Tampilkan postingan dengan label transportasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label transportasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Januari 2017

Melihat Indonesia dari Sepeda

Courtesy: www.goodreads.com

Saya mungkin satu dari sekian pembaca yang merasa bakal mendapatkan satu pemandangan Indonesia yang indah dari sebuah sepeda. Tentang bagaimana sendi-sendi kehidupan nusantara terjalin mesra di daerah-daerah, misalnya. Saya tidak mendapatkan pemandangan yang demikian, meski saya tidak memungkiri tulisan terakhir dalam buku ini yang bercerita soal pengalaman personal bersepeda Surabaya-Jakarta dalam rangka perayaan 45 Tahun Kompas.

Menarik sekali untuk membuat beberapa hipotesa dadakan mengenai boomingnya sepeda di kota-kota besar tempat bermukimnya para kelas menengah. Entah itu sebagai imbas yang kekinian atau kontekstual atau malah hanya sebagai mode yang sementara saja. Untuk tujuan idealis, hanya segelintir saja pelakunya yang betul-betul konsekuen dengan apa yang telah diawalinya.

Sejarah sepeda di Indonesia ini jejaknya masih samar. Awal mula kedatangannya hingga siapa importer pertamanya saja belum dapat ditelusuri. Namun, sebagai sebuah produk budaya kedatangan sepeda di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sisi historis pendudukan Belanda. Kabar baiknya, evolusi sepeda di Indonesia dan sejarah awalnya disajikan dalam buku ini.

Ada anggapan bahwa dari judulnya buku ini harus menampilkan perspektif tentang Indonesia, dalam arti sempit maupun arti yang luas. Saya sendiri cenderung menempatkan buku ini dalam konteks yang lebih kekinian. Sesuai zaman yang dipotretnya. Saya perkirakan pada sekitar tahun 2005 hingga medio 2010-an. Walaupun, hanya berupa kumpulan beberapa tulisan yang pernah naik cetak harian Kompas. Buku ini sendiri bervariasi, menampilkan artikel mengenai sejarah sepeda hingga perkembangan teknologi. Dari mulai sekedar kendaraan priyayi hingga menjadi pujaan para kolektor.

Ekspektasi saya terpenuhi dengan buku ini. Setidaknya, ada beberapa pustaka referensi dalam penyusunannya. Perpaduan antara artikel dan memoar perjalanan didalamnya membuat buku ini menjadi semakin enak dibaca sambil bersantai. Tetapi, yang jelas, buku ini berhasil menjadi ‘racun’ untuk saya karena saya pun akhirnya menginginkan sebuah sepeda onthel.

Judul            : Jelajah Sepeda Kompas: Melihat Indonesia dari Sepeda
Penulis         : Ahmad Arif
Penerbit       : Penerbit Buku Kompas
Tahun           : 2010
Tebal            : 196 hal.
Genre           : Sosial-Budaya


Cipayung, 25 Januari 2017.

Jumat, 04 Maret 2016

A380 on a Photobook

"People love the A380 as passengers. But airlines don't."
– Airbus Chief Executive, Fabrice Bregier




Airbus A380 setidaknya sampai hari ini masih memegang predikat sebagai pesawat terbesar di dunia. Namun, tidak banyak orang yang tahu bagaimana dibalik proses pembuatan pesawat ini. Ide untuk membuat pesawat dengan dua dek penumpang ini sudah muncul di tahun 90-an. Ketika itu, Airbus telah membuat gambar imaji (artist impression) tentang pesawat impiannya ini dengan label A3XX dan dimuat dalam beberapa majalah penerbangan.

Prototipe pertama A380 diberi tanda registrasi F-WWOW. Pada satu judul majalah penerbangan di Indonesia, peristiwa first flight A380 pada 18 January 2005 diberi judul "Il vole..". Buku ini mengajak pembaca untuk menyelami lebih dalam bagaimana usaha Airbus dalam mewujudkan impian mereka. Airbus A380 sendiri menggunakan berbagai fasilitas Airbus yang ada di beberapa negara Eropa, diantaranya Prancis, Jerman, Inggris, dan Spanyol.

Erik Orsenna dan beberapa rekan fotografernya mengajak kita melihat bagaimana Airbus membangun hangar-hangar besar untuk fasilitas produksi A380, hingga bagaimana para engineer memasang ratusan kilometer kabel yang ditanam dalam A380. Foto-foto itu disusun dengan sekuen berurutan dari pembangunan fasilitas produksi hingga first flight A380 pada 18 January 2005. Kualitas foto yang memang baik dipadukan dengan teknologi cetak premium sehingga momoen bersejarah dalam khazanah penerbangan dunia dapat diabadikan dengan layak. Sayangnya, buku ini hanya terbit dalam bahasa aslinya, bahasa Prancis. 

