Tampilkan postingan dengan label story of a moment. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story of a moment. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 September 2024

Been There, Done That!

Medio 2012 silam, saya dibuat penasaran oleh sebuah buku dengan warna yang atraktif, warna Valentino Rossi-begitu saya menyebutnya. Kalau di sepatu Nike yang pernah saya punya warnanya disebut “Volt”. Saat itu, masih jarang buku self-help dengan warna yang mencolok, sepengalaman saya. Kalaupun ada yang berwarna kuning yaitu 23 Episentrum dari Adenita dan bukunya Billy Boen, Young on Top.

Courtesy: www.goodreads.com

Buku ini sempat menjadi satu contoh tentang bagaimana sebuah ide dituangkan menjadi buku dalam workshop berjudul “Creative Writing” yang diselenggarakan oleh PlotPoint pada tahun 2012 itu juga. Saya mendapat kesempatan untuk mengikuti workshop tersebut sebagai hadiah dari kuis yang saya menangkan di linimasa Twitter. Dulu, dulu sekali sebelum Twitter jadi X!

Kembali ke Been There Done That Got The T-Shirt (BTDTGTTS), saya pikir tadinya buku ini adalah buku self-help biasa dengan tampilan isi yang atraktif dan memudahkan pembacanya untuk mengubah sesuatu dalam hidup mereka. Tadinya! Waktu saya hanya mampir sebentar membuka sedikit halamannya di toko buku dan tidak pernah memasukkan buku ini dalam keranjang belanja.

Saya teringat akan waktu silam itu, maka saya memutuskan untuk membaca dan memiliki BTDTGTTS. Saya menurunkan ego saya kali ini untuk membeli buku bekasnya. Agak sulit memang untuk mendapatkan buku ini dalam kondisi baru. Entah saya saja yang malas untuk browsing di marketplace, I don’t care. I need this book, now!

Apa yang saya dapat setelah berhasil menamatkan BTDTGTTS? Well, I have to say that I’m a little bit sorry for myself. It’s a little bit late for me to know that I have to live your life secara meriah! Saya selalu terpaku pada idiom “Been There, Done That!”. Saya terpana ketika melihat kembali dan berkaca pada pengalaman-pengalaman sebelumnya dimana saya merasa cukup dengan semua itu. Saya pernah siaran radio (walau hanya acara talkshow berdurasi 2 jam), saya pernah merangkap jadi sutradara film-aktor-editor untuk tugas mata pelajaran Sejarah, saya pernah jadi crew untuk event Konser Siti Nurhaliza, saya pernah ini, saya pernah itu, and so on. Padahal, kalau saja saya tidak berhenti dan terpana, mungkin saya sudah menjalani hidup saya to the fullest.

BTDTGTTS bukanlah sebuah textbook tentang bagaimana hidup berjalan seperti ini dan seperti itu. Ia juga bukan sebuah guide untuk menjalani hari-hari ke depan dengan penuh motivasi dan semangat membara. BTDTGTTS adalah sebuah activity book yang tidak terlalu tebal namun butuh usaha untuk memahaminya. BTDTGTTS menuntut pembacanya untuk berpikir kembali seraya mengisi pertanyaan-pertanyaan yang ada didalamnya. Saya sendiri kewalahan untuk menemukan the truest answer untuk semua pertanyaan itu. So, wajar saja mengapa Mbak Gina S. Noer menyarankan buku ini sebagai satu buku yang ‘wajib’ dibaca pada workshop menulis yang sudah saya sebutkan tadi.

BTDTGTTS adalah buku yang ringan namun tidak menghibur. Ia mempertanyakan kembali tentang bagaimana pembaca akan menjalani hidup di masa depan. BTDTGTTS bisa dibaca dari bab manapun. Bila dibaca dari awal, tentu akan lebih baik karena lebih runut. Kalaupun dibaca dari tengah, tidak masalah. BTDTGTTS bukan sebuah kitab yang menuntut selesainya pembacaan bab demi bab. Dibaca dari halaman belakang, juga tidak apa. Bukankah sebuah akhir akan mebawa pada awal yang baru?

Saya tidak pernah bosan untuk membuka kembali buku ini walaupun sudah menamatkannya. Rasanya selalu tepat untuk membuka halaman mana saja. Terlalu banyak kejutan dalam buku ini. Saran saya, tandai bab favoritmu dengan pembatas buku. Penomoran halamannya unik seperti buku BIA dari Yoris Sebastian. Mudah-mudahan tidak terlalu terlambat untuk mengatakan bahwa buku ini keren!

Judul       : Been There Done That Got The T-Shirt (B.T.D.T.G.T.T.S)
Penulis     : Risyiana Muthia, visual oleh Emeralda
Penerbit    : Gramedia Pustaka Utama
Tahun       : 2012
Tebal       : 124 hal.
Genre       : Motivasi, Self-help

Cipayung, 20 September 2024.

Jumat, 20 September 2024

101 Creative Notes and The "3i"

Buku ini sudah lama masuk dalam wishlist saya. Apalagi pada saat Twitter sedang enak-enaknya dipakai di Blackberry device. Entah mengapa, buku ini terlupakan. Lama sekali. Hingga kemarin saya memutuskan untuk mulai membaca lagi. Pilihannya jatuh pada beberapa buku Yoris Sebastian yang sudah lama ingin saya tamatkan. Satu dari mereka ada lah 101 Creative Notes ini.

Courtesy: www.goodreads.com

Seperti kata Yoris, try to avoid your routine. Maka, saya memulai pembacaan buku ini dari notes nomor 55. Lanjut hingga notes paling akhir. Lalu memulai lagi pembacaan dari halaman pembuka hingga bertemu lagi dengan notes nomor 55. Circling. Ya, i am try to avoid reader's habit. Mencoba mengamalkan satu dari sekian jurus kreatif ala Yoris.

IMO, tidak terlalu banyak teks dalam buku ini. Pembacaan terasa ringan dan bisa tamat baca sekali duduk dalam perjalanan pesawat Jakarta-Surabaya. Mungkin, Itulah mengapa judulnya hanya sebatas "notes" saja. Small message but the impact is huge! Memang penataan dan tata letaknya menampilkan sisi kreatif dari sang penulis dan rekan-rekannya yang berkolaborasi. Baik itu berupa gambar, quotes, ataupun screenshot yang dibuat dengan sebuah tablet keluaran well-known and reputable company.

