Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 September 2024

Sejarah Yang Tidak Pernah Sampai


Harusnya banyak yang bisa saya tulis kembali dari buku ini. Agar kita sebagai muslimin-muslimat muda tahu bahwa selama ini sejarah Umat Islam sudah dicatat ulang oleh mereka yang mengaku "Penakluk Dunia".

Harusnya kita tahu bahwa peradaban yang dibangun Umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad SAW adalah melampaui pengetahuan pada zamannya. Yang ada saat ini tinggal pengembangan dari dasar-dasar pengetahuan yang telah ditemukan oleh para cendekiawan Muslim pendahulu.

Saya sedikit kaget saat tiba pada tulisan yang membahas bahwa Thariq bin Ziyad tidak pernah membakar kapalnya. Kisah ini masyhur kita kenal ketika Thariq mencoba menaklukkan Eropa setibanya di daratan usai melewati Selat antara benua Afrika dan Eropa yang kini kita kenal sebagai Selat Gibraltar. Thariq tidak membakar kapalnya! Mengapa cerita yang kita kenal adalah Thariq membakar kapalnya untuk membakar semangat Kaum Muslimin yang ikut berperang dengannya. Inikah sebuah propaganda sejarah? Sejarah ditulis oleh Sang Pemenang?

Buku ini cukup menarik untuk dibaca, kemasannya bagus, ilustrasinya rapi, ada sumber referensi jadi tidak asal tulis. Buku ini layak dibaca hingga tamat dan bersambung ke buku lanjutannya. Hanya saja, penataan teksnya seharusnya bisa dibuat lebih rapi lagi.

Buku ini setidaknya bisa menjawab pertanyaan saya, "Mengapa bangsa yang tidak cebok seperti orang Eropa memiliki peradaban bangsa yang maju, sedangkan kita di Indonesia yang mayoritas Muslim ini selalu bersuci dari hadas kecil dan besar susah untuk maju?".

Apa betul kita mesti telanjang dan benar-benar bersih, suci lahir dan di dalam batin. Seperti kata Ebiet G. Ade? 

Judul           : The Untold Islamic History #1
Penulis        : Edgar Hamas
Penerbit       : Generasi Shalahuddin Berilmu
Tahun          : 2021
Tebal           : 249 hal.
Genre          : Sejarah Islam

 

Cipayung, 8 September 2024.

Senin, 04 Desember 2023

Why? Science Standards, Memahami Standar Lewat Komik

Sumber gambar: www.gramedia.com


Sejatinya, komik serial Why? ini adalah komik edukasi untuk anak-anak dengan rentang umur sekolah dasar. Tujuannya, agar mempermudah proses pembelajaran anak dalam pelajaran yang berkaitan dengan sains atau ilmu pengetahuan alam. Sepanjang pembacaan, andaikan buku ini ada saat saya masih sekolah dulu, mungkin hidup akan jadi lebih mudah. Halaah. Andaipun begitu, saya beleum tentu punya uang untuk membelinya.

Membaca komik ini membawa ingatan saya kembali pada masa awal sekolah menengah pertama. Saya kembali mengingat pelajaran Fisika, terutama tentang satuan-satuan yang digunakan dalam Sistem Internasional. Lewat pembacaan, saya merefresh kembali memori tentang beberapa satuan yang sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Bedanya, dengan komik ini pembaca dibuat paham tentang mengapa harus ada satuan atau ukuran pengukuran yang sama melalui cerita Paman dan Komji yang kembali ke Zaman Babilonia dimana Kerajaan Assyria (Asiria) berusaha memperluas pengaruhnya.

Komik ini juga memberi penekanan bahwa standar adalah ‘akar dari sains’. Standardisasi  memiliki peranan yang besar terhadap kemajuan sains. Bagaimana pentingnya? Penjelasan dalam cerita petualangan Komji dapat membantu pembaca untuk setidaknya memahami mengapa asal mula keseragaman pengukuran dan bagaimana pengaruhnya terhadap kemajuan dunia dan ilmu pengetahuan.

Komik serial ini memiliki banyak judul yang tentu saja masih berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Buku ini lebih dulu saya tamatkan karena judulnya ‘agak saintifik’ untuk saya yang medioker ini. Saya masih ada dua buku Why? lagi untuk ditamatkan. Anyway, saya sangat menikmati pembacaan komik ini. Sedikit membuat dahi berkenyit tapi ya sudahlah...!

Judul           : Why? Science Standards, Standar Pengukuran
Penulis        : Yea Rim Dang
Penerbit       : Elex Media Komputindo
Tahun          : 2019
Tebal           : 160 hal.
Genre          : Komik Sains



Pajang, 4 Desember 2023


Senin, 23 Desember 2019

Helen dan Sukanta

Sumber: www.goodreads.com

Selalu menyenangkan untuk membaca tulisan-tulisan Pidi Baiq yang mengaku sebagai imigran dari surga. Setelah serial Dilan dan Milea-yang dengan gagahnya menghancurkan imaji saya tentang mereka usai difilmkan, Helen dan Sukanta agaknya menjadi sebuah pengecualian untuk cinta yang mendayu-dayu khas anak remaja.

Entah, saya sudah lupa kapan, saya pernah berkunjung ke blog Pidi Baiq dan membaca beberapa paragraf awal dari Helen dan Sukanta. Begitu pula dengan Dilan, yang catatan awalnya dapat dibaca dalam blog sang penulis. Harapan saya satu per satu menjadi kenyataan. Dilan sudah terbit-sekaligus difilmkan. Kemudian, menyusul Helen dan Sukanta. Sebuah novel romantis dengan ending yang tragis.

 
Membaca Helen dan Sukanta berarti mengembalikan ingatan kepada Bumi Priangan-utamanya Tjiwidei, masa kolonial pasca politik etis. Kisah romantis antara seorang Noni belanda dengan anak pribumi saat itu adalah hal yang tabu. Demikian pula dengan Helen dan Sukanta. Terlalu banyak perbedaan untuk menjadi hambatan kisah cinta mereka.

