Tampilkan postingan dengan label konser. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label konser. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 April 2015

Angels: Live in Berlin

When I'm feeling weak
And my pain walks down a one way street
I look above
And I know I'll always be blessed with love



Satu yang tidak bisa lepas dari Robbie Williams adalah penampilan panggungnya. Sejak penampilannya di MTV Live 2002 dimana ia membawakan hits “Feel”, saya selalu menikmati konser mantan personil boyband Take That ini. Live in Berlin membuktikan bahwa Robbie Williams is a true performer! Robbie tidak hanya menyanyi, ia juga mampu menguasai panggung dengan tariannya. Pun, pesonanya mampu membius penonton untuk ikut larut bernyanyi bersama.

Satu hal yang membuat saya yakin bahwa Live in Berlin jadi satu dari sekian konser terbaik Robbie Williams adalah nyanyian reff “Angels” dari penonton pada menu pembuka DVD. Tidak terdengar suara Robbie Williams. Hanya ada suara koor dari penonton yang memadati Velodrome, Berlin.

“Angels” ditulis oleh Robbie Williams dan Guy Chambers hanya dalam 30 menit saja. Lagu ini dirilis Desember 1997. Lagu ini juga sempat direcycle oleh beberapa penyanyi, diantaranya adalah Jessica Simpson, Beverley Knight, Moon Dust, dan David Archuleta. Di Italia, “Angels” menjelma sebagai “Un Angelo” dinyanyikan oleh Patrizio Buanne. Popularitas “Angels” terbukti dengan dua kali Platinum dan rekor penjualan sebanyak dua juta kopi di seluruh dunia.



Pada Oktober 2006, sebuah tayangan documenter RTE ‘This Note’s For You’ yang dipandu oleh Tom Dunne, mengatakan bahwa lagu “Angels” aslinya merupakan karya Robbie Williams dan penyanyi Irlandia, Ray Heffernan. Setelah lagu ini mengalami beberapa perubahan dari Guy Chambers, Ray Heffernan menerima tawaran untuk pembelian hak cipta sebesar 7.500 GBP.

“Angels” adalah single keempat dari debut album Robbie Williams, ‘Life Thru a Lens’. Lagu ini adalah penyelamat karir solo Robbie Williams dan selalu dibawakan dalam setiap konsernya.

Pada Brit Awards 2005, “Angels” dipilih publik Britania Raya sebagai ‘The Best Song in the Past Twenty-fve Years of British Music’, walaupun lagu ini hanya berada di nomor 4 chart. Disitu juga, Robbie Williams berduet dengan Joss Stone. Dalam satu survei dari stasiun televisi digital, Music Choice, lagu ini jadi lagu favorit pemirsa untuk lagu pemakaman mereka.

“Angels” dirilis tahun 1999 di Amerika Serikat, setelah debut single “Millennium”. “Angels” benar-benar membuat Robbie Williams melambung tinggi. “Angels” masuk kembali ke chart ARIA Top 100 di posisi ke 91 pada 5 Mei 2008. Juga, berdasarkan polling yang digelar Performing Right Society, “Angels” dipilih sebagai lagu karaoke paling popular.


Medan Merdeka Barat, 15 April 2015

Kamis, 20 Februari 2014

Irreplaceable Part 2: Aku, Kamu, dan Valentine.



Bandung selalu punya tempat tersendiri di hati Yovie Widianto. Bisa dibilang, Bandung adalah batu pijakan pertamanya sebelum tampil konsisten berkarya mewarnai dunia musik Indonesia. Alangkah bahagianya, Yovie dapat kembali ke Bandung dan memainkan komposisi terbaiknya bersama para sahabat. "Merupakan kehormatan dan kebahagiaan bagi saya untuk berada disini. Apalagi saya asli Bandung," katanya. Masih serupa dengan konser Irreplaceable yang pertama di Jakarta, momen 'Balik Bandung' yang bertepatan dengan hari Valentine ini dinamai: Irreplaceable Part 2: Aku, Kamu, dan Valentine. Sebuah perayaan di hari penuh cinta.

Konser ini menandai kiprah Yovie Widianto sebagai musisi papan atas Tanah Air.Yovie Widianto bisa disejajarkan dengan maestro sekelas David Foster. Konser yang berlangsung di Sasana Budaya Ganesha ini dibuat sebagai lanjutan konser pertama, September tahun lalu di Jakarta. Sayangnya, Yovie Widianto tidak membawa banyak line-up dari konser pertama yang turut dimeriahkan dengan penampilan Rick Price, The Heaven Knows Guy, dan Sharon Corr. Begitupun dengan Raisa yang kini sedang menuai sukses dari recycle lagu 'Mantan Terindah'. 

Walaupun demikian, kehadiran Lingua sebagai pengisi konser cukup menarik perhatian saya. Saya tidak sabar untuk segera menyaksikan penampilan Frans, Amara, dan Ari, one of the best part from 90's. Saya cukup penasaran dengan penampilan Lingua sejak nama mereka mengisi daftar line-up konser.

The Show

Yovie Widianto dan Hedy Yunus
Konser dibuka dengan video screening Yovie bersama 5 Romeo yang membawakan sepotong lirik lagu bertema Valentine, 'CintaTak Hanya Hari Ini'. Sebagai opening act, 5 Romeo sukses menggebrak mood dengan 'Merindu Lagi', ..sayang sayang dia ada yang punya... dan 'Katakan Saja'. Penonton yang sudah terbawa suasana romantis segera dihibur kembali dengan lagu 'Kekasih Sejati' yang dibawakan Hedy Yunus.