At least, pada pembacaan kali ini, saya mendapatkan insight tentang "3i". Intuisi-Impact-Innovation. Yoris menekankan bahwa intuisi adalah ciptaan Tuhan sedangkan hitungan adalah ciptaan manusia, jadi rasanya tidak terlalu salah untuk percaya pada intuisi. Impact, adalah suatu efek yang diakibatkan dari segala tindakan kreatif kita. Ini perlu dipikirkan dalam ekonomi kreatif. Small efforts with big impacts. Terakhir, innovation. Barangkali saya masih terngiang-ngiang dengan pembacaan buku Yoris lainnya tentang Black Innovation Award (BIA). We have to innovate to embrace the unknown. Semuanya, adalah hal-hal yang perlu saya review kembali untuk menata ulang mindset saya yang sudah kadung rada kusut belakangan ini. #curhat

 

Judul           : 101 Creative Notes
Penulis        : Yoris Sebastian
Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2013
Tebal           : 200 hal.
Genre          : Motivasi


Pajang, 20 September 2024

Senin, 09 September 2024

(Saya Tidak Pernah Bosan) Mengintip Jakarta

Saya membaca komik untuk sekedar menghilangkan kejenuhan. Tentunya, si komik ini haruslah pula bisa jadi bahan tertawaan buat diri kita sendiri. Seperti komik ini, komik kompilasi dari tiga orang seniman komik yang memiliki ciri khas masing-masing.

Courtesy: www.goodreads.com


Tidak ada yang baru dengan tema seputar Jakarta. Jakarta masih selalu seperti itu. Masih dengan hiruk-pikuknya di hari kerja dari hari-hari lainnya yang tidak pernah sepi. Agaknya, ketiga komikus ini dapat menangkap eh mengintip Jakarta dari sisi lain yang tentu saja seputar kehidupan yang mereka jalani. Di Jakarta, tentunya!

Komik ini terbit pertama kali pada tahun 2014, lalu naik cetak kembali pada tahun 2015 dan 2016. Tahun-tahun dimana Komik Indonesia banyak bermunculan dari beragam penerbit lokal juga yang berusaha memfasilitasi komikus-komikus berbakat untuk berkarya. Sebuah fenomena yang menarik karena mereka dapat mengangkat tema yang relate dengan kehidupan sehari-hari pada tahun-tahun mendatang.

Isu yang diangkat komik ini masih sangat relate dengan keseharian warga Jakarta. Saya sendiri sampai kadang tertawa sendiri setiap mengulang pembacaan. Maklum, beberapa tahun lalu saya sempat mengalami beberapa sketsa yang diintip oleh para komikus penulisnya. Tak heran, saya tidak pernah bosan.

Judul           : Mengintip Metropolitan
Penulis        : Haryadhi, Sheila Rooswitha, "Mice" Misrad
Penerbit       : Octopus Garden
Tahun          : 2014
Tebal           : 144 hal.
Genre          : Komik Urban

 

Cipayung, 8 September 2024

Sejarah Yang Tidak Pernah Sampai


Harusnya banyak yang bisa saya tulis kembali dari buku ini. Agar kita sebagai muslimin-muslimat muda tahu bahwa selama ini sejarah Umat Islam sudah dicatat ulang oleh mereka yang mengaku "Penakluk Dunia".

Harusnya kita tahu bahwa peradaban yang dibangun Umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad SAW adalah melampaui pengetahuan pada zamannya. Yang ada saat ini tinggal pengembangan dari dasar-dasar pengetahuan yang telah ditemukan oleh para cendekiawan Muslim pendahulu.

Saya sedikit kaget saat tiba pada tulisan yang membahas bahwa Thariq bin Ziyad tidak pernah membakar kapalnya. Kisah ini masyhur kita kenal ketika Thariq mencoba menaklukkan Eropa setibanya di daratan usai melewati Selat antara benua Afrika dan Eropa yang kini kita kenal sebagai Selat Gibraltar. Thariq tidak membakar kapalnya! Mengapa cerita yang kita kenal adalah Thariq membakar kapalnya untuk membakar semangat Kaum Muslimin yang ikut berperang dengannya. Inikah sebuah propaganda sejarah? Sejarah ditulis oleh Sang Pemenang?

Buku ini cukup menarik untuk dibaca, kemasannya bagus, ilustrasinya rapi, ada sumber referensi jadi tidak asal tulis. Buku ini layak dibaca hingga tamat dan bersambung ke buku lanjutannya. Hanya saja, penataan teksnya seharusnya bisa dibuat lebih rapi lagi.

Buku ini setidaknya bisa menjawab pertanyaan saya, "Mengapa bangsa yang tidak cebok seperti orang Eropa memiliki peradaban bangsa yang maju, sedangkan kita di Indonesia yang mayoritas Muslim ini selalu bersuci dari hadas kecil dan besar susah untuk maju?".

Apa betul kita mesti telanjang dan benar-benar bersih, suci lahir dan di dalam batin. Seperti kata Ebiet G. Ade? 

Judul           : The Untold Islamic History #1
Penulis        : Edgar Hamas
Penerbit       : Generasi Shalahuddin Berilmu
Tahun          : 2021
Tebal           : 249 hal.
Genre          : Sejarah Islam

 

Cipayung, 8 September 2024.

Jumat, 30 Agustus 2024

Satu Dekade KLa Project


 
Izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi,
Bila hati mulai sepi tiada terobati

Album “Dekade: 1988-1998” adalah album Kla Project pertama yang saya dengarkan secara penuh full album. Alasannya mudah saja, dalam album ini ada banyak lagu-lagu popular Kla Project dan menjadi hits pada masanya. Jadi, rasanya sangat menyenangkan. Satu album penuh yang diisi dengan lagu-lagu hits dan bisa saya ikut nyanyikan. Saya meminjam album ini dalam bentuk kaset pita dari Paman. Saya tidak punya pretensi apa-apa, hanya saja saya butuh sesuatu untuk saya dengarkan selain radio dan kaset-kaset lainnya. Waktu itu, menjelang ujian SPMB. Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru. Album ini menemani saya dalam menjalani hari-hari persiapan ujian.

Hari-hari itu adalah masa yang tak pernah mudah. Saya hanya punya waktu sebulan penuh untuk persiapan dan latihan soal. Saya mulai jam 07.00 di pagi hari dan selesai setiap jam 17.00. Istirahat hanya pada saat butuh ke kamar kecil dan waktu shalat saja. Selebihnya, saya berada di meja belajar berkutat dengan buku-buku persiapan ujian. Saya tidak melakukan kegiatan belajar di malam hari. Kalaupun ada hanyalah sekedar membaca-baca pelajaran yang bisa dibaca dalam rumpun Ilmu Sosial. Maklum, saya yang murid IPA ini mengikuti ujian SPMB IPS. Bukan IPC, agar saya fokus. Sebuah Keputusan yang saya anggap tidaklah terlalu salah.

