Catatan Hampir Teladan Si Juki
Penulis    : Faza Meonk, et.al
Penerbit   : Bukune
Tahun      : 2016
Tebal       : 156 hal.
Genre     : Komik Indonesia

Cipayung-Cengkareng, 4 Januari 2018.

Sabtu, 30 Desember 2017

AKU: Sesudah

Sumber gambar: Koleksi Pribadi
Terus terang, saya tidak mengharapkan sebuah kejutan nan eksplosif dalam buku ini. Sebagai sebuah skenario mengenai (sebagian) perjalanan hidup Chairil Anwar tentulah ada beberapa hal yang bisa saja hilang karena pembermaknaan yang berbeda. Tentang bagaimana narasi dan teks skenario dipahami secara tekstual ataupun melalui imajinasi visual. Namun, saya tentulah merasa sangat bahagia karena melalui pemahaman tekstual pada buku ini saya dapat membuat imajinasi buatan saya sendiri.

Saya bisa membayangkan bagaimana Chairil yang tiba-tiba saja masuk ke rumah Oomnya, Syahrir, yang dulu Perdana Menteri itu semasa zaman Republik. Pun, ketika Chairil nyelonong begitu saja ketika ikut naik kereta rombongan Perdana Menteri ke Yogyakarta. 

Lewat buku ini, setidaknya pembaca bisa dibuat paham mengenai suasana apa yang membuat sajak-sajak Chairil Anwar menjadi begitu menggelora, kadang-kadang syahdu, dan tiba-tiba mengandung kepasrahan yang total pada Si Penciptanya.

Setidaknya saya mendapatkan jawaban tentang latar suasana yang mebuat sajak ‘Aku’ menjadi legenda sepanjang masa. Tentang mengapa ‘Senja di Pelabuhan Kecil’ bisa menjadi begitu syahdu, ketika Chairil termenung di pinggir pantai. Juga, penggalan syair ‘...Waktu jalan aku tidak tau apa nasib waktu...’ yang pernah saya baca dalam satu cerpen milik Seno Gumira Ajidarma, yang tercipta semasa Agresi Militer Belanda I.

Khusus untuk timeline Agresi Militer Belanda I, tercipta pula sebuah sajak perjuangan yang selalu dikenang warga Bekasi-Krawang, ‘Antara Krawang-Bekasi’. Maklum, Chairil diceritakan telah menikah dengan seorang gadis dari Karawang bernama Hapsah, Dari Hapsah pula Chairil memiliki seorang putri yang dinamainya, Evawani.

Memasuki bagian akhir, saya merasakan aroma kehilangan yang semakin menguat. Chairil agaknya tidak kuasa menahan penyakitnya hingga ia harus menyendiri di sebuah kamar yang dicarikan khusus untuknya. Perkawinannya dengan Hapsah pun harus berakhir, ia digugat cerai. Sebuah adegan yang membuat saya bergetar kala Chairil Anwar menggendong Evawani sebentar sebelum Ibunya datang. Ah, tokoh kita ini juga seorang manusia.

Menjelang akhir perjalanan hidupnya, rupanya Chairil Anwar sudah mampu meramal kematiannya sendiri. Ia sudah merasakan maut itu datang sebelum Malaikat Maut benar-benar melaksanakan tugasnya. Ia sudah menulis ‘...rimba jadi semati tugu di Karet, di Karet (daerahku yang akan datang)...’. Chairil Anwar sudah tahu ia akan berpulang kemana. Masalahnya hanya soal waktu saja, entah kapan.

Tidak diragukan lagi bahwa Chairil Anwar-terlepas dari segala kontroversinya soal sajak-sajak saduran dan terjemahan-adalah seorang pionir sastra Indonesia. Chairil Anwar menandai tonggak lini masa sastra Indonesia dengan menamai angkatannya sebagai ‘Angkatan 45’. Chairil masih berseru: “Revolusi!”, menjelang akhir-akhir masa hidupnya. Sebuah pernyataan yang tabah dan berani seakan-akan ia masih akan hidup seribu tahun lagi.

Judul           : AKU: Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar
Penulis        : Sjuman Djaya
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2017
Tebal           : 155 hal.
Genre          : Sastra Indonesia-Skenario

Cipayung, 29 Desember 2017.

Kamis, 31 Agustus 2017

The Fate of The Family #FF8

The Fate of the Furious. Tema besar dari edisi kedelapan film yang masih dibintangi Vin Diesel dan kawan-kawan seperjuangan eks FF7 sepeninggal Bryan O’Connor ditambah kemunculan Charlize Theron sebagai Cipher dan kembalinya Owen Shaw dan Deckard Shaw adalah statement bagi mereka. This is our fate!
Tentunya penonton dibuat sangat kesal ketika Torreto bisa dibuat untuk berpaling from his old family. Pun, diperalat untuk tujuan tertentu seperti terorisme global. 

www.imdb.com
Well, film ini kini tidak lagi bicara soal mobil-mobil yang kencang di trek balap. Itu hanyalah pembukaan belaka. Permasalahan besarnya adalah Torreto dibuat tidak berdaya oleh Cipher dengan segenap pernyataan psikologis yang tentu saja menyerang alam bawah sadar Torreto.

Memang dibutuhkan waktu yang lama untuk mengembalikan Torreto. Ketika mulai tersadar kembali, segala sesuatunya memang sulit untuk dirubah. Apalagi Torreto menemukan fakta bahwa ia telah memiliki seorang anak. Menurut saya, perjumpaan Torreto dengan anaknya ini adalah scene yang mengharukan dan mengaduk-aduk emosi. You are free to said that i was wrong.

Apa yang dilakukan Torreto untuk membalikan keadaan memang seperti yang sudah kita ketahui bersama. Ada banyak twist dalam film ini untuk mengecoh ending film yang ada dalam pikiran penonton. Saya sendiri sulit untuk menebak namun seperti pada episode-episode yang lalu, counter attack dari Torreto melibatkan banyak orang yang pernah terlibat dengannya, for example Deckard Shaw dan Owen Shaw. 