Penonton terus dibuai dengan jalinan lirik romantis dari 'Pada Satu Cinta'.Tak henti-henti nyanyian penonton di tribun festival mengiringi vokal Mario Ginanjar yang disambung penampilan RAN dengan lagu 'Andai Dia Tahu' dengan nada yang lebih pop.

RAN
Tensi konser mulai meninggi ketika Yovie mengeluarkan kejutan pertamanya di konser malam itu. Sita Nursanti didaulat naik panggung beraama Mario Ginanjar untuk menyanyikan lagu ciptaan Yovie yang lebih dahulu dipopulerkan oleh Hedy Yunus, 'Suratku'. Sita tampil prima dengan kualitas vokal yang tidak perlu diragukan lagi. Berkali-kali Sita mampu menguasai panggung dan mengajak penonton menyanyi bersama.

Sita Nursanti

Selain sebagai komposer dan arranger, Yovie Widianto juga tak henti-henti menelurkan bakat baru dalam musik Indonesia. Angel Pieters dan Alika Islamadina adalah contohnya. Yovie kembali menampilkan Angela, yang di konser pertama menyanyikan 'Sebatas Mimpi' di konser kedua ini membawakan lagu 'Together We Will Shine (Kita Bisa)' soundtrack SEA Games 2011. Pun dengan Chewy Dilmi yang berduet dengan Mario membawakan 'Cinta Kita Sama', satu lagu dalam album terbaru Yovie, 'Irreplaceable'.

Mario Ginanjar feat. Chewy Dilmy

Untuk menaikkan mood dan tensi, HiVi membawakan lagu lama The Groove ciptaan Yovie, 'Satu Mimpiku' dengan aransemen pop yang lebih segar. Akhirnya, penantian saya segera berbalas. Lingua naik panggung dengan membawakan lagu hits mereka 'Bintang'. Lagu ini juga direcycle oleh Kahitna dan masuk dalam daftar lagu di album '25 Tahun Kahitna'. Ini adalah sebuah peristiwa langka untuk dapat menyaksikan kembali Lingua setelah vakum sangat lama. Saya bersyukur dapat kembali mengenang hits pertama Lingua 'Bila Kuingat' lengkap bersama pencipta dan penyanyi lagunya.

LINGUA

Sebelum Lingua turun panggung, Yovie sempat bertanya pada mereka soal pengalaman cinta yang terbentur perbedaan keyakinan. Hal itu pun langsung ditanggapi senyuman oleh Amara yang menganggap itu sebagai curcol. Kontan, penonton pun kembali bersorak karena itu adalah pertanda bahwa lagu 'Peri Cintaku' akan segera dimainkan dengan iringan vokal Mario Ginanjar.

Fathur Java Jive

Kejutan lain dalam konser ini adalah tampiknya Fathur Java Jive yang membawakan lagu 'Bukan Untukku'. Di akhir lagu, Yovie menyinggung sedikit tentang awal persahabatan mereka hingga keterlibatannya dalam single milik Fathur, 'Selalu Untuk Selamanya'.

Kahitna
Konser malam tidak akan lengkap tanpa kemunculan Kahitna yang langsung mentas dengan lagu 'Bunga Jiwaku' disambung dengan 'Dia Milikku'. Kahitna membawakan lagi lagu 'Lajeungan' yang mengantarkan mereka meraih banyak penghargaan darinfestival yang pernah mereka ikuti di luar negeri. Penampilan Kahitna terasa semakin lengkap karena mereka tidak hanya menyanyi tetapi juga menampilkan koreografi panggung sebagai atraksi tersendiri yang dinikmati Soulmate Kahitna semua.

5 Romeo kembali ke atas pentas bersama Mario dan Dikta membawakan medley lagu-lagu hits seperti 'Janji Suci', 'Menikahimu', 'Tak Sebebas Merpati'. Seperti konser pertama yang sukses melahirkan hits dadakan 'Janda Melayang', Yovie menghadirkan lagi kejutan yang tidak akan pernah dilupakan penonton di Bandung. Yovie mengundang Mario dan Nino untuk membuat lagu dari nada dan clue yang dipilih penonton. Maka terpilihlah tiga kata clue untuk lirik lagu yaitu, jomblo, modus, jadian dengan nada si-la-sol.


Yovie hanya butuh 4 menit untuk menciptakan hits dadakan kedua sepanjang rangkaian konser Irreplaceable. Sembari menunggu, penonton dihibur dengan penampilan Carlo Saba yang berduet dengan Dikta. Waktu pun terus bergulir hingga Yovie selesai mencipta. Lagu ciptaan belum berjudul itu sukses dinyanyikan bersama Mario, Nino, dan penonton, sampai berulang tiga kali. 

Aku takkan bohong
Ini bukan modus
Namun aku harap nanti
Suatu saat kita jadian

Lagu dadakan a la Yovie Widianto

Maklum, fenomena para jomblo yang sering menggunakan modus untuk bisa jadian sedang jadi trending topic. FYI, clue kata jomblo diambil dari ide Kang Emil a.k.a Ridwan Kamil yang turut menonton bersama Agus Yudhoyono dan Annisa Pohan.

Kahitna feat. RAN
Konser terus berlanjut dengan PHI yang membawakan lagu 'Cinta Sudah Lewat'. Aransemen baru membuat lagu ini tidak terasa sendu lagi. Kahitna dan RAN berkolaborasi kemudian untuk membawakan lagu 'Cerita Cinta' dan 'Mantan Terindah'. Dikta dan Carlo Saba kembali berduet membawakan lagu 'Menjaga Hati'. Sita kembali lagi bersama Mario menyanyikan lagu 'Takkan Terganti'. Memasuki penghujung konser Kahitna kembali berduet kali ini dengan 5 Romeo menyanyikan lagu 'Cantik'.