Album ini menemani malam-malam saya. Semakin lama saya dengarkan, saya semakin menikmati musikalitas Kla Project. Ada beberapa lagu dari sesi KLakustik yang disisipkan dalam album ini. Kalau tidak salah, “Yogyakarta” yang selalu membuat rindu kembali ke Yogyakarta, “Waktu Tersisa”, “Salamku Sahabat”, “Tentang Kita”, dan “Semoga”. “Semoga” ini cukup baru untuk telinga saya. Sehingga lagu ini kemudian jadi favorit saya Bersama dengan “Belahan Jiwa”. Apalagi nuansa yang dihadirkannya adalah suasana konser KLakustik di Taman Ismail Marzuki tahun 1995 silam. Sebuah pertunjukan yang megah untuk sebuah band yang berumur 7 tahun.

Dulu, akses internet tidak semudah saat ini. Jadi, saya tidak pernah tahu seperti apa gambaran visual konsernya. Yang jelas, saya hanya bisa berharap untuk dapat memiliki kaset KLakustik yang terbagi jadi dua keping kaset. Saya baru bisa mendapatkan album KLakustik pada tahun 2023 lalu dalam bentuk CD di sebuah toko music terkenal di bilangan Sabang, Jakarta Pusat, dengan harga yang sangat menyenangkan pula.

Kembali ke Dekade. Album bersampul dominan warna hitam ini seperti menyimpan unsur magis yang dapat menyihir setiap pendengarnya. Apalagi bila sudah sampai pada “Takluk” di side B. Anyway, this album is fantastic. Sebuah pencapaian bagi sebuah band yang tidak pernah mudah. Seingat saya, pada tahun 1997, setahun sebelum album ini dirilis, Lilo mengeluarkan single pertama dari albumnya yang cukup viral juga saat itu dengan lagu andalan “Sandra”. Sandra oh Sandra, waktu merambat menjelang senja. Katon juga sempat merilis album “Harmoni Menyentuh” pada tahun yang sama dengan singlenya “Meniti Hutan Cemara”. Jenuhku adalah beban, yang tak boleh terulang. Seakan dua pertanda itu menegaskan terjadinya sesuatu dalam Kla Project. 

Anyway, saya kini menikmati kembali album ini dalam bentuk yang lain. Kalau dulu dalam bentuk kaset, sekarang saya bisa menikmatinya dalam bentuk digital music streaming yang mengharuskan kita berlangganan. Sebut saja Oknum “S” hahahaha. Juga, saya mendapatkan keping CD album ini yang berisi dua keping CD dan bonus sebuah booklet yang berisi lirik lagu-lagu dalam album serta ucapan salutation dari Kla Project.
Album ini dinaungi label Prosound dan hadir dalam dua keping CD serta kaset pita ini adalah bukti bahwa Kla Project belum usai pada usianya yang satu dekade itu. Setahun sesudah “Dekade”, kemudian lahir album “Sintesa” pada tahun 1998 dengan hits andalannya “Sudi Turun ke Bumi”. Saya tidak bisa berkomentar banyak mengenai album “Sintesa”. Menyusul setahun sesudahnya, album bertajuk “Klasik” dengan hitsnya yang popular yaitu “Menjemput Impian”. Kekasih aku pulang, menjemput Impian. Lalu, “Kidung Mesra”. Ingin masuki puri dihatimu, hangatkan ruangnya dengan cinta. Aaahhh, cinta.

To conclude this post, album ini is simply amazing. Merangkum sepuluh tahun perjalanan band legendaris dengan lirik-lirik nan puitis. 

Meski tlah jauh, aku akan tetap menulis tentang kita
Walaupun aku bahagia tanpamu, aku akan selalu merindukan gerimis
Pada belahan jiwa, yang membuatku takluk
Aku takkan lepaskan, semoga 
Kita selalu satu kayuh berdua


Cipayung, 28 Agustus 2024

7, The Magnificent


Aisyah sayang,

Beranjak tujuh tahun umurmu kini. 7 tahun, beberapa dari mereka sering bilang Magnificent 7. Mungkin karena mereka hanya tahu bahwa banyak keajaiban dari pemilik nomor 7. Entah David Beckham, Ronaldo Portugal, atau tujuh yang lainnya. Apapun itu, selamat! Bapak senang bisa melihat Aisyah tumbuh menjadi anak yang riang dan bersemangat.
 
Aisyah harus jadi lebih baik lagi, Nak. Semakin rajin sholatnya, semakin rajin belajarnya, dan semakin berbakti pada orang tua. Doa kami selalu menyertaimu, Nak. Masih terbayang di benak Bapak, waktu Aisyah baru belajar jalan. Masih tertatih namun selalu ingin terus berjalan walau kadang jauh. Namun, selalu bangkit lagi. 
 
Aisyah sekarang sudah bisa naik sepeda ke sekolah. Bapak salut dengan keberanian Ais. Pertahankan itu, Nak. Dunia butuh orang yang berani. Berani berbuat baik dan benar serta berani mengakui kesalahan. Aisyah, harus lebih baik lagi ya, Nak.
 
Peluk sayang dari Bapak dan Ibu.
 
 
Cipayung, 2 Juli 2024.

Rabu, 26 Juni 2024

Someday

Jakarta is a strange place which i am still trying to comprehend. On the one side there is a grit, the grime and the in-your-face poverty, on the upper side the glamorous, cosmopolitan Jakarta. As part of the upper-middle class, one gains automatic access to the hippest bars, the fanciest parties and the most fashionable events. Trendy restaurants provide modern Western cuisine targeted towards sucker like me, who suffer from bouts of nostalgia and are willing to pay a premium to cure their cravings.

You can walk into a bar and feel like you're back in Sydney or New York ar any other international city. In Jakarta, you can live the same lifestyle as you had while you overseas, or sometimes even better.

But in the end, life is not about all that. It is about the people you surround yourself with. To love where you live, you must be with the ones that make you feel belong.

At the end of the day, wherever you are. when you are surrounded by friends and loved ones, even the worst day can turn to the best.


 
 
Disadur dari tulisan berjudul "Coming Home" by Tessa Wijaya. The Jakarta Post Weekender. Juli 2009
 
Ditulis kembali sebagai pindahan dari Notes di Facebook

Senin, 08 Januari 2024

Membunuh Perasaan

Kau mintakan aku bercerita padamu tentang bagaimana caranya agar aku tidak selalu rindu pada rumahku. Baik, begini ceritanya.

Waktu itu setelah kelulusan. Aku masih menikmati saat-saat itu. Suatu waktu dimana tiap detiknya masih sama seperti saat cerita ini aku buat. Sama sepertimu. Aku hanya ingin menikmati hari-hari setelah kelulusan dengan biasa saja. Aku tahu aku harus mencari pekerjaan. Aku tahu itu dan aku rasa aku akan memulainya nanti.

Aku memulai beberapa pekerjaan kecil yang memang sering aku lakukan. Kembali menghubungi kawan-kawan lama dan ya begitu-begitu saja. Pernah juga aku kerja tak dibayar. Aku pernah mengalaminya. Dan percayalah, kau pasti tidak akan mau merasakannya. Jangan. Jangan pernah.