Saya tidak akan menyoroti bagaimana kisah cinta mereka, darimana Helen bisa kenal dengan Sukanta, dan segenap perjalanan yang mengasah cinta mereka. Helen dan Sukanta adalah sebuah kisah tragis, walaupun hanya baru bisa ditemukan pada seperempat terakhir buku.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pendudukan Jepang atas koloni Hindia Belanda membawa banyak perubahan. Tidak hanya bagi kaum kolonial tetapi juga pada kaum pribumi yang mendambakan kemerdekaan. Kisah Helen dan Sukanta berada pada tengah masa peralihan itu.

Helen yang pulang ke Tjiwidei untuk menemui ibunya yang sakit dan kemudian meninggal tidak pernah menyangka bahwa perpisahan dengan Ukan (panggilan untuk Sukanta) itu adalah perpisahan untuk selamanya. Pasukan Jepang berhasil menduduki Kalijati, kemudian menyeberang ke Lembang. Ukan, entahlah dimana. Helen kemudian masuk kamp tawanan Jepang dimana ia harus kehilangan buah hati yang sedang dikandungnya. Pernah sekali Helen kembali untuk mencari Ukan ke Lembang. Hasilnya sia-sia saja. Bahkan, kalau tidak karena kenalannya di perkebunan dulu, Helen tidak akan tahu nasibnya.

Saya mendapatkan kesan bahwa novel ini sangat humanis. Penulisnya berhasil membawa ingatan tentang masa kolonial beradu dengan masa pendudukan ditambah konflik antara dua hati yang saling mencinta. Tetapi, adalah tragis ketika kita tidak pernah tahu nasib tentang orang-orang yang kita cintai. Begitulah, Helen dan Sukanta dalam pergulatan takdirnya masing-masing.

Judul            : Helen dan Sukanta
Penulis        : Pidi Baiq
Penerbit       : The Panasdalam Publishing
Tahun          : 2019
Tebal           : 364 hal.
Genre           : Novel-Sejarah
 
Ciputat-Cengkareng, 23 Desember 2019.
Ulasan penuh pertama usai Bapak tidak ada.

Selasa, 14 Agustus 2018

Prolog Satu Dekade

Agustus 2018. Tahu-tahu sudah bulan Agustus. Saya sudah merencanakan bahwa bulan Agustus tahun ini adalah perayaan satu dekade blog Selendang Warna. Sesuai rencana, bulan Agustus ini saya melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Saya akan menuliskan perjalanan blog ini dalam enam bagian tulisan. Khusus untuk perayaan satu dekade. Saya tidak bisa membuat album seperti KLa Project untuk menandai sebuah eksistensi selama satu dekade. Belakangan, Afgan juga meniru hal yang sama dengan KLa Project.

https://cdn.calciomercato.com/images/2013-11/boban3.356x237.jpg
Sumber gambar: www.calciomercato.com

Awalnya, saya ingin semua berjalan sesuai rencana. Tetapi, kadang hidup tidak memberi kita kesempatan segampang itu. Sebuah kejadian besar menimpa keluarga besar kami. Bapak saya meninggal bulan Februari lalu. Kejadian itu mengubah segalanya, termasuk untuk blog ini. Bahkan, saya tidak menulis satu tulisan pun selama bulan Maret. Saya merasa kehilangan segalanya dan tidak ada lagi gairah untuk menulis. Soal ini baiknya dibahas lain kali saja.

Keinginan untuk menulis kadang-kadang muncul dari beberapa tulisan lama di telepon selular. Saya perlu mengubah pola tulisan saja sehingga effort yang dibutuhkan tidak terlalu besar. Selama masih bersifat personal dan kontemplatif, yang selama ini saya jadikan haluan. Namun, itu hanya terjadi pada beberapa tulisan saja. Sisanya menguap begitu saja digilas kaki sang waktu yang sombong.

Tiba-tiba sudah Agustus. Ingatan bawah sadar saya mengingatkan bahwa saya harus segera melakukan sesuatu. Tidak mudah. Sangat tidak mudah rasanya karena saya harus mengingat kembali pada satu titik dimana saya mulai berhenti menulis. Ya, setelah Bapak meninggal itu tadi.

Bila dilihat satu dekade ke belakang, saya bisa mereka-reka kembali, menyusun kepingan demi kepingan memori tentang momen apa saja yang sudah saya lewati. Semacam penanda zaman yang merekam apa saja yang pernah ada dalam pikiran saya. Ada rasa malu, bangga, senang, sedih, kecewa, dan segenap perasaan lain yang meliputi dan kadang masih bisa saya rasakan getirnya.

Semoga catatan pembuka ini menjadi penanda baru agar saya mampu mencapai tujuan saya di perayaan satu dekade blog Selendang Warna. Apapun itu, saya berharap bahwa apa yang telah saya lakukan selama ini ada manfaatnya untuk para pembaca. Terlebih, untuk diri saya sendiri sebagai wahana dokumentasi pikiran.

Bogor, 14 Agustus 2018.

Senin, 30 Oktober 2017

Rekonstruksi Panglima Besar Soedirman

Yang sakit itu Soedirman, tapi Panglima Besar tidak pernah sakit

Sumber gambar: www.goodreads.com
Buku ini hadir sebagai bentuk reproduksi edisi khusus Koran Tempo yang membahas tentang Bapak Pendiri TNI ini. Melalui kehadiran buku ini, pembaca disajikan beberapa keterangan yang "disembunyikan" oleh konstruksi sejarah orde baru. Dengan demikian, buku ini merupakan dekonstruksi atas konstruksi imajiner Jenderal Besar Soedirman versi Orde Baru. Pembaca dihadapkan pada satu sosok utuh seorang Panglima Besar Soedirman. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Sejarah sebuah bangsa yang baru merdeka tergambar dalam buku ini. Batu landasan pendirian Tentara Nasional Indonesia diletakkan oleh seorang Soedirman muda yang berumur 29 tahun. Sudah tentu bukan hal yang mudah, integrasi laskar-laskar rakyat sebagai kekuatan sayap militer dengan tentara republik eks Peta-KNIL, seringkali menimbulkan gesekan bagai kerikil tajam dalam tubuh Republik muda,

Dengan kharisma yang dimilikinya, Panglima Besar Soedirman berhasil meredam konflik dan meletakkan dasar fondasi penting untuk Tentara Nasional Indonesia. Dalam kondisi sesulit apapun, ia tetap tunduk pada kepemimpinan sipil Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Usaha penerbitan kembali kisah sejarah bangsa semacam ini patut mendapatkan apresiasi. Penulisan profil para perwira militer penting Indonesia membutuhkan ketekunan. Militer tetap mempertahankan aura ketertutupan yang sulit ditembus. Alhasil, pembacaan kembali sejarah ke belakang, pembaca diharapkan mampu menilai sendiri dan melakukan rekonstruksi sendiri atas fakta sejarah negeri ini.

