Tampilkan postingan dengan label model kit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label model kit. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Juli 2017

Curtiss P-40B Tomahawk

 
Setelah Stuka yang legendaris, saya menambah koleksi pesawat tempur bersejarah lainnya keluaran Academy Model Aircraft. Model kit berskala 1/72 ini adalah replika dari Curtiss P-40B Tomahawk, pesawat tempur bermesin tunggal yang mulai bertugas pada tahun 1938. Pesawat tempur ini berlaga dalam sejumlah pertempuran di Perang Dunia II. 

P-40B Tomahawk adalah derivatif dari P-40A Warhawk. Saya menyukai versi Flying Tigers milik 1st American Volunteer Group. Saya juga tidak kecewa mendapati ukuran model kit yang memiliki panjang sekitar 16 cm dengan rentang sayap 17 cm. Saya sempat juga memiliki F16, MiG-23 Flogger, MiG-29 Fulcrum, F-16 Fighting Falcon, dan F-14 Tomcat dengan skala yang sama. Rasanya lebih puas dengan P-40B Tomahawk ini. Ukuran pesawat sebenarnya yang memang lebih kecil dibanding pesawat jet tempur modern membuat ukuran 1/72 masih memiliki besar yang tidak terlalu kecil.

Saya melakukan finishing dengan pengecatan badan pesawat menggunakan cat semprot warna silver dari merk P*lox (N*ppon Paint). Sementara, bagian kaca (windshield) saya beri spidol warna hitam untuk menandai pilar-pilarnya. Bagian roda saya beri warna silver juga dan warna spidol hitam pada ban. Ada dua opsi untuk merakit pesawat ini. Versi flying (unmounted landing gear) atau dengan landing gear. Saya memilih opsi kedua, karena Stuka tampak lebih nyata dengan terpasangnya landing gear.

Saya sengaja tidak memberi warna asli yang disarankan dalam kemasan model kit maupun gambar skuadron Hell's Angels (bisa dilihat di Wikipedia). Saya memberi warna silver untuk menandai bahwa pesawat ini adalah buatan Amerika Serikat. Seperti pesawat tempur lainnya saat Perang Dunia II yang berwarna perak.

Tidak ada masalah yang berarti dalam pemasangan decal. Rupanya, warna silver pilihan saya itu membuat daya rekat decal tidak maksimal pada ornamen bagian sayap. Saya perlu beberapa kali memasang kembali ornamen sayap itu. Tandanya harus segera dilakukan pengecatan finsihing dengan warna clear.

Overall, tingkat kesulitan pengerjaan pesawat ini adalah 2/5. Tidak terlalu banyak part yang detail dan harus terpasang pada pesawat. Pesawat ini dirakit pada tanggal 2 Juli 2017 untuk menandai kelahiran putri kedua saya. Jika pada kelahiran saya dan adik saya, Bapak membuatkan masing-masing CN235 dan N250, maka kiranya saya cukupkan tradisi itu.


Bandung, 8 Juli 2017.


Sabtu, 30 April 2016

D-Style AV-98 Ingram



Sejatinya, D-Style adalah lini produk model kit milik Kotobukiya. D-Style tampil dengan gaya khas bootleg dimana model sengaja dibuat lebih buntet dari aslinya dengan ukuran kecil tanpa skala. Kalau di dunia diecast, perbandingannya ibarat Tomy/Tomica dengan Choro-Q. CMIIW.

Saya sendiri cukup senang dengan model kit yang dijuluki Patlabor KW ini karena mereka mengeluarkan edisi set Patlabor lengkap. Set Patlabor terdiri dari Ingram 1, Ingram 2, Ingram Zero, dan Griffon J9. 

Saya sudah punya Ingram 1 tahun 2012 lalu. Namun, tidak langsung menambah koleksi Ingram 2. Saya baru hunting Ingram 2 karena mereka menambahkan mobil komando (command car) sebagai bonus. 

Tak ada Jepang yang tak retak. Produk Kotobukiya ini ditiru juga oleh Double Rabbit, vendor dari China. Tentu saja dengan harga yang masuk akal, below 100K. 