Begitulah, sampai suatu saat aku merasa harus segera meninggalkan kotaku itu. Aku selalu merasa harus pergi dari kota yang telah membesarkanku. Padahal, situasinya tidak terlalu parah. Aku masih punya penawaran untuk sebuah pekerjaan lagi. Tapi, karena begitu kuatnya dorongan itu, aku memilih berhenti saja supaya aku bisa lebih leluasa. Klasik. Padahal itu cuma jadi pembenaran saja kalau aku masih merasa harus pergi menuju kota impian.

Perasaan itu terus menghimpitku. Maka yang bisa kulakukan hanyalah menikmati hari-hari secara berbeda. Aku harus menjalani hari-hariku dengan apa yang kuinginkan. Aku tidak pernah akan tahu kapan hari terakhirku di kota itu. Aku hanya bisa melakukan apa yang biasa kulakukan. Mendengarkan radio, selonjoran sampai tengah malam, atau malah merokok di keheningan malam juga aku lakukan. Aku harus mempersiapkan segalanya. Semuanya. Agar kelak bila memang aku meninggalkan kota ini aku benar-benar tidak harus berpikir apa-apa lagi dan yang pasti tidak akan ada penyesalan.

Suatu hari, aku harus pergi ke kota tujuanku. Kotaku yang sekarang ini. Aku harus mengikuti suatu ujian. Aku berangkat dengan semangat. Semangat, siapa tahu aku ditakdirkan untuk menaklukkan kota itu.

Esok harinya aku telah kembali bersama hujan di kota asalku. Aku kembali lagi dengan harapan akan kembali. Perasaan itu masih ada. Aku masih merasakan getarannya yang sangat kuat. Aku harus pergi. Aku harus pergi. Sampai saatnya benar-benar tiba. Aku mendapatkan pekerjaan. Entah, tanpa pertanda tanpa firasat, perpisahan itu terjadi pula. Kutinggalkan kedua orang tuaku dan juga adikku yang beranjak dewasa. Semua itu terjadi begitu saja. Begitu saja.

***

Aku jalani hidupku yang sekarang ini. Aku masih menyimpan kerinduan untuk sekedar pulang menengok rumah sebentar. Apakah akan masih kutemui senyuman rindu Ibunda dan hangatnya tatapan Bapak, belum lagi tawa riang si Adik melihat Kakaknya pulang? Akankah semua itu menyambut pulangnya si anak ini?

Perlu kau tahu, aku menulis cerita ini sambil berurai air mata ditemani Barry Gibbs yang menyanyikan lagu I Started a Joke.

Aku masih menyimpan kerinduan itu. Dengan penghasilanku sekarang sebenarnya aku bisa pulang setiap minggu. Persis seperti cerita Bapak ketika bekerja dikota ini. Namun, entahlah aku hanya bisa pulang seminggu sekali. Rasanya lelah sekali dan setiap weekend hanya kuhabiskan untuk beristirahat saja.

Bilamana rasa rindu menyerang, ada beberapa hal yang aku lakukan. Aku sering pergi ke Stasiun Jatinegara dan berlama-lama disana setiap hari Jum'at. Aku merasakan sebuah perasaan yang dahsyat kala melihat orang-orang berlarian menghampiri Argo Gede. Mereka-mereka itulah yang masih punya kehidupan di Bandung, sama sepertiku. AKu melihat kerinduan dari mata mereka. Maka yang bisa kulakukan hanyalah melihat itu semua terjadi. Dengan itupun aku merasa lega. Aku titipkan kerinduan ini pada setiap rangkaian gerbong Argo Gede.

Kalaupun tak sempat, aku hanya berdiri saja sambil berpura-pura  menunggu bis di depan pool travel itu. Aku lihat mobil yang setiap jamnya berangkat. Aku lihat lagi wajah-wajah penuh rindu. Maka aku pun tenang setelahnya. Sama seperti tadi.

Aku masih akan berada disini untuk waktu yang tak tentu. Aku masih akan disini dulu. Ada yang masih harus kucari. Ada yang harus kuselesaikan. Disini.



8 Januari 2009

* Tulisan lama di Facebook, terbit ulang di blog ini dengan alasan dokumentasi.

Jumat, 22 Desember 2023

Cerita dari Pangandaran - Part 3 (habis)

Hari ini adalah pelepasan bagi 2 sahabat kami. Dua anak manusia yang cintanya dipertemukan oleh takdir. Apakah Tuhan sengaja membiarkan mereka mendapatkan takdirnya masing-masing? Bukan karena kebetulan semata?


Seorang dari kami tampak mengenakan busana warna putih dengan peci warna putih juga, berbalut kalungan bunga melati. Dialah sahabat kami itu yang mengundang kami dating ke pantai ini. Dari sorot matanya yang ada hanya ketenangan.Tidak terlihat adanya beban. Hari inilah yang akan jadi awal dari segalanya di fase hidupnya yang baru. Mengarungi samudera kehidupan rumah tangga yang Insya Allah berada dalam naunganNya. Insya Allah, satu kayuh berdua*).


Kami mengantarkan mereka hingga dihadapan penghulu. Do’a-do’a dan lantunan ayat suci selesai dibacakan. Tibalah saatnya mengucap ikrar yang taruhannya dunia akhirat. Rupanya ada yang terlewat. Dia mencobanya sekali lagi. Sah? Sah! Sah! Sah! Alhamdulillah.


Tangis haru mewarnai pagi yang belum terlalu panas itu. Kami menyaksikan dua sahabat kami mengikat janji mereka dalam sebuah ikatan pernikahan. Entah, apa yang terpikir di kepala kami? Apakah ada diantara kami ini yang sedang membayangkan rasanya seperti mereka berdua? Atau hanya berpikir: Setelah ini siapa lagi yah?


Tembang Rhoma Irama dari Grup Qasidahan menemani kami menyantap hidangan yang disuguhkan. Lalu berganti dengan grup Nasyid dimana sahabat kami juga ada disana ikut menyanyi. Ada yang harus segera berakhir. Kami naik panggung. Foto. Jeprat jepret. Pamit pulang.


Bukan liburan kalau langsung pulang. Masih juga sempat mampir di pantai barat menyeberang ke pasir putih. Yang tersisa hanya aku, Mamank, dan Herman. Kami bertiga hanya memandangi perahu yang semakin menjauh. Kami bisa lihat mereka semua selamat sampai tujuan.


Kami hanya melamun, membuat lubang, merokok, lalu berlalu untuk sholat. Selepas shalat di mushola yang panas itu, kami mendinginkan hati dan pikiran dengan kelapa muda. This is life!