Film ini sendiri buat saya adalah penegasan dari konsep keluarga yang selalu jadi nilai penting bagi Torreto. Bahwa keluarga tidak akan berpaling bila satu dari anggotanya berpaling meninggalkan. Rasanya tidak sia-sia menghabiskan dua jam lebih untuk menamatkan film ini. Ending yang masih menyisakan tanya pun akan jadi penentu apakah episode ke-9 akan dibuat atau akan hanya jadi sebuah wacana belaka yang akan segera menghilang seperti Cipher?

 
Cipayung, 25 Agustus 2017.

The Return of Jason Bourne

www.imdb.com
Sejak tidak lagi berlangganan koran harian terbitan Ibukota, saya semakin jarang mengetahui film apa saja yang akan dan sedang beredar di bioskop. Karenanya, saya menjadi heran ketika menemukan rilisan sekuel terakhir dari Jason Bourne. Saya tidak pernah tahu bahwa film ini rilis di bioskop. Apakah saya yang tidak gaul atau memang film ini tidak pernah tayang di bioskop se-Jakarta memang masih menyisakan tanda tanya.
 
Sekuel yang kembali dibintangi oleh Matt Damon ini menjawab kerinduan saya akan aksi-sksi Bourne yang mengejutkan walau konflik masih berkutat soal identitas, jati diri, dan persoalan-persoalan di sekitar Jason Bourne. Tentu hal ini bisa saja menjadi sesuatu yang tidak akan pernah berujung. Kemunculan karakter-karakter baru membuat plot cerita jadi lebih menegangkan.
 
Jason Bourne memang kelihatan menua. Petualangannya kali ini membawa pengalaman baru di Athena, Berlin, dan Los Angeles. Ada semacam pendekatan psikologis untuk menghilangkan Bourne pada episode ini. Kemunculan beberapa twist flashback dan rival abadi semakin menguatkan karakterisasi Jason Bourne sebagai buronan nomor wahid CIA.
 
Terlepas dari segala kritik yang melingkupi cerita sekuel paling anyar ini setidaknya film ini berusaha menyesuaikan dengan zaman. Zaman ketika kebebasan di internet menjadi suatu bagian dari spionase terstruktur. Setidaknya, film ini membuka mata untuk berhati-hati karena kita tidak pernah tahu siapa yang mengawasi kita ketika sedang terhubung ke internet.
 
Anyway, saya suka film ini walaupun nilainya masih terpaut sedikit dibawah Jason Bourne Ultimatum. Saya pun suka bila harus menonton film ini berulang-ulang. Bourne is my hero.
 
Cipayung, 22 Agustus 2017.

Rabu, 31 Mei 2017

Angry Birds The Movie

Anger is not always the answer! 
- Judge Peckinpah

Sumber gambar: www.imdb.com
Angry Birds, game populer di masa kejayaan smartphone ini menarik developernya untuk membuat film. Cara ini memang sudah biasa terlebih ketika game Angry Birds sudah dirilis dalam berbagai serial. Saya sendiri hanya memainkan Angry Birds dan Angry Birds Season saja. Barangkali, kalau bukan karena Aldebaran yang menyebut "...berds...berds..." setiap melihat tablet phone, saya belum akan mau menonton film ini.

Film ini adalah semacam penjelasan kenapa para flightless birds menjadi marah lalu bermusuhan dengan kaum babi. Juga, pengungkapan atas identitas Mighty Eagle dan riwayat asal usul Mighty Red.

Dari sisi cerita, film ini punya ide yang sederhana dengan pesan moral yang mudah dicerna untuk kalangan anak-anak. Bahwa berbuat baik kepada tamu yang datang jauh-jauh adalah baik. Tetapi, jangan sampai tidak menghiraukan pesan peringatan dari sesama kawan.

Anyway, animasi rekaan Rovio Studio ini dibuat semirip mungkin dengan karakter pada gamenya. Para karakter burung yang biasa kita lempar dari katapel pun tampil lebih hidup dan dinamis. Film animasi berdurasi 97 menit ini menghabiskan biaya produksi sekitar 73 juta dolar dan pada minggu pertama penayangannya meraup penghasilan kurang lebih 38 juta dolar.

Judul           : Angry Birds
Sutradara    : Clay Kaytis, Fergal Reilly
Pemain       : Jason Sudeikis, Josh Gad, Danny McBride
Produksi     : Rovio Mobile & Columbia Pictures
Tahun         : 2016
Genre         : Komedi Animasi

 
Jakarta, 30 Mei 2017.

Selasa, 30 Mei 2017

RIP Roger Moore

Sumber gambar: www.imdb.com
Dalam satu perjalanan menuju tempat kerja, terdengar satu kabar dari Roger Moore, mantan pemeran agen rahasia 007 yang meninggal dunia pada tanggal 23 Mei 2017 kemarin. Sebagai tribute, radio itu memutarkan lagu soundtrack dari satu film yang pernah dibintanginya, A View To A Kill dari Duran Duran.

Roger Moore yang bernama lengkap Sir Roger George Moore lahir pada tanggal 14 Oktober 1927 di Stockwell, Inggris dan wafat dalam usia 89 tahun di Crans-Montana, Swiss dengan penyebab sakit kanker. Roger Moore menggantikan peran Sean Connery sebagai James Bond sejak tahun 1972. 

Film James Bond pertamanya adalah “Live and Let Die” yang rilis tahun 1973. Beberapa judul James Bond yang dimainkannya adalah “The Man with the Golden Gun”, “The Spy Who Loved Me”, “Moonraker”, “For Your Eyes Only”, “Octopussy”, dan “A View to a Kill”. Roger Moore juga sempat menjadi pembawa acara pada perayaan 25 tahun James Bond pada tahun 1987.

Now, The Man with The Golden Gun has gone and leave his legacy. Goodbye, Roger. Rest in peace.

 
Jakarta, 24 Mei 2017.

Selasa, 31 Januari 2017

AADC #2: Kamu Jahat!