Yovie and His Friends
Akhirnya, medley 'Juwita (Lebih Dekat Denganmu)' dan 'Kemenangan Hati' dari seluruh pengisi acara menutup rangkaian acara di malam penuh cinta. Yovie Widianto, sekali lagi telah membuktikan pada publik Bandung bahwa ia akan selalu kembali dengan karya-karya yang takkan terganti. 

Penutup

Kemeriahan konser Irreplaceable di Jakarta telah menular ke konser lanjutan di Bandung ini. Walau line-up artist di episode Bandung ini tidak semewah di Jakarta tetapi Yovie berhasil menghadirkan kenangan yang takkan terlupakan oleh publik musik Bandung. Kejutan-kejutan sepanjang konser adalah bukti kreativitasnya yang tak hanya sebatas musisi.
Tak heran bila konser Yovie and His Friends ini jadi satu catatan personal dalam kiprahnya selama lebih dari 30 tahun bermusik di Tanah Air. Berbagai apresiasi atas karyanya adalah bentuk penghargaan publik yang menandai eksistensinya. Untuk hal ini, kita rasanya perlu berterima kasih kepada Yovie Widianto karena telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam catatan sejarah musik Indonesia.


Pharmindo-Paninggilan, 20 Februari 2014.

Selasa, 11 Februari 2014

Sting: Live in Berlin (2010)

Album ini adalah album yang direkam secara live bersamaan pada saat Sting menggelar konser di Berlin. Konser bertanggal 21 September 2010 yang digelar di O2 World, Berlin, ini juga menampilkan The Royal Philharmonic Concert Orchestra. Dalam konser ini Sting membawakan lagu-lagu dari katalog albumnya sendiri dan hits-hits dari The Police.

Penampilan Sting di Berlin malam itu menyuguhkan 'reimagining' atau reimajinasi lagu-lagunya, artinya memainkan kembali lagu pilihan Sting dengan polesan orkestrasi. Termasuk lagu dari album 'Symphonicities' dan hits seperti “Every Little Thing She Does Is Magic,” “Russians,” “King of Pain,” dan “Every Breath You Take”.

Album ini dikemas dalam format CD/DVD, Blu-Ray, dan single CD. Edisi Indonesia hadir dalam bentuk dual disc, DVD yang berisi rekaman video konser dan sebuah CD berisi semua lagu yang dibawakan Sting. Beruntung, saya mendapatkan album ini dalam kondisi masih tersegel dan setengah harga aslinya. Cool!

Dibandingkan dengan album-album studionya, tambahan orkestrasi pada konser ini tidak lantas menjadi bagian luar biasa yang kemudian menjadi pengalih perhatian. Segala perhatian tetap tertuju pada Sting dan 'magic' dari lagu-lagunya. Ritme konser ini juga ditata sedemikian rupa sehingga menghasilkan timing yang tepat. Maka tak salah rasanya bila Live in Berlin ini jadi obat rindu bagi para fans Sting dimanapun.

Track Listing

DVD

    "A Thousand Years"
    "Every Little Thing She Does Is Magic"
    "Englishman in New York"
    "Roxanne"
    "When We Dance"
    "Russians"
    "I Hung My Head"
    "Why Should I Cry For You"
    "Whenever I Say Your Name"
    "This Cowboy Song"
    "Tomorrow We'll See"
    "Moon Over Bourbon Street"
    "End Of The Game"
    "You Will Be My Aint True Love"
    "All Would Envy"
    "Mad About You"
    "King of Pain"
    "Every Breath You Take"
    "Desert Rose"
    "She's Too Good for Me"
    "Fragile"
    "I Was Brought To My Senses"

CD

    "If I Ever Lose My Faith in You"
    "Englishman in New York"
    "Fields of Gold"
    "Why Should I Cry For You"
    "All Would Envy"
    "Tomorrow We'll See"
    "End Of The Game"
    "Whenever I Say Your Name"
    "Shape of My Heart"
    "Moon Over Bourbon Street"
    "Mad About You"
    "King of Pain"
    "Desert Rose"
    "Fragile"


Paninggilan, 11 Februari 2014.

Kamis, 26 September 2013

Yovie and His Friends: Irreplaceable #TakkanTerganti

Awalnya



Beberapa bulan lalu, dalam sebuah wawancara Yovie Widianto mengatakan bahwa ia akan menggelar sebuah konser pada bulan September ini. Kontan, sejak saat itu saya terus mengikuti konser apa gerangan September nanti. Waktu penantian itu semakin terasa kala saya mendapatkan informasi bahwa tiket presale untuk konser bertajuk “Irreplaceable: Takkan Terganti” ini pada konser 27 Tahun Kahitna, Juni lalu. Belum ada informasi mengenai artis-artis lain yang akan tampil dalam konser ini. Namun, Yovie sudah merilis beberapa nama penyanyi kondang yang akan menemaninya di konser perayaan 30 tahun berkarya di kancah musik Indonesia.

Saya turut mengantri demi mendapatkan tiket presale yang dikorting 50% sembari menunggu Kahitna naik panggung. Niat untuk mendapatkan tiket Festival (kelas paling murah) pun gagal karena kuota yang sold-out, lalu saya menggantinya dengan tiket Festival 1. Saya semakin deg-degan karena antrian sudah hampir bubar. Voila, I got the ticket! Selanjutnya, tinggal menunggu tanggal bersejarah dalam hidup saya sebagai penggemar dan penikmat karya-karya Yovie Widianto.
 

Belakangan, beberapa hari sebelum konser saya dengar iklan di radio bahwa ada additional musician yang akan tampil menemani Yovie Widianto di atas panggung. Sharon Corr dan Rick Price. Nama terakhir sudah tidak asing lagi karena bersama Kahitna, Rick Price sudah pernah menggelar konser dalam tur 5 kota tahun 2012 lalu. Kehadiran Sharon Corr tentu menjadi warna tersendiri dalam konser nanti. Violis sekaligus backing vokal The Corrs ini akan mengawali penampilan perdananya di Indonesia.