Nggak belanja, bukan liburan! Sepertinya inilah yang ada di benak para pelancong perempuan ini. Karena terlalu lama, kami putuskan supaya orang Jakarta (orang besoknya kerja, di Jakarta lagi…) untuk berangka duluan. Aku disana ikut mereka.


Aku minta diantar ke terminal, just want to ask, Budiman ke Jakarta berangkat jam berapa, namun entah mengapa, aku memutuskan untuk terbang ke Bekasi. Ini adalah keputusan yang sulit. Aku meninggalkan teman-teman. Tapi, justru inilah inti dari perjalanan ini. AKu memilih naik Budiman Pangandaran-Bekasi.


Akhir sebuah perjalanan


Perjalanan ini sangat berarti untukku.  Perjalanan menempuh  kesendirian. Bukan sekedar perjalanan biasa. Perjalanan ini adalah untuk sebuah keinginan yang baru saat ini terpikirkan kembali. Kenapa harus selalu menunggu untuk memulai sebuah perjalanan? Kenapa tidak memulainya saja sendirian? Sendirian sampai tempat tujuan.


Perjalanan ini adalah suatu pertanda bahwa kadang dalam kehidupan banyak sekali variabelnya yang berubah-rubah. Hidup ini seperti rumus fisika atau kimia yang mengandung ketetapan didalamnya walau variabelnya berubah atau diganti. Perjalanan mengajarkanku untuk meraih tujuan dengan caraku sendiri. Dan betapa kadang dalam perjalanan juga semuanya bisa berubah walau masih dengan tujuan yang sama.



*) sebuah judul lagu dari Kla Project


Pegangsaan Dua, 22 December 2008, 15.54 

Tulisan ini berasal dari Notes di Facebook, diedit kembali tanggal 22 Desember 2023 untuk terbit di blog ini.

Cerita dari Pangandaran - Part 2



Sore di Pangandaran adalah sisa-sisa kerinduan. Dibawah langit yang mendung dan jalanan basah. Para wisatawan segera bersiap menyambut datangnya malam. Malam belum menjelang. Senja pun belum turun. Betapa bahagianya kami dapat berjumpa kembali sahabat seperjuangan dengan plat D. Tak lama setelah melepas rindu dan laporan sama yang punya hajat, kami segera menjelajah pantai.


Senja mulai turun dan gelap. Angin semakin kencang. Kami masih di pantai. Bermain-main dengan ombak yang saling berkejaran. Blitz dari kamera digital yang bagai petir itu menandai kami yang rada-rada narsis ini. Hujan kembali turun. Hujan mengusir kami kembali ke madrasah.


Selepas waktu Isya, rasanya perut ini mulai berteriak minta diisi. Betul saja, cacing-cacingnya sudah minta makan. Mereka teriak ingin makan seafood atau sekedar ikan baker. Tak hanya itu saja, mereka juga berteriak ingin makan di restoran yang ada TV-nya supaya mereka (lagi-lagi) bisa berteriak mendukung Firman Utina Cs yang sedang menjaga skor tetap 1-0.


Selama babak kedua itulah waktu makan kami. Indonesia kalah 2-1. Perut kenyang. Udang terkulai. Kerapu terbakar. Asap rokok mengepul. Heuaay. Pulang. Cari duren. Duren menyapa dihadapan kami. Sengaja kami menghadap pantai timur dalam gelap yang semakin pekat. Kacang rebus dan kamera masih jadi teman kami.


Tak lama, tiga orang sahabat menyusul kami. Semakin lengkap rasanya malam minggu ini. Sahabat, kopi hitam, kopi susu, kacang rebus, dan sepenggal kisah.


Ada kejadian yang membosankan ketika harus menemukan penginapan tempat para perempuan akan menginap. Sudah 3 kali keliling tapi tetap hasilnya 0 besar. Untung, Tuhan masih menitipkan tanda-tanda kekuasaanNya hingga kami pun tahu harus menuju kemana.


Kami, para lelaki, tiba di penginapan dan langsung membuka apapun yang kami bawa. Buka baju. Buka celana. Buka mulut (nguap tandanya ngantuk). Buka tas. Buka seleting (mau pipis…). Buka minum. Buka laptop nonton bokep (yeahhh..) Buka mata sampai jam 2 pagi. Sayangnya, DJ_arot sudah terkulai duluan. Perlahan disusul Christ, Mamank, Angga and Kubil.


Malam yang semakin dingin dan sedikit gerimis menutup cerita malam itu.

 

Pegangsaan Dua, 22 Desember 2008

Tulisan ini berasal dari Notes di Facebook, diedit kembali tanggal 22 Desember 2023 untuk terbit di blog ini.


Cerita dari Pangandaran - Part 1

Perjalanan malam hari ini diawali hampir dengan sebuah kesalahan. Sebuah kesalahan yang akan merusak irama perjalanan. 3 jam lamanya menunggu busway sampai Kampung Rambutan hampir saja berakhir ditangan Perkasa Jaya. Dibutuhkan sedikit keberanian dan kenekatan untuk melakukan perjalanan ini. Akhirnya, Budiman: Banjar –Jakarta Executive.

****

Menyusuri pagi hari sepanjang Banjar-Pangandaran adalah kehilangan. Kabut sepanjang perjalanan hanyalah teman. Hamparan sawah yang masih menghijau adalah kerinduan. Aku lihat kembali kehidupan yang biasa. Anak-anak pergi sekolah berjalan kaki. Petani ke sawah dengan sepeda tuanya. Para Pedagang pasar membawa dagangannya ke dalam bis.

Aku bisa menyaksikan itu semua setelah tertidur sejauh 30 km. Hujan yang turun di pagi itu membawa suasana basah dalam resah. Titik-titik hujan yang menempa kaca depan bus menghujam bagai perasaan di minggu sore. Perjalanan masih jauh. Aku coba untuk tertidur kembali namun aku tak bisa. Aku hanya bisa memandang keluar dengan sebuah harapan.

Aku tiba di Terminal Pangandaran tepat setengah tujuh pagi. Aku melihat lagi kehidupan yang biasa. Hujan gerimis belum mau reda. Bau basah pasir pantai mulai tercium. Ombak semakin kencang. Aku bisa dengar dari hembusannya. Hujan gerimis semakin besar. Pantai masih sepi. Barangkali, nanti siang aku akan kesana.

Ima menyambutku, begitu juga keluarganya. Aku memutuskan untuk tidak berangkat bersama teman-teman dari Jatinangor. Aku tiba disana bersama kakaknya yang menjemputku. Tiba-tiba aja aku bercerita banyak sekali pada Ima. Tentang pekerjaan (I hate to told it on the holiday), rezeki, cerita teman-teman., dan lain sebagainya. Aku bercerita dalam hujan yang semakin deras. Untungnya, Ima masih mau mengobrol denganku.