Musim berganti, tapi hati tetap sama rindu
 
Sumber gambar: www.liputan6.com

AADC. Ada Apa Dengan Cinta: (n); film yang hits pada medio 2002-an lalu, sekaligus menjadi tonggak bangkitnya perfilman Indonesia. 

Akhirnya, sekuel hits itu dirilis juga. Semua pecinta film tentu senang dengan kembalinya Cinta dan Rangga. Ya, Cinta kembali diperankan oleh Dian Sastro dan Rangga masih oleh Nicolas Saputra. Yang jelas, kembalinya mereka akan menjawab pertanyaan-pertanyaan selama ratusan purnama. Rangga ngapain aja sih di USA? Cinta udah pacaran lagi belum ya? Hah, sama siapa?
 
Well, harus diakui AADC #2 berhasil menuntaskan dendam dan rindu para penggemarnya. Kita jadi tahu apa saja yang dialami oleh Rangga dan Cinta. Kita juga menyaksikan penjelasan seorang Rangga kepada Cinta. Sekaligus, menikmati keindahan Yogyakarta yang tidak akan pernah usai. Jadi, semua ini adalah soal cinta lama yang bersemi kembali. CLBK.
 
Lupakan segala pertentangan kultur antara dua anak muda ini pada filmnya yang pertama. Tentang bagaimana puitisnya Rangga dan quote yang heboh itu: Salah gue? Salah temen-temen gue? AADC #2 sejatinya adalah kembalinya pertautan dua hati yang hanya milik Cinta dan Rangga saja. Entah karena dirilis pada zaman baper menjadi hits sehingga alur ceritanya pun seperti mengalir dan mudah ditebak: mereka kembali bersama setelah sekian lama berpisah. A truly madly happy ending for both.
 
Sayang sekali, saya tidak melihat adanya benang merah antara promosi prekuel AADC #2 yang disponsori oleh satu aplikasi media sosial itu dengan film sekuelnya. Kecuali, Rangga yang bekerja di USA dan Cinta yang masih berkumpul hangat dengan para sahabatnya termasuk Ladya Cheryl, karena Ladya Cheryl a.k.a Alya tidak ada di sekuel. Barangkali, dengan alasan tidak mau terbawa alur teaser itu Miles Production membuat AADC #2 menjadi sedemikian rupa sehingga dunia ini rasanya hanya milik Cinta dan Rangga. Halah. :D
 
Anyway, AADC #2 tidak dapat dipungkiri lagi sebagai penuntas rindu sekaligus mengobati rasa penasaran kita semua akan kelanjutan kisah Cinta dan Rangga. Jangan lupakan juga Yogyakarta yang selalu menghadirkan perasaan ingin kembali kesana. Semua ramuan nostalgia itu diramu dengan apik sehingga penonton terbuai, baper, dan terbayang-bayang quote lain dari Cinta yang sama hebohnya: Yang kamu lakukan ke saya itu: JAHAT!
 
Judul           : Ada Apa Dengan Cinta 2
Sutradara    : Riri Riza
Pemain       : Nicolas Saputra, Dian Sastro, Dennis Adhiswara, Ario Bayu, 
                     Titi Kamal, Adinia Wirasti, Sissy Priscilla
Produksi    : Miles Productions
Tahun        : 2016
Genre        : Drama Romantis
 

Bumi Asri, 1 Januari 2017.

Jack Reacher: Never Go Back

Sumber gambar: www.imdb.com (reproduced)
  
Yeah. Jack Reacher is back. Tom Cruise still playing as him. Film ini masih mengangkat kisah Jack Reacher, dengan cerita baru tentunya. Seperti film-film James Bond dan filmnya yang pertama, Tom Cruise kini ditemani oleh seorang aktris, Cobie Smulders. Yeap. She’s the one from that romcom “How I Met Your Mother”. Bedanya, disini ia tampil dengan lebih maskulin. Tidak seperti dalam HIMYM. Skip.
 
Lagi-lagi, Jack dihadapkan pada situasi sulit. Ada kasus yang harus ia pecahkan hingga ia harus bergabung kembali ke korps Polisi Militer hanya untuk dipenjara. Jack harus mengungkap kebenaran atas fitnah yang menimpa Mayor Susan Turner (Cobie Smulders). Untuk itu, Jack harus melepaskan Susan dari penjara dan melarikan diri bersama. Dalam pelariannya, Jack mendapati fakta bahwa seseorang telah menuntutnya dan mengakui telah memiliki seorang anak darinya, Samantha. Khawatir Samantha akan menjadi umpan baginya, Jack dan Susan pun akhirnya melarikan diri bersama Samantha.
 
Dalam pelarian, mereka terus diikuti oleh pembunuh bayaran yang juga bekas Polisi Militer. Jack dan Turner harus dilenyapkan agar operasi mereka tidak diketahui Pemerintah. Kerugian akibat kontrak perjanjian dengan militer USA harus mereka tutupi dengan operasi penjualan senjata di pasar gelap. Seperti layaknya film Hollywood, akhir cerita sudah bisa ditebak. Apalagi untuk pembaca yang mengikuti karya-karya Lee Child.
 
Sebagai sebuah film action, ‘Never Go Back’ punya aksi laga yang lumayan menghibur. Kita bisa nikmati aksi Jack Reacher menghabisi musuh-musuhnya dengan one-to-one fight. Banyak adegan-adegan perkelahian sederhana tanpa menggunakan senjata. Tidak selalu melulu dar-der-dor yang selalu dianggap petasan oleh Sugali. Ups.

Judul        : Jack Reacher: Never Go Back
Sutradara    : Edward Zwick
Pemain        : Tom Cruise, Cobie Smulders, Danika Yarosh, Patrick Heusinger
Produksi    : Paramount Pictures
Tahun        : 2016
Genre        : Action Drama
 

Cipayung, 17 Januari 2017.