Menjelang konser dimulai saya kembali dilanda perasaan cemas. Bukan apa-apa, karena alasan pekerjaan saya masih dalam perjalanan Bandung-Jakarta. Saya berharap tentu dapat tiba di venue tepat pada waktunya. Saya juga belum menukarkan e-voucher dengan tiket resmi. Sudah jelas saya akan kehilangan banyak waktu disitu. 

Satu catatan untuk panitia. Begitu tiba di loket penukaran tiket, saya terkejut karena tiket saya (Festival 1) sudah habis. Saya sangat kecewa karena panitia tidak menghitung dengan pasti jumlah tiket yang dikeluarkan pada saat presale dengan pada saat show (D-day). Saya yang sudah mau marah-marah pada petugas tiket ditawari penggantian tiket Festival dengan kelas GOLD. Seketika, kemarahan saya mereda. Saya mendapatkan tiket kategori GOLD. Artinya, saya mendapatkan tempat duduk untuk menikmati konser musisi favorit saya. Yeay! Kalau Tuhan mau kasih ganti, pasti diganti dengan yang lebih baik.

The Show #TakkanTerganti

Marcell
Memasuki ruang konser, saya diberitahu penonton di sebelah saya bahwa saya tidak terlalu terlambat karena baru dua lagu yang dimainkan. Saya baru baca di satu portal berita bahwa Mario Kahitna memulai konser dengan lagu ‘Terlalu Cinta’ yang aslinya dinyanyikan oleh Rossa dan bersama Marcell melantunkan lagu ‘Katakan Saja’.

Marcell kembali membawakan lagu ‘Peri Cintaku’ dimana terdapat lirik yang sangat mengiris hati: “Tuhan memang satu, kita yang tak sama...”. Penonton dibuat histeris dengan penampilan Marcell. Tak lama, Rio Febrian tampil dengan menyanyikan potongan lirik lagu hitsnya: “Aku takkan bertahan bila tak teryakinkan.. sesungguhnya cintaku memang hanya untukmu...” Rio Febrian tampil bersama Dikta (Yovie and Nuno) meneruskan lagu “Bukan Untukku” itu.

RAN @RANforyourlife

Belum usai kejutan itu, RAN langsung menggebrak dengan membawakan lagu “Tentang Diriku” yang langsung membuat penonton bergoyang. Tak sampai usai, lagu “Andai Dia Tahu” langsung dibuat medley dengan sisipan lirik lagu “Suratku” yang diiringi Hedy Yunus. 

Selain menawarkan komposisi musik yang berbeda dari musisi yang tampil, konser Yovie kali ini juga menghadirkan banyak tawa lewat obrolan-obrolan di panggung. Misal, celetukan Hedy Yunus soal usia saat berkelakar dengan Rio Febrian. Belum lagi guyonan-guyonan khas Mario Ginanjar. Banyak juga ‘curcol’ dari penyanyi yang tampil didaulat membawakan lagu-lagu Yovie Widianto. Betapa bahagianya seorang Yovie karena karyanya bisa diterima dan everlasting di hati pendengarnya. Penonton dibuat tidak bosan menunggu Yovie and His Friends singing his greatest songs.

Alexa kemudian tampil membawakan hits legendaris yang mengawali perjalanan karir solo Hedy Yunus, “Suratku”. Bagi Soulmate Kahitna yang terbiasa dengan nuansa mellow dari lagu aslinya pasti akan dibuat terpana dengan versi band dari Alexa.

Andien dan Raisa

Andien dan Raisa tak kalah menggebrak. Andien membawakan lagu “Kini” yang lebih dulu dipopulerkan Rossa dan direcycle oleh Marcell. Paduan nada jazzy dari keduanya menjadikan lagu ini lebih catchy. Tidak berhenti disitu, Raisa langsung menyanyikan lagu hits dari Yovie and Nuno, “Dia Milikku”. Kesan ‘pertengkaran’ dalam lagu itu dibuat nyata dengan tarikan vokal Andien dan Raisa yang punya ciri khas tersendiri. Ada kejutan dalam lagu itu dimana disisipkan petikan lirik dari hits Kahitna, “Cinta Sendiri”.

Kahitna
Kahitna, sebagai band yang turut andil dalam karir musik Yovie Widianto, melanjutkan kegembiraan dalam konser dengan membawakan “Bunga Jiwaku” dan “Tak Setampan Romeo”, hits lainnya dari Yovie and Nuno. Soulmate menyambut penampilan Kahitna dengan riuh, seakan terpuaskan oleh penampilan idolanya. Kahitna kemudian mengajak Dikta dan 5Romeo untuk bernyanyi bersama. Mereka secara medley menyanyikan “Janji Suci” (Yovie and Nuno) – “Tak Sebebas Merpati” (Kahitna) – “Cinta Abadi” (5Romeo). Disela-sela obrolan panggung, mereka juga menyanyikan sepenggal lirik dari lagu Kahitna “Menikahimu”.

Seakan menangkap gairah penonton yang semakin memuncak, Yovie mengajak penonton untuk menikmati bersama karyanya bersama Kahitna yang mengantarkan mereka meraih penghargaan internasional pertama, “Lajeungan”. Lagu berbahasa Madura ini tampil semarak karena turut dihiasi oleh koreografi dari tiga vokalis Kahitna. Lajeungan pun menutup penampilan Kahitna.