D-Style masih menggunakan format snap-on dan snap-fit. Artikulasi terhitung cukup baik untuk bagian tangan dan sedikit terbatas di bagian kaki. Bonus lain dari Ingram 2 ini adalah Riot Gun sejenis rifle. Dalam serial kartun TV, Riot Gun digunakan pertama kali ketika Ingram berhadapan dengan Griffon dalam misi pencegatan. 

Tidak ada kesulitan berarti dalam merakit Ingram 2. Semua part mirip dengan Ingram 1. Kecuali headgear Labor tunggangan Isao Ota ini. Finishing pun tidak terhitung banyak. Paling tidak, saya menggunakan drawing pen 0.1 mm. Tidak lagi menggunakan spidol permanen warna hitam yang saya dapat dari bonus membeli gembok cinta di N Seoul Tower. 

By the way, Patlabor buat saya adalah bagian dari mimpi-mimpi masa anak-anak. Dan Patlabor KW, berhasil mewujudkannya. 

Cipayung, 30 April 2015. 

Jumat, 29 April 2016

Hongli Gundam


Belum lama ini saya merakit Gundam kembali. Sebelumnya, saya sudah punya GAT-X105 Strike Gundam dan Exia Gundam skala 1/144, 2 model dari 4 seri model buatan Bandai. Namun, dengan artikulasi terbatas, kaki tidak dapat digerakkan atau dilipat.

Pilihan kali ini jatuh pada Kyrios Gundam buatan Hongli. Saya sendiri sudah penasaran dengan merk Hongli terutama karena faktor harga yang below Rp. 100.000 dan Made in China pula,-. Cukup murah untuk model kit Gundam walaupun harus mengorbankan kualitas. Maklum, buatan China.

Kesan pertama membuka boks Hongli, saya cukup terkesan dengan cara mereka meniru Bandai. Walaupun, saya akhirnya jadi tahu perbedaan besar antara keduanya. Sekali lagi mohon maklum. 

Material plastik rasanya terbuat dari plastik daur ulang. Terlihat jelas dari parts yang berwarna gelap. Fitur snap-on dan snap-fit terasa kurang meyakinkan. Diperlukan sedikit pekerjaan untuk membuat lubang agak besar. Decal dan stiker pun rasanya tidak menggunakan kertas khusus dan warna stiker pun terlihat terang mirip kertas warna terang berbahan kertas biasa. 

Hongli Kyrios Gundam 1/144 Scale Fighter Unpainted

Saya sengaja tidak menggunakan stiker dalam pengerjaan Kyrios Gundam ini. Buku petunjuk perakitan sudah cukup memuat detail pengerjaan. Hanya saja, petunjuk yang tercatat menggunakan bahasa China dan sedikit bahasa Inggris dengan banyak kesalahan tipografi. 

Overall, sebagai model kit yang masih setia meniru Bandai, Hongli mampu mengisi segmen low-cost modeling. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Hongli dapat menjadi alternatif pilihan belajar dan mengasah skill bagi para penghobi level entry atau pemula sebelum naik kelas ke model kit merk premium.

 
Cipayung, 25 April 2016.

Rabu, 30 Maret 2016

Super Cobra, Sebuah Misi Tebus Dosa


Seperti judul diatas, alasan saya membeli model kit Super Cobra ini adalah untuk menebus kesalahan saya 16 tahun yang lalu. Saat itu, saya sudah punya mainan plastik heli AH-1D Cobra dan dengan sadar mengizinkan adik sahabat saya untuk memainkannya. Seperti yang sudah diduga, heli Cobra itu rusak berat. Blade patah dan kaca kanopi pecah. Maklum, jatuh dari ketinggian pangkuan Ibu. Saya juga sudah lupa dimana terakhir kali menyimpan bangkai heli Cobra itu. Saya cukup sadar sekarang untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Walaupun memang model kit plastic injection mold generasi saat ini agak ringkih.

Model kit terbaru kali ini dating dari satu brand Jepang yang sudah terkenal dengan varian mini 4WD, Tamiya. Agak excited memang untuk mendapatkan item ini karena selain brand, pertimbangan lainnya yaitu kualitas material dan detail. Perbedaan yang saya dapati antara Stuka dengan Super Cobra memang agak lumayan. Tetapi, secara keseluruhan diantara kedua brand model kit itu memang memiliki keunikan sendiri dimana modeler penghobi harus menyesuaikan.