Jumat, 30 September 2016

Battle of Los Angeles

Captured and reproduced from www.imdb.com
Agak sulit dimengerti mengapa bumi selalu menjadi incaran makhluk luar angkasa. Khusus untuk film ini, saya memberi catatan bahwa spaceship yang digunakan invader adalah spaceship a la Transformers 4. Entah kebetulan atau tidak, yang jelas kedua spaceship ini mirip. Bedanya, di film ini tidak diperlihatkan bagaimana jeroan, tidak seperti TF4 yang menampilkan aksi heroik penyelamatan Optimus Prime. 

US Marine Corps kembali menjadi fokus dari cerita film ini ketika mereka terlibat misi untuk mengevakuasi warga sipil dari serangan invader yang sudah menguasai daratan Amerika lewat Santa Monica di Los Angeles. Saya memberi perhatian khusus bahwa sekitar lebih dari 70% film ini berisi rentetan suara senjata dan dentuman ledakan bom. Penikmat film action/perang pasti menikmati suasana semacam ini.

Petuah berharga dari film ini adalah kebersamaan, keberanian, dan percaya (trust). Saya mengamati bahwa hampir tidak ada evakuasi yang gagal dilaksanakan. Saya mengharapkan sebuah kejutan macam di film Rambo (entah yang keberapa), ketika John Rambo tidak jadi dievakuasi dari daerah yang dikuasai Vietkong usai membebaskan seorang tahanan. 

Film yang dirilis tahun 2011 ini adalah tipikal film U.S.A. Patriotisme, adalah jargon utamanya. Barangkali, memang ada hubungannya dengan propagandanya sebagai global peacemaker or peacekeeper. Memang tidak terhitung sudah berapa film yang mengisahkan pertempuran tentara AS. Entah itu melawan tentara betulan yang berwujud manusia atau karakter fiksional, semacam alien atau malah meteorit. I dont know, but they seem against everything that threat their interest.

Judul          : Battle Los Angeles
Sutradara   : Jonathan Liebesman
Pemain      : Aaron Eckhart, Michelle Rodriguez, Bridget Moynahan, Neyo
Produksi    : Columbia Pictures
Tahun        : 2011
Genre        : Action

Cipayung, 25 September 2016.

Ah Boys to Men

Courtesy: www.newnation.sg
Tidak banyak film oriental yang saya tonton selepas masa-masa paling menyenangkan tahun 90-an. Kalaupun ada, itu hanya film-film karya Stephen Chow yang sering diputar ulang di televisi swasta nasional. Film buatan Singapura ini saya tonton secara tidak sengaja juga ketika mencari channel tontonan dari sebuah provider televisi berbayar.
 
Saya mulai menonton ketika masuk adegan balas dendam dari sekelompok rekrutan National Service (NS). Scene menampilkan anak-anak rekrutan NS melempari target mereka dengan kotoran. Kejadian itu juga mengundang serangan balasan. Sebagai konsekuensinya, mereka dihukum dengan tidak boleh keluar dari barak selama beberapa waktu. Mulai dari sini, ketegangan dan moral film mulai terasa. Nilai-nilai kedisiplinan militer dan kesetiakawanan menjadi hal utama yang mengisi scene-scene selanjutnya.
 
Film yang berlokasi shooting di Pulau Tekong ini menampilkan nasionalisme sebagai isu utama. Untuk saya, hal ini sangat menggelitik. Apakah benar bahwa kaum muda Singapura sudah kehilangan rasa nasionalismenya? Ada satu quote menarik ketika para NS dikumpulkan dan surat untuk mereka dibuang. Si Sersan Pelatih bilang: "Rasa kehilangan kalian untuk surat-surat itu tidak sebanding dengan rasa kehilangan orang tua, kakak, adik, dan teman jika Singapura benar-benar diserang."
 
Terus terang, saya terenyuh usai menonton film ini. Bagaimanapun, rasa nasionalisme itu harus dibangkitkan kembali. Agar Bangsa Indonesia kembali menjadi bangsa yang mampu berdiri di kaki sendiri. Juga generasi mudanya tidak lantas menjadi generasi tempe.

Cipayung, 24 September 2016.

Kamis, 29 September 2016

The Couch Trip

Courtesy: www.imdb.com
 
Film ini tidak sengaja saya tonton sembari menunggu jemputan ke rapat suatu forum di Bandung. Tadinya, saya pikir film ini hanya sebuah film drama biasa. Ternyata saya salah. The Couch Trip adalah sebuah film komedi yang agak serius. 

Sebenarnya tidak ada yang spesial dalam film ini kecuali judulnya yang mengingatkan saya pada sebuah event casting, "Casting Couch". Kalau anda penasaran, sila kunjungi laman Youtube untuk lebih jelasnya.

Film ini benar-benar menghibur, literally. Seorang pasien Rumah Sakit Jiwa berhasil melarikan diri. Tentu dengan cara yang luar biasa. John W. Burns (Dan Aykroyd) mengaku dirinya sebagai Dokter Lawrence Baird, seorang psikiratris terkenal, ketika diminta untuk menggantikan dr. Maitlin. Talkshow radio yang diasuh John alias Dokter Lawrence palsu berhasil menjadi hits dan semakin banyak pasien yang terbantu lewat acara itu. 

Masalah mulai memuncak ketika dr. Maitlin bertemu dengan the real Dokter Lawrence dalam sebuah konferensi di London. Bukan hanya itu saja, John yang sudah bersiap untuk kembali pulang terhambat oleh kelakuan Harvey, yang mengenalinya sebagai seorang narapidana. 

Untuk penikmat film komedi lawas terutama tahun 80-an, film ini cukup merepresentasikan zamannya. Komedi yang tipikal dengan latar 80-an ini menembus jajaran box office selama masa tayangnya. Dengan estimated budget mencapai 19 juta dolar, rasanya begitu sayang ketika film ini hanya menghasilkan gross income 11 juta dolar.

Anyway, film yang dirilis tahun 1988 dengan runtime selama 97 menit ini cukup menghibur untuk ukuran sebuah film komedi. Walaupun terasa biasa saja, film akting Dan Aykroyd dengan gaya satirisnya berhasil membuat satu pengecualian.