Selang berganti, Hedy Yunus masih stay di panggung dan masuk Rio Febrian untuk tampil kembali membawakan lagu hitsnya “Ku Jatuh Cinta Lagi”. Usai bernyanyi bersama, keduanya terlibat dalam perbincangan seru bersama Yovie Widianto soal dibalik penciptaan lagu itu. “Jadi yang salah siapa?” selalu terucap tanya dari Rio Febrian yang dibalas Yovie dengan memainkan petikan lagu dari “Aku, Dirimu, Dirinya”. Cinta takkan salah. “Cinta nggak pernah salah...” balas Yovie. Berturut-turut kemudian Rio Febrian dan Hedy Yunus kembali bernyanyi medley pada bagian chorus “Merenda Kasih” (Hedy Yunus), “Aku, Dirimu, Dirinya” (Kahitna), dan “Lebih Baik Darinya” (Rio Febrian).

Usai tampil, Hedy Yunus dan Rio Febrian masih terlibat dalam perbincangan seru. Topik obrolan semakin mengerucut ketika mereka menantang Yovie untuk menciptakan satu lagu dalam waktu singkat (sekitar 4 menit) dimana nada dalam lagu itu nanti dipilih oleh penonton. Tak perlu waktu lama karena Masayu Anastasia segera naik panggung untuk memilih nada dari keyboard yang dimainkan Yovie. Penonton diberi kesempatan untuk memilihkan tiga kata yang akan menjadi lirik dalam lagu itu. Terpilihlah tiga nada yaitu Do-Si-Sol dan tiga kata: janda, sakit, dan melayang. Kata ‘janda’ diperoleh dari Titi Rajo Bintang yang duduk bersebelahan bersama Titi DJ sehingga Hedy Yunus segera menangkap kata ‘janda’ itu untuk dimasukkan dalam lirik lagu. Penonton kembali diberi kesempatan untuk memilih dua dari empat penyanyi yang akan menyanyikan lagu itu. Pilihannya, Mario Ginanjar, Hedy Yunus, Marcell, dan Rio Febrian. 

Masayu Anastasia naik panggung
 
Akhirnya, Marcell dan Rio Febrian terpilih bersama Yovie Widianto untuk menciptakan lagu dadakan itu di belakang panggung. Mario Ginanjar dan Hedy Yunus sontak menyatakan kepuasannya karena mereka sudah lebih duluan pengalaman soal ikut serta dalam penciptaan lagu dadakan dalam beberapa konser sebelumnya.
Sambil menunggu lagu dadakan itu selesai, penonton dihibur dengan kolaborasi Alexa dan RAN yang membawakan hits Yovie Widianto yang populer di tahun 90-an, “Cukup Sudah” yang dinyanyikan oleh penyanyi pendatang baru saat itu, Glenn Fredly. Penampilan dua band yang berbeda warna ini memberikan kesan yang lebih baru untuk lagu hits itu.

Rio Febrian dan Marcell

Tantangan untuk mencipta lagu sekejap pun akhirnya selesai. Yovie memainkan lagu dengan apik lewat keyboard andalannya. Tiga nada yang harus ada dalam lirik pun berhasil dikombinasikan selaras dengan tiga kata.

“Melayang ku denganmu, oh sakitnya, mungkin aku dulu tak sebaik saat ini. Kini engkau sendiri, mereka bilang kau janda, namun hatiku ingin temaniku"

Duet Marcell dan Rio Febrian yang didaulat menyanyi pun mendapat sambutan hangat dari penonton. "Ya, lagu ini judulnya 'Janda Melayang’.." celetuk Hedi Yunus yang langsung disambut tawa penonton.

Angela
Penonton seakan dibuat terus terpesona oleh Yovie. Yovie Widianto yang dikenal juga sebagai penghasil penyanyi muda bertalenta seperti Alika dan Angel Pieters, kembali membawa bibit muda lainnya yaitu Angela dari Negeri Kincir Angin, negerinya Van Basten dan Ruud Gullit. Angela yang tampil anggun menyanyikan lagu “Sebatas Mimpi”. Bukan yang biasa dibawakan Hedy Yunus dalam versi Bahasa Indonesia, tetapi versi recycle campuran Bahasa Inggris dan Indonesia. Penampilan pertama Angela pun mendapatkan sambutan meriah. Di akhir lagu, Yovie menyatakan harapannya agar bisa bekerjasama lebih lanjut dengan Angela. Satu lagu penyanyi bertalenta siap mewarnai langit musik Indonesia.

Yovie dan Sharon Corr
Sharon Corr kemudian masuk panggung. Violis The Corr ini membuka penampilannya dengan memainkan “Toss The Feathers” diiringi band pengiring. Rasanya, sama ketika melihat penampilan The Corrs memainkan lagu yang sama dalam konser mereka di Landsdowne Road. Sharon melanjutkan penampilannya dengan menyanyikan lagu hits The Corrs yang sudah akrab di penikmat musik Indonesia, “So Young” dan “Radio”

Penampilan Sharon ditutup dengan duet bersama Andien membawakan lagu soundtrack dari SEA Games 2011 “Together We Will Shine (Kita Bisa)”. Sebelum turun panggung, Sharon menyatakan rasa bangganya bisa sepanggung dengan Yovie Widianto. Ia juga menyatakan bahwa ia telah merilis album singlenya dan akan kembali ke Indonesia tahun depan untuk menggelar konser tunggalnya. "Thank you, terima kasih. I'm lucky to play with you." ucap Sharon.

Duet Andien dan Sharon Corr
Usai penampilan Sharon Corr, Rick Price tampil lewat video footage/testimonial yang menceritakan tentang asal muasal ia bisa bekerjasama dengan Kahitna. Ia sungguh senang bisa kembali tampil sepanggung bersama Kahitna. Rick Price menyebut Yovie Widianto sebagai musisi jenius. Seperti saya sudah singgung, Rick Price memang pernah menggelar konser bersama Kahitna dalam rangkaian tur lima kota.