Siang ini, setelah tertidur lagi 2 jam, aku ingin ke Pantai. Sendirian saja. Ketika gerimis masih enggan untuk pergi aku kesana, Menyusuri sepanjang pantai barat sampai seorang kawan menelpon.

Siang pun segera membawa matahari dan membuka awan mendung. Langit tampak berawan. Kami berdua menyusuri pantai timur sampai akhirnya berhenti disebuah warung baso di Pasar dekat Terminal. Sesudahnya kami berdua masih saja berputar-putar di Pangandaran yang Cuma segitu-segitu saja. Sampai akhirnya kawan-kawan dari Bandung akan segera tiba.

**** end of part.1

 

Pegangsaan Dua, 22 Desember 2008

Tulisan ini berasal dari Notes di Facebook, diedit kembali tanggal 22 Desember 2023 untuk terbit di blog ini.


Minggu, 27 November 2022

Nakamichi TWS1XS: A Review


Finally, pencarian saya untuk sebuah earphone TWS (true wireless stereo) berakhir pada Nakamichi TWS1XS. Padahal, ada banyak pilihan yang sudah masuk dalam keranjang belanja di marketplace Toko Ijo. Pilihan lainnya adalah beberapa seri dari Lenovo Thinkplus yang berada dalam range harga under 200ribuan.

Pengalaman sebelumnya dengan TWS KW berlabel JBL cukup membuat saya berhati-hati dalam spending budget, apalagi ini menyangkut soal kenyamanan telinga. Percayalah, produk KW dari sebuah brand besar tidak akan memberikan hasil yang memuaskan. Kecuali, memang anda para pembaca yang budiman sengaja memilih produk KW tersebut agar tetap dilihat keren dan tidak ketinggalan zaman.

Saya juga pernah mencoba TWS dari brand lainnya yaitu Mi Fa, harganya diatas 200 ribu, tentu saja membuat saya urung membelinya walau kualitas suara yang dihasilkan sudah bagus untuk sekedar meeting di luar ruangan.

Pilihan jatuh ke Nakamichi karena ini adalah known brand untuk high-end audio di bidang otomotif. Saya jadi ingat waktu ganti head unit audio mobil, Sang Juragan Toko menawarkan head unit single din Nakamichi dengan harga yang reasonable, tidak sampai satu juta rupiah! Katanya, Nakamichi sedang reposisi market sehingga banyak pilihan harganya. Entah, mungkin karena hal itu pula Nakamichi menghadirkan banyak juga pilihan untuk TWS pada rentang harga di bawah 200 ribu.

Secara build quality, TWS1XS lumayan mewah, berbentuk bulat dengan ornamen transparan di bagian tutup flipnya. TWS ini dibekali baterai 200 mAh, dengan kekuatan 3.7 V, 0.74 Wh. Baterainya kuat dipakai lebih dari dua jam. Pastinya berapa? Belum saya coba karena saya belum menggunakan TWS1XS selama tiga jam lebih.

Saya sudah coba earphone ini  untuk menemani sepedaan selama 1 jam 20 menit dan tidak ada masalah berarti dalam penggunaannya, walau yang dipakai hanya yang sebelah kiri. Saya tetap harus waspada dalam berlalu lintas. Untuk dipakai online meeting, earphone ini masih bagus. Memang tidak terlalu kedap karena belum dibekali fitur pengedap suara dari luar. Tidak seperti saudaranya, TW110NC yang punya banyak fitur. Harganya pun tentu saja berbeda.

Yang paling berkesan dari earphone ini adalah suara yang dihasilkannya ketika menonton high quality video di Youtube atau mendengarkan high quality audio di Spotify. Suara bassnya bagus dan seimbang dengan treble yang dihasilkan. Pengalaman mendengarkan musik dengan TWS1XS menjadi lebih menyenangkan! Pun, ketika digunakan untuk mendengarkan pelajaran bahasa di Duolingo.

Akhirul kalam, saya tidak akan bercerita banyak lagi. Sila berselancar di Youtube untuk detail dan review-review lainnya. I would recommend this TWS earphone to you who love quality at a low price.
 

Cipayung, 27 November 2022.

Minggu, 31 Juli 2022

Surat untuk Aisyah

Aisyah,

Segala puji Bapak dan Ibu panjatkan pada Allah SWT karena pada bulan Juli ini engkau genap berusia lima tahun. Usia yang sudah bukan anak kecil lagi. Aisyah sekarang naik ke Kelas B. Tidak hanya itu saja, bulan ini juga Kakakmu, Alde, mulai sekolah SD. Betapa saat ini sejak Ais dan Alde mulai sekolah, WFH Bapak mulai terasa agak sepi saat pagi hingga siang.

Begitulah Aisyah, rasanya semuanya terjadi begitu saja. Waktu yang terlalui sudah jadi kenangan. Hari-hari di depan adalah tantangan.

Aisyah,

Semoga engkau selalu sehat, Nak. Bermainlah sepuasnya di sekolah. Puaskan dahaga ingin tahumu. Ada Ibu Guru yang siap membantumu di sekolah. Jadilah matahari kami, jadilah sinar pagi pembawa cahaya dari timur. 

 

Cipayung, 2 Juli 2022

Surat untuk Aldebaran

Aldebaran,

Akhirnya, sampai juga waktu Bapak untuk melihatmu masuk Sekolah Dasar setelah Akhirussanah TK yang sempat membuat air mata ini kembali mengalir. Akhirnya, Bapak dapat merasakan hal yang mungkin dirasakan oleh Akung dahulu. Semua perasaan bercampur menjadi satu. Ada rasa haru, ada rasa bahagia, dan ada juga banyak kekhawatiran. Untuk yang terakhir ini, sering Bapak titipkan pada Allah saja. Mudah-mudahan, Ia mau membantu Bapak memanage segala macam rasa khawatir ini.

Bapak dan Ibu tentunya berharap Alde akan cepat beradaptasi dengan segala kegiatan di masa SD ini yang kami rasa sangat tidak mudah. Alde sudah mengalami masa sekolah di zaman pandemi, kemudian mulai tatap muka kembali-dengan segala pembatasan. Tiba-tiba, Alde harus menjalani sekolah hari penuh. Alde harus bangun pagi dan segera bersiap pergi ke sekolah, lalu pulang sebelum adzan Ashar berkumandang. 

Ah, rasanya tidak adil bila membandingkan sekolah SD zaman Bapak dan Ibu dulu. Entah bagaimana Bapak harus menjelaskan padamu soal konsep merdeka belajar dari Pak Menteri yang sekarang ini. Pun, ketika Bapak menyadari bahwa buku-buku pelajaran sekolahmu ukurannya lebih besar dari zaman kami dulu. Semoga engkau memiliki tubuh dan badan yang kuat untuk menjalani hari-harimu nanti.