Project Super Cobra ini saya mulai dengan pembuatan dan pengecatan kanopi pada kaca. Saya meniru sebuah tayangan video di Youtube sehingga memutuskan untuk mencoba membuat kanopi untuk pertama kalinya. Dengan sedikit kemauan, niat, dan tools, akhirnya saya berhasil menyelesaikannya. Thanks to the masking tape. Saya berhasil melakukan suatu lompatan besar dalam karir saya sebagai perakit model kit dadakan.


Selebihnya, saya mulai membuat pola camouflage pada bodi heli (lagi-lagi) dengan masking tape. Saya tidak membuat pola yang terlalu besar, mengingat saya hanya akan memainkan dua warna saja. Yaitu hijau dan warna dasar abu-abu.Saya juga masih mengandalkan spray paint Fuji Green seperti yang saya gunakan di Stuka. Ditambah warna Deep Blue untuk pewarnaan kanopi, weaponry, landing gear, dan rear blade.

Super Cobra 1/72 ini memiliki tingkat kesulitan yang agak lumayan. Bagian fuselage yang ramping memang memiliki kesulitannya sendiri. Namun, kesulitan yang sangat terasa adalah berat heli sesudah semua part selesai dipasang terlalu ringan sehingga cenderung berat ke belakang. Untuk mengatasi imbalance weight, saya terpaksa membongkar kembali bagian badan atas heli. Saya menambahkan ballast pemberat berupa dua buah paku 5 cm yang saya tanam dan tempel dalam fuselage bagian dalam. Penambahan 2 buah paku sebagai ballast ini rupanya cukup efektif untuk menjaga keseimbangan heli. Saya sarankan untuk melakukan penambahan ballast pada model kit sejenis agar heli bisa berdiri sebagaimana mestinya.


Saya belum melakukan finishing dengan menambahkan decal pada Super Cobra ini. At least, saya sudah melakukan satu hal sebelumnya tidak pernah saya lakukan. Saya belum pernah melakukan pembuatan kanopi dengan cara mengecat. Again, that masking tape is really works. Masking tape sangat membantu dalam pengerjaan kanopi. Saya juga belum pernah membuat camo pada semua model kit sebelumnya, dengan percobaan pertama pada Super Cobra, saya masih membuka kemungkinan untuk melakukan hal yang sama pada model kit lain yang akan datang selanjutnya. Dengan demikian, dosa 16 tahun lalu sudah terbayar. I feel at ease now. So, never stop to learn and experience new experience. 

Model Kit      : Bell AH-1W Super Cobra
Skala              : 1/72
Manufacturer : Tamiya

Cipayung, 27 Maret 2016.

Selasa, 08 Maret 2016

Stuka Model Kit Finishing: Painting and Decaling

Tulisan ini didasari oleh ketidakmampuan saya untuk segera move-on dari Stuka. Proses pengerjaan Stuka, mulai dari assembling (perakitan), painting (pengecatan), hingga finishing (decaling) masih melekat dan membuat perhatian saya belum beralih walaupun saya sudah memesan model kit lain, yaitu Kyrios Gundam.



Sepanjang sejarah pengerjaan model kit, mulai dari Apache AH64D 1/72, F16, MiG-29 Fulcrum, F15, dan F14 buatan Academy skala 1/144 belum sekalipun saya selesaikan hingga decaling. Saya tidak pernah menempelkan decal pada model yang telah selesai dirakit. Saya belum percaya diri untuk menempelkan decal pada model. Saya masih dirundung kegagalan merakit Mazda RX7 tahun 2002 silam. Saya sudah merasa cukup untuk merakit saja, tanpa pengecatan ulang (repainting), dan mengganti stiker decal dengan Rugos ® .