Judul           : The Couch Trip
Sutradara    : Michael Ritchie
Pemain        : Dan Aykroyd, Walter Matthau, Charles Grodin, Donna Dixon
Produksi      : MGM
Tahun          : 1988
Genre          : Komedi


Cipayung, 25 September 2016.

Selasa, 31 Mei 2016

Argo: A Happy Ending for USA Hostages

Welcome to Iran. Courtesy: IMDB www.imdb.com
Saya pikir film ini bercerita tentang sejarah perkeretaapian di Indonesia, terutama ketika PT. KAI mulai menggunakan kereta berlabel ‘Argo’. Saya kira juga film ini adalah biografi dari seorang teman SMP. Saya heran karena mengapa tiba-tiba Argo teman SMP saya jadi agak mirip Ruud van Nistelrooij, mantan pemain PSV, MU, dan Real Madrid. 

Saya baru yakin film ini adalah film keluaran Hollywood ketika beberapa teman di Twitter ramai membicarakan acting Ben Affleck dalam film ini, medio 2012 lalu. Beberapa bahkan sangat memuji penampilan Ben Affleck. Saya rasa, itu karena mereka gampang tergoda dengan sosok lelaki berjambang dan yang paling penting adalah: mereka masih jomblo. They expecting to have a good looking man like Affleck. Sorry, ladies. You’re not Jennifer Garner, though.

Well, ‘Argo’ sendiri adalah sebuah codename rahasia CIA untuk membebaskan 6 orang sandera yang berhasil lolos dari penyerbuan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran, Iran, oleh Garda Revolusi Iran pada tahun 1979 silam. Keenam warga AS yang berhasil lolos itu lari ke rumah Duta Besar Kanada untuk Iran. Selanjutnya, mereka menunggu untuk dibebaskan dari Iran atau ditangkap oleh pasukan Garda Revolusi. CIA memang berusaha untuk membebaskan mereka namun masalahnya klise. CIA dihadapkan pada situasi dengan solusi terbatas.

Opsi untuk pembuatan film dari sebuah rumah produksi bisa membantu operasi pembebasan sandera. Skema ini beresiko besar karena seorang agen harus masuk ke Iran dan ‘mendidik’ keenam sandera menjadi kru film berjudul ‘Argo’. Tokoh superhero fiktif. Dengan bantuan beberapa kenalan produser, akhirnya CIA menyetujui operasi ini.

Crew Briefing. Courtesy: IMDB www.imdb.com
Seorang agen, Tony Mendez, diturunkan untuk menyamar sebagai co-produser untuk film ‘Argo’. Ia mengubah identitasnya menjadi orang Kanada untuk menghindari kecurigaan. Maklum, saat itu sentimen anti-USA sedang bergaung di Iran. Usai masuk Teheran dan bertemu keenam sandera, ia mulai melakukan misinya. Sebagian sandera menganggapnya hanya sebagai pembawa misi bunuh diri belaka, namun tetap ada harapan untuk sebagian sandera yang lain. The last option they had.

Ketegangan mulai meningkat ketika mereka survei untuk lokasi pengambilan gambar di satu pasar. Karena kurang berhati-hati, kehadiran mereka memicu kegaduhan sehingga mereka menyudahi survey hari itu. Di sisi lain, intelijen Garda Revolusi berhasil mengambil foto mereka untuk dicocokkan dengan data di Kedutaan Besar.

A Long Way Home. Courtesy: IMDB www.imdb.com
Klimaks tercapai ketika Tony Mendez menggiring para sandera untuk pulang. Ujian pertama mereka adalah perjalanan menuju Hyderabad International Airport. Penjagaan yang berlapis juga jadi batu halangan menuju kebebasan mereka. Panggilan boarding sudah last call sementara mereka bertujuh masih berhadapan dengan pasukan Garda Revolusi yang curiga. Setelah mendapat balasan telepon dari seberang yang meyakinkan mereka adalah kru film, pasukan penjaga segera mengizinkan mereka lewat dan naik pesawat. Selanjutnya, the road to freedom has just started.

Catatan Kolumnis Dadakan

Menikmati film ini dari ketinggian 37.000 kaki adalah pengalaman yang menyenangkan sekaligus menegangkan. Dengan latar belakang sejarah hubungan Iran-USA yang terbatas, saya dapat menebak bahwa keenam orang ini bisa lolos keluar dari Iran. Saya juga dengan mudahnya menebak lagi bahwa urusan clearance untuk proyek pembebasan sandera ini mendapat ganjalan dari Pemerintah USA. Walaupun begitu, saya tetap duduk tenang menyaksikan bagaimana film ini berakhir. Sebuah happy ending, tentunya.

Ada beberapa catatan dari saya mengenai aspek produksi film ini. Karena waktu landing masih lama, saya menyempatkan waktu untuk menonton film ini sampai benar-benar habis. Makanya, saya baru tahu film ini diproduseri oleh George Clooney. Argo berhasil menjadi momentum bagi debut directorial Ben Affleck. Yes. Ben Affleck turut menyutradarai film ini, tidak hanya sebagai pemeran utama. 

Sebagai film Hollywood dengan pendapatan kotor sebesar 139 juta dolar (2013), ‘Argo’ masih menyisakan beberapa tanda tanya. Keakuratan sejarah menjadi faktor utama bagi para kritikus film. Adegan pasukan Garda Revolusi mengejar 747 Swiss Air dipertanyakan sebagai sebuah realita atau hanya imajinasi pembuat film belaka. Selain itu, sebagaimana layaknya film Amerika, isu patriotisme dan nasionalis penuh kemenangan menjadi unsur pelengkap bagi hegemoni Amerika Serikat. Film ini berhasil melengkapi hegemoni Amerika Serikat dalam ranah fiksi.