Rick Price kemudian bersama Kahitna membawakan lagu yang mereka ciptakan bersama, “Everybody Need Somebody”. Sepintas lagu ini agak mirip komposisi nada lagu “September” dari Earth Wind And Fire. Betul saja, di tengah lagu disisipkan potongan lirik lagu “September”.

Apa yang kamu harapkan ketika seorang Rick Price berdiri di panggung? Mario Ginanjar meminta Rick Price untuk membawakan sebuah lagu. “Please, sing for us, our favorite song.” Begitu kata Mario. Seakan mengerti, Rick Price kemudian membawakan hits legendarisnya “Heaven Knows”. Penonton pun langsung ikut larut bernyanyi sepanjang lagu. Saya sempat merinding ketika di bagian reff seluruh penonton ikut bernyanyi, “Maybe my love will comeback someday... Only heaven knows”. Rick Price pun langsung berkomentar, “Oh, that’s beautiful”.

Rick Price
Saya kira, penampilan Rick Price ini adalah bagian dari penutup konser. Namun ternyata saya salah karema Raisa kembali naik panggung setelah video promo film “Mantan Terindah” yang akan tayang 2014 nanti. Raisa menyanyikan hits patah hati yang selalu bikin gagal move on, “Mantan Terindah”. Keindahan suara Raisa kembali menghipnotis penonton untuk ikut bernyanyi bersama. “Mau dikatakan apa lagi... Kita tak akan pernah satu...”



Carlo Saba dan Yovie and Nuno menyambung penampilan Raisa dengan hits “Menjaga Hati”. Disambung kembali oleh Kahitna dengan “Cerita Cinta” dan “Cantik” yang dimainkan dengan aransemen dan komposisi baru yang lebih atraktif. Menjelang akhir konser, satu persatu artis pendukung bersama menyanyikan "Takkan Terganti" dan "Hanya Untukku" (Chrisye) dilanjutkan dengan medley “Juwita (Lebih Dekat Denganmu)” (Yovie and Nuno) dan “Kemenangan Hati” (Yovie Widianto feat. Dirly & Gea Idol). Mereka semua berada dalam satu panggung bersama Yovie Widianto. Mereka sangat berterima kasih karena dipercaya Yovie untuk membawakan karya-karyanya. Sedang, Yovie sangat senang karena karya-karyanya bisa diapresiasi dengan baik oleh dunia musik Indonesia.

Konklusi

Seperti konser Metallica bulan Agustus lalu, konser ini adalah satu lagi mimpi dan pencapaian buat saya yang mulai jatuh cinta pada karya Yovie Widianto sejak zaman 'Cerita Cinta' hingga kini. Saya telah melewatkan beberapa penampilan spesial Yovie Widianto bersama Kahitna, salah satunya adalah rangkaian konser tur lima kota bersama Rick Price tahun lalu. Maka, ketika saya mendapatkan kabar langsung dari Yovie tentang gelaran di bulan September ini, segera saja saya bersiap-siap untuk jadi satu dari 5000 penonton di Jakarta Convention Center. Saya pun sangat bersyukur karena tiket presale Festival 1 milik saya bisa 'diupgrade' oleh panitia ke Gold. Terima kasih untuk rekan-rekan kantor yang 'menahan' saya di Bandung beberapa jam sebelum konser dimulai. Tuhan memberkahi kalian.


Kesungguhan Yovie Widianto dalam berkarir menghasilkan sebuah totalitas yang tidak diragukan. Raihan penghargaan internasional pertamanya diraih bersama Kahitna berkat lagu “Lajeungan”. Untuk ukuran saat itu, belum banyak musisi Indonesia yang mampu membuat aransemen seperti dalam “Lajeungan”. Saya pertama kali menikmati “Lajeungan” dari CD album “25 Tahun Kahitna”.

Bagi Yovie Widianto, konser ini sangat berarti sekali karena kehadiran keluarga besarnya. Betapa bahagianya seorang Yovie Widianto karena istri, anak, serta Ibunda tercinta yang sempat meragukan pilihannya untuk menjadi musisi , dapat turut hadir menyaksikan penampilannya bersama dengan rekan musisi lain. Yovie berhasil membuktikan bahwa melalui musik, ia tidak perlu jadi diplomat untuk bisa keliling dunia. Yovie juga mengucapkan terima kasihnya kepada keluarga besar almarhum Elfa Secioria, guru musik yang sangat dihormatinya, untuk telah hadir bersama 5000-an penonton yang memenuhi JCC.

Selain menghasilkan hits untuk Kahitna, Yovie juga berhasil menciptakan hits bagi penyanyi lainnya. Sebut saja Rossa, Rio Febrian, Marcell, Glenn Fredly, Ruth Sahanaya, Hedy Yunus, Febby Febiola dan masih banyak penyanyi lainnya. Lewat Yovie Widianto Music Factory, ia juga telah mengorbitkan penyanyi baru seperti Alika @alikaislamadina dan Angel Pieters. Melalui Yovie and Nuno, Yovie juga menciptakan hits populer seperti “Inginku Bukan Hanya Jadi Temanmu”, “Indah Kuingat Dirimu”, “Janji Suci”, “Menjaga Hati”, “Galau” dan masih banyak lagi.

Melalui konser peringatan 30 tahun berkarya, Yovie seakan mengingatkan pada penyanyi pendatang baru bahwa karakter suara lebih penting dibanding keindahan suara itu sendiri. Banyak penyanyi yang mengandalkan suara emas mereka tanpa memperhatikan kualitas karakter suara. Akibatnya, banyak penyanyi yang ‘gagal’ dalam menapaki karir di belantika musik Indonesia. Selain itu, komposisi dan improvisasi adalah nilai tambah bagi sebuah musisi. Dengan komposisi yang teratur dan improvisasi  yang tepat sebuah lagu bisa memiliki berbagai nuansa.