Anyway, pada Proyek Stuka ini saya merasa harus menghentikan kebiasaan saya. Selain karena pertimbangan faktor sejarah, Stuka ini juga saya dedikasikan untuk Aldebaran, putra saya. Maka mulailah saya mencari cat semprot warna hijau gelap khas Luftwaffe. Berhubung warna tersebut tidak ada di toko besi dekat rumah, maka saya mengganti dengan warna Fuji Green No. 162 dari varian cat Pylox ®. Mengikuti panduan, saya mengecat permukaan bagian atas pesawat dengan warna hijau tersebut. Warna hijau fuji membuat fuselage Stuka menjadi lebih terang, tidak gelap sebagaimana Stuka asli milik Luftwaffe. Saya rasa itu bukan masalah besar, lagipula dengan warna yang lebih terang membuat Stuka versi saya lebih bisa untuk dinikmati.


Selesai pengecatan, saya membiarkan Stuka polos semalaman. Baru keesokan harinya saya mulai proses lanjutan yaitu penempelan stiker decal. Saya paling tidak suka menunggu, begitu pun ketika harus menyisihkan waktu untuk proses decaling. Saya menonton dulu panduan pemasangan decal pada model kit yang ada di Youtube. Saya pun segera menyiapkan alat-alat dan bahan seperti air hangat untuk memisahkan decal dari stiker induknya, pinset, dan pembersih telinga untuk menyerap air. Saya tidak mungkin menuruti apa kata video Youtube karena memang tidak menyiapkan decal enamel sebagai pelapis dasar dan pelapis akhir di model kit.


Proses penempelan decal memang membutuhkan ketelitian dan kesabaran sebagai faktor utama penentu keberhasilan detail. Saya pun berhasil memasang decal untuk pertama kalinya pada model kit Stuka 1/72 ini. Saya tidak memasang semua stiker yang diberikan. Alasannya, selain kebanyakan terlalu kecil, bila semua decal dipasang tangan saya akan mengalami kesulitan dalam mencari pegangan/patokan karena bagian fuselage belakang sudah kena decal. 


Untuk mengeringkan decal, setelah menggunakan pembersih telinga, saya pun menjemur Stuka di bawah terik matahari selama kurang lebih 15 menit. Usai dijemur, Stuka yang sudah gagah ini saya pajang sambil sedikit dikenai terpaan kipas angin. Proyek Stuka ini menyisakan satu pekerjaan lagi. Pengecatan dengan menggunakan cat semprot warna clear alias bening untuk melapisi seluruh lapisan badan atas dan bawah. Pengecatan ini bermaksud agar menguatkan decal yang telah terpasang sehingga bila kena air tidak akan kembali memudar. CMIIW.

Satu pekerjaan tersisa ini akan saya selesaikan nanti usai paket Kyrios Gundam tiba. Saya akan melihat terlebih dahulu apakah model kit Gundam membutuhkan hal yang sama dengan Stuka. Ini sangat penting. Terutama soal budget, apalagi bagi modeler penghobi amatir seperti saya ini.


Cipayung, 7 Maret 2016.

Minggu, 28 Februari 2016

The Legend Rebuilt: Stuka

"Verloren ist nur, wer sich selbst aufgibt" ("Lost are only those, who abandon themselves") 
Hans-Ulrich Rudel (July, 1916 - 1982) 
Luftwaffe Stuka Ace



Perkenalan saya dengan pesawat tempur legendaris Angkatan Udara Jerman ini dimulai ketika membaca buku "Dekade Kejayaan Luftwaffe". Pesawat ini memiliki reputasi yang hebat dimana terlibat pada Perang Saudara Spanyol, ekspansi Jerman ke Front Barat, hingga awal penaklukan Front Timur Rusia.

Junkers Ju-87 memiliki keunggulan karena dapat menghadapi serbuan infantri dan tank sekutu. Dijuluki "Sturzkampfflugzeug" yaitu Pengebom Tukik alias Dive Bomber biasa disingkat "Stuka" dimana pesawat tempur ini mampu menghalau serangan artileri lawan dan tank dengan cara menukik lambat. Pesawat ini cukup berperan untuk membuka infantri Jerman untuk masuk ke wilayah musuh. 

Stuka untuk saya adalah satu dari sekian banyak peninggalan Perang Dunia II yang patut mendapat catatan tersendiri. Bagaimana pun, peran Stuka sebagai line-up tempur di Luftwaffe ikut mewarnai dekade kejayaan Angkatan Udara yang pernah disegani di dunia. 

Now, one of them belong to me. 

Cipayung, 28 Februari 2016. 

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...