Judul           : Argo
Sutradara    : Ben Affleck
Cast            : Ben Affleck, Bryan Cranston, Alan Arkin, Clea DuVall, Kyle Chandler
Durasi        : 120 menit
Tahun         : 2012
Produksi     : Warner Bros
Genre         : Drama-Thriller

Cipayung, 28 Mei 2016

Selasa, 24 Mei 2016

Seacraft #1: SV2 Sea Carrier

Terinspirasi dari satu scene di serial Patlabor di episode 34 ketika Divisi 2 menyergap Griffon dan Triple S dan mereka harus menyeberang menggunakan sebuah kapal motor, saya kembali ke hobi lama yang sempat saya tinggalkan. Papercraft modeling. Entah, hobi akan saya tinggalkan sampai kapan bila saya tidak kembali membuat model kertas ini. 

Courtesy: Kido Keisatsu's Youtube Channel

Sebenarnya, ide ini mulai muncul ketika Ingram 2 datang, dimana akhirnya saya bisa memasangkan Ingram 1 dengan rifle yang ada di paket Ingram 2. Mirip dengan situasi Ingram 1 yang pertama kalinya dibekali rifle pada saat penyergapan Griffon. Hanya saja, ide itu terlintas kembali di satu hari yang lowong luar biasa.

Desain Awal SV2 Sea Carrier

Sebelum membuat model kapal laut pertama saya ini, saya membaca berita di Kaskus mengenai produk kapal perang PT. PAL yang dikirim ke Filipina. Tiba-tiba saya merasa yakin bisa membuat paper model kapal laut, walaupun hanya bagian haluan depannya saja. Esok paginya, baru saya mulai membuat pola dasar dengan pensil dan penggaris menggunakan kertas dari map yang sudah tidak terpakai. Saya juga mulai browsing untuk melihat pola (pattern) dari model kertas untuk kapal laut sejenis frigate. 

Pattern Modeling
Hasilnya? Lumayan. Potongan pertama untuk bagian alas kapal berhasil dibuat. Saya tambah lapisan bagian samping untuk melihat apakah pola model kapal buatan saya ini setidaknya bisa membuat kapal ini mengapung. Selanjutnya, saya membuat pola landasan untuk bagian badan kapal ditambah ruang kendali. Bagian buritan belakang sengaja saya buka sebagai landasan untuk Ingram atau kendaraan lainnya.

Unfinished SV2 Sea Carrier

SV2 Sea Carrier Unpainted & Unarmed
Model kapal laut ini dibuat tidak mengikuti pattern dari model yang sudah ada. Model carrier ini dibuat berdasarkan perhitungan dadakan as build, not as designed. Anyway, this is my first unscaled and unmodeled papercraft. I enjoyed my time with this model. I’m glad to having and build this special vehicle.

 
Medan Merdeka Barat, 17 Mei 2016.

Minggu, 29 November 2015

Emergency Couple (lagi)




Minggu lalu, saya menonton kembali kisah Oh Jin Hee dan Oh Chang Min. Tentu saja, masih di serial drama Korea, Emergency Couple. Saya mulai dari episode 13. Tepatnya dari keping DVD nomor 3. 

Tidak ada pilihan khusus mengapa harus memilih episode itu. Yang jelas, random saja karena saya juga tidak terlalu hafal alur cerita setiap episode. Saya pun tidak menonton dengan serius. Hanya sepintas lalu saja sembari menidurkan diri. 

For your information, Emergency Couple bulan Oktober lalu baru saja mendapatkan tiga penghargaan pada ajang DramaFever di New York sana. DramaFever adalah situs penyedia streaming drama dari USA. Penghargaan diterima untuk Drama Terbaik, Aktris Terbaik, dan Drama paling banyak distreaming sejagad USA. 

Dalam rentang episode 13 hingga 16 ini ada sesuatu yang menggelitik saya hingga harus menuliskan memori atas penontonan kembali serial itu. Oh Chang Min sudah membulatkan tekadnya untuk memulai kembali dari awal dengan Oh Jin Hee. Itulah masalahnya. Saat dimana Oh Jin Hee sudah melupakan semua yang telah terjadi diantara mereka. Satu waktu dimana Oh Jin Hee mulai merasa perlu membuka hatinya kembali pada orang baru. Bahkan, Oh Chang Min sempat merusak makan malam Jin Hee dengan Chief Chon Soo. 

Oh Chang Min rupanya menyenangi idenya sendiri untuk memulai kembali dengan Oh Jin Hee. He just like the idea of falling in love, again. Hal ini mengingatkan saya pada satu tokoh dalam buku 'Traveler's Tale: Belok Kanan Barcelona'. Francis Lim yang cintanya pada Retno terhalang jurang perbedaan yang amat dalam, masih tidak bisa membiarkan dirinya dalam tanda tanya besar. Francis mengejar Retno kemanapun ia pergi demi sebuah jawaban. Francis just like the idea of falling in love, pada orang yang sama. 

Anyway, tidak ada yang perlu diperdebatkan tentang hubungan antara dua kisah fiksi diatas. Misalnya, tentang kenapa kisah Francis dan Retno tidak sedramatis drama-drama Korea. Lagipula, keduanya hanyalah hasil pembacaan dan penontonan kembali. Bukan atas hasil analisis yang tak terbantahkan. 

Bumi Asri, 28 November 2015. 

Senin, 31 Agustus 2015

SPY: Statham's Dead

Saya agak kaget ketika membaca review film ini di imdb.com dimana banyak review bernada negatif. Komentar terbanyak adalah penggunaan kata-kata yang tidak pantas dalam percakapan antar tokoh. Anyway, film berdurasi 120 menit ini menyuguhkan tontonan yang menghibur. Saya kira film ini akan menampilkan aksi mata-mata yang kira-kira sekelas James Bond dengan action semacam Bourne's Quartology. 

Courtesy: www.imdb.com
Susan Cooper (Melissa McCarthy) tampil sebagai pemeran utama sekaligus tokoh anti-hero. Inilah antitesis pertama dari film bertema spionase ini. Kehadiran superstar sekelas Jude Law dan Jason Statham saya pikir bakal jadi hal pembeda 'Spy' dari tipikal film sejenis. Nyatanya, mereka malah berperan sebagai karakter sempalan.