Kehadiran dua penyanyi asing sebagai  featuring artists adalah kejutan yang sangat spesial. Sharon Corr yang selama ini hanya jadi violis dan backing vokal untuk Andrea Corr mampu menunjukkan kemampuan vokal yang prima diusianya yang sudah berkepala empat. Pun, Rick Price yang kelihatan semakin gaek, masih bisa menyanyikan “Heaven Knows” dengan cemerlang. Satu lagi impian saya terwujud: menonton seorang Sharon Corr membawakan lagu-lagu The Corrs. “Toss The Feathers” yang dimainkan Sharon adalah ekstasi saya malam kemarin. Saya sangat bersyukur karena saya dapat melihat langsung Sharon Corr memainkan nada-nada dalam lagu instrumental itu. Saya anggap penampilan Sharon Corr ini sebagai ganti dari konser The Corrs yang batal digelar awal 2000-an lalu.

Rasanya tidak berlebihan bila sepak terjang dan kontribusi Yovie Widianto disamakan dengan maestro musik dunia sekelas David Foster. Banyak orang yang mengibaratkan Yovie Widianto sebagai David Fosternya Indonesia. Yovie pun tidak mengelak dari apresiasi semacam itu karena David Foster dinilainya sebagai satu musisi yang berpengaruh terhadap musik yang diciptakannya.

Menonton konser Yovie and His Friends ini ibarat juga menyaksikan show David Foster and Friends. Kurang lebih, konsep yang ditampilkan sama antara keduanya. Mereka bersama-sama dengan musisi lainnya berkolaborasi dalam satu pertunjukan yang tentu saja spektakuler. Satu contoh saja. Dalam setiap konsernya, David Foster selalu menyertakan talenta baru untuk ia bawa. Seperti Charice Pempengco yang diajaknya berduet menyanyikan “Because You Loved Me” dengan Celine Dion dalam David Foster and Friends Concert 2008. Malam kemarin, Yovie pun menampilkan bakat baru temuannya, Angela.

Bila pembaca memang pernah menyaksikan pertunjukan David Foster (via DVD, Youtube, or else) dan sempat hadir di JCC kemarin, saya rasa pembaca pun akan merasakan hal yang sama dengan yang saya rasakan. Keduanya adalah maestro dengan karya-karya emas yang diterima dan diapresiasi dengan baik oleh sesama rekan musisi mereka. Tak heran, kelak keduanya akan menjadi torehan tinta emas dalam sejarah musik Indonesia dan dunia.

Happy Lucky Me!


JCC-Medan Merdeka Barat-Paninggilan, 25-26 September 2013

Sabtu, 06 Juli 2013

The Homecoming of P Project #PprojectReckConcert



Setelah berhasil ikut memeriahkan ulang tahun salah satu radio kondang di Jakarta bulan April lalu, P project kembali menggelar konser di kota kelahiran tercinta, Bandung. Konser yang digelar pada 14 Juni 2013 ini adalah bagian dari rangkaian program kesenian yang rutin ditampilkan di Padepokan Seni Mayang Sunda.


Buat saya pribadi, konser bertajuk #PprojectReckConcert ini masuk kategori MUST SEE. Sama seperti konser Sixpence None The Richer di JavaRockin’land 2013. Jadi, saya mulai getol stalking akun twitter mereka @ProjectPe untuk cari informasi soal tiket pertunjukan. Alih-alih tiket dijual bebas, ternyata konser mereka ini digratiskan bagi 200 penonton pertama. Mengapa? Keterbatasan kapasitas gedung mengharuskan demikian.



i twitpic this @iszur_muach pic and grab the tickets


Beruntung, saya tidak harus buru-buru datang ke gedung pertunjukan. Saya berhasil memenangkan kuis berhadiah dua tiket undangan. It feels like a dream come true. Sepanjang umur saya mengenal P Project sejak masih di bangku SD baru sekarang dapat kesempatan untuk menonton mereka langsung. Semakin lengkap karena saya menonton P Project bersama ‘partner in crime’, seorang sahabat yang juga ‘gila’ soal P Project. We grew up together with their songs!



Konser ini dibuka dengan penampilan kabaret dari SMAN 7 Bandung yang menjadi juara AAP se-Jawa Barat. Ada alasan dibalik mengapa kabaret yang dipilih untuk membuka konser P Project ni. Konon, kabaret lebih dapat diterima oleh masyarakat Jawa Barat dibanding di daerah lain. Anyway, penampilan kabaret malam itu sukses mengundang tawa. Lakon yang dimainkan mengingatkan hadirin soal perjuangan rakyat Jawa Barat melawan Belanda. Penampilan grup kabaret malam itu semakin menghibur karena menyisipkan lagu-lagu yang update. Seperti, When I Was Your Man, Diam-diam Suka, Cinta Sejati (OST Ainun Habibie), Gentleman (PSY), hingga frase ‘Demi Tuhan’ Arya Wiguna yang heboh itu.