Judul        : Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir
Penulis     : Arif Zulkifli (ed.)
Penerbit    : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun       : 2012
Tebal        : 160 hal.
Genre       : Sejarah-Indonesia

Cipayung, 21 Oktober 2017

Sabtu, 30 September 2017

Nagabumi II


Sumber Gambar: www.goodreads.com
Ada semacam perasaan haru dan bahagia ketika menyelesaikan pembacaan Nagabumi jilid kedua ini. Pun, ada semacam rasa penasaran yang tidak terlampiaskan kala membaca kata: "BERSAMBUNG" di akhir halaman. 

Ada pula semacam perasaan sedih membayangkan bila suatu masa entah kapan nanti Nagabumi jilid ketiga tidak kunjung terbit melanjutkan perjalanan Golok Karat dan Pendekar Tanpa Nama menuju Shangri-la menemui Maha Guru Kupu-Kupu Hitam.

Sebuah pembacaan panjang yang menghabiskan setengah dekade. Saya sendiri bingung entah mengapa baru bisa menamatkan Nagabumi II selama itu. Padahal, Nagabumi I cukup hanya butuh 4 bulan saja. Itu pun termasuk lama karena saya hanya membacanya setiap pulang ke Cimahi. Nagabumi II ini pada bulan April 2012 dipesan di Medan Merdeka Barat, dikirim ke Ciledug, dipindah ke Cimahi, berangkat lagi ke Ciputat. Perjalanan yang panjang dan tak kunjung selesai.

Saya mengikuti kembali pembacaan yang masih sempat ditandai sejak awal. Hanya beberapa halaman pembuka dan untung masih ada pembatas buku disana. Saya menutup pembacaan pertama pada halaman-halaman awal maka saya lanjutkan kembali dengan mudah.

Pengembaraan Pendekar Tanpa Nama berlanjut. Perjalanan mempertemukannya dengan Amrita, putri cantik pemimpin kaum pemberontak. Ia terlibat dalam sebuah pusaran pemberontakan yang berasal dari dendam yang telah mengakar. Petualangannya bersama Amrita kemudian mengantarkannya kepada Harimau Perang.

Perjalanan mengejar Harimau Perang ini menghabiskan lebih dari setengah halaman buku. Pendekar Tanpa Nama harus berurusan dengan para bhiksu Shaolin untuk sebuah kepastian bernama Harimau Perang. Perjalanannya tidak selalu mulus. Ia dipaksa oleh Kupu-Kupu Hitam untuk pergi ke Shangri-la, mencuri sebuah kitab silat.

Cerita berhenti tanpa sebuah kepastian apakah Pendekar Tanpa Nama berhasil mencuri kitab silat dalam kurun waktu 30 hari. Memang rasanya tidak menyenangkan ketika cerita harus berhenti tanpa ada kepastian, minimal hingga ada kelanjutan cerita sedikit tentang bagaimana nasib Pendekar Tanpa nama selanjutnya. Tapi, bukankah ini adalah sebuah cara agar Nagabumi III segera hadir? Semoga.

Penggalan demi penggalan bab dalam Nagabumi (baik I dan II) mengingatkan saya pada kumpulan cerita silat Kho Ping Hoo yang bisa terbit dengan puluhan buku untuk satu judul. Untuk itu, agaknya Nagabumi masih lebih baik karena cerita dan riawayat perjalanan Pendekar tanpa Nama terangkum utuh dalam satu buku. Ilustrasi isi dari Beng Rahadian turut memberi nilai visual pada Nagabumi. Setidaknya, pembaca bisa diajak berimajinasi tentang tempat-tempat yang dijelajahi oleh Pendekar Tanpa Nama.

Saya berharap Nagabumi akan masih berlanjut. Bagaimana pun, sebuah perjalanan membutuhkan sebuah akhir.

Kamis, 31 Agustus 2017

Catatan Pra Satu Dekade

Saya mulai menulis di blog ini sejak Agustus 2008. Oleh karena itu, resmilah bahwa tulisan pertama saya di bulan itu adalah tanggal bersejarah bagi tulisan pertama saya dan juga sekaligus tonggak berdirinya blog ini. Saya tidak punya intensi bahwa blog yang selama ini saya pelihara akan saya gunakan untuk tujuan atau kepentingan tertentu. Tidak. Apa yang saya lakukan selama ini adalah hanyalah berupa dokumentasi pikiran.

Apa yang dituliskan dalam blog ini tidaklah selalu sesuatu yang populer. Bukan suatu tulisan atau wacana yang menjadi hits dan dikonsumsi pembaca berulang-ulang. Saya percaya bahwa suatu hari nanti mesin pencari Google akan menjadi sedemikian populer dan digunakan berbagai kalangan untuk mencari informasi. Pun, Google sendiri akan berevolusi untuk tidak hanya menjadi sekedar mesin pencari belaka. Maka, saya yakin tulisan saya akan menemukan pembacanya sendiri.

Keyakinan saya itu muncul bersamaan dengan terbitnya blog ini. Saya tidak heran bila nantinya tulisan-tulisan lama saya akan ditemukan hanya karena Google. Kadang, saya sendiri heran bila sengaja mencari nama saya di Google. Ada semacam asosiasi antara nama saya dengan tulisan-tulisan saya. Itu tentu memudahkan saya dalam tracking tulisan saya sendiri.

Menjelang satu dekade ini saya bersyukur bahwa saya mendapat banyak manfaat dari aktivitas blogging ini. Beberapa tulisan bahkan pernah terbit dalam satu buku walau bukan penerbitan mainstream. Namun, tentu saja pencapaian ini sangatlah berarti bagi seorang penulis dadakan yang selalu dikejar deadline bulanan pada akhir bulan.