Aldebaran,

Selamat menjalani hari-hari ke depan, Nak. Bapak dan Ibu selalu mendoakan engkau dan adikmu agar kelak dapat mengamalkan setiap ilmu dan pelajaran yang telah didapat. Kiranya, Allah SWT membantu, memudahkan, dan mencurahkan berkah-Nya. Jadilah anak yang kuat dan berani. Menirukan Iwan Fals, "..tinjulah congkaknya dunia, Buah Hatiku. Doa kami di nadimu...".

 

Cipayung, 22 Juli 2022

Selasa, 30 November 2021

6 Tahun

 Aldebaran sayang,

Genap enam tahun usiamu kini. Engkau semakin beranjak dari masa kanak-kanak. Rasanya, Bapak terlalu lambat untuk menyadarinya. Sebentar lagi umurmu tujuh tahun. Sudah boleh 'dipukul' untuk mengingatkan sholat wajib.

Tapi ah, rasanya Bapakmu tidak tega kalau bukan karena kewajiban. Cita-cita kami ingin seperti Nabi Ibrahim dan Ismail putranya. Bapak sadar, Bapak bukan Nabi yang bisa sempurna. Mungkin ada banyak cara yang lain supaya Alde tetap patuh pada kewajiban.

Hari-hari ini Alde sudah semakin banyak ingin tahu. Entah itu lokasi negara, bahasanya, makanannya, dan segala yang ingin kau tahu. Teruskanlah Nak, semoga rasa ingin tahumu kelak membawamu pada sesuatu yang berarti untuk hidupmu.

Aldebaran,

Bapak harap kita bisa jadi teman. Teman main atau pun teman ngobrol. Engkau semakin tumbuh, dan dahagamu harus bisa Bapak penuhi. Engkau lelaki kelak sendiri, kata Iwan Fals.

Sehat selalu dan panjang umur, Nak. Peluk hangat dari ujung malam nan sunyi.



Cipayung, 6 November 2021

Rabu, 17 November 2021

Rumah Mice, Rumah Kita Juga!

Sumber gambar: Mice Cartoon Official Facebook

Menyenangkan sekali rasanya dapat membaca kembali komik dari Mice. Terlepas dari judul ataupun subjeknya. Komik yang habis dibaca sekali duduk ini menampilkan sisi lain dari komik Mice lainnya yang saya punya dan pernah baca sebelumnya. Dalam posisi saya yang kini sama seperti Mice-berkeluarga K2, membaca komik ini memberikan perasaan "heartwarming". Adalah keseharian keluarga yang tentunya kebanyakan sudah kami rasakan di rumah kami yang mungil (dan tepat di Tangsel juga :)))) ).

Segala macam perasaan bercampur aduk kala Mice menyuguhkan komik strip dengan kejadian yang pernah saya alami. Sangat dekat rasanya, sehingga saya sering teringat kembali pada perasaan kala mengalah untuk menuruti keinginan putri kecil saya. Kadang, kalau diingat kembali jadi sering membuat saya nyengir sendiri.

Anyway, sebelum dibukukan komik ini tadinya pernah rutin terbit untuk Ciayo Comics. Alangkah tertinggalnya saya karena saya hampir kehilangan jejak karya dari Mice Misrad sebelum menemukan komik ini. 

Dilabeli Parenthood dan Semua Umur, tidak salah bila komik ini ditujukan untuk seluruh anggota keluarga. Plus, anak-anak pun dapat membaca komik ini karena tidak ada konten berbahaya atau explicit content (macam sampul album Slipknot dkk :D). Sedikit catatan, ada hal yang dapat jadi pertimbangan tentang bagaimana cara Mice Misrad menyikapi anak-anaknya dalam menggunakan Youtube. Kita memang tidak bisa menghindarinya, tetapi kita sebagai orang tua dapat mengaturnya.

Saya setuju bila Mice Misrad kembali membuat komik lanjutan dari volume 1 ini. Ataupun, menerbitkan komik baru dengan tema yang sama. Sometimes, we need a heartwarming stories to keep our heart warm.

 

Judul           : Rumah Mice: Home is Where Our Story Begins Vol. 1
Penulis        : Muhammad 'Mice' Misrad
Penerbit       : m&c
Tahun          : 2019
Tebal           : 80 hal.
Genre          : Komik-Keluarga

CGK, 17 November 2021.

Sabtu, 31 Juli 2021

Surat untuk Ais

Aisyah sayangku,

Awal bulan ini engkau genap berumur 4 tahun. Usia yang sudah cukup bagi Bapak dan Ibu untuk mendaftarkanmu sekolah Taman Kanak-Kanak (TK). Mudah-mudahan,pilihan ini adalah satu dari sekian juta pilihan kami sebagai ikhtiar. Sungguh keadaan pandemi ini membuat kami kesulitan untuk memasukkanmu ke sekolah TPA atau Pengajian, agar minimal engkau bisa a-ba-ta-tsa terlebih dahulu. Namun, kami tetap yakin, engkau akan mampu melaluinya di setiap pelajaran TK-mu nantinya.

Tidak hanya itu saja, di bulan ini juga Bapak bertambah bahagia karena Masmu sudah mampu untuk bersepeda roda dua. Tak lama setelah roda bantunya dilepas, ia segera melesat berkeliling-dan jatuh. Bapak senang sekali melihat semangatnya, walau memang harga yang harus dibayar lumayan besar. Baret-baret di motor dan mobil sudah tentu harus jadi resiko yang paling utama. Tapi tak apa lah, asal bukan hatinya saja yang baret, hehehe.

Aisyah,

Bapak merasa sedikit lega setelah mendapatkan sepeda pink yang selalu kau idamkan. Walaupun tidak benar-benar baru, Bapak harap kau pun juga sama senangnya. Kami sangat bahagia melihatmu bermain sepeda bersama. Kami pun juga dulu begitu. Selalu senang bersepeda dengan teman-teman. Semoga kesenangan ini bisa terus bertahan lama.

Aisyah,

Entah, atau hanya ge-er saja, Bapak pelan-pelan sedikit paham mengapa Akung punya perlakuan yang berbeda kepad aunty-mu, ya adik Bapakmu ini. Mungkin ini cuma ge-er saja tapi kalaupun benar ya sudah tidak apa-apa karena memang kau dan Masmu ini punya kebiasaan yang berbeda.

Puji syukur, ulang tahunmu ini kini tidak kami rayakan dengan memotong kue. Kami hanya bisa menuruti keinginanmu untuk punya sepatu baru untuk sekolah. Alhamdulillah, masih ada rejeki kami untuk menyiapkan segala keperluan sekolahmu.