Saya dibuat puas sekali lagi dengan penampilan P Project malam itu. Tidak sia-sia rasanya kami menempuh jarak Jakarta-Bandung untuk sebuah romansa atas nama nostalgia masa kecil. Lagu-lagu macam Seperti Melolong (opening song), the legendary Nasib Anak Kost (recycled from That’s How The Love Goes – Janet Jackson), Jip Pak Camat, Cantik Tapi Bau (I Still Believe in You - Vince Gill), Kuingin Jadi Guru (I’ll Make Love To You – Boyz II Men), Bibiku Pergi (We Could Be in Love - Lea Salonga & Brad Kane), Kop dan Heden (Close To Heaven – Color Me Badd), hingga Antrilah di Loket (I Can Love You Like That – All 4 One) dimainkan berurutan. Tak lupa lagu parodi dari “Can You Feel The Love Tonight” (Elton John-OST Lion King) yang belum pernah dirilis dan sebuah penampilan eksepsional dari Joe Cobain dalam lagu Kambing Liar, parodi dari ‘Come As You Are’ Nirvana.

Joe Cobain

Selain menikmati lagu-lagu mereka, saya pun rindu bodoran (guyonan) khas mereka. Berkali-kali P Project bobodoran diatas panggung. Mulai bodoran soal pilkada kota Bandung, menyindir Iyang yang telat datang (maklum, Iyang kini jadi pesinetron kejar tayang untuk sebuah televisi swasta), hingga kelebihan P Project dari NOAH. ‘Biar NOAH punya banyak fans, tapi P Project punya fans setia. Terima kasih.” Begitu kata Joe, yang langsung disambut tepuk tangan dari penonton.



At the end, saya berhasil mengabadikan momen kecil bersama Iszur Muchtar @iszur_muach. Saya juga sempat mengucapkan terima kasih karena fotonya yang diedit dari cover album konser David Foster menjadikan saya pemenang kuis. Thank you for tonigh's delight and wonderful moments.


Paninggilan, 6 Juli 2013.

Senin, 01 Juli 2013

Sixpence None The Richer: After Show Post

This is my call I belong to You,
This is my call to sing the melodies of You.


Menyaksikan penampilan langsung Sixpence None The Richer di panggung JavaRockin’land 2013 adalah mimpi yang jadi kenyataan. From the very first moment to hear their legendary ‘Kiss Me’ until recent single ‘Sooner Than Later’. Saya tidak sendirian. Banyak pengunjung lain yang sudah menantikan penampilan mereka. Terbukti, sejak pukul 21.30 pelataran Rockin’land Stage sudah dipenuhi penonton yang ingin mengulang kembali romantika dalam hits ‘There She Goes’ dan ‘Kiss Me’.

Usai Suicidal Tendencies sukses menggebrak malam minggu di Javarockin’land, Sixpence None The Richer memulai pertunjukan mereka. Sebuah lagu pembuka dibawakan. Saya lupa apa judulnya. Mungkin diambil dari album mereka selain Divine Discontinent.

Lagu kedua berjudul ‘Between The Lines’ dimainkan. Sebagai opening songs, saya rasa Sixpence None The Richer tidak akan membawakan banyak hits mereka. ‘Kiss Me’ dan ‘There She Goes’ adalah must play songs, sedang lainnya akan diambil dari lagu-lagu dalam album terbaru mereka yang dirilis tahun 2012 kemarin, ‘Lost in Transition’.


Sebelum masuk ke lagu ketiga, Leigh Nash sempat membuka percakapan dengan penonton. Mereka senang bisa tampil di Jakarta apalagi tepat di hari ulang tahun Jakarta ke-486. “Happy birthday, Jakarta!”. Dari kejauhan mulai terdengar request lagu mereka seperti ‘Don’t Dream It’s Over’ dan ‘There She Goes’.

‘Kiss Me’ pun dimainkan. Intro gitar Matt Slocum membuat penonton mulai bersorak dan bernyanyi bersama. Diatas panggung, Leigh Nash terlihat kaget ketika melihat penonton yang bernyanyi bersama.  Ketika lagu usai, Leigh Nash terlihat menyeka air matanya. Membuat saya teringat pada penampilan mereka di Creation Fest 2003. Seperti diberitakan The Jakarta Post, “A lot of people were singing along. I even got emotional; I almost cried a few times. It was really sweet, and we were really, really tired. When you’re tired you tend to cry a lot, but I made it, I kept it together,” she said with a mild laugh, referring to a cool “Kiss Me” sing-a-long that caused goosebumps.


Hampir tidak banyak penonton yang beranjak meninggalkan panggung. Mereka semua ikut mendengarkan lagu-lagu Sixpence None The Richer. Bahkan, penonton ikut bernyanyi kembali pada lagu recycle ‘End of The World’. Lagi-lagi, Leigh Nash dibuat terharu. “The show was really good, people really sweet, they were a great audience; they listened well,” Nash told The Jakarta Post the day after the show.

Selain lagu-lagu dari album ‘Lost in Translation’, beberapa hits lain yang mereka mainkan adalah ‘Melody of You’ (i'm singing along in this song :D ), dan ‘A Million Parachutes’ dari album ‘Divine Discontinent’. Walaupun, mereka tidak memainkan my holy song ‘Don’t Dream It’s Over’ saya merasa puas dengan penampilan mereka. Sixpence None The Richer kembali pada musik dan melodi mereka. Mereka tetap tampil apik walaupun sangat berbeda dibandingkan dengan Creation Fest 2003 lalu dimana mereka tampil dengan musik yang lengkap, jauh berbeda dengan formasi mereka di JavaRockin’land 2013. Di Jakarta, mereka hanya tampil berempat tanpa pemain keyboard, synthesizer, dan additional guitar.



Saya berharap mereka akan kembali lagi ke Indonesia dan membawakan lagu ‘Don’t Dream It’s Over’. Usai turun panggung, Leigh Nash dan kawan-kawan segera menuju bandara untuk menggelar konser mereka selanjutnya di Argentina. Welcome back and goodbye, Sixpence! We still waiting on the sun to singing melody of you!


Paninggilan, 1 Juli 2013.


Note: Media coverage on @sixpencemusic performance at JavaRockin'land 2013, please follow this feed

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...