Saya sendiri sedang mengkaji sebuah kemungkinan apakah blog ini akan terus dibiarkan seperti bagaimana adanya ataukah saya perlu mengupgrade dan memindahkan blog ini ke hosting domain pribadi sebagaimana yang banyak kawan-kawan lakukan. Saya belum tahu jawabannya. Yang saya tahu adalah bahwa saya selalu dikejar deadline 6 tulisan sebulan.

Jakarta-Bandung, 21 Agustus 2017.

Jumat, 28 Juli 2017

Curtiss P-40B Tomahawk

 
Setelah Stuka yang legendaris, saya menambah koleksi pesawat tempur bersejarah lainnya keluaran Academy Model Aircraft. Model kit berskala 1/72 ini adalah replika dari Curtiss P-40B Tomahawk, pesawat tempur bermesin tunggal yang mulai bertugas pada tahun 1938. Pesawat tempur ini berlaga dalam sejumlah pertempuran di Perang Dunia II. 

P-40B Tomahawk adalah derivatif dari P-40A Warhawk. Saya menyukai versi Flying Tigers milik 1st American Volunteer Group. Saya juga tidak kecewa mendapati ukuran model kit yang memiliki panjang sekitar 16 cm dengan rentang sayap 17 cm. Saya sempat juga memiliki F16, MiG-23 Flogger, MiG-29 Fulcrum, F-16 Fighting Falcon, dan F-14 Tomcat dengan skala yang sama. Rasanya lebih puas dengan P-40B Tomahawk ini. Ukuran pesawat sebenarnya yang memang lebih kecil dibanding pesawat jet tempur modern membuat ukuran 1/72 masih memiliki besar yang tidak terlalu kecil.

Saya melakukan finishing dengan pengecatan badan pesawat menggunakan cat semprot warna silver dari merk P*lox (N*ppon Paint). Sementara, bagian kaca (windshield) saya beri spidol warna hitam untuk menandai pilar-pilarnya. Bagian roda saya beri warna silver juga dan warna spidol hitam pada ban. Ada dua opsi untuk merakit pesawat ini. Versi flying (unmounted landing gear) atau dengan landing gear. Saya memilih opsi kedua, karena Stuka tampak lebih nyata dengan terpasangnya landing gear.

Saya sengaja tidak memberi warna asli yang disarankan dalam kemasan model kit maupun gambar skuadron Hell's Angels (bisa dilihat di Wikipedia). Saya memberi warna silver untuk menandai bahwa pesawat ini adalah buatan Amerika Serikat. Seperti pesawat tempur lainnya saat Perang Dunia II yang berwarna perak.

Tidak ada masalah yang berarti dalam pemasangan decal. Rupanya, warna silver pilihan saya itu membuat daya rekat decal tidak maksimal pada ornamen bagian sayap. Saya perlu beberapa kali memasang kembali ornamen sayap itu. Tandanya harus segera dilakukan pengecatan finsihing dengan warna clear.

Overall, tingkat kesulitan pengerjaan pesawat ini adalah 2/5. Tidak terlalu banyak part yang detail dan harus terpasang pada pesawat. Pesawat ini dirakit pada tanggal 2 Juli 2017 untuk menandai kelahiran putri kedua saya. Jika pada kelahiran saya dan adik saya, Bapak membuatkan masing-masing CN235 dan N250, maka kiranya saya cukupkan tradisi itu.


Bandung, 8 Juli 2017.


Minggu, 30 April 2017

The Tide Turns: Pendaratan Bersejarah di Normandia

Sumber gambar: www.amazon.com
Pada 6 Juni 1944, Operasi Overlord dimulai. Sekutu mengerahkan sejuta prajurit untuk merebut Pantai Normandia, Perancis dari cengkeraman NAZI Jerman. Serbuan sekutu ini menjadi titik balik medan laga di Perang Eropa selama masa Perang Dunia II karena sesudahnya mengubah posisi NAZI Jerman yang semula gigih menyerang menjadi bertahan, sebelum akhirnya berangsur-angsur mundur dan kalah usai Battlle of The Bulge.

Invasi ke Normandia menandai dibukanya garis depan pertempuran yang kedua di Eropa. Serangan ini merupakan bencana terbesar bagi Hitler dan Angkatan Bersenjata Jerman. Selain bertujuan menghadirkan tentara sekutu di wilayah Eropa daratan, serangan ini juga memutus akses Jerman dengan pelabuhan-pelabuhan Atlantik di Perancis. Dengan begitu, pertempuran yang dilakukan oleh kapal selam Jerman, U-Boat juga dipastikan dapat berakhir.

Lepasnya Normandia juga berpengaruh besar bagi sistem peringatan dini Angkatan Udara Jerman, Luftwaffe. Hilangnya sistem radar berarti Jerman menjadi vulnerable terhadap serangan udara dari Sekutu. Hilangnya Luftwaffe di langit Eropa menandai kesuksesan pesawat pembom Sekutu untuk melakukan pemboman dan mendukung pergerakan pasukan.

Komik ini berusaha menghimpun semua yang berserakan dari invasi yang lebih dikenal dengan istilah 'D-Day'. Doug Murray berhasil menampilkan episode-episode penting kejatuhan NAZI Jerman dalam ruang bingkai yang terbatas. Tentu, tidak perlu ada pergulatan wacana mengenai sudut pandang yang digunakan sang komikus dalam karyanya ini. Sudah tentu, sang pemenang peranglah yang berhak menentukan sejarah atas pencatatan tragedi runtuhnya Third Reich.

Judul           : The Tide Turns: D-Day Invasion
Penulis        : Doug Murray
Penerbit      : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun          : 2008
Tebal           : 48 hal.
Genre          : Sejarah-Komik
 

Cipayung, 30 April 2017.

Biografi Grafis Che Guevara

Sumber gambar: www.goodreads.com
Memang belum ada batasan mengenai biografi grafis dengan komik. Apakah komik boleh mewakili sebuah bentuk biografi yang diulas secara grafis atau sebaliknya, biografi grafis yang dibuat menjadi sebuah komik. Yang jelas, apapun penjelasannya, sebuah biografi grafis berisi komik ini dapat dengan mudah mengisahkan kepada pembaca biografi singkat tokoh revolusioner, Ernesto 'Che' Guevara.