Nak, terakhir, Bapak pesan semoga engkau tidak lelah menuntut ilmu. Zamanmu nanti kelak berbeda tantangannya dengan zaman Bapak. Tetap kuat dan tabah.

Peluk sayang,

 

Cipayung, 2 Juli 2021.

Minggu, 03 Januari 2021

Goodbye, Endomondo!

Ini adalah catatan singkat saya untuk Endomondo. Lebih tepatnya mungkin jadi sebuah kesan dari pengguna.

Bila harus menulis soal Endomondo, berarti saya harus menembus jala memori kembali ke tahun 2013-an. Saya tidak tahu kapan detailnya, namun saya menggunakan aplikasi olahraga ini sejak menggunakan Blackberry. Sebagai pelari pemula saat itu, saya menginstall aplikasi ini karena Teh Ninit Yunita yang saya follow akun Twitternya. Lumayan, sebagai pencatat hasil lari keliling yang selalu berakhir di Warung Nasi Uduk.

 


Saya cenderung menikmati Endomondo berdampingan dengan aplikasi Nike Running. Walaupun, Nike Running tetap menjadi yang utama. Endomondo hanya sebagai pendukung cadangan untuk menyamakan data saja. Ada beberapa momen dimana Endomondo membuat saya kecewa. Mungkin karena saya sempat berganti-ganti device sehingga akurasinya bermasalah.

Saya agak kaget ketika membuka aplikasi ini beberapa bulan yang lalu dengan sebuah notifikasi bahwa Endomondo akan menghentikan layanannya di tanggal 31 Desember 2020. What?!!! Sekecewa apapun dengan Endomondo namun bila perpisahan itu tiba tetap saja jadi sebuah kenyataan yang tidak menyenangkan.

Endomondo cukup membuat nyaman dengan beberapa fitur seperti personal best dan records. Endomondo mencatat beberapa kemajuan yang cukup menyemangati saya. Saya masih ingat rasa senang dan bahagianya ketika mendapatkan badge Personal Best untuk lari sejauh 1 mil. Saya tidak menyangkan bahwa aplikasi ini menghitung hingga sedetail ini. Sesuatu yang belum saya rasakan di aplikasi lanjutannya: MapMyRun.

Anyway, everything must come to an end. Perubahan itu niscaya adanya. Adios, Endomondo. Please be nice, MapMyRun.


Cipayung, 3 Januari 2021


Kamis, 31 Desember 2020

Surat Akhir Tahun

Assalammualaikum, Bapak.

Entah dimana Bapak berada saat ini. Kami selalu berharap bahwa Bapak berada dalam lindungan Allah SWT. Apakah Bapak sudah bertemu dengan para sesepuh kita? Apakah Bapak diberi tahu Eyang Kung, kalau saya bulan September tahun lalu mengunjunginya ke Jombang? Terlalu banyak yang saya ingin tanyakan, Pak. Namun, rasanya itu semua itu tidak mungkin. Biar hari-hari penuh rindu ini hanya saya rasakan begini saja. Boleh lah Bapak mampir dalam mimpi barang sejenak. Biar saya merasakan kehadiran Bapak, walau hanya sementara saja.

Pak,

Alde sudah 5 tahun dan sudah disunat. Cucu pertama Bapak itu sekarang juga sudah jadi murid TK. Dulu, Bapak selalu berharap kesampaian untuk mengantar jagoan kami itu untuk sekolah TK. Namun, kenyataan kadang tidak seperti pesanan kita di restoran. Selalu datang sesuai pesanan. Allah punya rencana lain. 

Saya tidak tahu harus bagaimana dalam menghadapi persoalan sunatan kemarin. Saya rasa, Mas belum waktunya disunat, namun gatalnya sudah mulai mengganggu. Saya mau istikharah tapi waktunya semakin dekat dengan liburan. Jadi, ya sudah saya putuskan untuk disunat saja tanggal 13 kemarin. Saya akhirnya lega karena Mas sudah menghadapi momen 'sakral' itu. Momen yang saya dulu tidak bisa hadapi di umur yang baru 5 tahun.

Pak,

Belum usai dengan Corona, dunia hari ini rasanya semakin dijauhkan dari Tuhan. Saya tidak tahu bagaimana Bapak dan sesepuh disana melihat tingkah laku kami disini. Tidak ada yang bisa kami percaya benar selain Allah SWT dan Rasul-Nya.

Kami mohon maaf, Pak. Kami belum sempat naik bukit Sariwangi untuk menengok Bapak. Hati saya tidak enak betul menjelang akhir tahun ini. Mungkin bawaan tahun sebelumnya dimana hujan yang tak kunjung reda membawa petaka bagi sebagian kami. 

Al-Fatihah, untuk Bapak.

Wassalam.

Cipayung, 30 Desember 2020

Sunatan

Nak,
 
Baru genap 5 tahun umurmu, namun Bapak harus berani mengambil sebuah keputusan besar. Ya, apalagi kalau bukan sunatan atau khitanan. Sebuah momen 'sakral' untuk anak laki-lak. Bapak harap keputusan kali ini adalah yang terbaik.
 
Ingatan Bapak melayang pada suatu waktu dimana Bapak sempat menjadi Panitia Sunatan Massal. Waktu itu Bapak bertugas sebagai penjaga kaki anak-anak yang akan disunat. Maksudnya, Bapak menjadi orang yang memegang kaki anak-anak itu bila mereka meronta kesakitan. Lumayan, bapak harus menghadapi 30-an anak dengan segala macam kondisinya. Sampai Bapak tak mampu makan sate barang seminggu.

Bapak sanggup melihat bagaimana anak-anak itu disunat. Namun, hati Bapak rasanya sama teriris saat melihatmu disunat. Bapak tidak sekuat itu, Nak. Kamu harus lebih kuat dari Bapak, kelak.

Teknologi persunatan rupanya sudah mengalami banyak kemajuan. Bila waktu itu, dengan sunat metode laser anak-anak bisa bermain kembali dalam waktu sekitar 3 hari, kini dengan metode klem, kamu bisa jalan tenang mondar-mandir setelah sunat. Mungkin, baru mulai merasa sakit ketika efek obat penghilang nyeri hilang. Kami dulu lebih payah, walau hanya untuk sekedar berjalan ke kamar mandi.

Nak,

Sungguh Bapak akui keberanianmu. Untuk anak lima tahunan, kamu sudah terlatih menghadapi rasa sakit. Bapak salut karena Bapak pun tidak seberani itu dulu tahun 1996. Sayangnya, Akung dan Uti tidak sedang bersama kita disini. Mendampingimu di momen sakralnya anak laki-laki.

Bagaimanapun itu, tentu Bapak dan Ibu berharap kebaikan selalu bersamamu. Hari ini, esok, dan seterusnya. Jadilah matahari kami yang paling bersinar!


Cipayung, 13 Desember 2020.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...