Judul     : A380
Penulis  : Erik Orsenna, et.al
Penerbit : Fayard
Tahun    : 2007
Tebal     : 191 hal.
Genre    : Penerbangan-Photobook


Medan Merdeka Barat, 3 Maret 2016.

Sabtu, 22 Agustus 2015

Transportasi (berbasis) Digital

Sudah kurang lebih sebulan ini saya menjadi pengguna jasa transportasi taksi dan ojek digital. Maksudnya, Uber Taxi dan Gojek yang sedang jadi trending topic saat ini. Kehadiran layanan transportasi semacam ini tidak bisa dihindari lagi. Perkembangan teknologi yang membuat dunia semakin dalam genggaman akhirnya dan kebutuhan transportasi memadukan keduanya.



Kemunculan layanan tersebut adalah imbas dari mobilitas masyarakat Jakarta yang menbutuhkan kecepatan dan ketepatan waktu. Sementara, layanan transportasi massal yang tersedia masih belum dapat diandalkan. 

Pro dan Kontra

Kehadiran layanan semacam itu kini menghadirkan bermacam silang pendapat. Satu sisi, memenuhi kebutuhan angkutan masyarakat dengan cara yang praktis dan harga terjangkau. Namun, dari sisi lain, aspek legal dan keselamatan menjadi isu tersendiri yang harus dihadapi penyedia jasa.

Usaha Pemerintah untuk menertibkan praktek bisnis semacam ini bisa dibilang hanya sebatas 'mengharamkan', dengan menggunakan istilah angkutan liar. Lalu, bagaimana dengan angkutan omprengan yang bisa banyak dijumpai di beberapa daerah di pusat kota Jakarta? Apa karena dilindungi oknum tertentu lantas menjadi legal beroperasi? Toh, kalau kecelakaan sama-sama tidak mendapat jaminan asuransi dari Jasa Raharja walau sama-sama bayar ongkos.

Saya rasa tidak adil bila harus demikian. Semua pihak punya kesempatan yang sama untuk berusaha. Apalagi, dengan tingkat kemacetan dan kecepatan rata-rata per jam yang semakin lambat, membuat manusia Jakarta harus lebih pandai mensiasati kebutuhannya. Termasuk urusan memilih moda transportasi.

Ekonomi Kerakyatan, Seperti Apa?

Bila memang Pemerintah masih menggemborkan istilah 'Ekonomi Kerakyatan", seharusnya Pemerintah memberi kesempatan yang sama pada pengusaha transportasi digital. Toh, metode yang digunakan masih konvensional, namun lebih rapi dn sistematis dengan adanya bantuan dari aplikasi.

Dari sisi rakyat sebagai pengguna layanan, sudah menjadi hal yang wajar bila masyarakat lebih memilih menggunakan jasa transportasi yang terjangkau dan praktis. Sementara di sisi lain, para pengusaha juga bermaksud untuk memajukan ekonomi masyarakat dengan ikut bergabung dan mendapat berbagai keuntungan. Pendapatan lebih, misalnya. Realita yang berkembang justru kebalikannya. Terjadi penolakan di beberapa daerah karena Gojek dianggap merusak pasar ojek pangkalan.

Saya sendiri menjadi pengguna bukan karena sekedar ikutan tren tetapi memang karena butuh. Bayangkan, saya bisa menghemat ongkos untuk berkunjung ke Ciledug, yang bila menggunakan taksi biasa biayanya tak kurang dari Rp. 100.000,- . Sementara, dengan Uber saya hanya membayar Rp. 11.000,- karena memakai kode promosi, dari tarif asli Rp. 86.000,-. Sama halnya dengan Gojek, dari Jl. Dharmawangsa X menuju Lebak Bulus, ojek pangkalan meminta tarif Rp. 30.000,- sedangkan dengan Gojek hanya setengahnya.

Kalaupun, ada hal yang perlu dikritisi adalah soal keamanan pembayaran dimana Uber mensyaratkan penggunaan kartu kredit sebagai metode pembayaran. Untuk hal ini, saya rasa Uber perlu meningkatkan fitur keamanan transaksinya. Lainnya, adalah soal edukasi mengenai safety riding bagi pengemudi kendaraan roda dua.

Saya tentu berharap bahwa adanya moda transportasi konvensional namun sistematis seperti ini tidak lantas menjadikan angkutan semacam ini sebagai 'angkutan liar'. Persoalan penolakan dan pelarangan operasi Gojek seharusnya mendapatkan perhatian khusus karena pembatasan semacam ini justru tidak menghasilkan apa-apa.

Berlabel buatan anak bangsa, alangkah baiknya apabila pengusaha bisa merangkul lebih banyak pengemudi untuk sama-sama menghasilkan keuntungan dan mewujudkan transportasi murah untuk masyarakat.



Dharmawangsa, 22 Agustus 2015.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...