Siapa yang tidak kenal Che Guevara. Seorang ikon dan figur dengan citra yang sangat terkenal di seluruh dunia. Sejak kematiannya, Che telah menjadi legenda abadi. Ia terpampang dimana-mana: kaos, topi, pin, spanduk, kotak rokok, sampul kaset, dan lain-lain. Lelaki kelahiran Rosario, Argentina tanggal 14 Juni 1948 ini tersohor sebagai ikon revolusi.

Buku ini menyoroti perjalanan kehidupan Che Guevara yang kemudian membentuk karakternya. Mulai dari perjalanan naik sepeda motor ke Amerika Latin, kelak difilmkan dengan judul "The Motorcycle Diaries"; saat menduduki posisi penting sebagai pimpinan di gerakan revolusioner Fidel Castro, perjalanannya ke Afrika, keterlibatan dengan pemberontakan di Bolivia yang berujung pada kematiannya, hingga warisan luar biasa yang ia tinggalkan untuk dunia.

Sebagai sebuah karya terjemahan, buku ini menjadi mewah dengan esai penutup dari Sarah Seidman dan Paul Buhle, yang mengangkat tema "Che Guevara, Antara Gambar dan Realita". Dalam esai disebutkan bahwa Che Guevara telak menjadi ikon bagi sebuah perubahan atau revolusi. Ikonisasi Che seperti itu dengan cepat mewabah dan menjadi kodifikasi dalam pergulatan wacana sebuah organisasi. Che dieksploitasi menjadi asosiasi dari wacana revolusioner. Namanya kerap digunakan anasir tertentu untuk mengidentikan dirinya dengan sesuatu atau hal yang berbau revolusioner.

Adanya esai pada buku biografi semacam ini turut berkontribusi memberikan wawasan bagi kaum muda yang lahir pasca Revolusi Kuba. Esai ini turut memperkaya khazanah pengetahuan mengenai sosok seorang pejuang humanis yang ditangkap rezim penguasa Bolivia pada 8 Oktober 1967. Dengan begitu, Che tidak hanya akan hidup bersama pembaca melalui gambar komik, tetapi pembaca akan mendapat gambaran utuh tentang pengaruh Che yang lebih jauh pasca kematiannya.

Judul           : Che: Sebuah Biografi Grafis
Penulis        : Spain Rodriguez
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2008
Tebal           : 108 hal.
Genre          : Biografi-Komik
 

Cipayung, 28 April 2017.

Jazz, Parfum, & Insiden: sebuah catatan

Barangkali ideologi memang belum mati. Namun kalau masih hidup pun sebaiknya ideologi dibunuh saja. Terlalu banyak omong kosong dalam perbincangan ideologis - yang kita perlukan adalah kebahagiaan yang konkret... - Hal. 170 

Sumber gambar: www.goodreads.com

Barangkali, pembaca sudah maklum bahwa buku ini adalah bagian dari Trilogi Insiden. Barangkali juga pembaca sudah mafhum bahwa tidak ada hubungan antara Jazz, Parfum, dan Insiden. Barangkali saja. Namun, di tangan Seno Gumira Ajidarma, Jazz telah berubah bukan hanya menjadi sekedar aliran musik belaka. Jazz adalah sebuah romantisme bagi sebuah roman metropolitan.

Perlu diakui bahwa karya monumental kesekian ini memperlihatkan sisi kehidupan jurnalistik SGA. SGA menempuh jalannya sendiri dalam menyuarakan ketidakadilan dan represivitas Orde Baru. SGA membalut romantisme ala metropolitan dengan unsur musik jazz dan parfum sebagai sebuah metafora untuk sensualitas kaum perempuan.

Seperti telah dapat dibaca pada "Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara", pada roman metropolitan ini ada pertentangan antara fakta dengan fiksi. Pengemasan keduanya dalam cerpen dan roman telah menghadirkan perbedaan yang signifikan. Betapa tuntutan mengenai fakta dalam fiksi akan lebih tinggi dalam sebuah cerita pendek. 

Berbeda dengan apa yang terjadi pada dua unsur tersebut (fakta dan fiksi) dalam sebuah roman. Pertama, pembaca bisa menganggap bahwa apa yang disebutkan fakta dalam fiksi di sebuah roman adalah sebagai tulisan/bualan penulisnya supaya romannya bisa punya cerita yang panjang. Kedua, kalaupun ada fakta dalam fiksi sebuah roman, maka itu bisa saja sebuah kebetulan supaya cerita antar bab bisa saling berhubungan menuju sebuah ending.

Tentu saja, kedua pendapat diatas masih terlalu subjektif dan lahir hanya dari seorang penulis dadakan sekelas saya. Pada proses pembacaan kumpulan cerpen 'Saksi Mata' (terbit kembali di Trilogi Insiden) saya sebagai pembaca awam cenderung menuntut keabsahan dari catatan-catatan jurnalistik yang dimuatnya. Hal ini tentu berbeda ketika saya menghadapi 'Jazz, Parfum, & Insiden' dimana banyak sekali catatan jurnalistik yang dimuat dari berbagai sumber. Saya cenderung masa bodoh dengan catatan mana yang benar-benar bisa dipercaya maupun dengan catatan mana yang isinya hanya kibul belaka.

Namun, siapapun yang mulai membaca roman ini agaknya tidaklah perlu mengkaitkan antara parfum dengan bau mayat-mayat yang bergelimpangan usai terdengar suara tembakan. Tidak ada kaitannya sama sekali atau malah jalan pikiran saya saja yang menghubungkan mereka. Setidaknya, pembaca tidak akan kehilangan ketokohan Sukab maupun Alina. Pembaca punya banyak alternatif jalan cerita tentang peran Sukab dan Alina dalam roman ini. Sukab sudah jelas disebut dalam cerita, namun Alina hanya muncul utuh dalam ending cerita: sebuah surat. Untuk itu, sila pembaca yang budiman menakar sendiri roman ini secara utuh, tentang seseorang yang selalu mengenakan Walkman, tenggelam dalam jazz dan harum parfum, dan membaca insiden yang berdarah.