Yang paling saya catat dari film ini adalah: Statham is dead! Film ini adalah pembunuhan karakter baginya, IMHO. Terlebih setelah Statham sempat berperan sebagai lawan Dominic Torreto di #FF7. Statham dalam film ini tidak dapat berbicara banyak. Ia keluar dari tipikal karakter yang biasa dimainkannya sejak serial Transporter dan The Expendables. Statham melakukan banyak kesalahan yang tidak perlu dalam usaha CIA memburu teroris.

Film bergenre action comedy ini memang punya skor dan review yang tidak cukup bagus. Ditambah, alur cerita yang tipikal misi spionase intelejen dan mudah ditebak memang lantas menjadikan ukuran 'Spy' menjadi biasa. Namun, buat mayoritas penonton yang menginginkan perpaduan komedi dan aksi serta tokoh anti-hero yang cukup untuk membuat tertawa, film ini sudah cukup. 

Judul           : Spy
Sutradara    : Paul Feig
Cast            : Melissa McCarthy, Jude Law, Jason Statham, Rose Byrne
Durasi        : 120 menit
Tahun         : 2015
Produksi     : 20th Century Fox
Genre         : Action-Comedy


Dharmawangsa, 30 Agustus 2015.

Selasa, 11 Agustus 2015

Jejak Mata Pyongyang: Sebuah Jejakan

"Sang pemimpin telah menyatakan dengan jelas bahwa manusia adalah makhluk sosial dengan Chajusong, kreativitas dan kesadaran."
- Kim Jong-Il, On the Juche Idea (1982: 9)



Seno Gumira Ajidarma datang ke Pyongyang sebagai juri pengganti untuk Festival Film Internasional Pyongyang ke-8 pada tahun 2002 silam. SGA menggantikan Marselli Sumarno di ajang bernama Festival Film Negara-Negara Non-Blok dan berkembang Lainnya (8th Pyongyang Film Festival of Non-Aligned and Other Developing Countries). Festival ini berlangsung dari tanggal 4 sampai 13 September 2002. Festival ini berlangsung setiap dua tahun sekali, sebagai negara sahabat Indonesia selalu mengirimkan film dan delegasi kesana.

Buku ini tampil dengan desain lansekap, memuat 10 esai dan 1 tulisan pengantar dengan cetakan warna foto hitam putih. Tampilan seperti ini sungguh mengungkap nilai klasik di setiap karya fotonya. Maklum, saat itu belum musim kamera digital. Sehingga, ia yang sudah terlanjur akrab dengan kamera SLR manual Nikon FM-5 berusaha mendapatkan gambar sebanyak mungkin.

Cerita dibalik datangnya SGA ke negeri komunis ortodoks ini semakin menguatkan profil SGA sebagai kritikus film selain karena bukunya yang berjudul "Layar Kata: Menengok 20 Skenario Pemenang Citra, Festival Film Indonesia, 1973-1992" (Yayasan Bentang Budaya, 2000). Pada buku ini, mohon maaf apabila pembaca tidak banyak mendapatkan jejak mata dari film-film yang beradu di festival. SGA memusatkan perhatiannya pada kota Pyongyang itu sendiri. Kota yang jadi ibukota Republik Rakyat Demokratik Korea, negeri komunis ortodoks yang masih tersisa di muka bumi. Untuk tidak menyebutnya sebagai ibukota Korea Utara.

SGA mengamati bermacam-macam perilaku manusia selama 17 hari masa penugasannya. Ia menghasilkan catatan dan jejak mata berupa foto-foto, yang hanya bisa didapatkan dengan menyiasati berbagai larangan. Ia sendiri heran mengapa baru bisa mulai menulis kembali semua kesan yang menempel diingatannya 10 tahun kemudian.

Kematian Kim Jong-Il punya peran besar dalam penulisan pengalaman yang sudah satu dekade berlalu. Selain itu, cerpennya yang berjudul "Melodrama di Negeri Komunis" yang ditulisnya semasa tinggal di Pyongyang juga sudah dibukukan dalam "Aku Kesepian, Sayang: Datanglah Menjelang Kematian" (Gramedia Pustaka Utama, 2002) dan dimuat kembali dalam harian Media Indonesia, 1 Desember 2002.

Tulisan diawali dengan esai pengantar mengenai alasan kedatangannya ke Pyongyang hingga momen penyadaran yang membuatnya mau menuliskan kembali segenap pengalamannya itu. Satu hal yang tidak pernah berubah. Foto Lenin dan Karl Marx di pusat kota Pyongyang. Esai kedua memuat pengalaman unik  ketika para juri tiba di restoran. Esai ketiga berjudul "Ditempel Intel Mehong", bercerita tentang para pemancing di tepi sungai yang ditemui SGA ketika memotret sambil menikmati pagi. Rupanya, satu diantara pemancing itu adalah seorang intel karena SGA mendapat 'teguran' ketika bertugas sebagai juri pada siangnya.

Potret kehidupan masyarakat yang semakin dalam dapat dibaca pada catatan selanjutnya yang berjudul "Regulasi Cinta & Escort Lady", "Ribetnya Memotret di Pyongyang", "Modernitas Serba Kelabu", "Dalam Penjara Ideologis" dan "Busana Formal Kaum Proletar". SGA mengalami keseragaman total sebagai corak utama negeri yang dibangun atas filsafat komunisme Juche. Seno juga mempersoalkan dialektika materialisme dengan sosialisme, serta hubungannya dengan semangat patriotisme yang menurutnya kelabu. Negara ini juga termasuk unik, karena selalu menganggap dirinya modern, walaupun pemahaman modern disini tidak memiliki arti yang sama dengan modernitas yang dialami negeri komunis lainnya seperti Vietnam dan China.