Judul           : Jazz, Parfum, & Insiden
Penulis        : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit      : Bentang
Tahun          : 2004
Tebal           : 252 hal.
Genre          : Sastra Indonesia-Roman

Cipayung, 27 April 2017.

Sabtu, 29 April 2017

Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara (2)

Sumber gambar: www.goodreads.com

Saya tidak pernah yakin, dan tidak pernah terlalu percaya, bahwa tulisan saya dibaca orang. Saya berasal dari sebuah negeri yang resminya sudah bebas buta huruf, namun bisa dipastikan masyarakatnya sebagian besar belum membaca secara benar – Hal. 133

Ini adalah tulisan kedua tentang buku ini. Tulisan pertama di blog ini terbit pada bulan November 2015. Saya merasa perlu menulis tentang buku ini sekali lagi. Untuk keperluan penjelasan antara fakta dan fiksi yang menurut saya belum diulas pada tulisan pertama.

‘Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara’ adalah Trilogi Insiden bersama ‘Saksi Mata’ (kumpulan cerpen) dan ‘Jazz, Parfum, dan Insiden’ (roman). Ketiganya memuat fakta seputar Insiden Dili yang ditabukan media massa semasa Orde Baru. Selanjutnya, pertarungan antara fiksi dan fakta atau fakta dalam fiksi akan menjadi pertarungan yang dibahas penulisnya. Ketiga buku terbit dimasa kekuasaan Orde Baru sehingga ketiganya tidak dapat menghindar untuk tidak terlibat dalam persoalan politik kekuasaan, secara praktis dan konkret.

Buku ini banyak bercerita tentang pergulatan SGA dengan perjalanan jurnalismenya. Terutama ketika meliput tentang Insiden Dili. Sebagai penulis fiksi, SGA tidak bermaksud menulis fakta-fakta tentang fiksinya sendiri untuk memperkuat fiksi tersebut. Bahkan juka kemudian ada pembacaan intertekstual antara fakta dan fiksi yang ditulisnya, maka itu semua adalah diluar kekuasaan SGA.

SGA menulis tentang bagaimana ia memposisikan cerpen dalam sastra Indonesia. Pun, dihubungkan dengan konteks realitas di Indonesia. SGA menjelaskan banyak hal dalam ikhtiar proses memadukan unsur fiksi, jurnalisme, dan sejarah menjadi satu produk yang utuh. SGA mengolah fakta menjadi fiksi dengan menulis apa yang dilihatnya, kemudian mengolahnya menjadi bahasa yang dapat diterima sebagai sebuah karya fiksi. Dengan begitu, kiranya sah pernyataan judul buku ini: Ketika Jurnalisme Dibungkam (maka) Sastra Harus Bicara.

Saya pribadi terkesan dengan sebuah bab berjudul “Penulis Dalam Masyarakat Tidak Membaca”. Kutipan diatas saya ambil dari tulisan yang disampaikan SGA dalam Pidato Penerimaan Penghargaan South East Asia Writing Award tahun 1997. Tanpa mengesampingkan tulisan-tulisan lainnya, saya menganggap buku ini adalah satu catatan tersendiri untuk satu Bab dalam perjalanan sejarah Republik tercinta.
 
Edisi pertama buku ini terbit pada tahun 1997, tidak lama sebelum Rezim Orde Baru turun tahta. Edisi Kedua lahir kembali pada tahun 2005. Pada masa reformasi ini, buku ini kembali diterbitkan kembali untuk memenuhi kebutuhan untuk saling mengingatkan. Dengan judul Trilogi Insiden yang membuat tiga judul buku secara utuh. Pembaca dipersilahkan untuk menilai sendiri relevansi antara keduanya, dilihat dari tahun penerbitan dimana pers sudah dianggap bebas sejak Reformasi 1998. 

Judul                     : Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara
Penulis                  : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit                : Bentang Pustaka
Tahun                    : 2005
Tebal                     : 243 hal.
Genre                    : Sastra Indonesia


Cipayung, 21 April 2017

Jumat, 10 Maret 2017

Kaldu Ikan

Sumber gambar: www.goodreads.com

Saya tidak tahu mengapa karya yang cukup bersejarah ini dinamai ‘kaldu ikan’. Entah karena memang dalam konteks perayaan setengah abad hubungan bilateral Indonesia-Jepang sehingga untuk menghormati kebiasaan makan ikan orang Jepang dipilihlah judul itu. Sejatinya, kaldu adalah hasil turunan dari produk protein hewani. Maka dari itu, untuk mengambil simpulan yang lebih sederhana kita anggap saja kalau kaldu ikan ini adalah hasil turunan dari dialog dan dialektika kebudayaan dua negara sahabat, Indonesia – Jepang. Ada pendapat lain? Silakan. 

Komik yang bertajuk ‘Kaldu Ikan: Komik Indonesia + Jepang’ adalah sebuah karya kolaboratif. Proyek ini digagas oleh Takahashi Mizuki dan Ade Darmawan untuk menerbitkan buku kompilasi komik di Indonesia yang merupakan karya seniman Indonesia dan Jepang. Komik ini diterbitkan sebagai bagian dari “KITA!!: Japanese Artists Meet Indonesia” yang diselenggarakan untuk merayakan 50 tahun hubungan diplomatic bilateral Indonesia-Jepang. Pameran itu juga diikuti oleh 50 seniman yang aktif dan giat berkespresi di berbagai bidang, mulai dari seni, desain, manga, hingga tata boga.

Menariknya, komik ini juga bisa didapatkan secara gratis di berbagai lokasi pameran di Jakarta (The Japan Foundation, ruangrupa), Bandung (Selasar Sunaryo Art Space), dan Yogyakarta (Museum Nasional Yogya, Rumah Seni Cemeti, Lembaga Indonesia Perancis, Ruang Mes 56). Selain itu, anda bisa mendapatkan komik ini langsung dari komikusnya. Walaupun gratis, komik ini hanya dicetak 3000 eksemplar saja. Saya beruntung jadi satu dari 3000 orang pemilik komik ini.