Seno juga menunjukkan gugatannya atas peranan Negara terhadap kehidupan rakyatnya. Seperti kemunafikan, begitu tulisnya, saat menjumpai permainan judi di lantai dasar hotel yang ditempatinya. Negara sudah jelas menjadi bandar atas permainan judi itu, yang juga merupakan simbol kapitalisme diatas semangat ideologi anti-kapitalismenya.

Saya bersyukur karena tulisan Seno Gumira Ajidarma ini dibuat tidak dalam konteks untuk media tertentu. Sehingga terjadi penyesuaian dimana-mana, dipantas-pantaskan, agar layak bagi pembaca dengan citra yang sudah ditentukan. Alih-alih melaporkan, yang dikerjakan menjadi proyek pencitraan media bersangkutan. Segenap tulisannya ini berusaha menangkap fenomena penindasan rakyat oleh pemerintah negerinya sendiri.

Pandangan untuk melawan imperialisme Amerika Serikat dihayati oleh para pemimpin dan rakyatnya dengan naif. Kesimpulannya, Rakyat Republik Rakyat Demokratik Korea dibangun dengan konsep sebuah studio film, tempat rakyatnya meyakini kehidupan di dalam studio film yang serba artifisial itu sebagai sesuatu yang nyata. Segalanya kembali ke tangan bangsa Korea, untuk merebut sendiri kebebasannya, jika memang pembebasan merupakan suatu jawaban.


Judul        : Jejak Mata Pyongyang
Penulis     : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit   : Muffin Graphics (PT. Mizan Pustaka)
Tebal        : 156 hal.
Tahun       : 2015
Genre       : Travelogue-Esai (dengan gambar)


Dharmawangsa, 11 Agustus 2015.




Rabu, 29 Juli 2015

FF7: O' Connor's Last Ride

It’s been a long night, without you my friend
And I'll tell you all about it when I see you again
We've come a long way from where we began
Oh, I'll tell you all about it when I see you again

Courtesy: YouTube
Finally, i came to this great movie. The magnificent seven, they said. ‘Furious 7’ serial teranyar ini menyuguhkan petualangan yang menegangkan sekaligus emosional. Ada aroma balas dendam dan nuansa kekeluargaan. Barangkali, ini berawal dari kejadian meninggalnya Paul Walker pada 2013 lalu. Tanpa Paul, memang ada yang hilang dan takkan terganti. Namun, film ini tetap memiliki jiwa Brian O’ Connor dengan segala ciri khasnya sejak seri The Fast and The Furious jilid pertama.

Saya menangkap pola alur yang sama antara film ini dengan serial The Ocean’s (Eleven, Twelve, and Thirteen). Mengapa? Pertama, ada aroma balas dendam. Deckard Shaw (Jason Statham) muncul untuk menuntut balas atas perlakuan Torreto kepada Owen Shaw, adiknya. Kedua, Torreto direkrut kembali untuk menjalankan sebuah misi. Mirip dengan Ocean’s Twelve, selain dituntut untuk menjalankan misi, mereka juga punya alasan tersendiri alias keuntungan ganda bila menerima tawaran itu.

Courtesy: www.imdb.com
‘Furious 7’ seharusnya menjadi serial Fast and Furious yang paling sukses, mengingat seri terakhir ini sarat muatan sentuhan emosional. Brian kini bukan lagi seorang mantan polisi yang jadi dipercaya Torreto. Ia kini sudah berkeluarga dan akan segera memiliki anak kedua dari pernikahannya dengan Mia. Torreto sendiri masih yakin bahwa suatu saat Letty akan kembali mengingat semuanya, semua yang pernah terjadi diantara mereka. Termasuk, pernikahan mereka di Puerto Rico.

Letty      : Why didn't you tell me we were married?
Dom      : You can't tell someone they love you.

Bila pada serial sebelumnya, FF6, ketegangan dimulai ketika berlangsung perkelahian antara Dom’s Team dengan Owen Shaw’s team, dimana Joe Taslim muncul menghajar Tyrese Gibson dengan mutlak. Kali ini, Dominic Torreto harus berhadapan dengan seorang Deckard Shaw, agen MI6 yang terlatih namun sudah dibebastugaskan dan bersekutu dengan tentara bayaran dari Somalia. 

Courtesy: www.imdb.com
Saya mencatat dua kali Dom dan Deckard berduel. Sementara, Brian dan rekan yang lain mengerjakan tugas mereka untuk mengamankan God’s Eye. Menurut saya, inilah pencapaian dan penghormatan tertinggi untuk seorang Dominic Torreto. Ia mengerjakan tugas yang menjadi bagiannya. Ia menghadapi langsung seorang antagonis. That’s what leader did.

Courtesy: YouTube
Walau penonton sudah bakal tahu bagaimana ending dari film ini, setidaknya mereka harus menunggu dengan intensitas ketegangan yang tinggi untuk melihat Brian dan Dom melakukan “one last ride” mereka dan berpisah di jalur Nagreg Garut-Tasik (Just kidding :D). Jason Statham tampil memukau sebagaimana karakternya pada serial The Transporter. Dengan gayanya seperti itu, ia harus menghadapi Dominic Torreto sebagai ‘The Real Street Fighter’.

Anyway, rasanya tidak sia-sia menghabiskan waktu 137 menit hanya untuk menyaksikan sebuah happy ending. Alamat dedikasi pada screen penutup untuk Paul Walker mengisyaratkan semua alasan bagi penciptaan #FF7. Pemilihan lagu sebagai soundtrack utama dari Wiz Khalifa feat. Charlie Puth, See You Again, agaknya memang beralasan. Nuansa emosional kembali terasa kala soundtrack film ini diputar. The lyric tells you everything. How can we not talk about family when family's all that we got?


Judul           : Furious 7
Sutradara    : James Wan
Cast            :Vin Diesel, Paul Walker, Tyrese Gibson, Dwayne Johnson, Jordana Brewster,
                    Michelle Rodriguez, Ludacris, Gal Gadot
Durasi        : 137 menit
Tahun         : 2015
Produksi     : Universal Pictures
Genre         : Action-Thriller


Dharmawangsa – Sentul, 29 Juli 2015.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...