Ide komik ini digagas oleh Ade Darmawan (curator ruangrupa) dan Takahashi Mizuki yang seorang seniman asal Jepang. Takahashi, menyinggung soal komik Jepang yang tidak diimpor oleh Indonesia. Komik buatan seniman Jepang dalam ‘Kaldu Ikan’ ini bukan diciptakan atas dasar strategi untuk mengincar kesuksesan eksplosif secara komersial. Oleh karenanya, tidak mudah untuk diekspor dan impor. Selain itu, identitas gaya ekspresi yang khas dan tetap memiliki jalur akses pada sastra, kesenian, desain, dan sebagainya itulah yang menjadikan keempat komikus ini mendapat tempat di perayaan ulang tahun bilateral Indonesia-Jepang.

Sementara, Ade Darmawan menganggap terbitnya komik kolaborasi ini sebagai energy baru dari sebuah pertukaran gagasan interdisiplin yang intens sehingga pengkayaan gagasan dari disiplin lain terjadi. Komik harus mempunyai keluasan wawasan dan kontekstualitas. Kolaborasi dengan disiplin ilmu lainnya seperti sastra, social-politik, sejarah, arsitektur, filsafat dan lainnya sangat dibutuhkan untuk menghasilkan karya-karya komik yang kaya akan gagasan lain selain “menggambar”. 

Pilihan keempat komikus Indonesia dalam komik ini adalah karena masing-masing dari mereka memperlihatkan keberagaman pendekatan yang sangat kuat dalam bertutur melalui gambar yang telah secara intens mereka lakukan dalam waktu yang cukup lama. Gambar hanya sebuah pintu awal yang atraktif dalam mengundang kita ke lapisan-lapisan gagasan lainnya. Bila anda menginginkan sebuah nama besar, Beng Rahadian ada dalam deretan komikus “Kaldu Ikan”.

Untuk saya pribadi, komik ini justru terbit usai selesainya skripsi komik saya. Sehingga, saya tidak bisa menambahkan dimensi lain dari seni komik Jepang (manga) dan perkembangan komik yang lebih actual di Indonesia. Komik favorit saya adalah komik karya Dwinita Larasati yang berjudul “Prajab 12 Desember 2007”. Barangkali, ini terkesan subjektif karena saya mengalami juga yang namanya Diklat Prajab pada Maret 2011. Namun, jauh sebelum Diklat Prajab, saya sudah menyenangi bahasa gambar buatannya. Storyline yang berurut serta ilustrasi yang mengingatkan akan kenikmatan kuliner khas kota Bandung (yang ini alasan subjektif).


Judul           : Kaldu Ikan: Komik Indonesia + Jepang
Penulis        : Takahashi Mizuki, Ade Darmawan (ed.)
Penerbit       : The Japan Foundation
Tahun          : 2008
Tebal          : 126 hal.
Genre          : Komik

Medan Merdeka Barat, 9 Maret 2017.

Senin, 27 Februari 2017

Worldcupedia 1930-2022

Sumber gambar: buku.kompas.com

Saya tidak pernah tahu bahwa ada  sebuah kumpulan tulisan bersifat dokumentatif yang mengulas soal Piala Dunia. Piala Dunia sepakbola dibawah asuhan FIFA, tentunya. Mengagumkan, memang. Apalagi, didukung oleh berbagai sumber dari Tabloid Bola. Tabloidnya penggemar sepakbola. Dari sisi Tabloid Bola sendiri, saya hanya tahu publikasi mereka berupa komik serial 'Sepakbolaria' kemudian komik 'Si Gundul' yang mewakili narasi komik di berbagai bidang olahraga.
 
Buku berukuran 14 inci ini mengulas banyak hal mulai dari latar belakang penyelenggaraan piala dunia hingga update terakhir mengenai terpilinya Qatar sebagai tuan rumah kejuaraan untuk tahun 2022. Menarik sekali untuk mengetahui mengapa Piala Dunia pertama diselenggarakan jauh-jauh di Uruguay. Bukan di tanah kelahirannya di Eropa sana.
 
Sepakbola dunia juga ikut merasakan gegap-gempita perang dunia yang mengubah konstelasi geopolitik dunia. Perang Dunia I dan Perang Dunia II tidak membawa sebab yang sedikit bagi perkembangan sejarah Piala Dunia. Simaklah bagaimana Italia berhasil menjadi Juara Dunia dibawah diktator Mussolini, hingga empat tahun kemudian berhasil menjadi jawara kembali.
 
Modernitas sepakbola makin terasa kala Inggris menjadi tuan rumah sekaligus menjuarai PIala Dunia tahun 1966. Sejaka saat itu, selalu ada saja drama di lapangan hijau yang menjadi kenangan setiap piala dunia. Rivalitas Jerman Barat-Belanda yang tidak pernah berakhir; Legenda bernama Pele, Mario Kempes, Maradona, Beckenbauer, Romario, Zinedine Zidane, Ahn Jung Hwan, dan Phillip Lahm lahir di pentas dunia; Drama gol Geoff Hurst yang dibayar Jerman di Piala Dunia 2010, Kegagalan penalti Roberto Baggio, Sundulan Materazzi ke dada ZIdane, Kedigdayaan Spanyol, dan ganasnya Der PAnzer di Brazil 2014 adalah suguhan yang tidak mungkin mudah dilupakan.
 
Ensiklopedia ini tampil dengan sampul tebal dan halaman berkertas glossy. Seakan ingin menampilkan glamoritas gelaran Piala Dunia. Bagaimanapun, sepakbola tidak hanya soal kemenangan. Lebih dari itu, sepakbola adalah gairah. Gairah menuju pencapaian jiwa, menang kalah soal biasa.
 
Judul        : Worldcupedia: Ensiklopedia Piala Dunia 1930-2022
Penulis        : Adi Prinantyo [et.al]
Penerbit    : Penerbit Buku Kompas
Tahun        : 2014Tebal        : 216 hal.
Genre        : Sejarah-Sepakbola
 

Cipayung, 10 Februari 2017.

Selasa, 31 Januari 2017

Trilogi Otobiografi Mohammad Hatta #1: Bukittinggi - Rotterdam Lewat Betawi

Kita manusia dan segala yang hidup diatas dunia adalah baru. Alam, matahari, bulan, dan bintang semuanya baru. Semuanya buatan Tuhan. Segala yang terjadi ada yang menjadikan. Ada awal, ada akhirnya.

Sumber gambar: www.goodreads.com

Membaca buku pertama serial trilogy ‘Untuk Negeriku’ karya Bung Hatta ini menimbulkan semacam perasaan yang sentimental. Terasa betul bahwa buku ini ditulis dengan sentuhan personal Bung Hatta. Catatan personal yang lengkap dengan segala latar belakang emosionalnya.

Mohammad Hatta kecil dibesarkan dengan latar belakang agama yang kuat. Bung Hatta adalah seorang cucu dari ulama besar, Datuk Abdul Rahman, yang terkemuka dan memiliki banyak murid di Batuhampar. Ia sudah mulai dididik dengan ajaran Islam yang ketat sedari kecil. Hatta kecil sudah diperkenalkan dengan prinsip-prinsip keislaman dan jalan tarekat menuju Tuhan. Kelak, hal ini pula yang akan membentuk kepribadiannya. 

Tidak banyak orang yang mengira bahwa Mohammad Hatta besar tidak sebagai alim ulama. Sebagaimana ia pernah ditahbiskan dahulu pada masa kecilnya. Ia melanjutkan pendidikan menengah MULO di Padang. Disinilah ia mulai belajar berorganisasi melalui klub sepakbola Swallod dan organisasi Jong Sumatranen Bond (JSB). Takdir pun membawanya hingga ke Betawi. Hatta pun bersekolah di Prins Hendrik School.

Lulus dari PHS, ia diimingi jabatan dengan fasilitas yang lumayan. Dengan tekad belajarnya yang tinggi, Hatta memutuskan untuk meneruskan sekolah. Saya bisa ikut merasakan pergulatan pada pikiran dan jiwa Hatta pada fase hidupnya yang kesekian ini. Kecintaannya pada Indonesia hingga keinginan dan impiannya yang tinggi mendorong Mohammad Hatta untuk meneruskan sekolah di negeri Belanda. Ketertarikannya yang tinggi terhadap bidang ekonomi menuntunnya belajar di Handelshogeschool di Rotterdam pada usia 19 tahun.

Kiprah Bung Hatta di negerinya Van Der Vaart sana seperti sudah kita baca di buku sejarah. Hatta tidak hanya terus belajar dan belajar. Bung Hatta juga rajin membangun jaringan dengan sesama pelajar Indonesia disana dengan membentuk Perhimpunan Indonesia (PI). PI terlibat aktif dalam gerakan anti kolonialisme dan imperialism internasional. Ia sempat ditangkap dan diadili karena aktivitas pergerakannya. Justru di pengadilan itulah memoar pembelaan Bung Hatta menjadi sebuah masterpiece berjudul “Indonesia Merdeka”.

Membaca buku pertama ini pembaca diajak untuk memahami ihwal mengenai identitas Mohammad Hatta. Bagaimana pembentukan karakternya dan siapa saja yang berperan dalam fase-fase hidupnya. Pembaca juga turut diajak mengembara dengan episode-episode hidup Bung Hatta yang terasa betul gairahnya untuk Indonesia Merdeka. 

Judul                    : Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi (Untuk Negeriku, #1)
Penulis                 : Mohammad Hatta
Penerbit                : Penerbit Buku Kompas
Tahun                   : 2011
Tebal                    : 324 hal.
Genre                   : Biografi-Memoar


Cipayung, 26 Januari 2017.

Melihat Indonesia dari Sepeda

Courtesy: www.goodreads.com

Saya mungkin satu dari sekian pembaca yang merasa bakal mendapatkan satu pemandangan Indonesia yang indah dari sebuah sepeda. Tentang bagaimana sendi-sendi kehidupan nusantara terjalin mesra di daerah-daerah, misalnya. Saya tidak mendapatkan pemandangan yang demikian, meski saya tidak memungkiri tulisan terakhir dalam buku ini yang bercerita soal pengalaman personal bersepeda Surabaya-Jakarta dalam rangka perayaan 45 Tahun Kompas.

Menarik sekali untuk membuat beberapa hipotesa dadakan mengenai boomingnya sepeda di kota-kota besar tempat bermukimnya para kelas menengah. Entah itu sebagai imbas yang kekinian atau kontekstual atau malah hanya sebagai mode yang sementara saja. Untuk tujuan idealis, hanya segelintir saja pelakunya yang betul-betul konsekuen dengan apa yang telah diawalinya.

Sejarah sepeda di Indonesia ini jejaknya masih samar. Awal mula kedatangannya hingga siapa importer pertamanya saja belum dapat ditelusuri. Namun, sebagai sebuah produk budaya kedatangan sepeda di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sisi historis pendudukan Belanda. Kabar baiknya, evolusi sepeda di Indonesia dan sejarah awalnya disajikan dalam buku ini.

Ada anggapan bahwa dari judulnya buku ini harus menampilkan perspektif tentang Indonesia, dalam arti sempit maupun arti yang luas. Saya sendiri cenderung menempatkan buku ini dalam konteks yang lebih kekinian. Sesuai zaman yang dipotretnya. Saya perkirakan pada sekitar tahun 2005 hingga medio 2010-an. Walaupun, hanya berupa kumpulan beberapa tulisan yang pernah naik cetak harian Kompas. Buku ini sendiri bervariasi, menampilkan artikel mengenai sejarah sepeda hingga perkembangan teknologi. Dari mulai sekedar kendaraan priyayi hingga menjadi pujaan para kolektor.

Ekspektasi saya terpenuhi dengan buku ini. Setidaknya, ada beberapa pustaka referensi dalam penyusunannya. Perpaduan antara artikel dan memoar perjalanan didalamnya membuat buku ini menjadi semakin enak dibaca sambil bersantai. Tetapi, yang jelas, buku ini berhasil menjadi ‘racun’ untuk saya karena saya pun akhirnya menginginkan sebuah sepeda onthel.

Judul            : Jelajah Sepeda Kompas: Melihat Indonesia dari Sepeda
Penulis         : Ahmad Arif
Penerbit       : Penerbit Buku Kompas
Tahun           : 2010
Tebal            : 196 hal.
Genre           : Sosial-Budaya


Cipayung, 25 Januari 2017.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...